• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI Resiko

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI Resiko"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Resiko

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu menghadapi resiko yang dapat muncul kapan saja. Resiko dapat muncul yaitu ketika ada ketidakpastian mengenai masa depan. Baik perorangan maupun perusahaan dapat menghadapi 2 (dua) macam resiko, yaitu :

1. Speculative Risk ( Resiko Spekulatif )

adalah resiko yang timbul pada diri seseorang atau perusahaan yang memiliki 3 (tiga) kemungkinan hasil, yaitu : rugi, untung atau tidak ada perubahan.

2. Pure Risk ( Resiko Murni )

adalah resiko yang timbul pada diri seseorang atau perusahaan yang tidak memiliki kemungkinan untuk mendapat keuntungan, timbul kerugian atau tidak timbul kerugian.

Untuk dapat mengatasi resiko-resiko yang akan timbul pada diri perorangan, keluarga maupun pada suatu perusahaan, maka keluarga atau perusahaan dapat menggunakan manajemen resiko untuk mengendalikan tingkat resiko finansial yang dihadapi.

Untuk mengeliminasi atau mengurangi resiko finansial yang akan kita hadapi, kita dapat memilih 4 (empat) cara yaitu :

1. Menghindari resiko

Cara ini merupakan metode pengelolaan resiko yang pertama dan paling mudah, namun kadang-kadang menghindari resiko bukanlah hal yang efektif atau praktis

2. Mengendalikan resiko

Kita dapat berusaha untuk mengendalikan resiko yaitu dengan mengambil langkah-langkah untuk mencegah atau mengurangi resiko.

(2)

3. Menerima resiko

Metode pengelolaan resiko yang ketiga adalah menerima, atau menahan resiko. Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa menerima resiko sama dengan menanggung seluruh tanggung jawab finansial atas resiko tersebut.

4. Mengalihkan resiko

Mengalihkan resiko adalah merupakan metode manajemen resiko yang ke empat. Cara yang paling umum dari mengalihkan resiko baik bagi perorangan, keluarga maupun perusahaan yaitu dengan membeli pertanggungan asuransi.

Pada umumnya, perorangan dan perusahaan dapat membeli polis asuransi untuk menanggung 3 (tiga) jenis resiko, yaitu :

1. Property damage risk (resiko kerusakan harta benda)

Resiko kerusakan harta benda mencakup resiko kerugian ekonomi atas harta benda pribadi yang disebabkan oleh pencurian, kebakaran atau bencana alam.

2. Liability risk (resiko tanggung jawab)

Resiko tanggung jawab mencakup resiko kerugian ekonomi karena kita harus bertanggung jawab karena mencelakakan orang atau harta benda mereka.

2. Personal risk (resiko pribadi)

Resiko pribadi mencakup resiko kerugian ekonomi yang terkait dengan kematian, kondisi kesahatan yang buruk, dan tabungan untuk orang yang ditinggalkan.

Pada dasarnya, tujuan utama dari asuransi adalah memberikan kompensasi atas kerugian finansial, dan tidak memberikan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan financial. Oleh karena itu resiko-resiko yang dapat ditanggung atau dialihkan pada pihak resiko adalah Pure risk (resiko murni), yang tidak memiliki kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan atau timbul kerugian atau tidak timbul kerugian.

(3)

2.1. Definisi Asuransi

Dalam dunia bisnis dan masyarakat, asuransi memiliki definisi yang bermacam-macam, yaitu antara lain sebagai berikut :

“Asuransi merupakan suatu lembaga keuangan sebab melalui asuransi dapat dihimpun dana besar, yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan, di samping bermanfaat bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam bisnis asuransi, karena sesungguhnya asuransi bertujuan memberikan perlindungan (proteksi) atas kerugian keuangan (financial loss) yang ditimbulkan oleh peristiwa yang tidak terduga sebelumnya (fortuitious even)” (Radiks Purba 1992:40)

“Asuransi atau dalam bahasa Belanda “verzekering” berarti pertanggungan. Dalam suatu asuransi terlibat dua pihak, yaitu: yang satu sanggup menanggung atau menjamin, bahwa pihak lain akan mendapat suatu penggantian kerugian, yang mungkin akan ia derita sebagai akibat dari suatu peristiwa yang semula belum tentu akan terjadi atau semula belum dapat ditentukan saat terjadinya. Suatu kontra prestasi dari pertanggungan ini, pihak yang ditanggung itu, diwajibkan membayar sejumlah uang kepada pihak yang menanggung. Uang tersebut akan tetap menjadi milik yang menanggung, apabila kemudian ternyata peristiwa yang dimaksud itu tidak terjadi.” (Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro, S.H 1996:1)

“Asuransi atau pertanggungan adalah sesuatu persetujuan, di mana penanggung mengikat diri kepada tertanggung, dengan mendapatkan premi untuk mengganti kerugian karena kehilangan, kerugian atau tidak diperolehnya keuntungan yang diharapkan, yang dapat diderita karena peristiwa yang tidak diketahui lebih dulu.” (Drs.A.Hasymi Ali 1993:8), sesuai dengan pasal 246 KUHD, Perusahaan asuransi merupakan sebuah organisasi usaha yang pada dasarnya didirikan untuk memproduksi barang atau jasa layanan yang diperlukan atau dibutuhkan oleh konsumen dan memperoleh laba dari hasil penjualan tersebut.

(4)

Sesuai dengan peraturan yang ada, maka perusahaan asuransi harus didirikan dalam bentuk perseroan, karena perusahaan asuransi harus merupakan badan usaha yang tetap dan stabil. Salah satu contoh kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh asuransi jiwa berdasarkan majalah Info Bank adalah sebagai berikut:

Menurut pengertian otentik pasal 246 KUHD, ada empat unsur yang terlibat dalam asuransi yaitu:

1. Penanggung (Insurer) yang memberikan proteksi.

2. Tertanggung (Insured) yang menerima proteksi.

3. Peristiwa (Accident) yang tidak diduga atau tidak diketahui sebelumnya, peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian.

4. Kepentingan (Interest) yang diasuransikan, yang mungkin akan mengalami kerugian disebabkan oleh peristiwa itu.

Keempat unsur itu merupakan unsur pokok dalam asuransi kerugian yang menyangkut asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kebakaran, asuransi kendaraan bermotor dan lain-lain sebagainya.

Perusahaan asuransi adalah perantara keuangan yang di dalam perekonomian berfungsi sebagai bagian dari industri jasa keuangan. Financial Intermediary adalah suatu organisasi atau perusahaan yang membantu menyalurkan dana melalui suatu sistem ekonomi dengan menerima surplus dana penabung dan menyalurkan dana tersebut kepada para peminjam yang membayar bunga atas penggunaan dana tersebut. Financial Service Industry (industri jasa keuangan) terdiri dari berbagai jenis perantara keuangan yang membantu konsumen dan organisasi usaha dalam menyimpan, meminjam, menginvestasikan dan dengan cara lain mengelola uang ( Harriet E. Jones dan Dani L.Long 1999:6 ).

Meskipun harus dalam bentuk perseroan perusahaan asuransi masih memiliki flexibilitas untuk memilih bagaimana mengoperasikan perusahaan asuransi tersebut yaitu antara lain:

(5)

1. Stock Insurance Company

Adalah perusahaan asuransi yang dimiliki oleh masyarakat dan organisasi / perusahaan yang membeli saham perusahaan asuransi tersebut.

2. Mutual Insurance Company

Adalah perusahaan asuransi yang dimiliki oleh para pemegang polis dan sebagian dari laba operasional perusahaan dari waktu ke waktu dibagikan kepada pemegang polis tersebut dalam bentuk policy dividends ( dividen polis ).

2.2. Definisi Asuransi Jiwa

Life Insurance Policy (polis asuransi jiwa) adalah polis di mana di dalam polis tersebut perusahaan asuransi berjanji untuk membayar manfaat atas kematian orang yang diasuransikan atau tertanggung. Asuransi jiwa diberikan untuk perorangan maupun kumpulan dan diberikan dalam berbagai bentuk polis (Harriet E.Jones dan Dani L.Long 1999:7).

Tiga jenis polis asuransi jiwa tersebut antara lain adalah :

1. Term life insurance (asuransi jiwa berjangka) memberikan manfaat kematian jika tertanggung meninggal dalam suatu jangka waktu tertentu.

2. Permanent life insurance-whole life insurance (asuransi jiwa tetap atau seumur hidup) memberikan pertanggungan asuransi jiwa seumur hidup bagi tertanggung dan juga memiliki unsur tabungan.

3. Endowment insurance (asuransi jiwa dwiguna) memberikan manfaat polis yang dibayar pada saat tertanggung meninggal atau pada tanggal yang ditentukan jika tertanggung masih hidup sampai tanggal tersebut.

Endowment insurance memiliki beberapa karakteristik seperti term life insurance maupun permanent life insurance. Seperti term life insurance, endowment insurance memberikan pertanggungan asuransi jiwa hanya untuk suatu jangka waktu yang telah ditentukan. Dan seperti permanent life insurance, endowment insurance memiliki unsur tabungan.

(6)

Contoh Kriteria Rating Asuransi Jiwa (InfoBank 2004: No. 304, Juli 2004):

Kriteria Standar

1. Risk Based Capital (RBC) ≥ 120%

2. Likuiditas ≥ 120%

3. Deposito Wajib/Cadangan Teknis ≥ 5%

4. Investasi/Cadangan Teknis + Utang Klaim ≥ 100%

5. Aktiva Tetap/Modal Sendiri ≥ 25%

6. Perubahan Premi Bruto:

Asuransi Jiwa Besar ≥ 14% #

Asuransi Jiwa Menengah ≥ 23% #

Asuransi Jiwa Kecil ≥ 25% #

7. Pendapatan Premi Neto/Modal Sendiri ≤ 280%

8.Pendapatan Investasi Neto/Rata-rata investasi ≥ 8% * 9. Beban (Klaim+Usaha+Komisi)/Pendapatan Premi Neto ≤ 100%

10. Laba (Rugi) sebelum Pajak / Rata-Rata Modal Sendiri ≥ 8% *

Keterangan:

# : rata-rata per kelompok

* : rata-rata suku bunga investasi per Desember 2003 Sumber : Biro Riset InfoBank (birl).

2.4. Premi Asuransi

Untuk dapat memperoleh perlindungan dari pihak asuransi, maka pemegang polis mempunyai tanggung jawab untuk membayar premi kepada perusahaan asuransi.

Tarif premi yang ditentukan oleh perusahaan asuransi pada setiap polis berbeda-beda tergantung berdasarkan kasus masing-masing polis. Untuk menetapkan tarif premi pada calon pemegang polis maka perusahaan asuransi dapat menggunakan berberapa cara, yaitu :

1. Manual rating

Adalah suatu metode yang digunakan oleh perusahaan asuransi untuk menghitung tarif premi asuransi kumpulan tanpa mempertimbangkan

(7)

klaim-klaim sebelumnya dan pengalaman biaya ( expense experience ) dari suatu kelompok. Dalam hal menggunakan manual reating perusahaan asuransi menggunakan pengalamannya sendiri di masa lalu dan kadang- kadang pengalaman perusahaan asuransi lainnya untuk memperkirakan klaim dan pengalaman biaya dar kelompok tersebut.

2. Experience rating

Adalah suatu metode yang digunakan untuk menetapkan tarif premi asuransi kumpulan dimana perusahaan asuransi mempertimbangkan klaim-klaim sebelumnya dan pengalaman biaya dari suatu kelompok tertentu.

3. Blended rating

Adalah suatu metode yang menggunakan kombinasi antara experience rating dan manual rating untuk menetapkan tarif premi kelompok.

Semakin besar suatu kelompok, semakin besar kredibilitas yang akan diberikan oleh perusahaan asuransi pada pengalaman group itu sendiri dan semakan kecil perusahaan asuransi akan mengandalkan manual rating.

2.5 Profitabilitas

Menurut Gene Stone, laba adalah selisih antara pendapatan yang lebih besar atas pengeluaran. Kenaikan nilai perusahaan diindikasikan oleh ukuran- ukuran kenaikan harga saham perusahaan dan pertambahan akun modal dan surplus di dalam neraca perusahaan.

Walaupun profitabilitas dapat diperoleh dan diukur dalam jangka waktu yang pendek, perusahaan asuransi biasanya berusaha untuk mendapatkan profitabilitas jangka panjang. Profitabilitas jangka panjang memungkinkan perusahaan asuransi unuk:

• Menyediakan dana untuk investasi.

• Membayar dividen polis atas participating policy.

• Membayar dividen tunai kepada para pemegang saham dan meningkatkan daya tarik saham perusahaan kepada para investor.

(8)

• Membuat pemeringkatan yang bermutu tinggi dari lembaga pemeringkatan asuransi.

• Menyediakan dana untuk mengembangkan produk, lini produk dan jalur distribusi.

