TUGAS TERSTRUKTUR
IKLAN
(Pengaruh Iklan Terhadap Gaya Hidup dan Pengaruh Gaya
Hidup Terhadap Iklan)
Oleh
:Iqbal Nur Ardi : F1A011043 Canggih Setyawan : F1A013020 Awaludin : F1A013071
Disusun untuk tugas mata kuliah
Sosiologi Komunikasi
KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI
DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latarbelakang
Iklan adalah bentuk komunikasi untuk mempengaruhi seseorang atau golongan tertentu bahkan masyarakat umum untuk berpikir atau bertindak sesuai dengan keinginan pembuat iklan. Pada umumnya, iklan dapat diartikan sebagai pemberitahuan kepada masyarakat luas mengenai barang atau jasa yang dijual dan dipasang di media massa seperti koran, majalah, atau media elektronik seperti radio dan televisi ataupun media yang berkembang sangat pesat untuk saat ini, Internet. Di dunia maya, iklan dapat berbentuk tulisan, gambar, foto maupun video. Perkembangan teknologi saat ini semakin mempercepat dan mempermudah masyarakat dalam mengakses sebuah iklan.
Iklan pada kenyataanya sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat. Keputusan konsumen dapat dikonstruksi oleh iklan. Karena memang kekuatan media sangat besar dan tidak bisa terbendung, sehingga bisa dikatakan iklan dapat membentuk sebuah gaya hidup masyarakat. Ditengah masyarakat yang semakin maju saat ini, iklan memang tidak dianggap dan tidak dimanfaatkan semata sebagai media informasi dan promosi, namun juga sebagai pembentuk kesadaran masyarakat. Iklan dapat membentuk gaya hidup seseorang.
Dampak pesan dalam iklan dimana dapat membentuk gaya hidup seseorang lebih konsumtif. Sebab dalam iklan sediri berbagai metode penyampaian pesan dalam iklan berbagai strategi dengan tujuan mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya. Ada beberapa iklan yang lebih menekankan rasional ada pula iklan yang lebih menekankan emosional hal ini semata-mata sebagai bentuk strategi perusahaan untuk mendapatkan pesan iklan yang menarik1. Iklan yang diwacanakan terhadap
konsumen menjadi berbeda-beda sebagai upaya pembangunan opini publik bahwa produk yang ditampilkan sebuah perusahaan terkesan sangat menarik.
Dengan kata lain melihat mengenai tren yang saat ini telah menjadi gaya hidup. Gaya hidup merupakan pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri
1 Fauzan Samaran Siregar. Dampak Periklanan Terhadap Hasrat Konsumen.
seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya dengan patokan yang ada dikalangan yang bisa diterima dan menjadi buah bibir disekitar yang salah satunya melalui iklan. Iklan adalah sebuah produk budaya yang sekaligus berperan dalam membentuk budaya dimasyarakat. Oleh karena itu, iklan juga dapat mempengaruhi cara masyarakat yang tidak hanya sebagai kebutuhan namun sebagai gaya hidup.
Berbagai bentuk iklan dalam pemasaran suatu produk menjadi menarik untuk dibahas lebih mendalam dalam ilmu sosial. Terlebih dengan berkembangnya teknologi bentuk pemasaran-pun lebih menarik dan mudah untuk dicerna oleh konsumen. Dapat kita lihat bersama dalam iklan pemasaran berbagai macam smartphone, contohnya Blackberry. Blackberry yang merupakan salah satu smartphone terkenal di Indonesia, selalu mengikuti perkembangan tren handphone dan gaya hidup konsumennya. Aplikasi blackberry messenger (BBM) yang dimiliki Blackberry menambah kesan bahwa Blackberry adalah merek handphone yang cukup terkenal dan diminati oleh masyarakat.2 Seperti yang tertera pada data
perkembangan handphone 641 di tahun 2012, yang menyatakan bahwa Blackberry mampu menggeser posisi leader di pasar handphone yaitu Nokia sebagai handphone paling laris yaitu sebesar 33,4 persen, dan mendapat posisi kedua setelah samsung sebagai handphone paling dicari yaitu sebesar 18 persen.3
Secara singkat dalam penulisan ini mengetahui bahwa penggunanaan Blackberry dirasa sudah tidak lagi menjadi kebutuhan dalam berkomunikasi melainkan menjadi tren gaya hidup. Melihat hal ini sepertinya menarik ketika fenomena iklan menjadi gaya hidup untuk dibahas lebih lanjut.
B. Rumusan Masalahan
1. Apakah iklan yang mempengaruhi gaya hidup ? 2. Apakah gaya hidup yang mempengaruhi iklan ?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengaruh iklan terhadap gaya hidup. 2. Mengetahui pengaruh gaya hidup terhadap iklan.
