• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VII. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

xi DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PRASYARAT ... ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN ... iii

LEMBAR PENGUJI... iv

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... v

UCAPAN TERIMA KASIH... vi

ABSTRAK ... ix

ABSTRACT... x

DAFTAR ISI... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv BAB I. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 4 1.3 Tujuan... 4 1.4 Manfaat ... 5

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA... 6

2.1 Saliva ... 6

2.1.1 Definisi Saliva ... 6

2.1.2 Kelenjar Saliva ... 6

2.1.3 Komposisi Saliva... 11

2.1.4 Fungsi Saliva ... 14

2.1.5 Mekanisme Sekresi Saliva... 15

2.1.6 ph dan Sistem Buffer Saliva ... 17

2.1.7 Metode Pengumpulan Saliva ... 18

2.2 Minuman Ringan ... 20

2.2.1 Definisi Minuman Ringan ... 20

2.2.2 Komposisi Minuman Ringan Berkarbonasi ... 20

2.2.3 Komposisi Minuman Rasa Buah ... 23

2.2.4 pH Minuman Ringan ... 23 2.3 Pengaruh Minuman Ringan Terhadap Kesehatan Rongga Mulut 25

(2)

2.4 Makanan dan Minuman dengan Potensi Kariogenik Tinggi

Kariogenik Rendah dan Erosi Gigi... 27

BAB III. KERANGKA BERPIKIR, KONSEP PENELITIAN, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS ... 28

3.1 Kerangka Berpikir ... 28

3.2 Konsep Penelitian ... 30

3.3 Variabel dan Definisi Operasional ... 31

3.3.1 Variabel Penelitian ... 31

3.3.2 Definisi Operasional ... 31

3.4 Hipotesis ... 32

BAB IV. METODE PENELITIAN ... 33

4.1 Desain Penelitian ... 33

4.2 Populasi dan Sampel... 35

4.3 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 36

4.3.1 Kriteria Inklusi ... 36

4.3.2 Kriteria Eksklusi ... 37

4.4 Pengumpulan Data... 37

4.4.1 Alat dan Bahan ... 37

4.4.2 Langkah Kerja ... 38

4.5 Teknik Analisis Data ... 42

BAB V. HASIL PENELITIAN... 43

5.1 Rata-rata penurunan pH saliva ... 43

5.2 Analisis ... 46

5.2.1 Uji Normalitas Data ... 46

5.2.2 Analisis T-Test ... 47

5.2.3 Analisis One-Way ANOVA... 48

BAB VI. PEMBAHASAN... 51

6.1 pH saliva baseline... 51

6.2 pH saliva pada menit ke-0 ... 51

6.3 pH saliva pada menit ke-5 ... 52

6.4 pH saliva pada menit ke-10 ... 53

6.5 Uji One-Way ANOVA dan Post Hoc ... 54

6.6 Penelitian Pendukung ... 54

6.7 Pencegahan Kejadian Karies dan Erosi Gigi... 57

BAB VII. SIMPULAN DAN SARAN ... 60

7.1 Simpulan... 60

7.2 Saran ... 60

(3)

ABSTRAK

EFEK KONSUMSI MINUMAN BERKARBONASI DAN MINUMAN RASA JERUK TERHADAP PH SALIVA PADA MAHASISWA PSPDG FAKULTAS

KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

Pola konsumsi sangat berpengaruh terhadap tingkat keasaman saliva dan akan berperan langsung terhadap terjadinya gangguan kesehatan gigi. Zat gula dan asam yang terdapat pada minuman akan menyebabkan perubahan pH saliva sehingga rentan timbul karies dan erosi gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek konsumsi minuman berkarbonasi dan minuman rasa jeruk terhadap pH saliva.

Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan desain pre dan posttest control group dengan jumlah subjek sebanyak 27 orang yang dibagi menjadi 3 kelompok (A,B, dan C). Setiap kelompok diberikan jenis minuman yang berbeda yaitu minuman berkarbonasi, minuman rasa jeruk dan air putih sebagai kontrol. Pengukuran pH saliva dilakukan pada saat sebelum dan sesudah dilakukan intervensi yaitu pada menit ke-0, ke-5 dan ke-10. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dan uji lanjut Post Hoc.

Rerata penurunan pH saliva pada subjek yang mengonsumsi minuman berkarbonasi dibandingkan pH baseline terendah terjadi pada menit ke-0 yaitu 6,67, lebih rendah dibandingkan minuman rasa jeruk 6,83. Terdapat perbedaan rerata pH saliva yang bermakna diantara ketiga kelompok subjek pada menit ke-0, ke-5 dan ke-10 (p <0,05).

Kesimpulan dari penelitian ini ialah bahwa rata-rata pH saliva baseline subjek memiliki nilai rerata antara 7,20 – 7,36. pH saliva setelah konsumsi minuman berkarbonasi terendah adalah pada menit ke-0 dengan rerata 6,67 disusul dengan pH saliva setelah konsumsi minuman rasa jeruk dengan nilai rerata terendah pada menit ke-0 yaitu 6,83.

