• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN YURIDIS TINDAK PIDANA PEMALSUAN SURAT (Studi Kasus Putusan No.119/PID.B/2012/PN.MALILI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN YURIDIS TINDAK PIDANA PEMALSUAN SURAT (Studi Kasus Putusan No.119/PID.B/2012/PN.MALILI)"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP TINDAK PIDANA

PEMALSUAN SURAT

(Studi Kasus No.Putusan 119/Pid.B/2012/PN.Malili)

OLEH :

HARNI EKA PUTRI B.

B111 09 467

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

(2)

i HALAMAN JUDUL

TINJAUAN YURIDIS TINDAK PIDANA PEMALSUAN SURAT (Studi Kasus Putusan No.119/PID.B/2012/PN.MALILI)

OLEH :

HARNI EKA PUTRI B. B 111 09 467

SKRIPSI

Diajukan sebagai Tugas Akhir dalam rangka Penyelesaian Studi Sarjana Program Kekhususan Hukum Pidana

Program Studi Ilmu Hukum

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2013

(3)

ii PERSETUJUAN PEMBIMBING

Diterangkan bahwa, skripsi mahasiswa :

Nama : HARNI EKA PUTRI.B

Nomor Pokok : B 111 09 467

Judul : Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Surat (Studi Kasus Putusan No.

119/Pid.B/2012/PN.Malili)

Telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan dalam ujian skripsi.

Makassar, 21 Oktober 2013

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Syamsuddin Muchtar S.H.,M.H. Dr. Amir Ilyas S.H.,M,H

(4)

iii ABSTRAK

Harni Eka Putri B. ( B 111 09 467 ) “ Tinjauan Yuridis terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Surat (Studi Kasus Putusan No 119/Pid.B/2012PN.Mll) dibimbing oleh Syamsuddin Muchtar selaku pembimbing I dan Amir Ilyas selaku pembimbing II.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dua hal, yaitu pertama, untuk mengetahui penerapan hukum pidana materil terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Surat Putusan No. 119/Pid.B/2012PN.Mll, dan yang kedua adalah untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim terhadap putusan pengadilan No. 119/Pid.B/2012PN.Mll.

Penelitian dilaksanakan di Kota Malili Kabupaten Luwu Timur, yaitu Pengadilan Negeri Malili, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yakni wawancara langsung dengan hakim yang menjatuhkan putusan dan dari Surat Putusan Pengadilan Negeri Malili. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan membandingkan keadaan nyata pelaksanaan penerapan ketentuan pidana materil dan pertimbangan hukum hakim dalam perkara putusan No. 119/Pid.B/2012/PN.Mll.

Dari penelitian yang dilakukan, penulis mendapatkan hasil sebagai berikut, (1).Pada putusan No. 119/Pid.B/2012/PN.Mll Jaksa Penuntut mum menggunakan Dakwaan Alternatif, yakni pada dakwaan Pertama Pasal yang didakwakan adalah Pasal 263 ayat (1) KUHP, Dakwaan Kedua Pasal 263 ayat (2) KUHP, dan dakwaan ketiga Pasal 263 ayat (2) KUHP Jo. Pasal 53 ayat (1) KUHP . Diantara unsur-unsur Pasal yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum tersebut, yang terbukti secara sah dan meyakinkan adalah Pasal 263 ayat (1). Dimana, antara perbuatan dan unsur-unsur Pasal saling mencocoki. Menurut penulis, penerapan hukum materil dalam kasus ini sudah sesuai dengan hukum pidana yang berlaku di Indonesia. (2). Dalam putusan No. 119/Pid.B/2012/PN.Mll, proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Majelis Hakim menurut penulis sudah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku seperti yang diharapkan oleh penulis. Karena berdasarkan dua alat bukti yang sah, yang dalam kasus yang diteliti penulis ini, alat bukti yang digunakan Hakim adalah keterangan saksi dan keterangan terdakwa beserta beberapa bukti surat yang dipalsukan. Majelis Hakim berdasarkan

fakta-fakta di persidangan menilai bahwa terdakwa dapat

dipertanggungjawabkan perbuatannya dengan pertimbangan bahwa pada saat melakukan perbuatannya terdakwa sadar akan akibat yang ditimbulkannya dan tidak mengurungkan niatnya, pelaku dalam melakukan perbuatannya dalam keadaan sehat dan cakap untuk mempertimbangkan unsur melawan hukum, serta tidak adanya alasan penghapusan pidana.

(5)

iv ABSTRACT

Harni Eka Putri B. (B 111 09 467) "Judicial Review of the Crime of Forgery Letter (Case Studies Decision No. 119/Pid.B/2012PN.Mll) guided by Mochtar SYAMSUDIN as a mentor I and II as a mentor Amir Ilyas.

This study aims to determine two things: first, to determine the application of criminal law material to the Crime Fraud Decision Letter No.. 119/Pid.B/2012PN.Mll, and the second is to determine the legal reasoning of the court's decision No. judge. 119/Pid.B/2012PN.Mll.

The experiment was conducted in the City Malili East Luwu, the District Court Malili, using data collection techniques that direct interviews with the judges and the verdict of the District Court's Decision Letter Malili. The data obtained and analyzed by comparing the real state of implementation of the provisions of criminal law material and consideration of the judge in case No. verdict. 119/Pid.B/2012/PN.Mll.

From the research conducted, the authors get the following results, (1). At No. verdict. Prosecutors mum 119/Pid.B/2012/PN.Mll using Alternative indictment, on charges that accused the First Article is Article 263 paragraph (1) of the Criminal Code, Article 263 Second Indictment paragraph (2) of the Criminal Code, and Article 263 paragraph three charges (2) of the Criminal Code Jo. Article 53 paragraph (1) of the Criminal Code. Among the elements of Article indicted by the public prosecutor, who proved beyond reasonable doubt is Article 263 paragraph (1). Where, between acts and elements of each to the correct article. According to the authors, the application of material law in this case is in accordance with the criminal law in Indonesia. (2). In the decision No.. 119/Pid.B/2012/PN.Mll, the decision making process undertaken by the judges according to the authors are in accordance with applicable law as expected by the author. Because it is based on two valid evidence, that in the cases studied by this author, used the evidence and judge witness testimony is accused along with some evidence of a forged letter. Panel of judges based on the facts in the trial judge that the defendant can be accounted for on the basis that his actions at the time of the defendant aware of his actions he has incurred and does not carry out the attack, the perpetrator in doing deeds in good health and capable to take into account the element of illegality, and the absence of cause criminal deletion.

(6)

v KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, Puji Syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, hidayah, karunia serta izin-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul “Tinjauan Yuridis terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Surat (studi kasus putusan No.119/Pid.B/2012/PN.Mll)” sebagai ujian akhir program studi di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Shalawat serta Salam tak lupa penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, nabi yang menjadi penuntun bagi umat Islam.

Rampungnya skripsi ini, penulis persembahkan untuk orang tua tercinta ayahanda Drs. Burhanuddin, M.Si dan Ibunda tercinta Nuraeni Nur yang tak pernah bosan dan tetap sabar mendidik, membesarkan, memberi dukungan, memberi semangat serta senantiasa mendoakan penulis, “you’re the best motivator”. Terima kasih kepada adik-adikku Harnum Dwi Putri B dan Haryadi Putra B, yang selalu bersedia ketika penulis meminta bantuan.

Dari lubuk hati penulis juga haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. dr. Idrus Paturusi, selaku Rektor Universitas Hasanuddin Makassar dan Para Wakil Rektor dan seluruh jajaran stafnya.

(7)

vi 2. Bapak Prof. Dr. Aswanto SH,. DFM. Selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Hasanuddin.

3. Bapak Prof. Dr. Ir. Abrar Saleng, S.H., M.H., Bapak Dr. Anshori Ilyas, S.H., M.H., serta Bapak Romi Librayanto, S.H., M.H.. selaku Wakil Dekan I, II, III pada Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. 4. Bapak Dr. Syamsuddin Muchtar, S.H.,M.H., dan Bapak Dr. Amir

Ilyas, S.H.,M.H. selaku Pembimbing I dan Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing penulis. Bapak Prof. Dr. H. M.Said Karim, S.H.,M.H, Ibu Hj. Haeranah, S.H., M.H. dan Bapak Abdul Asis, S.H.,M.H. selaku tim penguji yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun dalam rangka penyempurnaan skripsi ini.

5. Ibu Birkah Latif, S.H.,M.H. selaku Penasehat Akademik atas segala bimbingan dan perhatiannya yang telah diberikan kepada penulis, dan kepada para dosen pengajar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan kepada penulis. Serta kepada para staf akademik Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.

6. Bapak Dr. H. Muhammad Djamir, S.H.,M.H selaku Ketua Pengadilan Negeri Malili serta Bapak Abdul Hakim Halim, S.H.,M.H. selaku hakim di Pengadilan Negeri Malili yang telah meluangkan waktunya dan banyak memberikan kemudahan dalam memperoleh data dan informasi terkait dalam penelitian penulis.

(8)

vii 7. Kepada Kak Surachmanuddin, A.Md terima kasih atas dukungan dan do’a yang diberikan kepada penulis selama ini, dan juga sebagai motivator terhebat untuk penulis.

8. Kepada Kak Muhammad Djaka Ds Md, S.H., Kak Soekarno, S.H.,M.H, Kak Dede Arwinsyah, S.H.,M.H, Kak Arlo Abdillah, S.H, Kak Bayu Arjunah, S.H.,M.H, dan Kak Agus Arief, S.H.,M.H. yang juga banyak memberi bantuan serta kritik dan saran kepada penulis.

9. Kepada saudara-saudaraku di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Iin Fatimah, S.H., Teten Susmihara Haeruddin, S.H., Alfriyanti Alimuddin, S.H., Khalida Yasin, S.H., Suryaningsih, S.H., Vita Sulfitri, Cindy Astryd Alifka, Fihara Fitriany, Suhaeni Rosa, Yusida Wahyu Rezky, Ume Khumairah, Hidayatullah Syaifuddin, Andy Putra Kusuma, Andi Nur Alamsyah, Fadil Kesha Paramadjeng, Andi Dedy Herfiawan, S.H., Kurniadi Saranga, S.H., Moh. Ali Khan, Hardiyanto Maspul, S.H., Ismail, Muh. Zaldy, Bagus Panji, Aldiwin Yunus, Ilham, Muh.Reza Prasetya, Aan Hikmawan, teman-teman dan senior HMI, teman-teman dan senior PSM Unhas, teman-teman Klinik Hukum (kejaksaan), dan teman-teman lain yang tidak sempat penulis sebutkan satu persatu, sungguh mengenal kalian semua adalah anugerah, semoga kebersamaan dan keakraban kita tidak hanya sebatas di Universitas Hasanuddin.

(9)

viii 10. Teman KKN Gelombang 82 Universitas Hasanuddin di Kecamatan Enrekang khususnya posko Desa Kaluppini, Teten Susmihara, S.H., Besse Evianty, Wa Ode Sitti Munirah, Safyuddin, S.Hut., Munizar, Hendro Saputra, dan Muh. Tezar Nugraha, atas segala kebaikan serta pengalaman yang banyak selama KKN.

11. Dan kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu dan memberikan dorongan serta semangat selama ini, semoga mendapat limpahan Rahmat dan Berkah dari Allah SWT.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi isi maupun penulisan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi pengemban wawasan ilmu pengetahuan, khususnya dibidang Ilmu Hukum Pidana. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Makassar, November 2013

(10)

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………. i

PERSETUJUAN PEMBIMBING……….. ii

PERSETUJUAN MENEMPUH UJIAN SKRIPSI……….. iii

ABSTRAK……… iv

KATA PENGANTAR……….. v

DAFTAR ISI……….... ix

BAB I. PENDAHULUAN……… 1

A. Latar Belakang Masalah……...……….... 1

B. Rumusan Masalah………..………... 7

C. Tujuan Penulisan………..……….. 7

D. Kegunaan Penulisan……….. 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA………...………... 9

A. Tindak Pidana………...……….. 9

1. Istilah Dan Pengertian Tindak Pidana…...………... 9

2. Unsur-Unsur Tindak Pidana……… 12

B. Pertanggungjawaban Pidana……… 15

1. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana………. 15

2. Unsur-Unsur Pertanggungjawaban Pidana……….. 17

C. Pemalsuan Surat……… 23

1. Pengertian Pemalsuan Surat………. 23

a. Pemalsuan……….. 23

(11)

x

c. Pemalsuan Surat……… 26

2. Unsur-Unsur Pemalsuan Surat……….. 27

3. Jenis-Jenis Pemalsuan Surat………. 31

D. Tindak Pidana Pemalsuan Surat dalam KUHPidana………. 36

E. Pidana dan Pemidanaan……….... 41

1. Pengertian Pidana dan Pemidanaan... 41

2. Teori-Teori Pemidanaan... 43

3. Bentuk-Bentuk Pidana………. 46

F. Pertimbangan Hukum Hakim Dalam Menjatuhkan Pidana.. 47

1. Dasar Peniadaan Pidana... 48

2. Dasar Pemberatan Pidana………..……… 51

3. Dasar-Dasar yang Menyebabkan Diperingannya Pidana……… 58

BAB III METODE PENELITIAN………..………. 61

A. Lokasi Penelitian………..………….. 61

B. Jenis dan Sumber Data………..………... 61

C. Jenis Penelitian... 62

D. Teknik Pengumpulan Data……… 62

E. Analisis Data……… 62

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……….. 64

A. Penerapan Hukum Pidana Materil Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pemalsuan Surat...……….. 64

(12)

xi

2. Dakwaan Penuntut Umum………. 67

3. Tuntutan Jaksa………. 79

4. Amar Putusan………... 80

5. Analisis Penulis……… 82

B. Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pemalsuan Surat dalam Putusan Nomor 119/Pid.B/2012/PN.Malili………. 85

BAB V PENUTUP……….. 95

A. Kesimpulan………. 95

B. Saran……… 96

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Undang-Undang Dasar 1945 bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan Negara Hukum. Dimana hukum tersebut diyakini sebagai alat untuk memberikan kesebandingan dan kepastian dalam pergaulan hidup guna mencapai tujuan negara Republik Indonesia yaitu untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Dalam mencapai tujuan tersebut, sering terjadi permasalahan-permasalahan hukum. Hal ini disebabkan antara lain oleh karena para pihak (pejabat) dalam melaksanakan tugasnya kurang atau tidak berdasarkan kepada asas hukum yang berlaku di Indonesia saat ini.

Perkembangan hukum akan selalu berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Demikian pula permasalahan hukum juga akan ikut berkembang seiring dengan perkembangan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Memang salah satu sifat dari hukum adalah dinamis. Pada aliran sosiologis, yang dipelopori oleh Hammaker, Eugen Ehrlich dan Max Weber, berpendapat : “Hukum merupakan hasil interaksi sosial dengan kehidupan masyarakat. Hukum adalah gejala masyarakat, karenanya perkembangan hukum (timbulnya, berubahnya, lenyapnya)

(14)

2 sesuai dengan perkembangan masyarakat. Perkembangan hukum merupakan kaca dari pembangunan masyarakat.”

Melihat perkembangan masyarakat saat ini, cukup banyak permasalahan yang ditimbulkan, baik permasalahan yang menimbulkan

kerugian pada suatu individu, masyarakat, ataupun Negara.

Permasalahan yang cukup banyak terjadi di lingkungan masyarakat adalah kejahatan pemalsuan. Pemalsuan merupakan salah satu bentuk perbuatan yang dianggap sebagai kejahatan yang bertentangan dengan kepentingan umum. Sebab dan akibat perbuatan itu menjadi perhatian dari berbagai pihak, dengan mengadakan penelitian-penelitian berdasarkan metode ilmiah agar dapat diperoleh suatu kepastian untuk menetapkan porsi dan klasifikasi dari kejahatan tersebut.

Tindak pidana pemalsuan surat merupakan salah satu bentuk kejahatan yang cukup banyak dilakukan oleh masyarakat dengan atau tanpa suatu alat. Apalagi diera modern seperti sekarang ini, kemajuan

teknologi yang semakin pesat yang dapat menunjang pelaku kejahatan sehingga lebih mudah untuk melakukan pemalsuan surat. Salah satunya dengan menggunakan alat pemindai (scanner).

Ada banyak perbuatan yang termasuk dalam kejahatan pemalsuan surat, pemalsuan tanda tangan ataupun cap/stempel merupakan salah satu diantara bentuk pemalsuan surat. Masalah pemalsuan tanda tangan merupakan suatu bentuk kejahatan yang masih kurang dipahami oleh masyarakat termasuk di dalamnya para aparat penegak hukum , terutama

(15)

3 tentang akibat yang ditimbulkan dari pemalsuan tanda tangan tersebut. Masyarakat yang kurang paham akan hal itu terkadang menganggap bahwa memalsukan tanda tangan merupakan salah satu cara yang efektif disaat mereka terdesak oleh waktu sedangkan mereka sangat membutuhkan tanda tangan seseorang. Mereka mengganggap hal tersebut sebagai alasan pemaaf karena terdesak oleh waktu. Namun hal itu justru seharusnya tidak boleh dilakukan dengan alasan apapun karena tindakan pemalsuan tanda tangan merupakan suatu bentuk kejahatan yang bertentangan dengan aturan hukum, sehingga sebab dan akibatnya dapat merugikan individu, masyarakat dan negara, dan dapat diancam dengan hukuman pidana.

Pemalsuan tanda tangan merupakan suatu bentuk kejahatan Pemalsuan Surat yang diatur dalam Bab XII Buku II KUHP, dimana pada buku tersebut dicantumkan bahwa yang termasuk pemalsuan surat hanyalah berupa tulisan-tulisan saja, termasuk didalamnya pemalsuan tanda tangan yang diatur dalam Pasal 263 KUHP sampai dengan Pasal 276 KUHP.

Tindak Pidana yang sering terjadi adalah berkaitan dengan Pasal 263 KUHP (membuat surat palsu atau memalsukan surat); dan Pasal 264 (memalsukan akta-akta otentik) dan Pasal 266 KUHP (menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik).

