• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDEKS DEMOKRASI INDONESIA (IDI) BANTEN 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INDEKS DEMOKRASI INDONESIA (IDI) BANTEN 2016"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

No. 54/09/36/Th.XI, 14 September 2017

I NDEKS D EMOKRASI I NDONESIA (IDI) B ANTEN 2016

INDEKS DEMOKRASI INDONESIA (IDI) BANTEN 2016 MENGALAMI PENINGKATAN DIBANDINGKAN DENGAN TAHUN SEBELUMNYA

1. Perkembangan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Banten 2016

Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Banten tahun 2016 mencapai angka 71,36 dalam skala indeks 0 sampai 100. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan IDI Banten 2015 yang capaiannya sebesar 68,46. Meskipun sedikit mengalami perubahan, tingkat demokrasi di Banten masih

termasuk dalam

Capaian angka IDI Banten dari tahun 2009 hingga 2016 mengalami fluktuasi. Pada awal mula dihitung tahun 2009, capaian IDI Banten hanya sebesar 67,98. Angka ini terus mengalami perubahan hingga mencapai momen tertingginya pada tahun 2014 sebesar 75,50; walaupun pada akhirnya kembali turun menjadi 68,46 di tahun 2015 dan meningkat kembali pada tahun 2016 sebesar 71,36.

Fluktuasi angka IDI adalah cerminan situasi dinamika demokrasi di Banten. IDI sebagai sebuah alat ukur perkembangan demokrasi yang khas Indonesia memang dirancang untuk sensitif terhadap naik-turunnya kondisi demokrasi. IDI disusun secara cermat berdasarkan kejadian ( evidence-based ) sehingga potret yang dihasilkan merupakan refleksi realitas yang terjadi.

IDI Banten 2016 mencapai angka 71,36 dalam skala 0 sampai 100. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan angka IDI Banten 2015 yang sebesar 68,46. Capaian kinerja demokrasi Banten tersebut berada pada kategori “sedang”. Klasifikasi tingkat demokrasi dikelompokkan menjadi tiga kategori, yakni “baik” (indeks > 80), “sedang” (indeks 60 – 80), dan

“buruk” (indeks < 60).

Perubahan angka IDI dari 2015-2016 dipengaruhi oleh tiga aspek demokrasi yakni (1) Kebebasan

Sipil yang naik 9,19 poin (dari 74,28 menjadi 83,47), (2) Hak-Hak Politik yang naik 4,58 poin (dari

63,72 menjadi 68,30), dan (3) Lembaga-lembaga Demokrasi yang turun 7,67 poin (dari 68,66

menjadi 60,99).

(2)

Grafik 1. Perkembangan IDI Banten, 2009-2016

2. Perkembangan Indeks Aspek-Aspek IDI Banten

Angka IDI Banten 2016 merupakan indeks komposit yang disusun dari nilai tiga aspek yakni aspek Kebebasan Sipil yang bernilai 83,47; aspek Hak-Hak Politik yang bernilai 68,30; dan aspek Lembaga Demokrasi yang bernilai 60,99.

Grafik 2. Perkembangan Indeks Aspek IDI Banten, 2009-2016

Peningkatan nilai IDI Banten 2016 disumbang oleh kenaikan nilai dua aspek penyusun IDI yaitu aspek Kebebasan Sipil dan aspek Hak-hak Politik. Nilai aspek Kebebasan Sipil naik sebesar 9,19 poin dari 74,28 menjadi 83,47. Capaian aspek ini dari tahun ke tahun relatif stabil dan masih menjadi yang tertinggi diantara dua aspek lainnya. Aspek Hak-hak Politik pada tahun 2016 sebesar 68,30 meningkat 4,58 poin dibanding tahun sebelumnya. Perkembangan aspek Hak-hak Politik selama kurun waktu penyusunan IDI Banten cukup menggembirakan dengan

67,98

60,60 67,37 65,29 69,79 75,50

68,46

71,36

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 100

80

60 Baik

Sedang

Buruk

0

95,46

83,17

80,41

79,20

81,39 81,10 74,28

83,47

49,47

38,70

44,57

51,03 51,03 63,68

63,72 68,30 62,83 66,99

87,18

70,42

85,00 87,22

68,66 60,99

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Kebebasan Sipil Hak-hak Politik Lembaga Demokrasi 100

80

60 Baik

Sedang

Buruk

0

(3)

kecenderungan trend positif. Sementara itu, aspek Lembaga Demokrasi menjadi aspek yang mengalami penurunan sebesar 7,67 poin dan menempatkannya menjadi aspek dengan nilai terendah.