• Menyediakan dana untuk ekspansi dan akuisisi.

Perusahaan asuransi menurut Gene Stone, biasanya membuat sejumlah sasaran profitabilitas. Sebagai contoh, banyak perusahaan asuransi yang menetapkan sasaran yang ditargetkan atau modal yang mereka inginkan untuk memberikan hasil; target-target tersebut ditetapkan untuk perusahaan secara keseluruhan dan untuk lini usaha setiap perusahaan asuransi. Sasaran profitabilitas umum lainnya memerincikan tingkat pertumbuhan yang ditargetkan. Sebagai contoh, suatu perusahaan asuransi dapat menetapkan tujuan untuk meningkatkan pendapatannya atau meningkatkan nilai asset-asetnya dengan suatu persentase yang dinyatakan setiap tahun. Perusahaan asuransi persero dapat menetapkan tujuan tingkat pertumbuhan dengan menaikkan harga saham-sahamnya.

2.6. Solvabilitas

Menurut Gene Stone, istilah umum dari solvabilitas adalah keadaan dimana suatu perusahaan mampu untuk memenuhi kewajiban keuangannya secara tepat waktu. Untuk perusahaan asuransi, definisi solvency (solvabilitas) lebih spesifik, yaitu kemampuan suatu perusahaan asuransi untuk menjaga modal dan surplus di atas standar modal dan surplus minimum yang ditentukan oleh undang- undang. Karena standar minimum tersebut di atas merupakan persyaratan hukum, maka solvabilitas perusahaan kadang-kadang disebut statutory solvency.

Apabila persyaratan tersebut di atas tidak dipenuhi, maka regulator asuransi dapat mengambil alih kendali perusahaan asuransi. Ketidakmampuan perusahaan asuransi untuk menjaga modal dan surplus di atas standar modal dan surplus minimum sebagaimana ditentukan oleh undang-undang disebut insolvency (insolvabilitas).

Standar modal dan surplus minimum sebagaimana ditentukan oleh undang-undang berbeda dari satu negara bagian ke negara bagian yang lainnya dan dari satu perusahaan asuransi ke perusahaan asuransi lainnya, dan didasari

(9)

oleh tingkat risiko yang terkait dengan investasi yang dilakukan oleh suatu perusahaan asuransi dan lini usaha tertentu yang dijual oleh perusahaan asuransi tersebut. Perusahaan asuransi yang memiliki investasi dengan risiko yang lebih banyak memiliki standar modal dan surplus minimum sebagaimana ditentukan oleh undang-undang yang lebih tinggi dari pada perusahaan asuransi sejenis yang memiliki investasi dengan risiko yang lebih kecil. Dengan menentukan standar modal dan surplus minimum berbasis risiko, ditambah dengan konservatisme yang secara nyata dimasukkan ke dalam cadangan premi sebagaimana ditentukan oleh undang-undang, regulator asuransi berusaha untuk memastikan bahwa setiap perusahaan asuransi memiliki sumber dana yang mencukupi untuk membayar manfaat premi dan kewajiban keuangan lainnya secara tepat waktu.

Dalam melakukan kegiatan bisnis secara normal menurut Gene Stone, suatu perusahaan asuransi menghadapi kemungkinan risiko serius yang dapat mengancam keadaan statutory solvency-nya. Risiko-risiko tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori risiko yang luas, yang dikenal sebagai contingency risk, atau C-risk. Untuk melindungi kemampuan keuangan perusahaan asuransi, para financial manager memusatkan perhatian mereka pada pengelolaan risiko-risiko tersebut.

• C-1 risk atau assets risk adalah risiko rugi pada suatu investasi untuk alasan selain daripada perubahan suku bunga pasar. Contoh dari C-1 risk adalah dimana saham yang dimiliki suatu perusahaan akan kehilangan nilai pasarnya dan risiko dimana penerbit obligasi melakukan wanprestasi dan tidak membuat jadual pembayaran obligasi. Perusahaan asuransi mengelola risiko asset dengan mengevaluasi kemungkinan investasi secara hati-hati, menginvestasi kan asset mereka dengan jumlah yang besar di dalam investasi yang bermutu tinggi, serta mengalokasikan dana untuk seluruh kategori investasi yang berbeda.

• C-2 risk atau pricing risk, disebut juga insurance risk (risiko asuransi) yaitu risiko dimana pengalaman nyata perusahaan asuransi dalam tingkat kematian atau biaya-biaya akan sangat berbeda dari perkiraan, menyebabkan perusahaan asuransi tersebut menderita kerugian material atas produk tersebut. Perusahaan asuransi jiwa mengelola C-2 risk dengan

(10)

merancang dan menetapkan harga produk secara pantas, menjaga praktek- praktek underwriting dan reasuransi yang baik, serta mengendalikan pengeluaran-pengeluaran mereka secara hati-hati.

• C-3 risk atau interest-rate risk adalah risiko kerugian yang disebabkan oleh perubahan suku bunga pasar. Contoh interest-rate risk adalah kerugian penjualan suatu obligasi pada saat suku bunga pasar naik, ketidakmampuan suatu perusahaan asuransi untuk memperoleh tingkat pendapatan asetnya yang sama dengan atau lebih besar daripada suku bunga yang dijamin di dalam kontrak asuransinya, dan disintermediation (disintermediasi) yang merupakan suatu fenomena dimana nasabah memindahkan uangnya dari suatu perusahaan perantara keuangan (dalam hal ini perusahaan asuransi) ke perusahaan perantara lain untuk menghasilkan bunga yang lebih tinggi. Perusahaan asuransi mengelola C-3 risk melalui praktek-praktek asset-liability management yang efektif.

• C-4 risk adalah general business risk, yaitu risiko kerugian yang diakibatkan oleh praktek-praktek bisnis umum yang tidak efektif atau faktor-faktor lingkungan di luar kendali perusahaan. Contoh dari general business risk adalah manajemen yang tidak efisien, kerugian karena adanya pemalsuan dan litigasi, perubahan undang-undang perpajakan, penurunan ekonomi dan bencana alam. Perusahaan mengendalikan beberapa C-4 risk dengan menugaskan tim manajemen yang bermutu tinggi dan berpengalaman untuk mengendalikan biaya usaha, melaksanakan pertimbangan manajerial yang sesuai, mendukung perilaku etis, memantau hasil-hasil keuangan serta melakukan audit internal dan external secara teratur.

