• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR

NOMOR 43 TAHUN 2020 TENTANG

PEDOMAN PENGGUNAAN KARTU PINTAR ANTIBIOTIK-SETOP MEMESAN OTOMATIS PADA

BADAN LAYANAN UMUM DAERAH

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH NGUDI WALUYO WLINGI KABUPATEN BLITAR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan

masyarakat di wilayah Kabupaten Blitar, terutama dalam penggunaan antibiotik yang tepat terhadap pasien, perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian dalam rangka mencegah pengobatan kurang efektif, peningkatan risiko terhadap keamanan pasien, meluasnya resistensi dan tingginya biaya pengobatan;

b. bahwa demi efektivitas dan akuntabilitas pengawasan dan pengendalian penggunaan antibiotik sebagaimana

dimaksud diterbitkan kartu kendali penggunaan

antibiotik berupa kartu pintar antibiotik-setop memesan otomatis;

c. bahwa untuk memberikan kemudahan penggunaan kartu

kendali sebagaimana dimaksud perlu menyusun

(2)

d. bahwa berdasarkan pertimbagan sebagaimana dimaksud huruf a, huruf b, dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Pedoman Penggunaan Kartu Pintar Antibiotik-Setop Memesan Otomatis pada Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Daerah Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang

Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam

Lingkungan Propinsi Jawa Timur (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 41) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1965 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotapraja Surabaya dan Daerah Tingkat II Surabaya dengan mengubah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang

Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam

Lingkungan Propinsi Jawa Timur dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten/Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Daerah Istimewa Jogyakarta (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2730);

2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431);

3. Undang–Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

4. Undang–Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);

(3)

5. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 183, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6398);

6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/

MENKES/ 068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Pemerintah;

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

2406/MENKES/PER/XII/2011 tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 874);

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 334);

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 2036) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri

(4)

Dalam Negeri Nomor 120 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 157);

11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 334);

12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 44 Tahun 2018 tentang Promosi Kesehatan Rumah Sakit (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 308);

13. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor

189/Menkes/SK/III/2006 tentang Kebijakan Obat

Nasional;

14. Peraturan Daerah Kabupaten Blitar Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2016 Nomor 10/D, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Blitar 17);

15. Peraturan Bupati Blitar Nomor 44 Tahun 2015 tentang Pedoman Standar Pelayanan Minimum Rumah Sakit Umum “Ngudi Waluyo” Wlingi (Lembaran Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2015 Nomor 44/E, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Blitar 12);

Memperhatikan : Keputusan Bupati Blitar Nomor 188/255/409.012/KPTS/

2008 tentang Penetapan Bapelkesmas RSUD “Ngudi Waluyo” Wlingi Kabupaten Blitar sebagai Badan Layanan Umum Daerah;

MEMUTUSKAN :

MENETAPKAN : PERATURAN BUPATI TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN

KARTU PINTAR ANTIBIOTIK-SETOP MEMESAN OTOMATIS PADA BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH NGUDI WALUYO WLINGI KABUPATEN BLITAR.

(5)

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Blitar.

2. Bupati adalah Bupati Blitar.

3. Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

4. Rumah Sakit Umum Daerah Ngudi Waluyo Wlingi yang selanjutnya disebut RSUD adalah Rumah Sakit Milik Pemerintah Daerah yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah.

5. Direktur RSUD adalah pimpinan tertinggi dengan nama jabatan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Ngudi Waluyo Wlingi.

6. Kartu Pintar Antibiotik-Setop Memesan Otomatis yang selanjutnya disebut Kartu Pintar A BiSMO adalah kartu yang berisi pertanyaan-pertanyaan pasien atau keluarga pasien mengenai indikasi pemberian antibiotika oleh dokter.

BAB II

MAKSUD, TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP Pasal 2

Peraturan Bupati ini dimaksudkan sebagai pedoman penggunaan Kartu Pintar A BiSMO di RSUD dalam pemberian antibiotik yang tepat.

Pasal 3

Penggunan Kartu Pintar A BiSMO bertujuan untuk:

a. menjamin penggunaan antobiotik yang tepat sesuai dengan dosis pasien;

b. menurunkan penggunaan antibiotik di RSUD;

c. mengendalian penggunaan antibiotik pada pasien; dan d. membatasi dalam penggunaan antibiotik.

Pasal 4

Ruang lingkup dalam Peraturan Bupati ini meliputi : a. Kartu Pintar A Bismo; dan

(6)

BAB III

KARTU PINTAR A BiSMO Pasal 5

(1) Dalam rangka tertib penggunaan antibiotik di RSUD, diterbitkan Kartu Pintar A Bismo.

(2) Kartu Pintar A BiSMO sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pasien yang terindikasi sesuai dengan hasil pemeriksaan dokter.

(3) Kartu Pintar A Bismo yang telah diberikan kepada pasien dapat dibawa pulang oleh pasien dan ditujukan kembali kepada dokter pada saat melakukan pemeriksaan lanjutan.

Pasal 6

(1) Kartu Pintar A BiSMO berbentuk persegi panjang dengan ukuran 15 cm X 10,5 cm dan dicetak pada kertas Ap230.

(2) Tampak Kartu Pintar A BiSMO sebagai berikut : a. tampak depan.

(7)

(3) Kartu Pintar A BiSMO berisi : a. nama pasien;

b. nomor rekam medik; c. umur/jenis kelamin; d. alamat;

e. apa indikasi pemberian antibiotik; f. berapa dosis antibiotik; dan

g. berapa lama minum antibiotik.

Pasal 7

Kartu Pintar A BiSMO didapatkan pasien melalui tahapan sebagai berikut :

a. pasien/keluarga pasien mendaftar ke poliklinik tujuan melalui loket pendaftaran atau sms gateway;

b. pasien diperiksa dokter;

c. berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, kepada pasien yang terindikasi dan terinfeksi bakteri perlu diberikan antibiotik;

d. pasien yang terindikasi dan terinfeksi bakteri sebagaimana dimaksud huruf c diberikan Kartu Pintar A BiSMO untuk diisi pasien atas petunjuk dokter; dan e. Kartu Pintar A BiSMO kemuadian ditunjukkan kepada apoketer pada pada

saat mengambil obat untuk dilakukan reviu oleh apoteker. Pasal 8

(1) Kartu Pintar A BiSMO dapat digunakan pada : a. instalasi rawat jalan; dan

b. instalasi rawat inap.

(2) Tahapan penggunaan Kartu Pintar A BiSMO pada instalasi rawat jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sebagai berikut :

a. dokter penanggung jawab pasien/dokter pemeriksa memberikan penjelasan kepada pasien atau keluarga pasien mengenai indikasi, dosis dan lama pemberian antibiotik;

b. dokter memberikan pertanyaan yang tercantum dalam Kartu Pintar A BiSMO;

c. dokter menuliskan pada rekam medik pasien nama antibiotik dan hasil jawaban yang tercantum pada Kartu Pintar A BiSMO;

d. dokter menulis resep sesuai prosedur menulis resep antibiotik rawat jalan;

(8)

e. perawat memberikan antibiotik sesuai resep dari dokter kepada pasien dari hari ke hari; dan

f. apoteker mereviu terhadap informasi yang diberikan dokter kepada pasien tentang pemberian antibiotik pada saat pasien keluar rumah sakit.

(3) Tahapan penggunaan Kartu Pintar A BiSMO pada instalasi rawat inap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b sebagai berikut :

a. dokter penanggung jawab pasien/dokter pemeriksa memberikan

penjelasan kepada pasien atau keluarga pasien mengenai indikasi, dosis dan lama pemberian antibiotik;

b. dokter memberikan pertanyaan yang tercantum dalam Kartu Pintar A BiSMO;

c. dokter menuliskan pada rekam medik pasien nama antibiotik dan hasil jawaban yang tercantum pada Kartu Pintar A BiSMO;

d. perawat membantu pasien atau keluarga pasien mengisi Kartu Pintar A BiSMO;

e. dokter menulis resep sesuai prosedur menulis resep antibiotik rawat inap; f. perawat memberikan antibiotik sesuai resep dari dokter kepada pasien

dari hari ke hari; dan

g. apoteker mereviu terhadap informasi yang diberikan dokter kepada pasien

tentang pemberian antibiotik pada saat pasien keluar rumah sakit. BAB IV

PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pasal 9

Direktur RSUD secara periodik melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan penggunaan Kartu Pintar A BiSMO berdasarkan laporan bulanan dari masing-masing bidang.

BAB V

KETENTUAN PENUTUP Pasal 10

(9)

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Blitar.

Ditetapkan di Blitar

pada tanggal 17 Juli 2020 BUPATI BLITAR,

ttd RIJANTO

Diundangkan di Blitar, pada tanggal 17 Juli 2020

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BLITAR, ttd

TOTOK SUBIHANDONO

BERITA DAERAH KABUPATEN BLITAR TAHUN 2020 NOMOR 43/E

Salinan sesuai dengan aslinya, KEPALA BAGIAN HUKUM

BENNY SETYOHADI, SH., MH. Pembina Tk. I

Referensi

Dokumen terkait

"Kegiatan ini dimaksudkan agar kita semua bisa tereduksi dalam hal pengelolaan keuangan, pertanggungjawaban keuangan bawaslu" Perlu dimaklumi juga fleksibilitas

Hal ini demikian kerana penggunaan peta pemikiran i-Think dapat membantu merangsang pemikiran aras tinggi dalam kalangan murid melalui suasana pembelajaran yang global,

membangun perangkat lunak pada perangkat mobile android. 2) Perangkat lunak pembelajaran tata tertib lalu lintas berbasis android dapat digunakan seluruh orang yang

Hubungan antara komposisi briket dengan kadar abu yang dihasilkan menurut Grafik 2 adalah setiap penambahan komposisi ranting dengan jumlah daun yang sama, maka akan

Bakat merupakan kapasitas seseorang sejak lahir, yang juga berarti kemampuan terpendam yang dimiliki seseorang sebagai dasar dari kemampuan nyatanya. Bakat seseorang

Ketentuan mengenai hal ini ada pengecualiannya, sebagaimana yang diatur dalam pasal 1337 KUHPerdata yaitu, dapat pula perjanjia diadakan untuk kepentingan pihak

Berdasarkan hasil analisis data pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa variabel kapasitas inovasi, proses operasi yang efisien, pemeliharaan

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang penggunaan Dana Alokasi Umum