• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI DAN IDENTIFIKASI DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI DAN IDENTIFIKASI DATA"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Studi Literatur 2.1.1. Film dan Audio Visual

Audio visual adalah suatu tampilan yang didukung dengan suara sehingga dapat lebih menarik perhatian dari audience dan diharapkan dapat lebih menambahkan daya tarik suatu cerita. Film merupakan salah satu bentuk hiburan yang paling dinikmati dan merupakan perkembangan lanjut dari fotografi. Dua nama yang menjadi perintis dari perkembangan film ini adalah Thomas Alva Edison dan Lumiere bersaudara, Auguste dan Louis. Pada tahun 1887 Thomas Alva Edison berhasil menciptakan alat untuk merekam dan memproduksi gambar yang kemudian disebut sebagai kinetoskop.

Namun muncul sebuah masalah dari alat yang ditemukan oleh Thomas Alva Edison yakni belum ditemukan bahan dasar gambar. Hingga akhirnya ditemukan pita seluloid oleh George Eastman. Pada tahun 1885, George Eastman mendesain sebuah metode baru dalam fotografi. Ia tidak menggunakan plat yang umumnya digunakan dalam kamera pada waktu itu, melainkan menggunakan rol kertas yang peka cahaya melalui rollholder dalam kamera. Empat tahun kemudian George Eastman mengenalkan pita hasil ciptaannya yang disebutnya sebagai pita seluloid sehingga memungkinkan untuk merekam gambar-gambar yang bergerak.

Meskipun bahan dasar gambarnya telah ditemukan, namun penemuan Edison ini masih belum diproyeksikan ke layar. Akhirnya pada tahun 1894, Lumiere bersaudara, Auguste dan Louis, menemukan cinematographe yakni sebuah mesin yang mampu untuk menangkap dan memproyeksikan gambar bergerak. Singkat kata cinematographe merupakan sebuah kombinasi kamera, alat memproses film dan proyektor menjadi satu.

Film juga berkembang seiring dengan perkembangan jaman. Mulai ditemukannya film bisu hitam putih sampai film hitam putih bersuara 1920 dan film berwarna pada tahun 1930-an. Pada awalnya sebuah film hanya dianggap sebagai tiruan mekanis dari sebuah realita dan sebagai sarana untuk mereproduksi karya seni pertunjukan lainnya seperti teater. Namun pada perkembangnya, film

(2)

dianggap sebagai karya seni setelah melalui pencapaian-pencapaian dalam sejarah perfilman dengan pembuat-pembuat film.

Penemuan teknik untuk memproyeksikan gambar ke sebuah layar hingga dapat ditonton oleh banyak orang sekaligus, merupakan mata rantai terakhir dari satu rentetan usaha penemuan yang menghasilkan gambar hidup seperti yang dikenal sekarang. Gedung di mana alat proyeksi ditempatkan dan di mana orang banyak dapat menonton gambar bergerak di atas sebidang layar putih, mula-mula memperoleh bermacam nama. Tetapi, di negeri ini, gedung ini akhirnya dikenal dengan sebutan bioskop. Bioskop di negeri ini sudah hadir selama 90 tahun.

(Haris, 1992)

Penggunaan pita seluloid sebagai bahan gambar film juga mengalami perkembangan. Film-film pada saat ini mulai menggunakan pita magnetic sebagai alternative penggantinya. Pita magnetic ini dapat berupa kaset Hi-8, Digital 8 atau bisa juga berupa mini DV.

Skenario adalah sesuatu yang oleh Eros Djarot, seorang sutradara yang sekarang menggeluti dunia politik, disebut sebagai “jantungnya film”. “Pada manusia,” tambahnya, “jantung yang tidak baik akan mempengaruhi seluruh kinerja tubuh.” Format adalah bagian yang paling sepele dalam penulisan skenario. Jadi jika ingin skenario maka yang harus dilakukan, adalah menulis dan bukan membangun tembok psikologis yang akan membuat penulis kerepotan merubuhkannya. (King, 2001). Atau jika tembok itu terlanjur menghalangi, si penulis harus menawarkan formula bagaimana cara merubuhkannya. Dalam penulisan skenario hanya menggunakan story line untuk menjelaskan penyuntingannya. Hal tersebut disebabkan, skenario atau story line tersebut hanya sebagai pedoman saat proses perancangan. Kekuatan dari perancangan film ini hanya berdasar pada proses editing dan pengambilan gambar yang bagus dan sesuai.

2.1.2. Perkembangan Film

Dewasa ini terdapat berbagai ragam film. Meskipun cara pendekatan berbeda-beda, semua film dapat dikatakan mempunyai satu sasaran, yaitu menarik perhatian orang terhadap muatan masalah-masalah yang dikandung. Selain itu,

(3)

film dapat dirancang untuk melayani keperluan publik terbatas maupun public yang seluas-luasnya.

Pada dasarnya film dapat dikelompokkan ke dalam dua pembagian besar, yaitu kategori film cerita dan noncerita. Pendapat lain suka menggolongkan menjadi film fiksi dan film nonfiksi.

Film cerita adalah film yang diproduksi berdasarkan cerita yang dikarang, dan dimainkan oleh aktor dan aktris. Pada umumnya, film cerita bersifat komersial, artinya dipertunjukan di bioskop dengan harga karcis tertentu atau diputar di televisi dengan dukungan sponsor iklan tertentu. Film noncerita merupakan kategori film yang mengambil kenyataan sebagai subyeknya. Jadi merekam kenyataan daripada fiksi tentang kenyataan.

Dalam perkembangannya, film cerita dan noncerita saling mempengaruhi dan melahirkan berbagai jenis film yang memiliki ciri, gaya dan corak masing- masing. Sebagian besar pembuat atau produser berkeyakinan, film menjadi bisnis besar. Setelah film diproduksi, ia bisa diperdagangkan dengan berbagai cara, yang akan mendatangkan keuntungan besar bagi produser film. Sebagian produser lain memproduksi film dengan lebih mempertimbangkan dorongan kultural.

Film cerita kebanyakan dibuat dengan perhitungan komersial. Hal ini bisa dimaklumi karena produksi film cerita biasanya melibatkan modal yang relatif besar. Lebih jauh, ditinjau dari aspek ekonomi dan teknologi, produksi film harus dikelola sebagai usaha industri, sebab selain melibatkan modal besar juga melibatkan banyak tenaga dari berbagai keahlian.

Industri film yang terkenal kokoh, antara lain Hollywood di Amerika Serikat, lalu di Cina dan India. Industri film negara-negara ini memiliki jaringan distribusi yang terkoordinasi seperti industri film Hollywood menguasai pasaran film dunia. Film-film Hollywood diputar di bioskop di kota-kota besar negeri maju sampai ke pelosok-pelosok negeri Dunia Ketiga. Dominasi yang kuat dari film-film industri film di berbagai negara.

Sementara itu, industri film India tercatat memiliki angka produksi tertinggi, yakni rata-rata membuat 700-an film pertahun. Sebagian besar diproduksi untuk konsumsi dalam negeri. Namun, nilai ekspor film setiap tahun tidak kecil. Lalu di Indonesia sendiri, rintisan membangun industri film sudah ada.

