MPUL
MAKALAH METODOLOGI PENELITIAN
PENELITIAN CROSS SECTIONAL
KELOMPOK 1 :
1. Adam Wibowo
( 1604001 )
2. Alifiasri Praptiwi Rohmah
( 1604002 )
3. Alvi Laila Hidayati
( 1604003 )
4. Amanda Thoetik Syhabil M
( 1604004 )
5. Anan Khusnul Latifah
( 1604005 )
6. Ani Astuti Rustya
( 1604006 )
7. Anggun Alfia R
( 1604008 )
8. Aprilia Kusuma Wardani ( 1604009 )
9. Apriliani Pradina Sari
( 1604010 )
10.Asnan Azwar Nugraha
( 1604011 )
11.Dayah Ainus Sholikah
( 1604012 )
12.Destiyana Rahmawati
( 1604013 )
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES )
MUHAMMADIYAH KLATEN
KATA PENGANTAR
Puji syukur panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Penelitian Cross Section. Makalah ini dibuat guna untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua teman-teman yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan kefarmasian bagi kita semua.
Klaten, 24 Maret 2018
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL...i
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I.PENDAHULUAN...1
A.LATAR BELAKANG...1
B. RUMUSAN MASALAH...1
C.TUJUAN...2
BAB II.PEMBAHASAN...3
A.PENGERTIAN...3
B.TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN...3
C.KEUNTUNGAN...5
D.KERUGIAN...5
E.CIRI-CIRI PENELITIAN CROSS SECTIONAL...7
F.PROTOKOL PENELITIAN...8
G.CONTOH JUDUL PENELITIAN DENGAN METODE CROSS SECTION...15
BAB III.PENUTUP...17
A.KESIMPULAN...17
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penelitian kedokteran dan penelitian epidemiologi dapat dilakukan dengan mengikuti proses perjalanan penyakit secara prospektif atau secara retrospektif untuk mencari hubungan sebab akibat.
Disamping itu, penelitian kedokteran juga dapat dilakukan tanpa mengikuti perjalanan penyakit, tetapi dilakukan pengamatan sesaat atau dalam suatu periode tertentu dan setiap subjek studi hanya dilakukan satu kali pengamatan selama penelitian.
Pengamatan demikian seolah-olah merupakan suatu penampang melintang dan disebut penelitian cross sectional diantaranya adalah penelitian eksploratif, penelitian deskriptif, dan dalam hal hal tertentu, penelitian analitik.
Pada umumnya, penelitian cross sectional disebut juga studi prevalensi dengan tujuan mengadakan deskripsi subjek studi seperti pada penelitian deskriptip murni atau mengadakan penelusuran seperti pada penelitian eksploratif. Dalam hal-hal tertentu, penelitian dengan pendekatan cross sectional dapat digunakan untuk penelitian analitik.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud metodologi penelitian cross sectional ? 2. Apa tujuan dan manfaat penelitian cross sectional ?
3. Apa keuntungan penelitian cross sectional ? 4. Apa kerugian penelitian cross sectional ? 5. Jelaskan Protokol penelitian ?
C. TUJUAN
2. Menjelaskan tujuan dan manfaat penelitian cross sectional. 3. Menjelaskan keuntungan penelitian cross sectional.
4. Menjelaskan kerugian penelitian cross sectional. 5. Menjelaskan protokol penelitian
BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
variabel subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama. Desain ini dapat mengetahui dengan jelas mana yang jadi pemajan dan outcome, serta jelas kaitannya hubungan sebab akibatnya.
Penelitian crosssectional ini, peneliti hanya mengobservasi fenomena pada satu titik waktu tertentu. Penelitian yang bersifat eksploratif, deskriptif, ataupun eksplanatif, penelitian cross-sectional mampu menjelaskan hubungan satu variabel dengan variabel lain pada populasi yang diteliti, menguji keberlakuan suatu model atau rumusan hipotesis serta tingkat perbedaan di antara kelompok sampling pada satu titik waktu tertentu. Namun penelitian cross-sectional tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan dinamika perubahan kondisi atau hubungan dari populasi yang diamatinya dalam periode waktu yang berbeda, serta variabel dinamis yang mempengaruhinya.
B. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Secara garis besar apat dikatakan bahwa penelitian cross sectional dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :
tersebut akan hilang dan pencarian insidensi penyakit tersebut hanya dapat dilakukan seperti wawancara
2. Memperkirakan adanya hubungan sebab-akibat pada penyakit-penyakit dengan perubahan yang jelas, misalnya, hubungan golongan darah (ABO) dengan ulkus gaster dan duodenum. Dan penelitian tersebut ditemukan bahwa ulkus gaster dan duodeni banyak terdapat pada orang dengan golongan darah A.
