BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian
Penelitian ini berupaya mengetahui “Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy untuk meningkatkan Karakter Green Behaviour Peserta didik” Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan persoalan adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif adalah suatu pendekatan penelitian yang secara primer menggunakan paradigma postposivistik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan (seperti pemikiran tentang sebab-akibat, reduksi kepada variabel, hipotesis, dan pertanyaan spesifik, menggunakan pengukuran dan observasi serta pengujian teori), menggunakan strategi penelitian seperti eksperimen dan survey yang memerlukan data statistik (Emzir, 2012, hlm.28).
Selain itu menurut Sugiyono (2004, hlm. 8) penelitian kuantitatif merupakan
“Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi dan sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan”. Margono menjelaskan bahwa penelitian kuantitatif adalah suatu penelitian yang lebih banyak menggunakan logika hipotesis verifikasi yang dimulai dengan berfikir deduktif untuk menurunkan hipotesis kemudian melakukan pengujian di lapangan dan kesimpulan atau hipotesis tersebut ditarik berdasarkan data empiris.
Adapun menurut Sudyaharjo, penelitian kuantitatif merupakan metode pemecahan masalah yang terencana dan tercermat, dengan desain yang berstruktur ketat, pengumpulan data secara sistematis terkontrol dan tertuju pada penyusunan teori yang disimpulkan secara induktif dalam kerangka pembuktian hipotesis secara empiris.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian kuantitatif merupakan metode penelitian yang dilakukan untuk meneliti suatu peristiwa berdasarkan populasi dan sampel dengan menggunakan instrumen penelitian. Disamping hal tersebut, analisis data dalam penelitian ini juga dengan analisis data statistik.
Sopi Aprilia Widiyanti, 2020
PERAN GURU IPS DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN ECOLITERACY UNTUK
44
3.2 Metode Penelitian
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian korelasi. Metode penelitian korelasi adalah metode yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidak hubungan itu (Arikunto, 2014, hlm.313). Penelitian korelasi menurut Usman (1995, hlm.197) bahwa:
“korelasi adalah isitilah statistik yang menyatakan derajat hubungan linier antara dua variabel atau lebih. Hubungan antara dua variabel di dalam teknik korelasi bukanlah dalam arti hubungan sebab akibat (timbal balik) melainkan hanya merupakan hubungan searah saja”
Sedangkan menurut Silalahi (2009) mengemukakan bahwa karakteristik utama penelitian korelasional meliputi pengobservasian nilai-nilai dari dua atau lebih variabel dan menentukan ada tidaknya hubungan antara variabel tersebut.
Dalam penelitian ini peneliti berusaha untuk mendeskripsikan apakah terdapat hubungan diantara peran guru ips dalam mengimplementasikan Ecoliteracy terhadap meningkatkan Karakter Green Behaviour Peserta didik pada Pembelajaran IPS di SMPN 43 Bandung.
Penggunaan metode korelasi bertujuan untuk menjelaskan keterhubungan antara dua variabel. Pengertian korelasi menurut para ahli, korelasi adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih, tanpa melakukan perubahan, tambahan atau manipulasi terhadap data yang memang sudah ada (Arikunto, 2013, hlm.4).
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini termasuk kedalam penelitian korelasi dengan bentuk bivariate, hubungan bivariate adalah hubungan yang melibatkan satu variabel bebas dan satu variabel terikat, dimana Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan ecoliteracy pada Pembelajaran IPS (Variabel Bebas) dengan Karakter Green Behaviour peserta didik (Variabael Terikat).
3.3 Desain Penelitian
Desain penelitian adalah rancangan dalam melakukan sebuah penelitian.
Dalam buku Emzir, desain penelitian untuk jenis penelitian korelasi diantaranya yaitu korelasi bivariat, regresi dan prediksi, regresi jamak, analisis faktor, menarik kesimpulan kausal, dan analisis sistem. Sedangkan menurut Creswell, terdapat dua jenis desain penelitian korelasi yakni explanation research design dan prediction research design.
Rancangan penelitian korelasi yang digunakan pada penelitian ini adalah korelasi bivariat, yakni suatu rancangan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antar dua variabel. Hubungan antara dua variabel diukur. Hubungan tersebut mempunyai tingkatan dan arah. (Emzir, 2008, hlm.48).
Rancangan korelasi bivariat ini dipilih karena pada penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan dua variabel, Peran Guru IPS mengimplementasikan materi Ecoliteracy dalam pembelajaran (X) dan Karakter Green Behaviour Peserta didik (Y).
Gambar 3. 1 Hubungan Variabel dalam Analisis Bivariate Keterangan:
X : Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy pada pembelajaran.
Y : Karakter Green Behaviour Peserta Didik.
XY: Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy pada pembelajaran dalam meningkatkan karakter green behaviour peserta didik.
Karakter Green Behaviour Peserta Didik
dalam IPS
Peran Guru
mengimplementasikan Ecoliteracy pada pembelajaran
XY Y
X
3.4 Lokasi dan Subjek Penelitian 3.4.1. Lokasi Penelitian
Tempat atau lokasi penelitian adalah tempat peneliti melakukan penelitian untuk memeroleh data yang berasal dari subjek penelitian. Nasution (2003, hlm. 43) menyatakan “lokasi penelitian menunjukkan pada tempat atau lokasi sosial dimana penelitian dilakukan, yang dicirikan oleh adanya tiga unsur yaitu pelaku, tempat, dan kegiatan yang dapat diobservasi”.
SMPN 43 Bandung dipilih karena sesuai dengan kurikulum bahwa mata Pelajaran Lingkungan Hidup ditiadakan. untuk menumbuhkan kesadaran peserta didik dalam menjaga lingkungan (Green Behaviour) Sekolah menganjurkan peserta didik untuk membuang sampah pada tempatnya dan melakukan bersih bersih kelas
“piket” di setiap kelas untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Selain itu, beberapa guru juga mengimplementasikan ecoliteracy dalam pembelajaran seperti hal nya dalam pelajaran Prakarya peserta didik diberikan tugas untuk membuat karya rupa yang terbuat dari barang bekas. Selain itu dalam Pembelajaran IPS pun guru dapat menanamkan kesadaran lingkungan melalui pelajaran, seperti contohnya Guru IPS memberikan contoh kearifan lokal Suku Baduy dalam menjaga dan memelihara lingkungan alamnya. Melalui contoh kontekstual tersebut peserta didik dapat mencontoh hal yang dilakukan oleh masyarakat suku Baduy dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, masih banyak hal lainnya yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran IPS mengenai Ecoliteracy. Dalam hal ini Peneliti berusaha untuk mengetahui sejauh mana peranan Guru IPS di SMPN 43 Bandung dalam mengimplementasikan Ecoliteray dalam Pembelarajan IPS sebagai upaya meningkatkan Green Behaviour Peserta Didik.
