• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN METODE TARGET COSTING DALAM PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN METODE TARGET COSTING DALAM PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN METODE TARGET COSTING DALAM PERHITUNGAN

HARGA POKOK PRODUKSI

Erni Apriyanti

[email protected]

Yuliastuti Rahayu

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

ABSTRACT

This research is meant to give description and information about the implementation of target costing method in the calculation of cost production at PT Semen Gresik (Persero) in cement price per sack. The research subject is PT Semen Gresik (Persero) and the research object is carried out in the form of documents records of consolidation financial statement, cost production achievement percentage, cost production components, operational overview and approach by using qualitative research with descriptive study. The data collection technique is originated from the primary and secondary data in which the primary data is based on the direct information with the head of cost accounting bureau while the secondary data is based on the related documents record in this research. The result of the research shows that in conducting the implementation analysis of target costing in the calculation of production base price shows that the planning of RKAP as the result of the cost enhancement in the production process so the determination of selling price of cement per sack after the mark up has been done, it also undergoes enhancement in order to be able to compete with the similar product.

Keywords: Target Costing, Production Cost, Price Determination

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran dan informasi tentang penerapan metode target costing dalam perhitungan biaya produksi pada PT. Semen Gresik (Persero) dalam harga semen perzak. Subyek yang diteliti adalah PT. Semen Gresik (persero) dan obyek penelitian dilakukan berupa catatan dokumen-dokumen pada berupa laopran keuangan konsolidasi,persentase pencapaian biaya produksi, kompponen biaya produksi, ikhtisar operasional dan pendekatan yang digunakan menggunakan penelitian kualitatif dengan studi deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan bersumber dari data primer dan data sekunder. Dimana data primer didapat berdasarkan informasi langsung dengan pimpinan biro akutansi biaya, sedangkan data sekunder didapat berdasarkan catatan dokumen yang terkait dalam penelitian. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam melakukan analisa penerapan target costing pada perhitungan harga pokok produksi menunjukkan kenaikan dari perencanaan RKAP akibat adanya peningkatan biaya dalam proses produksi sehingga penetapan harga jual perzak semen setelah dilakukan mark up juga mengalami peningkatan untuk dapat bersaing dengan produk sejenis.

(2)

PENDAHULUAN

Dalam era globalisasi perkembangan dunia usaha semakin meningkat, hal ini terlihat dari banyaknya aktifitas usaha terutama dalam hal perindustrian. Dalam dunia industri sering terjadi persaingan dalam menciptakan dan memperkenalkan produk–produk ungulan dari masing–masing perusahaan. Keunggulan yang dimiliki perusahaan untuk memenangkan suatu persaingan dapat mempermudah perusahaan dalam mencapai tujuan utama perusahaan yaitu memperoleh laba. Namun kelangsungan hidup dari perusahaan dapat dipertaruhkan ketika perusahaan tidak dapat mengatisipasi pasar yang kompetitif. Maka perusahaan harus benar–benar dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dengan mengatisipasi pasar yang kompetitif.

Antisipasi pasar dapat dilakukan dengan menganalisis kekuatan perusahaan. Keunggulan perusahaan dapat digambarkan dengan produk unggulan dengan produk yang dapat memperhatikan harga jual, kualitas, dan fungsional produk yang diterima pasar.

Berkaitan dengan penentuan harga jual, dimana yang harus diperhatikan dengan adanya persaingan yang semakin ketat dan kompetitif membuat penetapan harga jual menjadi tidaklah mudah. Harga jual kerap ditentukan oleh pasar, sehingga harga pasar (market price) digunakan untuk menentukan target biaya yang disesuaikan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam produksi.

Harga jual yang rendah sering kali menjadi daya tarik tersendiri bagi pasar, hal ini diperkuat dengan banyaknya fakta tentang produk yang mendominasi pasar adalah harga jual yang rendah, karena dengan harga jual yang rendah akan menghasilkan laba dibandingkan dengan kualitas. Dalam memperoleh produk unggulan dan menetapkan harga jual yang kompetitif perusahaan dapat memfokus pada harga pokok produksi. Harga pokok produksi adalah biaya-biaya yang timbul karena adanya aktivitas produksi. Proses produksi suatu perusahaan akan mengeluarkan biaya-biaya yang akan digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa. Biaya-biaya yang timbul tersebut dinamakan biaya produksi. Dimana biaya produksi terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

Target costing merupakan penentuan biaya maksimum yang dimungkinkan bagi

pembuatan sebuah produk dan kemudian merancang prototipe yang menguntungkan dengan kendala biaya maksimum yang telah ditetapkan. Mengingat begitu penting masalah

target costing, maka hal ini perlu diperhatikan oleh perusahaan PT. Semen Gresik (persero)

Tbk, dimana dalam menjalankan kegiatan produksi semen, maka perusahaan perlu menerapkan target costing dalam produksinya. Tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan dengan menerapkan target costing adalah untuk menentukan harga pokok produk sesuai dengan yang diinginkan (target) sebagai dasar penetapan harga jual produk untuk memperoleh laba yang diinginkan oleh perusahaan.

Agar dapat bersaing dalam pasar saat ini, perusahaan harus dapat menciptakan suatu produk baik barang maupun jasa yang harganya lebih rendah atau harganya sama dengan harga yang ditawarkan para pesaingnya. Untuk dapat memperoleh produk seperti itu, perusahaan harus berusaha mengurangi biaya yang harus dikeluarkan pada proses porduksinya. Konsep target costing sangat sesuai sejalan dengan meningkatnya persaingan serta tingkat penawaran yang jauh melampaui tingkat permintaan, maka kekuatan pasar memberi pengaruh yang semakin besar terhadap tingkat harga. Untuk itulah diperlukan

target costing untuk dapat mencapai tujuan perusahaan dalam rangka pengurangan biaya

(cost reduction), yang pada akhirnya akan membawa dampak terhadap tingkat harga yang kompetitif.

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan informasi tentang penerapan metode target costing dalam pengelolaan biaya produksi pada PT Semen Gresik (persero) Tbk dalam penentuan harga jual semen perzak.

(3)

TINJAUAN TEORETIS DAN HIPOTESIS Teori Biaya (Cost Theory)

Dalam bidang akuntansi terdapat istilah-istilah biaya, beban, dan harga perolehan. Harga perolehan merupakan harga perolehan aktiva tetap meliputi semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aktiva tetap tersebut sehingga siap untuk dipakai dalam kegiatan normal perusahaan, yang tergolong kedalam kelompok harga perolehan adalah harga beli dan pengorbanan lainnya yang dilakukan untuk mempersiapkan aktiva yang bersangkutan sampai siap digunakan. Beban merupakan biaya yang tidak dapat memberikan manfaat di masa yang akan datang atau identik dengan biaya atau harga perolehan yang sudah habis masa manfaatnya. Berkenaan dengan batasan yang terakhir ini dimana terdapat biaya yang langsung diperlakukan sebagai beban dalam pelaporan keuangan konvensional, maka istilah biaya sering digunakan secara bergantian dengan istilah beban.