(4)

Namun, belum sampai ke tingkat industri film yang mapan. Kendala yang dihadapi berkaitan dengan masalah permodalan, dukungan teknologi film (mulai dari pengadaan peralatan film sampai dengan penyediaan laboratorium modern tempat pemrosesan film), masalah kekurangan tenaga pembuat yang benar-benar terampil, hingga ke soal-soal peredaran film yang bersaing keras dengan produksi film impor. Kendala lain yang sering muncul, soal iklim kreativitas atau kebebasan berkreasi bagi para pembuat film.

Film merupakan bagian dari kehidupan modern dan tersedia dalam berbagai wujud, seperti di bioskop, dalam tayangan televisi, dalam bentuk kaset video, dan piringan laser (laser disc). Sebagai bentuk tontonan, film memiliki waktu putar tertentu. Rata-rata satu setengah jam sampai dengan dua jam. Selain itu, film bukan hanya menyajikan pengalaman yang mengasyikan, melainkan juga pengalaman hidup sehari-hari yang dikemas secara menarik. Seseorang menyukai film karena ada unsur dalam usaha manusia untuk mencari hiburan dan meluangkan waktu, karena film tampak hidup dan memikat, menonton film dapat dijadikan bagian dari acara-acara kencan antara pria dan wanita.

Seseorang menonton film untuk mencari nilai-nilai yang memperkaya batin. Setelah menyaksikan film, ia memanfaatkan untuk mengembangkan suatu realitas rekaan sebagai bandingan terhadap realitas nyata yang dihadapi. Jadi, film dapat dipakai penonton untuk melihat hal-hal di dunia ini dengan pemahaman baru. Kategori penonton yang menyaksikan film yang hanya ingin menjadikan film sebagai pelepas ketegangan dari realitas nyata yang dihadapi. Film sebagai tempat pelarian dari beban hidup sehari-hari.

Seseorang menonton film untuk keperluan suatu studi adalah hal yang patut diingat. Tidak hanya studi tentang keindahan (estetika) film, tetapi juga studi dari disiplin ilmu-ilmu yang lain. Dalam hal ini, film yang mampu merekam segala aspek kehidupan manusia. Dengan demikian, film dapat dijadikan sebagai dokumen sosial.

Film yang dibuat dengan citarasa seni biasanya dapat dipercaya dalam merekam kenyataan sosial pada jamannya. Kenyataan sosial itu sangat bermacam- macam, seperti lokasi-lokasi atau bangunan-bangunan yang pernah ada, cara para

(5)

tokoh berpakaian menurut mode jamannya, cara hidup sehari-hari dan cara berpikir.

2.1.2.1.Film Cerita atau Fiksi

Film fiksi memiliki berbagai jenis atau genre. Dalam hal ini, genre diartikan sebagai jenis film yang ditandai oleh gaya, bentuk atau isi tertentu. Ada yang disebut film drama, film horror, film perang, film sejarah, film fiksi-ilmiah, film komedi, film laga (action), film musical, dan film koboi. Penggolongan jenis film tidaklah ketat karena sebuah film dapat dimasukkan ke dalam beberapa jenis.

Misalnya sebuah film komedi-laga (action), dan film drama-sejarah.

Jenis-jenis film cerita itu agar tetap bertahan hidup (artinya selalu diminati penonton) harus tanggap terhadap perkembangan jaman. Jenis film koboi di jaman John Wayne, misalnya tampak lain dibandingkan dengan film koboi pada jaman sebelumnya maupun sesudahnya. Film drama Indonesia tahun 1950-an, sungguh tampak berbeda dengan film-film drama Indonesia tahun 1980-an.

Pada tahun 1960-an, banyak teknik film yang dipamerkan, terutama teknik penyuntingan untuk menciptakan adegan-adegan yang menegangkan. Penekanan juga diberikan lewat berbagai gerak kamera serta tarian para pendekar yang sungguh-sungguh bisa beladiri. Contoh yang legendaris dalam hal ini adalah Bruce Lee. Orang lain kemudian menambahkan trik (tipuan) penggunaan tali, yang tak tertangkap kamera, yang memungkinkan para pendekar itu terbang dari satu tempat ke tempat lain. Akhirnya, teknik modern dilakukan dengan memanfaatkan sinar laser, seni memamerkan kembang api dan berbagai peralatan canggih yang lain.

Jika diingat, setiap pembuat film hidup dalam masyarakat atau dalam lingkungan budaya tertentu, proses kreatif yang terjadi merupakan pergulatan antara dorongan subyektif dan nilai-nilai yang mengendap dalam diri. Hasil pergulatan ini akan muncul sebagai karya film. Karya film itu, di satu pihak tetap mengandung subyektivitas, dan dapat menunjukkan gaya atau warna kesenimanan, di pihak lain bersifat obyektif, yang bisa diapresiasi oleh orang lain.

Terhadap film cerita, yang perlu dilihat, sejauh mana pembuat film dapat meramu dorongan subyektif dalam menggunakan bahan dasar berupa cerita. Film

(6)

cerita, lalu dapat diartikan sebagai pengutaraan cerita atau ide, dengan pertolongan gambar-gambar, gerak dan suara.

Jadi, cerita adalah bungkus atau kemasan yang memungkinkan pembuat film melahirkan realitas rekaan yang merupakan suatu alternative dari realitas nyata bagi penikmatnya. Dari segi komunikasi, ide atau pesan yang dibungkus oleh cerita itu merupakan pendekatan yang bersifat membujuk (persuasive).

Akan tetapi, tentu saja cerita bukan segala-galanya dalam produksi film cerita. Terdapat sejumlah unsur lain yang menunjang keberhasilan. Misalnya para pemain yang mampu tampil meyakinkan, penyuntingan yang mulus, dan penyutradaraan yang jitu.

Dalam pembuatan film cerita diperlukan proses pemikiran dan proses teknis. Proses pemikiran berupa pencarian ide, gagasan, atau cerita yang akan digarap, sedangkan proses teknis berupa keterampilan artistic untuk mewujudkan segala ide, gagasan atau cerita menjadi film yang siap ditonton. Oleh karena itu, film cerita dapat dipandang sebagai wahana penyebaran nilai-nilai.

2.1.2.2.Film Noncerita atau Nonfiksi

Jika film memiliki berbagai jenis, demikian pula yang tergolong pada film nonfiksi. Namun, pada mulanya hanya ada dua tipe film nonfiksi ini, yakni yang termasuk dalam film dokumenter dan film faktual. Film faktual umumnya hanya menampilkan fakta. Kamera sekadar merekam peristiwa. Film faktual ini di jaman sekarang merekam peristiwa. Film faktual ini di jaman sekarang tetap hadir dalam bentuk sebagai film berita (news-reel) dan film dokumentasi. Film berita menitikberatkan pada segi pemberitaan suatu kejadian actual, misalnya film berita yang banyak terdapat dalam siaran televise. Sementara itu, film dokumentasi hanya merekam kejadian tanpa diolah lagi, misalnya dokumentasi pertistiwa perang, dokumentasi upacara kenegaraan.

Film dokumenter, selain mengandung fakta, ia juga mengandung subyektivitas pembuat. Subyektivitas diartikan sebagai sikap atau opini terhadap peristiwa. Jadi ketika faktor manusia ikut berperanan, persepsi tentang kenyataan akan sangat bergantung pada manusia pembuat film dokumenter itu.

