• Tidak ada hasil yang ditemukan

BELAJAR YAH BLUTO SUMENEP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BELAJAR YAH BLUTO SUMENEP"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user PE

teac be u CTL is Re anal effec distr conc grou Keyw

PEND dibe mula untu deng anal serta Kom pese dan berta selal men Mate kons pena mem (4) m (5)m kegu kehi dima yaitu mem

ENGEMB TEACH PR

The obj hing mate used in lear

in learnin esearch an lyze, (2) d ctivennes s ribution t is clusion is th up.

words: de le DAHULUA Mata pela erikan kepa ai dari j uk memb

gan kema itis, sistem a kema mpetensi te

erta didik m memanfa ahan hidu lu berubah Tujuan d nurut Stan

ematika m sep matem alaran pa mecahkan

mengkomu memiliki sik

unaan idupan. (De

Pemecaha aksud dal u peserta d mahami ma

ANGAN HING AND

RESTASI AMBUN

Ab Ma

jectives of rial in MT rning (3) to ng for achie nd Develop

design, (3) shown ind s 2,021 an hat the dif

evelopmen earning ac AN

ajaran mat ada semua jenjang s bekali p ampuan b matis, kriti ampuan

ersebut di memperol aatkan inf up pada k h.

dari belaj ndar Isi M meliputi:

matika, (2) da pola dan mema unikasikan kap mengh

matemat epdiknas, an ma lam Stand

didik diha asalah, me

BAHAN D LEARN

BELAJAR NTEN DA

KABU

bd Gafur1, S agister Tek doe

f this resea Ts Aswaj A

o know eff evement m

ment (R&D ) develop, dependent nd the valu fference be

nt, module chievement

tematika p a peserta d sekolah d peserta d

berpikir lo is dan kre

bekerjasa iperlukan

eh, menge formasi un

keadaan y ar matem Mata Pela (1) mema ) menggun dan sifat ahami mas n gagasan,

hargai terh tika d 2006:140) asalah dar Isi ters

rapkan ma erancang m

AJAR M NING (CT

R MATEM AN MTs A

UPATEN

Samsi Hary knologi Pen l.gafur@ya Abstra arch are

mbunten, fectiveness mathematic D) used AD (4) imple samples ue of signif

etween gro

e, context t

perlu didik dasar didik ogis, eatif, ama.

agar elola, ntuk yang matika

ajaran ahami nakan t, (3) salah, , dan hadap dalam

. yang sebut ampu model

ODUL BE TL) UNTU MATIKA AL-HIDAY

SUMENE

yanto2, Sri ndidikan F ahoo.co.id act

(1) to desc (2) to prod module of cs learning DDIE model ement, and

t tes valu ficance leve oup using m

tual teach

matemati menafsirk Untuk itu harusnya tujuan m yang te tersebut.

Pres tingkat SM mengalam yaitu dari Pada Ga merupaka Nasional tahun ter dan Tahu

S Gambar 1

ERBASIS UK MENIN

DI MTS A YAH BLU EP

Haryati3 FKIP UNS

cription ut duce math

f identify t g. The meth

l consist fiv d (5) eval ue is 2,526

el is 0,015 modules ba

hing and

ika, menye kan solus u, pembe dirancan mata pela rtuang p tasi be MP/MTs du mi penurun i Tahun 20 ambar 1.

an data (UAN) tin rakhir yaitu

n 2015.

Sumber: Ke 1.1 Data N Tingka 2014-2 Tahun  

2015  56,58

CONTEX NGKATK ASWAJ UTO

tilizing ma ematic’s m two dimens hods of thi ve stages, n luate. The 6 and the smaller of ased CTL t

learning,

elesaikan m si yang elajaran d ng menga

ajaran m pada Sta lajar m ua tahun te nan kurang 014 ke Tah .1 di ba

nilai Uji ngkat SMP/

u pada Ta

emendikbu Nilai UN M at SMP/MT 2015

Tahun   2014  60,90

XTUAL KAN

athematics module can sion based is research namely (1) result of e value of f 0,05. The than other

students’

model dan diperoleh.

di sekolah acu pada matematika andar Isi matematika erakhir ini g lebih 4%

hun 2015.

awah ini an Akhir /MTs dua ahun 2014

ud

Matematika TS Tahun s n d h ) f f e r

n h a a i a i

% . i r a 4

a n

(2)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Hasil nilai rata-rata UN mata

pelajaran matematika tingkat SMP/MTs Tahun 2014 memperoleh nilai rata-rata 60,90. Pada Tahun 2015 memperoleh nilai rata-rata 56,58. Hasil nilai rata- rata UN ini membuktikan bahwa prestasi belajar matematika tingkat SMP/MTs masih rendah.

Rendahnya prestasi belajar matematika juga terjadi di MTs Aswaj Ambunten. Gambar 1.2 dibawah ini merupakan nilai Ujian Akhir Semester I Tahun 2015 Kelas VII MTs Aswaj Ambunten Tahun Ajaran 2015/2016.