Biaya adalah sebagai nilai tukar, pengeluaran, pengorbanan untuk memperoleh manfaat. Dalam akuntansi keuangan, pengeluaran atau pengorbanan pada saat diakuisisi diwakili oleh penyusutan saat ini atau dimasa yang akan datang dalam bentuk kas atau aktiva lain (Carter dan Usry, 2004:29) dan adapula yang berpendapat bahwa biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. (

Mulyadi

, 2005)

Sedangkan pengertian biaya dalam arti luas adalah penggunaan sumber-sumber ekonomi yang diukur dengan satuan mata uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk obyek atau tujuan tertentu. Misal biaya tenaga kerja, adalah merupakan penggunaan sumber ekonomi (berupa tenaga kerja) yang dinyatakan dengan satuan uang dengan tujuan untuk menghasilkan suatu produk (jasa) atau untuk kegiatan produksi (Mardiasmo, 1994:9). Sedangkan menurut pendapat lain biaya merupakan kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan membawa keuntungan masa ini dan masa datang untuk organisasi. (Hansen dan Mowen, 2006:40)

Biaya dikeluarkan untuk menghasilkan manfaat di masa depan. Dalam perusahaan penghasil laba, manfaat di masa depan biasanya berarti pendapatan. Karena biaya digunakan dalam memperoleh pendapatan, biaya ini dimaksudkan untuk biaya yang digunakan disebut beban. Adapula yang beranggapan bahwa “biaya adalah pengorbanan sumber daya untuk mencapai suatu tujuan tertentu.” (Witjaksono, 2006:6)

Berdasarkan beberapa pengertian tentang biaya dari para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa biaya merupakan pengorbanan yang dapat diukur dengan nilai satuan uang dan pengorbanan tersebut dilakukan untuk mendapatkan manfaat pada masa yang akan datang.

Klasifikasi Biaya

Informasi biaya disajikan untuk memenuhi keperluan pemakainya. Penggunaan informasi biaya harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan informasi biaya oleh pemakainya. Teknik penyajian informasi biaya berpedoman pada konsep “different

classification of costs for different purpose”. Artinya, untuk tujuan penggunaan informasi biaya

yang berbeda, diperlukan klasifikasi biaya yang berbeda pula. Dengan demikian, suatu klasifikasi biaya tidak dapat digunakan untuk memenuhi berbagai tujuan. jika pemakaian memerlukan informasi biaya untuk tujuan yang berbeda-beda, maka diperlukan informasi biaya dalam klasifikasi yang berbeda-beda pula sesuai dengan tujuan penggunaan informasi biaya.

(4)

Carter dan Usry (2004:40) berpendapat bahwa klasifikasi biaya sangat penting guna membuat ikhtisar yang berarti atas data biaya. Klasifikasi yang paling umum digunakan berdasarkan pada hubungan antara biaya, antara lain:

1. Klasifikasi Biaya dalam Hubungan Antara Biaya dengan Produk

2. Klasifikasi Biaya dalam Hubungan Antara Biaya dengan Volume produksi

3. Klasifikasi Biaya dalam Hubungan Antara Biaya dengan Departemen Produksi atau Segmen Lain.

4. Klasifikasi Biaya dalam Hubungan Antara Biaya dengan Periode akuntansi

5. Klasifikasi Biaya dalam Hubungan Antara Biaya dengan Suatu Keputusan, Tindakan, atau Evaluasi.

Harga Pokok Produksi

biaya produksi adalah biaya produksi itu sendiri mencakup semua biaya yang terkait

dengan pemerolehan atau pembuatan suatu produk. (Garrison et al.,2006), adapula yang

berpendapat bahwa

harga pokok produksi meliputi keseluruhan bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik yang dikeluarkan untuk memproduksi barang atau jasa. Penetapan jumlah harga pokok produksi diawali dengan jumlah harga pokok produksi barang dalam proses pada awal periode. (Raybun, 1999:31)

Unsur-unsur Harga Pokok produksi

Unsur-unsur harga pokok produksi adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya tidak langsung pabrik atau biaya overhead pabrik

.

Berikut ini penjelasan unsur-usur harga pokok produksi atau biaya produksi, antara lain:

1.

Biaya Bahan Baku

Bahan baku merupakan bahan yang dapat diidentifikasikan secara langsung dengan produk yang dihasilkannya, nilainya relative besar, dan umumnya sifat bahan baku masih melekat pada produk yang dihasilkannya. (Mardiasmo, 1994:45) biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan barang dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai. (

Ikatan Akuntan

Indonesia

, 2002:14)

2.

Biaya Tenaga Kerja

Definisi tenaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan tenaga kerja manusia tersebut. (Mulyadi, 2001:343) istilah biaya tenaga kerja digunakan untuk pembayaran kompensasi kepada tenaga kerja yang bekerja dalam fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi umum. Biaya tenaga kerja pada fungsi produksi diklasifikasikan atas biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung. (Mardiasmo, 1994:63-64)

3.

Biaya Overhead Pabrik

Biaya overhead pabrik merupakan biaya bahan tidak langsung, biaya tenaga kerja tidak langsung dan semua biaya pabrik lainnya yang tidak dapat dibebankan langsung ke produk. (Sidharta danYessica, 2008) selain itu juga biaya overhead pabrik adalah termasuk seluruh biaya yang tidak termasuk dalam bahan langsung dan tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik termasuk bahan tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung, pemeliharaan dan perbaikan peralatan produksi, listrik dan penerangan, pajak properti, depresiasi, dan asuransi fasilitas-fasilitas produksi. (Garrison et al., 2006)

Penetapan Harga Jual

penetapan harga jual adalah proses penentuan apa yang akan diterima suatu perusahaan dalam penjualan produknya. (Grifin dan Ebert, 2006:20)

(5)

Nurmawan (dalam Apriyono,2007) berpendapat bahwa ada sejumlah cara dalam menetapkan harga, tetapi cara apapun yang digunakan seharusnya memperhitungkan faktor-faktor situasional. Faktor-faktor itu meliputi:

1.

