• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN PENDIDIKAN PADA PENDIDIKAN SISTEM GANDA DI SMK MUHAMMADIYAH 2 BANJARMASIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MANAJEMEN PENDIDIKAN PADA PENDIDIKAN SISTEM GANDA DI SMK MUHAMMADIYAH 2 BANJARMASIN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 10, Nomor 1, 2019 E-ISSN: 2621-2404, P-ISSN: 1907-3003

MANAJEMEN PENDIDIKAN PADA PENDIDIKAN

SISTEM GANDA DI SMK MUHAMMADIYAH 2

BANJARMASIN

Ahyar Rasyidi STAI Al-Jami, Banjarmasin [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara detil pelaksanaan manajemen pendidikan pada pendidikan sistem ganda dalam mencapai tujuan pendidikan di SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin. Dalam penelitian menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan apa adanya kenyataan faktual yang ditemukan di lapangan penelitian. Penelitian deskriptif ini dimaksudkan untuk mendapatkan data berupa kata-kata, informasi tertulis dan lisan serta keadaan dari pelaku yang dapat diamati. Metode ini diharapkan mampu mengungkap dan menggambarkan keadaan yang sedang berlangsung di lapangan pada saat penelitian di lakukan. Hasil penelitian mengemukakan bahwa 1) Sebagai manajer kepala sekolah pada umumnya telah melaksanakan manajemen pendidikan pada pendidikan sistem ganda (PSG) di SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin dengan baik. Sesuai dengan ketentuan dan fungsi-fungsi manajemen terutama dalam melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan melakukan evaluasi secara komprehensif pada program pendidikan sistem ganda (PSG) khususnya pada aspek praktik kerja industri (prakrin). 2) Sebagai kepala sekolah yang menjadi manajer pada SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin, telah berhasil menggerakkan manajer-manajer tingkat (middle manajer-manajer, lower manajer-manajer) sehingga mereka bekerja sesuai dengan job masing-masing dan bekerja sesuai dengan garis komando yang telah disepakati. Ini semua ditentukan oleh kemampuan manajerial skill yang dimiliki kepala sekolah, sehingga bisa menggerakkan orang lain (bawahan) sesuai apa yang dikehendaki. 3) Sehubungan dengan pola kerjasama yang dibina kepala sekolah dengan pihak dunia usaha/dunia industri (DUDI) sudah berjalan dengan baik, meskipun peran kepala sekolah boleh dikatakan hanya dibelakang layar, kepala sekolah menggerakkan para wakilnya sehingga bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan.

(2)

A. Pendahuluan

Dalam upaya memberikan pelayanan yang memadai dan cukup, tentunya diperlukan sarana penunjang, tersedianya tenaga pendidik atau pembina yang mampu dan terampil untuk mewujudkan tujuan sumber daya manusia yang berkualitas, dan menghasilkan warga negara yang mampu mengembangkan diri serta masyarakat sekitarnya ke arah terciptanya kesejahteraan jasmani, rohani, dunia dan akhirat.

Untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin, kepentingan hidup di dunia serta kehidupan yang kekal di akhirat, tidak boleh tidak umat Islam harus memperhatikan pendidikan, sebab semua ini sangat menentukan baginya terutama dalam fungsinya sebagai khalifah dimuka bumi ini. Dalam konteks khalifah, Allah berfirman dalam Q.S. al-Baqarah ayat 30, sebagai berikut.

ْسَيَو اَهيِف ُدِسْفُ ي ْنَم اَهيِف ُلَعَْتََأ اوُلاَق ًةَفيِلَخ ِضْرلأا ِفِ ٌلِعاَج يِنِِإ ِةَكِئلاَمْلِل َكُّبَر َلاَق ْذِإَو َلاَق َكَل ُسيِدَقُ نَو َكِدْمَِبِ ُحيِبَسُن ُنَْنََو َءاَميِدلا ُكِف

َنوُمَلْعَ ت لا اَم ُمَلْعَأ يِنِِإ Khalifah dalam konteks pendidikan adalah seorang yang mampu memimpin para pendidik dan peserta didik untuk diarahkan menjadi yang terbaik, seimbang antara ilmu dan amal, teori dan praktik menjadi karakter peserta didik sehingga tercipta output pendidikan yang memiliki keterampilan (skill) serta kecakapan hidup sebagai modal untuk mengarungi kehidupannya. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan (skill) yang dimiliki oleh peserta didik diharapkan menjadi pemimpin bangsa yang bermanfaat di masa yang akan datang. Nabi Muhammad saw. menegaskan dalam sabdanya, sebagai berikut.

س انلل مهعفنا سانلايرخ

1

Hadis di atas menjelaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain dan dicintai di sisi Allah swt., betapa besar manfaat orang yang berilmu dan memiliki keterampilan serta terampil dalam hidupnya sehingga dia akan terbebas dari belenggu kesusahan dan kemiskinan hidup. Selain itu, orang yang memiliki ilmu dan keterampilan akan memberikan manfaat besar, baik bagi diri sendiri

1Muhammad Nasarudin al-Albani, Silsilah al-Ahadis al-Sahihah, (Riyad: Maktabah al Ma’arif.,

(3)

maupun orang lain. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan yang didapat oleh peserta didik tidak hanya sebatas teori akan tetapi ilmu yang dapat menghasilkan produk baik berupa barang maupun jasa dan bernilai materi bagi peserta didik itu sendiri.

Oleh sebab itu, peran kepala sekolah sangat penting dalam memformulasi pembelajaran yang mengkolaborasikan antara teori dan praktik secara seimbang. Kepala sekolah mendapat wewenang dari pemerintah untuk mengelola unit pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Pemberian otonomi luas kepada sekolah dalam mengembangkan kurikulum dan pembelajaran beserta sistem evaluasinya merupakan kepedulian pemerintah terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum.2

Salah satu bentuk kebijakan kepala sekolah dalam mengembangkan kurikulum pendidikan yang merupakan mandat pemerintah khususnya sekolah kejuruan yakni dengan mengimplementasi kurikulum pendidikan dalam bentuk kolaborasi pendidikan antara teori dan praktik. Pendidikan dengan sistem yang demikian berusaha untuk memadukan pendidikan teori di kelas dan praktik di dunia industri atau perusahaan, baik instansi pemerintahan dan swasta, pembelajaran tersebut dilaksanakan dengan dua jalur pendidikan, yakni pendidikan di dalam kelas dan di luar kelas, sistem pendidikan yang demikian juga dikenal dengan istilah pendidikan sistem ganda (PSG).

