13 PERSPEKTIF ISLAM
A. Konsep Lingkungan dan Ekologi
Arti Lingkungan dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki beberapa arti. Di antaranya ialah daerah atau kawasan dan sebagainya yang termasuk di dalamnya, bagian wilayah, golongan atau kalangan, semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia atau hewan.1
Masih dalam Kamus Besar Indonesia, lingkungan jika dikaitkan dengan
„alam‟ ialah keadaan, kondisi atau kekuatan sekitar yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan tingkah laku organisme. Jika dikaitkan dengan
„hidup‟ maka ia berarti “kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya”. Bisa juga berarti “lingkungan di luar suatu organisme yang terdiri atas organisme hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia”.2
Sederhananya, lingkungan hidup ialah tempat tinggal organisme dan anorganisme yang mana di dalamnya mereka berkembang dan berinteraksi secara mutual. Semua benda dan daya serta yang ada di dalamnya, termasuk aktifitas manusia, memberikan dampak bagi kehidupan yang lainnya. Manusia sebagai makhluk atau organisme, dalam pengertian lingkungan hidup dinilai mempunyai kedudukan yang vital. Bahkan ada penegasan bahwa manusia adalah lingkungan hidup itu sendiri.3
Jadi, lingkungan hidup ialah daerah, kawasan atau wilayah yang di dalamnya menjadi tempat bersatunya semua makhluk hidup dan semua benda yang ada di dalamnya, termasuk perilaku organisme yang saling mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan suatu organisme lainnya.
1 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: Gramedia, 2008), edisi ke-4, h. 831.
2 Ibid.
3 Alim Roswantoro, “Refleksi Filosofis atas Teologi Islam Mengenai Lingkungan dan Pelestariannya” dalam Al-Tahrir, Vol. 12, No. 2 November 2012, h. 223.
Sementara ekologi, ialah sebuah kata yang diambil dari dua kata Yunani yaitu oikos dan logos. Oikos mempunyai arti rumah atau tempat tinggal.
Sedangkan logos mempunyai arti teori atau pemikiran. Dari kedua arti kata tersebut, maka dapat dipahami bahwa ekologi ialah teori tentang tempat tinggal.
Sedangkan arti secara istilah, sederhananya ialah ilmu yang mengkaji tentang tempat tinggal dari berbagai organisme. Istilah ekologi ini, banyak yang menyebutkan bahwa dikenalkan pertama kali oleh seorang biolog asal Jerman, Ernst Haeckel pada tahun 1869.4
Ekologi pada awalnya merupakan bagian dari biologi yang mempelajari hubungan timbal-balik antara organisme dan lingkungan, baik biotik ataupun abiotik. Kemudian dalam perkembangannya ia menjadi disiplin tersendiri yang kajiannya lebih kompleks dan multidisipliner. Dalam kajiannya tidak hanya mengenai hubungan timbal-balik antara semua organisme dengan lingkungannya, tetapi juga mengkaji dampak sikap dan perilaku dari organisme terhadap lingkungannya.5
Seorang ekolog De Bel berpendapat, sebagaimana dikutip oleh Nur Arfiyah Febriani, bahwa ekologi ialah “studi mengenai dampak total manusia dan hewan lain pada keseimbangan alam”. Sementara William H. Matthews mengemukakan bahwa “ekologi berfokus pada hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya”.6 Lalu Otto Soemarwoto menyatakan bahwa ekologi adalah “ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya”.7
Lipetz juga berpendapat mengenai ekologi dengan pengertian yang lebih menyeluruh dengan menyebutkan adanya tiga bentuk relasi dalam ekologi, yaitu:
relasi secara individu atau suatu kelompok, aktifitas yang terorganisasi, dan hasil dari aktifitas yang mereka kerjakan, yang mana keseluruhannya akan saling memengaruhi keadaan pada individual yang hidup dan segala aktifitasnya.8
4 Ibid, h. 221-222.
5 Ibid.
6 Nur Arfiyah Febriani, Ekologi Berwawasan Gender dalam Perspektif Al-Qur`an, (Bandung: Mizan Pustaka, 2014), cet. Ke-1, h. 44-45.
7 Otto Soemarwoto dalam sebuah kata pengantar, Hanya Satu Bumi: Perawatan dan Pemeliharaan Sebuah Planit Kecil, Barbara Ward dan René Dubos, terj. S. Supomo, (Jakarta:
Gramedia, 1974), cet. Ke-1, h. VII.
