Vol. 1, No. 3, Desember 2021 Available at: pspindonesia.org
Penyebaran Yudaisme di Masa Intertestamental dari Sudut Pandang Peristiwa Pentakosta Kis 2:9-11
Hanny Setiawan
1[email protected]
Abstract
Acts 2:9-11 shows a list of the nations who were present at Pentecost. This article examines the relationship between these nations and the spread of Judaism during intertestamental periods. The study was conducted by looking at history with a focus on the pattern of the spread of Judaism from one era to another, and the pattern of geographical distribution.
Based on these patterns, the research results of this article conclude two main things: first, the presence of these nations has become part of God's plan to fulfill the Great Commission (Matthew 28:19-20), and the Pentecostal Commission (Acts 1: 8); second, the Jewish education system after the exile of 586 BC was the key to the successful spread of Judaism in the Intertestamental Period.
Keywords: intertestamental, judaism, Acts 2:9-11, jewish education system, pentecost Abstrak
Kisah Para Rasul 2:9-11 memperlihatkan daftar bangsa-bangsa yang hadir dalam peristiwa Pentakosta. Artikel ini meneliti hubungan antara bangsa-bangsa tersebut dengan penyebaran Yudaisme selama masa intertestamental. Penelitian dilakukan dengan melihat sejarah dengan fokus kepada pola penyebaran Yudaisme dari satu era kepada era lain, dan pola penyebaran secara geografis. Berdasarkan pola-pola tersebut, hasil penelitian artikel ini menyimpulkan dua hal utama : pertama, kehadiran bangsa-bangsa tersebut sudah menjadi bagian dari rencana Allah untuk memenuhi Amanat Agung (Mat 28:19-20), dan Amanat Pentakosta (Kisah Para Rasul 1:8); kedua, sistem pendidikan Yahudi setelah masa pembuangan 586 BC adalah kunci keberhasilan penyebaran Yudaisme di Masa Intertestamental.
Kata kunci : intertestamental, yudaisme, kisah para rasul 2:9-11, sistem pendidikan Yahudi,
pentakosta
1
STT Berita Hidup
PENDAHULUAN
Kisah Para Rasul (Kis.) adalah buku sejarah penting untuk melihat bagaimana misi Allah dilanjutkan setelah masa Yesus Kristus. Ditulis sekitar tahun 63 M oleh Lukas, Kis adalah buku kedua setelah Injil Lukas. Kedua buku Lukas tersebut bisa dilihat sebagai buku perbandingan antara apa yang dilakukan Yesus, dan para rasul. Apa yang dilakukan Yesus di Injil Lukas, hal yang sama dilakukan para rasul di Kis. Artinya, dalam Kis, para rasul diperlihatkan mampu untuk meneruskan tongkat estafet misi Allah. Lukas menunjukkan bahwa para Rasul diberi janji untuk diperlengkapi dengan kekuasan (δύναμις, dunamis) (Luk 24:49) untuk dapat menyelesaikan “Amanat Pentakosta” dalam Kisah 1:8. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi- Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Janji yang digenapi di Kis 2:4 “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus…”
memampukan para rasul untuk melanjutkan misi Allah. Setelah peristiwa kepenuhan Roh Kudus di hari Pentakosta, Kis 2:9-11 memperlihatkan daftar nama bangsa-bangsa (15 bangsa), yaitu: Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapodakia, Pontus, Asia, Frigia, Pamfilia, Mesir, Libia, Roma, Kreta, dan Arab. Orang-orang dari ke-15 bangsa inilah yang akhirnya menjadi “buah sulung Pentakosa.” Kis 2:38-41 mencatat 3000 orang menerima Yesus Kristus untuk pengampunan dosa, menerima Roh Kudus, dan dibaptis. Sebagian dari ke-3000 orang ini diasumsikan kembali ke lima belas bangsa dengan membawa perubahan iman dari Yudaisme tradisional menjadi Kristen. Orang-orang inilah yang akhirnya membawa berita Injil kepada bangsa-bangsa. Dari 1 Yesus sebagai benih (Yoh 12:24), misi Allah ditangkap dan dikerjakan oleh 120 orang di loteng Yerusalem (Kis 1:15), dan akhirnya menjadi 3000, setelah itu api misi menjalar sampai kelima belas bangsa. Menurut estimasi Josephus, jumlah orang farisi di Palestina waktu itu sekitar 6000 orang. Data ini memberikan gambaran yang lebih nyata peran 3000 petobat baru di hari Pentakosta adalah sesuatu yang signifikan.
1Dari kelima belas bangsa itulah Injil tersebar sampai kepada bangsa-bangsa. Hal ini sesuai dengan Amanat Agung Mat 28:19-20, “Pergi jadikanlah semua bangsa muridKu…”
Orang-orang dari ke-15 bangsa ini disebutkan dalam Kis 2:11 terdiri dari dua golongan yaitu orang orang Yahudi dan penganut agama Yahudi (proselit). Proselit menurut
1 Craig S. Keener, The IVP Bible Background Commentary - New Testament (Downers Groove, Illinois: InterVarsity Press, 1993), 330 Act 2:41 explanation.
Paulus Purwoto ada dua jenis proselit asli (ger tsedeq), dan pasif.
2Berasal dari bahasa Yunani proselytos, proselit berarti umum pendatang atau “resident alien”, dan “sojourner in the land”
3Pada awalnya, di jaman PL, orang asing dapat tinggal bersama orang Yahudi tanpa harus melakukan konversi ke Yudaisme (Im 24:22, Ul 10:19, Im 19:33-34). Tetapi, hal ini berubah sejak era intertestamental. Eugene P. Heidman mengatakan, sebagai berikut:
By the time of the intertestamental period, the meanings of ger and proselytos had changed. Both were employed to denote against those Gentiles who undertook the complete observance of the Jewish law and were admitted into full fellowship with Israel. For proselytization three things were necessary, (1) circumcision (in the case of males), (2) baptism (for ritual purification), (3) the offering of sacrifice."
Proselytes were no longer seen as Gentile "strangers" but as "newborn" members of the Jewish commuity.
4Menurut Arie De Kupier, Yahudi diaspora sangat aktif memperoleh anggota-anggota baru.
Terutama orang Yahudi diluar palestina yang telah menggalami asimilasi dalam dunia Hellenis.