Strategi perusahaan dan komponen-komponen lain didalam bauran pemasaran.

2.

Perluasan produk sedemikian rupa sehingga produk dipandang berbeda dari produk-produk lain yang bersaing dalam mutu atau tingkat pelayanan konsumen.

3.

Biaya dan harga pesaing.

4.

Ketersediaan dan harga dari produk pengganti.

Pengertian Target Costing

Target costing adalah metode yang paling baik digunakan selama costlife cycle. Cost

life cycle adalah urutan aktivitas dalam perusahaan yang dimulai dari riset dan

pengembangan tingkat pelayanan sampai pada pelanggan. (Blocher et al., 2000:169)

Target Costing adalah suatu metode penentuan biaya produk atau jasa yang didasarkan pada harga (target price) yang diperkirakan dapat diterima oleh konsumen. (Mulyadi, 2007:421) Jadi target costing adalah metode penentuan biaya produksi dimana perusahaan terlebih dahulu menentukan biaya produksi yang harus dikeluarkan berdasarkan harga kompetitif, dengan demikian perusahaan memperoleh laba yang diharapkan. Berikut ini adalah rumusan sederhana dari target costing :

Blocher et al. (2008:618-619) berpendapat bahwa perusahaan mempunyai dua pilihan untuk menurunkan biaya sampai pada target biaya sebagai berikut:

a. Dengan cara mengintegrasikan teknologi produksi baru, menggunakan teknik-teknik manajemen biaya yang canggih seperti perhitungan biaya berdasarkan aktivitas

(activity-based costing), dan mencari produktivitas yang lebih tinggi.

b. Dengan melakukan desain ulang terhadap barang atau jasa. Metode ini menguntungkan bagi banyak perusahaan karena mengakui bahwa keputusan-keputusan atas desain sangat mempengaruhi total biaya selama siklus hidup produk. Dengan pemberi perhatian yang cermat pada desain, menurunkan biaya total secara signifikan adalah hal yang mungkin.

Karakteristik Target Costing

Target costing adalah metode penghitungan selisih antara harga jual yang diperlukan

untuk sesuai dengan market share yang dikehendaki dan keuntungan yang diinginkan oleh

perusahaan. Apabila biaya target (target cost) lebih kecil dibanding dengan biaya yang

dkeluarkan selama satu periode, maka manajemen anggaran harus berusaha untuk

mengarahkan biaya aktual mendekati target biaya atau manajemen harus menghilangkan

biaya yang dianggap tidak penting dan tidak berpengaruh terhadap produksi produk.

Supriyono (1997:155) berpendapat bahwa Karakteristik target costing adalah sebagai berikut:

a. Target costing diterapkan dalam tahap pengembangan dan perencangan serta costing ini

berbeda dari system pengendalian biaya standar yang diterapkan dalam tahap produksi. b. Target costing bukan merupakan metode manajemen untuk pengendalian biaya dalam

pemikiran tradisional, namun salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi biaya. c. Dalam proses penentuan biaya target, banyak metode ilmu manajemen digunakan, sebab

tujuan manajerial penentuan biaya target meliputi teknik-teknik pengembangan dan perancangan produk.

d.

Kerjasama banyak departemen diperlukan dalam melaksanakan target costing.

(6)

Peran Target Costing Dalam Penetapan Harga

Penetapan harga bukan masalah yang sederhana, kesalahan dalam pengambilan keputusan harga akan berakibat fatal bagi perusahaan, sebab perubahan terhadap harga dapat mempengaruhi persepsi customer. Manajemen dapat menggunakan pendekatan ekonomi mikro dalam penetapan harga, namun karena kurva permintaan tidak selamanya diketahui, banyak perusahaan yang menggunakan metode cost plus pricing dalam penetapan harga.

Di era global ini, disamping jumlah pesaing meningkat, intensitas persaingan juga meningkat. Dalam kondisi ini, perusahaan yang mampu bertahan hanya perusahaan yang dapat menghasilkan produk yang mengandung customer value. Customer sebagai pemegang kendali pasar, yang akan menentukan produk yang mereka butuhkan. Untuk itu dalam penetapan harga atas dasar kos, dalam kondisi perusahaan tidak efisien, akan mengakibatkan harga lebih tinggi dari harga para pesaing, hal ini tentu akan menurunkan

customer value.

Target costing merupakan pendekatan dalam menentukan kos produk atas dasar

harga target yang dapat dibayar customer, metode ini disebut juga price driven costing. Target

costing merupakan sistem untuk mendukung proses reduksi kos pada tahap pengembangan

dan perancangan produk baru, perubahan model, baik secara penuh maupun secara sebagian. Sulastiningsih dan Zulkifle (2006:298) berpendapat bahwa

implementasi target

costing memerlukan tiga tahap, yaitu:

a. Merencanakan produk baru yang memuaskan customer,

b. Menentukan kos produk berdasarkan harga jual target, yaitu harga yang dapat dibayar oleh para customer,

c. Merealisasikan kos target dengan perekayasaan nilai (value engineering). Target cost adalah harga jual yang dapat dibayar customer dikurangi dengan target laba

Prinsip-prinsip Bagi Penerapan Target Costing

Target costing adalah suatu proses yang sistematis yang menggabungkan manajemen

biaya dan perencanaan laba. Perhitungan biaya target (target costing) menjadi suatu pendekatan khusus yang berguna untuk pembuatan tujuan penurunan biaya.

Priyadi (2006:250) berpendapat bahwa secara konseptual ada lima prinsip penerapan

target costing, yaitu:

a. Price Led Costing

Target price (competitive market price) akan mempengaruhi target cost dengan mengeluarkantarget profit dari target price. Target price dikendalikan oleh situasi dipasar dan target profit ditentukan oleh efektivitas pengelolaan keuangan perusahaan dan industrinya sehingga target costing menunjukkan standar pergerakan pasar (market driven

standard), yaitu harga pasar kompetitif dikurangi dengan target laba sama dengan target

biaya (harga pokok) yang diperkenankan. b. Focus On Customer

Pengembangan produk dilakukan apabila produk tersebut memenuhi harapan pelanggan. Harapan pelanggan atas kualitas, biaya, dan waktu secara simultan diintegrasikan kedalam keputusan produk, proses dan mengarahkan ke analisis biaya.

c. Focus On Design And Life Cycle Orientation

Sistem target costing mempertimbangkan prancangan produk dan proses sebagai focus terhadap manajemen biaya. Pengaruh perancangan atas biaya dari penelitian dan pengembangan sampai dispotition yang memungkinkan upaya pengurangan biaya sepanjang siklus hidup suatu produk secara keseluruhan.

