KAJIAN KADAR LEMAK DAN BAHAN KERING TANPA LEMAK SUSU KAMBING SAPERA DI CILACAP DAN BOGOR
(STUDY OF FAT AND SOLID NON FAT OF SAPERA GOAT MILK IN CILACAP AND BOGOR) Lailia Mutamimah*, Sri Utami, dan A. T Ari Sudewo
Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto *[email protected]
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui serta membandingkan kadar lemak dan kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera di Cilacap dan Bogor. Materi yang digunakan adalah susu kambing Sapera segar yang diperoleh dari 10 ekor di masing-masing lokasi. Metode penelitian ini menggunakan metode survei, kemudian data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji “t”. Rataan kadar lemak dan kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera di lokasi Cilacap masing-masing diperoleh 4,45% dan 7,20%, sedangkan rataan kadar lemak dan kadar bahan kering tanpa lemak di lokasi Bogor masing-masing diperoleh 4,60% dan 7,97%. Hasil analisis uji “t” menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) antara kadar lemak dan kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera di Cilacap dan Bogor. Kesimpulan dari penelitian ini rataan kadar lemak dan bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera di lokasi Bogor lebih tinggi dari pada di lokasi Cilacap, karena kambing Sapera di Bogor sudah mencukupi kebutuhan nutrien (BK +0,69 kg/ekor/hari, PK +0,23 kg/ekor/hari dan TDN +0,32 kg/ekor/hari) serta adanya penambahan daun singkong karet dalam pakan hijauan dan kisaran periode laktasi kambing Sapera di Bogor adalah laktasi ke 2 sampai dengan ke 4, sedangkan di Cilacap laktasi ke 1 dan 2.
Kata kunci : kadar lemak, kadar bahan kering tanpa lemak, kambing Sapera, Cilacap dan Bogor
ABSTRACT
The purpose of this study was to determine and compare the levels of fat and solid non fat of Sapera goat milk in Cilacap and bogor. The materials used Sapera fresh goat milk obtained from 10 of goat in each location. This study method used a survey method, then the data obtained were analyzed using "t" test. The average levels of fat and solid non fat of Sapera goat milk in location Cilacap were respectively 4.45% and 7.62%, while the average levels of fat and solid non fat of Sapera goat milk in location Bogor were respectively 4.60%, and 7, 97%. The results of “t” test analysis indicated that was very significant difference (P<0,01) between fat and solid non fat of Sapera goat milk in Cilacap and Bogor. The conclusions of this study are the average levels of fat and solid non fat of Sapera goat milk in Bogor are higher than the levels of fat and solid non fat of Sapera goat milk in Cilacap, because Sapera of goats in Bogor was sufficient for the addition of nutrients (BK +0.69 kg/head/day, PK +0.23 kg/head/day and TDN +0.32 kg/head/day) as well as the addition of cassava leaves chewing in forage and range of goat lactation of Sapera in Bogor was 2nd to 4th, while range of goat lactation of Sapera in Cilacap lactation to 1st and 2nd.
Keywords : fat, solid non fat, Sapera of goat, Cilacap and Bogor
PENDAHULUAN
Susu merupakan salah satu pangan sebagai sumber protein hewani, yang mengandung protein, lemak, mineral, kalsium, vitamin dan mengandung asam amino esensial yang lengkap.
Faktor yang mempengaruhi kualitas susu antara lain faktor keturunan, pakan, kondisi lingkungan, waktu laktasi dan prosedur pemerahan. Ada berbagai pilihan yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produktivitas ternak kambing, salah satunya adalah melalui pendekatan pemuliabiakan yaitu penggabungan gen–gen yang baru atau peningkatan frekuensi gen yang mempengaruhi produksi. Kawin silang merupakan salah satu teknologi pemuliabiakan, melalui kawin silang akan diperoleh heterosis yang ditunjukkan oleh kelebihan generasi pertama hasil persilangan antara dua jenis atau populasi yang berbeda (Iniguez et al., 1993). Kambing Sapera merupakan persilangan dari kambing Peranakan Ettawa betina dengan kambing Saanen jantan (Nizar, 2012).
