GUILD PAKAN KOMUNITAS BURUNG DI DKI JAKARTA

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

GUILD PAKAN KOMUNITAS BURUNG DI DKI JAKARTA

(Feeding Guilds of Bird Community in DKI Jakarta)

W

ALID

R

UMBLAT1)

,

A

NI

M

ARDIASTUTI2) DAN

Y

ENI

A.

M

ULYANI3)

1)

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor

2,3) Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB Email:bioryza@gmail.com

Diterima 09 Mei 2016 / Disetujui 26 Agustus 2016

ABSTRACT

Green space which is available in Jakarta could be used as a birds habitat. The study of the feeding guild may be a useful indicator of the environment disturbance. Therefore, this study was expected to provide information on the bird composition by using the feeding guild as consideration in managing green space in Jakarta. Bird species data obtained from research during May to July 2014 were grouped based on the response to the feeding guild. Bird species were grouped into 12 feeding guilds and every species could only had one feeding guild. Based on studies in 21 green space in Jakarta, 162 species of birds were found with the insectivorous birds in tree canopy (36 species or 22,22%) and fish eater (28 species; 17,28%) as the most dominant feeding guild.

Keywords: bird, DKI Jakarta, feed, green space, guild

ABSTRAK

Ruang terbuka hijau (RTH) yang tersedia di DKI Jakarta dapat dimanfaatkan sebagai habitat burung. Guild merupakan karakter ekologis yang dapat dijadikan sebagai indikator lingkungan dengan mempelajari responnya terhadap gangguan. Kajian ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai keragaman jenis burung berdasarkan guild pakannya sebagai bahan pertimbangan dalam mengelola RTH di DKI Jakarta. Data jenis burung yang diperoleh dari Mei hingga Juli 2014 dikelompokkan berdasarkan guild pakannya menjadi 12 tipe guild, dan setiap spesies hanya dapat memiliki satu tipe guild. Berdasarkan penelitian di 21 RTH di DKI Jakarta ditemukan 162 jenis burung dengan kelompok burung pemakan serangga di kanopi pohon (36 jenis; 2,22%) sebagai guild pakan yang paling dominan disusul oleh pemakan ikan (28 jenis; 17,28%).

Kata kunci: burung, DKI Jakarta, guild, pakan, ruang terbuka hijau

PENDAHULUAN

Komunitas burung mempunyai banyak karakteristik yang potensial untuk dijadikan sebagai indikator ekologis (O’Connell et al. 2000) karena komposisi komunitas burung mencerminkan dinamika interspesifik di dalam ekosistem (Cody 1981). Guild merupakan kelompok spesies yang memanfaatkan suatu sumber daya yang sama dan dengan cara yang sama (O’Connell et al.2000, Karr 1980). Suatu kelompok spesies dapat dikatakan memiliki guild yang sama berdasarkan cara kelompok spesies tersebut memperoleh sumberdaya, misalnya sumberdaya pakan (Karr 1980).

Karakter ekologis pada burung seperti jenis pakannya dapat digunakan sebagai bioindikator gangguan lingkungan dengan mengkaji responnya terhadap gangguan (Gray et al. 2007). Selain itu, burung juga baik dijadikan bioindikator lingkungan karena merupakan salah satu taksa hewan vertebrata terbaik yang dipelajari di daerah tropis didukung oleh taksonominya sudah diketahui cukup baik, serta data ekologisnya sudah terkumpul (O’Connell et al. 1998, Noss 1990).

Ancaman keberadaan RTH di DKI Jakarta cukup tinggi. Pada akhir tahun 2010 diproyeksikan DKI Jakarta memiliki 13,94% ruang terbuka hijau (RTH) dalam bentuk taman kota, areal budidaya pertanian, jalur hijau dan hutan kota (Kurniati 2007). Namun, kenyataannya luasan RTH di DKI Jakarta terus mengalami penyusutan untuk tujuan pembangunan, sehingga jenis burung berpotensi kehilangan habitat yang berdampak terhadap penurunan keanekaragaman jenis. Berdasarkan tutupan lahan pada tahun 2013 RTH di DKI Jakarta hanya tersisa 9% dari luas keseluruhan DKI (Febrianti dan Sofan 2014).