3.4.2 Populasi Penelitian
Menurut Masyhuri, Zainudin (2008:151) populasi dapat diartikan sebagai jumlah penduduk. Oleh karena itu apabila disebutkan kata populasi, mayoritas manusia akan menghubungkannya dengan masalah-masalah kependudukan.
Kemudian seiring berjalannya zaman, kata populasi menjadi semakin populer dan
digunakan pada berbagai disiplin ilmu. Selain itu, dalam metode penelitian kata populasi, digunakan untuk menyebutkan serumpun atau sekelompok objek yang menjadi masalah sasaran penelitian. Oleh karena itu, populasi penelitian merupakan keseluruhan (universum) dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian.
Populasi bukan hanya orang tetapi juga objek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subjek/objek itu. Adapun populasi yang akan diambil yakni peserta didik kelas 8 SMPN 43 Bandung yang berjumlah 288 peserta didik.
Tabel 3. 1 Populasi Penelitian
NO. KELAS JUMLAH SISWA
1. VIII-1 32
2. VIII-2 32
3. VIII-3 32
4. VIII-4 32
5. VIII-5 32
6. VIII-6 32
7. VIII-7 32
8. VIII-8 32
9. VIII-9 32
JUMLAH 288
3.4.3 Sampel Penelitian
Sugiyono (2015) mengemukakan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Apabila populasi terlalu besar, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi. sampel yang diambil dari populasi harus benar-benar refresentatif (mewakili).
Pengambilan sampel harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel yang benar-benar dapat mewakili (representative) dan dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya, maka dalam penentuan sampel yang digunakan rumus slovin sebagai berikut:
𝑁𝑁 1 + 𝑁𝑁𝑁𝑁2
Keterangan :
n : Ukuran sampel N : Ukuran populasi
e : Persen kelonggaran ketidak telitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat ditolelir.
Adapun dalam penelitian ini sampel yang diperoleh yakni sebagai berikut:
n=
n=
n= 74,2 = 74
Dengan demikian, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 74 peserta didik, adapun jumlah sampel yang diperoleh pada setiap kelas yakni 8-9 peserta didik, adapun penjelasan mengenai pengambilan sampel setiap kelas dapat dilihat pada penjelasan mengenai teknik pengambilan sampel.
3.4.4 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel disebut juga sebagai teknik sampling. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu probability sampling dengan pengambilan secara acak (simple random sampling). Menurut Sugiyono (2013:92), probability sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Dalam hal ini setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dijadikan sampel. Sedangkan simple random sampling dikatakan sederhana karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.
Dalam Sugiyono (2013, hlm. 138), penentuan jumlah sampel untuk masingmasing Kelas dihitung secara proporsional dengan menggunakan rumus:
s = 𝑛𝑛𝑁𝑁 x S
Keterangan:
s = jumlah sampel setiap kelas secara proporsional S = jumlah seluruh sampel yang didapat
N=jumlah Populasi n=jumlah populasi dalam setiap kelas.
Adapun dalam penelitian ini sampel dari setiap kelas yang diperoleh yakni sebagai berikut:
32
288 𝑋𝑋 74 = 8,2 = 8
Adapun sampel yang diperoleh dari setiap kelas yakni 8 peserta didik, adapun rincian mengenai sampel setiap kelas yang diperoleh peneliti terdapat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 3. 2 Sampel Penelitian NO. POPULASI JUMLAH
POPULASI JUMLAH SAMPEL
1. VIII-1 32 9
2. VIII-2 32 9
3. VIII-3 32 8
4. VIII-4 32 8
5. VIII-5 32 8
6. VIII-6 32 8
7. VIII-7 32 8
8. VIII-8 32 8
9. VIII-9 32 8
JUMLAH 74
Berdasarkan hasil data diatas dapat dilihat bahwa jumlah sampel secara keseluruhan didapat sebanyak 74 peserta didik. Maka dari itu peneliti mengambil sampel kelas 8.1 – 8.9.
dari 9 kelas tersebut jika diambil 8 peserta didik pada setiap keas, sampel yang terpenuhi hanya sebanyak 72 peserta didik. Maka dari itu berdasarkan pertimbangan agar 74 sampel dapat terpenuhi, peneliti mengambil sampel sebanyak 9 peserta didik dari kelas
3.5 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi khusus yang didasarkan atas sifat-sifat yang didefinisikan, dapat diamati dan dilaksanakan oleh peneliti lain (Arifin, 2014, hlm.190). adapun definisi operasional dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Ecoliteracy
Adapun ecoliteracy dalam penelitian ini untuk menjelaskan urgensi ecoliteracy dalam pembelajaran di sekolah, implementasi ecoliteracy dapat memberikan dampak terhadap karakter green behaviour peserta didik.
Supriatna (2016) mengemukaan bahwa, Ecoliteracy adalah kemampuan untuk memahami sistem alam yang mendukung keberlanjutan kehidupan di bumi atau sustainability life. Melalui pendidikan di sekolah dengan gerakan peduli lingkungan yang diterapkan pada peserta didik untuk membangun Ecoliteracy. Saat ini pendidikan berkaitan dengan keberlanjutan dan pelestarian alam sangat diperlukan. Fungsi sekolah sebagai pewaris nilai dan budaya bangsa harus dilaksanakan oleh sekolah. Maka, setiap pembelajaran di sekolah sudah seharusnya terintegrasi dengan kegaitan Ecology Literacy melalui gerakan peduli lingkungan. sehubungan dengan hal tersebut peneliti pun bermaksud untuk menjelaskan seberapa besar implementasi ecoliteracy yang dilakukan oleh Guru IPS kelas 8 di SMPN 43 Bandung.
Adapun indikator dari ecoliteracy dalam penelitian ini diantaranya:
a. Pengetahuan
Memahami isu dan permasalahan lingkungan dari perspektif keseimbangan dan kelestarian sistem ekologis.
Memahami prinsip-prinsip ekologi.
Bersifat kritis, memecahkan masalah secara kreatif, dan menerapkan pengetahuan dalam situasi yang baru.
Menilai dampak atau efek etika dari teknologi dan tindakan manusia.
Memperhitungkan konsekuensi jangka panjang dari pengambilan sebuah keputusan.
b. Sikap
Memiliki perhatian, empati, dan rasa hormat terhadap sesame dan makhluk hidup lain.
Melihat dari berbagai perspektif dan menghargai berbagai perspektif tersebut; bekerjasama dengan orang lain dan menilai orang lain dengan latar belakang, motivasi dan niat yang berbeda.
Berkomitmen untuk kesamaan, keadilan, inklusivitas, dan menghormati semua orang.
c. Keterampilan
Membuat dan menggunakan alat-ala, benda dan prosedur yang dibutuhkan oleh masyarakat yang berkelanjutan.
Menghidupkan keyakinan dalam tindakan praktis dan efektif dan menerapkan pengetahuan ekologi dalam bentuk praktek desain keseimbangan ekologis.
Menilai dan memanfaatkan energy dan sumber daya sesuai kegunaannya.
d. Partisipasi
Rasa syukur dan menghargai alam.
Mengagumi dan menghargai bumi dan semua makhluk hidup.
