Kata Pengantar
Bersamaan dengan pelaksanaan Survei Surveilans Perilaku (SSP) 2002 di 10 Propinsi, kerjasama Badan Pusat Statistik (BPS) dengan Program Aksi Stop AIDS dari Family Health
International (ASA/FHI), BPS juga mendapat kepercayaan dari Australian Agency for International Development (AusAID) melalui Indonesia HIV/AIDS Prevention and Care Project (IHPCP) Phase
II untuk melaksanakan survei yang sama di 3 propinsi konsentrasi program IHPCP, yaitu Bali (Kota Denpasar), Nusa Tenggara Timur (Kota Kupang), dan Sulawesi Selatan (Kota Makassar). Sebagaimana SSP untuk 10 propinsi ASA/FHI, pelaksanaan SSP untuk 3 propinsi IHPCP juga dilakukan dengan dukungan teknis dari Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular dan Lingkungan (Dit. P2ML) Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM & PL) Departemen Kesehatan.
SSP di ketiga propinsi tersebut di atas dilaksanakan pada bulan Maret 2003, menggunakan metode survei dan daftar pertanyaan yang sama dengan yang diaplikasikan di 10 propinsi ASA/FHI. Dengan demikian data yang dihasilkan dari kedua paket survei ini terbanding satu sama lain.
Laporan hasil survei disusun per-propinsi, memuat data penting mengenai tingkat pengetahuan dan perilaku kelompok berisiko yang menjadi sasaran survei. Buku ini memuat laporan hasil SSP untuk Propinsi tersebut.
Kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya survei dan terbitnya laporan ini, terutama kepada IHPCP sebagai penyandang dana dan Ditjen PPM & PL, kami sampaikan penghargaan dan terima kasih. Secara khusus terima kasih kami sampaikan pula kepada Dr. Abby Ruddick, Deputy Team Leader – Policy and Social Research IHPCP, yang telah membantu secara teknis seluruh tahapan kegiatan, tim BPS Pusat dan Ditjen PPM & PL Depkes, serta kepada anggota KPAD dan tim survei di tingkat propinsi yang telah bekerja keras sampai dengan selesainya laporan ini.
Semoga buku ini memberi kontribusi yang berarti bagi upaya penanggulangan penyebaran HIV/AIDS, khususnya di Indonesia.
Jakarta, Agustus 2003 Kepala Badan Pusat Statistik
Kata Pengantar
Berdasarkan hasil Surveilans Nasional HIV/AIDS yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan, situasi epidemi HIV/AIDS di Indonesia saat ini makin memprihatinkan, dan digolongkan dalam “concentrated level epidemic”. Di beberapa tempat dengan sub-populasi tertentu prevalensi HIV/AIDS sudah mencapai 5 % atau lebih.
Untuk mendapatkan data lain sebagai tambahan informasi tentang situasi epidemi HIV/AIDS di Indonesia Departemen Kesehatan merekomendasikan perlunya pengembangan Survei Surveilans Perilaku pada kelompok-kelompok tertentu untuk perencanaan program penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.
Pada tahap uji coba pengembangan pedoman untuk melakukan Survei Surveilans Perilaku, Komisi Penanggulangan AIDS mengucapkan terima kasih atas dukungan tehnis kepada Badan Pusat Statistik (BPS), P2ML Departemen Kesehatan, IHPCP (AusAID), ASA/FHI (USAID), Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi dan Tim Pelaksana. Ucapan terima kasih kami sampaikan pula kepada semua pihak baik secara perorangan maupun kelembagaan yang telah berpartisipasi pada pelaksanaan kegiatan ini.
Kami berharap semoga buku ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak.
Jakarta, Agustus 2003
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS
Daftar Isi
Kata Pengantar
i
Daftar Isi
iii
Daftar Gambar
v
Tabel Indikator Kunci
vii
1. Pendahuluan
1
Latar Belakang 1
Survei Surveilans Perilaku 1
Sasaran Survei 2
Metode Survei 3
2. Karakteristik Sosial dan Demografi
5
Struktur Umur 5
Status Perkawinan 5
Tingkat Pendidikan 6
Daerah Asal 6
Mobilitas 7
Umur Pertama Kali Berhubungan Seks 7
Lama Bekerja sebagai Penjaja Seks 8
Tarif Penjaja Seks 8
Rata-rata Pendapatan 9
3. Pengetahuan tentang HIV/AIDS
11
Pernah Mendengar HIV/AIDS 11
Pengetahuan mengenai HIV/AIDS 11
Cara tepat untuk Mengetahui Seseorang Telah Tertular HIV/AIDS 12
Pemahaman tentang Cara Menghindari Tertular HIV/AIDS 13
4. Persepsi Berisiko
17
Merasa Berisiko 17
Persepsi Tidak Berisiko di antara Kelompok Berisiko 17
Hubungan antara Merasa Berisiko dengan Tingkat Pendidikan 18
5. Pola Perilaku Berisiko
19
Penggunaan Jasa Penjaja Seks 19
Penggunaan Kondom 19
Antara Pengetahuan dan Perilaku 20
Terdapat Perbedaan antara Pengetahuan dan Perilaku 22
Seks Anal dan Narkoba 23
6. IMS dan Perilaku Pencarian Pengobatan
25
Infeksi Menular Seksual (IMS) 25
Jenis Keluhan IMS 26
Tempat Berobat 26
7. Kesimpulan dan Saran
29
Pengetahuan dan Persepsi Berisiko 29
Perilaku Berisiko dan Kondom 30
Kesehatan dan Pemeliharaan Kesehatan 30
Daftar Gambar
Gambar Judul Gambar
2.1 Struktur umur responden 2.2 Tingkat pendidikan responden 2.3 Propinsi asal responden
2.4 Pasangan seks pertama kali pada responden pria
2.5 Rata-rata uang jasa seks komersial pada hubungan seks yang terakhir 3.1 Responden yang pernah mendengar HIV/AIDS
3.2 Tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS
3.3 Tingkat pengetahuan tentang cara yang tepat untuk mengetahui seseorang telah tertular HIV/AIDS
3.4 Cara yang diketahui agar tidak tertular HIV/AIDS
3.5 Tingkat pengetahuan responden pria tentang penggunaan kondom dapat mencegah tertular HIV/AIDS
3.6 Pengetahuan yang salah tentang cara menghindari tertular HIV/AIDS 4.1 Responden yang merasa berisiko tertular HIV/AIDS
4.2 Responden yang tidak merasa berisiko tertular HIV/AIDS menurut alasannya 4.3 Responden yang merasa berisiko tertular HIV/AIDS menurut tingkat pendidikan 5.1 Responden pria yang pernah membeli seks dalam setahun terakhir menurut status
perkawinan
5.2 Penggunaan kondom pada seks komersial
5.3 Tahu bahwa kondom dapat mencegah penularan HIV/AIDS tetapi tidak menawarkan dan tidak memakainya dalam hubungan seks komersial terakhir
5.4 Responden pria yang tahu pencegahan HIV/AIDS tetapi tidak menerapkannya dalam hubungan seksual
5.5 Alasan tidak menggunakan kondom pada seks komersial terakhir
5.6 Responden dan masing-masing pasangan seksnya yang pernah menggunakan narkoba suntik
6.1 Pemakaian kondom pada responden yang mengalami gejala IMS 6.2 Jenis keluhan IMS
6.3 Responden yang pernah mengalami gejala IMS dan cara yang dilakukan saat mengalami gejala IMS tersebut
Tabel Indikator Kunci
Indikator WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria1. Persentase yang pernah mendengar HIV/AIDS 89,8 98,5 87,3 2. Persentase yang mengetahui cara pencegahan dengan
menggunakan kondom saat berhubungan seks 78,8 86,3 63,8 3. Persentase yang pernah berhubungan seks dengan WPS
dalam setahun terakhir - - 19,0
4. Persentase yang mempunyai lebih dari satu pasangan
seks dalam setahun terakhir - - 20,5
5. Rata-rata jumlah tamu/pelanggan yang dilayani dalam
seminggu terakhir 10,4 2,9 -
6. Persentase yang menggunakan kondom pada seks
komersial terakhir 85,0 60,5 31,6
7. Persentase yang selalu menggunakan kondom pada seks komersial dalam setahun terakhir untuk
responden pria dan seminggu terakhir untuk WPS 36,4 41,1 19,7 8. Persentase yang pernah menggunakan narkoba suntik 0,4 1,0 0,5 9. Persentase yang mengalami gejala infeksi menular
seksual (IMS) dalam setahun terakhir 30,6 19,8 8,5
10. Persentase yang berobat ke petugas kesehatan bagi
1
Pendahuluan
Latar Belakang
Epidemi HIV/AIDS telah melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia. Penyakit ini menyebar dengan cepat tanpa mengenal batas negara dan pada semua lapisan penduduk. Badan Dunia (PBB) menyatakan bahwa pada tahun 1999 AIDS telah menjadi penyebab kematian nomor 4 di dunia setelah penyakit jantung, hipertensi/stroke, dan infeksi saluran pernafasan. Melihat kecenderungannya maka bukan tidak mungkin penyakit ini akan menjadi pembunuh nomor 1 di dunia di masa mendatang.