(7)

d. Cross Functional Involvement

Target costing melibatkan pihak intern dan ekstern secara lintas fungsi, mulai dari bagian riset dan pengembangan, desain dan rekayasa, produksi, pemasaran, pengadaan bahan, akutansi biaya, jasa dan pendukung sampai dengan pelanggan, diler distributor dan penyedia jasa purna jual.

e. Value Chain Involvement

Target costing mengembangkan usaha pengurangan biaya sepanjang lantai nilai dengan mengembangkan hubungan kerja sama jangka panjang dengan seluruh bagian perusahaan yang diperluas termasuk dengan pemasok dan pelanggan.

Penelitian Terdahulu

Penerapan Metode Target Costing sebagai Alat Bantu Manajemen dalam Mengoptimalkan Perencanaan Laba (Studi Kasus PT XYZ)

Himawan dan Pendajaya (2005) menyatakan bahwa dengan cara membandingkan metode

drifting cost dan Target Costing untuk melihat apakah drifting cost dapat mencapai target cost

kemudian proses value engineering dilakukan untuk mengupayakan pengurangan biaya. Melalui proses value engineering, penerapan metode target costing dapat menghasilkan penghematan biaya produksi sebesar Rp10.789.466.075,00. Drifting cost yang sebelumnya Rp10.362.694,00 dapat ditekan menjadi Rp9.971.772,00 atau lebih kecil dari target cost sebesar Rp9.987.600,00. Dengan penghematan tersebut laba target yang direncanakan untuk Motor X dapat dioptimalkan menjadi 18,13% dari perencanaan sebelumnya sebesar 18% per unit produk.

Peranan Target Costing dalam Pengendalian Biaya Produksi (Studi Kasus pada CV Bandung Mulia)

Tandiontong dan Anggraini (2011)

menyatakan bahwa

penelitian ini dilakukan untuk

mengetahui bagaimana peranan target costing dalam pengendalian biaya produksi, dengan

melakukan perhitungan target costing ini dapat memberikan informasi kepada manajemen

untuk memutuskan apakah akan meneruskan memproduksi produk-produk tersebut tetapi

dengan mengefisienkan biayanya atau dengan cara lain yakni mengganti produk tersebut

dengan variasi jenis produk baru (misalnya memproduksi celana jeans).

Pendekatan Target Costing Sebagai Alat Penilaian Efisiensi Produksi Pada PT. Tropica Cocoprima

Gerungan (2013)

menyatakan bahwa

penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana

peranan target costing dapat dijadikan sebagai alat penelian efisiensi dalam proses produksi,

dengan membandingkan antara total biaya menurut perusahaan dengan menurut target

costing, menurut peneliti dengan target costing, diketahui lebih efisien menggunakan target

costing, dimana perusahaan dapat memperoleh penghematan biaya tahun 2011 sebesar

18,21%, dan tahun 2012 sebesar 2,70%.

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi merupakan wilayah generalisasi terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti subjek penelitian dilakukan pada PT Semen Gresik (persero). Teknik pengambilan data yang digunakan bersumber dari data primer dan data sekunder.

Data primer merupakan data yang

berasal dari sumbernya langsung atau informasi yang diperoleh dari tangan pertama, melalui

(8)

responden individu yaitu pimpinan dari perusahaan yang telah diteliti dan memberikan

jawabannya berupa informasi mengenai hal-hal yang bersangkutan tentang pokok masalah

yang telah diteliti. Sedangkan data sekunder merupakan data yang berasal dari catatan

dokumen perusahaan yang berkaitan dengan penelitian.

Definisi Operasional

Penelitian deskriptif kualitatif perlu menjelaskan satuan kajian yang merupakan satuan terkecil obyek penelitian yang diinginkan peneliti sebagai klasifikasi pengumpulan data dan memberikan gambaran sesuai dengan kenyataan yang ada pada saat diadakan penelitian. Satuan kajian pada penelitian ini menitikberatkan pada perhitungan harga pokok produksi menggunakan target costing dalam penghematan biaya produksi PT Semen Gresik (persero) untuk produk Portland Composite Cement (PCC). Dapat dilihat satuan kajian pada penelitian ini meliputi:

1. Pencapaian Biaya Produksi dari Realisasi Produksi

Perhitungan pencapaian biaya produksi dilakukan terlebih dulu untuk mencari berapa jumlah nominal yang diperoleh alokasi persentase total biaya produksi konsolidasi untuk semen gresik. Alokasi pencapaian biaya produksi dari realisasi produksi untuk tahun 2011 sebesar 0,37 atau 37% dan tahun 2012 sebesar 0,40 atau 40%, dimana persentase tersebut diperoleh dari perusahaan, adapun rumus yang digunakan antara lain:

Rumus = Total biaya produksi x Persentase pencapaian biaya produksi 2. Perhitungan Standar dari Pencapaian Biaya Produksi

Perhitungan standard ini dilakukan agar diketahui berapa biaya standard setelah terjadi kenaikan 0,05 atau 5% dan 0,10 atau 10% dari standard biaya produksi, dimana persentase menurut analisa penulis kenaikan biaya produksi diperoleh dari selisih biaya target produksi berdasarkan RKAP dan pencapaian realisasi produksi pada perhitungan penentuan target produksi. Adapun rumus yang digunakan antara lain:

a. Kenaikan biaya produksi

Rumus = Total realisasi produksi x Persentase kenaikan biaya produksi b. Standar dari biaya produksi

Rumus = Total realisasi produksi – Total Kenaikan biaya produksi

Dimana hasil perhitungan ini akan digunakan penulis sebagai dasar total biaya produksi berdasarkan RKAP.

3. Target Costing

Sebelum dilakukan perhitungan biaya target atau target costing penulis melakukan perhitungan target produksi dan target penjualan sebagai dasar perhitungan target costing untuk produksi tahun 2011 dan 2012 sebagai berikut:

a. Target produksi dan target penjualan 1) Target produksi

Rumus = Produksi semen (ton) x Harga pokok produksi per-ton 2) Target penjualan

(9)

b. Target costing atau biaya target

Biaya target atau target costing = Harga target – Laba target 4. Penetapan Harga Jual

Penetapan harga jual dilakukan guna menentukan berapa harga jual untuk per-zak semen berdasarkan harga pabrik, sebelum menentukan harga jual per-zak semen sebaiknya lakukan terlebih dulu perhitungan harga pokok produksi per-ton setelah adanya markup. Sesudah dilakukan perhitungan tersebut maka dapat diketahui berapa harga jual perzak semen, dimana untuk menentukan perzak semen penulis menetapkan bahwa tiap 1 ton dapat menghasilkan 25 zak dengan berat 40 kg. Adapun rumus yang digunakan antara lain: a. Harga pokok produksi per-ton setelah markup

Rumus = HPP per-ton sebelum markup + (HPP per-ton sebelum markup x 80%) b. Penetapan harga jual per-zak semen

Rumus = Harga pokok produksi per-ton setelah markup / 25 zak HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Analisa Harga

Berdasarkan pada jenis-jenis produksi yang banyak, maka penulis melakukan analisa harga pada produk Portland Composite Cement (PCC) kemasasan 40kg atau yang lebih dikenal dengan nama Portland Cement. Analisa harga ini dilakukan dengan tujuan untuk menambah informasi pada tahap selanjutnya, dimana perbandingan harga semen Portland cement dengan berat 40kg pada perusahaan semen gresik dengan perusahaan lain yang sejenis (competitor). Dimana perbedaan harga semen ini diambil berdasarkan jenis produk semen yang terdiri dari semen tiga roda, semen holcim, semen gresik yang didasarkan pada jenis produk dan berat semen 40 kg.

Tabel 1

Perbandingan Harga Semen 40 kg di Pasaran

(dalam rupiah)

Nama Produk Semen Portland Cement Jenis Produk

Tiga Roda 52.000,-

Holcim 51.000,-

Semen Gresik 50.000,-

Sumber: Data diolah dari analisa harga di pasar Target Laba

Pada prinsipnya perusahaan berorientasi pada profit, dimana jika profit yang diterima

perusahaan lebih besar maka perusahaan dapat menjaga kelangsungan hidup perusahaan serta

dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan perusahaan. Sehingga penulis berasumsi bahwa

target laba yang diharapkan perusahaan sebesar 60% dari target produksi.

Pencapaian Biaya Produksi Terhadap Realisasi Produksi

Berdasarkan total biaya produksi konsolidasi untuk tahun 2011 sebesar Rp8.891.868.000,00 dan 2012 sebesar Rp10.300.667.000,00 ternyata terdapat pencapaian biaya produksi dari total biaya produksi untuk 2011 sebanyak 37% dan 2012 sebanyak 40%, maka

(10)

perolehan untuk pencapaian biaya produksi. Berikut penjelasan perhitungan pencapaian biaya produksi terhadap total biaya produksi:

Tabel 2

Pencapaian Biaya Produksi Terhadap Realisasi Produksi PT Semen Gresik

2011 dan 2012 (dalam ribuan Rupiah)

2011 2012

Total Biaya Produksi

Konsol Pencapaian

Total Realisasi

Produksi Produksi Konsol Total Biaya Pencapaian Total Realisasi Produksi

8.891.868.000 37% 3.289.991.160 10.300.667.000 40% 4.120.933.800

Sumber: hasil olahan data

Berdasarkan data diatas maka realisasi produksi tahun 2011 sebesar Rp3.289.991.160,00 dimana jumlah nominal ini diperoleh dari (37% x Rp8.891.868.000,00) sedangkan realisasi produksi tahun 2012 sebesar Rp4.120.933.800,00 dimana jumlah nominal ini diperoleh dari (40% x Rp10.300.667.000,00). Jadi total realisasi produksi tahun 2011 sebesar Rp3.289.991.160,00 dan tahun 2012 sebesar Rp4.120.933.800,00 digunakan sebagai dasar nilai nominal dalam perhitungan realisasi produksi.

Standar dari Pencapaian Biaya Produksi

Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa total pencapaian biaya produksi tahun 2011 sebesar Rp3.289.991.160,00 dan 2012 sebesar Rp4.120.933.800,00 berdasarkan data tersebut maka terlebih dulu mencari nilai nominal standar total biaya produksi perusahaan.

Tabel 3

Standar Total Biaya Produksi PT Semen Gresik

2011 dan 2012 (dalam rupiah)

2011 2012

Jumlah % Jumlah %

Total Pencapaian Biaya Produksi 3.289.991.160 4.420.933.800

Kenaikan biaya produksi ( 164.499.558) 5 % ( 412.026.680) 10 % Standar Total Biaya Produksi 3.125.491.602 3.708.240.120

Sumber: hasil olahan data

Setelah diketahui total pencapaian biaya produksi langkah selanjutnya menghitung standar total biaya produksi untuk digunakan sebagai standar biaya produksi perusahaan. Berdasarkan data diatas perolehan standar total biaya produksi tahun 2011 sebesar Rp3.125.491.602,00 dimana jumlah nominal ini diperoleh dari (Rp3.289.991.160,00 – Rp164.499.558,00) sedangkan pencapaian biaya produksi tahun 2012 sebesar Rp3.708.240.120,00 dimana jumlah nominal ini diperoleh dari (Rp4.120.933.800,00 – Rp412.026.680,00). Dimana standar total biaya produksi digunakan sebagai dasar nilai nominal dalam perhitungan biaya produksi berdasarkan RKAP dan sedangkan perhitungan total realisasi produksi digunakan sebagai dasar perhitungan pencapaian realisasi produksi,

(11)

maka dapat dilakukan perhitungan komposisi biaya produksi, sebagaimana tampilan pada tabel 4:

Tabel 4

Komposisi Biaya Produksi Berdasarkan RKAP dan Pencapaian Realisasi Produksi PT Semen Gresik

2011 dan 2012 (dalam ribuan rupiah)

RKAP Pencapaian Realisasi Produksi

2011 2012 2011 2012

Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Bahan Baku 343.804.076 11% 444.988.814 13% 394.798.939 12% 494.432.016 12%

Bahan Bakar 906.392.565 29% 1.075.389.635 29% 921.197.525 28% 1.153.674.704 28%

Listrik 500.078.656 16% 667.483.222 18% 559.298.497 17% 700.445.356 17%

Tenaga Kerja 281.294.244 9% 407.906.413 11% 263.199.293 8% 329.621.344 8%

Pemeliharaan 250.039.328 8% 296.659.210 8% 361.899.028 11% 453.229.348 11%

Deplesi, Penyusutan dan Amort 156.274.580 5% 185.412.006 5% 164.499.558 5% 247.216.008 6%

Urusan Umum dan Adm 93.764.748 3% 111.247.204 3% 98.699.735 3% 123.608.004 3%

Perniagaan 218.784.412 7% 185.412.006 5% 164.499.558 5% 206.013.340 5%

Kemasan 375.058.992 12% 333.741.611 9% 361.899.028 11% 412.026.680 10%

3.125.491.602 100% 3.708.240.120 100% 3.289.991.160 100% 4.120.266.800 100%

Harga Pokok Produksi

Setelah melakukan perhitungan bahan baku, tenaga kerja serta biaya overhead pabrik berdasarkan data-data diatas maka penulis melakukan perhitungan harga pokok produksi, dengan melakukan perhitungan ini dapat diketahui perbedaan antara harga pokok produksi per-ton berdasarkan RKAP dengan harga pokok produksi per-ton setelah mengalami kenaikan pencapaian biaya produksi sebesar 0,05 atau 5% dan 0,10 atau 10% dengan jumlah produksi semen se-tahun (ton) berdasarkan produksi semen 2011 sebesar 9.800 ton dan 2012 sebesar 11.100 ton, dan penjualan semen untuk 2011 sebesar 10.300 ton dan 2012 sebesar 11.500 ton maka akan didapat perbedaan harga pokok produksi tersebut:

Tabel 5

Laporan Harga Pokok Produksi PT Semen Gresik (Persero)

2011 dan 2012 (dalam ribuan rupiah)

RKAP Pencapaian Realisasi Produksi

2011 2012 2011 2012

Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik

343.804.076 281.294.244 2.500.393.282 444.988.814 407.906.413 2.855.344.892 394.798.939 263.199.293 2.631.992.928 494.432.016 329.621.344 3.296.213.440

Harga Pokok Produksi 3.125.491.602 3.708.240.120 3.289.991.160 4.120.266.800

Jumlah produksi semen se-tahun (ton) 9.800 11.100 9.800 11.100

Harga Pokok Produksi (perton) 318.928 334.076 335.713 371.195 Sumber: hasil olahan data

Berdasarkan tabel laporan harga pokok produksi diatas dapat diketahui bahwa biaya produksi berdasarkan RKAP pada tahun 2011 dengan produksi semen sebanyak 9.800 ton, mengeluarkan biaya produksi per-ton sebesar Rp318.928,00 ternyata pada saat realisasi biaya produksi per-ton untuk 2011 sebesar Rp335.713,00 Sedangkan pada tahun 2012 dengan Sumber: hasil olahan data

(12)

produksi semen sebanyak 11.100 ton, mengeluarkan biaya produksi per-ton sebesar Rp334.076,00 ternyata pada saat realisasi biaya produksi per-ton untuk 2012 sebesar Rp371.195,00

Target Costing

Untuk mengetahui target costing atau target biaya setelah terjadi pencapaian kenaikan biaya produksi perusahaan. Penulis menetapkan bahwa penetapan harga target sebesar target produksi 2011 sebanyak 9.800 ton dan 2012 sebanyak 11.100 ton, namun ternyata penjualan semen pada tahun 2011 sebanyak 10.300 ton dan 2012 sebanyak 11.500 ton. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung target produksi dan target realisasi:

Tabel 6

Penentuan Target Produksi Berdasarkan RKAP (dalam ribuan rupiah)

Tahun Produksi (ton) Penjualan (ton) HPP (RKAP) Produksi Target Penjualan Target Selisih 2011 9.800 10.300 318.928 3.125.491.602 3.284.955.459 159.463.857

2012 11.100 11.500 334.076 3.708.240.120 3.841.870.395 133.630.275

Sumber: hasil olahan data

Berikut ini penjelasan perhitungan Target produksi dan Target penjualan: 1. Target produksi

a. 2011

Target produksi = Produksi semen (ton) x HPP per-ton = 9.800 x 318.928

= Rp3.125.491.602,00 b. 2012

Target produksi = Produksi semen (ton) x HPP per-ton = 11.100 x 334.076

= Rp3.708.240.120,00 2. Target Penjualan

a. 2011

Target realisasi = Penjualan semen (ton) x HPP per-ton = 10.300 x 334.076

= Rp3.284.955.459,00 b. 2012

Target realisasi = Penjualan semen (ton) x HPP per-ton = 11.500 x 371.195

= Rp3.841.870.395,00

Target produksi dan Target penjualan = Produksi semen x HPP per-ton Target

(13)

Berdasarkan penjelasaan pada tabel diatas maka selisih target produksi dan target penjualan maka selisih untuk 2011 menguntungkan (M) sebesar Rp159.463.857,00 sedangkan untuk 2012 menguntungkan (M) sebesar Rp133.630.275,00. Berikut ini perhitungan target produksi berdasarkan pencapaian realisasi produksi.

Tabel 7

Penentuan Target Produksi

Berdasarkan Pencapaian Realisasi Produksi (dalam ribuan rupiah)

Tahun Produksi (ton) Penjualan (ton) HPP (Pencapaian Realisasi Produksi) Target Produksi Target Penjualan Selisih 2011 9.800 10.300 335.713 3.289.991.160 3.457.847.852 167.856.692 2012 11.100 11.500 371.195 4.120.266.800 4.268.744.883 148.478.083

Sumber: hasil olahan data

Berikut ini penjelasan perhitungan Target produksi dan Target penjualan: 1. Target produksi

a.

2011

Target produksi = Produksi semen (ton) x HPP per-ton = 9.800 x 335.713

= Rp3.289.991.160,00

b.

2012

Target produksi = Produksi semen (ton) x HPP per-ton = 11.100 x 371.195

= Rp4.120.266.800,00 2. Target Penjualan

a. 2011

Target realisasi = Penjualan semen (ton) x HPP per-ton = 10.300 x 335.713

= Rp3.457.847.852,00 b. 2012

Target realisasi = Penjualan semen (ton) x HPP per-ton = 11.500 x 371.195

= Rp4.268.744.883,00

Berdasarkan penjelasaan pada tabel diatas maka selisih target produksi dan target produksi berdasarkan realisasi maka selisih untuk 2011 munguntungkan (M) sebesar Rp167.856.692,00 sedangkan untuk 2012 menguntungkan (M) sebesar Rp148.478.083,00 dikarenakan perusahaan mampu memenuhi target penjualan karena perusahaan efektifitas dalam mengelolah produksi.

(14)

Setelah menentukan harga target berdasarkan target produksi, maka dapat diketahuilah target costing adapun rumus untuk menghitung target costing sebagai berikut :

1 Tahun 2011

a.

RKAP

Biaya Target = Harga Target – Laba Target

= Rp3.125.491.602,00 – (60% x Rp3.125.491.602,00) = Rp1.250.196.641,00

b.

Pencapaian Realisasi Produksi

Biaya Target = Harga Target – Laba Target

= Rp3.289.991.160,00 – (60% x Rp3.289.991.160,00) = Rp1.315.996.464,00

2 Tahun 2012

a.

