• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

10

BAB II

KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

A. Kerangka Teori

1. Pidana dan Pemidanaan a. Tentang Pidana

Istilah pidana diartikan sebagai sanksi pidana atau yang sering digunakan dengan istilah hukuman, penghukuman, pemidanaan, penjatuhan hukuman, pemberian pidana, dan hukuman pidana.1 Istilah pidana sendiri berasal dari Belanda yaitu kata straf yang artinya suatu penderitaan (nestapa) yang sengaja dikenakan atau dijatuhkan kepada seseorang yang telah terbukti bersalah melakukan suatu tindak pidana. Para ahli hukum di Indonesia membedakan istilah hukuman dengan pidana. Istilah hukuman merupakan istilah umum yang digunakan untuk semua jenis sanksi baik dalam ranah hukum perdata, administratif, disiplin dan pidana, sedangkan istilah pidana diartikan secara sempit yaitu hanya sanksi yang berkaitan dengan hukum pidana.

Suatu perbuatan yang dilakukan seseorang yang telah melawan hukum biasa disebut dengan Tindak pidana. Tindak pidana adalah kelakuan manusia yang dirumuskan dalam undang-undang, melawan hukum, yang patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan. Orang yang melakukan perbuatan pidana akan mempertanggung jawabkan perbuatan tersebut dengan pidana apabila ia mempunyai kesalahan, seseorang mempunyai kesalahan apabila pada waktu melakukan perbuatan dilihat dari segi masyarakat menunjukan pandangan normatif

1 Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana (ed. 2, Sinar Grafika 2012) 185.

(2)

11 mengenai kesalahan yang telah dilakukan orang tersebut.2 Jadi, tindak pidana merupakan suatu perbuatan yang dilakukan oleh seorang atau lebih, baik dengan sengaja yang kemudian karena perbuatannya tersebut dapat diberi hukuman karena perbuatan tersebut dilarang oleh Undang-Undang. Dengan begitu seseorang yang telah melakukan tindak pidana akan diberi sanksi atau hukuman.

b. Tujuan Pemidanaan

Teori pidana (strafrecht theorien) ini sering disebut dengan teori tujuan pemidanaan yang meliputi teori-teori berikut:

1) Teori Pembalasan Absolut/Mutlak

Menurut para ahli ini dasar hukum dari pemidanaan adalah alam pikiran untk pembalasan (vergelging). Pada dasarnya aliran pembalasan dibedakan atas corak subjektif yaitu pembalasan ditujukan pada perbuatan sipembuat dan corak objektif yaitu pembalasan ditujukan pada perbuatan apa yang dilakukan. Tokoh yang dikenal adalah Immanuel Kant dan Regel yang beranggapan bahwa hukuman (pidana) itu sebagai akibat/konsekuensi dari dilakukannya kejahatan, melakukan kejahatan maka akibatnya harus dipidana.3 Teori ini bertujuan untuk memuaskan pihak, baik masyarakat sendiri atau pihak yang dirugikan atau menjadi korban.4

2) Teori Tujuan (de Relative Theorien)

Menurut teori ini, pidana dimaksudkan bukan sebagai pembalasan, dan karena itu tidak mengakui bahwa hukuman (pidana) itu sendiri menjadi tujuan

2 Andi Hamzah, Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana, (Ghalia Indonesia 2001) 20.

3 Bambang Waluyo, Penyelesaian Perkara Pidanawah: Penerapan Keadilan Restoratif dan Transformatif, (ed. 1, Sinar Grafika 2020) 53.

4 Mahrus Ali, Op.Cit., 187.

(3)

12 pemidanaan.5 Teori tujuan atau de Relative Theorien secara prinsip mengajarkan bahwa penjatuhan pidana dan pelaksanaannya setidaknya berorientasi pada upaya mencegah terpidana (special prevention) dari kemungkinan mengulangi lagi di masa mendatang, serta mencegah masyarakat luas pada umumnya (general prevention) dari kemungkinan melakukan kejahatan seperti kejahatan yang telah dilakukan terpidana maupun lainnya.6

3) Teori Gabungan

Secara teoritis, teori gabungan berusaha untuk menggabungkan pemikiran yang terdapat di dalam teori absolut dan teori relatif. Di samping mengakui bahwa penjatuhan sanksi pidana diadakan untuk membalas perbuatan pelaku, juga dimaksudkan agar pelaku dapat diperbaiki sehingga bisa kembali ke masyarakat.7 Aliran ini didasarkan pada tujuan pembalasan dan mempertahankan ketertiban masyarakat yang diterapkan secara terpadu.8

2. Tindak Pidana Pencurian a. Pidana Pencurian

Tindak pidana pencurian telah diatur dalam Bab XXII Pasal 362-367 KUH Pidana. Tindakan ini merupakan suatu kejahatan terhadap kepentingan individu yang merupakan kejahatan terhadap benda/kekayaan. Isi dari Pasal 362 KUH Pidana yaitu: “Barang siapa mengabil barang sesuatu, yang seharusnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun

5 Bambang Waluyo, Loc.Cit.

6 Mahrus Ali, Op. Cit., 190-191.

7 Ibid., 191.

8 Niniek Suparni, Eksistensi Pidana Denda dalam Sistem Pidana dan Pemidanaan, (Cet.2, Sinar Grafika 2007) 19. Dikutip dari Sudarto, Kapita Selekta Hukum Pidana (Alumni 1982) 109- 110.

(4)

13 atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah”. Berdasarkan pasal tersebut maka dapat diketahui bahwa delik pencurian adalah salah satu jenis kejahatan terhadap kepentingan individu yang merupakan kejahatan terhadap harta benda atau kekayaan.

Terdapat unsur tindak pidana pencurian yaitu unsur subjektif dan unsur objektif, sebagai berikut:

1) Unsur subjektif yaitu dengan maksut untuk menguasai benda tersebut secara melawan hukum;

2) Unsur objektif yaitu barangsiapa mengambil suatu benda yang sebagaian atau seluruhnya kepunyaan orang lain.

Tindak pidana pencurian menurut KUHPidana dibagi atas 3 (tiga) bagian yaitu:

1) Pencurian Biasa yaitu tindak pidana pencurian dalam bentuk pokok yang memuat semua unsur dari tindak pidana pencurian yang diatur dalam pasal 362 KUHPidana;

2) Pencurian dengan Pemberatan yaitu tindak pidana pencurian dengan unsur-unsur yang memberatkan ataupun didalam doktrin juga sering disebut gequalificeerde distal yang diatur dalam pasal 363 dan 365 KUHPidana;

3) Pencurian Ringan (lichte diefstal) yaitu yang diatur dalam pasal 364 KUHPidana.

b. Pencurian Pemberatan

Tindak Pidana Pencurian Pemberatan yang diatur dalam Pasal 363 KUHP.

Pencurian dalam keadaan memberatkan merupakan suatu pencurian dengan dengan

(5)

14 cara-cara tertentu sehingga bersifat lebih berat dan maka dari itu diancam dengan hukuman yang maksimumnya lebih tinggi, yaitu lebih dari hukuman penjara lima tahun atau lebih dari pidana yang diancamkan dalam Pasal 362 KUHP.

Didalam Pasal 363 menyebutkan mengenai tindak pidana pencurian dengan pemberatan yaitu:

1) Dianacam dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun:

1. Pencurian ternak;

2. Pencurian pada waktu ada kebakaran, letusan, banjir gempa bumi, atau gempa laut, gunung meletus, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau bahaya perang;

3. Pencurian diwaktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada disitu tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh yang berhak;

4. Pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih;

5. Pencurian yang untuk masuk ke tempat untuk melakukan kejahatan, atau untuk sampai pada barang yang diambil, dilakukan dengan merusak, memotong atau memanjat, atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.

2) Jika pencurian yang diterangkan dalam butir 3 disertai dengan salah satu hal dalam butir 4 dan 5, maka diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Perumusan pasal 363 ayat (1) butir 1-5 KUH Pidana menunjukkan pencurian yang gequalificeerde atas pencurian dalam bentuk pokok sebagaimana dirumuskan dalam pasal 362 berhubungan hanya disebut nama kejahatannya saja yaitu

(6)

15 pencurian, ditambah unsur lain yang memberatkan. Pencurian yang dirumuskan dalam pasal 363 disebut Pencurian Berat.9 Jadi, dapat dikatakan bahwa pencurian dikategorikan sebagai pencurian pemberatan yaitu karena suatu pencurian dengan ditambahkan unsur-unsur lain yang memberatkan.

Yang kedua berdasarkan Pasal 363 yaitu pada ayat (2) KUH Pidana dapat dikatakan bahwa pencurian yang diterangkan dalam dalam ayat (1) butir 3 disertai dengan salah satu hal dalam butir 4 dan 5, maka diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Atau dalam hal ini dijelaskan berdasarkan butir 3, 4, dan 5 yaitu pada waktu malam dalam rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dilakukan oleh dua orang atau lebih dalam hal ini dua orang atau lebih semua harus bertindak sebagai pembuat atau turut melakukan, dan dalam pencurian itu pencuri masuk ke tempat kejahatan atau untuk mencapai barang yang akan dicurinya dengan jalan membongkar, memecah dan melakukan perbuatan dengan cara kekerasan ini merupakan pencurian dengan pemberatan.