(16)

4 Berikut ini adalah rumusan dari Pasal 263 KUHP, sebagai berikut: 1) Barangsiapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang

dapat menerbitkan sesuatu hak, sesuatu perjanjian (kewajiban) atau suatu pembebasan utang, atau yang boleh diprgunakan sebagai keterangan bagi sesuatu perbuatan, dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan surat-surat itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, maka kalau mempergunakannya itu dapat mendatangkan suatu kerugian dihukum karena pemalsuan surat, dengan hukuman penjara selama-lamanya enam tahun.

2) Dengan hukuman serupa itu juga dihukum, barangsiapa dengan sengaja menggunakan surat palsu atau yang dipalsukan itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, kalau hal mempergunakan dapat mendatangkan sesuatu kerugian.

Rumusan Pasal 264 KUHP, sebagai berikut:

1) Pemalsuan surat diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun, jika dilakukan terhadap:

1. Akta-akta otentik;

2. Surat hutang atau sertifikat hutang dari sesuatu negara atau bagiannya atau pun dari suatu lembaga umum;

3. Surat sero atau hutang atau sertifikat sero atau hutang dari sesuatu perkumpulan, yayasan, perseroan atau maskapai;

4. Talon, tanda bukti dividen atau bunga dari salah satu surat yang diterangkan dalam 2 dan 3, atau tanda bukti yang dikeluarkan sebagai pengganti surat-surat itu;

5. Surat kredit atau surat dagang yang diperuntukkan untuk diedarkan.

(17)

5 2) Diancam dengan pidana yang sama barangsiapa dengan sengaja memakai surat tersebut dalam ayat pertama, yang isinya tidak sejati atau yang dipalsukan seolah-olah benar dan tidak dipalsu, jika pemalsuan surat itu dapat menimbulkan kerugian.

Rumusan Pasal 266 KUHP, sebagai berikut:

1) Barang siapa menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik mengenai sesuatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran, diancam, jika pemakaian itu dapat menimbulkan kerugian, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun;

2) Diancam dengan pidana yang sama barang siapa dengan sengaja memakai surat tersebut dalam ayat pertama, yang isinya tidak sejati atau yang dipalsukan seolah-olah benar dan tidak dipalsu, jika pemalsuan surat itu dapat menimbulkan kerugian.

Pada kenyataannya meskipun ada banyak aturan yang mengatur mengenai kejahatan pemalsuan tanda tangan, kejahatan ini merupakan salah satu kejahatan yang sulit diungkapkan atau dibuktikan, hal ini disebabkan karena tanda tangan itu sangat identik dengan kepribadian seseorang. Untuk itu diperlukan adanya suatu tempat atau sarana yang dapat membuktikan keaslian dari tanda tangan yang diragukan tersebut.

(18)

6 Salah satu upaya dalam membantu mengungkap berbagai kejahatan termasuk didalamnya kejahatan pemalsuan tanda tangan adalah dibentuknya Laboratorium Forensik. Laboratorium Forensik merupakan suatu lembaga yang bertugas dan berkewajiban menyelenggarakan fungsi kriminalistik dan melaksanakan segala usaha pelayanan serta membantu mengenai kegiatan pembuktian perkara pidana dengan memakai teknologi dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan laboratorium forensik.

Pengetahuan yang sejalan dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan tugas polisi sebagai penyidik adalah Ilmu Kedokteran Kehakiman. Pelaksanaan tugas Laboratorium Forensik meliputi bantuan pemeriksaan teknis laboratorium baik terhadap barang bukti maupun terhadap tempat kejadian perkara, serta kegiatan-kegiatan bantuan yang lain terhadap unsur-unsur operasional kepolisian. Maka dari itu peranan Laboratorium Forensik sangat penting untuk membuktikan dan mengungkapkan bahwa telah terjadi pemalsuan tanda tangan atau tidak. Begitu pentingnya peranan Laboratorium Forensik dalam pemeriksaan barang bukti menunjukkan bahwa tidak semua tindak kejahatan itu dapat diungkap dari adanya saksi hidup saja, melainkan juga dengan adanya barang bukti.

Adami Chazawi (2001:100), mengemukakan bahwa : “Peranan laboratorium forensik dalam mengungkap tindak pidana pemalsuan tanda tangan memegang peranan yang sangat penting yaitu melalui identifikasi

(19)

7 yang meliputi identifikasi tanda tangan, cap, termasuk pula tanda tangan dengan menggunakan cap atau stempel tanda tangan”

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian dengan judul :

Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Surat (Studi Kasus Putusan No. 119/Pid.B/2012/PN.Malili)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis uraikan diatas, maka dapat ditarik beberapa masalah yang menarik untuk dikaji, yaitu:

1. Bagaimanakah penerapan hukum pidana materil terhadap pelaku tindak pidana pemalsuan tanda tangan dalam perkara pidana no. 119/Pid.B/2012/PN.Malili ?

2. Bagaimanakah pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tindak pidana pemalsuan surat dalam perkara pidana no. 119/Pid.B/2012/PN.Malili ?

C. Tujuan Penelitian

Sebagaimana lazimnya setiap penulisan karya ilmiah tentunya mempunyai beberapa tujuan. Adapun tujuan-tujuan tersebut adalah :

1. Untuk mengetahui penerapan hukum pidana materil terhadap pelaku tindak pidana pemalsuan surat dalam perkara pidana no. 119/Pid.B/2012/PN.Malili.

(20)

8 2. Untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tindak pidana pemalsuan surat dalam perkara pidana no. 119/Pid.B/2012/PN.Malili.

D. Kegunaan Pustaka

Kegunaan penelitian dalam penulisan ini antara lain:

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dalam penerapan sanksi pidana terhadap tindak pemalsuan surat. 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi atau

referensi bagi kalangan akademis dan calon peneliti yang akan melakukan penelitian lanjutan terhadap tinjauan yuridis terhadap tindak pidana pemalsuan surat.

Hasil penelitian ini sebagai bahan informasi atau masukan bagi proses pembinaan kesadaran hukum bagi masyarakat untuk mencegah terulangnya peristiwa yang serupa.

(21)

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tindak Pidana

1. Istilah dan Pengertian Tindak Pidana

Istilah tindak pidana merupakan terjemahan dari “strafbaar feit”, di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak terdapat penjelasan mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan strafbaar

feit itu sendiri. Terjemahan atas istilah strafbaar feit ke dalam bahasa

Indonesia diterjemahkan dengan berbagai istilah misalnya tindak pidana, delik, peristiwa pidana, perbuatan yang boleh dihukum, perbuatan pidana, dan sebagainya.

Ada beberapa istilah – istilah yang biasanya digunakan, baik dalam perundang-undangan yang ada maupun dalam berbagai literatur hukum sebagai terjemahan dari istilah strafbaar feit, yaitu :

a. Tindak pidana, dapat dikatakan berupa istilah resmi dalam perundang-undangan pidana kita.

b. Peristiwa pidana, digunakan oleh beberapa ahli hukum, misalnya R.Tresna dalam bukunya “Asas-asas Hukum Pidana”.

c. Delik, yang sebenarnya berasal dari bahasa Latin “delictum” juga digunakan untuk menggambarkan tentang apa yang dimaksud dengan strafbaar feit.

(22)

10 d. Pelanggaran pidana, dapat dijumpai dalam buku “Pokok-pokok

Hukum Pidana”, yang ditulis oleh M.H. Tirtaadmidjaja.

e. Perbuatan yang dapat dihukum, istilah ini digunakan oleh Karni dalam buku beliau “Ringkasan tentang Hukum Pidana”.

f. Perbuatan pidana, digunakan oleh Moeljatno dalam buku “Asas-asas Hukum Pidana”.

Itulah beberapa istilah strafbaar feit yang diterjemahkan kedalam

bahasa Indonesia. Selain istilah dari strafbaar feit, juga ada beberapa

pendapat para ahli mengenai tindak pidana, antara lain :

a. Menurut Simons (Erdianto Effendi, 2011 : 97) tindak pidana merupakan suatu tindakan atau perbuatan yang diancam dengan pidana oleh undang-undang, bertentangan dengan hukum dan dilakukan dengan kesalahan oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab.

b. Menurut Pompe (Erdianto Effendi, 2011 : 97)strafbaar feit” secara teoritis dapat merumuskan sebagai suatu : “suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang dengan sengaja ataupun tidak disengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, dimana penjatuhan hukuman terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan umum.

(23)

11 c. Van Hamel (Erdianto Effendi, 2011: 98) merumuskan tindak pidana itu sebagai suatu serangan atau ancaman terhadap hak-hak orang lain.

d. Menurut E. Uthrecht (Erdianto Effendi, 2011 : 98), tindak pidana dengan istilah peristiwa pidana yang sering juga disebut delik, karena peristiwa itu suatu perbuatan handelen atau doen

positif atau suatu melalaikan natalen negatif, maupun akibatnya

(keadaan yang ditimbulkan karena perbuatan atau melalaikan itu). e. Moeljatno (Erdianto Effendi, 2011 : 98) menyatakan bahwa tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana, terhadap barangsiapa melanggar larangan tersebut.

f. E.Y Kanter dan Sianturi (Erdianto Effendi, 2011: 99) menyatakan bahwa tindak pidana adalah suatu tindakan pada tempat, waktu dan keadaan tertentu, yang dilarang (atau diharuskan) dan diancam dengan pidana oleh undang-undang, bersifat melawan hukum, serta dengan kesalahan dilakukan oleh seseorang (yang mampu bertanggung jawab).

g. Wirjono Prodjodikoro (Adami Chazawi, 2005 : 75), menyatakan bahwa tindak pidana itu adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana.