5Usaha proselitisme semakin diperkuat dengan adanya kitab suci Ibrani terjemahan septuaginta
6. Hal ini membuat terjemahan septuaginta disebut terjemahan “missioner”
7Harianto GP menguatkan pendapat De Kupier dengan menyebut Israel sebagai umat yang missionaris.
8Selama masa intertestamental, orang Yahudi menggunakan apa yang sudah ada sebelumnya untuk menjadi alat proselitsme, yaitu sinagoge, literatur-literatur PL, dan kesaksian pribadi.
9Kehadiran orang-orang Yahudi dan proselit pada hari Pentakosta di Kis 2:9-11 bukanlah sebuah kebetulan. Sebuah desain strategis Allah terlihat dari pertobatan 3000 orang (Kis 2:41) dari kotbah perdana Pentakosta oleh Petrus (Kis 2:14). Dengan mempelajari sejarah Yahudi diaspora di masa intertesmantal, desain strategis Allah
2 Paulus Purwoto, “Makna Proselitisasi Di Masa Intertestamental Bagi Misi Gereja Masa Kini,”
Epigraphe - Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani 4, no. 2 (2020).
3 Eugene P Heideman, “Proselytism, Mission, and the Bible,” International Bulletin of Missionary Research 20, no. 1 (1996): 1–2.
4 Ibid.
5 Arie De Kupier, Missiologia (Malang: BPK Gunung Mulia, 2018), 30.
6 Craig A. Evans and Stanley E. Porter, Dictionary of The New Testament Background (Downers Groove, Illinois: InterVarsity Press, 2000), 1100. The label “Septuagint” comes from the account in the Letter of Aristeas of seventy - actually seventy two - Jewish scholars who were purportedly involved in the tranlation of the Jewish Bible into Greek.
7 De Kupier, Missiologia, 31.
8 Harianto GP, Teologi Misi, 5th ed. (Yogyakarta: Andi Offset, 2017), 203.
9 Ibid., 204.
diperlihatkan dari satu imperium ke imperium selanjutnya selama 400 tahun sebelum Kis 2:9-11. Nabi Maleakhi yang menulis buku PL terakhir sebelum memasuki periode intertestamental memberikan pesan khusus untuk orang-orang Yahudi sebagai bekal perjalanan selama masa transisi PL-PB. Mal 4:4, “Ingatlah kepada Taurat yang telah Kuperintahkan kepada Musa, hamba-Ku, di gunung Horeb untuk disampaikan kepada seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum.” Taurat, Musa, ketetapan- ketetapan, dan hukum-hukum yang disebutkan merujuk kepada sistem kepercayan Yahudi yang dikenal sebagai Yudaisme. Mubarak dalam studi perspektif Islam mengenai Yahudi mengakui bahwa Yahudi adalah umat nabi Musa, dan Taurat adalah kitab suci.
10Hal ini berarti, sistem kepercayaan Yahudi sudah sangat lengkap untuk diakui sebagai agama.
Sistem kepercayaan Yahudi ini terus terjaga karena sistem pendidikan agama Yahudi yang unik dan berbeda dari sistem pendidikan Yunani-Romawi. Pendidikan Yudaisme oleh Reverend G. H Blackburn disebut lebih baik, bahkan juga menyatakan bahwa pendidikan Yunani-Romawi sudah gagal:
Many writers appear to have assumed that we in the Western world owe everything in the field of education to ancient Greece and Rome. While in no way minimizing our debt to both, our debt to ancient Israel is greater. In the final analysis, the educational systems of Greece and Rome failed, while that of ancient Israel succeeded. The reason for this is to be found in the realm of moral values. Education in ancient Israel was essentially religious. It was concerned with people, both young and old, and their right relationship to God.
11Selama masa intertestamental, Yahudi diaspora tidak kehilangan iman karena memiliki sistem pendidikan yang berdasarkan keluarga, sinagoge, bahkan akademis yang terintegrasi dengan pendidikan agama Yahudi. Blackburn dengan tepat mengatakan mengatakan bahwa pendidikan di Ibrani kuno pada dasarnya adalah pendidikan bersifat agama (religious).
Artinya, dalam pendidikan Yahudi, Tuhan tidak bisa dipisahkan secara metafisis (what is the ultimate reality), epistimologis (what is the nature of knowledge), maupun aksiologis (what is the value).
1210 Mubarak, “Yahudi Dan Islam Dalam Lintas Sejarah,” Jurnal Al-Adyan 6, no. 2 (2019).
11 H. G. Reverend Blackburn, “The Aims Of Education In Ancient Israel,” International Journal of Christianity and Education 1 (1966).
12 Khoe Yao Tung, Filsafat Pendidikan Kristen - Meletakkan Fondasi Dan Filosofi Pendidikan Kristen Di Tengah Tantangan Filsafat Dunia (Yogjakarta: Penerbit Andi, 2013), 6–16.
Artikel ini menganalisa deduksi penyebaran Yudaisme di periode Interstamental dengan hipotesa bahwa daftar bangsa-bangsa di Kis 2:9-11 tidak terjadi secara acak, dan tidak memiliki arti teologis. Penelitian dari artikel ini menyimpulkan bahawa selama 400 tahun di masa transisi PL-PB, Yahudi bukan hanya mampu bertahan tapi justru berkembang karena proselit, dan sistem pendidikan Yahudi yang ada
13. Sebuah rekonstruksi historis teologis dipresentasikan sebagai bagian dari kesimpulan untuk meletakkan dasar trajektori eskatologis yang dapat digunakan untuk penelitian-penelitian lebih lanjut.
METODE
Metode penelitian kualitatif dengan studi literatur untuk rekonstruksi data-data sejarah dipergunakan yang secara desktriptif naratif dipresentasikan. Variabel utama yang diteliti adalah sejarah komunitas Yahudi diaspora di masa intertestamental, dan dua variabel yang mendukung, yaitu sejarah proselit dan sistem pendidikan Yahudi. Analisis dilakukan dengan penekanan untuk mencari makna dan pola dari setiap data-data yang ditemukan.
Penelitian dilakukan secara independen.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Periode intertestamental adalah masa antara Perjanjian Lama Perjanjian Baru.
Periode intertestamental dimulai dari Nehemia dan Maleakhi (425 BC). Selama periode ini perubahan-perubahan signifikan terjadi mulai dari dinasti yang memerintah, wajah Eropa yang berubah, bangsa-bangsa Asia dan Eropa yang berubah, politik dan agama Yahudi pun mengalami dinamika. Raymond F. Stuburg berpendapat ada peradaban-peradaban baru yang muncul di masa intertestamental.
14Dari pemerintahan Persia sampai ke pemerintahan Romawi, keadaaan masyarakat Yahudi tidak lagi sama seperti masa Maleakhi.
15Lima periode besar pemerintahan dalam 400 tahun yang dapat menjadi kerangka untuk memotret perjalanan diaspora Yahudi. Diaspora Yahudi inilah yang pada dasarnya menjadi
“misionari” perkembangan Yudaisme,
Yudaisme lahir setelah Israel dan Yehuda mengalami pembuangan ke Babilonia.
Raymond F. Stuburg menyatakan:
13 Istilah Yahudi, Ibrani dan Israel tidak dibedakan dalam konteks artikel ini penggunaan istilah Yahudi digunakan merujuk kepada fakta sejarah bahwa bagian Israel yang pulang setelah pembuangan Babel 586 adalah orang-orang Yehuda, kerajaan Selatan.
14 Raymond F. Stuburg, Introduction to the Intertestamental Period (St. Louis, Missouri: Concordia Publishing House, 1975), 8.
15 Ibid., 9.
Judaism has its birth and development in the years between 605 B. C., the date of the first Babylonian deportation by Nebuchadnezzar, and 538 B. C., when the decree of liberation was issued by Cyrus.
16Kelima pemerintahan masa interstestamental adalah Pemerintahan Persia (424 – 331 BC), Alexander Agung (331 –323 BC), Ptolemaus & Selecus (323 –167 BC), Kemerdekaan Yahudi – Makkabe & Hasmonean (167 BC – 63 BC), Pemerintahan Romawi (63-4 BC).
17Tinjauan Historis Teologis Pemerintahan Masa Intertestamentalia
Periode Intertestamentalia adalah masa persiapan kegenapan waktu yang dikatakan Paulus dalam Gal 4:4. Kelahiran Yesus Kristus adalah kegenapan waktu (fulness of time).
Kata genap, atau fullness berasal dari kata πλήρωμα, plērōma (dari kata dasar πληρόω, plēroō) yang memiliki rentang arti dari menyelesaikan, merampungkan, menggenapi, melengkapi, dan mengisi yang kosong. Dari konteks ini, masa intertestamentalia adalah masa persiapan. Seperti nubuatan Maleakhi 4:5, “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.”, maka pelayanan Yohanes pembaptis adalah pelayanan yang menyiapkan kelahiran dan pelayanan Yesus Kristus (Mat 17:10-13, Mrk 9:11-13, Luk 1:16-17). Yanto Paulus Hermanto melihat Mal 3:1 “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan- Ku!..” merujuk kepada Yohanes Pembaptis.
18Artinya, setiap pemerintahan masa intertestamentalia dapat dilihat sebagai masa yang dipakai Tuhan untuk menyiapkan kedatangan Yesus Kristus. Jadi, yang dimaksud
“masa diam” yang seringkali dipakai untuk mendeskripsikan masa transisi PL-PB bukan berarti Tuhan tidak bekerja dan hanya berdiam diri. Tetapi, dimasa itu meskipun tidak ada perkataan-perkataan firman yang ditulis dan dimasukan dalam Kanon Alkitab, agenda- agenda Kerajaan Surga dinyatakan melalui kerajaan-kerajaan dunia, dan kejadian-kejadian sejarah yang terjadi. Sehingga, mengenali makna (analisa) kehadiran setiap pemerintahan masa intertestamentalia tidak hanya dibatasi maka sejarah, politik, ataupun sosial budaya, tetapi juga makna profetis dan teologis yang terkandung dalam sejarah itu sendiri. Yanto menyimpulkan dalam penelitiannya, sebagai berikut:
16 Ibid., 11.
17 Aoran - Golan, The Illustrated Bible Dictionary I (Illinois: InterVarsity Press, 1988), 271–274.
18 Yanto Paulus Hermanto, “Karya Allah Pada Masa Intertestamen,” Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 3, no. 2 (2019): 162.
Dari runtutan sejarah dan berdasarkan beberapa teolog yang mengaitkan mengenai sejarah ini dengan campur tangan Allah, maka penulis meyakini bahwa masa dari Maleakhi (432 M) hingga Tuhan berbicara kepada imam Zakharia bapaknya Yohanes pembaptis merupakan masa Allah berkarya secara fantastis.
Allah sedang mempersiapkan sesuatu hal yang besar bagi seluruh umat manusia.
Allah tidak berdiam diri, justru Allah sedang merajut masa depan manusia untuk kekekalan.
19Pertama, pemerintahan Persia dalam sejarah Israel tidak hanya dimulai dimasa intertestamentalia tetapi tercatat sejak Persia mengalahkan Babilonia (536 BC). Donald W Ekstrand memperkirakan kurang lebih 200 tahun total Persia menguasai dan mempengaruhi Israel (536-336 BC)
20. Kemenangan Persia terhadap Babilonia bukan hanya mengubah peta politik, tetapi bagi Israel adalah sebuah penggenapan nubuatan nabi Yeremia setelah masa 70 tahun, “Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini.” (Yer 29:10). Tokoh sentral yang dipakai Tuhan untuk menggenapi Firman-Nya adalah Koresh, raja Persia (Yes 45:1-4). Berdasarkan keputusan Korseh, Zerubabel Bin Sealtiel (Ez 4:5, Hag 1:1, Za 1:1), Ezra (1:5; 2:6-7), Nehemia (Neh 2:18) bisa kembali pulang dan mulai membangun kembali tembok Yerusalem, Bait Suci, menghidupkan ibadah bagi Allah Israel.
Ezra and Nehemiah record three returns to Palestine by Jews from exile countries. The first return took place under Cyrus in 538 B. C. (Ezra 1:5; 2:67); the second was led by Ezra in 457 B. C., and the third by Nehemiah in 444 B. C. The various groups that eventually returned to Palestine from Babylonia numbered over 50,000 people, among whom were 4,229 priests (Ezra 2:2-67).
Bagi orang Israel, Bait Suci adalah pusat penyembahan kepada Allah Israel. Wisnu Prabowo melihat bahwa dari Tabernakel, sampai era Yesus Kristus, Bait Suci tetap menjadi pusat agama Yahudi, meskipun terjadi degradasi kesakralan penggunakan di masa Bait Suci Herodes.
