LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN BUTA-BUTA (Excoecaria agallocha) PADA LAHAN SILVOFISHERY DI DESA TANJUNG REJO KECAMATAN PERCUT
SEI TUAN KABUPATEN DELI SERDANG SUMATERA UTARA
SKRIPSI
ANDIKA SEBAYANG 131201025
DEPARTEMEN BUDIDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN BUTA-BUTA (Excoecaria agallocha) PADA LAHAN SILVOFISHERY DI DESA TANJUNG REJO KECAMATAN PERCUT SEI TUAN
KABUPATEN DELI SERDANG SUMATERA UTARA
SKRIPSI
Oleh:
ANDIKA SEBAYANG 131201025
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Kehutanan
Universitas Sumatera Utara
DEPARTEMEN BUDIDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Andika Sebayang
NIM : 131201025
Judul Skripsi : Laju Dekomposisi Daun Buta-Buta (Excoecaria agallocha) Pada Lahan Silvofishery di Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri. Pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Medan, Januari 2020
Andika Sebayang NIM 131201025
ABSTRAK
ANDIKA SEBAYANG : Laju Dekomposisi Serasah Daun Buta-Buta (Excoecaria agallocha) Pada Lahan Silvofishery di Desa Tanjung Rejo Kabupaten Deli Serdang Dibimbing oleh DELVIAN dan RIDAHATI RAMBEY.
Penelitian laju dekomposisi serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha) dilaksanakan di Desa Tanjung Rejo Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara mulai September sampai dengan November 2017. Tujuan penelitian ini adalah mengukur produksi dan laju dekomposisi serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha). Dekomposisi serasah buta-buta (Excoecaria agallocha) terjadi ditandai dengan adanya pengurangan bobot serasah setiap periode pengamatan. Laju dekomposisinya cenderung semakin meningkat setiap minggu, yaitu dari 0,015 g/hari di hari ke-7 dan mencapai 0,255 g/hari di hari ke-56. Laju dekomposisi serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha) yang tergolong tinggi dengan nilai k per hari > 0,01 g/hari. Produksi serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha) terbesar terdapat pada minggu VI, yaitu 5,56 g pada bulan Oktober dan produksi terendah adalah pada minggu ke VII, yaitu 2,4 g pada bulan Oktober.
Kata Kunci : Excoecaria agallocha, Laju Dekomposisi Serasah, Produksi Serasah
ABSTRACT
ANDIKA SEBAYANG : Decomposition Rate of Buta-Buta (Excoecaria agallocha) Leaf Litter on Silvofishery Field in Tanjung Rejo Village, Deli Serdang Regency Supervised by DELVIAN and RIDAHATI RAMBEY.
Research on decomposition rate of buta-buta (Excoecaria agallocha) litter was carried out in Tanjung Rejo Village, Deli Serdang Regency, North Sumatra Province from September to November 2017. The objective of this study was to measure the production and decomposition rate of buta-buta (Excoecaria agallocha) leaf litter. The decomposition of buta-buta (Excoecaria agallocha) litter occurs characterized by a reduction in litter weight for each observation period. The decomposition rate tends to increase every week, which is from 0.015 g / day on the 7th day and reaches 0.255 g / day on the 56th day. The high decomposition rate of buta-buta (Excoecaria agallocha) leaf litter with a value of k per day> 0.01 g / day. The largest production of buta-buta (Excoecaria agallocha) leaf litter was in week VI, which was 5.56 g in October and the lowest production was in week VII, which was 2.4 g in October.
Keywords : Excoecaria agallocha, Litter Decomposition Rate, Litter Production
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tigabinanga pada tanggal 19 Juni 1995 dari Bapak Gabsen Sebayang dan Jendariah br Kaban.
Penulis merupakan anak ke tiga dari tiga bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan SD Sint Yoseph pada tahun 2002- 2007, pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Tigabinanga pada tahun 2007-2010, pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas dari SMA Negeri 1 Tigabinanga pada tahun 2010-2013. Pada tahun 2013 penulis lulus seleksi masuk perguruan tinggi di Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara melalui jalur undangan dan semester VII memilih minat Budidaya Hutan.
Bersamaan jalannya kuliah, penulis aktif dalam kegiatan organisasi Himpunan Mahasiswa Sylva Universitas Sumatera Utara periode 2015-2017 Penulis mengikuti Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) pada tahun 2015 di kawasan Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli Kabupaten Simalungun selama 10 hari. Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapangan di Perhutani KPH Cianjur Jawa Barat dari tanggal 23 Agustus -24 September 2017. Penulis juga aktif dalam komunitas Garpil Family dari Periode 2014-2017.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Tulisan ini berjudul “Laju Dekomposisi Serasah Daun Buta-Buta (Excoecaria agallocha) Pada Lahan Silvofishery di Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara” dan merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana kehutanan di Departemen Budidaya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing pertama yaitu Dr. Delvian, SP., MP dan kepada Ridahati Rambey, S.Hut., M.Si selaku dosen pembimbing kedua yang telah bersedia menuangkan ilmunya untuk menjadi inspirasi dalam penyelesaian tulisan ini, serta kepada teman-teman penelitian dan seluruh pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian tulisan ini.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih. Semoga tulisan ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.
Medan, Januari 2020
Andika Sebayang
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ... i
PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
RIWAYAT HIDUP ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan ... 2
Manfaat Penelitian ... 2
TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Mangrove ... 3
Taksonomi dan Morfologi Buta-buta (Excoecaria agallocha) ... 4
Manfaat Hutan Mangrove ... 5
Produksi Serasah ... 5
Dekomposisi Serasah ... 6
Sistem Silvofishery ... 10
Kondisi Umum Daerah Penelitian ... 12
Kondisi Topografi dan Bentuk Wilayah ... 12
Kondisi Iklim dan Cuaca ... 13
Lokasi Penelitian ... 13
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat ... 14
Alat dan Bahan ... 14
Prosedur Penelitian... 14
Pengumpulan Serasah Mangrove ... 14
Perhitungan Produksi Serasah ... 14
Percobaan Laju Dekomposisi Serasah ... 14
Analisis Data ... 15
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Lahan Lokasi Penelitian ... 16
Produksi Serasah ... 17
Dekomposisi Serasah ... 20
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 23
Saran ... 23
DAFTAR PUSTAKA ... 24
LAMPIRAN ... 28
DAFTAR TABEL
No Teks Halaman
1. Karakteristik Lahan Lokasi Penelitian... 16 2. Produksi Serasah Tiap g/m²/7 Hari ... 17 3. Laju Dekomposisi dan Pengurangan Bobot Serasah Buta-buta
(Excoecaria agallocha) ... 20
DAFTAR GAMBAR
No Teks Halaman
1. Bagian-bagian Tumbuhan Buta-buta (Excoecaria agallocha) ... 4 2. Proses Percobaan Laju Dekomposisi Serasah Daun Buta-buta
(Excoecaria agallocha) ... 8 3. Tambak Dengan Model Empang Parit ... 11 4. Tambak Dengan Model Komplangan ... 11 5. Peta Lokasi Penelitian Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan
Kabupaten Deli Serdang ……… ... 12 6. Daun Buta-buta (Excoecaria agallocha) yang Tertangkap di Litter Trap
... 19
DAFTAR LAMPIRAN
No Teks Halaman
1. Perhitungan Laju Dekomposisi Metode Olson ... 28 2. Pengamatan Serasah Daun Buta-buta (Excoecaria agallocha) Dari
Pengamatan Hari ke-7 Sampai Dengan Hari ke-56. ... 33
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mangrove merupakan salah satu ekosistem langka, karena luasnya hanya 2% permukaan bumi. Indonesia merupakan kawasan ekosistem mangrove terluas di dunia. Ekosistem ini memiliki peranan ekologi, ekonomi, dan sosial budaya yang sangat penting, misalnya menjaga menjaga stabilitas pantai dari abrasi, dan keanekaragaman hayati lainnya, sumber kayu bakar dan kayu bangunan, serta memiliki fungsi konservasi, pendidikan, ekoturisme dan identitas budaya (Setyawan dan Winarno, 2006).