Dikatakan sebagai pencurian pemberatan yaitu karena dilihat pada letak pemberatannya dimana pemberatannya dalam hal ini dilakukan dengan cara menjatuhkan pidana ditambah 1/3 dari hukuman pokoknya. Hal ini dilakukan karena perbuatan itu sudah merupakan gabungan perbuatan pidana antara pencurian dengan adanya kekerasan dalam hal perusakan barang milik orang lain.

3. Pemidanaan Bagi Anak

a. Menurut Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak

9 H.A.K Moch. Anwar, Hukum Pidana Bagian Khusus (KUHP Buku II), (Alumni 1980) 20.

(7)

16 Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, bahwa peradilan pidana bagi Anak bertujuan untuk mewujudkan peradilan yang menjamin perlindungan kepentingan terbaik terhadap Anak yang berhadapan dengan hukum, oleh sebab itu jika Anak berhadapan dengan hukum maka Anak seharusnya di adili secara tersendiri. Sanksi yang diberikan kepada Anak harus berdasarkan kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan Anak.

Penjatuhan sanksi kepada Anak yang berhadapan dengan hukum terdiri atas 2 (dua) yaitu sanksi pidana dan sanksi tindakan. Sebenarnya di tingkat praktis, perbedaan antara pidana dan tindakan sering agak samar, namun di tingkat ide dasar keduanya memiliki perbedaan fundamental.10 Keduanya bersumber dari ide dasar yang berbeda. Sanksi pidana bersumber pada ide dasar ”Mengapa diadakan pemidanaan?”, sedangkan sanksi tindakan bertolak dari ide dasar; ”Untuk apa diadakan pemidanaan itu?”, dengan kata lain, sanksi pidana sesungguhnya bersifat reaktif terhadap pelaku perbuatan tersebut.11 Jika fokus sanksi pidana tertuju pada perbuatan salah seseorang lewat pengenaan penderitaan (agar yang bersangkutan menjadi jera), maka fokus sanksi tindakan terarah pada upaya memberi pertolongan agar dia berubah.

Sanksi pidana atau sanksi tindakan merupakan suatu tindakan yang harus dipertanggungjawabkan dan dapat bermanfaat bagi Anak. Setiap pelaksanaan sanksi pidana atau sanksi tindakan, diusahakan tidak menimbulkan korban, penderitaan, kerugian mental, fisik, dan sosial. Diperlukan dasar etis bagi pemidanaan tersebut yaitu keadilan sebagai satu-satunya dasar pemidanaan. Setiap

10 Gunarto Widodo ‘Sistem Pemidanaan Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Perspektif Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tetang Sistem Peradilan Pidana Anak’ (2016) 6 (1) Jurnal Surya Kencana 78.

11 Ibid.

(8)

17 tindakan pemidanaan dinilai tidak hanya berdasarkan sifat keadilan saja melainkan juga sifat kerukunan yang akan dicapainya, karena dalam kerukunan tercermin pula keadilan.

Batasan umur untuk kategori Anak yang berkonflik dengan hukum dipergunakan untuk mengetahui seseorang yang diduga melakukan kejahatan termasuk kategori Anak atau bukan, sesuai dengan Pasal 1 ayat (3) yaitu: “Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.” Berdasarkan penjelasan diatas maka, Anak yang telah berumur 12 tahun dan belum berumur 18 Tahun yang telah dibuktikan melakukan kejahatan dapat diberi sanksi, berupa sanksi pidana dan saksi tindakan.

Ada pengecualian terhadap sanksi pidana yang diberikan terhadap Anak, yaitu Pasal 69 ayat (1): “Anak hanya dapat dijatuhi pidana atau dikenai tindakan berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang ini”, ayat (2): “Anak yang belum berusia 14 (empat belas) tahun hanya dapat dikenai tindakan.”

Secara filosofi, pemidanaan anak adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dari sebuah bangsa dan negara. Berdasarkan semua peraturan perundang-undangan dan konvensi-konvensi internasional yang terkait dengan Anak secara tegas dinyatakan bahwa negara menjamin setiap Anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Pemidanaan Anak dalam persepktif perlindungan Anak dilaksanakan dalam rangka menjaga harkat dan martabat Anak dan Anak berhak mendapat perlindungan khusus terutama perlindungan hukum dan sistem peradilan pidana Anak secara adil. Asas-asas yang terkandung didalam

(9)

18 konsideran ketentuan Internasional yang mengatur tentang Anak, konsideran tentang pengaturan Anak memuat asas persamaan hak, asas keadilan, asas bebas dari rasa takut, asas perlindungan, asas kesejahteraan dan asas kepentingan yang terbaik bagi Anak.

b. Menurut Undng-Undang Perlindungan Anak

Anak sebagai pelaku tindak pidana yang berada dalam peradilan pidana harus mendapat perlindungan terhadap hak-haknya, Maidin Gultom mengemukakan pendapatnya, bahwa:

“Pada hakekatnya anak tidak dapat melindungi dirinya sendiri dari berbagai macam tindakan yang menimbulkan kerugian mental, fisik, sosial, dalam berbagai bidang kehidupan dan penghidupan. Anak harus dibantu oleh orang lain dalam melindungi dirinya mengingat situasi dan kondisinya, khususnya dalam pelaksanaan Peradilan Pidana Anak yang asing bagi dirinya. Anak perlu mendapat perlindungan dari kesalahan penerapan peraturan perundang-undangan yang diberlakukan terhadap dirinya, yang menimbulkan kerugian mental, fisik, dan sosial.

Perlindungan anak dalam hal ini disebut perlindungan hukum/yuridis (legal protection).”12

Tujuan dari peradilan anak tidak dapat terlepas dari tujuan utamanya yaitu untuk mewujudkan “kesejahteraan anak” yang pada dasarnya merupakan bagian integral dari kesejahteraan sosial. Undang-Undang tentang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 mengatur tentang kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan tanpa diksriminasi. Dalam undang-undang ini juga ditegaskan bahwa pertanggungjawaban orangtua, keluarga, masyarakat,

12 Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak, (Refika Aditama 2008) 2.

(10)

19 pemerintah dan negara merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus demi terlindunginya hak-hak anak.

Undang-undang perlindungan anak meletakkan kewajiban memberikan perlindungan terhadap anak berdasarkan asas-asas yaitu: non diskriminasi;

kepentingan terbaik bagi anak; hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan; dan penghargaan terhadap pendapat anak. Perlindungan anak mengacu pada pemahaman bahwa perlindungan harus dimulai sejak dini dan terus menerus, sehingga pada masa anak diperlukan keluarga, lembaga pendidikan, lembaga sosial, dan lembaga keagamaan yang bermutu.

Anak harus memiliki kesempatan belajar yang baik, waktu istirahat ataupun waktu bermain yang cukup dan ikut menentukan nasibnya sendiri. Prinsip yang terakhir, yaitu lintas sektoral yang artinya, nasib anak tergantung dari berbagai faktor makro maupun mikro yang langsug maupun tidak langsung karena perlindungan terhadap anak ini merupakan perjuangan yang membutuhkan sumbangan semua orang di semua tingkatan.

4. Kekuasaan Kehakiman dan Kebebasan Hakim a. Kekuasaan Kehakiman

Kekuasaan kehakiman (Judicial Power) adalah kekuasaan yang merdeka, seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 24 ayat 1, yaitu: “Kekuasaan Kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.” Dari pengertian kekuasaan kehakiman ini memiliki dasar bahwa kekuasaan kehakiman bahkan seorang yang menjabat sebagai hakim memiliki sifat

(11)

20 merdeka yang artinya bebas dari campur tangan pihak kekuasaan Negara atau bahkan ekstra yudisial lainnya.13

Kekuasaan kehakiman pada hakikatnya bebas, namun arti kebebasan yang dimiliki tidak semata-mata bebas mutlak. Tugas hakim adalah menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dengan jalan menafsirkan hukum dan mencari dasar-dasar serta asas-asas yang ada landasannya melalui perkara yang dihadapi, sehingga putusan hakim akan mencerminkan keadilan bangsa dan rakyat Indonesia.

Jadi batas kebebasan kehakiman terdapat pada rasa adil bagi Negara, bangsa, dan rakyat. Putusan tidak boleh menyimpang dari Pancasila dan kepentingan Negara dan bangsa Indonesia.14

b. Kebebasan Hakim

Kata bebas memiliki konotasi makna tidak boleh terikat oleh apapun dan tidak ada tekanan dari siapapun. Bebas juga berarti suatu tindakan tidak boleh digantungkan kepada apapun atau siapapun. Bebas juga memiliki arti leluasa untuk berbuat apapun sesuai dengan keinginan dari kebebasan itu sendiri. Apabila kata bebas disifatkan kepada hakim, sehingga menjadi kebebasan hakim dalam menjalankan tugasnya sebagai hakim, maka dapat memberikan pengertian bahwa hakim dalam menjalankan tugas kekuasaan kehakiman tidak boleh terikat dengan apa pun dan/atau tertekan oleh siapa pun, tetapi leluasa untuk berbuat apa pun.

