• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Siswa Kelas XI. Program Studi Teknik Kendaraan Ringan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Siswa Kelas XI. Program Studi Teknik Kendaraan Ringan"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Siswa Kelas XI Program Studi Teknik Kendaraan Ringan

Muhamad Ali Imron (0532003)

Mahasiswa PTM Otomotif IKIP Veteran Semarang

Abstrak

Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah bahwa prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap anak didik, apabila mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai hambatan dan gangguan. Hambatan dan gangguan sering dialami oleh anak didik, sehingga mereka mengalami kesulitan dalam belajar. Perubahan – perubahan yang timbul mengakibatkan banyak peserta didik di sekolah yang terhimpit sebagai masalah terutama dalam belajar, demikian pula yang dialami oleh sebagian siswa SMK Kesuma Margoyoso Kabupaten Pati Tahun Pelajaran 2011/2012. Faktor anak didik (siswa), factor sekolah, factor keluarga dan lingkungan masyarakat merupakan faktor – faktor yang dapat menyebabkan kesulitan dalam belajar. Tujuan penelitian adalah: (1) Untuk mengetahui seberapa besar factor anak didik (siswa) dapat menjadikan penyebab kesulitan belajar. (2) seberapa factor sekolah dapat menjadikan penyebab kesulitan belajar. (3) seberapa besar factor keluarga dan lingkungan masyarakat dapat menjadikan penyebab kesulitan belajar siswa kelas XISMK Kesuma Margoyoso Kabupaten Pati Tahun Pelajaran 2011/2012. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Kesuma Margoyoso Kabupaten Pati Tahun Pelajaran 2011/2012 sebanyak 40 siswa (penelitian populasi). Adpun uji validitas menggunakan korelasi product moment dan untuk uji reliabilitas dengan teknik Spearman Brown. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode pokok, sedangkan metode pendukung adalah dokumentasi. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif prosentase. Hasil penelitian: (1) factor siswa mencapai 52,6 % artinya memberikan kontribusi yang tinggi pada factor penyebab kesulitan belajar. (2) factor sekolah mencapai hasil 44,1% berarti bahwa factor sekolah memberi sumbangan yang sedang pada factor penyebab kesulitan belajar. (3) factor keluarga dan lingkungan masyarakat (social) mencapai 55,2% yang berarti bahwa factor tersebut memberikan kontribusi yang tinggi dan menempati urutan tertinggi dalam factor penyebab kesulitan belajar. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini dan analisis data serta pembahasan dapat disampaikan saran sebagai berikut: (1) bagi guru pembimbing, hasil temuan ini sekaligus dapat di pakai sebagai bahan masukan atau evaluasi terhadap kegiatan bimbingan dan konseling yang berkaitan dengan kesulitan belajar siswa, guru pembimbing hendaknya mampu memahami karakteristik siswa dan menyusun perbaikan program bimbingan yang dilaksanakan. (2) bagi sekolah hendaknya lebih meningkatkan pelayanan pendidikan. (3) bagi orang tua diharapkan untuk lebih memahami arti pentingnya perhatian dan pelayanan kebutuhan belajar anaknya.

Kata kunci :faktor, kesulitanbelajar, internal, eksternal.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan kebutuhan penting bagi setiap manusia, sehingga perlu dikembangkan secara sistematis oleh para pengambil kebijakan di Negara kita. Pembaruan – pembaruan selalu diupayakan demi kemajuan pendidikan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana telah

(2)

diamanatkan oleh para pendiri republik yang dituangkan dalam pembukaan undang – undang dasar 1945.

Menurut Undang – Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional bab I Pasal I pendidikan adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.”

Di dalam proses pendidikan, banyak dijumpai permasalahan dalam perkembangannya. Masalah tersebut dapat bersumber dari siswa, guru sekolah, atau lingkungan masyarakat. Masalah yang bersumber dari siswa disebut kendala intrinsik, yang berupa kemampuan fisik yang lemah, kesehatan yang terganggu, bakat, dan minat, sikap, perilaku, dan kepribadian siswa. Sedangkan masalah yang bersumber dari luar sekolah disebut masalah ekstrinsik, misalnya kurangnya sarana prasarana sekolah, lingkungan yang tidak mendukung siswa untuk belajar dan lain – lain.

Dengan adanya berbagai kendala yang dialami siswa dalam menerima materi pelajaran, menyebabkan siswa kurang maksimal dalam mencapai prestasi belajar.

Pada kenyataannya, banyak siswa yang kurang berhasil menguasai mata pelajaran, karena berbagai alasan yang harus diketahui oleh guru bidang studi. Siswa yang kurang berhasil ini adalah siswa yang mengalami kesulitan belajar baik di dalam kelas maupun laboraturium. Oleh sebab itu, penulis membuat skripsi dengan judul “ Faktor – factor Penyebab Kesulitan Belajar Siswa Kelas XI, Program Studi Teknik Kendaraan Ringan SMK Kesuma Margoyoso Kabupaten Pati Tahun Pelajaran 2011/2012.

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu usaha yang dilakukan secara aktif oleh manusia dalam rangka untuk menjadi lebih baik melalui pengalaman – pengalaman praktek dan ilmu pengetahuan yang didapat dari lingkungannya.

Pengertian Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana anak didik atau siswa tidak dapat belajar secara wajar. Kesulitan belajar tersebut disebabkan adanya hambatan, ancaman maupun gangguan dalam belajar.

METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, yaitu untuk mengurai lebih jauh tentang masalah yang diajukan, sehingga dapat mendeskripsikan secara jelas seberapa besar faktor anak didik, faktor sekolah, serta faktor keluarga dan lingkungan social dapat menjadikan penyebab kesulitan belajar siswa kelas XI3 SMK Kesuma Margoyoso.

(3)

Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Penelitian dilakukan di kelas XI program studi Teknik Kendaraan Ringan SMK Kesuma Margoyoso Kabupaten Pati Tahun Pelajaran 2011/2012.

2. Penelitian dilakukan pada semester II, tahun pelajaran 2011 / 2012 selama tiga bulan, yaitu mulai bulan juni sampai dengan agustus 2012.

Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan dari obyek penelitian, baik manusia, benda, hewan sebagai sumber data yang memiliki karakteristik yang sama dalam suatu penelitian.

Dalam penelitian ini populasi yang dimaksud adalah seluruh siswa SMK Kesuma Margoyoso Kelas XI3 program studi teknik kendaraan ringan yang berjumlah 40 siswa.

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Populasi dengan jumlah kurang dari 100, sebaiknya diambil semua, sehingga penelitian ini jumlah sampel penelitian sama besar jumlah populasi penelitian, sehingga penelitian ini disebut penelitian populasi. Mengingat penelitian ini adalah penelitian populasi, maka teknik sampling yang digunakan adalah total sampling.

HASIL PENELITIAN Uji validitas

Agar data yang diperoleh obyektif dan tepat, maka perlu diadakan uji validitas dan reabilitas angket. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevaliditasan dan kesahihan suatu instrumen.

Untuk menguji validitas angket ini melalui uji coba terhadap 10 orang siswa kelas X diluar kelas XIII,

setelah diuji cobakan dan hasilkan ditabulasi (lihat lampiran 3) lalu diolah dengan Product Moment dengan bantuan program SPSS 10.0 For Windows. Sedangkan hasil selengkapnya untuk tiap item dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Tabel 1.Data Uji Validitas Butir Instrument Penelitian

Item N Correlation Keterangan

1 2 3 4

Item 1 X Total 10 0,759 Valid

Item 2 X Total 10 0,809 Valid

Item 3 X Total 10 0,934 Valid

Item 4 X Total 10 0,759 Valid

Item 5 X Total 10 0,803 Valid

Item 6 X Total 10 0,829 Valid

Item 7 X Total 10 0,709 Valid

Item 8 X Total 10 0,934 Valid

Item 9 X Total 10 0,750 Valid

Item 10 X Total 10 0,759 Valid

(4)

