42 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian tugas akhir ini dilaksanakan di UD. Al – Hadak yang beralamatkan di Dusun Jatitani Desa Keret Kecamatan Krembung Kabupaten Sidoarjo. UD. Al – Hadak adalah salah satu tempat produksi kerupuk yang berada di daerah tersebut. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Maret 2018. Sebelum melakukan penelitian pada waktu tersebut, telah dilakukan observasi awal.
3.2 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode Occupational Repetitive Action (OCRA) Checklist. Dimana metode OCRA Checklist memiliki
enam variabel risiko yang masing-masing memiliki fungsi terhadap faktor-faktor ergonomi. Enam variabel utama tersebut adalah frekuensi, kekuatan, pemulihan, postur, durasi dan faktor tambahan lainnya. Enam variabel risiko tersebut memiliki perhitungan nilai yang berbeda-beda. Nilai dari enam variabel risiko itulah yang nantinya akan menentukan berapa nilai akhir dari metode OCRA Checklist. Jika nilai akhir dari metode OCRA Checklist berada pada zona risiko
maka harus dilakukan penurunan risiko melalui upaya-upaya pembaharuan cara kerja yang lebih efisien. Merekam dan memfoto semua kegiatan pekerja di masing-masing bagian dalam proses produksi adalah upaya untuk mendapatkan data yang akan digunakan dalam proses perhitungan di setiap variabel risiko, contohnya bagaimana postur tubuh yang terjadi pada saat proses produksi berlangsung, frekuensi tindakan teknis yang terjadi dan faktor tambahan lainnya.
Metode kualitatif digunakan pada saat pengumpulan data yang bersifat deskriptif seperti wawancara pekerja mengenai tingkat kekuatan yang dikeluarkan pada saat bekerja dan kuesioner Nordic Body Map untuk mengetahui anatomi tubuh bagian mana yang mengalami gangguan muskuloskeletal terutama anatomi tubuh
bagian atas. Sedangkan metode kuantitatif digunakan pada saat perhitungan nilai dari masing-masing variabel risiko dan nilai akhir dari metode OCRA Checklist.
3.3 Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah pekerja yang sedang bekerja selama proses produksi berlangsung di UD. Al – Hadak.
3.4 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah checklist atau daftar periksa dari metode OCRA. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, OCRA Checklist memiliki enam variabel risiko dimana tiap variabel mempunyai checklist yang berbeda-beda. Masing-masing dari checklist tersebut mempunyai kriteria-kriteria penilaian yang berbeda pula. Oleh sebab itu, perhitungan yang digunakan pun juga berbeda. Checklist ini sudah berisikan deskripsi-deskripsi yang dinilai dari tiap variabel risiko dengan nilai yang sudah ditentukan dan ditampilkan dalam bentuk tabel checklist.
Instrumen lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Nordic Body Map. Kuesioner ini digunakan untuk mengetahui anatomi tubuh
bagian mana yang mengalami gangguan muskuloskeletal terutama anatomi tubuh bagian atas. Hal ini dilakukan karena metode OCRA Checklist hanya bisa digunakan untuk gangguan muskuloskeletal pada anatomi tubuh bagian atas (upper limb). Yang kedua adalah kuesioner tingkat penggunaan kekuatan dengan Skala Borg.
3.5 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang mengacu pada informasi yang didapat secara langsung dari informan melalui suatu wawancara. Sumber data primer adalah informan itu sendiri, dimana informan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah para pekerja di UD. Al – Hadak. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang penilaian kekuatan dengan menggunakan Borg
Mulai
Studi Pendahuluan
Perumusan Masalah dan Penetapan Tujuan
Studi Lapangan Studi Literatur
Data Primer :
• Rekaman video.
• Dokumentasi foto pekerja yang menunjukkan postur.
• Wawancara.
• Informasi data lingkungan.
Data Sekunder :
• Profil perusahaan.
• Sejarah perusahaan.
• Data karyawan.
• Informasi waktu produksi.
• Layout produksi.
