• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Manajemen Risiko Industri Perke

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Manajemen Risiko Industri Perke"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

2014

Disusun oleh:

Farisa Noviyanti /11

134060018172

Kelas 9 C

Akuntansi Khusus STAN

Analisis Manajemen Risiko Industri

(2)

Analisis Manajemen Risiko Industri Perkeretaapian Indonesia

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pertama-tama saya panjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah Swt. Berkat karunia-Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan baik dan efektif tepat pada waktunya.

Makalah ini disusun secara khusus untuk menyelesaikan penugasan Semester 9 Program Diploma IV Akuntansi Kurikulum Khusus mata kuliah SEMINAR MANAJEMEN RISIKO serta memperluas wawasan para mahasiswa untuk memahami kondisi industri perkeretaapian Indonesia. Tema makalah ini juga mendorong mahasiswa untuk mampu mengevaluasi strategi PT KAI dan PT INKA yang memegang peran penting dalam mendukung industri perkeretaapian dan menemukan risiko-risiko prioritas dan langkah-langkah mitigasi yang dihadapi oleh kedua perusahaan. Terkait dengan hal itu, makalah ini disusun dengan judul “ANALISIS MANAJEMEN RISIKO INDUSTRI PERKERETAAPIAN INDONESIA”.

Makalah ini hanya dapat terselesaikan dengan baik berkat bantuan berbagai pihak. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada yang terhormat:

1. Bapak Marmah Hadi: sebagai inspirator, pengajar, dan dosen Seminar Manajemen Risiko yang telah mendidik dan membagi ilmunya di Kelas 9 C Program Diploma IV Akuntansi Kurikulum Khusus.

2. Orang tua yang selalu menghadiahkan doa, kasih sayang, dan dukungan secara moral dan materiil yang luar biasa berarti dan berharga.

3. Teman-teman Kelas 9 C Program Diploma IV Akuntansi Kurikulum Khusus yang selalu menjadi tempat bertanya, memberikan saran dan kritik yang positif serta persahabatan yang tulus dan bermakna.

4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi positif. Saya jugamenyadari bahwa hasil dari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tangerang Selatan, 7 Agustus 2014

(3)

Analisis Manajemen Risiko Industri Perkeretaapian Indonesia

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI... ii

A. PENGANTAR ... 1

1. Deskripsi Industri Kereta Api Indonesia... 1

2. Profil PT KAI (Persero)... 1

3. Profil PT INKA (Persero)... 4

B. KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO... 5

C. PENETAPAN KONTEKS... 5

1. Konteks Eksternal... 5

2. Konteks Internal... 7

3. Rekomendasi Tujuan Ideal Industri Perkeretaapian Indonesia... 8

D. IDENTIFIKASI RISIKO... 9

1. Identifikasi Risiko Operasional dan Penyebab Risiko PT KAI... 9

2. Identifikasi Risiko Usaha dan Penyebab Risiko PT INKA...12

E. ANALISIS RISIKO... 13

1. Analisis Risiko Operasional PT KAI...14

2. Analisis Risiko Usaha PT INKA...14

F. EVALUASI RISIKO... 15

1. Evaluasi Risiko Operasional PT KAI...16

2. Evaluasi Risiko Usaha PT INKA...17

G. MITIGASI RISIKO... 17

1. Mitigasi Risiko Operasional PT KAI...17

2. Mitigasi Risiko Usaha PT INKA...19

H. KESIMPULAN... 20

(4)

A. PENGANTAR

1. Deskripsi Industri Kereta Api Indonesia

Industri perkeretaapian Indonesia mencakup industri perakitan kereta api, industri penyediaan dan pengaturan jasa kereta api, yang meliputi proses perencanaan, pengelolaan, sampai dengan pemeliharaan industri kereta api nasional. Industri perkeretaapian berperan besar dalam mendukung pengembangan ekonomi nasional. Kontribusi yang diberikan industri perkeretaapian adalah:

a. Menekan kerusakan jalan raya sehingga mampu menghemat keuangan negara yang dialokasikan untuk perawatan jalan serta membayar berbagai risiko yang timbul.

b. Menekan kepadatan lalu lintas jalan raya sehingga meminimalkan pemborosan konsumsi BBM akibat kemacetan, serta mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas di jalan raya.

c. Meminimalkan biaya angkutan dan distribusi logistik nasional sehingga mampu menurunkan biaya produksi dan harga satuan produksi konsumsi domestik.

Kontribusi tersebut dihasilkan karena transportasi kereta api memiliki daya angkut lebih besar, konsumsi bahan bakar minyak lebih rendah, dan polutan paling rendah dibanding moda transportasi lain. PDB nasional tahun 2013 tercatat Rp 9,09 triliun. Perseroan mencatat bahwa meskipun animo masyarakat terhadap penggunaan jasa kereta api cukup tinggi, industri kereta api belum memberikan kontribusi yang siginifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sejauh ini kereta api masih berkontribusi sebesar 1,6% terhadap PDB nasional.

Analisis manajemen risiko industri perkertaapian Indonesia akan difokuskan pada dua pihak yang berperan paling signifikan dalam membangun industri kereta api Indonesia, antara lain: PT KAI (Persero) dan PT INKA dengan tetap memperhatikan peran pihak-pihak lain yang berkontribusi pada pencapaian tujuan kedua perusahaan tersebut.

2. Profil PT KAI (Persero)

PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang selanjutnya disingkat sebagai PT KAI (Persero) atau "Perseroan" adalah Badan Usaha Milik Negara yang menyediakan, mengatur, dan mengurus jasa angkutan kereta api di Indonesia. Riwayat PT Kereta Api Indonesia (Persero) dibagi menjadi tiga periode, yaitu masa kolonial, sebagai lembaga pelayanan publik, dan sebagai perusahaan jasa.

Pada masa kolonial, industri perkeretaapian dimulai pada tahun 1864 ketika Namlooze Venootschap Nederlanche Indische Spoorweg Maatschappij

(5)

Periode perusahaan yang berorientasi pada pelayanan publik bermula pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 25 Mei berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1963, pemerintah Republik Indonesia membentuk Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA). Pada 15 September 1997 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 1971, PNKA diubah menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Dengan status sebagai Perusahaan Negara dan Perusahaan Jawatan, PT Kereta Api Indonesia (Persero) saat itu beroperasi melayani masyarakat dengan dana subsidi dari pemerintah.

Babak baru pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dimulai ketika PJKA diubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 1990. Sebagai perusahaan umum, Perumka berupaya untuk mendapatkan laba dari jasa yang disediakannya. Untuk jasa layanan penumpang, Perumka menawarkan tiga kelas layanan, yaitu kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi. Untuk mendorong Perumka menjadi perusahaan bisnis jasa, pada tanggal 3 Februari 1998 pemerintah menetapkan pengalihan bentuk Perusahaan Umum (Perum) Kereta Api menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1998. Transformasi menuju perusahaan jasa (service company) ditandai dengan pembentukan Divisi Komersial pada bulan September tahun 2009.

Dengan status barunya, PT Kereta Api Indonesia (Persero) beroperasi sebagai lembaga bisnis yang berorientasi laba. Untuk tetap menjalankan sebagian misinya sebagai organisasi pelayanan publik, pemerintah menyediakan dana Public Service Organization (PSO). Pendapatan PSO diperoleh Perseroan dari Pemerintah sebagai subsidi kepada penumpang kereta api kelas ekonomi. PT Kereta Api Indonesia (Persero) adalah Perusahaan Non Listed sehingga baik masyarakat, Direksi maupun Dewan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (Persero) tidak mempunyai kepemilikan saham atas Perseroan. Kepemilikan saham seluruhnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memiliki kegiatan utama dan kegiatan usaha penunjang. Kegiatan usaha utama mencakup:

a. Penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum, meliputi kegiatan pembangunan, pengoperasian, perawatan, dan pengusahaan prasarana. b. Penyelenggaraan sarana perkeretaapian umum, meliputi kegiatan

pengadaan, pengoperasian, perawatan, dan pengusahaan sarana usaha pengangkutan orang dan/atau barang dengan kereta api.

c. Usaha angkutan pra- dan purna-angkutan kereta api, intermoda dan bongkar muat.

d. Usaha penyewaan sarana dan atau prasarana serta fasilitas perkeretaapian.

(6)

f. Usaha jasa keahlian di bidang perkeretaapian dan jasa konsultan transportasi.

g. Usaha keagenan di bidang transportasi barang dan penumpang. h. Usaha pendidikan dan pelatihan di bidang perkeretaapian.

Kegiatan penunjang Perseroan mencakup pemanfaatan sumber daya yang dimiliki, seperti berikut ini:

a. Usaha properti dan perniagaan meliputi perhotelan, perkantoran, apartemen, pertokoan, restoran, terminal terpadu, pusat pembelanjaan terpadu, pergudangan, dan logistik.

b. Penyediaan prasarana telekomunikasi, transfer data, multimedia, jasa telematika, prasarana distribusi bahan cair dan gas, stasiun pengisian bahan cair dan gas, dan stasiun pengisian bahan bakar umum/khusus. c. Usaha percetakan dan periklanan, mencakup percetakan bahan informasi

mengenai jasa kereta api dan iklan untuk dipasang di kereta api dan di areaarea milik PT Kereta Api Indonesia (Persero).

d. Usaha kesehatan dan pelayanan medis, mencakup pelayanan medis untuk karyawan, pengguna jasa PT Kereta Api Indonesia (Persero), dan masyarakat umum.

e. Pemanfaatan tanah, ruang, bangunan, dan fasilitas.

f. Usaha penunjang pariwisata dan sarana olahraga, usaha ekstraktif.

g. Pemanfaatan dana pada instrumen jangka pendek (maksimal satu tahun) di pasar uang dan atau pasar modal yang memberi keuntungan dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.

Sebagai perusahaan jasa, jasa yang dihasilkan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencakup enam bidang, berikut.

a. Angkutan penumpang menggunakan kereta api, yang mencakup angkutan rute jarak jauh, jarak menengah, dan jarak pendek. Untuk jasa angkutan penumpang jarak jauh dibagi menjadi angkutan penumpang kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi. Angkutan commuter di wilayah Jabodetabek termasuk jasa angkutan penumpang PT Kereta Api Indonesia (Persero).

b. Angkutan barang menggunakan kereta api, yang mencakup angkutan peti kemas, batu bara, parsel, barang curah, dan barang jenis lain.

c. Pengelolaan properti yang terkait dengan jasa kereta api, yang mencakup pembangunan dan pengelolaan stasiun kereta api, pengembangan perkantoran, pengembangan pusat perbelanjaan, dan pembangunan hotel.

d. Pariwisata berbasis kereta api, yang mencakup jasa paket wisata dan penyewaan transportasi.

e. Restoran, yang mencakup pengelolaan restoran di kereta api (on train services) dan di stasiun, termasuk jasa katering.

(7)

bongkar muat, pergudangan, pelabelan, pengangkutan, penjejakan, serta pengawalan logistik.

Jasa tersebut dikelola oleh enam unit anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai berikut:

a. PT Reska Multi Usaha

PT Reska Multi Usaha bergerak dalam bidang usaha Restorasi KA, Service On Train (SOT), Jasa Boga (Catering), Resto & Cafe, Parkir, Housekeeping,

On Trip Cleaning (OTC), Cuci Kereta, RES-TV dan Pendukung Kenyamanan.

b. PT Railink

PT Railink merupakan joint venture antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan PT Angkasa Pura II (Persero) dengan komposisi kepemilikan saham 60% PT KAI dan 40% PT AP II. Kegiatan usaha yang dijalaninya yakni pengoperasian, pengoperasian pengelolaan dan pengusahaan kereta api bandara, pengembangan dan pengelolaan stasiun kereta api di bandara dan di pusat kota, pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana kereta api, pembagunan prasarana kereta api, konsultasi dan desain sistem perkerataapian, pengusahaan jasa lainnya yang menunjang usaha-usaha pokok.

c. PT KAI Commuter Jabodetabek

PT KAI Commuter Jabodetabek dibentuk berdasarkan Inpres No. 5 tahun 2008 dan surat Menneg BUMN No.S-653/MBU/2008 tanggal 12 Agustus 2008. Tugas pokok PT KCJ adalah menyelenggarakan pengusahaan jasa angkutan kereta api commuter dengan menggunakan sarana Kereta Rel Listrik di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi serta pengusahaan di bidang usaha non angkutan penumpang.

d. PT KA Pariwisata

PT KA Pariwisata atau disingkat PT KA Wisata bertujuan untuk menyediakan barang atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat di pasar dalam wilayah Indonesia di bidang pariwisata kereta api, dan kegiatan usaha yang mendukung pariwisata kereta api dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

e. PT KA Logistik

PT Kereta Api Logistik (KALOG) memiliki usaha di bidang layanan distribusi logistik berbasis kereta api, dengan kemasan bisnis door to door service

untuk memberikan pelayanan yang paripurna bagi pelanggan kereta api yang didukung dengan angkutan pra dan lanjutan serta layanan penunjangnya, meliputi pengelolaan Terminal Peti Kemas (TPK), bongkar muat, pergudangan, pengepakan, pelabelan, pengangkutan, penjejakan, pengawalan logistik serta manajemen logistik dengan menerapkan prinsip-prinsip perseroan terbatas. Orientasi bisnis KALOG ke depan adalah sebagai jasa layanan distribusi logistik secara Total Solution melalui End-to-End Services atau dengan kata lain sebagai SCM Service Provider. Fungsi dan peran kontributif KALOG terhadap jasa layanan yang telah disediakan oleh induknya adalah sebagai pencipta nilai tambah (value creator) sepanjang rantai nilai (value chain) layanan distribusi logistik, termasuk layanan yang telah disediakan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero), seperti angkutan barang dan pergudangan.

(8)

PT KA Property Management atau disingkat PT KA Property memiliki usaha di bidang pengelolaan aset/properti perkeretaapian milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) maupun pihak lainnya dengan tujuan mengoptimalkan pemanfaatan serta memberikan nilai tambah aset/properti tersebut guna memenuhi standar mutu terbaik dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

3. Profil PT INKA (Persero)

PT Industri Kereta Api (Persero) adalah sebuah Badan Usaha Milik Negara yang berdiri pada tanggal 19 Agustus1981. INKA merupakan pengembangan dari Balai Yasa Lokomotif Uap yang dimiliki oleh PJKA (sekarang PT Kereta Api) pada saat itu. Balai yasa ini berlokasi di Madiun. Sejak lokomotif uap sudah tidak dioperasikan lagi, maka balai yasa ini dialihfungsikan menjadi pabrik kereta api. Penentuan lokasi dan pendirian pabrik kereta ini berdasarkan hasil studi dari BPPT.

Gagasan untuk mendirikan INKA di Indonesia merupakan salah satu kebijakan pemerintah dalam rangka menanggulangi dan memenuhi kebutuhan jasa angkutan kereta api di Indonesia yang terus meningkat. Transformasi bisnis yang dilakukan perusahaan mampu memberikan keberhasilan dan mendapatkan solusi terbaik untuk perbaikan transportasi kereta api. Dalam persaingan global, PT INKA mengembangkan berbagai jenis produk di bawah kendali sistem manajemen mutu ISO 9001 dan kemitraan global. Melalui perbaikan dan pembaharuan yang dilakukan secara berkesinambungan sebagai upaya beradaptasi terhadap persaingan global, PT INKA memasuki dunia bisnis perkeretaapian dengan mengedepankan nilai-nilai: integritas, profesional dan kualitas.

Dalam menghadapi tantangan dunia bisnis ke depan, PT INKA tidak hanya bergelut dalam produk-produk perkeretaapian, namun menghasilkan produk lain yang lebih luas yang mampu memberikan kontribusi terhadap permintaan infrastruktur dan sarana transportasi. PT INKA melakukan joint venture dengan General Electric dalam memproduksi lokomotif. Selain untuk kebutuhan dalam negeri, produksi juga ditujukan untuk ekspor terutama ke Malaysia.

B. KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO

(9)

Kebijakan manajemen risiko dalam industri perkeretaapian sebagai industri strategis nasional merupakan bagian integral dari proses bisnis perusahaan dan pengambilan keputusan oleh manajemen, serta tumbuh menjadi budaya bagi seluruh personil perusahaan sesuai Keputusan Menteri Negara BUMN Republik Indonesia No. KEP-117/M-MBU/2002 tentang Penerapan Good Corporate Governance pada BUMN, khususnya Pasal 22, terkait Sistem Pengendalian Internal yang efektif untuk mengamankan investasi dan aset perusahaan. Cakupannya meliputi pengkajian dan pengelolaan risiko usaha, yaitu keseluruhan proses mulai dari mengidentifikasi, menganalisa, menilai/mengevaluasi, merespon, dan mengendalikan risiko usaha yang relevan hingga pelaporannya. Selain itu, langkah ini juga dilakukan guna mematuhi ketentuan Pasal 28 ayat 2, yang mengharuskan setiap BUMN mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang diisyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, namun juga hal penting untuk pengambilan keputusan oleh pemodal, pemegang saham/pemilik modal, kreditur, serta stakeholders

termasuk di dalamnya faktor risiko dan penilaian manajemen atas faktor risiko tersebut.

C. PENETAPAN KONTEKS

Tahap penetapan konteks bertujuan untuk menjabarkan hubungan yang komprehensif terhadap seluruh faktor yang mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Output dari tahap ini adalah berupa pernyataan singkat tujuan organisasi dan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan, tujuan dan ruang lingkup manajemen risiko, dan seperangkat elemen kunci sebagai parameter dasar identifikasi risiko pada tahap berikutnya.

Dari profil di atas, konteks analisis manajemen risiko dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Konteks Eksternal

Tahap ini dilakukan untuk mendefinisikan kondisi eksternal dimana organisasi beroperasi dan hubungan antara organisasi dengan lingkungan eksternalnya. Sebagai contoh:

a. Kondisi bisnis, sosial, regulasi, budaya, kompetisi, keuangan dan politik; b. Kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman organisasi;

c. Pemangku kepentingan eksternal; d. Kunci penggerak organisai.

Penetapan konteks eksternal dilakukan untuk menjamin agar pihak pemangku kepentingan dan tujuan mereka dipertimbangkan saat mengembangkan kriteria manajemen risiko, serta memperhitungkan adanya unsur ancaman dan peluang.

Berikut adalah kondisi eksternal dari industri perkeretaapian Indonesia yang dapat berdampak pada pencapaian tujuan dan dilihat dari sudut pandang PT KAI dan PT INKA.

PT KAI

(10)

kondisi perekonomian. Perubahan ekonomi global maupun nasional berdampak langsung terhadap kinerja operasional maupun keuangan, baik disebabkan oleh perlambatan laju ekonomi global dan pelemahan rupiah.

 Ekonomi nasional pada tahun 2013 tumbuh 5,6%.

 Persaingan dengan moda transportasi lain semakin ketat.

 Perkembangan teknologi informasi sebagai penunjang jasa perkeretaapian.

 Prospek angkutan barang di masa depan.

 Stagnasi pertumbuhan angkutan penumpang dengan pangsa pasar 80%.

 Status PT KAI yang telah berubah sebagai perusahaan jasa yang memungkinkan untuk meningkatkan laba melalui jasa perkeretaapian maupun non perkeretaapian.

 Citra PT KAI sebagai transportasi andalan yang mulai melakukan berbagai terobosan.

 Tuntutan masyarakat terhadap transportasi yang aman dan nyaman.  Perkembangan industrialisasi otomotif yang semakin pesat

mengakibatkan kemacetan jalan, polusi dan menghabiskan energi, membuat masyarakat mulai melirik alternatif kereta api sebagai salah satu sarana transportasi masal yang murah, aman dan bebas macet.

 Kondisi pasar jasa transportasi yang cenderung berubah, baik dari sisi

permintaan maupun suplai dari kompetitor.

 Gangguan dan kerusakan pada rel, peralatan persinyalan dan listrik aliran atas, yang disebabkan oleh kendala teknis maupun gangguan pihak luar.

 Keterbatasan kapasitas Depo/Balai Yasa untuk pemeliharaan dan perawatan kereta api.

 Keterbatasan suplai suku cadang.

 Mobilitas penduduk yang tinggi.

PT INKA

 PT INKA adalah satu-satunya perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang perkeretaapian di Indonesia. Perusahaan ini juga merupakan yang terbesar di Asia Tenggara.

 Indonesia sebagai negara berkembang belum memiliki moda transportasi kereta api sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

 Pengadaan lokomotif merupakan program baru pemerintah yang termuat dalam Rencana Strategis Kementerian Perhubungan tahun 2010-2014.

 Proses tender lokomotif yang dilakukan secara terbuka dan dapat diikuti oleh peserta luar negeri.

(11)

pelayanan umum sebanyak 100 unit sampai dengan tahun 2014. Aset pemerintah yang dikelola oleh PT. KAI saat ini 100% berumur di atas 20 tahun, 60% berumur di atas 30 tahun, dan 33% berumur di atas 40 tahun.

 Kompleksnya jaringan supply chain barang maupun jasa dalam industri kereta api pada PT INKA dan sebagian besar diperoleh melalui impor.

2. Konteks Internal

Untuk menjamin seluruh risiko yang signifikan dapat diidentifikasi, sangat penting untuk memahami tujuan organisasi atau kegiatan yang akan menjadi objek manajemen risiko. Tujuan merupakan kunci dari penetapan konteks. Kriteria keberhasilan organisasi adalah dasar pengukuran pencapaian tujuan, dan biasa digunakan untuk mengidentifikasi dampak atau akibat dari risiko yang menghalangi pencapaian tujuan tersebut. Langkah pertama dari penetapan konteks adalah menjabarkan tujuan organisasi dan kondisi eksternal dan internal organisasi. Langkah kedua adalah mengidentifikasi ruang lingkup kegiatan manajemen risiko, pertanyaan dan perhatian utama organisasi, dan hubungannya dengan strategi organisasi dan tujuan bisnis. Risiko prioritas adalah ketika organisasi gagal mencapai tujuan strategis mereka, atau dirasa telah mengecewakan para pemangku kepentingan.

Konteks nasional industri perkeretaapian Indonesia dapat ditinjau dari visi dan misi perusahaan yang berperan. Hal-hal yang menghambat pencapaian visi dan misi tersebut menjadi risiko strategis karena terkait langsung dengan manajemen strategi yang ditetapkan perusahaan.

Visi dan Misi PT KAI

Visi Menjadi penyedia jasa perkeretaapian terbaik yang berfokus padapelayanan pelanggan dan memenuhi harapan pemangku kepentingan.

Misi

Menyelenggarakan bisnis perkeretaapian dan bisnis usaha penunjangnya melalui praktik bisnis dan model organisasi terbaik untuk memberikan nilai tambah yang tinggi bagi pemangku kepentingan dan kelestarian lingkungan berdasarkan empat pilar utama: Keselamatan, Ketepatan Waktu, Pelayanan, dan Kenyamanan.

(12)

Perhatian utama PT KAI dari penjabaran misinya adalah menjadi penyedia jasa perkeretaapian yang profesional dengan mengupayakan best practice

dalam pelayanan yang berfokus pada customer oriented dan mengedepankan nilai-nilai utama berupa keselamatan, ketepatan waktu, pelayanan, dan kenyamanan melalui penyelanggaraan bisnis perkeretaapian dan bisnis usaha penunjangnya. Konteks tersebut juga dilihat dari status PT KAI sebagai BUMN dengan 100% kepemilikan saham pemerintah Republik Indonesia dengan kewajibannya di bidang Public Service Obligation.