Memaknai arti kebebasan semacam itu dinamakan kebebasan individual atau kebebasan ekstensial. 15

13 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia (Liberty 2013) 176.

14 Ibid.

15 Franz Magnis Suseno, Etika Dasar Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral (Pustaka Filsafat 1987) 33.

(12)

21 Secara paralel, kebebasan hakim dapat dipahami sebagai kebebasan yang terlepas dari segala kewajiban dan keterikatan dengan seseorang atau apapun (termasuk nafsu) yang dapat membuat hakim tidak leluasa. Ukurannya adalah kebenaran, dan kebaikan yang dipancarkan oleh nurani. Dengan begitu hakim diharuskan untuk memeriksa, dan memutus perkara yang ditanganinya sesuai dengan prinsip-prinsip moral, dan karenanya dalam memutus perkara berlandaskan moral yang baik dan sehat. Menurut Sudikno Mertokusumo, hakim itu bebas dalam atau untuk mengadili sesuai dengan hati nuraninya/keyakinannya tanpa dipengaruhi oleh siapapun. Hakim bebas memeriksa, membuktikan dan memutuskan perkara berdasarkan hati nuraninya. Disamping itu juga bebas dari campur tangan pihak ekstra yudisial.

Termuat dalam Amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang memberi jaminan akan kedudukan hakim yang bebas dari segala campur tangan oleh kekuasaan lain.

Kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus suatu perkara telah ditegaskan pada Undang-Undang Nomor 8 tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang- Undang No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum yaitu pada pasal:

1) Pasal 5 Ayat (2) : Permbinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara.

2) Pasal 13 Ayat (2) : Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara.

(13)

22 3) Pasal 53 ayat (4) : Pengawasan tersebut dalam ayat (I), ayat (2) dan ayat (3) tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara.

Dari ketentuan undang-undang tersebut, dapat disimpulkan bahwa undang- undang memberikan jaminan akan kebebasan hakim dalam melaksanakan kekuasaan kehakiman di negara Republik Indonesia ini, terutama dalam memutus perkara yang ditanganinya.

Adapun kebebasan hakim dalam memeriksa suatu perkara diatur dalam Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 10 ayat (1) yaitu: “Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”. Hal itu menuntut seorang hakim harus dapat menyelesaikan suatu perkara sampai pada penjatuhan putusan.

Dalam hal memeriksa suatu perkara seorang hakim diwajibkan melakukan penemuan-penemuan hukum. Penemuan yang dimaksud adalah fakta-fakta yang terungkap di persidangan, disini hakim wajib menggali setiap keterangan yang diberikan dan menilai apakah keterangan yang di berikan sudah valid kebenarannya atau tidak. Dan untuk memutus suatu perkara tersebut disyaratkan dalam undang- undang bahwa disamping berdasarkan alat-alat bukti yang sudah ditentukan oleh undang-undang, juga harus berdasarkan pada keyakinan hakim. Menurut Mulyatno, keyakinan hakim adalah suatu keyakinan yang ada pada diri hakim, kalau ia sudah tidak menyangsikan sama sekali akan adanya kemungkinan lain daripada yang digambarkan kepadanya melalui suatu pembuktian. Jadi, hal yang diyakini

(14)

23 kebenarannya itu sudah di luar keragu-raguan yang masuk akal (beyond reasonable doubt).16

5. Pembuktian Hakim, Pertimbangan Hakim, dan Putusan Hakim a. Pembuktian Hakim

Sistem pembuktian adalah pengaturan tentang macam-macam alat bukti yang boleh dipergunakan, penguraian alat bukti, dan dengan cara-cara bagaimana alat- alat bukti itu dipergunakan serta dengan cara bagaimana hakim harus membentuk keyakinannya didepan sidang pengadilan.17 Dalam perkembangan ilmu pengetahuan hukum mengenal empat (4) sistem pembuktian yang secara lebih lanjut akan dibahas, yakni:18

1) Sistem Pembuktian Berdasakan Undang-Undang Secara Positif (Positive Wettelijk Bewijstheorie)

Pembuktian menurut Undang-Undang secara positif merupakan pembuktian yang bertolak belakang dengan sistem pembuktian menurut keyakinan atau conviction in time. Disebut demikian karena hanya didasarkan kepada Undang-undang. Jika telah terbukti suatu perbuatan sesuai dengan alat- alat bukti yang disebut dalam Undang-undang, maka keyakinan hakim tidak diperlukan sama sekali. Menurut D.Simons, sebagaimana dikutip Andi Hamzah, sistem atau teori berdasarkan pembuktian Undang-undang secara positif (positief wettelijk) ini berusaha untuk menyingkirkan semua pertimbangan subjektif hakim dan mengikat hakim secara ketat menurut Peraturan-peraturan

16 Mulyatno, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Bina Aksara 1982) 21.

17 Alfira, Hukum Pembuktian dalam beracara Pidana,Perdata dan Korupsi di Indonesia (Raih Asa Sukses 2011) 28.

18 Andi Hamzah, Hukum Acara pidana Indonesia (Sinar Grafika 2010) 256-257.

(15)

24 pembuktian yang keras. Sistem pembuktian menurut Undang-undang lebih dekat kepada prinsip penghukuman berdasarkan hukum, artinya penjatuhan hukuman terhadap seseorang semata-mata tidak diletakkan dibawah kewenangan hakim, tetapi diatas kewenangan Undang-undang berlandaskan asas seorang terdakwa baru dapat dihukum dan dipidana jika apa yang didakwakan kepadanya benar-benar terbukti berdasarkan tata cara dan alat-alat bukti yang sah menurut Undang-undang. Menurut Wirjono Prodjodikoro, teori ini tidak mendapat penganut lagi. Beliau juga menolak teori pembuktian ini, karena bagaimana hakim dapat menetapkan kebenaran selain dengan cara menyatakan kepada keyakinannya tentang hal kebenaran itu, lagi pula keyainan seorang hakim yang jujur dan berpengalaman mungkin sekali sesuai dengan keyakinan masyarakat.

2) Pembuktian berdasarkan keyainan hakim belaka (Coviction In Time) Sistem Pembuktian conviction in time ini menentukan salah tidaknya seorang terdakwa, semata-mata ditentukan oleh penilaian keyakinan hakim.

Keyakinan hakimlah yang menentukan keterbuktian kesalahan terdakwa.

Keyakinan boleh diambil dan disimpulkan hakim dari alat-alat bukti yang diperiksanya dalam sidang pengadilan. Hasil pemeriksaan alat-alat bukti itu diabaikan oleh hakim, dan langsung menarik keyakinan dari keterangan atau pengakuan terdakwa. Menurut Andi Hamzah, sistem ini dianut oleh peradilan jury di Prancis. Praktek peradilan jury di Prancis membuat pertimbangan berasakan metode ini dan mengakibatkan banyaknya putusan bebas yang sangat aneh, sedang menurut Wirjono Prodjodikoro mengatakan, pembuktian demikian pernah dianut di Indonesia, yaitu pada Pengadilan distrik dan Pengadilan

(16)

25 kabupaten, Sistem ini memungkinkan hakim menyebutkan apa saja yang menjadi dasar keyakinannya, misalnya keterangan medium.

3) Sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atas alasan logis (Conviction Raisonnee/Convictim-Raisonnee)

Dalam sistem pembuktian ini keyakinan hakim tetap memegang peranan penting dalam menentukan bersalah atau tidaknya seorang terdakwa. Dalam pembuktian ini faktor hakim dibatasi. Jika dalam sistem pembuktian covictim in time peran keyakinan hakim leluasa tanpa batas, maka pada sistem convictim- raisonnee, keyakinan hakim harus didukung dengan alasan-alasan yang jelas.

Keyakinan hakim harus mempunyai dasar-dasar alasan yang logis dan benar- benar dapat diterima oleh akal. Sistem atau teori pembuktian ini disebut juga pembuktian bebas karena haim bebas menyebutkan alasan-alasan keyakinannya (vrije bewijstheorie). Sistem teori pembuktian jalan tengah atau yang berdasarkan: pertama, yang disebut diatas yaitu pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atas alasan yang logis (conviction raisonee) dan yang kedua ialah teori pembuktian berdasarkan Undang-undang secara negatife (negatief wettelijk bewijstheorie). Persamaan antara keduannya ialah keduanya sama berdasar atas keyakinan hakim, yang dimaksud terdakwa tidak mungkin dipidana tanpa adanya keyakinan hakim bahwa ia bersalah. Perbedaannya bahwa yang tersebut pertama berpangkal tolak pada keyakinan hakim, tetapi keyakinan itu harus didasarkan kepada Undang-undang, tetapi ketentuan-ketentuan menurut ilmu pengetahuan hakim sendiri, menurut pilihannya sendiri tentang pelaksanaan pembuktian yang mana yang ia akan pergunakan. Jadi, dapat

(17)

26 disimpulkan bahwa perbedaannya ada dua, yaitu yang pertama pangkal tolaknya pada keyakinan hakim, sedangkan yang kedua peda ketentuan Undang-undang.