Pengumpulan Data
Pengisian dan perhitungan checklist
faktor frekuensi
Pengolahan Data
Pengisian dan perhitungan checklist
faktor kekuatan
Pengisian dan perhitungan checklist
faktor postur
Pengisian dan perhitungan checklist
faktor tambahan
Pengisian dan perhitungan checklist
faktor pemulihan
Pengisian dan perhitungan checklist
faktor durasi
Perhitungan nilai akhir OCRA Checklist
Klasifikasi nilai akhir OCRA Checklist
Analisis dan usulan perbaikan
Kesimpulan dan saran
Selesai A
Nordic Body Map
A
Peta tangan kanan dan
tangan kiri Skala Borg CR-10
Analisis postur dan gerakan canggung
yang muncul
Identifikasi faktor tambahan yang
muncul
Identifikasi distribusi waktu pemulihan
(istirahat)
Identifikasi variabel berkaitan dengan
faktor durasi
Scale, observasi awal mengenai keluhan MSDS, proses dan waktu produksi. Data
primer dalam penelitian ini lebih banyak digunakan untuk pengisian dan perhitungan pada OCRA Checklist.
Data sekunder adalah data yang mengacu pada informasi dari sumber yang telah ada sebelumnya. Sumber data sekunder dalam peneliatan ini adalah catatan atau dokumen perusahaan yang dapat dipublikasikan seperti profil perusahaan, sejarah perusahaan, data karyawan, waktu produksi (jika ada), dan layout produksi.
3.6 Tahapan Penelitian
Gambar 3.1 Flowchart metodologi penelitian
3.6.1 Tahap Studi Pendahuluan
Tahap ini adalah untuk mempertajam arah studi utama. Tahap aktifitas atau kegiatan persiapan untuk menentukan objek dan subjek penelitian yang tepat dan sesuai dengan tema penelitian yang menjadi fokus kajian.
3.6.2 Tahap Perumusan Masalah dan Penetapan Tujuan
Menemukan masalah yang sedang dihadapi oleh perusahaan yang kemudian dirumuskan untuk menjadi studi case atau masalah utama, yang nantinya akan dipecahkan dalam penelitian ini. Pemecahan masalah tersebut melalui penelitian ini tentunya mempunyai tujuan, tujuan ini diharapkan dapat membantu mengurangi atau bahkan menghilangkan masalah tersebut melalui suatu alternatif solusi yang efektif dan efisien.
3.6.3 Tahap Studi Lapangan dan Studi Literatur
Pada tahap studi lapangan, peneliti melakukan kegiatan observasi atau pengamatan dan wawancara untuk memperoleh keterangan atau data untuk digunakan pada tahap pengumpulan data nantinya. Studi lapangan akan lebih kuat dengan diimbangi teori yang dalam. Teori yang dalam tersebut didapatkan melalui studi literatur yang akurat dan terpercaya. Studi literatur bisa merujuk pada buku dan jurnal.
3.6.4 Tahap Pengumpulan Data
Tahap ini adalah mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian, baik data primer maupun sekunder. Data-data yang dikumpulkan pada tahap ini masih bersifat mentah, yang nantinya akan diolah pada tahap pengolahan data. Hal-hal yang dilakukan peneliti untuk mengumpulkan data primer adalah melakukan perekaman video proses produksi, informasi waktu produksi, dokumentasi foto pekerja yang melakukan kegiatan produksi, wawancara Nordic Body Map dan informasi keadaan lingkungan tempat kerja. Pengumpulan data sekunder berupa profil perusahaan, sejarah perusahaan, data karyawan dan layout produksi.
Rekaman video + Dokumentasi foto
Waktu proses produksi Waktu siklus total Tahapan proses produksi Bagian-bagian produksi
Postur tubuh yang tidak ergonomis dalam bekerja
Jumlah tindakan teknis atau frekuensi
Waktu siklus bagian
Waktu pemulihan atau istirahat
Wawancara pekerja
Nordic Body Map &
Tingkat penggunaan kekuatan pada saat bekerja
Informasi keadaan
lingkungan Faktor tambahan Data Primer
3.6.4.1 Tahap Pengumpulan Data Primer
Gambar 3.2 Skema pengumpulan data primer
1. Rekaman video dan dokumentasi foto.
Pengumpulan data primer yang pertama adalah melakukan perekaman video dan dokumentasi foto terhadap proses produksi pembuatan kerupuk dari bagian awal hingga bagian akhir. Rekaman video dan dokumentasi foto ini digunakan untuk mengetahui tahapan proses produksi, pengumpulan data waktu proses produksi (termasuk didalamnya adalah waktu siklus bagian, waktu siklus total dan waktu pemulihan atau istirahat), mengetahui apakah ada postur tubuh pekerja yang tidak ergonomis saat bekerja dan jumlah tindakan teknis (frekuensi).
2. Wawancara.
Proses pengumpulan data melalui wawancara terdiri dari Nordic Body Maps dan tingkat penggunaan kekuatan saat bekerja menggunakan Skala Borg.