Item 12 X Total 10 0,729 Valid

Item 13 X Total 10 0,648 Valid

Item 14 X Total 10 0,759 Valid

Item 15 X Total 10 0,809 Valid

Item 16 X Total 10 0,934 Valid

Item 17 X Total 10 0,709 Valid

Item 18 X Total 10 0,759 Valid

Item 19 X Total 10 0,934 Valid

Item 20 X Total 10 0,759 Valid

Item 21 X Total 10 0,934 Valid

Item 22 X Total 10 0,809 Valid

Item 23 X Total 10 0,759 Valid

Item 24 X Total 10 0,934 Valid

Item 25 X Total 10 0,759 Valid

Item 26 X Total 10 0,934 Valid

Item 27 X Total 10 0,829 Valid

Item 28 X Total 10 0,769 Valid

Item 29 X Total 10 0,709 Valid

Item 30 X Total 10 0,729 Valid

Hasil Validitas untuk butir item adalah Valid, Taraf signifikan 5% sesuai dengan jumlah yang tertera dalam tabel signifikansi yaitu 0,632. Dengan demikian angket tersebut valid dan layak untuk disebar pada responden.

Reliabilitas

Reliabilitas selalu terkait dengan kepercayaan untuk mengumpulkan data sehingga data yang diperoleh akan dapat dipercaya. Reliabilitas instrumen (angket) adalah ketetapan alat atau instrumen dalam menguikur dan menjawab butir – butir angket tersebut. Siapa pun yang menjadi responden asalkan sederajad akan terlihat keajegkan inilah yang dimaksud dengan reliabilitas angket.

Uji coba reliabilitas angket dilakukan terhadap 10 siswa hasil uji reliabilitas diawali dengan menggunakan rumus Product Moment dengan bantuan program SPSS 10.0 For Windows menunjukkan bahwa korelasi antar item sebesar 0,855 dengan taraf signifikansi 0,01 % seperti terlihat dalam perhitungan berikut:

Correlation GANJIL GENAP GANJIL Pearson 1,000 ,855 Correlation Sig. (2- , ,000 Tailed) N 15 15 GENAP Pearson ,855 1,000 Correlation

(5)

Sig. (2- ,000 , Tailed)

N 15 15 ** Correlation is significant at the 0,01 level (2-tailed)

Sedangkan perhitungan koefisiensi dengan rumus Spearman Brown menunjukkan bahwa reliabilitas instrumen sebesar:

r3 =

r3

= 0,900

Hasil tersebut menunjukkan bahwa r hitung sebesar 0,900 lebih besar dari 0,632 taraf signifikan 5% dan 0,765 taraf signifikan 1 %. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa instrumen penelitian yang digunakan merupakan alat ukur yang koefisien reliabilitasnya dapat diterima, dengan kata lain instrumen penelitian yang di gunakan merupakan alat ukur yang reliabel.

Analisa Data dan Pembahasan

Pada bagian ini, secara berturut – turut disajikan deskripsi hasil penelitian berupa analisa data penelitian serta pembahasannya. Dua hal tersebut dilakukan secara bersamaan dengan maksud agar setiap sub variabel yang dikaji dapat disajikan dalam satu kesatuan yang utuh.

Ada pun urutan penyajian meliputi sub variabel : 1. Faktor Anak Didik

2. Faktor Sekolah

3. Faktor Keluarga dan Lingkungan

Sedangkan unit analisis penyajian data berpedoman pada indikator dari masing – masing sub variabel tersebut seperti yang telah di rancang pada kisi-kisi penulisan instrumen penelitian. Untuk melihat skor tiap indikator maupun skor komulatif pada setiap sub variabel, penelitian menggolongkan skor yang diperoleh untuk mengetahui tinggi rendahnya faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa dengan menggunakan kategori sebagai berikut:

75% - 100% = Sangat Tinggi 50% - 74,99% = Tinggi 25% - 49,99% = Sedang 0% - 24,99% = Rendah

Sedangkan rumus yang di pakai untuk menentukan nilai atau skor ideal adalah :

Nilai = X 100%

(6)

S = Skor yang dicapai

P = Jumlah Responden

4 = Skor tertinggi pada nilai jawaban (bilangan konstan) Q = Jumlah Pertanyaan

1. Factor Anak Didik (siswa) a. Keadaan Fisik

Tabel 2 Kondisi Fisik Siswa

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 0 57 66 28 Jumlah 151

Tabel diatas menunjukkan bahwa indicator keadaan fisik siswa memiliki skor total 151 dari 2 item (no 1, 2) dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hgasil sebagai berikut:

S = 151 , P = 40 , Q = 2 Nilai = X 100% = 47,2 % (sedang)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa keadaan fisik siswa memberikan kontribusi yang sedang pada indicator factor anak didik yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa. Meskipun factor fisik masihdalam kondisi sedang, namun sedikit apapun anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar karena memungkinkan daya konsentrasi hilang, kurang semangat pikiran terganggu. Daya serap terhadap pelajaran akan berkurang, syarap otak tidak mampu bekerja secara optimal untuk memproses, mengelola dan mengoorganisasikan bahan pelajaran melalui inderanya.

b. Kebiasaan Belajar

Tabel 3 Kebiasaan Belajar

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 56 44 36 0 Jumlah 136

Dari tabel diatas terlihat bahwa indicator kebiasaan belajar siswa memiliki skor total 136 dari 2 item (no 3,4) dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasi sebagai berikut:

S = 136 , P = 40 , Q = 2 Nilai = X 100% = 42,5 % (sedang)

(7)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa kebiasaan bejajar siswa memiliki kontribusi yang sedang pada indicator anak didik yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa.

Kebiasaan belajar siswa berhubungan erat dengan daya konsentrasi belajar yang selanjutnya dapat mempengaruhi penguasaan materi pelajaran. Kebiasaan siswa tertentu yang hanya menghafal bahan pelajaran akan berdampak lain jika di bandingkan dengan kebiasaan siswa yang beljar dengan pemahaman. Dengan melihat hasil tersebut yang berada pada kategori sedang, berarti siswa memiliki kebiasaan belajar yang sudah baik namun perlu perhatian khusus karena skor tersebut masih memiliki peluang untuk membawa kondisi siswa kearah yang kurang baik dalam kebiasaan belajarnya, misalnya siswa belajar hanya saat akan menghadapi ulangan. Tentu saja kebiasaan tersebut dapat menimbulkan keulitan dalam belajar.

c. Emosi yang tidak Stabil

Tabel 4 Emosi yang tidak stabil

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 36 48 126 72 Jumlah 282

Tabel diatas menunjukkan bahwa indicator emosi yang tidak stabil dari siswa memiliki skor total 282 dari 3 item (no 5,6,7) dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasil sebagai berikut :

S = 282 , P = 40 , Q = 3 Nilai = X 100% = 58,8 % (tinggi)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa emosi siswa memiliki kontribusi yang tinggi pada indicator factor anak didik yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa.

Dalam belajar tidak hanya menyangkut segi intelek, tetapi juga menyangkut segi-segi emosional. Hubungan kesehatan mental dan ketenangan emosi akan menimbulkan hasil belajar yang baik, demikian juga harga diri seseorang. Setiap orang dalam hidupnya tentu ingin memperoleh penghargaan, kepercayaan, rasa aman,dan lain-lainnya. Apabila kebutuhan itu tidak terpenuhi, akan menimbulkan rasa emosional mental yang kurang sehat dan dapat merugikan belajar.

Dengan memperhatikan karekteristik populasi (siswa) yang menginjak usia remaja dan menjelang dewasa, hasil penelitian tersebut dapat memperlihatkan sebuah kewajaran mengingat kondisi siswa memang dalam taraf usia transisi dari remaja ke dewasa sehingga hal tersebut berpengaruh pada kondisi emosional anak.

(8)

d. Minat Belajar yang rendah

Tabel 5 Minat Belajar yang Rendah

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 39 54 108 72 Jumlah 273

Table diatas menunjukkan bahwa indicator minat belajar yang rendah memiliki skor 273 dari 3 item dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasil sebagai berikut :

S= 273 P = 40, Q = 3 Nilai = X 100% = 56,9 % (tinggi)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa minat belajar yang rendah dari siswa memiliki kontribusi yang tinggi pada indicator factor anak didik yang menjadi penyebab kesulitan belajar.