4) Sistem pembuktian Undang-undang secara Negatif (Negatief Wettelijk stelsel)

Sistem pembuktian menurut Undang-undang negative (Negatief wettlijke bewijs theorie) menentukan bahwa hakim hanya boleh menjatuhkan pidana terhadap eksistensi alat-alat bukti tersebut. Hakikatnya merupakan peramuan antara sistem pembuktian menurut Undang-undang secara positif (positief wettelijke bevijs theorie) dan sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim (conviction intim/conviction raisonce). D.simon mengemukakan, dalam sistem atau teori pembuktian yang berdasarkan Undang-undang secara negatif (Negatief wettlijke bewijs theorie) ini, pemidanaan didasarkan kepada pembuktian yang berganda (dubble en grondslag), yaitu pada peraturan Perundang-undangan dan pada keyakinan hakim, dan menurut Undang-undang dasar keyakinan hakim itu bersumber pada peraturan Undang-undang. Wirjono Prodjodikoro berpendapat, bahwa sistem pembuktian berdasarkan Undang- undang secara negatif (Negatief wettlijke bewijs theorie) sebaiknya dipertahankan berdasarkan dua alasan, Pertama memang sudah selayaknya harus ada keyakinan hakim tentang kesalahan terdakwa untuk dapat menjatuhkan suatu hukuman pidana, jangan hakim terpaksa memidana orang sedangkan hakim tidak yakin atas kesalahan terdakwa; Kedua adalah berfaedah jika ada aturan yang mengikat hakim alam meyusun keyakinannya, agar ada patokan- patokan tertentu yang harus dituruti oleh hakim dalam melakukan peradilan.

Sekalipun hakim lain dengan seyakin-yakinnya akan kesalahan terdakwa,

(18)

27 keyakinan itu dapat saja dianggap tidak mempunyai nilai jika tidak dibarengi dengan pembuktian yang cukup. Seandainya kesalahan terdakwa telah terbukti dengan cukup, dan hakim lalai mencantumkan keyakinannya, kealpaan itu hakim ini adalah seperti apa disebutkan dalam pasal 158 KUHAPidana, hakim dilarang menunjukan sikap atau mengeluarkan pernyataan di sidang tentang keyakinan mengenai salah atau tidaknya terdakwa.

Di dalam pasal 183 KUHAP juga telah diatur syarat-syarat hakim untuk memberikan hukuman kepada terdakwa yaitu sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah yang ditetapkan oleh undang-undang disertai keyakinan hakim bahwa terdakwalah yang melakukannya. Sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, memberikan limit dari bukti yang minimum yang harus digunakan dalam membuktikan suatu tinda pidana.

Alat bukti yang sah terdapat dalam pasal 184 KUHAPidana adalah:

a) Keterangan saksi;

b) Keterangan ahli;

c) Surat;

d) Petunjuk;

e) Keterangan terdakwa.

b. Pertimbangan Hakim

Dasar pertimbangan hakim yaitu merupakan putusan hakim yang baik dan sempurna. Pertimbangan hakim akan dilakukan setelah pembuktian. Hakim memberikan keputusannya mengenai hal-hal sebagai berikut:19

19 Sudarto, Kekuasaan Kehakiman (Bina Ilmu 2007) 136.

(19)

28 1) Keputusan mengenai peristiwanya, apakah terdakwa telah melakukan

perbuatan yang dituduhkan kepadanya;

2) Keputusan mengenai hukumnya, apakah perbuatan yang dilakukan terdakwa itu merupakan suatu tindak pidana dan apakah terdakwa bersalah dan dapat dipidana;

3) Keputusan mengenai pidananya, apabila terdakwa memang dapat dipidana.

Adapun dasar pertimbangan hakim harus memuat hal-hal sebagai berikut:20 1) Pokok persoalan dan hal-hal yang diakui atau dalil-dalil yang tidak

disangkal;

2) Adanya analisis secara yuridis terhadap putusan segala aspek menyangkut semua fakta/hal-hal yang terbukti dalam persidangan;

3) Adanya semua bagian dari petitum Penggugat harus dipertimbangkan/diadili secara satu demi satu sehingga hakim dapat menarik kesimpulan tentang terbukti/tidaknya dan dapat dikabulkan/tidaknya tuntutan tersebut dalam amar putusan.

c. Putusan Hakim

Sudikno Mertokusumo mengartikan Putusan hakim sebagai “… suatu pernyataan hakim yang memiliki kewenangan dari statusnya sebagai pejabat Negara untuk mengucapkan dalam persidangan dan bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan perkara antara para pihak.”21 Adapun menurut Laden Marpaung menyatakan bahwa, “…putusan adalah hasil atau kesimpulan dari suatu

20 Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, (Cet. V, Pustaka Belajar 2004) 141.

21 Setiawan Widagdo, Kamus Hukum (PT Prestasi Pustaka Raya 2012) 483.

(20)

29 perkara yang telah dipertimbangkan dan dinilai dengan semasak-masaknya yang dapat berbentuk tulisan maupun lisan.”22 Berdasarkan pengertian ini, maka putusan hakim dapat diartikan sebagai suatu proses akhir dari persidangan yang ditetapkan oleh Majelis Hakim yang memiliki kewenangan penuh dalam sebuah sidang pengadilan yang bersifat terbuka untuk umum.

Hakim dalam menjatuhkan pidana pada hakekatnya dipengaruhi oleh 2 (dua) aliran, yaitu: 23

1) Aliran Konsevatif

Putusan hakim yang didasarkan semata-mata ada ketentuan hukum tertulis (peraturan perundang-undangan). Karakter ini dipengaruhi oleh aliran legisme yaitu aliran dalam ilmu hukum dan peradilan yang tidak mengakui hukum diluar yang tertulis/undang-undang. Menurut aliran ini hukum identik dengan undang- undang, sedangkan kebiasaan dan ilmu pengetahuan hukum lainnya, dapat diakui sebagai hukum, apabila undang-undang menunjuknya. Selanjutnya aliran ini menyatakan pula bahwa undang-undang (kodifikasi), justru diadakan untuk membatasi hakim, yang karena kebebasannya telah menjurus kearah kesewenang-wenangan atau tirani. Berdasarkan hal tersebut maka hakim dalam menjatuhkan putusannya harus mengikuti apa yang tertulis dalam hukum (lex dura tamesti suntscripta), biarpun in cincreto menurut rasa keadilan masyarakat, putusan hakim tersebut dinilai merupakan suatu ketidakadilan.

2) Aliran progresif

22 Andi Hamzah, Hukum Acara Perdata (Liberty, 1986) 206.

23 Josef. M. Monteiro, ‘Putusan Hakim Dalam Penegakan Hukum di Indonesia’ (2007) 25 (2) 133.

(21)

30 Putusan hakim yang tidak semata-mata mendasarkan pada ketentuan hukum tertulis tetapi hakim harus pula mendasarkan pada pengetahuan dan pengalaman empiris yang dialaminya. Dalam hal ini hakim bukan lagi sekedar corong undang-undang tetapi hakim harus mandiri, atas apresiasi sendiri menemukan hukum. Oleh karena itu dalam menjatuhkan putusan seorang hakim harus dibimbing oleh pandang-pandangan, atau pengalaman empiris hakim.

Dalam hal ini harus menjadi otonom, bukan lagi heterotonom.

Kemudian dalam memutus suatu putusan, hakim menggunakan beberapa teori. Menurut pendapat Mackenzie, ada beberapa bentuk teori atau pendekatan yang dapat dipergunakan hakim dalam membuat pertimbang penjatuhan putusan dalam sebuah perkara, yaitu sebagai berikut:24

1) Teori Keseimbangan yaitu merupakan keseimbangan antara syarat yang telah ditentukan oleh ketentuan undang-undang dan kepentingan para pihak yang tersangkut atau berkaitan dengan perkara tersebut, yaitu antara lain seperti adanya sebuah keseimbangan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat umum, kepentingan terdakwa dan kepentingan korbannya, atau kepentingan penggugat dan pihak tergugat.

2) Teori Pendekatan Seni dan Intuisi yaitu pejatuhan putusan oleh hakim merupakan sebuah diskresi atau kewenangan dari hakim. Sebagai diskresi, dalam penjatuhan sebuah putusan, hakim akan menyesuaikan dengan keadaan dan hukuman yang wajar bagi semua pelaku tindak pidana atau dalam perkara perdata, hakim akan melihat keadaan para pihak yang berperkara, yaitu penggugat dan juga tergugat, dalam perkara perdata,

24 Ahmad Ri’fai, Penemuan Hukum Oleh Hakim (Sinar Grafika 2011) 105-112.

(22)

31 pihak terdakwa maupun Penuntut Umum dalam perkara pidana.

Penjatuhan putusan, hakim mempergunakan pendekatan seni, lebih ditentukan oleh instink atau intuisi daripada pengetahuan dari hakim.

3) Teori Pendekatan Keilmuwan yaitu Titik tolak dari ilmu ini merupakan sebuah pemikiran bahwa proses penjatuhan pidana harus dilakukan dengan sistematik dan penuh kehati-hatian khususnya yang berkaitan dengan putusanputusan terdahulu dalam rangka untuk menjamin konsistensi dari putusan hakim.