Kajian mengenai guild pakan komunitas burung di Indonesia khususnya di lingkungan perkotaan diperlukan untuk memberikan gambaran mengenai kemampuan RTH dalam mendukung kehidupan burung di perkotaan khususnya sumberdaya pakan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dan mendeskripsikan guild pakan burung dari beberapa RTH di DKI Jakarta sebagai bahan pertimbangan dan gambaran bagi pemerintah DKI untuk mendukung kehidupan burung di lingkungan perkotaan.

(2)

METODE PENELITIAN

Pengambilan data dilakukan dari Mei hingga Juli 2014 di beberapa lokasi RTH di DKI Jakarta, terdiri atas daerah administrasi Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat dan Jakarta Pusat. Data yang dikumpulkan merupakan data jenis burung di DKI

Jakarta dari tahun 2008 sampai 2014. Data dikumpulkan dari beberapa RTH dengan kondisi habitat yang berbeda yaitu hutan kota, taman kota, jalur hijau, sempadan (kiri kanan) sungai, hutan pantai, kebun binatang, bumi perkemahan, dan areal terbangun (perumahan dan kampus) (Tabel 1).

Tabel 1 Lokasi RTH dan jumlah jenis burung yang ditemukan dari 21 lokasi di DKI Jakarta

Lokasi RTH Bentuk RTH Luas

(Ha)

Jumlah Spesies burung

Jakarta Selatan

Depok Sempadan sungai - 25

Pondok Indah Perumahan 460 27

Taman Margasatwa Ragunan Kebun binatang 147 75

Bumi Perkemahan Ragunan Bumi perkemahan - 20

Universitas Indonesia Hutan kota 90 44

Pesanggrahan Hutan kota 40 27

Taman Langsat Taman kota 3,6 19

Kalibata Sempadan sungai - 24

Manggarai Sempadan sungai - 16

Tebet Hutan kota 2,8 14

Jakarta Timur

Cibubur Hutan kota 27,3 32

Condet Hutan kota - 32

Universitas Negeri Jakarta Kampus - 20

Jalur Hijau Halim Jalur hijau 70 21

Jakarta Utara

Pantai Marina Hutan pantai - 61

Marunda Perumahan - 32

Muara Angke Hutan pantai 25 116

Jakarta Pusat

Monas Taman kota 80 54

Senayan Taman kota 137 27

Menteng Taman kota - 27

Jakarta Barat

Serengseng Hutan kota 15,3 32

Keterangan: ( - ) = Data tidak tersedia

Data jenis burung dikumpulkan dari berbagai sumber (daftar jenis dari pemerhati dan pengamat burung di DKI Jakarta, hasil penelitian berupa jurnal dan skripsi) serta melakukan survei atau observasi lapangan di beberapa RTH. Selanjutnya data dipilah untuk mengeluarkan jenis burung eksotik (sebaran asli bukan di DKI Jakarta) yang berasal dari lepasan. Jenis burung eksotik dari lepasan tidak termasuk dalam analisis data.

Selanjutnya adalah mengidentifikasi tipe guild pakan burung di DKI Jakarta berdasarkan pakan utamanya. Penggolongan tipe guild pakan untuk setiap jenis burung berdasarkan MacKinnon (1990), serta didukung dengan pengetahuan mengenai ekologi jenis burung di DKI Jakarta. Tipe guild dikembangkan berdasarkan enam kelompok pakan yang saling berdiri sendiri (insectivore, carnivore, frugivore, granivore,

nectarivore, dan omnivore) (Gray et al. 2007).

Pengembangan tipe guild dilakukan untuk kelompok

burung yang memiliki variasi dalam memperoleh pakan tertentu seperti pemakan serangga dan pemakan daging. Penentuan tipe guild setiap jenis burung tidak membedakan relung atau habitat burung dan hanya didasarkan pada pemilihan jenis pakan saja sehingga dapat ditemukan jenis burung yang berbeda habitat berada dalam kelompok guild yang sama.