8 Nur Arfiyah Febriani, Ekologi Berwawasan Gender..., Op.Cit, h. 45.
Sementara itu, dalam bahasa Arab, ekologi dikenal dengan ilmu al-bī`ah (ةئيبلا ملع). Secara bahasa kata al-bī`ah berasal dari kata fi‟il bā`a (ءاب) yang mempunyai arti berdiam, tinggal, dan menetap. Bentuk isim dari fi‟il tersebut ialah al-bī`ah yang berarti tempat tinggal, kediaman, keadaan, situasi, posisi, dan lingkungan.9 Sedangkan secara istilah ‘ilmu al-bī`ah ialah ilmu yang mempelajari tentang tempat tinggal atau lingkungan.
Mamduh „Atiyyah mengatakan, sebagaimana dikutip oleh Nur Arfiyah, yang dimaksud dengan al-bī`ah di sini ialah keseluruhan lingkungan dan ekosistem yang terkandung di dalamnya. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa ekologi ialah ilmu yang mempelajari interkoneksi konstan antara keseluruhan makhluk hidup dan keseluruhan ekosistem yang ada di dunia.10
Dalam kehidupan, secara keseluruhan yang tergambar dalam suatu lingkungan tertentu atau pada saat tertentu disebut dengan biotic community atau masyarakat organisme hidup. Di dalam abiotic community ini terdapat suatu fenomena kehidupan yang disebut dengan “piramida kehidupan”, yaitu bentuk piramida yang menggambarkan komposisi kehidupan organisme di dalamnya.
Kehidupan tanaman di hutan belantara misalnya, di dalamnya akan ditemukan pohon-pohon besar yang berumur ribuan tahun tetapi hanya beberapa. Di bawahnya akan ada pohon yang lebih kecil namun jumlahnya lebih banyak, di bawahnya lagi ada pohon yang lebih kecil lagi dan jumlahnya lebih banyak lagi, dan yang paling bawah lagi ada pohon yang ukurannya lebih kecil yaitu tanaman rumput yang jumlahnya paling banyak tetapi umurnya sangatlah pendek. Di kalangan hewan pun seperti halnya pepohonan. Yang mana hewan yang besar dan berumur ratusan tahun tetapi populasinya sedikit dibandingkan dengan semut yang jumlahnya ribuan akan tetapi umurnya amat pendek.11
Suatu biotic community tinggal di suatu wilayah masyarakat benda mati atau disebut dengan abiotic community, yang kemudian terjadi suatu interaksi antara biotic community dengan abiotic community. Peristiwa interaksi yang terjadi di lingkungan tersebut memberikan pengaruh terhadap organisme-
9 Kamus Al-Munawir, h. 116-117.
10 Nur Arfiyah Febriani, Ekologi Berwawasan Gender..., Op.Cit, h. 45.
11 Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, (Yogyakarta: UGM Press, 2015), cet. Ke-21, h. 2-3.
organisme yang ada di dalamnya. Keduanya saling berinteraksi hingga terjalin suatu interaksi yang harmonis dan stabil terutama dalam hal sumber kehidupan.
Kesatuan interaksi yang stabil dan harmonis ini disebut dengan ekosistem.12
Ekosistem sendiri terdapat dua bentuk yang penting, pertama yaitu ekosistem alamiah (natural ecosystem); dan kedua ekosistem buatan (artificial ecosystem). Di dalam ekosistem alamiah terdapat heterogenitas yang tinggi sehingga ia mampu mempertahankan proses kehidupan dengan sendirinya.
Berbeda dengan ekosistem buatan yang mana heterogenitasnya lebih rendah dibandingkan dengan alamiah, sehingga ia bersifat labil dan untuk membuatnya stabil dibutuhkan bantuan energi dari luar.13
Ekosistem seperti yang disebutkan di atas, ia terbentuk oleh komponen yang hidup dan komponen yang mati, yang mana semuanya berkumpul pada suatu tempat dan saling berinteraksi membentuk kesatuan yang teratur. Setiap komponen yang ada mempunyai fungsi dan relung masing-masing. Selama setiap komponen berjalan sesuai dengan fungsi dan relungnya masing-masing, maka ekosistem pun terjaga karena di sana terjadi keseimbangan. Namun, keseimbangan tersebut tidaklah bersifat statis, ia dapat berubah-ubah. Perubahan- perubahan yang terjadi terkadang kecil kadang pula besar. Terjadinya perubahan ini bisa jadi secara alamiah dan bisa jadi sebagai dampak perbuatan manusia.14
Sebab, manusia yang merupakan bagian dari ekosistem itu sendiri, mempunyai peran yang vital sebagai pengelola ekosistem tersebut. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Leenen bahwa kerusakan dan pencemaran lingkungan yang terjadi sekarang ini adalah akibat dari tindakan manusia untuk mencapai suatu tujuan. Tetapi ia lupa bahwa apa yang ia lakukan mempunyai konsekuensi terhadap lingkungannya. Ia juga lupa bahwa selain ia sebagai pengelola alam, ia juga sebagai pengabdinya. Sebab ia tidak bisa lepas dari ketergantungannya dengan alam.15
Ungkapan Leenen tentang manusia sebagai pengelola dan pengabdi kepada alam ini juga telah termaktub di dalam al-Qur`an pada surah al-Baqarah
