• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penulisan Hukum (Skripsi)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Penulisan Hukum (Skripsi)"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

ANALISIS YURIDIS PENGAJUAN KASASI OLEH TERDAKWA DAN PERTIMBANGAN HAKIM MAHKAMAH AGUNG DALAM

PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI SERTA KESESUAIANNYADENGAN KUHAP

(STUDI KASUS PUTUSAN KASASI NO. 1890 K/PID.SUS/2010)

Penulisan Hukum (Skripsi)

Disusun dan Diajukan untuk

Melengkapi Syarat-syarat Guna Memperoleh Derajat Sarjana S1 Dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

Oleh

RATNA MUTIARA KUSUMADEWI NIM. E0008069

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2012

(2)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Penulisan Hukum (Skripsi)

ANALISIS YURIDIS PENGAJUAN KASASI OLEH TERDAKWA DAN PERTIMBANGAN HAKIM MAHKAMAH AGUNG DALAM

PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI SERTA KESESUAIANNYA DENGAN KUHAP

(STUDI KASUS PUTUSAN KASASI NO. 1890 K/PID.SUS/2010)

Oleh :

RATNA MUTIARA KUSUMADEWI NIM. E0008069

Disetujui untuk dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

Surakarta, Juli 2012 Dosen Pembimbing

Bambang Santoso, S.H., M.Hum.

NIP. 19620209 1989031001

(3)

commit to user

iii

PENGESAHAN PENGUJI

Penulisan Hukum (Skripsi)

ANALISIS YURIDIS PENGAJUAN KASASI OLEH TERDAKWA DAN PERTIMBANGAN HAKIM MAHKAMAH AGUNG DALAM

PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI SERTA KESESUAIANNYA DENGAN KUHAP

(STUDI KASUS PUTUSAN KASASI NO. 1890 K/PID.SUS/2010) Oleh

RATNA MUTIARA KUSUMADEWI NIM. E0008069

Telah diterima dan dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

Pada :

Hari : Kamis Tanggal : 19 Juli 2012

DEWAN PENGUJI

1. Edy Herdyanto, S.H., M.H. : ……….

NIP. 19570629185031002 Ketua

2. Kristiyadi, S.H., M.Hum. : ……….

NIP. 195812251986011001 Sekretaris

3. Bambang Santoso, S.H., M.Hum. : ……….

NIP. 19620209 1989031001 Anggota

MENGETAHUI Dekan,

Prof. Dr. Hartiwiningsih, S.H., M.Hum NIP. 195702031985032001

(4)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iv

PERNYATAAN

Nama : Ratna Mutiara Kusumadewi Nim : E0008069

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penulisan hukum (skripsi) berjudul ANALISIS YURIDIS PENGAJUAN KASASI OLEH TERDAKWA DAN PERTIMBANGAN HAKIM MAHKAMAH AGUNG DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI SERTA KESESUAIANNYA DENGAN KUHAP (STUDI KASUS PUTUSAN KASASI NO. 1890 K/PID.SUS/2010) adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam penulisan hukum (skripsi) ini di beri tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan penulisan hukum (skripsi) dan gelar yang saya peroleh dari penulisan hukum (skripsi) ini.

Surakarta, Juli 2012 Yang membuat pernyataan

Ratna Mutiara K.

NIM. E0008069

(5)

commit to user

v ABSTRAK

RATNA MUTIARA KUSUMADEWI, E0008069, ANALISIS YURIDIS PENGAJUAN KASASI OLEH TERDAKWA DAN PERTIMBANGAN HAKIM MAHKAMAH AGUNG DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI SERTA KESESUAIANNYA DENGAN KUHAP (STUDI KASUS PUTUSAN KASASI NO. 1890 K/PID.SUS/2010) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penelitian hukum ini bertujuan untuk mengetahui dasar permohonan kasasi yang diajukan oleh terdakwa dalam permohonan kasasi sesuai dengan ketentuan KUHAP dan pertimbangan Hakim Mahkamah Agung dalam memeriksa dan memutus kasasi oleh terdakwa dalam perkara tindak pidana korupsi sudah sesuai dengan ketentuan KUHAP.

Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang bersifat preskriptif dengan pendekatan kasus. Teknik pengumpulan bahan hukum yang dipakai dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research), Penulis menggunakan metode penalaran deduktif dalam penelitian ini dengan teknik analisis bahan hukum secara kualitatif.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dihasilkan simpulan bahwa permohonan kasasi didasarkan pada pertimbangan hukum putusan pengadilan tinggi Surabaya merupakan pertimbangan hukum yang tidak cukup atau tidak layak (onvoldoende gemotiveerd) karena hanya membenarkan dan mengambil alih pertimbangan judex factie Pengadilan Negeri Situbondo tanpa memberikan pertimbangan sendiri, dengan menggunakan fakta-fakta hukum yang terungkap, dan tanpa mempertimbangkan seluruhnya keberatan-keberatan yang diajukan dalam memori banding. Sehingga permohonan kasasi ditolak berdasarkan pada kewenangan Pengadilan Tinggi untuk mengambil alih pertimbangan Pengadilan Negeri yang telah dianggap tepat dan benar dan putusan judex factie dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang.

Kata kunci : Kasasi, Pertimbangan Hakim, Tindak Pidana Korupsi

(6)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

vi ABSTRACT

RATNA MUTIARA KUSUMADEWI, E0008069, A JURIDICAL ANALYSIS ON APPEAL TO SUPREME COURT BY THE DEFENDANT AND THE SUPREME COURT JUDGE’S RATIONALE IN CORRUPTION CRIME CASE AND ITS COMPATIBILITY WITH THE KUHAP (A CASE STUDY ON THE APPEAL TO SUPREME COURT VERDICT NO. 1890 K/PID.SUS/2010) Faculty of Law of Surakarta Sebelas Maret University.

This research aims to find out whether or not the rationale of appeal to Supreme Court filed by the defendant had been consistent with the KUHAP and Supreme Court Judge’s rationale in hearing and sentencing the Appeal to Supreme Court filed by the defendant in corruption crime case had been consistent with the provision of KUHAP.

This research is a normative law research that was prescriptive in nature with case approach. Technique of collecting law material used in this research was library research. The writer used deductive reasoning method in this research with technique of analyzing law material qualitatively.

Based on the result of research and discussion, it could be concluded that the appeal to Supreme Court based on the legal rationale of Surabaya Second Instance court’s verdict was inadequate or unreasonable rationale (onvoldoende gemotiveerd) because it only justified or took over judex factie rationale of Situbondo First Instance Court without giving its own deliberation, using the disclosed legal facts, and without taking into account all objections filed in the appeal memorandum. Thus, the appeal to Supreme Court was rejected based on the Second Instance Court to take over the First Instance Court’s rationale that had been considered as appropriate and correct and the judex factie verdict in this case was not in contradiction with the constitution and/or law.

Keywords: Appeal to Supreme Court, Judge’s Rationale, Corruption Crime

(7)

commit to user

vii MOTTO

Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.

Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh. (Confusius)

Mereka berkata bahwa setiap orang membutuhkan tiga hal yang akan membuat mereka berbahagia di dunia ini, yaitu: seseorang untuk dicintai, sesuatu untuk

dilakukan, dan sesuatu untuk diharapkan. (Tom Bodett)

Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja.

Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi. (Ernest Newman)

There’s no success without sacrifice!!

(8)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

viii

PERSEMBAHAN

Karya sederhana ini kupersembahkan kepada :

Allah SWT, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah bagi hamba-Nya.

Bapak dan Ibu, beliaulah orang yang paling aku sayang dan semoga ini dapat memberikan kebanggan bagi kalian.

Kakak-kakakku yang tersayang.

Sahabat-sahabatku, yang selalu memberikan keceriaan hidupku.

Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

(9)

commit to user

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, penguasa alam semesta dimana segala mahkluk tunduk dan mengabdi, sumber dari segala kebenaran dan dari Dialah segala kasih sayang bersumber serta akhir dimana semuanya akan kembali. Hanya atas karunia, rahmat, dan hidayah-Nya yang begitu besar kepada penulis, telah memberikan jalan, kelancaran, kemudahan, dan segala ridho-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan hukum yang berjudul ANALISIS YURIDIS PENGAJUAN KASASI OLEH TERDAKWA DAN PERTIMBANGAN HAKIM MAHKAMAH AGUNG DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI SERTA KESESUAIANNYA DENGAN KUHAP (STUDI KASUS PUTUSAN KASASI NO. 1890 K/PID.SUS/2010).

Penyusunan penulisan hukum ini sendiri mempunyai tujuan utama untuk melengkapi salah satu syarat dalam memperoleh gelar sarjana (S1) pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulisan hukum ini merupakan buah pemikiran penulis sebagai akumulasi pengetahuan yang diserap selama menempuh proses pembelajaran.

Dalam menyelesaiakan Penulisan Hukum (Skripsi) Penulis tak lepas dari bimbingan dan bantuan yang sangat berarti dari banyak pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini tidak lupa penulis mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada :

1. Ibu Prof. Dr. Hartiwiningsih, S.H., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret;

2. Bapak Edy Herdyanto, S.H., M.H., selaku Ketua Bagian Hukum Acara yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Bambang Santoso, S.H., M.Hum., selaku pembimbing penulisan skripsi ini yang telah menyediakan waktu dan pikirannya untuk memberikan bimbingannya serta terima kasih untuk segala arahan dan masukan bagi tersusunnya skripsi ini dengan baik.

(10)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

x

4. Bapak Sutapa M. Widada, S.H., M.Hum, selaku pembimbing akademis, atas bimbingannya selama penulis menimba ilmu di Fakultas Hukum UNS.

5. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum UNS yang telah memberikan bimbingan dan ilmu pengetahuan serta membuat penulis menjadi mengerti mengenai seluk beluk ilmu hukum.

6. Bapak Sri Marsono dan Ibu Retno Palupi, beliau adalah kedua orangtuaku yang setiap hari selalu membimbingku, mendidikku, mengajarkan segala sesuatu dengan sabar dan selalu memberi motivasi tentang pelajaran hidup selama ini.

7. Kakak-kakakku tersayang, Mas Widhiawan yang selalu sabar menghadapiku, dan Mas Raditya yang senantiasa selalu membimbingku, memberikan pengarahan, dan selalu mengajarkanku tentang kehidupan yang sebenarnya. Serta kakak iparku Mbak Ayu dan Mbak Putri yang selalu memberikan motivasi buatku. Kalianlah bagian terdekat hidupku.

8. Alm. Eyang Rachmad, berkat doa-doanya yang mustajab yang selalu memberikan yang terbaik untuk cucunya. Terima kasih Eyang.

9. Arief, terima kasih untuk semua motivasinya, semoga apa yang kamu cita-citakan selama ini segera tercapai. Amin. Buat sahabatku tersayang Fatia, Fafa, Lisa, Siska, terima kasih sudah menemani selama hampir 4 tahun duduk di bangku perkuliahan Fakultas Hukum UNS yang selalu memberikan canda dan tawa. Semoga kita semua sukses di kehidupan mendatang. Amin.

10. Anak-anak 56 Okky, Ima, Briyan, Yogga yang selalu setia menemani dan memberikan motivasi buatku terima kasih.

11. Diana, Namira, Ndartik yang walaupun sudah jarang bertemu kalian tetap bagian terdekatku. Terima kasih untuk semuanya.

12. Yunita, Ayu, Nisa, Juwi, Jeni terima kasih untuk semua saran dan masukannya.

(11)

commit to user

xi

13. Teman-teman angkatan 2008 Fakultas Hukum UNS “This is Our Story”, terima kasih untuk 4 tahun ini kekompakan dan kebersamaan kalian patut untuk dikenang.

14. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan dalam kesempatan ini, tapi jasanya dapat dirasakan oleh penulis terima kasih banyak.

Penulis menyadari bahwa penulisan hukum ini masih jauh dari sempurna, mengingat keterbatasan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat membangun diharapkan dapat diberikan untuk kesempurnaan penulisan hukum ini. Semoga penulisan hukum ini dapat bermanfaat kepada kita semua, terutama untuk penulisan, akademisi, praktisi, serta masyarakat umum.

Surakarta, Juli 2012 Penulis,

Ratna Mutiara K.

(12)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... iii

HALAMAN PERNYATAAN………. iv

ABSTRAK……… v

ABSTRACT……….. vi

MOTTO... vii

PERSEMBAHAN………. viii

KATA PENGANTAR……….. ix

DAFTAR ISI………. xii

DAFTAR BAGAN……… xv

BAB I. PENDAHULUAN A . Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Metode Penelitian... 9

F. Sistematika Penulisan Hukum ... 13

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori ... 15

1. Tinjauan Tentang Upaya Hukum Kasasi ... 15

a. Pengertian Kasasi ... 15

b. Kasasi sebagai Upaya Hukum ... 16

c. Tata Cara Pengajuan Kasasi ... 17

d. Alasan Kasasi ... 18

2. Tinjauan Pertimbangan Hakim ... 19

(13)

commit to user

xiii

a. Pengertian Hakim ... 19

b. Pertimbangan Hakim ... 19

c. Tugas, Kewajiban, dan Tanggungjawab Hakim ... 23

d. Pengertian Putusan dan Hakim dan Isi Putusan Hakim ... 24

3. Tinjauan Tentang Tindak Pidana Korupsi ... 26

a. Pengertian Tindak Pidana ... 26

b. Pengertian Tindak Pidana Korupsi ... 28

B. Kerangka Pemikiran ... 33

BAB III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Kesesuaian Dasar Permohonan Kasasi Yang Diajukan Oleh Terdakwa Dalam Perkara Korupsi Kasus Penyelewengan Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) dengan Ketentuan KUHAP ... 34

1. Kasus Posisi ... 34

2. Identitas Terdakwa ... 36

3. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum pada Pengadilan Negeri Situbondo ... 36

4. Tuntutan Penuntut Umum ... 55

5. Amar Putusan Pengadian Negeri Situbondo ... 58

6. Amar Putusan Pengadilan Tinggi ... 60

7. Dasar Permohonan Kasasi Terdakwa ... 63

8. Pembahasan ... 70

B. Kesesuaian Pertimbangan Hakim Mahkamah Agung dalam Memeriksa dan Memutus Kasasi oleh terdakwa dalam perkara Tindak Pidana Korupsi dengan Ketentuan KUHAP ... 77

1. Pertimbangan Hakim Mahkamah Agung ... 77

2. Amar Putusan Mahkamah Agung ... 80

(14)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xiv

3. Pembahasan ... 84 BAB IV. PENUTUP

A. Simpulan ... 90 B. Saran ... 91 DAFTAR PUSTAKA ... 92 LAMPIRAN

(15)

commit to user

xv

DAFTAR BAGAN

A. Bagan Kerangka Pemikiran... 32

(16)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user 1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya yang adil, makmur, sejahtera, dan tertib berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera tersebut, perlu secara terus menerus ditingkatkan usaha-usaha pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pada umumnya serta tindak pidana korupsi pada khususnya. Di tengah upaya pembangunan nasional di berbagai bidang, aspirasi masyarakat untuk memberantas korupsi dan bentuk penyimpangan lainnya makin meningkat, karena dalam kenyataan adanya pembuatan korupsi telah menimbulkan kerugian negara yang sangat besar yang pada gilirannya dapat berdampak pada timbulnya krisis di berbagai sidang. Untuk itu, upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi perlu semakin ditingkatkan dan diintensifkan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kepentingan masyarakat.

Kasus korupsi di Indonesia seakan-akan menjadi persoalan yang tak pernah bisa untuk diberantas. Penggunaan kekayaan Negara untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tanpa hak adalah sebuah indikasi adanya perbuatan korupsi. Begitu banyaknya kasus korupsi di semua level baik yang terjadi pada birokrasi pemerintahan, pengadilan, maupun sektor lainnya menjadikan Indonesia mengalami keterpurukan di mata internasional. Di seluruh dunia, korupsi selalu mendapatkan perhatian yang lebih dibandingkan dengan tindak pidana lainnya.

Korupsi merupakan masalah serius yang dapat membahayakan stabilitas dan juga politik serta dapat merusak nilai-nilai demokrasi dan moralitas karena lambat laun perbuatan ini seakan menjadi budaya. Korupsi merupakan ancaman terhadap cita- cita menuju masyarakat yang adil dan makmur. Masalah korupsi terkait dengan kompleksitas masalah, antara lain masalah moral / sikap mental, masalah pola

(17)

commit to user

hidup kebutuhan serta kebudayaan dan lingkungan sosial, masalah kebutuhan/tuntutan ekonomi dan kesejahteraan sosial-ekonomi, masalah struktur / sistem ekonomi, masalah sistem / budaya politik, masalah mekanisme pembangunan dan lemahnya birokrasi / prosedur administrasi (termasuk sistem pengawasan) di bidang keuangan dan pelayanan publik. (Barda Nawawi Arif, 2003: 85).

Korupsi menimbulkan dampak yang buruk bagi pembangunan nasional, sebagaimana dikemukakan oleh Gray dan Kauffman yang dikutip oleh U Myint sebagai berikut :

This greater recognition that corruption can have a serious adverse impact on development has been a cause for concern among developing countries. In a recent survey of 150 high level officials from 60 third world countries, the respondent sranked public sector corruption as the most severe obstacle confronting their development process (Gray and Kaufmann 1998). Countries in the Asia and Pacific region are also very worried about this problem and they are in substantial agreement that corruption is a major constraint that is hindering their economic, political and social development, and hence view it as a problem requiring urgent attention at the highest level. (U Myint, Asia-Pacific Development Journal).

Terjemahan bebas :

Pengakuan ini lebih besar bahwa korupsi dapat memiliki sebuah dampak buruk yang serius pada perkembangan telah penyebab untuk keprihatinan di antara negara-negara berkembang. Dalam sebuah survei baru-baru ini dari 150 tingkat tinggi para pejabat dari 60 negara-negara dunia ketiga, para responden sektor publik korupsi sebagai yang paling parah menghadapi hambatan perkembangan mereka proses ( Gray dan Kaufmann tahun 1998 ). Negara dalam wilayah asia dan pasifik yang juga sangat khawatir tentang masalah ini dan mereka ada di kesepakatan substansial bahwa korupsi adalah sebuah kendala utama yang menghambat mereka ekonomi, dan sosial politik pengembangan, dan karenanya melihat itu sebagai masalah yang memerlukan perhatian yang mendesak pada tingkat tertinggi.

Banyak negara-negara berkembang yang mengalami kerugian karena tindak pidana korupsi. Oleh karena itu, masalah korupsi sebagai hal yang harus mendapat perhatian serius. Beberapa negara menginginkan agar perampasan aset hasil korupsi diperlakukan sebagaihak yang tidak bisa dihapus atau dicabut. Aset

(18)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

3

hasil korupsi merupakanhak negara yang harus dikembalikan kepada negara dan negara lah yang berhak untuk mengelola aset atau kekayaan negara dan dipergunakansebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

(Mahmud Mulyadi, 2011 : 217)

Diberlakukannya Undang-undang No. 31 Tahun 1999 jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 dimaksudkan untuk menanggulangi dan memberantas korupsi. Politik kriminal merupakan strategi penanggulangan korupsi yang melekat pada Undang-undang tersebut. Sistem penegakkan hukum yang berlaku dapat menempatkan koruptor tingkat tinggi diatas hukum. Sistem penegakkan hukum yang tidak kondusif bagi iklim demokrasi ini diperparah dengan adanya lembaga pengampunan bagi konglomerat korup hanya dengan pertimbangan selera, bukan dengan pertimbangan hukum. (Evi Hartanti, 2005: 4).

Cukup banyaknya peraturan perundang-undangan mengenai korupsi yang dibuat sejak tahun 1957 sebenarnya memperlihatkan besarnya niat bangsa Indonesia untuk memberantas korupsi hingga saat ini, baik dari sisi hukum pidana materiil maupun pidana formal (hukum acara pidana). Walaupun demikian, masih didapati kelemahan yang dapat disalahgunakan oleh tersangka untuk melepaskan diri dari jeratan hukum. Dampak dari terjadinya tindak pidana korupsi maka Pemerintah Indonesia membuat peraturan perundang-undangan mengenai tindak pidana korupsi dimulai dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dikarenakan Undang-Undang tersebut terlalu luas maka diganti dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang kemudian direvisi beberapa Pasalnya di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Dengan adanya pemberlakuan Undang-Undang tersebut diharapkan dapat memberantas korupsi di Indonesia.

Tindak pidana korupsi yang dikaji penulis adalah kasus penyelewengan Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang melibatkan Drs. H. Sahmu bin H.

Abdurahim sebagai terdakwa kasus korupsi penyelewengan Program Penanganan

(19)

commit to user

Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) yang salah satunya untuk Lembaga Pendidikan Swasta. Drs. H. Sahmu bin H. Abdurahim berkeinginan untuk mendapatkan bantuan dana P2SEM untuk pembangunan TK Nurul Huda, Desa Paowan, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo. Terdakwa tanpa persetujuan pengurus TK Nurul Huda membuat proposal permohonan bantuan dana kepada Gubernur Jawa Timur untuk pembangunan TK Nurul Huda sebagaimana Surat Nomor : 06 / Perm. / TK.Nurul Huda / IV / 2008 perihal Permohonan Bantuan untuk dapat mencairkan dana pembangunan sebesar Rp 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah). Padahal kegiatan pembangunan TK Nurul Huda itu tidak pernah direalisasikan. Karena perbuatannya tersebut mengakibatkan kerugian keuangan Negara bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Setelah melalui proses pemeriksaan di Pengadilan Negeri Situbondo, hakim memberikan putusan yang tertuang dalam No. 415 / Pid.B / 2009 / PN.STB tanggal 08 April 2010 dengan menyatakan bahwa Terdakwa Drs. H. Sahmu bin H.

Abdurahim tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan Pertama Primair, Membebaskan Terdakwa Drs. H.

Sahmu bin H. Abdurahim dari dakwaan Pertama Primair tersebut kemudian juga Menyatakan Terdakwa Drs. H. Sahmu bin H. Abdurahim telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana “Melakukan Korupsi Sebagai Perbuatan Berlanjut” dan menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Drs. H. Sahmu bin H. Abdurahim dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun serta membayar uang pengganti sebesar nihil. Setelah putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum meminta banding kepada hakim Mahkamah Agung yang berdasarkan putusan Pengadilan Tinggi No. 216 / Pid / 2010 / PT.SBY tanggal 07 Juni 2010 dimana hakim menerima permintaan banding dari Jaksa Penuntut Umum dan membatalkan putusan Pengadilan Negeri Situbondo tanggal 08 April 2010 Nomor : 415 / Pid.B / 2009 / PN.Stb. Yang dimintakan banding yaitu Menyatakan Terdakwa Drs. H. Sahmu bin H.

Abdurahim terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana

“Korupsi Secara Berlanjut” dan Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa dengan

(20)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

5

pidana penjara selama 4 (empat) tahun dan denda sebesar Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) subsidair 6 bulan kurungan.

Terdakwa Drs. H. Sahmu bin H. Abdurahim melakukan upaya hukum kasasi terhadap putusan judex factie yang berupa putusan pemidanaan. Upaya hukum kasasi sebagai salah satu upaya hukum yang diatur dalam Pasal 244 dan Pasal 248 KUHAP guna menentukan alasan-alasan kasasi tersebut adalah : (M.Yahya Harahap, 2010: 565)

a. Apakah benar suatu peraturan hukum tidak diterapkan atau diterapkan sebagaimana mestinya;

b. Apakah benar cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan undang- undang;

c. Apakah benar pengadilan telah melampaui batas kewenangannya.

Ketiga hal ini keberatan kasasi yang dibenarkan Undang-Undang sebagai alasan kasasi. Di luar ketiga alasan ini, keberatan kasasi ditolak karena tidak dibenarkan Undang-Undang. Penentuan alasan kasasi dengan sendirinya serta sekaligus membatasi wewenang Mahkamah Agung memasuki pemeriksaan perkara dalam tingkat kasasi, terbatas hanya meliputi kekeliruan pengadilan atas ketiga hal tersebut. Di luar ketiga hal itu, undang-undang tidak membenarkan Mahkamah Agung menilai dan memeriksanya. Oleh karena itu, bagi seseorang yang mengajukan permohonan kasasi, harus benar-benar memperhatikan keberatan kasasi yang disampaikan dalam memori kasasi, agar keberatan itu dapat mengenai sasaran yang ditentukan Pasal 253 ayat (1) KUHAP.

Terdakwa Drs. H. Sahmu bin H. Abdurahim dalam mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan pemidanaan judex factie tentu saja harus berdasarkan pada alasan-alasan yang diatur dalam Pasal 253 ayat (1) KUHAP.

Salah satu alasan yang diajukan Terdakwa sebagai pemohon kasasi adalah Bahwa judex factie (Pengadilan Tinggi) yang memeriksa dan mengadili perkara ini dalam keputusannya tersebut selain telah melampaui batas wewenangnya, juga telah melecehkan dan mengesampingkan hukum positif yang jelas-jelas berlaku,

(21)

commit to user

dalam hal ini pada Pasal 67 Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 (KUHAP), secara tegas menyatakan : “Bahwa Terdakwa atau Penuntut Umum berhak untuk meminta banding terhadap putusan Pengadilan Tingkat Pertama, kecuali terhadap putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum”.

Jadi jelas disini, bahwa Terdakwa yang telah dibebaskan dari dakwaan Pertama Primair Jaksa Penuntut Umum tersebut oleh Pengadilan Negeri Situbondo, tidak bisa lagi dan tidak mungkin lagi secara hukum untuk diperiksa di tingkat banding atas dakwaan Pertama Primair tersebut. Dalam hal ini, Penerapan hukum yang dimaksud adalah penerapan hukum yang dilakukan oleh judex factie dalam memeriksa dan memutus perkara pada tingkat pertama maupun banding atau dengan kata lain, judex juris mengoreksi penerapan hukum judex factie dalam memeriksa perkara berdasarkan fakta.

Pada intinya penulis ingin mengkaji dasar permohonan kasasi oleh terdakwa dan pertimbangan hakim Mahkamah Agung apakah sudah sesuai dengan ketentuan dan aturan hukum baik formil maupun materiil yang ada. Hal inilah yang menjadi fokus dalam penelitian ini dan penulis juga ingin mendalami mengenai hal tersebut. Berdasarkan hal di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam rangka penulisan skripsi dengan judul ”ANALISIS YURIDIS PENGAJUAN KASASI OLEH TERDAKWA DAN PERTIMBANGAN HAKIM MAHKAMAH AGUNG DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI SERTA KESESUAIANNYA DENGAN KUHAP” (Studi Kasus Putusan Kasasi No. 1890 K/Pid.Sus/2010).

B. Rumusan Masalah

Setiap penulisan ilmiah yang akandilakukan selalu berangkat dari masalah (Sugiyono, 2004: 25). Rumusan masalah dimaksudkan untuk penegasan masalah- masalah yang akan diteliti sehingga memudahkan dalam pengerjaan serta pencapaian sasaran. Perumusan masalah dalam suatu penelitian diperlukan untuk memfokuskan masalah agar dapat dipecahkan secara sistematis dan perumusan

(22)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

7

masalah harus dilandasi oleh pemikiran teoritis (Johnny Ibrahim, 2008: 289).Cara ini dapat memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan pemahaman terhadap permasalahan serta mencapai tujuan yang dikehendaki. Adapun permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini, yaitu:

1. Apakah yang menjadi dasar permohonan kasasi yang diajukan oleh terdakwa dalam permohonan kasasi sesuai dengan ketentuan KUHAP?

2. Apakah yang menjadi pertimbangan Hakim Mahkamah Agung dalam memeriksa dan memutus kasasi oleh terdakwa dalam perkara tindak pidana korupsi sudah sesuai dengan ketentuan KUHAP?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian merupakan suatu target yang dicapai dalam suatu penelitian sebagai solusi atas masalah yang dihadapi (tujuan objektif), maupun untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan perorangan (tujuan subjektif). Adapun tujuan yang dicapai dalam penelitian hukum ini adalah sebagai berikut :

1. Tujuan Obyektif

a. Untuk mengetahui hal-hal yang menjadi dasar permohonan kasasi terdakwa dalam tindak pidana korupsi sudah sesuai dengan KUHAP.

b. Untuk mengetahui dasar pertimbangan hakim Mahkamah Agung dalam memeriksa dan memutus permohonan kasasi terdakwa dalam perkara tindak pidana korupsi sesuai dengan KUHAP.

2. Tujuan Subyektif

a. Untuk menambah wawasan dan memperluas pengetahuan penulis dalam penelitian hukum pada khususnya di bidang Hukum Acara Pidana.

b. Untuk menerapkan konsep-konsep ataupun teori-teori hukum yang diperoleh penulis dalam mendukung penelitian ini.

(23)

commit to user

c. Untuk memperoleh data yang lebih lengkap dan jelas sebagai bahan untuk menyusun penulisan hukum, sebagai persyaratan dalam memperoleh gelar kesarjanaan di bidang Ilmu Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

D. Manfaat Penelitian

Salah satu faktor pemilihan masalah dalam penelitian ini adalah hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat karena nilai dari sebuah penelitian ditentukan oleh besarnya manfaat yang dapat diambil dari adanya penelitian tersebut. Dalam penelitian ini selain mempunyai tujuan yang jelas, juga diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan hukum pada umumnya dan hukum acara pidana pada khususnya.

b. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi di bidang karya ilmiah serta bahan masukan bagi penelitian sejenis di masa yang akan datang.

c. Hasil penelitin diharapkan dapat menyumbangkan pemecahan atas permasalahan yang diteliti.

2. Manfaat Praktis

a. Untuk memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti.

b. Memberikan pendalaman, pengetahuan, membentuk pola pikir dinamis dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh penulis selama studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret yang dapat berguna bagi penulis di kemudian hari.

E. Metode Penelitian

(24)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

9

Penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan-aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2005:35). Oleh karena itu, penelitian hukum merupakan suatu penelitian dalam kerangka know-how di dalam hukum.Penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Adapun metode yang digunakan dalam penulisan hukum dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelian hukum normatif, yaitu penelitian berdasarkan bahan-bahan hukum (library based) yang fokusnya pada membaca dan mempelajari bahan-bahan hukum primer dan sekunder. Menurut Johnny Ibrahim, penelitian hukum adalah suatu prosedur ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya (Johnny Ibrahim, 2008:57).

2. Sifat Penelitian

Dalam penelitian hukum ini, penulis menggunakan penelitian yang bersifat preskriptif. Ilmu hukum mempunyai karakteristik sebagai ilmu yang bersifat preskriptif, maka penelitian ini juga bersifat preskriptif. Sebagai ilmu yang bersifat preskriptif, ilmu hukum mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum dan norma-norma hukum. (Peter Mahmud Marzuki, 2010:22).

Penelitian ini bersifat Preskriptif karena berusaha menjawab isu hukum yang diangkat dengan argumentasi, teori, atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2005:35).

3. Pendekatan Penelitian

(25)

commit to user

Terdapat beberapa macam pendekatan dalam penelitian hukum.

Dengan pendekatan tersebut, peneliti akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang ditelitinya. Menurut Peter Mahmud Marzuki, pendekatan dalam penelitian hukum terdiri dari : (Peter Mahmud Marzuki, 2010:93)

a. pendekatan Perundang-Undangan (statute approach);

b. pendekatan kasus (case approach);

c. pendekatan historis (historical approach);

d. pendekatan komparatif (comparative approach); dan e. pendekatan konseptual (conceptual approach)

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kasus (case approach). Pendekatan kasus dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (Peter Mahmud Marzuki, 2010: 94).