 

  Gambar 1.2 Nilai UAS Matematika Kelas VII MTs Aswaj Ambunten Tahun Ajaran 2015/2016

Hasil Ujian Akhir Semester (UAS) ini

menunjukkan prestasibelajar matematika di sekolah masih sangat

rendah, hal ini terbukti dari hasil Ujian Akhir Semester tahun ajaran 2015/2016. Dari hasil Ujian Akhir Semester tersebut hanya 7 peserta didik dari 69 peserta didik yang berasal dari tiga kelas yang berbeda yang memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM di Sekolah MTs Aswaj Ambunten yaitu 70.

Dari hasil Ujian Akhir Semester tersebut diketahui Kelas VII A yang berjumlah 27 orang, terdapat 5 peserta didik yang memenuhi nilai KKM sedangkan 22 orang belum memenuhi nilai KKM. Kelas VII B yang berjumlah 20 orang terdapat 1 orang yang memenuhi nilai KKM sedangkan 19 orang masih belum memenuhi KKM.

Kelas VII C yang berjumlah 22 orang, hanya 1 orang yang mencapai nilai KKM sedangkan 21 orang belum memenuhi KKM. Rendahnya prestasi

belajar matematika ini karena pembelajaran di kelas kurang efektif

dan efisien. Pembelajaran dikatakanefektif dan efisien apabila ada interaksi antara guru dengan peserta didik dan sebaliknya. Interaksi tersebut bisa terjadi apabila guru dapatmenerapkan teori belajar konstruktivisme.

Slavin(2003:257) menyatakan

“students must construct knowledge in their own minds”. Belajar menurut konstruktivisme yaitu mengharuskan peserta didik sendiri yang harus aktif dan mentransfer atau membangun pengetahuan yang akan dimilikinya.

Salah satu pembelajaran yang memuat komponen konstruktivisme yaitu pembelajaran kontekstual.

Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang dapat membantu peserta didik mengaitkan materi yang dipelajari di sekolah dengan kehidupan sehari-hari dengan tujuan agar peserta didik dapat menerapkan apa yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari (Fadjar Shadiq, 2009:28).

Terdapat tujuh komponen yang perlu diterapkan dalam pembelajaran kontekstual. Ketujuh komponen tersebut meliputi: (1) konstruktivisme(2) inkuiri, (3) bertanya,

(4) masyarakatbelajar, (5) pemodelan, (6) refleksi, dan (7) penilaian autentik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual terbukti efektif dapat meningkatkan prestasi belajar. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Widarso Pujianto (2012) menyatakan bahwa dengan menerapkan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar matematika. Oleh karena itu, pembelajaran kontekstual dapat dijadikan sebagai alternatif dalam meningkatkan prestasi belajar matematika.

Cara lain yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan prestasi belajar matematika selain menerapkan pembelajaran kontekstualyaitu dengan caramengembangkan bahan ajar. Bahan ajar yang dikembangkan yaitu bahan ajar inovatif yang dapat menimbulkan daya tarik dan semangat peserta didik untuk belajar.

5 22

1 19

1 21 0

5 10 15 20 25

Tuntas  Tidak  Tuntas 

Tuntas  Tidak  Tuntas 

Tuntas  Tidak  Tuntas  Kelas VII A Kelas VII B Kelas VII C

(3)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

Morisson,Ross,& Kemp (2007:228)

“the development of instructional materials is the implementation of the instructional design plan”. Bahan ajar merupakan implementasi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Guru sebelum menyusun bahan ajar terlebih dahulu guru harus menyusun RPP karena RPP dan bahan ajar merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Namun yang terjadi di sekolah saat ini RPP dengan bahan ajar tidak sesuai. Hal ini disebabkan bahan ajar bukan disusun oleh guru. Bahan ajar yang digunakan di sekolah saat ini merupakan bahan ajar yang disusun oleh penerbit.

Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 menyatakan guru wajib memiliki 4 kompetensi.

Keempat kompetensi tersebut meliputi:

kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional (Depdiknas, 2005:6).

Tugas dan kewajiban guru untuk mencapai kompetensi paedagogik sesuai tuntutan pemerintah tersebut dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008. Tugas-tugas tersebut di antaranya: (1) guru harus memahami karakteristik peserta didik, (2) mengembangkan kurikulum atau silabus, (3) merancang pembelajaran, (4) melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis...(Depdiknas, 2008:6).

Salah satu tugas yang perlu dilakukan guru untuk mencapai kompetensi paedagogik meliputi merancang pembelajaran. Merancang pembelajaran itu bermacam-macam bentuknya. Menyusun bahan ajar merupakan salah satu bentuk dari merancang pembelajaran.

Mengembangkan bahan ajar merupakan salah satu kewajiban guru guna menciptakan pembelajaran yang efektif. Bahan ajar yang perlu dikembangkan guru yaitu bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik yaitu bahan ajar yang disusun oleh guru secara

mandiri karena yang memahami karakteristik peserta didik di masing- masing sekolah yaitu guru di setiap sekolah.