Serupa dengan tahun 2015, pada tahun 2016 tidak ada lagi indeks aspek yang berkategori . Indeks aspek Hak-

sementara indeks aspek Kebebasan Sipil dapat kembali menyamakan kategori dengan tahun-tahun sebelumnya

3. Perkembangan Indeks Variabel IDI Banten

Pada tahun 2016 terdapat enam variabel penyusun IDI Banten yang nilainya naik, dua variabel bernilai tetap dan tiga variabel lainnya nilainya turun. Dari enam variabel yang mengalami peningkatan, tiga di antaranya meningkat cukup drastis. Variabel Peran DPRD meningkat paling tinggi yaitu sebesar 18,48 poin, dari 18,23 pada 2015 menjadi 36,71 pada 2016.

Peningkatan terbesar kedua terjadi pada variabel Kebebasan Berpendapat yang naik 13,89 poin dibanding tahun sebelumnya, kemudian disusul oleh variabel Kebebasan Berkeyakinan yang nilainya pada tahun 2016 mencapai 78,45 atau naik sebesar 11,74 poin.

Grafik 3. Perkembangan Indeks Variabel IDI Banten, 2015-2016

Di sisi lain, tiga variabel penyusun IDI justru mengalami penurunan. Penurunan nilai variabel Hak Memilih dan Dipilih tidak terlalu signifikan, hanya sebesar 0,08 poin. Sementara nilai variabel Peran Partai Politik dan variabel Peran Birokrasi Pemerintah Daerah turun tajam hingga penurunannya mencapai 26,82 poin (dari 59,99 menjadi 33,17) dan 26,52 poin (dari 75,32 menjadi 48,80). Sementara penurunan nilai variabel Hak Memilih dan Dipilih tidak terlalu signifikan, hanya sebesar 0,08 poin. Dua variabel lainnya yaitu variabel Kebebasan dari Diskriminasi dan variabel Peradilan yang Independen nilainya sama dengan tahun sebelumnya.

92,97

45,83

66,71

97,29 77,44 50,00

18,23 59,99

75,32

100,00 97,66

59,71

78,45

100,00

77,36 59,24

88,49 36,71

33,17 48,80 100,00

0 20 40 60 80 100

Kebebasan Berkumpul dan Berserikat

Kebebasan Berpendapat

Kebebasan Berkeyakinan

Kebebasan dari Diskriminasi

Hak Memilih dan Dipilih Partisipasi Politik dalam Pengambilan

Keputusan dan Pengawasan Pemilu yang Bebas dan

Adil Peran DPRD Peran Partai Politik

Peran Birokrasi Pemerintah Daerah

Peran Peradilan yang Independen

2015 2016

(4)

4. Perkembangan Skor Indikator IDI Banten

Pada IDI Banten 2016, dari 28 indikator terdapat 13 yang mencapai kinerja kategori baik (skor di atas 80), meliputi:

a. Indikator 1, Ancaman/Penggunaan Kekerasan oleh Aparat Pemerintah yang Menghambat Kebebasan Berkumpul dan Berserikat,

b. Indikator 2, Ancaman/Penggunaan Kekerasan oleh Masyarakat yang Menghambat Kebebasan Berkumpul dan Berserikat,

c. Indikator 6, Tindakan/Pernyataan Pejabat yang Membatasi Kebebasan Menjalankan Ibadah Agama,

d. Indikator 7, Jumlah ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan dari satu kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat lain terkait dengan ajaran agama,

e. Indikator 8, Aturan Tertulis yang Diskriminatif dalam Hal Gender, Etnis, dan Kelompok,

f. Indikator 9, Tindakan/Pernyataan Pejabat yang Diskriminatif dalam Hal Gender, Etnis, dan Kelompok,

g. Indikator 10, Ancaman/Penggunaan Kekerasan oleh Masyarakat Karena Alasan Gender, Etnis, dan Kelompok,

h. Indikator 11, Hak Memilih atau Dipilih Terhambat,

i. Indikator 17, Hak Jumlah pengaduan masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintahan,

j. Indikator 18, Keberpihakan KPUD dalam Penyelenggaraan Pemilu, k. Indikator 19, Kecurangan dalam Penghitungan Suara,

l. Indikator 27, Keputusan Hakim yang Kontroversial, dan

m. Indikator 28, Penghentian Penyidikan yang Kontroversial oleh Jaksa atau Polisi.

Meskipun demikian, masih terdapat juga kinerja indikator demokrasi yang berkategori buruk (skor di bawah 60) di tahun 2016. Indikator-indikator yang termasuk dalam kategori tersebut adalah:

a. Indikator 4, Ancaman/Penggunaan Kekerasan oleh Masyarakat yang Menghambat Kebebasan Berpendapat,

b. Indikator 16, Demonstrasi/Mogok yang Bersifat Kekerasan, c. Indikator 20, Alokasi anggaran pendidikan dan kesehatan, d. Indikator 22, Rekomendasi DPRD Kepada Eksekutif,

e. Indikator 23, Kegiatan Kaderisasi yang Dilakukan Peserta Pemilu,

f. Indikator 25, Kebijakan pejabat pemerintah daerah yang dinyatakan bersalah oleh keputusan PTUN, dan

g. Indikator 26, Upaya Penyediaan Informasi APBD oleh Pemerintah Daerah.

Indikator-indikator tersebut di atas memerlukan perhatian khusus dari semua pihak

agar nilainya dapat membaik.

(5)

6. Penjelasan Teknis

Pembangunan demokrasi dan politik merupakan hal yang penting dan terus diupayakan oleh pemerintah. Namun, untuk mengukur pencapaiannya baik di tingkat daerah maupun di tingkat pusat bukan sesuatu hal yang mudah. Pembangunan demokrasi memerlukan data empirik untuk dapat dijadikan landasan pengambilan kebijakan dan perumusan strategi yang spesifik dan akurat. Untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan demokrasi politik di Indonesia maka sejak tahun 2009, Badan Pusat Statistik (BPS) bersama stakeholder lain seperti Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (KEMENKOPOLHUKAM), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Kementerian Dalam Negeri (KEMENDAGRI), dan Tim Ahli yaitu Prof. Maswadi Rauf (UI), Prof. Musdah Mulia (UIN Syarif Hidayatullah), Dr. Syarif Hidayat (LIPI), dan Dr. Abdul Malik Gismar (Universitas Paramadina) merumuskan pengukuran Indeks Demokrasi Indonesia (IDI).

IDI adalah indikator komposit yang menunjukkan tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia. Tingkat capaiannya diukur berdasarkan pelaksanaan dan perkembangan tiga aspek demokrasi, yaitu Kebebasan Sipil ( Civil Liberty ), Hak-Hak Politik ( Political Rights ), dan Lembaga-Lembaga Demokrasi ( Institution of Democracy ).

IDI bertujuan untuk mengukur secara kuantitatif tingkat perkembangan demokrasi. Dari indeks tersebut akan terlihat perkembangan demokrasi sesuai dengan ketiga aspek yang diukur.

Di samping level nasional, IDI juga dapat memberikan gambaran perkembangan demokrasi di provinsi-provinsi seluruh Indonesia. IDI tidak hanya melihat gambaran demokrasi yang berasal dari sisi kinerja pemerintah/birokrasi saja. Namun juga melihat perkembangan demokrasi dari aspek peran masyarakat, lembaga legislatif (DPRD), partai politik, lembaga peradilan dan penegak hukum. Oleh karena itu, perkembangan IDI merupakan tanggung jawab bersama semua stakeholder , tidak hanya pemerintah saja.

Komponen Penghitungan IDI 2009 – 2016

Aspek Variabel Indikator *)

1. Kebebasan Sipil 1. Kebebasan Berkumpul dan Berserikat 2 indikator 2. Kebebasan Berpendapat 2 indikator 3. Kebebasan Berkeyakinan 3 indikator 4. Kebebasan dari Diskriminasi 3 indikator 2. Hak-Hak Politik 5. Hak Memilih dan Dipilih 5 indikator

6. Partisipasi Politik dalam Pengambilan

Keputusan dan Pengawasan Pemerintahan 2 indikator 3. Lembaga

Demokrasi

7. Pemilu yang Bebas dan Adil 2 indikator

8.Peran DPRD 3 indikator

9. Peran Partai Politik 2 indikator

10. Peran Birokrasi Pemerintah Daerah 2 indikator 11. Peradilan yang Independen 2 indikator

Catatan: *) = rincian indikator dapat dilihat pada Tabel 2

Pengumpulan data IDI mengkombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif sebagai

tahapan yang saling melengkapi. Pada tahap pertama data kuantitatif dikumpulkan dari koding

surat kabar dan dokumen tertulis seperti Perda atau peraturan dan surat keputusan kepala daerah,

(6)

yang sesuai dengan indikator-indikator IDI. Temuan-temuan tersebut kemudian diverifikasi dan dielaborasi melalui Focus Group Discussion (FGD) sebagai tahap pengumpulan data kedua, sekaligus menggali kasus-kasus yang tidak tertangkap di koding surat kabar/dokumen. Pada tahap ketiga data-data yang telah terkumpul tersebut diverifikasi melalui wawancara mendalam dengan nara sumber yang kompeten memberikan informasi tentang indikator IDI. Semua tahapan pengumpulan data dilakukan oleh BPS Provinsi, diolah di BPS RI, dan diverifikasi oleh Dewan Ahli beserta mitra kerja lain pada semua tahapannya

Penghitungan IDI melalui tiga tahapan proses yakni pertama , menghitung skor akhir untuk setiap indikator; kedua , menghitung indeks provinsi; dan ketiga , menghitung indeks keseluruhan atau IDI Nasional. Ketiga tahapan ini secara hierarkis terkait satu dengan yang lain.

Skor masing-masing indikator IDI (28 indikator) di setiap provinsi memberikan kontribusi dalam penghitungan indeks 11 variabel IDI, selanjutnya indeks 11 variabel memberikan kontribusi terhadap penghitungan indeks tiga aspek IDI. Komposit indeks ketiga aspek IDI inilah yang merefleksikan indeks demokrasi di masing-masing provinsi. Dan pada akhirnya komposit indeks provinsi menentukan IDI Nasional.

Untuk menggambarkan capaian tingkat demokrasi dalam IDI digunakan skala 0 100.

Skala ini merupakan skala normatif di mana 0 adalah tingkat terendah dan 100 adalah tingkat tertinggi. Tingkat terendah (nilai indeks = 0) secara teoretik dapat terjadi bila semua indikator mendapatkan skor yang paling rendah (skor 0). Sebaliknya, tingkat tertinggi (nilai indeks = 100) secara teoritik dimungkinkan apabila seluruh indikator memperoleh skor tertinggi. Selanjutnya, untuk memberi makna lebih lanjut dari variasi indeks yang dihasilkan, skala 0 100 tersebut

7. Tabel-Tabel

Tabel 1. Perkembangan Indeks Variabel IDI Banten, 2015-2016

No Nama Variabel 2015 2016 Selisih

1 Kebebasan Berkumpul dan Berserikat

92,97 97,66 4,69

2 Kebebasan Berpendapat

45,83 59,71 13,88

3 Kebebasan Berkeyakinan

66,71 78,45 11,74

4 Kebebasan dari Diskriminasi

97,29 100,00 2,71

5 Hak Memilih dan Dipilih

77,44 77,36 -0,08

6 Partisipasi Politik dalam Pengambilan Keputusan dan Pengawasan

50,00 59,24 9,24

7 Pemilu yang Bebas dan Adil

88,49 88,49 0,00

8 Peran DPRD

18,23 36,71 18,48

9 Peran Partai Politik

59,99 33,17 -26,82

10 Peran Birokrasi Pemerintah Daerah

75,32 48,80 -26,52

11 Peran Peradilan yang Independen

100,00 100,00 0,00

(7)

Tabel 2. Perkembangan Skor Indikator IDI Banten, 2015-2016

Nomor Indikator 2015 2016

1 Kebebasan Sipil

Ancaman/penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan

berkumpul dan berserikat 100,00 100,00

2 Ancaman/penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat kebebasan

berkumpul dan berserikat 43,75 81,25

3 Ancaman /penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan

berpendapat 50,00 66,67

4 Ancaman/penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat kebebasan

berpendapat 25,00 25,00

5 Aturan tertulis yang membatasi kebebasan menjalankan ibadah agama 60,87 69,57 6 Tindakan/pernyataan pejabat membatasi kebebasan menjalankan ibadah agama 50,00 100,00 7 Ancaman/penggunaan kekerasan dari satu kelompok terkait ajaran agama 100,00 100,00 8 Aturan tertulis yang diskriminatif dalam hal gender, etnis, kelompok 100,00 100,00 9 Tindakan/pernyataan pejabat yang diskriminatif dalam hal gender, etnis, kelompok 90,63 100,00 10 Ancaman/penggunaan kekerasan oleh masyarakat karena alasan gender, etnis, kelompok 100,00 100,00

Hak-Hak Politik

11 Hak memilih atau dipilih terhambat 99,36 99,36

12 Kurang fasilitas sehingga penyandang cacat tidak dapat menggunakan hak pilih 60,00 60,00

13 Kualitas Daftar Pemilih Tetap (DPT) 77,12 77,12

14 Voters turnout 70,83 70,83

15 Persentase perempuan terpilih terhadap total anggota DPRD Propinsi 62,75 62,75

16 Demonstrasi/mogok yang bersifat kekerasan 0,00 18,48

17 Pengaduan masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintahan 100,00 100,00 Lembaga Demokrasi

18 Keberpihakan KPUD dalam penyelenggaraan pemilu 90,91 90,91

19 Kecurangan dalam penghitungan suara 86,08 86,08

20 Alokasi anggaran pendidikan dan kesehatan 27,67 37,00

21 Perda yang merupakan inisiatif DPRD 0,00 75,00

22 Rekomendasi DPRD kepada Eksekutif 0,00 3,57

23 Kegiatan kaderisasi yang dilakukan partai peserta pemilu 57,14 28,57

24 Persentase perempuan pengurus partai politik 85,57 74,51

25 Kebijakan pejabat pemerintah daerah yang dinyatakan bersalah oleh keputusan PTUN 65,79 47,37 26 Upaya penyediaan informasi APBD oleh pemerintah daerah 83,33 50,00

27 Keputusan hakim yang kontroversial 100,00 100,00

28 Penghentian penyidikan yang kontroversial oleh jaksa atau polisi 100,00 100,00

(8)

Tabel 3. Perkembangan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Berdasarkan Aspek dan Provinsi, 2015-2016