2 Nur A Ashari.2012. Pengaruh Promosi Penjualan Pakaian Wanita di Group
Blackberry Messenger terhadap Minat Beli Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin. Skripsi. Universitas Hasanuddin.
3 Hikmatul Farikoh. 2011. Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Psikologi terhadap
BAB II PEMBAHASAN
A. Iklan
Menurut Rachmadi iklan adalah pesan atau penawaran suatu produk atau jasa yang ditujukan kepada khalayak lewat media. Pemasang iklan menggunakan pesan itu untuk mendapatkan keuntungan yaitu dengan mempersuasikan calon konsumen sedemikian rupa sehingga calon konsumen akan melakukan apa yang diharapkan pemasang iklan, atau membeli produk atau jasa sesuai yang ditawarkan.4 Menurut
Kotler, periklanan adalah komunikasi non-individu, dengan sejumlah biaya melalui berbagai media yang dilakukan oleh perusahaan, lembaga nonlaba serta individu-individu. Maksud diadakan periklanan adalah untuk merangsang tanggapan dari pembeli potensial terhadap perusahaan terutama pada produk yang sedang perusahaan tawarkan. Bagi sebagian besar perusahaan, iklan masih dianggap sebagai suatu pilihan yang menarik untuk berkomunikasi dengan pasar sasaran karena biaya yang relatif rendah perpemasangannya, keragaman media, isi pesan yang konsisten,
dan kesempatan untk mendesain pesan yang kreatif. Iklan yang ditayangkan selain harus mampu membuat orang kenal, ingat dan percaya pada produk yang ditawarkan, harus mampu meningkatkan penjualan.5
Iklan menurut KBBI adalah berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan; pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang di dalam media massa (seperti surat kabar dan majalah) atau di tempat umum. Iklan menjadi pilihan untuk mengenalkan produk baik barang atau jasa yang dihasilkan dari proses usaha. Iklan secara garis besar mengenalkan produk dan jasa kepada khalayak atau konsumen agar bisa diterima dan kemudian dikonsumsinya. Iklan dibuat sedemikian rupa agar menarik bagi khalayak konsumen yang ditujunya. Tujuan penggunaan iklan agar produk barang atau jasa yang ditawarkan menjadi laku dan dikonsumsi oleh khalayak konsumen. Iklan dikategorisasikan sebagai iklan nonkomersial dan iklan komersial. Iklan non komersial adalah iklan yang lebih bersifat pelayanan masyarakat. Iklan ini lebih banyak ditujukan sebagai saran komunikasi pemerintah dengan warga negara. Iklan komersial ditandai dengan syaratnya imajinasi dalam proses pencitraan dan pembentukan nilai – nilai estetika untuk memperkuat citra terhadap objek iklan itu sendiri. Sehingga terbentuk image terhadap objek iklan. Iklan komersial digunakan sebagai media publik untuk mempromosikan penjualan untuk tujuan pasar.6
B. Gaya Hidup
Sedangkan gaya hidup menurut KBBI adalah pola tingkah laku sehari – hari segolongan manusia di dalam masyarakat.7 Fatmanovita menyebutkan bahwa gaya
hidup seseorang berpengaruh pada kebutuhan, perilakunya dan perilaku 644 pembeliannya. Selanjutnya Assael dalam Fatmanovita menyatakan gaya hidup berpengaruh pada pembelian, perubahan kebiasaan, citarasa, perilaku pembelian konsumen.8 Disamping itu penelitian yang dilakukan oleh Prasetyo menyatakan
bahwa variabel gaya hidup memiliki hubungan yang positif dan memiliki pengaruh
5 Philip Kotler. 1997. Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi
dan Kontrol Jilid 2, (Edisi Bahasa Indonesia principle of marketing 9e), Jakarta: Prenhallindo.