Ekosistem pantai terkhusus pada hutan mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting, yaitu sebagai penyambung dan penyeimbang ekosistem darat dan laut. Sebagai tumbuhan yang hidup diantara laut dan daratan, berbagai macam nutrisi ditransfer ke arah darat atau laut melalui hutan mangrove (Nugraha, 2010).
Hutan mangrove juga berperan sebagai green belt yang melindungi pantai dari erosi karena gelombang laut atau badai tsunami juga memerangkap sedimen sebagai aktivitas akresi. Lebih lanjut, mangrove memberikan kontribusi yang signifikan pada produktifitas estuarine dan pesisir melalui aliran energi dari proses dekomposisi serasah (Sulistiyowati, 2009).
Salah satu proses yang terjadi pada ekosistem mangrove yang memberikan kontribusi paling besar terhadap kesuburan perairan adalah proses dekomposisi atau penghancuran serasah mangrove. Penghancuran serasah merupakan bagian dari tahap proses dekomposisi yang dapat menghasilkan nutrsi penting dalam rantai makanan melalui produktivitas perairan disekitarnya (Widhitama et al., 2016).
Produksi serasah merupakan bagian yang penting dalam transfer bahan organik dari vegetasi ke dalam tanah. Unsur hara yang dihasilkan dari proses dekomposisi serasah di dalam tanah sangat penting dalam pertumbuhan mangrove dan sebagai sumber detritus bagi ekosistem laut dan estuari dalam menyokong kehidupan berbagai organisme akuatik (Andrianto et al., 2015).
Serasah mangrove berupa daun, ranting dan biomassa lainnya yang jatuh menjadi sumber pakan biota perairan dan unsur hara yang sangat menentukan
2
produktifitas perikanan laut (Zamroni dan Rohyani, 2008). Seperti halnya pada lahan silvofishery di daerah penelitian memerlukan bahan pakan alami untuk mendukung pertumbuhan ternak ikan di sekitar daerah mangrove. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui laju dekomposisi serasah tanaman buta-buta (Excoecaria agallocha).
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah mengukur produksi dan laju dekomposisi serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha).
Manfaat Penelitian
Memberikan informasi mengenai proses dekomposisi daun buta-buta (Excoecaria agallocha) serta faktor-faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi.
3
TINJAUAN PUSTAKA
Ekosistem Mangrove
Hutan mangrove menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi udang, kepiting, ikan, zooplankton, invertebrata kecil dan hewan pemakan bahan-bahan hasil pelapukan lainnya. Bahan-bahan hasil pelapukan mangrove berasal dari organ pohon mangrove yaitu daun, bunga, cabang, ranting dan sejumlah bagian pohon lain yang jatuh ke lantai hutan yang disebut serasah. Untuk dapat dimanfaatkan oleh organisme yang terdapat dalam hutan mangrove, serasah tersebut perlu didekomposisi terlebih dahulu menjadi bahan lain yang dapat menjadi sumber makanan bagi organisme tersebut (Naibaho, 2015).
Kedudukan ekosistem mangrove di dalam lingkungan alam tidak berdiri sendiri melainkan bagian dari ekosistem yang lebih luas. Mangrove juga sebagai ekosistem peralihan yang menempati daerah perbatasan antara laut dan daratan.
Banyak proses yang mengaturnya berasal dari tempat lain. Di dalamnya terdapat aliran pergerakan materi yang mengalir dan digerakkan oleh faktor fisik seperti halnya pasang surut, dan curah (Brown, 1994).
Ekosistem mangrove merupakan habitat (tempat hidup) berbagai biota, baik biota akuatik maupun biota daratan. Ketika menyebut ekosistem mangrove, maka yang pertama kali tergambar adalah tumbuhan-tumbuhan halofit yang hidup di daerah pesisir pasang surut. Flora yang tumbuh pada ekosistem mangrove di Indonesia dikenal mempunyai keragaman jenis yang tinggi. Flora yang ditemukan pada ekosistem mangrove Indonesia sekitar 189 jenis dari 68 suku. Dari jumlah itu, 80 jenis diantaranya adalah berupa pohon, 24 jenis liana, 41 jenis herba, 41 jenis epifit, dan 3 jenis parasit (Noor et al., 1999).
Ekosistem mangrove yang menempati daerah pasang surut dan dipengaruhi oleh arus laut mengalami perubahan secara terus menerus. Tumbuhan dan hewan yang berinteraksi di dalamnya beradaptasi secara berkesinambungan.
Banyak jenis hewan menggunakan ekosistem mangrove untuk mencari makan dan tempat berlindung semasa masih muda, atau selama siklus hidupnya secara penuh.
Ada pergerakan materi organik dan anorganik ke dalam dan ke luar ekosistem
4
mangrove secara terus-menerus. Proses-proses eksternal yang menentukan tersedianya air, hara, dan stabilitas habitat seringkali tidak tampak sebagai bagian dari ekosistem mangrove. Serasah mangrove terangkat oleh aliran pasang dan dikonsumsi oleh konsumer di berbagai tempat (Purnobasuki, 2005).
Taksonomi dan Morfologi Buta-buta (Excoecaria agallocha) Kingdom : Plantae
Division : Magnoliophyta Class : Magnoliopsida Order : Malpighiales Family : Euphorbiaceae Genus : Excoecaria L.
Species : Excoecaria agallocha
Gambar 1. Bagian-bagian tumbuhan buta-buta (Excoecaria agallocha) (Biodiversitywarriors.org)
Excoecaria agallocha atau dikenal dengan buta buta merupakan salah satu jenis tanaman mangrove yang memiliki habitus pohon dan semak yang mampu mencapai ketinggian 15 m. Kulit batang berwarna abu-abu, berbentuk bulat, halus tetapi memilik bintil dan bergetah berwarna putih dan lengket yang dapat mengiritasi mata dan kulit.
Daun buta-buta (Excoecaria agallocha) merupakan daun single dan tersusun secara alternate. Susunan alternate merupakan susunan dimana letak
5
daun berselang-seling pada satu sisi. Daun berbentuk elips dengan ujung yang meruncing, pinggir daun bergerigi halus, berwarna hijau tua dan akan berubah menjadi merah sebelum rontok. Buah berbentuk seperti bola dengan tiga tonjolan, berwarna hijau dengan ukuran 5-7 mm. Tumbuhan ini umumnya ditemukan pada bagian pesisir mangrove di bagian daratan atau kadang kadang diatas batas air pasang. Perbungaan terjadi sepanjang tahun, diperkirakan dilakukan oleh serangga khususnya lebah.
