• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modul Pengawasan k3 Bejana Tekan 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Modul Pengawasan k3 Bejana Tekan 2013"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN

TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

MODUL DIKLAT PENGAWAS KETENAGAKERJAAN

PENGAWASAN K3

BEJANA TEKAN

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

 Semakin meningkatnya penggunaan bejana bertekan baik di industry, rumah tangga maupun transportasi baik jenis maupun jumlah dapat menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan kerja (peledakan, keracunan).

 Kemampuan pengawas ketenagakerjaan kurang memadai serta masih minimnya pengawas ketenagakerjaan spesialis pesawat uap dan bejana tekan yang tersebar di seluruh Indonesia.

 Belum optimalnya pengawasan terhadap bejana tekanan.

 Banyaknya bejana tekanan yang didatangkan dari luar negeri dan di pasang di Indonesia

 Penanganan bejana tekan / botol baja pada waktu pengangkutan atau pemindahan masih menggunakan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat keselamatan kerja.

 Berdasarkan pasal 2 ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, terdapat beberapa kegiatan sebagaimana tersebut di atas menggunakan bejana tekan.

 Bejana tekanan memiliki sumber/potensi bahaya, akibat pemakaian bejana tekan meliputi air panas, gas, fluida, panas/suhu tinggi, peningkatan tekanan/peledakan.

 Oleh karena itu perlu ditetapkan keselamatan kerja sebagaimana diatur dalam pasal 3 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja.

 Untuk bejana tekan ketentuan teknis dan administrasinya mengacu pada peraturan Menteri No. 1/Men/1982 tentang bejana tekan.

 Konstruksi Bejana tekan pada umumnya di las, maka juru lasnya harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri No. 02/Men/1982 tentang Klasifikasi Juru las.

(3)

 Mengingatkan bahwa sumber bahaya dan potensi yang ditimbulkan akibat penggunaan/pengoperasian bejana tekan dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan (peledakan) dan penyakit akibat kerja. Maka guna pencegahan harus dilakukan pengendalian, pembinaan dan pengawasan atas pemenuhan ketentuan dan syarat-syarat keselamatan kerja bejana tekan, sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.

B. PENGERTIAN

1. Bejana tekan adalah suatu alat untuk menabung fluida yang bertekanan atau Bejana Tekan adalah bejana selain pesawat uap yang didalamnya terdapat tekanan yang melebihi tekanan udara luar, dipakai untuk menampung gas atau gas campuran termasuk udara baik terkempa menjadi cair atau dalam keadaan larut atau beku.

2. Termasuk bejana tekan adalah :

- Bejana penampung atau storage tank - Bejana pengangkut atau bejana transport - Botol baja atau tabung gas

- Instalasi atau pesawat pendingin - Instalasi pipa gas atau udara

- Reaktor adalah suatu tangki tempat berlangsungnya suatu proses/reaksi kimia dengan jalan bahan-bahan yang diperlukan dimasukan kedalamnya kemudian dicampur, dipanaskan, didinginkan, ditekan atau disuling dan lain-lain agar menghasilkan reaksi yang diinginkan.

C. DASAR HUKUM

1. Undang – Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. 2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I No. Per. 01/Men/1982 tentang

Bejana Tekan.

3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I No. Per. 02/Men/1982 tentang Kwalifikasi dan Syarat-syarat Juru Las.

(4)

4. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. 06/Men/1990 tentang Ketentuan Pewarnaan Tabung Gas Bertekanan

D. RUANG LINGKUP PEMBAHASAN MODUL

Materi pembelajaran pengawasan K3 bejana tekan meliputi Dasar Hukum, Pengertian, Ruang Lingkup pengawasan K3, Pengetahuan bejana tekan, Sumber Potensi Bahaya pada Bejana Tekan, Persyaratan K3, Tata Cara Pemeriksaan dan Tata Laksana Teknis Bejana Tekanan.

E. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta didik diharapkan dapat memahami pengawasan terhadap penerapan persyaratan K3 bejana tekan

F. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta didik di harapkan dapat menjelaskan latar belakang pengawasan K3 bejana tekan, Dasar Hukum, Pengertian, Ruang Lingkup pengawasan K3, Pengetahuan Bejana Tekan, Sumber Potensi Bahaya pada Bejana Tekan, Tata Cara Sertifikasi Alat dan Personil dan Tata Laksana Teknis K3 Bejana Tekan.

G. METODE PEMBELAJARAN

Metode pembelajaran yang akan diterapkan meliputi sbb ; 1. Ceramah

2. Penampilan gambar-gambar dan formulir permohonan pengesahan pemakaian / laporan hasil-uji / pengesahan pemakaian Bejana Tekan.

3. Tanya jawab 4. Diskusi

5. Latihan penyelesaian contoh kasus ( secara kelompok) termasuk praktek ; Menuliskan persyaratan mengenai norma K3 Bejana Tekan dalam Buku Akte Pengawasan Ketenagakerjaan, membuat Nota Pemeriksaan dan membuat Laporan kejadian. Kemudian di diskusikan antar kelompok.

(5)

6. Gladi peta pemeriksaan norma K3 Bejana Tekan.t.

H. KOMPONEN JAM PELAJARAN

Waktu pembelajaran tesedia 15 Jp, digunakan secara proporsional sbb ; 1. Pre Test ; 1 Jp

2. Penyampain materi termasuk penampilan gambar-gambar, formulir permohonan pengesahan pemakaian / laporan hasil riksa-uji / pengesahan pemakaian, dan Tanya jawab.; 5 Jp.

3. Post Test ; 1 Jp.

4. Penyelesaian studi kasus ( secara kelompok ), termasuk menuliskan persyaratan mengenai K3 Bejana Tekan dalam Buku Akte Pengawasan Ketenagakerjaaan, membuat Nota Pemeriksaan dan membuat Laporan Kejadian. Kemudian di diskusikan antar kelompok; 6 Jp.

5. Gladi peta pemeriksaan norma K3 Bejana Tekan ; 2 Jp. ;

BAB II

POKOK BAHASAN .

A. RUANG LINGKUP OBJEK PENGAWASAN BEJANA TEKANAN

 Perencanaan, pembuatan, pemasangan atau perakitan, penggunaan atau pengoperasian, dan pemeliharaan bejana tekanan.

 Petugas yang melayani bejana tekan.

B. PENGETAHUAN BEJANA TEKAN Pengertian

(6)

terdapat tekanan yang melebihi tekanan udara luar, dipakai untuk menampung gas atau gas campuran termasuk udara baik terkempa menjadi cair atau dalam keadaan larut atau beku.

2. Termasuk bejana tekan adalah :

- Bejana penampung atau storage tank - Bejana pengangkut atau bejana transport - Botol baja atau tabung gas

- Instalasi atau pesawat pendingin - Instalasi pipa gas atau udara

- Reaktor adalah suatu tangki tempat berlangsungnya suatu proses/reaksi kimia dengan jalan bahan-bahan yang diperlukan dimasukan kedalamnya kemudian dicampur, dipanaskan, didinginkan, ditekan atau disuling dan lain-lain agar menghasilkan reaksi yang diinginkan.

Alat perlengkapan dan alat pengaman

- Alat perlengkapan adalah semua perlengkapan yang dipasang pada bejana tekan yang ditunjukan agar bejana tekan dapat beroperasi dengan aman sesuai maksud dan tujuan pemakainya seperti: pressure gauge, level gauge, thermometer gauge.

- Alat pengaman adalah suatu peralatan yang dipasang langsung pada bejana tekan yang dapat membuang tekanan bila didalam bejana terdapat tekanan yang melebihi tekanan kerja maksimum yang diizinkan sesuai ketentuan.

- Pelat nama adalah suatu pelat identifikasi berukuran tertentu yang dipasang/ditempel pada dinding bejana atau bagian lain yang mudah dilihat membuat keterangan bejana tentang: nama pabrik pembuat, tahun dan tempat pembuatan, nomor seri pembuatan, tekanan disain atau tekanan kerja maksimum, tekanan uji dan waktu pengujian, jenis dan volume bejana, tanda-tanda pemeriksaan atau pengujian.

(7)

Gas bertekanan merupakan salah satu jenis bahan kimia berbahaya yang dalam pengemasannya disimpan atau ditampung didalam bejana tekan/botol baja bertekanan tinggi dalam wujud atau dalam keadaan terkempa, cair atau larutan maupun dalam keadaan beku.

Pengelompokan gas bertekanan

Seperti halnya bahan kimia, gas bertekanan dikelompokkan menurut sifat/resikonya sebagai berikut :

(i). Gas yang dapat mengurangi kadar zat asam (Innert Gases = Asphisixian gases) adalah suatu gas yang dalam keadaan biasa mudah bereaksi kimia dengan bahan bakar dan gas lain. Contoh : Argon, Helium, Neon (gas mulia, N2 dan CO2).

(ii). Gas mudah terbakar (Flammable Gases adalah gas yang mudah bereaksi dengan oksigen dan menimbulkan kebakaran (titik nyala 100oC

atau kurang). Contoh C2H2, H2, Butane, Propane.

