• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

AKI yang tinggi tahun 2015 merupakan masalah yang besar di Indonesia, yaitu 305 per 100.000 kelahiran hidup (Profil Penduduk Indonesia Hasil Supas, 2015). Kematian ibu menurut World Health Organization (AKI, 2010), adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, terjadi akibat hal yang terkait dengan kehamilan dan diperberat oleh kehamilan maupun penanganan dalam kehamilan, namun bukan disebabkan oleh kecelakaan atau cedera. Setiap ibu hamil menghadapi risiko terjadinya kematian, sehingga salah satu upaya menurunkan tingkat kematian ibu adalah meningkatkan status kesehatan ibu hamil sampai bersalin melalui pelayanan ibu hamil sampai masa nifas. Pemeriksaan kehamilan sangat penting dilakukan oleh semua ibu hamil untuk mengetahui pertumbuhan janin dan kesehatan ibu.

Hasil pemeriksaan kehamilan pertama (K1) ibu hamil di Indonesia dengan frekuensi kehamilan minimal empat kali selama masa kehamilannya sebesar 83.5%. Adapun untuk cakupan pemeriksaan kehamilan pertama pada trimester pertama adalah 81.6% dan frekuensi antenatal care 1-1-2 atau K4 (minimal satu kali pada trimester pertama, minimal satu kali pada trimester kedua dan minimal dua kali pada trimester ketiga) sebesar 70.4%. Tenaga kesehatan yang paling banyak memberikan pelayanan antenatal care adalah bidan (88%) dan pelayanan antenatal care paling banyak diberikan di praktik bidan (52.5%) (Riskesdas, 2013).

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (2012) menunjukkan AKI di Indonesia masih tinggi sebesar 359 per 100.000 KH. Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan SDKI (1991) yaitu sebesar 390 per 100.000 KH. Tujuan ke-3 Sustainable Development Goals adalah kesehatan yang baik (menurunkan AKI) menjadi 102 per100.000 KH. Mengacu dari kondisi saat ini, potensi untuk mencapai target SDGs ketiga untuk

(2)

commit to user

menurunkan AKI adalah offrack, artinya diperlukan kerja keras dan sungguh-sungguh untuk mencapainya (Kemenkes, 2014).

Setiap kehamilan dapat menimbulkan risiko kematian ibu. Pemantauan dan perawatan kesehatan yang memadai selama kehamilan sampai masa nifas sangat penting untuk kelangsungan hidup ibu dan bayinya. Upaya yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI dalam mempercepat penurunan angka kematian ibu, adalah dengan menekankan pada ketersediaan pelayanan kesehatan ibu di masyarakat. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang mengamanatkan bahwa upaya kesehatan ibu ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas, serta dapat mengurangi angka kematian ibu sebagai salah satu indikator pada Kementerian Kesehatan.

Upaya kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada Undang-Undang tersebut meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Untuk menanggulangi penyebab tersebut diperlukan strategi promosi kesehatan.

Promosi kesehatan merupakan salah satu upayapromotif pada bidang kesehatan di Indonesia yang bertujuan meningkatkan kondisi terhadap determinan kesehatan dan mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih sehat.

Perencanaan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) merupakan program terobosan Kementerian Kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat tentang kesehatan ibu sebagai upaya untuk menurunkan kematian ibu (Ditjen Bina Kesehatan Ibu). P4K adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang difasilitasi oleh tenaga kesehatan, kader, tokoh agama atau tokoh masyarakat untuk meningkatkan peran aktif suami, keluarga dan masyarakat dalam perencanaan persalinan, persiapan menghadapi komplikasi kehamilan atau persalinan, perencanaan penggunaan kontrasepsi pasca persalinan bagi setiap ibu hamil dengan menggunakan media stiker sebagai penanda. Wujud penerapan P4K, komplikasi tersebut juga dituliskan pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam lembar amanat persalinan. Setiap kehamilan yang

(3)

commit to user

mendapat Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan membuat perencanaan persalinan dituliskan pada lembar tersebut (Kementerian Kesehatan, 1997).

Program AKI merupakankegiatan prioritas mengingat terdapat indikator dampak, yaitu AKI dan AKB yang merupakan indicator keberhasilan pembangunan daerah, khususnya pembangunan kesehatan. Indikator ini juga digunakan sebagai salah satu komponen dalam menghitung Indeks Pembangunan Manusia (Dinkes Jatim, 2013).