(7)

Tahun 1920-an merupakan periode penting bagi tumbuh-nya pemikiran film dokumenter. Istilah dokumenter dipopulerkan oleh John Grierson berkebangsaan Inggris, untuk menyebut karya Robert Flaherty, warga Amerika Serikat yang berjudul Moana, 1926. Grierson mengembangkan tradisi pembuatan film dokumenter di Inggris dan Kanada. Ia mendefinisikan film dokumenter sebagai perlakuan kreativitas peristiwa.

2.1.3. Teknik Audio Visual dan Film

Dalam praktek kerja sebuah film, memerlukan beberapa teknik diantaranya yaitu pengambilan gambar, pengaturan cahaya, pergerakan kamera dan pengaturan suara atau musik.

2.1.3.1.Pengambilan Gambar

Pengambilan gambar dalam sebuah film diberi istilah shot. Shot sendiri berarti dipotretnya sebuah subjek, saat tombol kamera kamera ditekan dan dilepaskan. Sebagaimana yang ditentukan dalam skenario. Setiap shot berhubungan erat dengan masalah pembingkaian, yaitu sedikit-banyaknya subjek yang dimasukkan ke dalam bingkai atau tayangan nantinya. Dengan bingkai ini pembuat memberikan batas antara dunia subjek yang ditampilkan dan dunia nyata. Tujuannya untuk memberi makna harfiah dan makna simbolik tentang apa, siapa, dan bagaimana maksud cerita yang ingin dituturkan.

Pada umumnya, sebuah film cerita terdiri atas ratusan shot. Setiap shot dihasilkan dari sudut pandang kamera (camera angle) terhadap adegan yang hendak direkam. Sang sutradara merupakan orang pertama yang berhak menetapkan sudut pandang kamera ini. Tiga faktor yang menentukan sudut pandang kamera sebagai berikut.

a. Besar-kecil subjek.

Berikut ini dikemukakan istilah yang berkaitan dengan besar-kecil subjek dalam perfilman.

Extreme long shot

Shot yang diambil dari jarak yang sangat jauh, mulai sekitar 200 meter sampai jarak yang lebih jauh lagi. Sudah dapat dipastikan, jenis shot ini selalu

(8)

merupakan shot di luar ruang. Tujuannya antara lain, memperlihatkan situasi geografis.

Long shot

Shot jarak jauh, yang kepentingannya untuk memperlihatkan hubungan antara subjek dan latar belakang. Disingkat LS dalam perfilman.

Medium shot

Shot yang diambil lebih dekat pada subjeknya dibandingkan long shot. Dalam kaitannya dengan subjek manusia, shot yang menampilkan dari pinggang ke atas. Sangat fungsional untuk mengambil adegan pengenalan, terutama sebagai transisi dari long shot ke close shot.

Close shot

Istilah bebas untuk menyebut jarak dekat pengambilan gambar, yaitu lebih dekat dari sebuah medium shot, tetapi belum sedekat close up.

Close up

Pengambilan gambar dari kamera pada jarak yang sangat dekat dan memperlihatkan hanya bagian kecil subjek, misalnya wajah seseorang. Close up cenderung mengungkapkan pentingnya objek dan sering memiliki arti simbolik. Dalam istilah perfilman disingkat CU.

Extreme close up

Sebuah close up yang sangat besar, yang memperlihatkan bagian yang diperbesar dari sebuah benda atau bagian menusia. Misalnya hanya hidung, mata, dan telinga manusia. Tujuannya, mengungkapkan detail reaksi manusia, keberadaan benda-benda kecil tetapi sangat vital dalam rangkaian cerita, dan lain-lain.

b. Sudut subjek.

Dalam kenyataan, semua benda memiliki tiga dimensi. Namun, semua benda (subjek) ini akan direkam dan ditayangkan ke layar putih dengan permukaan dua dimensi. Ada berbagai cara untuk mendapatkan efek dimensi kedalaman dalam pembuatan film. Pemecahan soal termudah dengan meletakkan kamera sedemikian rupa terhadap subjek sehingga efek-efek kedalaman dapat direkam.

(9)

c. Ketinggian kamera terhadap subjek.

Kamera bisa menangkap subjek dengan sudut pengambilan normal (eye level), sudut pandang mendongak (low angle), dan sudut pandang dari atas (high angle). Tinggi-rendah pengambilan kamera ini membawa dampak dramatis dan psikologis tertentu. Seorang tokoh yang diambil secara low angle akan tampak lebih gagah dan berwibawa. Jika secara high angle akan mengesankan sebaliknya. Sementara itu, sudut pengambilan normal lebih bersifat netral atau biasa.

Jenis shot bersifat objektif jika yang tampil di layar film dimaksudkan sebagai penglihatan objektif penonton terhadap subjek. Penonton diajak menyaksikan subjek dengan sikap yang sangat murni atau apa adanya. Jenis shot akan dirasakan subjektif jika penonton diajak berpatisipasi melihat segala sesuatu yang disaksikan dan dirasakan oleh tokoh film. Misalnya, penonton mewakili tokoh film yang tengah naik mobil yang berlari kencang di arena balap.

Sebaliknya, sudut penglihatan tokoh film berarti jika shot itu menunjukkan bagaimana seorang tokoh melihat tokoh lain (atau subjek lain) dalam film.

Penentuan shot dipengaruhi oleh pertimbangan praktis tertentu. Biasanya sutradara akan memilih shot yang dapat mengantarkan dengan baik aksi dramatis sebuah adegan. Namun, jika ia dihadapkan pada pilihan antara efek emosional dan kejelasan informasi yang diperlukan untuk mengantarkan apa yang sedang terjadi maka kebanyakan sutradara akan memilih yang terakhir dan mendapatkan dampak emosional melalui cara lain.

Dengan demikian, banyak yang dapat diungkapkan oleh pembuat film hanya dengan jenis-jenis shot. Namun, sebuah film akan jauh lebih kaya dengan makna jika diberi sumbangan teknik visual dan dari tenaga-tenaga kreatif yang lain.

2.1.3.2.Penulisan Skenario

Skenario film yang disebut screenplay atau script diibaratkan seperti cetak biru (blue print) bagi seorang insinyur atau kerangka bagi tubuh manusia. Tidak sebagimana naskah drama yang diproduksi dan dimainkan persis seperti, atau

(10)

mendekati naskah original maka skenario film terbuka lebar pada tafsiran sutradara. Sebagai sebuah karya tulis, skenario yang baik dinilai bukan dari enaknya untuk dibaca, melainkan efektivitasnya sebagai cetak biru untuk sebuah film. Dengan demikian, suapaya berhasil skenario film harus disampaikan dalam deskripsi-deskripsi visual dan harus mengandung ritme adegan-adegan beserta dialog yang selaras dengan mengutamakan penuturan dengan bahasa gambar maka dialog hanya dipergunakan dalam film jika sarana visual tidak mampu lagi menyampaikan maksud atau pesan pembuat film.

Penulisan skenario merupakan proses terhadap yang bermula dengan ide original atau berdasarkan ide tertulis yang lain. Misalnya dari cerita pendek, suatu berita kisah nyata, naksah drama, dan novel. Deskripsi visual berupa pembagian ke dalam adegan dan babak, yang kadang-kadang disertai petunjuk gerak kamera adalah khas penulisan skenario yang membedakan dengan karya tulis pada umumnya. Biasanya skenario disampaikan kepada produser dalam bentuk ringkasan cerita (atau sinopsis) yang berisi garis besar cerita, puncak-puncak kejadian dramatik serta tokoh utama. Sinopsis ini lazimnya Cuma satu-dua halaman.

Selanjutnya menyusul pembuatan apa yang disebut treatment yang lebih luas serta lebih mendetail, dengan panjang maksimal sampai 20 halaman. Sebuah treatment yang baik harus disampaikan dalam bentuk perkembangan cerita dan meliput setiap kejadian serta adegan-adegan penting dari skenario yang akan dibuat. Setelah treatment selesai, lalu dibuat skenario penulisan pertama dalam bentuk skenario utuh yang dilengkapi dengan dialog. Skenario penulisan pertama ini akan mengalami berulang kali penulisan ulang (revisi) demi menghasilkan skenario final yang siap difilmkan.

Cerita untuk film harus merupakan cerita dramatik (dramatic story), yaitu di dalamnya harus ada problem yang kuat dan menarik. Lantas, sebuah cerita harus mempunyai tema, yaitu soal pokok cerita atau tentang apa yang mau diceritakan. Kemudian ada plot atau jalan cerita. Bisa saja dalam sebuah skenario ada plot sampingan, namun plot sampingan ini harus untuk menunjang plot utama.

(11)

Adapun tugas penulis skenario dapat dirumuskan sebagai berikut.

Membangun cerita yang menunjukkan perkembangan jalan cerita yang menunjukkan perkembangan jalan cerita yang baik dan logis. Karakteristik para tokoh terungkap dengan jelas. Penjabaran gagasan (ide) tertuang dengan jelas melalui jalan cerita, perwatakan dan bahasa. Dialog disusun dengan bahasa yang hidup dan sesuatu dengan karakteristik tokoh. Penulisa skenario adalah orang yang mempunyai keahlian membuat transkripsi sebuah film. Membuat film dalam bentuk tertulis.

2.1.3.3.Kamera dan Pergerakkannya

Penata fotografi alias juru kamera adalah tangan kanan sutradara dalam kerja di lapangan. Sebagai tangan kanan sutradara, kameraman melakukan tugas pengambilan gambar. Dalam pelaksanaannya, kameraman akan membuat komposisi dari subjek yang hendak direkam. Komposisi untuk film harus dipikirkan dengan seksama. Tujuannya, agar penonton tidak kehilangan pusat perhatian. Langkah-langkah pengaturan komposisi untuk film sebagai berikut.

Pertama, pada umumnya bagian pusat dari bingkai (frame) merupakan tempat yang paling wajar untuk meletakkan tokoh utama/ subjek. Tentu tidak otomatis berada persis di tengah, tetapi boleh dikata tokoh utama akan mendominasi daerah pusat frame.

Kedua, pentingnya menarik perhatian penonton dengan perimbangan kontras (gelap-terang dan warna) serta tata cahaya. Dalam kebanyakan film, daerah yang paling terang dapat dipastikan menjadi pusat perhatian penonton.

Mengenai soal tata cahaya, yang terpenting hasilnya secara keseluruhan harus menunjang jiwa maupun mood film. Juga harus tampak berkesinambungan karena tiap shot tidak berdiri sendiri. Ada hubungan dengan shot sebelum dan sesudahnya. Untuk film yang bersuasana riang (film komedi dan musikal) akan dimunculkan tata cahaya yang dominan cerah dan terang. Sebaliknya, film bertema sedih dan bernuansa tragedy, dapat didominasi oleh tata cahaya yang muram atau sedikit gelap. Film horor menuntut tata cahaya yang dominan gelap dan berkesan misterius. Sumbangan terbesar tata cahaya dalam film tampak ketika

(12)

menciptakan suasana hati (mood) dari adegan maupun jiwa film secara keseluruhan.

Ketiga, yang sangat merangsang dalam komposisi berkaitan dengan penekanan melalui gerak. Dengan sendirinya, soal ini yang paling pokok dari komposisi untuk film. Tiap subjek yang bergerak akan segera menarik perhatian penonton dibandingkan dengan yang tidak bergerak. Di mana pun letak subjek yang bergerak dalam frame, dia akan lebih menarik perhatian walaupun cahaya yang menyinari lemah dibandingkan dengan cahaya yang menyinari subjek lain yang diam.

Kameraman harus mengusahakan peran utama dalam gerak yang menarik perhatian penonton. Selain itu, dia harus mengawasi atau menjaga agar tidak ada gerak serupa dalam frame yang bisa mencuri gerak dari peran utama. Mencuri gerak ini sering dilakukan oleh para figuran dalam film cerita.

Setelah kita membahas partisipasi kreatif dari kamera dalam penggambaran dramatic lewat frame dan lewat sudut pandang kamera, kini kita membahas soal gerak kamera. Dalam ekspresi masyarakat film, gerak kamera ini berfungsi mengikuti tokoh atau objek yang bergerak. Menciptakan ilusi gerak atau suatu objek yang statis. Membentuk hubungan ruang antara dua unsure dramatic.

Menjadikan ekspresi subyektif tokoh. Ada tiga prinsip gerak kamera, yaitu:

a. Gerak kamera pada porosnya, baik berupa gerakan horisontal maupun vertikal, tanpa memaju-mundurkan atau menaik-turunkan kamera. Gerakan ini disebut panoramic shot atau yang umum diistilahkan pan shot. Sebagai catatan untuk gerakan kamera secara vertikal ini ada yang memberi istilah sendiri, yaitu tilt shot. Gerakan kamera pada porosnya antara lain memberikan deskripsi obyektif, yaitu menunjukkan ruang dalam sebuah adegan baru. Atau memberikan deskripsi subyektif, yaitu berupa apa yang dilihat oleh tokoh film.

b. Gerak kamera yang disebabkan kamera itu secara fisik dipindahkan posisinya, yang disebut tracking shot. Kamera yang mendekat kepada subjek disebut track in. Berguna untuk menampakkan kesan introduksi, menggambarkan suatu ruang dramatic, dan menggambarkan keadaan jiwa tokoh cerita. Kamera yang menjauh dari subjek disebut track out. Gunanya untuk memunculkan

(13)

kesan konklusi meninggalkan ruang, dan menciptakan kesan kesendirian.

Kamera yang berpindah tempat dapat diletakkan di atas peralatan beroda dan berjalan di atas semacam rel yang disebut peralatan dolly. Termasuk dalam gerak kamera praktis bisa digerakkan ke segala arah.

c. Gerak kamera karena perubahan panjang titik api (focal length). Panjang titik api merupakan suatu ukuran (biasanya dalam milimeter) jarak dari pusat permukaan lensa sampai ke bidang datar. Panjang-pendek titik api menentukan jenis lensa.

Lensa tele bertitik api panjang, lensa normal bertitik api normal, dan yang bertitik api pendek berupa lensa sudut lebar. Kemudian lensa yang titik apinya bersifat variable (dapat diubah) disebut lensa zoom. Dengan zoom ini, tangkapan subjek bisa diperbesar berlipat kali tanpa harus memindahkan fisik kamera.

2.1.3.4.Suara dan Musik

Sebagai media audo visual, perkembangan film samasekali tak boleh hanya memikirkan aspek visual sebab suara juga merupakan aspek kenyataan hidup. Itulah sebabnya perkembangan teknologi rekaman suara untuk film tidak bisa diabaikan. Di pasaran, tersedia peralatan rekaman suara yang tidak kalah canggih dengan peralatan rekaman gambar.

Menurut sejarahnya, selama abad awal, film yang disaksikan public itu bisu alias tanpa suara. Sebelum tahun 1900, Thomas Alva Edison menemukan teknik perekaman suara melalui alat phonograph (piringan hitam). Suara yang direkam oleh piringan hitam itu dipergunakan untuk mengiringi adegan di layar.

Pertunjukan film menjadi lebih hidup. Tetapi, dalam pertunjukan film di ruangan besar kualitas suara yang dihasilkan kurang memuaskan.

Kebutuhan akan adanya film bersuara semakin meningkat setelah muncul pesaing berupa menjamurnya pesawat radio. Masyarakat film terus berusaha, dan di tahun 1927 muncul film bersuara pertama, Jazz Singer, produksi Warner Bros dari Amerika Serikat. Jazz Singer yang dibintangi penyanyi Al Jolson.

Kesuksesan besar film ini meyakinkan Warner Bros dan industri film tentang masa depan film bersuara.

(14)

Dengan adanya suara film maka penghargaan kepada sebuah film harus memperhitungkan kehadiran suara film itu. Proses pengolahan suara berarti proses memadukan unsur suara (mixing) yang terdiri atas dialog dan narasi, musik serta efek-efek suara. Tata suara dikerjakan di studio suara. Tenaga ahlinya disebut penata suara, yang dalam tugasnya dibantu tenaga pendamping seperti perekam suara di lapangan maupun di studio. Perpaduan unsure suara ini nantinya akan menjadi jalur suara, yang letaknya bersebelahan dengan jalur gambar dalam hasil akhir film yang siap diputar di bioskop.

Fungsi suara yang terpokok memberikan informasi lewat dialog dan narasi. Fungsi penting lain dengan menjaga kesinambungan gambar. Sejumlah shot yang dirangkai dan diberi suara, seperti musik, dialog, dan efek suara akan terikat dalam satu kesatuan.

Seorang penata suara akan mengolah materi suara dari berbagai sistem rekaman. Sehubungan dengan itu, proses rekaman suara dalam film sama penting dengan proses perpaduan nanti. Sistem rekaman yang sebenarnya terbaik melalui sistem rekaman langsung (direct recording). Sistem ini melakukan perekaman suara yang dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan syuting.

Jika ditangani dengan sempurna, sistem rekaman langsung ini akan sangat menyumbang efek kewajaran, realistis, pada gambar. Masalahnya, sistem rekaman langsung memiliki syarat proses pengerjaan yang tidak boleh terganggu oleh suara yang tidak diperlukan (noise). Selain itu, memiliki syarat pemeran yang hafal dialog dan mampu mengucapkan dialog dengan benar.

Kebalikannya, sistem rekaman belakangan (after recording) dilaksanakan setelah syuting. Perekaman ini dilakukan di studio suara berdasarkan jalur gambar yang telah melalui proses editing. Mengingat panjang film, jalur gambar itu diisi suara satu demi satu bagian. Dengan sistem ini maka suara seorang pemeran bisa diisi suara orang lain. Yang harus diingat, sistem after recording sering dikacaukan dengan pengertian sulih suara (dubbing). Padahal pengertian sebenarnya dubbing adalah proses pengisian dialog dari satu bahasa ke bahasa yang lain.

Satu lagi sistem perekaman yang taka sing dihadapi oleh seorang penata suara, yakni sistem play back. Sistem ini terlebih dahulu merekam suara,

(15)

umumnya lagu-lagu, yang kemudian dijadikan “patokan” untuk merekam gambar.

Sistem play back memang banyak dipakai untuk pembuatan film yang diisi dengan lagu-lagu.

Musik dipandang penting sejak dahulu untuk mendampingi film. Dalam era film bisu, sudah ada usaha untuk mempertunjukkan film dengan iringan musik hidup. Para pemusik bersiap di dekat layar dan akan memainkan alat musik pada saat adegan tertentu. Musik dalam film dikelompokkan dalam delapan kategori fungsi, yaitu:

1. Membantu merangkai adegan.

Sejumlah shot yang dirangkai dan diberi suatu musik akan berkesan terikat dalam satu kesatuan.

2. Menutupi kelemahan atau cacat dalam film .

Kelemahan dalam akting dan pengucapan dialog dapat ditutupi dengan musik, sehingga acting yang lemah atau dialog yang pendek itu menjadi lebih dramatik dari yang sebenarnya. Jika dialog itu tidak pendek, efek dramatisasinya akan semakin tinggi apabila diiringi musik yang tepat.

3. Menunjukkan suasana batin tokoh utama film.

Hal ini semakin dimungkinkan jika sang tokoh diambil dalam shot yang panjang, sendirian dalam suatu ruangan, maka musik yang diperdengarkan seolah-olah menunjukkan suasana batinnya.

4. Menunjukkan suasana waktu dan tempat.

Sejumlah alat musik menentukan secara nyata konotasi geografis. Musik dan alat musik yang tepat akan mensugestikan suasana waktu. Contohnya, musik harpa yang akan mensugestikan masa silam.

5. Mengiringi kemunculan susunan kerabat kerja atau nama-nama pendukung produksi. (credit title).

Maksunya supaya lebih menarik, bergaya, dibandingkan dengan kehadiran sebenarnya yang tanpa musik.

6. Mengiringi adegan dengan ritme cepat.

Misalnya, adegan kejar antara polisi dan penjahat. Setelah diberi musik, adegan beritme cepat akan tampak seru.

(16)

7. Mengantisipasi adegan mendatang dan membentuk ketegangan dramatik.

Musik diperdengarkan mendahului adegan, seakan-akan musik film itu memberi aba-aba “awas”.

8. Menegaskan karakter lewat musik. Tokoh utama pria diberi musik yang kuat,

“bersih”, tokoh utama wanita diberi iringan musik yang lebih lembut.

Sementara itu tokoh jahat dengan tekanan musik yang melengking terkadang dibuat agak fals.

2.1.4. Makna Petualangan

Petualangan adalah kejadian yang luar biasa, atau kemauan untuk ikut serta dalam hal yang melibatkan aspek resiko dan ketidakpastian, atau berani untuk pergi ke suatu tempat yang berkaitan dengan sesuatu yang berbahaya.

Kegiatan dalam petualangan adalah melakukan perjalanan ke suatu tempat yang baru untuk menemukan sesuatu yang baru atau dapat dinamakan eksplorasi.

Perjalanan ini dilakukan seseorang atau lebih dengan tujuan antara lain untuk mendapatkan kenikmatan hasrat ingin mengetahui sesuatu atau karena alasan kesehatan, olah raga, konvesi, keagamaan, kepentingan usaha, dan lain-lain.

