• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Polri Dalam Penyidikan Tindak Pidana yang Terkait Dengan Multi Level Marketing Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peran Polri Dalam Penyidikan Tindak Pidana yang Terkait Dengan Multi Level Marketing Chapter III V"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

SISTEM PERTANGGUNGJAWABAN PELAKU KEJAHATAN PRAKTEK BISNIS BERKEDOK MLM

Pertanggungjawaban pidana, berdasarkan Pasal 59 KUHP, menyatakan

bahwa: “Dalam hal-hal dimana karena pelanggaran ditentukan pidana terhadap

pengurus, anggota-anggota badan pengurus atau komisaris-komisaris, maka

pengurus, anggota badan pengurus atau komisaris yang ternyata tidak ikut campur

melakukan pelanggaran tidak dipidana”.

Seperti diketahui subjek hukum ada 2 (Dua), yaitu : manusia atau

perseorangan (natuurlijke personen) dan badan hukum (rechtpersonen). Sebagaimana

layaknya subjek hukum, badan hukum mempunyai kewenangan melakukan perbuatan

hukum seperti halnya orang, akan tetapi perbuatan hukum itu hanya terbatas pada

bidang hukum harta kekayaan. Mengingat wujudnya adalah badan atau lembaga,

maka dalam mekanisme pelaksanaannya badan hukum bertindak dengan perantara

pengurus-pengurusnya.111

Terkait dengan praktek bisnis berkedok MLM, terdapat 2 (Dua) subjek hukum

juga sebagia pelaku kejahatan tersebut, yaitu : perseorangan dan badan hukum. Beban

tugas mengurus (zorgplicht) suatu “kesatuan orang” atau korporasi harus berada pada

pengurusnya. Korporasi bukan subjek tindak pidana. Dengan begitu, maka apabila

pengurus tidak memenuhi kewajiban yang merupakan beban “kesatuan orang” atau

korporasi itu, maka mereka yang bertanggungjawab menurut hukum pidana. Di

111 Hukum Online, “Metamorfosis Badan Hukum Indonesia”,

(2)

dalam praktek, ajaran pertama ini masih menimbulkan permasalahan. Pertanyaan

yang timbul adalah, bagaimana kalau ketentuan pidana yang bersangkutan memang

telah memberikan kewajiban kepada seseorang pemilik perusahaan atau pengusaha,

sedangkan pemilik atau pengusahanya adalah suatu korporasi, akan tetapi ketentuan

pidana tersebut tidak menyatakan bahwa penguruslah yang harus

bertanggungjawab.112

Timbul pertanyaan berikutnya yaitu siapakah yang dianggap sebagai

pelakutindak pidana itu, untuk mengatasi hal tersebut muncullah ajaran kedua yang

menyatakan bahwa “korporasi dapat diakuis sebagai pelaku (dader), tetapi

pertanggungjawaban pidananya (penuntutan dan pemidanaan) berada pada

pengurus”. Oleh karena itu, Pasal 59 KUHP harus ditafsirkan menurut ajaran kedua

tersebut, yaitu bahwa korporasi dapat melakukan tindak pidana, hanya saja

pertanggungjawaban pidananya dibebankan kepada pengurus. Yang dapat dihapus

pidananya hanyalah pengurus yang dapat membuktikan dirinya tidak terlibat,

sedangkan pengurus lain dapat dipidana. Namun belum tentu pengurus ini adalah

pelaku menurut hukum pidana. Apabila ketentuan pidana yang bersangkutan

memberikan kewajiban kepada pengusaha yang berupa korporasi, maka korporasi

inilah yang menurut hukum pidana harus dianggap sebagai pelaku.113

112 Mardjono Reksodiputro, “Tindak Pidana Korporasi dan Pertanggungjawabannya :

Perubahan Wajah Pelaku Kejahatan di Indonesia”, Makalah disampaikan di Auditorium PTIK pada Upacara Dies Natalis PTIK Ke-47 dan Wisuda Sarjana Ilmu Kepolisian Angkatan XXIX Soekamo Djojonegoro, pada tanggal 17 Juni 1993, hal. 4.

113 Menurut Remelink (hal. 100), “Perubahan dengan maksud untuk memungkinkan

(3)

A. Sistem Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Kejahatan

Sistem pertanggungjawaban pidana dalam hukum pidana positif saat ini

menganut asas kesalahan sebagai salah satu asas disamping asas legalitas. Sistem

pertanggungjawaban pidana dalam hukum pidana nasional yang akan datang

menerapkan asas tiada pidana tanpa kesalahan yang merupakan salah satu asas

fundamental yang perlu ditegaskan secara eksplisit sebagai pasangan asas legalitas.

Kedua asas tersebut tidak dipandang syarat yang kaku dan bersifat absolut. Oleh

karena itu, memberi kemungkinan dalam hal-hal tertentu untuk menerapkan asas

strict liability,114vicarious liability,115erfolgshaftung,116

Sutorius, Hukum Pidana, Editor Penerjemah JE. Sahetapy, Konsorsium Ilmu Hukum, (Yogyakarta : Liberty, 1995), hal. 272-283 dan 423-434, dalam Ibid.

114

Konsep strict liability atau tanggung jawab mutlak ini berbeda dengan sistem tanggung jawab pidana umum yang mengharuskan adanya kesengajaan atau kealpaan. Dalam sistem tanggung jawab pidana mutlak hanya dibutuhkan pengetahuan dan perbuatan dari terdakwa. Artinya, dalam melakukan perbuatan tersebut, apabila si terdakwa mengetahui atau menyadari tentang potensi kerugian bagi pihak lain, maka kedaan ini cukup untuk menuntut pertanggungjawaban pidana. Jadi, tidak diperlukan adanya unsur sengaja atau alpa dari terdakwa, namun semata-mata perbuatan yang telah mengakibatkan pencemaran. Sumber : Frances Russell dan Christine Locke, English Law and

Language, (Prentice Hall, 1995).

115

Vicarious Liability atau pertanggungjawaban pidana pengganti adalah pertanggungjawaban

menurut hukum seseorang atas perbuatan salah yang dilakukan oleh orang lain (the legal responsibility

of one person for the wrongful acts of another). Secara singkat vicarious liability sering diartikan

sebagai “perttanggungjawaban pengganti”. Pertanggungjwaban pengganti itu dirumuskan dalam Pasal 35 ayat (3) Konsep yang berbunyi : “Dalam hal tertentu, setiap orang dapat dipertanggungjawabkan atas tindak pidana yang dilakukan oleh orang lain, jika ditentukan dalam suatu undang-undang”. Sumber : Roeslan Saleh, Suatu Reorienasi Dalam Hukum Pidana, (Jakarta : Aksara Baru, 1983), hal. 32, dalam Johny Krisnan, “Sistem Pertanggungjawaban Pidana Dalam Perspektif Pembaharuan Hukum Pidana Nasional”, Program Magister Ilmu Hukum, (Semarang : Tesis, Universitas Diponegoro, 2008), hal. 79.

kesesatan atau

116 Pertanggungjawaban pidana berdasarkan kesalahan terutama dibatasi pada perbuatan yang

(4)

error,117rechterlijk pardon,118culpa in causa119

3) Seseorang hanya dapat dipertanggungjawabkan terhadap akibat tertentu dari suatu tindak pidana yang oleh undang-undang diperberat ancaman pidananya, jika sepatutnya sudah dapat menduga kemungkinan terjadinya akibat tersebut atau sekurang-kurangnya ada kealpaan. Sumber : Johny Krisnan, Ibid., hal. 79.

117 Dalam hal ada kesesatan atau error, baik error facti maupun error iurisi, konsep

berpendirian bahwa pada prinsipnya si pelaku tidak dapat dipertanggungjawabkan dan oleh karena itu tidak dipidana. Namun demikian, apabila kesesatannya itu patut dicelakan/dipersalahkan kepadanya, maka si pelaku tetap dapat dipidana. Ketentuan konsep yang demikian ini dirumuskan dalam Pasal 40 ayat (1) dan hal ini berlainan dengan doktrin tradisional yang menyatakan bahwa error facti non noced (kesesatan mengenai peristiwanya tidak mendatangkan pemidanaan) dan error iuris nocet (kesesatan mengenai hukumnya tidak menghapuskan pemidanaan). Sumber : Ibid., hal. 79.

118 Pada prinsipnya seseorang sudah dapat dipidana apabila telah terbukti melakukan tindak

pidana dan bersalah namun dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu konsep memberi kewenangan kepada hakim untuk memberi maaf atau pengampunan kepada si pelaku tanpa menjatuhkan pidana atau tindakan apapun. Ketentuan mengenai Rechterlijk Pardon ini dirumuskan dalam Pasal 52 ayat (2) Konsep yaitu sebagai bagian dari “pedoman pemidanaan”. Sumber : Ibid., hal. 80.

119 Kewenangan hakim untuk memberi maaf (rechterlijk pardon) dengan tidak menjatuhkan

sanksi pidana atau tindakan apapun, diimbangi pula dengan adanya asas culpa in causa atau asas actio

libera in causa, yang member kewenangan kepada hakim untuk tetap mempertanggungjawabkan si

pelaku tindak pidana walaupun ada alasan penghapus pidana, jika si pelaku patut dipersalahkan atau dicela atas terjadinya keadaan yang menjadi alasn penghapus pidana tersebut. Jadi di sini kewenangan hakim untuk memaafkan atau tidak memidana diimbangi dengan kewenangan untuk tetapmemidana sekalipun ada alasan penghapus pidana. Sumber : Ibid., hal. 80-81.

dan pertanggungjawaban pidana

yang berhubungan dengan masalah subjek tindak pidana. Maka dari itu ada pula

ketentuan tentang subjek berupa korporasi. Semua asas itu belum diatur dalam

KUHP (Wetboek van Strafrecht).

Lain halnya dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan,

khususnya pada Pasal 9, menyatakan bahwa : “Pelaku Usaha Distribusi dilarang

menerapkan sistem skema piramida dalam mendistribusikan Barang”. Definisi hukum

“Pelaku Usaha”, berdasarkan Pasal 1 angka 14, menyatakan bahwa Pelaku Usaha

adalah : “Setiap orang perseorangan warga negara Indonesia atau badan usaha yang

berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan

dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang melakukan

(5)

Oleh karena Pasal 1 angka 14 menyatakan bahwa Pelaku Usaha itu adalah

perseorangan atau badan hukum, maka berdasarkan Pasal 105 Undang-Undang No. 7

Tahun 2014, menyatakan bahwa : “Pelaku Usaha Distribusi yang menerapkan sistem

skema piramida dalam mendistribusikan Barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal

9 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda

paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (Sepuluh Miliar Rupiah”, subjek hukum yang

dapat dihukum adalah perseorangan dan badan hukum.

Korporasi (badan hukum) dapat menjadi pelaku tindak pidana dan sekaligus

bertanggungjawab atas tindakan tersebut.120 Dengan demikian, pelaku kejahatan yang

memakai kedok perusahaan berbadan hukum ataupun bukan badan hukum dapat

dijatuhkan pidana kepadanya.121 Hal ini berkaitan dengan azas siapa yang berbuat

dialah yang bertanggungjawab, yang dapat dilihat pada122

- Pasal 2 KUHP, menyatakan bahwa :

:

120

Mardjono Reksodiputro, Ibid., hal. 5. Menyatakan bahwa : “Di Belanda, perkeculian korporasi dapat menjadi pelaku tindak pidana diterapkan dalam tahun 1950 melalui Undang-Undang Delik Ekonomi (Wet op de Economische Delicten), yang kemudian diambilalih dalam peraturan perundang-undangan Indonesia pada tahun 1955 (Undang-Undang No. 7 Drt/1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi). Sejak 13 Mei 1955 ini, maka khusus untuk tindak pidana ekonomi, telah dijadikan subjek hukum pidana yang dapat dituntut dan dipidana, yaitu : badan hukum, perseorangan, perserikatan yang lainnya atau yayasan (Pasal 15. Dalam tahun 1976 Belanda melangkah lebih jauh lagi dan merubah sama sekali Pasal 51 mereka, sehingga pasal yang baru menyatakan dengan tegas bahwa dalam hukum pidana umum (KUHP) Belanda tindak pidana dapat dilakukan oleh manusia (natuurlijke personen) dan badan hukum (rechtpersonen)”.

121 Terkait dengan pertanggungjawaban pidana, menurut Roscoe Pound,

“Pertanggungjawaban pidana adalah sebagai suatu kewajiban untuk membayar pembalasan yang akan diterima pelaku dari seseorang yang telah dirugikan, menurutnya juga bahwa pertanggungjawaban yang dilakukan tersebut tidak hanya menyangkut masalah hukum semata akan tetapi menyangkut pula masalah nilai-nilai moral ataupun kesusilaan yang ada dalam suatu masyarakat”. Lihat : Roscoe Pound,

Pengantar Filsafat Hukum, (Jakarta : Bhatara, 1975), hal. 76.

122

(6)

“Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia diterapkan bagi setiap orang yang melakukan sesuatu tindak pidana di Indonesia”.

- Pasal 3 KUHP, menyatakan bahwa :

“Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang di luar wilayah Indonesia melakukan tindak pidana di dalam kendaraan air atau pesawat udara Indonesia”.

- Pasal 4 KUHP, menyatakan bahwa :

“Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia diterapkan bagi setiap orang yang melakukan di luar Indonesia :

1. Salah satu kejahatan berdasarkan Pasal-pasal 104, 106, 107, 108 dan 131;

2. Suatu kejahatan mengenai mata uang atau uang kertas yang dikeluarkan oleh negara atau bank, ataupun mengenai meterai yang dikeluarkan dan merek yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia;

3. Pemalsuan surat hutang atau sertifikat hutang atas tanggungan Indonesia, atas tanggungan suatu daerah atau bagian daerah Indonesia, termasuk pula pemalsuan calon, tanda dividen atau tanda bunga, yang mengikuti surat atau sertifikat itu, dan tanda yang dikeluarkan sebagai pengganti surat tersebut, atau menggunakan surat-surat tersebut di atas, yang palsu atau dipalsukan seolah-olah asli dan tidak palsu;

4. Salah satu kejahatan yang tersebut dalam Pasal-pasal 438, 444 sampai dengan 446 tentang pembajakan laut dan Pasal 447 tentang penyerahan kendaraan air kepada kekuasaan bajak laut dan Pasal 479 huruf j. tentang penguasaan pesawat udara secara melawan hukum, Pasal 479 huruf l, m, n dan o tentang kejahatan yang mengancam keselamatan penerbangan sipil”.

- Pasal 5 KUHP, menyatakan bahwa :

1. Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia diterapkan bagi warga negara yang di luar Indonesia melakukan :

1) Salah satu kejahatan tersebut dalam Bab I dan II Buku Kedua dan Pasal-pasal 160, 161, 240, 279, 450, dan 451;

(7)

2. Penuntutan perkara sebagaimana dimaksud dalam butir 2 dapat dilakukan juga jika tertuduh menjadi warga negara sesudah melakukan perbuatan.

Berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan

bahwa hukuman pidana diterapkan bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana

di wilayah Indonesia atau setiap orang di luar Indonesia yang merugikan kepentingan

Indonesia sebagaimana disebut di atas. Dengan demikian, orang yang melakukan

perbuatan pidana dan memang mempunyai kesalahan merupakan dasar adanya

pertanggungjawaban pidana.123

Dengan demikian, menurut Roeslan Saleh, seorang pelaku kejahatan jika akan

dipidana harus ternyata bahwa tindakan yang dilakukan itu ternyata melawan hukum

dan pelaku tersebut mampu bertanggungjawab. Untuk adanya kesalahan yang

mengakibatkan pidananya seorang pelaku kejahatan (dipertanggungjawabkan), maka

pelaku harus

Oleh karena itu, untuk mengetahui seseorang pelaku bisnis berkedok MLM

bersalah atau tidak maka harus diuji unsur kesalahannya. Apakah terpenuhi unsur

pasal yang dipersangkakan atau tidak. Dalam kaitannya dengan praktek bisnis

berkedok MLM, maka ketentuan hukum yang dapat dipersangkakan kepada pelaku

kejahatan tersebut adalah Pasal 372 Jo. 378 KUHP yaitu Penipuan dan atau

Penggelapan ataupun Pasal 105 Jo. Pasal 9 Undang-Undang No. 7 Tahun 2014

tentang Perdagangan.

124

1. “Melakukan perbuatan pidana; :

123 Djoko Prakoso, Op.cit., hal. 75. 124

(8)

2. Mampu bertanggungjawab;

3. Dengan sengaja atau alpa;

4. Tidak ada alasan pemaaf”.

Dalam tindak pidana penipuan dan/atau penggelapan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 372 Jo. 378 KUHP, yang dapat dipertanggungjawabkan adalah setiap

orang yaitu orang perseorangan atau badan hukum. Dalam tindak pidana penipuan

dan/atau penggelapan tersebut, seseorang/korporasi telah dapat dipidana apabila telah

terbukti melakukan perbuatan tindak pidana penipuan dan/atau penggelapan yang

sesuai dengan rumusan tindak pidana dalam KUHP, akan tetapi harus dapat

dibuktikan terlebih dahulu bahwa pelaku mampu bertanggungjawab.

B. Kualifisir Pelaku Kejahatan Praktek Bisnis Berkedok MLM

Di Amerika untuk mengkualifisir pelaku kejahatan praktek bisnis berkedok

MLM dapat dilihat kepada 93 FTC. 618 Tahun 1978. Adapun hal-hal yang perlu

dibuktikan, antara lain125

1. “Tidak memberi komisi berdasarkan perekrutan; :

2. Penjualan produk adalah pra-syarat untuk menerima bonus kinerja;

3. Membeli kembali (garansi) persediaan produk distributor yang berlebihan;

4. Mensyaratkan komisi atau bonus akan diberikan apabila distributor dapat membuktikan bahwa produk sungguh-sungguh telah dijual ke konsumen”.