12 Ibid.
13 Ibid, h. 3-4.
14 Nur Arfiyah Febriani, Ekologi Berwawasan Gender..., Op.Cit, h. 46.
15 Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Op.Cit, h. 4.
[2]: 3016, al-An‟ām [6]: 16517, Fāṭir [35]: 3918. Dalam surat-surat tersebut manusia dijadikan khalifah oleh Allah di muka bumi ini.
B. Ekologi Dalam Islam: Relasi Tuhan, Manusia dan Alam
Islam sebagai agama yang mempunyai misi universal, yakni menjadi rahmat bagi alam semesta (raḥmatan lil-‘ālamīn) Q.S. al-Anbiya`[21]: 107, telah memberikan paradigma yang terstruktur mengenai Tuhan, mannusia, dan alam.
Paradigma tersebut (Tuhan, manusia dan alam) dapat dikatakan merupakan tema pokok dalam Islam. Maka benar adanya jika Islam mempunyai kerangka dasar etika ekologi.19
Dalam kaitannya relasi Tuhan, manusia dan alam, Tuhan berada di posisi sebagai pencipta keduanya. Dia menyempurnakan segala bentuk dan perwujudan manusia, serta menyempurnakan dan melengkapi sarana dan prasarana karakteristik, sifat dan ketentuan bagi mereka. Sifat, karakteristik dan ketentuan bagi mereka, acap kali disebut dengan sunnatullah dan hukum alam.20
Tuhan sebagai pencipta alam, menundukkan alam yang mana merupakan ciptaan-Nya. Alam sebagai ciptaan-Nya ia selalu bergerak sesuai dengan orbitnya masing-masing. Sebab, gerakan alam ini adalah sebagai bentuk dari kepatuhannya kepada sang pencipta sekaligus pengaturnya. Setiap gerakan yang dilakukan oleh alam juga merupakan bentuk ibadahnya kepada sang penciptanya.21
16 Terjemahan ayatnya adalah:
30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padah Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
17 Terjemahan ayatnya adalah:
165. dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
18 Terjemahan ayatnya adalah:
39. Dia-lah yang menjadikan kamu khifah-khifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.
19 Fajar el-Dusuqy, “Ekologi al-Qur`an (Menggagas Ekoteologi-Integralistik), Kaunia, Vol. IV No. 2, h. 180.
20 Imam Amrusi Jailani, “Memposisikan Perenungan Filsafat Tentang Relasi Alam dan Tuhan dalam Bingkai Paradigma Sains Modern” dalam Al-Tahrir, vol. 12, No. 2 November 2012, h. 242.
21 Ibid.
Bentuk ibadah dari planet-planet misalnya, ia selalu berputar pada orbitnya. Bentuk ibadah dari tanaman misalnya, ia meliak-liuk sesuai dengan tiupan angin ke kanan dan ke kiri. Dengan cara seperti ini adalah sebuah bukti bahwa ia patuh dan sujud. Mereka mengagungkan dan mensucikan Tuhan melalui gerakan-gerakan cabang-cabang dan tangkainya.22
Ditundukkannya alam oleh Tuhan tidak lain adalah untuk kepentingan manusia. Hal ini sebagaimana tersurat di dalam al-Qur`an surah Luqman ayat 30.
َرَّخَس َهَّللا َّنَأ اْوَرَ ت َْلََأ ُهَمَعِن ْمُكْيَلَع َغَبْسَأَو ِضْرَْلْا ِفِ اَمَو ِتاَواَمَّسلا ِفِ اَم ْمُكَل
ٍيِْنُم ٍباَتِك َلََو ىًدُه َلََو ٍمْلِع ِْيَْغِب ِهَّللا ِفِ ُلِداَُيُ ْنَم ِساَّنلا َنِمَو ًةَنِطاَبَو ًةَرِهاَظ ( ٢۰ )
20. tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan. (QS.
Luqman[31]: 20)
Menurut Quraish Shihab, penundukkan yang terdapat dalam kata رخس ini berarti penundukkan untuk dimanfaatkan. Sedangkan segala sesuatu secara sifatnya ataupun keadaannya ia enggan untuk ditundukkan, kecuali atas penundukkan Allah sebagai tuhannya. Dan penundukkan yang dilakukan oleh Allah bisa berupa ilham yang diberikan kepada manusia, yang mana dengan ilham tersebut manusia mampu mengetahui sifat, ciri dan bawaan sesuatu sehingga ia dapat dimanfaatkan olehnya.23
Manusia sendiri merupakan satu-satunya makhluk Tuhan yang dianugerahi akal budi. Dalam proses penciptaan manusia, Tuhan menyebutkan di dalam al-Qur`an bahwa manusia diciptakan dari tiga sumber, yaitu; tanah liat hitam atau lempung yang berbau sebagaimana disebutkan dalam al-Qur`an
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari
22 Ibid.
23 Nur Arfiyah Febriani, Ekologi Berwawasan Gender..., Op.Cit, h. 54-55.
segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu...”(QS. Al-Hajj[22]: 5)
Manusia bersumber dari air yang hina, sebagaimana di dalam al-Qur`an
“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” (QS. Al-Mursalat[77]:
20), “Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (QS.
Al-Sajdah[32]: 8). Dan ketiga, al-Qur`an menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah tembikar “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar”
(QS. Al-Raḥman[55]: 14). Kemudian Tuhan tiupkan sebagian dari ruh-Nya.
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. Al-Sajdah[32]: 9)”
Manusia terlahir dari dua karakter yang berbeda, yakni tanah dan ruh suci.
Tanah, dalam bahasa manusia merupakan ibarat sesuatu yang kotor, kerendahan, kenistaan dan kehinaan. Tiada yang paling hina atau paling kotor di dunia ini selain lumpur atau tanah. Sementara ruh atau spirit Tuhan merupakan spirit yang paling murni dan paling suci menurut manusia. Sebab, dalam anggapan manusia, Tuhan merupakan maha Sempurna dan maha Suci. Dia adalah maha pencipta segalanya. Dan manusia mendapatkan sebagian dari ruh atau spirit-Nya.24
Dari dua unsur sumber penciptaan manusia ini, manusia adalah makhluk dengan dua-dimensional. Ia memliki dua arah atau kecenderungan yang sangat berlawanan. Yang pertama akan membawanya ke dalam hakekat kehinaan, ke dasar rawa-rawa di mana ia berasal dan diciptakan. Dan yang kedua akan membawanya ke puncak tertinggi yaitu Zat Yang Maha Suci. Dengan demikian, manusia merupakan makhluk dengan dua dimensi yang saling kontradiktif yakni antara kebaikan dan keburukan, positif dan negatif, kesucian dan kehinaan yang mana dua unsur ini terdapat di dalam diri manusia. Perjuangan dan peperangan tanpa henti di dalam diri manusia ini pada akhirnya akan menjadikan manusia dipaksa untuk memilih salah satu kutub di antara dua kutub tersebut dan pilihannya pun akan menentukan nasibnya.25