Kematian ibu tahun 2010-2012 disebabkan karena peningkatan pada kejadian preeklamsia, eklamsia dan faktorlain-lain, seperti masalah sosial, budaya, pendidikan yang kurang, hingga persoalan ekonomi. Sedangkan faktor pendarahan dan infeksi mengalami penurunan tiap tahun. Faktor penyakit jantung mengalami kenaikan pada tahun 2011, tetapi pada tahun 2012 mengalami penurunan. Dari proporsi tahun 2012, faktor preeklamsia dan eklamsia masih menjadi faktor dominan (34.88%) penyebab kematian ibu di Jawa Timur (Dinkes Jatim, 2013).

AKI di Jatim saat ini tercatat 97.39/100.000 KH.Angka ini lebih rendah dari target perkiraan provinsi yaitu 102/100.000 KH. Daerah yang menyumbang angka AKI terbanyak adalah Surabaya, Kediri, Jombang, dan Situbondo. Kematian ibu kebanyakan karena terlambat membawa ke pusat rujukan. Faktor-faktor penyebab kematian ibu adalah masalah sosial, budaya, pendidikan yang kurang, hingga persoalan ekonomi. Namun, penyebab paling banyak kematian ibu melahirkan adalah pre-eklampsia (tekanan darah tinggi saat melahirkan) dan pendarahan akibat kurang cepat dalam penanganan (Dinkes Jatim, 2014).

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur telah berupaya untuk menurunkan AKI dan mempercepat capaian SDGs dengan membentuk Forum PENAKIB (Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi), pada tahun 2016 terbentuk tiga satuan tugas, yaitu Satgas Rujukan, Satgas Pelayanan Kesehatan Dasar serta Satgas Pemberdayaan Masyarakat. Masing-masing satgas akan menelaah penyebab kematian ibu dan bayi dari tiga aspek tersebut (Dinkes Jatim, 2013).

(4)

commit to user

Data AKI menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dari sasaran 28.187 orang ibu hamil pada 2014, dengan jumlah ibu hamil risiko tinggi 5.637 (19.56%) orang dan jumlah ibu bersalin 26.906 (80.43%) orang, tercatat 13 kasus kematian ibu per Oktober 2014. Angka ini menurun dibandingkan dengan pada tahun 2013 sebanyak 34 kasus, dan 2012 sebanyak 37 kasus. Adapun penyebab kematian diantaranya pendarahan, infeksi, preeklamsia, jantung dan lain-lain (Dinkes Kab.Kediri, 2015).

Preeklamsia digambarkan sebagai sindrom spesifik pada kehamilan yang ditandai dengan hipertensi (tekanan darah=140/90mmHg) dan proteinuria (protein=0.3 g di dalam urin) yang terjadi setelah 20 minggu kehamilan pada wanita yang sebelumnya normotensive. Preeklamsia berat dianggap stadium lanjut preeklampsia dan ditandai dengan tekanan darah=160/110 mmHg dan proteinuria=5 g, pada dua kesempatan setidaknya enam jam terpisah (American College of Obstetricians & Gynecologists [ACOG], 2002).

Preeklamsia dan eklamsia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas perinatal di Indonesia. Preeklamsia merupakan penyakit yang angka kejadiannya di setiap negara berbeda-beda. Angka kejadian lebih banyak terjadi di negara berkembang dibandingkan dengan pada negara maju. Hal ini disebabkan oleh karena di negara maju perawatan prenatalnya lebih baik. Kejadian preeklamsia belum pasti bisa diketahui penyebabnya, akan tetapi kondisi ini bisa dipengaruhi oleh paritas, ras, faktor genetik dan lingkungan. Kehamilan dengan preeklampsia lebih umum terjadi pada primigravida, sedangkan pada multigravida berhubungan dengan penyakit hipertensi kronis, diabetes mellitus dan penyakit ginjal (Winarti, 2010).

Primigravida atau ibu yang pertama kali hamil sering mengalami stres dalam mengalami persalinan, sehingga dapat terjadi hipertensi dalam kehamilan, selanjutnya menjadi preeklamsia atau eklamsia. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Abdul (2012) dengan judul penelitian Hubungan antara Primigravida dengan Preeklamsia yang menunjukkan hasil

(5)

commit to user

uji statistik dengan chi square didapatkan nilai p = 0.011 dengan OR = 2.26.