Provinsi

IDI 2015 IDI 2016

IDI Aspek

Kebebasan Sipil

Aspek Hak-hak Politik

Aspek Lembaga Demokrasi

IDI Aspek

Kebebasan Sipil

Aspek Hak-hak Politik

Aspek Lembaga Demokrasi

Aceh 67,78 74,81 63,98 64,97 72,48 92,92 63,94 60,33

Sumatera Utara 69,01 82,02 62,17 63,52 67,37 82,71 62,29 56,13

Sumatera Barat 67,46 52,99 69,77 82,01 54,41 51,01 54,33 58,82

Riau 65,83 66,46 66,61 63,80 71,89 71,78 77,98 62,34

Jambi 70,68 75,89 62,12 77,72 68,89 84,39 65,63 54,58

Sumatera Selatan 79,81 96,06 78,79 61,00 80,95 91,17 81,94 66,53

Bengkulu 73,60 78,50 68,45 75,61 74,23 85,14 63,84 77,01

Lampung 65,95 71,99 63,19 62,74 61,00 60,49 59,32 64,31

Kep. Bangka Belitung 72,31 81,25 66,95 69,60 83,00 87,65 81,09 80,20

Kepulauan Riau 70,26 80,16 65,01 66,13 72,84 85,43 71,28 59,48

DKI Jakarta 85,32 89,64 83,19 83,26 70,85 81,11 67,54 63,19

Jawa Barat 73,04 79,10 81,89 51,37 66,82 73,37 72,34 49,79

Jawa Tengah 69,75 79,44 67,28 61,48 66,71 66,06 67,24 66,69

D.I.Yogyakarta 83,19 90,41 77,98 82,38 85,58 90,00 81,59 86,37

Jawa Timur 76,90 85,26 67,44 81,39 72,24 73,73 76,49 63,63

Banten 68,46 74,28 63,72 68,66 71,36 83,47 68,30 60,99

Bali 79,83 94,42 77,42 65,31 78,95 96,94 69,60 71,18

Nusa Tenggara Barat 65,08 51,59 61,11 88,36 65,41 65,06 62,08 71,13

Nusa Tenggara Timur 78,47 93,19 71,69 70,73 82,49 96,25 81,68 66,46

Kalimantan Barat 76,40 96,81 65,57 67,95 75,28 83,29 75,70 64,54

Kalimantan Tengah 73,46 85,07 68,31 67,05 74,77 84,98 70,66 68,43

Kalimantan Selatan 74,76 54,15 85,77 83,17 73,43 61,04 83,58 72,89

Kalimantan Timur 81,24 93,07 82,74 63,99 73,64 78,25 78,35 60,36

Kalimantan Utara 80,16 98,10 83,65 52,05 76,98 100,00 66,64 64,48

Sulawesi Utara 79,40 86,71 77,92 72,53 76,34 96,31 70,42 60,62

Sulawesi Tengah 76,67 94,60 68,85 66,53 72,20 80,39 67,89 68,76

Sulawesi Selatan 67,90 69,38 64,25 71,84 68,53 75,54 61,51 70,86

Sulawesi Tenggara 69,44 91,14 56,95 61,99 71,13 88,07 55,51 74,66

Gorontalo 76,77 81,35 69,97 81,81 77,48 82,35 75,54 74,42

Sulawesi Barat 68,25 81,88 61,16 62,37 72,37 82,89 69,02 64,47

Maluku 65,90 76,04 63,20 57,43 78,20 87,17 76,18 70,13

Maluku Utara 61,52 73,53 61,00 47,25 73,27 92,27 61,79 67,59

Papua Barat 59,97 92,33 39,48 51,81 60,35 93,67 38,05 53,85

Papua 57,55 82,72 41,81 50,87 61,02 92,15 41,13 53,45

INDONESIA 72,82 80,30 70,63 66,87 70,09 76,45 70,11 62,05

(9)
(10)

Informasi lebih lanjut hubungi:

Ir. Agoes Soebeno, M.Si Kepala BPS Provinsi Banten

Telepon: 0254-267027

E-mail : [email protected]; [email protected] Website : banten.bps.go.id

BPS PROVINSI BANTEN

Referensi

Dokumen terkait

Angka IDI Papua Barat 2016 merupakan indeks komposit yang disusun dari nilai tiga aspek yakni Kebebasan Sipil, aspek Hak-hak Politik dan aspek Lembaga Demokrasi.. Untuk

Angka IDI Jawa Timur 2016 merupakan indeks komposit yang disusun dari nilai tiga aspek yakni aspek Kebebasan Sipil yang bernilai 73,73; aspek Hak-Hak Politik yang bernilai 76,49; dan

Angka IDI 2016 merupakan indeks komposit yang disusun dari nilai tiga aspek yakni aspek Kebebasan Sipil, aspek Hak-hak Politik dan aspek Lembaga Demokrasi.. Aspek Kebebasan

Angka IDI 2016 merupakan indeks komposit yang disusun dari nilai tiga aspek yakni aspek Kebebasan Sipil yang bernilai 82,89; aspek Hak-Hak Politik yang bernilai 69,02;

Angka IDI 2016 merupakan indeks komposit yang disusun dari nilai tiga aspek yakni aspek Kebebasan Sipil, aspek Hak-hak Politik dan aspek Lembaga Demokrasi.. Untuk capaian

Angka IDI 2016 merupakan indeks komposit yang disusun dari nilai tiga aspek yakni aspek Kebebasan Sipil yang bernilai 65,06; aspek Hak-Hak Politik yang bernilai 62,08;

Angka IDI 2019 merupakan indeks komposit yang disusun dari nilai tiga aspek yakni aspek Kebebasan Sipil yang bernilai 78,43; aspek Hak-hak Politik yang bernilai 67,91; dan

Angka IDI Provinsi Bali 2016 merupakan indeks komposit yang disusun dari nilai tiga aspek, yakni aspek Kebebasan Sipil yang bernilai 96,94; aspek Hak-Hak Politik yang