24 Ali Shariati, Tugas Cendekiawan Muslim, terj. M. Amien Rais, (Jakarta: Rajawali Pers, 1994), cet. Ke-4, h. 7-8.
25 Ibid, h. 8.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia adalah satu-satuya makhluk yang paling mulia di antara makhluk ciptaan yang lainnya. Kemuliaannya ini bukan berasal dari dirinya melainkan karena posisinya sebagai hamba (‘abd) Allah dan mampu melaksanakan kebijaksanaan dan sifat-sifat Allah secara langsung di dunia serta keunggulannya dalam intelektual. Ia diberikan kekuatan untuk dapat merefleksikan sifat-sifat Allah melalui perilakunya di dalam kehidupan di dunia.26 Itulah sebabnya mengapa hanya manusia yang menjadi khalifah di muka bumi ini dalam arti yang sesungguhnya. Manusia memiliki kekuatan lebih dari pada makhluk lainnya, sehingga ia mampu mendominasi seluruh ciptaan Allah. Tetapi, ia juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga semuanya. Tanggung jawab manusia juga lebih besar dibandingkan dengan tanggung jawab makhluk lainnya. Sebab, manusia diberi kesadaran dan kemampuan untuk dapat memahami sifat-sifat Allah dan mentaati-Nya di satu sisi, dan di sisi lain manusia juga dapat mengingkari-Nya.27
Selain menjadi khalifah di muka bumi, manusia juga menjadi satu-satunya makhluk yang mampu memegang dan mengemban amanat yang diberikan Tuhan kepadanya. Sebab, hanya manusialah yang mampu melawan dorongan instingnya, yang mana seluruh makhluk selain manusia tidak dapat melakukannya. Misalnya berpuasa, hanya manusia yang mampu menahan dorongan instingnya untuk tidak makan dan minum dalam jangka waktu tertentu. Ia juga mampu melawan apa yang baik dan utama. Dengan kehendak bebas (free will) yang dimiliki manusia ini menunjukkan kedekatannya dengan Tuhan Sang Penciptanya. Atau dengan bahasa lainnya bahwa manusia dan Tuhan sama-sama memiliki kehendak bebas.28
Berbeda dengan manusia, ciptaan lainnya seperti matahari, bulan berbagai jenis buah-buahan, gunung, dan ciptaan lainnya, tidak mempunyai kehendak bebas seperti halnya manusia. Mereka menyerahkan diri sepenuhnya, patuh dan tunduk kepada kehendak Allah. Allah-lah yang berkehendak pada matahari agar selalu terbit dari timur dan terbenam di barat, pergantian siang dan malam yang teratur. Banyak ayat al-Qur`an yang menyuruh manusia agar selalu mempelajari
26 Seyyed Hossein Nasr, Menjelajah Dunia Modern, terj. Hati Tarekat, (Bandung: Mizan, 1994), cet. Ke-1, h. 42. Lihat juga Ali Shariati, Tugas Cendekiawan Muslim, Op.Cit, h. 10.
27 Ibid.
28 Ali Shariati, Tugas Cendekiawan..., Op.Cit, h. 12.
fenomena alam dan ciptaan Allah yang lainnya, karena di dalamnya terdapat ayat (tanda), dan bahkan di dalam dirinya sendiri pun terdapat ayat kekuasaan Allah.29
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?(QS.
Fushilat[41]: 53)
Agar dapat memahami ayat-ayat Allah, di dalam diri manusia telah terdapat kecerdasan naturalis. Menurut Gardner, seperti yang dikutip Nur Arfiyah, ialah kemahiran seseorang dalam mengenali dan mengklasifikasi berbagai jenis flora dan fauna. Sementara di dunia nyata, seseorang dengan kecerdasan naturalis, ia akan mampu berkebun dan menaruh perhatian pada lingkungan sekitarnya.30
Al-Qur`an menyebutkan bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan naturalis ialah orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dan berpikir terhadap seluruh ciptaan-Nya di langit maupun di bumi, mereka yang disebut dengan ūlu al- albāb. Seperti yang digambarkan dalam surah Āli „Imrān di bawah ini:
ِضْرَْلْاَو ِتاَواَمَّسلا ِقْلَخ ِفِ َّنِإ ِلِوُِلْ ٍتاَيََلَ ِراَهَّ نلاَو ِلْيَّللا ِف َلَِتْخاَو
( ِباَبْلَْلْا َنوُرَّكَفَ تَ يَو ْمِِبِوُنُج ىَلَعَو اًدوُعُ قَو اًماَيِق َهَّللا َنوُرُكْذَي َنيِذَّلا ) ۰۹۰
اَنِقَف َكَناَحْبُس ًلَِطاَب اَذَه َتْقَلَخ اَم اَنَّ بَر ِضْرَْلْاَو ِتاَواَمَّسلا ِقْلَخ ِفِ
( ِراَّنلا َباَذَع ۰۹۰
)
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 191.
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS. Āli „Imrān[3]: 190-191)
Manusia dengan kecerdasan naturalis seperti yang digambarkan di dalam al-Qur`an, akan mengantarkan manusia untuk selalu meneliti dan memahami ciptaan-ciptaan Allah serta menyayangi alam raya ini. Lebih dari itu, secara spiritual, ia menyadari bahwa seluruh alam raya ini terdapat penguasa yang
29 Seyyed Hosein Nasr, Menjelajah Dunia..., Op.Cit, h. 47-48.
30 Nur Arfiyah Febriani, Ekologi berwawasan..., Op.Cit, h. 72.
mengatur keharmonisan seluruh ciptaan-Nya yaitu Allah Maha Penguasa Jagat Raya. Dengan pemahaman seperti ini tentu akan menjadikan manusia selalu ingat kepada Allah serta menjadikan ia harmonis dalam berinterkasi terhadap sesama ciptaan-Nya. Selain itu, manusia dengan kecerdasan naturalis ini tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang atau yang dilarang oleh agama. Sebab, ia menyadari bahwa ada hubungan timbal balik antara Tuhan, alam dan manusia.31
C. Masalah-masalah Seputar Lingkungan
Lingkungan atau alam merupakan tempat tinggal bagi seluruh makhluk yang ada di bumi. Lingkungan dapat terbagi menjadi dua golongan yaitu: (1) lingkungan abiotis, misalnya suhu udara, kelembaban udara dan tanah; (2) lingkungan biotis, yaitu makhluk hidup yang ada di sekitar makhluk hidup lainnya. Misalnya, manusia, lingkungan biotisnya ialah manusia lainnya, hewan ternak, tumbuh-tumbuhan dan organisme yang lainnya.32
Seluruh makhluk hidup selalu dipengaruhi oleh lingkungannya. Misalnya udara dingin menjadikan manusia merasa menggigil, cacing pita yang ada di dalam perut menjadikan manusia kurus dan lemah, udara panas menjadikan manusia merasa gerah dan berkeringat. Selain makhluk hidup yang dipengaruhi oleh lingkungannya, lingkungan juga dipengaruhi oleh makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Misalnya sisa dedaunan di hutan menjadikan tanahnya subur, pembabatan pohon di hutan juga menjadikan erosi tanah dan banjir, membuang sampah di sungai atau di saluran air juga akan menimbulkan banjir.33
Seluruh makhluk hidup tentunya memerlukan makanan untuk dijadikannya sebagai sumber energi. Energi berasal dari makanan, sedangkan makanan berasal dari lingkungan atau bumi. Jadi, makhluk hidup membutuhkan energi yang berasal dari lingkungan. Dengan demikian tentu amatlah penting sebuah lingkungan bagi kehidupan makhluk hidup di dalamnya, sebab ia selalu bergantung kepadanya. Dengan aktifitas manusia yang bertujuan untuk mendapatkan materi atau pun energi kehidupannya, ia melakukan perubahan-
31 Ibid, h. 72-73.
32 Otto Soemarwoto, dalam sebuah kata pengantar, Hanya Satu Bumi: Perawatan dan Pemeliharaan Sebuah Planit Kecil, Barbara Ward dan René Dubos, Op.Cit, h. VII
33 Ibid, h. VII-VIII.
perubahan terhadap lingkungan. Meskipun, secara alamiah, lingkungan juga dapat berubah dengan sendirinya. Akan tetapi, jika perubahan lingkungan tersebut telah berdampak negatif bagi kehidupan makhluk hidup di dalamnya, tentu ini merupakan sebuah masalah lingkungan.34
Masalah lingkungan yang terjadi saat ini menurut Seyyed Hosein Nasr merupakan tanggung jawab dari para ilmuwan barat. Yang mana ilmuwan barat menceraikan antara sains modern dengan etika. Seperti persenjataan militer yang menggunakan bom hidrogen dan bom pintar (smart bomb), yang menjadi alat penghancur massal. Penerapan sains secara negatif tersebut tidak hanya diterapkan pada saat perang, bahkan ketika suasana damai pin masih diterpkan seperti energi nuklir. Hal ini justru menjadi ancaman untuk keseimbangan alam yang ada di muka bumi. Lebih-lebih mereka berserikat dengan politisi atau kelompok yang dikendalikan oleh kerakusan dan kepentingan nasional, yang justru tidak memberikan kesejahteraan kepada seluruh umat manusia.35
Selain hal di atas, penemuan-penemuan teknologi modern yakni mesin- mesin juga menjadikan manusia semakin mendominasi terhadap alam. Meskipun mendatangkan kekayaan tetapi juga mendatangkan kemiskinan, mendatangkan kemudahan bagi manusia juga merusak lingkungan, perkembangan ilmu kedokteran yang menakjubkan juga peledakan penduduk yang amat cepat. Akibat dari hal ini, teknologi modern memungkinkan menjadi teknologi destruktif terhadap alam lingkungan dan bahkan dapat mengakhiri kehidupan manusia itu sendiri. Karena dengan secara bertahap, polusi lingkungan yang terus menerus akan mengancam di kehidupan yang akan datang.36
Mealui teknologi modern, barat saat ini sangat mempengaruhi dunia sejak lama bahkan hingga kini, meskipun tidak dalam hal militer dan politik secara langsung, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi dan bahkan mendominasi ekonomi. Mennurut Nasr, teknologi ini menggiring manusia ke dalam ekstensi mesin dan mendehumanisasi manusia. Maka bagi siapa pun yang menyakini Allah