4) Teori Pendekatan Pengalaman yaitu pengalaman dari hakim merupakan hal yang dapat membantunya untuk menghadapi perkara-perkara yang dihadapinya, karena dengan pengalaman tersebut, hakim dapat mengetahui bagaimana akibat dari putusan yang dijatuhkan dalam suatu perkara pidana, yang berkaitan dengan pelaku dan korban maupun masyarakat.

5) Teori Ratio Decindendi yaitu Teori ini didasarkan filsafat yang mempertimbangkan segala aspek pokok perkara yang disengketakan kemudian mencari peraturan perundang-undangan yang dirasa relevan dengan pokok perkara yang disengketakan sebagai acuan dasar hukum dalam penjatuhan putusan serta pertimbangan hakim harus berdasarkan pada motivasi yang jelas untuk menegakkan hukum dan memberikan bentuk keadilan bagi para pihak yang berperkara.

6) Teori Kebijaksanaan yaitu Aspek teori ini memfokuskan bahwa pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua juga ikut bertanggung jawab untuk membimbing, membina,mendidik dan melindungi terdakwa,

(23)

32 agar kemudian hari dapat menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, masyarakat dan bangsanya.

Putusan hakim disatu sisi berguna bagi terdakwa memperoleh kepastian hukum (rechtszekerheids) tentang “statusnya” dan sekaligus dapat mempersiapkan langkah berikutnya terhadap putusan tersebut dalam artian berupa menerima putusan ataupun melakukan upaya hukum verzet, banding atau kasasi, melakukan garasi, dan sebagainya. Sedangkan disisi lain, apabila ditelaah melalui visi hakim yang mengadili perkara, putusan hakim merupakan “mahkota” sekaligus “puncak”

pencerminan nilai-nilai keadilan, kebenaran hakiki, hak asasi manusia, penguasaan hukum atau fakta secara mapan, mumpuni dan faktual, serta visualisasi etika, mentalitas, dan moralitas dari hakim yang bersangkutan.25

6. Disparitas Putusan Hakim a. Pengertian Disparitas

Disparitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai perbedaan; jarak. Menurut Molly Cheang sebagaimana dikutip oleh Muladi disparitas merupakan penerapan pidana yang tidak sama terhadap tindak pidana yang sama (same offence) dalam prakteknya dipengadilan.26 Harkristuti Harkrisnowo, menyatakan disparitas pidana dapat terjadi dalam beberapa kategori yaitu:

1) Disparitas antara tindak pidana yang sama;

25 Lilik Mulyadi, Seraut Wajah Putusan Hakim dalam Hukum Acara Pidana Indonesia (PT Citra Aditya Bakti 2014) 129.

26 Wahyu Nugroho, ‘Disparitas Hukuman Dalam Perkara Pidana Pencurian Dengan Pemberatan’ (2012 5 (3) Jurnal Yudisial 262-263.

(24)

33 2) Disparitas antara tindak pidana yang mempunyai tingkat keseriusan yang

sama;

3) Disparitas pidana yang dijatuhkan oleh satu majelis hakim;

4) Disparitas antara pidana yang dijatuhkan oleh majelis hakim yang berbeda untuk tindak pidana yang sama.

b. Faktor Disparitas

Adapun faktor yang menyebabkan disparitas putusan hakim terjadi dipengadilan, yaitu:27

1) Faktor Hukum dimana dalam hukum pidana di Indonesia Hakim mempunyai kebebasan yang sangat luas untuk memilih jenis pidana (straafsoort) yang dikehendaki, sehubungan dengan pengunaan sistem altenatif di dalam pengancaman pidana di dalam undang-undang, dari beberapa pasal di KUHP tampak beberapa pidana pokok sering kali diancamkan kepada pelaku tindak pidana yang sama secara alternatif, artinya hanya satu diantara pidana pokok yang diancamkan tersebut dapat dijatuhkan hakim dan hal ini diserahkan kepadanya untuk memilih beratnya pidana (strafmaat) yang akan dijatuhkan, sebab yang ditentukan oleh perundang-undangan hanyalah maksimum dan minimumnya.

2) Faktor Hakim dimana meliputi sifat internal dan sifat eksternal. Sifat internal dan eksternal sulit dipisahkan, karena sudah terpadu sebagai atribut seseorang yang disebut sebagai human equation atau personality of judge dalam arti luas menyangkut pengaruh-pengaruh latar belakang sosial, pendidikan, agama, pengalaman, dan perilaku sosial.

27 Muladi dan Badra Nawawi Arif, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, (Alumni 2005) 5.

(25)

34 B. HASIL PENELITIAN

Dasar pertimbangan majelis hakim untuk membuktikan bahwa terdapat disparitas putusan hakim dalam kasus pencurian pemberatan yang melibatkan anak sebagai pelakunya, maka dalam hasil penelitian ini penulis akan menguraikan Putusan Pengadilan Nomor 03/Pid.Sus-Anak/2019/PN.Sim dan Nomor 05/Pid.Sus- Anak/2018/Pn.Sim., sebagai berikut:

1) Putusan Nomor 3/Pid.Sus-Anak/2019/PN.Sim.

a. Kronologi Kasus

Pada hari minggu 20 Januari 2019 pukul 20.00 WIB, Anak Muhammad Fadli Maulana dan rekannya Sultan Hasanudin Purba mendatangi rumah saksi korban Suyono yang dalam keadaan kosong karena saksi korban bersama istrinya serta anaknya tidak berada dirumah. Sesampai didepan rumah Anak bersama rekannya Sultan Hasanudin Purba menuju pintu gudang yang berdampingan dengan rumah saksi korban selanjutnya Anak dan Sultan Hasanudin Purba berusaha membuka pintu depan gudang yang terbuat dari kayu dengan menggunakan tangannya namun pintu tidak dapat terbuka lalu Sultan Hasanudin Purba mendobrak atau merusak bagian pintu depan dengan menggunakan kakinya namun pintu belum dapat terbuka juga kemudian Anak mendobrak atau merusak pintu gudang dengan menggunakan kakinya sehingga pintu dapat terbuka. Selanjutnya Anak bersama Sultan Hasanudin Purba masuk kedalam gudang dan menutup kembali pintu gudang tersebut.

Anak dan Sultan Hasanudin Purba mencari barang berharga didalam gudang tersebut namun tidak menemukannya lalu Sultan Hasanudin Purba mengambil sehelai baju kaos putih dari jemuran yang berada didalam gudang

(26)

35 dan diletakkannya dibahu dekat leher kemudian Anak dan Sultan Hasanudin Purba menuju ruangan belakang yaitu kamar mandi yang berjarak sekitar sepuluh meter ada pintu masuk namun tidak terkunci hanya didorong saja pintu tersebut dapat terbuka dan setelah berhasil Anak dan Sultan Hasanudin Purba masuk kedalam ruangan kamar mandi belakang dan berjarak sekitar lima meter terdapat pintu masuk keruangan dapur, namun dalam keadaan terkunci sehingga Anak dan Sultan Hasanudin Purba kembali mendobrak atau merusak pintu tersebut dengan menggunakan kakinya dan pintu dapat terbuka selanjutnya Anak dan Sultan Hasanudin Purba masuk kedalam ruangan tersebut dan kembali mencari barang-barang berharga untuk dimilikinya namun tidak menemukannya lalu Anak berjalan ke pintu menuju ruangan tamu namun pintu tersebut dalam keadaan terkunci sementara Sultan Hasanudin Purba berada di ruang dapur membuka alat penutup gas tiga kilogram dan membongkar lemari yang berada didapur dan menemukan satu buah tas warna hitam merk palazzo yang tergantung di dapur yang berisi uang sebanyak seratus sembilan puluh ribu rupiah dan uangnya dikantongi Sultan Hasanudin Purba kemudian Anak kembali merusak atau mendobrak pintu yang menghubungkan keruangan tamu dengan menggunakan kakinya sehingga pintu dapat terbuka lalu Anak dan Sultan Hasanudin Purba masuk keruangan tamu yang mana keadaan lampu hidup kemudian Anak menuju kedalam kamar depan dimana pintu kamar depan tersebut dalam keadaan tidak terkunci sedangkan Sultan Hasanudin Purba masuk kedalam kamar kedua yang bersebelahan dengan kamar yang dimasuki Anak dan setelah berada didalam kamar tersebut Anak kembali mencari barang-barang

(27)

36 berharga untuk dimilikinya dan menemukan dua buah charger handphone dengan masing-masing merk samsung dan xiaomi kemudian tidak berapa lama Sultan Hasanudin Purba menghampiri Anak dengan membawa tas warna hitam berisikan satu unit laptop merk ssus warna coklat lalu Anak memasukkan dua buah charger handphone tersebut kedalam tas warna hitam tersebut seterusnya Anak bersama dengan Sultan Hasanudin Purba mendekati lemari di ruangan tamu dan keduanya menemukan dua buah jam tangan dengan masing-masing merk seiko warna silver dan merk mirage warna silver berikut dengan kotaknya dan mengambilnya dan menyerahkannya kepada Sultan Hasanudin Purba selanjutnya setelah keduanya selesai melakukan pengambilan barang-barang milik saksi korban lalu Anak dan Sultan Hasanudin Purba keluar dari ruang tamu menuju belakang bagian ruangan dapur dimana saat itu Anak melihat terdapat satu buah helm warna ping yang terletak dimeja makan lalu Anak mengambilnya dan dipasangkan ke kepala Anak sedangkan Sultan Hasanudin Purba berada diruangan dapur sudah menyiapkan empat buah tabung gas tiga kilogram untuk dibawa keluar dari dalam rumah saksi korban Suyono selanjutnya Anak dan Sultan Hasanudin Purba keluar dari dari dalam rumah saksi korban dengan membawa barang- barang hasil curian tersebut.