Kehadiran empat C-risk membantu menjelaskan mengapa modal dan surplus yang mencukupi menjadi sedemikian penting bagi solvabilitas suatu perusahaan asuransi. Modal dan surplus menjaga solvabilitas perusahaan dengan menyediakan dana untuk melindungi kerugian-kerugian yang disebabkan oleh risiko-risiko tersebut. Dengan demikian, solvabilitas

(11)

perusahaan asuransi yang berkelanjutan biasanya tergantung pada kecukupan modal dan surplusnya.

Sasaran-sasaran yang berhubungan dengan solvabilitas perusahaan asuransi biasanya dinyatakan sebagai sasaran hasil keuangan, seperti rasio risiko modal tertimbang tertentu. Biasanya perusahaan asuransi menetapkan sasaran modal mereka jauh dia atas tingkat minimum yang dipersyaratkan regulator asuransi. Sasaran terkait solvabilitas lainnya adalah menjaga peringkat industri perusahaan, atau mencapai peringkat yang lebih tinggi, yang diberikan oleh lembaga pemeringkat asuransi. Lembaga pemeringkat sangat menekankan solvabilitas dan peringkat mereka berikan biasanya mencerminkan kecukupan modal asuransi.

2.7. RBC (Risk Based Capital)

Risk Based Capital merupakan suatu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat solvabilitas perusahaan atau kemampuan perusahaan dalam menanggung segala resiko klaim. Rasio ini menggambarkan sehat tidaknya perusahaan asuransi atau perusahaan asuransi tersebut mampu atau tidak menanggung resiko klaim. RBC yang dipersyaratkan berdasarkan KMK No.

424/KMK. 06 /2003, perusahaan asuransi disyaratkan setiap saat wajib memenuhi RBC paling sedikit 120% dari resiko kerugian yang timbul sebagai akibat dari devisiasi dalm pengelolaan kekayaan dan kewajiban.

Khusus untuk RBC, Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No. 481 tanggal 7 Oktober 1999 menyebutkan bahwa indikator ini mesti dipenuhi oleh semua perusahaan asuransi paling lambat tahun 2004 dan diberlakukan secara bertahap.

Hingga akhir tahun 2002 minimal RBC adalah 75%, tahun 2003 minimal 100%, dan akhir tahun 2004 minimal 120%.

(12)

2.8. Teori Uji Beda Rata-Rata dengan T –Tes

Teori uji beda rata-rata dengan T-Tes adalah sebuah teori dalam statistik yang digunakan untuk menguji apakah suatu nilai tertentu ( yang diberikan sebagai pembanding ) berbeda secara nyata ataukah tidak dengan rata-rata sebuah sample ). Untuk melakukan uji beda rata-rata dengan T-Tes data yang digunakan adalah data yang bertipe kuantitatif dengan data sample berjumlah sedikit.

Uji perbedaan rata-rata berdasarkan distribusi nilai t dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Uji t untuk menguji rata-rata pada satu kelompok sample (One Sample T-test). Pengujian ini dilakukan antara lain untuk menguji homogenitas data, dan dapat juga digunakan untuk mengetahui signifikansi perbedaan rata-rata suatu kelompok sample dengan nilai pembanding yang ditetapkan.

Untuk menguji rata-rata pada penulisan skripsi ini penulis menggunakan One Sample T-test. Penulis menggunakan rumus One Sample T-test karena dalam skripsi ini penulis ingin menguji rata-rata pada suatu kelompok sample untuk mengetahui signifikansi perbedaan rata-rata suatu kelompok sample dengan nilai pembanding yang ditetapkan.

Rumus One Sample T-Test adalah sebagai berikut :

n s

t /

μ

= Χ

Keterangan :

X = rata-rata sample μ = rata-rata populasi s = standard deviasi sampel n = banyaknya sample

(13)

Dalam melakukan uji beda rata-rata dengan One Sample T-test, variable yang menjadi pembanding dalam penelitian dikeluarkan dari perhitungan industri rata-rata sejenis. Hal ini dikarenakan variabel tersebut digunakan sebagai cerminnan terhadap rata-rata industri sejenis.

2. Uji t untuk mengetahui perbedaan rata-rata dua sampel yang saling bebas (Independent Sample T-Test). Melalui pengujian ini dapat diketahui signifikansi perbedaan nilai rata-rata dua kelompok sample yang tidak saling berhubungan.

Uji t untuk mengetahui perbedaan rata-rata dua sample yang berhubungan atau berpasangan (Paired Sample T-Test). Melalui pengujian ini dapat diketahui signifikansi perbedaan nilai rata-rata dua kelompok sample yang saling berhubungan.

2.9. Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu proses pencatatan yang merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan rata-rata tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan. Disamping itu laporan keuangan dapat juga digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada pihak-pihak di luar perusahaan.

Menurut Myer dalam buku “Financial Statement Analysis” mengatakan bahwa yang dimaksud dengan rata-rata Laporan keuangan adalah:

“Dua daftar yang disusun oleh akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan. Kedua daftar itu adalah daftar neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar laba rugi. Pada waktu akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk menambah daftar ketiga yaitu daftar surplus atau daftar laba yang tak dibagikan (laba yang ditahan)”.

(14)

Pada umumnya laporan keuangan terdiri dari Neraca dan Perhitungan Laba-Rugi serta Laporan Perubahan Modal, dimana Neraca menunjukkan jumlah aktiva, hutang, dan modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, sedang Perhitungan (Laporan) Laba-Rugi memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta biaya terjadi selama periode tertentu, dan Laporan Perubahan Modal menunjukkan sumber dan penggunaan yang menyebabkan perubahan modal perusahaan. Tetapi dalam prakteknya diikutsertakan juga kelompok-kelompok lain yang sifatnya membantu menjelaskan lebih lanjut, misalnya laporan modal kerja, laporan sumber dan penggunaan kas atau laporan arus kas, laporan biaya produksi dan lain-lain.

2.10. Arti Penting Laporan Keuangan

Laporan keuangan sangat penting artinya bagi mereka yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu perusahaan, karena dari laporan keuangan dapat diketahui kondisi keuangan dan gambaran tentang hasil atau perkembangan usaha perusahaan. Informasi-informasi yang terdapat dalam laporan keuangan tersebut dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan baik bagi pihak internal seperti pemilik perusahaan dan manajer perusahaan maupun bagi pihak eksternal seperti nasabah, calon nasabah maupun investor, serta pihak-pihak lainnya. Bagi pemilik dan manajer perusahaan, analisa laporan keuangan ini berguna untuk mengatur strategi maupun rencana kerja baik jangka pendek maupun jangka panjang yang tentunya didukung dengan rata-rata diketahuinya kelebihan maupun kelemahan kinerja keuangan perusahaan sehingga strategi dan rencana tersebut mempunyai dasar perhitungan yang kuat. Bagi nasabah maupun calon nasabah, mereka akan lebih yakin dan percaya bahwa perusahaan mempunyai kemampuan memenuhi hak yang harus diterimanya bila klaim dilakukan maupun jika kontrak dihentikan sebelum masa kontrak selesai.