Pendidikan sistem ganda bermuara dari program pemerintah yang mencanangkan peserta didik khususnya siswa sekolah kejuruan memiliki keterampilan dan terampil dalam dunia kerja. Program tersebut dijabarkan dalam istilah pendidikan sistem ganda (PSG) yakni pola pendidikan yang mengkolaborasikan antara teori dan praktik.3

Keberadaan ketiga jurusan pada SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin, tentunya menjadi PR besar bagi kepala sekolah beserta jajarannya, untuk terus berpikir (visioner), bagaimana membina dan mengembangkan agar ketiga jurusan tersebut tetap exis serta diminati oleh pelanggan (masyarakat). Untuk itu sekolah perlu merekonstrukturisasi

2E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional-Dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK,

(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), h. 48.

(4)

segala unsur yang terdapat dalam sekolah sehingga semuanya saling bersinergi untuk mencapai tujuan sekolah, mulai dari kepala sekolah, dewan guru, kurikulum, siswa, metode pembelajaran, perangkat pembelajaran, serta masyarakat.

Rekonstrukturisasi sekolah bertujuan untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin bagi masyarakat, memfungsikan semua sumber daya yang ada secara optimal untuk melahirkan output yang berkualitas serta memberi kepuasan tersendiri bagi stakehoders terhadap keberhasilan pendidikan dalam semua ranah baik ranah kognitif, afektif lebih-lebih psikomotorik yang menjadi ranah penting sekolah kejuruan.

B. Kajian Teori

1. Pengertian Manajemen

Secara bahasa, kata manajemen berasal dari bahasa Inggris management dengan kata kerja to manage yang berarti mengurusi,4 mengatur, melaksanakan, dan mengelola.5 Dalam Bahasa Indonesia, kata management (Inggris) diadakan penyesuaian kata seperlunya, yaitu menjadi “manajemen” sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.6

Hakekat manajemen adalah pemberian bimbingan, pimpinan, pengaturan, pengendalian, dan pemberian fasilitas lainnya. Pengertian manajemen dapat disebut pembinaan, pengendalian pengelolaan, kepemimpinan, ketatalaksanaan, yang merupakan proses kegairahan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Sedangkan secara istilah para ahli mendefinisikan manajemen sebagai berikut.

4Abdul Rahman Saleh dan Fahidin, Materi Pokok Manajemen Perpustakaan Perguruan Tinggi,

(Jakarta: Universitas Terbuka, 1995), h. 2

5Ulbert Silalahi, Studi Tentang Ilmu Administrasi Konsep Teori dan Dimensi, (Bandung: Sinar Baru

Agensindo, 2003), h. 135

6E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta:

(5)

a. Menurut Malayu S. P. Hasibuan, “Manajemen ialah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efesien untuk mencapai tujuan tertentu”.7

b. Menurut Sondang P. Siagian dalam Ulbert Silalahi, “Manajemen ialah kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain”.8

c. Menurut Hersey dan Blanckarcd dalam H.B. Siswanto, “Manajemen ialah proses kerjasama antara individu dan kelompok serta sumber daya lainnya dalam mencapai tujuan organisasi adalah sebagai aktivitas manajemen”.9

d. Menurut George. R. Terry dalam M. Manullang, “Manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain”.10

e. Menurut David. D. Van Fleet dalam Winardi, “Manajemen suatu kelompok aktifitas yang ditujukan kepada pemanfaatan sumber-sumber daya yang efisien serta efektif dalam rangka upaya mengejar sebuah atau beberapa tujuan tertentu”.11

2. Manajemen Pendidikan

Istilah manajemen pendidikan dan administrasi pendidikan seringkali kita temukan dalam berbagai referensi yang berbicara tentang pendidikan. Dari sekian banyak referensi, antara manajemen pendidikan dan administrasi pendidikan telah mengetengahkan berbagai pendapat tentang istilah tersebut, istilah manajemen pendidikan dan adminiatrasi pendidikan memiliki makna yang berbeda. Dalam buku A.L. Hartani, diulas tentang sejatinya kepustakaan menunjukkan bahwa disiplin ilmu dan profesionalisasi di Amerika Serikat jarang menggunakan istilah manajemen pendidikan, melainkan administrasi pendidikan.12

7Malayu P. Hasibuan, Organisasi dan Motivasi: Dasar Peningkatan Produktivitas, (Jakarta: Bumi

Aksara, 2001), h. 2

8Ulbert Silalahi, op. cit., h.137

9H. B. Siswanto, Pengantar Manajemen,(Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h. 3 10M. Manullang, Management Personalia, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1994), h.10 11Winardi, Manajemen Supervisi,( Bandung: Mandar Maju, 1996.), h. 99

(6)

Pada saat yang sama di Indonesia diambil kebijakan menutup seluruh program studi Administrasi Pendidikan yang ketika itu ada di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Satu dekade kemudian beramai-ramai LPTK yang sudah alih fungsi (turning-up) menjadi universitas membuka konsentrasi atau program studi Manajemen Pendidikan, baik pada tataran atau jenjang Strata-1 (Sarjana) maupun S.2 (Magister) dan S.3 (Doktor).

3. Fungsi Manajemen

Menurut sejumlah ahli bahwa fungsi manajemen itu terdiri dari beberapa macam, sebagaimana yang dikemukakan oleh Sondang P. Siagian yang mengutip pendapat para ahli tersebut sebagai berikut:

Henry Fayol menyatakan bahwa fungsi manajemen itu terdiri dari 5 macam yaitu: (a) Planning (perencanaan); (b) Organizing (pengorganisasian); (c) Commanding (pemberi komando); (d) Coordinating (pengkoordinasian); dan (e) Controlling (pengawasan).

Menurut Luther M. Gullick menyatakan bahwa fungsi manajemen itu terdiri dari 7 macam yaitu sebagai berikut: (1) Planning, (2) Organizing, (3) Staffing, (4) Directing, (5) Coordinating, (6) Reporting, (7) Budgetting.