Memiliki ikatan yang kuat dan apresiasi yang mendalam terhadap alam.
Memiliki kekerabatan dengan alam dan mengajak perasaaan yang sama kepada orang lain.
2. Karakter Green Behaviour
Green behaviour adalah perilaku menjaga dan memelihara lingkungan hidup yang dilakukan karena adanya kesadaran dan rasa tanggung jawab atas kelestarian alam semesta. Seperti yang dijelaskan oleh Keraf (2014) bahwa pada dasarnya manusia mempunyai rasa memiliki dan mencintai alam tempat dirinya hidup sehingga seharusnya manusia mampu belajar berhadapan dengan lingkungannya. Green behaviour harus mewujud menjadi tindakan yang dilandasi oleh nilai, norma dan kasih sayang terhadap alam semesta.
adapun green behaviour dalam penelitian ini yaitu kesadaran peserta didik
dalam menjaga kebersihan lingkungan khususnya dilingkungan sekolah SMPN 43 Bandung.
Indikator Green Behaviour meliputi beberapa hal diantaranya:
a. Respect for the Earth.
Membuang sampah pada tempatnya.
Memilah sampah organik dan anorganik.
Menanam dan memelihara pohon di sekolah.
Mematikan listrik pada ruang yang tidak dipakai.
b. Care for Life
Memilih makanan organic.
Memakai masker saat berpergian di jalan raya.
Menegur teman yang melakukan tindakan tidak ramah lingkungan.
Menghindari produk makanan yang mengandung pengawet.
Mendaur ulang kertas.
c. Adopt Patterns of Production, Consumption, and Reproduction Menghindari penggunaan kantung plastik.
Mengkonsumsi barang yang ramah lingkungan.
Menggunakan satu botol plastik yang bisa diisi ulang sebagai tempat minum air.
3.6 Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Dalam penelitian ini terdiri dari dua macam variabel, yaitu variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen). Adapun variabel independen dan dependen dalam penelitian ini diantaranya:
1. Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy (Variabel Bebas / Independen)
Variabel bebas, antesenden, atau predictor Variabel ini mungkin menyebabkan, mempengaruhi, atau berefek pada outcome dan menjadi penyebab perubahan atau munculnya variabel dependen. Adapun variabel independen dalam penelitian ini yaitu Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan ecoliteracy. Peran guru IPS dalam penelitian ini dikategorikan kedalam Variabel Indenpenden, hal ini dikarenakan Guru IPS
menjadi aspek yang memberikan pengaruh terhadap karakter green behaviour peserta didik. Dalam hal ini upaya yang diberikan oleh Guru IPS yakni mengimplementasikan materi ecoliteracy dalam pembelajaran IPS.
2. Karakter Green Behaviour Peserta didik (Variabel Terikat)
Variabel dependen yaitu variabel terikat, konsekuensi, atau kriterium.
Variabel ini merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat dari variabel independen. Dalam penelitian ini variabel dependennya adalah Karakter Green Behaviour Peserta didik. Karakter green behaviour peserta didik dalam penelitian ini termasuk kedalam variabel terikat/dependan dikarenakan aspek green behaviour tersebut yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas, dalam hal ini karakter green behaviour dipengaruhi oleh peran guru ips dalam mengimplementasikan materi ecoliteracy padda pembelajaran ips
3.7 Prosedur Penelitian
Dalam melakukan penelitian mengenai Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy untuk meningkatkan Karakter Green Behaviour Peserta didik kelas VIII di SMPN 43 Bandung”. Prosedur penelitian ini dilaksanakan agar penelitian ini efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Adapun tahap-tahap yang dilakukan dalam melaksanakan penelitian ini diantaranya sebagai berikut:
1. Tahap Pra Penelitian
Agar penelitian yang dilaksanakan dapat memiliki arah yang jelas, maka sebelum mengadakan penelitian terlebih dahulu dilakukan persiapan-persiapan yang berkenaan dengan pelaksanaan penelitian. Dimana, yang dilakukan sebelum melaksanakan penelitian adalah menetapkan langkah-langkah penelitian yang meliputi; memilih masalah, studi pendahuluan, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, memilih pendekatan, menentukan variabel, menentukan dan menyusun instrument, mengumpulkan data, analisis data, dan menarik kesimpulan. Adapun kegiatan inti pada tahap persiapan ini yaitu peneliti melakukan beberapa langkah sebagai berikut:
1) Membuat dan menyusun angket
Sedangkan jenis angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis Angket Tertutup (angket berstruktur) yang berupa checklist () atau silang () dengan menggunakan skala sikap dalam bentuk Skala Likert, dengan 5 alternatif jawaban. Masing-masing alternative jawaban diberi skor 5,4,3,2,1. Adapun skor yang diberikan untuk setiap jawaban responden sebagai berikut:
Tabel 3. 3 Skor Jawaban Responden
No. Pilihan Jawaban Skor
Favourable 1. Selalu/sangat setuju/sangat baik/sangat
tinggi / sangat penting/sangat benar. 5 2. Sering/setuju/baik/tinggi/penting/benar. 4 3. Kadang-kadang/kurang
setuju/cukup baik/cukup tinggi/cukup penting/cukup benar.
3
4. Hampir tidak pernah (jarang)/tidak setuju/kurang baik/rendah/kurang penting/salah.
2
5. Tidak pernah/sangat tidak setuju/tidak baik/rendah sekali/tidak penting/sangat salah.
1
2) Uji Coba Instrumen
Uji coba instrumen dimaksudkan untuk memperoleh gambaran atas kelemahan dan kekurangan angket yang diberikan kepada responden. Uji coba instrumen juga harus melakukan tahapan selanjutnya yakni uji validitas, dan uji reabilitas. Adapun hasil dari uji validitas dan reabilitas instrumen uji coba yaitu:
A. Uji Validitas Instrumen Percobaan
Suatu instrumen dikatakan valid apabila instrumen dapat mengukur apa yang hendak diukur. Validitas suatu instrumen penelitian adalah derajat yang menunjukkan suatu tes mengukur apa yang hendak diukur (Sukardi,
2011). Selain itu Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 212) terdapat dua macam validitas yaitu validitas logis dan validitas empiris dibagi menjadi dua yaitu validitas konstruk dan validitas isi. Validitas dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan teknik pengujian validitas konstruk, karena instrumen penelitian disusun berdasarkan teori yang relevan dan dirancang dengan menggunakan kisi-kisi instrumen yang dikonsultasikan kepada dosen pembimbing sebagai ahli (expert judgement), kemudian di uji cobakan dan dianalisis dengan analisis butir. Validitas digunakan dengan mengkorelasikan antara skor tiap item dengan skor total. Teknik uji validitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Corrected Item-Total Corelation dengan menggunakan fasilitas Computer Program SPSS For Windows Seri 23.0.