(iii). Gas menyengat (Corrosive Gases) adalah suatu gas yang karena reaksi kimia dapat mengakibatkan kerusakan apabila kontak dengan jaringan hidup atau bahan lainnya. Contoh : Chlor, Sulfur diokside, Anhydrous Amonia.

(iv). Gas pengoksid (Oxidizing Gases) adalah suatu gas yang menyebabkan kematian apabila terserap lewat pernapasan.

(v). Gas pengoksid (Oxidizing Gases) adalah suatu gas yang mungkin tidak mudah terbakar, tetapi dapat menghasilkan oksigen yang dapat mempermudah pembakaran.

(vi). Gas campuran (Mixture Gases) adalah suatu campuran dua atau lebih gas yang dibuat untuk keperluan tertentu dengan ketentuan gas-gas tersebut tidak akan bereaksi atau sama lain menjadi senyawa yang lain. Contoh : Campuran CO (100%) dan (90%).

(vii). Gas cair (Liquid Gases) adalah suatu gas yang karena tekanan tertentu dapat berubah menjadi cair mempunyai titik didih 90oC dan tekanan 14,2

psi.

(8)

Gas bertekanan yang dipakai untuk kendaraan bermotor

Sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam penggunaan Bahan Bakar

untuk kendaraan bermotor, dipergunakan Bahan Bakar Gas.

Bahan Bakar Gas (BBG) merupakan gas alam yang terdiri dari komposisi terbesar methane, dan komposisi kimia lainnya seperti ethane, propane, butane dan pentane.

Jenis BBG yang dapat digunakan untuk kendaraan bermotor :  CNG (Compress Natural Gas)

Komposisi utama berupa gas metana (C1). Gas alam yang dikompres dengan tekanan tinggi agar dapat disimpan dalam tabung gas seefisien mungkin sehingga mudah dimanfaatkan sebagai energi bahan bakar  SUDAH DIGUNAKAN DI INDONESIA

LPG (Liquid Petroleum Gas)

Terdiri dari campuran propan dan butan i  SUDAH DIGUNAKAN DI INDONESIA  LNG (Liquid Natural Gas)

Gas alam yang diproses menjadi cair bertekanan 3 sampai 10 bar dengan suhu rendah dibawah 162 C (-162C)  BELUM DIGUNAKAN DI INDONESIA

Produk BBG untuk kendaraan harus memenuhi persyaratan standar sebagai berikut :

- Memberikan rasa aman dalam pengoperasian kendaraan bermotor dan peralatan terkait yang diperlukan untuk pengisian, pemanfaatan dan pemeliharaannya.

- Melindungi instalasi sistem pemakaian bahan bakar gas dari kerusakan yang diakibatkan oleh korosi dan pengendapan cairan dan atau material.

- Memberikan unjuk kerja kendaraan yang optimal dalam semua kondisi iklim dan kebutuhan berkendara.

Kelebihan BBG

 Lebih bersih dan tidak bising

 Emisi gas buang lebih kecil dibanding BBM : PM : 100 %, Penurunan CO: 90,6 %, Penurunan NOx : 38 %, Penurunan HC : 64 %

(9)

 Kebisingan kendaraan CNG 2~3dB lebih kecil dibanding diesel/premium

 Lebih aman dibandingkan BBM

 Mudah menguap saat ada kebocoran karena lebih ringan dari udara (SG 0,6)  Resiko kebakaran relatif rendah (Suhu bakar 537oC; Batas flamibilitas :5 - 15

% udara)  untuk LPG 1,8 – 9,8 %, Premium: 1,4 – 7,6 %  Tidak beracun

 Lebih efisien dan ekonomis

 Lebih murah dibandingkan BBM  Menguntungkan  Mesin lebih bersih  Mengurangi frekuensi pemeliharaan

Gambar Perbandingan BBG dengan BBM

Kekurangan BBG

 Pendistribusion dan penyimpanan relatif mahal  Investasi > dari BBM  Ada tambahan biaya converter kit   11 juta rupiah

 Daya jelajah pendek  Sulit mendapatkan gas karena Infrastruktur SPBG masih sangat terbatas

 Tangki BBG relatif berat  Menambah beban kendaraan

 Tangki bertekanan tinggi  Perlu persyaratan khususu dan perawatan yang memadai

(10)

 Kehilangan daya  20 %  Terkadang mesin susah hidup

 Perlu converter kit dan seeting yang sesuai

Jenis instalasi sistem BBG

Jenis instalasi sistem pemakaian bahan bakar gas terdiri dari : - SISTEM BI-FUEL

Kendaraan yang dikonversikan untuk dapat beroperasi dengan dua bahan bakar premium dan gas (CNG atau LPG)

- SISTEM DUAL-FUEL

Kendaraan yang dikonversikan menggunakan dua jenis bahan bakar : diesel dan gas (CNG atau LPG) secara bersamaan

- SISTEM FULL DEDICATED

Kendaraan yang dikonversikan menggunakan bahan bakar gas (CNG atau LPG) saja.

(11)

A. Tabung CNG

Berdasarkan ISO 11439 : 2000 tentang GAS CYLINDERS – HIGH

PRESSURE CYLINDERS FOR THE ON-BOARD STORAGE OF NATURAL GAS AS A FUEL FOR AUTOMOTIVE VEHICLES, tabung CNG terbagi

menjadi 4 jenis (type), yaitu : TYPE 1 (CNG 1)

 Terbuat dari material berbasis metal atau baja  Paling murah

 Paling berat  (Kapasitas 60 L  75 Kg)

Gambar Tabung CNG Type 1

TYPE 2 (CNG 2)

 Liner/pelapis dalam dari metal dan dibungkus resin/ serat fiberglas pada bagian luar (Hoop wrap)

 Lebih mahal dari CNG 1

(12)

TYPE 3 (CNG 3)

 Liner/pelapis dalam dari metal dan dibungkus serat karbon pada bagian luar (full wrap)

 Lebih mahal

 Lebih ringan  (Kapasitas 60 L  26 Kg)

Gambar Tabung CNG Type 3

TYPE 4 (CNG 4)

 Liner/pelapis dalam dari bahan non metal/ plastik dan dibungkus serat karbon pada bagian luar (full wrap)

 Lebih mahal  Lebih ringan

(13)

Gambar Tabung CNG Type 4

B. Tabung LPG/LGV

Tabung LPG (Liquified Petroleum Gas) yang dipergunakan untuk kendaraan bermotor di Indonesia lazim disebut dengan LGV (Liquified Gas for Vehicle). Di dunia untuk tabung LGV kebanyakan mengacu pada UN ECE R 67 : Motor

Vehicles Using Liquefied Petroleum Gases In their Propulsion System.

Sampai saat ini belum ada SNI untuk kendaraan berbahan bakar LPG

Untuk spesifikasi teknis dari pada LGV ini adalah Bahan bakar LPG yang terdiri dari propana (C3) dan butan (C4). Disain temperatur operasi tabung harus dari -20 °C sampai 65 °C. Disain tekanan operasi tabung: 3,000 kPa (30 bar).

Tabung LGV dibagi berdasarkan klasifikasi tekanan sebagai berikut : a. Komponen Kelas 1 : 3,000 kPa.

b. Komponen Kelas 2 : 450 kPa. c. Komponen Kelas 2A : 120 kPa.

(14)

Gambar Tabung LGV

Desain / perencanaan

Hal-hal yang berhubungan dengan perencanaan :

- Tekanan desain adalah tekanan yang digunakan dalam pendesainan/perencanaan suatu bejana untuk menghitung tebal bejana yang diperlukan belum termasuk penambahan tebal karena korosi.

- Tekanan kerja maksimum yang diperbolehkan adalah kerja paling tnggi pada setiap bagian bejana berdasarkan tebal pelat sebenarnya / tebal pelat nominal untuk pembuatan bejana tekan.

- Tekanan kerja normal adalah tekanan kerja yang dipakai untuk mengetahui kekuatan konstruksi suatu bejana tekan.

- Suhu kerja atau suhu operasi adalah temperatur yang akan dipertahankan pada dinding bejana selama bejana dioperasikan dan suhu ini tidak boleh melebihi suhu desain.

- Suhu desain adalah temperatur yang dipakai patokan yang tidak boleh dilampaui yang diterima atau kontak dengan dinding bejana akibat kontak panas dengan fluida didalam bejana berdasarkan suhu test bahan dinding bejana.

- Nilai tegangan tarik adalah nilai kuat tarik dari bahan yang didapat dari hasil pengujian tarik.

- Nilai tegangan maksimum yang diperbolehkan adalah tegangan maksimum yang diizinkan yang digunakan dalam rumus desain suatu bejana.

- Tebal pellet dinding bejana adalah tebal yang dimiliki oleh suatu bejana, berupa tebal pelat yang diperlukan, tebal desain dan tebal nominal.

(a) Tebal yang diperlukan adalah tebal yang diperoleh dari suatu rumus dalam Standart atau Formula.

(b) Tebal desain adalah tebal yang diperlukan (a) ditambah ketebalan karena korosi (allowance).

(c) Tebal nominal adalah tebal pelat yang sebenarnya (actual) yang digunakan untuk pembuatan suatu bejana.

(15)

- Efisiensi sambungan las, adalah suatu angka atau koefisiensi yang dipakai sebagai angka pengali pada nilai tegangan maksimum yang dibolehkan.

- Nilai batas mulur bahan adalah nilai tertinggi tegangan yang diizinkan untuk menghitung kembali kekuatan kontruksi suatu bejana.

Gambar Dokumen Gambar Rencana

Pemilihan Material

Pemilihan utama dalam pemilihan suatu material adalah kemungkinan korosi yang timbul jika material/bahan tersebut tidak berada dalam kondisi yang sesuai dengan medium/gas yang dikemasnya, faktor-faktor lainnya yang dipertimbangkan adalah kegunaannya, sifat mekanik, sifat fisik kimia, daya tahan terhadap cuaca, lingkungan, panas, biaya pembuatan/pengadaan, perawatan serta pemeliharaan.

Pemilihan bahan konstruksi terutama ditujukan untuk keperluan keselamatan pemakaian/keselamatan kerja disamping untuk mendapatkan biaya yang murah,

(16)

dengan tidak terlepas dari pertimbangan adanya pengaruh zat kimia/mediumnya terhadap bahan konstruksi dan sebaliknya.

Jika untuk menyimpan atau mengemas satu jenis gas/zat kimia kemungkinan besar dapat diperoleh suatu bahan konstruksi yang dapat tahan sepenuhnya, namun bahan tersebut dapat jadi terlalu mahal atau pun tidak tersedia sama sekali, sehingga dalam praktek biasanya dipilih dalam suatu bahan yang secara ekonomi lebih murah dan mempunyai laju korosi yang cukup lambat.

Untuk bejana/tangki penampung guna gas-gas atau bahan kimia yang berbeda, bahannya pun juga harus berbeda-beda. Oleh karena itu pemilihan bahan harus benar-benar memenuhi atau tahan terhadap :

(a) Semua zat/gas/bahan kimia yang masuk

Dalam kenyataan hal ini mustahil, untuk hal tersebut sebagian besar bahan-bahan konstruksi bejana digunakan bahan-bahan dengan daya tahan yang cukup tinggi dan dengan memberi tambahan ketebalan pleta dinding sesuai laju timbulnya korosi.

Berikut ini diberikan keterangan mengenai beberapa bahan konstruksi yang banyak digunakan dalam konstruksi bejana untuk keperluan penyimpanan / penampungan gas bertekanan atau tangki penampung bahan kimia lainnya. - Logam :

(a) Logam-logam besi seperti : besi tuang, besi campuran, baja lunak (mild steel), baja campuran, baja tahan karat (stainless steel)

(b) Logam-logam bukan besi seperti: aluminium, timah, nikel krom, tembaga, seng perunggu dan kuningan.

- Non Logam :

(a) Logam-logam besi seperti besi tuang (cast iron) dan besi campuran (iron

alloy), karena sifatnya kedua jenis ini tidak dapat digunakan untuk pembuatan

bejana tekan (cocok untuk tangki bahan-bahan kimia). - Kadar karbon harus rendah (0,1 – 0,25 %)

- Dalam keadaan normal korosinya harus lambat - Tidak mudah patah/rapuh

Untuk bahan pembuatan bejana tekan digunakan baja baik baja lunak (mild steel), baja tuang (cast steel) maupun baja tahan karat (stainless steel) atau baja campuran.

(17)

(b) Logam-logam bukan besi seperti: aluminium, kromium, tembaga, timah, nikel, tin, seng, kuningan, kuningan dan perunggu pada dasar tidak dapat dipakai untuk tangki/bejana penampung bahan kimia.

(c) Bahan bukan logam lainnya seperti: grafit, kaca, plastic dipakai sebagai bahan tambahan pelengkap instalasi bejana sesuai kebutuhan.

(18)

Gambar. Sertifikat Bahan dan Hasil Pengujian Bahan Bentuk dan Kedudukan

Bentuk bejana tekan dibedakan menurut bentuk badan (steel) maupun bentuk front (tutup) atau headnya. Sedangkan kedudukannya dibedakan menurut letak sumbu atau garis sentralnya yaitu :

-Bejana Silindrical -Bejana Spherical

-Bejana dengan tutup elips

-Bejana dengan tutup torispherical -Bejana dengan tutup hemispherical -Bejana dengan tutup semi elliptical -Bejana dengan tutup rata

-Bejana dengan kedudukan horizontal -Bejana dengan kedudukan vertical -Bejana dengan bentuk khusus

(19)

Gambar. Tabung LGV termasuk bejana dengan Bentuk Khusus

C. SUMBER/POTENSI BAHAYA BEJANA TEKAN

1. Bejana tekan merupakan salah satu sumber bahaya yang dapat menimpa tenaga kerja dan kerusakan yang fatal bagi lingkungan.

Jenis bahaya tersebut adalah : 1.1. Bahaya terhadap kebakaran 1.2. Bahaya terhadap keracunan

1.3. Bahaya terhadap pernapasan tercekik/aspisia 1.4. Bahaya terhadap peledakan

1.5. Bahaya terhadap cairan sangat dingin/cryogenic

1.1.Bahaya terhadap kebakaran

Gas yang mudah terbakar yang dikemas dalam bejana tekan/tabung gas, bila tercampur dengan oksigen atau udara normal serta sumber panas dapat menimbulkan kebakaran atau ledakan misalnya: asetylene, hydrogen, elpiji, carbon monoxide, methane dsb.

Disamping itu juga terdapat gas-gas yang reaktif yang bila bertemu dengan zat tertentu akan menimbulka reaksi dan panas yang menimbulkan kebakaran atau ledakan.

Contoh gas-gas yang reaktif adalah Chlorine yang dapat bereaksi dan terbakar dengan zat-zat organic pada udara normal. Gas Oksigen dapat menimbulkan reaksi isothermis dan menimbulkan api maupun ledakan bila tercampur dengan bahan bakar, minyak atau pelumas maupun gemuk.

Beberapa jenis gas yang apabila ditempatkan didalam botol atau tangki gas dapat bereaksi sendiri apabila mendapat sumber panas dari luar maupun goncangan, sehingga merangsang timbulnya reaksi pada gas

(20)

didalamnya yang dapat mengakibatkan ledakan. Contoh gas seperti ini adalah Acetylene, Methyl Propodine, Vinyl Chloride dan sebagainya.

Gambar kebakaran bejana tekan 1.2.Bahaya terhadap keracunan dan iritasi

Beberapa jenis gas tertentu mempunyai sifat-sifat beracun yang sangat membahayakan bagi makhluk hidup karena dapat meracuni darah dalam tubuh melalui system pernapasan atau merusak paru-paru maupun jaringan tubuh lainnya seperti kulit, mata, system syaraf dan lain-lain.

Gas-gas beracun bila terhirup melalui pernapasan dalam kadar tertentu yang relative kecil dapat mengakibatkan kematian seperti Chlorine, Sulfur Dioxide, Hydrogen Cydrogen Sulfide, Carbon Monoxide Ammoniak dan sebagainya. Orang-orang yang karena pekerjaannya berhubungan dengan gas-gas beracun maupun yang dapat menimbulkan iritasi harus cukup terlatih dan memahami bahaya yang ditimbulkannya dan mengetahui serta melaksanakan cara-cara pelaksanaan pekerjaan yang aman.

1.3. Bahaya terhadap pernapasan tercekik (Asphyxsia)

Sejumlah jenis gas tertentu yang tampaknya tidak berbahaya karena tidak beracun dan tidak dapat terbakar, seperti gas Argon, Nitrogen, Carbon Dioxide, Helium dan gas inert lainnya. Sebenarnya dapat mengakibatkan

(21)

kematian apabila gas tersebut telah memenuhi ruangan tertutup sehingga Oxiygen dalam ruang tersebut tidak cukup lagi memenuhi kebutuhan pernapasan. Gas-gas tersebut disebut juga gas inert.

Gas-gas inert ini bila terhirup dapat mengakibatkan orang menjadi lemas tanpa sadar dan bila tidak ada pertolongan secepatnya dapat menimbulkan kematian.

Memasuki ruangan-ruangan tertentu seperti ruang pengawasan, tangki penyimpanan, gudang, lubang dalam tanah dan sebagainya harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh demi menjaga keselamatan bagi pekerja.

1.4.Bahaya terhadap peledakan

Semua jenis gas bertekanan yang tersimpan didalam botol baja maupun tangki gas mempunyai bahaya meledak karena ketidakmampuan kemasan dalam menahan tekanan gas yang ada didalamnya. Tekanan gas yang ada didalam botol baja akan naik karena gas berekspansi (mengembang) bila menerima sumber panas dari luar tabung maupun dari dalam tabung itu sendiri ataupaun karena adanya cacat botol baja yang pada akhirnya tidak mampu menahan tekanan karena pecah meledak atau karena system pengaman botol seperti safety valve atau bursting disk dan lain-lain tidak bekerja dengan baik atau spesifikasinya tidak sesuai dengan standar sebagaimana mestinya.