Sedangkan bagi investor analisa laporan keuangan ini sangat berguna untuk pengambilan keputusan dengan rata-rata dasar pertimbangan yang lebih baik, yaitu apakah investasi yang akan dilakukan menguntungkan atau tidak.

(15)

2.11. Bentuk Laporan Keuangan

Secara umum laporan keuangan terdiri dari Neraca, Laporan Laba-Rugi dan Laporan Perubahan Modal. Tetapi penulis hanya akan membahas Neraca dan Lapoaran Laba-Rugi saja sesuai dengan rata-rata ruang lingkup analisa tugas akhir ini. Adapun pengertian dan bentuk dari masing-masing laporan keuangan tersebut, yaitu:

2.11.1 Neraca

Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada saat tertentu. Berdasarkan definisi tersebut maka neraca terdiri dari tiga bagian utama yaitu aktiva, hutang serta modal (Drs. S.

Munawir, Ak, 1995 : 13).

a. Aktiva

Aktiva adalah semua kekayaan atau aset yang dimiliki oleh perusahaan, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Aktiva dapat dikelompokkan menjadi dua bagian utama, yaitu aktiva lancar dan aktiva tetap. Dalam hubungannya dengan rata-rata peraturan yang terbaru mengenai penyusunan neraca untuk perusahaan jasa asuransi, pada sisi aktiva tidak lagi diadakan istilah aktiva lancar tetapi hanya non investasi, investasi, dan aktiva tetap. Tetapi pada dasarnya non investasi ini sama dengan rata-rata aktiva lancar.

i. Aktiva Lancar / Non Investasi

Adalah uang tunai dan aktiva lainnya yang diharapkan dapat dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunia, dijual atau dikonsumsi dalam periode yang tidak lebih dari satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal (Drs. S. Munawir, Ak, 1995 : 14). Yang termasuk dalam aktiva lancar, yaitu:

(16)

ƒ Kas dan Bank, adalah uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan, termasuk cek yang diterima dari para langganan dan simpanan perusahaan di bank yang setiap saat dapat diambil kembali apabila diperlukan.

ƒ Piutang Wesel (Wesel Tagih), yaitu tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan oleh sebuah perjanjian yang diatur dalam Undang- Undang. Piutang wesel ini dapat diperjual belikan.

ƒ Piutang lain-lain, yaitu piutang yang timbul bukan dari penjualan jasa, tetapi dari hal-hal lain seperti: Piutang kepada pegawai, piutang karena penjualan aktiva tetap secara kredit, dan lain-lain.

ƒ Piutang Penghasilan atau Penghasilan yang masih harus diterima, yaitu penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan karena perusahaan telah memberikan jasa / prestasinya sehingga merupakan tagihan.

ƒ Piutang Premi, yaitu tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dalam hal ini adalah pihak pemegang polis asuransi yang dinyatakan oleh sebuah perjanjian yang diatur dalam Undang-Undang

ƒ Piutang Reasuransi, yaitu tagihan perusahaan kepada pihak rasuransi (reasuradur) untuk mengganti klaim yang diajukan pemegang polis asuransi dikarenakan tertanggung meninggal dunia, sebesar jumlah yang menjadi bagian reasuradur.

ƒ Persekot atau Biaya yang dibayar dimuka, yaitu pengeluaran untuk memperoleh jasa / prestasi dari pihak lain, tetapi pengeluaran itu belum menjadi biaya. Jasa / prestasi pihak lain tersebut belum dinikmati oleh perusahaan pada periode ini, melainkan pada periode berikutnya.

ii. Aktiva Tetap

Adalah kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam operasi yang mempunyai umur kegunaan bersifat permanent, yaitu lebih dari satu tahun atau tidak akan habis dipakai dalam satu kali perputaran operasi

(17)

perusahaan (Drs. S. Munawir, Ak, 1995 : 16). Yang termasuk dalam aktiva tetap, yaitu:

ƒ Tanah yang diatasnya didirikan bangunan atau digunakan untuk operasi, misalnya sebagai lapangan, halaman, tempat parker dan lain-lain.

ƒ Bangunan, misalnya bangunan kantor.

ƒ Inventaris

ƒ Kendaraan, perlengkapan atau alat-alat lainnya.

ƒ Aktiva Tetap Tidak Berwujud (Intangible Fixed Assets), yaitu kekayaan perusahaan yang tidak nampak secara fisik, tetapi merupakan suatu hak yang mempunyai nilai dan dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan. Yang termasuk Aktiva Tetap Tidak Berwujud yaitu merek degang.

b. Hutang

Pengertian hutang adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditur (Drs. S. Munawir, Ak, 1995 : 18).

Hutang dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu Hutang Lancar (hutang jangka pendek) dan Hutang Jangka Panjang.

i. Hutang Lancar

Hutang lancar atau hutang jangka pendek adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya akan dilakukan dalam jangka pendek (tidak lebih dari 1 tahun sejak tanggal neraca) dengan rata-rata menggunakan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan. Yang termasuk dalam hutang lancar, yaitu:

ƒ Hutang Wesel, hutang dengan rata-rata janji tertulis yang diatur didalam Undang-Undang untuk melakukan pembayaran sejumlah tertentu pada waktu tertentu di masa mendatang

(18)

ƒ Hutang Pajak, yaitu meliputi pajak untuk perusahaan yang bersangkutan maupun pajak pendapatan karyawan yang belum disetorkan ke Kas Negara.

ƒ Biaya yang masih harus dibayar, yaitu biaya-biaya yang sudah terjadi tetapi belum dilakukan pembayarannya.

ƒ Hutang jangka panjang yang segera jatuh tempo, yaitu sebagian atau seluruh hutang jangka panjang yang sudah menjadi hutang jangka pendek, karena harus segera dilakukan pembayarannya.

ƒ Hutang deviden, yaitu pembayaran deviden yang belum diambil oleh para pemegang saham

ƒ Hutang klaim, yaitu pertanggungan yang belum dibayar oleh perusahaan atas klaim dari pemegang polis asuransi karena terjadinya kematian, berakhirnya masa pertanggungan, pembatalan polis dan penebusan nilai tunai. Jumlah pertanggungan sesuai dengan rata-rata perjanjian dan dihitung berdasarkan kasus per kasus.