Dalam prosedur penyusunan tes, dilakukan terlebih dahulu prosedur analisis item, dengan cara menguji karakteristik masing-masing item yang akan menjadi bagian tes yang bersangkutan. Item-item yang tidak memenuhi persyaratan kualitas tidak boleh diikutkan sebagai bagian dari tes (Azwar, 2014). Adapun ujicoba instrument diberikan kepada 30 peserta didik SMPN 43 Bandung kelas 7 dengan taraf signifikan 90%. Gambaran hasil uji validitas pada item instrumen mengenai kesadaran peserta didik dalam menjaga lingkungan dan peran guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy terdapat pada tabel berikut:
a) Hasil Uji Validitas Instrumen Uji coba Karakter Green Behavior Peserta didik Tabel 3. 4 Hasil Uji Validitas Instrumen Uji Coba
Karakter Green Behaviour Peserta didik
Keterangan No. Item Jumlah
Valid 4,6,7 3
Tidak Valid 1,2,3,5,8,9,10,11 8
Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa pada hasil Uji Validitas Instrumen Kepedulian Peserta didik dalam menjaga lingkungan (green behaviour) hanya terdapat 3 butir pernyataan yang valid, sedangkan item pernyataan yang tidak valid sebanyak 8 butir. Hal ini membuktikan bahwa peneliti masih harus memberikan perbaikan terhadap item pernyataan yang
tidak valid dan menyebarluaskan kembali angket penelitian agar hasil yang terkait dengan penelitian tersebut dapat teruji validitasnya.
b) Hasil Uji Validitas Instrumen Uji coba Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy untuk meningkatkan Karakter Green Behavior Peserta didik Tabel 3. 5 Hasil Uji Validitas Instrumen Uji coba peran guru ips dalam mengimplementasikan Ecoliteracy
Keterangan No. Item Jumlah
Valid 1,2,3,4,6,7,8,10,11 9
Tidak Valid 5,9 2
Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa hasil Uji Validitas Instrumen Peran Guru IPS dalam menumbuhkan karakter green behaviour peserta didik melalui implementasi ecoliteracy, item yang dinyatakan valid pada instrumen ini sebanyak 9 butir, sedangkan yang tidak valid sebanyak 2 butir.
Berbeda dengan instrumen Kepedulian Siswa yang memiliki lebih banyak item pernyataan yang tidak valid. Maka dalam hal ini peneliti dapat merevisi atau membuang item pernyataan yang tidak valid tersebut. Setelah angket diperbaiki dan dianggap layak untuk digunakan, maka peneliti menyebarluaskan kembali angket terhadap sampel penelitian untuk mendapatkan hasil y ang sesuai dengan tujuan penelitian.
B. Uji Reabilitas Instrumen Percobaan
Reliabilitas mengacu kepada keterpercayaan hasil ukur yang mengandung makna kecermatan pengukuran (Saifuddin Azwar, 2007: 4). Sama halnya dengan Suharsimi Arikunto (2010: 178) mengatakan bahwa reliabilitas adalah tingkat keterandalan atau terpercayanya suatu instrumen. Setiap alat pengukuran seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran relatif konsisten dari waktu ke waktu. Reliabilitas instrumen merupakan derajat keajegan skor yang diperoleh oleh subjek penelitian dengan instrument yang sama dalam kondisi yang berbeda. Instrumen yang reliabel artinya dapat dipercaya, sehingga instrumen tersebut dapat digunakan dalam penelitian.
a) Hasil Reabilitas Instrumen ujicoba
Dalam penelitian mengenai “Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy untuk meningkatkan Karakter Green Behavior” instrumen yang telah peneliti rancang diujicobakan terlebih dahulu terhadap beberapa individu diluar sampel penelitian. Hasil dari instrumen uji coba tersebut selanjutnya dilakukan uji validitas, setelah itu tahap selanjutnya instrumen tersebut melalui tahap uji reabilitas. Adapun hasil reabilitas terkait instrumen uji coba tersebut yakni
Tabel 3. 6 Hasil Reabilitas Instrumen Ujicoba Variabel Koefisien
Reabilitas Nilai
Kritis Kesimpulan Karakter Green
Behavior 0,234 0,2960 Tidak
Reliabel Peran Guru IPS dalam
mengimplementasikan Ecoliteracy
0,894 0,2960 Reliabel
Hasil reabilitas uji coba instrumen variabel karakter Green Behavior pada tabel tersebut menunjukkan nilai reabilitas yaitu sebesar 0,234 artinya instrumen dinyatakan memiliki tingkat konsistensi atau derajat keterandalan yang sangat rendah. Instrumen tidak mampu menghasilkan skor konsistensi yang sangat rendah pada setiap item, maka dari itu instrumen yang telah diujicobakan harus diperbaiki kembali sebelum disebarluaskan terhadap sampel penelitian, tujuannya agar item pernyataan yang digunakan layak untuk meneliti karakter green behavior peserta didik.
Sedangkan hasil reabilitas ujicoba instrumen variabel Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy menunjukkan nilai reabilitas sebesar 0,894. Artinya instrumen dinyatakan memiliki tingkat konsistensi atau sederajat keterandalan yang tinggi. Instrumen mampu menghasilkan skor konsisten pada setiap item serta layak digunakan untuk meneliti variabel “Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy”.
3) Memperbanyak Angket
Angket yang sudah diujicobakan di lapangan dan sudah dinilai valid, reliabel dan normal kemudian diperbanyak sesuai dengan jumlah responden yang telah di tetapkan yaitu peserta didik kelas 8.1 sampai dengan 8.9 di SMPN 43 Bandung.
2. Tahap Perizinan Penelitian
Langkah selanjutnya yaitu melakukan perizinan penelitian dilakukan agar penulis dapat dengan mudah melakukan penelitian yang sesuai dengan objek serta subjek penelitian. Adapun perizinan tersebut ditempuh dan dikeluarkan oleh:
a. Mengajukan surat permohonan izin untuk mengadakan penelitian kepada Ketua Prodi Pendidikan IPS FPIPS UPI untuk mendapatkan surat rekomendasinya untuk disampaikan kepada Dekan FPIPS UPI.
b. Mengajukan surat permohonan izin untuk mengadakan penelitian kepadaPembantu Dekan I atas nama Dekan FPIPS UPI untuk mendapatkan suratrekomendasinya untuk disampaikan kepada Rektor UPI.
c. Dengan membawa surat rekomendasi dari UPI, penulis meminta izin penelitian kepada pihak SMPN 43 Bandung.
d. Setelah mendapatkan izin kemudian peneliti melakukan penelitian di tempatyang telah ditentukan yaitu SMPN 43 Bandung.
3. Pelaksanaan Penelitian
Kegiatan dalam melaksanakan penelitian ini didalamnya meliputi:
a. Menyebarkan instrument penelitian dalam bentuk google form yang berupa angket dalam bentuk skala likert kepada responden yang sudah ditetapkan.
b. Pengumpulan kembali angket penelitian tersebut dilakukan secara individu kepada peneliti melalui google form.