Disamping itu gas bertekanan dapat meledak disebabkan karena menurunnya kekuatan tabung akibat korosi maupun benturan-benturan pada bejana yang melampaui batas-batas toleransi, sehingga tabung gas dalam tekanan penyimpanan yang normal dapat meledak secara tiba-tiba.

(22)

Gambar peledakan bejana tekan

1.5. Bahaya terkena cairan sangat dingin (Cryogenic)

Untuk kebutuhan industri dan penghematan ruang penyimpanan, maka gas disimpan dalam bentuk cairan dengan suhu yang sangat dingin antara -103

0C sampai dengan -2680C pada tekanan sekitar 15 kg/cm2. Apabila terkena

dengan cairan yang sangat dingin, maka cairan tersebut seketika akan menyerap panas tubuh yang terkena sehingga mengakibatkan luka seperti terkena luka bakar dan merusak jaringan tubuh, luka yang parah dapat mengakibatkan kematian bila tidak mendapatkan pertolongan segera.

F. PERSYARATAN K3 BEJANA TEKANAN Penanganan Botol Baja atau Tabung Gas

(a) Identitas dengan pewarnaan

Prinsip-prinsip pada botol baja atau tabung gas dapat dikelompokkan menurut : jenis, sifat dan potensi bahaya yang dapat sangat dominant sebagai berikut :

1. Kelompok yang dapat menyebabkan tercekik diberi cat warna abu-abu. 2. Kelompok gas mudah terbakar dan atau meledak dicat warna merah,

kecuali : gas minyak cair atau elpiji dicat warna biru/light blue dengan tanda warna merah pada bagian sekeliling valve.

3. Kelompok gas beracun dicat warna kuning tua.

4. Kelompok gas yang dapat menyengat dicat warna kuning muda. 5. Kelompok gas untuk keperluan kesehatan dicat warna putih.

6. Kelompok gas campuran dicat warna sesuai dengan jenis gas yang dicampurkan.

(23)

7. Zat asam dan gas-gas lain yang termasuk kelompok gas pengoksidasi dicat warna biru muda.

Untuk memudahkan pengelompokan tersebut dibawah ini dibuat table sebagai berikut :

Tabel Pewarna Botol Baja atau Tabung Gas

NO JENIS GAS WARNA KETERANGAN

1. Gas Oksigen Biru muda

2. Gas Oksigen untuk kesehatan Putih

3. Gas Nitrogen Abu-abu

4. Gas-gas mulia (Ar, Kr, Xr, Ne) Abu-abu

5. Gas Freon (Fluoro Carbon) Sesuai dengan jenis gasnya

6. Gas-gas beracun (misalnya Arsine Carbon Monoksida, Asam Fenol, dll) 7. Gas-gas yang menyengat (misalnya :

Amoniak Chlor, Sulfur Dioksida, dll)

Kuning muda

8. Gas Hidrogen Merah

9. Gas Hidrokarbon Merah

10 Gas Karbon dioksida Abu-abu

11. Gas-gas campuran Warna sesuai

dengan warna jenis gas campuran

Pengelompokkan pewarnaan diatas ini tidak berlaku untuk tabung gas aluminium.

(b). Identitas dengan huruf

Pada bagian botol baja atau tabung gas huruf di beri tulisan nama gas yang diisikan, dibuat dengan huruf balok warna hitam.

(c). Identitas dengan label

Pemberian label pada botol baja atau tabung gas ditempatkan pada pundak botol baja atau tabung gas. Ukuran dan tulisan label disesuaikan dengan jenis, sifat dan potensi bahaya serta kapasitas botol baja atau tabung gas sebagai berikut :

(24)

- Ukuran dan warna label disesuaikan dengan jenis, sifat dan potensi bahaya serta kapasitas gas.

- Isi table memberikan keterangan tentang jenis gas, symbol bahaya gas, peringatan tentang bahaya/kecelakaan dan cara penanggulangan bahaya / kecelakaan / emergency.

(d). Identitas dengan pelat nama atau tanda slagletter.

Pemberian pelat nama pada botol baja atau tabung gas dilakukan dengan cara penandaan dengan cap huruf (slagletter) pada pundak botol baja atau tabung gas. Terhadap botol baja atau tabung gas yang mempunyai tebal dinding kurang dari 4,0 mm, slagletter dilarang dilakukan karena dapat mengurangi kualitas dan kekuatan.

Slagletter harus memberikan keterangan tentang : - Nama pemilik

- Nama pembuat, nomor seri pembuatan dan tahun pembuatan - Nama gas yang diisikan bukan symbol kimia

- Berat botol baja atau tabung gas tanpa valve - Tekanan pengisian yang diizinkan

- Berat maksimum gas bila yang diisikan jenis gas cair - Kapasitas tampung air

- Tanda bahan pengisi bila jenis gas yang diisikan Asetylene - Bulan dan tahun pada waktu uji tekan yang pertama.

Penanganan Instalasi Pipa (a). Instalasi dengan pewarnaan

Instalasi pipa diberi warna yang berbeda menurut jenis fluida/gas yang mengalir didalamnya, dibedakan sebagai tabel dibawah ini :

T A B E L

NO PIPA JENIS FLUIDA/GAS WARNA

1 2 3 4

1 Air - Air baku - Air pendingin - Air minum - Air process Biru tua Hijau muda Hijau tua Hijau

(25)

- Air pengisi boiler - Air limbah/buangan - Air hydrant

Hijau pita alumunium Hitam pita hijau Merah

2 Minyak - Minyak ringan - Minyak berat

Hitam Hitam

3 Uap - Uap / steam Perak / silver

4 Gas - Gas alam

- Karbon dioksida - Hydrogen - Chlorine - Oksigen - Nitrogen Violet Kuning tua Merah Kuning Biru muda Abu-abu - Argon - Udara tekan - Udara panas - Amoniak - Gas synthesis Abu-abu Biru Biru tua Kuning tua Coklat 5 Bahan kimia - Asam sulfat

- Alumunium sulfat - Asamphosphoric

- Larutan urea & Carbonate - Asam fluosilisic - Larutan benfield - Larutan caustic - Caustic soda - Kapur - Polimer Orange

Orange berpite kuning-biru

Pita kuning-coklat Mass green/hijau Pita abu-abu - coklat Pita fan – pink

Pita kuning – hijau Pink

Putih Ungu

(b). Identitas dengan tanda

Instalasi pipa juga diberi identitas dengan tanda-tanda sebagai berikut:

1). Nama fluida / gas yang mengalir didalam pipa ditulis lengkap bila memungkinkan ditulis pada rumus kimianya.

(26)

2). Besarnya tekanan pada fluida/gas yang mengalir didalam pipa ditulis dengan angka dan satuan tekanan.

3). Arah aliran fluida/gas didalam pipa ditulis dengan tanda panah dengan warna yang menyolok/mudah dilihat.

PERSYARATAN KESELAMATAN KERJA DAN KETENTUAN TEKNIS PELAKSANAAN KEGIATAN PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN SERTA PENERTIBAN PENGESAHAN PEMAKAIAN BEJANA TEKAN

1. Persyaratan Keselamatan Kerja yang harus dipatuhi bagi suatu bejana tekan dan ketentuan teknis pelaksanaan kegiatan pemeriksaan dan pengujian serta penertiban Pengesahan Pemakaian Bejana Tekan harus mentaati ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam Undang-Undang No.1 tahun 1970, Peraturan Menteri No. 01/Men/1982 dan Peraturan-Peraturan pelaksanaanya serta standar teknis pendukungnya.

2. Ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud pada 1, meliputi : (a) Ketentuan tentang kualitas konstruksi bejana tekan.

(b) Ketentuan tentang kualitas dan kuantitas alat perlengkapan/alat pengaman.

(c) Ketentuan tentang kualifikasi perusahaan pembuat, perakit, pemasang, reparator, perawatan, dan operator bejana tekan.

(d) Ketentuan teknis pemeriksaan dan pengujian.

(e) Ketentuan teknis pesawat uap yang tidak perlu pengesahan pemakaian. (f) Ketentuan teknis yang berkaitan dokumen teknis bejana tekan, pemipaan,

sarana penunjang dan dokumen teknik pemeriksaan dan pengesahan pemakaian.

G. TATA CARA PEMERIKSAAN BEJANA TEKAN

1. PEDOMAN PELAKSANAAN PEMERIKSAAN BEJANA TEKAN

Sebagaimana diketahui bahwa Bejana Tekan adalah suatu peralatan yang sangat berguna bagi berbagai proses industri barang maupun jasa. Namun demikian selalu menguntungkan, bejana tekan merupakan peralatan teknik yang mengandung resiko bahaya tinggi yang dapat menyebabkan terjadinya

(27)

kecelakaan atau peledakan agar tidak terjadi kecelakaan atau peledakan maka sebelum dan dalam periode pemakaian setiap bejana tekan dan alat pengaman/perlengkapannya harus dilakukan pemeriksaan dan pengujian serta dilayani dan dirawat dengan baik dan teratur.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka perlu dikeluarkan suatu pedoman agar terwujud keseragaman dalam penanganan bejana tekan sehingga bejana tekan dapat dioperasikan dengan aman dan efisien.