ƒ Hutang reasuransi, adalah hutang premi reasuransi yang belum dibayarkan kepada reasuradur.

ƒ Titipan / Uang muka premi, merupakan premi yang diterima sebelum polis atas premi tersebut dikeluarkan.

ƒ Hutang premi, yaitu premi yang belum dibayarkan oleh perusahaan kepada reasuradur.

ƒ Hutang komisi, adalah komisi kepada para agen yang belum dibayarkan.

ii. Hutang Jangka Panjang

Hutang Jangka Panjang adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih jangka panjang atau lebih dari 1 tahun sejak tanggal neraca. Walaupun pada perusahaan asuransi bisa dikatakan tidak memiliki pos untuk hutang jangka panjang tetapi cadangan

(19)

premi dan hutang kepada pihak istimewa dapat dikategorikan hutang jangka panjang karena masa pelunasannya lebih dari satu tahun. Hutang kepada pihak istimewa mempunyai masa pelunasan 15 bulan, walaupun pos ini hanya terjadi pada saat tertentu saja misalnya dalam hal ini pihak perusahaan membeli saham dari pihak yang memiliki hubungan istimewa. Sesuai dengan rata-rata pernyataan Standar Akuntansi Keuangan no. 7, yang dimaksud dengan rata-rata Pihak-Pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah:

ƒ Perusahaan yang memiliki satu atau lebih perantara rata-rata, mengendalikan atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan rata-rata perusahaan pelapor (termasuk holding companies subsidiaries, dan fellow subsidiaries);

ƒ Perusahaan asosiasi (associated company);

ƒ Perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksud dengan rata-rata anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan rata-rata perusahan pelapor).

ƒ Karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, dan mengendalikan kegiatan perusahaan pelapor yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari perusahaan serta anggota keluarga dekat orang- orang tersebut.

ƒ Perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan di atas, atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut. Ini mencakup perusahaan- perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari perusahaan pelapor dan perusahaan- perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan rata-rata perusahaan pelapor.

(20)

c. Modal

Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukan dalam pos modal (Modal Saham), surplus dan laba yang ditahan. Atau definisi lain, modal adalah kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya. Modal dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

i. Modal yang berasal dari setoran para pemilik perusahaan, seperti modal saham (termasuk agio saham bila ada).

ii. Modal yang berasal sari hasil operasi, yaitu laba yang tidak dibagikan kepada para pemilik, misalnya dalam bentuk deviden (laba ditahan).

2.11.2 Laporan Laba Rugi

Perhitungan laba rugi adalah suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan, biaya, laba rugi yang diperoleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Prinsip-prinsip umum dalam penyusunan laporan laba rugi, yaitu:

a. Bagian yang pertama menunjukan penghasilan yang diperoleh dari usaha pokok perusahaan dalam memberikan jasa asuransi.

b. Bagian kedua menunjukan beban operasional yang terdiri dari beban asuransi dan beban usaha.

c. Bagian ketiga menunjukkan beban lain-lain yang terjadi diluar usaha pokok perusahaan.

d. Bagian keempat menunjukkan laba atau rugi sebelum pajak penghasilan dan laba bersih.

2.11.3 Hubungan Neraca dan Laporan Laba Rugi

Neraca dan laporan laba rugi sangat diperlukan oleh seorang penganalisa karena kedua laporan itu mempunyai hubungan satu sama lain, bukan berdiri sendiri-sendiri.

(21)

Untuk mengetahui tendensi atau trend bertambahnya modal atau kekayaan perusahaan hanya akan diketahui dari neraca, tetapi untuk mengetahui kemajuan atau sebab-sebab perubahan modal tersebut diperlukan laporan yang lain, yaitu laporan laba rugi.

2.12. Analisa Laporan Keuangan

Ada dua metode yang dapat digunakan dalam menganalisa laporan keuangan atau membandingkan rasio keuangan perusahaan, yaitu dengan rata-rata Cross Sectional Approach dan Time Series Analysis. Penulis akan menggunakan 2 (dua) metode, yaitu:

a). Cross Sectional Approach

Metode ini dilakukan dengan rata-rata cara membandingkan rasio-rasio antara rata-rata satu perusahaan dengan rata-rata perusahaan lain yang sejenis dan kira-kira hampir sama ukurannya, atau dengan rata-rata rasio rata-rata pada saat yang sama. Metode ini dilakukan dengan rata-rata maksud untuk mengetahui seberapa baik atau buruk suatu perusahaan dibandingkan dengan rata-rata perusahaan sejenis lainnya atau dengan rata-rata rasio rata-rata.

b). Time Series Analysis

Metode ini dilakukan dengan rata-rata cara membandingkan rasio-rasio yang ada di dalam perusahaan itu sendiri. Metode ini terbagi atas dua cara, yaitu Analisa Horisontal dan Analisa Vertikal.

1. Analisa Horisontal

Yaitu analisa yang dilakukan dengan rata-rata cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode atau antara rata-rata rasio saat ini dengan rata-rata rasio waktu lampau, sehingga akan diketahui perkembangan keuangan perusahaan, dan selanjutnya dapat dibuat rencana-rencana untuk masa yang akan datang. Analisa ini disebut juga analisa dinamis.

(22)

2. Analisa Vertikal

Yaitu analisa yang dilakukan dengan rata-rata cara membandingkan laporan keuangan untuk satu periode saja, yaitu dengan rata-rata memperbandingkan antara rata-rata pos yang satu dengan rata-rata pos yang lain dalam laporan keuangan tersebut, sehingga akan diketahui keadaan keuangan atau hasil operasi perusahaan pada periode itu saja. Analisa ini disebut juga analisa statis.

2.13. Klaim

Klaim adalah suatu permintaan pembayaran atas manfaat polis asuransi menyusul terjadinya suatu kerugian yang ditanggung.