Susu kambing memiliki partikel lemak yang lebih kecil dan homogen sehingga mudah dicerna dan diserap. Besar kecilnya globula lemak ditentukan oleh kadar air yang ada didalamnya (Saleh, 2004). Kadar lemak susu kambing dipengaruhi oleh pakan hijauan, semakin tinggi pakan hijauan yang diberikan maka semakin tinggi pula kadar lemak susu (Zurriyanti et al., 2011). Menurut Sukarini (2006), bahwa ternak yang diberi pakan tambahan konsentrat akan menurunkan kadar lemak susu dan pakan yang hanya terdiri dari hijauan memiliki kadar lemak yang lebih tinggi dibanding pakan yang ditambah dengan konsentrat.
Kadar bahan kering tanpa lemak adalah bahan kering dikurangi dengan kadar lemak (Saleh, 2004).Menurut Hariono et al. (2011), bahan kering tanpa lemak (BKTL) dalam susu tersusun atas albumin (kasein dan protein), laktosa, vitamin, enzim, gas dan mineral. Menurut Utari et al. (2012) bahwa kadar bahan kering tanpa lemak susu tergantung pada kadar protein, laktosa dan lemak.
Tatalaksana pemeliharaan yang berbeda, diduga menghasilkan komposisi susu yang berbeda karena dalam setiap tatalaksana pemeliharaan seperti pemberian pakan, pengendalian penyakit dan kebersihan kandang berbeda-beda di setiap peternak (Rangkuti, 2011). Temperatur lingkungan yang berbeda akan mempengaruhi komposisi susu kambing, karena semakin rendah temperatur lingkungan, ternak akan semakin banyak mengkonsumsi pakan. Cilacap merupakan dataran rendah dengan temperatur lingkungan yang tinggi tinggi, sedangkan bBogor merupakan dataran tinggi dengan temperatur lingkungan yang rendah. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komponen gizi susu kambing Sapera di tinjau dari kadar lemak dan kadar bahan kering tanpa lemak susu di wilayah yang berbeda yaitu Cilacap dan Bogor. Di daerah yang berbeda dengan lingkungan dan pakan yang berbeda maka kadar lemak dan bahan kering tanpa lemak berbeda pula.
METODE DAN ANALISIS PENELITIAN Materi Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu kambing Sapera sebanyak 20 sampel berasal dari peternakan di Cilacap (CV. Origin Dairy Farm) dan Bogor (CV. Bangun Karso Farm).Alat-alat yang digunakan adalah lactoscan milk analyzer MCCSO serial number 0403, botol, termos es, gelas ukur, steroform dan thermohydrometer.
Lokasi Penelitian
Pengambilan sampel dilaksanakan di dua tempat yaitu di CV. Origin Dairy Farm, Dusun Kedung Banteng, Desa Sumingkir, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap dan di CV. Bangun Karso Farm, Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Pengujian kadar lemak dan kadar bahan kering tanpa lemak dilaksanakan di Koperasi Susu Pesat, Karanglewas, Purwokerto.
Metode Penelitian
Metode pengambilan sampel yaitu menggunakan metode survei secara convenience sampling / accident sampling / selected sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan data yang ada di lokasi. Jumlah sampel yang diambil berasal dari 10 ekor dari 18 ekor kambing Sapera betina laktasi di Cilacap dan 10 ekor dari 16 ekor kambing Sapera betina laktasi. Setiap sampel berisi 300 ml susu diambil dari pemerahan pagi hari pukul 06.00. sampel susu dimasukkan dalam botol kemudian dimasukkan dalam freezer selama 1 hari. Setiap ekor diulang 3 kali dengan interval pemerahan 2 hari. Setelah itu susu dibawa ke lokasi uji kualitas susu di Koperasi Pesat dengan menggunkan termos es maupun sterofom yang berisi es batu. Macam peubah yang diukur dalam penelitian ini adalah kadar lemak dan kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera.