34 Ibid, h. IX-X.
35 Seyyed Hosein Nasr, Menjelajah Dunia..., Op.Cit, h. 194.
36 Ibid, h. 195-196.
dan tidak dapat bertindak lain kecuali menempatkan hak-hak ciptaan Allah pada tempat yang seharusnya.37
Sementara itu, di samping semakin meningkatnya penduduk di dunia, semakin meningkat pula kebutuhan energi untuk manusia. Demi memenuhi kebutuhan energi bagi manusia, dibangunlah PLTA (pembangkit listrik tenaga air) dan PLTU (pembangkit listrik tenaga uap). PLTU sendiri bersumber dari proses pembakaran batubara. Sementara penggunaa batubara sangat merusak lingkungan dan manusia. Seperti yang dikatakan oleh Donna Lisenbiy yang merupakan koordinator kampanye batubara Global Waterkeeper Alliance, bahwa penggunaan batubara mengakibatkan kerugian bagi manusia dan lingkungan mulai dari kegiatan penambangan, pengangkutan hingga pembangunan PLTU. Limbah dari batubara yang ditahan terbuang ke tanah atau air, sehingga mengakibatkan pencemaran di hulu dan hilir sungai.38
Selain pencemaran air, pembakaran batubara juga mengakibatkan pencemaran di udara, karena ia merupakan sumber utama gas rumah kaca penyebab perubahan iklim39 Menurut Lauri Myllyvirta, seorang aktivis Greenpeace International, akibat dari pencemaran udara ini banyak menyebabkan penyakit kanker paru, stroke, penyait pernafasan dan penyakit lain akibat pencemaran udara. Lebih lanjut ia mengatakan lebih-lebih orang yang tinggal di sekitar pertambangan, karena batubara mengeluarkan partikel PM 2,5 yang mudah sekali masuk ke tubuh manusia melalui udara yang dihirupnya.40
Sementara di Indonesia, tidak mempunyai peraturan khusus untuk menangani pencemaran udara akibat dari pertambangan. Padahal di Indonesia, saat ini masih terbilang cukup masif dalam pertambangan batubara dan pembangunan PLTU dibandingkan dengan negara China, yang sudah mulai meninggalkan batubara, sebab pencemaran udara sangat parah pernah terjadi di China pada tahun 2008. Tidak hanya China, Amerika dan Inggris pun pernah
37 Ibid, h. 196.
38 Indra Nugraha, dipos pada 24 Februari 2014 dalam
http://www.mongabay.co.id/2014/02/24/batubara-rusak-lingkungan-sumber-beragam-penyakit- sampai-hancurkan-pangan-dan-budaya/ diakses 4 Mei 2016 pukul 16.09 WIB.
39 http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/perubahan-iklim-global/Energi-Batu- Bara-yang-Kotor/ diakses pada 4 Mei 2016 pukul 16.00 WIB
40 Indra Nugraha, http://www.mongabay.co.id/2014/02/24/batubara-rusak-lingkungan- sumber-beragam-penyakit-sampai-hancurkan-pangan-dan-budaya/, Op.Cit,
mengalami hal serupa, yakni pencemaran udara yang sangat parah. Sehingga pada tahun 1970 pemerintah Amerika, mengeluarkan aturan dan menindak ratusan perusahaan batubara hingga tidak beroperasi lagi.41
Masalah-masalah lainnya ialah pertumbuhan penduduk dan masyarakat di dunia semakin meningkat. Seiring dengan peningkatan penduduk, semakin meningkat pula kebutuhan pangan dan energi bagi manusia. Sementara pangan dan energi bersumber dari alam, yang mana sumber daya alam tidak semuanya dapat diperbarui. Sumber daya alam yang dapat diperbarui seperti hutan, perikanan dan lain-lain. Sedangkan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui seperti minyak, batubara, gas alam dan lain-lain.42
Sumber alam juga terbagi atas tanah, air, tanaman, pepohonan sumber aquatis di darat ataupun di laut dan sumber mineral. Sementara tanah dan air merupakan sumber alam yang permintaannya sangat tinggi. Tanah-tanah ladang, kebun, sawah saat ini pun sudah banyak yang beralih fungsi menjadi pemukiman penduduk. Dan air, penggunaannya semakin meningkat seperti untuk irigasi, industri, air minum dan lain-lain. Sedangkan persediaan air semakin berkurang karena alam sebagai penampung air semakin terkikis. Hal ini diperparah dengan kemajuan teknologi yang menjadikan manusia semakin mudah dalam mengeksplorasi alam, bahkan tidak jarang untuk mengeksploitasinya. Dalam proses eksplorasinya sendiri tidak jarang juga yang tidak memperhatikan dampak yang akan terjadi setelahnya.43
Akibat dari perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang terjadi di beberapa negara di dunia, akhirnya, pada pertengahan abad ke-20 muncullah kesadaran tentang konservasi alam. Ide-ide dan gagasan tentang konservasi ini pun dimasukkan dalam agenda konferensi internasional yakni Persatuan Bangsa- Bangsa yang diselenggarakan di Stockholm (1972), Naerobi dan Kenya (1982).
