1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Aksara adalah simbol visual yang berguna untuk mengungkapkan ekpresi dalam bahasa, yang umumnya tertera pada kertas, batu, kayu, daun, kain, dan sebagainya. Aksara menjadi bukti nyata adanya zaman terdahulu sebelum adanya bangsa Indonesia. Dengan aksara, kita dapat mempelajari sejarah nenek moyang melalui prasasti-prasasti peninggalan zaman kerajaan. Dr. Endang Turmudi, MA, selaku Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB) LIPI dalam artikel di lipi.go.id dengan judul “Terungkap, Hanya Sembilan Bahasa Etnis yang Memiliki Sistem Aksara” pada 9 Desember 2013, mengatakan bahwa aksara hadir sebagai fasilitas untuk merekam bahasa secara konseptual dalam media selain lisan. Hal ini penting dilakukan untuk merevitalisasi aksara daerah sehingga generasi mendatang tidak kehilangan identitas budaya dari daerahnya sendiri.
Indonesia hanya memiliki sembilan bahasa etnis saja dengan sistem aksara, dan Lampung adalah salah satu etnis dan provinsi yang patut berbangga setelah Aceh, Batak, Melayu, Jawa, Bali, Bugis, Sunda, dan Sasak. Pemuka adat Lampung telah membakukan Aksara Lampung secara resmi sejak 23 Februari 1985 di Bandar Lampung. Bahkan aksara Lampung juga dimuat di ensiklopedia online sistem penulisan dan bahasa, omniglot.com. Aksara Lampung diperkirakan masuk ke daerah Sumatera bagian selatan pada zaman kerajaan Sriwijaya (700-1300). Huruf Pallawa dan Huruf Arab adalah dua unsur yang mempengaruhi Aksara Lampung. Hal ini karena aksara Lampung atau biasa disebut Had Lampung berasal dari perkembangan aksara Devanagari yang lengkapnya dinamakan Dewdatt Deva Nagari atau aksara Pallawa dari India Selatan. Huruf induk Lampung yang disebut kelabai surat, berbentuk suku kata seperti halnya aksara Jawa ca-ra-ka, lalu menggunakan tanda baca yang disebut anak huruf yang berfungsi sama pada tanda fathah dan kasrah pada huruf arab.
2 Had Lampung terdiri dari 20 huruf induk, yakni
ka-ga-nga-pa-ba-ma-ta-na-ca-janya-ya-a-la-ra-sa-wa-ha-gha. Serta atribut lain seperti anak
huruf, angka, dan tanda baca yang ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan seperti huruf latin.
Kini, aksara Lampung sudah semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung baik di kota maupun di daerah. Jumlah penduduk asli Lampung yang lebih sedikit dibanding jumlah suku pendatang juga menjadi salah satu alasannya. Menurut Badan Pusat Statistik tahun 2012, suku terbesar yang ada di Lampung adalah suku Jawa sejumlah 64.1% sedangkan suku asli Lampung sendiri berjumlah 13.6%. Aksara Lampung pun hanya sebatas digunakan pada dan atau sebagai nama bangunan, gedung, nama jalan, penunjuk jalan, iklan, nama komplek permukiman dan lainnya sesuai bunyi Peraturan Daerah nomor 8 Tahun 2008 tentang pemeliharaan budaya Lampung bab IV pasal 6. Ini memang merupakan salah satu langkah konkret pemerintah untuk mempertahankan aksara Lampung. Akan tetapi, peraturan ini tidak diiringi dengan dukungan dari masyarakat Lampung sendiri. Karena masih banyak masyarakat yang tidak dapat membaca dan menulis aksara Lampung, bahkan masyarakat yang merupakan keturunan asli suku Lampung. Masyarakat Lampung lebih sering menggunakan huruf latin karena dianggap lebih mudah dipahami dan diaplikasikan dibanding aksara Lampung. Jika keadaan ini terus terjadi secara berangsur-angsur, aksara Lampung yang merupakan kebanggaan masyarakat Lampung ini mungkin saja hanya menjadi bagian dari sejarah sastra di Indonesia jika keberadaannya tidak dilestarikan.