Prevalensi HIV/AIDS di Indonesia sudah tidak tergolong rendah lagi. Perkembangan kasus yang muncul dalam beberapa tahun terakhir juga sangat mengkhawatirkan, khususnya yang ditemukan pada penduduk berisiko tinggi seperti penjaja seks dan pelanggannya, pria yang berhubungan dengan pria, dan pengguna narkoba suntik.
Kecepatan penyebaran virus HIV terutama dipengaruhi oleh perilaku berisiko tinggi, khususnya masyarakat yang berhubungan seks dengan pengidap HIV tanpa menggunakan kondom, dan pengguna alat suntik bersama untuk napza. Untuk itu, upaya pencegahannya terutama juga diarahkan pada perubahan perilaku, antara lain mencakup peningkatan penggunaan kondom dan pengurangan jumlah pasangan seksual, serta penurunan pemakaian bersama atau bergantian alat/jarum suntik pada pemakai narkoba.
Survei Surveilans Perilaku
Survei surveilans perilaku (SSP) adalah suatu kegiatan pengumpulan data secara sampel terhadap perilaku kelompok sasaran yang dilakukan secara sistimatik dan terus menerus yang berkaitan dengan penyebaran dan infeksi HIV. SSP merupakan komponen dari surveilans HIV generasi kedua.
Surveilans HIV generasi kedua adalah surveilans yang memadukan surveilans perilaku ke dalam surveilans serologik HIV. Dalam hal ini, surveilans perilaku memperkuat surveilans serologik. Informasi hasil surveilans serologik akan semakin bermanfaat dengan adanya surveilans perilaku. Manfaat tersebut antara lain, dalam menumbuhkan perhatian dan respon masyarakat terhadap pencegahan HIV, menentukan kelompok populasi sasaran, menentukan cara pencegahan, merencanakan upaya penanggulangan, dan memantau keberhasilan program.
Sampai saat ini, kegiatan surveilans HIV dibatasi hanya untuk mengetahui keberadaan virus HIV dalam sampel darah responden, yang
Surveilans generasi kedua yang memadukan surveilans perilaku ke dalam surveilans serologik akan memberikan informasi yang lebih komprehensif sebagai dasar bagi pengembangan kebijakan penanggulangan HIV/AIDS Meskipun prevalensi HIV/AIDS di Indonesia masih tergolong rendah, namun perkembangannya sudah mengkhawatirkan
disebut surveilans serologik. Namun, bila dalam sistem surveilans HIV hanya mencatat peningkatan prevalensi HIV, maka peluang pencegahan yang efektif telah hilang. Menerapkan surveilans perilaku di Indonesia merupakan upaya yang sangat bermanfaat untuk pencegahan epidemi HIV, karena epidemi di Indonesia relatif masih belum berkembang. Prevalensi HIV di banyak tempat di Indonesia masih rendah, dan peluang untuk berkembangnya epidemi HIV masih dapat dikurangi. Agar pencegahan dapat lebih efektif, maka sumber daya perlu dikonsentrasikan pada perubahan perilaku berisiko. Surveilans perilaku sebagai “sistem peringatan dini” dapat memberikan informasi tentang perilaku berisiko, dan masyarakat mana yang berperilaku berisiko. Surveilans Generasi Kedua juga menekankan pada pemanfaatan hasil surveilans untuk menunjang upaya penanggulangan HIV/AIDS. Informasi SSP dapat membantu mengidentifikasi masyarakat yang mempunyai risiko terinfeksi HIV. Pemahaman ini diharapkan dapat membantu perencanaan intervensi penanggulangan, baik berupa upaya pencegahan, pengobatan maupun dukungan. Dalam perspektif yang lebih luas, surveilans HIV generasi kedua diharapkan menyediakan informasi yang dibutuhkan sebagai dasar pengembangan kebijakan penanggulangan HIV/AIDS yang lebih efektif.
Sasaran Survei
Sasaran dari SSP adalah masyarakat berisiko seperti yang dikemukakan di atas. Untuk wanita, kelompok berperilaku dengan berisiko tinggi adalah wanita yang paling sering berganti pasangan seks, seperti penjaja seks komersial yang bertransaksi secara terbuka di tempat lokalisasi/rumah bordil atau di jalanan (wanita penjaja seks langsung) dan wanita yang melayani seks pelanggannya untuk memperoleh tambahan pendapatan di tempat ia bekerja, seperti wanita yang bekerja di panti pijat/salon/spa, bar/karoke/diskotek/ café/restoran, hotel/motel/ cottage (wanita penjaja seks tak langsung).
Pengalaman dari negara lain menunjukkan bahwa laki-laki yang bekerja dan harus meninggalkan rumah atau keluarga dalam jangka waktu cukup lama adalah laki-laki yang cenderung membeli jasa seks, dan atau mempunyai pasangan seks lain selain isteri/pasangan tetapnya.
SSP 2003 di Indonesia termasuk di Propinsi Bali difokuskan pada pengukuran perilaku penduduk dengan risiko tinggi, yaitu wanita penjaja seks (dibedakan antara penjaja seks langsung dan tidak langsung), dan lelaki yang bekerja sebagai sopir dan kernet truk. Definisi (batasan) mengenai setiap penduduk dengan perilaku berisiko tinggi yang dicakup dalam SSP 2003 adalah sebagai berikut:
• Wanita Penjaja Seks (WPS) Langsung, adalah wanita yang beroperasi secara terbuka sebagai penjaja seks komersial.
• WPS Tidak Langsung, adalah wanita yang beroperasi secara terselubung sebagai penjaja seks komersial, yang biasanya bekerja pada bidang-bidang pekerjaan tertentu.
Sasaran survei adalah masyarakat yang diduga berperilaku berisiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS
• Sopir truk dan kernetnya, adalah laki-laki yang bekerja sebagai sopir atau kernet truk antar kota. Dalam laporan ini sopir dan kernet truk selanjutnya disebut “responden pria.”
Metode Survei
Besar sampel dirancang sedemikian rupa untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik penduduk yang berperilaku dengan risiko tinggi, dan diharapkan dapat mengukur perubahan perilaku pada survei berikutnya. Perhitungan dengan menggunakan metode “cluster survey” menunjukkan bahwa besarnya sampel sekitar 200 - 400 responden pada setiap sasaran masyarakat berperilaku berisiko tinggi sudah cukup untuk mewakili populasi (representative), termasuk untuk mengukur perubahan perilaku.
Realisasi sampel lokasi dan responden untuk setiap sasaran survei dicantumkan dalam Tabel 1 berikut ini.
Cakupan wilayah SSP di Propinsi Bali adalah Kota Denpasar untuk WPS langsung, WPS tidak langsung dan sopir/kernet truk.
Lokasi tersebut ditentukan, setelah mendapatkan masukan dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) dan Dinas Kesehatan Propinsi Bali, dengan pertimbangan bahwa Kota Denpasar merupakan daerah konsentrasi kegiatan jasa pelayanan seks dan sekaligus merupakan daerah sasaran dari Survei Serologik HIV yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan (Depkes). Dengan dipilihnya Kota Denpasar, maka di daerah tersebut khususnya dan di Propinsi Bali pada umumnya diharapkan dapat dikembangkan Surveilans Generasi Kedua.
Perkiraan populasi WPS langsung, WPS tidak langsung, sopir dan kernet truk diperoleh melalui listing secara independen ke setiap lokasi sasaran dengan menggunakan data dasar dari lembaga pemerintah daerah setempat. Untuk memperoleh lokasi baru, khususnya lokasi WPS, beserta populasinya dilakukan dengan cara “snowballing system”. Dalam proses listing dari satu lokasi ke lokasi lain di lapangan, peta wilayah
Tabel Realisasi Sampel SSP 2003 di Kota Denpasar - BALI
WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria
Kabupaten/
Kota Lokasi Responden Lokasi Responden Lokasi Responden
Kota
administratif digunakan untuk operasional lapangan dan dalam peta tersebut digambar letak setiap lokasi secara geografis. Hasil listing ini merupakan kerangka sampel untuk pemilihan lokasi dan penentuan target sampel dalam setiap lokasi.