Tahap berikutnya adalah menyusun tabel daftar setiap guild pakan burung di DKI Jakarta. Tabel guild pakan ini disusun dengan menempatkan tipe guild dengan jenis tertinggi pada posisi teratas. Daftar jenis burung pada setiap guild pakan disusun berdasarkan abjad.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebanyak 162 jenis burung ditemukan di Provinsi DKI Jakarta, dan dikelompokkan menjadi 6 tipe guild

(3)

pakan. Untuk wilayah DKI Jakarta, kelompok burung pemakan serangga ini dikembangkan dalam 5 tipe guild dan pemakan daging dikembangkan menjadi 3 tipe guild sehingga diperoleh 12 tipe guild pakan (Tabel 2). Tabel 2 Guild pakan komunitas burung untuk wilayah

DKI Jakarta No. Tipe guild

1 Pemakan serangga

1.1. Pemakan serangga di ranting pohon 1.2. Pemakan serangga di lantai hutan 1.3. Pemakan serangga sambil terbang 1.4. Pemakan serangga dengan menyambar 1.5. Pemakan serangga dengan melubangi batang

2 Pemakan daging 2.1. Pemakan ikan

2.2. Pemakan invertebrata pantai 2.3. Pemangsa/predator

3 Pemakan buah 4 Pemakan biji 5 Pemakan nektar

6 Pemakan pakan campuran

Berikut dijelaskan deskripsi tipe guild pakan yang ditemukan di DKI Jakarta:

Pemakan serangga di ranting pohon. Kelompok

burung ini memilih serangga sebagai pakan (termasuk larva serangga) yang diperoleh dengan cara hinggap di cabang dan kanopi pohon.

Pemakan serangga di lantai hutan/di permukaan tanah. Anggota guild ini hidup dan mencari pakan di

lantai hutan yang terbuka maupun yang ditutupi semak. Pakan dapat berupa larva, serangga atau invertebrata yang terdapat di serasah dan lantai hutan.

Pemakan serangga sambil terbang (aereal screening).

Jenis burung ini menghabiskan sebagian besar aktivitasnya terbang di udara menangkap serangga sebagai pakannya. Kelompok burung ini dapat ditemukan di kawasan yang dekat dengan hutan alam maupun di perkotaan dengan areal terbangun yang luas.

Pemakan serangga dengan menyambar mangsa (flycathing). Kelompok burung ini merupakan variasi

dari guild pemakan serangga yang menyambar mangsanya di sekitar kanopi kemudian hinggap untuk menunggu mangsa berikutnya. Kelompok ini dapat dijumpai di RTH yang memiliki kerapatan vegetasi yang tinggi seperti di Suaka Margasatwa Muara Angke atau hutan kota Universitas Indonesia.

Pemakan serangga di kayu/batang. Kelompok ini

termasuk kelompok burung pelatuk yang mencari pakan berupa serangga di bawah kulit kayu yang telah mati dengan cara melubangi kayu tersebut. Kelompok ini dapat dijumpai pada RTH dengan tingkat gangguan yang rendah, memiliki pepohonan dengan dahan atau cabang yang sudah mati seperti Suaka Margasatwa Muara Angke atau Hutan Kota Universitas Indonesia.

Pemakan ikan. Kelompok ini merupakan kelompok

burung air. Kelompok ini dicirikan dengan paruh panjang dan kuat, kaki yang panjang, dan ekor pendek. Kelompok burung ini dapat ditemukan pada RTH yang memiliki areal perairan atau lahan basah seperti Suaka Margasatwa Muara Angke (dekat dengan laut) atau danau di Taman Margasatwa Ragunan dan Hutan Kota Universitas Indonesia.

Pemakan invertebrata pantai. Kelompok ini dapat

ditemui di pantai atau daerah basah terbuka seperti pesisir utara DKI Jakarta. Kelompok ini dicirikan dengan paruh ramping memanjang untuk mengais dalam lumpur. Pakannya berupa moluska, cacing dan udang-udangan.

Pemangsa dan predator. Kelompok ini termasuk

burung pemangsa yang memakan daging dari vertebrata seperti mamalia kecil, aves, reptil dan amfibi. Umumnya dicirikan dengan paruh berkait dan taji atau cakar yang kuat, berguna untuk membunuh dan mencabik-cabik vertebrata.