Bahan ajar yang digunakan di MTs Aswaj Ambunten dan MTs Al-Hidayah ini yaitu bahan ajar yang dibeli dari penerbit. Bahan ajar yang digunakan penyusunannya tidak memperhatikan karakterstik peserta didik dan RPP yang telah disusun oleh guru.

Bahan ajar yang tidak sesuai dengan RPP sudah pasti penyajian materinya tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran. Penyajian materi dalam bahan ajar tersebut tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Hal itu terlihat dari contoh yang digunakan untuk mengenalkan segitiga yaitu menara Eifel. Peserta didik di MTs Aswaj Ambunten dan MTs Al-Hidayah Bluto kurang familiar bahkan banyak peserta didik yang tidak mengenal bangun menara Eifel. Hal ini terjadi karena penyusunan bahan ajar tidak memperhatikan karekteristik peserta didik.

Modul merupakan salah satu jenis bahan ajar yang sengaja disusun untuk memfasilitasi peserta didik belajar mandiri. Smaldino, Lowter, &

Russel (2008:214) “an instructional module is any self contained single instructional unit designed for by use a single learner or a small group of learner without a teacher presense”.

Modul merupakan unit pembelajaran yang lengkap yang disusun dengan tujuan peserta didik baik secara individu maupun kelompok dapat belajar tanpa kehadiran guru.

Nur E.A., Widha Sunarno, &

Sarwanto, (2015) dalam penelitiannya menunjukkan dengan menggunakan bahan ajar modul dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran dan prestasi belajar. Untuk itu, bahan ajar modul merupakan salah satu alternatif yang perlu diterapkan dalam pembelajaran guna mewujudkan pembelajaran yang efektif.

Merujuk pada hasil penelitian di atas bahwa dengan menerapkan pembelajaran kontekstual dan menggunakan bahan ajar modul dalam pembelajaran dapat meningkatkan

(4)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

prestasi belajar dan terbukti dapatmeningkatkan efektifitas pembelajaran maka modul berbasis

CTL dipandang perlu untuk dikembangkan sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar matematika. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul pengembangan bahan ajar modul berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk meningkatkan prestasi belajar matematika di MTs Aswaj Ambunten dan MTs Al-Hidayah Bluto Kabupaten Sumenep.

Dari beberapa permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bahan ajar yang digunakan di MTs Aswaj Ambunten, (2) menghasilkan produk modul berbasis CTL yang layak digunakan dalam pembelajaran, dan (3) menguji efektifitas produk yang dikembangkan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di MTs Aswaj Ambunten dan MTs Al-Hidayah Bluto Kabupaten Sumenep. Penelitian ini dilakukan dari Bulan November 2015 sampai dengan bulan Agustus 2016.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian

danpengembangan (R&D).Model pengembangan yang digunakan yaitu

model ADDIE yang terdiri dari lima tahap yaitu (1) analisis, (2) desain, (3) pengembangan, (4) implementasi, dan (5) evaluasi.

Penelitian pengembangan (R&D) merupakan peneltian yang bertujuan untuk merancang, memproduksi, dan menguji efektifitas produk yang dikembangkan (Sugiyono,2015:30).

Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu modul matematika berbasis CTL untuk MTs Kelas VII.

Produk yang dikembangkan dinilai oleh para ahli. Ahli yang digunakan untuk menilai produk yang dikembangkan terdiri dari (1) ahli desain bahan ajar, (2) ahli materi, dan (3) ahli bahasa.

Uji coba produk meliputi uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan.

Uji coba kelompok kecil dilakukan di Kelas VII A MTs Aswaj Ambunten yang berjumlah sembilan subyek. Uji coba lapangan dilakukan di Kelas VII B MTs Aswaj Ambunten yang berjumlah 25 subyek.

Efektifitas produk dilihat dari perbedaan hasil tes prestasi belajar matematika antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimen.

Kelas yang dijadikan kelas eksperimen yaitu kelas VII B MTs Aswaj Ambunten sedangkan kelas yang dijadikan kelas kontrol yaitu kelas VII MTs Al-Hidayah Bluto. Produk yang dikembangkan dikatakan efektif apabila terdapat perbedaan prestasi belajar yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.

Jenis eksperimen yang digunakan yaitu Quasi Eksperimental Design.

Desain yang digunakan yaitu Design Nonequivalent Control Group Design.

Kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak dipilih secara random melainkan dipilih yang sama atau setara (Sugiyono, 2015:508).

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

lembarobservasi, pedoman wawancara, dan tes. Lembar observasi

digunakan untuk mengumpulkan data dari para ahli. Pedoman wawancara digunakan untuk mengumpulkan data dari peserta didik. Tes digunakan untuk mengumpulkan data hasil prestasi belajar matematika. Adapun cara untuk menentukan kualitas produk yang dikembangkan dihitung dengan cara seperti Tabel 1.1 berikut ini.