b. Dakwaan

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 363 ayat (2) KUHPidana Jo UU RI No.11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

c. Tuntutan

(28)

37 Tuntutan pidana yang diajukan oleh Penuntut Umum yang pada pokoknya sebagai berikut:

1) Menyatakan Anak Muhammad Fadli Maulana telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Pencurian dengan pemberatan” melanggar Pasal 363 ayat (2) KUHPidana Jo UU RI No.11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak sebagaimana dakwaan Penuntut Umum;

2) Menjatuhkan pidana penjara terhadap Anak Muhammad Fadli Maulana selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan dikurangi selama Anak berada dalam tahanan sementara dengan perintah Anak tetap ditahan;

3) Menetapkan barang bukti berupa : - 1 (satu) buah helm warna pink;

- 1 (satu) buah tas warna hitam merk Palazzo;

- 4 (empat) buah tabung gas 3 (tiga) kilogram;

- 1 (satu) helai baju kaos putih bertuliskan Davici;

- 1 (satu) buah kayu papan pintu depan gudang bekas dirusak ukuran panjang sekitar 30 (tiga puluh) centimeter warna bitu;

- 1 (satu) buah kayu papan pintu dapur tempat kunci engsel bekas dirusak ukuran panjang sekitar 10 (sepuluh) centimeter warna biru,

- 1 (satu) buah kotak tempat jam merek Seiko;

- 1 (satu) buah kotak tempat jam merek Mirage;

- 1 (satu) buah tas sandang warna hitam bertuliskan basic;

- 1 (satu) buah dompet warna hijau;

- 1 (satu) buah kotak leptop merek Asus

4) Menetapkan supaya Anak membayar biaya perkara sebesar Rp.3.000 (tiga ribu rupiah).

d. Fakta-Fakta Hukum

(29)

38 Berdasarkan alat bukti yang diajukan diperoleh fakta-fakta hukum sebagai berikut:

- Bahwa pada hari Minggu tanggal 20 Januari 2019 sekira pukul 20.00 Wib, Anak Muhammad Fadli Maulana (pada saat kejadian berumur 15 tahun berdasarkan Surat Kartu Keluarga No.120823100308092 tertanggal 12 Agustus 2011) dan Sultan Hasanudin Purba mendatangi rumah saksi korban Suyono yang mana rumah saksi korban dalam keadaan kosong karena sebelumnya bahwa saksi korban dengan istrinya serta anaknya tidak berada dirumah saat dan situasi hujan gerimis serta lampu rumah dalam keadaan hidup;

- Bahwa sesampainya didepan rumah saksi korban oleh Anak dengan Sultan Hasanudin Purba menuju pintu gudang yang berdampingan dengan rumah saksi korban selanjutnya Anak dan Sultan Hasanudin Purba berusaha membuka pintu depan gudang yang terbuat dari kayu dengan menggunakan tangannya namun pintu tidak dapat terbuka lalu Sultan Hasanudin Purba mendobrak atau merusak bagian pintu depan dengan menggunakan kakinya namun pintu belum dapat terbuka juga kemudian Anak mendobrak atau merusak pintu gudang dengan menggunakan kakinya sehingga pintu dapat terbuka selanjutnya Anak dengan Sultan Hasanudin Purba masuk kedalam gudang dan menutup kembali pintu gudang tersebut kemudian Anak dan Sultan Hasanudin Purba mencari barang berharga didalam gudang tersebut namun tidak menemukannya;

- Bahwa selanjutnya Sultan Hasanudin Purba mengambil sehelai baju kaos putih dari jemuran yang berada didalam gudang dan diletakkannya dibahu

(30)

39 dekat leher kemudian Anak dan Sultan Hasanudin Purba menuju ruangan belakang yaitu kamar mandi yang berjarak sekitar 10 (sepuluh) meter ada pintu masuk namun tidak terkunci hanya didorong saja pintu tersebut dapat terbuka dan setelah berhasil Anak dan Sultan Hasanudin Purba masuk kedalam ruangan kamar mandi belakang dan berjarak sekitar 5 (lima) meter terdapat pintu masuk keruangan dapur dalam keadaan terkunci sehingga Anak dan Sultan Hasanudin Purba kembali mendobrak atau merusak pintu tersebut dengan menggunakan kakinya dan pintu dapat terbuka selanjutnya Anak dan Sultan Hasanudin Purba masuk kedalam ruangan tersebut dan kembali mencari barang-barang berharga untuk dimilikinya namun tidak menemukannya;

- Bahwa selanjutnya Anak berjalan ke pintu menuju ruangan tamu namun pintu tersebut dalam keadaan terkunci sementara Sultan Hasanudin Purba berada di ruang dapur membuka alat penutup gas 3 (tiga) kilogram dan membongkar lemari yang berada didapur dan menemukan 1 (satu) buah tas warna hitam merk Palazzo yang tergantung di dapur yang berisi uang sebanyak Rp.190.000,00 (seratus sembilan puluh ribu rupiah) dan uangnya dikantongi Sultan Hasanudin Purba kemudian Anak kembali merusak atau mendobrak pintu yang menghubungkan keruangan tamu dengan menggunakan kakinya sehingga pintu dapat terbuka lalu Anak dan Sultan Hasanudin Purba masuk keruangan tamu yang mana keadaan lampu hidup kemudian Anak menuju kedalam kamar depan dimana pintu kamar depan tersebut dalam keadaan tidak terkunci sedangkan Sultan Hasanudin Purba masuk kedalam kamar kedua yang bersebelahan dengan kamar yang

(31)

40 dimasuki Anak dan setelah berada didalam kamar tersebut Anak kembali mencari barang-barang berharga untuk dimilikinya dan menemukan 2 (dua) buah charger Handphone dengan masing-masing merk Samsung dan Xiaomi (Daftar Pencarian Barang) kemudian tidak berapa lama Sultan Hasanudin Purba menghampiri Anak dengan membawa tas warna hitam berisikan 1 (satu) unit laptop merk Asus warna coklat lalu Anak memasukkan 2 (dua) buah charger Handphone tersebut kedalam tas warna hitam tersebut seterusnya Anak bersama dengan Sultan Hasanudin Purba mendekati lemari di ruangan tamu dan keduanya menemukan 2 (dua) buah jam tangan dengan masing-masing merk Seiko warna silver dan merk Mirage warna silver berikut dengan kotaknya dan mengambilnya dan menyerahkannya kepada Sultan Hasanudin Purba selanjutnya setelah keduanya selesai melakukan pengambilan barang-barang milik saksi korban lalu Anak dan Sultan Hasanudin Purba keluar dari ruang tamu menuju belakang bagian ruangan dapur dimana saat itu Anak melihat terdapat 1 (satu) buah helm warna pink yang terletak dimeja makan lalu Anak mengambilnya dan dipasangkan ke kepala Anak sedangkan Sultan Hasanudin Purba berada diruangan dapur sudah menyiapkan 4 (empat) buah tabung gas tiga kilogram untuk dibawa keluar dari dalam rumah saksi korban Suyono selanjutnya Anak dan Sultan Hasanudin Purba keluar dari dari dalam rumah saksi korban dengan membawa barang-barang hasil curian tersebut;

- Bahwa Anak Muhammad Fadli Maulana dan Sultan Hasanudin Purba tidak memiliki ijin dari saksi korban Suyono selaku pemiliknya untuk mengambil barang-barang milik saksi korban dan adapun akibat perbuatan Anak tersebut

(32)

41 sehingga saksi korban mengalami kerugian sebesar Rp.8.350.000,- (delapan juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah).

e. Pertimbangan Hakim

Menimbang bahwa terdakwa telah didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum kepada Terdakwa, Majelis Hakim mempertimbangkan unsur-unsur tersebut sebagai berikut:

1) Unsur “Barang Siapa”:

Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan Barang Siapa, adalah subjek hukum yang dibebankan setiap hak dan kewajiban yang mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya yang dalam perkara ini adalah Terdakwa Anak sesuai dengan identitas sebagimana dalam surat Dakwaan Penuntut Umum. Maksud dimuatnya unsur ini adalah untuk menghindari adanya kesalahan terhadap subjek hukum dalam suatu perkara pidana;

Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum dipersidangan Terdakwa memberikan keterangan membenarkan identitasnya dirinya. Menimbang, bahwa Terdakwa Anak selama bersidangan sehat jasmani dan rohani sehingga dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya, maka dalam hal ini subjek hukum yang bertanggung jawab adalah Anak Muhammad Fadli Maulana.

Menimbang, bahwa unsur Setiap Orang telah terpenuhi menurut hukum;

2) Unsur “Mengambil Barang Sesuatu”

Menimbang, bahwa unsur mengambil suatu barang harus dibuktikan dengan adanya perbuatan pidana yaitu dengan menunjukan 2 (dua) alat bukti yang sah. Atau dalam artian harus ada perbuatan materil berupa tindakan

(33)

42 mengambil. Menimbang bahwa perbuatan mengambil disini yaitu barang tersebut dibawah kekuasaan orang yang mengambil, atau mengakibatkan barang berada diluar kekuasaan pemiliknya. Barang disini yaitu sesuatu yang mempunyai nilai ekonomi bagi pemiliknya. Dalam membuktikan suatu tindak pidana tersebut juga diperlukan keterangan saksi dan atau keterangan anak. Bahwa, berdasarkan fakta-fakta hukum yang diperoleh dari persidangan Terdakwa Anak telah mengambil barang-barang yang ada didalam rumah korban berdasarkan saksi-saksi dan alat bukti yang telah mendapat penetapan persetujuan penyitaan dari Ketua Pengadilan Negeri Simalungun. Bahwa, Terdakwa Anak bersama rekannya Sultan Hasanudin Purba mengambil sehelai baju kaos putih dari jemuran yang berada didalam gudang, mengambil uang sejumlah Rp.190.000,00 (seratus sembilan puluh ribu) yang berada didalam tas warna hitam merk Palazzo, menemukan 2 (dua) buah charge handphone merek samsung dan xiaomi, kemudian mengambil 1 (satu) unit laptop merk asuz, dan mengambil 2 (dua) buah jam tangan merk seiko warna silver dan merk mirage warna silver, mengambil 1 (satu) buah helm warna pink.

Menimbang, bahwa unsur mengambil barang sesuatu telah terpenuhi secara hukum;

3) Unsur “Seluruhnya atau Sebagian Kepunyaan Orang Lain”:

Menimbang, bahwa unsur ini bersifat alternatif, sehingga cukup salah satu saja yang dibuktikan. Bahwa, berdasarkan fakta-fakta hukum dipersidangan baik dari keterangan saksi dan terdakwa bahwa seluruh barang-barang yang

(34)

43 diambil oleh Terdakwa Anak merupakan milik orang lain dan bukan milik Terdakwa Anak.

Menimbang, bahwa unsur seluruhnya kepunyaan orang lain telah terpenuhi secara hukum;

4) Unsur “Dengan Maksud Untuk Dimiliki Secara Melawan Hukum”:

Menimbang, bahwa untuk dimiliki adalah setiap perbuatan penguasaan atas barang tersebut, dengan melakukan tindakan atas barang itu seakan-akan pemiliknya, tapi ia bukan pemiliknya. Dengan cara seperti menjual, memakai, memberikan keapada orang lain, menggadaikan, menukarkan, merubah dan sebagainya. Melawan hukum adalah perbuatan memiliki yang dikehendaki tanpa hak atau kekuasaan dari pelaku dan pelaku sadar bahwa barang tersebut adalah milik orang lain. Bahwa, berdasarkan fakta-fakta hukum dipersidangan baik keterangan saksi dan terdakwa pada saat terdakwa Anak bersama rekannya Sultan Hasanudin Purba masuk kedalam rumah tersebut mereka mengambil barang-barang yang ada didalamnya serta membongkar dan merusak pintu-pintu. Setelah mereka mengambil barang-barang milik saksi korban Suyono, kemudian Terdakwa Anak bersama rekannya keluar dari rumah membawah barang-barang hasil curian tersebut.

Menimbang, bahwa unsur dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum telah terpenuhi secara hukum;

5) Unsur “Pencurian diwaktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada disitu tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh orang yang berhak”:

(35)

44 Menimbang, bahwa unsur ini bersifat alternatif, sehingga cukup salah satu unsur yang harus dibuktikan. Bahwa, pencurian pada malam hari berdasarkan Pasal 98 KUHP berarti waktu diantara matahari terbenam dan matahari terbit.

Pekarangan tertutup yang dimaksut disini yaitu sebidang tanah yang mempunyai batasan nayata. Bahwa, berdasarkan fakta-fakta dipersidangan baik keterangan saksi, terdakwa dan barang bukti yang dihadirkan dipersidangan Terdakwa melakukan pencurian pada hari Minggu tanggal 20 Januari 2019 sekira pukul 20.00 Wib, dirumah saksi korban Suyono yang beralamatkan di Lormes Cemara Huta III, Nagori Perlanaan, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun.;

Menimbang, bahwa unsur pencurian waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada disitu tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh orang yang berhak telah terpenuhi secara hukum;

6) Unsur “Dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu”:

Menimbang, bahwa unsur ini bersifat alternatif, sehingga cukup salah satu saja yang harus dibuktikan. Bahwa, unsur ini mensyaratkan adanya kerjasama baik secara fisik maupun psikis antara para pelaku. Bahwa, berdasarkan fakta- fakta hukum dipersidangan baik keterangan saksi, terdakwa dan barang bukti, bahwa pada hari Minggu tanggal 20 Januari 2019 sekira pukul 20.00 wib, terdakwa Muhammad Fadli Maulana bersama dengan rekannya Sultan Hasanuddin Purba mendatangi rumah saksi korban Suyono di Lormes Cemara Huta III, Nagori Perlanaan, Kecamatan Bandar, Kabupaten

(36)

45 Simalungun dan merusak pintu-pintu saksi korban kemudian mengambil barang-barang yang berada didalam rumah korban.

Menimbang, bahwa unsur dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu menurut Majelis Hakim tidak terpenuhi;

7) Unsur “Untuk masuk ke tempat melakukan kejahatan, atau untuk sampai pada barang yang diambil, dilakukan dengan merusak, memotong atau memanjat, atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu”:

Menimbang, bahwa unsur ini merupakan unsur alternatif, sehingga cukup salah satu unsur saja yang harus dibuktikan. Bahwa yang dimaksud dengan merusak disini adalah menimbulkan kerusakan kecil dengan menimbulkan perubahan dalam suatu benda dari bentuk semula. Berdasarkan fakta-fakta hukum dipersidangan, baik dari keterangan saksi, terdakwa, dan barang bukti, bahwa sesampainya didepan rumah saksi korban Suyono, Anak bersama dengan rekannya Sultan Hasanuddin Purba menuju pintu gudang yang berdampingan dengan rumah saksi korban Suyono, kemudian Terdakwa Anak bersama rekannya Sultan Hasanudin Purba berusaha membuka pintu depan gudang yang terbuat dari kayu dengan menggunakan tangannya namun pintu tidak dapat terbuka lalu Sultan Hasanudin Purba mendobrak atau merusak bagian pintu depan dengan menggunakan kakinya namun pintu belum dapat terbuka juga kemudian Anak mendobrak atau merusak pintu gudang dengan menggunakan kakinya sehingga pintu dapat terbuka.

Kemudian Terdakwa Anak bersama rekannya Sultan Hasanuddin Purba mendobrak pintu masuk dapur yang terkunci, setelah terbuka Terdakwa Anak

(37)

46 bersama rekannya Sultan Hasanuddin Purba masuk kedalam ruangan tersebut dan kembali mencari barang-barang berharga untuk dimilikinya namun tidak menemukannya. Selanjutnya Terdakwa Anak kembali merusak atau mendobrak pintu yang menghubungkan ruangan tamu dengan menggunakan kakinya sehingga pintu dapat terbuka lalu Teradakwa Anak dan rekannya Sultan Hasanudin Purba masuk keruangan tamu yang mana keadaan lampu hidup, kemudian Anak menuju kedalam kamar depan dimana pintu kamar depan tersebut dalam keadaan tidak terkunci sedangkan Sultan Hasanudin Purba masuk kedalam kamar kedua yang bersebelahan dengan kamar yang dimasuki Anak dan setelah berada didalam kamar tersebut Anak kembali mencari barang-barang berharga;

Menimbang, bahwa unsur untuk masuk ketempat melakukan kejahatan dilakukan dengan merusak telah terpenuhi secara hukum.

Menimbang, bahwa selama persidangan berlangsung tidak ada alasan pemaaf atau alasan pembenar, sehingga anak tetap ditahan.

Menimbang, bahwa semua unsur dari pasal yang didakwakan kepada Anak telah terpenuhi semua, Hakim berpendapat bahwa Terdakwa Anak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pencurian dalam keadaan memberatkan yang didakwakan kepada terdakwa anak dalam dakwaan tunggal.

Menimbang, bahwa perbuatan Anak yang dinyatakan bersalah dan kepadanya layak diberikan hukuman dengan mengingat tujuan pemidanaan terhadap Anak, dan asas kepentingan terbaik untuk Anak.

Menimbang, bahwa berdasaran permohonan Anak agar mendapatkan keringanan hukuman karena Anak menyadari kesalahan dan tidak mengulangi

(38)

47 perbuatannya lagi, serta adanya keinginan yang kuat dari anak untuk berubah dan orang tuanya lebih mengawasi dan mendidik Anak.

Menimbang, bahwa berdasarkan Pembimbing Kemasyarakatan yang menyarankan agar Hakim Anak memutus untuk kepentingan terbaik bagi Anak ditambah dengan kesanggupan orang tua untuk meningkatkan pengawasan dan pembinaan terhadap Anak. Dengan mempertimbangkan saran dari Pembimbing Kemasyarakatan, Hakim juga mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tindak pidana baik dari segi lingkungan tempat tinggal Anak, usia Anak maupun jenis tindak pidana yang terpenuhi dari perbuatan Anak.