Menurut John F. Mee, menyatakan bahwa fungsi manajemen itu terdiri dari 4 macam yaitu: (a) Planning (perencanaan); (b) Organizing (pengorganisasian); (c) Motivating (pemberian motivasi) dan; (d) Controlling (pengawasan).13

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, secara fungsional nampaknya tidaklah terlalu berbeda, hanya jumlahnya saja yang berbeda. Pendapat George R Terry lebih sederhana yang menyatakan bahwa fungsi manajemen terdiri dari 4 macam: (a) planning (perencanaan); (b) organizing (pengorganisasian); (c) actuating (menggerakkan) dan (d) controlling (pengawasan).14

13 Sondang P. Siagian. Filsafat Administrasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h. 84-84. 14Ibid, h. 86.

(7)

4. Pendidikan Sistem Ganda (PSG)

Pembangunan merupakan proses terus menerus untuk mencapai kesempurnaan, pembangunan di Indonesia mencakup berbagai sektor salah satu diantaranya adalah sektor pendidikan.

Peranan sektor pendidikan dalam mempersiapkan sumber daya tersebut di atas tidak dapat diabaikan. Program pendidikan harus berorientasi pada kebutuhan pasar kerja. Demikian pula produk yang dihasilkan oleh dunia usaha merupakan konsumsi masyarakat luas. Dengan demikian proses pelatihan akan berorientasi pada pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Dengan kebijaksanaan dinas pendidikan nasional tentang pendekatan pendidikan dengan sistem ganda sebagai pola utama penyelenggaraan kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas tamatan agar lebih sesuai dengan tuntutan kebutuhan.

Pembangunan nasional pada umumnya, dan kebutuhan ketenagakerjaan pada khusunya, sebagai bagian tak terpisahkan dari kebijaksanaan link and macth yang berlaku bagi semua jenis jenjang pendidikan di Indonesia. Munculnya gagasan link and macth (keterkaitan dan kesepadanan) ternyata telah membuka peluang bagi pihak pelaksana pendidikan khususnya pendidikan menengah kejuruan untuk memungkinkan bekerja sama dengan dunia usaha dalam membina dan mengembangkan potensi di lapangan.

C. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan jenis penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan apa adanya kenyataan faktual yang ditemukan di lapangan penelitian. Penelitian deskriptif ini dimaksudkan untuk mendapatkan data berupa kata-kata, informasi tertulis dan lisan serta keadaan dari pelaku yang dapat diamati. Metode ini diharapkan mampu mengungkap dan menggambarkan keadaan yang sedang berlangsung di lapangan pada saat penelitian di lakukan. Data yang digali di lapangan akan dianalisis dan diinterpretasikan. Penelitian lapangan bersifat deskriptif ini memusatkan diri pada masa sekarangterhadap

(8)

masalah-masalah yang aktual dan data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan kemudian dianalisis, sehingga metode ini sering pula disebut metode analisis.

Metode penelitian deskriptif ini digunakan agar hasil penelitian lapangan yang diperoleh dapat dibandingkan dengan kriteria atau standar yang ditetapkan dalam teori yang sudah digariskan sebelum melakukan penelitian. Dalam penelitian ini telaah metode deskriptif yang dipergunakan adalah teknik survey, yaitu mengamati individu, kelompok dan lembaga secara bersamaan.

Pendekatan yang digunakan didasarkan pada manajemen pendidikan pada pendidikan sistem ganda yang dilaksanakan oleh kepala sekolah SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan pendidikan kejuruan dalam berbagai disiplin ilmu atau bidang keahlian, dalam implementasinya pada dunia kerja, untuk mengetahui sisi kelebihan dan kekurangam lembaga dalam menerapkan manajemen pendidikan pada pendidikan sistem ganda.

Dalam penelitian ini kehadiran peneliti sedapat mungkin diupayakan dan tidak mengubah suasana yang ada. Dengan berbagai teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti secara wajar sebagaimana mestinya.

2. Analisis Data

Data yang dideskripsikan memerlukan interpretasi mendalam sehingga diketahui makna dari data. Dalam hal menganalisis data ini, peneliti mengambil apa yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1984) dalam, bahwa ada tiga tahapan yang dikerjakan dalam analisis data, yaitu: data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification.15

Mereduksi data diperlukan untuk membantu peneliti dalam menulis semua hasil data lapangan sekaligus merangkum, memilih dan memilah hal-hal pokok serta menganalisinya. Tahapan ini dimaksudkan agar peneliti memperoleh gambaran yang lebih tajam tentang hasil lapangan, mempermudah dalam melacak kembali bila diperlukan dan membantu dalam memperbaiki kode pada aspek-aspek tertentu.

(9)

Data display diperlukan untuk memproses penyusunan informasi yang kompleks ke dalam satu bentuk yang sistematis, sehingga menjadi lebih sederhana dan selektif, serta dapat dipahami maknanya, hal ini dimaksudkan untuk menemukan pola-pola yang bermakna serta memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan pengambilan tindakan.

Conlusion dapat dilakukan berdasarkan matrik/bagan yang telah dibuat untuk menemukan pola, topik atau tema dengan masalah penelitian, karena itu peneliti akan membuat kesimpulan-kesimpulan yang bersifat longgar dan terbuka, di mana pada awalnya mungkin terlihat belum jelasnya, namun dari sana akan meningkat menjadi lebih rinci dan mengakar secara kokoh.

Untuk menganalisis data dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan keadaan apa adanya mengeni data lapangan baik dalam bentuk tabel maupun uraian kalimat, sehingga dapat terlihat manajemen sistim pendidikan ganda di SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin.Data yang sudah diperoleh, dianalisis kemudian ditarik kesimpulan dengan metode induktif yaitu mengambil kesimpulan berdasarkan faktor-faktor khusus yang ditemukan di lapangan.

D. Hasil dan Pembahasan

1. Pelaksanaan Manajemen Pendidikan pada pendidikan Sistem Ganda di SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin

a. Perencanaan (planning) Pendidikan Sistem Ganda (PSG)

Perencanaan pendidikan sistem ganda (PSG) khususnya pada aspek praktik kerja industri di SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin harus dilakukan sebelum implementasi program, sebab perencanaan adalah tindakan yang legal secara syar’i. Perencanaan memberikan gambaran yang utuh dan menyeluruh bagi masa depan sehingga mendorong seseorang untuk bekerja secara maksimal untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan.

Diketahui bahwa program-program sekolah harus dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun di awal tahun ajaran. Untuk merealisasikan program pendidikan secara umum, kepala sekolah bekerja sama dengan seluruh wakil-wakil

(10)

kepala sekolah seperti wakil kepala sekolah bidang kurikulum, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, wakil kepala sekolah bidang sarana prasarana, wakil kepala sekolah bidang humas, dan DUDI, guru, siswa dan pemilik dunia usaha/dunia industri (DUDI) atau seluruh stakeholder yang berkepentingan dengan SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin.