Pedoman ini harus diketahui oleh semua pihak yang terkait, terutama Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota yang menangani langsung pelaksanaan pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja di lapangan menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 1999.

2. KETENTUAN KHUSUS PADA PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN

(a) Pemeriksaan dan atau pengujian yang pelaksanaannya oleh Ahli K3 Spesialis Bejana Tekan

1). Apabila kegiatan pemeriksaan dan atau pengujian dilaksanakan oleh Ahli K3 dari PJK3, maka Kepala Dinas setempat harus menyerahkan 1(satu) set dokumen teknik yang dipersyaratkan bagi kegiatan dimaksud kepada Ahli K3 yang bersangkutan.

2). Kepala Dinas setempat menerbitkan Surat Persetujuan Pemeriksaan dan Pengujian oleh Ahli K3, berdasarkan surat permohonan dari PJK3.

3). Laporan pemeriksaan dan pengujian yang dibuat oleh Ahli K3 harus dievaluasi oleh Pegawai Pengawas Spesialis Pesawat Uap dan bejana Tekan dan ditandatangani oleh Pegawai pengawas dimaksud.

(b) Penyiapan Tenaga Kerja dan Peralatan

Pada saat pemeriksaan dan pengujian dilaksanakan sesuai dengan tahapan kegiatannya, maka perusahaan pembuat atau pemasang atau perakit, atau pemakai, atau pelaksana reparasi atau modifikasi, diwajibkan menyiapkan dan menyerahkan tenaga kerja dan peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan pemeriksaan dan pengujian kepada Pegawai Pengawas atau Ahli K3 yang melaksanakan.

(28)

i. TATA LAKSANA TEKNIS BEJANA TEKAN

2. PROSEDUR PENERBITAN

PENGESAHAN GAMBAR RENCANA BEJANA TEKAN

Perusahaan pembuat harus memberitahukan secara tertulis kepada Kepala Dinas Setempat. Surat pemberitahuan harus dilampiri dengan dokumen teknik yang disyaratkan untuk pembuatan, yang terdiri dari :

 Gambar rencana

 Perhitungan kekuatan konstruksi

 Dokumen-dokumen terkait pembuatan/rencana pembuatan (Sertifikat material/verifikasi, WPS/PQR, Pemeriksaan ketebalan, Pemeriksaan ketidakbulatan, Pengukuran dimensi Pemeriksaan tidak merusak (NDT))  Sertifikat juru las

 Laporan data pembuatan/MDR (Apabila Bejana sudah dibuat)

 Laporan pengujian dari Lembaga Pengujian Independen yang sudah terakreditasi di luar negeri (apabila dibuat di luar negeri)

 Copy SKP PJK3 bidang Pembuatan/Pemasangan Bejana Tekan.

Catatan : Pengesahan gambar rencana pembuatan pesawat uap diterbitkan oleh pemerintah.

3. PROSEDUR PENERBITAN PENGESAHAN PEMAKAIAN BEJANA TEKAN PROSEDUR PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN PADA TAHAP PEMBUATAN (a) Perusahaan pembuat harus memberitahukan secara tertulis kepada Kepala

Dinas Setempat. Surat pemberitahuan harus dilampiri dengan dokumen teknik yang disyaratkan untuk pembuatan, yang sekurang-kurangnya terdiri dari :

1. Berkas pengesahan gambar rencana pembuatan pesawat uap 2. Copy SKP perusahaan dan sertifikat juru las.

3. Dokumen teknik yang terkaitnya dengan material dan proses pembuatan.

Catatan : Pengesahan gambar rencana pembuatan pesawat uap diterbitkan oleh pemerintah.

(29)

(b) Kepala Dinas setempat menyampaikan surat pemberitahuan tersebut pada (a) beserta lampirannya kepada Pegawai Pengawas Spesialis Pesawat Uap dan Bejana Tekan sesuai hierarki dilanjutkan menerbitkan Surat Perintah Tugas untuk melaksanakan pengawasan pembuatan pesawat uap.

(c) Pegawai pengawas dari Dinas setempat atau Ahli K3 yang berwenang melakukan verifikasi atau pemeriksaan terhadap dokumen teknis, obyek teknis, dan proses pekerjaan serta pengujian sebagaimana dimaksud pada III.1.1. (a) sampai dengan (d).

(d) Perusahaan pembuat harus membuat Data teknik pembuatan yang memuat data umum, data teknis dan data pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan pada tahap pembuatan.

(e) Pegawai Pengawas atau Ahli K3 wajib membuat laporan pengawasan pembuatan.

(f) Laporan dimaksud pada (e) dan Data teknik pembuatan dimaksud pada (d) disampaikan kepada Kepala Dinas setempat dan kepada Pemerintah.

4. PROSEDUR PENERBITAN PENGESAHAN PEMAKAIAN BEJANA TEKAN PROSEDUR PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN PADA TAHAP PEMAKAIAN

1. PENGESAHAN PEMAKAIAN (BARU)

(a) Setiap laporan pemeriksaan dan pengujian bejana tekan harus dicatat dalam buku Register dan diberi nomer sesuai ketentuan.

(b) Pembuatan buku Ijin Pemakaian bejana tekan menggunakan bentuk 45 dan lampirannya. Data yang dimuat dalam pengesahan berdasarkan laporan bentuk 45A dan 45B. Pengesahan Pemakaian ditanda tangani oleh Kepala Dinas setelah diparaf oleh Pegawai Pengawas dan atasan langsung Pegawai Pengawas.

(c) Setiap buku Pengesahan Pemakaian harus dicatat dalam Buku Register Pengesahan Pemakaian dan diberi nomor sesuai ketentuan.

(30)

2. Penanganan Kasus Kecelakaan Bejana Tekan

Prosedur yang harus dilakukan dalam penanganan kasus kecelakaan bejana tekan :

b. Pengurus atau pimpinan perusahaan wajib melaporkan kejadian kecelakaan bejana tekan dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 jam sejak terjadinya kecelakaan ke Kepala Kantor Dinas Tenaga Kerja setempat. c. Laporan kecelakaan tersebut dibuat secara tertulis dengan menggunakan

formulir bentuk 3 KK2 A. (Lampiran I Permenaker No. 03/Men/1998)

d. Setelah menerima laporan kecelakaan sebagaimana dimaksud point b, Kepala Kantor Disnaker memerintahkan pengawas ketenagakerjaan melakukan pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan.

e. Pengawas Ketenagakerjaan dalam melaksanakan pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan bejana tekan menggunakan formulir laporan pemeriksaan dan pengkajian sesuai lampiran II Permenaker No. 03 /Men / 1998, yang meliputi Data Umum Perusahaan, Data Korban, Fakta yang didapat, Uraian terjadinya kecelakaan, Sumber kecelakaan, Type kecelakaan , Penyebab Kecelakaan , syarat yang diberikan dan Tindakan lebih lanjut serta hal-hal lain yang perlu dilaporkan. Untuk lebih jelas peserta diklat harap mempelajari Permenaker No. 03 / Men /1998.

f. Selanjutnya Pengawas Ketenagakerjaan melakukan pembinaan K3 bejana tekan sebagai tindakan preventif sehingga kecelakaan tidak terulang lagi dan atau melakukan tindakan hukum sesuai dengan peraturan perundangan.

i. BOXES

30

1. Objek pengawasan K3 Bejana Tekan dibagi dalam 2 (dua) kelompok, yaitu :

I. Bejana Tekan

 Bejana transport

 Bejana penyimpan gas  Bejana penimbun

 Pesawat / instalasi pendingin  Botol baja

 Pesawat pembangkit gas acetylene II. Instalasi Pipa

 Instalasi pipa gas  Instalasi pipa air  Instalasi pipa cairan

III. Juru las dan Perusahaan Jasa Teknik 5. Pengetahuan bejana tekan

Untuk mempelajari peralatan-peralatan tersebut diperlukan pengetahuan dasar agar dapat mengenal sumber/potensi bahaya yang ditimbulkan oleh pesawat angkat dan angkut.

6. Sumber/Potensi Bahaya

Adapun bejana tekan adalah merupakan salah satu penyebab kecelakaan kerja yang merupakan sumber/potensi bahaya apabila konstruksinya tidak cukup kuat, sehingga diperlukan pemilihan bahan yang sesuai dengan standar termasuk dalam perencanaan kekuatan konstruksi. Selain konstruksi yang cukup kuat diperlukan juga safety devices yang harus terpasang dengan baik dan memenuhi syarat serta berfungsi pada saat dioperasikan.

7. Syarat-syarat K3 bejana tekan a. Konstruksi harus kuat b. Layak dioperasikan

c. Safety devices terpasang dan berfungsi dengan baik disertai contoh gambar.

(31)

5. Tata Cara Pemeriksaan

Prosedur pemeriksaan dan pengujian meliputi pemeriksaan visual dengan menggunakan checklist, kemudian pemeriksaan komponen-komponen kritis, pemeriksaan tidak merusak (NDT), pengujian hydrostatic, pemeriksaan safety devices.

6. Tata Laksana Teknis

Berdasarkan Peraturan Menteri No.01/Men/1982 tentang Bejana Tekanan, ditetapkan bahwa setiap perencanaan, pembuatan, perakitan dan/atau pemasangan, reparasi/modifikasi dan pemakaian bejana tekanan harus mendapatkan ijin, maka mekanisme perijinan setelah otonomi daerah seluruhnya dilakukan oleh Dinas setempat, kecuali untuk perencanaan bejana tekanan dilakukan oleh

(32)

BAB III STUDI KASUS

(33)

Suatu perusahaan industri kimia, alamat X, yang memperkerjakan tenaga kerja sebanyak 310 orang, 2 shift. Produk akhir Perusahaan tersebut salah satunya adalah pupuk. Dalam memproses produk tersebut peralatan yang digunakan antara lain conveyor belt (ban berjalan), instalasi pipa, storage tank yang berisi NH3, tanki

timbun bahan bakar, kompresor, ketel uap, bejana uap, botol baja oksigen dan acetylen, botol baja LPG, Forklift, Overhead Crane, Mobile Crane. Sumber tenaga listrik didapat dari PLN dan Genset sebagai pembangkit tenaga listrik cadangan apabila terjadi keadaan darurat.

Kasus I :

Saudara sebagai Pengawas Ketenagakerjaan telah mendapatkan Surat Perintah Tugas dari pimpinan Saudara untuk melakukan pemeriksaan pertama terhadap perusahaan industri kimia tersebut diatas berdasarkan rencana kerja yang telah ditanda tangani.

a. Hal-hal apa saja yang harus anda siapkan untuk melaksanakan tugas tersebut b. Lakukan identifikasi potensi bahaya yang ada pada saat anda melakukan

pemeriksaan lapangan

c. Upaya pengendalian apa saja terhadap potensi bahaya yang telah saudara identifikasi agar tidak terjadi kecelakaan kerja.

Petunjuk untuk menyelesaikan kasus :

1. Pelajari dan pahami Peraturan, Standar, Pedoman Teknis dan SK/SE 2. Mekanisme yang diatur oleh Dinas/Organisasi setempat

3. Formulir-formulir pemeriksaan Kasus II :

Dari Pemeriksaan Lapangan telah ditemukan

a) Storage Tank berisi NH3 sebanyak 5 unit dengan kapasitas/volume

masing-masing 2000 liter 3 unit dengan posisi horizontal, tekanan kerja 200 psi dan 4000 liter 2 unit dengan posisi vertikal, tekanan kerja 250 psi. Dari

pemeriksaan belum terpasang alat-alat safety device/alat ukur yaitu safety valve, manometer, volume meter

b) 2 unit Tangki timbun berisi bahan bakar solar dengan kapasitas/volume masing-masing 5000 liter. Kondisi tangki timbun tersebut safety devicenya sudah terpasang dengan baik dan lengkap. Namun ditemukan tanggul dari kedua tangki timbun tersebut belum ada.

c) Botol-botol baja LPG sebanyak 10 buah dengan kapasitas 45 Kg yang digunakan untuk pengelasan tidak disimpan tersendiri.

d) Instalasi pipa sudah terpasang secara baik dan terdapat sebagian secara melintang diatas jalan, sedangkan instalasi pipa tersebut belum dilengkapi dengan tanda-tanda keselamatan.

(34)

34 Kasus III :

Dari Pemeriksaan Administrasi telah ditemukan

a) Storage Tank berisi NH3 sebanyak 5 unit dengan kapasitas/volume

masing-masing 2000 liter 3 unit dengan posisi horizontal, tekanan kerja 200 psi dan 4000 liter 2 unit dengan posisi vertikal, tekanan kerja 250 psi. Dari

pemeriksaan belum mendapatkan pengesahan pemakaian dari Dinas setempat b) 2 unit Tangki timbun berisi bahan bakar solar dengan kapasitas/volume

masing-masing 5000 liter. Kondisi tangki timbun tersebut safety devicenya sudah terpasang dengan baik dan lengkap. Telah mendapatkan pengesahan pemakaian

c) Botol-botol baja LPG sebanyak 10 buah dengan kapasitas 45 Kg yang digunakan untuk pengelasan sudah memiliki pengesahan pemakaian.

d) Instalasi pipa sudah terpasang secara baik dan terdapat sebagian melintang diatas jalan. Belum mendapatkan pengesahan pemakaian dari Dinas setempat

Bagaimana langkah Saudara dan penasihatan teknis Saudara terhadap pemilik untuk mengatasi temuan diatas ?

Petunjuk untuk menyelesaikan kasus :

1. Pelajari dan pahami Peraturan, Standar, Pedoman Teknis dan SE/SK 2. Pelajari teknik-teknik komunikasi

(35)

BAB IV

CONTOH SOAL UJIAN

1. Sebutkan sumber bahaya dan potensi bahaya pada bejana tekan 2. Sebutkan dasar hukum pengawasan K3 bejana tekan

3. Sebutkan dasar hukum pengawasan Juru Las kelas 1. 4. Sebutkan syarat-syarat K3 bejana tekan

5. Sebutkan safety devices keran angkat dan fungsinya

Petunjuk penyelesaian soal : Baca modul dan Peraturan Perundang-undangan K3 meliputi UU No. 1 Tahun 1970, Permenaker No. 01 Tahun 1982, Permenaker No. 02 Tahun 1982.

BAB V PENUTUP

(36)

Modul ini merupakan bahan pembelajaran yang bersifat dasar dan umum, mencakup ketentuan-ketentuan teknis dan administrative sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan bejana tekan termasuk petugas teknis bejana tekanan.

Cakupan ruang lingkup obyek pengawasan bejana tekanan yang meliputi bejana penampung, bejana transport, botol baja dan instalasi pendingin merupakan peralatan yang banyak digunakan dalam industri manufaktur, industry kimia, industry logam dll. Sedangkan untuk mempelajari peralatan-peralatan tersebut diperlukan pengetahuan dasar agar dapat mengenal sumber/potensi bahaya yang ditimbulkan oleh bejana tekanan. Adapun bejana tekanan adalah merupakan salah satu penyebab kecelakaan kerja apabila konstruksinya tidak cukup kuat, sehingga diperlukan pemilihan bahan yang sesuai dengan standar termasuk dalam perencanaan kekuatan konstruksi. Selain konstruksi yang cukup kuat diperlukan juga safety devices yang harus terpasang dengan baik dan memenuhi syarat serta berfungsi pada saat dioperasikan. Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah terkait dengan dimana bejana tekanan tersebut dibuat, standard apa yang dipergunakan, pemeriksaan dan pengujian apa saja yang diwajibkan oleh standard tersebut.

Selain hal-hal tersebut diatas yang perlu diperhatikan adalah lokasi dimana bejana tekan itu digunakan, gas/fluida yang dipergunakan, persyaratan bekerja secara aman, pemeriksaan berkala yang dilakukan oleh petugas maintenance, perawatan dan pemeliharaan bejana tekan, pemeriksaan dan pengujian pesawat bejana tekan baik pertama maupun berkala oleh petugas yang berwenang dengan prosedur yaitu pemeriksaan visual dengan menggunakan checklist, kemudian pemeriksaan komponen-komponen kritis, pemeriksaan tidak merusak (NDT), pengujian beban.

Berdasarkan Peraturan Menteri No.01/Men/1982 tentang Bejana Tekanan, ditetapkan bahwa setiap perencanaan, pembuatan, perakitan dan/atau pemasangan, reparasi/modifikasi dan pemakaian bejana tekanan harus mendapatkan ijin, maka mekanisme perijinan setelah otonomi daerah seluruhnya dilakukan oleh Dinas setempat, kecuali untuk perencanaan bejana tekan dilakukan oleh pemerintah (Ditjen PPK). Khusus untuk lintas kabupaten/kota oleh Pemerintah Propinsi, kemudian untuk rental bilamana lintas kabupaten/kota oleh Pemerintah Propinsi dan bilamana lintas propinsi oleh Pemerintah (Ditjen PPK).

(37)
(38)

2. Standar Nasional dan Internasional (SNI, ANSI, ASME, JIS, ISO, UN ECE)

3. Garis-garis Besar Pelaksanaan Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan K3

4. Transport Vehicle using Gas, Standard Press

5. Modul Pelatihan Operator oleh JICA dan Kemenakertans 6. Modul Pelatihan Operator oleh Dit. PNK3

(39)

KLUI NO.:……….

KEMENTERIAN TENAGA KERJA R.I

AKTE PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN

Nomor:………

Nama Perusahaan :

……… Alamat Perusahaan :

……….

Kantor Departemen Tenaga

Kerja……….. Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja Propinsi ……….

(40)

Nomor Pendaftaran:……….. KLUI No:……….

