4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1 PT. Tiga Sentosa
Perusahaan PT. Tiga Sentosa merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri makanan dan minuman. Hasil produksinya berupa makanan ringan dan kerupuk. Merk dagang yang dikeluarkan oleh perusahaan hanya satu yaitu cap Udang Bawang.
Perusahaan yang sudah berdiri pada awalnya di Jl. K.H Mukmin Sidoarjo ini sejak tahun 1984 yang kemudian pindah ke Jl. Wijaya Kususma RT 10 /RW 04 no 28 Bligo Candi Sidoarjo ini memiliki lika-liku yang cukup menarik.
Perusahaan yang awalnya didirikan oleh bapak Gofur sebagai pemilik ini sebenarnya diawali dari inisiatif bapak Gofur yang awalnya hanya bekerja sebagai penjual kerupuk ke pasar-pasar. Kemudian dalam perkembangannya, melihat peluang permintaan yang relatif besar dan juga jaringan yang sudah mantap, beliau berinisiatif untuk membuat perusahaan kerupuk sendiri. Ternyata pasar menyambut dengan baik produk dari perusahaan kerupuk ini. Sampai pada akhirnya karena dirasa lahan yang sudah memerlukan relokasi karena kurang besar, PT. Tiga Sentosa akhirnya memutuskan untuk memindahkan lokasi yang lebih besar yaitu di Jl. Wijaya Kusuma no 28. Sampai saat ini, PT. Tiga Sentosa telah memiliki konsumen di beberapa kota besar di Indonesia bahkan ada beberapa produk yang telah masuk ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand bahkan ada beberapa konsumennya dari Eropa dan Amerika. Hal ini membuktikan bahwa perusahaan telah bertumbuh dengan baik.
4.1.2 PT. Timur Jaya
PT. Timur Jaya berdiri pada tanggal 27 Februari 2004 didirikan oleh Ibu The Reggi Retanti di jalan Desa Gelam Rahayu no 15-17 Sidoarjo. Perusahaan ini bergerak pada bidang makanan yakni kerupuk, dimana produk utamanya adalah kerupuk udang. Dalam perkembangannya, PT. Timur Jaya berusaha melakukan diversifikasi produk, dimana perusahaan mulai memproduksi makanan konyaku
jelly dimana konyaku jelly ini pasar utamanya adalah konsumen menengah kebawah. Setelah sukses dalam mengolah kerupuk dan jelly, PT. Timur Jaya mulai melakukan diversifikasi kembali dengan memproduksi biskuit. Sampai saat ini perusahaan telah beroperasi dengan pegawai sebanyak 93 orang.
4.1.3 PT. Surya Pratista Hutama
Perusahaan ini pada mulanya berdiri dengan nama PT. Sampurna Pangan Indonesia (Sampindo) pada tahun 1972 dengan produksi utamanya adalah pengolahan makanan ringan. Pada tahun 1989, seiring dengan pertambahaan kapasitas produksi, Sampindo berpindah lokasi ke desa Suko, Sidoarjo dengan lokasi yang lebih besar. Pada tahun 1997, PT. Sampindo melakukan kerjasama dengan H.J. Heinz Company dan berganti nama menjadi PT. Surya Pratista Hutama (Suprama) dan mulai melakukan ekspansi produk ke pasar internasional.
Pada tahun 2000, PT. Suprama berganti nama menjadi PT. Heinz Suprama, namun hal ini tidak berlanjut lama. Akhirnya, pada tahun 2006, PT. Heinz Suprama berubah kembali menjadi PT. Surya Pratista Hutama hingga saat ini.
4.1.4 PT. Tirta Kencana Tatawarna
PT. Tirta Kencana Tatawarna adalah perusahaan distribusi bahan-bahan pewarna makanan dan kimia. Perusahaan ini berdiri pertama kali di Jl. Raya A.Yani No. 43 Gedangan, di dalam sebuah ruko yang bernama Komplek Ruko Central Square Blok B 3-5. Berdiri pada tanggal 15 Februari 2006 untuk mensuplai kebutuhan-kebutuhan konsumen untuk area Sidoarjo. Perusahaan ini menggunakan jasa ke 21 pegawainya untuk membantu melakukan kegiatan organisasi sehari-hari.
4.1.5 PT. Cita Rasa Sukses
PT. Cita Rasa Sukses berdiri pada tahun 1992 di Sidoarjo. Produk utama dari perusahaan ini adalah makanan ringan. Perusahaan ini berlokasi di Kompleks Pergudangan Surya Inti Permata Blok H-8 Tambak Jabon Waru – Sidoarjo.
4.1.6 PT. Lumintas Puspindo
PT. Lumintas Puspindo adalah perusahaan pembuat bahan-bahan tepung tapioka yang dipasarkan untuk kawasan Jawa Timur. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1994 di Sidoarjo dengan lokasi distribusi utama yakni Surabaya, Sidoarjo dan beberapa area di Jawa Timur.
4.1.7 PT. Manohara Asri
PT. Manohara Asri didirikan pada tanggal 8 November 1995 oleh bapak Singgih Gunawan dan bapak Soedomo Mergonoto di kawasan Sepanjang Sidoarjo. Perusahaan ini merupakan anak perusahaan dari PT. Santos Jaya Abadi yang dirintis oleh bapak Go Soe Lot. Status kepemilikan perusahaan sejak berdiri sampai sekarang adalah perusahaan keluarga, dengan manajemen perusahaan yang dikelola secara professional. PT. Santos Jaya Abadi yang pada mulanya masih merupakan industri rumahan dengan memproduksi kopi, kemudian berkembang pesat menjadi industri besar. Sejalan dengan makin pesatnya industri kopi ini, menimbulkan keinginan bapak Singgih Gunawan dan bapak Soedomo Mergonoto sebagai penerus bisnis keluarga untuk mengembangkan usaha di bidang snack atau makanan ringan. Baik bapak Singgih Gunawan maupun bapak Soedomo Mergonoto melihat adanya peluang yang baik dalam bisnis makanan ringan ini. PT. Manohara Asri hingga saat ini telah meluncurkan dua merek untuk jenis snack yaitu Kenji dan Criux, dan satu merek untuk jenis kacang Jepang yaitu Mayasi. Kacang Jepang Mayasi mulai diluncurkan pada bulan September 1997, dengan rasa dan teknik produksi yang berbeda dari produk kacang dalam negeri lainya. Ide pemasaran produk-produk ini diawali dari seringnya pimpinan perusahaan ini mengunjungi negara Jepang untuk mencari produk-produk yang belum ada di Indonesia untuk diproduksi dan disesuaikan dengan selera masyarakat.