Parameter yang digunakan PT KAI untuk mengukur tingkat keberhasilan berbagai program layanan yang telah diupayakan adalah dengan melakukan pengukuran tingkat kepuasan pelanggan. Oleh karena itu terlihat jelas bahwa PT KAI menghadapi risiko yang berkaitan langsung dengan penyediaan layanannya yaitu risiko operasional.

Visi dan Misi PT INKA

Visi Menjadi Perusahaan kelas dunia yang unggul di bidang transportasi keretaapi dan perkotaan di Indonesia.

Misi

Menciptakan solusi terpadu untuk transportasi kereta api dan perkotaan dengan keunggulan kompetitif bisnis dan teknologi produk yang tepat guna mendorong pembangunan transportasi.

Berbeda dengan PT KAI, strategi generik PT INKA adalah strategi fokus. Fokus berbeda dengan strategi lain karena menekan pilihan pada cakupan bersaing yang sempit dalam suatu industri yakni industri pembuatan kereta api dan fokus pada sasaran pasar domestik Indonesia. Dengan mengoptimalkan strategi untuk segmen pasar, penganut strategi fokus berusaha untuk mencapai keunggulan bersaing di dalam segmen sasaran tertentu. Strategi fokus memiliki dua varian, fokus biaya perusahaan mengusahaakan keunggulan biaya dalam segmen sasarannya, sedangkan dalam fokus diferensiasi, perusahaan mengusahaakan diferensiasi dalam segmen sasarannya.

Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan tantangan dan peluang yang dihadapi PT INKA maka PT INKA perlu menerapkan strategi tertentu untuk dapat bertahan dalam segmen industri perkeretaapian. PT INKA menghadapi

risiko usaha yang berkaitan langsung dengan kesinambungan usahanya sebagai satu-satunya perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang perkeretaapian di Indonesia.

3. Rekomendasi Tujuan Ideal Industri Perkeretaapian Indonesia

Bendasarkan profil, visi, misi, dan strategi generik PT KAI dan PT INKA maka tujuan perkeretaapian Indonesia yang ideal secara komprehensif direkomendasikan sebagai berikut:

Rekomendasi Tujuan

(13)

transportasi, dengan menyediakan barang dan jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk dapat melakukan pelayanan terbaik dan mencapai ekspansi baik di pasar domestik maupun internasional di bidang perkeretaapian.

Tujuan yang direkomendasikan tersebut mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a. Perhatikan posisi PT KAI dan PT INKA sebagai perusahaan yang dikuasai 100% oleh pemerintah, selain berorientasi pada pelayanan dan penyediaan barang/jasa, BUMN tersebut memegang mandat di bidang perhubungan untuk melaksanakan dan mendukung kebijakan pemerintah sebagai transportasi massal untuk menekan kemacetan lalu lintas, mengurangi tingkat pemakaian infrastruktur jalan, dan meningkatkan perekonomian dan pembangunan nasional melalui mobilisasi penduduk dan kontribusi langsung pada sektor perekonomian/PDB.

b. Perhatikan status PT KAI dan PT INKA yang telah berbentuk Persero. Melihat dari sejarahnya, PT KAI telah memasuki babak baru dari perusahaan umum yang berorientasi pada pelayanan publik menjadi perusahaan jasa yang berorientasi laba. Oleh karena itu, pemerintah hanya membiayai PT KAI dalam bentuk PSO untuk kelas ekonomi dan tidak lagi menyalurkan subsidi penuh untuk operasionalnya. Konsekuensinya, PT KAI didorong dan diizinkan untuk menyelenggarakan bisnis utama, bisnis penunjang, dan memiliki berbagai anak perusahaan dalam rangka memaksimalkan pendapatan. Adanya tantangan berupa persaingan yang kuat dengan moda transportasi lainnya, dan usaha untuk memperoleh pendapatan dalam rangka memenuhi operasionalnya secara mandiri maka PT KAI dan PT INKA harus dapat meningkatkan pelayanan dan penyediaan barang/jasa dengan mengedepankan competitive advantage (yakni bermutu tinggi dan berdaya saing kuat) baik untuk masyarakat dan sektor pengguna lainnya.

c. Melalui peluang ekspansi dan kemitraan di dalam dan luar negeri dengan didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, maka diharapkan industri perkeretaapian dapat menjadi transportasi andalan yang skalanya semakin luas dan menjadi penghubung antar kota secara nasional, selain itu produk yang ditawarkan oleh PT INKA diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan berkembang ke pasar internasional.

D. IDENTIFIKASI RISIKO

Tujuan dari identifikasi risiko adalah mengembangkan daftar yang komprehensif terkait sumber penyebab risiko dan kejadian yang mungkin berdampak pada pencapaian tujuan-tujuan yang telah diidentifikasi pada saat penetapan konteks. Hasil identifikasi risiko disajikan dalam Risk Register metode

Risk Breakdown Structure (RBS) yang difokuskan pada risiko operasional untuk PT KAI terkait pelayanan dan risiko usaha untuk PT INKA terkait pengadaan produksi kereta api.

(14)

N o

Identifikasi Risiko Operasional PT KAI

Level-1 Level-2 Level-3

1 Kepuasan

Pelanggan Sarana dan Prasarana Keterbatasan suplai suku cadangKeterbatasan kapasitas Depo/Balai Yasa

Gangguan dan kerusakan pada rel, peralatan persinyalan dan listrik aliran atas

Rendahnya jumlah armada yang dapat dioperasionalkan

Terbatasnya sarana perkeretaapian yang didominasi di Pulau Jawa

Meledaknya pengguna jasa transportasi pada musim-musim tertentu

Minimnya jumlah stasiun yang dapat dioptimalkan Keterlambatan jadwal keberangkatan dan

kedatangan Pendapatan

Layanan Tidak diminatinya jasa-jasa penunjang perkeretaapian PT KAI

Perseroan tidak dapat mengambil keuntungan dengan menaikkan tarif

Menurunnya pendapatan perseroan Katastropik Kebakaran dan kecelakaan kereta api

Bencana alam

SDM Terbatasnya tenaga ahli dan tenaga kerja dengan skill tertentu

Pelanggaran aturan dan kode etik dalam perusahaan

2 Strategi

Pelayanan KompetisiProgram Kerja Kondisi pasar jasa transportasi cenderung berubahProgram kerja yang dijadwalkan tidak dapat diimplementasikan

Sosial Minimnya sosialisasi dan konsultasi dengan pemangku kepentingan

Kemitraan Risiko investasi dengan mitra dalam negeri dan luar negeri

Terbatasnya mitra pengguna angkutan kereta api barang

Risiko komoditi pengadaan

Proyek Penyimpangan waktu start pelaksanaan proyek Penyimpangan waktu delivery pelaksanaan proyek

Berikut adalah penyebab dari risiko-risiko yang telah diidentifikasi:

N

o Risiko Operasional PT KAI Penyebab

1 Keterbatasan suplai suku

cadang Sebagian besar sarana dan suku cadang transportasikereta api harus diimpor 2 Keterbatasan kapasitas

Depo/Balai Yasa PT KAI memiliki 6 Balai Yasa (2 di Sumatera dan 4 diJawa), dengan waktu pengerjaan/perawatan yang cukup lama (satu rangkaian kereta api kurang lebih 30 hari)

3 Gangguan dan kerusakan pada rel, peralatan persinyalan dan listrik aliran atas

 Kekeliruan pada perencanaan.

 Kekeliruan saat pembangunan/pelaksanaan konstruksi.

 Material yang digunakan kurang baik.

 Kesalahan pada saat pemakaian jalan rel (over

(15)

N

o Risiko Operasional PT KAI Penyebab

 Kondisi alam setempat dan kondisi cuaca.

 Akibat bencana alam.

 Pemadaman listrik.

 Rusaknya pantograf/panel listrik kereta api. 4 Rendahnya jumlah armada yang

dapat dioperasionalkan

 Rendahnya rasio availability, yaitu rasio antara jumlah armada

Siap Operasi dengan jumlah armada Siap Guna (SO/SG).

• Kegiatan perawatan armada yang kurang efektif, baik dalam hal pemanfaatan suku cadang, utilitas SDM, penjadwalan perawatan sehingga mempengaruhi kinerja pelayanan publik.