AKTE PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN No.:………..

1. Induk/Cabang :

……….

2. Alamat :

……….

3. Nama dan alamat Pemilik :

……….

4. Nama dan alamat Pengurus :

……….

5. Jenis Usaha :

……….

6. Tanggal mendirikan,membangun

kembali atau memindahkan :

……….

7. No. Akte perusahaan bila perusahaan

berbentuk Badan Hukum :

……….

8. Cabang di seluruh Indonesia :

………. 9. Data Tenagakerja JUMLA H W N I JML WNA JML JUMLAH BESAR L P L P L P D M A D M A D M A D M A STATUS Bulanan Harian Boronga n/ Satuan 10. Gaya Gerak : ………..

11. Jenis pesawat tenaga :

………...

12. Jumlah pesawat tenaga :

………..

13. Jumlah kekuatan pesawat :

……… 14. bahan Baku dan bahan penolong

(41)

yang dianggap berbahaya :

……….

Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja Propinsi ………. Kepala

Tanggal Jenis Kunjungan Hal-hal yang

didapati Saran/tindakan yang dilakukan dan tanda tangan serta nama terang Pengawas yang bersangkutan

1 2 3 4

(42)

dari tanggal-tanggal pemeriksaan dan setelah selesai supaya selekas-lekasnya dilaporkan kepada Dinas Yang mebidangi ketenagakerjaan setempat

CATATAN PERUBAHAN

PROPINSI ……… KANTOR DINAS KABUPATEN / KOTA... ALAMAT………..

(43)

Nomor Kls. Ind : …………

LAPORAN PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN PERTAMA BEJANA TEKAN NO.

Membaca surat permohonan tanggal ... dari ... mengenai pemintaan ijin untuk memakai/menggunakan Bejana Tekanan (botol baja, bejana tetap, bejana transport, pesawat pendingin), dibuat di ... pada tahun ... oleh ... yang akan dipergunakan untuk ...

Perusahaan : ... Alamat pos : ... Kabupaten/Kodya : ... Propinsi ... Yang menurut si pemohon tidak akan dikerjakan dengan tekanan lebih dari ... kg/cm2.

Setelah diadakan pemeriksaan dan pengujian-pengujian dengan ini dibuatkan laporan dengan keterangan-keterangan sebagai berikut :

Data Teknis :

Jenis Bejana tekanan : ... Gas yang diisikan : ... Bentuk Bejana tekanan : ... Gambar konstruksi terlampir/tidak terlampir; No. ... Tanggal ...

No. Seri dari pabrik pembuat : ... s/d ...

Bejana tekanan tersebut sesuai/tidak sesuai dengan gambar rencana yang diperiksa dan disetujui oleh Direktorat Pengawasan Keselamatan Kerja dan mendapat nomor-nomor pengesahan ...tanggal...

Ukuran-ukuran Pesawat Uap :

... ... ...

Bahan : ...Sertifikat No. ... dari ... Isi/Volume ...dm3/liter

garis tengah terkecil dari pipa ... mm dengan tekanan ... kg/cm2 (tekanan gas dalam bejana tekanan).

Alat-alat perlengkapan yang telah ada sesuai dengan Peraturan-peraturan tentang bejana tekanan : 1. ...

(44)

Pelat nama ...

... ... ...

B. Hasil-hasil pemeriksaan dan pengujian :

- Pemeriksaan Visual :... - Pemeriksaan Hydrostatik :... ...(terlampir) - Pemeriksaan Alat Pengamanan :... ...(terlampir) C. Kesimpulan :

Pemeriksaan/pegawai Pengawas Keselamatan Kerja mengusulkan supaya diberikan pengesahan pemakaian terhadap bejana tekanan tersebut diatas dengan tekanan kerja paling tinggi : ...kg/cm2.

dengan syarat-syarat sebagai berikut :

... ... ... ... ...

HASIL PENGUJIAN HYDROSTATIK/PNEUMATIK BEJANA TEKAN NO :

DATA :

- Pemakai/Pemesan : ...

………...20….. Yang memeriksa

Pengawas Keselamatan Kerja Spesialis Uap dan Bejana Tekan

(45)

- Lokasi : ... - Unit Instalasi : ... - Nomor Serie/MSN : ... - Type : ... - Ukuran : ... - Kapasitas : ... - Penggunaan : ... - Tekanan & Suhu Disain : ... - Tekanan Kerja Maximum Yang Diperbolehkan : ... - Tekanan & Suhu Operasi Normal : ... - Faktor Sambungan : ... - Radiografi/Ultrasonic : ... - Tekanan Uji : ... - Lama Pengujian : ... - Code : ... - Pabrik Pembuat : ... - Tanggal Pembuatan : ... - Pengujian Lapangan : ... - Media Untuk Pengujian : ... - Tekanan Uji Kenyataan : ... - Lama Pengujian : ... - Hasil Uji : Baik / Tidak Baik

- Tanggal Pengujian : ...

Diuji dan Dibuat Oleh Nama Tanda Tangan

... ... ... ... ... ... Disaksikan Oleh :

... ... ... ... ... ...

(46)

C a t a t a n :

... ... ... ...

(47)

HASIL PENGUJIAN TINGKAP PENGAMAN BEJANA TEKAN NO : ... Tanggal : ...

1. DATA BEJANA TEKAN :

- Pemakai/Pemilik Bejana Tekan : ... - Alamat : ... - Jenis Bejana Tekan : ... - Gas Yang Diisikan : ... - Kapasitas Volume : ... - Nomor Serie : ... - Tekanan Rancang : ... - Tekanan Kerja Maximum : ... - Pabrik Pembuatan : ... - Tahun Pembuatan : ...

2. DATA TINGKAP PENGAMAN :

- Nomor Serie : ... - Pabrik Pembuat : ... - M e r k : ... - Tahun Pembuatan : ... - Setting Press : ... - Back Press : ... - Temp. Corection : ... - Cold Dif tes Press : ... - Diameter Dudukan : ...

3. PENGUJIAN LAPANGAN :

- Media Untuk Pengujian : ... - Tekanan Buka : ... - Tekanan Menutup : ... - Hasil Uji: Baik / Tidak Baik

(48)

Diuji dan Dibuat Oleh Nama Tanda Tangan ... ... ... ... ... ... Disaksikan Oleh : ... ... ... ... ... ... ... ... ... C a t a t a n : ... ... ... ...

(49)

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN BERKALA BEJANA TEKAN

NO. :

Yang bertanda tangan di bawah ini Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang ……….. dari Perusahaan Jasa Pemeriksa dan Pengujian Teknik PT. ……… (Surat Penunjukan Departemen Tenaga Kerja No. ………tanggal ………..) Atas permintaan :

- Nama pemilik/pemakai : ……….... - Kedudukan/jabatan : ……….... - Perusahaan : ……….... - Alamat Perusahaan : ... ...

Telah melakukan pemeriksaan dan pengujian berkala Bejana tekan mulai tanggal ...s/d...

di...

BEJANA TEKAN DENGAN KETERANGAN-KETERANGAN SEBAGAI BERIKUT : - Jenis Bejana Tekan : ………...

- Bentuk/type Bejana Tekan : ... - Gambar rencana/konstruksi No : ………

tanggal ………. - Dibuat/direncana sesuai Standard : ……… oleh ……… di ………. - Nomor serie pembuatan ………...…..Luas pemanasan……….m2

- Tekanan kerja maksimum ………. Kg/cm2 ; volume bila diisi air (W.C)

……… liter.

- Digunakan untuk : ………. - Gas yang diisikan : ………. - Berat: ...

(50)

Pelat nama berukuran ………. X ……….. - Terletak pada bagian : ………..

- Bertuliskan : ………..

……….. - Cap tanda garuda : Ada / Tidak Ada

Tanda pengenal lainnya bila ada :

- Terletak pada bagian : ... - Slagletter bertuliskan : ... ... ...

UKURAN-UKURAN UTAMA BEJANA TEKAN DAN BAGIAN-BAGIANNYA : a. Ukuran-ukuran badan dan tutup/head drum :

- Diameter ... mm ; panjang ... mm S/S; tebal pelat badan ... mm; Sertifikat bahan dari ... No. ...

Bentuk kedua tutup ... Tebal pelat tutup ... mm

panjang tutup ... mm ; jari lengkungan (R) ... mm jari-jari lekukan (r) ... mm; Sertifikat bahan dari ...

No. ...

- Pengelasan sambungan dengan cara ... bentuk Sambungan las melingkar ... faktor sambungan

..., bentuk sambungan memanjang ... faktor sambungan ...

ALAT PENGAMAN DAN PERLENGKAPAN LAINNYA YANG ADA :

(51)

- Tingkap pengaman ... ... ... - Pedoman tekanan ... ... ... - Penunjuk volume (leval gauge) ... ... ... - Lobang lalu orang ... ... ... - Saluran buang /pembersih ... ... ... - Saluran pemasukan (inlet) ... ... ... - Saluran pengeluaran (outlet) ... ... ...