2.2. Identifikasi Data 2.2.1. Data Produk

Pulau Sempu berada di Selatan kota Malang. Lokasi utama bersatu dengan daerah wisata Tanjung Biru. Sebuah pulau yang tidak berpenghuni dan berada dekat pantai. Awalnya pulau ini merupakan wilayah khusus untuk latihan pihak militer tetapi seiring berjalan waktu, penduduk sekitar menjadikannya dapat dimasuki untuk umum karena tidak ada aturan khusus yang melarang. Pulau Sempu merupakan sebuah pulau yang masih alami tidak ada fasilitas apapun di sana, oleh karena itu beberapa pengunjung sengaja menjadikannya tempat untuk berkemah. Ketidaksengajaan itu berkembang di kalangan masyarakat Jawa Timur dan menjadikannya pilihan berkemah yang menantang. Tidak setiap orang Jawa Timur mengetahui Pulau Sempu, karena kebanyakan hanya tahu Tanjung Biru yang juga tidak banyak diketahui.

(17)

Pulau Sempu mempunyai tiga lokasi utama yang cocok untuk diunggulkan yaitu pertama “Pasir Panjang” dengan hamparan pesisir yang panjang dengan pemandangan pulau karang kecil di tengah-tengah, kedua adalah “Segoro Anak”

yang merupakan lokasi utama berkemah karena aman dari ombak laut yang ditutupi tebing karang.

2.2.2. Data Pemasaran 2.2.2.1.Strategi Pemasaran

Memperkenalkan Pulau Sempu sebagai objek wisata alam yang mengundang keingintahuan akan sesuatu yang baru dari alam dalam sebuah film petualangan yang dikemas dalam alur cerita perjalanan dan makna kehidupan.

2.2.2.2.Wilayah Pemasaran

Indonesia dengan mengutamakan Pulau Jawa.

2.2.2.3.Potensi Pasar

Sedikitnya film buatan Indonesia yang mengetengahkan tentang perjalanan wisata ke suatu daerah yang masih alami. Banyaknya jalur distribusi yang terbuka bagi film menunjukkan semakin dicari dan digemari oleh masyarakat, mulai dari peristiwa-peristiwa bersejarah, tempat-tempat wisata sampai dunia binatang. Segmen masyarakat pemerhati film dengan menciptakan film juga beragam, mulai dari orang tua yang ingin mengenang masa-masa dahulu, para traveler yang ingin mengetahui tempat-tempat eksotik yang biasa mereka kunjungi, sampai anak kecil yang menyukai dunia binatang.

Antusiasme para distributor untuk membeli proyek suatu film memberikan peluang pasar yang besar bagi para pembuat film. Film dengan tema petualangan dalam masyarakat mendapat sambutan baik dalam format film dokumenter yang beberapa tahun terakhir diminati masyarakat sebagai progam televise. Serial film dokumenter yang saat ini sedang ditayangkan televise swasta di Indonesia antara lain:

a. Dorce Show Edisi Jalan-jalan di TransTV setiap hari Minggu pukul 09.30 WIB

Tayangan satu jam ini, hanya menunjukkan tempat wisata yang banyak dikunjungi dan yang baru dibangun, juga tempat makanan khas yang terkenal.

(18)

b. Jelajah di TransTV

Progam ini adalah alternatif lain bentuk berita atau ‘news feature’ yang unik dan menarik. Jelajah dikemas dalam bentuk ‘story line’ yang komunikatif dan menghibur namun tetap seimbang dan tajam.

Jelajah sangat luas lingkupnya antara lain membahas tema hobi, gaya hidup, profesi, travel, budaya, kepercayaan, lingkungan, masalah perkotaan, sosial-ekonomi, penemuan, petualangan, misteri, maupun kesehatan.

• Jelajah setiap hari Sabtu pukul 15.00 WIB

Kemasan lebih funky, lebih atraktif, lebih heboh, lebih emonstrative.

Menyorot wisata urban, unique life-style, festival, urban-man, binatang, dan sebagainya.

• Jelajah setiap hari Minggu pukul 15.00 WIB

Kemasan lebih heavy, lebih ethnic, menyorot keragaman budaya, kisah- kisah unik, penjelajahan dan petualangan, sosio-antro, dan sebagainya.

• Jelajah Khatulistiwa setiap hari Senin sampai Jumat pukul 15.00 WIB Kemasan lebih colorfull, lebih cair, lebih ‘lebar’ dalam pemilihan topik.

Menyorot banyak hal, juga tentang traveling dengan biaya murah.

c. Jejak Petualang di Trans7 setiap hari Sabtu pukul 12.00 dan 18.30 WIB

Indonesia kaya akan keanekaragaman alam, budaya, dan adapt istiadat.

Ratusan suku bangsa tersebar di berbagai belahan wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Cara hidup masyarakat tradisional sehari-hari dengan kearifan mengelola alam lingkungan dalam rangka mempertahankan hidup, sangan menarik dan tidak ternilai harganya untuk didokumentasikan.

Demikian pula dengan pengembaraan, petualangan dan penjelajahan di alam terbuka bukan hal yang biasa dilakukan orang, aktifitas ini akan selalu menarik untuk diikuti. Cinta alam, patriotisme, gotong royong, kesetiakawanan dan ambisi sangat kental dan menyatu pada setiap subjek pelaku aktivitas alam. Hal inilah yang diangkat dalam tayangan dokumenter

“Jejak Petualang”.

(19)

d. Piknik di TransTV setiap hari Minggu pukul 13.30 WIB

Tayangan setengah jam ini, mempromosikan daerah wisata khusunya tempat penginapan untuk keluarga dengan menunjukkan daerah sekitarnya dan fasilitas yang ada di tempat wisata tersebut.

Itulah beberapa potensi dari sebuah film bertemakan petualangan dengan format dokumenter yang ada di Indonesia.

2.2.2.4.Potensi Produk

Merupakan daerah wisata alam yang masih kurang dikenal oleh masyarakat dan mempunyai tiga lokasi utama yang bagus. Pertama, ‘Segoro Anak’ yang merupakan cekungan tebing karang di pinggir laut dan berlubang di bagian bawahnya sehingga ombak dari air laut masuk dan terkumpul semacam danau air laut kecil. Tempat ini menarik karena airnya tenang dan ada pantai kecil sehingga cocok untuk mendirikan tenda pantai di pinggir danau itu. Kedua adalah

‘Pasir Panjang’ yang merupakan hamparan pantai yang sangat panjang. Sebelum bisa mencapai tempat ini, harus melewati tiga pantai kecil dan turun dari tebing pendek tetapi cukup berbahaya kalau tidak hati-hati, barulah sampai di ‘Pasir Panjang’. Hamparan pasir pantai yang panjang dan luas dengan pemandangan samudra Hindia langsung membuat medan berbahaya yang telah dilewati menjadi tidak sia-sia.