125

(9)

Pada peraturan di Indonesia mengenai praktek bisnis berkedok MLM, dapat

mengacu kepada Undang-Undang No. 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Pasal 9

menyatakan bahwa : “Pelaku Usaha Distribusi dilarang menerapkan sistem skema

piramida dalam mendistribusikan Barang”. Penyidik dapat menggunakan ketentuan

ini untuk menjerat pelaku bisnis berkedok MLM. Adapun unsur-unsur di dalam Pasal

9 tersebut, sebagai berikut :

1. Pelaku Usaha Distribusi;

2. Dilarang menerapkan sistem skema piramida;

3. Mendistribusikan Barang.

Mengenai definisi Pelaku Usaha dapat dilihat pada Pasal 1 angka 14, yang

menyatakan bahwa : “Pelaku Usaha adalah setiap orang perseorangan warga negara

Indonesia atau badan usaha yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum

yang didirikan dan berkedudukan dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik

Indonesia yang melakukan kegiatan usaha di bidang Perdagangan”. Selanjutnya

untuk definisi Distribusi dapat dilihat pada Pasal 1 angka 11, yang menyatakan bahwa

: “Distribusi adalah kegiatan penyaluran Barang secara langsung atau tidak langsung

kepada konsumen”. Oleh karena itu, Pelaku Usaha Distribusi adalah setiap orang

(inpersoon) ataupun badan hukum (legal entity) yang melakukan usaha perdagangan

melakukan penyaluran barang secara langsung atau tidak langsung.

Unsur selanjutnya adalah “Dilarang menerapkan sistem skema piramida”,

skema piramida telah dijelaskan di dalam Penjelasan Pasal 9, yang menyatakan

(10)

“Yang dimaksud dengan “skema piramida” adalah istilah/nama kegiatan usaha yang bukan dari hasil kegiatan penjualan Barang. Kegiatan usaha itu memanfaatkan peluang keikutsertaan mitra usaha untuk memperoleh imbalan atau pendapatan terutama dari biaya partisipasi orang lain yang bergabung kemudian atau setelah bergabungnya mitra usaha tersebut”.

Berdasarkan Penjelasan Pasal 9 Undang-Undang No. 7 Tahun 2014 tentang

Perdagangan, dapat ditarik unsur-unsur sebagai berikut :

5. Kegiatan usaha;

6. Kegiatan usaha yang bukan dari hasil kegiatan penjualan barang;

7. Kegiatan usaha yang memanfaatkan peluang keikutsertaan mitra usaha;

8. Untuk memperoleh imbalan atau pendapatan;

9. Terutama dari biaya partisipasi orang lain yang bergabung kemudian atau

setelah bergabungnya mitra usaha tersebut.

Unsur selanjutnya dalam Pasal 9 Undang-Undang No. 7 Tahun 2014 adalah

unsur “mendistribusikan barang”, yang artinya menyalurkan barang atau jasa secara

langsung atau tidak langsung kepada konsumen. Definisi Barang menurut Pasal 1

angka 5 menyatakan bahwa : “Barang adalah setiap benda, baik berwujud maupun

tidak berwujud, baik bergerak maupun tidakbergerak, baik dapat dihabiskan maupun

tidak dapat dihabiskan, dan dapat diperdagangkan, dipakai, digunakan, atau

dimanfaatkan oleh konsumen atau pelaku usaha”.

Dilihat dari Penjelasan Pasal 9 Undang-Undang No. 7 Tahun 2014, maka

definisi skema piramida yang dilarang adalah sama dengan 93 FTC. 618 Tahun 1978.

(11)

MLM adalah mengenai barangnya atau produk yang dijualnya. Apakah bermanfaat

atau tidak, berkualitas atau tidak, apakah seimbang harga dengan kualitasnya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dibuktikan barulah disidik mengenai

pendapatan perusahaan tersebut. Apakah dari perekrutan atau dari penjualan produk,

apabila dari perekrutan dan partisipasi orang lain, maka perusahaan berkedok MLM

tersebut dapat dikategorikan telah melakukan perbuatan melawan hukum.

Penyidik (dalam hal ini Kepolisian Republik Indonesia) harus membuktikan

apakah suatu praktek bisnis MLM tersebut memberikan komisi berdasarkan

perekrutan. Apabila dapat dibuktikan bahwa komisi didapat berdasarkan perekrutan,

maka unsur pertama telah terpenuhi. Selanjutnya, Penyidik juga dapat membuktikan

apakah praktek bisnis tersebut terdapat produk yang dijual, bagaimana produknya

laku di pasaran, apakah merupakan suatu kebutuhan dikarenakan kualitas dan mutu

barangnya baik. Setelah dibuktikan tentang produknya, lalu Penyidik dapat

membuktikan aliran bonus yang didapat oleh distributor apakah hasil penjualan

ataukah hasil perekrutan anggota.

Mengenai pembelian kembali barang-barang/produk-produk yang menumpuk.

Apakah perusahaan bisnis MLM tersebut ada kebijakan untuk membeli kembali

produk-produk yang tidak laku terjual di pasaran. Kualifikasi praktek bisnis berkedok

MLM selanjutnya adalah bahwa Penyidik perlu membuktikan apakah produk telah

benar-benar sampai ke tangan konsumen dan digunakan sebagaimana mestinya

(12)

distributor yang memasarkan produknya tersebut layak untuk mendapatkan

komisi/bonus.

Berbeda halnya dengan praktek bisnis yang benar-benar mengandung unsur

penipuan. Nasabah direkrut hanyalah untuk mengumpulkan uang dan memberikan

bonus kepada nasabah yang merekrutnya. Dengan kata lain, apabila Penyidik dapat

membuktikan keempat unsur-unsur tersebut di atas, maka orang atau badan hukum

yang dipersangkakan tidak dapat dikualifisir merupakan praktek bisnis berkedok

MLM, namun sebaliknya apabila Penyidik tidak menemukan bukti permulaan yang

cukup untuk memenuhi keempat unsur-unsur yang dipersyaratkan, maka orang atau

badan hukum yang dipersangkakan tadi dapat dikualifisir telah melakukan praktek

bisnis berkedok MLM. Hal ini dalam kaitannya dengan pemenuhan unsur Pasal 372

Jo. 378 KUHP.

C. Sistem Pertanggungjawaban Pelaku Kejahatan Praktek Bisnis Berkedok MLM

Sistem pertanggungjawaban pelaku kejahatan praktek bisnis berkedok MLM

sama dengan pertanggungjawaban pelaku kejahatan biasa, yaitu tiada pidana tanpa

kesalahan. Pembicaraan mengenai pertanggungjawaban pidana tidak dapat dilepaskan

dari pembicaraan mengenai perbuatan pidana. Orang tidak mungkin

dipertanggungjawabkanuntuk dipidana, apabila ia tidak melakukan tindak pidana.

Para ahli sering menggambarkan bahwa dalam menjatuhkan pidana unsur “tindak

pidana” dan “pertanggungjawaban pidana” harus dipenuhi. Gambaran itu dapat

(13)

Unsur tindak pidana dan kesalahan (kesengajaan) adalah unsur yang sentral

dalam hukum pidana. Unsur perbuatan pidana terletak dalam lapangan objektif yang

diikuti oleh unsur sifat melawan hukum, sedangkan unsur pertanggungjawaban

pidana merupakan unsur subjektif yang terdiri dari kemampuan bertanggungjawab

dan adanya kesalahan (kesengajaan dan kealpaan).

Terkait dengan contoh kasus yang diangkat dalam penelitian ini yaitu Laporan

Polisi yang terdapat di Polresta Medan, yaitu :

1.

Pelapor : Zainurah, perempuan, 47 tahun, Islam, Indonesia, Ibu Rumah Tangga, Jalan A. Rivai No. 17 Medan; Laporan Polisi No. LP/1673/VI/2011/SU/Resta Medan

Waktu Kejadian : 12 Maret 2011;

Tempat Kejadian : Kantor TVI Express Jalan Kapten Muslim Gg. Jawa;

Terlapor : 1. Rustia Ningsih alias Uwo alias Ibu Pepaya alias Ibu Muis;

2. Fredrik Sipahutar; 3. Mitcui Pardede;

Kerugian : Rp. 205.600.000,-

(Dua Ratus Lima Juta Enam Ratus Ribu Rupiah);

Tindak Pidana : Pasal 378 dan/atau 372 KUHP (Penipuan dan/atau Penggelapan)

Barang Bukti : 2 (Dua) lembar brosur TVI Express Tindak

Pidana

Pertanggung

- jawaban Pidana

(14)

2.

Pelapor : Mhd. Nurbakti Firdausy, laki-laki, 43 tahun, Islam, Indonesia, PNS, Jalan Tritura No. 10-A, Kel. Harjosari II, Kec. Medan Amplas, Kota Medan; Laporan Polisi No. LP/1268/V/2011/SU/Resta Medan

Waktu Kejadian : Februari 2010;

Tempat Kejadian : Kantor PT. Latanza Internasional, Jalan Sunggal No. 1-C, Kota Medan

Terlapor : 1. Hanafi Yoniansyah; 2. Esra Syahbandi; 3. Mitcui Pardede;

Kerugian : Rp. 150.000.000,-

(Seratus Lima Puluh Juta Rupiah);

Tindak Pidana : Pasal 378 dan/atau 372 KUHP (Penipuan dan/atau Penggelapan)

Barang Bukti : 1 (Satu) lembar printout PT. Latanza Internasional 1 (Satu) lembar Brosur PT. Latanza Internasional

Selanjutnya berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan Saksi, oleh Penyidik

Polresta Medan, AIPTU. Benedictus Doloksaribu, SH, terhadap Wakil Ketua

Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) an. Verheyen Koenrad Martin, IMJ,

didapat keterangan sebagai berikut :

1. “Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) berdiri sejak tahun 1984, APLI merupakan asosiasi yang menjadi wadah dari perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang penjualan langsung atau Multi Level Marketing (MLM) dan Single Level Marketing (SLM), misi APLI adalah untuk memastikan lingkungan usaha menjadi kondusif memperhatikan kebutuhan anggota dan sebagai mitra bicara dengan pemerintah dan instansi terkait;

(15)

3. Syarat untuk menjadi anggota APLI harus memiliki Surat Izin Usaha Penjualan Langsung (SIUPL) yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) atas rekomendasi dari Depperindag;

4. Mengetahui bahwa PT. TVI Express berdiri sejak tahun 2010 dengan modus operandi mirip dengan MLM namun bukan merupakan MLM karena kegiatan PT. TVI Express ada unsur rekruitmen dan kegiatan rekruitmen tersebut menghasilkan uang sedangkan kegiatan tersebut merupakan suatu perbuatan yg dilarang sesuai dengan Permendag RI Nomor 32/M-DAG/PER/8/2008 tentang Perizinan Penjualan Langsung, Pasal 1 angka 12 yang berbunyi sebagai berikut :

“Jaringan pemasaran terlarang adalah kegiatan usaha dengan nama atau istilah apapun dimana keikutsertaan mitra usaha berdasarkan pertimbangan adanya peluang untuk memperoleh imbalan yang berasal atau didapatkan terutama dari hasil partisipasi orang lain yang bergabung kemudian atau sesudah bergabungnya mitra usaha tersebut, bukan dari hasil kegian penjualan barang atau jasa”.

5. Menurut yang bersangkutan, kegiatan PT. TVI Express dan PT. Latanza merupakan usaha money game yang berkedok MLM;

6. Ciri-ciri usaha money game, antara lain :

a. Menjanjikan untung besar dalam waktu singkat;

b. Penekanan utama pada perekrutan, bukan pada penjualan; c. Bonus dibayarkan apabila ada perekrutan;

d. Bila ada barang hanya sebagai kedok, kualitas barang tidak sebanding dengan harga barang tersebut;

e. Ada dua indikasi usaha, akan ambruk yaitu bila menunda pembayaran bonus dan menaikkan biaya pendaftaran.

7. Perbedaan MLM dengan money game adalah sebagai berikut :

a. Biaya untuk MLM relatif tidak mahal, sesuai dengan starter kit sedangkan biaya money game mahal dan biasanya disertai dnegan pembelian produk murah yang harganya tinggi;

b. Bonus untuk MLM terjadi karena produk yang terjual, produk terjual karena manfaat dari produk sehingga terjadi pembelian kembali, pay

out pada distributor maksimal 40% dari nilai penjualan sedangkan

(16)

c. Untuk MLM ada produk yang dijual, kualitas produk dapat dipertanggungjawabkan ada buy back guarantee bagi distributor yang berhenti dan sisa barang boleh dikembalikan, sedangkan untuk money

game tidak ada produk yang dijual/fiktif, kalaupun ada produk hanya

sebagai kedok dan kualitasnya dipertanyakan terhadap harganya tidak ada buyback guarantee.

8. Secara garis besar PT. TVI Express dan PT. Latanza Global Interlink merupakan kegiatan money game yang berkedok MLM, karena penekanannya pada proses rekruitmen apabila proses rekruitmen dihentikan maka tentunya perusahaan akan bangkrut”.

Dapat dilihat dari hasil pemeriksaan di atas oleh Penyidik terhadap perwakilan

dari APLI dan juga telah dibahas sebelumnya bahwa perusahaan berkedok MLM

hanyalah mengutamakan perekrutan orang (downline), sedangkan untuk perusahaan

yang benar-benar MLM, lebih menekankan pada penjualan produknya. Setelah,

Penyidik membuat terang dan jelas, dan mendapatkan keterangan terkait dengan

perusahaan MLM dan perusahaan berkedok MLM, maka Penyidik langsung dapat

melakukan pemenuhan unsur-unsur pasal yang dipersangkakan kepada Terlapor yaitu

“Tindak Pidana Penipuan dan/atau Penggelapan” sebagaimana dimaksud dalam Pasal

372 Jo. 378 KUHP. Karena pada saat laporan polisi tersebut dibuat, Undang-Undang

No. 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan belum diundangkan, oleh karena itu, untuk

menjerat pelaku tindak pidana tersebut, hanyalah dapat dipersangkakan dengan

menggunakan KUHP.

Sistem pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku kejahatan praktek bisnis

berkedok MLM adalah crime liability (pertanggungjawaban hukum pidana). Azas

yang digunakan adalah “siapa yang berbuat dialah yang bertanggungjawab”. Lalu

(17)

seseorang dapat dinyatakan bersalah apabila didasarkan pada minimal 2 (Dua) alat

(18)

BAB IV

PERAN POLRI DALAM PENYIDIKAN KEJAHATAN PRAKTEK BISNIS BERKEDOK MLM PADA KEGIATAN PENYELENGGARAAN

PENJUALAN LANGSUNG DI INDONESIA

Kepolisian adalah suatu institusi yang memiliki ciri universal yang dapat

ditelusuri dari sejarah lahirnya polisi baik sebagai fungsi maupun organ. Pada

awalnya polisi lahir bersama masyarakat untuk menjaga sistem kepatuhan

(konformitas) anggota masyarakat terhadap kesepakatan antar warga masyarakat itu

sendiri terhadap kemungkinan adanya tabrakan kepentingan, penyimpangan perilaku

dan perilaku kriminal dari masyarakat. Ketika masyarakat bersepakat untuk hidup di

dalam suatu negara, pada saat itulah polisi dibentuk sebagai lembaga formal yang

disepakati untuk bertindak sebagai pelindung dan penjaga ketertiban dan keamanan

masyarakat atau yang disebut sebagai fungsi “Sicherheitspolitizei”. Kehadiran polisi

sebagai organisasi sipil yang dipersenjatai agar dapat memberikan efek pematuhan

(enforcing effect).126

Fungsi Kepolisian yang tercantum dalam undang-undang tidak terlepas dari

fungsi hukum dimana di dalam dasar dari adanya undang-undang tersebut yaitu

tujuan pokok dari hukum yang dapat direduksi hal, yaitu127

1. “Ketertiban

:

Ketertiban adalah tujuan utama dari hukum. Ketertiban merupakan syarat utama untuk suatu masyarat yang ingin teratur. Pembangunan hanya dapat dilakukan di dalam masyarakat yang teratur. Disamping ketertiban adalah

126 Bibit Samad Rianto, Pemikiran Menuju Polri yang Profesional, Mandiri, Berwibawa, dan

dicintai Rakyat, (Jakarta : PTIK Press dan Restu Agung, 2006), hal. 36.

127 B. Simanjuntak, Hukum Acara Pidana dan Tindak Pidana, (Bandung : Tarsito, 1982), hal.

(19)

tercapainya keadilan. Keadilan tidak mungkin ada tanpa ketertiban. Untuk mencapai ketertiban perlu terciptanya kepastian dalam pergaulan.

2. Alat Pembaharuan Masyarakat

Dengan menciptakan undang-undang maka dapat diciptakan pembaharuan sikap dan cara berfikir. Justru hakekat daripada pembangunan adalah pembaharuan sikap hidup. Tanpa sikap dan cara berfikir yang berubah maka pengenalan lembaga modern dalam kehidupan tak akan berhasil. Usaha berubah cara berifikir dalam jual beli yang sifatnya riel ke arah berfikir yang konsensual diciptakanlah undang-undang pokok agraria. Menghentikan cara berfikir magis di Kalimantan seperti “mengayu” dilarang melalui KUHP. Melarang perbudakan di Amerika (masalah hak sipil negoro) diciptakan Undang-Undang New Deal”.

Melihat daripada fungsi hukum diatas maka bila ada hukum, undang-undang

yang tidak menciptakan ketertiban berarti undang-undang itu kehilangan fungsinya.

Hukum demikian harus ditiadakan, dihapus. Hukum yang baik adalah hukum yang

sesuai dengan hukum yang hidup (the living law) dalam masyarakat yang tentunya

sesuai pula atau merupakan pencerminan daripada nilai yang berlaku dalam

masyarakat. Dengan kata lain hukum undang-undang sebagai kaidah sosial dalam

masyarakat bahkan dapat dikatakan hukum, undang-undang itu merupakan

pencerminan daripada nilai-nilai yang berlaku dalm masyarakat. Nilai itu tidak lepas

dari sikap dan sifat yang dimiliki orang-orang yang menjadi anggota masyarakat yang

sedang membangun itu.128

Peran Polri dalam penyidikan kejahatan praktek bisnis berkedok MLM pada

kegiatan penyelenggaraan penjualan langsung di Indonesia adalah membuat terang

dan jeas suatu tindak pidana yang dipersangkakan kepada Terlapor. Polri sebagai

Penyidik adalah diberikan kewenangan oleh KUHAP dalam Pasal 1 angka 1.

128

(20)

Sebelum membahas mengenai peran Polri dalam penyidikan kejahatan tersebut, perlu

mengetahui perbedaan penyelidikan dan penyidikan.

Berdasarkan Pasal 1 angka 5 KUHAP, “Penyelidikan adalah serangkaian

tindakan Penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga

sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan

menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini”. Sedangkan Penyidikan, diatur

dalam Pasal 1 angka 2 KUHAP, yang menyatakan bahwa : “Penyidikan adalah

serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam

undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu

membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan

tersangkanya”.

Jadi, penyelidikan dilakukan itu dalam rangka menentukan suatu perbuatan itu

merupakan tindak pidana atau bukan, sedangkan untuk penyidikan adalah rangkaian

tindakan Penyidik untuk memperoleh bukti permulaan yang cukup guna menentukan

Tersangkanya.

A. Proses Penyidikan Polri Terhadap Tindak Pidana

1. Dasar Dilakukan Penyidikan

Penegak hukum dalam hal ini Kepolisian Republik Indonesia berwenang

untuk melakukan penyidikan dan penyelidikan.129

129

Pasal 7 KUHAP, yang menyatakan bahwa : “Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a. karena kewajibannya mempunyai wewenang : a. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana; b. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; c. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; d. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan; e. Melakukan pemeriksaan dan

(21)

penyidikan diatur melalui Peraturan Kapolri No. 14 Tahun 2012 tentang Manajemen

Penyidikan Tindak Pidana. Tugas dan wewenang dari penyelidik salah satunya adalah

menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana sesuai

denganPasal 5 KUHAP. Penyelidik dalam hal ini polisi sesuai dengan

ketentuan Pasal 1 angka 4 KUHAP, atas laporan/pengaduan tersebut mencari dan

menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan

dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan. Di dalam

penyidikanberdasarkanPasal1angka2KUHAP, penyidik/polisi mencari serta

mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana

yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

Di dalam Pasal 4 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia

Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana (“Perkap

14/2012”), dasar dilakukan penyidikan adalah:

a. laporan polisi/pengaduan;

b. surat perintah tugas;

c. laporan hasil penyelidikan (LHP);

d. surat perintah penyidikan; dan

e. Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP).

2. Tahap Penyelidikan

(22)

Seorang penyidik dalam melaksanakan tugasnya memiliki koridor hukum

yang harus di patuhi, dan diatur secara formal apa dan bagaimana tata cara

pelaksanaan, tugas-tugas dalam penyelidikan. Artinya para penyidik terikat kepada

peraturan-peraturan, perundang-undangan, dan ketentuan-ketentuan yang berlaku

dalam menjalankan tugasnya.

Dalam pelaksanaan proses penyidikan, peluang-peluang untuk melakukan

penyimpangan atau penyalagunaan wewenang untuk tujuan tertentu bukan mustahil

sangat dimungkinkan terjadi. Karena itulah semua ahli kriminalistik menempatkan

etika penyidikan sebagai bagian dari profesionalisme yang harus d miliki oleh

seorang penyidik sebagai bagian dari profesionalisme yang harus dimiliki oleh

seorang penyidik. Bahkan, apabila etika penyidikan tidak dimiliki oleh seseorang

penyidik dalam menjalankan tugas -tugas penyidikan, cenderung akan terjadi

tindakan sewenang-wenang petugas yang tentu saja akan menimbulkan persoalan

baru.

Ruang lingkup penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk

mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna

menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang mengatur

dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 Pasal 1 angka 5. Penyelidik karena

kewajibannya mempunyai wewenang menerima laporan, mencari keterangan dan

barang bukti, menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta

memeriksa tanda pengenal diri, dan mengadakan tindakan lain menurut hukum yang

bertanggung jawab. Berdasarkan ketentuan Pasal 16 ayat (1) KUHAP, untuk

(23)

penangkapan. Namun untuk menjamin hak hak asasi tersangka, perintah penangkapan

tersebut harus didasarkan pada bukti permulaan Barang Bukti.

Penyelidikan yang dilakukan penyelidik dalam hal ini tetap harus

menghormati asas praduga tak bersalah (presumption of innocence) sebagaimana di

sebutkan dalam penjelasan umum butir 3c KUHAP. Penerapan asas ini tidak lain

adalah untuk melindungi kepentingan hukum dan hak-hak tersangka dari

kesewenang-wenangan kekuasaan para aparat penegak hukum. Selanjutnya

kesimpulan hasil penyelidikan ini disampaikan kepada penyidik.

Apabila didapati tertangkap tangan, tanpa harus menunggu perintah penyidik,

penyelidik dapat segara melakukan tindakan yang diperlukan seperti penangkapan,

larangan, meninggalkan tempat, penggeledahan dan penyitaan. Selain itu penyelidik

juga dapat meakukan pemerikasaan surat dan penyitaan surat serta mengambil sidik

jari dan memotret atau mengambil gambar orang atau kelopmpok yang tertangkap

tangan tersebut. Selain itu penyidik juga dapat membawa dang mengahadapkan

oarang atau kelompok tersebut kepada penyidik. Dalam hal ini Pasal 105 KUHAP

menyatakan bahwa melaksanakan penyelidikan, penyidikan, penyelidik dikoordinasi,

diawasi dan diberi petunjuk oleh penyidik.

3. Tahap Penyidikan

Pengertian penyidikan diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara

Pidana yang terdapat Pada Pasal 1 butir I yang berbunyi sebagai berikut:“Penyidik

adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia Atau Pejabat Pegawai Negari Sipil

(24)

penyidikan”. Dari pengertian penyidik tersebut, dalam penjelasan undang-undang

disimpulkan mengenai pejabat yang berwenang untuk melakukan penyidikan yaitu:

Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia (POLRI); dan Pejabat Pegawai Negari Sipil

(PPNS) yang diberi wewenang khusus oleh Undang-undang untuk melakukan

penyidikan.

Selain penyidik, dalam KUHAP dikenal pula penyidik pembantu, ketentuan

mengenai hal ini terdapat pada Pasal 1 butir 3 KUHAP, yangmenyebutkan

bahwa:“Penyidik pembantu adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia

yang karena diberikan diberi wewenang tertentu dapat melakukan penyidikan yang

diatur dalam undang-undang ini”.

Selanjutnya mengenai pengertian penyidik pembantu diatur dalam Pasal 1

Butir 12 Undang-undang No.2 tahun 2002, yang menyatakan bahwa:“Penyidik

Pembantu adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diangkat oleh

Kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia berdasarkan syarat kepangkatan dan

diberi wewenang tertentu dalam melakukan tugas penyidikan yang diatur dalam

Undang-undang”.

Mengenai Penyidik Negari Sipil Dijelaskan lebih lanjut dalam penjelasan

Pasal 7 ayat (2) KUHAP, bahwa: “Yang dimaksud dengan penyidik dalam ayat ini

adalah misalnya pejabat bea cukai, pejabat imigrasi, pejabat kehutanan yang

melakukan tugas penyelidikan sesuai dengan wewenang khusus yang diberikan oleh

undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing”.

Berdasarkan ketentuan perundang-undangan mengenai penyidik dan penyidik

(25)

harus ada pemberian wewenang. Mengenai pemberian wewenang tersebut menurut

Andi Hamzah, berpendapat bahwa130

Sehubungan dengan hal tersebut Yahya Harahap memberikan Penjelasan

mengenai penyidik dan penyidikan sebagai berikut :

“Pemberian wewenang kepada penyidik bukan semata-mata didasarkan atas kekuasaan tetapi berdasarkan atas pendekatan kewajiban dan tanggung jawab yang diembannya, dengan demikian kewenangan yang diberikan disesuaikan dengan kedudukan, tingkat kepangkatan, pengetahuan serta ringannya kewajiban dan tanggung jawab penyidik.”

Tugas penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik POLRI adalah merupakan

penyidik tunggal bagi tindak pidana umum, tugasnya sebagai penyidik sangat sulit

dan membutuhkan tanggung jawab yang besar, karena penyidikan merupakan tahap

awal dari rangkaian proses penyelesaian perkara pidana yang nantinya akan

berpengaruh bagi tahap proses peradilan selanjutnya.

Sedangkan pada Pasal 1 butir 2 KUHAP menjelaskan mengenai pengertian

penyidikan, sebagai berikut:“Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam

hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta

mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana

yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya”.

131

“Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan ketentuan umum Pasal 1 Butir 1 dan 2, Merumuskan pengertian penyidikan yang menyatakan, penyidik adalah pejabat Polri atau pejabat pegawai negeri tertentu yang diberi wewenang oleh undang-undang. Sadangkan penyidik sesuai dengan cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari dan mengumpulkan bukti, dan

:

130 Andi Hamzah, Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana,(Jakarta : Ghalia

Indonesia, 1986), hal. 27.

131 M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP : Penyidikan dan

(26)

dengan bukti itu membuat atau menjadi terang suatu tindak pidana yang terjadi serta sekaligus menemukan tersangkanya atau pelaku tindak pidananya”

Sedangkan Andi Hamzah dalam bukunya Hukum Acara Pidana Indonesia

menyimpulkan defenisi dari Pasal 1 Butir 2 KUHAP, sebagai berikut132

Acara pidana dijalankan jika terjadi tindak pidana hal ini dapat disimpulkan

dari kata membuat terang tindak pidana yang terjadi, hal inilah yang tidak disetujui

oleh VanBemmelen, karena, katanya mungkin saja acara pidana berjalan tanpa terjadi

delik; contoh klasik yang dikemukakan ialah kasus Jean Clas di Prancis yang

menyangkut seorang Ayah dituduh membunuh anaknya, padahal itu tidak terjadi

namun proses pidananya sudah berjalan.Selanjutnya Andi Hamzah mengemukakan

kembali bahwa Penyidikan ialah suatu istilah yang dimaksud sejajar dengan

pengertian Opsparing (Belanda), dan Investigation (Inggris) atau

Penyisatan/Sjasat(Malaysia). Defenisi penyidikan dalam KUHAP. Menurut bahasa

Belanda adalah sama dengan Opsporing.

:

“Penyidikan (acara pidana) hanya dapat dilakukan berdasarkan undang-undang, hal ini dapat disimpulkan dari kata-kata menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Ketentuan ini dapat dibandingkan dengan Pasal 1 Ned.Sv. Yang berbunyi: Strafvordering heeft allen wet voorzien. (Hukum acara pidana dijalankan hanya berdasarkan Undang-undang).”

133

Berikut ini Andi Hamzah mengutip pendapat De Pinto, yang menyatakan

bahwa : “Menyidik (Opsporing). Berartipemeriksaan permulaan oleh Pejabat-pejabat

132

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Edisi II, (Jakarta : Sinar Grafika, 2006). Lihat juga : Andi Hamzah, Beberapa Hal Dalam Rancangan KUHAP,

133

(27)

yang untuk itu oleh undang-undang segera setelah mereka dengan jalan apapun

mendengar yang sekedar beralasan, bahwa ada terjadinya suatu pelanggaran

hukum”.134

Apa yang dikemukakan tentang penyelidikan tersebut diatas Buchari Said

menyebutkansebagai aktivitas yuridis, maksudnya adalah aktivitas yang dilakukan

berdasarkan aturan-aturan hukum positif sebagai hasil dari tindakan tersebut harus

dapat dipertanggung jawabkan secara yuridis pula, karena kata yuridis menunjuk

kepada adanya suatu peraturan hukum yang dimaksud tiada lain peraturan-peraturan

mengenai hukum acara pidana.

Penyidikan merupakan aktivitas yurisdis yang dilakukan penyelidik untuk

mencari dan menemukan kebenaran sejati (Membuat terang jelas tentang tindak

pidana yang terjadi.

135

134Ibid.

135

Buchari Said, Sari Pati Hukum Acara Pidana, Cet. Ke-I, (Jakarta, 1997), hal. 29.

Tujuan utama penyidikan adalah untuk mencari serta mengumpulkan bukti

yang dengan bukti dapat membuat terang suatu tindak pidana yang terjadi dan guna

menemukan tersangkanya. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 1 butir 2 KUHAP.

Dalam melaksanakan tugas penyidikan untuk mengungkapkan suatu tindak

pidana, maka penyidik karena kewajibannya mempunyai wewenang sebagaimana

yang tercantum di dalam isi ketentuan Pasal 7 ayat (1) Kitab Undang-udang Hukum

Acara Pidana (KUHAP) Jo. Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2002

tentang Kepolisan Negara Republik Indonesia, yang menyebutkan bahwa wewenang

(28)

1. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;

2. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;

3. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri

tersangka;

4. Melakukan penangkapan, penahanan,penggeledahan dan penyitaan;

5. Mengenai sidik jari dan memotret seseorang;

6. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

7. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

8. Mendatang orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan

pemeriksaan perkara;

9. Mengadakan penghentian penyidikan;

10.Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

Penyidikan yang dilakukan tersebut didahului dengan pemberitahuan kepada

penutut umum bahwa penyidikan terhadap suatu peristiwa pidana telah mulai

dilakukan. Secara formal pemberitahuan tersebut disampaikan melalui mekanisme

Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP). Hal tersebut diatur dalam

ketentuan Pasal 109 KUHAP. Namun kekurangan yang dirasa sangat menghambat

adalah tiada ada ketegasan dari kentuan tersebut kapan waktunya penyidikan harus

diberitahukan kepada Penuntut Umum.

Dalam hal penyidik telah selesai melakukan penyidikan, penyidik wajib

segara menyerahkan berkas perkara tersebut kepada penutut umum. Dan dalam hal

(29)

umum segera mengembalikan berkas perkara tersebut kepada penyidik disertai

petunjuk untuk dilengkapi. Apabila pada saat penyidik menyerahkan hasil

penyidikan, dalam waktu 14 Hari penutut umum tidak mengembalikan berkas

tersebut, maka penyidikan dianggap selesai.

B. Peran Polri Dalam Penyidikan Kejahatan

Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan

dalam memeliharan keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta

memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat dalam rangka

terpeliharanya keamanan dalam negeri.136 Tugas pokok Kepolisian Negara Republik

Indonesia adalah137

a. Memeliharan keamanan dan ketertiban masyarakat; :

b. Menegakkan hukum; dan

c. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Rumusan tugas pokok tersebut bukan merupakan urutan prioritas,

ketiga-tiganya sama penting, sedangkan dalam pelaksanaannya tugas pokok mana yang akan

dikedepankan sangat tergantung pada situasi masyarakat dan lingkungan yang

dihadapi karena pada dasarnya ketiga tugas pokok tersebut dilaksanakan secara

simultan dan dapat dikombinasikan. Disamping itu, dalam pelaksanaan tugas ini

136 Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik

Indonesia.

137 Pasal 13 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik

(30)

harus berdasarkan norma hukum, mengindahkan norma agama, kesopanan, dan

kesusilaan, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia.138

Dalam melaksanakan tugas pokok untuk memelihara keamanan dan ketertiban

masyarakat, menegakkan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan

pelayanan masyarakat, maka Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas139

a. “Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan;

:

b. Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di jalan;

c. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan;

d. Turut serta dalam pembinaan hukum nasional;

e. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum;

f. Melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil, dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa;

g. Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya;

h. Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian;

i. Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia;

j. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwenang;

k. Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingannya dalam lingkup tugas kepolisian; serta

l. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.

138 Penjelasan Pasal 13 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara

Republik Indonesia.

139 Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik

(31)

Dalam rangka menyelenggarakan tugas untuk memelihara keamanan dan

ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, dan memberikan perlindungan,

pengayoman, dan pelayanan masyarakat dan tugas-tugas di atas, maka Kepolisian

Negara Republik Indonesia secara umum berwenang140

a. “Menerima laporan dan/atau pengaduan; :

b. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum;

c. Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat;

d. Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa;

e. Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administratif kepolisian;

f. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan;

g. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;

h. Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang; i. Mencari keterangan dan barang bukti;

j. Menyelenggarakan pusat informasi kriminal nasional;

k. Mengeluarkan surat izin dan/atau surat keterangan yang diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat;

l. Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat;

m. Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu”.

Selanjutnya Kepolisian Negara Republik Indonesia juga mempunyai

wewenang lain, yaitu141

a. “Memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian umum dan kegiatan masyarakat lainnya;

:

b. Menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor; c. Memberikan surat izin mengemudi kendaraan bermotor;

d. Menerima pemberitahuan tentang kegiatan politik;

e. Memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api, bahan peledak, dan senjata tajam;

140 Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik

Indonesia.

141 Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik

(32)

f. Memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap badan usaha di bidang jasa pengamanan;

g. Memberikan petunjuk, mendidik, dan melatih aparat kepolisian khusus dan petugas pengamanan swakarsa dalam bidang teknis kepolisian;

h. Melakukan kerja sama dengan kepolisian negara lain dalam menyidik dan memberantas kejahatan internasional;

i. Melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang asing yang berada di wilayah indonesia dengan koordinasi instansi terkait;

j. Mewakili pemerintah republik indonesia dalam organisasi kepolisian internasional;

k. Melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup tugas kepolisian”.

Ketentuan tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang Polri di atas diatur lebih

lanjut dengan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud Pasal 15 ayat (3)

Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Dalam rangka menyelenggarakan tugas dalam proses pidana, Kepolisian

Negara Republik Indonesia berwenang untuk142

a. “Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan; :

b. Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan;

c. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan;

d. Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri;

e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;

f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;

h. Mengadakan penghentian penyidikan;

i. Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum;

j. Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk mencegah atau menangkal orang yang disangka melakukan tindak pidana;

142 Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik

(33)

k. Memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil penyidikan penyidik pegawai negeri sipil untuk diserahkan kepada penuntut umum; dan

l. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab”.

Tindakan lain adalah sebagaimana dimaksud huruf l di atas, adalah tindakan

penyelidikan dan penyidikan yang dilaksanakan jika memenuhi syarat sebagai

berikut143

a. “Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum; :

a. Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan tindakan tersebutdilakukan;

b. Harus patut, masuk akal, dan termasuk dalam lingkungan jabatannya; c. Pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang memaksa; dan d. Menghormati hak asasi manusia”.

Lembaga kepolisian merupakan lembaga negara yang harus tetap berdiri tegak

sekalipun negara runtuh, pemerintahan atau rezim jatuh atau untuk mengamankan

warga masyarakat dari ekses-ekses yang mengancam jiwa raga, dan harta bendanya.

Bahkan pada saat negara-negara diduduki tentara asing, Polisi tetap menjalankan

tugasnya yaitu menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Polisi adalah

subordinasi dan masyarakatnya, dimana masyarakat menjadi titik awal dan titik akhir

pengabdian polisi.144

Bermacam bentuk tindakan dan wewenang yang diberikan undang-undang

kepada Penyidik dalam rangka pembatasan kebebasan dan hak asasi seseorang. Mulai

dari bentuk penangkapan, penahanan, penyitaan, dan penggeledahan. Tapi harus

143 Pasal 16 ayat (2) Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik

Indonesia.

144 “Tugas dan Wewenang Polri”,

(34)

diingat, semua tindakan Penyidik yang bertujuan untuk mengurangi kebebasan dan

pembatasan hak asasi seseorang, adalah tindakan yang benar-benar diletakkan pada

proporsi “demi untuk kepentingan pemeriksaan”, dan “benar-benar sangat diperlukan

sekali”. Jangan disalahgunakan dengan cara yang terlampau murah, sehingga setiap

langkah tindakan yang dilakukan Penyidik, langsung menjurus ke arah penangkapan

atau penahanan.145

Pelaksanaan penegakan hukum tidak hanya Criminal Justice System (CJS)

atau Catur Wangsa atau Panca Wangsa (termasuk Lembaga Pemasyarakatan), tetapi

juga melibatkan pemerintah (baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah

termasuk Instansi Pemerintah dan TNI) serta masyarakat pada umumnya (baik secara

perseorangan maupun secara berkelompok) sesuai dengan peran mereka

masing-maisng.146

Penegakan hukum adalah kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang

terjabarkan dalam kaidah-kaidan, pandangan-pandangan yang mantap dan

mengejawantahkannya dalam sikap, tindak sebagai serangkaian penjabaran nilai

tahap akhir untuk menciptakan kedamaian pergaulan hidup.147

1. Menerima laporan dan/atau pengaduan;

Terkait dengan praktek bisnis berkedok MLM, tugas Polri adalah sebagai

berikut :

145

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP : Penyidikan dan

Penuntutan, (Sinar Grafika, 2006), hal. 157.

146 Bibit Samad Rianto, Op.cit., hal. 45.

147 Soerjono Soekanto, Beberapa Permasalahan Hukum dalam Kerangka Pembangunan di

(35)

2. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat

mengganggu ketertiban umum;

3. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan

kepolisian dalam rangka pencegahan;

4. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;

5. Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang;

6. Mencari keterangan dan barang bukti.

Para korban dapat membuat laporan pengaduan ke Kantor Kepolisian

terdekat, dan Kepolisian tersebut wajib menerima laporan pengaduan masyarakat

karena masyarakat adalah warga negara Indonesia yang wajib dilindungi oleh

Kepolisian Negara Republik Indonesia. Apabila ada masyarakat yang ditolak laporan

pengaduannya, maka Polisi yang bertugas pada pelayanan masyarakat tersebut dapat

dimintakan Berita Acara Penolakan Laporan Pengaduan. Untuk itu, Polisi sudah

dapat dipastikan tidak akan mengeluarkan Berita Acara tersebut karena bukan tugas

Polisi yang menerima laporan untuk menyatakan suatu perbuatan itu pidana atau

tidak.

Laporan pengaduan dibuat adalah dalam rangka menyelesaikan perselisihan

warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum. Antara korban praktek

bisnis berkedok MLM dengan para pelaku adalah hubungan antar warga masyarakat,

oleh karena itu, Laporan Pengaduan masyarakat tersebut wajib ditindaklanjuti.

Berdasarkan Pasal 14 ayat (3) Peraturan Kapolri No. 14 Tahun 2012 tentang

(36)

yang bertugas di SPKT atau Siaga Bareskrim Polri segera menindaklanjuti dengan

melakukan pemeriksaan terhadap pelapor dalam bentuk berita acara pemeriksaan

saksi pelapor. Berita acara pemeriksaan ini dapat dilakukan pada saat setelah selesai

membuat Laporan Polisi ataupun membuat janji dengan Petugas yang akan

memeriksa.

Setelah Berita Acara Pemeriksaan saksi pelapor dilakukan, maka menurut

Pasal 14 ayat (4) Perkap No. 14 Tahun 2012 tersebut, memerintahkan Kepala SPKT

atau Kepala Siaga Bareskrim Polri segera meneruskan laporan polisi dan berita acara

pemeriksaan saksi pelapor kepada :

a. Karobinops Bareskrim Polri untuk laporan yang diterima di Mabes Polri;

b. Direktur Reserse Kriminal Polda untuk laporan yang diterima di SPKT Polda

sesuai jenis perkara yang dilaporkan;

c. Kapolres/Wakapolres untuk laporan yang diterima di SPKT Polres; dan

d. Kapolsek/Wakapolsek untuk laporan yang diterima di SPKT Polsek.

Lalu, kegiatan penyidikan yang dilakukan oleh Kepolisian dilaksanakan

secara bertahap, meliputi :

a. Penyidikan

b. pengiriman SPDP;

c. upaya paksa;

d. pemeriksaan;

e. gelar perkara;

(37)

g. penyerahan berkas perkara ke penuntut umum;

h. penyerahan tersangka dan barang bukti; dan

i. penghentian Penyidikan.

Sebelum melakukan penyelidikan, penyelidik wajib membuat rencana

penyelidikan untuk menentukan apakah suatu perkara tersebut termasuk ke dalam

kategori ringan, sedang, ataupun berat. Setelah dilakukan rencana penyelidikan,

Kepolisian melakukan pemanggilan terhadap saksi-saksi yang berkaitan guna

membuat terang suatu tindak pidana dengan mencari bukti permulaan yang cukup.

Apabila sudah ditemukan bukti permulaan yang cukup sebanyak 2 (dua) alat bukti,

maka Penyelidik dapat menggelar perkara yang ditanganinya untuk menentukan

tersangkanya. Lalu dilakukanlah pemanggilan selaku tersangka. Apabila bukti-bukti

yang didapat sudah mengarahkan kepada tersangka tersebut, maka dapat dilakukan

pemberkasan untuk pelimpahan ke Kejaksaan agar dilakukan proses hukum lebih

lanjut yaitu penuntutan.

Selanjutnya, Polisi juga berwenang untuk melakukan pencegahan terhadap

suatu tindak pidana tertentu. Akan tetapi, dalam hal tindak pidana menggunakan delik

aduan, Polisi sebagai Penyidik dapat dipastikan tidak dapat melaksanakan peran dan

fungsinya untuk melaksanakan pencegahan, karena pemeriksaan dapat dilakukan

setelah adanya pengaduan. Oleh karena itu, Undang-Undang No. 7 Tahun 2014

tentang Perdagangan tidak menganut delik aduan karena ada unsur “dilarang” dalam

(38)

C. Peran Polri Dalam Penyidikan Kejahatan Praktek Bisnis Berkedok MLM Pada Kegiatan Penyelenggaraan Penjualan Langsung di Indonesia

Polri sebagai Penyelidik dan Penyidik dapat melakukan penyelidikan dan

penyidikan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dimana polisi

bersangkutan ditugaskan. Terhadap berkas perkara Laporan Pengaduan yang

diterimanya, Penyidik dapat melakukan penyidikan berdasarkan kewenangannya

yang sudah ditetapkan oleh Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian

Negara Republik Indonesia yaitu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16.