6 Kamus Besar Bahasa Indonesia. 7Ibid.
8 RR Yugi Fatmanovita. 2006. Pengaruh Lifesyle, Self Concept, dan Respon Atas
yang cukup kuat terhadap variabel keputusan pembelian. Faktor lain yang dapat memberi pengaruh terhadap perilaku pembelian konsumen adalah merek produk.9
Menurut pendapat Simamora mengemukakan bahwa “merek yang kuat menarik konsumen untuk hanya menggunakan faktor merek dalam pengambilan keputusan pembelian”.10 Pendapat serupa juga diungkapkan oleh ahli ekonomi lainnya yaitu
Kotler yang mengatakan “keputusan pembelian pada dasarnya merupakan keputusan untuk membeli merek yang paling disukai oleh konsumen berdasarkan pertimbangan diantara merek-merek pilihan”. Karena saat ini konsumen tidak lagi membeli produk atau jasa, melainkan membeli merek.11 Penelitian ini diperkuat oleh Krishnan, yang
meneliti tentang “Lifestyle A Tool for Understanding Buyer Behavior”. Penelitian ini menekankan pentingnya gaya hidup dan pengaruhnya pada perilaku pembelian konsumen serta menegaskan bahwa ada hubungan yang signifikan antara gaya hidup dari konsumen dan merek produk yang digunakan.12
Gaya hidup lebih terlihat pada apa yang tampak. Berbeda dengan perilaku yang tidak terlihat secara fisiknya, gaya hidup lebih mudah terlihat karena dilihat dari apa yang melekat pada diri manusia. Gaya hidup berkait dengan cara berpakaian, model pakaian, cara makan, cara menggunakan kendaraan, cara berlibur dan menikmati waktu senggang dan cara melakukan kegiatan sehari – harinya. Gaya hidup berkaitan erat dengan status sosial yang dimiliki oleh seseorang. Status sosial yang ada di diri seseorang biasanya akan mempengaruhi pula gaya hidup pada dirinya. Gaya hidup akan terus berubah sesuai dengan perkembangan waktu yang ada serta mengikuti tren yang terjadi saat itu.
Gaya hidup berhubungan dengan iklan apalagi di era modern seperti ini. Iklan mampu mengeksploitasi nilai guna dengan nilai tukar yang semu, dengan serangkaian image untuk menyebarkan produk ke konsumen. Melalui iklan, para produsen tidak hanya memberkan informasi tentang produk yang bisa dikonsumsi masyarakat, melaikan secara menerus mempengaruhi, membujuk, merangsang, dan menciptakan kebutuhan baru dalam masyarakat kontemporer secara seragam dan universal. Bahasa dalam iklan adalah bahasa yang sugestif dan manipulatif. Ketika
9 Budi Prasetyo. 2009. Analisis Pengaruh Gaya Hidup terhadap Keputusan
Pembelian. Skripsi. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”.
10 Bilson Simamora.2003. Aura Merek. Jakarta: PT.Ikrar Mandiri Abadi.
11 Philip Kotler. 2000. Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation
and Control. Prentice Hall Int, Inc, Millenium Edition, Englewood Cliffts, New Jersey.
12 Jayasree Krishnan.2011. Lifestyle – A Tool for Understanding Buyer Behavior.
bahasa iklan terus menerus diperdengarkan kepada khalayak, maka pelan namun pasti bahasa itu akan mengalami metamorfosis menjadi ideologi yang diyakini banyak orang sebagai layaknya sebuah kebenaran. Sehingga khala yak akan bertolak ukur gaya hidup dari iklan – iklan yang ditayangkan oleh media.
C. Pengaruh iklan terhadap gaya hidup
Di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin massif, berbagai kajian membuktikan bahwa yang berperan besar membentuk gaya hidup; budaya citra dan budaya cita rasa adalah gempuran iklan yang menawarkan gaya visual yang acap kali mampu mempesona dan memabukkan. Iklan mempresentasikan gaya hidup dengan menanamkan secara halus arti penting citra diri dalam tampil di hadapan publik. Iklan juga mempengaruhi pilihan cita rasa yang kita buat, terutama ketika kita terlibat dalam pergaulan dan relasi sosial dengan orang atau kelompok lain.13
Iklan menciptakan pandangan masyarakat tentang barang yang diiklankan oleh artis tertentu. Dengan iklan, seolah-seolah barang siapa yang menggunakan produk tersebut maka akan seperti artis yang berada dalam iklan tersebut. Hal ini tentu menyangkut banyak hal, seperti yang kita ketahui masyarakat selalu ingin mengikuti idola mereka bahkan tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup masyarakat populer yang biasa direpresntisakan oleh artis-artis tertentu lebih jauh merambat ke hal-hal yang bersifat religius, tidak jarang tokoh-tokoh agama menjadi model iklan untuk memasarkan produk tertentu sehingga masyarakat yang mengidolakan tokoh ini akan mengikuti instruksinya sesuai dengan yang ada di iklan.
Dengan kemampuannya, iklan menciptakan simbol-simbol baru dalam masyarakat. Simbol kenyamanan, kemewahan serta fantasi yang mampu masuk ke dalam jiwa masyarakat. Tidak ada yang mampu mengendalikan iklan sebagai bagian dari kehidupan manusia. Dengan modal yang besar perusahaan-perusahaan besar mampu membuat pengaruh melalui iklan dengan tujuan mempromosikan produk-produk yang mereka jual.