Tidak ada minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan menimbulkan kesulitan belajar. Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhan, tidak sesuai dengan kecakapan, tidak sesuai dengan tipr khusus anak sehinga belajar akan menimbulkan kesulitan baginya.

e. Skor komulatif untuk sub variabel : factor siswa Tabel. 6 Faktor siswa

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 131 203 336 172 Jumlah 842

Table diatas menunjukkan sub variabel factor siswa memiliki skor 842 dari 10 item pertanyaan, dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasil sebagai berikut :

S= 842 P = 40, Q = 10 Nilai = X 100% = 52.6 % (tinggi)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa faktor siswa memiliki kontribusi yang tinggi pada faktor – faktor penyebab kesulitan belajar siswa kelas XI 3 SMK Kesuma Margoyoso Kabupaten Pati

Tahun Pelajaran 2011/2012.

Anak didik yang memiliki gangguan atau kekurang mampuan psiko - fisik, baik yang bersifat kognitif seperti rendahnya kapasitas intelektual / intelgensi anak, yang bersifat afektif sepertinya labilnya emosi dan sikap, maupun yang bersifat psikomotr seperti terganggunya alat – alat indera penglihatan dan pendengaran ( mata dan telinga ) akan menjadi salah satu penyebab terjadi kesulitan belajar pada siswa.

(9)

2. Faktor Sekolah

a. Cara guru mengajar

Tabel 7 Cara guru mengajar

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 33 102 90 12 Jumlah 237

Tabel diatas menunjukkan bahwa indicator cara guru mengajar memiliki skor 237 dari 3 item (no : 11, 12, 13) dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasil sebagai berikut :

S= 237 P = 40, Q = 3 Nilai = X 100% = 49,4 % (sedang)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa cara guru mengajar memiliki kontribusi yang sedang pada indicator factor sekolah yang menjadi penyebab kesulitan belajar.

Guru merupakan factor utama dalam merancang dan menyampaikan materi atau bahan ajar. Siswa merupakan pihak yang berkepentingan untuk menyerap segala ilmu pengetahuan yang diberikan kepadanya. Kesiapan dan kecakapan guru akan memberikan kontribusi yang positif terhadap daya serap siswa terhadap materi yang diberikannya.sebaliknya, cara mengajar yang kurang cocok atau sesuai dengan kondisi siswa akan menyebabkan anak mengalami kesulitan belajar.

b. Suasana kelas

Tabel 8 Suasana kelas

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 48 54 32 14 Jumlah 148

Tabel diatas menunjukkan bahwa indicator suasana kelas memiliki skor 148 dari 2 item (no : 14, 15) dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasil sebagai berikut :

S= 148 P = 40, Q = 2

Nilai = X 100% = 46,3% (sedang)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa suasana kelas memiliki kontribusi yang sedang pada indicator factor sekolah yang menjadi penyebab kesulitan belajar.

(10)

Suasana kelas berkaitan dengan situasi kelas dan kondisi fisik kelas. Kondisi gedung, terutama tempat belajar anak atau ruang kelas yang baik memiliki ventilasi yang cukup, udara segar dapat masuk ruangan, dan sinar matahari maupun lampu dapat menerangi ruangan, dinding kelas maupun lantai bersih. Keadaan gedung yang jauh daari jalan raya, bengkel, pabrik akan memudahkan konsentrasi belajar anak. Suasana kelas yang tenang, nyaman, bersih akan menyebabkan siswa dapat belajar dengan lebih baik. Apabila beberapa hal diatas tidak terpenuhi, maka situasi belajar akan kurang baik dan dapat menimbulkan kesulitan bagi siswa dalam belajar disekolah.

c. Waktu sekolah

Tabel 9 Waktu sekolah

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 50 60 0 0 Jumlah 110

Tabel diatas menunjukkan bahwa indicator suasana kelas memiliki skor 148 dari 2 item (no : 16, 17) dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasil sebagai berikut :

S= 110 P = 40, Q = 2 Nilai = X 100% = 34,4% (sedang)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa waktu sekolah memiliki kontribusi yang sedang pada indicator factor sekolah yang menjadi penyebab kesulitan belajar.

Waktu sekolah sore hari, tentu saja akan jauh berbeda dengan waktu sekolah pagi hari. Pada sore hari keadaan anak maupun guru sudah dalam kondisi lelah, sehingga dengan masuk sekolah pada sore hari akan dapat menyebabkan kesulitan dalam belajar.

d. Fasilitas sekolah

Tabel 10 Fasilitas sekolah

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu tersedia Sering tersedia

Kadang – Kadang tersedia Tidak Pernah tersedia

48 108 54 0

Jumlah 210

Tabel diatas menunjukkan bahwa indicator fasilitas sekolah memiliki skor 210 dari 3 item (no : 18, 19 20) dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasil sebagai berikut :

S= 210 P = 40, Q = 3 Nilai = X 100% = 43,8% (sedang)

(11)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa fasilitas sekolah memiliki kontribusi yang sedang pada indicator factor sekolah yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa.

Alat pelajaran yang lengkap membuat penyajian pelajaran bertambah baik, terutama pelajaran yang bersifat praktikum. Kurangnya alat – alat pelajaran akan menimbulkan kesulitan dalam belajar. Tiadanya alat – alat pelajaran menyebabkan guru cenderung memakai metode yang kurang variatif dan menimbulkan kepasifan, bahkan kebosanan bagi anak, sehingga tidak mustahil anak – anak akan mengatasi kesulitan belajar.

e. Skor komulatif untuk sub variabel : faktor sekolah Tabel 11 Faktor sekolah

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 179 324 176 26 Jumlah 705

Tabel diatas menunjukkan bahwa sub variabel faktor sekolah memiliki skor 705 dari 10 item, dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasil sebagai berikut :

S= 705 P = 40, Q = 10 Nilai = X 100% = 44,1% (sedang)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa fasilitas sekolah memiliki kontribusi yang sedang pada indicator factor sekolah yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa kelas XI3 SMK

Kesuma Margoyoso.

Sekolah adalah lembaga pendidikan formal tempat guru membimbing dalam rangka mengembangkan potensi anak didik dan rumah rehabilitas bagi mereka. Di tempat tersebut anak didik menimba ilmu pengetahuan dengan bantuan guru. Sebagai lembaga pendidikan yang setiap hari didatangi oleh anak didik tentu saja mempunyai dampak yang besar bagi anak didik tersebut. Kenyamanan dan ketenangan anak didik dalam belajar akan ditentukan sejauh mana kondisi dan sistim social sekolah dalam menyediakan lingkungan yang kondusif dan kreatif. Sarana dan prasarana yang ada digunakan untuk memberikan layanan yang memuaskan bagi anak didik yang berinteraksi dan hidup didalamnya. Walaupun dalam kategori sedang, sekolah memiliki kontribusi yang dapat menimbulkan kesulitan belajar bagi anak.

3. Faktor Keluarga dan Lingkungan a. Sarana Belajar

Tabel 12 Sarana Belajar di rumah

No Kategori Skor

(12)

2 3 4 Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 176 168 0 Jumlah 364

Tabel diatas menunjukkan bahwa indicator sarana belajar memiliki skor 364 dari 4 item (21, 22, 23, 24), dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasil sebagai berikut :

S= 364 P = 40, Q = 4 Nilai = X 100% = 56,9% (tinggi)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa sarana belajar di rumah memiliki kontribusi yang tinggi pada indicator factor keluarga dan lingkungan yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa. Ketersediaan sarana belajar dirumah merupakan factor pendukung keberhasilan siswa dalam belajar. Dalam kapasitasnya sebagai anak, orang tua wajib menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan anak. Namun terdapat beberapa factor yang dapat menyebabkan perhatian orang tua tersebut mengalami kendala. Misalnya keterbatasan ekonomi, ketidak tahuan orang tua terhadap kebutuhan belajar anak, atau budaya masyarakat yang kurang perhatian terhadap dunia pendidikan. Hal tersebut akan berpengaruh pada perilaku orang tua dalam mencukupi kebutuhan belajar anak termasuk dalam hal pengadaan sarana belajar dirumah. Keterbatasan ekonomi orang tua menyebabkan anak tidak dapat terpenuhi sarana untuk belajar dirumah seperti buku – buku pelajaran dan buku penunjang belajar.

b. Perhatian Orang tua

Tabel 13 Perhatian orang tua

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 33 96 117 0 Jumlah 246

Tabel diatas menunjukkan bahwa indicator perhatian orang tua dirumah memiliki skor 246 dari 3 item (25, 26, 27), dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasil sebagai berikut :

S= 246 P = 40, Q = 3 Nilai = X 100% = 51,3% (tinggi)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa perhatian orang tua dirumah dan lingkngan tempat tinggal dapat menyebabkan hal yang negative bagi siswa.

Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anak, acuh tak acuh, tidak memperhatikan kemajuan belajar anak

(13)

akan menjadi penyebab kesulitan belajar. Orang tua yang otoriter akan menyebabkan anak takut dan mental yang tidak sehat bagi anak. Hal ini dapat menyebabkan anak tidak tenteram, tidak senang di rumah, suka mencari teman diluar hingga lupa belajar.

Orang tua yang memanjakan anak, mengakibatkan anak tidak mandiri, bahkan sangat tergantung pada orang tua. Kedua sikap tersebut tidak mendorong kepada anaknya, hingga anak mengalami kesulitan dalam belajar.

c. Lingkungan tempat tinggal

Tabel 14 Lingkungan tempat tinggal

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 24 78 171 0 Jumlah 273

Tabel diatas menunjukkan bahwa indicator lingkungan tempat tinggal memiliki skor 273 dari 3 item (28, 29,30) dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasil sebagai berikut :

S= 273 P = 40, Q = 3 Nilai = X 100% = 56,9% (tinggi)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa lingkungan tempat tinggal di rumah memiliki kontribusi yang tinggi pada faktor keluarga dan lingkungan tempat tinggal yang dapat menyebabkan kesulitan belajar bagi siswa.

Anak tinggal dan hidup bersama komunitas terkecil dalam keluarga dan lingkungan social disekitarnya. Sekecil apapun dampaknya, faktor lingkungan akan berpengaruh pada perilaku anak termasuk dalam hal belajar. Apabila lingkungan mendukung, ia akan melakukan kegiatan belajar dengan sendirinya, sebaliknya apabhila lingkungan tidak memungkinkan maka anak – anak terseret pada pola hidup yang berlaku dilingkungan tersebut.

d. Skor komulatif untuk sub variabel : faktor keluarga dan lingkungan Tabel 15 Faktor keluarga keluarga dan lingkungan

No Kategori Skor 1 2 3 4 Selalu Sering Kadang – Kadang Tidak Pernah 77 350 456 0 Jumlah 883

Tabel diatas menunjukkan bahwa variabel faktor keluarga dan lingkungan tempat tinggal memiliki skor total 883 dari 10 item pertanyaan dan setelah dianalisis dengan skor ideal diperoleh hasil sebagai berikut :

(14)

S= 883 P = 40, Q = 10 Nilai = X 100% = 55,2% (tinggi)

Hasil tersebut memiliki arti bahwa lingkungan tempat tinggal memiliki kontribusi yang tinggi pada faktor – faktor penyebab kesulitan belajar bagi siswa kelas XI3 SMK Kesuma Margoyoso.

Faktor keluarga maupun lingkungan tempat tinggal ternyata memiliki pengaruh yang sangat berpotensi untuk menjadikan anak mengalami kesulitan belajar. Hal tersebut sangat dimungkinkan mengingat anak secara keseluruhan dalam keseharian dan berinteraksi dengan seluruh anggota keluarga maupun dengan lingkungannya. Secara umum lingkungan ini meliputi lingkungan keluarga, yang terlihat pada keharmonisan antara hubungan ayah, ibu, dan anak, serta anggota keluarga lainnya. Rendahnya kehidupan ekonomi keluarga juga akan berpengaruh terhadap ketersediaan sarana prasarana belajar di rumah yang akan membantu dalam kegiatan belajar dirumah. Lingkungan masyarakat atau perkampungan, teman sepermainan, dan anggota masyarakat lainnya juga akan berpotensi untuk mempengaruhi kehidupan anak, termasuk dalam hal belajar.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka penulis menyimpulkan :

1. Sub variable Faktor siswa memiliki skor total 842 dari 10 item yang meliputi indikator : a. Keadaan fisik

b. Kebiasaan belajar c. Emosi tidak stabil

d. Minat belajar yang rendah

Setelah dianalisis dengan skor pengukuran diperoleh hasil 52,6%. Hasil tersebut setelah dikonfirmasi dengan criteria pengukuran mamiliki arti bahwa factor siswa memberikan kontribusi yang tinggi pada factor – factor penebab kesulitan belajar siswa kelas XI3 SMK Kesuma Margoyoso.