Manfaat Hutan Mangrove
Hutan mangrove memiliki manfaat sebagai penyedia berbagai kebutuhan hidup manusia, fungsi sosial, ekonomi dan ekologi mangrove mendukung dalam proses pembangunan berkelanjutan. Beberapa fungsi dan manfaat hutan mangrove diantaranya adalah sebagai pelindung garis pantai, tempat ekosistem aneka biota laut, sebagai pengatur iklim mikro, penghasil keperluan rumah tangga dan industri, penghasil bibit ikan, sebagai bahan baku obat-obatan, pariwisata, penelitian dan pendidikan serta manfaat-manfaat yang lainnya (Hidayatullah, 2011).
Ekosistem mangrove memiliki peranan yang sangat penting bagi lingkungan pesisir baik dari segi fisik, ekologis dan ekonominya serta mempunyai fungsi strategis sebagai produsen primer yang mampu mendukung menstabilkan ekosistem laut dan darat. Fungsi mangrove menuju arah laut yaitu menyediakan pakan bagi organisme perairan dan sebagai penyaring sedimentasi yang disebabkan oleh daratan, sedangkan bagi daratan mangrove berfungsi sebagai perombak bahan anorganik menjadi bahan organik dari akibat terjadinya sedimentasi di kawasan pesisir dan sebagai penahan ombak alami (Fiqa et al., 2011).
Produksi Serasah
Serasah adalah bahan bahan yang telah mati, terletak di atas permukaan tanah yang nantinya akan mengalami dekomposisi dan mineralisasi. Menurut Bargali et al., (2015) serasah tanaman dapat berupa daun, batang, ranting, bahkan akar. Serasah yang jatuh ke lantai hutan akan dirombak oleh mikroorganisme tanah menjadi energi dan berbagai mineral seperti karbon, nitrogen, fosfor, kalium
6
atau belerang dan senyawa sederhana lainnya yang akan digunakan fitoplankton dan zooplankton untuk sintesa bahan tubuhnya. Berbagai jenis plankton ini menjadi sumber makanan yang penting bagi ikan, udang, serta hewan yang hidup di perairan mangrove. Hasil penelitian Naibaho (2015) melaporkan bahwa laju dekomposisi serasah daun A. marina dipengaruhi oleh makroorganisme dan mikroorganisme dalam menguraikan bahan organik. Biota mangrove sendiri membutuhkan serasah daun sebagai pakan dimana makroorganisme dan mikroorganisme membutuhkan karbohidrat dan protein. Serasah daun mangrove yang jatuh selanjutnya mengalami proses dekomposisi akan menghasilkan unsur hara yang berguna bagi perkembangan plankton di perairan mangrove dan bagi tanaman (Jamili et al., 2009). Serasah yang jatuh kepermukaan tanah juga dapat melindungi permukaan tanah dari jatuhan langung air hujan ke permukaan tanah dan dapat mengurangi penguapan tanah, hal yang mempengaruhi jatuhan serasah baik dalam jumlah maupun kualitasnya yaitu keadaan lingkungan (iklim, ketinggian, dan kesuburan tanah), jenis tanaman (hutan alam atau hutan buatan) dan waktu (musim atau umur tegakan).
Berdasarkan pengamatan, selalu terjadi variasi serasah yang tertampung di dalam trap pada setiap lokasi, baik variasi antar trap maupun variasi antar waktu pengumpulan. Variasi ini terjadi disebabkan oleh pola penyebaran tumbuh dari berbagai spesies. Pola penyebaran tumbuh dari berbagai spesies mempunyai pengaruh terhadap jatuhan serasah. Jenis yang hidupnya merata pada seluruh areal akan menggugurkan serasah secara merata. Pola penyebaran merata dan kerapatan pohon yang relatif tinggi menunjukan jatuhnya serasah dalam jumlah yang relatif besar. Pola penyebaran dan kerapatan pohon dapat tergambar pada struktur hutan seperti pada lokasi hutan bergelombang ringan seperti Sibolangit (Sinaga, 2015).
Dekomposisi Serasah
Dekomposisi dapat didefinisikan sebagai penghancur bahan organik mati secara bertahap yang dilakukan oleh agen biologi maupun fisika (Sunarto, 2003).
Sedangkan menurut Sutedjo et al., (1991) dekomposisi serasah adalah perubahan secara fisik maupun kimiawi yang sederhana oleh mikroorganisme tanah (fungi, bakteri, aktinomycetes dan hewan tanah lainnya) atau sering disebut mineralisasi
7
yaitu proses penghancuran bahan organik yang berasal dari binatang dan tanaman menjadi senyawa anorganik sederhana.
Serasah yang terdapat pada permukaan tanah merupakan bagian bahan bahan mati yang jatuh ke lantai hutan. Serasah tersebut tidak mengalami pertumbuhan secara fisiologis lagi dan akhirnya mengalami proses dekomposisi, dimana laju dari dekomposisi tersebut dapat ditentukan dari penyusutan bobot serasah yang telah terdekomposisi (Subkhan, 1991). Menurut Arief (2003) Serasah merupakan bahan organik yang mengalami beberapa tahap proses dekomposisi dapat menghasilkan zat yang penting bagi kehidupan dan produktivitas perairan, terutama dalam peristiwa rantai makanan. Serasah dalam ekologi digunakan untuk dua pengertian yaitu (1) lapisan bahan tumbuhan mati yang terdapat pada permukaan tanah; (2) bahan-bahan tumbuhan mati yang tidak terikat lagi pada tumbuhan (Yunasfi, 2006).
Menurut Mason (1977) terdapat 3 tahap proses dekomposisi serasah yaitu:
1. Proses pelindian (leaching), yaitu mekanisme hilangnya bahan-bahan yang terdapat pada serasah atau detritus akibat curah hujan atau aliran air.
2. Penghawaan (wathering), merupakan mekanisme pelapukan oleh faktor- faktor fisik seperti pengikisan oleh angin atau pergerakan molekul air.
3. Aktivitas biologi yang menghasilkan pecahan-pecahan organik oleh makhluk hidup yang melakukan dekomposisi.
8
Gambar 2. Proses percobaan laju dekomposisi serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha)
Hasil proses dekomposisi sangat membantu tersedianya zat-zat organik tanah yang merupakan hara bagi tanaman. Proses ini sangat penting karena mengubah serat daun mangrove yang tidak dapat dicerna menjadi serat yang lebih mudah dicerna. Serasah mangrove yang sudah membusuk kemudian akan dirobek, dicabik-cabik dan dicerna oleh kepiting, ikan atau hewan lainnya, setelah dicerna terbentuk partikel organik yang lebih halus lagi dan kemudian dimanfaatkan oleh organisme penyaring makanan (Silitonga, 2009 ).
Osono dan Takeda (2006) mengatakan, Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses kecepatan dekomposisi bahan organik, diantaranya adalah :
1. Tipe Serasah
Tipe serasah mempunyai kemampuan suatu mikroba untuk mendekomposisi senyawa-senyawa kompleks yang terkandung di dalam serasah, dimana lignin akan lebih susah untuk didekomposisi, selanjutnya selulosa dan gula sederhana adalah senyawa berikutnya yang relatif cepat didekomposisi.