DETAIL ATAU PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN YANG DILAKUKAN : 1. Pemeriksaan atau meneliti dokumen 2. Penilaian kembali kekuatan konstruksi

3. Pemeriksaan phisik/visual

4. Pemeriksaan dimensi atau identifikasi 5. Pemeriksaan tidak merusak (NDT)

 Dye penetrant  Magnetic particle  Ultrasonic

 Radiography

6. Pemeriksaan hydro test

7. Pemeriksaan berfungsinya alat pengaman dan perlengkapan lainnya

8.

9.

KESIMPULAN HASIL PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN :

... ... ... ...

SARAN KEPADA DEPNAKER UNTUK PEMAKAIAN SELANJUTNYA :

... ...

(52)

KEPUTUSAN LEBIH LANJUT DITENTUKAN OLEH DIREKTUR PENGAWASAN KESELAMATAN KERJA

TANDA UJI YANG DIBERIKAN TANGGAL

Yang memeriksa,

Ahli Keselamatan Kerja Bidang Uap dan Bejana Tekan

Diperiksa kembali oleh,

Pengawas Keselamatan Kerja Spesialis Bidang Uap dan Bejana Tekan

(53)

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN PERTAMA BEJANA TEKAN

NO. :

Yang bertanda tangan di bawah ini Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang ……….. dari Perusahaan Jasa Pemeriksa dan Pengujian Teknik PT. ……… (Surat Penunjukan Departemen Tenaga Kerja No. ………tanggal ………..) Atas permintaan :

- Nama pemilik/pemakai : ……….... - Kedudukan/jabatan : ……….... - Perusahaan : ……….... - Alamat Perusahaan : ... ...

Telah melakukan pemeriksaan dan pengujian berkala Bejana tekan mulai tanggal ...s/d...

di...

BEJANA TEKAN DENGAN KETERANGAN-KETERANGAN SEBAGAI BERIKUT : - Jenis Bejana Tekan : ………...

- Bentuk/type Bejana Tekan : ... - Gambar rencana/konstruksi No : ……… tanggal ………. - Dibuat/direncanakan sesuai Standar : ………. oleh ……… di ………. - Nomor serie pembuatan ………...…..Luas pemanasan……….m2

- Tekanan kerja maksimum ………. Kg/cm2 ; volume bila diisi air (W.C)

……… liter.

- Digunakan untuk : ………. - Gas yang diisikan : ………. - Berat: ...

(54)

Pelat nama berukuran ………. X ……….. - Terletak pada bagian : ………..

- Bertuliskan : ………..

……….. - Cap tanda garuda : Ada / Tidak Ada

Tanda pengenal lainnya bila ada :

- Terletak pada bagian : ... - Slagletter bertuliskan : ... ... ...

UKURAN-UKURAN UTAMA BEJANA TEKAN DAN BAGIAN-BAGIANNYA : b. Ukuran-ukuran badan dan tutup/head drum :

- Diameter ... mm ; panjang ... mm S/S; tebal pelat badan ... mm; Sertifikat bahan dari ... No. ...

Bentuk kedua tutup ... Tebal pelat tutup ... mm

panjang tutup ... mm ; jari lengkungan (R) ... mm jari-jari lekukan (r) ... mm; Sertifikat bahan dari ...

No. ...

- Pengelasan sambungan dengan cara ... bentuk Sambungan las melingkar ... faktor sambungan

..., bentuk sambungan memanjang ... faktor sambungan ...

(55)

JENIS JUMLAH UKURAN LETAK - Tingkap pengaman ... ... ... - Pedoman tekanan ... ... ... - Penunjuk volume (leval gauge) ... ... ... - Lobang lalu orang ... ... ... - Saluran buang /pembersih ... ... ... - Saluran pemasukan (inlet) ... ... ... - Saluran pengeluaran (outlet) ... ... ...

DETAIL ATAU PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN YANG DILAKUKAN : 10. Pemeriksaan atau meneliti dokumen 11. Penilaian kembali kekuatan konstruksi

12. Pemeriksaan phisik/visual

13. Pemeriksaan dimensi atau identifikasi 14. Pemeriksaan tidak merusak (NDT)

Dye penetrant Magnetic particle Ultrasonic

Radiography

15. Pemeriksaan hydro test

16. Pemeriksaan berfungsinya alat pengaman dan perlengkapan lainnya

17.

18.

KESIMPULAN HASIL PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN :

... ... ... ...

SARAN KEPADA DEPNAKER UNTUK PEMAKAIAN SELANJUTNYA :

(56)

KEPUTUSAN LEBIH LANJUT DITENTUKAN OLEH DIREKTUR PENGAWASAN KESELAMATAN KERJA

TANDA UJI YANG DIBERIKAN TANGGAL

Yang memeriksa,

Ahli Keselamatan Kerja Bidang Uap dan Bejana Tekan

Diperiksa kembali oleh,

Pengawas Keselamatan Kerja Spesialis Bidang Uap dan Bejana Tekan

(57)

KETERANGAN DATA PEMBUATAN BEJANA TEKAN - Pabrik/Bengkel Pembuat : ……… - Alamat : .…... - Pemesan/Calon Pemakai : ... - Alamat : ... - Standar ……….… Type ……….…….... - Gambar No. ………. Tanggal ... - Pengesahan ... - Digunakan Untuk ... Volume ... Liter - Serie Nomor Pembuatan ... - Tempat, Bulan dan Tahun Pembuatan ... - Tekanan Kerja Maksimum ... Kg/cm2

- Badan : Material ………. Garis Tengah ……….. Panjang ………. S/S Tebal Pelat ……….…... - Tutup/Front : Bentuk ………. Panjang ……….. Lekukan ………... Lengkungan ……….. - Sambungan : Memanjang ……….. Faktor Sambungan …………....

Melingkar ………... Faktor Sambungan ……….. LOBANG-LOBANG SALURAN ATAU NOZLE-NOZLE

- Tingkap Pengaman ………. Lokasi ………... - Pengukuran Tekanan ……….. Lokasi ………... - Lobang Pemasukan ………. Lokasi ………... - Lobang Pengeluaran ………... Lokasi ………... - Lobang Pemeriksaan ……….. Lokasi ………... - Lobang Lalu Orang ………. Lokasi ………... - Lobang Pengurasan ………. Lokasi ………... Cap Atau Pelat Nama Bertuliskan ……….

……… ……… ………

JURU LAS YANG MENGERJAKAN

N a m a Kelas Sertifikat No. Catatan ……… ……… ……… ……….. ……… ……… ……… ……….. ……… ……… ……… ……….. Pengawas Pekerjaan ………. Dari ……….. ………..

(58)

1. Material ……….. ………. 2. Pemeriksaan Dimensi ……….. ………... 3. Pemeriksaan Tidak Merusak

3.1. Visual ……….. ……… 3.2. Dye Penetrant ……….. ……… 3.3. Ultrasonic ……….. ……… 3.4. Radiographi ……….. ……… 3.5. ………. ……….. ……… 4. Pemeriksaan Kebocoran

4.1. Pemeriksaan Hydro Test ……….. ………... 4.2. Pemeriksaan Pneumatik ……….. ……… 4.3. ……… ……….. ………... 5. Pemeriksaan Alat Perlengkapan

dan Pengaman ……….

Tanggal : …………... Diperiksa Oleh :

2.

Pengawas Keselamatan Kerja Spesialis Bidang Uap dan

Bejana Tekan

NIP.

Pabrik / Bengkel Pembuat

Gambar

Gambar Perbandingan BBG dengan BBM
Gambar Tabung CNG Type 1
Gambar Tabung CNG Type 3
Gambar Tabung CNG Type 4
+5

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

sangat memadai, serta audit operasional sangat berperan dalam menunjang efisiensi dan efektivitas penjualan Broadband Speedy pada PT.. Telekomunikasi

1. Melakukan kunjungan lapangan ke Kecamatan Jagong Jaget dalam rangka identifikasi lokasi calon kegiatan Bioindustri berbasis kopi arabika. Dari hasil identifikasi dan

Pemphigus sering terdapat pada pasien dengan penyakit autoimun yang lain,.. terutama pada myasthenia gravis

Sedangkan pengawasan terhadap rodentia perlu diadakan kecuali karena mungkin kena penyakit akibat gigitan binatang tersebut yang kebetulan terinfeksi, juga karena pada tubuh

dengan pembongkaran awalnya ditujukan mulai pada bulan Desember tahun bulan Desember tahun itu juga dan pembangunan stadion baru akan.. itu juga dan pembangunan stadion baru

Kemitraan bidan dengan dukun adalah suatu bentuk kerjasama bidan dengan dukun yang saling menguntungkan dengan prinsip keterbukaaan, kesetaraan, dan kepercayaan dalam upaya untuk

Apabila prediksi merupakan proses yang menggunakan observasi atau data sejalan dengan jenis pengetahuan ilmiah untuk meramalkan peristiwa yang belum terjadi, berhipotesis lebih

tertentu untuk meningkatkan populasinya, setelah introduksi agen antagonis diberi waktu yang lebih lama agar perkembangan agen antagonis menjadi lebih baik dan