21Selama pemeritahan Persia, Yahudi diaspora ke 128 provinsi Persia selama 138
19 Ibid.
20 Donald W. Ekstrand, The Intertestamental Period and Its Significant Upon Chistianity.
http://www.thetransformedsoul.com/additional-studies/spiritual-life-studies/the-intertestamental-period-and- its-significance-upon-christianity. Diakses terakhir 17/11/2021.
21 Wisnu Prabowo, “Perjalanan Sejarah Bait Suci Dari Perjanjian Lama, Masa Intertestamental Hingga Masa Pelayanan Yesus,” Teologi Berita Hidup 4, no. 3 (2020).
tahun dari 140 tahun masa kekuasaan Persia.
22Selama masa Persia, melalui Bait Suci yang kembali dibangun Yudaisme diaspora terkoneksi (kembali memiliki kiblat), berkembangnya sinagoge-sinagoge membuat Yudaisme semakin berkembang, dan juga ahli-ahli Taurat juga semaking banyak karena sistem pendidikan Yahudi yang semakin akademis.
Robert W. Pazimo mentabulasikan pendidikan di zaman Perjanjian lama. Tabel ini bisa dipakai untuk menjadi perbandingan, sekalian membuka pengertian pentingnya sinagoge sebagai pusat agama sekaligus pusat pendidikan.
23Tabel 1
Penddidikan di Zaman Perjanjian Lama Fokus Terhadap Para Agen Pendidikan
Umat
Bangsa Nabi Imam Orang
Bijak
Ahli Taurat – Guru
Rabi
“Doktor Taurat”
Tujuan
Pembebasan Populer
Merealisasikan pembebasan
Meneruskan Tradisi
Kehidupan yang lebih baik
Menafsirkan Kitab Suci (Ezra 7:6,10)
KontenKejadian Sejarah
Perspektif historis yang antisipatif
Praktik agama, dan hukum- hukum
Nasihat bagi kehidupan sehari-hari
Tafsiran- tafsiran teologis
Metode
Memori, Budaya Populer
Firman, tindakan simbolis
Taurat:
perayaan, penyampaian, dan
penerapan
Hikmat populer
Pengajaran
Institusi
Bangsa itu sendiri, komunitas
Sekolah para nabi
Bait Allah Terkadang dalam lingkungan istana
Sinagoge
G. H. Blackburn melihat signifikansi sinagoge sebagi pusat agama (penyembahan), dan instruksi bagi Yahudi diaspora, terutama dimasa pembuangan, dimasa Bait Suci dihancurkan Babilonia.
With the destruction of the Temple the sacrificial system ceased. But faithful Jews still wanted to worship God, and so, during the Exile, the synagogue came into
22 Stuburg, Introduction to the Intertestamental Period, 14.
23 Robert W. Pazmino, Fondasi Pendidikan Kristen - Sebuah Pengantar Dalam Perspektif Injili, ed.
Redaksi BPK Gunung Mulia, Ke-3. (Bandung: STT Bandung, 2016), 16.
being as an alternative place of worship and instruction. "Without his synagogue the Jew would have perished."
24Blackburn berpendapat bahwa selama masa intertestasmental pendidikan Yahudi (agama dan umum) berpusat di Sinagoge. Tabel berikut memperlihatkan periodisasi pendidikan Yahudi, dan bentuk-bentuknya:
25Dengan dibangunnya kembali Bait Suci di Yerusalem, dan berkembangnya Sinagoge di pembuangan, yang kemudian berkembang disetiap tempat orang-orang Yahudi diaspora ada, masa pemerintahan Persia dapat dilihat sebagai masa disiapkannya agama Yahudi secara global. Selama masa transisi tersebut, hubungan emosional orang-orang Yahudi diaspora tetap terjaga karena masih memiliki kiblat di Bait Suci Yerusalem.
Meskipun demikian, secara fungsional mereka masih bisa mengkespresikan iman kepada Allah Israel melalui sinagoge.
Kedua, Alexander Agung yang hanya 10 tahun memerintah Makedonia, Yunani mampu meletakkan dasar budaya global yang disebut budaya Helenis. Pola pemikiran
24 Blackburn, “The Aims Of Education In Ancient Israel.”
25 Ibid.
Aristotelian sangat mempengaruhi Alexander Agung yang adalah murid langsung dari Aristoteles, salah satu dari tiga pemikir terbesar Yunani bersama dengan Plato, dan Sokrates
26. Budaya Helenis yang adalah cikal-bakal dari budaya barat klasik memiliki pengaruh bukan kepada Yunani, Romawi, Eropa, tetapi sampai saat ini semangat dan pemikiran Aristotelian mampu bertahan dan mempengaruhi budaya global. Pola pikir Aristotelian berpusat kepada kebahagian diri sendiri, perilaku berdasarkan kebiasaan, penelitian berbasis data, dan etika jalan tengah (golden mean).
27Robert R. Boelhke mengutip Aristotoles sebagai berikut:
Oleh karena itu harus kita periksa kesimpulan yang dikemukakan murid dengan mengujinya menurut data-data tertentu. Apabila kesimpulan tersebut sesuai dengan data itu, maka ia dapat diterima. Kalau tidak, maka ia harus kita anggap suatu teori.
28Perjumpaan Aleksander Agung dengan budaya Yunani dimulai dari kecintaan sang ayah Filipus dari Makedonia akan budaya Yunani. Melalui guru-guru seperti Simachus, Iliad dari Homer, sampai kepada Aristoteles di umur tiga belas Aleksander secara intensif belajar budaya Yunani mulai dari literatur, seni, agama, budaya dan peradaban, sehingga dia sendiri disebut “Rasul Helenisme” (apostle of hellenism)
29Alexander muda (sekitar 20 tahun) sejak naik takhta berambisi untuk mengalahkan Persia. Sejak mengalahkan Persia 334 SM, Alexander terus bergerak terus bergerak ke timur Afganistan, Uzbekistan dan Tajikistan, kemudian ke selatan menaklukan Rusia, India, Asia kecil, Syria, Mesir dan akhirnya membawa Palestina di bawah pemerintahannya.
Dan Alexander selalu memperkenalkan budaya Yunani
30disetiap tempat yang diduduki.
Kawin campur antar tentara Makedonia dengan wanita-wanita pribumi juga menjadi akibat Helenisme berkembang sangat pesat di masa Alexander Agung.