Setelah melihat beberapa pendapat para ahli mengenai “strafbaar feit”, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang disebut dengan tindak

(24)

12 pidana adalah suatu perbuatan yang dilakukan manusia yang dapat bertanggung jawab atas perbuatannya, yang mana perbuatan itu dilarang atau diperintahkan atau diperbolehkan oleh undang-undang yang diberikan sanksi pidana. Untuk menentukan perbuatan itu sendiri sebagai tindak pidana atau bukan adalah apakah perbuatan tersebut diberi sanksi pidana atau tidak.

2. Unsur-Unsur Tindak Pidana

a. Unsur Tindak Pidana Menurut Para Ahli

Dari beberapa definisi dan pengertian yang ada tentang tindak pidana, maka didalam tindak pidana itu sendiri terdapat berbagai unsur-unsur tindak pidana menurut para ahli yang mendefinisikan tentang tindak pidana itu sendiri, unsur-unsur tindak pidana menurut para ahli misalnya,

Menurut Moeljatno (Erdianto Efendi : 2011 : 98) dapat diketauhi unsur-unsur tindak pidana sebagai berikut :

1) Perbuatan itu harus merupakan perbuatan manusia ;

2) Perbuatan itu harus dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang ;

3) Perbuatan itu bertentangan dengan hukum (melawan hukum) ;

4) Harus dilakukan oleh seseorang yang dapat

dipertanggungjawabkan;

5) Perbuatan itu harus dipersalahkan kepada si pembuat.

Sementara itu, Loebby Loqman ( Erdianto Effendi : 2011 : 99) menyatakan bahwa unsur-unsur tindak pidana meliputi :

1) Perbuatan manusia baik aktif maupun pasif ;

2) Perbuatan itu dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang ;

3) Perbuatan itu dianggap melawan hukum ; 4) Pelakunya dapat dipertanggungjawabkan.

(25)

13 Sedangkan menurut EY. Kanter dan SR. Sianturi (1982 ; 211), unsur-unsur tindak pidana adalah :

1) Subjek ; 2) Kesalahan;

3) Bersifat Melawan Hukum (dan tindakan) ;

4) Suatu tindakan yang dilarang atau diharuskan oleh undang-undang/ perundangan dan terhadap pelanggarannya diancam dengan pidana;

5) Waktu, tempat, dan keadaan (unsur objektif lainnya). b. Unsur Tindak Pidana Berdasarkan Undang-Undang

Buku II KUHP memuat rumusan-rumusan perihal tindak pidana tertentu yang masuk dalam kelompok kejahatan, dan buku III memuat pelanggaran. Ternyata ada unsur yang selalu disebutkan dalam setiap rumusan, yaitu mengenai tingkah laku/perbuatan walaupun ada pengecualian seperti Pasal 351 (penganiayaan). Unsur kesalahan dan melawan hukum kadang-kadang dicantumkan, dan seringkali juga tidak dicantumkan ; sama sekali tidak dicantumkan mengenai unsur-unsur lain baik sekitar/mengenai objek kejahatan maupun perbuatan secara khusus untuk rumusan tertentu.

Dari rumusan-rumusan tindak pidana tertentu dalam KUHP, dapat diketahui adanya 11 unsur tindak pidana, yaitu

1) Unsur tingkah laku; 2) Unsur melawan hukum; 3) Unsur kesalahan; 4) Unsur akibat konstitutif;

5) Unsur keadaan yang menyertai;

6) Unsur syarat tambahan untuk dapat dituntut pidana; 7) Unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana; 8) Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dipidana 9) Unsur objek hukum tindak pidana;

(26)

14 11) Unsur syarat tambahan untuk memperingan pidana.

Dari 11 unsur itu, diantaranya dua unsur, yakni kesalahan dan melawan hukum yang termasuk unsur subjektif, sedangkan selebihnya berupa unsur objektif. Misalnya melawan hukum perbuatan mengambil pada pencurian (Pasal 362 KUHP) terletak bahwa dalam mengambil itu diluar persetujuan atau kehendak pemilik (melawan hukum objektif). Atau (Pasal 251 KUHP) pada kalimat “tanpa izin pemerintah”, juga pada Pasal 253 pada kalimat “menggunakan cap asli secara melawan hukum” adalah berupa melawan hukum objektif. Akan tetapi, ada juga melawan hukum subjektif misalnya melawan hukum dalam Penipuan (Pasal 378 KUHP), Pemerasan (Pasal 368 KUHP), Pengancaman (Pasal 369 KUHP) dimana disebutkan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. Begitu juga unsur melawan hukum pada perbuatan memiliki dalam penggelapan (Pasal 372 KUHP) yang bersifat subjektif, artinya terdapat kesadaran bahwa memiliki benda orang lain yang ada dalam kekuasaannya itu merupakan celaan masyarakat.

Mengenai unsur melawan hukum itu berupaya melawan hukum objektif atau subjektif bergantung dari bunyi redaksi rumusan tindak pidana yang bersangkutan.

Unsur yang bersifat objektif adalah semua unsur yang berada diluar keadaan batin manusia/si pembuat, yakni semua unsur mengenai perbuatannya, akibat perbuatan dan keadaan-keadaan tertentu yang melekat (sekitar) pada perbuatan dan objek tindak pidana. Sementara itu,

(27)

15 unsur yang bersifat subjektif adalah semua unsur yang mengenai batin atau melekat pada keadaan batin orangnya.

Sungguhpun diketahui adanya unsur-unsur tindak pidana di atas, penentuan suatu perbuatan sebagai tindak pidana atau tidak sepenuhnya tergantung kepada perumusan didalam perundang-undangan, sebagai konsekuensi asas legalitas yang dianut oleh hukum pidana di Indonesia, bahwa tidak ada satu perbuatan dapat dihukum kecuali ditentukan didalam undang-undang. Menurut Loebby Loqman (Erdianto Effendi : 2011 : 99), terdapat tiga kemungkinan dalam perumusan tindak pidana: pertama, tindak pidana dirumuskan baik nama maupun unsur-unsurnya,

kedua adalah tindak pidana yang hanya dirumuskan unsurnya saja, dan

ketiga tindak pidana menyebutkan namanya saja tanpa menyebutkan

unsurnya. Bagi tindak pidana yang tidak menyebutkan unsur-unsurnya atau tidak menyebut namanya, maka nama serta unsur-unsurnya dapat diketahui melauli doktrin.

B. Pertanggungjawaban Pidana

1. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana

Pertanggungjawaban pidana dalam isitilah asing disebut dengan teorekenbaardheid atau criminal responsibility yang menjurus kepada

pemidanaan pelaku dengan maksud untuk menentukan apakah seorang terdakwa atau tersangka dipertanggungjawabkan atas suatu tindakan pidana yang terjadi atau tidak.

(28)

16 Untuk dapat dipidananya si pelaku, diharuskan tindak pidana yang dilakukannya itu memenuhi unsur-unsur delik yang telah ditentukan dalam undang-undang. Dilihat dari sudut terjadinya tindakan yang dilarang, seseorang akan dipertanggungjawabkan atas tindakan-tindakan tersebut, apabila tindakan tersebut melawan hukum serta tidak ada alasan pembenar atau peniadaan sifat melawan hukum untuk pidana yang dilakukannya. Dan dilihat dari sudut kemampun bertanggung jawab yang dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.

Ada beberapa pandangan dari para ahli mengenai pemahaman kemampuan bertanggungjawab, antara lain :

a. Menurut Pompe (Amir Ilyas, 2012 : 74), kemampuan

bertanggungjawab pidana harus mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :

1) Kemampuan berpikir (psychisch) pembuat (dader) yang

memungkinkan ia melakukan perbuatannya.

2) Oleh sebab itu, ia dapat menentukan akibat perbuatannya. 3) Sehingga ia dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan

pendapatnya.

b. Van Hamel (Amir Ilyas, 2012 : 74), berpendapat bahwa kemampuan bertanggungjawab adalah suatu keadaan normalitas psychis dan kematangan, yang mempunyai tiga macam

kemampuan :

(29)

17 2) Untuk menyadari perbuatannya sebagai suatu yang tidak

diperbolehkan oleh masyarakat.

3) Terhadap perbuatannya dapat menentukan kehendaknya.

c. Syarat-syarat orang dapat dipertanggungjawabkan menurut G.A. Van Hamel (Amir Ilyas, 2012 : 74), adalah sebagai berikut :

1) Jiwa orang harus sedemikian rupa sehingga dia mengerti atau menginsyafi nilai dari perbuatannya.

2) Orang harus menginsyafi bahwa perbuatannya menurut tata cara kemasyarakatan adalah dilarang.

3) Orang harus dapat menentukan kehendaknya terhadap perbuatannya.

Didalam pasal-pasal KUHP, unsur-unsur delik dan unsur

pertanggungjawaban pidana bercampur aduk dalam buku II dan III, sehingga dalam membedakannya dibutuhkan seorang ahli yang menentukan unsur keduanya. Menurut pembuat KUHP, syarat pemidanaan disamakan dengan delik, oleh karena itu dalam pemuatan unsur-unsur delik dalam penuntutan haruslah dapat dibuktikan juga dalam persidangan.

2. Unsur-Unsur Pertanggungjawaban Pidana

Dalam bukunya yang berjudul “Asas-Asas Hukum Pidana”, Amir Ilyas menjelaskan dan membagi unsur-unsur pertanggungjawaban pidana menjadi tiga unsur, yaitu Mampu Bertanggung Jawab, Kesalahan, serta Tidak Ada Alasan Pemaaf.

(30)

18 a. Mampu Bertanggung Jawab

Pertanggungjawaban (pidana) menjurus kepada pemidanaan petindak, jika telah melakukan suatu tindak pidana dan memenuhi unsur-unsurnya yang telah ditentukan dalam undang-undang. Dilihat dari sudut terjadinya suatu tindakan yang dilarang, (diharuskan), seseorang akan dipertanggungjawab-pidanakan atas tindakan-tindakan tersebut apabila tindakan tersebut bersifat melawan hukum (dan tidak ada peniadaan sifat melawan hukum atau rechtsvaardudigingsground atau

alasan pembenar) untuk itu. Dilihat dari sudut kemampuan

bertanggungjawab, maka hanya seseorang yang “mampu

bertanggungjawab yang dipertanggungjawabkan”. Dikatakan seseorang mampu bertanggungjawab (toerekeningsvatbaar), yang menurut

E.Y.Kanter dan S.R.Sianturi (Amir Ilyas, 2012 : 76) memiliki unsur mampu bertanggung jawab antara lain :

1) Keadaan jiwanya :

a) Tidak terganggu dengan penyakit yang terus-menerus atau sementara (temporary).

b) Tidak cacat dalam pertumbuhan (gagu, idiot, imbecile, dan

sebagainya).

c) Tidak terganggu karena terkejut, hypnotism, amarah yang

meluap, pengaruh bawah sadar/reflexe bewenging,

(31)

19 dan lain sebagainya. Dengan kata lain dia dalam keadaan sadar.

2) Kemampuan jiwanya :

a) Dapat menginsyafi hakekat dari tindakannya.

b) Dapat menentukan kehendakya atas tindakan tersebut, apakah dilaksanakan atau tidak.

c) Dapat mengetahui ketercelaan dari tindakan tersebut.

Lebih lanjut E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi (Amir Ilyas, 2012 : 76) menjelaskan bahwa : “Kemapuan bertanggungjawab didasarkan pada keadaan dan kemampuan “jiwa” (geestelijke vermorgens), dan bukan

kepada keadaan dan kemampuan “berfikir” (verstanddelijke

vermorgens), dari seseorang, walaupun dalam istilah yang resmi

digunakan dalam pasal 44 KUHP adalah verstanddelijke vermorgens

sengaja digunakan istilah :keadaan dan kemampuan seseorang”.

Pertanggungjawaban pidana tersebut sebagi “torekenbaarheid” dimaksudkan untuk menentukan apakah seseorang tersangka/terdakwa dipertanggungjawabkan atas suatu tindak pidana (crime) yang terjadi

atau tidak. Petindak disini adalah orang, bukan mahkluk lain untuk membunuh, mencuri, menghina, dan sebaginya, dapat dilakukan oleh siapa saja. Lain halnya jika tindakan merupakan menerima suap, menaraik kapal dari pemilik/pengusahanya dan memakainya untuk kepentingan sendiri.

(32)

20 b. Kesalahan

Dalam bukunya “Asas-Asas Hukum Pidana”, Amir Ilyas (2012 : 77), menjelskan bahwa kesalahan dianggap ada, apabila dengan sengaja atau karena kelalaian telah melakukan perbuatan yang menimbulkan keadaan atau akibat yang dilarang oleh hukum pidana dan dilakukan dengan mampu bertanggungjawab. Beliau membagi jenis-jenis kesalahan sebagai berikut :

1) Kesengajaan, terbagi menjadi tiga antara lain : a. Sengaja sebagai niat (oogmerk).

b. Sengaja sadar akan kepastian atau keharusan

(zekerheidsbewustzjin).

c. Sengaja sadar akan kemungkinan (dolus eventualis,

mogelijkeheidsbewustzjin).

2) Kealpaan, terbagi menjadi dua antara lain : a. Kelalaian Berat (Culpa Lata).

b. Kelalaian Ringan (Culpa Levis).

1) Kesengajaan (Dolus)

Kebanyakan tindak pidana mempunyai unsur kesengajaan atau opzet, bukan unsur culpa. Ini layak oleh karena biasanya, yang

pantas mendapatkan hukuman pidana itu adalah orang yang melakukan sesuatu dengan sengaja. Kesengajaan ini harus mengenai ketiga unsur pidana, yaitu ke-1 : perbuatan yang dilarang, ke-2 : akibat yang menjadi pokok alasan diadakan

(33)

21 larangan itu, ke-3 : perbuatan itu melanggar hukum. Kesengajaan yang dapat dibagi menjadi 3 bagian, yakni :

a) Sengaja Sebagai Niat (oogmerk)

Kesengajaan sebagai niat atau maksud adalah terwujudnya delik yang merupakan tujuan dari pelaku.

b) Sengaja Sadar akan Kepastian atau Keharusan (zekerheidsbewustzjin)

Kesengajaan sadar akan kepastian merupakan terwujudnya delik bukan merupakan tujuan dari pelaku, melainkan merupakan syarat mutlak sebelum/pada saat/sesudah tujuan pelaku tercapai. (ada delik/tindak pidana yang pasti terjadi sebelum/pada saat/sesudah tujaan pelaku tercapai).

c) Sengaja Sadar Akan Kemungkinan (dolus eventualis, mogelijkeheidsbewustzjin)

Kesengajaan sebagai sadar merupakan terwujudnya delik bukan merupakan tujuan dari pelaku, melainkan merupakan syarat yang mungkin timbul sebelum/pada saat/sesudah tujuan pelaku tercapai.

2) Kelalaian (Alpa/cupla)

Kelalaian merupakan salah satu bentuk kesalahan yang timbul karena pelakunya tidak memenuhi standar perilaku yang telah ditentukan menurut undang-undang, kelalaian itu terjadi karena perilaku orang itu sendiri.

(34)

22 Dalam bukunya “Asas-Asas Hukum Pidana” Amir Ilyas (2012 : 85) lebih condong menggunakan frase Culpa Lata dan Culpa Levis, dimana

Culpa Lata adalah kesengajaan ringan. Beliau menjelaskan perbedaan

antara Culpa Lata dengan Kesengajaan Sadar akan Kemungkinan yang

tampaknya tidak memilik perbedaan yang begitu jelas.

Kesengajaan sadar akan kemungkian merupakan terjadinya delik/tindak pidana harusnya disadari tentang kemungkinannya dan tanpa memperhitungkan persentase kemungkinan beserta upaya

pencegahannya. Sedangkan Culpa Lata merupakan terjadinya

delik/tindak pidana harus disadari tentang kemungkinannya namun yang

menbedakan dalam Culpa Lata, pelaku sebelumnya telah

memperhitungkan kemungkinan beserta upaya pencegahannya namun terjadi diluar kendali/perhitungan si pelaku.

c. Tidak Ada Alasan Pemaaf

Hubungan petindak dengan tindakannya ditentukan oleh

kemampuan bertanggungjawab dari petindak. Ia menginsyafi hakekat dari tindakan yang akan dilakukannya, dapat mengetahui ketercelaan dari tindakan dan dapat menentukan apakah akan dilakukannya tindakan tersebut atau tidak. Jika ia menentukan (akan) melaksanakan tindakan itu, maka bentuk hubungan itu adalah “sengaja” atau “alpa”. Dan untuk penentuan tersebut, bukan akibat atau dorongan dari sesuatu, yang jika demikian penentuan itu berada diluar kehendaknya sama sekali.

(35)

23 Menurut Ruslan Saleh (Amir Ilyas, 2012 : 87) mengatakan bahwa :

“Tiada terdapat “alasan pemaaf”, yaitu kemampuan

bertanggungjawab, bentuk kehendak dengan sengaja atau tiada terdapat alasan pemaaf, adalah termasuk pengertian kesalahan (schuld).”

Sedangkan Pompe (Amir Ilyas, 2012 : 87) mengatakan bahwa : “hubungan petindak dengan tindakannya ditinjau dari sudut “kehendak”, kesalahan petindak adalah merupakan bagian dalam dari kehendak tersebut. Asas yang timbul daripdanya ialah “Tiada Pidana, Tanpa Kesalahan”.