Dalam rangka mencari fakta-fakta materiil, Polisi dapat mencari bukti-bukti

yang terkait dengan laporan polisi yang ditanganinya. Bukti-bukti tersebut dapat

dimintakan dari Pelapor. Selanjutnya, Penyidik melakukan pemeriksaan sebagai

Saksi terhadap Pelapor. Lalu, dari keterangan saksi Pelapor tersebutlah diambil lagi

keterangan dari Saksi-saksi terkait lainnya. Setelah keterangan saksi-saksi dan

bukti-bukti didapat. Polisi sebagai Penyidik dapat melakukan pemanggilan terhadap

seseorang yang diduga melakukan tindak pidana (dalam hal ini adalah Terlapor).

Pemanggilan tersebut dilakukan guna diambil keterangannya terkait dengan laporan

polisi terhadap dirinya, masih sebagai Saksi.

Bagi Penyidik untuk menetapkan seorang Terlapor menjadi Tersangka

dibutuhkan Gelar Perkara Awal Proses Penyidikan yang dilakukan antar Penyidik di

tempat dimana laporan pengaduan tersebut dibuat.148

148

Pasal 70 ayat (1) dan (2) Peraturan Kapolri No. 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana, menyatakan bahwa : “Gelar perkara pada tahap awal penyidikan bertujuan untuk : a. menentukan status perkara pidana atau bukan; b. merumuskan rencana penyidikan; c. menentukan unsur-unsur pasal yang dipersangkakan; d. menentukan saksi, tersangka, dan barang bukti; e. menentukan target waktu; dan f. penerapan teknik dan taktik Penyidikan”.

(39)

ditingkatkan statusnya menjadi Tersangka, maka Penyidik juga memanggil dirinya

sebagai Tersangka untuk diambil keterangannya terkait dengan tindak pidana yang

dipersangkakan kepadanya.

Apabila pemenuhan unsur-unsur tindak pidana yang dipersangkakan

kepadanya telah terpenuhi, maka Penyidik dapat melimpahkan berkas perkara kepada

Jaksa Peneliti untuk mengetahui apakah penyidikan sudah legngkap atau belum untuk

dilakukan penuntutan. Dalam hal Jaksa Peneliti membutuhkan penyidikan-penyidikan

tambahan, maka Jaksa Peneliti dapat mengeluarkan P-19 (petunjuk-petunjuk Jaksa)

terhadap tindak pidana yang dipersangkakan tersebut. Setelah dipenuhi P-19 Jaksa

Peneliti tersebut, Penyidik Polri melimpahkan kembali berkas penyidikannya dalam

bentuk satu berkas perkara. Setelah dilimpahkan apabila diterima Jaksa, maka akan

dibuatkan Berita Acara Pelimpahan Berkas Perkara Berikut Tersangkanya guna

dilakukan penuntutan dalam hal proses hukum lebih lanjut. Selanjutnya, Jaksa

Penuntut membuat Surat Dakwaan terhadap Tersangka tersebut untuk disidangkan di

yurisdiksi Pengadilan Negeri dimana tempat kejadian terjadi.

Untuk melihat bagaimana peran polri dalam menanggulangi kejahatan Money

Game dapat dilihat pada contoh-contoh kasus di bawah ini :

Kasus yang heboh pada 2012 adalah PT GAN menipu ribuan nasabah dengan

tawaran bisnis pengolahan ikan, sarden Kiku. Cara berbisnis PT GAN, seperti model

penipuan lainnya, menawarkan keuntungan yang pasti dan menggiurkan kepada

nasabah. Investor yang akan bergabung dijanjikan memperoleh keuntungan 10%yang

dibagikan setiap minggu selama 52 minggu (setahun).Investor akan memperoleh

(40)

investasi sampai jumlah tertentu bahkan mendapatkan bonus emas. PT GAN berhasil

menarik banyak orang untuk menyetor dananya, sejak Januari 2012 sampai Mei 2012,

perusahaan ini berhasil mengumpulkan sekitar Rp390 miliar dari 21.000-an

nasabah.PT GAN semakin meyakinkan nasabah dengan membuka kantor cabang di

lima tempat, namun kenyataannya dana nasabah tersebut hilang dan tidak bonus

seperti yang dijanjikan.Korban dari Bisnis Money Game ini tidak saja dari kalangan

kelas bawah saja tetapi juga yang sangat mengejutkan banyak dari mereka yang

berprofesi sebagai Pejabat Birokrat, Pejabat TNI/Polri, Pegawai Swasta dan

orang-orang kaya lainnya dimana mereka tertipu dan kehilangan harta benda yang tidak

sedikit untuk mencoba bisnis tersebut.149

Dalam hal kaitannya dengan praktek bisnis berkedok MLM, pertama sekali

yang harus dilakukan Penyidik adalah mencari tahu apakah pelaku bisnis tersebut

perseorangan atau badan hukum. Apabila badan hukum, Penyidik harus melihat

surat-surat izin dari badan hukum tersebut, dan dapat dipanggil Asosiasi Penjualan Dalam kasus PT. GAN, polisi yang melakukan penyidikan terhadap perkara

tersebut pertama kali adalah Kepolisian Resort Metro Tangerang Kota melalui

Laporan Polisi No. LP/542/V/2012/PMJ/Restro Tng Kota, selanjutnya dilimpahkan

kepada Polda Metro Jaya Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya di

Jakarta. Pelimpahan kepada kejaksaan juga sudah dilakukan, begitu juga dengan

pemeriksaan di pengadilan. Sehingga perkara telah diputus dan Mahkamah Agung

menolak kasasi Pemohon/Terdakwa.

149 Harian Republika , “MA Tolak Kasasi Penipuan Bisnis MLM”, diterbitkan Kamis, 9

(41)

Langsung Indonesia (APLI) sebagai Saksi Ahli untuk menjelaskan apakah badan

hukum tersebut termasuk ke dalam MLM atau praktek bisnis berkedok MLM (money

game).

Setelah diketahui bahwa badan hukum tersebut adalah bukan merupakan

anggota APLI, barulah Penyidik melakukan penyidikan terkait dengan pasal yang

dipersangkakan kepada diri/badan hukum yang dilaporkan tersebut (Terlapor).

Apakah merugikan masyarakat atau tidak. Apakah terdapat unsur melawan hukum

atau tidak. Seluruh pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan Penyidik kepada

Terperiksa dengan tujuan untuk menemukan fakta-fakta materiil dibalik kejadian

tindak pidana tersebut.

Dalam hal pemenuhan unsur Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan, Penyidik

perlu membuktikan bagaimana cara Terlapor/Tersangka tersebut memiliki suatu

barang baik seluruhnya ataupun sebagian milik orang lain menjadi miliknya. Lalu

selanjutnya, Penyidik juga harus membuktikan pengalihan barang-barang tersebut

bukan karena kejahatan. Seperti penjualan produk-produk berkedok MLM tersebut,

dimana produk itu hanyalah dijadikan sebagai kedok belaka. Penyidik harus

membuktikan produk itu layak atau tidak diperjualbelikan/diperdagangkan. Hal ini

terkait dengan apakah MLM tersebut hanya kedok atau benar-benar MLM.

Penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan semata-mata adalah untuk mencari

kebenaran fakta-fakta materiil yang terjadi.

Akhirnya, Penyidik Polri mempunyai peran untuk memelihara keamanan dan

(42)

dengan kewenangan yang diberikan kepadanya oleh Pasal 13 Undang-Undang No. 2

Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dengan demikian, peran

Polri sebagai Penyidik dalam penyidikan kejahatan praktek bisnis berkedok MLM

adalah untuk melakukan penegakan hukum terkait dengan tugas dan wewenangnya

untuk menjaga keamanan dan ketertiban di dalam masyarakat.

D. Peran Polri Dalam Mencegah Kejahatan Praktek Bisnis Berkedok MLM

Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai penegak hukum di Indonesia

dan juga sebagai Penyidik seperti yang diamanatkan pada Pasal 1 angka 1 Kitab

Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), berkewajiban untuk melakukan

pencegahan terhadap seluruh kejahatan yang ada tidak terkecuali terhadap praktek

bisnis berkedok MLM yang sangat merugikan masyarakat.

Oleh sebab itu, Kepolisian sebagai Penyidik bekerja sesuai Undang-Undang

No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian. Secara umum, Kepolisian dapat memantau

aktivitas MLM sesuai aturan hukum yang berlaku baik di BKPM, Kemendag, OJK,

dan sebagainya. Dalam penegakan hukum di bidang ekonomi tidak saja masuk ke

dalam unsur tindak pidana, jika tidak memiliki Surat Izin Usaha Penjualan Langsung

(SUPL) maka bisa masuk ke ranah hukum administrasi. Akan tetapi, hal ini dapat

naik ke tingkat pidana ketika terjadi penipuan, pemalsuan merek dan sebagainya.

Peran Polisi di dalam masyarakat adalah sebagai pelayan, pengayom, dan

penegakhukum. Polri juga mengakui bahwa pemahaman mengenai keberagaman dan

Referensi

Dokumen terkait