3. Penelitian cross sectional dapat digunakan untuk menghitung besarnya risiko kelompok, risiko relatif, dan risiko atribut. Misalnya, suatu survei yang dilakukan di suatu desa untuk mengetahui prevalensi diare pada anak-anak. Dan penelitian tersebut ditemukan bahwa sebagian anak-anak yang menggunakan kolam sebagai sarana air minum menderita diare dan sebagian lagi tidak. Demikian pula anak-anak yang tidak menggunakan kolam sebagai sarana air minum sebagian menderita diare dan sebagian tidak. Dan ternuan tersebut dapat dihitung besarnya risiko diare pada anak-anak yang menggunakan kolam dan risiko diane bagi yang tidak menggunakan air kolam. Dan hasil perhitungan risiko tiap kelompok dapat dihitung risiko relatif dengan membandingkan besarnya nisiko tiap kelompok dan dapat dihitung pula risiko atribut serta diuji secara statistik. Dengan cara demikian penelitian cross sectional seolah-olah menjadi penelitian prospektif. Penelitian ini tidak menjamin komparabilitas kelompok yang dibandingkan dan hasilnya mempunyai potensi untuk menimbulkan bias. Untuk penelitian epidemiologis dan penelitian operasional, penelitian cross sectional sudah cukup memadai untuk mengadakan perbaikan program pelayanan kesehatan. Seperti rancangan penelitian yang lain, rancangan penelitian cross sectional memiliki beberapa keuntungan dan kerugian.
Penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut :
1. Penelitian cross sectional dapat digunakan untuk memperkirakan adanya hubungan sebab-akibat dan penghitungan risiko relatif dengan cara yang cepat dan biaya yang relatif kecil dibandingkan dengan penelitian prospektif.
2. Data yang terdapat di rumah sakit dapat digunakan.
3. Dapat digunakan unruk membandingkan besarnya risiko kelornpok yang terpajan oleh faktor yang dianggap sebagai penyebab terjadinya penyakit dengan kelompok yang tidak terpajan dan hasilnya digunakan untuk memberikan informasi kepada masyarakat serta berguna untuk rnenyusun perencanaan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat.
D. KERUGIAN
Di samping keuntungan yang telah disebutkan, penelitian cross sectional tidak luput dari kerugian. Kerugiannya adalah sebagai berikut.
1. Penelitian ini tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan yang terjadi dengan berjalannya waktu karena pengamatan pada subjek studi hanya dilakukan satu kali selama penelitian.
2. Penelitian cross sectional dengan tujuan analisis sulir untuk menentukan komparabilitas kedua kelompok yang dibandingkan karena tidak díketahui apakah insidensi terjadi sebelum atau sesudah terpajan.
3. Sulit untuk mengadakan ekstrapolasi pada populasi yang lebih besar.
4. Penelinian cross sectional tidak dirancang untuk penelitian analitik. 5. Penelitian cross sectional tidak dapat digunakan untuk menentukan hubungan sebab akibat pada perubahan biokimia dan fisiologi karena antara sebab dan akibat dapat saling mempengaruhi.
merupakan faktor penyebab timbulnya hipertensi atau setelah hipertensi keimidian diikuti dengan tingginya kadar kolesterol.
Bila tingginya kadar kolesterol mendahului timbulnya hipertensi dapat diasumsikan bahwa tingginya kolesterol merupakan faktor penyebab timbulnya hipertensi, tetapi bila terjadi sebaliknya tidak dapat dikatakan bahwa kolesterol merupakan faktor penyebab timbulnya hipertensi. Untuk membedakan kedua hal tersebut sangat sulit, bahkan tidak mungkin dilakukan karena penentuan hipertensi dan tingginya kadar kolesterol dilakukan pada saat bersamaan.
Contoh lain adalah pada penelitian cross sectional ditemukan kadar kolesterol yang tinggi pada penderita penyakit jantung koroner. Dalarn hal ini belum dapat dikatakan bahwa tingginya kadar kolesterol merupakan faktor penyebab terjadinya penyakit jantung koroner. Untuk mengetahui apakah tingginya kadar kolesterol merupakan risiko terjadinya penyakit jantung koroner harus dilakukan penelitian analitik.