3. Informasi Keadaan Lingkungan Tempat Produksi.
Yang dimaksud dengan keadaan lingkungan tempat produksi adalah terjadinya gangguan yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan dalam bekerja, seperti adanya getaran yang signifikan yang mungkin berasal dari mesin produksi atau alat penunjang produksi, tingkat temperatur yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dan tingkat kebisingan yang mungkin berasal dari mesin produksi.
Informasi yang didapat nantinya berguna untuk pengisian OCRA Checklist pada bagian faktor tambahan lainnya.
3.6.4.2 Tahap Pengumpulan Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder pada penelitian ini meliputi nama perusahaan, pemilik perusahaan, jenis perusahaan, tahun berdiri, alamat, produk dan jenis produk, sistem produksi, informasi tenaga kerja dan layout produksi.
Gambar 3.3 Skema pengumpulan data sekunder
3.6.5 Tahap Pengolahan Data Nordic Body Map
Setelah pengumpulan data selesai dilakukan, langkah selanjutnya adalah identifikasi lokasi keluhan MSDs dengan menggunakan metode nordic body map.
Nordic body map digunakan untuk memastikan bahwa lokasi keluhan MSDs
Data Sekunder
Sistem produksi Jumlah tenaga kerja
Jenis produk Layout produksi
Produk
Tahun berdiri Jenis perusahaan Pemilik perusahaan Nama perusahaan
Alamat perusahaan
berada pada anggota tubuh bagian atas sehingga metode OCRA Checklist dapat digunakan untuk menganalisis penilaian risiko lebih detail.
3.6.6 Tahap Pengolahan Data Awal
3.6.6.1 Pengolahan Data Menggunakan Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri
Dari hasil rekaman video dan dokumentasi kegiatan dalam proses produksi, data selanjutnya diolah menggunakan peta tangan kanan dan tangan kiri untuk mendapatkan beberapa informasi diantaranya urutan kegiatan proses produksi, tindakan teknis, jumlah tindakan teknis, repetitive tasks, waktu siklus departemen, waktu siklus total, frekuensi tindakan teknis tangan kanan dan tangan kiri dan interupsi atau gangguan tangan kanan dan tangan kiri.
3.6.6.2 Pengolahan Data Tingkat Penggunaan Kekuatan Menggunakan Skala Borg CR-10
Hasil wawancara kepada para pekerja berkaitan dengan tingkat penggunaan kekuatan pada saat bekerja selanjutnya akan dikelompokkan berdasarkan tingkatannya sesuai dengan skala Borg CR-10. Setelah itu mencari waktu penggunaan kekuatan tersebut dan persentasenya terhadap waktu siklus departemen.
3.6.6.3 Analisis Postur dan Gerakan Canggung
Analisis postur dan gerakan canggung dilakukan dengan cara mengindentifikasi sudut yang dibentuk oleh anggota tubuh (lengan, siku, pergelangan tangan dan tangan) serta gerakan stereotip. Kemudian mencari waktu yang digunakan selama melakukan postur dan gerakan canggung tersebut dan persentasenya terhadap waktu siklus departemen.
3.6.6.4 Identifikasi Munculnya Faktor Tambahan
Setelah melakukan pengamatan langsung, identifikasi faktor tambahan yang muncul sesuai dengan kreteria pada checklist faktor tambahan.
3.6.6.5 Identifikasi Distribusi Waktu Pemulihan
Pemberlakuan waktu pemulihan atau istirahat biasanya kebijakan dari perusahaan. Waktu pemulihan biasanya dibagi atas waktu jeda (istirahat sebentar)
dan waktu ishoma. Identifikasi distribusi waktu pemulihan adalah mencari tahu letak dari waktu jeda dan waktu ishoma dalam proses produksi. Sebaiknya proses identifikasi distribusi waktu pemulihan digambarkan dalam bentuk skema supaya lebih mudah untuk dimengerti.
3.6.6.6 Identifikasi Variabel Yang berkaitan Dengan Faktor Durasi
Variabel yang berkaitan dengan faktor durasi meliputi waktu shift, waktu ishoma, waktu jeda, waktu tugas tidak berulang, banyaknya siklus dan waktu siklus total yang diamati. Tujuannya adalah untuk mencari durasi bersih tugas berulang.
3.6.7 Tahap Pengolahan Data dalam OCRA Checklist 3.6.7.1 Perhitungan Faktor Frekuensi
Hasil pengolahan data dari peta tangan kanan dan tangan kiri digunakan untuk proses perhitungan faktor frekuensi pada OCRA Checklist. Perhitungan faktor frekuensi dibagi menjadi dua jenis tindakan yaitu tindakan dinamis dan tindakan statis. Masing-masing jenis tindakan memiliki kriteria penilaian tersendiri. Jika tindakan hanya terjadi satu jenis maka nilai tersebut adalah nilai dari perhitungan faktor frekuensi. Jika tindakan terjadi di antara keduanya maka nilai perhitungan faktor frekuensi adalah nilai paling tinggi di antara keduanya.
3.6.7.2 Perhitungan Faktor Kekuatan
Perhitungan faktor kekuatan dimulai dengan kegiatan mewawancarai pekerja mengenai penggunaan kekuatan pada saat bekerja di bagian masing- masing. Pengukuran tingkat penggunaan kekuatan ini menggunakan Skala Borg CR-10 dimana range penilaian dari 1 sampai dengan 10. Dikarena range 0 sampai dengan 2 pada Skala Borg CR-10 merupakan tingkat penggunaan kekuatan paling minimum (ringan) maka untuk range ini dapat diabaikan dan perhitungan faktor kekuatan ini dimulai dari range 3 sampai dengan 10. Skala Borg CR-10 dibagi menjadi tiga kelompok yaitu range 3-4, range 5-6-7 dan range > 8 dan masing- masing kelompok mempunyai penilaian tersendiri. Jika didapatkan lebih dari satu nilai maka nilai akhir adalah jumlah darinya.
3.6.7.3 Perhitungan Faktor Postur dan Gerakan Canggung
Hasil dari analisis postur dan gerakan canggung yang telah dibahas sebelumnya digunakan untuk perhitungan faktor postur dan gerakan canggung dalam OCRA Checklist. Perhitungan faktor postur dikelompokkan menjadi lima kelompok, empat kelompok yaitu anggota tubuh bagian atas (lengan, siku, pergelangan tangan dan tangan) dan satu kelompok yaitu stereotip. Kelima kelompok tersebut mempunyai penilaian masing-masing. Nilai akhir dari perhitungan faktor postur adalah nilai tertinggi dari kelompok anggota tubuh bagian atas ditambahkan dengan nilai stereotip yang muncul.
3.6.7.4 Perhitungan Faktor Tambahan
Perhitungan faktor tambahan dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian A faktor fisik – mekanik dan bagian B faktor organisasi. Setiap bagian mempunyai kriteria dan penilaian masing-masing. Pilih satu nilai untuk setiap bagian jika faktor tambahan muncul. Nilai akhir dari faktor tambahan adalah jumlah dari nilai setiap bagian (parsial).
3.6.7.5 Perhitungan Faktor Durasi
Pertama, tentukan durasi shift yang digunakan dalam perusahaan.
Kemudian tentukan apakah ada istirahat sebentar (jeda) dalam shift dan berapa jumlah istirahat sebentar (jeda) tersebut dalam shift. Kemudian tentukan durasi istirahat makan siang (ishoma). Selanjutnya tentukan durasi tugas tidak berulang.
Nilai durasi bersih tugas berulang dihitung dengan rumus :
𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐬𝐡𝐢𝐟𝐭 − 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐣𝐞𝐝𝐚 − 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐢𝐬𝐡𝐨𝐦𝐚 − 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐭𝐮𝐠𝐚𝐬 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠
Setelah durasi bersih tugas berulang diketahui maka nilai tersebut dikonfersikan ke dalam pengganda durasi. Langkah selanjutnya adalah menghitung waktu siklus bersih sesuai dengan rumus :
𝐃𝐮𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐡 𝐩𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐢𝐤𝐥𝐮𝐬
Langkah selanjutnya adalah menghitung persentase perbedaan antara waktu siklus pengamatan dengan waktu siklus bersih. Jika persen perbedaan
antara waktu siklus pengamatan dan waktu siklus bersih kurang dari 5% atau sama dengan 20 menit maka perhitungan dapat diterima.
3.6.7.6 Perhitungan Faktor Pemulihan
Hal pertama yang perlu dilakukan dalam proses perhitungan faktor pengganda pemulihan adalah menentukan waktu shift yang diberlakukan dalam perusahaan. Kemudian menganalisis pendistribusian waktu istirahat baik itu istirahat sebentar (jeda) maupun istirahat makan siang. Menentukan durasi dari istirahat sebentar (jeda) berikut jumlahnya dalam shift dan durasi istirahat makan siang. Jika analisis tersebut sudah dilakukan, langkah selanjutnya adalah mencocokkan dengan kriteria penilaian yang terdapat dalam OCRA Checklist.
3.6.7.7 Skor Akhir OCRA Checklist
Setelah enam faktor risiko terhitung, maka langkah selanjutnya adalah menghitung nilai akhir OCRA Checklist dengan rumus :
[
𝐬𝐤𝐨𝐫 𝐟𝐚𝐤𝐭𝐨𝐫 𝐟𝐫𝐞𝐤𝐮𝐞𝐧𝐬𝐢 𝐬𝐤𝐨𝐫 𝐟𝐚𝐤𝐭𝐨𝐫 𝐤𝐞𝐤𝐮𝐚𝐭𝐚𝐧+
𝐬𝐤𝐨𝐫 𝐟𝐚𝐤𝐭𝐨𝐫 𝐩𝐨𝐬𝐭𝐮𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐠𝐞𝐫𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐠+ +
𝐬𝐤𝐨𝐫 𝐟𝐚𝐤𝐭𝐨𝐫 𝐭𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 ]
× 𝐬𝐤𝐨𝐫
𝐟𝐚𝐤𝐭𝐨𝐫 𝐝𝐮𝐫𝐚𝐬𝐢× 𝐬𝐤𝐨𝐫 𝐟𝐚𝐤𝐭𝐨𝐫 𝐩𝐞𝐦𝐮𝐥𝐢𝐡𝐚𝐧
3.6.7.8 Klasifikasi Risiko Berdasarkan Nilai Akhir OCRA Checklist
Tahap ini adalah mengklasifikasikan nilai akhir OCRA Checklist yang didapat dari tahap sebelumnya. Dari nilai akhir OCRA Checklist tersebut apakah masuk ke zona hijau (artinya risiko optimal dan masih dapat diterima), zona kuning (artinya risiko ada tapi terbatas atau sangat sedikit), zona merah terang (artinya risiko ada tapi sedikit), zona merah gelap (artinya risiko sedang), dan zona ungu (artinya risiko tinggi). Kemudian dapat juga diketahui prosentase kejadian UL – WMSDs dalam zona tersebut. Ketika klasifikasi risiko menunjukkan bahwa risiko berada pada zona sedikit sampai dengan tinggi maka harus ada tindakan yang disarankan untuk mengatasi masalah tersebut.
Tabel 3.1 Klasifikasi risiko nilai akhir OCRA Checklist Skor OCRA
Checklist Level Klasifikasi Risiko % kejadian UL - WMSDs
Tindakan yang disarankan
0 - 5 Hijau Optimal
< 5.26 Tidak ada 5.1 - 7.5 Hijau Dapat diterima
7.6 - 11.0 Kuning Terbatas atau sangat
sedikit 5.27 – 8.35 Periksa kembali atau perbaiki
11.1 - 14.0 Merah
Terang Sedikit 8.36 – 10.75 Perbaiki + Pengawasan kesehatan + pelatihan 14.1 - 22.5 Merah
Gelap Sedang 10.75 – 21.51 Perbaiki + Pengawasan kesehatan + pelatihan
≥ 𝟐𝟐. 𝟔 Ungu Tinggi > 21.51 Perbaiki + Pengawasan kesehatan + pelatihan
3.6.8 Analisa dan Usulan Perbaikan
Pada tahap ini, melakukan analisa terhadap serangkaian pengolahan data yang telah dilakukan sebelumnya. Selain itu, pada tahap ini juga memberikan usulan perbaikan. Ketika terdapat bagian atau departemen produksi yang telah diklasifikasikan dan masuk ke dalam zona risiko yang membutuhkan suatu usulan perbaikan, maka langkah selanjutnya adalah menentukan usulan perbaikan yang layak untuk mengatasi masalah tersebut.
Contoh usulan perbaikan yang mungkin bisa diterapkan apabila memang terdapat bagian atau departemen produksi yang masuk ke dalam zona risiko yang membutuhkan suatu usulan perbaikan adalah melakukan desain ulang terhadap fasilitas atau peralatan produksi dengan mempertimbangkan ergonomi supaya lebih nyaman dan optimal saat digunakan dalam bekerja. Contoh lain, mendesain ulang beberapa posisi bagian atau departemen yang kurang tepat yang disebabkan oleh jarak terlalu jauh sehingga waktu pemindahan material menjadi lama.
3.6.9 Kesimpulan dan Saran
Tahap terakhir dari serangkaian tahapan penelitian ini adalah menarik suatu kesimpulan dan saran. Saran untuk perusahaan dan untuk penelitian selanjutnya yang menggunakan tema dan metode yang sama dengan penelitian ini.