5 Terbatasnya sarana

perkeretaapian yang didominasi di Pulau Jawa

 Distribusi pembangunan infrastruktur kereta api yang tidak merata di seluruh Indonesia.

 Kondisi alam di luar Pulau Jawa yang tidak sesuai untuk moda kereta apa.

7 Minimnya jumlah stasiun yang dapat dioptimalkan

 Adanya pekerjaan Satker yang mengganggu jalan KA

9 Tidak diminatinya jasa-jasa penunjang perkeretaapian PT KAI

Kurangnya pemasaran jasa-jasa penunjang perkeretaapian

1

0 Perseroanmengambil keuntungan dengantidak dapat menaikkan tarif

Pada 2013 terdapat perubahan peraturan mengenai tariff angkutan kereta api kelas ekonomi. Tarif angkutan Kereta Api kelas ekonomi ditetapkan oleh Pemerintah.

1

1 Menurunnyaperseroan pendapatan

 Kenaikan biaya perawatan sarana dan prasarana perkeretaapian

 Pertumbuhan volume angkutan penumpang selama lima tahun terakhir cenderung stagnan 1

2 Kebakaran dan kecelakaankereta api

 Perusahaan tidak mengasuransikan aset tetap terhadap risiko kecelakaan, kebakaran dan jenis resiko kerugian lainnya

 Kendala teknis berupa gangguan komunikasi dan sistem persinyalan

 Minimnya budaya keselamatan pengguna jalan

 Kerusakan prasarana kereta api

 Kurangnya pengendalian perawatan dan keselamatan kereta api

1

3 Bencana alam Kondisi alam yang rentan terhadap bencana gempabumi, tanah longsor, banjir, dan dekat dengan gunung merapi

1

4 Terbatasnya tenaga ahli dantenaga kerja dengan skill tertentu

Minimnya jumlah pegawai yang memenuhi kualifikasi untuk posisi-posisi dengan keahlian khusus dan sangat sulit dicari di pasar tenaga kerja 1

5 Pelanggaran aturan dan kodeetik dalam perusahaan Kurangnya pengawasan dan pengendalian terhadapnilai-nilai perusahaan dan budaya bersih di seluruh jajaran perusahaan

1

6 Kondisi pasar jasa transportasicenderung berubah

(16)

N

o Risiko Operasional PT KAI Penyebab

penerbangan dengan tarif murah

 Tumbuhnya jasa pengganti moda transportasi darat lainnya, yaitu bus, travel, dan persewaan mobil jarak jauh

1

7 Program kerja yang dijadwalkantidak dapat diimplementasikan Adanya kendala internal dari sisi manajemen danpemerintah, dan kendala eksternal berupa gangguan teknis, sarana, dan prasarana

1

8 Minimnya sosialisasi dankonsultasi dengan pemangku kepentingan

Minimnya sarana dan prasarana penunjang penyampaian informasi

1

9 Risiko investasi dengan mitradalam negeri dan luar negeri

 Adanya pasal-pasal perjanjian kerja sama yang membebani perusahaan

 Ketidakmampuan mitra untuk mengembalikan investasi perusahaan yang telah jatuh tempo 2

0 Terbatasnya mitra penggunaangkutan kereta api barang Pesaing kereta angkutan barang adalah truk.Kelebihan jasa substitusi ini adalah lebih fleksibel menjangkau rute-rute yang tidak terjangkau oleh jalur kereta api

2

1 Risiko komoditi pengadaan Keterlambatan pelaksanaan pengadaan dan risikokenaikan harga 2

2 Penyimpangan waktu startpelaksanaan proyek

 Kesulitan perizinan, penyiapan lokasi, dan pembebasan lahan

 Keterlambatan penyiapan desain, AMDAL, persetujuan teknis, dan persetujuan sumber dana 2

3 Penyimpangan waktu deliverypelaksanaan proyek

 Kurang efektifnya pemantauan dan evaluasi kemajuan proyek

 Tahapan proyek selesai di luar jadwal yang telah dipersiapkan

2

4 Penyimpangan biaya realisasiproyek Kenaikan harga dan lingkup proyek yang tidak di-cover dalam kontrak 2

5 Impor sebagian besar saranadan suku cadang kereta api Supply sarana dan suku cadang tidak dapat dipenuhioleh dalam negeri 2

6 Cash flow tidak seimbang

 Tidak terdapat sumber dana alternatif untuk modal kerja/modal investasi terutama dalam sarana dan prasarana

 Kurangnya pemanfaatan dana pada instrumen jangka pendek di pasar uang atau pasar modal dengan keuntungan tertentu

2

7 Risiko kesulitan pendanaan Komposisi pendanaan perjanjian kerja sama operasiyang kurang layak 2

8 Pinjaman jangka pendek danjangka panjang dengan bunga mengambang

Persyaratan pinjaman dengan bunga mengambang dari pemberi pinjaman

2. Identifikasi Risiko Usaha dan Penyebab Risiko PT INKA

N o

Identifikasi Risiko Usaha PT INKA

Level-1 Level-2 Level-3

1 Pemasaran Penjualan Tidak diundang tender Gagal dalam prakualifikasi Gagal dalam penawaran Gagal dalam negosiasi

Proyek ditunda atau perubahan lingkup kerja setelah kontrak

Harga Kesalahan menghitung harga 2 Teknologi dan Produksi

2.a. Teknologi Rekayasa Kesalahan dalam pemilihan teknologi dan penentuan komponen utama

Desain Penyelesaian desain detail terlambat Kualitas produk tidak sesuai persyaratan Teknologi Proses Kesalahan membuat metode kerja

(17)

N

3 Sumber Daya Sumber Daya

Manusia Jumlah tenaga kerja belum sesuai kebutuhanKualifikasi dan skill tenaga kerja tidak sesuai Fasilitas Produksi Kapasitas produksi tidak mencukupi

Produktivitas peralatan rendah Keuangan Modal kerja kurang

Cash flow tidak seimbang

Berikut adalah penyebab dari risiko-risiko yang telah diidentifikasi:

N

o Risiko Usaha PT INKA Penyebab

1 Tidak diundang tender Disingkirkan oleh pesaing

Networking dengan customer tidak baik, tidak mendapatkan informasi perkembangan proses tender

2 Gagal dalam prakualifikasi Persyaratan administrasi tidak lengkap Persyaratan pengalaman tidak terpenuhi 3 Gagal dalam penawaran Dokumen tender tidak lengkap

Usulan metode pelaksanaan salah

4 Gagal dalam negosiasi Terdapat permintaan perubahan persyaratan yang tidak sesuai dengan dokumen tender

Terdapat permintaan perubahan lingkup kerja yang tidak sesuai dengan dokumen tender

5 Proyek ditunda atau perubahan

lingkup kerja setelah kontrak Terjadi perubahan alokasi anggaran oleh pemerintah 6 Kesalahan menghitung harga Kesalahan membuat breakdown lingkup kerja karena

spesifikasi teknis kurang jelas Spesifikasi yang tidak jelas pada dokumen tender Jumlah engineer kurang

Tenaga engineer belum sesuai kualifikasi 8 Penyelesaian desain detail

terlambat Spesifikasi yang tidak jelas pada dokumen tenderJumlah engineer belum berpengalaman 9 Kualitas produk tidak sesuai

persyaratan Sistem pengendalian kualitas lemahMetode kerja yang dilaksanakan salah

Skill tenaga kerja belum memenuhi persyaratan 1

0 Kesalahan membuat metode kerja Spesifikasi yang tidak jelas pada dokumenpenawaran Kesalahan membuat desain detail

1

1 Jadwal pelaksanaan tidak dapat dilaksanakan sesuai rencana, proyek terlambat diselesaikan

Kenaikan harga yang tidak di-cover dalam kontrak, kontrak bersifat lumpsum

Akibat tidak punya pengalaman, terjadi waste yang melebihi estimasi

Produktivitas peralatan dan tenaga rendah 1

3 Jumlah tenaga kerja belum sesuai kebutuhan

Jumlah engineer kurang

(18)