Pemakan biji. Kelompok ini dapat ditandai dengan

bentuk paruh yang lebih tebal dan keras untuk dapat memecah biji. Kelompok ini dapat ditemukan di RTH yang ditumbuhi ilalang atau rerumputan. Kelompok burung paruh bengkok seperti betet biasa (Psittacula

alexandri) yang memakan berbagai jenis biji juga

termasuk dalam kelompok guild ini.

Pemakan buah. Umumnya buah pakan burung-burung

kelompok ini adalah buah yang matang, bertekstur lunak dan berukuran kecil seperti buah tanaman beringin dan buah palem. Untuk kelompok burung pemakan buah yang ditemukan di DKI Jakarta tidak memiliki ciri khusus.

Pemakan nektar. Kelompok burung ini termasuk semua

jenis suku Nectariniidae, ditandai dengan paruh yang panjang dan berukuran kecil, khas burung pemakan nektar. Kelompok ini dapat ditemui pada RTH yang memiliki tanaman berbunga seperti Taman Margasatwa Ragunan dan Taman Monas (Monumen Nasional).

Pemakan pakan campuran. Kelompok ini merupakan

kelompok burung yang memakan beberapa jenis pakan seperti campuran buah-buahan dan binatang atau campuran pucuk tanaman, biji-bijian dan berbagai jenis invertebrata.

Seluruh jenis (162 jenis) burung yang ditemukan di DKI Jakarta dikelompokkan ke masing-masing guild pakannya. Jenis-jenis burung yang ditemukan dan tipe

guild pakannya dapat dilihat pada Tabel 3.

Komunitas burung di DKI Jakarta didominasi oleh kelompok pemakan serangga. Sebanyak 59 jenis atau 36,42% dari total seluruh jenis yang ditemukan merupakan kelompok pemakan serangga yang dibedakan dalam 5 kelompok guild pakan. Berdasarkan kelompok

guild pakan yang dominan, kelompok pemakan serangga

di ranting merupakan guild pakan dengan jumlah jenis paling banyak (36 jenis; 22,22%). Sebanyak 28 jenis atau 17,28% burung di DKI Jakarta merupakan burung pemakan ikan dan urutan selanjutnya ditempati

(4)

kelompok burung pemakan invertebrata pantai dengan 17 jenis atau 10,49%.

Kelompok guild serangga di lantai hutan 3 jenis (1,85%) dan pemakan serangga di lubang pohon hanya

ditemukan sebanyak 2 jenis (1,23%) merupakan guild pakan dengan anggota yang paling sedikit dibandingkan dengan kelompok lainnya.

Tabel 3 Guild pakan 162 jenis burung di DKI Jakarta

Pemakan serangga di ranting n=36; 22,22%

Abroscopus superciliaris Clamator coromandus Parus major

Acridotheres cinereus Copsychus saularis Pericrocotus cinnamomeus

Acridotheres tristis Cuculus fugax Phylloscopus borealis

Acrocephalus stentoreus Cuculus lepidus Prinia familiaris

Aegithina tiphia Cuculus optatus Prinia flaviventris

Cacomantis merulinus Cuculus sparverioides Prinia inornata

Cacomantis sepulcralis Eurystomus orientalis Prinia polychroa

Cacomantis sonneratii Gerygone sulphurea Sitta frontalis

Centropus nigrorufus Orthotomus ruficeps Sturnus contra

Chrysococcyx basalis Orthotomus sepium Sturnus melanopterus

Cisticola exilis Orthotomus sutorius Sturnus sturninus

Cisticola juncidis Pachycephala grisola Zosterops palpebrosus

Pemakan sarangga sambil terbang n=10; 6,17%

Artamus leucorynchus Caprimulgus affinis Cypsiurus balasiensis

Apus nipalensis Caprimulgus macrurus Hirundo rustica

Collocalia fuciphaga Collocalia maxima Hirundo tahitica

Collocalia linchi

Pemakan serangga dengan menyambar n=8; 4,94%

Cyornis banyumas Ficedula zanthopygia Muscicapa dauurica

Eumyias indigo Lanius schah Rhipidura javanica

Ficedula mugimaki Merops philippinus

Pemakan serangga di lantai hutan/permukaan tanah n=3; 1,85%

Bubulcus ibis Anthus novaseelandiae Motacilla flava

Pemakan serangga dengan melubangi kayu n=2; 1,23%

Dendrocopos macei Dendrocopos moluccensis

Pemakan ikan n=28; 17,28%

Alcedo coerulescens Egretta garzetta Ixobrychus sinensis

Alcedo meninting Egretta intermedia Mycteria cinerea

Anhinga melanogaster Egretta sacra Nycticorax nycticorax

Ardea cinerea Fregata andrewsi Pandion haliaetus

Ardea purpurea Fregata ariel Phalacrocorax sulcirostris

Ardeola speciosa Haliaeetus leucogaster Sterna bengalensis

Butorides striatus Haliastur indus Sterna bergii

Chlidonias hybrida Ixobrychus cinnamomeus Sterna nilotica

Chlidonias leucopterus Ixobrychus flavicollis Sterna sumatrana

Egretta alba

Pemakan invertebrata pantai n=17; 10,49%

Calidris alba Charadrius mongolus Philomachus pugnax

Calidris canutus Charadrius veredus Pluvialis fulva

Calidris ruficollis Heteroscelus brevipes Threskiornis melanocephalus

Charadrius alexandrinus Numenius arquata Tringa glareola

Pemakan invertebrata pantai n=17; 10,49%

Charadrius dubius Numenius minutes Tringa hypoleucos

(5)

Pemangsa/predator n=12; 8,02%

Accipiter gularis Gallinago megala Nisaetus cirrhatus

Accipiter soloensis Halcyon cyanoventris Pernis ptilorhycus

Accipiter trivirgatus Halcyon pileata Todiramphus chloris

Falco moluccensis Halcyon smyrnensis Todiramphus sanctus

Falco peregrinus

Pemakan buah n=16; 9,88%

Alophoixus bres Eudynamis scolopaceus Pycnonotus aurigaster

Aplonis panayensis Megalaima haemacephala Pycnonotus goiavier

Dicaeum concolor Oriolus chinensis Pycnonotus melanicterus

Dicaeum trigonostigma Ptilinopus melanospilus Treron griseicauda

Dicaeum trochileum Pycnonotus atriceps Treron vernans

Ducula bicolor

Pemakan biji n=10; 6,17%

Geopelia striata Lonchura maja Passer montanus

Lonchura punctulata Psittacula alexandri Streptopelia bitorquata

Lonchura leucogastroides Padda oryzivora Streptopelia chinensis

Lonchura ferruginosa

Pemakan nektar n=7; 4,32%

Arachnothera longirostra Anthreptes singalensis Nectarinia jugularis

Anthreptes malacensis Nectarinia calcostetha Nectarinia sperata

Anthreptes simplex

Pemakan pakan campuran n= 12; 7,41%

Anas gibberifrons Dendrocygna arcuata Porphyrio porphyrio

Amaurornis phoenicurus Gallicrex cinerea Porzana cinerea

Corvus enca Gallinula chloropus Porzana fusca

Dendrocygna javanica Gallirallus srtiatus Turnix susciator

Keterangan: n= Jumlah burung

Keberadaan RTH yang masih tersedia mampu mendukung bermacam-macam variasi guild pakan burung (12 tipe guild) di DKI Jakarta, meskipun keanekaragaman burung berbeda pada setiap guild pakan (Tabel 3). Bervariasinya tipe guild ini mengindikasikan bahwa DKI Jakarta merupakan kota yang layak dihuni oleh berbagai jenis burung.

Namun demikian, perbedaan jumlah jenis burung setiap guild pakan menunjukkan bahwa guild tertentu memiliki respon yang berbeda terhadap kondisi lingkungan. Gray et al. (2007) menyatakan bahwa respon spesies burung terhadap gangguan habitatnya berbeda tergantung pada jenis pakannya. Berdasarkan hal tersebut, dimungkinkan untuk mempelajari dampak gangguan habitat terhadap burung dalam kaitannya dengan sifat ekologi burung (Hooper et al. 2005). Memahami karakter ekologi burung seperti guild pakan yang berkaitan dengan sensitivitas jenis tertentu terhadap gangguan lingkungan dapat menjadi indikator yang penting dalam menjaga kelestarian suatu ekosistem (Gray et al. 2007).

Guild pakan burung di DKI Jakarta dipengaruhi

oleh cara burung tersebut memperoleh pakan dan jumlah sumberdaya yang tersedia. Hal ini sejalan dengan Somasundaram dan Vijayan (2008) yang menyatakan

bahwa metode memperoleh pakan membentuk karakter utama dalam pengelompokan komunitas burung dalam

guild pakannya, dan hal ini dipengaruhi oleh

ketersediaan sumberdaya yang akan dipilih burung sebagai sumber pakannya. Wong (1986) menyatakan bahwa kelimpahan burung di daerah tertentu ditentukan dari jumlah sumber pakan yang tersedia.

Berdasarkan hasil pengamatan di seluruh lokasi penelitian, sebagian besar burung di DKI Jakarta didominasi oleh burung pemakan serangga. Selain itu, pemakan serangga juga memiliki guild pakan yang paling bervariasi. Hal ini dikarenakan cara burung memperoleh serangga di DKI Jakarta juga bervariasi, sehingga terbentuk variasi tipe guild burung pemakan serangga. Karr (1980) berpendapat bahwa sifat serangga yang suka bersembunyi di beberapa bagian pohon dapat menjadi faktor selektif pada proses spesiasi teknik mencari pakan burung. Hal ini menghasilkan variasi

guild pakan pada kelompok burung pemakan serangga.

Blake dan Loiselle (2001) menyatakan variasi perilaku makan burung pemakan serangga mendukung variasi

guild pakan burung di kawasan tropis.

Tingginya jumlah jenis pemakan serangga dapat dikarenakan populasi serangga sebagai sumber pakan burung tersebar luas dan selalu tersedia di DKI Jakarta.

(6)

Hal ini sesuai dengan Blake dan Loiselle (2001) yang menyatakan bahwa variasi jenis burung ditentukan oleh ketersediaan sumberdaya pakannya. Selain itu, wilayah suburbia DKI Jakarta (Jakarta Timur dan Jakarta Selatan) yang dekat dengan hutan alam sehingga mendukung tingginya populasi serangga. DeGraff dan Wentworth (1986) menemukan bahwa burung pemakan serangga merupakan komunitas burung dengan jumlah terbesar di daerah suburbia Amerika Serikat. Jenis burung pemakan serangga paling banyak ditemukan dan memiliki variasi cara memperoleh serangga tersebut di hutan Malaysia (Wong 1986).

Jumlah jenis paling besar ditunjukkan oleh jenis-jenis burung pemakan serangga di ranting pohon. Kelompok guild pemakan serangga di ranting pohon ini memperoleh pakan dengan mengeksploitasi serangga yang hidup pada kanopi (permukaan daun dan ranting) pohon. Tingginya aktivitas manusia di sekitar RTH, fragmentasi habitat dan semakin berkurangnya jumlah areal semak belukar membuat sebagian besar jenis burung pemakan serangga beraktivitas dan mencari pakan di kanopi pohon. Selain itu, serangga di daun atau ranting pohon yang berukuran kecil jumlahnya tidak terpengaruh oleh pembangunan di perkotaan (Seress dan Liker 2015), sehingga serangga selalu tersedia di ranting.

Jenis-jenis burung pemakan serangga dengan menyambar mangsa dan kelompok pemakan serangga sambil terbang jumlahnya tidak sebanyak burung-burung pemakan serangga di ranting. Hal ini diduga karena adanya perbedaan lebar relung yang ditempati. Kelompok burung pemakan serangga dengan menyambar dan kelompok pemakan serangga sambil terbang memiliki cara terbang yang spesifik dalam memperoleh serangga membuat relung pakan kelompok ini sangat spesifik. Menurut Wong (1986), beberapa kelompok pemakan serangga menangkap jenis serangga dengan pola terbang tertentu agar lebih efektif dalam memperoleh pakannya.

Terdapat beberapa hal yang menyebabkan guild pemakan serangga dengan melubangi kayu memiliki jumlah jenis paling sedikit di DKI Jakarta (Tabel 3). Pertama, Dendrocopos macei dan Dendrocopos moluccensis keduanya merupakan jenis yang umum

ditemukan di dataran rendah hingga ketinggian 2.000 mdpl pulau Jawa termasuk di DKI Jakarta (MacKinnon 1990). Kedua, Kelompok burung pemakan serangga dengan melubangi kayu memiliki relung pakan yang kecil karena sangat tergantung pada pohon mati sebagai substrat pakannya. Di sisi lain pohon yang telah mati pada beberapa RTH akan ditebang atau digantikan dengan tanaman yang baru. Hal ini sesuai dengan Cache dan Walsh (2006) yang menyatakan bahwa tanaman asli yang mati di lingkungan perkotaan akan digantikan dengan tanaman eksotis sehingga berdampak pada penurunan jumlah jenis guild burung yang mencari pakan dengan melubangi kayu.

Keberadaan kelompok burung pemakan daging didukung oleh ketersediaan sumber pakannya. Daerah

pesisir utara Jakarta yang memiliki daerah pantai dan perairan dangkal serta beberapa RTH yang memiliki lahan basah merupakan tempat mencari pakan bagi burung-burung pemakan ikan, vertebrata kecil dan moluska. Hattori dan Mae (2001) menjelaskan bahwa keberadaan perairan dangkal sangat penting sebagai tempat berlindung dan mencari pakan bagi burung air.

Kelompok guild pemakan ikan memiliki anggota yang paling tinggi (17,28%) dibandingkan dengan guild pemakan daging lainnya. Tingginya proporsi jenis kelompok ini didukung oleh lahan basah sebagai habitat bagi kelompok burung pemakan ikan. RTH yang memiliki lahan basah dan perairan tersebut diantaranya pantai di pantai marina ancol, danau di hutan kota Universitas Indonesia dan Taman Margasatwa Ragunan, aliran sungai dan rawa di hutan kota Srengseng dan hutan kota Pesanggrahan.

Burung pemangsa di DKI Jakarta ditemukan dalam jumlah yang kecil (8,02%). Hal ini terjadi karena sumberdaya pendukung kehidupan kelompok ini seperti pakan dan tempat bersarang jumlahnya terbatas di DKI Jakarta. Fragmentasi RTH membuat ruang jelajah dan jumlah mangsa kelompok burung ini berkurang. Selain itu di lingkungan perkotaan kelompok pemangsa juga sulit untuk menemukan tempat bersarang sehingga jumlahnya terbatas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Chace dan Walsh (2006) yang menyatakan burung pemangsa toleran terhadap lingkungan perkotaan dengan ukuran mangsa yang kecil dan mampu memanfaatkan substrat baru untuk membangun sarang. Selain itu, keberadaan burung pemangsa di DKI Jakarta juga dipengaruhi oleh musim migrasi, sehingga beberapa jenis burung pemangsa hanya dapat diamati pada waktu tertentu.

Kelompok burung dengan tipe guild pemakan buah, pemakan biji, dan pemakan nektar jumlahnya tidak sebanyak jenis-jenis burung pemakan serangga. RTH di DKI Jakarta tidak seluruhnya menyediakan tanaman berbuah yang menjadi pakan burung. Selain itu buah yang terdapat di RTH tidak seluruhnya berukuran sesuai dengan buah pakan burung sehingga tidak menarik bagi beberapa jenis burung pemakan buah. Hal ini sesuai pernyataan Nathaniel dan Wheelwright (1985), bahwa tanaman penghasil buah berukuran kecil lebih menarik bagi burung pemakan buah dibandingkan tanaman dengan buah berukuran besar.

Kelompok burung pemakan nektar di DKI Jakarta ditemukan dalam jumlah yang kecil (4,32%). Hal ini dikarenakan kelompok burung pemakan nektar memiliki relung pakan yang kecil dan bergantung pada tanaman berbunga. Selain itu, waktu pembungaan tanaman yang berada di RTH tidak terjadi sepanjang tahun, oleh karena itu keberadaan burung pemakan nektar dapat ditentukan oleh waktu pembungaan tanaman. Menurut Pauw dan Louw (2012) untuk menghadirkan burung pemakan nektar dibutuhkan pemilihan tanaman berdasarkan waktu pembungaannya agar dapat menyediakan nektar sepanjang tahun.

