• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPUTUSAN GUBERNUR PAPUA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEPUTUSAN GUBERNUR PAPUA"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

GUBERNUR PAPUA

KEPUTUSAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 169 TAHUN 2012

TENTANG

PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI PRIMER HASIL HUTAN KAYU KEPADA PT. VICTORY CEMERLANG INDONESIA WOOD INDUSTRY UNIT V DI KAMPUNG NIMBONTONG DISTRIK

UNURUM GUAY KABUPATEN JAYAPURA PROVINSI PAPUA Lampiran : 1 (satu).

GUBERNUR PAPUA,

Menimbang : a. bahwa berdasarkan hasil penilaian PT. Victory Cemerlang Indonesia Wood Industry Unit V telah memenuhi syarat untuk diberikan Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Gubernur Papua tentang Pemberian Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu Kepada PT. Victory Cemerlang Indonesia Wood Industry Unit V di Kampung Nimbontong Distrik Unurum Guay Kabupaten Jayapura Provinsi Papua;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan Propinsi Otonom Irian Barat dan Kabupaten-kabupaten Otonom di Propinsi Irian Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2907);

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274);

3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang- Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412);

4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 135, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4151) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4884);

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

7.Undang-Undang.../2

(2)

- 2 -

7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724);

8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

9. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059);

10. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5285);

14. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup;

15. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2008 tentang Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan;

16. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 15 Tahun 2010 tentang Tata Laksana Lisensi Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota;

17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 2011 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 694);

18. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 250/M/SK/10/1994 tentang Pedoman Teknis Penyusunan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Pada Sektor Industri;

19. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 220/Kpts-II/1999 tanggal 9 April 1999 tentang Besarnya Provisi Sumber Daya Hutan;

20. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup;

21. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6887/Kpts-II/2002 tanggal 12 Juli 2002 tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administrasi Atas Pelanggaran Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan, Izin Pemungutan Hasil Hutan dan Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan;

22. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.55/Menhut-11/2006 tentang Penatausahaan Hasil Hutan yang berasal dari Hutan Negara sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.63/Menhut-11/2007 tentang Penatausahaan Hasil Hutan yang berasal dari Hutan Negara;

23. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 35/Menhut-11/2008 tentang Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 09/Menhut-11/2009 tentang Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu;

24.Peraturan.../3

(3)

24. Peraturan Daerah Khusus Provinsi Papua Nomor 21 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (Lembaran Daerah Provinsi Papua Tahun 2008 Nomor 21);

25. Peraturan Gubernur Papua Nomor 15 Tahun 2010 tentang Tata Cara Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu Rakyat (Berita Daerah Provinsi Papua Tahun 2010 Nomor 15);

Memperhatikan : 1. Rekomendasi Bupati Kabupaten Jayapura Nomor 530/10/REKOM/SET perihal Pertimbangan Teknis Pendirian Industri Vinir PT. Victory Cemerlang Indonesia Wood Industry.

2. Dokumen UKL-UPL yang telah mendapatkan rekomendasi/persetujuan oleh kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura sesuai surat Nomor 660/42 tanggal 20 Mei 2011.

3. Surat Permohonan Kepala Cabang Nomor 208/VCIWI/VI/2011 tanggal 30 Juni 2011 perihal Permohonan IUIPHHK.

4. Akta Pendirian PT. Victory Cemerlang Indonesia Wood Industry Nomor 2 tanggal 31 Januari 2008, Pengesahan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-1617. AH.01.02 Tahun 2008.

MEMUTUSKAN : Menetapkan :

KESATU : Memberikan Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu (IUIPHHK) kepada PT. Victory Cemerlang Indonesia Wood Industry Unit V di Kampung Nimbontong Distrik Unurum Guay Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.

KEDUA : Penanggung Jawab, produksi, daftar mesin utama produksi, total investasi, jumlah tenaga kerja, gudang dan sarana penunjang, serta pengelolaan limbah Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.

KETIGA : PT. Victory Cemerlang Indonesia Wood Industry Unit V diwajibkan untuk merealisasikan pembangunan Industri dalam batas waktu 1 (satu) tahun sejak tanggal ditetapkannya Keputusan ini serta menyampaikan laporan kemajuan realisasi pembangunan industri setiap bulan dan dalam menjalankan usahanya berhak untuk mendapat pelayanan dari pemberi izin dengan kewajiban:

a. menjalankan usaha industri sesuai dengan izin yang dimiliki;

b. mengajukan izin perluasan, apabila melakukan perluasan produksi melebihi 30% (tiga puluh persen) dari kapasitas produksi yang diizinkan;

c. menyusun dan menyampaikan rencana pemenuhan bahan baku industri (RPBBI) setiap tahun;

d. menyusun dan menyampaikan laporan bulanan realisasi pemenuhan bahan baku serta produksi;

e. membuat dan menyampaikan laporan mutasi kayu bulat (LMKB) dan laporan mutasi kayu olahan (LMKO);

f. melakukan kegiatan usaha industri sesuai dengan yang ditetapkan dalam izin;

g. melaporkan secara berkala kegiatan dan hasil industrinya kepada pemberi izin dan instansi yang diberikan kewenangan dalam pembinaan dan pengembangan industri primer hasil hutan;

h. memiliki tenaga kerja pengukuran dan pengujian hasil hutan bersertifikat.

KEEMPAT : PT. Victory Cemerlang Indonesia Wood Industry Unit V dalam melaksanakan Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dilarang:

a. memperluas usaha industri tanpa izin;

b.memindahkan.../4

(4)

- 4 -

b. memindahkan lokasi industri tanpa izin;

c. melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran dan kerusakan terhadap lingkungan hidup yang melampaui batas baku mutu lingkungan;

d. menadah, menampung, atau mengolah bahan baku hasil hutan yang berasal dari sumber bahan baku yang tidak sah (illegal);

e. melakukan kegiatan industri tidak sesuai dengan izin yang diberikan.

KELIMA : Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut Diktum KETIGA dan Diktum KEEMPATdikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

KEENAM : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jayapura

pada tanggal 24 Oktober 2012 Pj. GUBERNUR PAPUA, CAP/TTD

Dr. Drs. H. SYAMSUL ARIEF RIVAI, MS.

Untuk salinan yang sah sesuai dengan yang asli KEPALA BIRO HUKUM

ROSINA UPESSY, SH

SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada Yth : 1. Menteri Dalam Negeri RI di Jakarta;

2. Menteri Perindustrian RI di Jakarta;

3. Menteri Kehutanan RI di Jakarta;

4. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI di Jakarta;

5. Menteri Negara Lingkungan Hidup RI di Jakarta;

6. Direktur Jenderal OTDA Kementerian Dalam Negeri RI di Jakarta;

7. Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Kementerian Kehutanan RI di Jakarta;

8. Ketua DPR Papua di Jayapura;

9. Kepala Dinas Kehutanan dan Konservasi Provinsi Papua di Jayapura;

10. Bupati Jayapura di Jayapura;

11. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Jayapura di Jayapura;

12. Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah X Jayapura di Jayapura;

13. Kepala Sertifikasi dan Penguji Hasil Hutan Wilayah XVII Jayapura di Jayapura;

14. Yang bersangkutan untuk diketahui dan dipergunakan seperlunya.

(5)

Nomor : 169 Tahun 2012 Tanggal : 24 Oktober 2012

KETENTUAN PENANGGUNGJAWAB, PRODUKSI, DAFTAR MESIN UTAMA RODUKSI, TOTAL INVESTASI, JUMLAH TENAGA KERJA, GUDANG DAN SARANA PENUNJANG 1. Penanggungjawab :

a. Direktur Utama : YULIUS LIM b. Komisaris : HOLIL

c. Alamat Kantor : Jl. Perumnas I No. 4 Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura Provinsi Papua.

d. Lokasi Pabrik : Kampung Nimbontong Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.

e. Pemegang Saham : YULIUS LIM dan HOLIL (sesuai Akta Notaris Nomor 2 tanggal 31 Januari 2008 yang dibuat di hadapan Notaris ANTONIA SULISTIJATI SANTOSO, SH di Jakarta.

2. Produksi :

Jenis Produk Kapasitas Izin Produksi (M3/Tahun)

Keterangan

I. Veneer 6.000

3. Daftar Mesin Utama Produksi :

No Jenis Mesin Type/Merk/Negara/Tahun Kapasitas M3/jam

Jumlah (Unit)

Ket

I MESIN UTAMA

1. Rotary Lathe 9 Feet Uroko/Jepang/1933 - 2 2. Log Changer 9 Feet Uroko/Jepang/1933

II MESIN

PENUNJANG

1. Genset - 1.068 KVA

4. Total Investasi : Rp. 59.960.480.000,-(lima puluh sembilan milyard sembilan ratus enam puluh juta empat ratus delapan puluh ribu rupiah).

5. Jumlah Tenaga Kerja : 250 orang terdiri dari : a. Laki-laki sebanyak : 150 orang.

b. Perempuan sebanyak : 100 orang.

6. Pengelolaan Limbah : Pengelolaan limbah berdasarkan Dokumen Upaya Kelola Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) telah dibuat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pj. GUBERNUR PAPUA, CAP/TTD

Dr. Drs. H. SYAMSUL ARIEF RIVAI, MS.

Untuk salinan yang sah sesuai dengan yang asli KEPALA BIRO HUKUM

ROSINA UPESSY, SH

Referensi

Dokumen terkait

Keberadaan Balai Pengembangan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat di Provinsi Gorontalo sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai

1) PIHAK KEDUA wajib melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Petunjuk Teknis Fasilitasi Sarana Kesenian di Satuan Pendidikan Tahun 2018. 2) PIHAK KEDUA bertanggung jawab

Hal ini berarti bahwa dengan kurikulum Program S-1 jurusan administrasi pendidikan yang mereka pelajari dapat memberikan guru (lulusan) untuk menambah wawasan dan pengetahuan

PenyiapanKelembagaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Kegiatan penyiapan kelembagaan KPH bermaksud untuk menyediakan hasil kajian akademik dalam rangka pembentukan

Adapun judul PTK ini adalah “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD) Bagi Siswa Kelas VI SD

Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) yang masih berlaku 2.. HO/SITU/Ijin gangguan/sejenisnya yang masih berlaku

Sehubungan dengan hal tersebut, Program Studi Magister Manajemen Teknologi (MMT) ITS menyelenggarakan Seminar Nasional MMT XXV dengan tema: Berbagi Pengetahuan Global

Pembuktian kualifikasi dilakukan dengan cara MELIHAT keaslian seluruh dokumen peserta yang tergabung dalam kerja sama operasi (KSO) atau salinan