Secara statistik, terdapat hubungan signifikan antara primigravida dengan preeklamsia, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara primigravida dengan preeklamsia. Ibu hamil primigravida memiliki risiko 2.26 kali mengalami preeklamsia dibandingkan dengan ibu hamil multigravida.

Penyebab kematian ibu tersebut sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kehamilan ANC yang memadai dan deteksi dini risiko ibu hamil. Dengan ANC, beberapa informasi mengenai kehamilan yang belum diketahui ibu dapat terdeteksi dan dengan deteksi dini semua faktor risiko yang dapat menyebabkan komplikasi dapat diketahui dan dicegah. Apabila terdapat salah satu faktor risiko tinggi ibu hamil dalam kehamilan, dapat dilakukan tindakan pencegahan sedini mungkin sehingga risiko kematian dapat dikurangi dengan penanganan yang cepat dan tepat (Winarti, 2010).

Deteksi dini faktor risiko komplikasi merupakan suatu kegiatan untuk menemukan ibu hamil dengan faktor risiko dan komplikasi. Setiap kehamilan merupakan suatu yang normal dialami seorang wanita dalam proses reproduksinya tetapi adakalanya terjadi suatu komplikasi. Untuk itu, kegiatan dan masyarakat, khususnya ibu hamil sehingga penanganan yang adekuat sedini mungkin dapat dilakukan. Hal tersebut merupakan kunci keberhasilan dalam menurunkan AKIdan AKB.

Berbagai program dilakukan untuk mendukung penurunan AKI dan AKB di Kabupaten Kediri. Program di tingkat masyarakat diantaranya dilakukan penjaringan ibu hamil risiko tinggi oleh kader melalui Kartu Skor Poedji Rochyati (KSPR), pemantauan pemberian Fe atau tablet penambah zat besi ibu hamil oleh keluarga dan masyarakat, desa P4K, inisiasi menyusui dini, pendampingan ibu hamil risiko tinggi oleh mahasiswa kebidanan, serta program bulan timbang dan peduli keluarga melalui kerjasama dengan lintas sektor kecamatan, Kemenag, Diknas dan organisasi masyarakat. Pada tingkat tenaga kesehatan, dilakukan berbagai kegiatan diantaranya ANC terpadu dan berkualitas, SMS gateaway, program rujukan ibu hamil risiko tinggi ke

(6)

commit to user

rumah sakit, kemitraan bidan dan dukun (pembinaan dukun oleh tenaga kesehatan), serta KB pasca salin. Kegiatan kesehatan reproduksi dilakukan program PPIA (Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak), dan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) yang sudah dilakukan oleh semua puskesmas (Dinkes Kabupaten Kediri, 2015).

Untuk mengurangi angka kejadian hipertensi dalam kehamilan diperlukan kerjasama lintas sektoral dengan pemerintah, dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit rujukan, bidan desa untuk memfasilitasi tenaga dan sarana kesehatan supaya masyarakat dapat menjangkau akses pelayanan kesehatan. Selain itu, diperlukan juga upaya motivasi, partisipasi dan komunikasi yang baik, sehingga masyarakat sadar, mau dan mampu memanfaatkan pelayanan dan fasilitas kesehatan yang memfokuskan pada kesehatan ibu hamil, dengan cara strategi promosi kesehatan melalui upaya promotif deteksi dini preeklamsia (Winarti, 2010).

Perilaku merupakan cara seseorang untuk memimpin diri sendiri serta bagaimana dia bertindak dalam kesehariannya. Faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang diantaranya adalah: perasaan, pendapat, keyakinan, motivasi, kebutuhan, pengalaman, serta opini orang lain. Adanya reaksi terhadap berbagai peristiwa dan tindakan selama periode waktu merupakan cara perkembangan pola perilaku individu. Selain itu, untuk mengubah perilaku seseorang juga diperlukan pemberdayaan terkait dengan peran individu untuk mampu merubah perilaku ANC agar upaya pelaksanaan ANC bisa dilakukan dengan benar dan penyakit preeklamsia berat bisa terdeteksi sejak dini (Winarti, 2010).

Pentingnya program promosi kesehatan bagi masyarakat agar terjadi perubahan perilaku sehat pada masyarakat sehingga AKI yang disebabkan oleh preeklampsia dapat diminimalisir atau dihilangkan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bobak (2005) dengan judul Cardiovascular Disease Knowledge and Risk Perception among Women with Recent Preeclampsia: Interventional Education in Disease Management and Prevention. Hasil penelitian ini menyimpulkan setelah diberikan pendidikan

(7)

commit to user

kesehatan tentang penyakit jantung (Cardio Vascular Disease), maka tingkat persepsi terhadap risiko kejadian penyakit jantung pada ibu hamil dengan preeklamsia secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pada awal (paired t = -2.3; p = 0.003).

Promosi kesehatan diharapkan dapat menurunkan angka kejadian preeklampsi berat pada ibu hamil, hal ini karena promosi kesehatan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dari ibu hamil sehingga stres ibu hamil yang mengalami preeklampsia akan menurun ketika dia mengetahui kondisinya. Hal ini sejalan dengan penelitiandengan judul Relationship Between Health Promotion Lifestyle and Perceived Stress in Pregnant Women with Preeclampsia, dengan hasil bahwa perilaku promosi kesehatan dapat menurunkan stres dan meningkatkan perilaku kesehatan ibu hamil dengan preeklamsia.

Peningkatan ANC juga memerlukan adanya dukungan yang diberikan oleh suami, bentuk dukungan oleh suami dalam penelitian, terutama untuk kelompok kasus adalah hanya bentuk instrumental, emotional, dan appraisal, sedangkan untuk dukungan informational suami tidak memberikan. Bentuk dukungan suami tidak hanya menjadi suami siaga saja, tetapi juga suami harus memiliki pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas dan mengutamakan keselamatan istri. Suami yang memiliki pengetahuan tentang kehamilan dan persalinan akan selalu mendorong istrinya untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Dukungan suami yang rendah pada kelompok kasus menyebabkan ibu tidak melakukan kunjungan K4.

Teori kognitif sosial menekankan pengetahuan sebagai bagian integral dari upaya yang ditujukan pada promosi kesehatan dan perubahan perilaku gaya hidup. Menurut Bandura, perubahan perilaku tidak masuk akal jika kurangnya pemahaman bagaimana perilaku gaya hidup mempengaruhi kesehatan. Dalam teori ini mengidentifikasi perilaku manusia sebagai interaksi dari faktor manusia (person), perilaku (behavior), dan lingkungan, yaitu ketiga faktor ini akan terus menerus berinteraksi dan saling

(8)

commit to user

mempengaruhi. Faktor manusia dalam hal ini berhubungan dengan karakteristik individu meliputi pendidikan, keyakinan kesehatan, dan paritas.

Perilaku dalam teori ini adalah perilaku seseorang yang mempengaruhi kejadian sehat dan sakit seseorang. Sedangkan lingkungan dalam hal ini bisa berupa sistem pelayanan kesehatan, dukungan masyarakat, modal sosial masyarakat. Ketiga faktor inilah yang mempengaruhi terjadinya perubahan perilaku dalam mengurangi angka kejadian kematian ibu hamil yang disebabkan oleh preeklamsia.

B. Rumusan Masalah

AKI merupakan salah satu indikator yang peka dalam menggambarkan kesejahteraan masyarakat di suatu negara. Selain itu, AKI merupakan indikator keberhasilan pembangunan daerah, khususnya pembangunan kesehatan. Indikator ini juga digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan IPM.

Penyebab terbesar dari kematian ibu di Indonesia didominasi oleh perdarahan dan preeklamsia. Faktor perdarahan biasa terjadi karena terlambatnya sistem rujukan ke tempat pelayanan kesehatan. Sementara itu, faktor preeklamsia dimungkinkan karena masih rendahnya pendidikan dan kesadaran akan pentingnya kesehatan pada ibu hamil. Preeklamsia dapat menimbulkan penyakit kardiovaskular dikemudian hari jika tidak dilakukan penatalaksanaan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya evidence based yang mendukung. Program promosi kesehatan bagi masyarakat penting agar terjadi perubahan perilaku sehat pada masyarakat sehingga AKI karena preeklamsia dapat diminimalisir atau dihilangkan.