2.3. Analisa Data

2.3.1. Metode Analisis Kualitatif

2.3.1.1.Kelebihan dan Kekurangan Film Genre Petualangan atau Perjalanan Segala sesuatu tidak ada yang sempurna, selalu akan ada kelebihan dan kekurangannya. Demikian juga dengan film. Sebuah film tetap saja akan memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun yang menjadi kelebihan dari sebuah film petualangan adalah:

1. Tampil dengan latar-latar yang kebanyakan adalah pemandangan mentakjubkan penonton.

2. Mudah menyampaikan nilai-nilai yang hendak disampaikan kepada penonton lewat inti dari alur cerita sebuah film.

(20)

Adapun yang menjadi kekurangan dari sebuah film yakni:

1. Pembuatan yang cenderung berbiaya besar

2. Lokasi penyuntingan yang kurang mendukung karena jauh dari pemukiman.

3. Sulitnya membangun suspence demi terciptanya suasana.

4. Kebutuhan tenaga kerja yang banyak.

2.3.1.2.Proses Produksi

Dalam proses pembuatannya terdapat tiga hal utama yang harus dilakukan, yakni :

1. Tahap Pra Produksi

a. Mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mencari informasi yang tentang film yang diangkat.

b. Mulai melakukan penulisan skenario untuk menjelaskan tahapan- tahapan cerita untuk menjadi satu kesatuan cerita, yang kemudian dianalisa serta dipahami.

c. Menyusun team work yang akan membantu proses perancangan d. Melakukan riset tempat yang akan dipergunakan.

e. Pengaturan semua jadwal kegiatan.

f. Production meeting yang membahas berbagai masalah salah satunya yaitu membahas bagaimana budgeting atau anggaran dana yang akan dipergunakan selama proses perancangan pra produksi, produksi, dan pasca produksi berjalan.

g. Mempersiapkan segala hal mulai dari peralatan, transportasi, akomodasi, dan lain-lain.

2. Tahap Produksi

Mulai melakukan proses pengambilan gambar atau shooting ke lokasi yang dituju.

(21)

3. Tahap Pasca Produksi

a. Mulai ke tahap proses editing gambar yang akan dipakai

Editing adalah sebuah proses penggabungan dari hasil pengambilan gambar atau shooting ke dalam suatu alur yang jelas dan menurut skenario sehingga menjadi sebuah adegan-adegan yang jelas dan tertata rapi. Dalam editing dituntut penggabungan yang baik sehingga jika ada adegan yang salah atau tidak layak, harus dihapus atau tidak masuk dalam urutan tadi. Pemberian efek khusus juga terjadi dalam proses ini.

b. Proses mixing.

Proses mixing adalah proses penggabungan terakhir yaitu antar suara dan gambar hingga menjadi sebuah film yang layak untuk dipertontonkan dan hasil akhir dari proses ini berupa format film yang diinginkan misalnya DVD atau VCD.

2.3.1.3.Deskripsi Kerja

Pembuatan film dikenal sebagai kerja kolaboratif, artinya melibatkan sejumlah keahlian tenaga kreatif yang harus menghasilkan suatu keutuhan, saling mendukung, dan mengisi. Perpaduan yang baik antara sejumlah keahlian ini merupakan syarat utama bagi lahirnya film yang baik. Pada dasarnya, keahlian tenaga kreatif itu berarti kemahiran menggunakan apa yang boleh disebut sebagai bahasa film. Namun, film bukanlah bahasa, melainkan hanya menyerupai bahasa.

Bahasa film itu berupa macam-macam teknik visual dan teknik film. Bahasa di sini berkaitan dengan cara-cara yang elementer dan yang lazim. Sementara itu, dalam kenyataan, bahasa film berkembang sedemikian kompleks, sehingga memerlukan pembahasan mendalam tersendiri.

Dalam sebuah pembuatan film selain produser dan sutradara, masih dibutuhkan kru untuk mengisi profesi yang vital karena tanpa adanya kru tersebut maka pembuatan sebuah film tidak akan bisa berjalan atau terlaksana (Akmal:

2003, hal 16). Berikut ini posisi-posisi vital dalam tim pembuatan beserta deskripsi tugasnya:

(22)

1. Produser

Produser mempunyai tugas untuk memimpin seluruh tim produksi yang telah dipilih sebelumnya. Selain itu yang menjadi tugas dari produser ini adalah bertanggung jawab pada aspek kreatif yang bersifat konspetual dan bertanggung jawab pada manajemen produksi.

2. Sutradara

Tugas dari seorang sutradara adalah untuk mengarahkan dan bertanggung jawab pada pembuatan sebuah film secara kreatif mulai dari segi pengambilan gambar scene per scene, pengolahan akting pemain, setting, sampai pada pemilihan musik. Namun apa yang menjadi tugas utama dari seorang sutradara adalah untuk mem-visual-kan skenario yang ada ke dalam suatu bentuk visual yang menarik. Dalam melaksanakan tugasnya seorang sutradara terlebih dahulu harus membuat sebuah director’s treatment, yakni konsep gaya sutradara dalam pengambilan sebuah gambar.

3. Asisten Sutradara

Asisten sutradara atau yang lebih sering disebut sebagai astrada mempunyai peranan dalam membantu tugas-tugas seorang sutradara dan untuk menghubungkan kru yang terlibat dalam tim pembuatan film dengan para pemain. Seorang astrada juga bertugas untuk mengarahkan kru dan pemain agar bersiap, serta menegur kru atau pemain yang melakukan kesalahan atau kekurangan. Selain itu seorang astrada juga bertugas untuk menerjemahkan director’s treatment seorang sutradara ke dalam script breakdown dan jadwal syuting.

4. Penulis Skenario

Seorang penulis skenario bertanggungjawab menuangkan ide cerita yang ada dan kemudian mengembangkan ke dalam bentuk skenario. Seorang penulis skenario harus bisa membayangkan kira-kira filmnya akan menjadi seperti apa. Dalam melakukan tugasnya seorang penulis skenario banyak melakukan pencarian data dan tidak hanya mengandalkan ingatannya atau pengetahuannya saja.

(23)

5. Art Director

Seorang Art Director bertugas untuk membantu seorang sutradara dalam mem-visual-kan scene demi scene yang terdapat dalam skenario serta mem-visual-kan tokoh-tokoh yang terdapat dalam film tersebut.

Khususnya bertanggungjawab terhadap tata dekorasi, tata properti, dan tata arias.

6. Director of Photography

Seorang Director of Photography memegang peranan dalam posisi yang penting karena bertanggung jawab untuk menjaga frame yang bagus, komposisi gambar yang menarik, kepaduan blocking dengan property serta penggunaan lighting yang bagus. Semua ini disesuaikan oleh Director of Photography agar sesuai dengan konsep yang telah dibuat oleh sutradara dan dapat memenuhi tuntutan naskah.

7. Editor

Editor adalah orang yang bertugas untuk menggabungkan potongan- potongan adegan yang telah dibuat pada saat produksi atau syuting menjadi sebuah satu kesatuan yang menarik. Posisi ini juga memegang peranan penting apakah sebuah film itu dapat dinilai bagus atau tidak.

Sebuah film dengan sutradara dan penulis skenario yang hebat dapat mengahasilkan sebuah film yang buruk apabila editor yang dipilih bukan merupakan seorang editor yang handal.

8. Music Director

Merupakan posisi yang sangat strategis karena melalui posisi ini sebuah film bisa menemukan “emosinya” yang dapat menyebabkan penonton dapat menangis, tertawa, tersenyum atau merinding ketakutan.

9. Make Up Artist

Bertugas untuk merias para pemain. Di tangan seorang penata rias ini karakter yang dimainkan oleh seorang aktor atau aktris dapat tampak lebih hidup dengan polesan-polesannya.