N

o Risiko Usaha PT INKA Penyebab

1

6 Produktivitas peralatan rendah Peralatan yang sudah tua, kinerja sudah tidakoptimal Terjadi kerusakan pada peralatan

1

7 Modal kerja kurang Jumlah modal terbatasTerbatasnya jumlah sumber pinjaman 1

8 Cash flow tidak seimbang Metode pembayaran tidak sesuai dengan kebutuhanpendanaan Jumlah pembayaran untuk material impor lebih awal dari pembayaran dari customer proyek

E. ANALISIS RISIKO

Analisis risiko bertujuan untuk memperoleh pemahaman tentang tingkatan risiko dan sifat dasar risiko yang telah diidentifikasi. Analisis risiko akan membantu menetapkan opsi-opsi mitigasi untuk risiko prioritas. Tingkatan risiko akan dihitung berdasarkan nilai kemungkinan (likelihood) dan dampak (impact) risiko terhadap pencapaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam konteks. Adapun tabel nilai (bobot) untuk analisis risiko disajikan sebagai berikut:

Likelihood Impact

Kriteria Nilai Kriteria Nilai

Sangat Kecil 0,10 Sangat Ringan 0,05

Kecil 0,30 Ringan 0,10

Sedang 0,50 Sedang 0,20

Besar 0,70 Berat 0,40

Sangat Besar 1,00 Ekstrem 0,80

1. Analisis Risiko Operasional PT KAI

N

o Risiko Operasional PT KAI

Nilai

Risiko Kemungkina

n Dampak

1 Keterbatasan suplai suku cadang 0,70 0,40 0,280 2 Keterbatasan kapasitas Depo/Balai

Yasa 0,70 0,40 0,280

3 Gangguan dan kerusakan pada rel, peralatan persinyalan dan listrik aliran

atas 0,70 0,40 0,280

4 Rendahnya jumlah armada yang dapat

dioperasionalkan 0,50 0,40 0,200 5 Terbatasnya sarana perkeretaapian

yang didominasi di Pulau Jawa 0,30 0,05 0,015 6 Meledaknya pengguna jasa

transportasi pada musim-musim

tertentu 1,00 0,20 0,200

7 Minimnya jumlah stasiun yang dapat

dioptimalkan 0,10 0,10 0,010

8 Keterlambatan jadwal keberangkatan

dan kedatangan 0,50 0,40 0,200

9 Tidak diminatinya jasa-jasa penunjang

perkeretaapian PT KAI 0,10 0,10 0,100 1

(19)

N

1 Menurunnya pendapatan perseroan 0,30 0,10 0,030 1

2 Kebakaran dan kecelakaan kereta api 0,50 0,80 0,400 1

3 Bencana alam 0,50 0,80 0,400

1

4 Terbatasnya tenaga ahli dan tenagakerja dengan skill tertentu 0,30 0,40 0,120 1

5 Pelanggaran aturan dan kode etikdalam perusahaan 0,50 0,20 0,100 1

6 Kondisi pasar jasa transportasicenderung berubah 0,50 0,10 0,050 1

7 Program kerja yang dijadwalkan tidakdapat diimplementasikan 0,10 0,50 0,050 1

8 Minimnya sosialisasi dan konsultasidengan pemangku kepentingan 0,10 0,10 0,010 1

9 Risiko investasi dengan mitra dalamnegeri dan luar negeri 0,10 0,20 0,020 2

0 Terbatasnya mitra pengguna angkutankereta api barang 0,70 0,40 0,280 2

1 Risiko komoditi pengadaan 0,10 0,50 0,050 2

2 Penyimpanganpelaksanaan proyek waktu start 0,10 0,10 0,010 2

3 Penyimpanganpelaksanaan proyekwaktu delivery 0,10 0,20 0,020 2

4 Penyimpangan biaya realisasi proyek 0,30 0,40 0,120 2

5 Impor sebagian besar sarana dan sukucadang kereta api 0,50 0,40 0,200 2

6 Cash flow tidak seimbang 0,10 0,10 0,010 2

7 Risiko kesulitan pendanaan 0,10 0,20 0,200 2

8 Pinjaman jangka pendek dan jangkapanjang dengan bunga mengambang 0,10 0,05 0,005

2. Analisis Risiko Usaha PT INKA

N

1 Tidak diundang tender 0,10 0,05 0,005 2 Gagal dalam prakualifikasi 0,10 0,05 0,005 3 Gagal dalam penawaran 0,50 0,05 0,025 4 Gagal dalam negosiasi 0,50 0,05 0,025 5 Proyek ditunda atau perubahan lingkup

kerja setelah kontrak 0,10 0,40 0,040 6 Kesalahan menghitung harga 0,50 0,10 0,050 7 Kesalahan dalam pemilihan teknologi

dan penentuan komponen utama 0,50 0,80 0,400 8 Penyelesaian desain detail terlambat 0,70 0,40 0,280 9 Kualitas produk tidak sesuai

persyaratan 0,50 0,20 0,100

1

0 Kesalahan membuat metode kerja 0,50 0,20 0,100 1

1 Jadwal pelaksanaan tidak dapat dilaksanakan sesuai rencana, proyek

(20)

N

o Risiko Usaha PT INKA

Nilai

Risiko Kemungkina

n Dampak

2 1

3 Jumlah tenaga kerja belum sesuai kebutuhan 0,70 0,40 0,280 1

4 Kualifikasi dan skill tenaga kerja tidak sesuai 0,50 0,40 0,200 1

5 Kapasitas produksi tidak mencukupi 0,50 0,40 0,200 1

6 Produktivitas peralatan rendah 0,50 0,20 0,100 1

7 Modal kerja kurang 0,30 0,10 0,030 1

8 Cash flow tidak seimbang 0,50 0,10 0,050

F. EVALUASI RISIKO

Evaluasi risiko dilakukan melalui pemetaan risiko yang menggambarkan hubungan antara kemungkinan dan dampak yang diakibatkan terhadap pencapaian tujuan. Peta risiko dibagi menjadi tiga daerah yaitu tinggi, sedang, dan rendah sebagaimana disajikan berikut ini:

0,08

0,24

0,40

0,56

0,72

0,04

0,12

0,20

0,28

0,36

0,02

0,08

0,10

0,14

0,18

0,01

0,03

0,05

0,07

0,09

0,01

0,02

0,03

0,04

0,05

1. Evaluasi Risiko Operasional PT KAI

N

o Risiko Operasional PT KAI Risiko Klasifikasi

1 Kebakaran dan kecelakaan kereta api 0,400 Risiko Tinggi

Risiko

Risiko

(21)

N

o Risiko Operasional PT KAI Risiko Klasifikasi

2 Bencana alam 0,400 Risiko Tinggi 3 Keterbatasan suplai suku cadang 0,280 Risiko Tinggi 4 Keterbatasan kapasitas Depo/Balai Yasa 0,280 Risiko Tinggi 5 Gangguan dan kerusakan pada rel, peralatan

persinyalan dan listrik aliran atas 0,280 Risiko Tinggi 6 Terbatasnya mitra pengguna angkutan kereta api

barang 0,280 Risiko Tinggi

7 Rendahnya jumlah armada yang dapat

dioperasionalkan 0,200 Risiko Sedang 8 Meledaknya pengguna jasa transportasi pada

musim-musim tertentu 0,200 Risiko Sedang 9 Keterlambatan jadwal keberangkatan dan