C. Pemalsuan Surat

4. Pengertian Pemalsuan Surat d. Pemalsuan

Perbuatan pemalsuan merupakan suatu jenis pelanggaran terhadap kebenaran dan kepercayaan, dengan tujuan memperoleh keuntungan bagi diri sendiri atau orang lain. Suatu pergaulan hidup yang teratur dalam masyarakat yang maju dan teratur tidak dapat berlangsung lama tanpa adanya jaminan kebenaran atas beberapa bukti surat dan dokumen-dokumen lainnya. Karenanya perbuatan pemalsuan merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup dari masyarakat tersebut.

Manusia telah diciptakan untuk hidup bermasyarakat, dalam suasana hidup bermasyarakat itulah ada perasaan saling ketergantungan satu sama lain. Didalamnya terdapat tuntutan kebiasaan, aspirasi, norma, nilai kebutuhan dan sebagainya. Kesemuanya ini dapat berjalan sebagaimana mestinya jika ada keseimbangan pemahaman kondisi sosial tiap pribadi. Tetapi keseimbangan tersebut dapat goyah bilamana dalam masyarakat tersebut terdapat ancaman yang salah satuya berupa tindak kejahatan pemalsuan.

(36)

24 Menurut Adam Chazawi (2001 : 3) mengemukakan bahwa :

Pemalsuan adalah berupa kejahatan yang didalamnya

mengandung unsur keadaan ketidakbenaran atau palsu atas sesuatu (objek), yang sesuatunya itu tampak dari luar seolah-olah benar adanya padahal sesungguhnya bertentangan dengan yang sebenarnya.

Menurut Topo Santoso (2001 : 77) mengemukakan bahwa :

Suatu perbuatan pemalsuan dapat dihukum apabila terjadi perkosaan terhadap jaminan atau kepercayaan dalam hal mana :

1. Pelaku mempunyai niat atau maksud untuk mempergunakan sesuatu barang yang tidak benar dengan menggambarkan keadaan barang yang tidak benar itu seolah-olah benar atau mempergunakan sesuatu barang yang tidak asli seolah-olah asli, hingga orang lain percaya bahwa barang tersebut adalah benar dan asli dan karenanya orang lain terperdaya.

2. Unsur niat atau maksud tidak perlu mengikuti unsur menguntungkan diri sendiri atau orang lain (sebaliknya dari berbagai jenis perbuatan penipuan).

3. Tetapi perbuatan tersebut harus menimbulkan suatu bahaya umum yang khusus dalam pemalsuan tulisan atau surat dan sebagainya

dirumuskan dengan mensyaratkan “kemungkinan kerugian”

dihubungkan dengan sifat daripada tulisan atau surat tersebut.

(37)

25 e. Surat

Surat adalah segala macam tulisan, baik yang ditulis dengan tangan, maupun diketik atau dicetak dengan menggunakan arti (makna). Meskipun KUHP tidak memberikan definisi secara jells tentang apa yang dimaksud dengan surat, tetapi dengan memperhatikan rumusan Pasal 263 (1) KUHP, mka dapatlah diketahui pengertian surat.

Adapun rumusan Pasal 263 (1) KUHP menurut R. Soesilo (1995 : 195) sebagai berikut :

“Barang membuat surat palsu atau memalsukan surat, yang dapat menerbitkan suatu hak, suatu perjanjian (kewajiban) atau sesuatu pembebasan utang, atau yang boleh dipergunakan sebagai keterangan bagi sesuatu perbuatan, dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan surat-surat itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, maka kalau mempergunakannya dapat mendatangkan suatu kerugian dihukum karena pemalsuan surat, dengan hukuman penjara selama-lamanya enam tahun”.

Berdasarkan pasal tersebut diatas, maka yang dimaksudkan dengan surat adalah sebagai berikut :

1. Yang dapat menerbitkan suatu hak (misalnya : ijazah, karis tanda masuk, surat andil, dll).

2. Yang dapat menerbitkan suatu perjanjian (misalnya : surat perjanjian piutang, perjanjian sewa, perjanjian jual beli)

(38)

26 3. Yang dapat menerbitkan suatu pembebasan utang (misalnya :

kwitansi atau surat semacam itu)

4. Yang apat dipergunakan sebagai keterangan bagi buku tabungan pos, buku kas, buku harian kapal, surat angkutan, obligasi, dll)

Dalam KUHP tersebut tidak dijelaskan apakah surat itu tertulis diatas kertas, kain atau batu, yang dijelaskan hanyalah macam tulisannya yaitu surat tersebut ditulis dengan tangan atau dicetak menggunkan mesin cetak. Tetapi dengan menyimak dari contoh-contoh yang dikemukakan oleh R. Soesilo (1995 : 195) didalam KUHP, seperti : Surat semacam itu, akte kelahiran, buku tabungan pos, buku kas, buku harian kapal, surat angkutan, obligasi. Dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan surat dalam KUHPidana adalah tulisann yang tertulis diatas kertas dan mempunyai tujuan yang dapat menimbulkan dan menghilangkan hak.

Menurut Lamintang (2009 : 9), mengemukakan bahwa :

Surat adalah sehelai kertas atau yang lebih digunakan untuk mengadakan komunikasi secara tertulis. Adapun isi surat dapat berupa : pernyataan, keterangan, pemberitahuan, laporan, permintaan, sanggahan, tuntutan, gugatan dan lain sebagainya.

f. Pemalsuan Surat

Pemalsuan dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang mempunyai tujuan untuk meniru, menciptakan suatu benda yang sifatnya tidak asli lagi atau membuat suatu benda kehilangan keabsahannya. Sama halnya dengan membuat surat palsu, pemalsuan surat dapat terjadi terhadap sebagian atau seluruh isi surat, juga pada tanda tangan pada si pembuat surat. Misalnya, pembuat yang bertanda

(39)

27 tangan dalam surat yang bernama Parikun, diubah tanda tangannya menjadi tanda tangan orang yang bernama Panirun.

Menurut Soenarto Serodibro (1994 : 154), mengemukakan bahwa, barang siapa dibawah suatu tulisan membubuhkan tanda tangan orang lain sekalipun atas perintah dan persetujuan orang tersebut telah memalsukan tulisan itu.

Perbedaan prinsip antara perbuatan membuat surat palsu dan memalsukan surat, adalah bahwa membuat surat/membuat palsu surat, sebelum perbuatan dilakukan, belum ada surat, kemudian dibuat suatu surat yang isinya sebagian atau seluruhnya adalah bertentangan dengan kebenaran atau palsu. Seluruh tulisan dalam surat itu dihasilkan oleh perbuatan membuat surat palsu. Surat yang demikian disebut dengan surat palsu atau surat tidak asli.

5. Unsur-Unsur Pemalsuan Surat

Rumusan pasal tentang pemalsuan surat yang diatur dalam Pasal 263 KUHP, sebagai berikut :

1) Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat, yang dapat menerbitkan suatu hak, sesuatu perjanjian (kewajiban) atau sesuatu pembebasan utang, atau yang boleh dipergunakan sebagai keterangan bagi sesuatu perbuatan, dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan surat itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, maka kalau mempergunakannya itu dapat mendatangkan sesuatu

(40)

28 kerugian dihukum karena pemalsuan surat, dengan hukuman penjara selama-lamanya enam tahun.

2) Dengan hukuman serupa itu juga dihukum, barangsiapa dengan sengaja menggunakan surat palsu atau yang dipalsukan itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, kalau hal mempergunakannya dapat mendatangkan sesuatu kerugian. Berdasarkan rumusan Pasal 263 ayat (1) KUHP terdapat unsur-unsur :

a. Membuat surat palsu.

b. Surat itu dapat menimbulkan suatu hak, sesuatu perikatan, pembebasan hutang, dan dapat digunakan sebagai bukti untuk sesuatu hal.

c. Maksud perbuatan itu dlakukan adalah untuk menggunakan atau menyuruh menggunakan surat-surat itu seolah-olah asli dan tidak dipalsukan.

d. Penggunaan surat itu dapat menimbulkan kerugian.

Menurut Zainal Abidin Farid (1995 : 141) mengemukakan bahwa : Membuat surat palsu ialah sesuatu surat baik keseluruhannya

maupun hanya isinya atau tanda tangannya yang

menggambarkan dengan palsu seolah-olah datangnya dari orang lain yang namanya tersebut dibagian bawah saat itu.

Membuat surat palsu berarti surat itu pada mulanya tidak ada kemudian ada dan si pelaku membuat isinya tidak benar atau mungkin tanda tangannya tidak benar.

(41)

29 Membuat surat palsu (valschelijk opmaker) menurut Wirjono Prodjodikoro (2003 : 188), terjadi misalnya :

a. Si A membuat surat seolah-olah berasal dari si B dan mendandatanganinya dengan meniru tanda tangan si B.

b. Si A membuat surat dan menandatanganinya sendiri tetapi isinya tidak benar (Intelellectuaele Valsheld).

c. Si A mengisi kertas kosong, yang sudah ada tanda tangan si B dengan tulisan yang tidak benar.

Contoh diatas menerangkan jenis pemalsuannya yang dapat dibedakan atas :

a. Surat yang dibuat oleh pelaku yang isinya seolah-olah berasal dari orang lain.

b. Surat yang dibuat dan diakui oleh pelaku tetapi isinya tidak benar.

c. Surat itu dibuat orang lain (bukan palsu) tetapi isinya tidak benar.

Perbuatan yang kedua yang dilarang menurut Pasal 263 (1) KUHP adalah memalsukan surat, dengan cara mengubah surat itu tanpa hak (tanpa izin yang berhak) dalam suatu surat atau tulisan. Perubahan ini dapat dilakukan baik dengan mengurangi maupun dengan menambah tuisan-tulisan surat tersebut. Perubahan isi yang tidak benar menjadi benar juga termasuk pemalsuan surat.

(42)

30 Pendapat Zainal Abidin Farid (1987 : 142) memalsukan surat ialah mengubah surat itu, baik tanda tangannya maupun isinya, misalnya mengubahnya, menggaris, menghapus, menambah, mengurangi dan lain-lain.

Adapun maksud dari pemalsuan surat itu ialah untuk dipakai sendiri oleh si pemalsu atau menyuruh orang lain memakainya seolah-olah isinya benar atau tidak dipalsukan.

Unsur yang terakhir dari Pasal 263 (1) KUHP adalah dapat menimbulkan kerugian. Jadi dengan unsur ini maka tidak semua pemalsuan surat dapat dituntut menurut Pasal 263 (1) KUHP. Bila pemalsuan surat itu tidak menimbulkan kerugian maka pelakunya tidak dapat dipidanakan, kerugian yang dimaksud tidak saja dibatasi pada kerugian materil tetapi juga inmateril.

Dari rumusan Pasal 263 (2) KUHP terdapat unsur-unsur :

a. Memakai surat palsu atau surat yang dipalsukan, seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan.

b. Apabila surat itu dapat menimbulkan kerugian. c. Perbuatan itu dilakukan dengan sengaja.

Perbuatan yang dilarang adalah pemkaian atau penggunaan surat palsu atau surat yang dipalsukan. Dalam hal pembuatan surat palsu atau memalsukan surat tidak termasuk kejahatan menurut Pasal 263 (2) KUHP. Orang yang dapat dituntut menurut Pasal 263 (2) adalah yang menggunakan surat yang telah dipalsukan.

(43)

31 6. Jenis-Jenis Pemalsuan Surat

Jenis-jenis pemalsuan surat yang termasuk dibeberapa Pasal dalam KUHP, sebagai berikut :

a) Pemalsuan surat dalam bentuk pokok

Pemalsuan surat dalam bentuk pokok diatur dalam Pasal 263 KUHP, secara umum pemalsuan surat yang dimaksud pada pasal tersebut adalah pembuatan surat yang palsu/memalsukan surat yang penggunaan surat palsu atau yang telah dipalsukan.

Surat yang dimaksud ialah :

1) Yang dapat menerbitkan suatu hak (misalnya ijazah, karcis tanda masuk, surat andil, dll)

2) Yang dapat menerbitkan suatu perjanjian (misalnya surat perjanjian piutang, perjanjian sewa, perjanjian jual-beli)

3) Yang dapat menerbitkan suatu pembebasan utang (misalnya kwitansi atau surat semacam itu)

4) Yang dapat dipergunakan sebagai keterangan bagi sesuatu perbuatan atau peristiwa (misalnya akte lahir, buku tabungan pos, buku kas, buku harian kapal, surat angkutan, obligasi, dll) b) Pemalsuan surat khusus

Pemalsuan surat khusus diatur pada Pasal 264 KUHP, orang dapat dihukum menurut pasal tersebut ialah orang yang membuat surat palsu atau yang memalsukan, berikut rumusan R. Soesilo (1995 : 195) dalam KUHP, sebagai berikut :

(44)

32 1) Mengenai surat otentik.

2) Mengenai surat utang atau surat tanda utang (certificaat) 3) Mengenai saham-saham (aandeel) atau surat utang atau

perserikatan, balai, perseroan, atau maskapai).

4) Mengenai talon atau surat tanda untung sero (dividend) atau tanda bunga uang dari satu surat yang diterangkan pada huruf (b) dan (c) atau tentang surat keterangan yang dikeluarkan akan pengganti surat itu.

5) Mengenai surat utang-piutang atau surat perniagaan.

Perbuatan yang diancam hukuman pada Pasal ini harus memuat segala unsur-unsur yang termuat dalam Pasal 263 ditambah dengan syarat bahwa surat yang dipalsukan itu terdiri dari surat autentik, dsb. Diancam hukuman pada pasal ini lebih berat dari pemalsuan surat biasa.

c) Pemalsuan akte autentik (dengan isi keterangan palsu)

Pemalsuan akte autentik dengan isi keterangan palsu diatur dalam Pasal 266 KUHP. Akte autentik palsu adalah akte utentik yang isinya tidak berdasarkan kebenaran atau bertentangan dengan kebenaran (Moch. Anwar, 1996, 198).

Akte autentik terdiri dari : 1) Akte notaris

2) Akte yang dibuat oleh pegawai catatan sipil seperti akte kelahiran dan akte kematian.

3) Berita acara dari Polisi,Kejaksaan, dan Pengadilan.

Yang dihukum berdasarkan Pasal 266 KUHP adalah orang yang memberikan keterangan tidak benar kepada pegawai yang berwenang untuk membuat akte atau surat-surat resmi tertentu.

(45)

33 Kemudian, orang yang dengan sengaja menggunakan surat (akte) yang memuat keterangan tidak benar.

d) Pemalsuan surat keterangan dokter

Pemalsuan surat keterangan dokter diatur dalam pasal 268 KUHP. Perbuatan seseorang tabib/dokter yang dilarang menurut pasal tersebut adalah membuat keterangan palsu.

Selanjutya menurut Moch. Anwar (1986 : 201), membuat atau menyusun keterangan palsu secara tertulis dan selanjutnya menyerahkan kepada seseorang untuk diserahkan kepada orang yang diperuntukkan atau orang yang telah memintanya.

Seorang tabib/dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan (bukan keterangan lisan) palsu tentang ada atau tidak

adanya suatu penyakit, kelemahan atau cacat. Ancaman

hukumannya akan ditambah apabila surat keterangan yang palsu itu digunakan guna memalsukan atau menahan orang dalam rumah sakit gila.

e) Pemalsuan surat keterangan kelakuan baik

Pemalsuan surat keterangan kelakuan baik diatur dalam Pasal 269 KUHP, R. Soesilo (1995 : 199) menjabarkan orang-orang yang dikenakan pasal ini sebagai berikut :

1) Orang yang membuat surat palsu atau memalsukan surat keterangan tentang kelakuan baik, kecakapan, kemiskinan, cacat atau keadaan lain, dengan maksud akan menggunakan

(46)

34 atau menyuruh menggunakan surat itu supaya dapat masuk pekerjaan, menerbitkan kemurahan hati atau perasaan suka memberi pertolongan.

2) Orang yang menggunakan surat semacam itu sedang ia tahu akan kepalsuannya.

f) Pemalsuan surat pas jalan

Pemalsuan surat pas jalan diatur dalam Pasal 270 KUHP, yang menjadi objek pemalsuan dalam pasal tersebut adalah : surat pas jalan, surat pengganti pas jalan, surat keselamatan (jaminan atas kamanan diri), surat perintah jalan. Surat-surat lain yang diberikan menurut peraturan perundang-undangan izin masuk ke Indonesia tersebut dalam L.N. 1949 No. 331, misalnya : surat izin masuk, paspor, surat izin mendarat, surat izin berdiam.

g) Pemalsuan surat pengantar kerbau atau sapi

Pemalsuan surat pengantar kerbau atau sapi diatur pada Pasal 271 KUHP, Penjelasan R. Soesilo (1995 : 201) dalam KUHP mengenai masalah tersebut adalah :

1) Menurut L.N. terakhir tahun 1902 No. 449, maka pembawaan kerbau dan sapi dari satu kawedanan kelain kawedanan harus disertai surat pengantar yang dikeluarkan oleh Wadena atau pegawai yang ditunjuk untuk itu.

(47)

35 2) Pegawai yang membuat palsu keterangan (surat pengantar) itu dan orang yang dengan sengaja memakai surat pengantar yang dipalsukan itu dapat dikenakan pasal ini.

h) Pemalsuan surat keterangan pegawai negeri

Pemalsuan surat keterangan pegawai negeri diatur dalam Pasal 274 KUHP. Penjelasan R. Soesilo (1995 : 201) dalam KUHP mengenai masalah tersebut adalah :

1) Surat keterangan yang dibuat palsu atau yang dipalsukan dalam pasal ini ialah terdiri dari, surat keterangan yang dalam prakteknya banyak diberikan oleh para pegawai pamongpraja, termasuk para pamongdesa, kepada penduduk yag akan membawa keluar atau menjual barang-barangnya, untuk menyatakan bahwa barang-barang itu betul milik orang tersebut.

2) Pemalsuan surat semacam itu tidak berdasar atas suatu perundang-undangan, akan tetapi oleh masyarakat Inonesia dipandang perlu, guna menghindarkan penahanan barang-barang oleh polisi karena disangka berasal dari kejahatan (pencurian).

3) Pemalsuan surat semacam itu biasanya dilakukan dalam praktek untuk memudahkan penjulan barang-barang yang asalnya gelap atau dari kejahatan.