E. CIRI-CIRI PENELITIAN CROSS SECTIONAL
Dari uraian di atas dapat diketahui ciri-ciri penelitian cross sectional sebagai berikut :
1. Sesuai dengan istilahnya, pengumpulan data dilakukan pada satu saat atau satu periode tertentu dan pengamatan subjek studi hanya dilakukan satu kali selama satu penelitian.
2. Penghitungan perkiraan besarnya sampel tanpa memperhatikan kelompok yang terpajan atau tidak. Pada penelitian di rumah sakit, besarnya sampel tidak dihitung, tetapi ditentukan berdasarkan periode tertentu.
dikumpulkan sebanyak 268 orang secara sukarela dan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok perokok, bekas perokok, dan bukan perokok. Komparabilitas ketiga kelompok dibagi berdasarkan umur. Kemudian diperiksa aliran darah otak dan hasilnya dibandingkan. Cara pengambilan dan besarnya sampel tidak dipermasalahkan.
4. Tidak terdapat kelompok kontrol dan tidak terdapat hipotesis spesifik.
5. Hubungan sebab akibat hanya berupa perkiraan yang dapat digunakan sebagai hipotesis dalam penelitian analitik atau eksperirnental.
Kelemahan penelitian ini terletak pada:
1. Sulit untuk mengadakan ekstrapolasi
2. Kemungkinan terdapat subjek studi yang terlalu sedikit dalam salah satu kelompok.
3. Kriteria perokok, bekas perokok, dan bukan perokok tidak dijelaskan secara rinci.
Contoh lain ialah penelitian tentang hubungan anemia dengan kelahiran bayi prematur. Pengumpulan data dilakukan berdasarkan rekam medis di rumah sakit terhadap semua ibu ibu yang melahirkan selama periode 1 tahun. Data yang diperoleh dibagi menjadi kelompok anemia dan tidak anemia. Dan kelompok anemia dicatat jumlah kelahiran prematur, demikian pula dengan kelompok tidak anemia. Selanjutnya, dihitung risiko masing-masing kelompok, risiko relatif dan dibandingkan dengan uji statistik chi-kuadrar. Penelitian ini seolah-olah dilakukan secara prospektif.
Untuk perencanaan dan pelaksanaan penelitian hendaknya dilakukan dengan menuliskan protokol berupa langkah-langkah kegiatan yang digunakan sebagai pedoman dalam kegiatan penelitian.
Adapun susunan protokoL di bawab ini tidak mutlak, tetapi disesuaikan dengan selera setiap institusi yang membenikan persetujuan atau penyandang dana, tetapi dengan substansi yang tidak berbeda. Secara garis besar, protokol penelitian cross sectional adalah sebagai berikut : 1. Merumuskan pertanyaan penelitian
2. Menentukan tujuan penelitian 3. Populasi studi
4. Kriteria subjek studi
5. Cara pengambilan dan perkiraan besarnya sampel 6. Menentukan variabel yang akan diukur
7. Siapkan daftar pertanyaan atau pemeriksaan yang dibutuhkan 8. Pengumpulkan data
9. Analisis data
1. Merumuskan pertanyaan penelitian
Pertanyaan penelitian hendaknya diarahkan sesuai dengan tujuan penelitian. Misalnya, bila penelitian bertujuan untuk membandingkan keadaan kesehatanpenduduk suatu daerah setelah adanya program pelayanan kesehatan untuk meningkatkan status gizi anak maka pertanyaan yang diajukan adalah sebagai berikut. Apakah dengan pemberian makanan tambahan, status gizi anak akan meningkat dibandingkan dengan anak yang tidak mendapat makanan tambahan?
2. Menentukan tujuan penelitian
3. Populasi Studi
Populasi studi pada studi cross sectional dapat berupa masyarakat daerah tertentu dengan batas administratif atau institusi seperti rumah sakit, sekolah atau industri, tergantung tempat penelitian dilakukan. Populasi studi dapat pula berupa kelompok masyarakat dengan cmi rertentu, misalnya wanita pasangan usia subur di suatu daerah. Populasi pada penelitian di rumah sakit ditentukan berdasarkan banyaknya penderita (subjek studi) yang dicatat selama kurun waktu rertentu.
4. Kriteria Subjek Studi
Penentuan kriteria subjek studi pada studi cross sectional sangat penting untuk menentukan dengan jelas terhadap siapa penelitian ini dilakukan terutama bila penelitian cross sectional yang digunakan sebagai penelitian analitik untuk memperkirakan adanya hubungan sebab-akibat atau pengukuran faktor risiko.