Menimbang, bahwa dalam menjatuhkan Putusan terhadap Anak, Hakim harus mempertimbangkan fakta bahwa selain Anak berkedudukan sebagai pelaku yang harus dimintakan pertanggung jawaban perbuatan pidananya, namun disisi lain Anak sebagai anak haruslah dilindungi hak-haknya, dengan cara dipulihkan menjadi anak bangsa yang memiliki masa depan baik dari segi agama maupun perilaku dalam masyarakat.

Menimbang, bahwa Indonesia merupakan salah satu Negara yang meratifikasi Konvensi Hak-Hak Anak Tahun 1990 dengan Kepres No. 36 Tahun 1990 sehingga Negara Republik Indonesia mempunyai kewajiban untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan yang diatur di dalam pasal-pasalnya, khususnya yang mengatur pemidanaan terhadap anak yang bermasalah hukum. Dan juga berdasarkan tujuan pemidanaan bagi Anak.

Menimbang, bahwa oleh karena Anak ditahan dan penahanan terhadap diri Anak dilandasi dengan alasan yang cukup, maka berdasarkan pasal 193 ayat (2) sub (b) KUHAPidana, maka ditetapkan agar Anak tetap ditahan.

(39)

48 Menimbang, bahwa untuk menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Anak, maka perlu dipertimbangkan keadaan yang meringankan dan keadaan yang memberatkan:

1) Keadaan Meringankan: Anak belum perna dihukum; Anak mengakui dan menyesali perbuatannya serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan berjanji untuk memperbaiki dirinya menjadi orang baik; Anak bersikap sopan di persidangan; Anak masih masih berkeinginan untuk meneruskan pendidikannya; Orang tua anak juga masih mau untuk membiayai anak dalam meneruskan pendidikan sembari melakukan pengawasan terhadap anak.

2) Keadaan memberatkan: Perbuatan Anak meresahkan masyarakat;

Perbuatan Anak yang melakukan pencurian sudah dilakukan berkali-kali walaupun belum ada satupun yang dijatuhi pidana.

f. Putusan

Berdasarkan pertimbangan diatas, Majelis Hakim memutuskan dan menyatakan Terdakwa Anak Muhammad Fadli Maulana, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Pencurian dalam Keadaan Memberatkan” dan menjatuhkan Terdakwa Anak oleh karena itu dengan Pidana penjara selama 10 (sepuluh) bulan.

2) Putusan Nomor 5/Pid.Sus-Anak/2018/PN.Sim.

a. Kronologi Kasus

Pada hari kamis tanggal 15 februari 2018, pukul 23.00 Wib bertempat dirumah saksi korban Friend Tambunan. Terdakwa Anak Charly Tumpal Sianipar, bersama dengan 2 rekannya yaitu saksi Putra Sanriko Tambunan

(40)

49 (penuntutan secara terpisah) dan Pirhot Togap Pasaribu (daftar penacrian orang) datang kerumah saksi korban yang padaa saat itu dalam keadaan kosong. Selanjutnya terdakwa anak Charly Sianipar bersama dua rekannya saksi Putra Sanriko Tambunan dan Pirhot Togap Pasaribu memastikan keadaan rumah aman, lalu anak Charly Sianipar menarik rang-rang jendela dapur rumah saksi korban hingga terbuka sebagian, stelah terbuka saksi Putra Sanriko Tambunan memundak terdakwa anak Charly Tumpal Sianipar untuk masuk melalui jendela dapur tersebut dan setelah terdakwa anak Charly Tumpal Sianipar berhasil masuk selanjutnya Pirhot Togap Pasaribu memundak saksi Putra Sanriko Tambunan untuk masuk melalui jendela yang sama sedangkan Pirhot Togap Pasaribu bertugas memantau situasi diluar.

Lalu terdakwa anak Charly Tumpal Sianipar dan saksi Putra Sanriko Tambunan menuju kamar milik saksi korban dan melihat pintunya dalam keadaan tergembok kemudian terdakwa anak Charly Tumpal Sianipar mengambil sebilah parang dari dapur saksi korban dan mencongkel engsel gembok tersebut hingga terbuka. Selanjutnya terdakwa anak Charly Tumpal Sianipar dan saksi Putra Sanriko Tambunan masuk kedalam kamar saksi korban dan mencari uang didalam kamar saksi korban dimana terdakwa anak Charly Tumpal Sianipar dan saksi Putra Sanriko Tambunan mencongkel pintu lemari pakaian milik saksi korban dan mengambil uang dari dalam lemari pakaian tersebut sebesar Rp. 45.000.000,- (empat puluh lima juta rupiah) dan dari dalam tas yang berada dibawah tilam milik saksi korban sebanyak Rp. 7.000.000,- (tujuh juta rupiah). Selanjutnya terdakwa anak Charly Tumpal Sianipar, saksi Putra Sanriko Tambunan dan Pirhot Togap

(41)

50 Pasaribu pergi keluar dari rumah saksi korban dan berbagi uang yang berhasil mereka ambil. Dimana uang hasil pencurian tersebut digunakan oleh anak Charly Tumpal Sianipar untuk membeli 1 (satu) unit Handphone Samsung Duos, untuk bermain judi bilyard, untuk membeli sabu dan untuk berfoya- foya sedangkan saksi Putra Sanriko Tambunan untuk membeli handphone merek Xiomi Not 5A, celana Hugo Boss warna hitam, baju kaos lengan tangan warna biru hijau, membayar uang sekolah, dan uang tutup mulut kepada Hendri Silitonga.

b. Dakwaan

Primair: Perbuatan Anak sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 363 ayat (2) KUHPidana Jo Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Subsidair: Perbuatan Anak sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 363 ayat (1) ke – 4 , 5 KUHPidana Jo Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

c. Tuntutan

Tuntutan pidana yang diajukan oleh Penuntut Umum yang pada pokoknya sebagai berikut:

1) Menyatakan Anak Charly Tumpal Sianipar telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Pencurian dengan pemberatan” melanggar pasal 363 ayat (2) KUHPidana sebagaimana dakwaan Primair.

(42)

51 2) Menjatuhkan pidana penjara terhadap Anak Charly Tumpal Sianipar selama 10 (Sepuluh) bulan dikurangi selama Anak berada dalam tahanan sementara dengan perintah Anak tetap ditahan.

3) Menetapkan barang bukti berupa:

- Sebilah parang bergagang besi panjang sekitar 40 (empat puluh) Cm;

- 1 (satu) buah tas sandang warna hitam tali warna coklat;

- Sepotong celana panjang warna hitam merk Hugo;

- Sepotong kaos panjang tangan liris biru kuning dan;

- 1 (satu) buah kotak handphone merk Xiaomi, dipergunakan dalam berkas perkara Putra Sanriko Tambunan.

- Menetapkan supaya Anak membayar biaya perkara sebesar Rp.3.000 (tiga ribu rupiah).

d. Fakta-Fakta Hukum

Berdasarkan Alat Bukti dan Barang bukti dimana satu sama lain telah saling bersesuaian Majelis Hakim memperoleh Fakta hukum sebagai berikut:

1) Benar adapun pencurian yang itu dilakukan Anak pada hari Kamis tanggal 15 Pebruari sekira pukul 23.00 wib di dalam rumah, tepatnya di Huta Balige Nagori Muara Mulia Kecamatan Tanah Jawa Kabupaten Simalungun dan pemilik uang tersebut adalah Friend Tambunan;

2) Bahwa benar adapun teman Anak melakukan pencurian uang itu dilakukan Anak bersama dua orang lainnya, masing-masing bernama: Putra Sanriko Tambunan, dan Pirhot Togap Pasaribu;

Referensi

Dokumen terkait

1) Pelaporan Keuangan memberikan informasi yang bermanfaat bagi investor dan kreditor, dan pemakai lainya dalam pengambilan keputusan investasi, kredit dan yang serupa secara

OEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAVAAN.. Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara , Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal

Bahasa pemrograman yang digunakan untuk membuat aplikasi perhitungan regresi dan korelasi dalam kasus ini menggunakan bahasa pemrograman Visual Basic dengan

Mampu menerapkan formulasi Hamilton untuk berbagai masalah mekanika Persamaan Gerak Hamilton ppt, papan tulis Mendengark an, bertanya, berpendapat dan menjawab quis

PERTAMA : Indikator Kinerja Utama sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan ini, merupakan acuan ukuran kinerja yang digunakan oleh unit kerja di lingkungan Arsip

Pendahuluan survei perusahaan dilakukan untuk mengetahui informasi lebih mengenai hal-hal yang terkait dengan siklus pembayaran klaim kepada tertanggung serta

Langkah langkah yang dilakukan tahap perencanaan tindakan meliputi menata setting kelas, menyusun rancangan pembelajaran (RKH) serta mempersiapkan bahan-bahan yang

Keberhasilan mengelola air ini telah pula mendorong terbentuknya Forum Masyarakat Code Utara (FMCU) yang menjadi lembaga yang berasal dari masyarakat dan dikelola