Setiap perusahaan asuransi harus memiliki prosedur standar yang harus diikuti oleh karyawannya ketika mereka memproses klaim asuransi jiwa. Prosedur standar ini dirancang untuk menciptakan keseimbangan antara hak beneficiary untuk mendapatkan settlement (penyelesaian pembayaran) klaimnya dengan segera dan keperluan perusahaan asuransi dalam memeriksa keabsahan setiap klaim. Bukan hanya beneficiary yang berhak mendapatkan settlement dengan segera, tetapi undang-undang di sebagian besar wilayah hukum juga mengharuskan agar settlement klaim dilakukan dengan segera. Di lain pihak, beneficiary, baik secara sengaja maupun tidak, bisa saja mengajukan klaim yang tidak sah. Perusahaan asuransi harus mengambil langkah-langkah yang wajar untuk menghindari pembayaran klaim yang tidak sah tersebut; kalau tidak, biaya asuransi dan tarif premi akan meningkat secara dramatis. Perusahaan asuransi juga harus yakin bahwa ia membayar manfaat polis kepada beneficiary yang tepat, atau perusahaan asuransi mungkin dapat menghadapi klaim kedua yang sah atas manfaat tersebut.

Proses pemeriksaan klaim dimulai ketika claimant (orang yang mengajukan klaim) atas manfaat polis memberitahu perusahaan asuransi bahwa

(23)

tertanggung telah meninggal. Biasanya orang yang mengklaim manfaat polis asuransi jiwa setelah kematian tertanggung adalah primary beneficiary dari polis.

2.14. Cadangan Teknis

Cadangan teknis adalah suatu kewajiban dalam suatu perusahaan asuransi yang mewakili sejumlah uang yang oleh perusahaan asuransi diperkirakan akan dibutuhkan untuk membayar kewajiban-kewajibannya pada masa yang akan datang.

Cadangan teknis dalam perusahaan asuransi terdiri dari:

1. Cadangan premi (Policy Reserve)

Cadangan premi adalah kewajiban yang mewakili jumlah yang menurut perkiraan perusahaan asuransi diperlukan untuk membayar manfaat ketika jatuh tempo. Perusahaan asuransi harus memelihara asset yang melebihi policy reserve liability-nya sehingga perusahaan akan memiliki dana untuk membayar klaim yang jatuh tempo. Selain itu policy reserve harus memadai untuk membayar klaim-klaim dan dana yang menyangga reserves itu harus diinvestasikan secara aman.

2. Premi yang belum merupakan pendapatan (Unearned Premium Reserve) Karena kelangsungan suatu polis tidak dapat diperkirakan oleh suatu perusahaan asuransi, maka perusahaan asuransi tidak boleh mengakui semua premi dari setiap polis yang diterima oleh perusahaan asuransi. Hali ini dikarenakan banyaknya faktor yang menyebabkan para nasabah tidak ingin melanjutkan keberadaan polisnya di suatu perusahaan asuransi.

3. Cadangan klaim

Cadangan klaim adalah sejumlah uang yang diperkirakan dibutuhkan oleh perusahaan asuransi untuk membayar klaim-klaim yang jatuh tempo. Dengan adanya cadangan klaim, apabila dalam waktu tertantu suatu perusahaan asuransi harus membayar klaim dalam jumlah yang sangat besar, dan jumlah tersebut melebihi persediaan dana yang dimiliki oleh perusahaan tersebut untuk membayar klaim maka perusahaan tersebut

(24)

bias menutupi kekurangan yang ada dengan menggunakan cadangan klaim yang dimiliki oleh perusahaan.

2.15. ROI (Return On Investment)

ROI adalah kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bersih.

Tinggi rendahnya ROI memberikan indikasi seberapa jauh efisiensi penggunaan modal asset, dan turun-naiknya penjualan dan biaya.

Diharapkan ROI yang diperoleh akan lebih besar dari Cost Of Capital dari dana yang digunakan.

Untuk menghitung ROI dapat menggunakan rumus : Rumus 2.2:

s TotalAsset

NetIncome ROI =

2.16. ROE (Return On Equity)

ROE sering juga dinamakan rentabilitas usaha yaitu perbandingan antara rata-rata jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri di satu pihak dengan rata-rata modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut di lain pihak atau dengan rata-rata kata lain ROE adalah kemampuan suatu perusahaan dengan rata-rata modal sendiri yang bekerja di dalamnya untuk menghasilkan keuntungan. Untuk menghitung ROE dapat digunakan rumus:

Rumus 2.3:

Equity NetIncome ROE =

2.17. Net Profit Margin

Net Profit Margin mencerminkan berapa besar laba bersih yang bisa didapatkan dari setiap pendapatan operasional sehingga semakin tinggi

(25)

rasio menunjukkan semakin besar laba bersih perusahaan dibandingkan pendapatan operasionalnya. Semakin besarnya laba bersih disebabkan semakin rendahnya beban yang harus dikeluarkan oleh perusahaan, baik beban asuransi sendiri, beban umum dan administrasi maupun beban lainnya, seperti hutang pajak, hutang deviden, dll.

Dapat menggunakan rumus:

Rumus 2.4:

Sales NetIncome in

ofitM

NetPr arg =

2.18. Rasio Total Ekuitas/Net Premi

Rasio ini menunjukkan seberapa besar ekuitas perusahaan mampu untuk menjamin net preminya. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin baik karena jika total ekuitas perusahaan makin besar dibandingkan dengan net premi perusahaan sehingga makin besar pula kemampuan ekuitas untuk menjamin net premi perusahaan.

2.19. Rasio Jumlah Kewajiban/Jumlah Ekuitas

Rasio ini menunjukan seberapa besar proporsi dari struktur modal perusahaan untuk menjamin jumlah hutangnya bila perusahaan mengalami likuidasi. Semakin rendah rasio ini, semakin baik karena menunjukkan resiko modal perusahaan.

2.20. Rasio Investasi/Cadangan Teknis

Rasio ini menunjukkan seberapa besar kemampuan investasi perusahaan untuk menjamin kewajibannya di dalam cadangan teknisnya. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik karena jika total investasi perusahaan semakin besar menunjukkan bahwa perusahaan tersebut mampu menjamin cadangan teknis perusahaannya.

(26)

2.21. Rasio Cadangan Premi/Total Beban Klaim

Rasio ini menunjukkan seberapa besar cadangan premi perusahaan mampu untuk menjamin beban klaimnya. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik karena cadangan premi perusahaan akan semakin besar sehingga mampu menjamin beban klaim perusahaan.

2.22. Rasio Beban Klaim/Total Premi Bruto

Rasio ini digunakan untuk melihat seberapa besar premi bruto mampu menjamin beban klaim. Semakin kecil rasio ini, semakin baik karena premi bruto perusahaan akan semakin besar sehingga mampu menjamin beban klaimnya.

2.23. Rasio Gain On Investment/Total Investment

Rasio ini mencerminkan seberapa besar investasi perusahaan mampu untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik karena keuntungan perusahaan semakin besar dibandingkan investasi yang harus dilakukan oleh perusahaan sehingga makin besar pula kemampuan investasi untuk mengasilkan keuntungan bagi perusahaan.