4.1.8 PT. Surya Alam Tunggal
Perusahaan ini bergerak pada bidang pemrosesan makanan laut, seperti udang beku, ikan, kaki katak dan beberapa produk kelautan. Lokasi kantornya
berada pada Jl. Raya Tropodo No. 126 Sidoarjo, sedangkan pabriknya sendiri berada di kota Banyuwangi.
4.1.9 PT. So Good Food (JAPFA)
PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk (“Perseroan”) didirikan pada tanggal 18 Januari 1971 dengan nama PT Java Pelletizing Factory, Ltd berdasarkan Akta No.59 di hadapan notaris Djojo Muljadi, SH. Perseroan memulai produksi komersial pada tahun 1971 dengan produk utama pellet kopra. Dalam rangka memperkuat struktur permodalan, di tahun 1989 perseroan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Selanjutnya mengikuti sukses pencatatan saham tersebut di tahun 1990 perseroan melakukan konsolidasi usaha dengan mengakuisisi empat perusahaan pakan ternak. Sejak saat itu nama PT Java Pelletizing Factory Ltd berubah menjadi PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.
4.1.10 PT. Aneka Coffee Industry (Prasidha Coffee)
PT. Aneka Coffee Industry (ACI) dibangun pada tahun 1995 . Perusahaan bergerak pada pemroses kopi dan eksportir yang berlokasi di Jawa Timur tepatnya di Sidoarjo, Indonesia. Kapasitas produksi tahunannya adalah 3600 ton kopi instant dan 2400 ton kopi mentah.
4.2 Profil responden 4.2.1 Analisa Deskriptif
Data penelitian diperoleh dari penyebaran kuisioner kepada 10 perusahaan di Sidoarjo dengan deskripsi karakteristik responden sebagai berikut:
Tabel 4.1 Profil responden berdasarkan usia dan jenis kelamin Jenis
kelamin
Usia
total
≤ 20 21-25 26-30 >30
Pria 0 20 40 13 73
Wanita 0 23 125 9 157
Total 0 43 165 22 230
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari 230 responden yang dipilih berdasarkan kriteria, tidak didapati responden pria, yang berusia ≤20 tahun dan responden pria yang berusia 21-25 tahun sebanyak 8,6 % (20 orang), responden pria yang berusia 26-30 tahun sebesar 17,3
% (40 orang) dan ada responden pria sebanyak 13 orang yang berusia diatas 30 tahun (5,65%). Sedangkan dari 157 responden wanita ternyata tidak ada dan yang berusia ≤20 tahun, sedangkan yang berusia 21-25 tahun sebanyak 23 orang.
Sedangkan untuk responden wanita yang berusia 26-30 berjumlah 125 orang ( 54,3 %) dan yang berusia >30 tahun sebanyak 9 orang (3,9 %).
Tabel 4.2 Profil responden berdasarkan tingkat pendidikan dan jenis kelamin.
Jenis kelamin
Pendidikan
total
SD SMP SMA S1
Pria 0 0 16 57 73
Wanita 0 0 59 98 157
Total 0 0 75 155 230
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.3 didapati dari 73 orang responden yang berjenis kelamin pria ternyata 6,9 % (16 orang) berpendidikan terakhir SMA. Sedangkan dari 157 orang responden wanita ternyata 25,6 % (59 orang) berpendidikan terakhir SMA.
Didapati juga 57 orang responden pria berpendidikan terakhir S1 (24,7 %) dan 98 orang resnponden wanita berpendidikan S1 (42,6).
Tabel 4.3 Profil responden berdasarkan lama bekerja dan jenis kelamin Jenis
kelamin
Lama bekerja
total
<1 tahun 1-2 tahun > 2 thn- 5 thn > 5 tahun
Pria - 52 20 1 73
Wanita - 121 33 3 157
Total - 173 53 4 230
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari 73 responden yang berjenis kelamin pria terdapat tidak ada yang bekerja <1 tahun, dan 22,6 % (52 orang) telah bekerja pada perusahaan selama 1-2 tahun, sedangkan 8,6 % (20 orang) telah bekerja selama > 2 thn- 5 thn dan 1,1 % (1 orang) pegawai yang telah bekerja lebih dari 5 tahun. Sedangkan untuk pegawai wanita, didapati 52,6 % (121 orang) telah mengabdikan diri di perusahaan selama 1-2 tahun, 14,3 % (33 orang) telah mengabdikan diri di perusahaan selama > 2 thn- 5 thn dan hanya ada 3,4 % (3 orang) yang telah bekerja pada perusahaan selama >5 tahun.
4.3 Penjelasan jawaban variabel sosial exchange, work exchange dan OCB Berdasarkan penyebaran kuisioner kepada 230 responden yang dilakukan peneliti pada tanggal 11-16 Juli, 24-30 Juli, 21 November – 9 Desember 2011, selanjutnya deskripsi jawaban tiap variabel dilakukan dengan mencari rata-rata dari setiap jawaban responden.
Adapun hasil jawaban kuisioner sebagai berikut :
Tabel 4.4 Statistik deskriptif untuk variabel Social Exchange indikator imbalan
No Pernyataan
Jawaban
N Mean STJ TS S ST
1 Bagi anda pendapatan yang diberikan perusahaan
2 39 111 78 230 3.15 sudah cukup untuk proporsi kontribusi anda.
2 Anda memiliki harapan dan arah penghidupan yang
27 54 104 45 230 2.73 jelas ketika anda bekerja dengan baik pada perush
SE : IMBALAN 2.94
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.4 diketahui bahwa kurang lebih 48,26 % responden menjawab bahwa mereka telah mendapatkan pendapatan yang sesuai dengan kontribusi mereka.