RKAP

Biaya Target = Harga Target – Laba Target

= Rp3.708.240.120,00 – (60% x Rp3. 708.240.120,00) = Rp1.315.996.464,00

b.

Pencapaian Realisasi Produksi

Biaya Target = Harga Target – Laba Target

= Rp4.120.266.800,00 – (60% x Rp4.120.266.800,00) = Rp1.648.106.720,00

Berdasarkan data diatas untuk menentukan target harga berdasarkan target produksi maka target biaya berdasarkan RKAP yang diperoleh 2011 dan 2012 sebesar Rp1.250.196.641,00 dan 2012 sebesar Rp1.483.296.048,00 sedangkan target biaya berdasarkan pencapaian realisasi produksi yang diperoleh 2011 sebesar Rp1.315.996.464,00 dan 2012 sebesar Rp1.648.106.720,00.

Penetapan Harga Jual

Sebelum perusahaan melakukan penjual semen maka harus melakukan penetapan harga jual untuk per-zak semen yang dimana selama proses produksi semen dalam satuan ribuan ton. Setelah dilakukan perhitungan harga pokok produksi berdasarkan RKAP diketahui bahwa harga pokok produksi per-ton untuk 2011 sebesar Rp318.928,00 dan 2012 sebesar Rp334.076,00 sedangkan perhitungan harga pokok produksi berdasarkan realisasi produksi diketahui bahwa harga pokok produksi per-ton untuk 2011 sebesar Rp335.713,00 dan 2012 sebesar Rp371.195,00 berikut ini tabel penetapan harga jual sebelum markup:

(15)

Tabel 8 Perbandingan Penetapan Harga Jual Sebelum Markup

Keterangan 1 ton = 25 zak

RKAP Realisasi Produksi

2011 2012 2011 2012

Harga pokok produksi

per ton Rp318.928 Rp334.076 Rp335.713 Rp371.195

Harga per-zak Rp12.757 Rp13.368 Rp13.429 Rp14.848 Sumber: hasil olahan data

Berdasarkan data diatas penetapan harga jual berdasarkan RKAP harga pokok produksi per ton tahun 2011 dan 2012 sebesar Rp318.928,00 dan Rp334.076,00 dengan harga jual per-zak dengan berat 40kg pada tahun 2011 dan 2012 sebesar Rp12.757,00 dan Rp13.368,00 sedangkan penetapan harga jual berdasarkan realisasi produksi harga pokok produksi per ton tahun 2011 dan 2012 sebesar Rp335.713,00 dan Rp371.195,00 dengan harga jual per-zak dengan berat 40 kg pada tahun 2011 dan 2012 sebesar Rp13.429,00 dan Rp14.848,00

Apabila penetapan harga jual per zak semen dilakukan setelah dilakukan markup sebesar 80%, dilakukan penambahan markup ini dikarenakan adanya peningkatan produksi. Berikut ini penjelasaan pada tabel dibawah ini:

Tabel 9 Perbandingan Penetapan Harga Jual Sesudah Markup

Keterangan 1 ton = 25 zak

RKAP Realisasi Produksi

2011 2012 2011 2012

Harga pokok produksi

per ton Rp574.070 Rp601.336 Rp604.284 Rp668.151

Harga per-zak Rp22.963 Rp24.053 Rp24.171 Rp26.726

Sumber: hasil olahan data

Adapun perhitungan harga pokok produksi per-ton sesudah markup:

1. RKAP 2011 = Rp318.928,00 + (Rp318.928,00 x 0,80) = Rp574.070,00 2012 = Rp334.076,00 + (Rp334.076,00 x 0,80) = Rp601.336,00 2. Realisasi Produksi 2011 = Rp335.713,00 + (Rp335.713,00 x 0,80) = Rp604.284,00 2012 = Rp371.195,00 + (Rp371.195,00 x 0,80) = Rp668.151,00

Berdasarkan tabel diatas setelah dilakukan markup 80% ternyata harga pokok produksi perton berdasarkan RKAP untuk 2011 dan 2012 sebesar Rp574.070,00 dan Rp601.336,00 sehingga harga jual yang ditetapkan untuk per-zak untuk tahun 2011 dan 2012 sebesar Rp22.963,00 dan Rp24.053,00 sedangkan harga pokok produksi perton berdasarkan realisasi produksi untuk 2011 dan 2012 sebesar Rp604.284,00 dan Rp668.151,00 sehingga harga jual yang ditetapkan untuk per-zak dengan berat 40kg untuk tahun 2011 dan 2012 sebesar Rp 21.486 dan Rp23.756,00. Maka penentuan harga jual semen per zak yang dijual ke

(16)

pasar berdasarkan ralisasi produksi pada tahun 2011 sebesar Rp24.171,00 dan tahun 2012 Rp26.726,00 dimana harga ini berdasarkan pada harga pabrik.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Simpulan hasil penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Setelah dilakukan perhitungan target costing berdasarkan RKAP dan pencapaian realisasi produksi ternyata perolehan target costing untuk tahun 2011 mengalami kenaikan dari perencanaan RKAP sebesar Rp65.799.823,00 sedangkan untuk 2012 juga mengalami kenaikan hanya lebih besar dari perencanaan RKAP sebesar Rp164.810.672,00. Dimana hal ini dikarenakan adanya peningkatan biaya dalam proses produksi sehingga menyebabkan target produksi meningkat dari RKAP, (2) Apabila dilakukan perhitungan biaya produksi dengan target costing maka perusahaan dapat menghemat biaya produksi sebesar 2% sampai 4%, (3) Sedangkan dalam penetapan harga jual per-zak semen setelah dilakukan markup berdasarkan RKAP dan pencapaian realisasi produksi ternyata terdapat peningkatan dalam menentukan harga jual per-zak dimana untuk tahun 2011 mengalami kenaikan dari perencanaan RKAP sebesar Rp1.209,00, sedangkan untuk 2012 juga mengalami kenaikan sebanyak Rp2.673,00. Dikarenakan adanya peningkatan biaya produksi dari RKAP sehingga dalam penenetapan harga jual dilakukannya markup untuk dapat bersaing dengan produk sejenis.

Saran

Saran hasil penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Untuk dapat mengurangi biaya penyusutan dan amortisasi dan dapat meningkatkan produksi maka sebaiknya perusahaan dapat meningkatkan anggaran biaya pemeliharaan tiap tahun. Terutama pemeliharaan mesin dikarenakan mesin merupakan faktor utama dalam melakukan proses produksi dan apabila tidak dilakukan perawatan setiap bulan maka akan dapat mengurangi produksi semen untuk tiap tahun jika banyak mesin produksi yang rusak, (2) Penyebab terjadinya deplesi dikarenakan bahan baku utama dalam proses pembuatan semen berasal dari sumber alam yang tidak dapat diperbarui. Untuk dapat mengurangi peningkatan deplesi tiap tahun ada baiknya perusahaan melakukan penyediaan bahan baku pada lokasi penambangan yang masih belum diolah dan juga untuk lokasi penambangan yang tidak digunakan dapat melakukan pemeliharaan alam agar tidak menyebabkan kerugian bagi penduduk sekitar.

Keterbatasan

Penelitian ini mempunyai keterbatasan-keterbatasan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi penelitian berikutnya agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu:

1. Bahwa dalam pengelolahan data biaya produksi menggunakan data pada tahun yang sama dari alokasi biaya produksi perusahaan, sehingga mungkin belum dirasakan efek dari penerapan target costing dalam perhitung biaya produksi pada perusahaan.

2. Obyek penelitian yang dilakukan berdasarkan data biaya produksi selama 2 tahun. 3. Penelitian ini hanya menggunakan waktu pengamatan selama 2 minggu.

Untuk penelitian selanjutnya, dalam melakukan penelitian target costing untuk perusahaan go publik sebaiknya dikembangkan menggunakan perbandingan biaya produksi selama periode 5 tahun terakhir.

(17)

Daftar Pustaka

Apriyono, A. 2007. Prosedur Penetapan Harga Jual.

http://ilmumanajemen.wordpress.com/2007/06/15/penetapan-harga-jual/. Diakses tanggal

12 November 2013.

Blocher, J. E., K. H. Chen, dan T. W. Lin. 2000. Manajemen Biaya dengan Tekanan Stratejik. Jilid Satu. Terjemahan A. Susty Ambarriani. Salemba Empat. Jakarta.

, , dan . 2008. Cost Management. Edisi Tiga. Terjemahan Tim Penerjemah Penerbit Salemba. Salemba Empat. Jakarta.

Carter, W. K., dan M. F. Usry. 2004. Akuntansi Biaya. Edisi Tiga belas. Salemba Empat. Jakarta.

Garrison, H. R., E. W. Noreen, dan P. C. Brewer. 2006. Manajerial Accounting. Edisi Sebelas. Terjemahan Nuri Hinduan. Salemba Empat. Jakarta.

Gerungan, H. P. 2013. Pendekatan Target Costing Sebagai Alat Penilaian Efisiensi Produksi Pada PT. Tropica Cocoprima. Jurnal EMBA 1(3): 863-870.

Griffin, W. R. and R. J. Ebert. 2006. Bisnis. Terjemahan Benyamin Molan. Prenhallindo. Jakarta.

Hansen, D. R dan M. M. Mowen. 2006. Akuntansi Manajemen. Edisi Tujuh. Salemba Empat. Jakarta.

Himawan, F. A. dan R. Pendajaya. 2005. “Penerapan Metode Target Costing Sebagai Alat Bantu

Manajemen dalam Mengoptimalkan Perencanaan Laba”. Jurnal ESENSI 8(2): 7-27.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Standar Akuntansi Keuangan. Salemba Empat. Jakarta.

Mardiasmo. 1994. Akuntansi Biaya: Penentuan Harga Pokok Produksi. Penerbit Andi Offset. Yogyakarta.

Mulyadi. 2001. Akuntansi Manajemen Konsep, Manfaat & Rekayasa. Edisi Ketiga. Salemba Empat. Jakarta.

. 2005. Akuntansi Biaya. Edisi Enam. STIE YKPN. Yogyakarta . 2007. Activity Based Cost System. UPP STIM YKPN. Yogyakarta

Priyadi, M. P. 2006. Akuntansi Biaya: Pendekatan Tradisional dan Kontemporer. Edisi Kedua. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA). Surabaya

Raybun, G. L. 1999. Akuntansi Biaya: Dengan Menggunakan Pendekatan Manajemen Biaya. Terjemahan: Alfonsus Sirait. Jilid I dan II. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Sidharta, J. dan Yessica. 2008. “Perbandingan Penerapan Metode Tradisional dengan Metode

Activity Based Costing dalam Perhitungan Biaya Produksi pada Perusahaan XYZ”. Buletin

Ekonomi Vol XII No.2 (September): 48-65.

Sulastiningsih, dan Zulkifli. 2006. Akuntansi Biaya: Dilengkapi Isu-isu Kontemporer. Edisi Kedua. UPP STIM YKPN. Yogyakarta.

Supriyono, R. A. 1997. Akuntansi Biaya Dan Akuntansi Manajemen Untuk Teknologi Maju Dan

Globalisasi. Edisi Pertama. BPFE UGM. Yogyakarta.

Tandiontong, M. dan N. F. Anggraini. 2011. “Peranan Target Costing dalam Pengendalian Biaya

Produksi (Studi Kasus pada CV Bandung Mulia Konveksi)”. Jurnal Universitas Paramadina

8(4): 178-198.

Witjaksono, A. 2006. Akuntansi Biaya. Edisi Pertama. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Gambar

Tabel 8 Perbandingan Penetapan Harga Jual Sebelum Markup

Referensi

Dokumen terkait

dengan perintji- an sampai pada mata-ang 6 aran.. Ánggaran jang tersedia bagi

Perhatikan bangun balok berikut Tentukan mana yang dimaksud dengan  Sisi  Rusuk  Titik sudut  Diagonal bidang  Diagonal ruang  Bidang diagonal. Jadi dapat

Hal ini berarti jika variabel-variabel independen seperti pergantian manajemen, opini audit, ukuran KAP, ukuran perusahaan klien, dan financial distress bernilai

Penyelenggaraan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan, ditujukan untuk tiga hal, yaitu: 1) menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air, 2) menciptakan aspek

Nilai ADC yang digunakan adalah 900 pada lampu TL dan lampu pijar sebagai acuan untuk menentukan kondisi lampu yang di aplikasikan pada interface di server. 4.4 Pengujian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model penelitian dan pengembangan serta desain pengembangan ASSURE yang akan mendeskripsikan hasil dari pengembangan media Puzzle

Ekskresi derivat purin dari kambing yang diberi pakan ampas tempe yang difermentasi menunjukkan hasil yang cukup banyak, sehingga besarnya serapan purin dan pasokan N-mikroba

Az eladási adatok mutatják, hogy a top 3 vállalat (mindegyik Japán bázisú) 5-10 milliárd dolláros bevételt termel évente.. ábrán látható eladási adatok