2. Sub variable faktor sekolah memiliki skor total 705 dari 10 item yang meliputi indikator : a. Cara guru mengajar

b. Suasana kelas c. Waktu sekolah d. Fasilitas sekolah

Setelah dianalisis dengan skor pengukuran diperoleh hasil 44,1%. Hasil tersebut setelah di konfirmasikan dengan kriteria pengukuran memiliki barti bahwa faktor sekolah memberikan kontribusi yang sedang pada faktor - faktor penyebab kesulitan belajar siswa kelas XI3 SMK Kesuma Margoyoso Kabupaten Pati Tahun Pelajaran 2011/2012.

(15)

3. Sub variabel Merancang faktor keluarga dan lingkungan masyarakat memiliki skor total 883 dari 10 item yang meliputi indikator :

a. Sarana belajar b. Perhatian orang tua c. Lingkungan tempat tinggal

Setelah dianalisis dengan skor pengukuran diperoleh hasil 55,2%. Hasil tersebut setelah dikonfirmasi dengan criteria pengukuran mamiliki arti bahwa factor siswa memberikan kontribusi yang tinggi pada faktor – faktor penyebab kesulitan belajar siswa kelas XI3 SMK Kesuma Margoyoso. Hal tersebut di akibatkan karena sebagian siswa berasal dari kalangan menengah kebawah yang tentu saja memiliki sarana belajar yang seadanya, perhatian orang tua yang kurang, dan lingkungan tempat tinggal yang tidak mendukung untuk belajar.

DAFTAR PUATAKA

Banun Sri Haksasi. 2006. Instrumentasi Bimbingan dan Konseling Non tes. IKIP Veteran, Semarang Buku Panduan IKIP Veteran Semarang tahun ajaran 2007 – 2008

Dalyono, M. 2001. Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta

Dimyati, Mudjiyono. 1992. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta, Jakarta

Max Darsono dkk, 2000. Belajar dan Pembelajaran. IKIP Semarang Press. Semarang

Mungin Edi W, Martensi. 1980. Identifikasi Kesulitan Belajar. FIP-IKIP Semarang, Semarang Mustaqim, Abdul Wahid. 2003. Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta, Jakarta

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta, Bandung

Suharsimi Arikunto, 1992 Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Jakarta : Rineka Cipta

Supa’at, 2008. Hubungan Kedisiplinan Siswa Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas I Program Studi Produktif Teknik Mesin Fabrikasi Logam Dasar Di SMK Ma’arif NU 02 Rowosari Kendal . unpublished Paper. FPTK IKIP Veteran Semarang

Suryaputra N Awangga. 2007 Desain Proposal Penelitian. Pyramid Publisher, Jogjakarta Sri Redjeki. 2008. Penulisan Karya Ilmiah. Widyasari, Salatiga

Tim MKDK IKIP Semarang, 1996, Belajar dan Pembelajaran

Gambar

Tabel 1.Data Uji Validitas Butir Instrument Penelitian
Tabel 2 Kondisi Fisik Siswa
Tabel 4 Emosi yang tidak stabil
Tabel 5 Minat Belajar yang Rendah
+6

Referensi

Dokumen terkait

Dari uraian latar belakang masalah dan identifikasi masalah serta keterbatasan penulis dalam kemampuan, waktu dan dana, maka yang terjadi batasan masalah adalah

Faktor siswa yang menyebabkan kesulitan belajar chassis dan pemindah tenaga hendaknya menjadi referensi untuk lebih mengembangkan perlakuan kepada siswa untuk bisa

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa agar interaksi guru dan peserta didik dalam pembelajaran dapat berjalan dengan baik, maka guru harus mempunyai kompetensi : (1)

Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan penarikan kesimpulan melalui analisis statistik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa

Data yang diperoleh dari hasil penelitian diolah dengan mengunakan teknik analisis deskriptif dan analisis inferensial.Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) etos

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dengan pendekatan kuantitatif yaitu suatu bentuk metode penelitian yang

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitiannya adalah deskriptif kualitatif, karena tujuan penelitian ini untuk mencari tahu tentang

Faktor sekolah, meliputi 1 Perhatian belajar terhadap guru dalam belajar 2 Metode belajar yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran 3 Buku pelajaran 4 Motivasi yang diberikan oleh