Untuk mengurangi angka kejadian hipertensi dalam kehamilan, diperlukan kerjasama lintas sektoral dengan pemerintah, dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit rujukan, bidan desa untuk memfasilitasi tenaga dan sarana kesehatan supaya masyarakat dapat menjangkau akses pelayanan kesehatan. Selain itu, diperlukan juga upaya motivasi, partisipasi dan komunikasi yang baik sehingga masyarakat sadar, mau dan mampu

(9)

commit to user

memanfaatkan pelayanan dan fasilitas kesehatan yang memfokuskan pada kesehatan ibu hamil, dengan cara strategi promosi kesehatan melalui upaya promotif untuk meningkatkan dan pencegahan preeklamsia berat pada ibu hamil.

Upaya promosi kesehatan tersebut sesuai dengan surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1193/MENKES/SK/X/2004 yang mendefinisikan promosi kesehatan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Untuk menanggulangi kematian ibu, maka diperlukan strategi promosi kesehatan.Promosi kesehatan merupakan salah satu upaya preventif pada bidang kesehatan di Indonesia yang bertujuan mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih sehat.

Program promosi kesehatan sejalan dengan Health Belief Model yang disampaikan oleh Bandura, yaitu yang menekankan pengetahuan sebagai bagian integral dari upaya yang ditujukan perubahan perilaku gaya hidup.

Dalam teori ini mengidentifikasi perilaku manusia sebagai interaksi dari faktor manusia (person), perilaku (behavior), dan lingkungan.Ketiga faktor ini akan terus menerus berinteraksi dan saling mempengaruhi. Ketiga faktor inilah yang memengaruhi terjadinya perubahan perilaku dalam mengurangi angka kejadian kematian ibu hamil yang disebabkan oleh preeklamsia. Oleh karena itu, penelitian ini ingin mengetahui beberapa hal diantaranya hubungan antara umur, paritas, persepsi hambatan, dorongan bertindak, kepercayaan, norma timbal balik, jejaring sosial, dukungan soaial dan penggunaan ANC dengan kejadian preeklamsia pada ibu hamil, serta mencari model promosi kesehatan untuk meningkatkan deteksi dini dan menurunkan kejadian preeklamsia di Kabupaten Kediri.

(10)

commit to user

Rumusan masalah dalam penelitian ini, adalah :

1. Adakah hubungan antara umur ibu dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil?

2. Adakah hubungan antara paritas dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil?

3. Adakah hubungan antara persepsi hambatan dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil?

4. Adakah hubungan antara dorongan bertindak dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil?

5. Adakah hubungan antara kepercayaan dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil?

6. Adakah hubungan antara norma timbal balik dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil?

7. Adakah hubungan antara jejaring sosial dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil?

8. Adakah hubungan antara dukungan sosial dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil?

9. Adakah hubungan antara perilaku ANC dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil?

10. Bagaimanakah rumusan model promosi kesehatan untuk meningkatkan perilaku ANC dalam deteksi dini pencegahan preeklamsia?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mencari model promosi kesehatan untuk meningkatkan perilaku ANC dalam deteksi dini pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

2. Tujuan Khusus

a. Menganalisis hubungan antara umur ibu dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

(11)

commit to user

b. Menganalisis hubungan antara paritas dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

c. Menganalisis hubungan antara persepsi hambatan dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

d. Menganalisis hubungan antara dorongan bertindak dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

e. Menganalisis hubungan antara kepercayaan dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

f. Menganalisis hubungan antara norma timbal balik dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

g. Menganalisis hubungan antara jejaring sosial dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

h. Menganalisis hubungan antara dukungan sosial dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

i. Menganalisis hubungan antara perilaku ANC dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

j. Merumuskan model promosi kesehatan untuk meningkatkan perilaku ANC dalam deteksi dini pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktis

Melalui model pemberdayaan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk sadar akan bahayanya penyakit preeklamsia dan juga dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan pencegahan preeklamsia, dengan cara meningkatkan penyuluhan yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan keterlibatan kader di masyarakat.

2. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan wawasan dalam pengembangan ilmu pemberdayaan khususnya dalam strategi promosi kesehatan untuk meningkatkan pemanfaatan ANC dan deteksi dini pencegahan preeklamsia.

(12)

commit to user 3. Manfaat Metodologi

Penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai metode yang digunakan dalam penelitian. Pada penelitian ini menggunakan penelitian jenis explanatory study yang dianalisa dengan analisis jalur (path analysis) dengan program software komputer.