Dalam mengimplementasikan program pendidikan yang telah di rencanakan, maka perlu usaha serius dan kerja yang terorganisasi dengan baik, tentunya melalui perencanaan yang matang dan memilih strategi untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.

Tujuan pendidikan pada SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin adalah (1) Mengetahui seberapa jauh siswa-siswi SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin menyerap teori-teori yang telah diberikan di Sekolah; (2) Aplikasi teori kedalam dunia kerja atau dunia usaha; (3) Perwujudan kerjasama antara SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin dengan dunia usaha sekaligus pelaksanaan program kerja SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin. Sedangkan sasaran program pendidikan sistem ganda (PSG) SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin: (1) Menghasilkan siswa-siswi SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin yang sesuai dengan kebutuhan lapangan atau dunia usaha; (2) Membentuk siswa-siswi SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin yang handal, berpengalaman dan profesional.

Menurut kepala sekolah program manajemen pendidikan sistem ganda (PSG) di SMK Muhammadiyah secara umum sudah mencapai target yang ditetapkan pada kurikulum sekolah, salah satu penjabaran kurikulum ialah implementasi program pendidikan sistem ganda (PSG). Ungkapan senada juga disampaikan oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum bahwa, kurikulum yang dimiliki oleh sekolah saat ini sudah memberikan hal-hal terbaik bagi peserta didik, terbukti dengan berbagai keahlian yang dimiliki oleh peserta didik disamping nilai-nilai positif lainnya, misalnya memiliki kepercayaan yang tinggi bagi peserta didik untuk terjun di dunia usaha dan industri (DUDI), serta memiliki mental untuk berkompetisi menjadi karyawan diberbagai perusahaan yang ada di kota Banjarmasin bahkan diluar daerah di Kalimantan Selatan. Keberhasilan SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin dalam mengimplementasi

(11)

program-program pendidikan, khususnya pendidikan sistem ganda (PSG) bermuara dari perencanaan yang matang. Rencana yang sudah disepakati bersama dilaksanakan dengan tanggung jawab bersama pula.

Berdasarkan prosedur perencanaan pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai manajer sekolah dalam melaksanakan manajemen pendidikan sistem ganda (PSG), dapat dinyatakan bahwa kepala sekolah telah melaksanakan tugas manajer yaitu membuat perencanaan yang baik dan berjalan sesui rencana.

b. Pengorganisasian (organization) pendidikan sistem ganda (PSG)

Pengorganisasian (organization) merupakan prinsip dan bagian dari kinerja manajemen, setiap program yang dilaksanakan hendaknya dilakukan secara profesional, menunjuk personel yang profesional, mampu bekerjasama dan membina kerjasama dengan pihak lain, memiliki loyalitas dan tanggung jawab sehingga tercapai hasil yang diharapkan.

Sejatinya manajer yang profesional hendaknya mampu membina kerjasama dengan masyarakat sehingga pekerjaan manajemen dapat diselesaikan secara bersama-sama. Secara teoritis fungsi kerjasama yang harus dibina oleh pihak sekolah dengan masyarakat berorientasi kepada hasil dari kerjasama itu sendiri, diantaranya;

1. Spesialisasi dalam pekerjaan. Ada penghematan waktu dan usaha yang besar karena adanya hubungan antar manusia dengan manusia lainnya sebagai spesialis sebagai contoh, sebagai penambang, petani dan dokter.

2. Kerja sama untuk menyelesaikan tugas. Banyak tugas akan lebih menyenangkan apabila dikerjakan secara gabungan. Tugas lainnya, misalnya mendirikan gedung pencakar langit yang sangat diperlukan kerjasama.

3. Mempelejari cara baru dalam melakukan sesuatu, Ras manusia dapat maju lebih cepat bila dapat saling berbagi penemuan, dibandingkan dengan keadaan awal sejarah, ketika manusia lebih bersifat terasing.

4. Pertahanan melawan penyerangan. Kerjasama akan sangat diperlukan sebagai pertahanan terhadap serangan pihak lain. Demikian juga untuk mengatasi apa yang disebut musuh lingkungan alam.

(12)

Hubungan antara sekolah dengan masyarakat, paling tidak bisa dilihat dari dua segi, yaitu:

1) Sekolah sebagai patner dari masyarakat di dalam melakukan fungsi pendidikan, dan

2) Sekolah sebagai prosedur yang melayani pesanan-pesanan pendidikan dari masyarakat lingkungannya.

Melihat hasil dari kerjasama dan hubungan antara sekolah dengan masyarakat berdasarkan teori di atas maka, menjadi keharusan membentuk organisasi pelaksana program pendidikan, seperti halnya pendidikan sistem ganda (PSG) sebab dalam program kerja tersebut pasti melibatkan pihak lain, dan memerlukan pola pendekatan yang professional oleh manajer yang bertugas.

Dari observasi dan wawancara pribadi yang dilakukan penulis dengan kepala sekolah ternyata pelaksanaan pendidikan sistem ganda (PSG) pada aspek praktik kerja industri (prakrin), menjadi tanggung jawab wakil kepala sekolah bidang humas dan DUDI, fungsi kepala sekolah sebagai pemberi arahan, menerima laporan pelaksanaan program serta menandatangani MOU yang sudah disepakati oleh pihak DUDI. Teknik dilapangan sampai kepada administrasi program, pengawasan, bahkan evaluasi program praktik kerja industri (prakrin) menjadi tanggung jawab penuh wakil kepala sekolah bidang humas dan DUDI dan dibantu oleh masing-masing kepala program (kaprog).

Sikap kepala sekolah yang terkesan mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab penuh kepada wakil kepala sekolah bidang humas dan DUDI, sehubungan dengan praktik kerja industri (prakrin) ini, terkadang berimplikasi kepada asumsi pelimpahan wewenang dan tanggung jawab secara berlebihan, akan tetapi dalam menajemen modern pendelegasian tugas dan tanggung jawab selama mengacu kepada prosedur job description dan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) manajemen tingkat, (middle leader) maka itu dibenanrkan dan bahkan dianjurkan. Artinya kepala sekolah sudah berusaha menjalankan manajemen dengan memberikan kepercayaan dan kebebasan berkreasi kepada bawahan selama itu berada dalam koridor tanggung jawab dan wewenang para manajemen tingkat lainnya.

(13)

Dari uraian di atas, menggambarkan bahwa pelaksanaan manajemen di SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin sudah berjalan searah dengan prinsip manajemen yakni adanya unity of commando (kesatuan perintah) dan adanya unity of directing (kesatuan arah), kesatuan komando dan kesatuan arah disini adalah adanya arahan yang harus dikerjakan sesuai dengan misi yang ingin dicapai.

Berdasarkan hasil observasi langsung dan wawancara pribadi dengan berbagai sumber (informan) khususnya kepala sekolah diketahui bahwa bagian kedua dari fungsi manajemen yakni pengorganisasian sudah dilaksanakan dengan baik oleh kepala sekolah dan mengacu kepada prosedur manajemen secara sistematik dan sinkron dengan menghubungkan atau menunjuk orang-orang yang terlibat langsung pada pelaksanaan pendidikan sistem ganda (PSG) khususnya pada praktik kerja industri (prakrin).

c. Pengawasan (controlling) pendidikan sistem ganda (PSG)

Prinsip manajemen yang selanjutnya dalam manajemen Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin adalah melakukan pengawasan (controlling).

Berdasarkan data yang di dapat penulis dari berbagai sumber (informan) bahwa pada pelaksanaan pendidikan sistem ganda (PSG) di SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin bahwa pihak sekolah melakukan monitoring (pengawasan) setiap bulannya untuk mengetahui keberadaan siswa serta melihat langsung proses praktik kerja industri (prakrin) berlangsung, pengawasan dilaksanakan oleh penanggung jawab program yakni Fastamik Lima Yuha dan di bantu kepala program (kaprog) kejuruan masing-masing (kaprog TKR dan Kaprog TAV) serta pembimbing masing-masing siswa yang sudah ditentukan oleh pihak DUDI ditempat praktik kerja industri (prakrin).

Sejatinya pengawasan (controlling) yang dilakukan oleh pihak pengelola praktik kerja industri (prakrin) SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin berfungsi sebagai pemberi motivasi belajar siswa yang bersifat eksternal, karena pada hakekatnya motivasi belajar itu ada yang internal, berasal dari kemauan keras dari peserta didik itu sendiri, dan ada pula yang berasal dari luar yaitu motivasi yang diberikan oleh berbagai sumber, seperti orang tua, guru, sahabat dan orientasi kerja dan sebagainya. Dengan adanya motivasi

(14)

belajar yang besar, membantu siswa mencapai hasil pembelajaran yang optimal, termasuk dalam kegiatan praktik kerja industri (prakrin) sebagai wujud belajar siswa di lapangan (DUDI), dengan demikian motivasi harus diberikan melalui pengawasan dan kunjungan industri.

d. Evaluasi (evaluation) pendidikan sistem ganda (PSG)

Secara teoritis evaluasi adalah melakukan penilaian dan pengukuran sejauhmana ketercapaian target program yang dilaksanakan. Tingkat ketercapaian program diketahui melaui alat ukur yang disebut evaluasi. Evaluasi yang dilakukan bias dengan pengamatan, pemberian instrumen soal sehubungan dengan teori dan adanya praktik kerja industri (prakrin) sebagai bentuk evaluasi yang konkret untuk mengukur keterampilan (skill) peserta didik. Diakhir praktik ada evaluasi khusus yang dilakukan oleh pihak sekolah SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin, dengan bekerjasama dengan pihak dunia usaha dan dunia industri (DUDI) yang disebut dengan evaluasi keterampilan siswa.

Evaluasi (evaluation) secara umum tetap dilakukan, akan tetapi fokus pada implementasi pendidikan sistem ganda (PSG) evaluasi dilakukan oleh manajemen SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin, meliputi evaluasi proses dan evaluasi hasil yang harus dilakukan secara kontinyu.

2. Pola kerjasama yang dibina pihak sekolah dengan instansi terkait (lembaga pendamping) sebagai tempat praktik kerja industri (prakrin) bagi siswa-siswi SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin

Secara teoritis, kerjasama yang baik adalah kerjasama yang memberikan manfaat dan mendatangkan kemaslahatan bagi kedua belah pihak. Interaksi sosial merupakan bagian dari proses kerjasama, menyadari bahwa manusia tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, maka membina hubungan dengan orang lain itu sangat penting, sebagai awal terjadinya kerjasama.

Uraian singkat di atas menghadirkan satu pertanyaan dan harus diberikan jawaban, mengapa hubungan dengan orang lain sangat penting? Untuk menjawab pertanyaan di atas, Richard Nelson-Jones memberikan alasan mengapa membina

(15)

hubungan dengan orang lain begitu penting bagi manusia, antara lain dijelaskan sebagai berikut:

1. Reproduksi keturunan. Kecuali ada kemajuan ilmiah, biasanya diperlukan dua manusia untuk menghasilkan bayi.

2. Menghindari rasa sakit akibat keterasingan. Secara biologis, manusia diprogram untuk membutuhkan hubungan dengan manusia lain. Tanpa hubungan ini mereka akan menderita sakit jiwa.

3. Perawatan ketika masih muda, Secara fisik dan mental, proses kedewasaan mansuia berlangsung lambat. Akibatnya manusia memerlukan bantuan orang lain ketika dalam proses pertumbuhan.

4. Bantuan di usia tua, bila sakit, dan sebagainya. Ada masa ketika dalam kehidupan orang ketika sumber daya fisik dan/atau mental mereka tidak memadai lagi untuk merawat diri sendiri.

5. Spesialisasi dalam pekerjaan. Ada penghematan waktu dan usaha yang besar karena adanya hubungan antar manusia dengan manusia lainnya sebagai spesialis sebagai contoh, sebagai penambang, petani dan dokter.

6. Kerja sama untuk menyelesaikan tugas. Banyak tugas akan lebih menyenangkan apabila dikerjakan secara gabungan. Tugas lainnya, misalnya mendirikan gedung pencakar langit yang sangat diperlukan kerjasama.

7. Mempelajari cara baru dalam melakukan sesuatu, Ras manusia dapat maju lebih cepat bila dapat saling berbagi penemuan, dibandingkan dengan keadaan awal sejarah, ketika manusia lebih bersifat terasing.

8. Pertahanan melawan penyerangan. Kerjasama akan sangat diperlukan sebagai pertahanan terhadap serangan pihak lain. Demikian juga untuk mengatasi apa yang disebut musuh lingkungan alam.

Dengan memperhatikan delapan alasan mengapa manusia harus membina kerjasama, menjadi bahan pertimbangan lebih-lebih bagi sebuah organisasi maupun industri atau perusahaan untuk selalu berfikir kritis, tentang bagaimana membina kerjasama yang baik dengan pihak lain.

(16)

Untuk mencapai tujuan organisasi maka upaya kerjasama menjadi alternatif yang harus dilakukan, permasalahannya adalah diperlukan skil-skil individu manajer untuk bisa mewujudkan proses kerjasama dengan pihak lain. Sehingga berbagai pola, komunikasi, dan pendekatan serta sharing provit dari proses kerjasama harus diutarakan sehingga orang lain bersedia bekerjasama.

Dalam implementasi pendidikan sistem ganda (PSG) khususnya pada aspek praktik kerja industri (prakrin), pihak SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin sudah mengupayakan berbagai usaha untuk mewujudkan kerjasama dengan pihak dunia usaha/dunia industri (DUDI).

Dilihat dari sudut pandang pertama, yaitu sekolah sebagai patner masyarakat, berarti kedua-duanya dilihat sebagai pusat-pusat pendidikan yang potensial. Sehubungan dengan sudut pandang tersebut, berikut ini diberikan dua gambaran hubungan fungsional di antara keduanya.

Bentuk kongkret dari upaya sekolah dalam membina hubungan atau pola kerjasama dengan pihak DUDI, antara lain sebagai berikut.

a. Melaksanakan kunjungan industri ke Dunia Usaha/Dunia Industri (DUDI) yang menjadi stakeholder untuk menjajaki terjalinnya kerjasama kedua belah pihak.

Untuk menjalin kerjasama dengan pihak perusahaan industri, manajemen sekolah terlebih dahulu melakukan kunjungan kerja industri untuk mengadakan observasi dan berbicara langsung dengan pihak DUDI terkait dengan kesiapan pihak DUDI untuk bekerjasama dengan pihak sekolah dalam program praktik kerja industri (prakrin). Dalam kesempatan ini pihak sekolah melihat langsung kondisi perusahaan, lokasi serta layak tidaknya untuk dijadikan tempat praktik siswa, dan mendengar langsung sehubungan bersedia tidaknya pihak DUDI dijadikan tempat praktik siswa.

Dalam kunjungan ini pihak sekolah mengutarakan maksud dan tujuan kunjungan industri agar pihak DUDI mau dan bersedia bekerjasama dengan pihak sekolah agar turut membantu sekolah dalam menyukseskan program pendidikan khususnya pada sekolah kejuruan.

(17)

Sehubungan dengan maksud dan tujuan kunjungan industri yang dilaksanakan oleh pihak sekolah, dari beberapa DUDI yang peneliti kunjungi memberikan informasi bahwa mereka bersedia bekerja sama, karena dengan program tersebut, akan menguntungkan kedua belah pihak. Ungkapan senada disampaikan oleh Wahyu Alinuddin (kepala tehnisi PT Rodasakti Lestari Kencana) berbicara dari sisi keuntungan perusahaan dengan adanya kerjasama pihak sekolah melalui praktik kerja industri (prakrin) siswa SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin beliau menjelaskan sebagai berikut. “Pihak perusahaan sangat terbantu dengan keberadaan mereka khususnya siswa SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin, anak-anaknya bekerja sesuai tugas yang diberikan oleh perusahaan, dan disiplin serta patuh dengan aturan, dan mengetahui serta bisa bekerja dengan baik, bagi mereka (pihak sekolah) juga terbantu menuntaskan program kejuruan sesuai bidang keahlian siswa dengan praktik ditempat kami, sama-sama diuntungkan”.

Dari informasi yang diberikan oleh pihak DUDI kepada penulis sehubungan dengan pola kerjasama yang dibina oleh SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin, bermuara dari kunjungan industri yang rutin dan menjadi agenda sekolah.

Kunjungan (silaturrahim) dilakukan untuk menjajaki terjadinya kerjasama antara sekolah dengan pihak DUDI dalam rangka penempatan praktik kerja industri (prakrin) siswa-siswi SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin.

Informasi senada juga disampaikan oleh Bayu Asmoro, teknisi senior PT Asra International Tbk Daihatsu, mengatakan bahwa. “Pihak perusahaan merasa sangat terbantu dalam melayani perbaikan atau service dari mobil-mobil konsumen dan sama-sama mendapat keuntungan dengan penempatan praktik kerja industri (prakrin) siswa SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin”.

Pada prinsipnya kerjasama yang dibina oleh SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin memberikan keuntungan baik bagi sekolah maupun pihak DUDI, kerjasama ini bermuara dari kegiatan kunjungan kerja industri atau dalam bahasa agama di sebut silaturrahim, dari sinilah kemudian terbina hubungan kerjasam yang berkesinambungan diantara kedua belah pihak.

(18)

Dari uraian di atas diketahui bahwa, kepala sekolah melalui wakil-wakilnya telah melakukan tahapan kerjasama dengan pihak DUDI yang diawali dengan kunjungan industri, ini merupakan prosedur kerjasama yang baik dan terbukti dengan diterimanya siswa SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin untuk melaksanakan praktik kerja industri (prakrin) diberbagai dunia usaha/dunia industri (DUDI) yang ada di kota Banjarmasin. b. Melakukan pendekatan secara intensif kepada Dunia Usaha/Dunia Industri

(DUDI) dan masyarakat

Secara prosedur, setelah melakukan kunjungan keberbagai dunia usaha /dunia industry (DUDI), maka prosedur lanjutan yang dilakukan oleh SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin adalah melakukan pendekatan yang intensif, tentunya dengan melakukan kunjungan-kunjungan lanjutan.

Waktu kunjungan yang dilakukan pihak sekolah bersifat kondisional, biasanya diawal tahun ajaran atau mendekati masa praktik kerja industri (prakrin) dan selama praktik berelangsung. Selain wakil kepala sekolah bidang Humas dan DUDI, juga diikuti oleh kepala program (kaprog), masing-masing bidang kejuruan.

Kunjungan industri yang dilakukan oleh wakil kepala sekolah bidang humas dan DUDI juga diikuti oleh masing-masing kepala program (kaprog), ungkapan senada disampaikan oleh kepala program (kaprog) Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Soeparman, A.Md. beliau mengatakan bahwa, “Kunjugan dilakukan setiap bulan, tujuan kunjungan rutin bulanan adalah untuk melihat kerja siswa, serta melihat langsung cara kerja dan etika kerja, karena etika itu tidak hanya kepada benda hidup, benda matipun seperti onderdil, sparpart kendaraan, teknisi juga harus bertatakrama dan beretika”.

Sejatinya Pelaksanaan manajemen pendidikan sistem ganda (PSG) sudah berhasil, terbukti dengan keterampilan yang dimiliki siswa, baik dari sekolah maupun tempat praktik, karena tujuan sekolah kejuruan adalah penguasaan keterampilan siswa sesuai kejuruan masing-masing”.

Dari informasi yang diperoleh penulis, sehubungan dengan pola kerjasama yang kedua yang dilakukan oleh SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin adalah melakukan pendekatan yang intensif mengunjungi berbagai dunia usaha/dunia industri (DUDI)

(19)

untuk membina dan mengokohkan kerjasama antara kedua belah pihak. Dalam hal ini sekolah aktif melakukan pendekatan ke berbagai dunia usaha/dunia industri (DUDI).

Secara teoritis, sekolah sebagai patner dari masyarakat di dalam melakukan fungsi pendidikan, dan sekolah sebagai prosedur yang melayani pesanan-pesanan pendidikan dari masyarakat lingkungannya. Untuk merealisasikan ungkapan bahwa sekolah sebagai patner dan prosedur yang melayani pesanan-pesanan pendidikan masyarakat, maka konsekuensinya adalah masyarakat dalam hal ini pihak DUDI hendaknya memiliki komitmen untuk menyediakan wadah sebagai wahana pembelajaran bagi siswa-siswi sekolah menengah kejuruan.

Dengan demikian, melalui pendekatan yang intensif oleh manajemen SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin kepada pihak DUDI terlihat konsistensi dan komitmen para DUDI untuk menerima siswa-siswi SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin untuk melakukan praktik kerja industri (prakrin), sehingga program sekolah berjalan dengan lancar.

c. Membuat nota kesepakatan atau surat kesepakatan Memorandum Of Understanding (MOU) dan ditandatangani oleh kedua belah pihak

Secara teoritis, kontrak kerjasama dalam hal apapun hendaknya dibuktikan dengan adanya surat kesepahaman yang mesti ditanda tangani kedua belah pihak, dan akan dijadikan pegangan masing-masing dalam melakukan evaluasi kerjasama berikutnya.

Sehubungan dengan kontrak kerjasama ini, Wahyu Alinuddin mengatakan bahwa. “Kerjasama perusahaan kami dengan pihak SMK Muhammadiyah memang sudah berjalan lama hampir 10 tahun, waktu dulu perusahaan kami berkantor di pal 1, dan sejak perusahaan kami didirikan kami selalu mengadakan kerjasama dengan sekolah-sekolah kejuruan perihal praktik kerja industri (prakrin) termasuk SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin, kerjasama disepakati melalui sebuah MOU dan dievaluasi pertahun, sebelum praktik kerja industri (prakrin) dilaksanakan pihak sekolah rutin setiap tahun berkunjung ke perusahaan untuk menyampaikan tentang adanya praktikan yang akan melakukan praktik di perusahaan kami”.

(20)

Sejatinya kontrak kerjasama harus diadakan evaluasi untuk mengukur layak tidaknya apabial kerjasama dilanjutkan, standard evaluasi kerjasama adalah bisa dilihat dari positif negatifnya bagi kedua belah pihak. Selama ini, kerjasama yang dibina oleh SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin, berjalan dengan baik dan kontrak kerjasama selalu bersambung dari tahun-tahun sebelumnya. Artinya pihak DUDI merasa diuntungkan dengan kerjasama yang terjalin dan begitu pula sebaliknya, sehingga tidak ada alasan untuk memutus hubungan kerjasama yang telah terbina sejak lama.

Berdasarkan informasin yang didapat oleh penulis, ada sejumlah perusahaan atau industri yang telah bersedia melakukan kerjasama dengan SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin sebagaimana yang disampaikan oleh kepala sekolah SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin diantaranya adalah PT. Trio Motor Banjarmasin, PT. Port Indonesia, PT. Sanyo, PT. Samsung, PT. Toshiba, PT. Bandung Komputer, CV. Adil Komputer dan banyak lagi perusahaan DUDI yang menjadi lembaga patner SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin yang sudah menandatangani MOU selama satu tahun ajaran.

Dengan demikian apa yang dilakukan oleh manajemen sekolah SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin dalam melakukan kerjasama dengan pihak dunia usaha/dunia industri (DUDI) penulis anggap sudah memadai dan bisa diterima oleh pihak DUDI, artinya kepala sekolah sebagai manajer puncak/top leader, telah melaksanakan manajemen pendidikan sistem ganda (PSG) dan melakukan pola kerjasama yang baik.

Indikator kerjasama yang baik, adanya keberlangsungan dalam jangka waktu yang relatif panjang dan evaluasi yang berkelanjutan serta memberikan keuntungan kedua belah pihak, itu berawal dari adanya kesepakatan untuk menjalin kerjasama dengan dibuktikan dengan dibuatnya Memorandum Of Understanding (MOU).

E. Kesimpulan

Berdasarkan deskripsi hasil penelitian serta pembahasan sebagaimana dikemukakan pada bab sebelumnya, manajemen pendidikan pada pendidikan sistem

(21)

ganda (PSG) di SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin yang dijalankan oleh kepala sekolah dapat disimpulan sebagai berikut:

1. Sebagai manajer kepala sekolah pada umumnya telah melaksanakan manajemen pendidikan pada pendidikan sistem ganda (PSG) di SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin dengan baik. Sesuai dengan ketentuan dan fungsi-fungsi manajemen terutama dalam melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan melakukan evaluasi secara komprehensif pada program pendidikan sistem ganda (PSG) khususnya pada aspek praktik kerja industri (prakrin).

2. Sebagai kepala sekolah yang menjadi manajer pada SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin, telah berhasil menggerakkan manajer-manajer tingkat (middle manajer, lower manajer) sehingga mereka bekerja sesuai dengan job masing-masing dan bekerja sesuai dengan garis komando yang telah disepakati. Ini semua ditentukan oleh kemampuan manajerial skill yang dimiliki kepala sekolah, sehingga bisa menggerakkan orang lain (bawahan) sesuai apa yang dikehendaki.

3. Sehubungan dengan pola kerjasama yang dibina kepala sekolah dengan pihak dunia usaha/dunia industri (DUDI) sudah berjalan dengan baik, meskipun peran kepala sekolah boleh dikatakan hanya dibelakang layar, kepala sekolah menggerakkan para wakilnya sehingga bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan. Apapun itu, inilah manajemen, dimana dikatakan manajemen adalah seni (art) untuk menggerakkan orang lain agar bekerja sesuai apa yang diharapkan, artinya kepala sekolah SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin sudah melaksanakan manajemen modern dimana personil dapat bekerja sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing.

(22)

DAFTAR PUSTAKA

A.L. Hartani, Manajemen Pendidikan, Yogyakarta: LaksBang PRESSindo, 2011. Abdul Hadis dan Nurhayati B, Manajemen Mutu Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2010. Abdul Rahman Saleh dan Fahidin, Materi Pokok Manajemen Perpustakaan Perguruan

Tinggi, Jakarta:Universitas Terbuka,1995.

Agus Suprijono, Cooperative Learning-Teori dan Aplikasi PAKEM, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Amri Darwis, Manajemen Konflik Pengembangan Ilmu Berparadigma Islami, Pekan Baru: Suska Press, 2008.

Andrew Leigh, 20 Kiat manajer yang sukses, terj. Agus Maulanan, (Jakarta: Binarupa Aksara, 1991.

Arif Rohman dan Teguh Wiyono, Education Policy in Decentralization Era, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.

Azhar Arsyad, Pokok-Pokok Manajemen-Pengantar Praktis bagi Pimpinan dan Eksekutif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1998.

Deborah Tannen, That’s Not What I Meant-Seni Komunikasi Efektif-Membangun relasi dengan membina gaya persahabatan, Jakarta: PT Gramedia Pustaka, 1996. Departemen Agama, In Service Training KKM MTs/MI. Jakarta: PPIM, 2001.

E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011. E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi,

Jakarta: Ekapress, 2000.

H. B. Siswanto, Pengantar Manajemen, Jakarta: Bumi Aksara, 2005.

Hamalik, Oemar. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010.

Hikmat, Manajemen Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia, 2009.

Ishak Arief dan Hendri Tanjung, Manajemen Motivasi, Jakarta: Gramedia Widia Sarana Indonesia, 2003.

M. Manullang, Management Personalia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1994.

Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2004. Malayu P. Hasibuan, Organisasi dan Motivasi: Dasar Peningkatan Produktivitas, Jakarta:

Bumi Aksara, 2001.

Miftah Toha, Perilaku Organisasi-Konsep Dasar dan Aplikasinya, Jakarta: Rajawali Pers, 2011.

Mulyasa, E. Menjadi Kepala Sekolah Profesional -Dalam konteks menyukseskan MBS dan KBK, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011.

Nur Zazin, Kepemimpinan dan Manajemen Konflik-Strategi mengelola konflik dalam Inovasi Organisasi dan Pendidikan di Madrasah/Sekolah yang unggul, Cet. I, Yogyakarta: Absolute Media, 2010.

Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia dengan PT Remaja Rosdakarya, 2010.

(23)

Prajudi Atmosudirdjo. Administrasi dan Management Umum,(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982.

Republik Indonesia, Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jakarta: Adi Pustakatama, 1990. Republik Indonesia. Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan

Nasional. Jakarta: Cemerlang, 2003.

Richard Nelson-Jones, Cara Membina Hubungan baik dengan Orang lain-latihan dan bantuan mandiri,terj. R. Bagio Prihatono, Cet. II, Jakarta: Bumi Aksara, 1996. Sa’ud, Udin Syaifudin. Perencanaan PendidikaN. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,

2009.

Safarudin & Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, Jakarta: Quantum Teaching. 2005.

Soedijarto, Memantapkan sistem pendidikan nasional, Jakarta: PT Gramedia Wirasarana Indonesia, 1993.

Sondang P. Siagaian, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007. Sondang P. Siagian. Filsafat Administrasi, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.

Suharsimi Arikunto, dkk. Manajemen Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Yogyakarta. Aditya Media bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 2002.

Syafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Ciputat Press, 2005. Syafarudin, & Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, Jakarta: Quantum Teaching.

2005.

T.Hani Handoko, Manajemen Personalia dan Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: BPFE, 1996.

T.M. Lillico, Komunikasi Manajemen, Jakarta: Erlangga, 1984.

Thomas S. Bateman dan Scott A. Snell, Manajemen Kepemimpinan dan Kolaborasi dalam Dunia yang Kompetitif-Management Leading & Collaborating in a Competitive Wold, Jakarta: Salemba Empat, 2009.

Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar dasar-dasar Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1988.

Ulbert Silalahi, Studi Tentang Ilmu Administrasi Konsep Teori dan Dimensi, Bandung: Sinar Baru Agensindo, 2003.

Umiarso dan Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan-Menjual Mutu pendidikan dengan Pendekatan Quality Control bagi Lembaga Pendidikan, Jogjakarta: IRCiSod, 2010.

Veithzal Rivai dan Sylviana Murni, Education Management Analisis Teori dan Praktik, Jakarta: Rajawali Pers /PT Rajagrafindo Persada, 2009.

Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2011. Winardi, Manajemen Supervisi, Bandung: Mandar Maju, 1996.

Yusuf al-Aqshari, Manajemen Konflik, Jakarta: Darul Lathaif, 2002.

Zulkarnain Nasution, Manajemen Humas Lembaga Pendidikan konsep fenomena dan aplikasinya, Malang: UPT UMM Press, 2006.

Referensi

Dokumen terkait

Pengawasan merupakan fungsi yang harus dilakukan setelah perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan dalam manajemen, begitu juga dalam manajemen limbah medis di

Fungsi manajerial kepala ruang seperti fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan dan pengendalian belum baik, manajemen keperawatan sangat

Dari penelitian diperoleh hasil bahwa keempat fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan termasuk dalam kriteria baik atau skor

Dari penelitian diperoleh hasil bahwa keempat fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan termasuk dalam kriteria baik atau skor

Pengawasan (controlling) merupakan bagian akhir dari fungsi pengelolaan/manajemen. Fungsi manajemen yang dikendalikan adalah perencanaan, pengorganisasian, penggerakan

Proses kegiatan manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan memiliki peranan yang sangat besar dalam pengelolaan kegiatan islami pada wisata religi,

Fungsi manajerial kepala ruang seperti fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan dan pengendalian belum baik, manajemen keperawatan sangat

Pendidikan, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa Manajemen Pendidikan adalah Proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan dalam mengelola sumber daya yang