Remaja terutama remaja Lampung merupakan generasi penerus yang diharapkan perannya akan sangat besar dalam upaya menjaga eksistensi aksara Lampung tersebut. Jika dibandingkan dengan masyarakat Lampung yang telah berusia lanjut, remaja Lampung dianggap masih sangat mampu dan aktif menerima sekaligus menerapkan pembelajaran aksara Lampung dalam kehidupan sehari-hari, bahkan melalui berbagai cara yang lebih kreatif dan modern. Namun sayangnya, pembelajaran mengenai aksara Lampung yang didapat oleh remaja Lampung terhenti hanya pada
3 pelajaran formal yang didapatkan di sekolah dan jika tidak sering dipraktikan dalam kesehariannya maka remaja Lampung lambat laun menjadi lupa ketika mata pelajaran yang mempelajari aksara Lampung sudah tidak ada di satuan tingkat pendidikan yang mereka jalani. Hal ini didukung pula oleh pernyataan Drs. Agus Sri Danardana, M.Hum, selaku mantan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung, yang dimuat pada situs radarlampung.co.id dengan judul “Menyambut Kepunahan Bahasa Lampung Ironi Bulan Bahasa” diperbaharui pada 24 Juni 2015, bahwa siswa mahir membaca dan menulis dalam aksara Lampung ketika di sekolah. Tetapi setelah siswa lulus dari SD dan SMP, dapat dipastikan mereka lupa kembali akan aksara-aksara tersebut.
Di provinsi Lampung, mata pelajaran yang mempelajari aksara Lampung ada di dalam pelajaran muatan lokal (mulok) bahasa dan aksara Lampung, pelajaran ini selalu ada di satuan tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) namun tidak begitu halnya ketika di Sekolah Menengah Atas (SMA). Mata pelajaran mulok bahasa Lampung ini sempat hilang dari kurikulum SMA sekitar tahun 2004 sampai 2013. Kemudian pemerintah daerah mengeluarkan Pergub Nomor 39 Tahun 2014 tentang Mata Pelajaran Bahasa dan Aksara Lampung sebagai Muatan Lokal Wajib pada Jenjang Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang berarti pelajaran mulok kembali diadakan di SMA. Namun ternyata, pada jenjang ini aksara Lampung tidak lagi dipelajari, melainkan diganti dengan materi mengenai sejarah-sejarah provinsi Lampung.
Berdasarkan fakta-fakta mengenai pembelajaran aksara Lampung di sekolah tersebut, maka terdapat pula dampak kurang baik yang dirasakan yaitu semakin sedikitnya remaja Lampung yang mahir membaca dan menulis aksara Lampung. Mereka melupakan aksara Lampung sebagai aksara daerah mereka, dan sayangnya hingga kini belum ada media yang dapat membantu remaja Lampung untuk mengingatkan kembali akan aksara Lampung tanpa harus melalui pelajaran formal di sekolah. Sehingga kehadiran sebuah media pembelajaran aksara Lampung yang menarik dan sesuai untuk remaja sangat didambakan.
4
1.2 Permasalahan 1.2.1 Identifikasi Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang, penulis mengidentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Masyarakat semakin jarang menggunakan aksara Lampung dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan karena sedikitnya masyarakat yang masih fasih dalam membaca dan menulis aksara Lampung
2. Setelah menyelesaikan pembelajaran formal pada tingkat pendidikan SD & SMP, banyak remaja yang melupakan aksara Lampung
3. Media edukasi yang ada belum sesuai dan belum dapat membantu mengingatkan.
1.3 Rumusan Masalah
Kemudian berdasarkan identifikasi masalah sebelumnya, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perancangan media bagi remaja Lampung untuk mempelajari aksara Lampung yang sesuai dengan keilmuan desain komunikasi visual?
1.4 Ruang Lingkup
Perancangan yang akan dibahas dalam penelitian ini akan dibatasi sesuai kebutuhan, dengan rincian sebagai berikut:
1. Apa
Penulis akan menerapkan konten mengenai aksara Lampung pada perancangan untuk remaja
2. Bagian Mana
Perancangan media edukasi ini akan membahas aksara Lampung pada bagian huruf induk, anak huruf, dan angka.
5 3. Tempat
Media ini akan diujicobakan di gerai tempat berkumpulnya kawula muda di Bandar Lampung sebagai sampel penelitian lebih lanjut.
4. Waktu
Pengumpulan data dilakukan pada bulan Januari – April 2018 dilanjutkan dengan proses perancangan media pada bulan Mei – Juni 2018. Hasil perancangan tersebut memasuki tahap produksi dan akan diujicobakan pada bulan Juli 2018.
1.5 Tujuan Perancangan
Penulis melakukan perancangan media edukasi aksara Lampung dengan tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui jenis media yang menarik minat remaja Lampung untuk mempelajari aksara Lampung
1.6 Cara Pengumpulan Data & Analisis 1.6.1 Cara Pengumpulan Data
Metode yang penulis lakukan untuk pengumpulan data adalah metode kualitatif dengan cara observasi, wawancara, dan studi pustaka yang akan dijelaskan lebih rinci sebagai berikut.
