III METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Giant, Botani Square, Bogor, Jawa Barat.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga bulan Maret tahun 2010.
3.2 Pengumpulan Data
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi kasus (case study), dengan kasus sistem penyediaan dan pengendalian kualitas produk ikan segar di Giant, Botani Square. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan sekunder.
Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung di Giant dan wawancara berbagai pihak yang berkepentingan seperti Kepala Divisi Seafood, staf Divisi Seafood, dan wawancara melalui kuesioner dengan konsumen, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumentasi pustaka PT Hero Supermarket Tbk dan Bagian Personalia Giant, Botani Square dapat dilihat pada Tabel 3.
Data primer yang dihasilkan dari wawancara dan kuesioner konsumen diambil dari 35 orang responden pembeli ikan segar. Jumlah responden ini diambil dengan tujuan agar contoh yang diambil dapat mewakili populasi yang ada dan rataannya secara statistik stabil karena batas untuk menetapkan populasi atau contoh sampel minimal secara statistik adalah 30 sampel.
3.3 Teknik Penentuan Sampel
Teknik penentuan sampel (responden pembeli) yang digunakan adalah teknik accidental sampling yaitu responden dipilih secara kebetulan apabila responden yang bersangkutan kebetulan memenuhi syarat yang ditetapkan oleh peneliti, dimana syarat yang dimaksud orang (pengunjung) yang kebetulan sedang melakukan pembelian ikan segar di lokasi penelitian. Tidak semua anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Hal ini dikarenakan jumlah populasi tidak dapat diketahui secara tepat, sebab jumlah pengunjung Giant, Botani Square setiap harinya selalu memiliki jumlah yang berbeda. Selain itu, responden yang sedang melakukan pembelian ikan segar terbukti memiliki pengetahuan dan respon yang baik atas sistem penyediaan dan
pengendalian kualitas produk ikan segar yang dilaksanakan oleh Giant, Botani Square sehingga pertanyaan yang diajukan kepada responden memiliki keterwakilan yang tepat. Sedangkan teknik penentuan sampel atau informan dari pihak perusahaan dilakukan dengan teknik purposive sampling, dimana responden dipilih dengan sengaja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam pengambilan data.
Penentuan informan dilakukan dengan mengambil orang-orang terpilih dari dalam perusahaan seperti Kepala Divisi Seafood dan seluruh staf Divisi Seafood yang dapat memberikan informasi mengenai sistem penyediaan dalam pemesanan produk ikan segar.
Tabel 3 Data yang dikumpulkan
Jenis Data Data Diperoleh di Cara Pengambilan Data Primer Aktifitas bongkar muat hingga
proses pemajangan.
Pengamatan langsung, dan wawancara menggunakan kuesioner kepada Kepala Divisi Seafood dan staf Divisi Seafood.
Penanganan dan pengendalian kualitas produk ikan segar.
Pengamatan langsung, wawancara, dan kuesioner kepada Kepala Divisi Seafood dan staf Divisi Seafood, dan konsumen produk ikan segar Giant, Botani Square.
Kebijakan perusahaan terhadap persediaan dan kualitas produk ikan segar.
Wawancara kepada Kepala Divisi Seafood.
Sekunder Data jumlah unit persediaan 1 tahun terakhir dan biaya per unit.
Bagian personalia Giant
Data ikan cacat secara keseluruhan
Divisi Seafood Giant
3.4 Metode Analisis Data
3.4.1 Metode analisis ABC (ABC analysis method)
Dalam penelitian ini digunakan metode analisis ABC. Hal ini disebabkan karena produk ikan segar di Giant, Botani Square memiliki bermacam-macam jenis ikan sehingga diperlukan metode untuk mengetahui jenis produk ikan segar yang paling penting untuk perusahaan (fast moving) bila dibandingkan secara keseluruhan agar diperhatikan secara lebih baik. Data yang diolah dengan metode
ini adalah data jumlah unit kebutuhan persediaan 1 tahun terakhir dan biaya per unit. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Menyiapkan terlebih dahulu data jumlah unit persediaan produk ikan segar yang ada di Giant, Botani Square dalam 1 tahun terakhir, baik jenis, jumlah produk serta nilainya (harga).
2) Membuat data sheet berupa kolom-kolom jenis item persediaan, persentase jumlah persediaan, volume/tahun, harga/unit, biaya, persentase biaya, dan kategori kelompok (A/B/C).
No. Jenis Item
% Jumlah Persediaan
Volume/
Tahun Harga/Unit Biaya % Biaya Kategori
3) Menghitung data yang ada untuk mengisi kolom data sheet yang telah disediakan dengan mengalikan jumlah unit kebutuhan persediaan per tahun dengan biaya per unit.
4) Menghitung jumlah volume/tahun dan biaya.
5) Menghitung % biaya dan % jumlah persediaan dengan rumus sebagai berikut (Machfud, 2009):
Biaya 100 Jumlah
Jenis per Biaya Biaya
% Item
Jenis 100 Jumlah
Kategori per
Jumlah Persediaan
Jumlah
%
Item
6) Menentukan jenis ikan ke dalam kelompok A, B, dan C dengan kriteria kategori A mencakup sekitar 10% pertama dari total jumlah item persediaan, kategori B mencakup sekitar 20% berikutnya dari total jumlah item persediaan, dan kategori C mencakup sekitar 70% berikutnya dari total jumlah item persediaan. Berdasarkan nilai total persediaan, maka nilai item persediaan yang terdapat pada kategori A mencakup sekitar 70%-80% dari
total nilai seluruh persediaan, pada kategori B sekitar 20%, dan pada kategori C sekitar 10% (Machfud, 2009).
3.4.2 Metode pemulusan eksponensial tunggal (single exponential smoothing) Metode pemulusan eksponensial adalah suatu teknik perataan bergerak yang pembobotannya terhadap data historis untuk menentukan angka prakiraan yang diberikan secara eksponensial (Ishak, 2010). Pada teknik pemulusan eksponensial terdapat satu atau lebih parameter pemulus yang harus ditetapkan, dan pemilihan nilai parameter ini akan menentukan seberapa besar bobot yang diberikan terhadap data historis. Semua parameter pemulus berkisar antara 0 dan 1 (Machfud, 2009). Pada penelitian ini, digunakan parameter pemulus (α) 0,1; 0,5;
dan 0,9.
Data yang diolah dengan menggunakan metode ini adalah data jumlah unit persediaan produk ikan segar yang ada di Giant, Botani Square dalam 1 tahun terakhir. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Menyiapkan data aktual jumlah unit persediaan produk ikan segar yang ada di Giant, Botani Square dalam 1 tahun terakhir dengan hitungan per minggu (hari).
2) Memasukkan data tersebut ke dalam program Microsoft Excel, setelah itu data tersebut diplot (setiap hari per minggu untuk setiap bulan).
3) Menentukan prakiraan jumlah unit menggunakan parameter pemulus (α) 0,1; 0,5; dan 0,9. Adapun rumus prakiraan dengan metode pemulusan eksponensial tunggal adalah sebagai berikut (Ishak, 2010):
t
t 1
t α.X 1 α .F
F
Keterangan:
Xt = data permintaan pada periode t α = faktor/konstanta pemulusan Ft = peramalan untuk periode t Ft+1 = peramalan untuk periode t+1
4) Mengukur ketelitian dari prakiraan. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut (Herjanto, 2007):
a. Kesalahan rata-rata
n AE
eib. Rata-rata penyimpangan absolut
n M AD
eic. Rata-rata kesalahan kuadrat
n M SE e
2
i
d. Rata-rata persentase kesalahan absolut
n X 100
e
M APE i
i
Keterangan: semakin kecil nilai MAPE, maka prakiraannya semakin baik.
3.4.3 Peta kendali p
Sistem pengendalian kualitas produk ikan segar di Giant, Botani Square dianalisis dengan menggunakan peta kendali p. Peta kendali p digunakan untuk perhitungan proses penurunan kualitas ikan (proporsi cacat). Tujuan pembuatan peta kendali adalah untuk menetapkan apakah setiap titik pada grafik normal atau tidak normal (Grant dan Leavenworth, 1994). Peta kendali p digunakan untuk hal- hal yang berhubungan dengan proporsi dari produk ikan segar yang tidak memenuhi kualitas untuk dijual di Giant, Botani Square. Fungsi dibuatnya proporsi ikan yang tidak memenuhi kualitas untuk dijual didefinisikan sebagai rasio banyaknya ikan dalam contoh yang tidak memenuhi syarat spesifikasi mutu.
Ciri-ciri organoleptik menurut Divisi Seafood Giant, Botani Square dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Ciri-ciri organoleptik menurut Divisi Seafood Giant, Botani Square No. Jenis Produk Bagian Ikan Segar Ikan Mulai Busuk
1. Ikan Mata Berwarna putih
cerah dan
cembung
Terdapat darah/berwarna merah darah pada
matanya dan sudah tidak cembung
Kulit Kulit berwarna cerah
Berwarna pucat pudar dan sedikit berlendir pada ikan tertentu
Sisik Masih tidak mudah terlepas
Mudah terlepas Insang Berwarna merah
darah dan cerah, sedikit berlendir tapi tidak lengket
Berwarna coklat tua, kering, dan berbau tidak sedap
2. Udang Kulit dan daging
Masih keras/kenyal, berwarna cerah
Lembek
Kepala dan badan
Masih menempel kokoh
Hampir lepas dan berwarna merah muda suram dan tidak cerah 3. Cumi-cumi Daging Masih
keras/kenyal
Lembek Kulit Masih
keras/kenyal dan warna kulitnya cerah keputihan
Berwarna merah kecoklatan, cenderung mudah sobek, dan bau tidak sedap
Kepala dan badan
Menempel kokoh Mudah dilepaskan
4. Kepiting Mata Berwarna hitam pekat, tegak kuat keluar dari tempurungnya, masuk dengan cepat bila matanya disentuh,
gerakannya kuat dan cepat
Warna kecoklat-coklatan, lambat gerakannya, dan berbau tidak sedap
5. Kerang Warna cerah
merah darah, sedikit lendir, cepat tertutup pada saat disentuh
Tidak berwarna bersih, selalu terbuka/tertutup, tidak tertutup pada saat disentuh, dan berbau busuk/tidak sedap.
Sumber: Divisi Seafood Giant, 2010
Menurut Grant dan Leavenworth (1994) ada beberapa langkah yang dilakukan dalam membuat peta kendali p, yaitu:
1) Mencatat data untuk setiap subgrup tentang jumlah ikan yang diperiksa dan jumlah ikan yang ditolak karena tidak sesuai dengan spesifikasi.
2) Menghitung p p =
n ri subgrup dalam
diperiksa yang
Jumlah
subgrup dalam
ditolak yang
Jumlah
3) Menghitung p, rata-rata bagian yang ditolak
p =
m ri tertentu
periode selama
diperiksa yang
n Keseluruha
tertentu periode
selama ditolak
yang n Keseluruha
p = keseluruhan yang ditolak.
4) Menghitung batas-batas kendali percobaan untuk setiap percobaan berdasarkan rata-rata bagian yang ditolak dan diamati. Formulasi batas kendali ditentukan sebagai berikut:
BA =
n p 1 3 p
p
GT = p
BB =
n p 1 3 p
p
Keterangan : BA = Batas Atas GT = Garis Tengah BB = Batas Bawah
5) Memplotkan setiap titik, setelah diperoleh batas-batas kendali percobaan segera setelah dihitung dan diperhatikan proses tersebut berada dalam kendali atau di luar kendali.
Keterangan: Jika p berada di luar batas atas peta kendali, maka diputuskan melakukan tindakan korektif terhadap proses pengendalian karena berada di luar kendali.
Penentuan dan perhitungan jumlah produk cacat dilakukan oleh Divisi Seafood Giant, Botani Square. Data yang diperoleh untuk analisis ini merupakan
data yang dimiliki Divisi Seafood Giant, Botani Square sehingga tidak dilakukan uji organoleptik lebih lanjut.
3.4.4 Diagram sebab-akibat
Diagram sebab-akibat ini digunakan untuk menemukan penyebab persoalan serta akibat yang ditimbulkannya sehingga dapat ditanggulangi dalam pengendalian kualitas produk ikan segar, yaitu produk ikan segar yang termasuk dalam kelompok A (sesuai dengan yang diperoleh dalam metode analisis ABC).
Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Menentukan karakteristik mutu. Karakteristik inilah yang harus diperbaiki dan dikendalikan serta menemukan penyebab permasalahan yang ada (penyebab utama).
2) Menuliskan karakteristik kualitas pada sisi kanan. Kemudian, gambar panah besar dari sisi kiri ke kanan.
3) Menuliskan faktor utama yang mungkin menyebabkan karakteristik mutu.
Mengarah panah cabang ke panah utama. Disarankan untuk mengelompokkan faktor penyebab yang mempunyai kemungkinan besar terhadap dispersi ke dalam item-item.
4) Pada setiap item cabang, tulis faktor rinci ke dalamnya yang dianggap sebagai penyebab, menyerupai ranting. Pada setiap ranting tulis faktor lebih rinci untuk membuat cabang yang lebih kecil. Faktor yang lebih rinci untuk membuat cabang yang lebih kecil dapat disebut sebagai faktor cabang atau faktor penyebab akar dari suatu karakteristik mutu. Bila tidak ditulis maka tidak dapat membantu untuk menemukan penyebab permasalahan tersebut.
Kualitas
Kualitas Faktor PenyebabUtama
5) Melakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa semua item yang mungkin menjadi penyebab permasalahan telah masuk ke dalam diagram.
Bila tercantum dan hubungan sebab-akibat telah digambarkan dengan tepat, maka diagram tersebut telah lengkap.
Faktor Penyebab Faktor Penyebab Akar
Kualitas Faktor Penyebab Utama