Tabel 1.1 Penentuan Kualitas Produk Tingkat

ketercapaian Kualifikasi Keterangan 90%-100% Sangat

baik Tidak perlu revisi 75%-89% Baik Revisi

seperlunya 65%-74% Cukup Cukup

banyak revisi

55%-64% Kurang Banyak

(5)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

revisi 0%-54% Sangat

kurang Revisi total Data yang diperoleh dari hasil penilaian ahli dan subyek uji coba dianalisis menggunakan Tabel 1.1, sedangkan data hasil tes prestasi belajar dari kelas eksperimen dan kelas kontrol dibandingkan dan dianalisis menggunakan uji t sampel bebas.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Temuan Penelitian

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti ditemukan bahwa bahan ajar yang digunakan di MTs Aswaj Ambunten dan MTs Al- Hidayah Bluto yaitu bahan ajar yang dibeli dari penerbit berupa lembar kerja siswa yang berisi kumpulan materi Kelas VII semester genap.

Materi-materi yang terdapat pada LKS tersebut di antaranya himpunan, garis-garis sejajar dan sudut, segitiga dan segiempat. Materi yang disajikan kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Hal itu terlihat dari contoh yang digunakan untuk mengenalkan segitiga yaitu Menara Eifel. Selain tidak relevan, gambar yang digunakan tidak terlihat dengan jelas.

Di samping beberapa alasan di atas, contoh yang digunakan dalam bahan ajar tersebut hanya diberikan contoh benda yang bentuknya mirip dengan segitiga sedangkan contoh benda yang bentuknya mirip dengan segiempat tidak ada. Menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari merupakan hal yang sangat penting untuk menanamkan konsep dan memudahkan peserta didik mengingat materi yang dipelajari.

Selain contoh yang digunakan dalam bahan ajar tersebut tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, ada aspek lain yaitu materi. Penyajian materi dalam bahan ajar tersebut tidak konstruktivis karena materi yang disajikan sifatnya menjelaskan dan memberi tahu konsep bukan menemukan konsep. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa contoh yang digunakan dalam bahan

ajar yang digunakan tidak relevan dengan kehidupan peserta didik dan penyajian materi yang disajikan tidak konstruktivis. Hal inilah yang menyebabkanrendahnyaprestasi

belajar matematika di MTs Aswaj Ambunten.

B. Hasil Pengembangan 1. PenilaianAhli

Hasilpenilaianparaahliterhadap modulmatematikaberbasis CTL dapat dilihat pada Tabel 1.2 berikut ini.

Tabel 1.2 Hasil Penilaian Para Ahli

Ahli Skor Kualitas

Produk Ahli Desain

Bahan Ajar I 90% Sangat Baik Ahli Desain

Bahan Ajar II 92% Sangat Baik Ahli Materi I 85,4% Sangat Baik Ahli Materi II 98% Baik

Ahli Bahasa I 95% Sangat Baik Ahli Bahasa II 100% Sangat Baik

Rata-rata 93,4% Sangat Baik Ada enam aspek yang dinilaiolehahlidesainbahan ajar.

Keenam aspek tersebut meliputi:

teknikpenyajian,

pendukungpenyajian,penyajianpembel

ajaran, kelengkapanpenyajian,

tampilan, dandesainisi.

Selainmenilaiaspekpenyajianahlidesain bahan ajar juga menilaikelengkapan komponenCTL.

Hasilpenilaianolehahlidesainbaha n ajar I memperolehskor 90%

danahlidesainbahan ajar II memperolehskor 92%.Rata-rata hasil penilaian ahli desain bahan ajar yaitu 91%.

Dengandemikiandapatdisimpulkanbah

wamodulberbasis CTL dariaspekpenyajian dankelengkapan

komponen CTL termasukkategorisangatbaik.

Aspek yang dinilaiolehahlimateriterdiri dari tiga

aspek. Ketiga aspek tersebut meliputi:(1) kesesuaianmateridengan

SK dan KD,(2) pendukungmateripembelajaran,

dan(3)kemutakhiranmateri.

Hasilpenilaianolehahlimateri I

(6)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

memperolehskor85,4% danahlimateri II

memperolehskor 98%. Rata-rata hasil penilaian ahli materi yaitu 91,7%.

Dengandemikiandapatdisimpulkanbah

wamodulmatematikaberbasis CTL dariaspekmateridapatdikategorikansan

gatbaik.

Ada lima aspek yang dinilai oleh ahli bahasa. Kelima apektersebut meliputi: kelugasan,komunikatif, dialogisdaninteraktif, kesesuaian denganperkembanganpesertadidik,

dankesesuaiandengankaidahbahasa Indonesia.

HasilpenilaianolehahlibahasaI

memperolehskor 95% dan ahli bahasa II memperoleh skor 100%. Rata-rata hasil penilaian ahli bahasa yaitu 97,5%.Dengandemikiandapatdisimpulk anbahwamodulmatematikaberbasis CTLdariaspekbahasadapatdikategorika nsangatbaik.

Dari hasil penilaian para ahli di atas, modul matematika berbasis CTL dari aspek penyajian, materi, dan bahasa termasuk kategori baik berdasarkan pandangan ahli.