Secara lebih terperinci, karakteristik iklan yaitu : Pertama, iklan cenderung terus menerus berusaha memanupulasi cita rasa konsumen dengan cara melebih-lebihkan, mendramatisasi, mensimplifikasi persoalan dan menjanjikan seolah-olah semua persoalan dan kebutuhan konsumen akan teratasi hanya dengan cara membeli produk yang diiklankan. Seorang yang berambut kusut cukup dengan sekali karmas maka
13 Abdul Gaffar. Sihir Iklan dalam Konsumsi Masyarakat Perkotaan. Jurnal Dinamika
rambutnya akan berkilau. Orang yang kulitnya hitam, maka hanya dengan memakai produk tertentu selama enam minggu kulitnya dijamin akan putih bersinar. Contoh-contoh iklan seperti itu, jelas mendramatisasi persoalan, karena dalam kenyataannya yang terjadi tentu tidak semudah sebagaimana dijanjikan dalam iklan.
Kedua, iklan cenderung menggeser nilai guna menjadi nilai simbolis. Apapun produk yang diiklankan dan apa kegunaan atau manfaat produyk itu, dalam iklan sering menjadi persoalan nomor dua, karena yanglebih ditonjolkan pada akhirnya adalah nilai simbolisnya, yaitu bagaimana konsumen ketika menghadapi persoalan atau situasi yang kurang lebih sama seperti yang ditampilkan dalam iklan, maka tanpa berpikir panjang ia langsung ingat dengan apa yang dijanjikan dalam iklan dan langsung mengkonsumsi produk induatri budaya yang ada di iklan. Ketika seorang lapar, sementra keburu harus berangkat ke kantor atau ke sekolah, maka otomatis dalam kepalanya akan berpikir minum susu kental merk tertentu sebagai pengganjal perutnya seperti yang setiap hari dia lihat dalam iklan di televise.
Ketiga, iklan pada dasarnya adalah agen sosialisasi dan imitasi. Melalui iklan, konsumen disosialisasi dan diarahkan untuk mengembangkan perilaku imitative, yaitu mencontoh apa yang dilakukan idola atau ikon budaya yang menjadi bintang iklan. Jika seorang bintang iklan ditampilkan lebih suka memilih shampoo merk tertentu, maka otomatis konsumen yang melihat iklan itu akan memilih produk yang sama karena bintang pujaannya memilih produk itu. Logika iklan senantiasa mengandalkan kekuatan bahasa atau kata-kata bernada sugestif, agitatif, sloganistis, dan tidak jarang bombastis.
Keempat, iklan pada dasarnya adalah agen utama sekaligus instrument paling efektif untuk memasyarakatkan ideology pasar. Seseorang yang tumbuh di tengah gencar-gencarnya televise menayangkan iklan dan lingkungan di sekitarnya juga penuh dengan poster serta baliho iklan, maka jangan heran jika dia akan tumbuh menjadi seseorang yang konsumtif. Seorang konsumen yang tidak pernah puas hanya membeli satu dua produk sesuai kebutuhan, tetapi menjadi orang yang senantiasa haus untuk jalan-jalan ke mall, berbelanja dan tanpa berpikir panjang sangat mudah menggesek kartu kreditnya untuk membayar barang-barang yang dikonsumsinya karena diiming-imingi iklan.14
14http://.unnes.ac.id/norafifah/2015/11/20/iklan-gaya-hidup-dan-perilaku-konsumsi/
Bukan sekali dua kali, seseorang yang tanpa rencana berbelanja, ketika tiba di mall dan melihat tawaran iklan diskon dan lain sebagainya, tiba-tiba tanpa sadar pulang sudah menenteng sekian banyak tas belanjaan dan menghabiskan uang jutaan rupiah untuk membeli barang-barang yang sebetulnya tidak pernah ia ketahui apa benar mendesak dibutuhkan atau tidak.
Iklan dan gaya hidup menjadi dua sisi yang tidak dipisahkan serta membentuk gaya hidup masyarakat. Melalui konsumsi masyarakat mampu mengidentifikasi diri sebagai anggota kelompok yang mana, dan melalui konsumsi masyarakat menemukan identitas serat makna-makna hidup melalui barang yang dikonsumsinya yang menunjukkan gaya hidupnya.