E. Kebaruan

Berikut Tabel 1.1 kebaruan penelitian yang berkaitan dengan masalah preeklamsia pada ibu hamil, diantaranya :

Tabel 1.1 Penelitian terdahulu yang relevan

No Nama peneliti, tahun,

dan judul Tujuan Lingkup Metode Hasil

1. Berks D et al (2013) “Risk Of Cardiovascular Disease After Pre-eclampsia and The Effect of Lifestyle Interventions: a Literature- Based Study”

Untuk mendeteksi antenatal care memiliki dampak pada pengurangan risiko preeklamsia berat atau tidak

Lingkup masalah yaitu preeklamsia

Jenis penelitian dengan menggunakan studi kasus

Hasil penelitian menunjukkan bahwa antenatal care bisa mengurangi resiko preeklamsia berat

2. Myint Theingi et al (2015)

“Promoting Antenatal Care Services For Early Oletection of Preeclampsia”

Tujuan penelitian adalah mendeteksi preeklamsia dengan meluasnya antenatal care.

Lingkup masalah preeklamsia.

Lingkup masalah preeklamsia

Hasil penelitian dengan desain quasi-

eksperimental.

Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 75% peserta termasuk bidan dan masyarakat mengikuti penelitian untuk mengetahui bagaimana mendiagnosis kasus preeklamsia 3. Shamsi Uzma

et al (2010), A Multicentre Matched Case Control Study Of Risk Factors For

Preeclampsia In Health Women in Paskitan”

Tujuan penelitian untuk menentukan faktor risiko preeklampsia wanita

Lingkup masalah diabetes mellitus gestasional dikaitkan preeklampsia

Jenis penelitian menggunakan analisis multivariat

Hasil penelitian

menunjukkan relatifdan signifikan antara preeklamsia dan diabetes

4. Malakouti Jamlle et al,

Untuk menguji hubungan antara

Lingkup masalah yaitu

Jenis

penelitian ini

Hasil penelitian perilaku promosi

(13)

commit to user

No

Nama peneliti, tahun,

dan judul Tujuan Lingkup Metode Hasil

(2015)

“Relationship Between Health Promoting Lifestyle and Perceived Stress in Pregnant Preeclampsia”

gaya hidup kesehatan danstres yang dirasakan pada wanita preeklamsia

wanita hamil dengan preeklamsia

dengan menggunakan disain deskriptif korelasi

kesehatan dapat menurunkan

stresdikalangan wanita hamil dengan

preeklamsia

5. Ting–An Yen et al, (2013)

“Preeclampsiaa nd the Risk of Bronchopulmon ary Displasia inVIBW Infants: A population Based Study”

Tujuan penelitian untuk menguji apakah benar atau tidak

preeklamsiadikait kan dengan perkembangan BPD dan kohort bayi prematur

Lingkup masalah preeklamsiadan risiko

pengembangan BPD

Jenis penelitian dengan menggunakan kohort retrospektif

Hasil penelitian pada akhirnya total 5.753 kasus yang terdaftar dalam penelitian ini inseden

preeklamsiaadalah 14.7% (n= 847)dan kehadiran keseluruhan BPD adalah 34.9% bayi dengan pre-eklamsia ibu yang usia kehamilannya tinggi.

BPD terjadi secara signifikan lebih sering pada kelompok ibu pre- eklampsia (24.1% vs 36.7%). Analisis kelompok menunjukan bahwa hubungan antara pre-eklampsia BPD signifikan hanya padamereka bayi VIBW dengan usia kehamilan antara 31-34 minggu 6. Lecarpentier

Edouard et al (2013) “Risk Factor Of Superimpased Preeclampsia in Women With Essential Chronic Hypertension Treated Before Pregnancy”

Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko preeklamsia pada kunjungan prenatal pertamapada wanita dengan hipertensi kronis dengan menerima obat antihipertesis kronis dengan risiko preeklampsia meningkat

Faktor risiko

preeklamsia Jenis penelitian menggunakan analisis deskriptif

Hasil penelitian menggunakan populasi terdiri dari 362 wanita dengan hipertensi kronis. Wanita dari pusat lainya (n=61), wanita dengan

hipertesis sekunder dan sudah ada proteinuria sebelum kehamilan 20 minggu (n=20) wanita dengan analogi janin (n=4) dan perempuan tidak menerima antihipertensi obat sebelum kehamilan (n=

