• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

38 4.1 Deskripsi Pra Siklus

Kondisi awal merupakan kondisi sebelum penelitian tindakan kelas dilakukan. Untuk mengetahui kondisi awal, maka peneliti melakukan observasi di kelas IV SD Negeri Lebak 02. Observasi dilakukan pada minggu 2 bulan april hingga minggu ke 3 bulan Mei tahun 2017 selama 4 jam pertemuan pada pelajaran IPA. Observasi dilakukan selama dua kali, hal ini bertujuan untuk menemukan permasalahan yang dialami siswa dalam pelajaran IPA. Hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan kurang membuat siswa aktif, bahkan beberapa siswa terlihat bosan dan mulai tidak memperhatikan apa yang guru terangkan. Setelah dilakukan wawancara dengan guru, guru menyatakan bahwa hampir seluruh siswa kelas IV setelah pulang dari sekolah, siswa belajar mengaji diluar sekolah. Hal itu dikarenakan faktor lingkungan dan keluarga yang masih menekankan aspek keagamaan, jadi siswa sering lupa apa yang telah diajarkan oleh guru, sehingga membuat guru harus bekerja keras, agar siswa tidak mudah lupa dan mengerti tentang apa yang telah dipelajari khususnya pada mata pelajaran IPA.

Berdasarkan hasil tes ulangan terakhir yang dilakukan siswa pada kelas IV SDN Lebak 02 yang berjumlah 27 siswa pada mata pelajaran IPA, terlihat bahwa hasil belajar siswa masih cukup rendah. Hal ini dapat dilihat pada hasil ulangan siswa pada mata pelajaran IPA yang dapat dilihat pada lampiran 1. Sejumlah peserta didik memperoleh nilai di bawah KKM, yakni siswa yang tidak tuntas ada 13 siswa dan siswa yang tuntas sebanyak 14 siswa. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran belum mencapai indikator ketuntasan yang ditentukan oleh sekolah yakni 85% dari keseluruhan siswa harus mendapat nilai di atas KKM karena ketuntasan hanya mencapai 51,85%. Data hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan dapat dilihat pada Tabel 4.1.

(2)

Tabel 4.1

Rekapitulasi Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SDN Lebak 02 Grobogan Sebelum Tindakan

No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan

Jumlah Siswa (%) 1 85 – 90 5 18.53 Tuntas 2 80 – 84 4 14.81 Tuntas 3 75 – 79 3 11.11 Tuntas 4 70 – 74 2 7.41 Tuntas 5 65 – 69 3 11.11 Belum tuntas 6 60 – 64 3 11.11 Belum tuntas 7 55 – 59 2 7.41 Belum tuntas 8 50 – 54 1 3.7 Belum tuntas 9 45 - 49 1 3.7 Belum tuntas 10 < 45 3 11.11 Belum tuntas

Jumlah Siswa Tuntas 14 51.85

Jumlah Siswa Tidak Tuntas 13 48.15

Jumlah 27 100

Rata-rata 67.2

Nilai tertinggi 90

Nilai terendah 40

Persentase ketuntasan hasil belajar siswa kelas IV SDN 02 Lebak Grobogan sebelum dilakukan tindakan, diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≥ 70) sebanyak 13 siswa atau 48,15% dari total keseluruhan siswa, sedangkan siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 14 siswa atau 51,85% dari total seluruh siswa. Memperhatikan kondisi tersebut, maka ketuntasan belajar masih dibawah indikator yang ditetapkan yakni 85%, oleh karena itu diperlukan upaya untuk mengatasi kondisi tersebut. Berdasarkan data hasil belajar kondisi awal atau data hasil belajar sebelum dilakukan tindakan, serta hasil observasi di kelas maka perlu adanya upaya tindak lanjut, salah satunya dengan melakukan PTK.

4.2 Deskripsi Siklus I

Penelitian pada siklus 1 dilaksanakan selama 2 kali pertemuan yaitu pada tanggal 29 April 2017 hingga tanggal 6 Mei 2017. Siklus 1 dilaksanakan pada Standar Kompetensi “Memahami perubahan kenampakan permukaan bumi dan benda langit”dengan Kompetensi Dasar yang digunakan “Mendeskripsikan perubahan kenampakan bumi”. Pelaksanaan siklus I dilakukan melalui empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi, dan refleksi yang

(3)

sesuai dengan tahap penelitian dari Kemmis & Mc Taggart dalam Arikunto (2007:16). Berikut uraian dari masing-masing tahap.

4.2.1Perencanaan Tindakan

Perencanaan sangatlah penting dilakukan sebelum melakukan proses pembelajaran. Pada tahap perencanaan siklus 1 kegiatan yang dilakukan peneliti antara lain sebagai berikut.

a. Berdiskusi dengan guru untuk menentukan waktu dan materi yang akan digunakan pada siklus 1. Diskusi tersebut mendapatkan hasil bahwa materi yang akan dipakai adalah materi kenampakan bumi.

b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan model pembelajaran yang dipilih yakni model cooperative learning tipe TGT. Menyusun materi untuk tahap tim, menyusun prosedur dan soal untuk tahap games dan menyusun soal untuk tahap turnamen.

c. Menyusun lembar observasi kegiatan guru untuk mengukur keterlaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah didesain berdasarkan model cooperative learning tipe TGT dengan memperhatikan kurikulum KTSP dan lembar observasi aktifitas siswa untuk mengukur keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.

d. Menyusun kisi-kisi dan instrument tes.

e. Melakukan validitas instrumen siklus 1 kepada guru kelas IV SDN 02 Lebak Grobogan.

4.2.2 Pelaksanaan Tindakan

Tahap pelaksanaan tindakan merupakan implementasi dari perencanaan yang telah dirancang sebelumnya. Peneliti bertindak sebagai guru, sedangkan guru kelas IV bertindak sebagai observer. Pelaksanaan tindakan pada siklus 1 terbagi menjadi 2 pertemuan, yaitu sebagai berikut.

4.2.2.1 Pertemuan Pertama

Pelaksanaan tindakan pada siklus satu pertemuan pertama dilaksanakan pada minggu ke empat bulan April yakni pada tanggal 29 April 2017. Siswa yang mengikuti pembelajaran berjumlah 27 siswa. Selain itu juga diikuti oleh guru kelas IV yang bertindak sebagai observer, adapun yang bertindak sebagai guru dalam penelitian ini adalah peneliti.

(4)

a. Kegiatan Awal

Pelaksanaan tindakan pada siklus satu pertemuan pertama diawali dengan guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa. Selanjutnya guru melakukan apersepsi dengan mengajak menyebutkan apa saja yang dapat mereka temukan di wilayah mereka. Siswa menyebutkan bahwa mereka melihat rumah, sawah, kebun, pohon dan lain sebagainya. Dari kegiatan tersebut, guru menjelaskan bahwa sawah, desa merupakan salah saru kenampakan bumi. Dari apersepsi tersebut, guru menyampaikan materi yang akan dipelajari yakni kenampakan bumi dan benda langit.

b. Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti, guru melakukan tahap presentasi kelas yakni dengan meminta siswa untuk mengamati video pembelajaran tentang hal-hal yang mempengaruhi kenampakan daratan. Dari video pembelajaran tersebut, guru memberi penjelasan menganai hal-hal yang mempengaruhi kenampakan daratan. Untuk memperdalam pemahaman siswa, guru menunjukkan beberapa gambar mengenai penanggulangan perubahan daratan yang ditampilkan melalui powerpoint. Setelah guru menyampaikan materi, siswa diarahkan untuk berkelompok. Guru membagi kelompok siswa berdasarkan peringkat atau dengan memperhatikan kemampuan kognitif siswa sehingga masing-masing kelompok memiliki kemapuan kognitif yang berbeda-beda. Berikut ditunjukkan pembagian kelompok siswa untuk setiap timnya.

Tabel 4.2 Pembagian Kelompok Kegiatan TGT

TIM 1 TIM 2 TIM 3 TIM 4 TIM 5 TIM 6 Turnament

A1 = Peringkat 1 B1 = Peringkat 2 C1 = Peringkat 3 D1 = Peringkat 4 E1 = Peringkat 5 F1 = Peringkat 6 1 A2 = Peringkat 12 B2 = Peringkat 11 C2 = Peringkat 10 D2 = Peringkat 9 E2 = Peringkat 8 F2 = Peringkat 7 2 A3 = Peringkat13 B3 = Peringkat 14 C3 = Peringkat 15 D3 = Peringkat 16 E3 = Peringkat 17 F3 = Peringkat 18 3 A3 = Peringkat 21 B3= Peringkat 20 - - - - A4= Peringkat 26 B4= Peringkat 19 C4 = Peringkat 24 D4 = Peringkat 22 E4 = Peringkat 23 F4= Peringkat 25 4 - - C4= Peringkat 27 - - -

(5)

Pada tahap tim dan games setelah siswa berkumpul bersama anggota kelompoknya, maka guru membagikan amplop. Amplop berisi gambar berbagai bentuk posisi bulan. Setiap kelompok diminta memahami materi sesuai gambar yang diperoleh. Guru membimbing siswa dalam mempelajari materi yakni kenampakan bulan. Setelah selesai, guru meminta siswa menempalkan berbagai bentuk posisi bulan pada lembar kerja yang sudah disiapkan guru secara runtut dan benar. Siswa diberi batasan waktu dalam menyelsaikan tugasnya. Setelah waktu yang ditentukan habis, guru meminta perwakilan setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kelompok. Guru membimbing siswa dalam mempresentasikan hasilnya.

c. Kegiatan Penutup

Sebagai kegiatan penutup, guru memberikan quiz mandiri pada siswa. Selanjutnya, siswa diminta mengerjakan quiz secara mandiri. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Selanjutnya guru mengakhiri pembelajaran dengan salam dan mempersilakan siswa untuk istirahat.

4.2.2.2 Pertemuan Kedua

Siklus I pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2017. Setelah memperhatikan kendala yang dialami pada pertemuan sebelumnya, guru berupaya lebih maksimal dalam menerapkan pembelajaran dengan TGT pada permuan ke 2 siklus I.

a. Kegiatan Awal

Pelaksanaan pada pertemuan ke 2 siklus I diawali dengan pengucapan salam. Selanjutnya guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa, setelah itu guru mengabsen siswa. Pada pertemuan ke 2 siklus I semua siswa hadir. Sebelum guru menjelaskan materi, guru melakukan apersepsi guna menarik perhatian siswa terhadap materi yang akan dipelajari. Guru melakukan apersepsi dengan menanyakan pernakah kalian melihat langit di malam hari? Apa yang bisa kalian temukan di langit pada malam hari?. Dari pertanyaan guru tersebut, siswa memberikan berrbagai jawaban yakni mereka dapat melihat bintang, bulan dan terkadang tidak melihat apapun di malam hari.

(6)

b. Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti guru menjelaskan materi dengan menggunakan media powerpoint. Pada kegiatan ini, siswa diminta mengamati beberapa gambar yang berkaitan dengan kenampakan benda langit berupa bintang. Selanjutnya guru menjelaskan tentang macam-macam rasi bintang dengan menggunakan video pembelajaran. Untuk memperrdalam wawasan siswa, guru menunjukkan berbagai macam gambar rasi bintang dengan menggunakan powerpoint. Pada kegiatan ini, guru menunjuk siswa secara bergantian menyebutkan nama-nama rasi bintang berdasarkan gambar. Setelah penyampaian materi, guru meminta siswa untuk berkelompok dengan anggota kelompok sama seperti pertemuan sebelumnya. Guru mengelompokan siswa berdasarkan peringkat atau kemampuan kognitif siswa. Setelah siswa berkelompok, guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan yakni siswa akan melakukan kegiatan turnamen. Guru menjelaskan aturan dan hal-hal apa saja yang dilakukan siswa, yakni siswa akan saling bersaing dengan kelompok lain di meja turnamen.

Pada kegiatan turnamen, guru meminta siswa untuk menempati meja turmamen sesuai arahan guru. Setelah siswa berada di meja turnamen, guru memberikan soal pada setiap meja. Setelah setiap meja mendapat soal, guru meminta siswa saling bersaing mengerjakan soal yang diberikan. Masing-masing siswa berada di meja turnamen sesuai dengan kemampuannya. Meja 1 berisi siswa dengan kemampuan tinggi, meja 2 berisi siswa dengan kemampuan sedang, dan seterusnya. Pada kegiatan ini, siswa tidak boleh bekerja sama. Setelah kegiatan turnamen selesai dilakukan, bersama dengan guru siswa membahas soal yang telah diikerjakan. Guru meminta siswa menukarkan jawabannya kemudian guru dan siswa mengoreksi jawaban di setiap meja. Guru meminta masing-masing siswa membacakan soal dan jawabannya. Apabila siswa menjawab benar, guru memberikan poin pada siswa tersebut. Setelah selesai, guru meminta siswa bergabung dengan anggota kelompoknya. Bersama dengan guru, siswa menghitung perolehan poin yang mereka dapatkan pada kegiatan turnamen. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok dengan perolehan poin tertinggi. Setelah pemberian penghargaan, guru memotivasi siswa supaya semakin giat belajar.

(7)

c. Kegiatan Penutup

Guru meminta siswa untuk kembali ke tempat duduknya masing-masing, selanjutnya guru memberikan soal evaluasi dan meminta siswa untuk mngerjakan soal evaluasi secara mandiri. Guru memberi tindak lanjut berupa tugas individu untuk dikerjakan di rumah. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Selanjutnya guru mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan salam dan mempersilahkan siswa untuk beristirahat.

4.2.3 Hasil Pengamatan/Observasi

Tahap pengamatan dilaksanakan secara bersamaan dengan tahap pelaksanaan tindakan. Pengamatan dilakukan oleh observer yakni Guru kelas IV SDN Lebak 02 Grobogan terhadap guru (peneliti) dalam melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model cooperative learning tipe TGT di kelas. Pengamatan dilakukan mulai dari awal pembelajaran sampai pada akhir pembelajaran. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui apakah guru dapat menerapkan model cooperative learning tipe TGT dengan baik atau tidak, sehingga hasil observasi dapat mendukung hasil belajar siswa. Hasil pengamatan terhadap aktivitas guru pada siklus I pertemuan 1 dapat dilihat pada lampiran, sedangkan rekapitulasi hasilnya disajikan dalam Tabel 4.3. Perhitungan pada lembar observasi menggunakan rumus yang telah dijelaskan pada bab 3.

Tabel 4.3

Hasil Rekapitulasi Lembar Observasi Aktifitas Guru Siklus 1

No. Aspek yang diamati Pertemuan 1 Pertemuan 2

Presentase Kategori Presentase Kategori

1. Penilaian RPP 85% Sangat

Baik 100%

Sangat Baik

2. Pelaksanaan pembelajaran 60.2% Cukup

Baik 70.45% Baik

3. Keterampilan penguasaan

kelas dan alokasi waktu 75% Baik 75% Baik

Rata-rata 73.4% Baik 81.81% Sangat

Baik

Hasil observasi yang dijabarkan pada Tabel 4.3 menunjukkan bahwa RPP sudah dirancang dengan sangat baik (hasil observasi dapat dilihat pada lampiran). RPP sudah sesuai dengan model sintaks cooperative learning tipe TGT & sesuai dengan KTSP. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa, secara garis besar guru telah

(8)

dapat menerapakan model TGT dengan baik hasil tersebut dapat dilihat dalam penilaian lembar observasi yang telah dijabarkan dalam Tabel 4.3.

Meskipun pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah tergolong baik, namun masih terdapat beberapa kendala diantaranya penguasaan kelas yang belum maksimal, selain itu belum semua kegiatan dalam RPP dapat terlaksana. Pada awal pembagian kelompok siswa terlihat gaduh. Guru masih terlihat kaku dalam menerangkan materi. Adapun kegiatan-kegiatan yang terlewati pada pertemuan 1 siklus I diantaranya guru tidak mengucapkan salam untuk membuka pelajaran, guru tidak mengabsen kehadiran siswa, guru tidak memberikan motivasi kepada siswa, guru tidak menyampaikan tujuan pembelajaran. Pada kegiatan inti guru tidak memberikan kesempatan pada setiap kelompok untuk memberikan tanggapan atau komentar terhadap hasil presentasi masing-masing kelompok, guru juga tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahami, guru tidak melakukan tanya jawab untuk mengecek pemahaman siswa, dan yang terakhir guru tidak memotivasi pada siswa.

Pada pertemuan 2, masih terdapat kegiatan yang terlewatkan, namun pembagian kelompok sudah terkendali. Kegiatan-kegiatan yang terlewatkan antara lain guru tidak memotivasi siswa, guru tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahami. Guru juga tidak melakukan tanya jawab pada siswa mengenai materi yang telah diajarkan, guru tidak melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang dilakukan.

Selain observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran olehguru, juga dilakukan observasi terhadap aktifitas siswa, tujuannya adalah untuk mengetahui apakah siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan TGT atau tidak, sehingga hasilnya dapat mendukung hasil belajar. Pengamatan terhadap siswa juga dilakukan oleh guru kelas IV. Hasil penilaian pada lembar observasi siswa dapat dilihat pada lampiran, sedangkan rekapitulasi hasil pengisian lembar observasi siswa dapat dilihat pada Tabel 4.4. Sama halnya pada lembar observasi guru, lembar observasi siswa dihitung dengan rumus yang sama. Adapun rumus perhitungan yang digunakan dapat dilihat pada bab 3.

(9)

Tabel 4.4

Hasil Rekapitulasi Lembar Observasi Siswa

Pertemuan Kegiatan Pembelajran Total skor Nilai Aktivitas Kriteria

1 Kegiatan Klasikal 20 62.5% Cukup

Kegiatan Kelompok 18 56.25% Cukup

2 Kegiatan Klasikal 24 75% Baik

Kegiatan Kelompok 22 68.75% Baik

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa pada siklus 1 pertemuan 1, siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan cukup baik. Data pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa pada kegiatan klasikal, nilai aktivitas siswa sebesar 62.5% dengan kategori cukup baik. Adapun pada kegiatan kelompok, nilai aktivitas sebesar 56.25% dengan kategori cukup baik. Pada kegiatan kelompok dipertemuan 1 siklus I, siswa masih mengalami kesulitan mengenai tugas yang harus dikerjakan dalam kegiatan kelompok. Hal ini dikarenakan model pembelajaran TGT adalah model pembelajaran yang benar-benar baru bagi siswa, oleh karena itu siswa belum terbiasa.

Selanjutnya pada pertemuan kedua nilai aktivitas klasikal meningkat menjadi 75% dimana sebelumnya nilai aktivitas siswa hanya sebesar 62.5%, sedangkan nilai aktivitas kelompok meningkat menjadi 68.75% di mana sebelumnya nilai aktivitas siswa hanya mencapai 56.25%. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa, siswa mulai dapat mengikuti pembelajaran dengan model cooperative learning tipe TGT. Pada awalnya, siswa bingung karena kegiatan pembelajaran berbeda dari biasanya, namun perlahan siswa mulai dapat mengikuti. Meskipun pada pertemuan 1, banyak kendala yang dihadapi namun kendala tersebut dapat diatasi pada pertemuan ke 2. Adapun kendala-kendala yang masih terjadi pada pertemuan ke 2 adalah, siswa tidak mengajukan pertanyaan atau menanggapi penjelasan yang dilakukan oleh guru, hal ini disebabkan karena guru tidak memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya. Pada kegiatan kelompok, masih banyak siswa yang mengalami kebingungan dalam mengerjakan tugasnya. Kendala-kendala tersebut selanjutnya akan menjadi bahan refleksi untuk dievaluasi sehingga dapat dirancang solusi.

Setelah pembelajaran dalam siklus I selesai dilakukan, maka diberikan tes evaluasi. Tes evaluasi diberikan di akhir setiap siklus. Hasil dari pembelajaran

(10)

siklus 1 dengan menggunakan model cooperative learning tipe TGT secara lengkap dapat dilihat pada dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5

Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN 02 Lebak Grobogan Siklus I

No

Nilai Siklus I Keterangan

Jumlah Siswa (%) 1 ≥90 2 7.40 Tuntas 2 85 – 89 1 3.70 Tuntas 2 80 – 84 4 18.81 Tuntas 3 75 – 79 6 22.22 Tuntas 4 70 – 74 6 22.22 Tuntas 5 65 – 69 2 7.40 Belum tuntas 6 60 – 64 2 7.40 Belum tuntas 7 55 - 59 4 14.81 Belum tuntas

Jumlah Siswa Tuntas 19 70.37

Jumlah Siswa Tidak Tuntas 8 29.63

Jumlah 27 100

Rata-rata 71.1

Nilai tertinggi 90

Nilai terendah 55

Persentase ketuntasan hasil belajar siswa SD Negeri 02 Lebak Grobogan, setelah dilakukan tindakan pada siklus I diketahui bahwa siswa yang tidak tuntas ada 8 siswa atau 29,63% dan siswa yang tuntas ada 19 siswa atau 70,37%. Kondisi ini jika dibandingkan dengan kondisi awal maka dapat dikatakan ada peningkatan, karena pada kondisi pra siklus siwa yang tidak tuntas ada 13, setelah dilakukan tindakan pada siklus I berkurang menjadi 8 siswa, dan siswa yang tuntas pada kondisi pra siklus ada 14 siswa meningkat menjadi 19 siswa. Persentase ketuntasan hasil belajar siklus I disajikan pada gambar 4.1.

(11)

Gambar 4.1

Persentase Ketuntasan Belajar Siklus I

Berdasarkan hasil belajar siswa, setelah diadakan tindakan pada siklus I, terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Terjadi peningkatan ketuntasan belajar sebanyak 5 siswa atau secara persentase peninkatannya sebesar 18,52% yakni dari 14 siswa (51,85%) menjadi 19 siswa (70,37%), kemudian terjadi penurunan bagi siswa yang belum tuntas atau mencapai KKM yaitu sebanyak 5 siswa atau secara prosentase sebesar 18,52%, yakni dari 13 siswa (48,15%) yang tidak tuntas berkurang menjadi 8 siswa (29,63%). Kedelapan siswa yang tidak tuntas tersebut termasuk siswa yang tergolong lamban dalam memahami materi, selain itu siswa tersebut termasuk siswa yang pasif, tidak berani bertanya maupun mengemukakan pendapat. Untuk mengatasi kondisi tersebut, guru menunjuk siswa yang terlihat pasif dan membimbing siswa yang terlihat kesulitan. Meskipun terjadi peningkatan, penelitian ini belum dapat dikatakan berhasil, karena belum mencapai indikator kinerja yang ditentukan yakni 85% dari seluruh siswa diharuskan mendapat nilai di atas KKM, namun pada siklus I ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 70,37%. Kondisi demikian menunjukkan bahwa diperlukan tindakan pada siklus berikutnya. 4.2.4 Refleksi

Setelah selesai melaksanakan kegiatan pembelajaran pada siklus 1 beserta pengamatan atas tindakan pembelajaran yang telah dilakukan, peneliti

Tuntas 70.37% Tidak Tuntas

29.63%

Ketuntasan Belajar siswa Siklus I

(12)

mendapatkan beberapa kelebihan serta kekurangan yang perlu diperbaiki pada siklus 2 adalah sebagai berikut.

Kelebihan siklus 1 sebagai berikut.

1. Penyusunan RPP sesuai dengan sintaks dari model cooperative learning tipe TGT dan sesuai KTSP sudah baik.

2. Pelaksanaan pada siklus 1 sudah terlaksana sesuai dengan rencana.

3. Guru menyampaikan materi dengan menarik yakni dengan menggunakan video dan gambar melalui media powerpoint

Kekurangan siklus 1 sebagai berikut.

1. Ada beberapa langkah pembelajaran yang terlewatkan seperti penyampaian tujuan pembelajaran, pemberian motivasi pada siswa.

2. Pada saat pembagian kelompok, kelas masih ramai dan gaduh

3. Alokasi waktu yang kurang, sehingga banyak kegiatan pembelajaran yang terlewatkan

4. Guru tidak memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan, sehingga siswa kurang aktif bertanya dan mengemukakan pendapat.

Tindak lanjut

1. Guru harus menguasai langkah-langkah pembelajaran yang telah disusun di RPP.

2. Guru selalu memantau kegiatan games dan turnamen, untuk mengontrol suasa kelas, guru menegur dan menasehati siswa yang ramai.

3. Guru harus memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya, guru perlu menunjuk siswa yang terlihat pasif untuk bertanya atau menjawab pertanyaan. 4. Guru perlu memperhatikan alokasi waktu yang telah dibuat, guru dapat memberi batasan waktu pada siswa ketika menyelesaikan tugas yang diberikan.

4.3 Deskripsi Siklus II

Penelitian pada siklus II dilaksanakan selama 2 kali pertemuan yaitu pada minggu terakhir bulan Mei. Adapun Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasaryang digunakan pada siklus II adalah Memahami perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan sedangkan Kompetensi Dasarnya adalah Mendeskripsikan berbagai penyebab perubahan lingkungan fisik (angin, hujan,

(13)

cahaya, matahari, dan gelombang air laut). Tahapan penelitian pada siklus II juga sama seperti siklus I yang terdiri dari 4 tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Berikut uraian dari 4 tahap tersebut.

4.3.1 Perencanaan Tindakan

Seperti pada siklus I, pada siklus II juga dilakukan perencanaan sebelum melakukan pelaksanaan tindakan. Perencanaan tindakanpada siklus II yang dilakukan peneliti yaitu sebagai berikut.

a. Menyusun skenario pembelajaran dengan memperhatikan kekurangan pada siklus 1, diantaranya:

1. Memberikan motivasi kepada siswa berupa pujian atau nasihat.

2. Memaksimalkan bimbingan terhadap kegiatan kelompok dan pengerjaan tugas.

3. Guru perlu memahami langkah-langkah pembelajaran, sehingga tidak ada langkah pembelajaran yang terlewatkan.

4. Guru perlu memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya, sehingga siswa dapat turut aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

5. Guru perlu memperhatikan alokasi waktu yang ditentukan.

b. Menyiapkan materi pembelajaran yakni operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

c. Menyusun RPP sesuai rancangan pembelajaran dan memperhatikan standar proses KTSP.

d. Menyiapkan lembar observasi guru dan lembar observasi siswa yang telah disusun pada siklus 1.

e. Menyiapkansoal evaluasi dan soal kegiatan kelompok. 4.3.2 Pelaksanaan Tindakan

Seperti pada siklus I, tahap pelaksanaan tindakan pada siklus IImerupakan implementasi dari perencanaan yang telah dirancang sebelumnya. Pelaksanaan tindakan pada siklus II terbagi menjadi 2 pertemuan, yaitu sebagai berikut.

4.3.2.1 Pertemuan Pertama

Pelaksanaan tindakan pada siklus II pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2017. Siswa yang mengikuti pembelajaran berjumlah 27 siswa.

(14)

Selain itu juga diikuti oleh guru kelas IV yang bertindak sebagai observer, adapun yang bertindak sebagai guru dalam penelitian ini adalah peneliti.

a. Kegiatan Awal

Pelaksanaan tindakan pada siklus II pertemuan pertama diawali dengan guru mengucapkan salam pembuka selanjutnya guru meminta ketua kelas untuk memimpin doa. Setelah berdoa, guru mengabsen kehadiran siswa dilanjutkan dengan pemberian motivasi pada siswa. Pada kegiatan apersepsi, guru meminta siswa untuk megamati halaman sekolah. Setelah itu siswa diminta duduk kembali ke kursi masing-masing dan guru menanyakan apa yang dapat kalian lihat. Dari pertanyaan tersebut terdapat beberapa jawaban dari siswa, diantaranya ada berbagai macam tumbuhan, ada lapangan tempat bermain dan upacara, ada tempat parkir. Dari jawaban tersebut guru mengenalkan materi yang akan dipelajari yakni siswa akan mempelajari materi tentang perubahan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yakni supaya siswa memahami pengaruh perubahan yang terjadi di lingkungan.

b. Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti, guru melakukan presentasi kelas dalam memberikan penjelasan mengenai materi yang diajarkan melalui media powerpoint. Pada kegiatan ini siswa diminta mempperhatikan penjelasan yang diberikan guru. Selanjutnya untuk memperdalam materi guru menjalaskan materi dengan menggunakan video pembelajaran tentang perubahan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan. Pada kegiatan TIM siswa diminta untuk berkelompok dengan anggota kelompok sama seperti pertemuan sebelumnya. Kemudian, guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada kegiatan tim. Selanjutnya guru membagikan beberapa soal pada masing-masing kelompok. Pada kegiatan TIM, siswa diminta untuk berdiskusi dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru. Guru memberi waktu pada siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Selanjutnya, guru meminta perwakilan setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Guru memberikan poin atau nilai pada kelompok yang menjawab pertanyaan dengan benar. Guru menyiapkan siswa dalam kegiatan game.

Pada kegiatan game, guru memberikan amplop pada masing-masing kelompok. Amplop tersebut berisis tentang contoh perubahan lingkungan fisik dan

(15)

penyebab perubahan lingkungan fisik beserta gambar contoh perubahan lingkungan fisik dan penyebabnya yang sebelumnya telah disiapkan oleh guru. Setiap kelompok diminta untuk menempelkan gambar contoh perubahan lingkungan fisik yang sesuai dengan gambarnya. Setelah kegiatan tersebut selesai dilakukan, guru meminta perwakilan kelompok diminta untuk mempresentasikan hasilnya. Setelah itu guru memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk menanggapi. Pada kelompok yang mampu menempelkan gambar dengan benar diberi poin. Selanjutnya bagi kelompok dengan poin tertinggi diberi pengahargaan oleh guru.

Setelah kegiatan TIM dan game selesai dilakukan, siswa diberi kesempatan untuk menanyakan materi yang belum dipahami. Untuk mengecek pemahaman siswa, guru melakukan tanya jawab mengenai materi yang dipelajari. Guru memberikan motivasi pada siswa dengan memberi nasihat supaya siswa lebih giat dalam belajar.

c. Kegiatan Penutup

Pada kegiatan penutup, guru memberikan quiz mandiri pada siswa, kemudian siswa dibimbing untuk mengerjakan quiz tersebut. Guru memberikan waktu pada siswa dalam mengerjakan quiz. Setelah selesai, guru meminta siswa untuk menngumpulkan quiz yang telah dikerjakan. Guru memberikan tugas tindak lanjut beruba tugas individu untuk dikerjakan di rumah. Selanjutnya, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Guru mengakhiri pembelajaran dengan salam dan mempersilakan siswa untuk beristirahat.

4.3.2.2 Pertemuan Kedua

Siklus II pertemuan kedua dilaksanakan pada 24 Mei 2017. Siswa yang mengikuti pembelajaran berjumlah 27 siswa.

a. Kegiatan Awal

Pada kegiatan awal guru mengawali pembelajaran dengan salam, setelah itu guru meminta ketua kelas untuk memimpin doa. Untuk mengecek kehadiran siswa, guru melakukan absensi. Selanjutnya guru melakukan apersepsi dengan menanyakan “Apakah udara itu penting? Mengapa?”, guru menunggu respon siswa, beberapa siswa memberikan jawaban udara sangat penting untuk bernafas. Guru mengaitkan jawaban siswa dengan materi yang akan dipelajari yakni udara

(16)

merupakan salah satu sumber daya alam, kemudian guru menginformasikan bahwa hari materi yang akan dipelajari adalah sumber daya alam. Guru memberikan motivasi kepada siswa, setelah memotivasi siswa guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan yakni siswa akan melakukan kegiatan turnamen.

b. Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti guru menjelaskan materi pembelajaran dengan menggunakan media powerpoint. Setelah itu guru memutarkan video tentang sumber daya alam. Pada kegiatan yang ini, siswa diminta untuk memperhatikan video yang diputar. Setelah video selesai diputar, guru memberikan penjelasan dan menanyakan beberapa hal terkait video yang telah diputar. Setelah materi disampaikan, guru menyiapkan siswa ke dalam kegiatan turnamen. Sebelum kegiatan turnamen dilakukan, guru meminta siswa untuk bergabung dengan anggota kelompoknya (kelompok sama seperti pada pertemuan sebelumnya). Guru menjelaskan aturan dan kegiatan mengenai kegiatan turnamen. Setelah guru menjelaskan aturan, kemudian siswa diminta menempati meja turnamen sesuai arahan guru. Ketika siswa sudah menempati meja turnamen, guru membagikan amplop yang berisi tabel contoh sumber daya alam berdasarkan jenisnya dan sumber daya alam berdasarkan sifatnya. Selanjutnya siswa melakukan kegiatan turnamen yakni dengan mengelompokkan sumber daya alam berdasarkan jenis dan sifatnya. Setelah siswa selesai mengerjakan soal pada kegiatan turnamen, guru meminta siswa untuk saling menukarkan jawaban yang telah dibuat. Kemudian, bersama dengan guru siswa membahas dan mengoreksi pekerjaan temannya. Guru memberikan pada siswa lain untuk memberikan tanggapan atau komentar. Guru memberikan poin pada siswa yang menjawab benar. Selanjutnya, guru meminta siswa kembali ke kelompok ke masing-masing, kemudian bersama dengan guru, siswa menghitung poin yang diperoleh. Pada kelompok dengan poin tertinggi, guru memberikan penghargaan. Pada kegiatan berikutnya, siswa diberi kesempatan untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum diketahui. Untuk mengecek pemahaman siswa, guru menanyakan beberapa hal mengenai materi yang telah dipelajari hari ini. Selanjutnya, guru memberikan motivasi pada siswa berupa nasihat untuk lebih giat belajar.

(17)

c. Kegiatan Penutup

Guru memberikan soal evaluasi pada siswa. Setelah seluruh siswa mendapat soal evaluasi, siswa dibimbing untuk mengerjakan soal evaluasi tersebut. Guru meminta siswa mengerjakan soal evaluasi dengan waktu yang telah ditentuan guru. Setelah selesai, siswa diminta mengumpulkan soal evaluasi yang telah dikerjakan. Selanjutnya guru membimbing siswa untuk menyimpulkan apa yang telah dipelajari hari ini. Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan salam kemudian guru mengijinkan siswa untuk beristirahat.

4.3.3 Hasil Pengamatan/Observasi

Sama halnya pada siklus I, tahap pengamatan pada siklus II dilaksanakan secara bersamaan dengan tahap pelaksanaan tindakan. Pengamtan dilakukan oleh observer yakni Guru kelas IV SDN Lebak 02 terhadap guru (peneliti) dalam melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model cooperative learning tipe TGT di kelas. Pengamatan dilakukan mulai dari awal pembelajaran sampai pada pemberian kegiatan penutup atau akhir. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui apakah guru dapat menerapkan model cooperative learning tipe TGT dengan baik atau tidak, sehingga hasil observasi dapat mendukung hasil belajar siswa.Hasil pengamatan terhadap aktivitas guru pada siklus II dapat dilihat padalampiran 5 sedangkan rekapitulasi datanya disajikan dalam tabel 4.6.

Tabel 4.6

Hasil Rekapitulasi Lembar Observasi Aktifitas Guru Siklus II

No. Aspek yang diamati Pertemuan 1 Pertemuan 2

Presentase Kategori Presentase Kategori

1. Penilaian RPP 100% Sangat

Baik 100%

Sangat Baik 2. Pelaksanaan pembelajaran 81.81% Sangat

Baik 92.1%

Sangat Baik 3. Keterampilan penguasaan

kelas dan alokasi waktu 87.5%

Sangat Baik 100% Sangat Baik Rata-rata 89.4% Sangat Baik 97.4% Sangat Baik

Hasil observasi yang dijabarkan pada Tabel 4.6 menunjukkan bahwa RPP sudah dirancang dengan sangat baik. RPP sudah sesuai dengan model sintaks cooperative learning tipe TGT sesuai dengan KTSP. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa, guru telah dapat menerapakan model TGT dengan baik. Hasil tersebut dapat dilihat dalam penilaian lembar observasi yang telah diakumulasikan

(18)

dalam tabel 4.6. Kendala yang dialami pada siklu I sudah teratasi. Hasil penilaian terhadap lembar observasi guru telah menunjukkan nilai yang sangat baik, ini menunjukkan adanya peningkatan dari siklus sebelumnya.

Seperti halnya pertemuan 1, pengamatan pada pertemuan 2 siklus I juga dilakukan oleh guru kelas IV. Setelah peneliti selaku guru yang mengajar melaksanakan pembelajaran, maka hasil pada lembar observasi yang telah dinilai dihitung sehingga dapat diukur keberhasilan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Hasil pengamatan pada pertemuan 2 siklus I menunjukkan bahwa pembelajaran yang diterapkan oleh guru sangat baik dan ada peningkata dari pada pertemuan sebelumnya. Ini menunjukkan guru telah menguasi langkah-langkah pembelajaran TGT dengan baik, kesesuaian penyusunan RPP dengan KTSP juga sudah sesuai, RPP sudah menunjukkan langkah-langkah dari TGT. Penguasaan kelas oleh guru juga dikategorikan sangat baik.

Selain observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran oleh guru, juga dilakukan observasi terhadap aktifitas siswa, tujuannya adalah untuk mengetahui apakah siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan TGT atau tidak, sehingga hasilnya dapat mendukung hasil belajar. Pengamatan terhadap siswa juga dilakukan oleh guru kelas IV. Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa siklus II dapat dilihat pada lampiran, sedangkan rekapitulasi hasil pengisian lembar observasi siswa dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7

Hasil Rekapitulasi Lembar Observasi Siswa Pertemuan Kegiatan

Pembelajran Total skor Nilai Aktivitas Kriteria

1 Kegiatan Klasikal 28 87.5% Amat Baik

Kegiatan Kelompok 26 81.25% Amat Baik

2 Kegiatan Klasikal 29 90.6% Amat Baik

Kegiatan Kelompok 28 87.5% Amat Baik

Data pada Tabel 4.7 menunjukkan bahwa pada siklus II pertemuan 1, siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan sangat baik ditunjukan dengan nilai aktivitas pada kegiatan klasikal sebesar 87.5%, dan kegiatan kelompok sebesar 81.25%. Selanjutnya pada pertemuan ke dua nilai aktivitas meningkat menjadi 90.6% pada kegiatan klasikal dan 87.5% pada kegiatan kelompok dengan kriteria amat baik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa, siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan

(19)

model cooperative learning tipe TGT dengan baik. Adapun kendala yang dialami pada siklus I, sudah dapat diatasi pada siklus II.

Setelah pembelajaran dalam siklus II selesai dilakukan, maka diberikan tes evaluasi. Tes evaluasi diberikan di akhir setiap siklus. Hasil dari pembelajaran siklus 1 dengan menggunakan model cooperative learning tipe TGT dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8

Rekapitulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Siklus II

No Nilai Siklus II Keterangan

Jumlah Siswa (%) 1 95 – 100 3 11.11 Tuntas 2 90 – 94 2 7.40 Tuntas 3 85 – 89 6 22.22 Tuntas 4 80 – 84 3 11.11 Tuntas 5 75 – 79 5 18.52 Tuntas 6 70 – 74 5 18.52 Tuntas 7 <70 3 11.11 Belum Tuntas

Jumlah Siswa Tuntas 24 88,89

Jumlah Siswa Tidak

Tuntas 3 11,11

Jumlah 27 100

Rata-rata 78.52

Nilai tertinggi 100

Nilai terendah 60

Berdasarkan Tabel 4.8 dapat di ketahui bahwa kondisi perolehan hasil belajar siswa berubah setelah diberikan tindakan pada siklus I, di mana siswa yang mendapatkan nilai kurang dari 70 ada 3 siswa atau sebesar 11,11%, siswa yang mendapat nilai pada rentang 70 – 74 sebanyak 5 siswa atau 18,52%, 5 siswa yang mendapatkan nilai pada rentang 75 – 79 atau 18,52%, ada 3 siswa yang mendapatkan nilai pada rentang 80 – 84 atau sebesar 11,11%, dan ada 6 siswa yang mendapatkan nilai pada rentang 85 – 89 atau 22,22% dan siswa yang mendapatkan nilai pada rentang antara 90 – 94 ada 2 dengan prosentase 7,40%., dan siswa yang mendapat nilai pada interval 95 – 100 ada 3 siswa atau sebesar 11,11%. Nilai rata-rata siswa meningkat dari siklus I yaitu 71,1 menjadi 78,52 pada siklus II. Nilai terendah pada siklus II adalah 60 dan nilai tertinggi adalah 100. Persentase ketuntasan hasil belajar siswa SD Negeri 02 Lebak Grobogan, setelah dilakukan tindakan pada siklus II diketahui bahwa terdapat 3 siswa yang belum tuntas, namun ketuntasan secara klasikal mencapai 88,89%. Ketuntasan pada siklus II menunjukan

(20)

hasil yang telah melampai ketuntasan yang ditentukan yakni 85%, sehingga hasil pada siklus II dapat dikatakan telah memenuhi indikator keberhasilan.

Berdasarkan hasil belajar siswa, setelah diadakan tindakan pada siklus II, terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Terjadi peningkatan ketuntasan belajar sebanyak 5 siswa atau secara persentase peningkatannya sebesar 18.52% yakni dari 19 siswa (70,37%) menjadi 24 siswa (88,89%), kemudian terjadi penurunan bagi siswa yang belum tuntas atau mencapai KKM yaitu sebanyak 5 siswa atau secara persentase sebesar 18.52%, yakni dari 8 siswa (29,63%) yang tidak tuntas berkurang menjadi 3 siswa (11,11%), peningkatan tersebut sekaligus menunjukkan berhasilnya penelitian ini karena ketuntasan pada siklus II telah mencapai indikator yang ditentukan. Meskipun masih terdapat siswa yang belum tuntas namun ketuntasan pada siklus II telah mencapai indikator keberhasilan sehingga penelitian dikatakan berhasil.

4.3.4 Refleksi

Setelah dilakukan perbaikan pembelajaranpada materi operasi hitung bilangan bulat, maka peneliti melakukan refleksi. Ternyata hasil perbaikan pembelajaran memberikan hasil sesuai yang diharapkan, di mana ketuntasan belajar pada siklus II telah mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan. Selain itu, kegiatan pembelajaran juga telah terlaksana dengan baik, seluruh langkah-langkah pembelajaran telah terlaksana, pada kegiatan tim, games dan turnamen dapat terlaksana dengan baik dan berjalan sesuai dengan alokasi waktu yang ditentukan. 4.4 Deskripsi Antar Siklus

Hasil belajar dari kedua tindakan terjadi peningkatan yang signifikan dari siklus 1 ke siklus 2. Berdasarkan hasil analisis pada siklus 1 dan 2 dapat dibuat perbandingan antara observasi guru, siswa dan hasil belajar. Berikut disajikan perbandingan lembar observasisiklus 1 dan siklus 2 dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9

Perbandingan Observasi Guru

Siklus Presentase Kriteria

I Pertemuan 1 60.22% Cukup Baik

Pertemuan 2 70.45% Baik

II Pertemuan 1 81.81% Sangat Baik

(21)

Tabel 4.9 menunjukkan hasil penilaian terhadap aktivitas guru selama menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada mata pelajaran IPA. Dari data tersebut terlihat adanya peningkatan pada setiap pertemuan di siklus I dan siklus II. Pada pertemuan 1 siklus I nilai aktivitas sebesar 60.22% dengan kategori cukup baik, meningkat menjadi 70.45% pada pertemuan 2 siklus I dengan kategori baik. Ini menunjukkan bahwa adanya perbaikan yang dilakukan oleh guru ketika menerpakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Selanjutnya setelah dilakukan refleksi terhadap siklus I, guna mengevaluasi pembelajaran dan menyusun solusi terhadap kendala selama siklus I maka diketahui bahwa terjadi peningkatan yang signifikan terhadap hasil penilaian guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, yakni pada pertemuan 1 siklu II nilai aktivitas sebesar 81.81% dengan kategori sangat baik, meningkat menjadi 92.1% pada pertemuan 2 siklus II dengan kategori sangat baik. Hasil tersebut membuktikan bahwa, guru telah dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan sangat baik sehingga hasil ini dapat mendukung adanya peningkatan hasil belajar siswa karena pembelajaran dengan model kooperatif tipe TGT dapat berjalan dengan baik. Selain dilakukan penilaian terhadap guru, juga diberikan penilaian terhadap tingkah laku siswa ketika mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif tipe TGT. Hasilnya disajikan pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10

Perbandingan Observasi Siswa

Siklus Kegiatan Pembelajaran Presentase Kriteria

I

Pertemuan 1 Kegiatan Klasikal 60.5% Cukup Kegiatan Kelompok 56.25% Cukup Pertemuan 2 Kegiatan Klasikal 75% Baik

Kegiatan Kelompok 68.75% Baik

II

Pertemuan 1 Kegiatan Klasikal 87.5% Sangat Baik Kegiatan Kelompok 81.25% Sangat Baik Pertemuan 2 Kegiatan Klasikal 90.6% Sangat Baik Kegiatan Kelompok 87.5% Sangat Baik

Hasil penilaian terhadap lembar observasi siswa ditunjukkan pada tabel 4.10. Tabel tersebut menunjukkan adanya peningkatan terhadap tingkah laku siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif tipe TGT. Hasil dari siklus I pertemuan 1 pada kegitan klasikal nilai aktivitas yang diperoleh sebesar 60.5% dengan kategori cukup baik, sedangkan nilai pada kegiatan kelompok sebesar

(22)

56.25% dengan kategori cukup baik pula. Nilai tersebut menunjukkan bahwa secara garis besar, siswa mulai dapat mengikuti pembelajaran, meskipun masih perlu pembiasaan. Pada pertemuan 1 siklus I, masih terdapat beberapa kendala seperti siswa masih mengalami kesulitan pada kegiatan kelompok, baik kegiatan tim, games maupun kegiatan turnamen. Namun setelah dilakukan refleksi dan dirancang solusi kendala tersebut dapat teratasi pada pertemuan 2 meskipun belum maksimal. Hal ini dikarenakan, siswa belum terbiasa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Meskipun demikian, nilai aktivitas pada pertemuan 2 siklus I mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya.

Penilain terhadap aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif tipe TGT juka dilakukan selama siklus II. Setelah dilakukan banyak perbaikan terhadap pembelajaran pada siklus I, maka diketahui adanya peningkatan terhadap nilai aktivitas siswa baik pada kegiatan kelompok maupun pada kegiatan klasikal. Nilai aktivtas pada pertemuan 1 siklus II yaitu 87.5% pada kegiatan klasikal dan 81.25% pada kegiatan kelompok meningkat menjadi 90.6% pada kegiatan klasikal dan 87.5% pada kegiatan kelompok dengan kriteria sangat baik. Hasil ini sekaligus menunjukkan bahwa siswa telah dapat mengikuti pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan amat baik, selanjutnya hasil ini dapat mendukung adanya peningkatan terhadap hasil belajar. Berikut disajikan perbandingan hasil belajar siswa.

Tabel 4.11

Hasil Belajar Siklus 1 dan Siklus 2 Siklus Jumlah Siswa Nilai Tertinggi Nilai Terendah Nilai Rata-Rata Kelas Siswa yang Tuntas Siswa yang Belum Tuntas Jumlah Persentase Jumlah Persentase

Siklus 1 27 90 55 71.1 19 70.37% 8 29.63%

Siklus 2 27 100 60 78.52 24 88.89% 3 11.11% Dari Tabel 4.11terlihat bahwa dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan rata-rata kelas dari 71.1 menjadi 78.52 dengan ketuntasan yang juga meninkat dari 70.37% menjadi 88.89%. Persentase ketuntasan kelas IV yang dicapai pada siklus I ke siklus II tersebut telah mencapai standar yang ditentukan SDN Lebak 02 yaitu minimal 85% siswa tuntas KKM, serta nilai rata-rata kelas juga telah mencapai KKM yang telah ditentukan yaitu 70. Meskipun pada siklus II masih terdapat 3 siswa yang belum tuntas, namun secara klasikal ketuntasan pada siklus II telah

(23)

melampaui indikator yang ditentukan. Adapun ke 3 sisiwa yang belum tuntas merupakan siswa yang diakui guru kelas IV sebagai siswa-siswa yang lamban dan sering kesulitan mengikuti pelajaran. Ketiga siswa tersebut membutuhkan bimbingan intern, meskipun demikian penelitian ini telah dinyatakan berhasil berdasarkan ketentuan indikator keberhasilan yang dibuat. Untuk lebih jelasnya akan disajikan perbandingan jumlah siswa yang tuntas dan tidak tuntas pada siklus I dan siklus II dalam bentuk grafik pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Perbandingan Ketuntasan Belajar Siklus I dan Siklus II Berdasarkan gambar 3, persentase siswa yang tuntas yang diambil dari nilai tes siklus I adalah 70.37% (19 siswa). Pada siklus II, persentase siswa yang tuntas yang diambil dari tes siklus II adalah 88.89% (24 siswa). Gambar diatas menunjukan peningkatan jumlah siswa tuntas dari siklus I ke siklus II. Kondisi tersebut juga diiringi dengan menurunnya jumlah siswa yang tidak tuntas. Meskipun pada siklus II masih terdapat siswa yang tidak tuntas, namun hasil tersebut telah memenuhi indikator kinerja pada penelitian ini yaitu 85% tuntas dengan KKM 70, sehingga pelaksanaan pembelajaran dihentikan pada siklus II.

4.5 Pembahasan

Pada kondisi awal yakni kondisi dimana pembelajaran dengan menggunakan model TGT berbantuan video pembelajaran belum dilakukan diketahui bahwa sebanyak 14 siswa atau sebesar 51.85% dari 27 siswa dinyatakan

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Siklus I Siklus II 70.37 88.89 29.63 11.11

Diagram Ketuntasan Siklus I dan Siklus II

(24)

tuntas sedangkan sisanya yakni 13 siswa (48.15%) dinyatakan tidak tuntas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketuntasan siswa hanya mencapai 51.85%. Hal ini menunjukkan bahwa hampir sebagian siswa dinyatakan tidak tuntas. Diketahui pula nilai rata-rata kondisi awal hanya mencapai 67.2 dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terrendh 40. Nilai rata-rata tersebut juga di bawah kriteria ketuntasan minimal yakni 70. Mencermati hal tersebut, maka upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran TGT berbantuan video pembelajaran pada mata pelajaran IPA.

Upaya untuk meningkatkan hasil belajar pada kondisi awal dilakukan dengan menerapkan model TGT berbantuan media video pembelajaran pada matapelajaran IPA. Setelah dilakukan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran TGT berbantuan video pembelajaran diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas menjadi 19 siswa atau sebesar 70,37% dan jumlah siswa yang tidak tuntas menjadi 29,63%. Nilai rata-rata siswa pada siklus I adalah 71,1 dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 55. Kondisi ini menunjukkan bahwa ada peningkatan jumlah siswa yang tuntas yakni dari 14 siswa menjadi 19 siswa sehingga diketahui peningkat jumlah siswa yang tuntas pada siklus I ini adalah 18,52%. Sedangkan ada penurunan jumlah siswa yang tidak tuntas yakni dari 13 siswa pada kondisi awal menjadi 8 siswa pada siklus I. Selain itu rata-rata nilai siswa juga mengalami kenaikan yakni dari 67.2 pada kondisi awal menjadi 71.1 pada siklus I. Rata-rata nilai pada siklus I telah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM =70). Meskipun ada peningkatan dari kondisi awal ke siklus I, namun ketuntasan pada siklus I belum mencapai indikator kinerja yang ditetapkan yakni 85% dari jumlah seluruh siswa tuntas, oleh sebab itu dilakukan tindakan lanjutan pada siklus II.

Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus II, ketuntasan siswa mengalami peningkatan yakni menjadi 24 siswa atau 88.89% dinyatakan tuntas belajarnya sedangkan siswa yang tidak tuntas ada 11.11%. Hasil ini menunjukkan bahwa ada peningkatan ketuntasan dari siklus I yakni dari 19 siswa menjadi 24 siswa tuntas belajarnya sehingga diketahui ada peningkatan sebesar 18,52%. Siswa yang tidak tuntas belajarnya juga berkurang, pada kondisi siklus I siswa yang tidak tuntas ada 8 siswa berkurang menjadi 3 siswa. Nilai rata-rata pada siklus II mencapai 78.52 dengan nilai terendah sebesar 60 dan nilai tertinggi sebesar 100. Berdasarkan hal

(25)

tersebut, maka dapat diketahui bahwa ketuntasan pada siklus II mencapai indikator ketuntasan kinerja sehingga tindakan ini dihentikan pada siklus II. Adapun ketuntasan siswa dari kondisi awal, siklus I dan siklus II disajikan pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3

Perbandingan Ketuntasan BelajarPra Siklus, Siklus I dan Siklus II Gambar 4.3 menunjukkan perbandingan ketuntasan dari kondisi awal hingga siklus II. Mencermari Gambar 4.3 maka dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan secara signifikan dari kondisi pra siklus yakni kondisi di mana belum diterapkannya model pembelajaran TGT berbantuan media video pembelajaran ke siklus I hingga siklus II. Berdasarkan hal tersebut maka diketahui bahwa ketuntasan dari kondisi pra siklus ke siklus I diketahui karena dalam pembelajaran siswa merasa senang dengan adanya kegiatan game sehingga siswa tidak merasa tertekan. Pada tahap Tim, siswa bisa saling bekerjasama dalam kelompok. Pada tahap games, siswa dapat belajar soal dengan cara yang menyenangkan karena lewat pertandingan kelompok. Selanjutnya pada tahap tournament, meski berjuang secara individu tapi tetap membuat semangat karena persaingan yang seimbang, siswa berada dalam 1 meja dengan kemampuan yang

0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00%

Pra Siklus Siklus I Siklus II

51.85% 70.37% 88.89% 48.15% 29.63% 11.11%

Diagram Ketuntasan Hasil Belajar

(26)

sama. Kondisi tersebut membuat siswa dapat belajar dengan lebih baik, selain itu juga membantu siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Meskipun telah terjadi peningkatan, namun hasil ketuntasan belajar pada siklus I belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditentukan yakni sebesar 85% dari seluruh siswa mengalami ketuntasan, sedangkan ketuntasan pada siklus I hanya mencapai 70.37% saja. Oleh karena itu perlu dilakukan pembelajaran pada siklus selanjutnya.

Setelah mempertimbangkan berbagai kekurangan-kekurangan yang dilakukan pada siklus I, dilakukan lagi perbaikan pembelajaran pada siklus II. Pada siklus II, diketahui bahwa sebanyak 24 siswa dari 27 siswa mengalami ketuntasan, dengan perolehan nilai rata-rata 78.52. Sehingga ketuntasan pada siklus II mencapai 88.89%. Mengacu pada hasil ini dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 18.52%. Memperhatikan ketuntasan belajar pada siklus II yang mencapai 88.89%, maka ketuntasan belajar pada siklus II telah melampaui indikator keberhasilan yang ditentukan, dengan demikian upaya meningkatkan hasil belajar siswa telah tercapai. Berdasarkan pada hasil ini maka dikatakan bahwa pembelajaran dengan model kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar sesuai dengan yang direncanakan. Hasil tersebut juga didukung dengan keberhasilan guru dalam menerapkan model kooperatif tipe TGT yakni ditunjukkan dengan peningkatan di setiap pertemuan dalam menerapkan model TGT pada pembelajaran IPA. Selain itu siswa juga dapat mengikuti pembelajaran TGT dengan baik, hal tersebut ditunjukkan dengan penilaian pada lembar observasi. Pada saat dilaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, siswa dapat lebih mudah memahami materi, yakni dengan adanya kegiatan tim di mana siswa dapat saling bertukar pikiran dan bebas menyampaikan pendapat. Selain itu kegiatan tim menumbuhkan semangat kerja sama. Siswa yang unggul belajarnya dapat membantu siswa yang lemah sehingga dalam kegiatan tim terjadi kerja sama yang baik. Selain itu kegiatan games dan turnamen merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi siswa, siswa tidak merasa terbebani dengan adanya soal-soal yang diberikan oleh guru, meskipun di awal pertemuan masih terdapat siswa yang yang merasa kebingungan akan tugasnya namun kondisi demikian dapat teratasi dipertemuan selanjutnya. Kegiatan turnamen melatih siswa untuk melakukan

(27)

kompetisi dengan baik, siswa saling berlomba-lomba untuk mengerjakan soal. Secara keseluruhan kegiatan pada TGT menolong siswa untuk menguasai materi tanpa adanya paksaan, siswa merasa perlu menguasai materi dengan keiningan sendiri, keinginan untuk unggul dalam kegiatan turnamen. Hal tersebut memicu meningkatnya hasil belajar siswa.

Hasil penelitian ini dapat memperkuat hasil penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa pihak, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Iwan Yuni Isetyawati (2014) dengan judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Operasi Hitung Campuran dengan Model Pembelajaran Kooperatife Tipe TGT (Teams Games Tournament) Bagi siswa kelas II SD Negeri Percobaan 3 Pakem. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pada akhir siklus I siswa yang sudah tuntas mencapai KKM sebanyak 16 siswa (64%), sedangkan pada akhir siklus II siswa yang sudah tuntas mencapai KKM sebanyak 27 siswa (96%). Ada kenaikan ketuntasan siswa atau nilai hasil belajar Matematika dari siklus I ke siklus II sebesar 32%.

Hasil peneltian lainnya yang juga menunjukkan keberhasilan dalam meningkatkan hasil belajar melalui model kooperatif tipe TGT adalah penelitian yang dilakukan oleh Ari Dwi Susyanto (2015)yang berjudul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournamen Pada Siswa Kelas V SD N 1 Jembangan Poncowarno Kebumen”. Hasil penelitian menunjukkanadanya peningkatan hasil belajar siswa. Peningkatan ini dapat dilihat dari nilai ratarata kelas mengalami peningkatan yaitu dari hasil pra siklus sebesar 66,72 pada siklus I rata-rata kelas naik menjadi 69,54 dan pada siklus II naik menjadi 77,72. Pada pra siklus persentase ketuntasan keseluruhan siswa sebesar 18% atau 4 dari 22 siswa. Pada siklus I persentase ketuntasan keseluruhan siswa meningkat menjadi 50% atau 11 dari 22 siswa, kemudian pada siklus II meningkat kembali menjadi 86% atau 19 dari 22 siswa. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa adanya peningkatan prestasi belajar Matematika mulai tahap pra siklus, Siklus I dan Siklus II.

Hasil penelitian ini juga mendukung teori yang dikemukakan oleh Isjoni (2011) yang menyatakan bahwa model kooperatif tipe TGT dapat membangkitkan keinginan siswa untuk belajar dengan adanya kegiatan yang menyenangkan seperti

(28)

permainan dan turnamen, kondisi tersebut memicu terbentuknya lingkungan belajar yang kondusif sehingga dapat membantu siswa dalam belajar dan pada akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa model TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa, terbukti dengan adanya peningkatan ketuntasan siswa pada siklus II.

Gambar

Tabel 4.2 Pembagian Kelompok Kegiatan TGT
Gambar 4.2 Perbandingan Ketuntasan Belajar Siklus I dan Siklus II

Referensi

Dokumen terkait

Program PNPM yang ada di desa winumuru belum semua berhasil karena masih ada program PNPM yang belum berhasil di laksanakan dimana ada beberapa program PNPM banyak

1) Sarung tangan, untuk mencegah perpindahan mikroorganisme yang terdapat pada tangan petugas kesehata pada pasien, dan mencegah kontak antara tangan petugas dengan

Menurut Robbins (2007: 241) kompensasi yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan dapat mempengaruhi loyalitas karyawan. Apabila kompensasi diberikan.. JOM

Tanaman jagung yang terinfeksi penyakit hawar daun pada fase vegetatif menyebabkan tingkat penularan yang lebih berat dibanding bila penularan terjadi pada tanaman yang lebih tua

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan bahwa, kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial menggunakan

Namun kebiasaan dan selera keluarga dalam mengonsumsi daging sapi serta ketersediaan daging sapi secara parsial tidak berpengaruh terhadap konsumsi daging sapi

Pada bagian ini akan dilakukan analisis dan perbandingan rancangan dari penggunaan lori dan conveyor dari aspek teknis, beban kerja, pengukuran risiko, serta

sarana, prasarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan,