• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan Perundangan UU NO 18 TH 2006

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peraturan Perundangan UU NO 18 TH 2006"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2006

TENTANG

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2007

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa dal am rangka mel aksanakan amanat Pasal 23 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republ ik Indonesia Tahun 1945, Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapat an dan Bel anj a Negara (APBN) sebagai wuj ud dari pengel ol aan keuangan negara diaj ukan ol eh Presiden set iap t ahun unt uk dibahas bersama Dewan Perwakil an Rakyat dengan memperhat ikan pert imbangan Dewan Perwakil an Daerah;

b. bahwa APBN Tahun Anggaran 2007 disusun sesuai dengan kebut uhan penyel enggaraan pemerint ahan negara dan kemampuan dal am menghimpun pendapat an negara dal am rangka mendukung t erwuj udnya perekonomian nasional berdasarkan at as demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, ef isiensi berkeadil an, berkel anj ut an, berwawasan l ingkungan, kemandirian, sert a dengan menj aga keseimbangan kemaj uan dan kesat uan ekonomi nasional ;

c. bahwa penyusunan APBN Tahun Anggaran 2007 berpedoman pada Rencana Kerj a Pemerint ah t ahun 2007 dal am rangka mewuj udkan Indonesia yang aman dan damai, adil dan demokrat is, dan meningkat kan kesej aht eraan rakyat ;

d. bahwa pembahasan Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2007 ant ara Dewan Perwakilan Rakyat bersama Pemerint ah t el ah memperhat ikan pert imbangan Dewan Perwakil an Daerah sebagaimana t ert uang dal am Surat Keput usan DPD Nomor 28/ DPD/ 2006 t anggal 13 Jul i 2006;

e. bahwa berdasarkan pert imbangan sebagaimana dimaksud dal am huruf a, b, c, dan d, perl u membent uk Undang-Undang t ent ang Anggaran Pendapat an dan Bel anj a Negara Tahun Anggaran 2007;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2) dan ayat (4), Pasal 23 ayat (1) dan (2), Pasal 31 ayat (4), dan Pasal 33 ayat (1), (2), (3) dan (4) Undang-Undang Dasar Negara Republ ik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 t ent ang Paj ak Penghasil an

(Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana t el ah beberapa kal i diubah t erakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 3985);

(2)

Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 4357);

4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 t ent ang Ot onomi Khusus bagi Provinsi Papua (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 2001 Nomor 135, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 4151);

5. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 t ent ang Surat Ut ang Negara (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 2002 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 4236);

6. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 t ent ang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 4286); 7. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 t ent ang Badan Usaha Mil ik

Negara (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 4297);

8. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 t ent ang Sist em Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 4301);

9. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 t ent ang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 4355); 10. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 t ent ang Pembent ukan

Perat uran Perundang-undangan (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 4389);

11. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 t ent ang Pemeriksaan Pengel ol aan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 4400);

12. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 t ent ang Sist em Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 4421);

13. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 t ent ang Pemerint ahan Daerah (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 4437);

14. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 t ent ang Perimbangan Keuangan ant ara Pemerint ah Pusat dan Pemerint ahan Daerah (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republ ik Indonesia Nomor 4438); 15. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 t ent ang Pemerint ahan

(3)

Dengan Perset uj uan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN:

Menet apkan : UNDANG-UNDANG TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA

NEGARA TAHUN ANGGARAN 2007.

Pasal 1

Dal am Undang-Undang ini, yang dimaksud dengan:

1. Pendapat an negara dan hibah adal ah semua penerimaan negara yang berasal dari penerimaan perpaj akan, penerimaan negara bukan paj ak, sert a penerimaan hibah dari dal am negeri dan l uar negeri. 2. Penerimaan perpaj akan adal ah semua penerimaan yang t erdiri dari

paj ak dal am negeri dan paj ak perdagangan int ernasional .

3. Paj ak dal am negeri adal ah semua penerimaan negara yang berasal dari paj ak penghasil an, paj ak pert ambahan nil ai barang dan j asa dan paj ak penj ual an at as barang mewah, paj ak bumi dan bangunan, bea perol ehan hak at as t anah dan bangunan, cukai, dan paj ak l ainnya.

4. Paj ak perdagangan int ernasional adal ah semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan paj ak/ pungut an ekspor.

5. Penerimaan negara bukan paj ak adal ah semua penerimaan yang dit erima negara dal am bent uk penerimaan dari sumber daya al am, bagian pemerint ah at as l aba badan usaha mil ik negara sert a penerimaan negara bukan paj ak l ainnya.

6. Penerimaan hibah adal ah semua penerimaan negara yang berasal dari sumbangan swast a dal am negeri sert a sumbangan l embaga swast a dan pemerint ah l uar negeri.

7. Bel anj a negara adal ah semua pengel uaran negara yang digunakan unt uk membiayai bel anj a pemerint ah pusat dan bel anj a ke daerah. 8. Bel anj a pemerint ah pusat menurut organisasi adal ah semua

pengel uaran negara yang dial okasikan kepada kement erian/ l embaga, sesuai dengan program-program yang akan dij al ankan.

9. Bel anj a pemerint ah pusat menurut f ungsi adal ah semua pengel uaran negara yang digunakan unt uk menj al ankan f ungsi pel ayanan umum, f ungsi pert ahanan, f ungsi ket ert iban dan keamanan, f ungsi ekonomi, f ungsi l ingkungan hidup, f ungsi perumahan dan f asil it as umum, f ungsi kesehat an, f ungsi pariwisat a dan budaya, f ungsi agama, f ungsi pendidikan, dan f ungsi perl indungan sosial .

10. Bel anj a pemerint ah pusat menurut j enis adal ah semua pengel uaran negara yang digunakan unt uk membiayai bel anj a pegawai, bel anj a barang, bel anj a modal , pembayaran bunga ut ang, subsidi, bel anj a hibah, bant uan sosial , dan bel anj a l ain-l ain.

(4)

dil aksanakan, kecual i pekerj aan yang berkait an dengan pembent ukan modal .

12. Bel anj a barang adal ah semua pengel uaran negara yang digunakan unt uk membiayai pembel ian barang dan j asa yang habis pakai unt uk memproduksi barang dan j asa, baik yang dipasarkan maupun yang t idak dipasarkan.

13. Bel anj a modal adal ah semua pengel uaran negara yang dil akukan dal am rangka pembent ukan modal dal am bent uk t anah, peral at an dan mesin, gedung dan bangunan, j aringan, sert a dalam bent uk f isik l ainnya.

14. Pembayaran bunga ut ang adal ah semua pengel uaran negara yang digunakan unt uk pembayaran at as kewaj iban penggunaan pokok ut ang (

principal out st anding

), baik ut ang dal am negeri maupun ut ang l uar negeri, yang dihit ung berdasarkan posisi pinj aman.

15. Subsidi adal ah al okasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/ l embaga yang memproduksi, menj ual , mengekspor, at au mengimpor barang dan j asa, yang memenuhi haj at hidup orang banyak sedemikian rupa, sehingga harga j ual nya dapat dij angkau ol eh masyarakat .

16. Bel anj a hibah adal ah semua pengel uaran negara dal am bent uk t ransf er uang/ barang yang sif at nya t idak waj ib kepada negara l ain at au kepada organisasi int ernasional .

17. Bant uan sosial adal ah semua pengel uaran negara dal am bent uk t ransf er uang/ barang yang diberikan kepada masyarakat mel al ui kement erian/ l embaga, guna mel indungi dari t erj adinya berbagai risiko sosial .

18. Bel anj a l ain-l ain adal ah semua pengel uaran at au bel anj a pemerint ah pusat yang t idak dapat dikl asif ikasikan ke dal am j enis-j enis bel anenis-j a sebagaimana dimaksud pada angka 11 sampai dengan angka 17, dan dana cadangan umum.

19. Bel anj a ke daerah adal ah semua pengel uaran negara unt uk membiayai dana perimbangan sert a dana ot onomi khusus dan penyesuaian.

20. Dana perimbangan adal ah dana yang bersumber dari pendapat an APBN yang dial okasikan kepada daerah unt uk mendanai kebut uhan daerah dal am rangka pel aksanaan desent ral isasi, yang t erdiri at as dana bagi hasil , dana al okasi umum, dan dana al okasi khusus, sebagaimana dimaksud dal am Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 t ent ang Perimbangan Keuangan ant ara Pemerint ah Pusat dan Pemerint ahan Daerah.