2.24. Rasio Jumlah Polis Baru/Jumlah Polis Lapse

Rasio ini digunakan untuk melihat dimana setiap polis yang lapse dapat dibandingkan dengan sejumlah polis yang masuk sebagai pertanggungan baru pada tahun tersebut. Rasio semakin baik jika nilainya semakin besar.

(27)
(28)

Keterangan :

Untuk mengukur performance dari suatu perusahaan dalam hal ini khususnya perusahaan asuransi jiwa, maka dapat diukur dengan menggunakan 3 (tiga) kriteria yaitu:

1. Solvabilitas (Solvability)

Penilaian terhadap solvabilitas dibagi menjadi dua yaitu good performance dan bad performance. Perusahaan asuransi jiwa dikategorikan good performance, jika sekurang-kurangnya tiga dari lima variable yang ada berpredikat baik atau “ good “, sedangkan bila kurang dari tiga dikategorikan sebagai bad performance.

2. Profitabilitas (Profitability)

Penilaian terhadap profitabilitas dibagi menjadi dua yaitu good performance dan bad performance. Perusahaan asuransi jiwa dikategorikan good performance, jika sekurang-kurangnya tiga dari lima variabel yang ada berpredikat baik atau “ good “, sedangkan bila kurang dari tiga dikategorikan sebagai bad performance.

3. Reaksi pasar (Market Reaction)

Penilaian terhadap reaksi pasar dibagi menjadi dua yaitu positive reaction dan negative reaction. Perusahaan asuransi jiwa dikategorikan memiliki positive reaction, jika sekurang-kurangnya dua dari tiga variable yang ada berpredikat positive reaction, sedangkan bila kurang dari dua maka dikategorikan perusahaan tersebut memiliki negative reaction dari masyarakat.

2.26. Hipotesa

Hipotesa penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

RBC

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata RBC (Risk Based Capital) PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata RBC (Risk Based Capital) industri sejenis

(29)

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata RBC (Risk Based Capital) PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata RBC (Risk Based Capital) industri sejenis

Total Investasi / Cadangan Teknis

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Total Investasi / Cadangan Teknis PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata- rata Total Investasi / Cadangan Teknis industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Total Investasi / Cadangan Teknis PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata- rata Total Investasi / Cadangan Teknis industri sejenis

Total Ekuitas / Net Premi

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Total Ekuitas / Net Premi PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata Total Ekuitas / Net Premi industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Total Ekuitas / Net Premi PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata Total Ekuitas / Net Premi industri sejenis

Jumlah Kewajiban / Jumlah Ekuitas

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Jumlah Kewajiban / Jumlah Ekuitas PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata Jumlah Kewajiban / Jumlah Ekuitas industri sejenis H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Jumlah Kewajiban /

Jumlah Ekuitas PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata Jumlah Kewajiban / Jumlah Ekuitas industri sejenis

Cadangan Premi / Beban Klaim

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Cadangan Premi / Beban Klaim PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata Cadangan Premi / Beban Klaim industri sejenis

(30)

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Cadangan Premi / Beban Klaim PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata Cadangan Premi / Beban Klaim industri sejenis

ROI

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata ROI (Return On Investment) PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata ROI (Return On Investment) industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata ROI (Return On Investment) PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata ROI (Return On Investment) industri sejenis

ROE

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata ROE (Return On Equity) PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata ROE (Return On Equity) industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata ROE (Return On Equity) PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata ROE (Return On Equity) industri sejenis

Net Profit Margin

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Net Profit Margin PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata Net Profit Margin industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Net Profit Margin PT.

Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata Net Profit Margin industri sejenis

Gain On Investment / Total Investment

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Gain On Investmen / Total Investment PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata Gain On Investment / Total Investment industri sejenis

(31)

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Gain On Investmen / Total Investment PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata- rata Gain On Investment / Total Investment industri sejenis

Beban Klaim / Total Premi Bruto

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Beban Klaim / Total Premi Bruto PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata- rata Beban Klaim / Total Premi Bruto industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Beban Klaim / Total Premi Bruto PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata Beban Klaim / Total Premi Bruto industri sejenis

Jumlah Pertanggungan Baru / Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata perbandingan

Jumlah Pertanggungan Baru / Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) PT.

Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata perbandingan Jumlah Pertanggungan Baru / Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata perbandingan Jumlah Pertanggungan Baru / Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) PT.

Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata perbandingan Jumlah Pertanggungan Baru / Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) industri sejenis

Perkembangan Jumlah Tertanggung

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Perkembangan Jumlah Tertanggung PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata Perkembangan Jumlah Tertanggung industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Perkembangan Jumlah Tertanggung PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata Perkembangan Jumlah Tertanggung industri sejenis

(32)

Perkembangan Jumlah Uang Pertanggungan

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Perkembangan Uang Pertanggungan PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata perkembangan Uang Pertanggungan industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Perkembangan Uang Pertanggungan PT. Asuransi Jiwa Asih Great Eastern dengan rata-rata perkembangan Uang Pertanggungan industri sejenis

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menggunakan Uji F pada kelas VIII SMPN 1 Pogalan menunjukan bahwa secara bersama-sama pola asuh demokratis, otoriter dan permisif orang tua mempunyai

Secara mandiri, perlakuan 5 g/polybag MVA dan perlakuan 20 cc/L pupuk pelengkap cair, memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap tinggi tanaman, indeks luas daun, jumlah

Metil paraben digunakan dalam skin lotion karena dapat mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur (Rieger 2000).. Berdasarkan dari hasil pengujian skin lotion secara

Berdasarkan rencana kegiatan yang telah disusun maka target luaran yang diharapkan setelah pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat tentang Penerapan Diabetes Self

[r]

Ditinjau dari sumber penghasilan utama rumah tangga, ternyata di Kecamatan Pagerwojo yang terbesar adalah sektor pertanian hal ini dikarenakan Kecamatan Pagerwojo

Sebelum pemasangan instalasi plumbing, fixture-fixture dan peralatan lain, Kontraktor Pelaksana harus menyerahkan contoh barang-barang yang akan dipasang dan atau brosur-brosurya

Dimaksudkan evaluasi disini adalah mengetahui sejauh mana langkah konseling yang telah dilakukan telah mencapai hasilnya. Dapat dilihat pada perkembangan selanjutnya