Pada pernyataan yang kedua responden menjawab bahwa mereka menjawab setuju bahwa dalam beraktivitas pegawai memiliki pengharapan yang jelas atas hidup mereka ketika anda bekerja dengan baik pada perusahaan. Dari 2 pertanyaan pada tabel 4.4 juga dapat diketahui bahwa variabel social exchange:
indikator imbalan memiliki jawaban yang terdistribusi memusat pada jawaban setuju, karena berada pada interval 2.56-3.25
Tabel 4.5 Statistik deskriptif untuk variabel Social Exchange indikator pengorbanan
No Pernyataan
Jawaban
N Mean STJ TS S ST
1 Anda harus mengesampingkan beberapa aspek da
12 96 102 20 230 2.57 lam kehidupan pribadi anda untuk dapat fokus dalam
pekerjaan anda
2 Anda harus menggunakan segala kemampuan anda
0 7 201 22 230 3.07
untuk dapat bekerja pada perusahaan sesuai bidang anda.
SE : PENGORBANAN 2.81
Sumber : olahan dari data peneliti
Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa telah terdapat anggapan di dalam diri tiap responden bahwa mereka harus mengesampingkan beberapa aspek dalam kehidupan pribadi anda untuk dapat fokus dalam pekerjaan mereka sebesar 30,90
%. Selain itu, dari tabel 4.5 diketahui bahwa terdapat 60, 90 % responden berpendapat sangat setuju bahwa mereka harus menggunakan segala kemampuan mereka untuk dapat bekerja pada perusahaan sesuai bidang mereka. Dari 2 pertanyaan pada tabel 4.5 juga dapat diketahui bahwa variabel social exchange:
indikator pengorbanan memiliki jawaban yang terdistribusi memusat pada jawaban setuju, karena berada pada interval 2.56-3.25, yang artinya, telah terjadi pengorbanan yang cukup besar dari seorang pegawai untuk perusahaan.
Tabel 4.6 Statistik deskriptif untuk variabel Social Exchange indikator laba
No Pernyataan
Jawaban
N Mean STJ TS S ST
1 Anda sudah berada pada tempat yang tepat untuk karir
0 1 189 40 230 3.17
anda sesuai dengan proporsi kemampuan anda.
2 Untuk standart kemampuan yang anda miliki saat ini, an
2 5 194 29 230 3.09
da telah mendapatkan banyak hal dari perusahaan
SE : LABA 3.13
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.6 diketahui bahwa terdapat 57.27 % responden setuju dengan pernyataan bahwa mereka sudah berada pada tempat yang tepat untuk karir anda sesuai dengan proporsi kemampuan mereka. Selain itu, juga didapati sebanyak 58,78 % responden menyatakan bahwa mereka setuju bahwa untuk standart kemampuan yang mereka miliki saat ini, mereka telah mendapatkan banyak hal dari perusahaan. Dari tabel 4.6 juga diketahui bahwa rata-rata nilai interval variabel social exchange : indikator laba memiliki jawaban yang terdistribusi memusat pada jawaban setuju, karena berada pada interval 2.56 – 3.25, artinya bahwa para pegawai juga telah merasa diuntungkan ketika bekerja pada perusahaan.
Tabel 4.7 Statistik deskriptif untuk variabel Work Exchange indikator quantity
No Pernyataan
Jawaban
N Mean STJ TS S ST
1
Saya merasa jam kerja yang diberikan oleh
6 21 123 80 230 3.20
perusahaan telah sesuai.
2
Saya akan bekerja lembur untuk menyelesai
0 36 143 51 230 3.07
pekerjaan yang belum terselesaikan
3
Saya akan datang lebih awal dari yang lain
0 15 164 51 230 3.16
untuk menyelesaikan pekerjaan.
4
Hal terpenting bagi saya adalah
0 0 147 83 230 3.36
terlibat dalam pekerjaan di perusahaan
5
Saya memberikan yang terbaik dan sem
0 0 74 156 230 3.68
purna untuk pekerjaan.
WE : quantity 3.29
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.7 juga didapati bahwa 53, 42 % responden mengatakan setuju terhadap pernyataan pertama yang menyatakan bahwa pegawai merasa jam kerja yang diberikan oleh perusahaan telah sesuai. Pernyataan kedua responden menjawab sebanyak 62.17 % setuju bahwa akan bekerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan. Pernyataan ketiga, responden menjawab bahwa akan datang lebih awal untuk menyelesaikan pekerjaan sebanyak 71.30 %. Pernyataan keempat, responden menjawab hal terpenting adalah terlibat dalam pekerjaan di perusahaan sebesar 62.10 %. Selain itu, terdapat 67, 82 % responden yang sangat setuju bahwa mereka telah memberikan yang tebaik untuk pekerjaan mereka. Dari tabel 4.7 juga diketahui bahwa variabel social exchange indikator quantity memiliki frekuensi jawaban yang terdistribusi memusat pada jawaban sangat setuju karena pada interval 3.26 – 4.00, yang artinya bahwa telah terjadi aktivitas pertukaran kerja yang tinggi (berdasarkan nilai interval rata-rata), dan hal ini akan menggiring pada proses terjadi atau tidaknya pertukaran value pada pertanyaan yang akan dijabarkan pada tabel 4.8 di bawah ini.
Tabel 4.8 Statistik deskriptif untuk variabel Work Exchange indikator value
No Pernyataan
Jawaban
N Mean STJ TS S ST
1
Perusahaan memberi banyak
0 14 156 60 230 3.20
kesempatan bagi saya untuk belajar hal-hal yang baru.
2
Perusahaan menghargai pekerjaan yang saya ker-
0 0 111 119 230 3.52 Jakan
3
Saya mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan
0 6 169 53 228 3.18
apa yang saya harapkan.
4
Pekerjaan yang saya kerjakan sangat penting
0 6 173 51 230 3.20
bagi perusahaan.
5
Saya merasa mendapat pengetahuan dan keteram
0 18 141 71 230 3.23
pilan tambahan ketika bekerja pada perusahaan
WE : value 3.26
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.8 diketahui 67, 82 % responden setuju bahwa perusahaan telah memberikan kesempatan yang banyak bagi pegawai untuk belajar hal-hal yang baru. Pernyataan kedua, responden sangat setuju bahwa perusahaan telah menghargai apa yang mereka kerjakan dengan prosentase jawaban sebesar 51.73
%. Pernyataan ketiga responden menjawab bahwa telah mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang mereka harapkan dengan prosentase jawaban sebesar 73.47 %. Pernyataan keempat responden menjawab bahwa pekerjaan mereka penting bagi perusahaan dengan prosentase jawaban sebesar 75.21 % pada jawaban setuju. Selain itu terdapat 61.30 % responden yang setuju bahwa perusahaan telah memberikan pengetahuan dan keterampilan tambahan. Dari tabel 4.8 diketahui bahwa nilai rata-rata berada pada interval 2.56 – 3.25 yang artinya rata-rata jawaban dominan adalah setuju, yang artinya bahwa pegawai setuju telah terjadi pertukaran nilai yang baik/tinggi( berdasarkan nilai interval).
Tabel 4.9 Statistik deskriptif untuk variabel OCB indikator Altruism.
No Pernyataan
Jawaban
N Mean STJ TS S ST
1 Saya selalu mendahulukan kepentingan orang lain 10 31 186 3
230 2.79
daripada kepentingan saya.
2 Saya selalu paling tidak bisa untuk menolak permin 2 0 197 31
230 3.12 taan rekan kerja saya yang membutuhkan bantuan.
OCB : Altruism 2.95
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.9 diketahui bahwa dari 230 responden sebagian menjawab bahwa mereka bersedia mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan mereka, yakni menjawab sebesar 80, 86%. Untuk pernyataan kedua, terdapat sebesar 66, 23 % menyatakan setuju bahwa mereka tidak bisa untuk menolak permintaan dari rekan kerja mereka yang membutuhkan bantuan. Dari tabel 4.9 diketahui bahwa pertanyaan 1-2 memiliki interval 2.56 – 3.25 serta frekuensi jawaban memusat pada jawaban setuju, dimana memiliki makna bahwa pada perusahaan, pegawai telah merasakan dan melakukan tindakan yang mengarah pada tindakan OCB : Altruism, hal ini terjadi karena OCB dapat timbul dan meningkat eksistensinya dipengaruhi oleh Exchange Relationships, (Cardona,
Lawrence, Betler, 2003), Organizational Commitment (Cardona, Lawrence, Betler 2003), Perceived Organizational Support dan Job Characteristics (Cardona, Lawrence, Betler 2003) dan beberapa variable-varabel lain sehingga OCB dapat memiliki nilai yang tinggi.
Tabel 4.10 Statistik deskriptif untuk variabel OCB indikator Conscientiousness.
No Pernyataan
Jawaban
N Mean STJ TS S ST
1
Saya selalu bersedia untuk membantu
memasarkan
230 3.10 produk perusahaan ke rekan-rekan saya dirumah 5 2 188 35
secara sukarela.
2
Saya selalu merasa senang bila dapat
memberikan
230 3.46
kontribusi yang melebihi kewajiban utama saya
pa 0 0 125 105
da perusahaan.
OCB :Conscientiousness 3.27
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.10 diketahui bahwa para responden sebagian besar besedia untuk membantu memasarkan produk perusahaan kepada rekan-rekan dirumah masing-masing. Sedangkan pernyataan kedua, terdapat 54.34 % responden yang menjawab bahwa pegawai merasa senang bila mereka dapat memberikan kontribusi yang melebihi kewajiban standar mereka. Dari tabel 4.10 diketahui bahwa pertanyaan 1-5 berada pada interval dengan kategori sangat setuju, yakni 3.26 – 4.00 serta frekuensi jawaban memusat pada jawaban sangat setuju, dimana memiliki makna bahwa pada perusahaan, responden telah merasakan dan melakukan tindakan yang mengarah pada tindakan OCB indikator Conscientiousness, hal ini terjadi karena OCB dapat timbul dan meningkat eksistensinya dipengaruhi oleh Exchange Relationships (Cardona, Lawrence, Betler, 2003), Organizational Commitment (Cardona, Lawrence, Betler 2003), Perceived Organizational Support dan Job Characteristics (Cardona, Lawrence, Betler 2003) dan beberapa variable-varabel lain sehingga OCB dapat memiliki nilai yang tinggi.
Tabel 4.11 Statistik deskriptif untuk variabel OCB indicator Sportmanship
No Pernyataan
Jawaban
N Mean STJ TS S ST
1 Tidak pernah menghabiskan banyak waktu untuk 0 8 178 44
230 3.16 mengeluh tentang sesuatu yang sepele.
2 Saya dapat dan terbiasa menerima kritikan dari pe 12 2 138 78
230 3.23 rusahaan walau kritikan tersebut belum tentu benar
OCB : Sportmanship 3.19
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.11 diketahui bahwa 77.39 % responden menyatakan setuju bahwa mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengeluh terhadap sesuatu yang sifatnya sepele. Didapati juga bahwa para responden sebagian besar menjawab setuju untuk sudah terbiasa dan dapat menerima kritikan, pernyataan tersebut sebesar 60 %. Dari tabel 4.11 diketahui bahwa pertanyaan 1-2 memiliki nilai interval 2.56 – 3.25 serta frekuensi jawaban berada pada jawaban setuju, dimana memiliki makna bahwa pada perusahaan, pegawai telah merasakan dan melakukan tindakan yang mengarah pada tindakan OCB indikator Sportmanship, hal ini terjadi karena OCB dapat timbul dan meningkat eksistensinya dipengaruhi oleh Exchange Relationships (Cardona, Lawrence, Betler, 2003), Organizational Commitment (Cardona, Lawrence, Betler 2003), Perceived Organizational Support dan Job Characteristics (Cardona, Lawrence, Betler 2003) dan beberapa variable-varabel lain sehingga OCB dapat memiliki nilai yang tinggi.
Tabel 4.12 Statistik deskriptif untuk variabel OCB indikator Civic-virtue
No Pernyataan
Jawaban
N Mean STJ TS S ST
1
Saya selalu bersedia bila diminta perusahaan dalam
0 0 197 33 230 3.14
perundingan untuk mengambil keputusan bersama
2
Saya selalu merasa masalah perusahaan adalah
0 4 144 82 230 3.34
masalah saya juga.
OCB : civic-vertue 3.24
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.12 diketahui bahwa responden bersedia bila diminta untuk hadir dalam perundingan untuk mengambil keputusan bersama. Selain itu, juga terdapat pernyataan sebesar 62.60 % yang menyatakan setuju bahwa responden merasa bahwa masalah perusahaan adalah masalah mereka juga. Dari tabel 4.12 diketahui bahwa pertanyaan 1-2 beada pada interval dengan kategori setuju, yakni 2.56 – 3.25 serta frekuensi jawaban memusat pada jawaban setuju, dimana memiliki makna bahwa pada perusahaan, responden telah merasakan dan melakukan tindakan yang mengarah pada tindakan OCB indikator civic-vertue, hal ini terjadi karena OCB dapat timbul dan meningkat eksistensinya dipengaruhi oleh Exchange Relationships (Cardona, Lawrence, Betler, 2003), Organizational Commitment (Cardona, Lawrence, Betler 2003), Perceived Organizational Support dan Job Characteristics (Cardona, Lawrence, Betler 2003) dan beberapa variable-varabel lain sehingga OCB dapat memiliki nilai yang tinggi.
4.4 Uji Validitas
Uji validitas adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana alat ukur tersebut dapat mengukur keabsahan kuesioner dan sah atau tidaknya kuesioner dapat diukur melalui relevansi pertanyaan dalam kesioner sejauh mana kuesioner mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya ingin diukur. Validitas dapat diukur melalui korelasi antara skor dari tiap butir pertanyaan dengan skor total, dalam satu variabel. Apabila skor tiap butir pertanyaan lebih besar dari skor total maka kuesioner tersebut dapat dikatakan valid, atau dapat juga dinyatakan valid apabila r hitung > r tabel (0,3). Berikut ini hasil uji validitas menggunakan bantuan software SPSS 16 for Windows untuk variabel social exchange.
Tabel 4.15 Uji Validitas untuk variabel sosial exchange Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted
Scale Variance if Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha if Item
Deleted
Q1 19.4848 6.381 .468 .531
Q2 18.5541 9.413 .349 .602
Q3 18.4199 9.627 .328 .610
Q4 18.5584 8.595 .492 .559
Q5 18.6320 7.451 .370 .576
Q6 19.2944 6.130 .388 .592
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.15 diketahui bahwa r hitung untuk butir pertanyaan 1-6 dari lebih besar dari r tabel yakni sebesar 0.3, dengan demikian butir pertanyaan no. 1- 6 untuk variabel social exchange valid.
Berikut ini hasil perhitungan uji validitas menggunakan bantuan software SPSS 16 for Windows untuk variabel work exchange indikator quantity :
Tabel 4.16 Uji Validitas untuk variabel work exchange indikator quantity No
pernyataan
Nilai r hitung
Nilai r
table Keterangan
1 .498 0.3 Valid
2 .289
0.3
Tidak Valid
3 .302 0.3 Valid
4 .389 0.3 Valid
5 .588 0.3 Valid
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.18 diketahui bahwa r hitung untuk setiap butir pertanyaan dari butir pertanyaan 1-5, kecuali butir pertanyaan 2 lebih besar dari r tabel yakni sebesar 0.3, dengan demikian butir pertanyaan no. 1,3,4,5 untuk variabel work exchange (quantity) valid dan butir pertanyaan 2 harus dihapus.
Berikut ini hasil perhitungan uji validitas menggunakan bantuan software SPSS 16 for Windows untuk variabel work exchange (value)
Tabel 4.17 Uji Validitas untuk variabel work exchange indikator value No pernyataan r hitung r tabel Keterangan
1 .445 0.3 Valid
2 .605 0.3 Valid
3 .590 0.3 Valid
4 .246 0.3
Tidak Valid
5 .439 0.3 Valid
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.19 diketahui bahwa r hitung untuk setiap butir pertanyaan dari butir pertanyaan 1 sampai 5, kecuali butir pertanyaan 4 lebih besar dari r tabel yakni sebesar 0.3, dengan demikian butir pertanyaan no. 1-5 untuk variabel work exchange indikator value adalah valid, sedangkan butir pertanyaan 4 tidak valid dan harus dihapus.
Berikut ini hasil perhitungan uji validitas menggunakan bantuan software SPSS 16 for Windows untuk variabel OCB :
Tabel 4.18 Uji Validitas untuk variabel OCB No pernyataan r hitung r tabel keterangan
1 0.489 0.3 valid
2 0.371 0.3 valid
3 0.282 0.3 tidak valid
4 0.429 0.3 valid
5 0.498 0.3 valid
6 0.363 0.3 valid
7 0.385 0.3 valid
8 0.375 0.3 valid
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.20 diketahui bahwa r hitung untuk setiap butir pertanyaan dari butir pertanyaan 1 sampai 8, kecuali butir pertanyaan nomor 3 variabel OCB valid. Pertanyaan nomor 3 harus dihapus
4.5 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dibutuhkan untuk mengetahui seberapa jauh keandalan secara konsisten dan stabil variabel-variabel untuk mengukur jawaban dari pertanyaan yang ada. Suatu pertanyaan dikatakan reliabel apabila Cronbach`s alpha > nilai kritis yakni 0.6. Adapun untuk uji reliabilitas menggunakan bantuan software SPSS 16 for Windows. Berikut hasil perhitungan uji reliabilitas terhadap variabel Sosial Exchange, Work Exchange dan OCB:
Tabel 4.19 Uji Reliabilitas No r hitung r tabel keterangan
1 0.676 0.6 valid 2 0.615 0.6 valid 3 0.643 0.6 valid
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.24 diketahui bahwa ketiga variabel yang digunakan dalam penelitian yang tertuang dalam tiap butir pertanyaan kuisioner dengan nilai tiap variabel lebih besar dari nilai kritis 0.6 maka dengan demikian variabel-variabel penelitian adalah reliabel.