Pengambilan sampel secara acak dilakukan baik untuk pemilihan sampel lokasi maupun responden. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara tatap muka antara petugas SSP dengan responden. Bias terhadap hasil SSP telah diupayakan seminimal mungkin.
2
Karakteristik Sosial Demografi
Struktur Umur
Struktur umur WPS untuk Kota Denpasar menunjukkan bahwa rata-rata umur WPS langsung hampir sama dengan WPS tidak langsung, yaitu sekitar 27 tahun. Namun demikian distribusi umur kedua kelompok ini agak berbeda. Pada WPS langsung modus usia tampak pada kelompok usia 25-29 tahun, sedangkan pada WPS tidak langsung pada kelompok usia 20-24 tahun. Sementara itu, proporsi WPS tidak langsung yang berumur di bawah 30 tahun sedikit lebih besar dibanding WPS langsung. Sementara itu untuk responden pria, sebagian besar (65,0 persen) berusia 30 tahun ke atas, dengan rata-rata umur 34 tahun
Status Perkawinan
Sebagian besar responden pria (83,5 persen) berstatus kawin, hanya 15,0 persen yang belum kawin, sedangkan yang berstatus cerai hanya sedikit sekali (1,5 persen).
Kalangan WPS yang beroperasi di Kota Denpasar sebagian besar berstatus cerai, khususnya WPS langsung (sekitar 78,8 persen). Namun demikian, tidak sedikit pula yang belum menikah (14,1 persen).
Usia WPS langsung tak banyak berbeda dengan WPS tidak langsung
Cukup besar proporsi responden pria yang berstatus kawin, sedangkan WPS mayoritas berstatus cerai
Gambar 2.1. Struktur Umur Responden
8 2 27 32 15 31 27 18 10 12 43 9 22 20 24 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen
Tingkat Pendidikan
Sebagian besar WPS berpendidikan rendah. WPS yang berpendidikan rendah sangat dominan pada kelompok WPS langsung, yaitu tamat SD ke bawah (67,1 persen). Sementara yang berpendidikan SLTA ke atas hanya 10,2 persen. Di kalangan WPS tidak langsung lebih banyak yang berpendidikan lebih tinggi dibanding dengan WPS langsung. Ada 30,5 persen dari WPS tidak langsung yang berpendidikan tamat SLTP, bahkan cukup banyak yang tamat SLTA ke atas (24,9 persen).
Mayoritas responden pria, juga berpendidikan rendah, sekitar 53 persen berpendidikan SD ke bawah. Namun ada juga yang berpendidikan lebih tinggi seperti SLTP (28,3 persen) dan SLTA (19,0 persen).
Daerah Asal
Sebagian besar (lebih dari 90 persen) WPS yang beroperasi di Kota Denpasar berasal dari propinsi di luar Bali. WPS langsung kebanyakan datang dari propinsi Jawa Timur (88,2 persen). Sisanya berasal dari propinsi lain dan proporsinya kurang dari 4 persen. Demikian juga di kalangan WPS tidak langsung 72,1 persen berasal dari Jawa Timur. Namun ada juga yang berasal dari Bali sendiri, yaitu sebesar 9,6 persen. Sementara itu, responden pria, sebagian besar adalah penduduk Denpasar (53,0 persen), dan Jawa Timur (34,2 persen).
Lebih dari 90 persen WPS adalah pendatang, sedangkan responden pria mayoritas berasal dari Bali dan Jawa Timur Tingkat pendidikan WPS langsung umumnya lebih rendah daripada WPS tidak langsung
Gambar 2.2. Tingkat Pendidikan Responden
25 14 42 30 39 10 25 19 14 23 31 28 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen
Mobilitas
Mobilitas para pekerja seks dan responden pria cukup tinggi, mereka berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain, bahkan dari satu kota ke kota lain untuk mencari nafkah. Sekitar 14,6 persen WPS menyatakan pernah bekerja sebagai WPS di kota/daerah lain, di kalangan WPS langsung 16,5 persen dan WPS tidak langsung 12,2 persen. Ini menunjukkan bahwa mobilitas WPS di Denpasar tidak rendah. Mobilitas yang tinggi dari kalangan ini dapat mendorong percepatan penyebaran virus HIV dari suatu tempat ke tempat lain. Sementara di kalangan responden pria yang pernah berhubungan seks komersial selama setahun terakhir, seluruhnya pernah membeli jasa seks di luar Propinsi Bali.
Umur Pertama Kali Berhubungan Seks
Di kalangan responden pria yang beroperasi di Kota Denpasar, berhubungan seks di luar rumah tampaknya relatif sudah biasa, dan mereka pertama kali melakukannya pada usia yang relatif muda yaitu sekitar 21,1 tahun. Bila dikaitkan dengan rata-rata usia mereka sekarang yaitu 34,0 tahun, maka dapat dikatakan bahwa mereka telah melakukan hubungan seks rata-rata selama sekitar 13 tahun. Jika dilihat dengan siapa mereka pertama kali berhubungan seks, ternyata 46,0 persen berhubungan seks pertama kali dengan pacar/kekasih atau sedikit lebih kecil dari yang berhubungan seks pertama kali dengan istri (43,1 persen). Namun ada juga yang berhubungan seks pertama kali dengan WPS, yaitu sebesar 7,7 persen.
Sekitar 15 persen WPS pernah beroperasi di daerah/kota lain
Usia pertama kali berhubungan seks responden pria, relatif muda
Gambar 2.3. Propinsi Asal Responden
88 72 34 2 4 3 7 14 10 3 10 53 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen
Lama Bekerja sebagai Penjaja Seks
Penting diketahui bahwa semakin lama bekerja sebagai penjaja seks semakin besar kemungkinan untuk melayani pelanggan yang telah terinfeksi HIV. Lamanya menjual seks antara WPS langsung dan WPS tidak langsung relatif tidak berbeda, yaitu 34,6 bulan berbanding dengan 35,9 bulan.
Faktor lain yang mempengaruhi risiko penularan HIV pada WPS adalah jumlah pelanggan. Rata-rata jumlah pelanggan yang dilayani dalam seminggu oleh WPS langsung adalah sekitar 10 hingga 11 orang dan WPS tidak langsung adalah 2 hingga 3 orang. Cukup besar perbedaan jumlah pelanggan antara WPS langsung dan WPS tidak langsung. Secara sepintas tampak bahwa WPS langsung berisiko lebih besar daripada WPS tidak langsung. Sedangkan responden pria yang pernah berhubungan seks dengan WPS, rata-rata berhubungan seks dengan 1 hingga 2 WPS dalam setahun terakhir.
Tarif Penjaja Seks
Hasil SSP menunjukkan bahwa rata-rata uang yang diterima oleh WPS tidak langsung jauh lebih tinggi dibandingkan yang diterima WPS langsung. Hal ini tercermin dari besarnya rata-rata uang yang diterima pada hubungan seks yang terakhir, yaitu sebesar Rp 293,3 ribu oleh WPS tidak langsung dan Rp 65,2 ribu oleh WPS langsung.
Pelanggan WPS tidak langsung pada umumnya mereka yang mempunyai cukup uang, dapat diduga bahwa mereka rata-rata berpendidikan dan mempunyai pengetahuan dan kesadaran untuk membeli seks dengan cara yang sehat. Akan tetapi ternyata hal ini tidak tercermin pada persentase penggunaan kondom, seperti yang ditunjukkan pada Bab 5.
Ada perbedaan tarif yang cukup besar antara WPS langsung dan WPS tidak langsung Pelanggan WPS langsung hampir lima kali lipat WPS tidak langsung
Gambar 2.4. Pasangan Seks Pertama pada Responden Pria
43.1 0.3 46.0 3.0 7.7 0 10 20 30 40 50
Istri Pasangan tetap Pacar/kekasih Kenalan/teman WPS
Pe
rs
Dibandingkan dengan informasi yang disampaikan kalangan WPS, rata-rata uang yang dibayarkan oleh responden pria ternyata relatif lebih rendah, sekitar Rp 30,9 ribu. Boleh jadi WPS cenderung mengemukakan tarif yang lebih tinggi daripada yang dibayarkan oleh pelanggannya atau pelanggan mengemukakan tarif di luar Denpasar yang diingatnya, atau memang biasa menjadi pelanggan WPS “kelas bawah”. Dari gambaran ini dapat disimpulkan bahwa responden pria umumnya adalah pelanggan dari WPS langsung kelas bawah.
Rata-rata Pendapatan
Dengan menghubungkan rata-rata banyaknya pelanggan dengan tarif yang diterima, maka dapat diperkirakan besarnya pendapatan rata-rata WPS langsung dan WPS tidak langsung. Rata-rata pendapatan WPS langsung di Denpasar dalam seminggu adalah sekitar Rp 675 ribu atau lebih dari Rp 2,5 juta sebulan, sedangkan rata-rata pendapatan WPS tidak langsung adalah sekitar Rp 844 ribu seminggu atau Rp 2,6 juta sebulan. Besarnya pendapatan ini lebih tinggi dari rata-rata pendapatan per bulan yang diterima karyawan yang bekerja di Kota Denpasar, yaitu sebesar Rp 798 ribu per bulan (BPS, diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional
2002). Apabila dibandingkan dengan Upah Minimum Propinsi (UMP)
Propinsi Bali yang sebesar Rp 341 ribu per bulan (BPS, 2003. “Indikator
Tingkat Hidup Pekerja 2000-2002”), maka rata-rata penghasilan kotor
seorang WPS, terutama WPS tidak langsung memang jauh lebih besar.
Rata-rata penghasilan kotor seorang WPS jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata upah minimum seorang buruh/karyawan. Gambar 2.5. Rata-rata Uang Jasa Seks Komersial pada Hubungan Seks yang Terakhir
65 293 31 0 50 100 150 200 250 300 350 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Ribuan Rp
3
Pengetahuan tentang HIV/AIDS
Pernah Mendengar HIV / AIDS
Tingkat pengetahuan tidak selalu berkorelasi dengan perilaku sehat, namun demikian mengetahui cara penularan HIV dan cara menghindarinya merupakan langkah pertama yang perlu diketahui oleh setiap orang, terutama orang-orang dengan perilaku berisiko tinggi. Pengetahuan merupakan salah satu faktor kuat yang menentukan perilaku seseorang, termasuk perilaku dalam melindungi diri sendiri dari ancaman HIV/AIDS. Hasil SSP di Denpasar menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen dari setiap kelompok berisiko, baik WPS langsung, WPS tidak langsung, maupun responden pria pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Di antara ketiga kelompok sasaran ini, yang paling tinggi persentasenya adalah WPS tidak langsung (98,5 persen).
Pengetahuan mengenai HIV/AIDS
Meskipun persentase yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS cukup besar, namun sebagian tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang penyakit tersebut. Pengetahuan paling rendah terdapat pada kelompok responden pria, yaitu hanya sekitar 34,5 persen yang dapat secara cermat memberikan informasi lebih rinci tentang HIV/AIDS yaitu penyakit yang tak bisa disembuhkan. Walaupun perbedaannya relatif kecil, tetapi WPS tidak langsung persentasenya sedikit lebih tinggi, yaitu sebesar 36,0 persen, sementara untuk WPS langsung sebesar 35,7 persen. Di kalangan WPS langsung ada sekitar 15,7 persen yang menyatakan tidak mengetahui HIV/AIDS, meskipun pernah mendengarnya. Baik WPS
Pernah mendengar tidak berarti mengetahui apa itu HIV/AIDS
Sebagian besar responden pernah mendengar tentang HIV/AIDS
Gambar 3.1. Responden yang Pernah Mendengar HIV/AIDS
90 98 87 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen
maupun responden pria kebanyakan menganggap bahwa HIV/AIDS tersebut adalah penyakit menular seksual (lihat Gambar 3.2).
Cara Tepat untuk Mengetahui Seseorang Telah Tertular HIV/AIDS
Tes darah adalah cara yang paling tepat untuk mengetahui apakah seseorang tertular HIV atau tidak. Dari penelusuran lebih jauh tentang pengetahuan kelompok orang yang berperilaku berisiko, ternyata tidak sampai 40 persen dari mereka yang mengetahui cara yang tepat untuk mengetahui seseorang tertular HIV atau tidak.
Bahkan di antara WPS langsung hanya sekitar 28,4 persen yang menjawab dengan benar, ketika ditanyakan hal tersebut. Sebagian besar responden tidak tahu akan adanya tes HIV, untuk mengetahui bahwa seseorang terjangkit HIV atau tidak. WPS tidak langsung merupakan kelompok sasaran yang paling tinggi pengetahuannya, bahwa tes darah adalah cara paling tepat untuk mengetahui seseorang tertular HIV/AIDS (38 persen).
Gambar 3.2. Tingkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS
42 58 46 36 36 34 16 12 14 0 10 20 30 40 50 60 70
WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria
Pe
rs
en Mengatakan AIDS adalahpenyakit kelamin
Mengatakan AIDS penyakit yg tidak bisa disembuhkan Pernah mendengar tapi tdk mengetahui apa itu HIV/AIDS
Gambar 3.3. Tingkat Pengetahuan tentang Cara yang Tepat untuk Mengetahui Seseorang Telah Tertular HIV/AIDS 28 38 18 31 20 29 0 10 20 30 40 50 60 70 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Sebagian besar responden tidak tahu cara tepat untuk mengetahui seseorang telah tertular HIV/AIDS
Cukup banyak kelompok sasaran menyatakan tidak tahu (21,5 persen) bahwa seseorang dapat diketahui menderita AIDS dengan cara melihat saja. Namun sebagian besar (65,4 persen) menyatakan “tidak” dapat dilihat dengan mata telanjang bahwa seseorang menderita AIDS.
Meski cukup banyak kelompok berisiko yang tahu tentang HIV/AIDS, namun ternyata tidak sedikit yang berpemahaman rendah tentang penyakit tersebut. Ini terlihat dari masih adanya kelompok sasaran yang menganggap seorang yang tertular HIV bisa diketahui dengan melihat saja. Pemahaman yang salah ini terungkap dari jawaban WPS langsung (16,2 persen), WPS tidak langsung (8,8 persen), dan responden pria (13,5 persen).
Pemahaman tentang Cara Menghindari Tertular
HIV/AIDS
Pengetahuan yang benar tentang HIV/AIDS juga dapat menjadi tuntunan untuk melakukan tindak pencegahan yang benar, agar ia tidak tertular virus mematikan tersebut. Sayangnya, perilaku seseorang tidak selalu sejalan dengan tingkat pengetahuannya.
Untuk mengetahui perbedaan antara pengetahuan “teoritis” dan pengetahuan yang dicerminkan dalam perilaku, maka dalam SSP dilakukan dua tahap pertanyaan, yaitu i) meminta responden untuk menjawab secara spontan cara melindungi diri dari HIV dan ii) menelusurinya lebih jauh melalui “probing” (dengan menyebutkan jenis-jenis cara pencegahan HIV).
Paling tidak ada empat cara untuk menghindar dari terjangkit HIV yaitu tidak melakukan hubungan seks sama sekali, menggunakan kondom saat berhubungan seks, menghindari penggunaan jarum suntik bersama, serta hanya berhubungan seks dengan satu pasangan yang belum terinfeksi HIV dan yang tidak punya pasangan lain. Keempat cara tersebut ditanyakan dalam dua tahapan seperti sistem bertanya di atas.
Dari keempat cara yang benar tersebut yang paling banyak diungkapkan secara spontan oleh kalangan WPS adalah “menggunakan kondom ketika berhubungan seks”. Jawaban ini terutama diungkapkan oleh WPS langsung (73,7 persen).
Ketika ditanyakan tentang cara mencegah tertulari HIV, secara umum seseorang akan cenderung mengatakan cara melindungi yang paling relevan dengan kebiasaannya. Ini tidak berarti bahwa ia tidak mengerti cara atau metoda lain, tetapi mungkin tidak mempertimbangkan bahwa metoda lain tersebut cocok untuknya.
Pemahaman tentang cara menghindari tertular HIV/AIDS masih terbatas
Masih ada anggapan bahwa seseorang yang tertular HIV/AIDS bisa diketahui dengan melihat saja
Dengan cara mendapatkan jawaban responden melalui jawaban spontan dan probing, persentase yang menjawab benar meningkat secara berarti. Peningkatan persentase terutama terjadi untuk kategori jawaban “menghindari penggunaan jarum suntik bersama,” yang naik dari 4 persen dari jawaban spontan menjadi 58 persen ketika dilakukan probing pada WPS langsung.
Ini merupakan hal yang menarik, karena angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun kaum perempuan tersebut secara teoritis mempunyai pengetahuan, namun kenyataannya tidak seorang pun di antara mereka yang mempertimbangkannya sebagai cara perlindungan yang menarik bagi mereka. Ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan, karena WPS memberikan pelayanan seks, dan pengetahuan tersebut menjadi tidak relevan bagi penjaja seks.
Demikian juga kalangan responden pria, namun dengan proporsi yang lebih kecil (dari 8,2 persen menjadi 55,5 persen). Setelah digali lebih jauh (probing), yang menjawab bahwa virus HIV bisa dicegah penularannya dengan menggunakan kondom ketika berhubungan seks, menjadi lebih besar proporsinya. Dari ketiga kategori kelompok berisiko terlihat bahwa secara umum pengetahuan WPS relatif lebih baik dari responden pria, terutama WPS tidak langsung.
Menarik untuk dicatat bahwa lebih banyak penjaja seks dibandingkan responden pria yang secara spontan menyatakan menggunakan kondom saat berhubungan seks merupakan salah satu cara mencegah tertular HIV.
Gambar 3.4. Cara yang Diketahui agar Tidak Tertular HIV/AIDS
58 77 56 52 72 60 4 15 8 5 16 12 64 86 79 58 71 53 6 25 22 74 70 38 0 20 40 60 80 100 WP S -L WP S -T L Re sp . P ria WP S -L WP S -T L Re sp . P ria WP S -L WP S -T L Re sp . P ria WP S -L WP S -T L Re sp . P ria Pe rs en
Setelah diprobing Jaw aban Spontan Menggunakan kondom saat berhubungan seks Menghindari penggunaan jarum suntik bersama Tidak melakukan hubungan seks Berhubungan seks hanya dengan satu
Gambar 3.5 memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan responden pria tentang penggunaan kondom dapat mencegah tertular HIV/AIDS, relatif tidak berbeda nyata antara hasil SSP di Kota Denpasar, Makassar, dan Kupang. Sebelum diprobing, persentasenya berkisar antara 38 persen hingga 43 persen, dan meningkat secara nyata menjadi antara 63 persen hingga 66 persen setelah diprobing.
Pemahaman salah atau miskonsepsi ini juga terlihat dari besarnya proporsi jawaban kelompok berisiko terhadap cara pencegahan yang salah seperti minum obat sebelum berhubungan seks, menghindari gigitan nyamuk atau serangga lain, tidak menggunakan secara bersama alat makan, dan makan makanan yang bergizi. Miskonsepsi ini terutama terlihat pada kalangan WPS, meski juga tidak sedikit proporsi responden pria yang berpemahaman salah.
Miskonsepsi tentang Cara Pencegahan IMS atau
HIV/AIDS
Minum obat sebelum berhubungan seks merupakan cara yang diyakini oleh cukup banyak kelompok sasaran (35,7 persen). Preferensi terhadap cara ini banyak disetujui oleh sebagian besar WPS, terutama WPS langsung (43,9 persen), sementara dari kelompok WPS tidak langsung agak lebih kecil yaitu sebesar 36,6 persen. Sekitar 30 persen responden pria juga berfikir bahwa minum obat dapat melindungi mereka dari kemungkinan tertular IMS atau HIV/AIDS.
Keyakinan ini merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Antibiotik dan obat-obatan lainnya TIDAK dapat melindungi diri kita dari HIV. Meminum obat secara rutin dapat dengan mudah membuat obat tersebut menjadi kurang efektif ketika dibutuhkan, misalnya, untuk menyembuhkan infeksi penyakit menular seksual seperti gonorrhea (GO). Lebih berbahaya lagi, jika orang berfikir bahwa mereka sudah
Miskonsepsi terhadap beberapa cara pencegahan IMS atau HIV/AIDS sangatlah berbahaya
Gambar 3.5. Tingkat Pengetahuan Responden Pria tentang Penggunaan Kondom Dapat Mencegah Tertular HIV/AIDS
66 63 64 43 38 41 0 20 40 60 80 100
Denpasar Makassar Kupang
Pe
rs
en
Setelah diprobing Jaw aban spontan
terlindungi dari HIV atau IMS karena sudah minum antibiotik, diinjeksi, minum jamu, atau menggunakan preparat lainnya, mereka mungkin kurang suka menggunakan kondom. Namun pada akhirnya, kondomlah satu-satunya alat perlindungan yang paling ampuh bagi orang orang yang berhubungan seks dengan orang lain selain pasangan kawinnya. Angka-angka persentase pada Gambar 3.6 mencerminkan apa-apa yang dipercaya orang tentang cara pencegahan HIV.
Dari SSP juga diperoleh informasi mengenai apa yang dilakukan oleh kelompok berisiko untuk menghindari terjangkitnya IMS atau HIV. Salah satu temuan yang mengherankan adalah ternyata masih cukup banyak penjaja seks di Kota Denpasar yang secara reguler memperoleh suntikan untuk “pencegahan” IMS dan HIV (31,0 persen WPS langsung dan 14,2 persen WPS tidak langsung). Padahal Depkes sudah tidak lagi melaksanakan program penyuntikan secara massal tersebut. Bila “petugas kesehatan” masih memberikan suntikan, itu adalah di luar program Depkes. Bila penyuntikan-penyuntikan tersebut dilaksanakan di luar kontrol tenaga kesehatan, maka bahaya lain dapat muncul, yaitu apabila satu jarum suntik digunakan tidak hanya oleh satu orang (satu kali), tetapi oleh lebih dari satu atau banyak orang atau berkali-kali tanpa proses pembersihan yang benar. Ini adalah media yang efektif untuk penyebaran penyakit lainnya seperti Hepatitis.
Meskipun program penyuntikan massal sudah dihentikan oleh Depkes, persentase WPS yang mendapat suntikan pencegahan IMS dan HIV masih cukup tinggi
Gambar 3.6. Pengetahuan yang Salah Tentang Cara Menghindari Tertular HIV/AIDS
30 23 30 32 37 39 29 44 44 30 29 38 0 20 40 60 80 100
Minum obat sebelum berhubungan seks Menghindari gigitan nyamuk atau serangga lain
Tidak menggunakan secara bersama alat
makan Makan makanan yang
bergizi
Persen
WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria
4
Persepsi Berisiko
Merasa Berisiko
Informasi mengenai sejauh mana kelompok sasaran merasa berisiko terhadap IMS atau HIV/AIDS merupakan informasi yang penting untuk keperluan perencanaan program intervensi. Meskipun berada dalam lingkungan berisiko tinggi ternyata tidak semua kelompok sasaran merasa bahwa dirinya berisiko. Bahkan di kalangan responden pria hanya kurang dari 40 persen yang merasa berisiko. Proporsi WPS yang merasa berisiko hampir dua kali lipat responden pria, terutama WPS langsung (63,3 persen). Setelah ditelusuri lebih lanjut, persentase yang merasa berisiko yang pernah berhubungan seks tanpa kondom secara komersial yaitu 65,5 persen pada WPS langsung, 68,7 persen pada WPS tidak langsung, dan 30,9 persen pada responden pria.
Persepsi Tidak Berisiko di antara Kelompok Berisiko
Persepsi orang tentang ‘perilaku sehat’ tak selalu sesuai dengan kenyataan. Antara 2,8 persen hingga 60,7 persen responden mengatakan bahwa mereka tidak berisiko karena mereka selalu menggunakan kondom. Mereka yang merasa tidak berisiko tertular memiliki beberapa alasan yang bervariasi antar kelompok sasaran. Lebih dari separuh dari WPS langsung (60,7 persen) yang merasa tidak berisiko memberikan alasan bahwa mereka selalu menggunakan kondom (pemahaman yang benar), tetapi di antara WPS tidak langsung (31,6 persen) terdapat keyakinan bahwa ‘pasangan seks mereka bersih’. Ini membuat mereka merasa tidak berisiko (pemahaman yang salah). Apa pun alasannya, mereka yang merasa tidak berisiko sangat penting untuk diperhatikan dalam program intervensi, khususnya di kelompok WPS langsung.
Gambar 4.1. Responden yang Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS
63 59 35 24 29 52 12 11 13 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen Merasa Beresiko Tidak Merasa Tidak Tahu
Hubungan antara Merasa Berisiko dengan Tingkat
Pendidikan
Kesadaran berisiko tertular IMS termasuk HIV/AIDS diduga berkorelasi dengan tingkat pendidikan. Asumsinya semakin tinggi pendidikan, semakin mengerti seseorang bahwa ia melakukan pekerjaan berisiko. Hasil SSP di Kota Denpasar dengan jelas menggambarkan dugaan tersebut. Dari segi besaran proporsi, kalangan WPS menunjukkan pola hubungan tersebut secara lebih kuat. Sementara itu di kalangan responden pria memperlihatkan hubungan yang serupa namun dengan proporsi yang lebih kecil. WPS yang berpendidikan tamat SLTP sekitar 68 persen merasa berisiko, sementara responden pria pada pendidikan tamat SLTP hanya 36,2 persen saja yang merasa berisiko. Kondisi ini menuntut metode intervensi yang lebih tepat bagi masing-masing kelompok tersebut
Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin merasa berisiko
Gambar 4.1. Responden yang Tidak Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS menurut Alasannya
Gambar 4.2. Responden yang Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS menurut Tingkat Pendidikan
44 48 28 69 58 35 68 68 36 73 55 38 20 40 60 80 100 Pe rs en 61 7 20 42 32 14 3 4 2 0 20 40 60 80 100
Karena selalu menggunakan kondom
Karena yakin pasangannya bersih
Karena berobat terlebih dahulu
Pe
rs
en
5
Pola Perilaku Berisiko
Penggunaan Jasa Penjaja Seks
Banyaknya responden pria yang menyatakan pernah berhubungan seks dengan penjaja seks dalam setahun terakhir adalah sebanyak 19,0 persen. Komposisi yang pernah membeli seks komersial berdasarkan status perkawinan responden adalah sebanyak 16,2 persen berstatus kawin dan 33,3 persen yang berstatus belum kawin. Cukup besarnya persentase pelanggan seks yang berstatus kawin yang melakukan hubungan seks komersial menunjukkan cukup potensialnya penyebaran penyakit kelamin dan HIV ke dalam lingkungan keluarga.
Penggunaan Kondom
Responden yang menggunakan kondom dalam seks komersial selama setahun terakhir (untuk responden pria) atau selama seminggu terakhir (untuk WPS) di Kota Denpasar relatif besar proporsinya, yaitu lebih dari 65 persen. Sementara itu responden yang selalu menggunakan kondom persentase tertinggi adalah WPS tidak langsung (41,1 persen) diikuti oleh WPS langsung (36,4 persen) dan responden pria (19,7 persen).
Fenomena lain yang tercermin dalam pola penggunaan kondom adalah bahwa hanya sebagian saja kelompok berisiko yang secara konsisten selalu menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks. Pada WPS langsung yang tingkat penggunaannya sudah tinggi, 85 persen
Gambar 5.1. Responden Pria yang Pernah Membeli Seks dalam Setahun Terakhir menurut Status Perkawinan
33 16 19 0 10 20 30 40 50
Tidak Kaw in Kaw in Total
Pe
rs
menyatakan menggunakan kondom pada seks komersial, tetapi di antara mereka hanya sebanyak 36,4 persen saja yang selalu menggunakannya selama seminggu terakhir.
Hal yang sama juga terlihat pada WPS tidak langsung dari 60,5 persen yang menggunakan, hanya 41,1 persen yang selalu menggunakan, serta untuk responden pria jauh lebih kecil yaitu dari 31,6 persen yang menggunakan hanya 19,7 persen.
Tidak digunakannya kondom tampaknya sedikit berkaitan dengan ketersediaan kondom di lokasi. Dari hasil pengamatan petugas SSP diketahui bahwa kondom tidak selalu tersedia, atau tidak selalu mudah diperoleh di seluruh lokasi terjadinya transaksi seks, 81,2 persen lokasi WPS langsung dan 69,0 persen lokasi WPS tidak langsung.
Antara Pengetahuan dan Perilaku
Data menunjukkan bahwa WPS tidak langsung, yang relatif seumur, lebih berpendidikan, lebih lama bekerja di bidang tersebut, dan mempunyai pelanggan lebih beruang ternyata kurang suka menggunakan kondom daripada WPS langsung yang relatif kurang berpendidikan, dan yang pelanggannya dari kelompok orang yang mempunyai kepedulian rendah terhadap HIV dan berisiko hubungan seks tanpa pelindung. Secara umum kesenjangan antara pengetahuan dan kesediaan kondom di satu sisi dan perilaku atau prakteknya di sisi lain di kalangan responden sangatlah lebar.
... mereka yang tahu tentang pencegahan terhadap risiko tertular HIV/AIDS sebagian ternyata tidak menerapkan pengetahuannya dalam hubungan seks
Gambar 5.2. Penggunaan Kondom pada Seks Komersial
85 60 32 36 41 20 0 20 40 60 80 100
WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria
Pe
rs
en
Pakai kondom dalam seks komersial terakhir
Selalu pakai kondom dalam seks komersial selama setahun terakhir (responden pria) atau seminggu terakhir (WPS)
Di antara WPS langsung yang tahu bahwa pakai kondom dapat mencegah tertular HIV, sekitar 14 persen ternyata tidak menggunakan kondom pada hubungan seks komersial terakhir, sedangkan di antara WPS tidak langsung sebesar 38,1 persen yang tidak menggunakannya. Rendahnya persentase WPS langsung yang tidak menawarkan kondom pada pelanggannya di satu sisi (hanya 1,0 persen) dan tingginya persentase penggunaan kondom di kalangan WPS langsung, mungkin mengindikasikan tingginya kesadaran untuk pakai kondom.
Di kalangan responden pria yang tahu tentang pencegahan terhadap risiko tertular HIV/AIDS ternyata tidak semuanya menerapkan pengetahuannya dalam hubungan seks. Misalnya, mereka tahu bahwa sebaiknya berhubungan seks dengan satu pasangan saja, tetapi prakteknya masih banyak di antara pelanggan (20,1 persen) yang tetap saja membeli seks dari WPS. Demikian pula ada 22,9 persen pelanggan yang punya pasangan seks lebih dari satu. Bahkan di antara mereka yang tahu pencegahan penularan dapat dengan memakai kondom, 60 persen tidak menggunakannya dalam hubungan seks komersial terakhir.
Sebagian responden pria berperilaku tidak sesuai dengan
pengetahuannya.
Meski kondom mudah di peroleh di hampir semua lokasi WPS dan di sebagian tempat “mangkal” responden pria , namun responden pria tetap enggan menggunakannya Gambar 5.3. Tahu bahwa Kondom dapat Mencegah Penularan HIV/AIDS tetapi Tidak Menawarkandan Tidak Memakainya dalam Hubungan Seks Komersial Terakhir
1 26 14 38 0 20 40 60 80 100
WPS Langsung WPS Tidak Langsung
Pe
rs
en
Tahu pencegahan pakai kondom tetapi tidak pernah menaw arkan kondom kpd pelanggan
Tahu pencegahan pakai kondom tetapi tidak pakai kondom dalam seks komersial terakhir
Terdapat Perbedaan antara Pengetahuan dan Perilaku
Ada beragam alasan yang menyebabkan seseorang enggan menggunakan kondom pada saat berhubungan seks. Di kalangan responden pria beranggapan menggunakan kondom ketika berhubungan seks adalah ‘merasa kurang enak’ (63,5 persen), dengan demikian mereka menolak menggunakannya meskipun mungkin, sudah ditawarkan oleh WPS. Hal ini sejalan dengan persentase jawaban WPS langsung yang mengatakan bahwa ‘pelanggan tidak mau’, cukup besar, yaitu 50,4 persen. Cukup banyak juga di kalangan WPS tidak langsung yang beranggapan bahwa pasangannya bersih (21,9 persen). (Lihat Gambar 5.5).
Kalangan responden pria beranggapan menggunakan kondom ketika berhubungan seks adalah ‘kurang enak.’ Itu yang mendorong mereka tidak mau menggunakannya
Gambar 5.4. Responden Pria yang Tahu Pencegahan HIV/AIDS tetapi Tidak Menerapkannya dalam Hubungan Seksual 21 20 23 60 0 20 40 60 80 100
Tahu pencegahan tidak melakukan hub seks tetapi melakukan hub seks dg WPS selama setahun terakhir
Tahu pencegahan hanya hub seks dg satu pasangan setia tetapi pernah berhub seks dg WPS setahun terakhir Tahu pencegahan hanya hub seks dg satu pasangan setia
tetapi mempunyai lebih dari satu pasangan seks Tahu pencegahan pakai kondom tetapi tidak pakai kondom
dalam seks komersial terakhir
Persen
Gambar 5.5. Alasan Tidak Menggunakan Kondom pada Seks Komersial Terakhir
6 63 19 2 10 9 50 15 1 25 0 20 40 60 80 100 Pe rs en Pelanggan WPS
Seks Anal dan Narkoba
Ancaman lain terhadap kaum lelaki dalam hal berperilaku seks tidak hanya datang dari hubungan seks mereka dengan WPS, tetapi ada juga yang berasal dari hasil berhubungan seks dengan sesama mereka. Dengan demikian bagi kaum lelaki yang senang berhubungan seks sesamanya, kecenderungan seperti ini harus disikapi secara serius. Di Kota Denpasar, meski sedikit, ada juga responden pria yang pernah berhubungan seks dengan waria pada setahun terakhir, yaitu sekitar 0,3 persen.
Di kalangan kelompok sasaran di Kota Denpasar, penggunaan narkoba atau obat-obatan terlarang juga terungkap, terutama di kalangan WPS tidak langsung (22,3 persen). Di kalangan WPS langsung dan responden pria meski ada, namun persentasenya kecil (6,7 persen di kalangan WPS langsung dan 1,8 persen di kalangan responden pria). Selain itu, ditemukan juga sekitar 0,4 hingga 1 persen responden pernah menggunakan narkoba suntik. Sementara, pasangan seks responden yang pakai narkoba suntik sekitar 0,8 hingga 4,1 persen. (lihat Gambar 5.6)
Di Kota Denpasar sebagian responden dari setiap kelompok sasaran yang mengatakan bahwa pasangan seks mereka pernah menggunakan narkoba suntik, bahkan dengan persentase yang lebih besar (0,8 persen hingga 4,1 persen). Ini merupakan potensi penyebar virus HIV yang sangat menakutkan.
Ada juga pasangan seks responden yang menggunakan narkoba suntik
Meski kecil
persentasenya, ada responden dan pasangan seksnya yang pakai narkoba suntik
Gambar 5.6. Responden dan Masing-masing Pasangan Seksnya yang Pernah Menggunakan Narkoba Suntik 0.4 1.0 0.5 3.9 4.1 0.8 0 1 2 3 4 5
WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria
Pe
rs
en
Pernah menggunakan narkoba suntik
6
IMS dan Perilaku Pencarian Pengobatan
Infeksi Menular Seksual (IMS)
Dari ketiga kelompok berisiko, relatif cukup banyak dari kalangan WPS langsung (30,6 persen) yang pernah mengalami gejala IMS dalam setahun terakhir. Sedangkan dari kalangan WPS tidak langsung dan kalangan responden pria, yang pernah mengalami gejala IMS masing-masing sebesar 19,8 persen dan 8,5 persen.
Data ini diperoleh dari “apa yang dilaporkan” oleh responden, sehingga realitanya mungkin jauh lebih besar karena pada perempuan tidak menunjukkan simptom atau gejala tertentu, sehingga mereka tidak menyadarinya, sementara sebagian lainnya mungkin tidak melaporkannya karena berbagai alasan.
Penyakit tersebut mereka derita terutama akibat perilaku yang tidak sehat dalam melakukan hubungan seks (tidak menggunakan kondom). Ini terbukti dari besarnya proporsi mereka yang terkena IMS karena tidak menggunakan kondom ketika berhubungan seks komersial. Di kalangan responden pria yang menderita IMS ada 64,7 persen yang tidak selalu pakai kondom dalam berhubungan seks komersial terakhir. Di kalangan WPS persentasenya juga cukup besar, WPS langsung sebesar 21,8 persen dan WPS tidak langsung sebesar 39,5 persen. Ini berarti yang pakai kondom persentasenya cukup besar, tetapi mereka masih tertular IMS. Setelah ditelusuri lebih jauh ternyata yang selalu pakai kondom setiap kali berhubungan seks juga rendah. Yang persentasenya agak tinggi (selalu pakai) adalah WPS tidak langsung (42,1 persen). (Lihat Gambar 6.1).
Perilaku seks yang tak sehat harus dibayar mahal dengan tertular IMS
Gambar 6.1. Pemakaian Kondom pada Responden yang Mengalami Gejala IMS
22 40 65 24 42 24 0 20 40 60 80
WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria
Pe
rs
en
Dari yang mengalami gejala IMS, persentase yang tidak pakai kondom dalam seks komersial terakhir
Dari yang mengalami gejala IMS, persentase yang selalu pakai kondom dalam seks komersial setahun terakhir
Jenis Keluhan IMS
Keluhan IMS pada perempuan dan lelaki tidak selalu sama. Ada keluhan tertentu yang dialami perempuan tetapi tidak dialami lelaki, demikian juga sebaliknya. Misalnya, penyakit kencing nanah dikeluhkan oleh responden pria, sebaliknya penyakit keputihan dikeluhkan responden perempuan. Secara umum, keputihan disertai bau tak sedap merupakan jenis IMS yang banyak diderita oleh kalangan WPS, langsung maupun tak langsung (71,8 persen). Sementara itu di kalangan WPS, selain keputihan, banyak juga di antara mereka yang menderita luka/koreng di daerah alat kelamin (antara 36 hingga 48 persen). Ini perlu mendapat perhatian yang serius, mengingat luka pada alat kelamin baik bagi perempuan maupun lelaki, akan membuka pintu bagi masuknya virus HIV ke pasangan seksnya. Sementara itu, di kalangan responden pria, luka/koreng di sekitar alat kelamin (64,5 persen), dan kecing nanah (51,6) merupakan dua jenis IMS yang paling banyak mereka alami.
Tempat Berobat
Hampir 22 persen WPS langsung, sekitar 26 persen WPS tidak langsung, dan sekitar 23 persen responden pria, mencoba mengobati sendiri ketika mereka merasakan gejala IMS. Jelas bahwa upaya pengobatan sendiri tidak efisien. Sekitar 69 persen WPS langsung dan sekitar 67 persen WPS tidak langsung, serta 48 persen responden pria ternyata di awal kejadian berusaha mengobati diri mereka sendiri, namun kemudian mereka pergi ke tempat pelayanan kesehatan juga. Hasil SSP di Denpasar menunjukkan bahwa petugas kesehatan masih merupakan tempat pengobatan yang banyak dipilih oleh ketiga kelompok sasaran, terutama bagi kalangan WPS langsung (75,6 persen) dan responden pria (71,0 persen)
Petugas kesehatan masih merupakan pilihan utama pengobatan keluhan IMS yang dialami Keputihan merupakan jenis IMS yang paling banyak diderita WPS
Gambar 6.2. Jenis Keluhan IMS
47 36 65 17 13 39 72 72 52 0 20 40 60 80 100
WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria
Pe
rs
en
Luka/koreng di daerah alat kelamin
Benjolan di sekitar alat kelamin
Keputihan disertai dengan bau tak sedap Kencing nanah
Preferensi permintaan tolong pada petugas kesehatan untuk mengobati PMS yang diderita kelompok sasaran ternyata berbeda. WPS lebih menyukai klinik yayasan daripada tempat berobat yang lain. Persentase WPS langsung dan WPS tidak langsung yang berobat ke klinik yayasan adalah masing-masing sebesar 74,6 dan 61,5 persen. Sebaliknya responden pria lebih menyukai dokter praktek (81,8 persen). Tidak jelas apa alasan pilihan ini, bisa karena akses yang mudah, karena sudah langganan, karena biaya berobat yang berbeda, atau karena secara finansial mereka punya uang lebih banyak.
WPS lebih memilih klinik yayasan, sedangkan responden pria lebih suka ke dokter praktek untuk berobat
Gambar 6.3. Responden yang Pernah Mengalami Gejala IMS menurut Cara yang Dilakukan Saat Mengalami Gejala IMS tersebut
Gambar 6.4. Responden yang Pernah Mengalami Gejala IMS menurut Tempat Berobat/ Fasilitas Kesehatan 19 82 2 0 5 75 0 3 4 1 31 0 9 4 61 4 0 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen
Dokter praktek Rumah sakit Pustu/Puskesmas Klinik/Yayasan Mantri kesehatan Lainnya 7 10 6 3 5 6 0 3 0 71 67 76 21 15 14 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen
Berobat ke petugas kesehatan Melakukan pengobatan sendiri dg antibiotik Melakukan pengobatan sendiri dg jamu/obat lain Tidak melakukan sesuatu/tidak diobati Berobat ke dukun/tabib
7
Kesimpulan dan Saran
Epidemi HIV telah berlangsung lebih dari 20 tahun. Dalam masa itu, kita telah belajar banyak tentang bagaimana dan apa yang perlu dilakukan untuk mencegah penyebarluasan HIV dan mengurangi dampaknya. Berbagai upaya ini biasanya dimulai dengan memberikan informasi dan melakukan kampanye kepedulian pada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terinfeksi HIV.
Di Kota Denpasar, intervensi pendidikan seperti ini meski belum mengenai seluruh kelompok sasaran, namun cakupannya sudah cukup luas. Ini terlihat dari cukup banyaknya proporsi WPS langsung (42,4 persen) dan WPS tidak langsung (41,6 persen) yang hadir dalam forum-forum seperti itu. Namun sayangnya, sedikit sekali kalangan pelanggan, (6,8 persen) yang terjangkau forum seperti ini.
Satu hal yang dapat kita pelajari adalah bahwa informasi itu sendiri tidaklah cukup. Orang perlu motivasi, kepandaian/keterampilan dan jasa untuk menindaklanjuti informasi yang mereka terima. Data yang disajikan dalam laporan ini memberikan gambaran bahwa semua itu masih kurang dalam konteks Kota Denpasar-Bali. Hasil ini mengungkapkan adanya perilaku berisiko pada tingkat yang tinggi dan adanya ancaman yang kuat akan meluasnya epidemi HIV di daerah ini. Bagian ini memberikan ringkasan mengenai beberapa temuan utama dari surveilens perilaku di Kota Denpasar - Bali, dan tantangan yang muncul, usulan tindakan untuk menghadapi tantangan tersebut.
Temuan kunci
Pengetahuan dan persepsi berisiko
• Banyak orang pernah mendengar tentang HIV/AIDS, namun pengetahuan rinci tentang cara penyebaran dan pencegahannya ternyata masih sangat rendah.
• Ada kesenjangan yang lebar dalam pengetahuan di antara responden pria dengan perilaku berisiko tinggi, khususnya mengenai penting dan efektifnya penggunaan kondom.
• Ada kepercayaan yang begitu meluas bahwa penggunaan obat sebelum atau sesudah berhubungan seks dapat melindungi atau mencegah dari PMS, juga HIV. Ini merupakan sikap yang berbahaya bila terus dibiarkan.
• Meski mempunyai pengetahuan yang cukup, namun responden tidak selalu siap untuk mengubah perilaku mereka ke perilaku yang sehat.
• Banyak responden yang tahu bagaimana HIV ditularkan, namun mereka tidak merasa berisiko tertular penyakit tersebut. Dengan jelas mereka melaporkan bahwa mereka melakukan hubungan seks tanpa pelindung dengan banyak pasangan. Ada ketidak sesuaian yang substansial di antara orang-orang yang merasa diri mereka berisiko, dengan perilaku berisiko yang mereka lakukan.
Perilaku berisiko dan kondom
• Lebih dari 50 persen kaum lelaki dalam kelompok responden SSP melakukan hubungan seks sebelum menikah, dan sekitar 16 persen lelaki berstatus kawin melaporkan juga berhubungan seks dengan bukan pasangan nikahnya (WPS).
• WPS langsung dilaporkan merupakan pengguna kondom yang paling rendah pada setiap kali berhubungan seks komersial, namun pelanggan mereka lebih parah lagi (lebih dari 80 persen tidak selalu memakai kondom).
• Terlepas dari tidak selalu digunakannya kondom tersebut, kondom tidak selalu tersedia di mana transaksi seks berada (lokasi WPS). • Alasan sebagian besar WPS tidak menggunakan kondom adalah
karena pelanggannya tidak suka (merasa tidak enak) atau tidak mau menggunakannya, meskipun kebanyakan mereka selalu menawarkannya.
• Proporsi kaum lelaki yang melaporkan melakukan hubungan seks melalui anal dengan waria meski kecil.
• Proporsi responden yang menggunakan narkoba suntik memang kecil, namun aktivitas ini merupakan kegiatan yang sangat berisiko tinggi tertular HIV dan prevalensinya cenderung menaik. Yang juga mengkhawatirkan adalah adanya kepercayaan bahwa proporsi pasangan mereka yang menggunakan narkoba suntik juga cukup berarti.
Kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
• Perilaku berisiko tinggi mempunyai konsekuensi yang dapat diukur dari tingginya persentase orang-orang yang melaporkan tertular IMS. Mayoritas yang pernah tertular IMS (sekitar 20 hingga 65 persen) adalah mereka yang melaporkan tidak menggunakan kondom.
• Banyak orang dengan gejala awal IMS berusaha mengobati diri mereka sendiri. Bila upaya mereka gagal baru mereka pergi ke tempat pelayanan kesehatan.
• Tempat pelayanan kesehatan yang paling banyak digunakan oleh WPS adalah klinik yayasan. Sebaliknya responden pria lebih
memilih dokter praktek. Tidak jelas benar apakah para dokter ini mendapat pelatihan cara menangani IMS atau tidak.
• Proporsi yang cukup tinggi dari WPS yang melaporkan telah menerima injeksi secara rutin untuk “melindungi” dari HIV dan IMS merupakan tantangan bagi kebijakan pemerintah, karena itu berarti membiarkan kaum perempuan berada dalam kondisi yang berbahaya (merasa aman dengan adanya injeksi dimaksud).
Usulan tindakan
• Menjamin tersedianya akses universal terhadap informasi yang relevan, rinci dan benar tentang HIV, dan cara pencegahannya untuk orang-orang yang berisiko tinggi.
• Menyediakan informasi rinci tentang kondom bagi kaum lelaki, termasuk demonstrasi penggunaannya dan pengorganisasian “kampanye penggunaan kondom” yang menyediakan insentif bagi kaum lelaki yang tidak pernah menggunakan untuk mencobanya. • Mempertimbangkan pelaksanaan promosi dan distribusi kondom di
kalangan sopir/kernet truk dan di tempat-tempat lain di mana kaum lelaki dengan perilaku risiko tinggi dapat secara berkala ditemui. • Dalam semua aktivitas promosi kondom, perlu ditekankan akan
kebutuhan/pentingnya penggunaan kondom pada kegiatan seks berisiko.
• Bekerja sama dengan pemilik atau pengelola lokalisasi, rumah bordil dan panti pijat/bar/karaoke atau sejenisnya untuk menganjurkan para penanggungjawab/germo/mucikari/mami, dan berbagai pihak berpengaruh yang mempunyai kontak dengan pelanggan untuk menegosiasikan penggunaan kondom dan menyediakan kondom langsung
• Melaksanakan penelitian kualitatif untuk memahami secara lebih baik mengapa orang-orang yang melaporkan berperilaku berisiko tidak merasa terancam oleh HIV dan PMS, dan menggunakan hasil penelitian tersebut untuk kampanye perlindungan di masa datang. • Melakukan kampanye secara aktif untuk mengakhiri kepercayaan
bahwa meminum obat merupakan cara melindungi diri dari PMS dan HIV.
• Berupaya secara aktif untuk menghentikan praktek-praktek penyuntikan massal bagi pekerja seks. Mempertimbangkan sanksi hukumnya termasuk menutup atau membekukan izin praktek bagi orang-orang yang menyediakan “jasa” tersebut.
• Menjamin bahwa praktisi medis (termasuk dokter praktek) yang menyediakan pelayanan pengobatan IMS bagi kelompok berisiko tinggi telah mendapat pelatihan yang memadai tentang pengelolaan IMS dan nasehat perlindungannya, serta mempunyai akses pada
pelayanan jasa laboratorium yang berkualitas dan pasokan obat obatan yang tepat.
• Bekerja dengan para pekerja di bidang industri seks dan yang terkait untuk mengerahkan WPS agar terlatih secara personil dalam skrining IMS dan perawatannya. Mempertimbangkan untuk mengenalkan “kartu sehat” bagi WPS, yang mencatat kunjungan skrining dan sejarah perlakuan pengobatan yang pernah dialami.
• Melakukan penelitian secara rinci mengenai penggunaan narkoba suntik dan kaitannya dengan seks komersial, dan memulai program pengurangannya bila diperlukan.