21. Dana bagi hasil , sel anj ut nya disingkat DBH adal ah dana yang bersumber dari pendapat an APBN yang dial okasikan kepada daerah berdasarkan angka persent ase unt uk mendanai kebut uhan daerah dal am rangka pel aksanaan desent ral isasi, sebagaimana dimaksud dal am Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 t ent ang Perimbangan Keuangan ant ara Pemerint ah Pusat dan Pemerint ahan Daerah.

(5)

23. Dana al okasi khusus, sel anj ut nya disingkat DAK adal ah dana yang bersumber dari pendapat an APBN yang dial okasikan kepada daerah t ert ent u dengan t uj uan unt uk membant u mendanai kegiat an khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan priorit as nasional , sebagaimana dimaksud dal am Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 t ent ang Perimbangan Keuangan ant ara Pemerint ah Pusat dan Pemerint ahan Daerah.

24. Dana ot onomi khusus dan penyesuaian adal ah dana yang dial okasikan unt uk membiayai pel aksanaan ot onomi khusus suat u daerah, sebagaimana dit et apkan dal am Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 t ent ang Ot onomi Khusus bagi Provinsi Papua, dan penyesuaian unt uk beberapa daerah t ert ent u yang menerima DAU l ebih kecil dari t ahun anggaran sebel umnya.

25. Sisa kredit anggaran adal ah sisa kewaj iban pembiayaan program-program pembangunan pada akhir t ahun anggaran.

26. Sisa l ebih pembiayaan anggaran adal ah sel isih l ebih ant ara real isasi pembiayaan dengan real isasi def isit anggaran yang t erj adi.

27. Pembiayaan def isit anggaran adal ah semua j enis pembiayaan yang digunakan unt uk menut up def isit anggaran negara dal am APBN. 28. Pembiayaan dal am negeri adal ah semua pembiayaan yang berasal

dari perbankan dan nonperbankan dal am negeri yang mel iput i hasil privat isasi, penj ual an aset perbankan dal am rangka program rest rukt urisasi, surat ut ang negara, dan dukungan inf rast rukt ur.

29. Surat ut ang negara adal ah surat berharga yang berupa surat pengakuan ut ang dal am mat a uang rupiah maupun val ut a asing yang dij amin pembayaran bunga dan pokoknya ol eh Negara Republ ik Indonesia sesuai dengan masa berl akunya, sebagaimana dimaksud dal am Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 t ent ang Surat Ut ang Negara.

30. Dukungan inf rast rukt ur adal ah dukungan Pemerint ah dal am bent uk kompensasi f inansial dan/ at au kompensasi dal am bent uk l ain yang diberikan ol eh Pemerint ah kepada Badan Usaha mel al ui skema pembagian risiko dal am pel aksanaan proyek kerj asama penyediaan inf rast rukt ur.

31. Pembiayaan l uar negeri bersih adal ah semua pembiayaan yang berasal dari penarikan ut ang/ pinj aman l uar negeri yang t erdiri dari pinj aman program dan pinj aman proyek, dikurangi dengan pembayaran cicil an pokok ut ang/ pinj aman l uar negeri.

32. Pinj aman program adal ah nil ai l awan rupiah dari pinj aman l uar negeri dal am bent uk val ut a asing yang dapat dirupiahkan.

33. Pinj aman proyek adal ah pinj aman l uar negeri yang digunakan unt uk membiayai kegiat an pembangunan t ert ent u.

34. Tahun Anggaran 2007 mel iput i masa 1 (sat u) t ahun t erhit ung mul ai dari t anggal 1 Januari sampai dengan t anggal 31 Desember 2007.

Pasal 2

(1) Anggaran Pendapat an Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2007 diperol eh dari sumber-sumber:

a. Penerimaan perpaj akan;

(6)

(2) Penerimaan perpaj akan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp509. 462. 000. 000. 000, 00 (l ima rat us sembil an t ril iun empat rat us enam pul uh dua mil iar rupiah).

(3) Penerimaan negara bukan paj ak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp210. 926. 957. 783. 000, 00 (dua rat us sepul uh t ril iun sembil an rat us dua pul uh enam mil iar sembil an rat us l ima pul uh t uj uh j ut a t uj uh rat us del apan pul uh t iga ribu rupiah).

(4) Penerimaan hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp2. 668. 965. 000. 000, 00 (dua t ril iun enam rat us enam pul uh del apan mil iar sembil an rat us enam pul uh l ima j ut a rupiah).

(5) Juml ah anggaran pendapat an negara dan hibah Tahun Anggaran 2007 sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) direncanakan sebesar Rp723. 057. 922. 783. 000, 00 (t uj uh rat us dua pul uh t iga t ril iun l ima pul uh t uj uh mil iar sembil an rat us dua pul uh dua j ut a t uj uh rat us del apan pul uh t iga ribu rupiah).

Pasal 3

(1) Penerimaan perpaj akan sebagaimana dimaksud dal am Pasal 2 ayat (2) t erdiri dari:

a. Paj ak dal am negeri; dan

b. Paj ak perdagangan int ernasional .

(2) Penerimaan paj ak dal am negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp494. 591. 600. 000. 000, 00 (empat rat us sembil an pul uh empat t ril iun l ima rat us sembil an pul uh sat u mil iar enam rat us j ut a rupiah).

(3) Penerimaan paj ak perdagangan int ernasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp14. 870. 400. 000. 000, 00 (empat bel as t ril iun del apan rat us t uj uh pul uh mil iar empat rat us j ut a rupiah).

(4) Rincian penerimaan perpaj akan Tahun Anggaran 2007 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) adal ah sebagaimana t ercant um dal am penj el asan ayat ini.

Pasal 4

(1) Penerimaan negara bukan paj ak sebagaimana dimaksud dal am Pasal 2 ayat (3) t erdiri dari:

a. Penerimaan sumber daya al am;

b. Bagian pemerint ah at as l aba badan usaha milik negara; dan c. Penerimaan negara bukan paj ak l ainnya.

(2) Penerimaan sumber daya al am sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp146. 256. 914. 000. 000, 00 (serat us empat pul uh enam t ril iun dua rat us l ima pul uh enam mil iar sembil an rat us empat bel as j ut a rupiah).

(3) Bagian pemerint ah at as l aba badan usaha mil ik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp19. 100. 000. 000. 000, 00 (sembil an bel as t ril iun serat us mil iar rupiah).

(7)

(5) Rincian penerimaan negara bukan paj ak Tahun Anggaran 2007 sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) adal ah sebagaimana t ercant um dal am penj el asan ayat ini.

Pasal 5

(1) Anggaran Bel anj a Negara Tahun Anggaran 2007 t erdiri dari: a. Anggaran bel anj a pemerint ah pusat ; dan

b. Anggaran bel anj a ke daerah.

(2) Anggaran bel anj a pemerint ah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp504. 776. 199. 968. 000, 00 (l ima rat us empat t ril iun t uj uh rat us t uj uh pul uh enam mil iar serat us sembil an pul uh sembil an j ut a sembil an rat us enam pul uh del apan ribu rupiah).

(3) Anggaran bel anj a ke daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp258. 794. 599. 050. 000, 00 (dua rat us l ima pul uh del apan t ril iun t uj uh rat us sembil an pul uh empat mil iar l ima rat us sembil an pul uh sembil an j ut a l ima puluh ribu rupiah). (4) Juml ah anggaran bel anj a negara Tahun Anggaran 2007 sebagaimana

dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) direncanakan sebesar Rp763. 570. 799. 018. 000, 00 (t uj uh rat us enam pul uh t iga t ril iun l ima rat us t uj uh pul uh mil iar t uj uh rat us sembil an pul uh sembil an j ut a del apan bel as ribu rupiah).

Pasal 6

(1) Anggaran bel anj a pemerint ah pusat sebagaimana dimaksud dal am Pasal 5 ayat (1) huruf a dikel ompokkan at as:

a. Bel anj a pemerint ah pusat menurut organisasi; b. Belanj a pemerint ah pusat menurut f ungsi; dan c. Bel anj a pemerint ah pusat menurut j enis bel anj a.

