PENGARUH PENAMBAHAN MINYAK IKAN LEMURU (Sardinella longiceps)
TERHADAP KUALITAS FISIK TELUR AYAM LOHMAN BROWN PERIODE LAYER
Oleh : Amiluddin Indi
1)ABSTRACT
This research aim to identify the effect of lemuru cod feeding in ration, degree in eggs and
produce good quality eggs. Research conducted in Balebat farm, Sukorejo Village, Kendal
Regency. The materials used are 120 horn chickens, with age of 22 weeks and average early
weight of 1.745,2 + 8,26 g. The ration used is arranged based on isoprotein. The experiment
using complete random program (rancangan acak lengkap/ RAL) with 5 treatments consists of
R
0: ration without lemuru cod adding; R
1: 1,5% of ration and lemuru cod; R
2: 3% of ration and
lemuru cod; R
3: 4,5% of ration and lemuru cod; R
4: 6% of ration and lemuru cod. Every
treatment has repeated 4 times, and every repetition has filled by 6 layer period chickens. Data
has processed statistically by variety analysis. If there are any treatment effect, it will be
continued with Duncan doubled distance test.
The result research shows that the lemuru cod feeding in ransum has bring tangible effect
The analysis shows that the lemuru cod feeding in ration has bring tangible effect (P<0,05) to the
egg physic quality. The egg yolk color score from R
0to R
4: 6,750 to 10,080; the eggshell
thickness from R
0to R
4: 0,3466 to 0,658 mm; Haugh Unit from R
0to R
4: 87,673 to 98,688; Egg
Index from R
0to R
4: 79,165 to 72,020; The egg yolk index from R
0to R
4: 0,453 to 0,805 g.
Conclusion of the research is that the lemuru cod feeding in ration has decrease eggs and
increase the eggyolk color, eggshell thickness, haugh unit, egg yolk index with the lemuru cod
feeding in ransom to 6% can be used for layer period chickens.
Keywords: Quality Physic Eggs cod.
PENDAHULUAN
Pemerintah selalu berusaha untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap
protein hewani secara layak dan cukup. Hal
ini dapat dilihat dari usaha pengembangan
peternakan di Indonesia dan ternyata bahwa
produksi telur dari tahun ketahun terus
meningkat, baik produksi telur ayam ras
maupun telur ayam kampung.
Telur adalah salah satu bahan
makanan asal ternak yang dikenal bernilai
gizi tinggi karena mengandung zat-zat
makanan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh
manusia seperti asam-asam amino yang
lengkap dan seimbang, vitamin serta
mempunyai daya cerna yang cukup tinggi.
Adanya presepsi dan kekhawatiran
masyarakat
akan
produk
peternakan
terhadap kandungan lemak dan kolesterol
perlu menjadi perhatian dalam proses
pemeliharaan ternak khususnya ayam untuk
menghasilkan telur yang sesuai dengan
keinginan dan kesehatan manusia. Telur
merupakan salah satu produk peternakan
yang mengandung kolesterol cukup tinggi
yaitu ± 213 mg/butir telur ayam (Sim, J. S.
2000). Kolesterol telur umumnya terdapat
pada kuning telur yang diproduksi di hati
dan ditransport lewat darah dalam bentuk
lipoprotein dan dideposit dalam folikel yang
sedang berkembang (Shim, J. S. 2002)
.
Kualitas telur semula hanya diartikan
untuk menilai gizinya, penilain dari luar dan
sifat-sifat lain yang dapat menetukan bahwa
telur lebih baik dari pada telur yang lain
(Farrell, D. J. 2000)
.
Kisaran yang luas
antara sifat-sifat fisik dan kimia mentukan
kualitas telur secara keseluruhan, yaitu
kualitas kulit telur, sederajat atau kualitas
putih telur, nilai gizi bagi konsumen, bebas
kerusakan-kerusakan misalnya bintik darah,
kualitas kuning telur termasuk pigmentasi
dan besar telur (Scott
et al
. 1982).
Einsminger (1969) yang disitasi oleh
Harimurti (2002) menyatakan bahwa
kualitas telur meliputi kualitas eksterior
yaitu kebersihan dan ketebalan kerabang
serta kualitas interior yang termasuk di
dalamnya kuning telur, putih telur dan
rongga udara.
USDA (1972) yang disitasi oleh
Acker (2000) mengklasifikasikan telur
berdasarkan bobot telur menjadi enam kelas
yaitu jumbo, ekstra besar, besar, medium,
kecil dan peewee. Berdasarkan interior dan
eksteriornya telur digolongkan menjadi tiga
kelas yaitu kualitas AA, A dan B. Adapun
komposisi telur menurut USDA (1972) yang
disitasi oleh Acker (2000).
Tabel 1. Komposisi Kimia Telur
Persentase
Persen %
Bahan
Protein
Lemak
Abu
Total telur
100
34,5
11,8
11,0
11,7
Putih telur
58
12
11,0
0,2
0,8
Kuning telur
31
52
17,5
32,5
2,0
Sumber : USDA, (1972)
Kualitas telur meliputi tekstur kerabang dan
bentuknya, bobot dan warna kuning telur
dipengaruhi oleh satu atau lebih faktor
genetik dan lingkungan (Acker, 2000).
Stadelman dan Contterill (2000) juga
menyatakan bahwa komposisi dan kualitas
telur dipengaruhi oleh ransum. Semua
nutrien dalam ransum diperlukan untuk
produksi telur tetapi terdapat beberapa
nutrien yang diperlukan lebih dari yang lain
seperti kalsium dan vitamin D untuk
pembentukan kerabang, pigmen xanthophyll
maupun karoten untuk pembentukan warna
kuning telur dan lain-lain (Acker, 2000).
Bobot telur disamping dipengaruhi
oleh faktor genetik, tingkat dewasa kelamin,
umur ayam, obat-obatan dan kandungan gizi
pakan (Scott
et al
. 2005), juga dipengaruhi
oleh lemak dalam ransumnya (Wahju, 1992).
Sell
et al
. (2002) menyatakan bahwa
penambahan lemak dalam ransum akan
meningkatkan bobot telur pada minggu ke 30
sampai 34 dengan penambahan lemak nabati
dan hewani 3 sampai 6%. Reid dan Weber
(2005) dalam penelitiannya menggunakan
penambahan lemak 15% dapat meningkatkan
bobot telur dari 58,6 sampai 60,7 g. March
dan
MacMillar
(2004)
menyatakan
konsentrasi asam lemak linoleat (Omega-6)
meningkatkan bobot telur, sedangkan Farrell
(2000) menyatakan bahwa asam lemak
linolenat (Omega-3) akan meningkatkan egg
mass dan produksi telur.
Kualitas dan warna kuning telur
dipengaruhi kadar karoten (Scott
et al
. 2005).
Nesheim
et al
. (1990) menyatakan kenaikan
kadar pigmen dalam ransum akan menaikkan
konsumsi pigmen dan mempengaruhi proses
pigmentasi. Marusich dan Bauernfeind
(1981) disitasi oleh Tyczkowski dan
Hamilton
(1991)
menyatakan
bahwa
Oxycarotenoid sebagai pigmen warna tidak
dapat sintesis oleh unggas tetapi harus
tersedia dalam pakan. Faktor lain yang
berpengaruh terhadap kualitas kuning telur
adalah kadar lemak (Sell
et al
. 2002).
Penurunan bobot kuning telur dan warna
kuning telur dipengaruhi oleh kadar asam
lemak linolenat (Omega-3) dalam ransumnya
(Caston dan Leeson, 1990; Elswyk, 1997).
Penetuan mutu putih telur sebagian
besar bergantung pada derajat kekentalan
dan struktur gel putih telur. Protein telur
dalam putih telur yang dihubungkan dengan
struktur telur gel adalah ovomusin. Smith
et
al
. (1974) yang disitasi oleh Scott
et al
.
(2005) menyatakan fraksi protein dalam telur
ini adalah heterogen terdiri dari dua atau
lebih fraksi yang bervariasi dalam komposisi
karbohidrat. Ada korelasi positif antara
haugh unit dengan kandungan ovomusin.
Telur dengan putih telur kental yang
mempunyai nilai haugh
unit tinggi
mempunyai kualitas ovomusin yang lebih
tinggi. Sell
et al
. (2002) menyatakan bahwa
penambahan lemak dalam ransum akan
meningkatkan kualitas putih telur, hal ini
mungkin
disebabkan
oleh
penurunan
kecepatan aliran ingesta dalam saluran
pencernaan sehingga nutrien yang diperlukan
untuk pembentukan putih telur lebih tersedia.
telur juga meliputi flavornya. Flavor telur
sangat dipengaruhi oleh pakan, musim,
kondisi
serta
penanganan
selama
penyimpanan (Stadelman dan Cotterill,
2003). Ransum unggas pada umumnya
menggunakan tepung ikan atau minyak ikan.
Fishy flavors yang terjadi pada telur menurut
Stansby (1990) tidak berhubungan dengan
minyak ikan. Farrell (2000
)
menyatakan
bahwa minyak ikan tidak berpengaruh
terhadap flavor, cita rasa, tekstur dan warna
kuning telur. Weiss (1995) menyatakan
bahwa fishy flavors timbul bila terjadi
oksidasi yang cepat dari asam lemak dalam
minyak ikan. Disamping faktor lemak,
pemasakan juga berpengaruh terhadap bau,
flavor dan tekstur telur (Woodward, 1998).
METODE PENELITIAN
Penelitian tentang kualitas fisik telur
ayam strain Lohman Brown akibat
pemberian minyak ikan lemuru (
Sardinella
Longiceps), dilaksanakan bulan Juni sampai
Oktober 2005 dengan mengambil tempat
pelaksanaan di Balebat Farm, Desa Sukorejo,
Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal.
Materi penelitian yang digunakan
adalah ayam petelur strain Lohman Brown
periode layer umur 22 minggu sebanyak 120
ekor dengan bobot badan awal rata-rata
1.745,2 ± 8,26 g yang dipelihara sampai
umur 36 minggu. Bahan penyusun ransum
terdiri dari bungkil kedele, jagung, dedak
padi, kulit kerang, “meat bone meal”,
“poultry meat meal”, dan premix diperoleh
dari PT Kappo Semarang, sedangkan untuk
minyak ikan lemuru diperoleh dari PT
Pacific Harverst, Muncar, Banyuwangi Jawa
Timur. Ransum yang digunakan selama
penelitian adalah iso protein dengan energi
yang berbeda (protein kasar dengan kisaran
21,09% - 21,40%) dan energi yang bervariasi
dari 2.723 kkal/kg sampai 3.362 kkal/kg).
Ransum
yang
digunakan
pada
penelitian ini terdiri dari R
0(Ransum dasar
tanpa penambahan minyak ikan lemuru), R
1(Ransum dasar + minyak ikan lemuru 1,5%),
R
2(Ransum dasar + minyak ikan lemuru
3%), R
3(Ransum dasar + minyak ikan
lemuru 4,5%) dan R
4(Ransum dasar +
minyak ikan lemuru 6%). Pemberian ransum
maupun air minum dilakukan ad’libitum.
Penambahan pasir dalam komposisi ransum
penelitian bertujuan sebagai bahan pengisi
untuk melengkapi jumlah 100% pada
masing-masing ransum perlakuan.
Rancangan
percobaan
yang
digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan 5 perlakuan yang
masing-masing 4 ulangan. Setiap unit percobaan
terdiri dari 6 ekor ayam petelur periode layer.
Sebagai perlakuan adalah taraf penggunaan
minyak ikan lemuru yaitu 0%; 1,5%; 3%;
4,5%; 6% minyak ikan lemuru,
masing-masing diberi notasi : R
0, R
1, R
2, R
3, R
4.
Hipotesis statistik yang diuji adalahsebagai
berikut :
Ho =
τ
1= …=
τ
5= 0
(perlakuan pemberian minyak ikan lemuru
dalam ransum tidak berpengaruh terhadap
respon yang diamati).
H
1:
τ
1≠... ≠ τ
5= 0
(paling sedikit ada satu perlakuan dimana
τ
1≠ 0, artinya ada pengaruh pemberian minyak
ikan lemuru dalam ransum terhadap respon
yang diamati)
Data yang diperoleh dianalisis dengan
analisis ragam dengan uji F pada taraf
signifikansi 5 persen apabila terdapat
pengaruh yang nyata, kemudian dilanjutkan
dengan uji jarak berganda Duncan. (Steel
dan
Torrie,
1993).
Data
diolah
menggunakan program komputer aplikasi
SAS (
Statistical Analysis System
).
Kriteria
pengujian
berdasarkan
prosedur analisis ragam uji F dengan taraf
signifikansi 5 persen apabila F
hitung< F
tabel,
maka H
0diterima atau H
1ditolak, dan
apabila F
hitung≥ F
tabelmaka H
0ditolak atau H
1diterima.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Skor warna kuning telur ayam lohman
brown, tebal kerabang telur, haugh unit,
indeks telur, indeks kuning telur. Pada (Tabel
2), yang diperjelas dengan Tabel 3, 4, 5, 6, 7
sebagai hasil analisis ragam. Warna kuning
telur menandakan adanya vitamin A dalam
kuning telur, Vitamin A di dalam telur
ditentukan oleh tersedianya provitamin A di
dalam ransum (Card, 1998)
Tabel 2. Rerata skor warna kuning telur, tebal kerabang telur, Haugh unit, indeks telur dan
indeks kuning telur ayam penelitian
Perlakuan
Parameter
R0
R1
R2
R3
R4
Warna Kuning Telur
6,750
d8,000
c8,750
bc9,750
ab10,080
aTebal Kerabang telur
0,346
e0,451
d0,542
c0,638
b0,658
aHaugh Unit
87,673
d92,375
c94,825
bc96,190
ab98,688
aIndeks Telur
79,165
a75,680
b74,210
bc73,493
bc72,020
cIndeks Kuning Telur
0,435
d0,559
c0,632
bc0,702
b0,805
aabc