Metode Analisis
Data kadar lemak dan kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera dianalisis menggunakan uji “t”.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kadar Lemak Susu Kambing Sapera
Pengujian kadar lemak susu kambing Sapera pada peternakan di Cilacap (CV. Origin Dairy Farm) dan Bogo (CV. Bangun Karso Farm) menggunakan lactoscan menghasilkan rataan kadar lemak susu kambing Sapera di Cilacap sebesar 4,45% dan kadar lemak susu kambing Sapera di Bogor sebesar 4,60% (Tabel 1). Hasil tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian Ruhimat (2003), bahwa kadar lemak susu kambing PESA sebesar 4,13%. Rataan kadar lemak susu kambing Sapera di Cilacap maupun Bogor sudah memenuhi standar menurut Thai Agriculture Standart yaitu >4%. Di Indonesia belum ada standar untuk kualitas susu kambing, oleh karena itu menggunakan standar SNI susu segar untuk sapi perah nomor 01-314-1998 dan kadar lemak susu kambing Sapera di Cilacap maupun Bogor sudah memenuhi standar SNI (1998) yaitu > 3,0%. Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji “t” diperoleh hasil adanya perbedaan (P < 0,01) kadar lemak susu kambing Sapera di lokasi Cilacap dan Bogor.
Tabel 1. Hasil Kadar Lemak Susu kambing Sapera di Cilacap dan Bogor
No Susu Kambing di Cilacap (%) Susu Kambing di Bogor (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 4,38 4,27 4,51 4,56 4,93 4,46 4,07 4,69 4,10 4,54 4,44 4,45 4,62 4,71 4,75 4,68 4,75 4,83 4,37 4,42 4,45±0,28 4,60±0,21
Berdasarkan Tabel 1. menunjukkan bahwa rataan kadar lemak susu kambing Sapera di lokasi Bogor lebih tinggi dibandingkan lokasi di Cilacap. Hal tersebut disebabkan karena pemberian
pakan hijauan di Bogor lebih tinggi dan mampu memenuhi kebutuhan serat kasar dibandingkan dengan pemberian pakan hijauan di Cilacap. Hal tersebut disebabkan karena pemberian pakan hijauan di Bogor terdapat daun singkong karet yang mengandung serat kasar yang tinggi sehingga kadar lemak susu di Bogor lebih tinggi. Daun singkong karet memiliki kadar bahan kering BK 49,44%, protein kasar (PK) 23,41%, lemak kasar (LK) 8,36% dan serat kasar (SK) 22,89% (Laboraturium Ilmu Makanan Ternak). Menurut Zain et al. (2007), bahwa daun singkong mengandung asam amino bercabang yang tinggi sehingga dapat meningkatkan pakan berserat.
Kadar lemak dipengaruhi oleh asam asetat yang berasal dari hijauan (Ace dan Wahyuningsih, 2010 dan Ramadhan et al., 2013). Prekusor dari asam asetat adalah serat kasar (Suhardi, 2011). Hijauan yang dimakan oleh ternak, kemudian mengalami proses fermentatif didalam rumen oleh mikroba rumen. Hasil proses fermentatif berupa VFA. VFA terdiri dari propionat, asetat, dan butirat. Asetat masuk kedalam darah dan diubah menjadi asam lemak, kemudian akan masuk ke dalam sel-sel sekresi ambing dan menjadi lemak susu.