66) di keluarga, analisis

(14)

commit to user

No

Nama peneliti, tahun,

dan judul Tujuan Lingkup Metode Hasil

yang bersangkutan yaitu 211 wanita dengan hipertesis kronis esensial yang menerima terapi anti- hipertensi sebelum konsepsi 7. Babu ,Ruby et

al,(2015) “A Better Marker in Hyportensive Disorders of Pregnancy in Karnataka India”

Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai peran mikroalbuminuria sebagai penanda diagnosit pre- eklamsia dan untuk menilai fungsi ginjal

Untuk mengetahui tanda-tanda preeklamsia

Jenis penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan eksperimental

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroalbuminura merupakan penanda spesifik dari

preeklamsia dan juga memantau untuk menilai status fungsi ginjal

8. Berks et al (2013) “Risk Of Cardiovascular Disease after Pre-eclampsia and The Effect of Lifestyle Interventions: a Literature- Based Study”

Tujuan penelitian membahas faktor risiko

kardiovaskular setelah

preeklamsia dan efek intervensi gaya hidup setelah

preeklamsia pada risiko

kardiovaskular

Lingkup masalah adalah risiko

kardiovaskuler setelah preeklamsia

Jenis penelitian menggunakan penelitian Retrospektif

Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor risiko kardiovaskular, kemungkinan rasio preeklamsia untuk penyakit jantung iskemik dan stroke.

9. W. Powers Robert (2010)

“Soluble Fms- Like Tyrosine Kinarse 1 (SFLT 1), Endoglin and Placental Growth Factor (PIGF) in Preeclampsia Among High Risk

Pregnancy”

Tujuan penelitian untuk

menyelediki apakah

perbedaanfaktor angiogenik SFLT 1, seng dan PIGF pada pasien berisiko tinggi akan

mengidentifikasi atau tidak wanita yang kemudian mengembangkan preeklamsia dengan cara yang mirip dengan laporan dalam literatur mengenai perempuan berisiko rendah

Lingkup masalah perbedaan antara

faktorantiangio genic SFLT 1 dan endoglin (seng) dan Pro- angiogenik faktor pertumbuhan PIGF dilaporkan timbulnya pre- eklampsia.

Jenis penelitian menggunakan analisis sekunder

Hasil penelitian kemungkinan mengembangkan preeklamsiayang meningkat secara signifikan antara perempuan dengan beberapa janin untuk disain relevansi 2x lipat SFTL 1. Analisis cross- sectional dari faktor angiogenik di usia kehamilan menunjukkan perbedaan yang signifikan selama trimester ketiga pada wanita yang mengalami preeklamsia yang dibandingkan dengan kontrol yang tepat pada semua kelompok berisiko tinggi

(15)

commit to user

No

Nama peneliti, tahun,

dan judul Tujuan Lingkup Metode Hasil

10. Jeanne Sibiude et al (2012)

“Placental Growth Factor for the

Prediction of Adverse Outcomes in Patients with Suspected Preeclampsia or intrauterme Growth Restriction”

Tujuan penelitian menguji ketepatan prediksi

konsentrasi FIGF ibu gratis bagi hasil yang merugikan preeklampsia atau pembatas

pertumbuhan intrauterin (IUGR)

berdasarkan pada uji tunggal pada saat penerimaan

Lingkup Masalah konsentrasi dari PIGF lebih rendah pada pasien yang mengalami preeklampsia dan hasil yang merugikan perbatasan petumbuhan intrauterin (IUGR)

Jenis penelitian menggunakan studi double- blind calon memanjang non-intervensi

Hasil penelitian mendetifikasikan hasil yang merugikan seperti preeklampsia berat SGA neonates (closentil) hasil yang merugikan dipelajari antara pasien termasuk