kedatangan 0,200 Risiko Sedang

1

0 Impor sebagian besar sarana dan suku cadangkereta api 0,200 Risiko Sedang 1

1 Risiko kesulitan pendanaan 0,200 Risiko Sedang 1

2 Penyimpangan biaya realisasi proyek 0,120 Risiko Sedang 1

3 Terbatasnya tenaga ahli dan tenaga kerja denganskill tertentu 0,120 Risiko Sedang 1

4 Tidak diminatinya jasa-jasa penunjang perkeretaapian PT KAI 0,100 Risiko Sedang 1

5 Pelanggaran aturan dan kode etik dalamperusahaan 0,100 Risiko Sedang 1

6 Kondisi pasar jasa transportasi cenderungberubah 0,050 Risiko Rendah 1

7 Program kerja yang dijadwalkan tidak dapatdiimplementasikan 0,050 Risiko Rendah 1

8 Risiko komoditi pengadaan 0,050 Risiko Rendah 1

9 Menurunnya pendapatan perseroan 0,030 Risiko Rendah 2

0 Risiko investasi dengan mitra dalam negeri danluar negeri 0,020 Risiko Rendah 2

1 Penyimpangan waktuproyek delivery pelaksanaan 0,020 Risiko Rendah 2

2 Terbatasnya sarana perkeretaapian yang didominasi di Pulau Jawa 0,015 Risiko Rendah 2

3 Minimnya jumlah stasiun yang dapat dioptimalkan 0,010 Risiko Rendah 2

4 Minimnya sosialisasi dan konsultasi denganpemangku kepentingan 0,010 Risiko Rendah 2

5 Penyimpangan waktu start pelaksanaan proyek 0,010 Risiko Rendah 2

6 Cash flow tidak seimbang 0,010 Risiko Rendah 2

7 Perseroan tidak dapat mengambil keuntungandengan menaikkan tarif 0,005 Risiko Rendah 2

8 Pinjaman jangka pendek dan jangka panjangdengan bunga mengambang 0,005 Risiko Rendah

Jika dilihat dari tabel di atas, maka yang menjadi prioritas PT KAI dalam manajemen risiko operasional untuk menjaga kualitas layanan dan meningkatkan laba perusahaan dengan menjalankan strategi diferensiasi dalam rangka pertumbuhan (growth) adalah risiko terkait:

(22)

b. Sarana dan prasarana, yaitu keterbatasan suplai suku cadang, keterbasan kapasitas Depo/Balai Yasa, gangguan dan kerusakan pada rel, peralatan persinyalan, dan listrik aliran atas;

c. Kemitraan, yaitu terbatasnya mitra pengguna angkutan barang.

Risiko-risiko prioritas di atas dipilih dengan mempertimbangkan empat pilar utama yang dijunjung oleh PT KAI yaitu empat pilar utama keselamatan, ketepatan waktu, pelayanan, dan kenyamanan.

2. Evaluasi Risiko Usaha PT INKA

N

o Risiko Usaha PT INKA Risiko Klasifikasi

1 Kesalahan dalam pemilihan teknologi dan

penentuan komponen utama 0,400 Risiko Tinggi 2 Penyelesaian desain detail terlambat 0,280 Risiko Tinggi 3 Jumlah tenaga kerja belum sesuai kebutuhan 0,280 Risiko Tinggi 4 Jadwal pelaksanaan tidak dapat dilaksanakan

sesuai rencana, proyek terlambat diselesaikan 0,200 Risiko Sedang 5 Kualifikasi dan skill tenaga kerja tidak sesuai 0,200 Risiko Sedang 6 Kapasitas produksi tidak mencukupi 0,200 Risiko Sedang 7 Kualitas produk tidak sesuai persyaratan 0,100 Risiko Sedang 8 Kesalahan membuat metode kerja 0,100 Risiko Sedang 9 Pembengkakan biaya produksi 0,100 Risiko Sedang 1

0 Produktivitas peralatan rendah 0,100 Risiko Sedang 1

1 Kesalahan menghitung harga 0,050 Risiko Rendah 1

2 Cash flow tidak seimbang 0,050 Risiko Rendah 1

3 Proyek ditunda atau perubahan lingkup kerja setelah kontrak 0,040 Risiko Rendah 1

4 Modal kerja kurang 0,030 Risiko Rendah 1

5 Gagal dalam penawaran 0,025 Risiko Rendah 1

6 Gagal dalam negosiasi 0,025 Risiko Rendah 1

7 Tidak diundang tender 0,005 Risiko Rendah 1

8 Gagal dalam prakualifikasi 0,005 Risiko Rendah

Jika dilihat dari tabel di atas, maka yang menjadi prioritas PT INKA dalam manajemen risiko usaha dalam rangka menjaga kesinambungan usaha perusahaan dan mendukung industri perkeretaapian Indonesia adalah risiko terkait:

a. Rekayasa teknologi, yaitu kesalahan dalam pemilihan teknologi dan penentuan komponen utama;

b. Desain teknologi, yaitu keterlambatan penyelesaian desain detail; dan

c. Sumber daya manusia, yaitu jumlah tenaga kerja yang belum sesuai dengan kebutuhan.

(23)

G.

MITIGASI RISIKO

Dari hasil evaluasi risiko, maka risiko tinggi dan risiko sedang menjadi risiko yang secara prioritas harus dimitigasi untuk meminimalkan dampak negatif dan kemungkinan terjadinya risiko. Langkah-langkah mitigasi risiko tersebut disajikan dalam tabel berikut:

1. Mitigasi Risiko Operasional PT KAI

N

o Risiko Operasional PT KAI Perlakuan (Mitigasi Risiko)

1 Kebakaran dan kecelakaan kereta api

 Penyiap-siagaan backup systems.

 Prosedur kerja untuk sistem pemadam kebakaran, tangga darurat.

 Coverage asuransi untuk meminimalkan kerugian/dampak negatif.

2 Bencana alam  Memastikan adanya sistem peringatan dini (alarm) dan business continuity planning/contingency plan terhadap kondisi bencana.

 Prosedur kerja untuk darurat bencana alam. 3 Keterbatasan suplai suku

cadang Pengaturan penggunaan dan suplai suku cadangyang lebih baik. 4 Keterbatasan kapasitas

Depo/Balai Yasa Optimalisasi kapasitas Depo/Balai Yasa, penjadwalanpemeliharaan dengan memperhitungkan saat sibuk (peak season) yaitu ketika liburan sekolah, lebaran, natal, tahun baru.

5 Gangguan dan kerusakan pada rel, peralatan persinyalan dan listrik aliran atas

 Optimalisasi perawatan prasarana, ketelitian pemeriksaan, serta kerjasama tim yang baik.

 Mempercepat pembangunan atau penyelesaian infrastruktur pendukung (stasiun loading-unloading).

 Penambahan daya listrik dan penambahan sinyal dan stasiun.

 Peremajaan gerbong kereta api, renovasi dan sterilisasi stasiun.

6 Terbatasnya mitra pengguna angkutan kereta api barang

 Memprioritaskan pelayanan terhadap permintaan jasa angkutan barang dalam jumlah besar dan kontinu, berjarak tempuh jauh, dan bertarif tinggi serta pengangkutan berdasarkan perjanjian.

 Mengoptimalkan armada angkutan semen dengan menambah frekuensi perjalanan dan mengangkut semen kantongan pada waktu kembali.

 Menyesuaikan tarif secara selektif dan bertahap.

 Menetapkan tarif ‘all in’ angkutan BBM.

 Meningkatkan kelancaran, ketepatan waktu/kecepatan pelayanan berikut pengirimannya dengan tingkat jaminan keamanan yang tetap tinggi.

 Meningkatkan faktor muatan (load factor). 7 Rendahnya jumlah armada yang

dapat dioperasionalkan

 Pembenahan koordinasi ketersediaan armada antara lokomotif dengan kereta, dan gerbong.

(24)

N

o Risiko Operasional PT KAI Perlakuan (Mitigasi Risiko)

transportasi pada musim-musim

tertentu  bekerjasama dengan mitra eksternal.Melakukan sosialisasi dan promosi di media nasional terkait penjualan tiket kereta menjelang peak season.

 Persiapan posko angkutan menjelang peak season.

 Persiapan kereta api tambahan.

 Peningkatan bandwidth dan kemudahan akses ke website untuk memfasilitasi pemesanan tiket secara online.

9 Keterlambatan jadwal

keberangkatan dan kedatangan

 Memanfaatkan teknologi informasi untuk memperbaiki proses perencanaan dan operasi untuk meningkatkan keselamatan, ketepatan waktu, pelayanan, dan keamanan.