1. Observasi
Observasi atau pengamatan bebas akan dilakukan dengan mengunjungi sebuah gerai pangan yaitu Warunk Upnormal Bandar Lampung guna mengamati kebiasaan remaja ketika berkumpul pada forum non formal dan media apa yang digunakan dalam berinteraksi. Observasi dilakukan selama dua jam pada jam makan siang dan makan malam di akhir pekan.
6
2. Wawancara
Wawancara dilakukan penulis agar mendapatkan informasi dan data yang valid sesuai dengan keadaan lapangan. Dalam hal ini, yang menjadi narasumber yaitu guru mata pelajaran bahasa & aksara Lampung SMAN 1 Sekampung Udik yaitu Ibu Maymanah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung yaitu Ibu Intan Primasari , serta target audiens di trmpat observasi.
3. Studi Pustaka
Sumber data pendukung didapat dari berbagai referensi lainnya seperti buku, website, ataupun artikel pada portal berita online mengenai board game. Hal ini bertujuan agar penulis mendapatkan informasi lebih yang mampu menunjang topik penelitian.
1.6.2 Cara Analisis
Semua data yang telah didapat dari hasil observasi, wawancara, dan studi pustaka akan dianalisis menggunakan metode analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threats). Metode analisis tersebut dipopulerkan pertama kali oleh Albert S Humprey (1996). Melalui analisis tersebut, penulis akan bisa melihat kelebihan, kekurangan, kesempatan serta ancaman pada perancangan media permainan dan pembelajaran ini sehingga bisa menemukan inovasi dan perkembangan pada karya yang sudah dirancang.
7
1.7 Kerangka Perancangan
Gambar 1.1 Konsep Perancangan (sumber: Farah Andri NR, 2018)
Topik
Perancangan media permainan & pembelajaran dengan materi aksara Lampung untuk remaja
Fenomena
Aksara Lampung merupakan salah satu aksara daerah yang harus dilestarikan
Latar Belakang Remaja Lampung selepas tingkat
satuan pendidikan SMP pasti melupakan aksara Lampung karena
tidak dipelajari kembali di sekolah ataupun diterapkan di kehidupan
sehari-hari
Masalah
Bagaimanakah perancangan media yang tepat bagi remaja Lampung agar tidak mudah melupakan aksara
Lampung?
Observasi Tempat remaja
bersosialisasi, media apa yang sering digunakan
dan remaja itu sendiri Wawancara
Guru mata pelajaran bahasa & aksara Lampung SMAN 1 Sekampung Udik Dinas Pendidikan & Kebudayaan
Provinsi Lampung Target audiens
Analisis Data
Konsep Media
Membuat perancangan media yang sesuai dengan remaja untuk mempelajari aksara Lampung Studi Pustaka
Buku pembelajaran dan kamus bahasa &
aksara Lampung Artikel pada portal
8
1.8 Pembabakan
1. Bab I Pendahuluan
Berisi penjelasan mengenai latar belakang mengapa penulis memilih sebuah topik yang menjelaskan gambaran secara umum terkait permasalahan dan fenomena yang terjadi, kemudian difokuskan pada identifikasi masalah dan perumusan masalah. Pada bab ini dijelaskan pula ruang lingkup permasalahan sehingga tugas akhir mempunyai batasan dalam proses pengerjaannya, metode pengumpulan data dan analisis, kerangka perancangan sebagai pedoman selama proses penelitian, serta pembabakan sebagai gambaran singkat setiap bab yang ada pada perancangan tugas akhir.
2. Bab II Dasar Pemikiran
Memaparkan teori – teori yang relevan dari berbagai sumber yang dapat digunakan sebagai acuan dalam perancangan berdasarkan fenomena dan permasalahan yang diambil.
3. Bab III Data dan Analisis Masalah
Menguraikan data-data yang didapatkan dari hasil observasi, wawancara, dan studi pustaka yang telah dilakukan kemudian menyajikan hasil analisisnya dengan menggunakan teori yang sebelumnya sudah dipilih dan dipaparkan pada Bab II.
4. Bab IV Konsep dan Hasil Perancangan
Menjelaskan konsep perancangan yang terdiri dari konsep komunikasi, konsep kreatif, konsep media, konsep konten, dan konsep visual. Sekaligus menampilkan hasil perancangan mulai dari sketsa hingga penerapan visual yang sudah teraplikasi pada media tujuan.
5. Bab V Penutup