Upaya pengurangan gas dan emisi pun dilakukan di antaranya dengan diadakannya konvensi untuk perubahan iklim di Rio De Jeneiro dan ditandatangai oleh 167 negara. Setelah konvensi di Rio De Jeneiro ini kemudian pertemuan ini digelar secara rutin tiap tahun dimulai tahun 1995 COP (Conference of Parties) 1
41 Ibid.
42 Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Op.Cit, h. 52-53.
43 Ibid, .h.53-54.
di Berlin, Jerman, COP ke-2 di Jenewa, Swiss pada Juli 1996, COP ke-3 di Kyoto, Jepang 1997, sampai COP ke-13 di Bali, Indonesia pada 3-15 Desember 2007, COP ke-14 di Poznan, Polandia dan COP ke-15 di Denmark pada 2009. Dari beberapa pertemuan internasional tersebut ternyata masih belum bisa membuahkan kesepakatan utama dengan tanpa menyebutkan batas waktu dan angka target pengurangan emisi gas negara maju pada tahun 2020.44
Dari berbagai sumber disebutkan bahwa kerusakan lingkungan atau alam disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya ialah, sebagaimana disebutkan dalam fiqh lingkungan yang digagas oleh para ulama di Indonesia, yaitu (1) Merusak; (2) Berbuat curang; (3) Disorientasi (tidak seimbang/berlebihan); (4) Dorongan hawa nafsu; (5) Mengubah/mengurangi.45
Perilaku manusia yang telah rusak secara moral akan menimbulkan berbagai dampak negatif bagi dirinya, makhluk hidup lain dan lingkungannya.
Kerusakan seperti ketidakjujuran, kecurangan dan ketidakadilan, misalnya, akan menimbulkan kerugian bagi semua makhluk hidup yang ada.
Dalam masalah hutan misalnya, tidak adanya keterbukaan informasi mengenai lahan di Merauke menyebabkan banyak kerugian yang dialami oleh masyarakat Merauke. Sebuah dusun hilang, sumber air semakin jauh di mana penyebabnya adalah peralihan lahan hutan menjadi kebun kelapa sawit. Tidak sampai di situ, pemasalahan izin perusahaan, perjanjian dengan pemilik lahan, analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), dan kerusakan lingkungan.46
Faktor ekonomi juga dapat dikatakan sebagai kerusakan yang terjadi baik di level individual ataupun institusional. Menjegal di tengah jalan contohnya, merampok, mencuri, korupsi, suap-menyuap dan macam-macam lainnya adalah contoh di mana faktor ekonomi menjadi penyebabnya. Lebih-lebih jika kepentingan ekonomi tersebut dilakukan secara kolektif yang mana akan menjadi kekuatan primer di dalam dunia politik.[]
44 Abdul Quddus, “Echotheology Islam; Teologi Konstruktif Atasi Krisis Lingkungan”
dalam Ulumuna, Vol. 16, No. 2 Desember 2012, h. 327-328.
45 Ahsin Sakho Muhammad, dkk (Ed), Fiqh Llingkungan (Fiqh al-Bi’ah), (Jakarta;
Consevation Internastional Indonesia, 2006), cet. ke-2, h. 18.
46 Agapitus Batbual, diposting 29 April 2016
http://www.mongabay.co.id/2016/04/29/berharap-kpk-bongkar-dan-tangani-masalah-sawit-di- papua/ diakses 4 Mei 2016 pukul 16.15 wib.