1 Risiko kesulitan pendanaan Memastikan studi kelayakan yang bankable dibuatoleh konsultan independen yang kredibel dan bereputasi baik di kalangan bisnis internasional. 1

2 Penyimpangan biaya realisasiproyek

 Penajaman survey/perencanaan dan scope proyek.

 Amandemen kontrak, memastikan pasal-pasal pengaman risiko proyek.

 Right-sizing SDM dan pengurangan pegawai secara organik sesuai kebutuhan.

 Fokus perekrutan terhadap pegawai lulusan sarjana, terutama untuk posisi-posisi dengan keahlian khusus dan sangat sulit dicari di pasar tenaga kerja.

 Menyelenggarakan berbagai macam pelatihan peningkatan kompetensi pegawai, baik yang bersifat fungsional maupun manajerial.

 Memberi kesempatan yang lebih luas bagi pegawai untuk mengikuti pendidikan formal yang terkait dengan peningkatan kemampuan manajerial, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

1

4 Tidak diminatinya jasa-jasa penunjang perkeretaapian PT KAI

 Strategi pemasaran produk/jasa dan pemanfaatan social media.

 Perencanaan aliansi strategis/skema kerjasama bisnis (risk sharing).

1

5 Pelanggaran aturan dan kodeetik dalam perusahaan

 Memastikan kepatuhan kode etik dan peraturan internal dengan hukum dan peraturan terkait yang berlaku.

(25)

2. Mitigasi Risiko Usaha PT INKA

N

o Risiko Usaha PT INKA Perlakuan (Mitigasi Risiko)

1 Kesalahan dalam pemilihan teknologi dan penentuan komponen utama

 Minta penjelasan lebih detail pada saat aanwijzing.  Merekrut tenaga ahli untuk membuat kajian pemilihan teknologi sebagai konsultan atau melalui outsourcing.

3 Jumlah tenaga kerja belum sesuai kebutuhan

 Merekrut tenaga ahli sesuai persyaratan melalui outsourcing.

 Merekrut tenaga teknisi baru. 4 Jadwal pelaksanaan tidak dapat

dilaksanakan sesuai rencana,

5 Kualifikasi dan skill tenaga kerja tidak sesuai

 Merekrut tenaga ahli sesuai persyaratan melalui outsourcing.

 Melakukan training untuk meningkatkan skill tenaga kerja. disubkonkan, dibutuhkan tambahan biaya untuk tim task force.

7 Kualitas produk tidak sesuai persyaratan

kerja  Minta penjelasan lebih detail pada saat aanwijzing.Merekrut tenaga ahli sesuai persyaratan melalui outsourcing.

9 Pembengkakan biaya produksi  Melakukan komunikasi yang intensif dengan mitra kerja untuk mendapatkan harga yang kompetitif.

 Melakukan peningkatan manajemen perawatan dan manajemen personalia yang lebih kompetitif.

 Pembentukan task force untuk pekerjaan yang disubkonkan, dibutuhkan tambahan biaya untuk tim task force.

(26)

Rencana pengadaan lokomotif sebagai program pemerintah yang termuat dalam Rencana Strategis Kementerian Perhubungan tahun 2010-2014 dan poses tender lokomotif yang dilakukan secara terbuka dan dapat diikuti oleh peserta luar negeri menjadi ancaman dan peluang untuk bisnis perkeretaapian PT INKA. Demikian pula halnya dengan status PT KAI yang telah berubah dari perusahaan pelayanan publik menjadi perusahaan jasa yang memungkinkan untuk meningkatkan laba melalui jasa perkeretaapian maupun non perkeretaapian yang juga menjadi ancaman dan peluang untuk operasional PT KAI dalam melayani masyarakat dan mempertahankan kinerja secara profesional.

Kebijakan manajemen risiko dalam industri perkeretaapian merupakan bagian integral dari proses bisnis perusahaan dan pengambilan keputusan oleh manajemen, serta tumbuh menjadi budaya bagi seluruh personil perusahaan sesuai Keputusan Menteri Negara BUMN Republik Indonesia No. KEP-117/M-MBU/2002 tentang Penerapan Good Corporate Governance pada BUMN. Sesuai

Australian Standard Guidelines Companion to AS:NZS 436:2004, manajemen risiko dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang untuk meningkatkan outcome perusahaan dan mengurangi dampak negatif dari risiko. Risiko didefinisikan sebagai kemungkinan terjadinya sesuatu yang akan berdampak pada pencapaian tujuan. Risiko harus difokuskan sesuai konteks yang telah ditetapkan. PT KAI berorientasi pada kualitas layanan dan peningkatan laba perusahaan, sedangkan PT INKA pada kesinambungan usaha sebagai satu-satunya perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang perkeretaapian di Indonesia. Kedua jenis manajemen risiko ini tidak dapat dipisahkan karena manajemen risiko PT INKA menjadi mitigasi risiko dalam penyediaan armada PT KAI, dan secara kumulatif keduanya membangun manajemen risiko yang komprehensif untuk tujuan industri perkeretaapian Indonesia.

Berdasarkan hasil evaluasi risiko, PT KAI menghadapi risiko prioritas berupa katastropik (kebakaran, kecelakaan kereta api, dan bencana alam), sarana dan prasarana (keterbatasan suplai suku cadang, keterbasan kapasitas Depo/Balai Yasa, gangguan dan kerusakan pada rel, peralatan persinyalan, dan listrik aliran atas), dan kemitraan (terbatasnya mitra pengguna angkutan barang). PT INKA menghadapi risiko prioritas berupa rekayasa teknologi (kesalahan dalam pemilihan teknologi dan penentuan komponen utama), desain teknologi (keterlambatan penyelesaian desain detail), dan sumber daya manusia (jumlah tenaga kerja yang belum sesuai dengan kebutuhan).

Seluruh risiko prioritas tersebut harus dimitigasi dalam rangka meminimalkan dampak negatif risiko terhadap pencapaian tujuan dan dilakukan dengan pengelolaan risiko secara day to day risk management activities, dengan berlandaskan prinsip kehati-hatian tidak hanya untuk mencapai tujuan perseroan, tetapi untuk menciptakan industri perkeretaapian nasional yang berkualitas, berdaya saing, dan memenuhi kebutuhan publik.

(27)

AS:NZS ISO 31000:2009 Risk Management – Principles and Guidelines. Berrado, Abdelaziz, dkk. 2011. The Open Transportation Journal: A Framework for

Risk Management in Railway Sector: Application to Road-Rail Level Crossings.

Laporan Tahunan 2013 PT Kereta Api Indonesia.

Risk Management Guidelines Companion To AS/NZS 4360:2004. Website PT Industri Kereta Api. http://inka.web.id

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor-faktor pertumbuhan ekonomi (pertumbuhan tenaga kerja, pertumbuhan kredit investasi

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Kelompok Bank Nagari Wilayah Bukittinggi dan Agam. Dari struktur analisis jalur akan dilakukan analisis untuk mengetahui tingkat

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara fungsi kognitif dengan gejala Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) pada pasien pasca

Dalam hal ini karena UU Perkawinan merupakan aturan yang bersifat khusus yaitu mengenai perkawinan maka kedudukannya berada pada lex specialist sedangkan KUH

Hasil ini menunjukkan paparan cahaya biru lebih efektif memperbaiki fungsi kognitif dan menurunkan kadar melatonin serum pada perawat kerja gilir dibandingkan cahaya putih.. Kata

Variabel yang berkenaan dengan peran dan fungsi profesi meliputi (1) kinerja yang ditunjukkan konselor merupakan tugas yang harus dia lakukan untuk memfasilitasi perkembangan

Demikian juga menurut pengamat berdasarkan hasil analisis video pembelajaran menggunakan lembar observasi kelas dikjasor masuk dalam kategori baik dengan nilai 68,35%; (3)

Dalam mengumpulkan informasi mengenai hakikat PAK Anak, peneliti melakukan wawancara mengenai tiga hal, yaitu: pemahaman tentang PAK, pemahaman tentang anak dan pemahaman