31Perjumpaan Alexander dan orang-orang Yahudi dimulai ketika Alexander hendak mengambil alih Palestina.
Raymond F. Stuburg mengutip Jospehus dan Talmud mengatakan ketika Alexander dalam perjalanan ke Yerusalem, dia melihat Jaddua Imam Besar dengan jubah imam beserta orang
26 Tony Lane, Runtut Pijar : Tokoh Dan Pemikiran Kristen Dari Masa Ke Masa, 11th ed. (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2016), 3.
27 Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran & Praktek Pendidikan Agama Kristen - Dari Yohanes Amos Comenius Sampai Perkembangan PAK Di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 8–
12.
28 Ibid., 12.
29 Stuburg, Introduction to the Intertestamental Period, 18.
30 Arti kata helenistik adalah bersifat Yunani. Helenisme berarti menjadi semua menjadi seperti Yunani.
31 Hermanto, “Karya Allah Pada Masa Intertestamen.”
banyak menemui dia. Ketika Alexander melihat dari dekat jubah Imam Besar yang warna- warni, dan ada Nama Tuhan, dia memberi hormat kepada Imam Besar, dan menyembah Nama Tuhan. Bahkan, Alexander mengaku melihat imam itu dalam mimpi. Setelah Jaddua memperlihatkan nubuatan Daniel, bahwa Alexander adalah orang yang disebutkan, Alexander percaya nubuatan Daniel. Sejak itu, Alexander Agung menjadi teman bagi orang- orang Yahudi.
He told the high priest he had seen him in a dream. When the high priest showed Alexander the passage in the Book of Daniel predicting that he would be the first king of Greece and would destroy the Persian Empire, Alexander believed it was a prophecy about him. From that time on Alexander became a friend of the Jews.
32Di masa Aleksander Agung, orang-orang Yahudi diijinkan untuk tinggal dikota- kota yang dibangun.
33Di kota-kota itu orang Yahudi diaspora mulai fasih berbahasa Yunani, dan mereka berkelompok dalam satu himpunan yang disebut Politeuma.
34Politeuma membuat orang-orang Yahudi memiliki hak, dan menjalankan kehidupan sesuai dengan kepercayaan, dan budayanya. Otoritas legal diberikan kepada Politeuma oleh penguasa lokal yang ada. Gert Luderitz mendefinisikan Politeuma sebagai berikut:
A politeuma was a recognized, formally constituted corporation of aliens enjoying the right of domicile in a foreign city and forming a separate, semiautonomous civic body, a city within the city;… It had to be officially authorized by the local ruler or civic body presumably by a written charter setting out its rights and constitution, though no example of such a document survices
35Dalam peradabahan Yunani Kuno (sebelum Alexander), Sudrajat mengatakan kota- kota Yunani sangat otonom, dan memiliki kebebasan sepenuhnya untuk menentukan sistem pemerintah, dan mengatur dirinya sendiri.
PeradabanYunani mempunyai tiga karakteristik yaitu: kekotaan, bourgeois, dan duniawi Kekotaan berarti bahwa polis-polis di Yunani merupakan sebuah negara-kota (city-state) yang merdeka dan tidak menjadi bagian dari sebuah impe- rium besar. Hal ini menyebab-kan polis-polis Yunani memiliki kebebasan untuk
32 Stuburg, Introduction to the Intertestamental Period, 19 Beberapa scholar menolak keabsahan cerita ini.
33 Ibid., 22.
34 Hermanto, “Karya Allah Pada Masa Intertestamen.”
35 Gert Lüderitz, Studies In The Early Jewis Epigraphy - What Is Politeuma?, ed. Jan willem Van Hentem and Pieter Willem Van Der Horst (New York: Brill, 1994), 183–200.
menentukan sistem pemerintahan, sosial, budaya, kesenian, agama, dan berhak mengatur dirinya sendiri.
36Pengaruh budaya Yunani dalam konsep negara kota
37dan politeuma sangat menguntungkan Yahudi diaspora dan memberikan ruang yang sangat luas bagi mereka diseluruh wilayah Helenis. Bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga berkembang dan mempengaruhi orang-orang lain. Helenisme membuat orang-orang Yahudi di masa intertestamental menjadi umat yang misionaris.
38Yanto Paulus Hermato mengungkapkan bahwa penyebaran Yahudi dispora sampai kepada Kirene (Libia), dan Roma. Dua kota ini ini sama persis dengan apa yang dinyatakan di Kis 2:10. Hal ini membuktikan hubungan sebab akibat antara Helenisme, dan keberadaan orang-orang Yahudi yang hadir di hari Pentakosta.
Orang-orang Yahudi terus menyebar dalam jumlah yang besar ke banyak daerah Helenistik terutama Kirene (Libia), Yunani, laut Aegea, Syria, Roma, seluruh Italia, Alexandria, Antiokhia (Suriah) dan ke Sri Lanka (kerajaan Seleucid)
39Komunitas Yahudi diaspora yang terbesar ada di Roma, mencapai 50.000 orang, dan hampir semuanya berbahasa Yunani.
40Yang ketiga, helenisme tidak berhenti ketika Alexander Agung mati muda.
Meskipun secara keutuhan kerajaan Yunani terpecah, tetapi budaya Helenis tetap kuat dipertahankan baik oleh Ptolemus (Mesir), dan Selukus (Siria, Antiokhia). Bahkan ketika masa Ptolemaus, Mesir menjadi pusat Helenisme dunia. Alexandria Mesir menjadi pusat perpustakaan, museum. Kurang lebih 14.000 murid belajar.
41Dimasa inilah Ptolemaus II dari Filadelfia menginginkan Taurat (Kitab-kitab pentateukh) diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke Yunani, untuk membantu orang-orang Yahudi yang sudah tidak bisa berbahasa Ibrani lagi.
42Dari sini berkembang terjemahan Septuaginta yang dapat dibaca oleh bangsa- bangsa lain dikarenakan adanya persesuaian cara berfikir dan pemakaian bahasa waktu itu.
43Proses penterjemahan dilakukan di Pulau Pharos (pantai Alexandria), dimana 72 tua-tua
36 Sudarajat, “Yunani Sebagai Icon Peradaban Barat,” Jurnal Pendidikan Dan Sejarah - Istoria VIII, no. 1 (2010).
37 Philip dari Makedonia, ayah dari Alexander Agung yang mengalangkan negara-negara kota 338 SM, tetapi budaya itu itu masih melekat di kota-kota Yunani tersebut. https://www.ushistory.org/civ/5g.asp.
Diakses 28/11/2021.
38 GP, Teologi Misi, 203.
39 Hermanto, “Karya Allah Pada Masa Intertestamen.”
40 Ibid.
41 Stuburg, Introduction to the Intertestamental Period, 26.
42 Hermanto, “Karya Allah Pada Masa Intertestamen.”
43 De Kupier, Missiologia, 31.
Yahudi didatangkan dari Yerusalem, dan mereka disiapkan tempat yang berbeda-beda untuk menterjemahkan. Secara supernatural, hasil terjemahan ke-72 tua-tua tersebut dikatakan sempurna dan tidak perlu diperbaiki lagi. Para imam, penatua, dan badan penterjemah mengatakan secara aklamasi:
terjemahan ini telah dilakukan dengan baik, benar dan akurat secara detailnya. Kami menaruh rasa hormat dan sepantasnya tetap seperti ini, tidak boleh ada revisi. Dan sesuai adat istiadat, jika ada yang menyetujui dan atau memerintahkan revisi, maka baginya diperintahkan untuk mengucapkan kutuk kpada siapa saja yang merevisinya dengan menambahkan ataupun mengurangi yang telah tertulis.
44Keilmuan di Alexandria dan kesakralan penterjemahan oleh ke-72 tua-tua Yerusalem, ditambah dengan momentum global budaya Helenisme membuat kehadiran terjemahan Septuaginta ini memiliki arti yang signifikan. Septuaginta mampu mengkatalis gerakan proselit (misi agama Yahudi). Orang-orang proselit dalam Kis 2:11 disebut sebagai
“penganut Agama Yahudi” Mereka tersebar terutama disemua kota-kota Yunani dimana politeuma-politeuma ada.
Eugene P. Heidman mengatakan, “On the Day of Pentecost, Peter calls upon the crowd of Jews and proselytes "from every nation" to repent and be baptized, but there is no indication that they are expected to change their community identity.”
45Artinya, para proselit tidak merubah identitas komunitasnya, tetapi mereka merubah kepercayaannya kepada Yudaisme. Bentuk misi kontekstual ini di PB dapat dilihat dari contoh sida-sida Ethiopia yang kembali ke Ethiopia setelah bertobat dan dibaptis (Kis 8:39), atau Kornelius seoran perwira Romawi, setelah penuh Roh Kudus tetap menjadi perwira Romawi (Kis 10:48). Dari narasi ini, dapat disimpulkan, ketika para proselit di Kis 2:9-11 kembali ketempatnya masing-masing setelah mereka bertobat dan penuh Roh Kudus, mereka tetep dalam budaya mereka masing-masing.
Yang keempat, setelah hidup dibawah pemerintahan Persia, Alexander Agung, Ptolemaus, dan Seulukus, di masa intertestamental, orang Yahudi memperoleh kemerdekaan yang dinikmati selama kurang lebih 70 tahun
46. Kemerdekaan itu didapat setelah revolusi yang dilakukan keluarga Imam Matatias dan anak-anaknya (Yohanan, Simon, Yudas,
44 Hermanto, “Karya Allah Pada Masa Intertestamen.”
45 Heideman, “Proselytism, Mission, and the Bible.”
46 Masa ini disebut dinasti Hasmodian. Donald W. Ekstrand, The Intertestamental Period and Its Significant Upon Chistianity.
Eleazar, Yonatan). Bermula dari keharusan untuk mempersembahkan korban yang tidak kudus di Bait Suci. Perkataan Matatias yang menjadi pemicu pergerakan melawan Pemerinthan Seulukus (Syria), “God forbid that we should forsake the Law and the ordinances of our God. We will not hearken to the king’s words to go aside from our worship, either to the right hand or to the left”
47Setelah Matatias meninggal (), anaknya Yudas Makkabe memimpin perang gerilya melawan pemerintahan Siria. Akhirnya, seluruh anak Matatias juga meninggal. Anak terakhir yang hidup, Simon, ditahun 142 BC dapat meraih kemerdekaan Yahudi. Dimasa inilah Bait Suci kembali dirededikasi (25 Kislev). Yoh 10:22 mencatat peringatan akan hal ini, “Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin.” Putra Simon, Johanan Hycanus seorang penguasa yang ambisius, memaksa kaum Idumean (Edom) untuk menjadi proselit. Dari Idumean inilah muncul wangsa Herodes, yang di jaman Yesus Kristus memimpin menjadi kaisar untuk wilayah Yudea dan Palestina. Setelah Johanan Hyrcanus, dua penguasa terakhir dinasti Hasmodean: Hyrocanus dan Aristobulus meminta pertolongan pemerintahan Roma untuk menyelesaikan sengketa di antara mereka. Pemerintahan Roma akhirnya memberikan perlindungan kepada orang-orang Yahudi.
He made a treaty with Rome which gave security and prestige to the Jews against all their enemies; the Roman Senate sent official letters to kings of Cappadocia, Pergamum, Syria, and Egypt telling them of the alliance andwarning them against making war against the Jews;
48Perdamaian yang akhirnya tidak menguntungkan, tahun 63 SM, Pompey memimpin tentara Romawi masuk Yerusalem dan membantai orang-orang Yahudi. Bahkan, akhirnya pemerintahan Romawi jugalah yang mengkhiri Dinasti Hasmodean.
49Yang kelima, pemerintahan Romawi mengalami puncak kejayaannya dimasa Kaisar Agustus. Dia yang mengawali apa yang disebut “Pax Romana” dari tahun 27 SM – 180M.
50Artinya, damai dalam pemerintahan Romawi. Di masa Agustus, 50.000 miles jalan raya dibangun.
51Masa ini menyiapkan untuk lahirnya sang Mesias (Yesus Kristus).
Harianto Gp menyebutkan dua hal yang membuat Pax Romana adalah bagian dari rencana Allah: pertama, kestabilan pemerintahan Romawi politik dan sosial menyiapkan situasi
47 Stuburg, Introduction to the Intertestamental Period, 39.
48 Ibid., 46.
49 Hermanto, “Karya Allah Pada Masa Intertestamen.”
50 Ibid.
51 Pax Romana, https://www.britannica.com/event/Pax-Romana. Akses terakhir 19/11/2021.
kondusif bagi pelaksaan misi Allah. Kedua, Pax Romana menyatukan bangsa-bangsa sehingga interaksi ekonomi antar bangsa bagus.