4.6 Analisis dan Pengolahan Data 4.6.1 Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah jawaban dari tiap butir pertanyaan telah terdistribusi secara normal. Dalam uji normalitas, pertanyaan dikatakan telah terdistribusi secara normal apabila nlai Sig (Asymp. Sig) > 0.05
Tabel 4.20 Uji Normalitas
ocb se we
N 230 231 230
Normal
Parameters(a,b)
Mean 29.4565 22.5887 42.3565
Std. Deviation 2.33547 3.25972 3.76885 Most Extreme
Differences
Absolute .206 .086 .095
Positive .138 .082 .057
Negative -.206 -.086 -.095
Kolmogorov-Smirnov Z 3.117 1.311 1.436
Asymp. Sig. (2-tailed) .051 .064 .062
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.25 diketahui bahwa untuk variabel OCB memiliki nilai Sig sebesar 0.051, dengan demikian nilai Sig variabel OCB lebih besar dari 0.05, dengan demikian variabel OCB memiliki penyebaran distribusi yang normal.
Untuk variabel Social Exchange, memiliki nilai Sig = 0.064 > 0.05, maka dengan demikian variabel Social Exchange berdistribusi normal. Untuk variabel Work Exchange memiliki nilai Sig = 0.062, dengan demikian variabel Work Exchange berdistribusi normal.
4.6.2 Uji multikolinearitas
Uji Multikolinearitas digunakan untuk mengetahui apakah ada korelasi antar variabel bebas dengan melihat model regresi yang terbentuk apakah model regresi yang baik atau tidak. Persamaan regresi yang baik jika nilai tolerance >
0.10 dan nilai VIF < 10. Dalam melakukan pengujian, dibantu dengan software SPSS 16 for Windows. Berikut hasil pengujiannya :
Tabel 4.21 Uji Multikolinearitas
Model
Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)
SOS .932 1.072 WE .932 1.072
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.25 dapat diketahui nilai VIF untuk variabel Social Exchange adalah 1.327 yang berarti <10 dan nilai tolerance 0.932 yang berarti > 0.10, dengan demikian telah memenuhi syarat untuk tidak terjadi multikolinearitas, artinya bahwa tidak terjadi kenaikan koefisien regresi untuk variabel Social Exchange dibanding dengan koefisien regresi yang lain. Untuk variabel Work Exchange, nilai VIF adalah 1.072 yang berarti <10 dan nilai tolerance 0.932 yang berarti > 0.10, dengan demikian telah memenuhi syarat untuk tidak terjadi multikolinearitas. Dengan demikian variabel Social Exchange dan Work Exchange tidak terjadi multikolinearitas.
4.6.3 Uji heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui adalah uji untuk mengetahui varian residual yang tidak konstan pada regresi sehingga akurasi hasil prediksi menjadi meragukan (Budi, 2006). Pengujian dilakukan menggunakan bantuan software SPSS 16 for Windows. Syarat yang harus dipenuhi dapat dilihat dari dua cara, yang pertama dari table dimana dikatakan tidak terjadi heteroskesdatisitas bila nilai residu < nilai predicted value, dan syarat yang kedua
dapat dilihat dari scaterplot yang muncul, memenuhi syarat untuk tidak terjadi heteroskedastisitas bila titik-titik pada scaterplot menyebar pada sisi-sisi tabel
Tabel 4.22 Uji heteroskedastisitas
Min Max Mean
Std.
Deviation N Predicted Value 25.2744 32.1430 29.4565 1.33298 230 Std. Predicted Value -3.137 2.015 .000 1.000 230 Standard Error of
Predicted Value .129 .493 .210 .064 230
Adjusted Predicted
Value 25.2340 32.1007 29.4551 1.33347 230
Residual -
10.1272 8
5.10674 .00000 1.91770 230
Std. Residual -5.258 2.651 .000 .996 230
Stud. Residual -5.304 2.712 .000 1.004 230
Deleted Residual -
10.3067 3
5.34177 .00140 1.94831 230
Stud. Deleted
Residual -5.655 2.751 -.003 1.021 230
Mahal. Distance .031 13.977 1.991 2.066 230
Cook's Distance .000 .169 .005 .018 230
Centered Leverage
Value .000 .061 .009 .009 230
Sumber : olahan data peneliti
Dari tabel 4.22 diketahui bahwa nilai residu sebesar 10.12 < predicted value (nilai prediksi) sebesar 25.27. Dengan demikian memenuhi syarat untuk tidak terjadi heteroskedastisitas.
Sumber : Olahan data peneliti Gambar 4.1 heteroskedastisitas
Dari gambar 4.1 diatas diketahui bahwa titik-titik menyebar pada sisi-sisi gambar dan memenuhi syarat bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas.
4.6.4 Autokorelasi
Uji autokorelasi sering dikenal juga dengan nama korelasi serial pada persamaan regresi, bila terdapat autokorelasi dapat berakibat pada biasnya interval kepercayaan dan ketidaktepatan penerapan uji F (Budi, 2006). Pengujian dilakukan menggunakan bantuan software SPSS 16 for Windows. Syarat untuk tidak terjadi autokorelasi adalah sebagai berikut (Budi, 2006):
1.Jika dw < dl, berarti terdapat autokorelasi positif 2.Jika du < dw , berarti tidak terdapat autokorelasi 3.Jika dl < dw< du , berarti tidak dapat disimpulkan
Tabel 4.3 Autokorelasi
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin- Watson
1 .571(a) .326 .320 1.92613 1.885
Sumber : olahan data peneliti
dl = 1.7483 du = 1.7887 DW = 1.885
Dari tabel 4.3 diketahui nilia DW 1.885 dan dengan demikian maka dl< DW> du, dengan demikian maka memenuhi syarat untuk tidak terjadi autokorelasi.
4.6.5 Regresi Linear Berganda
Regresi linear berganda untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Pengujian dilakukan menggunakan bantuan software SPSS 16 for Windows. Berikut adalah hasil perhitungan regersi linear berganda
Tabel 4.22 Regresi Linear Berganda Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 24.654 8.466 2.919 .005
Se .268 .183 .183 1.460 .149
We .047 .329 .618 4.920 .000
a. Dependent Variable: ocb
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari data hasil regresi linear berganda di atas maka dapat dihasilkan persamaan sebagai berikut :
Y =24.654 + 0.268 X1+ 0.47X2
Dari persamaan regresi diatas dapat dijelaskan pengertian sebagai berikut ini :
• Nilai konstanta sebesar 24.654 menunjukan bahwa jika tidak terdapat nilai pada kedua variabel bebas, atau dengan kata lain bila kedua nilai variabel bebas bernilai nol, maka akan terdapat nilai variabel terikat yakni nilai OCB sebesar 24.654.