10. Cameramen

Bertugas untuk merekam adegan yang dilakukan oleh para aktor dan aktris sesuai dengan tuntutan shooting script. Selain dari shooting script, seorang

(24)

cameramen juga bisa merekam berdasarkan gambar yang ada pada storyboard.

11. Costume Designer

Bertugas untuk memilih dan mengatur kostum yang hendak digunakan dalam pengambilan gambar.

2.3.2. Kesimpulan Analisis Data

Persoalan harus dikembalikan kepada masalah mendasar, film merupakan suatu bentuk komunikasi. Artinya, pembuat film ditantang untuk berkomunikasi dengan publik tertentu atau yang seluas-luasnya. Sebagus-bagusnya sebuah film, tetap dapat dipertanyakan apakah film itu dapat berkomunikasi dengan publik tertentu ataukah publik yang luas. Publik film Indonesia sangat beragam sehingga keragaman publik itu sendiri perlu dikenali oleh pembuat film

Tidak seorang pun bisa menikmati karya film, atau bahkan memahaminya, sampai seseorang mengerti bahasanya. Oleh karena itu, unsur-unsur film harus dimengerti sungguh-sungguh. Kita harus terbiasa dengan teknik dasar produksi film, sehingga kita bisa menyadari teknik-teknik yang digunakan pembuat film dalam cara kita melihat film.

Perangkat yang menjadikan film sebagai medium artistik yang paling kuat dan realistik, ternyata juga telah membuatnya paling sukar untuk diminati.

Terutama karena film dalam keadaan normalnya adalah dalam keadaan “bergerak secara kontinyu”, membuatnya tak bisa dihentikan secara sembarangan. Sebab sekali dihentikan, ia tidak lagi menjadi film, karena sifat unik dari medium telah lenyap. Berbeda dengan kalau kita membaca sebuah novel yang bisa kita hentikan kapan kita suka, bahkan kalau perlu membalik-balik halaman yang telah dibaca.

Atau, mengamati sebuah karya patung selama kita suka. Atas dasar itu, kita harus sepenuhnya menumpahkan perhatian kepada perpaduan gambar, suara, dan gerak di layar. Kenyataan ini menciptakan tanggung jawab dari tugas yang besar. Kita harus secara total terserap ke dalam pengalaman membuat dan menonton sebuah film, serta pada saat bersamaan mempertahankan suatu tingkat obyektivitas.

Dalam proses pembuatan sebuah film dibutuhkan kerja sama yang solid antara kru dan pemain yang telah dipilih sebelumnya. Selain itu juga diperlukan

(25)

sebuah rasa tanggung jawab yang besar dalam melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Tanpa dua hal tersebut pembuatan sebuah film akan terancam gagal. Kerja sama dan rasa tanggung jawab terhadap apa yang menjadi kewajibannya merupakan hal yang mutlak yang harus ada dalam sebuah pembuatan film. Apabila hanya ada satu saja makan pembuatan film itu juga akan terancam gagal. Sebagai contoh, apabila dalam sebuah tim sudah terbentuk suatu kerja sama yang solid namun kurang memiliki rasa tanggung jawab akan menyebabkan terhambatnya pembuatan film itu karena kekurangseriusan kru dan pemain yang terlibat di dalamnya. Sebaliknya apabila dalam sebuah tim pembuatan film hanya memiliki rasa tanggung jawab tanpa adanya kerja sama yang solid antar anggotanya juga akan menyebabkan kekurangakuran dalam tubuh tim tersebut sehingga mampu menyebabkan terjadinya perselisihan.

Adapun waktu yang diperlukan dalam pembuatan film petualangan ini adalah sekitar satu bulan.

Sebagai awal dalam proses pra produksi, skenario dibuat berdasarkan sinopsis yang sudah ada yaitu tentang perjalanan dan petualangan seseorang yang mengalami kejenuhan dalam hidupnya. Dari skenario berkembang treatment yang lebih detail yaitu tentang durasi tiap adegan dan cerita tentang tiap adegna tersebut. Setelah deretan tata tulis selesai dalam pra produksi, story board menyusul.

Dalam pembuatan film ini memakai satu tokoh utama yang berkarakter sombong dan cuek sehingga sosialisasi yang kurang dan hidup yang terlalu modern. Karakter dari tokoh utama ini nantinya yang akan menjadi konflik dari cerita film ini. Ketegangan dan kelucuan muncul seiring perjalanan alur cerita yang disebabkan oleh karakter dari tokoh utama. Dari konflik ini, maka muncul beberapa makna atau pelajaran yang dapat diambil dari film ini. Tujuan utama dari film tidak hilang yaitu dengan pengambilan gambar yang berlatar spot yang menarik dari tiga daerah utama di Pulau Sempu. Penggabungan suasana cerita dan suasana alam Pulau Sempu menjadi satu kesatuan yang membuat masalah utama dari proyek film ini terselesaikan. Konflik yang bernuansa santai membuat penonton akan menikmati film ini dengan baik tanpa rasa bosan.

(26)

Peralatan yang dipakai adalah peralatan jarak jauh, maksudnya di sini adalah peralatan yang lebih cenderung ke peralatan alam antara lain accu yang menjadi sumber utama proyek ini. Tanpa accu maka waktu yang telah direncanakan akan terbuang untuk hal mengisi baterai.

Beberapa masa ini, film dengan jenis perjalanan atau petualangan menjadi satu hobi khusus di masyarakat Indonesia. Banyaknya daerah wisata di Indonesia yang masih kurang diminati padahal memiliki kemenarikan yang tidak kalah dengan tempat wisata yang sudah dikenal. Dengan masalah ini diharapkan film ini dapat menjadi salah satu hobi juga di masyarakat yang tidak mengenal Pulau Sempu untuk mengunjungi dan melestarikan.

Konsep utama dan paling mendasar dari keseluruhan proses pembuatan film ini adalah untuk mengenalkan Pulau Sempu ke masyarakat dalam bentuk pendekatan film petualangan yang mengambil tema yang masih hangat di media massa saat ini yaitu televisi.

Referensi

Dokumen terkait

Walaupun banyak penyakit anak yang besifat genetik ataupun kongeital, penyakit yang paling sering dialami anak adalah communicable disease. Masa anak-anak disebut sebagai

Bahkan dalam konsep Islam, tanah telantar atau tanah yang dibiarkan nganggur, iddle , tidak produktif maka otoritas negara wajib mengambil alih kepemilikan lahan

Alhamdulillah segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Uji Efek

Untuk itu dalam melaksanakan fungsinya, pemberian fasilitasi bantuan dana keuangan kepada partai politik haruslah melalui proses administrasi yang sesuai dengan

Oleh sebab itu perlu dikaji lebih lanjut menggunakan metode analisis kualitatif beserta didukung dengan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities,

Usaha budidaya kambing perah di wilayah Malang Raya saat ini, masih dilakukan secara tradisional yaitu mengandalkan hijauan ramban dengan berbagai kendala antara

Memahami dan dapat membedakan cara pengambilan, penyimpanan dan Memahami dan dapat membedakan cara pengambilan, penyimpanan dan  pengiriman spesimen klinik(khususnya sputum, darah

 &etiga% masalah yang dialami oleh klien dari hasil asesmen tes yang di lakukan maka barulah konselor  menyarankan alternatif solusi untuk pemecahan masalah, keempat%solusi