Temperatur lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kadar lemak dalam susu kambing, sebab temperatur akan mempengaruhi konsumsi makan pada ternak. Pada daerah yang bertemperatur rendah konsumsi makan ternak cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah yang bertemperatur lebih tinggi, sehingga kebutuhan nutrien pada ternak yang berada di daerah yang bertemperatur rendah menjadi terpenuhi. Berdasarkan hasil penelitian Mulyati et al. (2007) bahwa perbedaan temperatur lingkungan yang rendah yaitu 1o C tidak mempengaruhi kadar lemak susu kambing. Hal tersebut disebabkan karena kecilnya penurunan suhu. Lu (1989) menyatakan bahwa temperatur lingkungan dapat mempengaruhi kadar lemak susu dengan perbedaan temperatur lingkungan sebesar 10oC. Temperatur lingkungan di Cilacap dan Bogor tidak berbeda jauh yaitu antara 25-30o C sedangkan di Bogor 23-30o C, sehingga tidak berpengaruh terhadap kadar lemak maupun kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera.
Periode laktasi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar lemak susu kambing Sapera baik di Cilacap maupun di Bogor (P > 0,05). Hal tersebut disebabkan karena umur induk bervariasi sehingga tidak seragam dalam periode laktasi. Menurut Devendra dan Burns (1994) bahwa umur dalam tahun dan jumlah laktasi tidak selalu berpengaruh secara bersamaan. Zainudin (2002) menyatakan bahwa periode laktasi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar lemak susu, karena jumlah rataan kadar lemak susu dan produksi susu antar periode laktasi tidak jauh berbeda.
Bahan kering tanpa Lemak Susu Kambing Sapera
Pengujian kadar lemak susu kambing Sapera pada peternakan di Cilacap (CV. Origin Dairy Farm) dan Bogor (CV. Bangun Karso Farm) menggunakan lactoscan menghasilkan rataan kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera di Cilacap sebesar 7,20% dan kadar lemak susu kambing Sapera di Bogor sebesar 7,97% (Tabel 2). Hasil tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian Ruhimat (2003), bahwa kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing PESA sebesar 6,99%. Rataan kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera di Cilacap maupun Bogor belum memenuhi standar menurut Thai Agriculture Standart yaitu <8,25%. Di Indonesia belum ada standar untuk kualitas susu kambing, oleh karena itu menggunakan standar SNI susu segar untuk sapi perah nomor 01-314-1998 dan kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera di Cilacap maupun Bogor belum memenuhi standar SNI (1998) yaitu < 8,0%. Berdasarkan
analisis statistik dengan menggunakan uji “t” diperoleh hasil adanya perbedaan (P < 0,01) kadar lemak susu kambing Sapera di lokasi Cilacap dan Bogor.
Berdasarkan Tabel 2. menunjukkan bahwa rataan kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera di Lokasi Bogor lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi di Cilacap. Hal tersebut disebabkan karena kadar protein susu kambing Sapera di Bogor lebih tinggi dibandingkan di Cilacap (Sagitarini, 2013). Bahan kering tanpa lemak susu dipengaruhi oleh laktosa dan protein (Zurriyanti et al., 2011). Apabila kadar laktosa dan protein susu tinggi, maka bahan kering tanpa lemak susu akan meningkat. Protein susu terbentuk dari pakan konsentrat yang dikonsumsi oleh ternak kemudian akan disintesis oleh mikroba rumen menjadi asam amino dan asam amino tersebut diserap dalam usus halus dan dialirkan ke darah dan masuk ke sel-sel sekresi ambing dan nantinya menjadi potein susu (Utari et al., 2012). Penambahan pakan sumber protein dapat meningkatkan kadar bahan kering tanpa lemak susu, karena kadar proteinnya meningkat pula (Sukarini, 2006 dan Utari et al., 2012).