• Nilai koefisien sebesar 0.268 berarti bahwa terjadi peningkatan satu nilai tingkatan terhadap variabel Social Exchange sedangkan variabel yang lain bernilai tetap, maka variabel terikat yakni OCB akan mengalami kenaikan sebesar 0.268.
• Nilai koefisien sebesar 0.47 berarti bila terjadi peningkatan satu nilai tingkatan terhadap variabel Work Exchange sedangkan variabel yang lain bernilai tetap, maka variabel terikat yakni OCB akan mengalami penigkatan sebesar 0.47.
Dari persamaan tersebut juga dapat diartikan bahwa variabel bebas yakni social exchange memiliki hubungan positif terhadap variabel terikat yakni OCB, sedangkan variabel bebas work exchange memiliki hubungan yang berlawanan arah terhadap OCB.
Tabel 4.23 Korelasi
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .774(a) .599 .589 6.428
Sumber : olahan dari data peneliti
Dari tabel 4.27 berdasarkan aturan Gulford pada bab 3, diketahui bahwa model regresi yang terbentuk dilihat dari nilai R yakni 0.774 memiliki makna nilai korelasi yang cukup tinggi. Artinya bila terjadi aktivitas yang mengarah pada
variabel bebas yakni work exchange dan social exchange pada perusahaan, akan cukup tinggi mempengaruhi timbulnya aktivitas OCB dimana untuk nilai R Square sebesar 0.599 berarti bahwa Social Exchange dan Work Exchange memiliki kontribusi sebesar 59.9 % terhadap OCB atau juga dapat dijelaskan 59.9
% variansi dari Social Exchange dan Work Exchange dapat dijelaskan oleh variabel OCB.
4.7 Uji Hipotesis 4.7.1 Uji F
Uji F adalah pengujian yang bertujuan menguji apakah variabel-variabel bebas yang terbentuk yakni variabel Work Exchange dan Social Exchange dapat saling mempengaruhi secara bersama-sama terhadap variabel terikatnya yakni OCB berdasarkan hipotesis yang terbentuk. Adapun hipotesis yang terbentuk adalah:
• H0 = Diduga tidak ada pengaruh Social Exchange dan Work Exchange secara bersama-sama secara signifikan terhadap OCB.
• H1 = Diduga ada pengaruh Social Exchange dan Work Exchange secara bersama-sama secara signifikan terhadap OCB.
Dengan α sebesar 5 % dengan derajat bebas (N-K-1), dimana N adalah jumlah anggota populasi dan K adalah jumlah variabel bebas.
Bila nilai uji dari penelitian lebih besar daripada nilai pada tabel F, yakni 3.00 maka model dapat dianggap baik. Adapun Uji F dilakukan menggunakan bantuan SPSS 16 for Windows dan hasil pengujiannya adalah sebagai berikut:
Tabel 4.24 Uji F
F hitung df1 Df2 sig.F 61.739 227 229 0.000a Sumber : olahan dari data peneliti Kriteria keputusan
• H0 diterima apabila Fhitung < F tabel
• H1 diterima apabila Fhitung > F tabel
F tabel 3.00 Fhitung 61.739
Berdasarkan tabel 4.28 diketahui bahwa Fhitung sebesar 61.739 dan F tabel sebesar 3.00 maka H0 ditolak karena tidak memenuhi kriteria dan H1 diterima sehingga dapat dikatakan bahwa ada pengaruh Social Exchange dan Work Exchange secara bersama-sama secara signifikan terhadap OCB.
4.7.2 Uji t
Uji t adalah pengujian yang bertujuan untuk menguji apakah variabel- variabel saling mempengaruhi dan seberapa jauh pengaruh tersebut. Model dapat diterima ketika nilai uji t yakni t hitungnya lebih besar dari tabel t, yakni 0,05.
Adapun untuk hipotesis dan kriteria penolakan hipotesis adalah sebagai berikut :
• H0 = Diduga bahwa tidak ada pengaruh signifikan Social Exchange dan Work Exchange secara parsial terhadap OCB.
• H1= Diduga bahwa ada pengaruh signifikan Social Exchange dan Work Exchange secara parsial terhadap OCB.
Dengan α 5 % dengan derajat bebas (N-1) dimana N adalah jumlah anggota populasi dan Ttabel = (α/2,df2) = 1.960
Tabel 4.25 Uji t Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 24.654 8.466 2.919 .005
Se .268 .183 .183 1.460 .149
We .047 .329 .618 4.920 .000
a. Dependent Variable: ocb
Sumber : olahan dari data peneliti
Sedangkan untuk kriteria penolakan hipotesis adalah sebagai berikut :
• Terima H0 apabila Thitung < ttabel
• Tolak H0 apabila Thitung > ttabel
Dari tabel 4.29 dapat diketahui bahwa thitung untuk variabel Social Exchange adalah 1.460 dan Thitung untuk variabel Work Exchange adalah sebesar 4.920.
Dengan demikian maka untuk variabel Social Exchange memenuhi syarat untuk menerima H0 dan untuk variabel Work Exchange memenuhi syarat untuk menolak H0 yang artinya bahwa, variabel Social Exchange memiliki tidak memiliki pengaruh secara parsial terhadap OCB, sedangkan variabel Work Exchange memiliki pengaruh secara parsial terhadap OCB.
4.8 Pembahasan
Menurut hasil analisa data dengan uji hubungan ( uji t dan uji F) dan deskripsi frekuensi jawaban responden dapat dipahami bahwa :
1) Hasil analisa deskkriptif dari jawaban responden, terlihat bahwa hasil mean rata-rata tinggi.
