1.1. Latar Belakang Masalah
Hospitality industry mulai mengalami perkembangan sejalan dengan berakhirnya Perang Dunia II dimana dunia industri khususnya industri berat yang selama Perang Dunia II sempat terhenti mulai bangkit kembali. Bangkitnya dunia industri dibarengi dengan makin banyaknya para wanita yang bekerja (pada awal era tujuh puluhan, 70 % wanita di Amerika bekerja di industri). Akibatnya terjadi pergeseran gaya hidup. Keluarga yang semula menyantap makan malam mereka di rumah mulai beralih makan di luar rumah dikarenakan para ibu tidak ada waktu untuk menyiapkan santap malam bagi keluarga mereka, sementara pendapatan keluarga rata-rata mulai meningkat drastis dikarenakan memiliki dua sumber penghasilan (pada era tujuh puluhan 55% dari seluruh keluarga di Amerika memiliki dua sumber penghasilan). Dan restoran-restoran siap saji menjadi pilihan. (Mill, 1989).
Sementara di Indonesia pada akhir dasawarsa 1970-an dan awal dasawarsa 1980-an mulai terjadi pergeseran pola hidup, dimana masyarakat Indonesia mulai mengkonsumsi apa yang dikosumsi oleh masyarakat belahan dunia lain khususnya Amerika. Salah satunya dalam mengkonsumsi makanan.
(www.kfcindonesia.com) Hal ini dikarenakan seiring dengan perbaikan perekonomian masyarakat Indonesia pada umumnya selama dasawarsa 1980-an (Dumairy, 1996), serta tidak terlepas pula andil dunia media , hiburan, dan pertelevisian yang menayangkan produk-produk impor baik secara langsung maupun tidak langsung, termasuk memperkenalkan restoran siap saji atau yang lebih dikenal dengan fast-food. Salah satu restoran siap saji yang ikut tumbuh di Indonesia adalah McDonald’s.
McDonald’s merupakan salah satu jaringan restoran waralaba restoran siap saji terbesar di dunia dengan 30.000 outlet yang tersebar di 121 negara di seluruh dunia (www.mcdonald’s.com) dan 128 outlet diseluruh Indonesia (McIndonesia Expansion 2002). Dengan jumlah penjualan tertinggi diantara jaringan restoran waralaba sejenis, terbukti pada tahun 1996 jumlah penjualannya mencapai US$
31.81 miliar (Nickles, 1997), sudah tentu McDonald’s merupakan potensi bisnis yang menggiurkan. Tidak terkecuali bagi pengusaha-pengusaha Indonesia. Salah satunya yaitu Bapak Bambang N. Rachmadi, Presiden Direktur PT. Ramako Gerbang Emas yang akhirnya berhak memegang lisensi McDonald’s untuk seluruh Indonesia. McDonald’s mulai dibuka pertama kali pada tahun 1991, dengan outlet pertamanya terletak di Sarinah Jakarta (McIndonesian Expansion 2002).
Dalam waktu singkat McDonald’s menjadi amat populer di Jakarta terbukti dengan dibukanya outlet-outlet baru. Hal ini dikarenakan konsep McDonald’s yang selalu berusaha memberikan produk dan pelayanan yang berkualitas serta memberi pengalaman menyenangkan bagi para pengunjunganya, seperti menyediakan arena bermain bagi anak-anak dan paket-pesta ulang tahun bagi anak-anak. Sementara dari sisi pelayanannya, bentuk layanan McDonald’s ada empat macam, yaitu antara lain :
• Tamu memesan makanan di dalam restoran dan bersantap di dalam restoran maupun membawa pulang atau take out.
• Tamu tidak harus turun dari kendaraan tetapi memutar ke sisi lain restoran dan memesan pada counter kaca yang terletak terpisah dari bangunan restoran serta membayarnya, kemudian mengambil pesanan pada counter berikutnya.
Konsep ini disebut Drive Thru.
• McDrive, yaitu konsep yang mirip dengan Drive Thru hanya saja tidak terdapat restoran, sehingga pengunjung hanya bisa menyantap hidangan di dalam mobil di parking lot atau sambil berkendara. (Penulis belum pernah menemui konsep seperti disebut terakhir di Indonesia, tetapi di luar negeri seperti di Amerika dapat dijumpai di Drive Thru Cinema ).
• Delivery, yaitu bentuk pelayanan dimana konsumen hanya memesan lewat telepon kemudian McDonald’s akan mengantarkan pesanan tersebut ke tempat atau rumah konsumen tersebut (www.mcdonald’s.com).
Konsep-konsep pelayanan tersebut di atas kecuali konsep McDrive juga diterapkan pada McDonald’s Indonesia. Bahkan sejak awal berdirinya pun McDonald’s Indonesia telah menerapkan konsep pelayanan tersebut di atas, dimana McDonald’s Sarinah Jakarta menjadi restoran siap saji pertama di
Indonesia yang beroperasi selama 24 jam (McIndonesia Expansion, 2002).
Kemudian dengan disusulnya oleh cabang-cabang lain yang beroperasi selama 24 jam seperti halnya pada McDonald’s cabang Jalan Basuki Rachmad Surabaya. Hal ini pulalah yang menjadi unggulan khususnya bagi McDonald’s Indonesia karena merupakan satu-satunya Restoran Cepat Saji yang buka 24 jam.
Sebagai restoran siap saji yang beroperasi 24 jam, seperti layaknya hotel tentu terdapat pengaturan shift kerja dalam membagi kinerja para stafnya, agar dapat memberikan pelayanan yang terbaik terhadap costumer. Dimana diantara shift kerja tersebut terdapat shift yang bertugas dari malam hingga pagi hari atau yang disebut dengan Overnight Shift.
Overnight shift menjadi sesuatu yang patut menjadi perhatian karena waktunya yang diluar jam kerja karyawan normal pada umumnya serta diluar jam kerja normal. Karenanya pada overnight shift sering dijumpai masalah-masalah yang tidak dijumpai pada shift yang lain atau Regular Shift. Berdasar pengalaman dan pengamatan penulis, selama penulis melaksanakan Training pada Hotel X di Johor, Malaysia, banyak dijumpai permasalahan-permasalahan pada Overnight Shift yang berhubungan dengan penurunan produktivitas kerja karyawan, baik dikarenakan mengantuk, sedikitnya beban kerja pada malam hari, serta rendahnya pengawasan dari Manager maupun Supervisor. Pada Hotel X penurunan produktivitas pada Overnight Shift yang diamati oleh penulis adalah ketidaktepatan waktu pengiriman pesanan oleh Room Service Outlet.
Dari sinilah penulis mencoba meneliti adakah pengaruh dari waktu operasional McDonald’s khususnya para karyawan yang bertugas Overnight Shift terhadap Produktivitas salah satunya dari penyajian Paket Hemat dibandingkan dengan Regular Shift. Sebagai restoran siap saji yang beroperasi selama 24 jam, McDonald’s mungkin menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan produktivitas kerja karyawan, khususnya karyawan yang betugas pada Overnight Shift.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut di atas, peneliti mencoba mencari tahu adakah perbedaan antara produktivitas karyawan pada
Overnight Shift dengan produktivitas karyawan pada Regular Shift, serta pengaruh Overnight Shift terhadap produktivitas karyawan McDonald’s cabang Basuki Rachmad.
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu adakah perbedaan dalam hal penyajian Paket Hemat pada Overnight Shift dengan Regular Shift. Serta mencari tahu adakah pengaruh dari Overnight Shift terhadap produktivitas karyawan McDonald’s cabang Basuki Rachmad Surabaya.
1.4. Batasan Penelitian
Penulis menekankan penelitian ini pada ruang lingkup karyawan McDonald’s cabang Basuki Rachmad Surabaya yang melayani pesanan Paket Hemat saja. Dimana data penelitian didapat dengan mengukur kecepatan penyajian Paket Hemat pada Overnight Shift serta pada Regular Shift. Dipilihnya Paket Hemat sebagai batasan penelitian dikarenakan Paket Hemat merupakan serangkain menu yang menjadi andalan di seluruh gerai McDonald’s Indonesia khususnya cabang Basuki Rachmad Surabaya dengan masih memiliki ciri khas asal McDonald’s sebagai produsen Burger.
Kemudian membandingkan kedua hasil tersebut untuk mengetahui adakah perbedaan yang signifikan antara kedua shift tersebut.
Penelitian terhadap karyawan McDonald’s ini dilakukan mulai tanggal 1 Maret 2005 sampai dengan 31 Mei 2005. Karena berdasar pengamatan dan wawancara singkat dengan karyawan, scheduling pada Mcdonald’s menganut system staffing guide links dimana penentuan jumlah staff yang bekerja dihitung berdasarkan kebutuhan shift tersebut.
1.5. Manfaat Penelitian 1. Bagi penulis:
• Mengetahuai adakah perbedaan kecepatan penyajian Paket Hemat antara Overnight Shift dan Regular Shift.
• Mengetahui pengaruh Overnight Shift terhadap produktivitas karyawan McDonald’s cabang Basuki Rachmad.
2. Bagi McDonald’s
• Sebagai bahan evaluasi internal guna mengetahui apakah Overnight Shift berpengaruh secara signifikan terhadap produktivitas karyawan McDonald’s.
• Sebagai bahan evaluasi guna mengetahui adakah perbedaan yang signifikan dalam penyajian menu Paket Hemat McDonald’s antara Overnight Shift dengan Regular Shift.
• Sebagai masukan bagi manajemen dalam mempertahankan produktivitas karyawan khususnya pada Overnight Shift.
3. Bagi peneliti maupun pembaca lain yang tertarik akan permasalahan Hospitality Industry:
• Sebagai bahan referensi dalam melakukan penelitian khususnya yang berhubungan dengan produktivitas.
• Diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang manajemen sumber daya manusia dalam hal produktivitas kerja.