2. Temperatur
Kecepatan dekomposisi tertinggi ditunjukkan pada suhu 24oC, suhu merupakan parameter fisika yang mempengaruhi sifat fisiologi mikroorgannisme
9
yang hidup di lingkungan tersebut. Setiap peningkatan suhu sebesar 10oC akan meningkatkan laju metabolisme organisme menjadi dua kali lipat. Akan tetapi, penambahan suhu maksimal dapat mematikan mikroorganisme pendegradasi serasah.
3. Pengaruh pH
Hutan mangrove tanahnya selalu basah, mengandung garam, mempunyai sedikit oksigen dan kaya akan bahan organik. Bahan organik yang terdapat di dalam tanah, terutama berasal dari sisa tumbuhan yang diproduksi oleh mangrove sendiri. Serasah secara lambat akan diuraikan oleh mikroorgansme, seperti bakteri, jamur dan lainnya. Selain itu juga terjadi sedimen halus dan partikel kasar, seperti potongan batu dank oral, pecahan kulit kerang dan siput. Biasanya tanah mangrove kurang membentuk lumpur berlempung dan warnanya bervariasi dari abu-abu muda sampai hitam.
4. Oksigen
Oksigen secara umum sangat diperlukan dalam proses dekomposisi terutama bagi dekomposer yang bersifat aerobik. Sebenarnya baik bakteri aerobik maupun anaerobik sama-sama membutuhkan oksigen dan sama-sama dapat melakukan proses dekomposisi.
5. Bakteri
Bakteri merupakan agen utama proses dekomposisi selain beberapa jenis jamur atau fungi. Berdasarkan kebutuhannya terhadap oksigen, kita mengenal dua jenis bakteri yaitu bakteri aerobik dan bakteri anaerobik.
Serasah yang kaya unsur hara lebih cepat terdekomposisi dari pada serasah yang mengandung sedikit unsur hara. Pada ekosistem mangrove, rantai makanan yang terjadi adalah rantai makanan detritus. Rantai makanan detritus (detritus food chain) berawal dari proses dekomposisi luruhan daun dan ranting mangrove (bahan organik yang telah mati) yang dipecah oleh mikroorganisme (bakteri dan fungi) menghasilkan detritus. Detritus kemudian dimakan oleh hewan pemakan detritus, kemudian dimakan predatornya. Selama proses dekomposisi, serasah mangrove berangsur-angsur meningkat kadar proteinnya dan berfungsi sebagai sumber makanan bagi berbagai organisme pemakan deposit seperti moluska, kepiting dan cacing polychaeta. Sumber utama detritus diperoleh dari guguran
10
daun mangrove yang jatuh ke perairan kemudian mengalami penguraian dan berubah menjadi partikel kecil yang dilakukan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur dan menghasilkan detritus. Hancuran bahan organik (detritus) ini menjadi bahan makanan penting (nutrien) bagi cacing, crustaceae, moluska dan hewan lainnya (Ramli, 2012).
Sistem Silvofishery
Silvofishery atau sering disebut wanamina adalah suatu bentuk kegiatan yang terpadu antara budidaya air payau dengan pengembangan mangrove pada lokasi yang sama. Konsep silvofishery ini dikembangkan sebagai salah satu bentuk budidaya perikanan berkelanjutan dengan input yang rendah. Pendekatan antara konservasi dan pemanfaatan kawasan mangrove ini memungkinkan untuk mempertahankan keberadaan mangrove yang secara ekologi memiliki produktivitas yang tinggi dengan keuntungan ekonomi dari kegiatan budidaya perikanan (Shilman, 2012). Dengan pengertian di atas, berarti tujuan dari sistem Silvofishery memberikan manfaat ekonomi dan konservasi lingkungan, hal tersebut sesuai pernyataan Hidayatullah (2011) bahwa Partisipasi masyarakat khususnya petani tambak untuk perbaikan kondisi mangrove dalam skala mikro dapat dilakukan melalui pengolaan tambak yang ramah lingkungan. Silvofishery dapat dijadikan sebagai alternatif pengelolaan tambak yang memadukan antara budidaya ikan dengan penanaman mangrove sehingga manfaat ekonomi dan konservasi dapat dicapai secara bersamaan. Melalui kegiatan silvofishery masyarakat masih dapat melakukan aktivitas budidaya dengan tetap memperhatikan aspek konservasi.
Silvofishery yang dikembangkan dengan 2 model tambak, yaitu empang parit atau lebih dikenal dengan tambak tumpang sari dan komplangan. Model empang parit merupakan model silvofishery yang umum dikembangkan dengan membuat saluran air tempat membudidayakan/memelihara ikan ataupun udang.
Saluran ini mengelilingi lahan yang digunakan untuk silvofishey, sedangkan tumbuhan mangrove dapat ditanami dibagian tengah lahan sehingga terdapat perpaduan antara tumbuhan mangrove dan budiaya ikan sedangkan model komplang merupakan suatu sistem silvofishery dengan desain tambak berselang
11
seling atau bersebelahan dengan lahan yang akan ditanami mangrove. Kepadatan mangrove tersebut akan mempengaruhi sistem budidaya perikanan, karena produktivitas tambak silvofishery sangat tergantung pada bahan-bahan organik yang berasal dari serasah tumbuhan mangrove. Model komplangan merupakan suatu sistem silvofishery dengan desain tambak berselang-seling atau bersebelahan dengan lahan yang akan ditanami mangrove. Lahan untuk mangrove dan empang terpisah dalam dua hamparan yang diatur oleh saluran air dengan dua pintu air yang terpisah (Shilman, 2012).
Gambar 3. Tambak dengan model empang parit (Sambu et al., 2018).
Gambar 4. Tambak dengan model komplangan (Sambu et al., 2018).
12
Kondisi Umum Daerah Penelitian
Desa Tanjung Rejo yang berada di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara adalah salah satu desa yang letaknya berada di wilayah pesisir Pantai Timur Sumatera. Luas wilayah Tanjung Rejo 19 Km2, dengan jumlah penduduk 10,342 orang. Penduduk Desa Tanjung Rejo rata-rata bekerja sebagai petani dan nelayan. Desa Tanjung Rejo sebagian besar wilayahnya adalah terdiri dari perairan pesisir dan laut, yang memakai potensi besar di bidang perikanan, pariwisata, kawasan hutan mangrove dan sumberdaya alam lainnya. Peta Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang disajikan pada Gambar 2 (Kecamatan Percut Sei Tuan dalam Angka, BPS Deli Serdang 2015).
Gambar 5. Peta Lokasi Penelitian Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
1. Kondisi Topografi dan Bentuk Wilayah
Topografi lahan baik lahan sawah maupun darat rata-rata datar dengan kemiringan kurang dari 5% dan berjenis alluvial, kondisi tanah di kecamatan Percut Sei Tuan memiliki bentuk wilayah yang landai (dataran rendah) dengan
13
ketinggian 0-20 mdpl. Secara teknis kondisi lahan tersebut dapat memberikan kemudahan bagi sektor perdagangan dan jasa perindustrian maupun pemukiman.
2. Kondisi Iklim dan Cuaca
Kondisi iklim yang terdapat di Kecamatan Percut Sei Tuan adalah iklim tropis dan memiliki musim hujan dan musim kemarau, cuaca suhu udara pada umumnya panas dan sedang. Sedangkan untuk curah hujan 2,330 mm/thn dengan bulan kering kurang dari 3 bulan dan digolongkan tipe D1 Oldemen, dan suhu perairan adalah 27oC-33oC dan kelembaban udara 75-80 %.
3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tambak ikan nila seluas 6 ha (Gambar 3) tipe empang parit dengan vegetasi mangrove dengan tingkat salinitas 20-30 ppt. Jenis tanaman mangrove yang tumbuh dominan antara lain Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Acrosticum spp, dan Nipah.
14
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai November 2017.
Pengambilan sampel serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha) dilakukan di Desa Tanjung Rejo, Kecamatam Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian adalah jaring penampung serasah daun (litter trap) berukuran 1×1 m, kantung serasah, kantung kertas HVS folio, jarum, benang, timbangan, timbangan analitik, pisau, alat tulis, kamera, gunting, komputer.
Bahan yang digunakan adalah serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha).
Prosedur Penelitian
1. Pengumpulan Serasah Mangrove
Jatuhan serasah daun mangrove dikumpulkan dengan menggunakan jaring penampung serasah yang ditempatkan di bawah pohon buta-buta (Excoecaria agallocha). Jumlah jaring penampung seluruhnya adalah 3 buah yang dipasang pada satu individu.
2. Perhitungan Produksi Serasah
Serasah yang jatuh dan tertangkap pada ketiga jaring penampung ditimbang setiap 7 hari sekali untuk melihat produksi serasah perminggu.
3. Percobaan Laju Dekomposisi Serasah
Serasah yang jatuh dan tertangkap pada jaring penampung dipungut dan ditimbang sebanyak masing-masing 50 g kemudian dimasukkan ke dalam kantung serasah dan diikat. Sampel diambil sebanyak 24 kantung yang terdiri dari 8 kantung untuk masing-masing individu. Kantung-kantung tersebut kemudian diletakkan pada permukaan substrat mangrove secara acak dan diikatkan pada akar atau pangkal batang tumbuhan mangrove agar tidak terbawa arus pada saat pasang. Setiap minggu selama dua bulan percobaan, diambil 1 kantung dari masing-masing pohon secara acak. Total pengambilan setiap minggu adalah
15
sebanyak 3 kantung. Kemudian masing-masing kantung dibersihkan dari lumpur menggunakan aquades atau air bersih ditimbang beratnya menggunakan timbangan analitik. Begitu selanjutnya untuk pengambilan serasah minggu berikutnya.
4. Analisis Data
Pendugaan nilai laju dekomposisi serasah dilakukan menurut persamaan berikut:
𝑘
= 𝑙𝑛
Keterangan:
Xt = Berat serasah setelah periode pengamatan ke-t (g) X0 = Berat serasah awal (g)
t = Periode pengamatan (hr) k = Laju dekomposisi (g/hr)
kriteria laju dekomposisi menurut (Graca, 2005) : lambat jika nilai k < 0,005 per hari (< 1,8 per tahun)
sedang jika nilai k = 0,005–0,01 per hari (1,8–3,6 per tahun) cepat jika nilai k > 0,01 per hari (> 3,6 per tahun)
Xt / X0 t
16
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Lahan Lokasi Penelitian
Berdasarkan hasil uji karakteristik ekosistem yang dilakukan di Laboratorium tanah ditemukan hasil karakteristik ekosistem dari lokasi penelitian yang disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik lahan lokasi penelitian
Lahan tambak
(ha)
Karakteristik Ekosistem Jarak
dari garis pantai
(m)
Kedalaman lumpur
(cm)
Salinitas air (ppt)
Unsur hara pH
tanah C-
organik (%)
N-total (%)
P (ppm)
1 120 127,4 5,81 sm 24 4,68 t 1,25 sr 9,51 s
Sumber : Hardjowigeno (2007)
Keterangan : sm : sangat masam st : sangat tinggi sr : sangat rendah t : tinggi s : sedang
Data Tabel 1 diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan, serta diperoleh dari Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari Tabel 1 bahwa diperoleh jarak antara lokasi penelitian dengan garis pantai adalah 120 m, memiliki kedalaman lumpur sedalam 127,4 cm, pH tanah sebesar 5,81, salinitas air sebesar 24 ppt, kandungan C-organik 4,68 %, N- total sebesar 1,25 %, dan juga P tersedia sebesar 9,51 ppm.
Menurut hasil analisis di laboratorium, kandungan unsur hara pada lokasi penelitian mempunyai nilai kandungan C-organik yaitu 4,68%, Kandungan C- organik pada lokasi tersebut merupakan termasuk pada kriteria tinggi. Hal ini mengaju sesuai dengan kriteria penilaian sifat-sifat kimia tanah Hardjowigeno (2007). Total kandungan N pada lokasi tersebut 6 yaitu 1,25 %. N total pada lokasi penelitian tergolong dalam kriteria sangat rendah dan Nilai P pada lokasi penelitian yaitu 9,25 ppm dan termasuk pada kriteria sedang.
17
Produksi Serasah
Produksi serasah diambil pada bulan September sampai November Kemudian hasil produksi serasah di lakukan penimbangan berat serasah yang tertampung menggunakan jaring penampung serasah yang di tempatkan di bawah pohon buta-buta (Excoecaria agallocha).
Tabel 2. Produksi serasah tiap g/m²/7 hari.
Produksi serasah adalah guguran struktur vegetatif dan reproduktif dari pohon mangrove yang disebabkan oleh faktor ketuaan, kematian, serta kerusakan dari keseluruhan tumbuhan oleh iklim (hujan dan angin) (Fitriyani, 2016). Pada penelitian ini diperoleh total produksi serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha) yang tertangkap pada litter trap selama 8 minggu adalah 29,17 g dengan nilai rata-rata sebesar 3,646 g. Hasil produksi serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha) tersebut lebih kecil dibandingkan dengan hasil penelitian Wahyuni dan Amrullah (2014) yang mendapatkan produksi serasah daun R.
apiculata sebanyak 262 g selama 3 bulan, yakni sebanyak 66 g pada bulan April, 96 g pada bulan Mei dan 100 g pada bulan Juni, hal ini disebabkan karena besar dan berat daun R. apiculata dengan daun buta-buta (Excoecaria agallocha) sangat berbeda sehingga mempengaruhi total produksi serasah. Menguatkan pendapat tersebut dikaitkan dengan pendapat Andrianto et al., (2015) yang menyatakan
Waktu Pengamatan Produksi Serasah (gram)
Minggu I 3,63
Minggu II 3,83
Minggu III 4,23
Minggu IV 3,23
Minggu V 2,76
Minggu VI 5,56
Minggu VII 2,4
Minggu VIII 3,53
Total 29,17
Rata-rata 3,646
18
kondisi fisik lingkungan tempat tumbuh masing-masing stasiun mempengaruhi terjadinya produktivitas serasah mangrove, selain itu jenis mangrove juga berpengaruh terhadap produktivitas mangrove itu sendiri. Menurut waktu pengambilan sempel produksi serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha) terbesar terdapat pada minggu VI yaitu 5,56 g pada bulan Oktober. Produksi terendah adalah pada minggu VII yaitu sebesar 2,4 g pada bulan Oktober.
Hasil pengamatan penelitian produksi serasah sangat dipengaruhi oleh kerapatan tegakan buta-buta (Excoecaria agallocha) pada sekitar jaring penampung karena apabila tanaman tersebut tumbuh dengan rapat maka penyuplai serasah ke jaring penampung juga semakin banyak dan secara otomatis produksi serasah juga akan meningkat. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Bintoro (2015) dengan kerapatan tegakan mangrove pada stasiun 1 adalah 101 individu/ha dengan hasil produksi serasah sebesar 15,74 g/m2/60 hari dan stasiun 2 dengan rata-rata kerapatan 325 individu/ha dengan hasil produksi serasah sebesar 34,8 g/m2/60 hari. Dilokasi penelitian jarak tanam buta-buta (Excoecaria agallocha) sekitar 10 x 10 m, sedangkan menurut penelitian Khazali (1999) jarak tanam yang ideal di tengah tambak yaitu 3 x 3 m. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rusrita et al., (2014) yang mengatakan bahwa tingginya produksi serasah dipengaruhi kerapatan tanaman. Semakin tinggi kerapatan tegakan, maka semakin tinggi pula produksi serasahnya, begitu juga sebaliknya. Selain faktor kerapatan tegakan, faktor lingkungan juga mempengaruhi dari produksi serasah, terdapat beberapa faktor diantaranya curah hujan dan kecepatan angin, disaat curah hujan tinggi dan disertai kecepatan angin yang tinggi menyebabkan daun-daun yang terkena percikan air hujan akan menyebabkan jatuhnya serasah ke lantai hutan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Proctor (1983) yang menyatakan bahwa yang mempengaruhi jatuhan serasah baik dalam jumlah maupun kualitasnya, yaitu keadaan lingkungan (iklim, ketinggian, umur tegakan), jenis tananaman dan waktu (musim dan umur tegakan). Besar-kecilnya produksi serasah dapat menentukan tingkat kesuburan suatu ekosistem mangrove, dimana serasah-serasah daun yang jatuh akan diuraikan oleh mikroorganisme dan makrobentos pengurai.
Serasah daun yang terurai akan menyumbangkan nutrisi besar bagi suatu ekosistem mangrove. Hal ini sesuai dengan pernyataan Andy (2010) yang
19
mengatakan bahwa guguran daun yang banyak akan menyebabkan banyaknya unsur hara di lokasi tersebut.
Dari hasil pengamatan di lapangan, daun adalah penyumbang serasah yang paling tinggi dibandingkan dengan ranting dan buah. Hal ini terjadi karena serasah daun mempunyai periode biologi yang sangat singkat (cepat gugur) dibandingkan komponen serasah lainnya (ranting, bunga dan buah). Selain itu, daun juga lebih mudah digugurkan oleh hembusan angin dan terpaan hujan. Zamroni dan Rohyani (2008) juga mengatakan daun memiliki kontribusi yang tinggi terhadap produktifitas serasah. Tingginya kontribusi daun terhadap produktifitas serasah yang dihasilkan terkait dengan salah satu bentuk adaptasi tumbuhan mangrove untuk mengurangi kehilangan air agar dapat bertahan hidup pada kondisi kadar garam yang tinggi.
Gambar 6. Daun buta-buta (Excoecaria agallocha) tertangkap di litter trap
20
Dekomposisi Serasah
Serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha) yang mengalami dekomposisi ditandai dengan adanya penurunan bobot serasah setiap periode pengamatan.
Tabel 3. Laju dekomposisi dan pengurangan bobot serasah buta-buta (Excoecaria agallocha).
Penurunan bobot serasah menunjukkan adanya perubahan serasah dari pengamatan hari ke-7 sampai hari ke-56, perubahan tersebut terjadi karena adanya organisme dan pengaruh fisik seperti pengkikisan oleh angin dan pergerakan air yang terjadi saat pasang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Arief (2003) bahwa peristiwa pasang surut membantu proses dekomposisi melalui pelapukan, bersama sama dengan kadar garam dan sinar matahari, secara lambat pasang surut menghancurkan bahan-bahan organik tersebut. Dari Tabel 3 diketahui bahwa sisa serasah cenderung menurun, dimana sisa serasah di hari ke-7 adalah 22,635 g dan sisa serasah di hari ke-56 adalah 9,474 g, sementara laju dekomposisinya cenderung semakin meningkat yaitu dari 0,015 g/hr di hari ke-7 dan mencapai 0,255 g/hr di hari ke-56. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sianturi (2017) yang menyatakan laju dekomposisi serasah dapat dikatakan berbanding terbalik dengan serasah yang tersisa pada setiap waktu pengamatan. Dari Tabel tersebut juga diketahui semakin banyak sisa serasah yang
Pengamatan Hari ke-
BA (g)
Sisa serasah (g)
Laju Dekomposisi Serasah
(g/hr)
7 50 22,635 0,015
14 50 21,038 0,033
21 50 18,271 0,057
28 50 14,908 0,092
35 50 13,158 0,128
42 50 11,712 0,167
49 50 10,833 0,205
56 50 9,474 0,255
21
tertinggal, artinya dekomposisi serasah yang terjadi lambat. Sebaliknya, semakin sedikit sisa serasah yang tertinggal maka serasah yang terdekomposisi dapat dikatakan berlangsung cepat. Makrobentos berperan dalam dekomposer awal, hal ini sesuai dengan pernyataan Kurniawan (2011) menyatakan bahwa makrobentos termasuk salah satu dekomposer awal yang mencacah sisa-sisa daun yang kemudian dikeluarkan kembali sebagai kotoran.
Hasil pengamatan mengalami penurunan bobot serasah daun buta-buta (Excoecaria agallocha) hari ke-7 dibandingkan hari pengamatan berikutnya. Hasil penelitian yang sama juga dilaporkan oleh Sianturi (2017) dimana pengurangan bobot terbesar pada hari ke-7 yaitu dari 50 g menjadi 10,564 g dan pengamatan hari ke-14 yaitu dari 50 g menjadi 10,021 g dan terus melambat pada hari berikutnya. Hal tersebut juga sesuai dengan hasil penelitian Sari (2017) yang juga menyatakan bobot serasah daun R. apiculata menunjukkan adanya penurunan bobot yang sangat cepat terjadi pada hari ke-15 dibandingkan setelah hari ke-30, kemudian melambat sampai hari ke-45 dan cepat kembali sampai akhir penelitian pada hari ke-90. Kondisi tersebut diduga terjadi karena serasah yang masih baru masih banyak memiliki persediaan unsur-unsur yang merupakan makanan bagi mikroba tanah atau bagi organisme pengurai, sehingga serasah cepat dihancurkan.
Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Apdhan et al., (2013) bahwa laju dekomposisi tertinggi terjadi pada tahap awal hal ini diduga erat dengan kehilangan bahan organik dan juga hadirnya mikroorganisme yang berperan dalam perombakan beberapa zat yang terkandung dalam daun mangrove. Menurut Arief (2003) unsur hara yang dikandung oleh daun-daun mangrove adalah karbon, nitrogen, fosfor, kalium, kalsium dan magnesium. Unsur tersebut semakin berkurang sampai hanya tinggal unsur yang tidak diperlukan oleh dekomposer.
Serasah yang mengandung kandungan unsur hara yang tinggi akan lebih cepat mengalami proses dekomposisi. Hal ini sesuai dengan Waring dan Schlesinger (1985) yang menyatakan bahwa serasah yang kaya akan nutrisi cenderung lebih cepat terdekomposisi dari pada dengan serasah yang miskin nutrisi pada lantai hutan yang sama.
Dari hasil pengamatan langsung dari lapangan diperoleh tingkat salinitas yaitu 24 ppt, Laju dekomposisi yang cepat juga dipengaruhi oleh tingkat salinitas.
22
Mikroorganisme sedikit yang dapat bertahan hidup pada tingkat salinitas tinggi.
Kurniawan (2012) menyatakan bahwa jumlah jenis fungi pada tingkat salinitas 0- 10 ppt dan 10-20 ppt lebih besar dibandingkan dengan tingkat salinitas 20-30 ppt dan > 30 ppt. Selanjutnya dijelaskan Damanik (2010) bahwa salah satu respon mikroorganisme terhadap salinitas adalah tidak dapat bertoleransi dan akan mati pada kondisi salinitas tinggi. Selain faktor salinitas, faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi adalah faktor lingkungan perairan (temperatur). Dilokasi penelitian kisaran temperatur perairan berkisa 27ºC-33ºC, Menurut Soenardjo (1999) batasan temperatur optimum untuk mikroorganisme (bakteri) berkisar 27º- 36ºC, yang sangat berpengaruh bagi penguraian serasah mangrove dengan asumsi daun mangrove sebagai dasar metabolisme.
Pada lokasi penelitian juga memiliki kondisi substrat berlumpur dan genangan air. Selain itu, penempatan kantong serasah juga berada di genangan air sehingga pembusukan lebih cepat. Hal ini diperkuat dengan Hasil penelitian Bintoro (2015) menunjukkan laju dekomposisi serasah pada stasiun 1 yang lebih didominasi pasir yaitu dengan berat awal serasah 10 g menjadi 1,80 g sedangkan stasiun 2 yang kondisi substratnya berlumpur dari berat awal serasah 10 g menjadi 0,87 g. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi substrat di lokasi penelitian juga mempengaruhi laju dekomposisi buta-buta (Excoecaria agallocha). Dari hasil serta faktor-faktor yang mempegaruhi laju dekomposisi daun buta-buta (Excoecaria agallocha) menunjukkan bahwa laju dekomposisi tergolong cepat.
Hal tersebut mengacu pada Graca et al., (2005) yang menyatakan bahwa laju dekomposisi lambat jika nilai k < 0,005 per hari (< 1,8 per tahun), laju sedang jika k = 0,005–0,01 per hari (1,8–3,6 per tahun) dan laju cepat jika k > 0,01 per hari (>
3,6 per tahun). Dari penjelasan di atas hal ini menunjukkan bahwa banyaknya kandungan bahan organik atau unsur hara serta dukungan dari faktor lingkungan terhadapat dekomposer akan membantu mempercepat laju dekomposisi, hal ini karena dokomposer mendapatkan sumber makanan untuk tetap hidup serta faktor lingkungan yang mendukung untuk terus bertahan hidup sekaligus berkembang biak.
23
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Produksi serasah buta-buta (Excoecaria agallocha) yang tertangkap pada litter trap selama 8 minggu adalah 29,17 g.
2. Laju dekomposisi serasah buta-buta (Excoecaria agallocha) tergolong cepat yaitu 0,119 g per hari.
Saran
1. Perlu dilakukan penanaman buta-buta (Excoecaria agallocha) pada daerah penelitian agar bahan organik yang dihasilkan tumbuhan buta-buta (Excoecaria agallocha) dapat lebih memberi pakan alami pada ekosistem sekitarnya.
2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang dekomposisi serasah dari daun buta-buta (Excoecaria agallocha) pada lokasi yang berbeda.
24
DAFTAR PUSTAKA
Andy WA. 2010. Produksi Serasah (Guguran Daun) Pada Berbagai Jenis Mangrove di Bangkalan. Jurnal Kelautan, 3(1):66-69.
Andrianto F, Bintoro A, dan Yuwono SB. 2015. Produksi dan Laju Dekomposisi Serasah Mangrove (Rhizophora sp.) di Desa Durian dan Desa Batu Menyan Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran. Jurnal Sylva Lestari, 3(1): 9-20.
Apdhan DA, Mulyani, dan Zulkifli. 2013. Produksi dan Kandungan Karbon Serta Laju Dekomposisi Serasah Xylocarpus sp. di Perairan Sungai Mesjid Dumai. Skripsi. Universitas Riau. Pekan Baru.
Arief A. 2003. Hutan Mangrove Fungsi dan Manfaatnya. Yogyakarta: Kanisius.
Bargali, Shukla K, Singh L, Ghosh L, dan Lakhera ML. 2015. Leaf Litter Decomposition and Nutrien Dynamics in Four Tree Species of Dry Deciduous Forest. Tropical Ecology, 56(2): 191–200.
Bintoro A, Andrianto F, dan Yuwono SB. 2015 Produksi dan Laju Dekomposisi Serasah Mangrove (Rhizophora sp.) Kabupaten Pesawaran, Jurnal Sylva Lestari, 3(1):9-20.
Brown HD. 1994. Principles of Language Learning and Teaching. San Fransisco State University. USA
Damanik AY. 2010. Jensi-jenis Fungi yang Berasosisasi Pada Proses Dekomposisi Serasah Daun Avicenia marina (Forsk) vierh Setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp. Curvullaria sp. Penicillium sp. Pada Berbagai Tingkat Salinitas di Desa Sicanang Belawan. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Fiqa AP, dan Siti S. 2011. Pendugaan Laju Dekomposisi dan Produksi Biomassa Serasah Pada Beberapa Lokasi di Kebun Raya Purwodadi. e-journal LIPI:
5(4): 1-5.
Fitriyani F. 2016. Produksi dan Laju Dekomposisi Serasah Daun Mangrove Rhizophora stylosa di Desa Pulau Sembilan Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Skripsi. Universitas Sumatera Utara.
Medan.
Graca MAS, Barlocher F, dan Gessner MO. 2005. Methods to Study Litter Decomposition a Practical Guide. Springer. New York.
Hardjowigeno S. 2007. Ilmu Tanah. Akademik Pressindo. Jakarta.
Hidayatullah M. 2011. Pertumbuhan Mangrove Pada Tambak Silvofishery di Desa
`Bipolo Kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang. Balai Penelitian Kehutanan Kupang. Nusa Tenggara Timur.
25
Jamili, Setiadi D, Qayim I, dan Guhardja E. 2009. Struktur dan Komposisi Mangrove di Pulau Kaledupa Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Ilmu Kelautan, 14 (4):197-206.
Khazali M. 1999. Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. Wetlands International Indonesia Programme. Bogor.
Kurniawan WP. 2011. Laju Dekomposisi Serasah Daun Rhizophora mucronata Setelah Aplikasi Fungi Penicillium sp. Aspergillus Sp. dan Curvularia sp.
Pada Berbagai Tingkat Salinitas. Skripsi. Universitas Sumatera Utara.
Medan.
Kurniawan F. 2012. Keanekaragaman Jenis Fungi Pada Serasah Daun Avicennia Marina yang Mengalami Dekomposisi Pada Berbagai Tingkat Salinitas.
Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Mason CF. 1977. Decomposition. The Institute of Biologys Studies in Biology, No.
74. Edward Arnold, London.
Naibaho RF. 2015. Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia Marina dan Kontribusinya Terhadap Nutrisi di Perairan Pantai Serambi Deli Kecamatan Pantai Labu. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Noor YR, Khazali M, dan Suryadiputra I. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Wetlands International-Indonesia Programme. Bogor.
Osono T, dan Takeda H. 2006. Fungal Decompotion of Abies Needle and Betula Leaf Litter. Mycologia, 98:172-179.
Proctor J. 1983. Tropical Litterfalls In Tropical Rain Forest. Ecological and Management 2. Blackwell Scientific Publicatio. Oxford.
Purnobasuki H. 2005. Tinjauan Perspektif Hutan Mangrove. Universitas Airlangga. Surabaya.
Ramli M. 2012. Kontribusi Ekosistem Mangrove Sebagai Pemasok Makanan Ikan Belanak (Liza Subviridis) di Perairan Pantai Utara Konawe Selatan Sulawesi Tenggara. Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana Institut Teknologi Pertanian Bogor. Bogor.
Rusrita GA, Wardianto Y, Fahrudin A, dan Mukhlis MK. 2014. Produksi Serasah Mangrove di Pesisir Tangerang, Banten. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI). 19 (2) : 91-97.
Sambu AH, Sribianti I, dan Chadijah A. 2018. Model Pengelolaan Mangrove Berbasis Ekologi dan Ekonomi. Inti Mediatama. Makasar.
Sari WK. 2017. Dekomposisi Serasah Daun Mangrove Rhizophora apiculata di Desa Bagan Asahan Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Provinsi Sumatera Utara. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan
26
Setyawan AD, dan Winarno K. 2006. Permasalahan Konservasi Ekosistem Mangrove di Pesisir Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Biodiversitas, 7(2): 159-163.
Shilman MI. 2012. Kajian Penerapan Silvofishery Untuk Rehabilitas Ekosistem Mangrove di Desa Dabong Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana Insitut Pertanian Bogor. Bogor
Silitonga EL. 2009. Jenis-jenis Fungi yang Terdapat Pada Serasah Daun Rhizophora mucronata yang Mengalami Dekomposisi Pada Berbagai Tingkat Salinitas. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan
Sianturi DS. 2017. Laju Dekomposisi Serasah Daun Rhizophora stylosa Pada Lahan Silvofishery di Desa Tanjung Rejo Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan
Sinaga T. 2015. Study Productivity and Decomposition Litterfall In Sibolangit Forest, Deli Serdang To Support Field Trip Plantation Ecology. Jurnal Biosains , 01(03):57-65.
Soenardjo N. 1999. Produksi dan Laju Dekomposisi Serasah Mangrove dan Hubungannya Dengan Struktur Komunitas Mangrove di Kaliuntu Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana Insitut Pertanian Bogor. Bogor
Sutedjo, Mulyani M, Kartasapoetra AG, dan Sastroatmodjo RDS. 1991.
Mikrobiologi Tanah. Rineka Cipta. Jakarta.
Subkhan. 1991. Produksi dan Penguraian Serasah Hutan Mangrove di Sungai Tali Dendan Besar HPH PT Bina Lestari Riau. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Sunarto. 2003. Peranan Dekomposisi Dalam Proses Produksi Pada Ekosistem Laut. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Sulistiyowati H. 2009. Biodiversitas Mangrove di Cagar Alam Pulau Sempu.
Jurnal Sainstek, 8(1): 59-63.
Wahyuni Y, dan Taqwa. 2014. Analisis Produksi Serasah Rhizopora apiculata dan Sonneratia alba Di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekatan Kota Tarakan. Jurnal Harpodon Borneo, 7(1):75-80.
Waring Schlesingan. 1985. Forest Ecosystem Concept and Management.
Akademic Press. Inc, New York.
Widhitama S, Purnomo PW, dan Suryanto A. 2016. Produksi dan Laju Dekomposisi Serasah Mangrove Berdasarkan Tingkat Kerapatannya di Delta Sungai Wulan Demak Jawa Tengah. Management of Aquatic Resources Journal, 5(4): 311-319.
27
Yunasfi. 2006. Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina oleh Bakteri dan Fungi Pada Berbagai Tingkat Salinitas. Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor
Zamroni Y, dan Rohyani IS. 2008. Produksi Serasah Hutan Mangrove di Perairan Pantai Teluk Sepi, Lombok Barat. Jurnal Biodiversitas, 9 (4) : 284-287.
28
LAMPIRAN
1. Lampiran Perhitungan Laju Dekomposisi Metode Olson:
Keterangan :
Xt : Berat serasah setelah periode pengamatan ke-t X₀ : Berat serasah awal
e : Bilangan logaritma (2,72) t : periode pengamatan k : Laju dekomposisi
1. X₀ = 50 Xt = 22,635
t = t =
-52,14k = ln 0,4526 -52,14k = -0,7927465458 k = 0,015
2. X₀ = 50 Xt = 21,038 t=
t = = 26,07
Hari setahun
Hari lama pendekomposisian 365
7 22,635 = 50
-kt = ln
= 52, 14
22,63 5 50
29
=
-kt = ln -26,07k = ln 0,42076
-26,07k = -0,8656926791 k = 0,033
3. X₀ = 50
Xt = 18,271 t=
t = = 17,38 =
-kt = ln -17,38k = ln 0,36542
-17,38k = -1,006707902 k = 0,057
4. X₀ = 50 Xt = 14,908
t = = 13,03 =
-kt = ln
-13,03k = ln 0,29816 -13,03k = -1,2101250238
30
k = 0,092
5. X₀ = 50 Xt = 13,158
= 10,42
=
-kt = ln -10,42k = ln 0,26316
-10,42k = -1,3349930668 k = 0,128
6. X₀ = 50 Xt = 11,712
t = =8,69
= -kt = ln
-8,69k = ln 0,23424 -8,69k=1,4514090482 k= 0.167
7. X₀ = 50 Xt = 10,833
31
t =
t = 7,44 =
-kt = ln -7,44k = ln 0,21666 -7,44k = -1,5294259745
k = 0,205 8. X₀ = 50
Xt = 9,474 t =
t = = 6,51 =
-kt = ln -6,51k = ln 0,18948 -6,51k = -1,6634718009
k = 0,255
32
2. Lampiran Pengamatan Serasah Daun Buta-buta (Excoecaria agallocha) Dari Pengamatan Hari ke-7 Sampai Dengan Hari ke-56.
Pengamatan Hari ke-7
Pengamatan Hari ke-14
Pengamatan Hari ke-21
33
Pengamatan Hari ke-28
Pengamatan Hari ke-35
Pengamatan Hari ke-42
34
Pengamatan Hari ke-49
Pengamatan Hari ke-56