Tabel 2. Hasil Kadar Bahan Kering Tanpa Lemak Susu kambing Sapera di Cilacap dan Bogor
No Susu Kambing di Cilacap (%) Susu Kambing di Bogor (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 6,75 6,34 7,57 6,76 9,02 7,11 6,25 7,85 6,52 7,86 7,70 7,50 7,78 8,24 7,66 8,42 8,16 7,67 8,12 8,44 7,20±0,96 7,97±0,64
Periode laktasi dapat mempengaruhi kadar lemak maupun kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing. Hal tersebut disebabkan karena semakin meningkatnya laktasi maka semakin meningkat produksi susu sampai puncak laktasi dan menurunnya komposisi susu. Periode laktasi pada kambing di Bogor yaitu antara laktasi ke 2 sampai dengan ke 4 dengan produksi susu 1,210 liter, sedangkan periode laktasi pada kambing di Cilacap yaitu antara laktasi ke 1 dan 2 dengan produksi susu 1,230 liter. Produksi susu kambing Sapera di Cilacap lebih tinggi sehingga menyebabkan padatan susu rendah pula, karena kadar airnya tinggi. Oleh karena itu kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera di Cilacap lebih rendah dibandingkan kadar bahan kering tanpa lemak kambing Sapera di Bogor. Devendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa persentase bahan padatan total, protein, laktosa dan lemak sedikit menurun dengan melanjutnya laktasi. Namun, berdasarkan hasil analisis bahwa periode laktasi tidak mempengaruhi kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera (P>0,05). Hal tersebut disebabkan karena umur induk bervariasi sehingga tidak seragam dalam periode laktasi. Menurut Devendra dan Burn (1994) bahwa umur dalam tahun dan jumlah laktasi tidak selalu berpengaruh secara bersamaan. Wibowo et al. (2013) dan Cahyana (2012) menyatakan bahwa periode laktasi tidak mempengaruhi kadar bahan kering tanpa lemak yang mempengaruhi kadar bahan kering tanpa lemak susu adalah pakan.
SIMPULAN
Rataan kadar lemak dan kadar bahan kering tanpa lemak susu kambing Sapera di Bogor lebih tinggi dibandingkan dengan di Cilacap (P < 0,01). Hal tersebut disebabkan karena karena kambing Sapera di Bogor sudah mencukupi kebutuhan nutrien (BK +0,69 kg/ekor/hari, PK +0,23 kg/ekor/hari dan TDN +0,32 kg/ekor/hari) serta adanya penambahan daun singkong karet dalam pakan hijauan dan kisaran periode laktasi kambing Sapera di Bogor adalah laktasi ke 2 sampai dengan ke 4, sedangkan di Cilacap laktasi ke 1 dan 2.
DAFTAR PUSTAKA
Ace, I. S dan Wahyuningsih. 2010. Hubungan Variasi Pakan Terhadap Mutu Susu Segar di Desa Pasirbuncir Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 5 No. 1.
Cahyana, N. D. D. A. 2012. Potensi Pemberian Formula Pakan Konsentrat Komersial Terhadap Konsumsi dan Kadar Bahan Kering Tanpa Lemak Susu. Artikel Ilmiah. Fakultas Kedokteran. Universitas Airlangga. Surabaya.
Devendra, C dan M. Burns. 1994. Produksi kambing Di Daerah Tropis. Penerbit ITB. Bandung. Hariono, B., Sutrisno, K. B. Seminar dan R. R. A. Maheswari. 2011. Uji Sifat Fisik dan Kimia Susu
Sapi dan Susu Kambing yang Dipapar dengan Ultraviolet Sistem sirkulasi. Prosiding Seminar Nasional Perteta.
Iniguez, L., W. A Paouie, dan B. Gunawan. 1993. Aspek-aspek Pemuliaan Domba Ditekankan Terutama pada Lingkungan Tropis yang Lembab Di Indonesia. In. I. K. Sutama, H. Prasetyo, IGM. Budiarsana, Supriyati, Sumanto dan D. Priyanto. 2010. Praktik Kambing Sapera dengan Produksi Susu 2 Liter dan Pertumbuhan Pasca Sapih >100 g/Hari. Laporan Hasil Penelitian. Balai Penelitian ternak. Bogor.
Lu, C. D. 1989. Effect Heat Strees on Goat Production. J. Small Rum. Research. 2: 151-162. In. Mulyati, J. Achmadi dan A. Purnomoadi. 2007. Produksi dan Komponen Lemak Susus Kambing Peranakan Etawa Akibat Penghembusan Udara Sejuk. J. indon. Trop. Anim. Agric. 32 (2) : 91-99.
Mulyati, J. Achmadi dan A. Purnomoadi. 2007. Produksi dn Komponen Lemak Susus Kambing Peranakan Etawa Akibat Penghembusan Udara Sejuk. J. indon. Trop. Anim. Agric. 32 (2) : 91-99.
Nizar. 2012. CV. Origin Dairy Farm. Cilacap. Komunikasi Pribadi tanggal 20 ktober 2012.
Ramadhan, B. G., T. H. Suprayogi dan A. Sutiyah. 2013. Tampilan Produksi Susu dan Kadar lemak Susu Kambing Peranakan Ettawa Akibat Pemberian Pakan dengan Imbangan Hijauan dan Konsentraat yang Berbeda. Animal Agriculture Journal, Vol. 2, No. 1 p 353-361.
Rangkuti, J. H. 2011. Produksi dan Kualitas Susu Kambing Peranakan Etawa (PE) pada Kondisi Tatalaksana yang Berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Sagitarini, D. 2013. Kadar Protein dan Nilai Viskositas Susu Kambing Sapera di Cilacap dan Bogor. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. (Tidak dipublikasikan).
Saleh, E. 2004. Dasar Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Sumatera Utara.
Standar Nasional Indonesia. 1998. Standar Mutu Susu Segar No. 01-3141-1998. Departemen Pertanian. Jakarta.
Suhardi. 2011. Pengaruh Penggantian Rumput Gajah dengan Jerami Padi Amoniasi Terhadap Kualitas Susu Sapi Perah. Fakultas Peternakan, Universitas Boyolali. Boyolali. http://ejournal.politama.ac.id/index.php/politeknosains/article/download/44/41. Diakses tanggal 14 Juni 2013.
Sukarini. 2006. Produksi dan Kualitas Air Susu Kambing Peranakan Ettawa yang Diberi Tambahan Urea Molases Blok dan atau Dedak Padi pada Awal Laktasi. Animal Production. Vol. 8, No. 3: 196-205.
Utari, F. D., B. W. H. E. Prasetiyono dan A. Muktiani. 2012. Kualitas Susu Kambing Perah Peranakan Etawa yang Diberi Suplementasi Protein Terproteksi dalam Wafer Pakan Komplit Berbasis Limbah Agroindustri. Animal Agriculture Journal, Vol. 1. No. 1, p 427-441.
Wibowo, P. A., T. Y. Astuti dan P. Soediarto. 2013. Kajian Total Solid (TS) dan Solid Non Fat (SNF) Susu Kambing Peranakan Ettawa (PE) pada Satu Periode Laktasi. Jurnal Ilmiah Peternakan 1 (1) : 214-221.
Zain, M. 2007. Optimalisasi Penggunaan Serat Sawit Sebagai Pakan Alternaatif dengan Suplementasi Daun Ubi Kayu dalam Ransum Ruminansia. J. pengembangan Peternakan Tropis. 32(2): 100-105.
Zainudin. 2002. Hubungan antara Masa Laktasi dan Produksi Susu dengan kadar lemak Susu Sapi Perah FH di Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Perah Baturaden. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. (Tidak dipublikasikan).
Zurriyanti, Y., R. R. Noor dan R. R. A. Maheswari. 2011. Analisis Molekuler Genotipe Kappa Kasein (K-Kasein) dan Komposisi Susu Kambing Peranakan Etawa, saanen dan Persilangannya. JITV Vol. 16 No. 1 : 61-70.