3.8 Teknik Pengumpulan Data 3.8.1 Angket (Kuesioner)
Angket yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan menggunakan seperangkat daftar pertanyaan yang telah disusun dan kemudian disebarkan kepada responden untuk memperoleh data yang diperlukan. Dalam mengumpulkan data terkait dengan “Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan ecoliteracy untuk meningkatkan karakter green behaviour peserta didik” peneliti menggunakan Angket untuk dapat menggali banyak informasi dari subjek yang berkaitan secara langsung dengan masalah penelitian yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini.
penelitian angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup, dimana pertanyaan atau pernyataan telah memiliki alternatif jawaban (option) yang tinggal dipilih oleh responden. Adapun responden dapat mengisi angket tersebut melalui google form yang diberikan oleh peneliti. Responden tidak bisa memberikan jawaban atau respon lain kecuali yang telah tersedia sebagai alternative jawaban. Skala yang digunakan dalam angket ini menggunakan skala likert.
Tabel 3. 7 Skor Jawaban Responden
No . Pilihan Jawaban Skor
Favourabl e
1. Selalu/sangat setuju/sangat
baik/sangat tinggi / sangat penting/sangat benar.
5
2. Sering/setuju/baik/tinggi/penting/bena
r. 4
3. Kadang-kadang/kurang setuju/cukup baik/cukup tinggi/cukup penting/cukup benar.
3
4. Hampir tidak pernah (jarang)/tidak setuju/kurang baik/rendah/kurang penting/salah.
2
5. Tidak pernah/sangat tidak setuju/tidak
baik/rendah sekali/tidak penting/sangat salah.
1
Tabel 3.5 Skor untuk jawaban Responden
3.8.2 Observasi
Teknik observasi merupakan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala pada obyek penelitian. Diperkuat Nawawi dan Martini yang menjelaskan observasi merupakan kegiatan pengamatan dan pencatatan yang dilakukan oleh peneliti guna menyempurnakan penelitian agar mencapai hasil yang maksimal (1992, hlm. 74).
Adapun dalam melaksanakan penelitian ini peneliti terlebih dahulu melakukan observasi pra-penelitian, observasi pra penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran permasalahan ecoliteracy yang ada di lingkungan SMPN 43 Bandung. Adapun dalam melaksanakan observasi pra-penelitian ini peneliti tidak terlibat komunikasi secara langsung dengan subjek penelitian. Dalam mengumpulkan informasi peneliti hanya mengamati lingkungan sekolah dengan mendokumentasikan beberapa hal yang dianggap dapat mendukung penelitian.
3.8.3 Studi Dokumentasi
Studi Dokumentasi Studi Dokumentasi adalah mengumpulkan sejumlah dokumen yang diperlukan sebagai bahan data informasi sesuai dengan masalah penelitian (2009, hlm.79). Studi dokumentasi yaitu mencari data mengenai halhal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, dan sebagainya (Arikunto, 2014, hlm.274).
Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan studi documenter untuk menghimpun data-data yang berhubungan dengan variabel penelitian.
Dalam hal ini, studi dokumentasi digunakan untuk melengkapi beberapa data yang dirasakan perlu oleh peneliti dan tidak dapat didapatkan oleh instrument penelitian yang sebelumnya telah dipilih.
3.9 Instrumen Penelitian
Menurut Sugiyono (2015, hlm.148) instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut disebut variabel penelitian. Jadi, yang dimaksud dengan instrumen penelitian adalah alat ukur dalam penelitian. Sama halnya dengan Arikunto (2014, hlm.203) yang mengatakan bahwa instrumen penelitian adalah alat tulis atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam
mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah.
3.9.1 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian
a. Kisi-kisi Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy Disamping hal tersebut Implementasi Materi Ecoliteracy sebagai salah satu upaya menumbuhkan Green behaviour Peserta Didik ini dapat di integrasikan melalui bidang studi di sekolah, pendidikan lingkungan hidup dapat dilaksanakan dengan pendekatan interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner di sekolah (Barlia, 2008:82). Melalui pembelajaran IPS di sekolah di rasa sangat tepat dalam mengajarkan pendidikan lingkungan hidup kepada siswa. Karena kecerdasan Ekologis bersifat kompleks maka diperlukan proses pembelajaran IPS yang bisa mengolah semua potensi peserta didik.
Potensi tersebut terkait dengan bakat dan minat serta pengalaman seharihari. Semua potensi tersebut dapat berkembang bila didukung oleh lingkungan sekitar. Selain itu, pemahaman materi IPS yang di dalamnya memasukkan konsep ekologi, ekologi manusia, dan konsep kesinambungan (sustainability) tidak cukup untuk megembangkan kecerdasan ekologis.
Kecerdasan ekologis akan lengkap apabila unsur-unsur psikomotorik (hand) juga dikembangkan berupa keterampilan praktis dalam kehidupan sehari-hari yaitu hidup selaras dengan pelestarian alam. Dengan demikian, pengembangan literasi ekologis harus komprehensif melalui proses pembelajaran dengan cara mengolah kecerdasan kognitif, emosi dan sosial serta keterampilan dalam melakukan tindakan-tindakan nyata sebagai green behaviour dalam kehidupan sehari-hari. Dikarenakan mata pelajaran PLH di Sekolah Menngah Pertama (SMP) diintegrasikan kedalam beberapa mata pelajaran, salah satunya IPS maka dari itu peneliti ingin mengetahui seberapa besar peran Guru IPS dalam mengimplementasikan ecoliteracy terhadap peserta didik kelas VIII di SMPN 43 Bandung ini. Adapun kisi-kisi instrument dan pernyataan dalam angket mengenai peran guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy ini dibuat untuk mengetahui sejauh mana upaya yang dilakukan oleh guru IPS dalam
menyampaikan pembelajaran yang berkaitan dengan lingkungan hidup Pedoman observasi mengenai peran Guru IPS sebelum dilakukan uji kelayakkan ini terdiri dari item positif sebanyak 12 butir dan setelah dilakukan uji kelayakkan menjadi 15 butir pernyataan. Selain itu setelah di revisi dan dilakukan uji kelayakkan instrumen.
terkait dengan Peran Guru IPS ini menunjukkan beberapa item positif (+) dengan jumlah pernyataan sebanyak 15 butir.
Tabel 3. 8 Kisi-Kisi Instrumen Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy sebelum uji kelayakkan
Variabel Indikator Deskriptor Nomor Item FV UFV Peran Guru IPS dalam
mengimplementasikan Ecoliteracy
(X)
Cara
penyampaian pembelajaran terkait Ecoliteracy.
Pembelajaran ecoliteracy dapat tersampaikan
1
Cara
penyampaian materi
pembelajaran dapat menarik perhatian siswa.
2
Guru IPS menguasai
pembelajaran
ecoliteracy yang dipadukan dengan pembelajaran IPS
3
Guru IPS
menyampaikan pembahasan ecoliteracy melalui nasihat.
4
Guru IPS
menyampaikan permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan pembahasan
materi IPS.