D. Pengaruh gaya hidup terhadap iklan
Pembahasan mengenai pengaruh gaya hidup terhadap iklan bisa dilihat pada fenomena selebriti endorser. Pada fenomena ini para selebriti memperlihatkan gaya hidupnya sebagai percontohan gaya hidup yang dianggap perlu ditiru. Selebriti endorser tersebut biasanya selebriti yang mempunyai brand image yang selalu menjadi perhatian media. Dengan ketenaran yang dimiliki selebriti tersebut kemudian oleh penyedia iklan dijadikan bintang untuk mengendors produk – produk yang berhubungan dengan gaya hidup selebriti tersebut. Sehingga akan berpengaruh pada penonton yang melihat iklan tersebut bahwa gaya hidup yang baik adalah apa yang sesuai ditampilkan oleh sang selebriti endorser tersebut.
Misalnya penampilan selebriti Agnes Monica pada iklan endorser sampo ZINC. Agnes Monica terlihat sangat energik dan memberikan informasi yang baik terhadap produk yang diiklankan, dan menarik konsumen untuk melihat iklan sampo ZINC. Konsumen dapat terpenuhi informasi tentang produk sampo ZINC dengan menonton iklan sampo ZINC yang diiklankan oleh Agnes Monica. Agnes Monica dapat mempengaruhi iklan sampo ZINC kalau ingin sepertinya yang energik sekaligus seksi dan elegan harus menggunakan sampo yang sesuai dengan karakternya.15
15 Nia Budi Utami. 2011. Pengaruh Citra Selebriti Endorser Iklan Sampo ZINC pada
BAB III KESIMPULAN
Iklan yang dilahirkan dan dibesarkan oleh industri media dengan segala macam ideologi yang banyak mencerminkan budaya dan faham kapitalis pada setiap pesan yang terselip dalam produk citraanya, akan berdampak pada penciptaan “gaya hidup” di masyrakat yang cenderung berjiwa konsumtif dan hedonis. Timbulnya efek negatif pada perilaku insan negeri ini disebabkan dari pengaruh iklan media massa, di mana dalam penampilannya merupakan cerminan budaya baru yang lagi ngetrend di lingkungan masyarakat, hasil lansiran Global Kapitalism yang terbawa oleh arus globalisasi. Kalau hal ini tidak diantisipasi dengan baik, maka dikhawatirkan akan terus tumbuh subur, terutama di kalangan remaja yang cenderung berpola hidup meniru dari iklan yang dilihatnya. Dan kenyataan ini menimbulkan suatu pernyataan kontradiktif terhadap budaya Indonesia yang terkenal menjunjung tinggi keluhuran budi pekerti, sifat sabar dan norma kesantunan yang kita banggakan selama negeri ini didirikan. Bila hal ini terjadi secara terus menerus tanpa adanya suatu apresiasi secara intensif di kalangan masyarakat, maka dikhawatirkan budaya keluhuran kita akan tergilas oleh budaya kapitalis yang menjajikan masyarakat bersikap konsumtif dan hedonis serta diwarnai ke-glamour-an hidup.
Daftar Pustaka
Farikoh, Hikmatul. 2011. Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Psikologi terhadap Keputusan Pembelian Ponsel nokia di Semarang. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro.
Fatmanovita, RR Yugi. 2006. Pengaruh Lifesyle, Self Concept, dan Respon Atas
Advertising terhadap Brand Preferneces pada Produk Wewangian Wanita Merek SHE di Surabaya. Skripsi. Surabaya : Universitas Airlangga.
Gaffar, Abdul. Sihir Iklan dalam Konsumsi Masyarakat Perkotaan. Jurnal Dinamika Perkotaan (JDP) Universitas Riau.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Kotler, Philip, 1997. Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Kontrol Jilid 2, (Edisi Bahasa Indonesia principle of marketing 9e), Jakarta: Prenhallindo.
Kotler, Philip. 2000. Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation and Control. Prentice Hall Int, Inc, Millenium Edition, Englewood Cliffts, New Jersey. Krishnan, Jayasree.2011. Lifestyle – A Tool for Understanding Buyer Behavior. Journal
of Economic Sand Management, Volume 5 Nomor 1, pp: 283-298.
Rachmadi. 1993. Public Relation dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Gramedia. Simamora, Bilson.2003. Aura Merek. Jakarta: PT.Ikrar Mandiri Abadi.
Siregar, Fauzan Samaran. Dampak Periklanan Terhadap Hasrat Konsumen. Kearsipan Fakultas Ekonomi, UNDIP 2011.
Utami ,Nia Budi. 2011. Pengaruh Citra Selebriti Endorser Iklan Sampo ZINC pada sikap kepada iklan, sikap kepada merk dan minat beli konsumen. Skripsi. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.
http://.unnes.ac.id/norafifah/2015/11/20/iklan-gaya-hidup-dan-perilaku-konsumsi/