(48)

36 Menyediakan bahan-bahan yang digunakan untuk mlakukan salah satu kejahatanbdiatur dalam Pasal 275 KUHP. Penjelasan R. Soesilo (1995 : 201) dalam KUHP mengenai masalah tersebut adalah :

1) Kejahatan yang dimaksud adalah semua yang tertera dalam Pasal 264 nomor (2) sampai (5).

2) Menyimpan untuk dapat digunakan oleh sipenyimpan masuk dalam pengertian menyediakan.

D. Tindak Pidana Pemalsuan Surat dalam KUHP

Pemalsuan surat diatur dalam Bab XII buku II KUHP, dari Pasal 263 KUHP sampai dengan Pasal 276 KUHP, yang dapat dibedakan menjadi tujuh macam kejahatan pemalsuan surat (Adami Chasawi, 2001 : 97), yaitu :

1. Pemalsuan surat pada umumnya : bentuk pokok pemalsuan surat (Pasal 263 KUHP)

2. Pemalsuan surat yang diperberat (Pasal 264 KUHP)

3. Menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam akte autentik (Pasal 266 KUHP).

4. Pemlasuan surat keterangan dokter (Pasal 267 dan Pasal 268 KUHP)

5. Pemalsuan surat-surat tertentu (Pasal 269, 270, 271 KUHP)

6. Pemalsuan surat keterangan Pejabat tentang hak milik (Pasal 274 KUHP)

(49)

37 7. Menyimpan bahan atau benda untuk pemalsuan surat (Pasal 275

KUHP)

Kejahatan pemalsuan surat pada umumnya, menurut Adami

Chazawi, (2001 : 99) surat adalah :

“suatu lembaran kertas yang diatasnya terdapat tulisan yang terdiri dari kalimat dan huruf termasuk angka yang dapat mengandung atau berisi buah pikiran atau makna tertentu, yang dapat berupa tulisan dengan tangan, dengan mesin ketik, printer komputer, dengan mesin cetakan dan dengan alat dan cara apapun”

Kejahatan pemalsuan surat pada umumnya adalah pemalsuan dalam bentuk pokok yang dimuat dalam Pasal 263 KUHP, yang rumusan pasalnya adalah sebagai berikut :

1. Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat, yang dapat menerbitkan suatu hak, sesuatu perjanjian (kewajiban) atau sesuatu pembebasan utang, atau yang boleh dipergunakan sebagai keterangan bagi sesuatu perbuatan, dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan surat itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, maka kalau mempergunakannya itu dapat mendatangkan sesuatu kerugian dihukum karena pemalsuan surat, dengan hukuman penjara selama-lamanya enam tahun.

2. Dengan hukuman serupa itu juga dihukum, barangsiapa dengan sengaja menggunakan surat palsu atau yang dipalsukan itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, kalau hal mempergunakannya dapat mendatangkan sesuatu kerugian.

(50)

38 Kejahatan pemlasuan yang dimaksud dalam ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 263 ayat 1 KUHP terdiri dari unsur sebagai berikut :

a. Unsur Objektif 1. Barang siapa

2. Membuat surat palsu atau memalsukan

3. Surat yang menimbulkan hak, suatu perikatan, atau suatu pembebasan utang, atau

4. Suatu surat yang dimaksudkan untuk membuktikan suatu kenyataan

5. Penggunannya dapat menimbulkan suatu kerugian.

b. Unsur Subjektif : dengan maksud menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsukan.

Sedangkan ayat 2 mempunyai unsur sebagai berikut : a. Unsur Subjektif : dengan sengaja

b. Unsur Objektif 1. Surat palsu

2. Surat yang dipalsukan

c. Pemakai surat tersebut dapat menimbulkan kerugian.

Menurut Adami Chazawi (2001 : 99) membuat surat yang seluruh atau sebagian isinya palsu. Palsu artinya tidak benar atau bertentangan dengan yang sebenarnya.

(51)

39 Selanjutnya menurut Adami Chazawi (2001 : 100) perbuatan memalsu surat adalah :

“perbuatan mengubah dengan cara bagaimanapun oeh orang yang tidak berhak atas sebuah surat yang berakibat sebagian atau seluruh isinya menjadi lain/berbeda dengan isi surat semula. Tidak penting apakah dengan perubahan itu lalu isinya menjadi benar ataukah tidak, ataukah bertentangan dengan kebenaran ataukah tidak, bila perbuatan mengubah itu dilakukan oleh orang yang tidak berhak, pemalsuan surat telah terjadi”.

Disamping isi dan alasannya sebuah surat disebut palsu, apabila tanda tangan yang tidak benar. Hal ini dapat terjadi dalam hal misalnya:

1. Membuat dan meniru tanda tangan seseorang yang tidak ada orangnya, seperti orang yang telah meninggal dunia atau dikarang-karang.

2. Membuat dengan meniru tanda tangan orang lain baik dengan persetujuan atau tidak.

Tanda tangan dimaksud disini termasuk tanda tangan dengan

menggunakan cap/stempel tanda tangan. Menurut Soenrto

Soerodibroto (1994 : 154) menyatakan bahwa disamakan dengan menandatangani suatu surat ialah membubuhkan stempel tanda tangannya.

Sama halnya dengn membuat surat palsu, pemalsua surat dapat terjadi terhadap sebagian atau seluruh isi surat, juga pada tanda tangan si pembuat surat. Misalnya, pembuat dan yang bertanda

(52)

40 tangan bernama Laode, diubah tanda tangannya menjadi tanda tangan orang lain yang bernama Laode.

Dalam hal ini, Soenarto Soedibroto (1994 : 154) menyatakan bahwa :

“barang siapa dibawah suatu tulisan membubuhkan tanda tangan orang lain sekalipun atas perintah dan persetujuan orang tersebut telah memalsukan tulisan itu”.

Selanjutnya menurut Adami Chazawi (2001 : 101), pembedaan prinsip antara perbuatan membuat surat palsu dan memalsu surat adalah :

1. Bahwa membuat surat palsu/membuat palsu surat, sebelum perbuatan dilakukan, sebelum ada surat, kemudian dibuat suatu surat yang isinya sebagian atau seluruhnya adalah bertentangan dengan kebenaran atau palsu. Seluruh tulisan dalam surat itu dihasilkan oleh perbuatan membuat surat palsu. Surat yang demikian disebut dengan surat palsu atau surat tidak asli.

2. Sedangkan dengan perbuatan memalsu surat, sebelum perbuatan ini dilakukan, sudah ada sebelum surat disebut surat asli. Kemudian pada surat asli ini terhadap isinya termasuk tanda tangan dan nama si pembuat asli dilakukan perbuatan memalsu yang akibatnya surat yang semula benar menjadi surat yang sebahagian atau seluruh isinya tidak benar

(53)

41 dan bertentangan dengan kebenaran. Surat yang demikian disebut dengan surat yang dipalsu.

E. Pidana dan Pemidanaan

1. Pengertian Pidana dan Pemidanaan

Sebelum membahas tentang pidana dan pemidanaan, kita harus menjelaskan terlebih dahulu apa arti dari yang akan kita bahas tersebut. Menurut Prof. van Hamel (Lamintang : 2010 : 33), arti pidana menurut hukum positif dewasa ini adalah : “suatu penderitaan yang bersifat khusus, yang telah dijatuhkan oleh kekuasaan yang berwenang untuk menjatuhkan pidana atas nama Negara sebagai penanggung jawab dari ketertiban hukum bagi seorang pelanggar, yakni semata-mata karena orang tersebut telah melanggar suatu peraturan hukum yang harus ditegakkan oleh Negara”

Dari rumusan mengenai pidana diatas, dapat diketahui bahwa pidana sebenarnya hanya merupakan suatu penderitaan atau suatu alat belaka. Ini berarti pidana bukan merupakan suatu tujuan dan tidak mungkin mempunyai tujuan. Banyak penulis yang secara harfiah telah menerjemahkan perkataan doel der straf dengan perkataan tujuan dari

pidana, padahal yang dimaksud dengan doel der straf itu sebenarnya

tujuan dari pemidanaan.

Kalau dikaitkan dengan hukum pidana itu sendiri, maka pidana merupakan urat nadinya hukum pidana. Kalau tindak pidana adalah tentang perbuatan apasaja yang dilarang, dibolehkan dan dilaksanakan

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan yang hendak dicapai oleh penulis adalah untuk menganalisis kesesuaian antara pertimbangan hukum menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas majelis hakim berkesimpulan bahwa terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan

Pertimbangan hukum dalam surat dakwaan dalam Putusan Nomor : 1078/Pid.B/2018/PN Mdn adalah bahwa Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak

Menyatakan terdakwa I Rinaldy Sinaga dan terdakwa II Doni Yoga Simangunsong telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah m elakukan tindak

e. Terdakwa mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana.. 7 Walaupun terpidana telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak

Atas dasar itu, hakim menyatakan terdakwa BAP tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan alternatif Pertama Pasal 289 KUHP,

Amar putusan hakim yakni, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “melakukan tipu muslihat membujuk anak untuk membiarkan dilakukan perbuatan cabul”

Berdasarkan analisa maka dalam putusan nomor: 305/Pid.Sus/ 2017/PN Sky Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan suatu tindak pidana sebagaimana diatur dan