5
Peran guru IPS dalam
menumbuhkan kedisiplinan siswa dalam menjaga
lingkungan.
Inovasi Pembelajaran IPS terkait Ecoliteracy
Sebelum pembelajaran dimulai, Guru IPS mengecek
kebersihan kelas.
menegur Guru
yang siswa
membuang sampah sembarangan.
Guru
menginstrksikan siswa untuk membawa tumblr
Guru IPS memanfaatkan
bekas barang
dalam membuat media
pembelajaran.
Guru IPS mampu melakukan variasi kegiatan
pembelajaran IPS yang dapat dipadukan dengan pembelajaran berbasis
lingkungan hidup ( ecoliteracy).
IPS
Guru
memberikan pesan moral mengenai
6
7
11
8
9
12
melalui cerita, documenter, video animasi.
Contoh Teladan Guru IPS
Guru IPS memberikan
contoh menjaga lingkungan
dengan cara selalu membuang
sampah pada tempatnya.
10
Tabel 3. 9 Kisi-Kisi Instrumen Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan ecoliteracy setelah uji kelayakkan
Variabel Indikator Deskriptor Nomor Item Favourable Peran Guru IPS dalam
mengimplementasikan Ecoliteracy
(X)
Cara
penyampaian pembelajaran terkait Ecoliteracy.
Guru IPS
menyampaikan pembelajaran yang berkaitan dengan
ecoliteracy.
1
Guru IPS mampu menarik perhatian siswa melalui implmentasi pembelajaran terkait ecoliteracy.
2
Guru IPS menguasai materi
pembelajaran IPS yang dipadukan dengan
pembahasan ecoliteracy.
3
Guru IPS
menyampaikan pembahasan ecoliteracy melalui nasihat.
4
Inovasi Pembelajaran IPS terkait Ecoliteracy.
Guru IPS menyampaikan pemahaman
terkait ecoliteracy melalui isu
permasalahan lingkungan.
5
Contoh teladan Guru IPS
Peran guru IPS dalam
menumbuhkan kedisiplinan siswa dalam menjaga
lingkungan.
Guru IPS memberikan tugas pembelajaran daur ulang.
Guru IPS memnfaatkan barang daur ulang dalam
pembelajaran.
Guru IPS menggunakan
variasi beragam
pembelajaran terkait ecoliteracy.
IPS
Guru
memberikan teladan contoh
menjaga dalam
lingkungan.
Guru IPS menegur siswa yang membuang
sampah sembarangan.
Guru IPS menginstruksikan siswa untuk membawa botol minum (tumblr).
Guru IPS
memberikan pesan moral mengenai lingkungan hidup.
6 8
9
10
7
11
12
b. Kisi kisi Instrumen Karakter Green Behavior Peserta didik
Green behaviour adalah perilaku menjaga dan memelihara lingkungan hidup yang dilakukan karena adanya kesadaran dan rasa tanggung jawab atas kelestarian alam semesta. Seperti yang dijelaskan oleh Keraf (2014) bahwa pada dasarnya manusia mempunyai rasa memiliki dan mencintai alam tempat dirinya hidup sehingga seharusnya manusia mampu belajar berhadapan dengan lingkungannya. Green behaviour harus mewujud menjadi tindakan yang dilandasi oleh nilai, norma dan kasih sayang terhadap alam semesta. Pola-pola green behaviour dapatdilihat dari perilaku individu sehari-hari seperti memelihara kebersihan lingkungan rumah, membuang sampah pada tempatnya, mengonsumsi makanan sehat, mendaur ulang sampah rumah tangga, menggunakan listrik dan air seperlunya.
Kisi-kisi berikut disusun untuk mengetahui seberapa baik karakter green behaviour peserta didik kelas VIII di SMPN 43 Bandung. Melalui angket tersebut diharapkan peneliti dapat mengetahui gambaran karakter green behaviour peserta didik tersebut. Angket tersebut disusun berdasarkan indikator-indikator yang dapat mengukur green behaviour. Sebelum dilakukan uji kelayakkan Instrumen terkait
Guru IPS mengingatkan
dalam siswa
menjaga
kebersihan kelas.
IPS
Guru
memberikan pemahaman dalam memanfaatkan sumber daya.
IPS
Guru mengecek
kebersihan Kelas.
13 14
15
Karakter Green behavior ini berisi 12 butir pernyataan dengan 7 butir pernyataan item negatif (-) dan 5 butir pernyataan item positif (+). Adapun angket terkait karakter green behaviour tersebut terdiri dari 15 butir pernyataan positif.
Tabel 3. 10 Kisi-Kisi Instrumen Karakter Green Behaviour Peserta didik sebelum uji kelayakkan
Tabel 3. 11 Kisi Kisi Instrumen Karakter Green Behaviour Setelah uji kelayakkan
Menjaga fasilitas sekolah
Piket kebersihan kelas.
Menjaga kebersihan fasilitas yang ada
lingkungan di sekolah
Melaksanakan dengan piket
penuh rasa tanggung jawab.
10
9
11
Variabel Indikator Deskriptor Nomor Item Favourable Karakter Green
Behaviour Y) (
Membuang
sampah pada tempatnya.
Kesadaran dalam mengurangi penggunaan plastik
Kesadaran dalam mengambil
yang sampah
tercec er serta membuangnya ke tempat sampah.
1
teman Menegur
membuang yang
sampah sembarangan.
6
Memisahkan sampah organik &
anorganik sebelum membuangnya.
11
Menjaga kebersihan
di lingkungan
sekolah dan di rumah.
Memanfaatkan energy dan sumber daya listrik sesuai kegunaannya.
ulang
Daur sampah
Membawa tempat ( tumblr) minum
tanpa
mengkonsumsi minuman kemasan.
2
Menghinda ri penggunaan
plastik kantong
ketika berbelanja.
Memelihara meja kebersihan
dan kursi kelas.
Mengajak teman untuk
melaksanakan piket.
Mengikuti kegiatan kebersihan.
Menghindari perilaku / kegiatan vandalisme.
piket Melakukan
kebersihan kelas
Mematikan alat elektronik yang tidak digunakan.
Menggunakan air sesuai kebutuhan.
15 3
4
5 7
10
8 9
3.10 Validitas dan Reabilitas Instrumen 3.10.1 Pengujian Validitas Instrumen
Validitas menunjukan ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukuran yang menyatakan hasil pengukuran atau pengamatan yang ingin di ukur (Saifuddin Azwar, 2007: 5). Suharsimi Arikunto (2010: 168) menyatakan “validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Suatu instrument dikatakan valid apabila memiliki validitas yang tinggi. Begitu juga sebaliknya suatu instrumen dikatakan kurang valid apabila memiliki validitas yang rendah”. Selain itu, menurut Sugiyono (2009, 121) “validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti”. Menurut Suharsimi Arikunto (2010, 212) terdapat dua macam validitas yaitu validitas logis dan validitas empiris dibagi menjadi dua yaitu validitas konstruk dan validitas isi. Validitas dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan teknik pengujian validitas konstruk, karena instrumen penelitian disusun berdasarkan teori yang relevan dan dirancang dengan menggunakan kisikisi instrumen yang dikonsultasikan kepada dosen pembimbing sebagai ahli (expert judgement), kemudian di uji cobakan dan dianalisis dengan analisis butir.
Mengurangi penggunaan kendaraan.
Membuat
dari kerajinan
koran
sampah Menjual
yang telah didaur ulang.
Ketika berpergian memilih lebih
berjalan untuk
kaki.
12
14
13
Validitas digunakan dengan mengkorelasikan antara skor tiap item dengan skor total. Teknik uji validitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Corrected Item-Total Corelation dengan menggunakan fasilitas Computer Program SPSS For Windows Seri 23.0. Menurut Sugiyono (2009 :179) bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan ≥ 0,3 maka faktor tersebut memiliki construct yang kuat dan memiliki validitas yang baik. Sebaliknya apabila korelasi tiap faktor tersebut ≤ 0,30 maka butir instrument itu tidak valid.
Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik product moment yang dikemukakan oleh Pearson. Dalam penelitian ini, besarnya koefisien korelasi antara dua variabel dirumuskan:
Keterangan:
r
xy = koefisien korelasi antara variabel x dan y x = skor siswa pada butir item yang diuji validitasnya y : skor total yang diperoleh siswaAdapun setelah peneliti memperoleh jawaban responden terkait angket penelitian yang telah disebarkan kepada peserta didik, dengan sampel sebanyak 74 orang. Selanjutnya peneliti melakukan Uji Validitas untuk menguji instrumen yang telah diisi oleh responden tersebut. Peneliti menggunakan IBM SPSS Statictics 23 untuk menguji tingkat validitas angket tersebut.
Dengan menggunakan taraf signifikan α= 0,01 koefisien korelasi yang diperoleh dari hasil perhitungan dibandingkan dengan nilai dari tabel korelasi nilai r dengan derajat kebebasan (n-2), di mana n menyatakan jumlah banyaknya responden di mana :
rhitung > rtabel = valid rhitung < rtabel = tidak valid
Tabel 3. 12 Hasil Uji Validitas Angket Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy
No Koefesien Korelasi r-tabel N 74 Keterangan
1 0,622 0,2977 Valid
2 0,601 0,2977 Valid
3 0,548 0,2977 Valid
4 0,617 0,2977 Valid
5 0,571 0,2977 Valid
6 0,643 0,2977 Valid
7 0,598 0,2977 Valid
8 0,499 0,2977 Valid
9 0,689 0,2977 Valid
10 0,544 0,2977 Valid
11 0,643 0,2977 Valid
12 0,674 0,2977 Valid
13 0,541 0,2977 Valid
14 0,558 0,2977 Valid
15 0,524 0,2977 Valid
Sumber: IBM SPSS Statictics 23
Hasil uji validitas di atas menjelaskan bahwa dari 15 nomor item mengenai Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy yang disebar kepada 74 responden dinyatakan valid. Hal ini dibuktikan dengan keseluruhan item dengan hasil yang menunjukkan bahwa rhitung > rtabel.
Tabel 3. 13 Hasil Uji Validitas Angket Karakter Green Behaviour Peserta didik
No Koefesien Korelasi r-tabel N 74 Keterangan
1 0,429 0,2977 Valid
2 0,432 0,2977 Valid
3 0,555 0,2977 Valid No Koefesien Korelasi r-tabel N 74 Keterangan
4 0,528 0,2977 Valid
5 0,623 0,2977 Valid
6 0,681 0,2977 Valid
7 0,516 0,2977 Valid
8 0,567 0,2977 Valid
9 0,218 0,2977 Valid
10 0,568 0,2977 Valid
11 0,658 0,2977 Valid
12 0,598 0,2977 Valid
13 0,503 0,2977 Valid
14 0,595 0,2977 Valid
15 0,616 0,2977 Valid
Sumber: IBM SPSS Statictics 23
Hasil uji validitas di atas menjelaskan bahwa dari 15 nomor item mengenai karakter green behavior peserta didik yang disebar kepada 74 responden dinyatakan valid. Selaras dengan hasil yang diperoleh pada uji validitas instrumen peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy. Pada item Karakter Green Behavior ini pun hasil keseluruhan item tersebut menunjukkan bahwa rhitung > rtabel.
3.10.2 Reliabilitas
Reliabilitas mengacu kepada keterpercayaan hasil ukur yang mengandung makna kecermatan pengukuran (Saifuddin Azwar, 2007: 4). Sama halnya dengan Suharsimi Arikunto (2010: 178) mengatakan bahwa reliabilitas adalah tingkat keterandalan atau terpercayanya suatu instrumen. Setiap alat pengukuran seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran relatif konsisten dari waktu ke waktu. Reliabilitas instrumen merupakan derajat keajegan skor yang diperoleh oleh subjek penelitian dengan instrument yang sama dalam kondisi yang berbeda. Dalam penelitian ini rumus yang digunakan untuk mencari reliabilitas adalah dengan Alpha cronbach. Suatu instrumen dikatakan reliabel jika nilai cronbach alpha lebih dari 0,6 (Saifuddin Azwar, 2007: 83). Sugiyono (2009: 257)
juga memberikan interpretasi koefisien korelasi dari reliabilitas instrumen yang telah diketahui validitasnya. Interpretasi tersebut yaitu:
Tabel 3. 14 Koefisien Korelasi
Kriteria pengujiannya adalah jika r hitung lebih besar dari r tabel dengan taraf signifikansi pada α= 0,01, maka instrumen tersebut adalah reliabel, sebaliknya jika r hitung lebih kecil dari r tabel maka instrumen tidak reliabel.
Keputusan pengujian reliabilitas instrumen:
Jika rhitung > rtabel, berarti reliabel Jika rhitung ≤ rtabel, berarti tidak reliabel
Tabel 3. 15 Hasil Uji Reliabel Angket Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan ecoliteracy
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
,865 15
Sumber: IBM SPSS Statictics 23
Uji reliabilitas angket peran Guru IPS menggunakan aplikasi SPSS 23. Adapun setelah dianalisis maka diperoleh reliabilitas angket sebesar 0,865.
Sedangkan rtabel untuk N=15 adalah sebesar 0.5140. Dengan demikian maka angket dapat dikatakan reliabel karena rhitung > rtabel. Berdasarkan uraian tersebut yang menunjukkan bahwa koefisien alpha pada angket yang disebar oleh peneliti memimiliki sifat reliabel yang sangat kuat maka dari itu dapat digunakan dalam mengumpulkan data penelitian terkait.
Tabel 3. 16 Hasil Uji Reliabel Angket Karakter Green Behaviour
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
,828 15
Sumber: IBM SPSS Statictics 23
Uji reliabilitas angket karakter green behavior peserta didik menggunakan aplikasi SPSS 23. Adapun setelah dianalisis maka diperoleh reliabilitas angket sebesar 0,828.