(4)

ABSTRACT

THE EFFECT OF CONSUMING CARBONATED AND ORANGE DRINKS ON SALIVARY PH AMONGST DENTISTRY STUDENTS

FACULTY OF MEDICINE UDAYANA UNIVERSITY

Food consumption pattern influences salivary acidity and can directly cause dental health problems. Sugar and acid-containing beverages will alter the salivary pH and make the teeth susceptible to caries and dental erosion. The aim of this study is to understand the effect of consuming carbonated and orange drinks on subjects’ salivary pH.

Experimental method is used in this study, using pre and posttest control group design comprised 27 subjects divided into 3 groups (A, B and C). Test beverages were carbonated drink, orange drink and plain water as control. Measurement of salivary pH was done before and after intervention at 0 minutes, 5 minutes and 10 minutes. Collected data were analyzed using One-Way ANOVA and Post Hoc tests.

Mean salivary pH of the subjects consumed carbonated drinks compared to baseline pH was found lowest at 0 min, which was 6,67 lower than orange drink, which was 6,83. There were significant differences of mean salivary pH among these 3 groups at 0 min, 5 min and 10 min (p<0,05).

It was concluded that mean value of subjects’ baseline salivary pH was 7,20 – 7,36. Mean value of salivary pH after carbonated drink consumption was found lowest at 0 minutes which was 6,67 and after orange drink consumption also found lowest at 0 minutes which was 6,83.

(5)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Kesehatan gigi dan mulut yang baik adalah gambaran dari sehatnya tubuh secara keseluruhan dan berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan mengenai kesehatan gigi dan mulut adalah pola konsumsi individu. Konsumsi yang berlebihan terhadap zat tertentu akan mengakibatkan kerusakan pada organ tubuh salah satunya adalah rongga mulut sebagai pintu masuk pertama ketika individu sedang melakukan aktivitas makan atau minum. Pola konsumsi sangat berpengaruh terhadap tingkat keasaman saliva dan akan berperan langsung terhadap terjadinya karies gigi.

Saliva adalah cairan dalam rongga mulut yang tersusun dari 98% - 99% air, sementara sekitar 2% tersusun dari komponen organik, anorganik, elektrolit, mukus, zat-zat antimikroba, dan berbagai enzim (Manjunatha, 2013). Fungsi saliva antara lain adalah untuk lubrikasi jaringan dalam rongga mulut, perlindungan terhadap dehidrasi dan sebagai buffer system untuk melindungi rongga mulut dalam mencegah kolonisasi bakteri patogen dan menetralkan rongga mulut dari keadaan asam sehingga dapat menghindari terjadinya demineralisasi enamel (De Almeida dkk., 2008). Derajat keasaman (pH) saliva dalam keadaan normal berada pada rentang 6,8– 7,0 (netral). Kapasitas buffer saliva adalah kemampuan saliva untuk kembali pada pH normalnya. Saliva memiliki tiga buffer utama yaitu bikarbonat (HCO3-), fosfat (PO4+), dan protein, namun, yang terpenting dari ketiganya adalah bikarbonat (HCO3-) (Manjunatha, 2013).

(6)

2

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Jain dkk. (2007) mengenai pH berbagai merek minuman ringan yang tersedia di pasaran, merek Coca-Cola menempati peringkat pertama dengan pH yang paling rendah yaitu 2,52 kemudian disusul Pepsi dengan pH sebesar 2,53 dan Diet Coke dengan pH 3,29. pH minuman rasa apel berada pada rentang 3,35 – 4,00, rasa lemon 2,00 – 2,60 dan rasa jeruk 3,30 – 4,15 (US Food and Drugs Administration, 2008).

Penelitian yang dilakukan Rinki dkk. (2016) mengenai efek berbagai jenis minuman bergula terhadap pH saliva menunjukkan bahwa pH saliva pada subjek yang mengonsumsi minuman Pepsi adalah sebesar 5,65 sedangkan pada subjek yang mengonsumsi minuman rasa mangga didapatkan pH saliva sebesar 6,08 yang diukur segera setelah subjek mengonsumsi minuman. Penelitian lain menunjukkan pH saliva sebesar 3,21 – 6,86 segera setelah subjek mengonsumsi minuman Mirinda dan 3,26 – 6,53 pada subjek yang mengonsumsi mixed fruit juice (Goel dkk., 2013).

Metabolisme karbohidrat menjadi perhatian yang penting karena terdapat hubungan antara gula, produksi asam dan terjadinya karies. Karbohidrat dalam makanan yang terakumulasi di permukaan gigi akan difermentasi oleh bakteri sehingga menghasilkan asam, kemudian menyebabkan demineralisasi dan kerusakan jaringan keras (Karpinski dan Szkaradkiewicz, 2013). Kelarutan hidroksiapatit juga akan meningkat seiring dengan penurunan pH (Erickson dkk., 2001). Ketika pH saliva menurun atau dalam keadaan asam maka bakteri kariogenik akan lebih mungkin untuk berkembang (Hurlbutt, 2010). Sebagian besar strain Streptococcus mutans dan Lactobacilli tidak hanya dapat bertahan

(7)

3

pada kondisi pH yang rendah, namun juga mampu bermetabolisme dan berkembang karena sifatnya yang asidogenik (memproduksi asam) dan asidurik (acid-loving) (Marsh, 2009).

Total nilai pendapatan dari penjualan minuman ringan di Indonesia pada tahun 2013 adalah sebesar 61,24 miliar rupiah, meningkat dari angka 42,5 miliar rupiah pada tahun 2010. Tahun 2014 total nilai penjualan minuman ringan adalah sebesar 70,42 miliar rupiah (Anonim, 2015). Menurut penelitian yang dilakukan oleh lembaga Nusaresearch (2014), sebanyak 30,7% dari 319 responden mengaku mengonsumsi minuman ringan sebanyak 2-3 kali dalam satu minggu dan 18,5% responden mengaku mengonsumsi minuman ringan sebanyak lebih dari 3 kali dalam satu minggu. Sebanyak 61,1% responden mengonsumsi minuman ringan ketika cuaca panas, sementara itu hal yang menjadi pertimbangan bagi responden untuk memilih mengonsumsi minuman ringan adalah rasa minuman (90,3%) dan harganya yang terjangkau (72,7%).

Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2011 mengenai konsumsi soft drink pada usia ≥ 20 tahun adalah sebesar 55% untuk pria dan 40% untuk wanita (Ogden dkk., 2011). Penelitian Nurfitriani (2011, sit. Suci, 2012) yang dilakukan di Universitas Indonesia menyebutkan bahwa terdapat sebesar 56% mahasiswa responden masuk ke dalam kategori tinggi dalam konsumsi minuman ringan berpemanis. Penelitian Suryanti (2013) di Universitas Hasanuddin menyebutkan skor konsumsi Coca-cola pada mahasiswa adalah sebesar 0,107 atau sekali seminggu dan rata-rata asupan karbohidrat yang dihasilkan dari konsumsi soft drink yaitu 7,03 gram. Jensdottir dkk. (2004)

(8)

4

mengemukakan bahwa konsumsi minuman berkarbonasi khususnya Coca-Cola merupakan faktor ekstrinsik penyebab erosi gigi, namun faktanya baik minuman berkarbonasi maupun minuman rasa buah digemari oleh sebagian besar masyarakat dan minuman-minuman tersebut juga sangat mudah ditemukan di pasaran. Konsumsi minuman ringan cenderung meningkat dari tahun ke tahun, namun tanpa mereka sadari zat-zat yang terkandung di dalam minuman ringan dapat menyebabkan permasalahan pada gigi dan mulut di masa mendatang. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti tentang efek konsumsi minuman berkarbonasi dan minuman rasa jeruk terhadap pH saliva pada mahasiswa PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah :

1. Berapakah pH saliva normal pada mahasiswa PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Udayana?

2. Berapakah pH saliva setelah mengonsumsi minuman berkarbonasi pada mahasiswa PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Udayana?

3. Berapakah pH saliva setelah mengonsumsi minuman rasa jeruk pada mahasiswa PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Udayana?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui pH saliva normal pada mahasiswa PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

(9)

5

2. Mengetahui pH saliva setelah mengonsumsi minuman berkarbonasi pada mahasiswa PSDPG Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

3. Mengetahui pH saliva setelah mengonsumsi minuman rasa jeruk pada mahasiswa PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

1.5 Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan :

1. Sumbangan informasi bagi masyarakat umum agar dapat mempertimbangkan kembali dalam mengonsumsi minuman ringan.

2. Sumbangan referensi bagi penelitian selanjutnya pada bidang yang terkait. 1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah mengenai bidang biologi oral dan ilmu kesehatan gigi masyarakat yang membahas efek konsumsi minuman berkarbonasi dan minuman rasa jeruk terhadap pH saliva pada mahasiswa PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Referensi

Dokumen terkait

 Definisi : Anestesi regional dgn tindakan penyuntikan obat anestetik ke dalam ruang subaraknoid.  Juga disebut blok spinal intradural atau blok

Atur span dengan mengubah nilai resistor cermet yang terpasang, amati di osciloscope, atur cermet agar tegangan output maksimum mencapai +9,9 Vdc, pada saat digunakan sam

Dari hasil pengolahan dan analisis menunjukkan bahwa pada data CTD tahun 1991, 2005, dan 2015 di titik ekstrim maksimum Selat Makassar memiliki nilai massa

Terlepas dari pencapaian kinerja yang terus membaik, apabila dilakukan pembandingan dengan Angka Nasional maupun Angka Provinsi lain yang ada di Indonesia, Pembangunan

Lesi yang disebabkan oleh cacing tambang dapat terjadi selama migrasi infeksi atau mungkin terkait dengan adanya cacing dewasa pada usus kecile. Daerah gatal

Dalam stability of consociational settlement yang akan disinggung dalam pembahasan konflik di Irlandia Utara ini meliputi agenda kebijakan politik dan kebijakan

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, hidayah dan petunjuk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi

Merespon isu strategis nasional yang berkembang serta mendukung terciptanya mutu penyelenggaraan infrastruktur Pekerjaan Umum dan Permukiman yang andal, maka Badan Litbang PU telah