(7)

SIMPULAN

RTH di DKI Jakarta layak dihuni oleh berbagai jenis burung. Sebanyak 162 jenis burung ditemukan di 22 RTH DKI Jakarta. Jenis-jenis burung tersebut digolongkan ke dalam 12 tipe guild pakan. Jenis-jenis burung di DKI Jakarta didominasi oleh kelompok burung pemakan serangga.

DAFTAR PUSTAKA

Blake JG, BA Loiselle. 1991. Variation in resource abundance affects capture rates of birds in three lowland habitats in Costa Rica. Auk. 108: 114-130. Chace JF,Walsh JJ. 2006. Urban Effects on native

avifauna: a review. Landscape and Urban

Planning. 74: 46–69.

Cody LM. 1981. Habitat selection in birds: the roles of vegetation structure, competitors and productivity.

Bioscience. 31(2): 107-113.

DeGraaf RM, Wentworth JM. 1986. Avian guild structure and habitat associations in suburban bird communities. Urban Ecology. 9: 399-412.

Febrianti N, Sofan P. 2014. Ruang terbuka hijau di DKI Jakarta berdasarkan analisis spasial dan spektral data landsat [Prosiding]. Seminar Nasional Penginderaan Jauh 2014.

Gray MA, Baldauf SL, Mayhew PJ, Hill JK. 2007. The response of avian feeding guilds to tropical forest disturbance. Conservation Biology. 21(1): 133-141. Hattori A, Mae S. 2001. Habitat use and diversity of

waterbirds in a coastal lagoon around lake biwa, Japan. Ecological Research. 16: 543-553.

Hooper DU, Chapin FS, Ewel JJ, Hector A, Inchausti P, Lavorel S, Lawton JH, Lodge DM, Loreau M, Naeem S, Schmid B, Setala H, Symstad AJ, Vandermeer J, Wardle DA. 2005. Effects of biodiversity on ecosystem functioning: a consensus

of current knowledge. Ecological Monograph. 75(1): 3-35.

Karr JR.1980. Geographical variation in the avifaunas of tropical forest undergrowth. Auk. 97: 283-298. Kurniati RD. 2007. Evaluasi kebijakan ruang terbuka

hijau: studi kasus pelaksanaan kebijakan ruang terbuka hijau pada dinas pertamanan Provinsi DKI Jakarta. [Tesis]. Universitas Indonesia.

MacKinnon J. 1990. Panduan Lapangan Pengenalan

Burung-burung di Jawa dan Bali. Yogyakarta (ID):

Gajah Mada University Press.

Nathaniel T, Wheelwright. 1985. Fruit size, gape width, and the diets of fruit -eating birds. Ecology. 66 (3): 808-818.

Noss FR. 1990. indicators for monitoring biodiversity: a hierarchical approach. Conservation Biology. 4 (4): 355-364.

O’Connell TJ, Jackson LE, Brook RP. 1998. The Bird

Community Index: A Tool for Assessing Biotic Integrity in the Mid-Atlantic Highland. The Penn

State Cooperative Wetland Center. USA.

O’Connell TJ, Jackson LE, Brook RP. 2000. Bird guilds as indicators of ecological conditions in the central appalachians. Ecological Application. 10 (6): 1706-1721.

Pauw A, Louw K. 2012. Urbanization drives a reduction in functional diversity in a guild of nectar-feeding birds. Ecology and Society. 17(2): 27.

Seress G, Liker A. 2015. Habitat urbanization and its effects on birds. Acta Zoologica Academiae

Scientiarum Hungaricae. 61(4): 373-408.

Somasundaram S, Vijayan L. 2008. Foraging behaviour and guild structure of birds in the montane wet temperate forest of the palni hills, South India.

Podoces. 3 (1/2): 79-91.

Wong M. 1986. Trophic organization of understory birds in a Malaysian dipterocarp forest. Auk. 103: 100-116.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :