• Tidak ada hasil yang ditemukan

Abstract. Kata kunci : Guru, Profesionalisme, Pendidikan, Era Globalisasi. Keywords : Teacher, Profesionalisme, Education, globalization era.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Abstract. Kata kunci : Guru, Profesionalisme, Pendidikan, Era Globalisasi. Keywords : Teacher, Profesionalisme, Education, globalization era."

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN GURU DALAM MENGHADAPI PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI Oleh : Devita Gusti Rahayu

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Abstrak

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.

Kata kunci : Guru, Profesionalisme, Pendidikan, Era Globalisasi

Abstract

The development of the world of education in Indonesia cannot be separated from the influence of globalization, where science and technology are developing rapidly. The era of the free market is also a challenge for the world of education in Indonesia, because there are opportunities for educational institutions and educators from abroad to enter Indonesia. To face the global market, national education policies must be able to improve the quality of education, both academic and non-academic, and improve education management to be more productive and efficient and provide the widest possible access for the community to obtain education.

Keywords : Teacher, Profesionalisme, Education, globalization era.

A. PENDAHULUAN

Era globalisasi membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk dalam dunia pendidikan.

Pendidikan sangat berperan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang handal dan mampu bersaing di era globalisasi. Jika bangsa Indonesia

menginginkan anak-anaknya memenangkan persaingan pada era global sekurang- kurangnya di negeri sendiri, maka mau tidak mau ia harus membenahi sistem pendidikan.

Pendidikan di era global diartikan sebagai pendidikan yang dapat menjawab tantangan globalisasi, yaitu suatu proses yang

(2)

dapat melahirkan individu-individu yang berbekal pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk hidup dan berkiprah dalam era globalisasi itu sendiri.

Maka dari itu peran guru dalam menghadapi era globalisasi ini sangat tidak mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi oleh seorang guru dalam mendidik peserta didiknya.

Dengan begitu guru harus memiliki kompetensi dan profesionalisme yang standar. Kompetensi guru lebih bersifat personal dan komplek serta merupakan satu kesatuan utuh yang menggambarkan potensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang dimiliki seorang guru yang terkait dengan profesinya yang dapat dipresentasikan dalam amalan dan kinerja dalam mengelola pembelajaran di sekolah.

Kompetensi ini digunakan sebagai indikator dalam mengukur kualifikasi dan profesionalitas guru pada suatu jenjang dan jenis pendidikan (Depdiknas, 2004).

Dalam Undang-Undang No. 14/2005 secara tegas dikemukakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Di samping itu guru harus memiliki 4 macam

kompetensi yang meliputi : (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi profesional, dan (4) kompetensi sosial. Disamping itu ada ketentuan, baik dalam PP No. 19/2005, maupun UU No.

14/2005, bahwa semua guru mulai dari guru TK sampai guru SLTA harus memenuhi persyaratan kualifikasi pendidikan S1 atau D4. Dalam konteks ini, kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk tanggungjawab yang dimiliki seorang guru untuk memangku jabatn guru sebagai profesi.

Kompetensi guru menggambarkan kompetensi yang dituntut dari seseorang yang memangku jabatan profesi guru.

Artinya, kompetensi yang ditampilkan itu menjadi ciri profesionalismenya, walaupun tidak semua kompetensi yang dimiliki seseorang menunjukkan bahwa ia adalah profesional karena profesional tidak hanya menunjukkan apa dan bagaimana melakuan pekerjaan semata-mata, tetapi juga menguasai mengapa hal itu dilakukan berdasarkan konsep dan teori tertentu.

Rendahnya profesionalisme guru di Indonesia menjadikan upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru pada era global merupakan suatu keharusasn agar guru mendapat tempat terhormat dan sejajar

(3)

dengan profesi lainnya. Dan bangsa kita sangat mengharapkan agar kualitas guru ditingkatkan profesionalismenya, sehingga nantinya dapat menghasilkan lulusan yang bermutu. Dengan demikian, bagaimana cara meningkatkan profesionalisme guru dalam era global sehingga dapat menghasilkan lulusan yang bermutu merupakan masalah yang perlu dicarikan pemecahannya. (Wahid and Ala)

B. PEMBAHASAN

Pendidikan dan pembelajaran di sekolah memiliki keterkaitan erat dengan era globalisasi. Masyarakat Indonesia untuk menuju ke era globalisasi diharapkan melakukan reformasi terhadap dunia pendidikan dengan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel, sehingga para lulusannya dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global dengan memperhatikan iklim demokratis. Oleh karena itu, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa dan memungkinkan para peserta didik dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami, kreatif dalam suasana kebebasan, kebersamaan, dan tanggung jawab.

Selain itu, pendidikan harus dapat menghasilkan lulusan yang bisa

memahami, masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung kehidupan mereka di masyarakat.

Untuk memulai pendidikan berwawasan global diperlukan adanya informasi dan pengetahuan tentang bagian dunia yang dapat mengembangkan kesadaran untuk memahami hal-hal yang lebih lebik baik daripada keadaan diri kita sendiri, memahami hubungan dengan masyarakat lain, maupun isu-isu yang terjadi dalam era global. Dunia pendidikan yang dipenuhi dengan kasih sayang merupakan tempat untuk belajar tentang moral,budi pekerti, dan menjunjung tinggi nilai estetika, justru telah dicoreng oleh sebagian guru yang tidak bertanggung jawab, sehingga realita seperti ini diperlukan adanya evaluasi terhadap profesional seorang guru. Kesalahan guru dalam memahami profesinya akan mengakibatkan bergesernya fungsi guru dalam sebagai pengembang pendidikan pembelajaran di sekolah . Pergeseran ini telah menyebabkan kedua belah pihak, yakni guru dan siswa bersama-sama membawa kepentingan dan saling membutuhkan, akan berubah fungsinya untuk tidak menjadi saling membutuhkan. Akibatnya, suasana

(4)

pembelajaran kurang menarik dan tidak menyenangkan, baahkan mbosankan PERMASALAHAN GURU

Dalam hal ini, masalah yang dihadapi guru di Indonesia adalah (1) Masalah jumlah guru yang masih kurang. Jumlah guru di Indonesia saat ini masih dirasakan masih kurang jika dikaitkan dengan jumlah peserta didik, sehingga jika dibandingkan dengan jumlah peserta didik di sekolah dengan jumlah guru yang ada dirasakan masih kurang proporsinal dan tidak jarang satu ruang kelas sering di isi lebih dari 30 anak didik. Idealnya, setiap kelas sebaiknya tidak diisi tidak lebih dari 15-20 peserta didik dengan tujuan untuk menjamin kualitas pembelajaran. (2) Masalah distribusi guru. Masalah distribusi guru yang kurang merata, merupakan masalah tersendiri dalam dunia pendidikan di Indonesia. Di daerah-daerah wilayah terpencil masih sering dijumpai kekurangan guru dengan alasan karena keamanan maupun faktor-faktor lain, misalnya masalah fasilitas dan kesejahteraan guru yang dianggap masih jauh dari harapan;(3) Masalah kesejahteraan guru yang sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa tingkat

kesejahteraan masih sangat memprihatinkan. Penghasilan para guru, dipandang masih jauh dari mencukupi, apalagi bagi mereka yang masih berstatus sebagai guru bantu atau guru honorer.

Kondisi seperti ini, masih menuntut sebagian sebagian guru nuntuk mencari penghasilan tambahan di luar dari tugas pokok mereka sebagai guru. Peningkatan kesejahteraan guru yang wajar dapat meningkatkan profesionalisme guru, termasuk dapat mencegah para guru untuk melakukan praktek bisnis atau penghasilan tambahan di sekolah.

(Mudiono)

TUNTUTAN PROFESSIONAL SEORANG GURU

Sejalan dengan perkembangan sains dan teknologi dan meluasnya pengaruh globalisasi, pendidik senantiasa dituntut dapat mengimbangi perkembangan sains dan teknologi yang terus berkembang.

Seorang pendidik diharapkan terus mampu pula menghasilkan anak didik sebagai SDM yang memiliki kompetensi tinggi dan siap menghadapi tantangan hidup dengan penuh percaya diri. (Tinggi et al.)

Pendidikan di era global menuntut adanya manajemen pendidikan yang

(5)

modern dan professional dengan bernuansa pendidikan. Lembaga- lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan, staf, proses belajar mengajar, pengembangan staf, kurikulum, tujuan dan harapan, iklim sekolah, penilaian diri, komunikasi, dan keterlibatan orang tua/ masyarakat. Tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang, keimanan dan ketakwaan, penguasaan iptek, etos kerja dan disiplin, sikap professional, kerjasama, dan belajar dengan berbagai disiplin, wawasan masa depan, kepastian karir, dan kesejahteraan lahir batin. Sikap dan professional guru di dalam pendidikan mempunyai peranan penting dan sangat strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai kemampuan dan keahlian yang mantap.

UPAYA PENINGKATAN

PROFESIONALISME GURU DI ERA GLOBALISASI

Upaya pemerintah untuk meningkatkan guru profesional dengan

cara menempuh jenjang pendidikan melalui perkuliahan dilakukan melalui pendidikan yang lebih tinggi dengan memenuhi persyaratan kualifikasi linieritas sesuai dengan basis pendidikan (education basic) yang sudah dimiliki.

Hal tersebut dipertegas oleh pernyataan pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Upaya peningkatan guru profesional juga dilakukan pemerintah melalui kegiatan- kegiatan, misalnya workshop, seminar, pelatihan, loka karya, dan program sertifikasi guru. Tujuannya adalah hasil dari sistem pembinaan melalui penataan dan pelatihan dapat diperoleh nilai tambah yang lebih baik, utamanya berkaitan dengan proses belajar mengajar di sekolah. Guru memberikan beberapa contoh baik kepada anak mengenai karakter yang sedang dibangun (Sakti, 2017a). Guru yang sudah mengikuti workshop diharapkan memberikan karakter yang baik. Berdasarkan kenyataan ini dimaksudkan agar nilai tambah yang diperoleh tersebut dapat diaplikasikan dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga pengembangan profesi melalui pelatihan dan penataan-penataan hasilnya dapat dirasakan hasilnya. Kompetensi guru

(6)

sebagai agen pembelajaran secara formal dibuktikan dengan sertifikat pendidik.

(Sakti)

Peningkatan kompetensi atas dorongan komitmen diri diharapkan akan mampu meningkatkan keefektifan kinerjanya di sekolah. Komitmen untuk meningkatkan kefektifan kinerja sangat berkaitan dengan pencapaian tujuan program, yaitu program pembelajaran yang diharapkan mampu menghasilkan output dan outcome yang mencapai standar. Jika guru memiliki komitmen untuk mengembangkan kompetensi diri secara terus menerus, maka proses-proses perencanaan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan penilaian program pembelajaran diyakini akan dapat dilakukan sesuai dengan tuntutan kekinian. Penjelasan di atas mengindikasikan, bahwa komitmen diri dan strategi-strategi manajemen sangat dibutuhkan dalam rangka memfasilitasi guru meningkatkan profesionalismenya.

Sinergi antara komitmen guru dan strategi manajemen akan melahirkan proses kolaborasi yang efektif untuk meningkatkan kompetensi. Kajian ini menyajikan empat dimensi teori preskripsi sebagai alternatif landasan bagi guru dan lembaga pendidikan untuk

meningkatkan profesionalisme guru.

Lima dimensi teoretis tersebut, adalah (1) dukungan kompetensi manajemen, (2) strategi pemberdayaan, (3) supervisi pengembangan, dan (4) penelitian tindakan kelas.

C. KESIMPULAN

Era globalisasi membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk dalam dunia pendidikan.

Pendidikan di era global diartikan sebagai pendidikan yang dapat menjawab tantangan globalisasi, yaitu suatu proses yang dapat melahirkan individu - individu yang berbekal pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk hidup dan berkiprah dalam era globalisasi. Guru dalam era global memiliki tugas dan fungsi yang lebih komplek, sehingga perlu memiliki kompetensi dan profesionalisme yang standar. Kompetensi guru lebih bersifat personal dan komplek serta merupakan satu kesatuan utuh yang menggambarkan potensi yang

mencakup pengetahuan

keterampilan, sikap dan nilai yang dimiliki seorang guru yang terkait dengan profesinya yang dapat

(7)

dipresentasikan dalam amalan dan kinerja dalam mengelola pembelajaran di sekolah. Untuk

menjamin konsistensi

profesionalisme guru seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, diperlukan upaya-upaya peningkatan profesionalisme secara berkesinambungan. Secara preskriptif, dukungan kompetensi manajemen, strategi pemberdayaan, supervisi pengembangan, dan penelitian tindakan kelas merupakan dimensi-dimensi teoretis alternatif untuk meningkatkan profesionalisme guru di era global.

DAFTAR PUSTAKA

Mudiono, Alif. “Keprofesionalan Guru Dalam Menghadapi Pendidikan Di Era Global.” Pgsd.Fip.Um.Ac.Id, 2016, pp.

43–50, http://pgsd.fip.um.ac.id/wp- content/uploads/2017/01/5.pdf.

Sakti, Bayu Purbha. “Upaya Peningkatan Guru Profesional Dalam Menghadapi Pendidikan Di Era Globalisasi.”

Attadib: Journal of Elementary Education, vol. 4, no. 1, 2020, p. 74, doi:10.32507/attadib.v4i1.632.

Tinggi, Sekolah, et al. Ketua Prodi PGMI Stai Miftahul `Ula Nganjuk 174.

Wahid, M. Gusnur, and Om Ala.

PROFESIONALISME GURU DALAM PERSPEKTIF GLOBAL Pranowo Narjosoeripto FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara Suk ...

2012.

Referensi

Dokumen terkait

revisi yang telah dilakukan, maka tujuan pengembangan untuk meng- hasilkan multimedia pembelajar-an sains bermuatan nilai ketuhanan dan kecintaan terhadap lingkungan

Rasio-rasio tersebut menjadi yang paling memepengaruhi karena beberapa perusahaan yang diteliti selalu memiliki nilai yang negatif di dalam rasio-rasio tersebut, sehingga meskipun

(1) Berdasarkan nota kesepakatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1), TAPD menyiapkan rancangan Surat Edaran Bupati perihal Pedoman Penyusunan RKA-

Setiap sumber daya manusia yang bekerja di BUMDes Tirta Mandiri diberikan upah sesuai dengan UMR Kabupaten Klaten, hal ini bertujuan untuk memicu para pemuda Desa

Sebagai salah satu destinasi wisata di Provinsi Bali, kawasan Batur Global Geopark lebih dikenal dengan sebutan Kintamani, Penelokan, serta Gunung dan Danau Batur. Dimana setap

6enifestasi klinis demam tifoid sangat luas dan ber3ariasi, dari manifestasi yang atipikal hingga klasik, dari yang ringan hingga complicated. Penyakit ini memiliki kesamaan

Nilai R 2 = 0,9833 menunjukan nilai regresi linear yang tinggi bahwa perlakuan penambahan cairan mikroba lokal berpengaruh terhadap menurunnya kandungan ADF pada ransum

Skripsi ini membahas mengenai bagaimana Efektivitas Peran Komite Audit yang diproksikan oleh Kompetensi Keahlian Akuntansi dan Keuangan, Frekuensi Rapat, dan Ukuran