1. Untuk analisa data dari hasil jawaban kusioner untuk variabel social exchange misalnya, dengan hasil mean sebesar 2.965 menunjukan bahwa telah terjadi aktivitas pertukaran sosial dengan intensitas yang tinggi (berada pada interval bernilai setuju), yang maknanya juga telah ada pihak-pihak yang diuntungkan dari hasil pertukaran, sebab pada dasarnya pertukaran sosial terjadi atas dasar untung-rugi sesuai dengan temuan sebelumnya (Thibault dan Kelly, 1959 dalam Molm, 1997). Selain dimaknai sebagai bukti dari pertukaran sosial, nilai mean dari tiap indikator variabel tersebut juga mengandung arti bahwa pegawai telah diuntungkan, melihat dari nilai mean indikator imbalan yang lebih besar dari pengorbanan. Selain menunjukan nilai dari tingginya aktivitas social exchange, nilai mean yang tinggi tersebut menunjukan bahwa tindakan pertukaran sosial tersebut tidak terjadi hanya sesekali saja, namun telah terjadi berulang kali, dengan syarat repetisi pemberian imbalan sejalan dengan pengorbanan atau lebih. Hal ini sesuai dengan teori social exchange dari Homans (1974 ) yang menjelaskan bahwa teori pertukaran sosial adalah bentuk pertukaran yang terjadi dan dapat terjadi secara simultan jika unsur imbalan diberikan dan bilamana intensitas perilaku berbanding lurus dengan intensitas pemberian imbalan tersebut. Jadi, aktivitas pertukaran sosial yang tinggi tersebut didasari bahwa pegawai telah merasa diuntungkan oleh perusahaan. Aktivitas ini berlangsung terus menerus sehingga menimbulkan nilai aktivitas social exchange yang tinggi.
2. Menurut analisa data dari variabel work exchange, kata kuncinya adalah nilai dari pekerjaan dan banyaknya pekerjaan, dimana dari hasil observasi didapati bahwa nilai mean untuk
variabel work exchange bernilai tinggi yakni bernilai 3.24 (berada pada interval setuju). Yang artinya bahwa perusahaan telah paling tidak menghargai karakteristik pekerjaan yang dilakukan oleh para pegawainya. Ini dapat dipahami bahwa pegawai telah mendapatkan pertukaran yang mereka inginkan dari pekerjaan yang mereka kerjakan, dimana diperkuat dengan hasil kuisioner sub indikator value (nilai) bahwa mereka merasa dihargai dan pekerjaan mereka penting bagi perusahaan. Hal ini sesuai dengan salah satu teori yang diutarakan oleh Blau dalam Cardona, Lawrence, Betler (2003) yang menyebutkan bahwa ada beberapa aspek yang tidak dapat diwakilkan oleh jenis-jenis pertukaran bersifat ekonomis yang dikonotasikan normatif. Ekspektasi dari individu digambarkan melalui persepsi pertukaran yang adil dari subyek apa yang mereka kerjakan dengan hal-hal yang mereka harapkan untuk pencapaian diri dan pertukaran kerja melandasi ekspektasi eksplisit tersebut.
3. Untuk variabel OCB, memiliki banyak sekali indikator, dimana dari seluruh indikator memberikan gambaran hasil nilai mean yang tinggi, yakni 3.193 (berada pada interval dengan nilai setuju). Dengan demikian, dari nilai mean yang didapat secara keseluruhan dari empat indikator OCB dapat dipahami bahwa telah terjadi tindakan yang mengarah pada OCB dengan intensitas yang tinggi. Hal ini dapat dimaklumi sebab OCB sendiri dapat timbul ataupun meningkat karena didorong oleh banyak faktor, sehingga semakin besar probabilitas untuk munculnya OCB pada perusahaan. Dalam kaitannya dengan kedua variabel bebas, dapat ditarik satu benang merah bahwa pegawai telah mendapatkan apa yang mereka inginkan dan pastinya puas dengan hal tersebut. Ketika pegawai merasa puas dalam bekerja di perusahaan, kaitannya diarahakan pada
kepuasan kerja, kepuasan kerja akan mendorong kontribusi positif pegawai. Ketika kepuasan kerja terjadi secara simultan maka akan membentuk sikap OCB. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Okechukwu E.Amah dalam penelitiannya yang menjabarkan beberapa variabel-variabel lain yang mempengaruhi OCB, salah satunya kepuasan kerja, dimana didapati bahwa kepuasan kerja memiliki hubungan positif terhadap kontribusi positif yang mendukung timbulnya OCB. Selain itu, dari hasil nilai mean yang tinggi, dapat dipahami bahwa perusahaan memiliki karyawan-karyawan yang loyal dan dapat bekerja sama dengan baik.
2) Untuk uji F, hasil ujinya dari model yang terbentuk didapati bahwa kedua variabel bebas jika diuji secara bersamaan memiliki pengaruh terhadap OCB. Hal ini dapat dijelaskan dari hasil intepretasi data yang dapat dipahami bahwa pegawai telah mendapatkan keuntungan dalam kaitannya dengan variabel social exchange dan juga pegawai telah mendapatkan hal-hal eksplisit mengenai ekspektasi nilai pekerjaan mereka pada perusahaan, maka terciptalah model yang dapat mendorong timbulnya OCB.
3) Untuk uji t, berdasarkan hasil ujinya didapati bahwa variabel bebas work exchange berpengaruh secara signifikan terhadap OCB sedangkan sebaliknya variabel bebas social exchange tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap OCB. Hal ini dapat terjadi karena inti pengukuran untuk social excange adalah keuntungan (laba) yang lebih mengarah pada hubungan ekonomi sedangkan variabel work exchange lebih mengarah pada hal-hal yang bersifat psikologis. Bersifat psikologis artinya bahwa individu dalam organisasi memiliki harapan lain secara psikologis selain hanya upah saja. Hal ini sesuai dengan teori oleh Blau dalam Cardona, Lawrence, Betler (2003) yang mengungkapkan bahwa dalam organisasi, ada hal-hal yang dengan karakter non normatif yang
sifatnya implisit atau tersembunyi dan tidak dapat mudah diukur dan hal- hal yang sifatnya implisit dapat menggerakkan variabel OCB. Blau dalam Cardona, Lawrence, Betler (2003) juga menekankan bahwa individu dalam organisasi akan lebih melekat terhadap organisasi bila aktivitas pertukaran tidak hanya mengarah pada pertukaran secara ekonomi. Dengan demikian dapat dimaklumi bila diuji secara parsial, hasil dari pertukaran kerja akan mempengaruhi secara signifikan terhadap OCB, sebaliknya hasil pertukaran sosial tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap OCB.