52Meskipun Romawi sangat kuat, tetapi secara budaya, Romawi tetap terpengaruh Helenisme, sehingga campuran diantara budaya Helenis, dan Romawi disebut budaya Greco-Roman.
Rekronstuksi Historis Teologis Kis 2:9-11
Kejadian Pentakosta yang ditulis oleh Lukas di Kisah Para Rasul (Kis) 2-3 dipercaya sebagai hari lahirnya ἐκκλησία, ekklēsia atau Gereja seperti yang dimakusud dalam pernyataan Yesus Kristus di Mat 16:18-19 “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (ἐκκλησία) dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." Ketika Yesus menyatakan hal ini, institusi agama yang dikenal adalah Bait Suci dan Sinagoge, tapi kata yang dipilih untuk menggambarkan Gereja adalah ekklesia. Ed Silvoso beragumen bahwa kata ekklesia di kerajaan Romawi termasuk Israel lebih dikenal sebagai konsep “state assembly” yaitu anggota dewan dalam demokrasi, atau tim manajemen dalam sebuah korporasi.
53Firman Christan dan Robi Ponggawa menyebutkan ekklesia dalam artian perkumpulan politik, atau sidang umum dimana semua warga negara dapat didengar suaranya.
54Studi kata ekklesia terlihat memberikan pengertian yang sangat berbeda dengan pengertian ekklesia sebagai gereja yang kita kenal sekarang, yaitu gedung gereja, sinode, ataupun denominasi. Sebab itu, apabila konsisten dengan tesis Pentakosta adalah hari lahir ekklesia, pengertian ekklesia yang dirujuk Ed Silvoso lebih tepat menggambarkan apa yang terjadi di hari Pentakosta, bahkan di dalam buku Kisah Para Rasul. 120 murid yang berdoa di loteng Yerusalem (Kis 1:15), yang kemudian dipenuhi Roh Kudus di Kis 2:4, kemudian melalui kotbah Petrus, 3000 orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus dan menerima diri di baptis menunjukkan sebuah perkumpulan yang sangat dinamis, dan vibran.
Orang-orang Yahudi atau penganut agama Yahudi dari ke-15 bangsa yang tertulis di Kis 2:9-11, setelah Pentakosta, tidak lagi bisa dilihat hanya sebagai Yahudi diaspora, tetapi mereka lebih tepat disebut ekklesia yang dijanjikan Yesus Kristus di Mat 16:18. Merekalah
52 GP, Teologi Misi, 209.
53 Ed Silvoso, Ekklesia : Rediscovering God’s Instrument For Global Transformation (Grand Rapids, MI: Baker Publishing, 2014), 27.
54 Firman Christian and Robi Panggarra, “Makna Kata Ekklesia Berdasarkan Matius 16:18 Dan Implementasinya Dalam Kehidupan Orang Percaya Masa Kini,” Jurnal Jaffray 9, no. 2 (2011): 90.
pembawa “kunci kerajaan surga” untuk pergi ke bangsa-bangsa memenuhi Amanat Agung (Mat 28:19-20), sekaligus Amanat Pentakosta (Kis 1:8). Dengan sudut pandang berfikir ekklesia ini, masa intertestamental dapat dilihat sebagai sebuah persiapan bukan hanya untuk kelahiran Yesus Kristus, tetapi juga persiapan untuk lahirnya Tubuh Kristus, yaitu ekklesia.
Ed Silvoso memberikan sebuah gambaran yang kontras antara Bait Suci, sinagoge, dan Ekklesia:
The temple and synagogue were static institutions that functioned in buildings that members had to go on to specified occasions, whereas the Ekklesia was a building- less mobile people movement designed to operate 24/7 in the marketplace for the purpose of having an impact on everybody and everything.
55Artinya, seperti Yahudi Diaspora yang tinggal di politeuma-politeuma di seluruh wilayah Helenis dan Yunan-Romawi, demikianlah Tubuh Kristus atau ekklesia yang Yesus Kristus bangun. Hal ini selaras dengan pengertian “ambassador of Christ” (II Kor 5:20) atau utusan Kristus (πρεσβεύω, presbeuō).
Berikut adalah daftar bangsa-bangsa yang disebutkan dalam Kis 2:9-11
berdasarkan nama wilayah geografi waktu itu, dan kemungkinan letak di jaman modern sekarang.
Tabel Bangsa-Bangsa Kis 2:9-11
Nama Tertulis Nama Sekarang Keterangan
Partia Iran Orang Persia
Media Iran
Elam Iran Barat Daya
Mesopotamia Irak, Siria Antiokhia ada di Siria. Kota
dimana Kristen pertama dikenali.
Yudea Israel / Palestina Kemungkinan Lebanon, Jordan
masuk wilayah “Yudea”
Kapodakia Turki Tengah Timur Orang Turki
Pontus Pesisir Laut Hitam
Asia (Asia Minor) Turki
Frigia Turki Tengah Utara
Pamfilia Turki Selatan
Mesir Mesir Alexandria, pusat helenisme dunia.
Kirene Libia
Roma Italia Roma Orang Eropa
Kreta Kreta Peradaban Kuno Eropa
Arab Arab Orang Arab
55 Silvoso, Ekklesia : Rediscovering God’s Instrument For Global Transformation, 25.
Dari tabel dapat disimpulkan bahwa wilayah geografi bangsa-bangsa yang tercatat hadir di hari Pentakosta adalah bangsa-bangsa Timur Tengah, Arab, Turki, dan Eropa.
Keempat wilayah besar itu sekarang mewakili dua peradaban besar modern, yaitu peradaban Islam dan peradaban Barat. Apabila dilihat dari benua, ada tiga benua yang diwakili Afrika, Asia, dan Eropa.
Craig S. Keener merujuk kepada beberapa komentator melihat ada hubungan antara daftar bangsa-bangsa di Kis 2:9-11 dengan Kej 10, yaitu bangsa-bangsa yang tersebar setelah peristiwa Babel. Pesan teologis yang disampaikan adalah Babel dihancurkan melalui bahasa yang dibedakan, Pentakosta menyatukkan banyak bangsa menjadi satu bahasa.