Kriteria tersebut dapat berupa umur, tingkat pendidikan, status matrial, pekerjaan atau kondisi lain yang berkaitan dengan perkiraan faktor risiko timbulnya suatu penyakit.
Misalnya, pada penelitian tentang pemakaian alat kontrasepsi IUD dengan tromboflebitis harus dijelaskan kriteria pasangan usia subur dan kritenia pemakai alat kontrasepsi, apakah yang pernah memakai juga dimasukkan dalam subjek studi atau tidak dan tentukan juga diagnosis tromboflebitis yang digunakan, dan Lain-lain.
memperoleh oralit?, sebanyak 10 pertanyaan, kemudian setiap jawaban diberi angka 1 untuk jawaban yang benar dan nilai 0 untuk jawaban yang salah hingga seluruhnya akan diperoleh nlai dan 0 sampai dengan 10.
Dan hasil ini kemudian direntukan nilainya misalnya 8—10 pertanyaan dijawab dengan benar dikatakan pengetahuannya baik, nilai 6—8 termasuk kategori sedang dan dibawah nilai 6 dikategorikan pengetahuannya kurang.
5. Cara Pengambilan dan Besarnya Sampel
Cara Pengambilan
Cara pengambilan sampel dapat dilakukan dengan random sampling bilapenelitian dilakukan di lapangan atau sampel diambil berdasarkan rekam medispada suatu periode tertentu bila penelitian yang dilakukan berbasis rumah sakit.
Besarnya Sampel
Dan tabel di atas jelaslah bahwa penentuan besarnya sampel dilakukan tanpa memperhatikan ada atau ridaknya penyakit atau pajanan. Setelah besarnya sampel diperoleh, dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang terpajan oleh faktor risiko dan kelompok lain yang tidak terpajan Dan kedua kelompok tersebut dicatar ada atau tidaknya penyakir yang diteliti.
Kelemahan cara ini adalah kemungkinan terdapatnya nilai yang terlalu kecil dalam satu sel hingga sulit untuk dianalisis.
Contoh:
Penelitian tentang hubungan antara anemia dan BBLR berbasis rumah sakit maka semua ibu harniltrirnester3 yang melahirkan di rumah sakit paJa perthde tertentu diambil sebagai sampel berdasarkan rekam medis yang adir, kern udian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu ibu-ibu yang anemia sebagai kelompok audi dan tidak anemia sebagai kelompok kontrol Selanjutnya, dicamt banyaknya bayi dengan Berat Rada,, Lahir Rendab (BBLR) yang rerdiiparpada kelompok audi dan kelompok kontrol.
Dan hasil tersebut dihitung besarnya nisiko masing-masin kelompok dan dihitung risiko re /at f dilaku kan uji stati.ctik dengan chi-kuadrat, dan ditirrik kesimpulan ada atau tidaknya hubungan antara anemia dengan BBLR.
6. Tentukan Voriabel yang Akan Diukur
karena tidak mungkin untuk mengumpulkan semua variabel maka harus dipilih variabel-variabeÍ penting yang berkaitan dengan tujuan penelitian dan dapat digunakan sebagai indikator.
Misalnya pada contoh tentang pola pemakaian alat kontrasepsi, variabel yang diteliti adalah variabel umur, paritas, lama pemakaian, pendidikan. pekerjaan, jenis alat kontrasepsi, tempat pelayanan, pemberi layanan, dan lain-lain.
7. Siapkan Daftar Pertanyaan dan Daftar Pemeriksaan
Untuk penyusunan daftar pertanyaan sama seperti pada penelitian deskriptif dan alat ukur yang akan digunakan, misalnya untuk pengukuran status gizi anak yang menggunakan pengukuran LLA maka disiapkan meteran yang akan digunakan.
Penelitian yang datanya diambil dan rekam medís di rumah sakit, hal itu tidak dilakukan. ini merupakan salah satu kelemahan data sekunder, misalnya, penelitian tentang anemia tidak dapat diketahui cara pengukuran atau siapa yang melakukan pengukuran Hb.
8. Pengumpulon Data
Pengumpulan data penelitian cross sectional bersifat analitis dilakukan dengan survei atau rekam medis di rumah sakit sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Mìsalnya, penelitian tentang hubungan antara status gizi anak 1-5 tahun dengan cacingan.
Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan semua anak 1 5 tahun yang terdapat pada lokasi penelitian kemudian dipisahkan menjadi dua kelompok. yairu anak-anak dengan gizi baik dan anak-anak dengan gizi kurang. Pada semua anak dilakukan pemeriksaan tinja untuk mendeteksi cacing kemudian frekuensi cacingan pada anak dengan gizi baik dan gizi kurang dibandingkan.
kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yairu kelompok primípara dan multípara.
Selanjurnya, pada kelompok primipara dicatat jumlah preekiamsia, demikian pula pada kelompok multipara kemudian díbandingkan. Komparabilitas kedua kelompok didasarkan pada umur, tingkat pendidikan. dan sosial ekonomi.
Penyajian data berupa karaktenistik subjek studi pada kelompok studi dan kelompok kontrol. Karakteristik dapat berupa umur, jenis kelainin, pendidikan, pekerjaan atau hal-hal yang berkaitan dengan tujuan penelitian, misainva jenis alat kontrasepsi yang digunakan.
9. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menghitung risiko masing-masing kelompok risiko relatif, risiko atribut, dan uji statistik sesuai dengan data yang diperoleh.
G. CONTOH JUDUL PENELITIAN DENGAN METODE CROSS SECTION
Contoh judul penelitian cross sectional adalah “Kualitas menyusui terhadap kelancaran pengeluaran air susu ibu”. Peneliti melakukan pengukuran atau pengamatan terhadap kualitas menyusui, ketiganya diukur secara bersamaan dengan kelancaran pengeluaran ASI setelah melihat variabel yang termasuk dalam kualitas menyusui tersebut.
Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam rancangan penelitian cross sectional:
Contoh judul penelitian: “Hubungan Kualitas Menyusui dengan Kelancaran Pengeluaran ASI”
1.Mengidentifikasi variabel penelitian
Berdasarkan judul tersebut, maka variabel yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
Variabel Independen : kualitas menyusui
Variabel dependen : kelancaran pengeluaran ASI Variabel kendali : usia, paritas
Kemudian ditentukan batasan parameter yang jelas tentang kualitas menyusui dan kelancaran pengeluaran ASI.
2.Mengidentifikasi subjek penelitian
Contoh: Subjek penelitian adalah populasi ibu menyusui dengan jumlah sampel yang telah ditentukan sesuai dengan teknik sampling. 3.Mengobservasi variabel
Contoh: Mengukur kualitas menyusui dengan parameter yang digunakan adalah cara dan frekuensinya termasuk dalam kualitas baik atau kurang. Pengukuran kelancaran pengeluaran ASI dilakukan dengan mengamati tingkat kelancaran pengeluaran ASI-nya termasuk baik atau tidak, lalu keduanya diamati dan diukur.
4.Melakukan analisis data
Kelebihan rancangan desain penelitian cross sectional (lintas-bagian atau potong lintang) adalah:
1.Mudah untuk dilakukan 2.Murah
3.Tidak memaksa subyek untuk mengalami faktor yang diperkirakan bersifat merugikan kesehatan (faktor resiko) dan tidak ada subyek yang kehilangan kesempatan untuk memperoleh terapi yang diperkirakan bermanfaat.
Kelemahan rancangan desain penelitian cross sectional (lintas-bagian atau potong lintang) adalah:
1. Memiliki validitas inferensi yang lemah dan kurang mewakili sejumlah populasi yang akurat, oleh karena itu penelitian ini tidak tepat bila digunakan untuk menganalisis hubungan kausal paparan dan penyakit.
2.Sulit untuk menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan
3.Dibutuhkan jumlah subyek yang cukup banyak, terutama bila variable yang dipelajari banyak
4.Tidak praktis untuk meneliti kasus yang sangat jarang, misalnya kanker lambung, karena pada populasi usia 45-49 tahun diperlukan paling tidak 10.000 subyek untuk mendapatkan suatu kasus
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Beberapa tujuannya adalah, mencari prevalensi serta indisensi satu atau beberapa penyakit tertentu yang terdapat di masyarakat, Memperkirakan adanya hubungan sebab akibat pada penyakit-penyakit tertentu dengan perubahan yang jelas, Menghitung besarnya resiko tiap kelompok, resiko relatif, dan resiko atribut.
DAFTAR PUSTAKA
Budiarto E, Anggraeni D. 2002. Pengantar Epidemiologi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Notoatmodjo. 202. Metodologi Penelitian Kesehatan. P Rineka Citra : Jakarta
Nurdini, Allis. 2006. “Cross-Sectional vs Longitudinal: Pilihan Rancangan Waktu dalam Penelitian Perumahan Pemukiman”. DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR Vo. 34, No. 1, Juli 2006: 52-58. Puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/ars/article/ download/…/16449. Diakses tanggal 23 Mei 2016.