Pendekatan ini dipilih karena dalam penulisan hukum ini penulis ingin mengetahui tentang dasar permohonan kasasi yang diajukan oleh terdakwa dalam permohonan kasasi dan pertimbangan Hakim Mahkamah Agung dalam memeriksa dan memutus kasasi oleh terdakwa dalam perkara tindak pidana korupsi apakah sudah sesuai dengan ketentuan KUHAP terhadap putusan kasasi No. 1890 K/Pid.Sus/2010.

4. Sumber Bahan Hukum

Sumber bahan hukum yang digunakan di dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder.

a. Bahan hukum primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif, yang artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi, atau risalah dalam

(26)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

11

pembuatan peraturan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim (Peter Mahmud Marzuki, 2010:141).

Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

3) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 5) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan

Kehakiman

6) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 Tentang Mahkamah Agung 7) Putusan Kasasi No. 1890 K/Pid.Sus/2010.

b. Bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi (Peter Mahmud Marzuki, 2010:141). Bahan hukum sekunder yang digunakan sebagai pendukung data dalam penelitian ini yaitu buku-buku, referensi, jurnal- jurnal hukum yang terkait, majalah, internet, dan sumber lainnya yang berkaitan dengan topik yang dibahas.

5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan atau studi dokumen yaitu pengumpulan data dengan mempelajari, membaca, mencatat buku-buku, literatur, peraturan perundang- undangan serta artikel-artikel penting dari internet yang erat kaitannya dengan pokok-pokok permasalahan yang digunakan untuk menyusun penulisan hukum ini, untuk kemudian dianalisis dan dirumuskan sebagai data penunjang di dalam penelitian ini.

(27)

commit to user 6. Teknik Analisis Bahan Hukum

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penalaran deduktif.

Sumber penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini dengan melakukan inventarisasi sekaligus mengkaji dari penelitian studi kepustakaan, studi putusan, aturan perundang-undangan beserta dokumen-dokumen yang dapat membantu menafsirkan norma terkait, kemudian sumber penelitian tersebut diolah dan dianalisis untuk menjawab permasalahan yang diteliti serta mengkualifikasi kemudian menghubungkan dengan teori yang berhubungan dengan masalah dan akhirnya menarik kesimpulan.

Teknik analisa dalam penelitian hukum adalah teknik kualitatif.

Mengkualitatifkan bahan hukum adalah fokus utama dari penelitian hukum ini, dimana penelitian hukum ini berusaha untuk mengerti atau memahami gejala yang diteliti untuk kemudian mengkaitkan atau menghubungkan bahan- bahan hukum yang relevan dan menjadi acuan dalam penelitian hukum kepustakaan. Penganalisisan data merupakan tahap yang paling penting dalam penelitian hukum normatif. Di dalam penelitian hukum normatif, maka pengolahan bahan hukumm pada hakekatnya merupakan kegiatan untuk mengadakan sistematisasi bahan-bahan hukum tertulis.

Dengan demikian penulis berharap dapat memberikan penjelasan yang utuh dan menyeluruh bagi fenomena yang diteliti, yaitu mengenai pengajuan kasasi oleh terdakwa dan pertimbangan hakim Mahkamah Agung dalam perkara tindak pidana korupsi serta kesesuaiannya dengan KUHAP, dan pada akhirnya memberikan simpulan yang solutif untuk memecahkan permasalahan yang diteliti dengan memberikan rekomendasi seperlunya.

F. Sistematika Penulisan Hukum

Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh tentang sistematika penulisan hukum yang sesuai dengan aturan baru dalam penulisan hukum

(28)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

13

maka penulis mengguanakan sistematika penulisan hukum. Adapun sistematika penulisan hukum ini terdiri dari 4 (empat) bab yang tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan hasil penelitian ini. Sistematika keseluruhan penulisan hukum ini adalah sebagai berikut :

BAB I. PENDAHULUAN

Dalam bab ini, penulis menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan hukum (skripsi).

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini diuraikan yang pertama, tentang kerangka teori yang berisi tinjauan kepustakaan yang menjadi literature pendukung dalam pembahasan masalah penulisan hukum ini. Tinjauan pustaka dalam penulisan ini meliputi : tinjauan umum tentang upaya hukum kasasi, tinjauan umum tentang pertimbangan hakim, dan tinjauan umum tentang tindak pidana korupsi. Kedua, akan diuraikan kerangka pemikiran untuk memudahkan pemahaman alur berpikir.

BAB III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini diuraikan mengenai hasil penelitian dan pembahasan berdasarkan rumusan masalah, yaitu : Apakah yang menjadi dasar permohonan kasasi yang diajukan oleh terdakwa dalam permohonan kasasi sudah sesuai dengan KUHAP dan Apakah yang menjadi pertimbangan Hakim Mahkamah Agung dalam memeriksa dan memutus kasasi oleh terdakwa dalam perkara tindak pidana sudah sesuai dengan KUHAP.

BAB IV. PENUTUP

(29)

commit to user

Pada bab ini diuraikan tentang pokok-pokok yang menjadi kesimpulan dan saran dari penelitian ini, yang tentu saja berpedoman pada hasil penelitian dan pembahasan.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(30)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user 15 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori 1. Tinjauan tentang Upaya Hukum Kasasi

a. Pengertian Kasasi

Upaya hukum secara yuridis normatif diatur dalam Bab I Pasal 1 Angka 12 KUHAP yang menyatakan upaya hukum adalah hak terdakwa atau penuntut umum untuk tidak menerima putusan pengadilan yang berupa perlawanan atau banding atau hak terpidana untuk mengajukan permohonan Peninjauan Kembali dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Upaya biasa dibagi menjadi dua macam yaitu banding dan kasasi, sedangkan upaya hukum luar biasa ada dua macam yaitu peninjauan kembali dan kasasi demi kepentingan hukum. (S.Tanusubroto, 2008: 47)

Undang-undang menyediakan upaya hukum bagi terdakwa maupun Penuntut Umum, yakni apabila pihak-pihak tersebut merasa tidak puas akan kualitas putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan atau putusan tersebut dirasakan tidak mencerminkan nilai-nilai keadilan.

Terkait dengan upaya hukum tersebut maka keadilan yang relevan dalam hal ini yakni terwujudnya keadilan sosial yang disebut dengan keadilan Pancasila.

Berdasarkan esensi Pasal 244 KUHAP dan pendapat kalangan doktrina dapat disimpulkan bahwa upaya hukum kasasi merupakan suatu hak yang dapat dipergunakan atau dikesampingkan oleh terdakwa atau penuntut umum.Apabila terdakwa atau penuntut umum tidak menerima putusan yang dijatuhkan pengadilan tingkat bawahnya maka

(31)

commit to user

dapat mengajukan permohonan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamah Agung terhadap pelaksanaan dan pengetrapan hukum yang telah dijalankan oleh pengadilan di bawahnya kecuali terhadap putusan yang mengandung pembebasan.

Menurut KUHAP suatu permohonan kasasi dapat ditolak untuk diperiksa oleh Mahkamah Agung, jika :

1. Putusan yang dimintakan kasasi ialah putusan bebas (Pasal 244 KUHAP).

2. Melewati tenggang waktu penyampaian permohonan kasasi kepada panitera pengadilan yang memeriksa perkaranya, yaitu empat belas hari sesudah putusan disampaikan kepada terdakwa (Pasal 245 KUHAP).

3. Sudah ada keputusan kasasi sebelumnya mengenai perkara tersebut.

Kasasi hanya dilakukan sekali.

4. Permohonan tidak mengajukan memori kasasi (Pasal 248 ayat (1) KUHAP, atau tidak memberitahukan alasan kasasi pada panitera, jika pemohon tidak memahami hukum (Pasal 248 ayat (2) KUHAP), atau pemohon terlambat mengajukan memori kasasi, yaitu empat belas hari sesudah mengajukan permohonan kasasi (Pasal 248 ayat (1) dan (4) KUHAP).

5. Tidak ada alasan kasasi atau tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 253 ayat (1) KUHAP tentang alasan kasasi.

b. Kasasi sebagai Upaya Hukum

Dikatakan kasasi sebagai upaya hukum karena kasasi adalah salah satu bentuk dari upaya hukum yang dapat ditempuh oleh terdakwa atau penuntut umum apabila ia tidak dapat menerima putusan pengadilan pada tingkat terakhir. Kasasi sebagai upaya hukum dapat berbentuk kasasi biasa (yang diajukan oleh terdakwa atau penuntut umum) dan kasasi demi kepentingan hukum yang diajukan oleh Jaksa

(32)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17

Agung (sebagai upaya hukum luar biasa).Kasasi biasa diajukan terhadap putusan pengadilan yang belum memperoleh kekuatan hukum tetao, sedangkan kasasi demi kepentingan hukum diajukan terhadap putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.Kasasi demi kepentingan hukum hanya dapat diajukan oleh Jaksa Agung. (Harun M.Husein, 1992: 49)

c. Tata Cara Pengajuan Kasasi

Dalam KUHAP, telah ditetapkan tentang cara pengajuan permohonan kasasi sebagai berikut : (Harun M.Husein, 1992: 64) 1) Cara mengajukan permohonan kasasi diatur dalam Pasal 245

KUHAP, yang menetapkan bahwa permohonan kasasi disampaikan oleh pemohon kepada panitera pengadilan yang telah memutus perkaranya dalam tingkat pertama, dalam waktu 14 hari setelah putusan pengadilan yang dimintakan kasasi itu diberitahukan kepada terdakwa;

2) Permohonan kasasi tersebut oleh panitera dicatat dalam sebuah surat keterangan yang disebut akta permintaan kasasi yang ditandatangani oleh pemohon kasasi dan panitera dan dicatat dalam suatu daftar yang dilampirkan pada berkas perkara;

3) Dalam Pasal 245 ayat (3) KUHAP, ditegaskan bahwa dalam hal Pengadilan Negeri menerima permohonan kasasi, baik yang diajukan oleh penuntut umum atau terdakwa, maupun yang diajukan oleh penuntut umum dan terdakwa sekaligus, maka panitera wajib memberitahukan permintaan dari pihak yang satu kepada pihak yang lain;

4) Dalam Pasal 247 ayat (4) KUHAP, ditegaskan pula bahwa permohonan kasasi hanya dapat diajukan satu kali. Pengaturan lebih lanjut tentang hal ini, terdapat dalam Pasal 43 Undang- Undang Nomor 14 tahun 1985 jo Undang-Undang Nomor 5 tahun

(33)

commit to user

2004 tentang Mahkamah Agung. Dalam Pasal tersebut diatur tentang tidak hanya tentang berapa kali permohonan kasasi dapat diajukan hanya jika pemohon terhadap perkaranya telah menggunakan upaya hukum banding, kecuali ditentukan lain oleh Undang-Undang.

d. Alasan Kasasi

Alasan kasasi adalah dasar atau landasan daripada keberatan- keberatan pemohon kasasi terhadap putusan pengadilan yang dimintakan kasasinya ke Mahkamah Agung. Pasal 253 ayat (1) KUHAP menyatakan bahwa pemeriksaan dalam tingkat kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung atas permintaan para pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 244 dan Pasal 248 KUHAP guna menentukan alasan-alasan kasasi tersebut adalah : (M.Yahya Harahap, 2010: 565)

a. Apakah benar suatu peraturan hukum tidak diterapkan atau diterapkan sebagaimana mestinya;

b. Apakah benar cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan undang-undang;

c. Apakah benar pengadilan telah melampaui batas kewenangannya.

Alasan-alasan kasasi tersebut diuraikan dalam memori kasasi.

Tentang memori kasasi ini, diatur dalam Pasal 248 KUHAP yang menetapkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : (M.Yahya Harahap, 2010 : 566).

a. Pemohon kasasi wajib mengajukan memori kasasi yang memuat alasan permohonan kasasinya;

b. Memori kasasi harus diserahkan kepada panitera dalam waktu 14 hari setelah mengajukan permohanan kasasi;

c. Atas penyerahan memori kasasi tersebut panitera memberikan surat tanda terima;

(34)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19

d. Alasan-alasan kasasi tersebut adalah sebagaimana ditentukan dalam Pasal 253 ayat 1 KUHAP.

2. Tinjauan tentang Pertimbangan Hakim a. Pengertian Hakim

Menurut Pasal 1 butir 8 KUHAP : “Hakim adalah pejabat peradilan Negara yang diberi wewenang oleh Undang-undang untuk mengadili”.

Sedangkan menurut Pasal 31 Undang-undang No.4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman, “Hakim adalah pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur dalam Undang-undang”.

b. Pertimbangan Hakim

Pertimbangan hakim dalam suatu putusan yang mengandung penghukuman terdakwa harus ditujukan terhadap hal-hal terbuktinya peristiwa pidana yang dituduhkan kepada terdakwa. Oleh karena suatu perbuatan yang diancam dengan hukuman pidana, selalu terdiri dari beberapa bagian, yang merupakan syarat bagi dapatnya perbuatan itu dikenakan hukuman, maka tiap-tiap bagian itu harus ditinjau, apakah sudah dianggap nyata terjadi. (Laden Marpaung, 1992:423)

Menurut Rusli Muhammad (2006 : 124) dalam memberikan telaah kepada pertimbangan hakim dalam berbagai putusannya terdapat dua kategori yaitu :

1) Pertimbangan yang bersifat yuridis

Pertimbangan yang bersifat yuridis adalah pertimbangan hakim yang didasarkan pada fakta-fakta yuridis yang terungkap dalam persidangan dan oleh Undang-Undang ditetapkan sebagai hal yang harus dimuat di dalam putusan. Hal-hal yang dimaksud antara lain :

a) Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

(35)

commit to user

Dakwaan merupakan dasar dari hukum acara pidana karena berdasar itulah pemeriksaan di persidangan dilakukan.Perumusan dakwaan didasarkan atas hasil pemeriksaan pendahuluan yang disusun tunggal, komulatif, alternatif ataupun subsidair.

b) Keterangan terdakwa

Keterangan terdakwa menurut Pasal 184 huruf e KUHAP, digolongkan sebagai alat bukti. Keterangan terdakwa adalah apa yang dinyatakan terdakwa di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau dialami sendiri.Dalam hukum acara pidana keterangan terdakwa dapat dinyatakan dalam bentuk pengakuan ataupun penolakan, baik sebagian ataupun keseluruhan terhadap dakwaan penuntut umum dan keterangan yang disampaikan oleh para saksi.Keterangan terdakwa sekaligus juga merupakan jawaban atas pertanyaan hakim, jaksa penuntut umum ataupun dari penasihat hukum.

c) Keterangan saksi

Keterangan saksi dapat dikategorikan sebagai alat bukti sepanjang keterangan itu mengenai sesuatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, alami sendiri, dan harus disampaikan di dalam siding pengadilan yang merupakan hasil pemikiran saja atau hasil rekaan yang diperoleh dari orang lain atau kesaksian testimonium de auditu tidak dapat dinilai sebagai alat bukti yang sah.

d) Barang-barang bukti

Pengertian barang bukti disini adalah semua benda yang dapat dikenakan penyitaan dan diajukan oleh penuntut umum di depan siding pengadilan. Adanya barang bukti yang terungkap di persidangan akan menambah keyakinan hakim dalam menilai benar tidaknya perbuatan yang didakwakan

(36)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

kepada terdakwa, dan sudah barang tentu hakim akan lebih yakin apabila barang bukti itu dikenal dan diakui oleh terdakwa ataupun saksi.

e) Pasal-Pasal dalam peraturan hukum pidana dan sebagainya Dalam praktek persidangan, Pasal peraturan hukum pidana itu selalu dihubungkan dengan perbuatan terdakwa.

Dalam hal ini, penuntut umum dan hakim berusaha untuk membuktikan dan memeriksa melalui alat-alat bukti tentang apakah perbuatan terdakwa telah atau tidak memenuhi unsur- unsur yang dirumuskan dalam Pasal peraturan hukum pidana.

Apabila ternyata perbuatan terdakwa memenuhi unsur-unsur dari setiap Pasal yang dilanggar, berarti terbuktilah menurut hukum kesalahan terdakwa, yakni telah melakukan perbuatan seperti diatur dalam Pasal hukum pidana tersebut.

2) Pertimbangan bersifat non yuridis

Pertimbangan yang bersifat non yuridis terdiri dari : a) Latar belakang terdakwa

Pengertian latar belakang perbuatan terdakwa adalah setiap keadaan yang menyebabkan timbulnya keinginan serta dorongan keras pada diri terdakwa dalam melakukan tindak pidana kriminal. Latar belakang perbuatan terdakwa dalam melakukan perbuatan kriminal meliputi keadaan ekonomi terdakwa dan ketidakharmonisan hubungan sosial terdakwa baik dalam lingkungan keluarganya, maupun dengan orang lain.

b) Akibat perbuatan terdakwa

Perbuatan pidana yang dilakukan terdakwa sudah pasti membawa korban ataupun kerugian pada pihak lain. Bahkan akibat dari perbuatan terdakwa dari kejahatan yang dilakukan tersebut dapat pula berpengaruh buruk kepada masyarakat luas,

(37)

commit to user

paling tidak keamanan dan ketentraman mereka senantiasa terancam.Namun akibat demikian yang telah ditimbulkan terdakwa tidak selamanya menjadi dasar pertimbangan hakim.Sebagian putusan hakim ada yang mempertimbangkan tentang akibat hukum terdakwa, tetapi ada pula sebagian dari putusan hakim itu tidak mempertimbangkannya.

c) Kondisi diri tedakwa

Pengertian kondisi terdakwa dalam pembahasan ini adalah keadaan fisik maupun psikis terdakwa sebelum melakukan kejahatan, termasuk pula status sosial terdakwa.

Keadaan fisik dimaksudkan adalah usia dan tingkat kedewasaan, sementara keadaan psikis adalah berkaitan dengan perasaan yang dapat berupa : mendapat tekanan dari orang lain, pikiran sedang kacau, keadaan marah dan lain-lain. Adapun yang dimaksudkan dengan status sosial adalah predikat yang dimiliki dalam masyarakat.

d) Keadaan sosial ekonomi terdakwa

Baik dalam KUHP maupun KUHAP tidak ada suatu aturan yang mengatur dengan tegas mengenai keadaan sosial ekonomi terdakwa dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menjatuhkan putusan yang berupa pemidanaan. Namun dalam konsep KUHP yang baru bahwa pembuat, motif, dan tujuan dilakukannya tindak pidana, cara melakukan tindak pidana, cara melakukan tindak pidana, sikap batin pembuat, riwayat hidup, dan keadaan sosial ekonomi pembuat, sikap, dan tindakan si pembuat sesudah melakukan tindak pidana, pengaruh pidana terhadap masa depan pembuat dan pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan dapat dijadikan dasar pertimbangan oleh hakim dalam menjatuhkan putusan berupa pemidanaan.

e) Agama terdakwa

(38)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

Keterikatan para hakim terhadap ajaran agama tidak cukup bila sekedar meletakkan kata “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” pada kepala putusan, melainkan harus menjadi ukuran penilaian dari setiap tindakan baik tindakan para hakim itu sendiri maupun dan terutama terhadap tindakan para pembuat kejahatan.

c. Tugas, Kewajiban dan Tanggung Jawab Hakim

Dalam rangka penegakan hukum di Indonesia, tugas hakim adalah menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila melalui perkara- perkara yang dihadapkan kepadanya, sehingga keputusan yang diambilnya mencerminkan rasa keadilan bangsa dan masyarakat Indonesia.

Untuk menegakkan hukum dan keadilan, seorang hakim mempunyai kewajiban-kewajiban atau tanggung jawab hukum. Kewajiban hakim sebagai salah satu organ lembaga peradilan tertuang dalam Bab IV Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman.

Adapun kewajiban-kewajiban hakim tersebut adalah sebagai berikut : 1) Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum

dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat (Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang No. 4 Tahun 2004)

2) Dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, hakim wajib memperhatikan pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa (Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang No. 4 Tahun 2004)

3) Seorang hakim wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila terikat hubungan keluarga sedarah dan semenda sampai derajat ketiga, atau hubungan suami istri meskipun telah bercerai, dengan ketua, salah seorang hakim anggota, jaksa, advokat, atau panitera (Pasal 29 ayat (3) Undang-Undang No.4 Tahun 2004).

4) Ketua Majelis, hakim anggota, wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila terikat hubungan keluarga sedarah dan semenda sampai derajat ketiga, atau hubungan suami istri meskipun telah bercerai, dengan pihak yang diadili atau advokat (Pasal 29 ayat (4) Undang-Undang No.4 Tahun 2004).

5) Seorang hakim wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila ia mempunyai kepentingan langsung atau tidak langsung dengan perkara yang sedang diperiksa, baik atas kehendaknya sendiri maupun atas

(39)

commit to user

permintaan pihak yang berperkara (Pasal 29 ayat (5) Undang-Undang No. 4 Tahun 2004).

6) Sebelum memangku jabatannya, hakim untuk masing-masing lingkungan peradilan wajib mengucapkan sumpah atau janjinya menurut agamanya (Pasal 30 ayat (1) Undang-Undang No.4 Tahun 2004).

Hakim dalam menjalankan tugasnya memiliki tanggung jawab profesi. Tanggung jawab tersebut dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

(Rizky Argama, 2006 : 11)

1) Tanggung jawab moral

Adalah tanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai dan norma- norma yang berlaku dalam lingkungan kehidupan profesi yang bersangkutan (hakim), baik bersifat pribadi maupun bersifat kelembagaan bagi suatu lembaga yang merupakan wadah para hakim bersangkutan.

2) Tanggung jawab hukum

Adalah tanggung jawab yang menjadi beban hakim untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan tidak melanggar peraturan hukum.

3) Tanggung jawab teknis profesi

Adalah merupakan tuntutan bagi hakim untuk melaksanakan tugasnya secara professional sesuai dengan kriteria teknis yang berlaku dalam bidang profesi yang bersangkutan, baik bersifat umum maupun ketentuan khusus dalam lembaganya.

d. Pengertian Putusan Hakim dan Isi Putusan Hakim

Putusan pengadilan sangat diperlukan untuk menyelesaikan perkara pidana. Dengan adanya putusan hakim ini diharapkan para pihak dalam perkara pidana khususnya bagi terdakwa dapat memperoleh kepastian hukum tentang statusnya dan sekaligus dapat mempersiapkan langkah berikutnya antara lain berupa menerima putusan, melakukan

(40)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

upaya hukum banding/kasasi, melakukan grasi dan sebagainya.

Sedangkan ditinjau dari optik hakim yang mengadili perkara pidana tersebut, putusan hakim merupakan mahkota sekaligus puncak pencerminan nilai-nilai kebenaran, kebenaran hakiki, hak asasi, penguasaan hukum atau fakta, secara mapan dan fuktual serta visualisasi etika beserta moral dari hakim yang bersangkutan. (Lilik Mulyadi, 2007 : 201).

Isi putusan hakim merupakan salah satu dari tiga kemungkinan, berupa : (Luhut Pangaribuan, 2008 : 106)

1) Pemidanaan penjatuhan pidana

Jenis putusan pengadilan ini adalah putusan yang membebankan suatu pidana kepada terdakwa karena perbuatan yang didakwakan terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa terdakwa bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan itu.Apabila pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan maka pengadilan menjatuhkan pidana (Pasal 193 ayat (1) KUHAP).

Berdasarkan Pasal 10 KUHP pidana terdiri atas :

a) Pidana Pokok : Pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan, dan denda ;

b) Pidana Tambahan : Pencabutan hak-hak tertentu, Perampasan barang-barang tertentu, dan pengumuman putusan pengadilan.

2) Putusan Bebas

Putusan bebas ini dijelaskan dalam Pasal 191 ayat (1) KUHAP, yaitu jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan disidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan,

(41)

commit to user

maka terdakwa diputus bebas. Dakwaan tidak terbukti berarti bahwa apa yang diisyaratkan oleh Pasal 183 KUHAP tidak dipenuhi karena:

a) Tiadanya sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, yang disebut oleh Pasal 184 KUHAP, misalnya hanya ada satu saksi saja, tanpa diteguhkan dengan bukti lain;

b) Meskipun terdapat dua alat bukti yang sah, akan tetapi Hakim tidak mempunyai keyakinan atas kesalahan terdakwa, misalnya terdapat dua keterangan saksi, akan tetapi Hakim tidak yakin akan kesalahan terdakwa;

c) Jika salah satu atau lebih unsur tidak terbukti.

3) Putusan Lepas dari segala tuntutan hukum

Putusan pengadilan lepas dari segala tuntutan hukum adalah putusan yang dijatuhkan kepada terdakwa yang setelah melalui pemeriksaan ternyata menurut pendapat Pengadilan perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana. Dasar hukum jenis putusan ini terdapat dalam Pasal 191 ayat (2) KUHAP yang menyebutkan :

“Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan”.

3. Tinjauan tentang Tindak Pidana Korupsi a. Pengertian Tindak Pidana

Pembentuk Undang-Undang di Indonesia menggunakan istilah straafbaarfeit untuk menyebutkan nama tindak pidana. Dalam bahasa Belanda straafbaarfeit terdapat dua unsur pembentuk kata yaitu straafbaar dan feit. Perkataan feit dalam bahasa Belanda diartikan “sebagian dari kenyataan”, sedang straafbaar berarti “dapat dihukum”. Sehingga jika

(42)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27

diartikan secara harafiah straafbaarfeit berarti “sebagian dari kenyataan yang dapat dihukum”. Beberapa pakar hukum pidana memberikan pengertian yang berbeda-beda mengenai straafbaarfeit.

Menurut Simon sebagaimana dikutip oleh Evi Hartanti (2005 : 7), straafbaarfeit adalah tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja maupun tidak dengan sengaja yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh Undang-Undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum.

Pompe memberikan pengertian straafbaarfeit dengan membedakan antara definisi menurut teori dengan menurut hukum positif, sebagai berikut :

1) Definisi menurut teori yaitu suatu pelanggaran terhadap norma, yang dilakukan karena kesalahan si pelaku dan diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan hukum.

2) Definisi menurut hukum positif yaitu suatu feit (kejadian) yang oleh Undang-Undang dirumuskan sebagai perbuatan yang dihukum.

Sedangkan Moeljatno sebagaimana dikutip oleh Evi Hartanti, berpendapat perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan yang mana disertai sanksi berupa pidana tertentu bagi barangsiapa yang melanggar aturan tersebut. Dapat dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang hukum dan diancam pidana. Dalam hal ini larangan ditujukan kepada perbuatan, sedangkan ancaman pidananya ditujukan pada orang yang menimbulkan kejahatan.

(Evi Hartanti, 2005:7).

Dari berbagai pengertian straafbaarfeit (tindak pidana) tersebut di atas, maka untuk adanya Tindak Pidana harus ada unsur-unsur yang dipenuhi antara lain :

a. Perbuatan manusia

(43)

commit to user

b. Memenuhi rumusan undang-undang (syarat formil) c. Bersifat melawan hukum (syarat materiil)

b. Pengertian Tindak Pidana Korupsi

Pengertian korupsi sangat bervariasi, namun secara umum korupsi berkaitan dengan perbuatan yang merugikan kepentingan publik atau masyarakat luas untuk keuntungan pribadi atau kelompok tertentu. Black’s Law Dictionary menyebutkan bahwa korupsi adalah :

“An act done with an intent to give some advantage inconsistent with official duty and the rights of others. The act of an official or fiduciary person who unlawfully and wrongfully uses his situation or character to procure some benefit for himself or for another person, contrary to duty and the rights of others”.(Henry Campbell Black, 1991:112).

Terjemahan bebas :

Suatu perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak sesuai dengan kewajiban resmi dan hak-hak dari pihak lain. Perbuatan dari seorang pejabat atau kepercayaan yang secara salah menggunakan jabatannya atau karakternya untuk mendapatkan suatu keuntungan untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain, berlawanan dengan kewajibannya dan hak-hak dari pihak-pihak lain.

Istilah Korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang berarti penyuapan, dalam bahasa Belanda disebut juga corruptive dan dalam bahasa Sansekerta di dalam naskah kuno Negara kertagama tersebut corrupt arti harfiahnya menunjukkan kepada perbuatan yang rusak, bejat, tidak jujur yang disangkut pautkan dengan keuangan. (Andi Hamzah, 2007 : 6).

Korupsi telah didefinisikan secara jelas oleh Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 dalam Pasal-Pasalnya. Berdasarkan Pasal-Pasal tersebut korupsi dapat diklarifikasikan sebagai berikut : (Diatmiko Soemodiharjo, 2008 : 188)

(44)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

29

a) Korupsi yang terkait dengan keuangan Negara, yaitu melawan hukum untuk memperkaya diri dan dapat merugikan keuangan Negara;

menyalahgunakan kewenangan untuk menguntungkan diri sendiri dan dapat merugikan keuangan Negara.

b) Korupsi yang terkait dengan suap menyuap, yaitu menyuap Pegawai Negeri; member hadiah kepada Pegawai Negeri karena jabatannya Pegawai Negeri menerima suap; menyuapa hakim; menyuap advokad;

Hakim dan advokat yang menerima suap; Hakim yang menerima suap;

advokat yang menerima suap.

c) Korupsi yang terkait penggelapan dalam jabatan yaitu Pegawai Negeri yang menggelapkan uang atau yang membiarkan penggelapan;

Pegawai Negeri yang memalsukan buku untuk pemeriksaan administrasi; Pegawai Negeri yang merusak bukti; Pegawai Negeri yang membiarkan orang lain merusakkan bukti; Pegawai Negeri yang membantu orang lain merusakkan bukti.

d) Korupsi yang terkait dengan perbuatan pemerasan, yaitu Pegawai Negeri memeras Pegawai Negeri lain.

e) Korupsi yang terkait dengan perbuatan curang, yaitu pemborong berbuat curang; rekan TNI/POLRI berbuat curang; pengawas rekan TNI/POLRI membiarkan berbuat curang; penerima barang TNI/POLRI membiarkan berbuat curang; Pegawai Negeri menyerobot tanah Negara sehingga merugikan orang lain.

f) Korupsi yang terkait dengan benturan kepentingan dalam pengadaan, yaitu Pegawai Negeri turut serta dalam pengadaan yang diurusnya.

g) Korupsi yang terkait dengan gratifikasi yaitu Pegawai Negeri menerima gratifikasi dan tidak lapor KPK.

Di dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 menyebutkan bahwa : “Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu

Referensi

Dokumen terkait

Tindak Tutur dalam Transaksi Jual Beli di Pasar Ujung Murung Banjarmasin Kalimantan Selatan. Tindak tutur adalah tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan, sedangkan jual

Data Flow Diagram atau sering juga disebut dengan Bubble Chart atau diagram, model proses, diagram alur kerja atau model fungsi adalah alat pembuatan model

Konsep Freud tentang “ketidaksadaran” dapat digunakan dalam proses pembelajaran yang dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi

Dari perhitungan dengan menggunakan analisis Du Pont System pada Perusahaan Telekomunikasi, Tbk yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2014 dapat disimpulkan

zakat profesi dari pegawai dan guru tidak lagi harus datang ke Kantor BAZIS.. seperti semula, tetapi dikumpulkan melalui UPZ yang telah

Keterampilan Proses Sains Siswa Sebelum dan Setelah Implementasi Strategi Pembelajaran Intertekstual dengan POGIL Pada Konsep Tingkat Kejenuhan Larutan ………

Sebagaimana  halnya  dengan  bahasa  daerah  lainnya  di  Indonesia,  bahasa  Kei  berfungsi  sebagai  lam bang  identitas  daerah, juga  sebagai  alat 

1) Konsumen harus memiliki kebutuhan yang disadari akan suatu kategori produk atau bentuk produk. 2) Konsumen harus sadar akan sebuah produk. 3) Konsumen harus memiliki sikap