Some comentators have thought that this list of nations corresponds to ancient atrological lists, but the paralels are not very close. More likely is the proposal that Luke has simply updated the names of nations in the table of nations (Gen 10).
Those nations were scattered at the tower of Babel, where God judged them by makin them unintelligible to each other (Gen 11); here God reverse the judgement in a miracle that transcends the langguage barrier.
56Berikut adalah peta bangsa-bangsa yang hadir di Kis 2:9-11
Peta Bangsa-Bangsa Hari Pentakosta5756 Keener, The IVP Bible Background Commentary - New Testament, 327.
57 Peta Bangsa-Bangsa Pentakosta. https://visualunit.me/2020/05/25/the-nations-of-pentecost/.
Akses terakhir 19/11/2021.
Apabila dihubungkan dengan Amanat Pentakosta (Kis 1:8) yaitu pola Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai Ke ujung bumi, maka kita bisa mengatakan bahwa:
Yerusalem – Yudea adalah lingkaran inti (Yerusalem) Arab – Mesir adalah lingkaran kedua (Yudea)
Elam, Mesopotamia, Parthia, Media, Pontus, Kapadokia, Pamfilia, Frigia, Asia, Kreta, Kirene adalah lingkaran ketiga (Samaria)
Roma adalah lingkaran keempat (ujung bumi).
Ada kesesuaian pola orang-orang yang hadir di Pentakosta dengan mandat yang diberikan di hari Pentakosta. Pola yang sama apabila dibandingkan dengan perjalanan Misi Paulus juga ada kesesuaian pola wilayah geografi. Hanya Paulus tidak ke afrika (Mesir, Kirena, Libia).
Peta Perjalanan Misi Paulus58
Hari raya pentakosta Yahudi yang adalah bagian dari tiga hari raya besar Yahudi, yaitu tabernakel, paskah, dan pentakosta berjarak 50 hari dari hari raya Paskah. Sebab itu, sesuai dengan iman Yahudi, maka mereka semua berusaha untuk datang ke Yerusalem (Im 23). Meskipun Pentakosta atau Savout adalah hari raya paling sedikit dikenali, tetapi karena jarak waktunya dekat dengan Paskah, maka mereka tertarik untuk menunggu di Yerusalem.
58 Peta Misi Paulus, https://suarainjil.com/wp/2013/01/08/apakah-tuhan-melarang-injil-diberitakan- di-asia-termasuk-indonesia/. Diakses 19/11/2021
Kis 2:5 mencatat “Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.” Bangsa diayat ini dipakai kata (ἔθνος, ethnos), dalam pemahaman sekarang lebih tepat disebutkan segala suku bangsa. Dari keterangan Lukas, diasumsikan, saat itu yang disebut “segala suku bangsa” adalah orang-orang Yahudi yang sudah tersebat diseluruh wilayah Helenis. Kata ethnos juga dipakai dalam Mat 28:18,
“jadikan semua ethnos murid-Ku.” Yesus disalib dihari Paskah (14 Nisan), dan hari Pentakosta atau Shavout (50 hari). Selain itu, apabila Yesus adalah anak domba paskah yang disembelih digenapi di penyaliban di golgota, maka suku-suku bangsa yang datang ke Yerusalem dan mengalami kepenuhan Roh Kudus menggenapi “sajian baru” yang disebutkan dalam Imamat 23:16 “sampai pada hari sesudah sabat yang ketujuh kamu harus hitung lima puluh hari; lalu kamu harus mempersembahkan korban sajian yang baru kepada TUHAN.” Pentakosta PL juga diterangkan di Im 23:15-22 sebagai perayaan tujuh minggu, yaitu perayaan untuk pengucapan syukur panen raya.. Dilihat dari konteks penggenapan ayat ini, 3000 petobat baru (Kis 2:41) yang terdiri dari banyak suku bangsa adalah panen pertama Pentakosta pelayanan para Rasul dan murid. Bisa disimpulkan, 400 tahun masa intertestamental bisa dikatakan sebagai masa persiapan untuk sebuah kirbat yang baru, dimana Allah Abraham, Ishak, dan Yakub tidak lagi hanya dikenali oleh orang Yahudi, tetapi mulai diperkenalkan ke panggung global dimana segala suku, kaum, bangsa, dan bahasa akan menyembah Dia (Why 7:9, Fil 2:10-11).
KESIMPULAN
Yudaisme yang berawal dari sebuah agama dari suku kecil, akhirnya menjadi fenomena global. Periode intertestamental adalah masa persiapan penggenapan waktu Tuhan (Gal 4:4). Melalui pemerintahan-pemerintahan dunia, Tuhan menyiapkan pola-pola baru yang kelak diwaktu-Nya semua menjadi jelas artinya. Dimulai dari Koresh (Persia) yang dipakai Tuhan untuk memulihkan Bait Suci, Alexander Agung (Yunani) yang meletakkan dasar budaya global Helenisme, Ptolemaus II (Mesir) yang menggerakkan Septuaginta, Dinasti Hasmodean yang dipakai untuk memurnikan kembali Bait Suci, sampai kepada Kaisar Agustus (Romawi) yang menyiapkan Pax Romana bagi kelahiran Mesias, dan kekristenan awal.
3000 orang yang dilahirkan baru di hari Pentakosta adalah kunci untuk melihat pola Ilahi dimana Tuhan sedang menyiapkan “panggung global” bagi orang-orang Yahudi sehingga Amanat Agung (Mat 28:19-20), dan Amanat Pentakosta (Kis 1:8) dapat dipenuhi.
Wilayah-wilayah yang diwakili bangsa-bangsa di Kis 2:9-11 adalah wilayah-wilayah
strategis yang di masa intertastemantal sampai Paulus tetap penting. Hal ini perlu dicatat untuk dipelajari lebih lanjut di jaman modern supaya Ekklesia atau Tubuh Kristus dapat melanjutkan mandat Ilahi diberikan.
Artikel ini memperlihatkan bagaimana perjalanan Israel secara jasmani selama masa Intertestamenal, sampai waktu penggenapan providensia Allah terus ada. Nubuatan Yesaya untuk Israel dalam Yes 60:22, “Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar, dan yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; Aku, TUHAN, akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya.” digenapi. Sisa-sisa Israel di pembuangan maupun kota-kota Yunani bisa bangkit dan kembali utuh menjadi satu bangsa yang dipilih dan dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi seluruh bumi.
REFERENSI