2. Hasil Uji Coba

Uji coba produk dilakukan dua kali uji coba yaitu uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan. Uji coba kelompok kecil bertujuan untuk mengetahui efektifitas produk setelah direvisi berdasarkan masukan ahli. Uji coba lapangan bertujuan untuk mengetahui efektifitas produk setelah direvisi berdasarkan masukan peserta didik pada saat uji coba kelompok kecil.

Subyek uji coba kelompok kecil terdiri dari 9 orang sedangkan subyek uji coba lapangan terdiri dari 25 orang.

Subyek uji coba kelompok kecil yaitu peserta didik Kelas VII A MTs Ambunten, sedangkan subyek uji coba lapangan yaitu peserta didik Kelas VII B MTs Aswaj Ambunten. Hasil uji coba kelompok kecil dapat dilihat pada Tabel 1.3 berikut ini.

Tabel 1.3 Hasil Penilaian Uji Coba Kelompook kecil

Aspek yang dinilai Skor Kemudahan memahami materi 97%

Relevansi materi dengan

kehidupan sehari-hari 97%

Kejelasan bacaan 97%

Kejelasan gambar 97%

Kejelasan petunjuk belajar 89%

Kemenarikan warna 94%

Kemudahan bahasa 97%

Kejelasan petunjuk pengerjaan

soal dan latihan soal 92%

Dari hasil uji coba kelompok kecil terdapat satu aspek yang belum memenuhi kategori sangat baik karena skornya kurang dari 90%. Aspek tersebut yaitu tentang kejelasan petunjuk belajar. Kemudian petunjuk belajar direvisi dan diperbaiki berdasarkan saran dan masukan dari peserta uji coba. Setelah produk direvisi dan diperbaiki kemudian dilanjutkan ke uji coba lapangan. Hasil uji coba lapangan disajikan pada Tabel 1.4 berikut ini.

Tabel 1.4 Hasil Penilaian Uji Coba Lapangan

Aspek yang dinilai Skor Kemudahan memahami materi 100%

Relevansi materi dengan

kehidupan sehari-hari 99%

Kejelasan bacaan 100%

Kejelasan gambar 99%

Kejelasan petunjuk belajar 99%

Kemenarikan warna 95%

Kemudahan bahasa 99%

Kejelasan petunjuk pengerjaan

soal dan latihan soal 97%

Dari hasil uji coba lapangan dapat disimpulkan bahwa revisi dan perbaikan yang dilakukan pada uji coba kelompok kecil terbukti efektif.

Hal ini dapat dilihat dari skor yang diperoleh mencapai di atas 90%.

Produk diperbaiki seperlunya yaitu tentang kemenarikan warna karena aspek ini memperoleh skor terendah di antara aspek yang lain yaitu 95%.

3. Uji Keefektifan

Tujuan dari uji keefektifan yaitu untuk mengetahui efektifitas produk yang telah dikembangkan. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimen. Produk dikatakan efektif apabila terdapat perbedaan prestasi

(7)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

belajar yang signifikan antara kelas

eksperimen dengan kelas kontrol.

Kelas eksperimen berasal dari MTs Aswaj Ambunten sedangkan kelas kontrol berasal dari MTs Al-Hidayah Bluto. Kedua kelas tersebut diukur prestasi belajarnya dengan tes yang sama namun dengan perlakuan yang berbeda.

Hasil tes prestasi belajar kelas eksperimen memperoleh nilai rata-rata 78,96 dan hasil tes prestasi kelas kontrol memperoleh nilai rata-rata 66,71. Nilai KKM dari kedua sekolah tersebut yaitu 70. Prestasi kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol karena kelas eksperimen secara klasikal telah memenuhi KKM.

Nilai rata-rata kelas eksperimen lebih baik daripada nilai rata-rata kelas kontrol. Hasil uji beda dengan t test diperoleh nilai t hitung 2,526 dan t tabel 2,021. Nilai t hitung lebih besar dari pada t tabel maka Ho ditolak dan Haditerima.

Dari hasil uji dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Hal ini berarti modul berbasis CTL efektif dapat meningkatkan prestasi belajar matematika.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan yaitu tentang (1) pemanfaatan bahan ajar matematika di MTs Aswaj Ambunten, (2) kualitas modul matematika berbasis CTL berdasarkan hasil penilaian para ahli, uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan, dan (3) efektifitas bahan ajar modul berbasis CTL. Adapun pembahasan hasil penelitian mengenai ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut.

1. Pemanfaatan Bahan Ajar di MTs Bahan ajar yang digunakan di MTs Aswaj Ambunten dan MTs Al-Hidayah Bluto Kabupaten Sumenep yaitu Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dibeli dari penerbit. Sebelum guru menyusun bahan ajar terlebih dahulu perlu melakukan analisis RPP yang meliputi standar kompetensi dan kompetensi

dasar, pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang ingin dicapai, dan menyusun materi pembelajaran.

Harapan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 yaitu guru dituntut memahami karakteristik peserta didik dan kurikulum dengan tujuan untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan peserta didik yang diampunya serta sesuai dengan kurikulum yang berlaku (Depdiknas, 2008:6).