(2) Bel anj a pemerint ah pusat menurut organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp504. 776. 199. 968. 000, 00 (l ima rat us empat t ril iun t uj uh rat us t uj uh pul uh enam mil iar serat us sembil an pul uh sembil an j ut a sembil an rat us enam pul uh del apan ribu rupiah).

(3) Bel anj a pemerint ah pusat menurut f ungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp504. 776. 199. 968. 000, 00 (l ima rat us empat t ril iun t uj uh rat us t uj uh pul uh enam mil iar serat us sembil an pul uh sembil an j ut a sembil an rat us enam pul uh del apan ribu rupiah).

(4) Bel anj a pemerint ah pusat menurut j enis bel anj a sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp504. 776. 199. 968. 000, 00 (l ima rat us empat t ril iun t uj uh rat us t uj uh pul uh enam mil iar serat us sembil an pul uh sembil an j ut a sembil an rat us enam pul uh del apan ribu rupiah).

(5) Rincian l ebih l anj ut dari anggaran bel anj a pemerint ah pusat menurut unit organisasi/ bagian anggaran dan menurut program/ kegiat an dibahas ol eh Dewan Perwakil an Rakyat dengan Pemerint ah.

Pasal 7

(1) Anggaran bel anj a pemerint ah pusat menurut j enis bel anj a sebagaimana dimaksud dal am Pasal 6 ayat (1) huruf c t erdiri dari: a. Bel anj a pegawai;

(8)

c. Bel anj a modal ;

d. Pembayaran bunga ut ang; e. Subsidi;

f . Bel anj a hibah; g. Bant uan sosial ; dan h. Bel anj a lain-l ain.

(2) Rincian anggaran bel anj a pemerint ah pusat Tahun Anggaran 2007 menurut organisasi sebagaimana dimaksud dal am Pasal 6 ayat (2), menurut f ungsi sebagaimana dimaksud dal am Pasal 6 ayat (3), dan menurut j enis bel anj a sebagaimana dimaksud dal am Pasal 6 ayat (4), diat ur l ebih l anj ut dal am Perat uran Presiden yang menj adi l ampiran yang t idak t erpisahkan dari Undang-Undang ini yang dit et apkan pal ing l ambat t anggal 30 November 2006.

Pasal 8

(1) Perubahan rincian l ebih l anj ut dari anggaran bel anj a pemerint ah pusat berupa:

a. pergeseran anggaran bel anj a:

(i) ant arunit organisasi dal am sat u bagian anggaran;

(ii) ant arkegiat an dal am sat u program sepanj ang pergeseran t ersebut merupakan hasil opt imal isasi; dan/ at au

(iii) ant arj enis bel anj a dal am sat u kegiat an.

b. perubahan anggaran bel anj a yang bersumber dari peningkat an penerimaan negara bukan paj ak (PNBP); dan

c. perubahan pagu pinj aman dan hibah l uar negeri (PHLN) sebagai akibat dari l uncuran PHLN;

dit et apkan ol eh Pemerint ah.

(2) Perubahan rincian bel anj a pemerint ah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dil akukan sepanj ang masih dal am sat u provinsi/ kabupat en/ kot a unt uk kegiat an yang dil aksanakan dal am rangka t ugas pembant uan, at au dal am sat u provinsi unt uk kegiat an yang dil aksanakan dal am rangka dekonsent rasi.

(3) Perubahan rincian bel anj a pemerint ah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dil akukan ant arprovinsi/ kabupat en/ kot a unt uk kegiat an operasional yang dil aksanakan ol eh unit organisasi di t ingkat pusat maupun ol eh inst ansi vert ikal nya di daerah.

(4) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2), dan (3) dil aporkan Pemerint ah kepada DPR sebel um dil aksanakan dan dil aporkan pel aksanaannya dal am APBN Perubahan dan/ at au Laporan Keuangan Pemerint ah Pusat .

Pasal 9

(1) Anggaran bel anj a ke daerah sebagaimana dimaksud dal am Pasal 5 ayat (1) huruf b t erdiri dari:

a. Dana perimbangan; dan

b. Dana ot onomi khusus dan penyesuaian.

(2) Dana perimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp250. 342. 751. 050. 000, 00 (dua rat us l ima pul uh t ril iun t iga rat us empat pul uh dua mil iar t uj uh rat us l ima pul uh sat u j ut a l ima pul uh ribu rupiah).

(9)

(del apan t ril iun empat rat us l ima pul uh sat u mil iar del apan rat us empat pul uh del apan j ut a rupiah).

Pasal 10

(1) Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dal am Pasal 9 ayat (1) huruf a t erdiri dari:

a. Dana bagi hasil ;

b. Dana al okasi umum; dan c. Dana al okasi khusus.

(2) Dana bagi hasil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp68. 461. 251. 050. 000, 00 (enam pul uh del apan t ril iun empat rat us enam pul uh sat u mil iar dua rat us l ima pul uh sat u j ut a l ima pul uh ribu rupiah).

(3) Dana al okasi umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp164. 787. 400. 000. 000, 00 (serat us enam pul uh empat t ril iun t uj uh rat us del apan pul uh t uj uh mil iar empat rat us j ut a rupiah).

(4) Dana al okasi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp17. 094. 100. 000. 000, 00 (t uj uh bel as t ril iun sembil an pul uh empat mil iar serat us j ut a rupiah).

(5) Pembagian l ebih l anj ut dana perimbangan dil akukan sesuai dengan ket ent uan dal am Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 t ent ang Perimbangan Keuangan ant ara Pemerint ah Pusat dan Pemerint ahan Daerah.

(6) Rincian dana perimbangan Tahun Anggaran 2007 sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) adal ah sebagaimana t ercant um dal am penj el asan ayat ini.

Pasal 11

(1) Dana ot onomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud dal am Pasal 9 ayat (1) huruf b t erdiri dari:

a. Dana ot onomi khusus; dan b. Dana penyesuaian.

(2) Dana ot onomi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp4. 045. 748. 000. 000, 00 (empat t ril iun empat pul uh l ima mil iar t uj uh rat us empat pul uh del apan j ut a rupiah). (3) Dana penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b

direncanakan sebesar Rp4. 406. 100. 000. 000, 00 (empat t ril iun empat rat us enam mil iar serat us j ut a rupiah).

Pasal 12

(10)

enam j ut a dua rat us t iga pul uh l ima ribu rupiah), yang akan dibiayai dari Pembiayaan Def isit Anggaran.

(2) Pembiayaan Def isit Anggaran Tahun Anggaran 2007 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperol eh dari sumber-sumber:

a. Pembiayaan dal am negeri sebesar Rp55. 068. 296. 235. 000, 00 (l ima pul uh l ima t ril iun enam pul uh del apan mil iar dua rat us sembil an puluh enam j ut a dua rat us t iga puluh lima ribu rupiah);

b. Pembiayaan l uar negeri bersih sebesar negat if

Rp14. 555. 420. 000. 000, 00 (empat bel as t ril iun l ima rat us l ima pul uh l ima mil iar empat rat us dua pul uh j ut a rupiah).

(3) Rincian Pembiayaan Def isit Anggaran Tahun Anggaran 2007 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adal ah sebagaimana t ercant um dal am penj el asan ayat ini.

Pasal 13

(1) Pada pert engahan Tahun Anggaran 2007, Pemerint ah menyusun Laporan t ent ang Real isasi Pel aksanaan Anggaran Pendapat an dan Bel anj a Negara Tahun Anggaran 2007 Semest er Pert ama mengenai: a. Real isasi pendapat an negara dan hibah;

b. Real isasi bel anj a negara; dan

c. Real isasi pembiayaan def isit anggaran.

(2) Dal am l aporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerint ah menyert akan prognosa unt uk 6 (enam) bul an berikut nya.

(3) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan kepada Dewan Perwakil an Rakyat pal ing l ambat pada akhir bul an Jul i 2007, unt uk di bahas bersama ant ara Dewan Perwakil an Rakyat dengan Pemerint ah.

Pasal 14

Dal am keadaan darurat , Pemerint ah dapat mel akukan pengel uaran yang bel um t ersedia anggarannya, yang sel anj ut nya diusul kan dal am Rancangan Undang-Undang t ent ang Perubahan at as Anggaran Pendapat an dan Bel anj a Negara Tahun Anggaran 2007 dan/ at au disampaikan dal am Laporan Real isasi Anggaran Tahun Anggaran 2007.

Pasal 15

Dal am hal t erdapat sisa l ebih pembiayaan anggaran Tahun Anggaran 2007, akan dit ampung pada pembiayaan perbankan dal am negeri dan dapat digunakan sebagai dana t al angan pel aksanaan anggaran pendapat an dan belanj a negara t ahun-t ahun anggaran berikut nya.

Pasal 16

(1) Penyesuaian Anggaran Pendapat an dan Bel anj a Negara Tahun Anggaran 2007 dengan perkembangan dan/ at au perubahan keadaan dibahas bersama Dewan Perwakil an Rakyat dengan Pemerint ah dal am rangka penyusunan perkiraan Perubahan at as Anggaran Pendapat an dan Bel anj a Negara Tahun Anggaran 2007, apabil a t erj adi:

a. Perkembangan ekonomi makro yang t idak sesuai dengan asumsi yang digunakan dal am Anggaran Pendapat an dan Bel anj a Negara Tahun Anggaran 2007;

(11)

c. Keadaan yang menyebabkan harus dil akukan pergeseran anggaran ant arunit organisasi, ant arprogram, dan/ at au ant arj enis bel anj a;

d. Keadaan yang menyebabkan sal do anggaran l ebih t ahun-t ahun anggaran sebel umnya harus digunakan unt uk pembiayaan anggaran Tahun Anggaran 2007.

(2) Pemerint ah mengaj ukan Rancangan Undang-Undang t ent ang Perubahan at as Anggaran Pendapat an dan Bel anj a Negara Tahun Anggaran 2007 berdasarkan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) unt uk mendapat kan perset uj uan Dewan Perwakil an Rakyat sebel um Tahun Anggaran 2007 berakhir.

Pasal 17

(1) Set el ah Tahun Anggaran 2007 berakhir, Pemerint ah menyusun Pert anggungj awaban at as Pel aksanaan Anggaran Pendapat an dan Bel anj a Negara Tahun Anggaran 2007 berupa Laporan Keuangan Pemerint ah Pusat .

(2) Laporan Keuangan Pemerint ah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun sesuai dengan St andar Akunt ansi Pemerint ahan.

(3) Pemerint ah mengaj ukan Rancangan Undang-Undang t ent ang Pert anggungj awaban at as Pel aksanaan Anggaran Pendapat an dan Bel anj a Negara Tahun Anggaran 2007, set el ah Laporan Keuangan Pemerint ah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperiksa ol eh Badan Pemeriksa Keuangan, pal ing l ambat 6 (enam) bul an set el ah Tahun Anggaran 2007 berakhir unt uk mendapat kan perset uj uan Dewan Perwakil an Rakyat .

Pasal 18

Undang-Undang ini mul ai berl aku pada t anggal 1 Januari 2007.

Agar set iap orang menget ahuinya, memerint ahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempat annya dal am Lembaran Negara Republ ik Indonesia.

Disahkan di Jakart a

pada t anggal 15 Nopember 2006 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

t t d

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakart a

pada t anggal 15 Nopember 2006

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

t t d

HAMID AWALUDIN

(12)

PENJELASAN ATAS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2006

TENTANG

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2007

I UMUM

Penyusunan APBN Tahun Anggaran 2007 dil akukan dengan mengacu pada amanat Undang-Undang Nomor 17 t ahun 2003 t ent ang Keuangan Negara. Sesuai ket ent uan Pasal 12 dan Pasal 13 Undang-Undang dimaksud, penyusunan APBN Tahun Anggaran 2007 berpedoman kepada Rencana Kerj a Pemerint ah (RKP), Kerangka Ekonomi Makro, dan Pokok-pokok Kebij akan Fiskal t ahun 2007 sebagaimana t el ah dibahas dan disepakat i bersama dal am Pembicaraan Pendahul uan RAPBN Tahun Anggaran 2007 ant ara Pemerint ah dengan Dewan Perwakil an Rakyat Republ ik Indonesia. APBN Tahun Anggaran 2007 j uga mempert imbangkan kondisi ekonomi, sosial , dan pol it ik, yang berkembang dal am beberapa bul an t erakhir, sert a berbagai l angkah kebij akan yang diperkir akan akan dit empuh dal am t ahun 2007. Di samping it u, penyusunan APBN Tahun Anggaran 2007 j uga diarahkan unt uk

mengat asi masal ah-masal ah mendasar yang menj adi priorit as pembangunan, yait u:

(a)

penanggul angan kemiskinan;

(b)

peningkat an kesempat an kerj a, invest asi, dan ekspor;

(c)

revit al isasi pert anian dal am art i l uas dan pembangunan perdesaan;

(d)

peningkat an aksesibil it as dan kual it as pendidikan dan kesehat an;

(e)

penegakkan hukum dan HAM, pemberant asan korupsi, dan ref ormasi birokrasi;

(f )

penguat an kemampuan pert ahanan, pemant apan keamanan dan ket ert iban, sert a penyel esaian konf l ik;

(g)

rehabil it asi dan rekonst ruksi Nanggroe Aceh Darussal am (NAD), Nias (Sumat era Ut ara), Daerah Ist imewa Yogyakart a (DIY) dan Jawa Tengah, sert a mit igasi dan penanggul angan bencana;

(h)

percepat an pembangunan inf rast rukt ur; sert a

(i)

pembangunan daerah perbat asan dan wil ayah t erisol ir.

Berbagai besaran APBN Tahun Anggaran 2007 sangat dipengaruhi ol eh asumsi makro yang mendasarinya, yait u pert umbuhan ekonomi, l aj u inf l asi, nil ai t ukar rupiah, t ingkat suku bunga SBI 3 (t iga) bul an, harga minyak int ernasional , dan t ingkat produksi (

l if t ing)

minyak Indonesia.

(13)

di sekt or perminyakan yang rel at if l ambat , maka rat a-rat a harga minyak ment ah Indonesia di pasar int ernasional dal am t ahun 2007 diperkirakan akan berada pada kisaran US$63, 0 (enam pul uh t iga koma nol dol ar Amerika Serikat ) per barel , sedangkan t ingkat

l if t ing

minyak ment ah diperkirakan sekit ar 1, 0 (sat u koma nol ) j ut a barel per hari.

Berdasarkan arah perkembangan kerangka ekonomi makro Indonesia t ahun 2007 t ersebut , maka kebij akan f iskal t ahun 2007 akan t et ap diarahkan unt uk menj aga st abil it as ekonomi makro namun t et ap mendukung moment um pert umbuhan ekonomi yang l ebih berkual it as. Sej al an dengan arah kebij akan t ersebut , t ant angan pokok yang dihadapi kebij akan f iskal dal am t ahun 2007 akan banyak berkait an dengan upaya unt uk t erus menurunkan def isit APBN, dan mengurangi t ingkat rasio ut ang t erhadap produk domest ik brut o (PDB) dal am rangka mencapai kesinambungan f iskal

(f iscal sust ainabil it y)

, seraya mengupayakan st imul us f iskal dal am bat as-bat as yang dapat dit opang ol eh sumber-sumber pembiayaan yang t ersedia.

Kondisi t ersebut mengisyarat kan perl unya st rat egi kebij akan f iskal t ahun 2007 diarahkan pada dua l angkah mendasar.

Pert ama

, memadukan secara sinergi ant ara l angkah-l angkah konsol idasi f iskal unt uk mewuj udkan kesinambungan f iskal

(f iscal sust ainabil it y)

, dengan upaya menst imul asi perekonomian dengan kual it as pert umbuhan ekonomi, pencipt aan l apangan pekerj aan, dan penanggul angan kemiskinan.

Kedua

, dal am hal pengel ol aan ut ang, mengupayakan penurunan beban ut ang, pembiayaan yang ef isien, dan menj aga kredibil it as pasar modal . Hal ini akan diupayakan mel al ui pengendal ian def isit anggaran t ahun 2007 menj adi sekit ar 1, 1 (sat u koma sat u) persen. Def i sit anggaran t ersebut akan diupayakan mel al ui berbagai l angkah pembaharuan (r ef ormasi) perpaj akan dan penerimaan negara bukan paj ak (PNBP) unt uk mendorong peningkat an penerimaan negara, mengendal ikan dan meningkat kan ef isiensi bel anj a negara, sert a mengopt imal kan pemanf aat an sumber-sumber pembiayaan anggaran.

Dal am upaya mengopt imal kan penerimaan negara, maka kebij akan perpaj akan dal am t ahun 2007, sel ain dit uj ukan unt uk meningkat kan penerimaan negara j uga akan diarahkan unt uk memberikan st imul us secara t erbat as guna mendukung pert umbuhan ekonomi yang l ebih berkual it as. Hal ini akan dil akukan ant ara l ain mel al ui pemberian beberapa f asil it as perpaj akan di bidang-bidang dan sekt or-sekt or t ert ent u dengan t et ap menj aga ikl im usaha yang kondusif , namun t et ap berpegang pada prinsip-prinsip dasar pengenaan paj ak yang sehat dan kompet it if , agar t idak mengganggu upaya unt uk meni ngkat kan penerimaan negara. Berkait an dengan it u, kebij akan perpaj akan dal am t ahun 2007 akan t et ap diarahkan unt uk mel anj ut kan ref ormasi administ rasi dan penyempurnaan kebij akan di bidang paj ak, kepabeanan dan cukai. Penerimaan perpaj akan mel iput i Paj ak Penghasil an, Paj ak Pert ambahan Nil ai Barang dan Jasa dan Paj ak Penj ual an at as Barang Mewah, Paj ak Bumi dan Bangunan, Bea Perol ehan Hak at as Tanah dan Bangunan, Cukai, Bea Masuk, Paj ak/ Pungut an Ekspor, dan paj ak l ainnya sesuai perat uran perundang-undangan yang berl aku.

Sement ara it u, kebij akan PNBP akan l ebih dit it ikberat kan mel al ui peninj auan dan penyempurnaan perat uran PNBP pada masing-masing Kement erian/ Lembaga, ant ara l ain mel al ui:

(i)

penyusunan perat uran perundang-undangan PNBP, sert a eval uasi dan penyempurnaan t arif di bidang PNBP, dan

(ii)

mel akukan verif ikasi besaran PNBP dan penegakan hukum

(l aw enf orcement )

di bidang PNBP. Di l ain pihak, opt imal isasi penerimaan hibah akan dil akukan ant ara l ain mel al ui monit oring pencairan at as komit men para donor dal am rangka hibah, khususnya unt uk rehabil it asi dan rekonst ruksi daer ah-daerah yang t erkena musibah bencana. Di bidang Bel anj a Pemerint ah Pusat , kebij akan t ahun 2007 akan diarahkan pada

(14)

ant ara l ain unt uk:

(i)

perbaikan pendapat an aparat ur negara dan pensiunan;

(ii)

pemenuhan kewaj iban pembayaran bunga ut ang;

(iii)

peningkat an kualit as pel ayanan dan operasional pemerint ahan sert a pemel iharaan aset negara;

(iv)

invest asi pemerint ah di bidang inf rast r ukt ur unt uk mendukung kegiat an ekonomi nasional ;

(v)

pemberian subsidi unt uk membant u menst abil kan harga barang dan j asa yang berdampak l uas ke masyarakat ;

(vi)

peningkat an anggaran pendidikan sej al an dengan amanat UUD 1945; sert a

(vii)

kesinambungan bant uan l angsung ke masyarakat di bidang pendidikan dan kesehat an.

Di bidang bel anj a ke daerah, dal am rangka penyel enggaraan ot onomi daerah, maka penyerahan, pel impahan, dan penugasan urusan pemerint ahan kepada daerah secara nyat a dan bert anggung j awab, j uga diikut i dengan pengat uran, pembagian, dan pemanf aat an sumber daya nasional secara proporsional , demokrat is, adil dan t ransparan, dengan memperhat ikan pot ensi, kondisi, dan kebut uhan daerah. Terkait dengan hal t ersebut , kebij akan bel anj a ke daerah dal am t ahun 2007 akan t et ap diarahkan unt uk:

(i)

mengurangi kesenj angan f iskal ant ara pusat dan daerah

(vert ical f iscal imbal ance)

dan ant ardaerah

(horizont al

f iscal imbal ance)

;

(ii)

mengurangi kesenj angan pel ayanan publ ik ant ardaerah

(publ ic service provision gap)

;

(iii)

mendukung kesinambungan f iskal

(f iscal

sust ainabil it y)

dal am kebij akan ekonomi makro

(iv)

meningkat kan kapasit as daerah dal am menggal i pot ensi pendapat an asl i daerah (PAD);

(v)

meningkat kan ef isiensi sumber daya nasional ; sert a

(vi)

meningkat kan t ransparansi dan akunt abil it as al okasi bel anj a ke daerah.

Dengan berbagai l angkah kebij akan di at as, dal am APBN Tahun Anggaran 2007 diperkirakan masih t erdapat def isit anggaran, yang akan dibiayai dengan menggunakan sumber-sumber pembiayaan dari dal am dan l uar negeri. Dal am rangka menut up def isit anggaran t ersebut , akan dil akukan l angkah-l angkah kebij akan guna memperol eh sumber pembiayaan dengan biaya rendah dan t ingkat risiko yang dapat dit ol erir. Langkah-l angkah kebij akan di sisi pembiayaan dal am negeri t ersebut akan dit empuh ant ara l ain dengan:

(i)

mel akukan pengel ol aan port of ol io surat ut ang negara (SUN) mel al ui l angkah-l angkah pembayaran bunga dan pokok obl igasi negara secara t epat wakt u, penerbit an SUN dal am mat a uang rupiah dan mat a uang asing, penukaran ut ang

(debt swit ching)

sert a pembel ian kembal i

(buyback)

obl igasi negara;

(ii)

mel anj ut kan kebij akan privat isasi yang pel aksanaannya dil akukan berdasarkan ket ent uan yang berl aku di pasar modal ;

(iii)

memanf aat kan dana eks morat orium unt uk membiayai program rekonst ruksi dan rehabil it asi NAD-Nias;

(iv)

menggunakan sebagian dana simpanan pemerint ah; dan

(v)

memberikan dukungan dana bagi percepat an pembangunan inf rast rukt ur dal am rangka kemit raan Pemerint ah-Swast a.

Sement ara it u, di sisi pembiayaan l uar negeri, l angkah-l angkah yang dit empuh ant ara l ain mel iput i:

(i)

mengamankan pinj aman l uar negeri yang t el ah disepakat i dan rencana penyerapan pinj aman l uar negeri, baik pinj aman program maupun pinj aman proyek, dan

(ii)

pembayaran cicil an pokok ut ang l uar negeri yang sudah j at uh t empo. Dal am rangka membiayai pembiayaan def isit anggaran, Pemerint ah akan mengedepankan prinsip kemandir ian, dengan l ebih mempriorit askan pendanaan yang bersumber dari dal am negeri. Pendanaan dari l uar negeri akan dil akukan l ebih sel ekt if dan berhat i-hat i , dengan mengupayakan beban pinj aman yang pal ing ringan mel al ui penarikan pinj aman dengan t ingkat bunga yang rendah dan t enggang wakt u yang panj ang, dan t idak mengakibat kan adanya ikat an pol it ik, sert a dipriorit askan unt uk membiayai kegiat an-kegiat an yang produkt if .

(15)

sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara ut uh sebagai manusia bermart abat , dan mendapat pendidikan yang l ayak. Di samping it u, keseimbangan pembangunan t ermasuk didal amnya penganggaran perl u t et ap harus dij aga agar dapat mencapai priorit as-priorit as perbaikan kesej aht eraan masyarakat secara kesel uruhan dan pel aksanaan t ugas kenegaraan yang t el ah diamanat kan dal am Undang-Undang Dasar 1945.

Sebagai sal ah sat u f okus ut ama pembangunan nasional , negara mempriorit askan anggaran pendapat an dan bel anj a negara sert a dari anggaran pendapat an dan bel anj a daerah unt uk memenuhi kebut uhan penyel enggaraan pendidikan nasional , dengan mengal okasikan sekurang-kurangnya 20 (dua pul uh) persen APBN dan APBD unt uk pendidikan nasional . Namun mengingat amanat konst it usi unt uk memperhat ikan berbagai bidang l ainnya secara kesel uruhan, dal am t ahun 2007 anggaran pendidikan diperkirakan masih mencapai sekit ar 11, 8 (sebel as koma del apan) persen dari APBN. Perhit ungan anggaran pendidikan sebagai prosent ase t erhadap APBN t ersebut adal ah nil ai perbandingan (dal am persen) ant ara al okasi anggaran pada f ungsi pendidikan di dal am bel anj a negara (t idak t ermasuk gaj i pendidik dan anggaran pendidikan kedinasan) t erhadap kesel uruhan bel anj a negara (t idak t ermasuk kesel uruhan gaj i). Def inisi anggaran pendidikan yang dipakai dal am t ahun 2007 t ersebut t et ap konsist en dengan amanat dal am Pasal 31 Ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945 dan Pasal 49 Ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 t ent ang Sist em Pendidikan Nasional . Sel ain it u, pengal okasian anggaran pendidikan j uga harus sej al an dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 t ent ang Pemerint ahan Daerah, yang t el ah menet apkan f ungsi pendidikan (besert a anggarannya) dil impahkan ke Daerah, sert a Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 t ent ang Guru dan Dosen, yang mendukung perbaikan kesej aht eraan para pendidik. Dengan demikian, anggaran pendidikan perl u dil ihat sebagai kesel uruhan anggaran yang digunakan unt uk penyel enggaraan pendidikan nasional yang mencakup sel uruh program dan akt ivit as yang bert uj uan unt uk mencerdaskan kehidupan bangsa, baik di Pusat maupun di Daerah sesuai dengan amanat Undang Undang Dasar 1945.

Mengacu kepada Undang-Undang Dasar 1945, pemenuhan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 (dua pul uh) persen bukan hanya kewaj iban APBN t et api j uga bagi APBD, sehingga ke depan dengan menggunakan def inisi anggaran pendidikan t ersebut di at as diharapkan pemenuhan amanat konst it usi dapat dicapai, baik di APBN maupun APBD. Sej al an dengan upaya pemenuhan anggaran pendidikan, yang j uga sangat pent ing unt uk disiapkan adal ah program-program peningkat an akses dan kual it as pendidikan yang akan menj adi panduan nasional agar pengal okasian anggaran pendidikan dapat ef ekt if dan nyat a.

II PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Cukup j el as.

Pasal 2

Cukup j el as.

Pasal 3

Ayat (1)

Cukup j el as. Ayat (2)

(16)

Ayat (3)

Cukup j el as. Ayat (4)

Penerimaan perpaj akan sebesar Rp509. 462. 000. 000. 000, 00 (l ima rat us sembil an t ril iun empat rat us enam pul uh dua mil iar rupiah) t erdiri at as:

(dal am rupiah)

a. Pajak dalam negeri 494.591.600.000.000,00

4111 Pajak penghasilan (PPh) 261.698.300.000.000,00

41111 PPh minyak bumi dan gas alam 41.241.700.000.000,00

411111 PPh minyak bumi16.072.300.000.000,00

411112 PPh gas alam 25.169.400.000.000,00

41112 PPh nonmigas 220.456.600.000.000,00

411121 PPh Pasal 21 34.905.000.000.000,00

411122 PPh Pasal 22 non impor 5.546.300.000.000,00

411123 PPh Pasal 22 impor19.494.900.000.000,00

411124 PPh Pasal 23 24.659.900.000.000,00

411125 PPh Pasal 25/ 29 orang pribadi 2.465.200.000.000,00

411126 PPh Pasal 25/ 29 badan 86.882.700.000.000,00

4113 Pajak bumi dan bangunan (PBB) 21.267.000.000.000,00

4114 Bea perolehan hak atas tanah dan

bangunan (BPHTB) 5.389.900.000.000,00

4115 Pendapatan cukai 42.034.700.000.000,00

4116 Pendapatan pajak lainnya 3.157.500.000.000,00

b. Pajak perdagangan internasional 14.870.400.000.000,00

4121 Pendapatan bea masuk 14.417.600.000.000,00

4122 Pendapatan pajak/ pungutan ekspor 452.800.000.000,00

Bagian pemerint ah at as l aba Badan Usaha Mil ik Negara (BUMN) t ermasuk PT Pert amina (Persero) secara rat a-rat a dihit ung berdasarkan 50 persen dari keunt ungan bersih BUMN t ahun yang l al u set el ah dikenakan paj ak.

Ayat (4)

Cukup j el as. Ayat (5)

Penerimaan negara bukan paj ak sebesar Rp210. 926. 957. 783. 000, 00 (dua rat us sepul uh t ril iun sembil an rat us dua pul uh enam mil iar sembil an rat us lima puluh t uj uh j ut a t uj uh rat us del apan pul uh t iga ribu rupiah) t erdiri at as:

(dalam rupiah)

a. Penerimaan sumber daya alam 146.256.914.000.000,00

4211 Pendapatan minyak bumi 103.903.700.000.000,00

421111 Pendapatan minyak bumi 103.903.700.000.000,00

4212 Pendapatan gas alam 35.989.000.000.000,00

421211 Pendapatan gas alam 35.989.000.000.000,00

4213 Pendapatan pertambangan umum 3.564.214.000.000,00

421311 Pendapatan iuran tetap 59.246.000.000,00

421312 Pendapatan royalti batubara 3.504.968.000.000,00

4214 Pendapatan kehutanan 2.550.000.000.000,00

42141 Pendapatan dana reboisasi 1.302.000.000.000,00

(17)

daya hutan 1.217.000.000.000,00 42143 Pendapatan iuran hak pengusahaan

hutan 31.000.000.000,00

4215 Pendapatan perikanan 250.000.000.000,00

421511 Pendapatan perikanan 250.000.000.000,00

b. Bagian pemerintah atas laba BUMN 19.100.000.000.000,00

4221 Bagian pemerintah atas laba BUMN 19.100.000.000.000,00

c. Penerimaan negara bukan pajak lainnya 45.570.043.783.000,00

42311 Pendapatan penjualan hasil produksi/ sitaan 8.257.489.294.000,00 423111 Pendapatan penjualan hasil pertanian,

kehutanan, dan perkebunan 2.564.483.000,00

423112 Pendapatan penjualan hasil peternakan

dan perikanan 7.287.484.000,00

423113 Pendapatan penjualan hasil

tambang 6.111.487.733.000,00

423114 Pendapatan penjualan hasil sitaan/

rampasan dan harta peninggalan 2.128.061.143.000,00

423115 Pendapatan penjualan obat-obatan dan

hasil farmasi lainnya 206.253.000,00

423116 Pendapatan penjualan informasi,

penerbitan, film, survey, pemetaan, dan

hasil cetakan lainnya 5.081.970.000,00

423117 Penjualan dokumen-dokumen

pelelangan 307.912.000,00

423119 Pendapatan penjualan lainnya 2.492.316.000,00

42312 Pendapatan penjualan aset 26.845.790.000,00

423121 Pendapatan penj ualan rumah, gedung,

bangunan, dan tanah 101.548.000,00

423122 Pendapatan penjualan kendaraan

bermotor 622.282.000,00

423123 Pendapatan penjualan sewa beli 25.035.073.000,00

423129 Pendapatan penjualan aset lainnya yang

berlebih/ rusak/ dihapuskan 1.086.887.000,00

42313 Pendapatan sewa 33.911.252.000,00

423131 Pendapatan sewa rumah dinas/ rumah

negeri 13.020.709.000,00

423132 Pendapatan sewa gedung, bangunan, dan

gudang 18.529.089.000,00

423133 Pendapatan sewa benda-benda

bergerak 1.825.172.000,00

423139 Pendapatan sewa benda-benda tak

bergerak lainnya 536.282.000,00

42314 Pendapatan jasa I 9.397.752.526.000,00

423141 Pendapatan rumah sakit dan instansi

kesehatan lainnya 1.930.095.690.000,00

423142 Pendapatan tempat hiburan/ taman/ museum dan pungutan usaha pariwisata

alam (PUPA) 20.669.382.000,00

423143 Pendapatan surat keterangan, visa,

paspor, SIM, STNK, dan BPKB 2.354.471.257.000,00

423144 Pendapatan hak dan perijinan 2.936.949.473.000,00

423145 Pendapatan sensor/ karantina,

pengawasan/ pemeriksaan 44.788.490.000,00

423146 Pendapatan jasa tenaga, pekerjaan, informasi, pelatihan, teknologi, pendapatan BPN, pendapatan DJBC

(jasa pekerjaan dari cukai) 1.754.794.035.000,00

423147 Pendapatan jasa Kantor Urusan

Agama 64.972.350.000,00

423148 Pendapatan jasa bandar udara,

kepelabuhanan, dan kenavigasian 289.366.224.000,00

423149 Pendapatan jasa I lainnya 1.645.625.000,00

(18)

423151 Pendapatan jasa lembaga keuangan

(jasa giro) 477.359.738.000,00

423152 Pendapatan jasa penyelenggaraan

telekomunikasi 820.000.000.000,00

423153 Pendapatan iuran lelang untuk fakir

miskin 5.469.068.000,00

423155 Pendapatan biaya penagihan pajak-

pajak negara dengan surat paksa 3.025.600.000,00

423157 Pendapatan bea lelang 28.527.961.000,00

423158 Pendapatan biaya pengurusan piutang

dan lelang negara 86.184.011.000,00

423159 Pendapatan jasa II lainnya 699.460.839.000,00

42316 Pendapatan bukan pajak dari luar negeri 310.155.927.000,00

423161 Pendapatan dari pemberian surat

perjalanan Republik Indonesia 28.890.927.000,00

423162 Pendapatan dari jasa pengurusan

dokumen konsuler 281.265.000.000,00

42321 Pendapatan kejaksaan dan peradilan 27.573.415.000,00

423211 Pendapatan legalisasi tanda tangan 1.057.856.000,00

423212 Pendapatan pengesahan surat di bawah

tangan 250.459.000,00

423213 Pendapatan uang meja (leges) dan upah

pada panitera badan pengadilan (peradilan) 615.300.000,00

423214 Pendapatan hasil denda/ tilang dan

sebagainya 15.759.000.000,00

423215 Pendapatan ongkos perkara 8.525.600.000,00

423219 Pendapatan kejaksaan dan peradilan

lainnya 1.365.200.000,00

42331 Pendapatan pendidikan 5.597.840.314.000,00

423311 Pendapatan uang pendidikan 4.631.979.130.000,00

423312 Pendapatan uang ujian masuk, kenaikan tingkat, dan akhir

pendidikan 27.008.385.000,00

423313 Uang ujian untuk menj alankan praktik 15.510.000,00

423319 Pendapatan pendidikan lainnya 938.837.289.000,00

42342 Pendapatan dari penerimaan kembali belanja

tahun anggaran yang lalu 4.098.991.000,00

423421 Penerimaan kembali belanja pegawai

pusat 2.453.685.000,00

42344 Pendapatan pelunasan piutang 7.850.929.172.000,00

423441 Pendapatan pelunasan piutang non-

bendahara 7.850.000.000.000,00

423442 Pendapatan pelunasan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara

(masuk TP/ TGR) bendahara 929.172.000,00

42347 Pendapatan lain-lain 11.943.419.885.000,00

423471 Penerimaan kembali persekot/ uang

muka gaji 2.284.821.000,00

423472 Penerimaan denda keterlambatan

penyelesaian pekerjaan pemerintah 1.960.426.000,00

423473 Pendapatan kembali/ ganti rugi atas

kerugian 1.818.676.000,00

423475 Pendapatan denda pelanggaran di

bidang pasar modal 13.000.000.000,00

423476 Pendapatan dari Gerakan Nasional

Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) 4.200.000.000.000,00

(19)

Pasal 5

Cukup j el as.

Pasal 6

Cukup j el as.

Pasal 7

Cukup j el as.

Pasal 8

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan hasil opt imal isasi adal ah hasil l ebih at au sisa dana yang diperol eh set el ah pel aksanaan dari suat u kegiat an yang t arget sasarannya t el ah dicapai. Hasil l ebih at au sisa dana t ersebut sel anj ut nya dapat digunakan unt uk meningkat kan sasaran at aupun unt uk kegiat an l ainnya dal am program yang sama.

Yang dimaksud dengan peningkat an Penerimaan Negara Bukan Paj ak (PNBP) adal ah kel ebihan real isasi penerimaan dari t arget yang direncanakan dal am APBN. Peningkat an penerimaan t ersebut sel anj ut nya dapat digunakan ol eh kement erian/ l embaga penghasil sesuai dengan ket ent uan perundangan yang berl aku.

Yang dimaksud dengan perubahan pagu Pinj aman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) adal ah peningkat an pagu PHLN sebagai akibat adanya l uncuran pinj aman proyek dan hibah l uar negeri yang bersif at

mul t i years

. Tidak t ermasuk dal am l uncuran t ersebut adal ah PHLN yang bel um diset uj ui dal am APBN t ahun 2007 dan pinj aman yang bersumber dari kredit ekspor.

Ayat (2)

Cukup j el as. Ayat (3)

Cukup j el as. Ayat (4)

Yang dimaksud dengan dil aporkan Pemerint ah kepada DPR sebel um dil aksanakan adal ah dengan mengirimkan t embusan surat penet apan perubahan rincian/ pergeseran anggaran dari Depart emen Keuangan kepada DPR berdasarkan usul an kement erian/ l embaga.

Yang dimaksud dengan dil aporkan pel aksanaannya dal am APBN Perubahan adal ah mel aporkan perubahan rincian/ pergeseran yang dil akukan sebel um APBN Perubahan 2007 diaj ukan kepada DPR. Sedangkan yang dimaksud dengan dil aporkan pel aksanaannya dal am l aporan keuangan pemerint ah pusat adal ah mel aporkan perubahan rincian/ pergeseran yang dil akukan sepanj ang t ahun 2007.

Pasal 9

Cukup j el as.

Pasal 10

Ayat (1)

Cukup j el as. Ayat (2)

Juml ah dana bagi hasil t ersebut t ermasuk:

(20)

pul uh del apan j ut a sembil an rat us dua pul uh ribu rupiah) yang t erdiri dari:

(dal am rupiah)

i. DBH Paj ak 5. 057. 000. 000, 00

ii. DBH SDA 226. 371. 920. 000, 00

Sumber pembiayaan unt uk kekurangan pembayaran dana bagi hasil t ahun 2000-2005 t ersebut berasal dari penggunaan Rekening Sal do Anggaran Lebih dan t ercat at dal am pembiayaan perbankan dal am negeri.

2. DBH at as pert ambangan umum-royal t i penerimaan proyeksi piut ang negara hasil produksi bat ubara sebesar Rp3. 148. 833. 530. 000, 00 (t iga t ril iun serat us empat pul uh del apan mil iar del apan rat us t iga pul uh t iga j ut a l ima rat us t iga pul uh ribu rupiah).

Ayat (3)

Cukup j el as. Ayat (4)

Juml ah dana al okasi khusus t ersebut t ermasuk pembayaran kekurangan dana al okasi khusus t ahun 2005 sebesar Rp1. 600. 000. 000, 00 (sat u mil iar enam rat us j ut a rupiah). Sumber pembiayaan kekurangan pembayaran dana al okasi khusus t ahun 2005 t ersebut berasal dari penggunaan Rekening Sal do Anggaran Lebih dan t ercat at dal am pembiayaan perbankan dal am negeri. Ayat (5)

Cukup j el as. Ayat (6)

(21)

d. DAK bidang kel aut an dan

perikanan 1. 100. 360. 000. 000, 00

e. DAK bidang pert anian 1. 492. 170. 000. 000, 00

f . DAK bidang prasarana pemerint ahan 539. 060. 000. 000, 00

g. DAK bidang l ingkungan hidup 351. 610. 000. 000, 00

Pasal 11 Ayat (1)

Cukup j el as. Ayat (2)

Dana ot onomi khusus sebesar Rp4. 045. 748. 000. 000, 00 (empat t ril iun empat pul uh l ima mil iar t uj uh rat us empat pul uh del apan j ut a rupiah) t erdiri at as: 1. Al okasi Dana Ot onomi Khusus kepada Papua unt uk pembiayaan peningkat an

pendidikan dan kesehat an, sesuai dengan ket ent uan yang digariskan dal am Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 t ent ang Ot onomi Khusus bagi Provinsi Papua, yang j uml ahnya set ara dengan 2 (dua) persen dari pagu dana al okasi umum (DAU) secara nasional dan berl aku sel ama 20 t ahun sej ak t ahun 2002 sebesar Rp3. 295. 748. 000. 000, 00 (t iga t ril iun dua rat us sembil an pul uh l ima mil iar t uj uh rat us empat puluh delapan j ut a rupiah); dan

2. Dana t ambahan dal am rangka ot onomi khusus bagi Provinsi Papua, yang t erut ama dit uj ukan unt uk pembiayaan pembangunan inf rast rukt ur, sebagai pel aksanaan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 t ent ang Ot onomi Khusus bagi Provinsi Papua Pasal 34 ayat (3) huruf f sebesar Rp750. 000. 000. 000, 00 (t uj uh rat us l ima pul uh mil iar rupiah).

Ayat (3)

Dana penyesuaian sebesar Rp4. 406. 100. 000. 000, 00 (empat t ril iun empat rat us enam mil iar serat us j ut a rupiah) t erdiri dari at as:

1. Dana penyesuaian sebesar Rp674. 446. 700. 000, 00 (enam rat us t uj uh pul uh empat mil iar empat rat us empat pul uh enam j ut a t uj uh rat us ribu rupiah) dial okasikan kepada provinsi yang menerima DAU t ahun 2007 l ebih kecil dari t ahun anggaran 2005;

2. Dana penyesuaian sebesar Rp168. 466. 800. 000, 00 (serat us enam pul uh del apan mil iar empat rat us enam pul uh enam j ut a del apan rat us ribu rupiah) dial okasikan kepada daerah yang menerima DAU t ahun 2007 l ebih kecil dari t ahun anggaran 2006; dan

3. Dana penyesuaian sebesar Rp3. 563. 186. 500. 000, 00 (t iga t ril iun l ima rat us enam pul uh t iga mil iar serat us del apan pul uh enam j ut a l ima rat us ribu rupiah) yang dial okasikan kepada daerah t ert ent u unt uk penyediaan sarana dan prasarana f isik inf rast rukt ur j al an dan l ainnya.

Pasal 12

Ayat (1)

Cukup j el as. Ayat (2)

Cukup j el as. Ayat (3)

Pembiayaan def isit anggaran sebesar Rp40. 512. 876. 235. 000, 00 (empat pul uh t ril iun l ima rat us dua bel as mil iar del apan rat us t uj uh pul uh enam j ut a dua rat us t iga pul uh l ima ribu rupiah) t erdiri at as:

1.

Pembiayaan Dal am Negeri sebesar Rp55. 068. 296. 235. 000, 00 (l ima pul uh

(22)

(dalam rupiah)

a. Perbankan dalam negeri 12.962.028.920.000,00

b. Non-perbankan dalam negeri 42.106.267.315.000,00

i Privatisasi (neto) 2.000.000.000.000,00

- Penerimaan privatisasi 3.300.000.000.000,00

- Penyertaan modal negara -1.300.000.000.000,00

ii Penjualan aset program

restrukturisasi perbankan 1.500.000.000.000,00

iii Surat utang negara (neto) 40.606.267.315.000,00

iv Dukungan infrastruktur -2.000.000.000.000,00

Pembiayaan perbankan dal am negeri berasal dari rekening Pemerint ah di Bank Indonesia sebesar Rp12. 962. 028. 920. 000, 00 (dua bel as t ril iun sembil an rat us enam pul uh dua mil iar dua pul uh del apan j ut a sembil an rat us dua pul uh ribu rupiah) t ermasuk penggunaan SAL sebesar Rp233. 028. 920. 000, 00 (dua rat us t iga pul uh t iga mil iar dua pul uh del apan j ut a sembil an rat us dua pul uh ribu rupiah) unt uk membiayai kekurangan pembayaran DBH dan DAK dari berbagai daerah t ahun 2000 sampai dengan t ahun 2005.

Privat isasi net o merupakan sel isih ant ara penerimaan privat isasi dengan penyert aan modal negara.

Pel aksanaan privat isasi dan penyert aan modal negara diat ur l ebih l anj ut ol eh Pemerint ah.

SUN net o merupakan sel isih ant ara penerbit an dengan pembayaran pokok dan pembel ian kembal i.

Juml ah rupiah penerbit an, pembayaran pokok, dan pembel ian kembal i surat ut ang negara diat ur l ebih l anj ut ol eh Pemerint ah.

Unt uk mendukung pembangunan kel ist rikan di Indonesia, Pemerint ah akan memberikan surat j aminan pada pembiayaan Proyek Pembangunan List rik menggunakan pembangkit bat ubara sebesar 10. 000 MW dengan memperhit ungkan resiko f inansial yang mungkin t erj adi.

2. Pembiayaan Luar Negeri net o sebesar negat if Rp14. 555. 420. 000. 000, 00 (empat bel as t ril iun l ima rat us l ima pul uh l ima mil iar empat rat us dua pul uh j ut a rupiah) t erdiri at as:

(dalam rupiah)

a. Penarikan pinjaman luar negeri (bruto) 40.274.580.000.000,00

– Pinjaman program 16.275.000.000.000,00

– Pinjaman proyek 23.999.580.000.000,00

b. Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri -54.830.000.000.000,00

Pasal 13 Cukup j el as.

Pasal 14

Cukup j el as.

Pasal 15

Cukup j el as.

Pasal 16

Cukup j el as.

Pasal 17

(23)

Laporan Keuangan Pemerint ah Pusat set idak-t idaknya mel iput i Laporan Real isasi Anggaran Pendapat an dan Bel anj a Negara, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Cat at an at as Laporan Keuangan, yang dil ampiri dengan l aporan keuangan perusahaan negara dan badan l ainnya.

Ayat (2)

Yang dimaksud dengan St andar Akunt ansi Pemerint ahan adal ah St andar Akunt ansi Pemerint ahan sebagaimana dit et apkan dal am Perat uran Pemerint ah Nomor 24 Tahun 2005 t ent ang St andar Akunt ansi Pemerint ahan. Ayat (3)

Laporan keuangan yang diaj ukan dal am rancangan undang-undang sebagaimana yang dimaksud pada ayat ini adal ah Laporan Keuangan Pemerint ah Pusat (LKPP) yang t el ah diperiksa ol eh BPK dan t el ah memuat koreksi/ penyesuaian

(audit ed f inancial st at ement s)

sebagaimana diuraikan pada Penj el asan Umum Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 t ent ang Pemeriksaan Pengel ol aan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

Pasal 18

Cukup j el as.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

(6) Pel aksanaan ket ent uan sebagaimana dimaksud dal am ayat (1) dan t at a cara pendirian kursus yang menyel enggarakan pendidikan kedinasan dit et apkan ol eh Ment eri, at

(1) Kepal a Sekol ah dari Sat uan Pendidikan Luar Biasa yang disel enggarakan ol eh Pemerint ah bert anggung j awab at as penyel enggaraan kegiat an pendidikan, kegiat an rehabil

bahwa berhubung dengan perkembangan dan kemaj uan wil ayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat pada umumnya dan Kabupat en Daerah Tingkat II Ciamis khususnya di wil ayah

Mengingat bent uk sat uan pendidikan prasekolah khususnya Kelompok Bermain dan Penit ipan Anak berkait an erat dengan usaha kesej aht eraan anak, maka dalam Perat uran Pemerint

Pembangunan Jalan Tol yang merupakan sat u kesat uan sist em dengan pembangunan j alan umum, adalah kegiat an mewuj udkan ruas j alan baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59

Saat berlakunya Undang-undang ini perlu ditetapkan oleh Menteri Keuangan oleh karena persiapan-persiapan yang diperlukan untuk menampung penyerahan segala hak dan kewajiban serta

(3) Oleh karena sebagian dari hak dan kewajiban serta kekayaan dan perlengkapan dari Bank Negara Indonesia Unit II akan diserahkan kepada suatu bank baru milik Negara yang