Sedangkan rtabel untuk N=15 adalah sebesar 0.5140. Dengan demikian maka angket dapat dikatakan reliabel karena rhitung > rtabel. Berdasarkan uraian tersebut yang menunjukkan bahwa koefisien alpha pada angket yang disebar oleh peneliti memimiliki sifat reliabel yang sangat kuat maka dari itu dapat digunakan dalam mengumpulkan data penelitian terkait.
3.11 Teknik Analisis Data
Setelah peneliti melakukan penelitian dilapangan dan mengumpulkan datadata maka langkah selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan analisis data.
Teknik analisis data Menurut Sugiyono (2009: 147) analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul.
Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompakan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif karena data yang diperoleh pada penelitian ini berwujud angka (data kuantitatif). Analisis data mencakup seluruh kegiatan mendeskripsikan, menganalisis, dan menarik kesimpulan dari semua data kuantitatif yang terkumpul dalam penelitian ini.
Data yang telah dikumpulkan merupakan data yang masih perlu diolah dan dinalisis lebih lanjut. Data awal masih berupa uraian deskriptif mengenai subjek yang diteliti seperti pengetahuan, pengalaman, pendapat maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti. Data tersebut kemudian dianalisis sehingga memiliki makna mendalam. Tujuan dari analisis data yakni menyederhanakan seluruh data yang telah terkumpul, kemudian menyajikannya dalam susunan yang sistematis. Kemudian mengolah dan menafsirkan atau memaknai data yang sebelumnya telah dikumpulkan.
Menurut Sugiyono (2008:207) terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan dalam menganalisis data, diantaranya:
1. Mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden.
2. Mentabulasi data berdasarkan variabel dan seluruh responden.
3. Menyajikan data setiap variabel yang diteliti.
4. Melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, 5. Melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis.
3.11.1 Uji Normalitas
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diteliti berdistribusi normal atau tidak. Menurut Sugiyono (2011) statistis prametris mensyaratkan bahwa setiap variable yang akan dianalisis harus berdistribusi normal. Peneliti menggunakan SPSS dalam menghitung dengan one sample Kolmogorov smirnov test, dasar pengambilan keputusan pada uji ini adalah sebagai berikut:
a) Jika hasil uji memiliki nilai probabilitas > 0,05 maka data dinyatakan terdistribusi normal
b) Jika hasil uji memiliki nilai probabilitas < 0,05 maka data dinyatakan tidak terdistribusi normal
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif yaitu dengan menganalisis data tang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku secara umum (Sugiyono, 2010, hlm. 47). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan aplikasi SPSS
untuk mempermudah dan mempercepat pengolahan data dengan menggunakan dua teknik pengambilan cara keputusan dalam analisis.
a. berdasarkan nilai signifikan, jika nilai signifikan < 0,05, maka terdapat pengaruh, sebaliknya jika nilai signifikan > 0,05 maka tidak terdapat pengaruh
b. berdasarkan tanda bintang (*) yang diberikan SPSS, jika terdapat tanda bintang pada pearson correlation maka antara variable yang di analisis terjadi korelasi, sebaliknya jika tidak terdapat tanda bintang pada pearson correlation variable yang di analisis tidak terjadi korelasi.
3.11.2 Uji Hipotesis
Analisis hipotesis pada penelitian ini menggunakan korelasi product moment, dengan perhitungan melalui SPSS for Windows seri 24.0 yang menghasilkan koefisien korelasi (rxy) antara Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy dengan Karakter Green Behavior. Analisis uji hipotesis bertujuan untuk mengetahui apakah hipotesis penelitian yang telah disusun dapat diterima atau tidak.
Dimana analisis uji hipotesis tidak menguji kebenaran hipotesis, tetapi menguji hipotesis tersebut ditolak atau diterima. Untuk menguji hipotesis yang telah diajukan dilakukan langkah pengujian sebagai berikut:
a. Menghitung Koefisien Korelasi
Menurut Sudjana (2005, hlm. 367) ukuran yang dipakai untuk mengetahui derajat hubungan, terutama untuk data kuantitatif dinamakan koefesien korelasi.
Analisis korelasi yaitu digunakan untuk menyatakan derajat keeratan hubungan antar variabel. Menurut Arikunto (2010, hlm. 313) koefesien korelasi adalah suatu alat statistic yang digunakan untuk membandingkan hasil pengukuran dua variable yang berbeda agar dapat menentukan tingkat hubungan antara variablevariabel ini.
Tujuan dilakukannya analisis korelasi ini antara lain
a.
Untuk mencari bukti terdapat tidaknya hubungan antar variableb.
Bila sudah ada hubungan, untuk melihat besar kecilnya hubungan antar variablec.
Untuk memperoleh kejelasan dan kepastian apakah hubungan tersebut berarti meyakinkan atau signifikan atau tidak. (Somantri dan Muhidin, 2011, hlm.206)
Dalam uji penelitian kali ini, peneliti menggunakan rumus koefesien korelasi product momet person (r), yang digunakan untuk menemukan kekuatan hubungan antara dua variable yang telalh diukur pada skala interval dan skala rasio. Rumus dari uji tersebut adalah:
b. Keberartian Korelasi
Keberartian korelasi dimaksudkan untuk mengetahui berarti tidaknya hubungan antara variabel X (Peran Guru IPS dalam mengimplementasikan Ecoliteracy) dengan variabel Y (Karatkter Green Behavior Peserta didik), dengan menggunakan kriteria interpretasi koefisien korelasi. Koefisien korelasi biasanya berkisar antara +0,00 s/d 1,00 tanda (+) berarti menunjukkan arah hubungan positif, tanda (-) menunjukkan arah hubungan negatif. Nilai koefisien korelasi yang telah dihitung kemudian diinterpretasikan berdasarkan tabel berikut ini:
Tabel 3. 17 Kriteria Interpretasi Koefisien Korelasi Sugiyono (2014, hlm. 257)
3.11.3 Uji Signifikansi Korelasi
𝑡𝑡 = 𝑝𝑝 � 𝑛𝑛 − 2 1 − 𝑝𝑝2
(Sugiyono,2012:257) Keterangan:
t : Nilai t hitung
p : nilai koefisien korelasi
n : banyaknya data atau jumlah sampel
Setelah mendapatkan nilai 𝑡𝑡ℎ𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑛𝑛𝑖𝑖 dari uji signifikansi korelasi, kemudian hasil perhitungan tersebut dibandingkan dengan nilai 𝑡𝑡𝑖𝑖𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 setelah itu dilakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian. Jika 𝑡𝑡ℎ𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑛𝑛𝑖𝑖 > 𝑡𝑡𝑖𝑖𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 maka 𝐻𝐻𝑂𝑂 ditolak dan 𝐻𝐻1 diterima dan apabila Jika 𝑡𝑡ℎ𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑛𝑛𝑖𝑖 < 𝑡𝑡𝑖𝑖𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 maka 𝐻𝐻𝑂𝑂 diterima dan 𝐻𝐻1 ditolak.