Bahan ajar yang digunakan di MTs belumlah sesuai dengan peserta didik karena bahan ajar yang digunakan penyusunananya tidak melakukan analisis karakterisitik peserta didik terlebih dahulu. Materi dalam bahan ajar matematika hendaknya berisi materi yang dapat memfasilitasi peserta didik untuk menemukan konsep bukan mengenalkan konsep.

Hal ini senada dengan tujuan mata pelajaran matematika diberikan di sekolah yaitu agar peserta didik memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006: 140).  

Namun, bahan ajar yang digunakan di MTs Aswaj Ambunten dan MTs Al-Hidayah Bluto Kabupaten Sumenep di dalamnya berisi materi pembelajaran masih mengenalkan konsep bukan menemukan konsep.

Penyajian materi pembelajaran dalam bahan ajar tersebut belumlah sesuai dengan tujuan mata pelajaran matematika.Tujuan dari mata pelajaran matematika hendaknya dimulai dari masalah nyata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Bahan ajar yang digunakan penyajian materi pembelajarannya kurang kontekstual. Hal itu terlihat dari contoh yang digunakan dalam bahan ajar tersebut. Materi untuk mengenalkan sifat-sifat segitiga yaitu menggunakan gambar menara Eifel.

Padahal banyak gambar yang lebih familiar misalnya penggaris yang bentuknya segitiga, rambu-rambu lalu lintas yang berbentuk segitiga, permukaan tenda, dan lain sebagainya.

(8)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Selain contoh yang digunakan

kurang familiar dengan peserta didik, materi pembelajaran yang disajikan tidak memfasilitasi peserta didik untuk menemukan konsep. Agar tujuan pembelajaran matematika yaitu agar peserta didik memahami konsep dan memahami keterkaitan antar konsep, maka bahan ajar perlu memuat tujuh komponen CTL. Ketujuh komponen tersebut meliputi (1) konstruktivisme, (2) inkuiri, (3) bertanya, (4) masyarakat belajar, (5) pemodelan, (6) refleksi, dan (7) penilaian autentik.

Dari ketujuh komponen CTL tersebut materi yang disajikan hendaknya memuat tiga komponen CTL. Ketiga komponen yang dimaksud yaitu konstruktivisme, inkuiri, dan bertanya.

Materi pembelajaran yang tertuang dalam bahan ajar hendaknya memuat permasalahan (inkuiri).

Permasalahan dalam bahan ajar berupa pertanyaan atau soal. Pertanyaan yang membuat peserta didik dapat menemukan konsep yaitu pertanyaan terbimbing (bertanya). Pertanyaan terbimbing tersebut dirancang dengan tujuan untuk menemukan konsep agar peserta didik dapat menyimpulkan sendiri pengetahuan yang mereka pelajari (konstruktivisme). Wina Sanjaya (2014:24) menyatakan:

konstruktivisme merupakan proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.

Namun yang terjadi dilapangan tidaklah demikian bahan ajar yang digunakan tidak konstruktivis. Bahan ajar yang digunakan berisi materi pembelajaran yang menjelaskan materi yang sedang dipelajari oleh peserta didik tidak ada unsur mengamati, mengalami sampai pada akhirnya peserta didik menemukan sendiri atau mengkonstruksi pengetahuan yang mereka pelajari.

2. Kualitas Produk

Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu bahan ajar modul berbasis CTL. Tahap pengembangan modul berbasis CTL

meliputi tiga tahapan yaitu penilaian oleh ahli, uji coba kelompok kecil, dan uji coba lapangan. Dari hasil penilaian para ahli terhadap produk yang dikembangkan diperoleh skor rata- rata 92,06%. Hal ini berarti produk yang dikembangkan dari aspek penyajian, materi, dan bahasa dapat dikategorikan sangat baik.

Hasil uji coba kelompok kecil diperoleh skor rata-rata 95%. Hal ini berarti produk yang dikembangkan dari aspek (1) kemudahan materi, (2) relevansi materi dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, (3) kejelasan bacaan, (4) kejelasan gambar, (5) kemudahan petunjuk belajar, (6) kemenarikan warna, (7) kemudahan bahasa yang digunakan, dan (8) kejelasan latihan soal dapat dikategorikan sangat baik dan dapat dilanjutkan pada tahap uji coba lapangan.  

Hasil penilaian uji coba lapangan memperoleh skor rata-rata 98,5%. Hal ini menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan semakin baik setelah produk direvisi berdasarkan saran dan masukan uji coba kelompok kecil. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil peningkatan skor dari 95% menjadi 98,5%. Hasil penilaian uji coba lapangan ini menunjukkan bahwa kualitas produk yang dikembangkan dapat dikategorikan sangan baik.

Berdasarkan hasil penilaian dari para ahli dan hasil penilaian peserta didik pada tahap uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan dapat disimpulkan bahwa produk yang dikembangkan dapat dikategorikan sangat baik dapat digunakan dalam pembelajaran.