<34 minggu kehamilan (WG) dan didefisinikan sebagai pre-eklampsia

Berdasarkan tinjauan dari hasil penelusuran atas penelitianterdahulu selama ini, belum ada kajian studi tentang model promosi kesehatan untuk menurunkan kejadian preeklamsia. Pada ibu hamil, walaupun saat ini pemerintah sudah menentukan adanya program ANC, tetapi pada kenyataannya pelaksanaan program tersebut belum optimal dimanfaatkan oleh ibu hamil. Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat relevan, sehingga diharapkan diperoleh temuan baru di lapangan guna merancang model promosi kesehatan untuk menurunkan kejadian preeklamsia pada ibu hamil. Berdasarkan tinjauan beberapa penelitian terdahulu, maka tujuan, lingkup, metode dan hasil penelitian ini dapat dilihat dari segi:

1. Materi penelitian. Penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti pada umumnya yang banyak memandang dari segi kuratif dan dari segi persepsi atau pandangan ibu hamil tentang preeklamsia. Penelitian ini berbeda, karena fokus penelitian adalah pada model promosi kesehatan untuk meningkatkan ANC dan pencegahan preeklamsia.

2. Teori dasar dalam penelitian ini adalah teori tentang model promosi kesehatan Model Preceed-Proceed Perencanaan dan Evaluasi Program dari Green dan Kreuter (1999), Health Belief Model dari Becker(1998), Teori Modal Sosial Putnan (1995), Teori Pemberdayaan dan Teori Preeklamsia.

Jenis penelitian ini adalah penelitian survei dengan menggunakan

(16)

commit to user

pendekatan kuantitatif explanatory study yang didukung data primer dan sekunder.

3. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan path analysis.

4. Kebaruan dari penelitian ini adalah :

a Judul penelitian: Analisis jalur model promosi kesehatan untuk meningkatkan ANC dan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil di Kabupaten Kediri Jawa Timur.

b Tujuan penelitian:

1) Menganalisis hubungan antara umur ibu, paritas, persepsi hambatan, dukungan sosial, dorongan bertindak, kepercayaan, norma timbal balik, jejaring sosial, dukungan sosial dan perilaku ANC dengan pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

2) Merumuskan model promosi kesehatan untuk meningkatkan perilaku ANC dalam deteksi dini pencegahan preeklamsia pada ibu hamil.

c Variabel dalam penelitian ini: Terdapat variabel eksogen dan endogen.

Variabel endogen meliputi: perilaku ANC, dukungan sosial dan preeklamsia. Variabel eksogen meliputi: umur ibu, paritas, persepsi hambatan, dukungan sosial, dorongan bertindak, kepercayaan, norma timbal balik, jejaring sosial.

d Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah menggunakan penelitian kuantitatif jenis explanatory study.

Desain penelitian ini menggunakan penelitian case control study, study observasional dengam pendekatan cross sectional study yang dapat dilakukan difasilitas kesehatan dengan objektif untuk mengetahui apakah satu atau lebih faktor merupakan faktor risiko dari satu situasi masalah.

e Hasil: Terumuskannya model promosi kesehatan untuk meningkatkan perilaku ANC dalam deteksi dini pencegahan preeklamsia pada ibu hamil. Yang mencakup multilevel, yaitu tingkat komunitas dan tingkat individu. Model ini lebih bisa diaplikasikan dengan memperhatikan dua

(17)

commit to user

arah intervensi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan perilaku ANC dan preeklamsi, yaitu melalui intervensi pada komunitas atau intervensi langsung pada individu. Pendekatan kelompok bisa dilakukan melalui kelompok posyandu, kelompok pengajian, arisan dan sebagainya.

Pendekatan individu dilakukan melalui kunjungan langsung ke rumah atau ke tempat kerja masing-masing.

Gambar

Tabel 1.1 Penelitian terdahulu yang relevan

Referensi

Dokumen terkait

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Analisis stilistika pada ayat tersebut adalah Allah memberikan perintah kepada manusia untuk tetap menjaga dirinya dari orang-orang yang akan mencelakainya dengan jalan

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

 Dalam pembentukan tulang bayi atau juga dalam proses penyembuhan kerusakan tulang, maka tulang yang tumbuh tersebut bersifat muda atau tulang primer yang bersifat sementara

Latar Belakang: Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat

Segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Taufiq dan Hidayahnya sehingga dapat terselesaikannya skripsi ini dengan judul: “Strategi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam publikasi tersebut belum memuaskan karena terdapat beberapa kesalahan, seperti kesalahan penulisan kata

3.1 Proses perumusan konsep didasari dengan latar belakang kota Surakarta yang dijadikan pusat dari pengembangan pariwisata Solo Raya karena memiliki potensi