PEMIKIRAN IMAM GHAZALI DALAM TASAWUF
Badrus
*Abstraksi
Pada intinya ilmu tasawuf mempelajari bagaimana mensucikan jiwa sesuci mungkin dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga kehadiran Tuhan senantiasa dirasakan secara sadar dalam kehidupan.
Menurut al-Ghazali manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang terdiri daari jiwa dan jasad. Jiwa yang menjadi inti hakikat manusia adalah makhluk spiritual Rabbani yang sangat halus.
Adapun hubungan jiwa dan jasad menurut al-Ghazali adalah setiap jiwa diberi jasad, sehingga dengan bantuan jiwa bisa mendapatkan bekal bagi hidup kekalnya. Jiwa merupakan inti hakiki manusia dan jasad hanyalah alat saja. Karena jasad sangat diperlukan oleh jiwa maka harus dirawat dengan baik.
Kata kunci : Pemikiran dan Tasawuf Pendahuluan
Di era informasi ini semua ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang begitu dahsyat, sampai dapat dikatakan bahwa manusia sendiri menguasai semua ilmu yang berkembang dipastikan tidak mungkin dapat. Namun demikian manusia diwajibkan terus menerus belajar menguasahi ilmu sebanyak mungkin sebagai bekal untuk memudahkan menggapai kebutuhan hidupnya.
Begitu pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, tidak terkecuali ilmu-ilmu keislaman. Salah satu cabang ilmu pengetahuan keislaman di antaranya ialah ilmu tasawuf. Ilmu tasawuf ini dalam teori dan prakteknya boleh dibilang berkembang merata di seluruh dunia, khususnya di dunia Islam.
Sekalipun berbeda dalam pengamalannya, ilmu tasawuf itu perlu mendapat apresiasi dari kita, sebagai upaya mencari pengamalan agama yang lebih tepat.
Untuk itu perlu dikaji ajaran dan konsep dasar ilmu tasawuf tersebut. Makalah ini mencoba mengungkap seorang felosof ternama di jaman Islam klasik, bahkan hingga sekarang pemikirannya masih cukup segar dinikmati oleh pendukungnya. Tokoh yang dimaksud adalah Imam
*
al Ghazali, khususnya dalam ilmu tasawuf. Namun sebelumnya perlu diungkap terlebih dahulu pengertian ilmu tasawuf.
Pengertian Ilmu Tasawuf
Ada dua pengertian ilmu tasawuf yang dianut oleh para pengikutnya. Pertama Ilmu tasawuf diartikan sebagai ilmu tentang kesucian jiwa untuk menghadap Tuhan sebagai Zat Yang Maha Suci, dan
kedua diartikan sebagai ilmu yang mempelajari upaya pendekatan diri
secara individual kepada Tuhannya.1
Jadi pada intinya ilmu tasawuf mempelajari bagaimana mensucikan jiwa sesuci mmungkin dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga kehadiran Tuhan senantiasa dirasakan secara sadar dalam kehidupan.
Apabila ditinjau dari Al Qur’an, sebenarnya ajaran tasawuf mengacu pada surat QS: Ali Imran ayat 14-15 Sesungguhnya beruntunglah orang – orang yang membersihkan diri dengan beriman dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.
Sayid Husain an-Nasr, cendekiawan muslim ternama dari Iran, mengatakan bahwa tasawuf pada hakikatnya adalah dimensi yang dalam dan esoteris dari Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadis seta perilaku Nabi SAW dan para sahabatnya. Sedangkan syari’at adalah dimensi luar dari ajaran Islam. Pengamalan kedua dimensi itu secara seimbang merupakan keharusan bagi setiap muslim agar pendekatan dirinya kepada Allah SWT menjadi sempurna lahir dan batin. 2
Dalam Tasawuf diajarkan tentang prinsip keseimbangan artinya bahwa Islam memberikan tempat bagi penghayatan keagamaan secara eksoteris (lahiriah/syari’ah) dan esoteris (batiniah/hakikat), tanpa menakankan pada salah satu dimensi. Pemberian tekanan pada salah satu dimensi bertolak belakang dengan ajaran Islam yang mengajarkan prinsip keseimbangan (adil). Hal demikian lebih jauh akan membawa kepincangan dalam kehidupan. Penekanan pada dimensi eksoteris akan membuat Islam teredukdi menjadi aturan fikir yang bersifat formalistis dan kering terhadap nilai-nilai kerohania. Sebaliknya, penekanan pada dimensi esoteris akan membuat kaum muslimin dapat keluar dari garis kebenaran, karena tidak memperhatikan batas aturan yang telah ditentukan. Hubungan antara dimensi eksoteris dan esoteeris ini dapat diumpamakan oleh kaum sufi
1 Lihat Taufiq Abdullah Dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru
Van Houve, 2002), 34
dengan hubungan antara jasad dan jiwa pada manusia. Dengan demikian syariat Islam akan menjadi hidup dengan jiwa tasawuf. Tasawuf akan meniupkan jiwa esoterisnya pada segenap aspek ajaran Islam, baik aspek ritual maupun sosial.3
Pemikiran Imam Ghazali
Ada bebeapa tema pemikiran Al Ghazali tentang muatan tasawuf di antaranya:
1. Moral
Ada tiga teori penting mengenai tujuan memepelajari akhlaq:4
a. Mempelajari akhlaq sebagai setudi murni teoritis, tanpa maksud mempengaruhi perilaku orang yang mempelajarinya.
b. Mempelajari akhlaq sehingga meningkatkan sikap dan perilaku sehari-hari.
c. Akhlaq adalah objek teoritis yang berkenaan dengan usaha menemukan kebenaran tentang hal-hal moral, maka dalam penyelelidikan akhlaq haarus ada kritikyang terus menerus mengenai standar moralitas yang ada, sehingga akhlaq menjadi subjek praktis, seakan –akan tanpa maunya sendiri.
Al Ghazali setuju dengan teori kedua. Dia menyatakan bahwa studi tentang “ilan al-Mu’amalah“ dimaksudkan guna latihan kebiasaan. Tujuan latihan adalah untuk meningkatkan keadaan jiwa agar kebahagiaan dapat dicapai diakhirat. Adapun masalah kebahagiaan menurut Imam al-Ghazali ialah kebahagiaan ukhrawi (Al–Sa’adah al-Ukhrawiyyah), adapun kebahagiaan ini bisa diperoleh apbaila betul-betul persiapan di dunia dengan bwerbuat kebaikan dan menjahui larangan-larangan Tuhannya. Sebab kebahagiaan ukhrawi mempunyai 4 ciri khas:5
a. Berkelanjutan tanpa akhir b. Kegembiraan tanpa duka cita. c. Penngetahuan tanpa kebodohan.
d. Kecukupan (ghina) yang tak membutuhkan apa-apa lagi guna kepuasan yang sempurna.
Tentu saja kebahagiaan yang dimaksud adalah yang sesuai dengan al-Qur’an dan hadis, yaitu surga . Sedangkan kewsengsaraan adalah
3 Ibid, 77
4 Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta; Bulan Bintang, 1973),
57
neraka. Nasib setiap orang akan ditentukan pada hari kebangkitan, tapi akibat kegahagiaan dan kesengsaraan, dimulai setelah kematian.
Kebahagaiaan di surga ada 2 tingkat yaaaaitu rendah dan ringgi.
a. Rendah, yaitu kebahagiaan yang terdiri dari indrawi mengenai
makanan, minuman, pergaulan bidadari, pakaian indah , Istana dan lain sebagazinya. Tingkat ini bagi ornga-orang baik kelas rendah, orang-orang shaleh (abrar, halihun), yang taqwa, kepada Allah (muttaqin) dan yang benar (ashabul yamin), kenikamatan adalah bekalnya dari hidup.
b. Tinggi, kebahagiaan yang dekat dengan Allah, menatap wajah Allah
yang Agung senantasa (ru’ya dan liqa’), atau pertemuan dengan Dia, merupakan kebahagian yang tertinggi, puncak kebahagiaan dan bentuk anugerah Allah yang terbaik. Kebahagiaan tertinggi ini diperoleh: 1. Para Nasbi dan Rasul
2. Orang-orang suci (Auliya’) 3. Ahli ma’rifat (‘Arifin). 4. Orang yang jujur (Siddiqun)
5. Orang yang mendekati-Nya (muqarrabuun) 6. Orang-orang yang mencintai-Nya (Muhibbun) 7. Dan orang-orang yang ikhlas (Mukhlisun). 2. Jiwa
Menurut al-Ghazali manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang terdiri daari jiwa dan jasad. Jiwa yang menjadi inti hakikat manusia adalah makhluk spiritual Rabbani yang sangat halus.
Istilah-istilah yang gunakan oleh Imam Ghazali yang terkait dengan jiwa :6 a) Qalb, b) Ruh, c) Nafs dan d) Aql.
Jiwa bagi Imam Ghazali adaah suatu Zat (jauhar) dan bukan merupakan sesuatu keaaan atau aksiden (‘ardh) sehingga ia ada pada dirinya sendiri. Sedangakan Jasad keberadaannya tergantung pada jiwa, dan bukan sebaliknya. Jiwa berada dalam sepiritual. Sedangkan jasad berada di dalam materi.
Adapun hubungan jiwa dan jasad dari segi pandangan moral adalah setiap jiwa diberi jasad, sehingga dengan bantuan jiwa bisa mendapatkan bekal bagi hidup kekalnya. Jiwa merupakan inti hakiki manusia dan jasad hanyalah alat saja. Karena jasad sangat diperlukan oleh jiwa maka harus dirawat dengan baik.7
Ada beberapa pembantu terhadap adanya jiwa:
6
a. Dorongan, yaitu yang merupakan sumber bagi motif, untuk mendapatkan keinginan dan motif yang merusak dinamakan nafsu kemarahan.
b. Kekuatan (qudrati), yaitu menggerakkan anggota badan kearah benda yang diinginkan atau menjahui yang dibenci.
c. Kemampiuan menagnkap pengetahuan ayng terdiri dari dua macam: 1) panca indera
2) lima daya yang berada di lima tempat otask manusia. Yakni: Tahayl (daya hayal), daya pikir (tafakkur), daya ingat (tazdakkur), dan sensus communis (al-hiss al-Mustarak).
Penutup
Selain hubungan jiwa dan jasad seperti di atas, Al-Ghazali juga menyebutkan hubungan dimaksud pada hakikatnya sama dengan interaksionisme. Meskipun jiwa dan jasad merupakan dua wujud yaang berbeda, naum keduanya saling berpengaruh dan menentukan jalannya masing-masing. Karena itu bagi Al-Ghazali, setiap perbuatan akan menimbulkan pengaruh pada jiwa, asalkan perbuatan itu dilakukan secara sadar, begitu pula sebaliknya.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Taufiq Abdullah Dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Houve, 2002
Sayyid Husain an Nasr. Ideal and Realities of Islam, London: George and and Unwin, Ltd, 1966
Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta; Bulan Bintang, 1973
Amin Syukur, Menggugat Tasawuf, Yogyakarta: Pustaka Pwlajar, 1999 Simuh, Tasawuf dan Perkembangan dalam Islam, Jakarta: Rajawali Press,