3. Keefektifan Produk

Modul matematika berbasis CTL pada materi pokok sifat-sifat bangun datar mampu meningkatkan prestasi belajar matematika. Hal ini ditunjukkan dengan hasil tes kelas eksperimen yang diajarkan dengan modul berbasis CTL memperoleh nilai rata-rata 78,96 lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yang diajarkan tidak menggunakan modul yang memperoleh nilai rata-rata

(9)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

66,71. Keefektifan penggunaan modul

sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nur Endah Nugraheni, Widha Sunarno, & Sarwanto, (2015) dan Endang Purwanti, Sajidan., & Baskoro Adi Prayitno, (2015) bahwa dengan menggunakan bahan ajar modul dalam pembelajaran dapat meningkatkan prestasi belajar.

Modul matematika berbasis CTL pada materi pokok sifat-sifat bangun datar Kelas VII MTs disusun dimulai dari (1) analisis SK dan KD, (2) analisis pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik, (3) mengumpulkan materi dan gambar yang dibutuhkan, (4) menyusun tes, (5) menyusun draf, (6) uji kelompok kecil, (7) dan (8) uji coba lapangan. Hal ini sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh Daryanto (2013:17-23) bahwa dalam menyusun modul terdapat enam langkah yang terdiri dari (1) analisis kebutuhan modul, (2) desain modul, (3) implementasi, (4) penilaian, (5) evaluasi dan validasi, dan (6) jaminan kualitas.

Modul Matematika berbasis CTL pada materi pokok sifat-sifat bangun datar Kelas VII MTs layak digunakan dalam pembelajaran berdasarkan penilaian para ahli dan uji coba serta sudah teruji dapat meningkatkan prestasi belajar matematika di MTs Aswaj Ambunten. Dengan kata lain, kelas eksperimen prestasinya lebih baik dari pada kelas kontrol. Untuk itu, modul matematika berbasis CTL pada materi pokok sifat-sifat bangun datar dapat dijadikan bahan ajar alternatif dalam pembelajaran matematika menggantikan bahan ajar lama yang selama ini digunakan di MTs Aswaj Ambunten.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat dibuat kesimpulan dan saran sebagai berikut:

A. Kesimpulan

1. Jenis bahan ajar yang digunakan di MTs Aswaj Ambunten yaitu jenis bahan ajar Lembar Kerja Siswa (LKS). Lembar Kerja Siswa yang digunakan berisi kumpulan materi Kelas VII semester genap di

antaranya segitiga dan segiempat.

Penyajian materinya tidak konstruktivis serta gambar-gambar yang digunakan kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari

peserta didik. Hal tersebut terjadi karena penyusunan bahan ajar tidak memperhatikan karakteristik dan kemampuan peserta didik.

2. Prosedur pengembangan produk dalam penelitian ini meliputi (1) studi pendahuluan,(2) menyusun draf modul, (3) validasi draf modul oleh ahli, (4) merevisi draf berdasarkan masukan ahli, (5) uji coba kelompok kecil, (6) merevisi berdasarkan hasil uji coba kelompok kecil dan (7) uji coba lapangan. Bahan modul yang dikembangkan berjudul “sifat-sifat bangun datar berbasis CTL untuk Kelas VII MTs” penyusunan modul terdiri dari 4 bab yang meliputi pendahuluan, materi pembelajaran I dan materi pembelajaran II, dan penutup. Pada bagian pendahuluan memuat latar belakang, standar

kompetensi(SK), tujuan pembelajaran, peta konsep, dan

petunjuk penggunaan modul. Pada bab II dan bab III berisi materi pembelajaran yang memuat kompetensi dasar (KD), tujuan pembelajaran, kegiatan belajar, uraian materi, ringkasan materi, dan latihan dan tugas. Pada bab IV berisi rangkuman dan tes yang di akhiri dengan kunci jawaban dari masing-masing latihan dan tugas pada modul I dan Modul II. Hasil penilaian para ahli terhadap produk yang dikembangkan memperoleh skor rata-rata 93,4 itu artinya produk yang dikembangkan termasuk kategori sangat baik.

3. Bahan ajar modul berbasis CTL lebih efektif dari pada bahan ajar LKS yang digunakan di sekolah saat ini. Hal ini terbukti dari hasi uji coba lapangan kelas eksperimen memperoleh nilai rata-rata 78,96 sedangkan kelas kontrol memperoleh nilai rata-rata 66,71.

Kelas eksperimen secara klasikan mencapai KKM dan kelas kontrol secara klasikal kelas kontrol belum

(10)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

mencapai KKM. Berdasarkan hasil

uji t tes dimana diperoleh t hitung

= 2,526 sedangkan t tabel sebesar 2,021. Ternyata t hitung > t tabelini berarti Ha diterima dan H0 ditolak, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kelas yang diajarkan dengan menggunakan bahan ajar modul berbasis CTL lebih efektif dari pada kelas yang tidak diajarkan dengan bahan ajar modul berbasis CTL.

B. Saran

1. Bahan ajar yang digunakan di sekolah saat ini penyajian materinya tidak konstruktivis serta gambar-gambar yang digunakan tidak familiar dengan peserta didik. Untuk itu, bahan ajar yang hendak atau akan digunakan dalam pembelajaran sebaiknya penyajian materinya kontruktivis serta gambar-gambar yang digunakan harus familiar dengan peserta didik.

2. Modul sifat-sifat bangun datar berbasis CTL untuk Kelas VII MTs termasuk kategori sangat baik berdasarkan penilaian para ahli dan peserta didik sehingga layak digunakan dalam pembelajaran.

Untuk itu, bagi guru yang akan menggunakan modul sifat-sifat bangun datar berbasis CTL untuk MTs Kelas VII dalam pembelajaran perlu memperhatikan karakteristik dan kemampuan peserta didiknya, sedangkan untuk peserta didik yang hendak menggunakan modul tersebut sebaiknya mengikuti petunjuk yang ada dalam modul.

3. Bahan ajar modul sifat-sifat bangun datar berbasis CTL untuk Kelas VII MTs lebih baik dari pada bahan ajar yang digunakan di sekolah saat ini. Untuk itu, bahan ajar modul sifat-sifat bangun datar berbasis CTL untuk Kelas VII MTs disarankan digunakan dalam pembelajaran menggantikan bahan ajar yang digunakan di sekolah saat ini, karena bahan ajar yang dikembangkan lebih efektif dari pada bahan ajar yang digunakan di sekolah saat ini.

Daftar Pustaka

Daryanto. (2013). Menyusun Modul Bahan Ajar untuk Persiapan Guru dalam Mengajar. Yogyakarta:

Gava Media

Depdiknas. (2008). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. (2006). Peraturan Pemerintah tentang Standar Isi Mata Pelajaran Matematika.

Jakarta: Depdiknas.

Endang P.S., & Baskoro A.P, (2015).

Pengembangan dan Implementasi Modul Pembelajaran Berbasis Numbered Team In Guided Discovery (NTGD) pada Materi Struktur Tumbuhan dan Pemanfaatannya dalam Teknologi Di SMPN 4 Karanganyar. Jurnal Inkuiri, 4 (4) 121-128.

Fadjar Shadiq. (2009). Model-Model Pembelajaran Matematika SMP.

Yogyakarta: PPPPTK.

Morisson, Gary R., Ross Steven M.,

&Kemp Jerrold E. (2007).Designing Effective Instruction 5th edition.

John Wiley & Sons Willey.

Nur E.A, Widha Sunarno, & Sarwanto, (2015). Pengembangan Modul IPA Terpadu Berbasis Inkuiri Terbimbing dengan Tema Barbeque Kelas VII SMP Negeri 1 Tawangmangu. Jurnal Inkuiri, 4 (4) 43-53.

Slavin, Robert R. (2003). Educational Psycology Theory and Practice:

Seventh Edition. Massachussets:

Allyn and Bacon.

Smaldino, S.E., Lowther D.L., &

Russel, J.D. (2008). Instructional Technology and Media for Learning. Upper Saddle River:

Pearson.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian

&Pengembangan.Bandung:

Alfabeta.

Widarso Pujianto. (2012). Peningkatan Pemahaman Konsep Operasi pada Bentuk Aljabar melalui Pendekatan Kontekstual dengan Menggunakan Media Kayu Berwarna pada Peserta didik Kelas VII SMN 1 Sukosari

(11)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Bondowoso. Jurnal EDUMAT PPPPTK Matematika, 3 (5) 278-354.

Wina Sanjaya. (2014). Strategi Pembelajaran Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penulisan skripsi ini ialah menciptakan game multiplayer pada telepon seluler dengan data yang tersentralisasi, dan memberikan alternatif game bagi gamers

showroom baru di setiap kota, sehingga masing- masing showroom perlu merancang strategi pemasaran.Perusahaan harus memiliki strategi pemasaran yang handal agar dapat

Berdasarkan Gambar 1, dapat dilihat nilai siswa di kelas X APH 4 yang nilainya < 75 terdapat 28 siswa, sedangkan hanya 5 siswa yang nilainya ≤ 75. Rata-rata hasil belajar

Menurut Whitten dan Bentley (2007, p371), UML adalah suatu kumpulan konvensi pemodelan yang digunakan untuk menentukan atau menggambarkan suatu sistem perangkat

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan Metode Snowball Throwing melalui pembinaan yang dilakukan supervisor sekolah da-

Jika harga 1 pensil dinyatakan dengan a dan harga 1 buku dinyatakan dengan b maka sistem persamaan linier dua variabel yang berkaitan dengan pernyataan di atas

Gas refrigerant bersuhu tinggi saat akhir kompresi di condensor dengan mudah dicairkan dengan udara pendingin pada sistem air cooled atau uap refrigerant menyerap

Berdasarkan uraian latar belakang masalah dalam penelitian ini, maka tujuan penelitian adalah untuk: (1) Mengetahui persepsi pemustaka pada kondisi fisik dan suasana