• Tidak ada hasil yang ditemukan

PusAka Para deWa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PusAka Para deWa"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

PUSAKA PARA DEWA

(Lovely Dear)

Episode 1

Dhuaaaarrrr……….!!!

Bunyi ledakan yang maha dahsyat terdengar memekakkan telinga di salah satu lembah yang penuh dengan hawa halimun tipis di lembah pengunungan yang terletak di antara puncak-puncak Thai San yang menjulang tinggi.

Tubuh seorang pemuda berusia enam belas tahunan tampak melayang turun dengan perlahan diatas rerumputan basah setinggi setengah jengkal. Anehnya, walaupun rerumputan tersebut di injak oleh kaki anak itu tapi kalau di perhatikan lebih teliti, ternyata rumput tersebut tidak bengkok ataupun bergoyang, atau lebih tepatnya, anak itu sedang berdiri di ujung rumput dengan ringan sekali. Pemuda itu bertelanjang dada, dan nampak gagah. Yang mengherankan adalah tubuh anak itu di selimuti cahaya tipis keemasan yang kemudian, menghilang dengan perlahan .

“Hohoho…Sian kong-cu, hebat…hebat akhirnya kau menguasai pukulan Kiu-Sian I-Sin-kang dengan sempurna…hahaha…hebat…hebat…”

Seorang kakek setengah bongkok tertawa mendekati pemuda yang di panggil Sian kong-cu (tuan muda Sian) itu sambil bertepuk tangan.

Anehnya, pemuda tersebut justru tidak nampak gembira, matanya menyorot tajam bagai pedang sambil menatap tebing di hadapannya yang berlubang sebesar kerbau, sedalam tujuh inci di hadapannya, namun di balik sorotan tajam itu ada sinar ke tidakpuasan yang dalam…sampai lama akhirnya sinar mata yang tajam itu perlahan mulai lembut dan mulutnya mengguman perlahan: “Hemmnnn, belum sempurna…sama sekali belum sempurna…”

(2)

“Eh, Kong-Cu, apa maksudmu belum sempurna, tidakkah kau lihat tebing batu cadas itu berlubang sebesar kerbau...sangat jarang ada pemuda enam belas tahun bisa melatih tenaga dalam sampai setingkat itu, bahkan tokoh-tokoh tingkat satu di kang-ouw belum tentu dapat menyamaimu?...” kakek bongkok itu terdiam sejenak kemudian melanjutkan dengan bersemangat “...hah, tidak percuma kong-kongmu mengoperkan tenaganya padamu sebelum beliau mati...”

“Akhh...paman Hou, kong-kong memang sudah berkorban banyak dengan mengoperkan sin-kangnya padaku, apalagi dengan adanya darah mujizat It-kak-liong (naga tanduk satu) dan tiga buah pil penambah tenaga pemberian Yok-Sian Yok-Sian-jin seharusnya hasil yang ku capai lebih daripada hanya membuat lubang besar ini...”

“Maksud Sian kong-cu, Kiu-Sian I-Sin-Kang bisa bisa berbuat lebih dari ini?... “Paman Hou, paman tidak memahami ilmu ini, karena paman tidak pernah belajar silat, tapi sebenarnya Kiu-Sian I-Sin-Kang mempunyai sembilan tingkatan yang terbagi dalam tujuh unsur yang berdiri sendiri-sendiri tapi bisa saling menunjang, yaitu: Tanah, Angin, Besi, Air, Api, Awan, Petir, Getaran dan Kekosongan....tadi aku memang mengerahkan tingkat ke sembilan, tapi hanya sampai unsur Awan, kalau aku sudah mencapai tingkat ‘Kekosongan Sesuai kehendak’ maka barulah aku boleh puas....” Setelah berkata demikian, pemuda itu tertunduk sambil termenung...”

“Sian kong-cu, memangnya apa kelebihannya kalau sudah sampai tingkat kekosongan..?” desak kakek bongkok itu sambil menunjukkan wajah penasaran...

Perlahan pemuda itu mengangkat kepalanya dan sambil tersenyum misteri dia menjawab kalem “Tak terbayangkan paman...tak terbayangkan...!” terus saja dia melangkah meninggalkan tempat itu menuju ke sebuah guha yang besar agak tersembunyi di lereng lembah itu, beberapa saat kemudian kakek itupun berlalu sambil menggelengkan kepala.

Ketika pemuda itu telah berada di dalam gua, segera dia menuju ke arah peti besar di sudut sebelah kiri, setelah berlutut dan menyembah tiga kali, dia mendorong peti besar tersebut sehingga nampaklah lorong panjang dengan anak tangga yang menurun ke bawah. Pemuda itu berjalan ke bawah, terus mengikuti alur jalan yang berbelok-belok hingga sampailah dia di tempat yang paling dalam dan jarang udaranya...

Ternyata itu adalah sebuah kuburan kuno yang terletak sangat jauh di dalam bumi. Di dalam kuburan itu ada kerangka tiga orang yang sedang duduk bersila. Dan di depan ketiga tengorak tersebut ada satu peti yang terbuka, di dalamnya ada tiga jilid kitab kuno yang sudah lusuh warnanya.

(3)

Pemuda itu merongoh kantong sakunya dan mengeluarkan se-jilid kitab lain yang terbuat dari bahan sama bertuliskan Kiu-Sian I-Sin-Kang (Tenaga Jubah Sakti Sembilan Dewa ), lalu berlutut dengan sebelah kaki sambil tangannya meletakkan kitab itu menjadi satu dengan kitab-kitab lainnya.

“Sam-wi suhu, teecu Han Sian mengembalikan kitab ke tiga ini untuk di simpan kembali... ijinkan teecu menguburkan sam-wi suhu dengan layak” setelah berkata demikian, Han sian mengangkat tangan kanannya dengan lima jari terbuka di pukulkan ke langit-langit guha dengan perlahan, tapi hasilnya sungguh di luar dugaan, guha itu bergetar keras dan runtuh.

Di lain saat tubuh Han sian melesat dengan langkah-langkah yang aneh namun cepat sehingga hanya dalam dua kali kedipan mata dia telah berada di luar, di pinggir lembah sambil membelakangi guha yang hancur dan menutupi mulut guha.

Siapakah sebenarnya Han Sian ini? Dia sendiripun tidak mengetahui dengan jelas akan keadaannya. Sejak umur 5 tahun dia sudah ikut dengan seorang kakek tua renta yang dia pang gil dengan nama Bhok-kong-kong. Kakek itu sudah tua sekali, berusia 80-an tahun. Selama ini kakek itu sering menghilang, dan hanya muncul setiap sore sampai menjelang pagi saja untuk melatihnya ilmu silat.

Namun sayang hampir tiga tahun yang lalu kakek itu telah meninggal dunia setelah selesai membantu mengalirkan ‘Tenaga Inti Petir Murni’ padanya selama 3 jam. Hal ini membuat penyesalan yang amat dalam bagi anak muda ini, tapi menurut kong-kongnya itu adalah hal yang wajar karena ilmu Inti Petir Murni yang dia latih memang harus melalui mengoperan tenaga sin-kang seperti itu.

Sesaat sebelum kongkongnya meninggal, dia hanya di beri tahu tentang sebuah goa penyimpanan pusaka yang tersimpan di dalam kuburan kuno yang letaknya di dasar bumi. Menurut kongkongnya, selama ini tidak ada orang yang

mengetahui tempat itu selain dia dan pembantunya, yaitu si kakek bongkok yang membesarkan Han Sian, karena mereka berdua memang bertugas menjaga tempat itu hanya saja di larang untuk memasukinya.

Dari situlah Han Sian mendapatkan ke-tiga kitab peninggalan para tokoh dewa yang telah hilang dari dunia persilatan selama 500 tahun lebih. Tapi menurut petunjuk bahwa dia hanya boleh mempelajari isi kitab itu selama 2 tahun dan kemudian harus menguburkannya bersama dengan kerangka-kerangka dalam kuburan kuno tersebut….

Ke-4 kitab pusaka yang di temukan oleh Han Sian ini berisi tiga rahasia Ilmu silat tingkat tinggi dan 2 Ilmu pusaka gaib yang sudah hilang dari dunia persilatan selama kurang lebih 500 tahun lalu.

(4)

---lovelydear---‘Tebing Langit’ adalah suatu puncak yang menjulang ke atas di antara jajaran Puncak Thai San. Puncak dari tebing ini sangat tinggi sehingga sangat sukar sekali untuk di capai, kecuali oleh orang yang memiliki tenaga sakti yang amat kuat saja. Disinilah Han Sian berdiam selama ini bersama dengan kakek bongkok yang selalu menemaninya.

Hari telah lewat tengah hari dan mulai menjelang sore., Keadaan di atas puncak itu hampir tanpa udara sama sekali namun sudah biasa bagi Han Sian dan kakek bongkok yang selalu menemaninya.

Segera setelah berpamitan dengan pengasuhnya itu, yang melepas kepergiannya dengan berat hati, Han Sian mulai bersiap menuruni’Tebing Langit’. Selama 2 tahun terakhir ini Han Sian tidak pernah menuruni tebing langit tersebut. Setelah memandang sekilas ke bawah yang nampak hanya seperti titik kecil saja. Dia mulai mengerahkan tenaga kearah kaki dengan pengerahan ilmu Thian-In Hui-cu (Terbang Menunggang Awan Langit), dan perlahan-lahan tubuhnya terangkat ke atas dan kemudian meluncur ke bawah dengan ringan.

Sekian lama tubuhnya meluncur ke bawah dan ketika hampir mencapai bumi, tangannya di pukulkan ke bawah dengan perlahan dan muncul segulungan kabut berbentuk awan di bawah kakinya yang menahan laju tubuhnya sampai mendarat perlahan di tanah.

Han Sian lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan dia terkagum menyaksikan keindahan pemandangan yang nampak. Namun matanya tertarik dengan suara riak air yang segar dari sungai kecil di sebelah kirinya. Dan dalam sekejap dia telah menceburkan dirinya tanpa melepaskan pakaian. Hatinya senang sekali, seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya. Sampai lama tubuhnya terendam dalam air dengan posisi terlentang sambil tiduran. Hebat, ternyata dia memiliki kekuatan menahan nafas yang luar biasa sampai berjam-jam.

Sampai lama dia tidur terlentang di dasar sungai sambil menikmati keindahan isi sungai, tiba-tiba matanya terbeliak dengan sinar mata terkejut. Ternyata

matanya menangkap gerakan ‘ikan besar’ yang sedang berenang, namun bukan ikan, karena yang satu ini memiliki ke unikan ganjil yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

‘Ikan besar’ itu mirip seperti dia, memiliki dua kaki dan dua tangan yang bergerak-gerak indah meraup air sambil meluncur ke depan. Saat dia

memperhatikan lebih seksama, hatinya berdebar keras. Kedua kaki itu nampak indah dan padat, bergerak-gerak teratur memukul air di sekelilingnya. Yang lebih membuatnya terbelalak ialah kedua tangan dan kaki itu ternyata milik

(5)

sebuah tubuh yang indah, polos tanpa pakaian sama sekali sehingga setiap lekuk dari sela paha, pinggang yang ramping dan dada yang bulat serta padat itu terlihat nyata sekali.

Bagaikan tersihir, seluruh tubuhnya tiba-tiba menegang dan mengeluarkan hawa panas yang segera membuat air di sekitarnya serasa mendidih. Hal mana tentunya menarik perhatian gadis yang sedang berenang tersebut. Sekejap dia memasukkan kepalanya ke dalam air dan ini membuatnya sangat terkejut sekali. Han Sian melihat dengan mata terbelalak mulut gadis itu terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu. Dengan gerakan kilat tak lama kemudian gadis itu sudah naik ke darat.

Dengan perlahan Han Sian membiarkan tubuhnya terangkat sampai mumbul di permukaan. Di lihatnya gadis yang bertelanjang tadi sudah mengenakan

kembali bajunya dengan agak sedikit awut-awutan. Sementara dia memandang dengan kagum, gadis itu berdiri membelakanginya.

Tubuhnya kemudian melayang mendekat. Baru saja dia hendak menyapa, tiba-tiba dia mendengar suara berdesing pedang yang tajam menyambar ke arah kepalanya. Tentu saja dia terkejut, tapi dengan hanya menggeser kakinya setengah langkah, pedang itu lewat di samping.

’Eh..eh..nona tung…. ‘

‘Dasar, laki-laki ceriwis, hidung belang…rasakan pedangku… ‘ sambil terus memaki dia menyerang lebih ganas lagi. Kali ini ujung pedangnya membuat tiga kali tusukan berantai dengan jurus ‘Tiga Tikaman Berantai’, salah satu dari 17 ilmu sakti warisan Kun-Lun-Pai.

Tapi dengan mudah kembali Han Sin menghindarinya. ‘Eh, nona, apakah salahku…mengapa engkau begitu bernafsu mau membunuhku ?’

Merasa di permalukan, dan menyadari dirinya tidak dapat berbuat apa-apa kepada pemuda yang ada di depannya itu, gadis itu tiba-tiba melemparkan pedangnya ke tanah, kemudian dia menangis terisak sambil kedua tangan menutup ke muka

‘Huuuu…huuu…huuu, kau menghinaku dengan melihat tubuhku, tapi masih juga mau mempermainkanku…huuu…huuu.. !’

Demi mendengar hal itu dan melihat nona itu menangis, Han Sian kemudian maju perlahan sambil tangannya bergerak ke kanan, ke arah pedang gadis tersebut, dan dalam sekejap pedang itu sudah melayang perlahan ke tangannya.

(6)

‘Nona, maafkan kalau aku sudah bersalah kepadamu, sungguh aku tidak

sengaja, sudah satu jam setengah aku tiduran di dasar sungai sambil menikmati keindahan dasar sungai sampai…. !’ Dengan sedikit ragu dia lanjutkan. ‘… sampai nona muncul…dan sekarang kalau nona mau menggunakan pedang ini, silahkan…saya tidak akan melawan atau menghindar’ Berkata demikian Han Sian mengacungkan pedang pendek itu ke arah gadis itu sabil terus

memandang dengan penuh penyesalan.

Gadis itu perlahan menurunkan tangannya dan memandang ke arah pedangnya dengan terbelalak. Sungguh indah mata dan wajah yang ayu itu dalam

pemandangan Han Sian sehingga dia tertegun sambil menatap kagum.

‘Kau, benarkah kau tidak akan melawan… ? tanya gadis itu dengan pandangan penuh selidik untuk memastikan sambil meraih pedangnya dan mengangkat tinggi di atas kepala..

‘Ya nona, kalau kau suka, kau boleh berbuat apa saja… aku tidak akan melawan’ Sambil berkata demikian, Han Sian balas menatap mata itu penuh kagum. Cantik sekali, mungkin ini pertama kalinya Han Sian bertemu dengan gadis secantik ini di usianya yang sudah 16 tahun tersebut.

Tangan gadis itu yang memegang pedang yang terangkat tinggi tiba-tiba lemas ke bawah. Dia sendiri tidak habis mengerti, dan walau dia coba untuk mengerti tetap juga tidak mengerti.

Pemuda di depannya ini menatapnya dengan tajam, namun lembut. Sudah banyak kali dia melihat tatapan mata para pria hidung belang yang kurang ajar, tapi tatapan ini pada hakekatnya lain dari yang lain. Tidak ada sinar kekurang ajaran, tatapan yang tajam namun penuh penyesalan itu menampakkan kekaguman dan membawa kehangatan.

‘Eh bagaimana nona?…. ‘ Han Sian bertanya lembut. Tak dapat di sangkal mukanya memerah, saat melihat tatapan gadis itu yang menatapnya bengong. ‘Mengapa nona tidak melanjutkan serangan…’

Seperti baru bangun dari sihir, gadis itu tersentak, sekejap mukanya memerah. Yah, hakikatnya dia tak dapat berkata apa-apa. Seharusnya dia marah, tapi entah mengapa, perasaan marah tadi telah sirna dan hilang tanpa bekas. ‘Ohh…tidak…tidak...’ Berusaha menyembunyikan perasaan hatinya, dia melanjutkan ‘mmm…engkau telah mengakui, lagi pula itu memang bukan salahmu, aku saja yang lagi sial…’

Sekejap kemudian gadis itu telah membalikkan diri dengan kepala tertunduk. Diam sambil menunggu, tanpa mengeluarkan suara, dan memang tidak ada yang perlu dia katakan lagi, tindakannya itu saja sudah lebih dari cukup.

(7)

Han Sian berdiri perlahan sambil tersenyum, kemudian bertanya perlahan: ‘Nona, terima kasih atas kebaikan hatimu, namaku Han Sian, aku baru saja turun gunung dan masih kurang pengalaman…bolehkah aku mengetahui nama nona ?...’

Gadis itu mengangkat kepala. Dalam hatinya sebenarnya berterima kasih atas sikap pemuda itu yang memecahkan kekakuan di antara mereka.

‘Aku…aku Cu In Lan…’ Pendek saja, namun di iringi senyuman yang manis. Senyuman yang mengatasi semua kebekuan dan menjadikan suasana lebih hangat serta menyenangkan.

---lovelydear---Angin dingin semilir bertiup mewarnai suasana mencekam di lembah Kiam-kok, salah satu lembah yang cukup terkenal karena menjadi sarang dari It-Kiam-Pang (Perkumpulan Pedang Tunggal). Perkumpulan ini di dirikan salah satu anak perguruan dari Hoa-San-Pay yang murtad, seorang jagoan pedang yang ahli, berjuluk Hui-Thian It-Kiam Tang Kai (Pedang tunggal terbang ke langit) yang sebenarnya adalah bekas su-sute dari ketua Ciangbun-jin Hoa-San-Pay, Ceng-Sim To-jin, tapi telah di usir karena melakukan kejahatan dengan

bersekutu dengan Im-Yang-Kauw, yaitu salah satu dari 4 partai sesat di dunia Dengan langkah ringan yang pasti, Han Sian memasuki mulut lembah tersebut. Hanya kebetulan saja dia melewati tempat itu dalam pengembaraannya.

Pakaiannya tidak terlalu bagus namun rapi dan membayangkan kegagahan seorang pemuda yang sedang bertumbuh. Mulutnya menyungging senyum dengan lekuk dagu yang menggambarkan keteguhan hati namun menawan. Suasana mencekam di It-Kiam-Pang saat ini bukanlah suatu hal yang biasa. Saat langkah Han Sian menuntunnya memasuki lembah ini, keningnya berkerut. Betapa tidak? Walaupun dia mau berdiam diripun susah.

Darah berceceran di mana-mana. Nampak 1 mayat laki-laki telanjang bergelimpangan di hampir setiap tempat dalam jarak 10 langkah. Han Sian tertarik. Langkah kakinya di percepat memasuki lembah tersebut sehingga dalam sekejap saja dia sudah berada di pintu gerbang It-Kiam-Pang.

Sambil meningkatkan kewaspadaannya, Han Sian mengembangkan gin-kangnya, dalam sekejap tubuhnya melesat masuk lebih dalam ke lembah. Ternyata di tengah-tengah lembah tersebut nampak berdiri dengan gagahnya sebuah perkampungan yang megah. Tiap bangunannya rata-rata memiliki atap yang lancip ke atas mirip sebuat pedang terhunus. Mungkin keunikan inilah

(8)

yang menyebabkan tempat ini dinamakan Lembah Pedang, seperti tulisan yang terpampang dengan gagah di pintu gerbang Intana itu.

Telinganya yang tajam mendengar suara tertawa yang halus di sebelah dalam. Tidak nampak penjaga di gerbang, seolah-olah memang di tempat itu, tidak peduli atau takut kalau-kalau ada orang tak di kenal menyantroni tempat itu. Dengan hati-hati Han Sian mengenjotkan sebelah kakinya, seketika itu juga tubuhnya melayang mengikuti arah angin dan lain saat tubuhnya hinggap di atap salah satu bangunan yang tinggi tanpa bersuara. Sesaat matanya tertarik dengan pandangan di dalam

Suara yang dia dengan tadi ternyata adalah suara seseorang yang

berpenampilan aneh. Tingginya hampir 2 meter dengan wajah yang kurang jelas karena tertutup rambut panjang yang di biarkan terurai setengah menutupi muka. Pakaian orang itu, yang entah pria atau wanita, berwarna putih. Tangannya panjang dengan kuku-kuku yang panjang juga.

Yang membuat han Sian mengerutkan keningnya tatkala melihat tangan kiri pria tersebut mencengkeram tengkuk seorang gadis muda yang berpakaian serba hijau, tapi nampak tak berdaya sama sekali.

Sementara di hadapan pria aneh tersebut ada pria setengah baya dengan tubuh luka-luka, setengah bertelut sambil tangan yang kanan memegang pedang dan tangan kiri memeluk tubuh seorang wanita yang sudah tidak bernafas yang hampir sama umur dengannya.

“Heh Tang Kai, masihkah kau tidak mau juga menunjukkan di mana rahasia pusaka Iblis tersebut...jangan habiskan kesabaranku atau aku akan menghabisi nyawa anakmu tersayang juga...” Suara itu begitu datar, dingin dan membawa hawa kejam.

Pria yang di panggil Tang Kai itu tetap dia, tatapannya menyiratkan kebencian yang amat dalam “Song-bun-mo-ong! Engkau melanggar kesepakatan

kita...sampai matipun aku takkan mau tunduk lagi padamu...” berkata demikian, tubuhnya yang dari posisi setengah berjogkok itu tiba-tiba melesat ke depan dengan tubuh berputaran seperti gasing. Hampir menyentuh tanah sangking cepat dan kuatnya. Sementara ujung pedangnya berubah menjadi banyak mengarah ke keluruh titik kematian dari pria aneh berjuluk Song-bun Mo-ong (Raja Iblis Mayat Hidup) tersebut.

Hakikatnya Tang kai ini sudah nekat dan tidak peduli lagi akan nyawanya, maupun nyawa putrinya yang ada dalam cengkraman lawan. Mungkin inilah jurus maut terakhirnya yang di kerahkan dengan pengerahan seluruh tenaga sisa yang ada.

(9)

“Huh, keras kepala”... Song-bun mo-ong hanya mendesis lirih seperti ular, tiba-tiba tangannya yang berkuku panjang, terulur ke depan sambil mengeluarkan suara mencicit tajam dan bau amis darah.

Lima larik sinar merah keluar dari ujung-ujung kukunya menghantam dengan sangat kuat ke arah bayangan–bayangan pedang tersebut, dan di lain saat tubuh Tang Kai terlempar tanpa mengeluarkan suara dengan pedang yang patah 3 dan tubuh berlubang.

“Sial...dasar keras kepala!” Song-bun Mo-ong terlihat gusar karena maksud hatinya tidak kesampaian juga. Sesaat kemudian dia melirik ke arah gadis berusia 20an tahun yang sedang diam tak berkutik di sampingnya. Mata gadis itu merah dan penuh air mata, namun tiada daya membebaskan diri.

“Tee Sun Lai, kemari kau...! Seketika keluar bentakan dari mulutnya, dan dlm beberapa detik di sampingnya telah berdiri seorang pemuda tampan. Mudah di duga, pasti pendatang baru ini adalah murid dari si mayat hidup ini.

“Tee-cu di sini suhu” sahut pemuda itu dengan wajah gembira. Yah, pada dasarnya dia sudah tau pekerjaan apa yang akan di tugaskan oleh suhunya. “Lakukan disini, sekarang juga...buat sampai gurumu puas...” Di lain saat tubuh gadis berpakaian hijau tersebut sudah melayang ke arah Tee Sun Lai yang menyambutnya dengan wajah menyeringai.

Tee Sun Lai tersenyum. Sudah biasa dia lakukan ini. Gurunya memang

mempunyai kelainan. Dia sangat suka melihat orang bercinta di depan matanya. “Brrreeeeet...” Perlahan dia membaringkan gadis yang dalam keadaan

tertotok itu sementara tangannya bergerak merobek pakaian gadis tersebut di bagian dada. Gadis itu terbelalak ketakutan, namun sayang dia tidak dapat berbuat apa-apa selain pasrah dengan bencana yang akan terjadi atas dirinya. Perlahan dia memejamkan matanya. Sementara tangan Tee Sun Lai bergerak cepat. Dalam sekejap gadis itu telah berada dalam keadaan tanpa pakaian sama sekali.

Tee Sun Lai Terbelalak. Gadis di hadapannya ini memang cantik bukan main. Tubuhnya langsing padat dengan dada yang bulat membusung, sangat

menantang. Segera dia menundukkan kepala untuk mencium bibir gadis itu, tapi tiba-tiba....

“Tahan sobat, tak pantas kau mempermalukan seorang gadis seperti itu...” Suatu suara yang lembut namun bertenaga terdengar.

Dapat di bayangkan betapa kagetnya Tee Sun Lai tatkala di hadapannya sudah berdiri seorang pemuda yang usianya mungkin jauh lebih muda darinya.

(10)

Lebih-lebih Song-bun Mo-ong. Betapa tidak. Dia adalah salah satu dari 3 tokoh rahasia dari Im-yang-kauw. Sangat jarang ada orang yang dapat

menandinginya, bahkan dengan ketua Im-yang-kauw yang terkenal sebagai 1 dari lima Iblis Bumi pun, dia hanya kalah se usap saja. Tapi ternyata seorang pemuda yang masih bau kencur tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya tanpa dia ketahui dari mana datangnya.

Setengah tak percaya, tapi nyata. Tak dapat dia menyangkal. Namun dengan mata setengah menyipit, dia memperhatikan lebih seksama dan menanti. Tee Sun Lai yang melihat bahwa gurunya hanya diam saja, juga tidak mau peduli. Dengan setengah kesal, kembali dia mengalihkan perhatiannya pada kelinci montok yang sedang terbaring dengan tubuh indah menantang itu. Dia percaya bahwa dengan adanya gurunya, maka semua persoalan akan beres. Dan sayangnya, karena terlalu percaya, maka dia harus menelan pill pahit.

“Arrgh...buuk !” Tubuh pemuda mesum itu terlempar dan terjengkang 2 tombak ke belakang. Di pundak kirinya tampak tergores oleh senjata tajam. Menembus sampai ke punggungnya dan rasanya seperti terbakar. Dia terluka, luka dalam yang cukup parah. Sambil meringis menahan sakit, dia hanya memandang hampir tak percaya pada pendatang baru yang baru muncul ini.

Sungguh terkejut Song-bun Mo-ong dan juga tidak habis pikir. Muridnya di lukai di depan matanya tanpa dia sanggup berbuat apa-apa. Tahulah di, anak muda ini cukup berisi.

“Anak tengik, terima ini...” Belum habis suaranya, tangan kanannya dengan jari-jari lurus kedepan dengan kuku panjang telah menyerang dengan ganas. Sasarannya mengarah ke kepala Han Sian. Hawa pukulan yang di keluarkan pukulannya yang di landasi Iweekang tinggi mengeluarkan angin berkesiutan dengan bau amis yang memuakkan.

Dengan tenang Han Sian mengangkat tangannya dengan jari telunjuk dan tengah lurus menotok pukulan yang datang. Keduanya tidak menarik tenaga mereka. Rupanya mereka memutuskan untuk mengadu tenaga.

“Dhuuuukkkk....”, Aikhh...” Song-bun Mo-ong terkejut setengah mati. Kuda-kudanya tergempur sampai melesak ke tanah sedalam 2dim. Dia tak habis percaya... Iwee-kangnya adalah hasil latihan puluhan tahun, tapi tdk selisih jauh dengan anak muda di depannya ini.

Sesaat dia tertegun sambil mengdengus marah, tiba-tiba mulutnya

(11)

merah sampaike sikut dan dari tubuhnya keluar asap kemerahan yang mengelilingi tubuhnya dan mengeluarkan bau mayat yang menyengat. Tak pelak lagi, Song-bun Mo-ong telah mengerahkan ilmu kebanggaannya Song-bun-hiat-jiu (Tangan Darah mayat Hidup). Tubuhnya berkelebat cepat, namun terlihat kaku seperti mayat. Tangannya mengeluarkan suara

mengerikan, menyerang Han Sian dengan gencarnya.

Han Sian tentu saja tidak tinggal diam. Segera dia memainkan “Pukulan Inti Petir Murni”. Dia tahu, pukulan lawa sangat beracun, tapi tidak masalah baginya karena tubuhnya di lindungi hawa khikang istimewa yang cukup kuat dan dapat menolak semua hawa asing dari luar.

Pertempuran terus berlangsung. Sudah lewat 20 jurus. Sebenarnya Han Sian belum lama turun gunung. Dan berbicara soal pengalaman maupun

kematangan bertempur, dia kalah jauh namun kedahsyatan ilmu silatnya yang walaupun belum di kuasainya sempurna.

Namun sebegitu jauh pertempuran berlangsung, belum ada tanda-tanda Han Sian terdesak. Ini membuat Song-bun Mo-ong tambah penasaran. Segera dia mengerahkan tenaganya sampai ke puncak. Memukul dengan jurus “Mayat Hidup pembunuh dewa”. Tubuhnya melompat ke atas. Dari atas ke sepuluh jari tangan di pukulkan ke depan terus-menerus, dan dari ujung kuku-kukunya keluar larikan-larikan sinar merah yang menyerang dahsyat setiap titik pusat di tubuh Han Sian.

Melihat ini Han Sia tidak menjadi gugup. Sekejab dia mengeluarkan pekikkan nyaring,sambil tubuhnya berputaran seperti gasing saking cepatnya. Dari tubuhnya keluar cahaya kuning keemasan yang melindungi dan mementalkan semua larik-larik sinar lawan. Sementara saat tubuhnya berputaran, tiba-tiba dari dalam pusaran ini menyambar selarik sinar keemasan seperti pedang yang amat tajam, mengarah ke arah Song-bun Mo-ong yang sedang di udara.

“Haaiiiiit, Aakhh...” Song-bun Mo-ong berteriak kaget. Tubuhnya terlempar ke belakang. Sambil berjumplitan untuk mematahkan tenaga balik yang dahsyat dari Han Sian, dia mendarat sempoyongan ke belakang...

PUSAKA PARA DEWA Episode 2

(12)

“Kita pergi...” Dengan mendengus, tubuhnya berbalik dan berlalu dari situ. Sinar matanya membayangkan dendam yang amat sangat.

Song-bun Mo-ong, tidak banyak bicara lagi, yah , karena memang dasarnya dia tidak bisa mengeluarkan suara banyak, sebab luka dalamnya sangat parah. Mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan untuk menyembuhkan dirinya. .

Tee Sun Lai juga bangkit dengan terseok-seok mengikutinya, sambil mukanya tersenyum aneh namun penuh kebencian.

Han Sian memejamkan matanya, menarik nafas panjang sejenak dan menghembuskannya perlahan sambil mengatur sirkulasi tubuhnya. Tadi dia mengerahkan salah satu ilmu yang di pelajarinya dari kitab kuno di “Tebing Langit”. Itulah ilmu Bu-Tek Chit-Kiam-Ciang (Pukulan Tujuh Jari Pedang Tanpa Tanding) yang dahsyat. Jurus ini memiliki 7 jurus yang memiliki tingkat terpisah.. Sayang dia masih jauh dari sempurna dala penguasaan ilmu itu.

Perlahan dia membuka matanya kemudian mendekati gadis yang sejak tadi memandanginya dengan penuh rasa terima kasih. Dari jauh Han Sian mengerahkan tenaganya dan membebaskan totokan dari tubuh gadis itu.

Merasakan dirinya terbebas dari pengaruh totokan, sang gadis segera meloncat berdiri dan segera mengenakan pakaiannya. Wajahnya memerah karena

menahan malu. Namun hatinya kebat-kebit menahan haru.

Setelah selesai, dia segera membalikkan badannya. Dilihatnya pemuda itu masih saja menghadap ke arah lain. Baru saja dia hendak membuka mulut.... “Bagaimana keadaanmu enci, apakah kau tidak apa-apa...?”

Gadis itu tertegun “Enci???...” katanya dalam hati, tapi matanya yang masih nampak bekas-bekas air mata, mengamati dengan seksama. Dia mendapat kenyataan ternyata pemuda yang telah menolongnya itu lebih muda tiga tahun darinya.

“Eh...! Oh...ya...ya...ya, aku tidak apa-apa, Cuma...” Sekilas nampak wajah gadis itu murung sambil melirik ke arah ke-dua mayat di sebelahnya. Perlahan dia mendekati dan berlutut sambil menangis sesegukan.

“Ayah dan ibumu-kah mereka enci?...”

Gadis itu menggelang kepala: “Bukan...” terdiam sejenak dia melanjutkan dengan suara lirih: “...tapi mereka membesarkanku dan merawatku sejak dari kecil...”

(13)

Han Sian terus membiarkan saja Gadis itu menangis sampai sekian lama. Setelah reda, Han Sian membantu nya untuk menguburkan semua mayat-mayat yang ada.

Dari gadis itu dia mengetahui namanya Tang Hui Si. Lebih lanjut dia juga mendapat keterangan. Memang Hui-Thian It-Kiam Tang Kai (Pedang tunggal terbang ke langit) adalah seorang yang telah di anggap murtad oleh Hoa-San-Pay dan bersekutu dengan partai sesat. Tapi Tang Kai menempuh jalan sesat tersebut sebenarnya adalah karena terpaksa karena ada rahasia yang besar di balik semua ini.

Walaupun menjadi murid Hoa-San-Pay, tapi Tang Kai adalah murid perantauan yang tidak terikat dengan partai. Kurang lebih 15 tahun yang lalu Tang Kai tiba-tiba saja mengakhiri kesukaannya merantau dan memilih untuk tinggal di

Lembah Pedang dan akhirnya berhasil mendirikan perkumpulan Pedang tunggal tersebut. Puluhan tahun Tang Kai berusaha menyembunyikan dan menjaga rahasia tersebut, bahkan sampai rela bersekutu dengan golongan hitam untuk menutupi kedoknya. Namun rupanya, isu tentang adanya suatu rahasia di lembah pedang itu akhirrnya di dengar juga oleh para sekutunya, dan mereka berusaha untuk mengetahuinya. Bahkan tak pelak lagi, ini menarik perhatian banyak pentolan tokoh-tokoh sesat dunia hitam lainnya

Sayangnya Gadis itu tidak mengetahui rahasia apa gerangan yang di

sembunyikan oleh ayah angkatnya selama ini tentang lembah Pedang tersebut. Hari sudah menjelang malam, ketika Han Sian selesai menguburkan semua mayat tersebut. Sejak tadi dia hanya membiarkan saja gadis itu berdiam diri di depan kuburan kedua orang tua angkatnya. Tak lama kemudian terliat dia

bergerak perlahan. Mungkin karena duduk berjam-jam membuat berdirinya tidak kokoh, sehingga gadis itu sempoyongan hampir jatuh.

“Hui Si-cici, kau kenapakah...?” Tau-tau Han Sian telah berdiri di sampingnya dan menahan bahunya.

“Uuhhk, tidak...tidak apa-apa.” Berusaha menguatkan hatinya, dia berusaha berdiri tegap, tapi justru lebih parah. Kepalanya jadi pusing dan lain saat dia sudah terkulai pingsan. Kalau saja Han Sian tidak segera menggendongnya, niscaya tubuh dara ayu yang aduhai itu akan terbanting ke tanah.

Han Sian menggendong gadis itu dengan kedua tangannya. Setelah

memastikan susana di sekelilingnya sejenak, diaberjalan ke arah sebuah rumah di sebelah kirinya yang paling besar. Agaknya itulah rumah yang di jadikan tempat Tang Kai sekeluarga.

(14)

Setelah memasuki sebuah kamar yang bersih, di baringkannya tubuh gadis itu. Hatinya terkagum. Tanpa terasa di pandanginya wajah yang cantik namun agak kepucat-pucatan itu..

“Ahh, kasihan engkau enci Hui-Si...begitu berat pukulan batin yang kau terima...”

---lovelydear---Malam itu di lewati dengan tenang sampai keesokan harinya. Ketika ayam mulai berkokok, Han Sian tersadar dari semedinya. Perlahan dia membuka matanya dan menengok ke kiri. Tapi tubuhnya segera meloncat berdiri tatkala di

dapatinya gadis itu tidak berada di pembaringannya lagi. Sekali berkelebat, tubuhnya segera melesat keluar, tiba-tiba...

“Ehh...” Tubuhnya yang melesat cepat itu berpapasan dengan tubuh gadis itu. Tidak keburu baginya untuk menghentikan laju tubuhnya. Kakinya menutul perlahan ke lantai sambil tubuhnya tiba-tiba bergerak aneh, melejit seringan kapas. Tapi tahu-tahu, sudah berada di sebelah belakang gadis itu.

Segera Hui Si membalikkan tubuh menghadapi pemuda tersebut sambil tersenyum manis. Manis selaki sampai Han Sian terbeliak, terpesona, betapa tidak, gadis di depannya sungguh sangat cantik. Sekejab pikirannya tiba-tiba teringat dengan Cu In Lan. Hanya bedanya gadis di depannya ini nampak lebih dewasa beberapa tahun dan masak dari Cu In Lan.

“Hai, Sian-te, maaf sudah membuatmu terkejut?”

“Eh....iya...iya, tidak apa...Oh syukurlah kalau Hui-cici sudah tidak apa-apa...”Sedikit ragu Han Sian memandang rupa orang, tapi segera keraguannya lenyap karena tidak di dapatinya sinar kesedihan lagi di wajah yang ayu di depannya ini.

“Marilah, kau ikut denganku...” Ajaknya dengan mulut masih tersenyum “Apa kau pernah mendengar tentang kolam pedang asmara?”

“Hemm, tidak...kolam apakah itu?”

“Kolam itu adalah pusaka lembah ini yang tidak di ketahui siapapun selain ayah dan aku. Tapi aku belumpernah memasuki tempattersebut kaarena menurut ayah sangat berbahaya bila di masuki oleh wanita.”

“Eh, kalau berbahaya, kenapa Hui-cici berkeras mau memasukinya?” Gadis itu tertunduk, sahutnya lirih: “Ayah sudah tiada, lagipula sudah lama memang ku ingin melihat tempat itu...dan...” berhenti sejenak, kemudian

(15)

sahutnya dengan muka merah “...dan lagi ada kau di sini, takut apa?” segera dia membalikkan tubuh dan berjalan kedepan mendahului Han Sian yang hanya terbengong saja mendengarnya. Akhirny kakinyapun melangkah mengikuti dari belakang.

Kira-kira hampir setengah jam mereka berjalan menuruni lereng terjal bagian belakang lembah pedang tersebut sampai di sebuah guha kecil yang

sebenarnya lebih mirip sumur.

Mulut sumur itu hanya kecil dan hanya bisa di masuki satu tubuh saja.

Tanpa ragu Hui Si memasukki mulut sumur itu, diikuti Han Sian. Ternyata hanya mulut sumur itu saja yang kecil, sedangkan semakin ke dalam semakin lebar dan bercahaya.

Lima menit kemudian tibalah mereka di bagian dalam yang membuat mereka berdua terbeliak kagum. Ruangan itu sangat luas. Di depan mereka ada aliran kolam kecil berair jernih berwarna agak kebiruan dengan ukiran pinggiran kolam yang indah.

Di atas kolam tersebut ada patung dua orang pria dan wanita yang sedang bercinta, sangat hidup, seolah-olah nyata. Tapi yang aneh di tangan kiri patung pria itu memegang sebuah pedang berwarna perak tipis yang ujungnya di tusukkan ke buah pinggang kiri dari patung wanita yang di tindihnya. Dari buah pinggang kiri patung wanita cantik itulah keluar aliran air jernih berwarna

kebiruan itu.

Sementara keadaan dalam ruangan itu terang oleh gemerlap langit-langit yang ternyata terbuat dari marmer putih yang dapat memantulkan cahaya.

Han Sian mengagumi keadaan di dalam ruangan itu. Matanya melirik sekilas pada Hui Si untuk melihat reaksi gadis itu. Tapi dia tertarik karena melihat pandangan Hui Si tertuju pada sebuah ukiran kecil yang indah di bawah kedua patung yang sedang bercinta itu, hampir tidak kelihatan:

“Bila asmara langit-bumi menyatu Tak Terhindar sumpah dan kutuk Jodoh Pedang Asmara dan Kitab Ilmu Pedang Iblis Bumi.

Hanya sekilas Han Sian membacanya, tapi tidak mengerti, dilihatnya Hui Si juga hanya mengerutkan kening saja. Diapun tidak memperhatikan lagi. Matanya justru tertari kepada salah satu sumur tua di arah kiri. Perlahan dia melangkah mendekati.

(16)

Ternyata dari dalam guha itu mengeluarkan asap tipis yang tidak bau. Dan asap ini memenuhi seluruh ruangan, tapi hanya sedikit saja.

Baik Han Sian maupun Hui Si sma sekali tidak menyadari pengeruh dari asap tersebut yang mempengaruhi nafsu mereka perlahan-lahan. Hanya saja mereka berdua adalah orang-orang muda yang berhati lurus dan memang belum pernah mengalami hal-hal yang lebih intim, maka pengaruh asap itu bekerja sangat lambat.

Han Sian membalikkan tubuhnya menghadap Hui Si, tapi apa yang dia temukan sungguh sangat mengejutkan. Darahnya berdesir. Betapa tidak? Gadis itu sekarang berdiri membelakanginya nyaris tanpa pakaian. Perlahan namun sangat pasti, dia menyaksikan betapa gemulai sepasang tangan gadis itu melepaskan baju pakaian terakhir yang melekat di tubuhnya.

Tubuh gadis itu terpampang di depan matanya. Dari belakang dia bisa melihat kulit yang putih mulus, dengan tubuh yang ramping padat. Apalagi bentuk paha dan pinggul yang bulat itu. Han Sian tak tahan, segera ia memejamkan mata. Namun bayangan tubuh itu tetap tidak mau hilang dari pikirannya.

Perlahan gadis itu melangkah memasuki kolam dan semakin lama tubuhnya semakin tenggelam sampai sebatas leher, dan akhirnya kepala dengan rambut yang panjang itupun tidak kelihatan lagi.

“Hui-cici?...” Han Sian khawatir ketika membuka mata, dan tidak melihat Hui Si. Segera dia memburu ke tepi kolam.

Saat dia hendak menjulurkan tangannya menyibak air kolam, tiba-tiba sebuah tangan yang putih mulus keluar dari dalam air dan menangkap tangannya. Han Sian tertegun sejenak.

“Hui-sisi, apakah...?” Kalimatnya terpotong ketika kepala pemilik tangan itu tersembul keluar...

“Sian-te, airnya sangat nikmat, menyegarkan...kau...kau temanilah aku.” Tanpa melepaskan tangannya, Hui Si keluar perlahan dari air sampai sebatas

pinggang. Tubuhnya nampak mengkilat bagaikan pualam.

Tidak dapat tidak, Han Sian memandangi gadis cantik di depannya ini, kali ini berhadapan, sehingga dengan jelas dia dapat melihat keindahan tubuh yang langsing padat, dengan dua buah dada yang besar dan kencang itu. Sungguh gadis yang telah benar-benar matang.

Sesaat kemudian, kedua tangan gadis itu, entah kapan telah merangkul erat leher pemuda yang baru jaya-jayanya dalam pertumbuhan ini sehingga bibir mereka menyatu. Sampai lama mereka berciuman. Naluri kelaki-lakiannya mulai

(17)

mengerjakan bagiannya yang memang menjadi sifat alami setiap insan di dunia yang berlainan jenis ini.

---lovelydear---Han Sian dan Hui Si sudah tidak mengetahui lagi sudah berapa lama mereka bergumul da entah sudah berapa kali mereka melakukannya, namun sampai kapanpun itu mereka lakukan selalu di akhiri dengan senyum kepuasan yang amat sangat.

Namun “malang tak dapat di tolak” taktala untuk ke sekian kalinya mereka bercinta, mereka, bakhan Han Sian yang sedang terlena sendiripun, tidak menyadari bahwa di ruangan itu sudah bertambah tiga orang yang aneh. “Hehehe...Song-bun Mo-Ong, inikah pemuda yang kau katakan hebat itu?...kenapa yang ku lihat tidak lebih dari budak nafsu saja...”

Betapa terkejutnya Han Sian saat menyadari akan hal ini, tapi baru saja dia hendak melepaskan pelukannya, tiba-tiba dia merasakan pelukan Hui Si mengencang dan memaksanya membalikkan tubuh sehingga posisi Hui Si berada di atas.

Saat itulah mukanya menjadi pucat seketika, namun terlambat...pukulan maut Song-bun Hiat-jiu yang dahsyat sudah bersarang di punggung dan pinggang gadis itu yang hanya mampu mengeluarkan keluhan pendek. Dilain saat tubuh mereka berdua terlempar menabrak sumur di sudut sebelah diri ruangan itu hingga hancur.

Rupanya Song-bun Mo-ong yang sudah mengetahui kehebatan Han Sian, tidak mau berlaku ayal. Mengambil kesempatan selagi kedua orang muda itu tidak siap, dia sudah melancarkan pukulan dengan seluruh tenaganya. Sayang Hui Si yang terlebih dahulu melihat ini, tidak mau membiarkan pukulan itu mengenai Han Sian, dan segera bertindak pada detik-detik terakhir.

Han Sian tersadar, namun akibat pengaruh pukulan keji tersebut, dia juga telah mengalami luka yang cukup parah. Walaupun dia tadi sempat mengerahkan tenaga, tapi itu tidak berarti banyak. Dia terlalu kelelahan selama beberapa waktu ini.

Sambil menahan sakit, Han Sian memeluk tubuh Hui Si yang sudah tak bernyawa lagi...

“Hui-cici...” Mata Han Sian jadi merah karena marah dan sedih yang bercampur menjadi satu. Perlahan dia meletakkan tubuh Hui Si.

Segera dia mengerahkan tenaganya. Tenaganya hanya bisa di keluarkan setengahnya. Namun dia tetap berusaha. Sampai lama, akhirnya dia muntah

(18)

darah segar. Kenapa? Ternyata dia berusaha untuk mengerahkan Kui-Sian I-Sin-Kang tapi tidak bisa, dalam sekejap dia coba lagi dengan Bu-Tek Chit-Kiam-Ciang, tapi juga tidak bisa, karena tenaganya tidak cukup sehingga membuat lukanya lebih parah. Sebenarnya dia telah coba mengerahkan ilmu ketiganya yang dia pelajari dari kitab-kitab sakti di tebing langit tapi juga tenaganya tetap tidak cukup.

Sementara dia termenung, Salah satu dari dua orang yang ikut datang mendampingi Song-bun Mo-ong, mendengus.”Anak muda, engau menyerah saja, agar tidak perlu membuatku mengotori tangan...”

Berkata demikian, tangannya berbentuk cakar di pukulkan ke aran Han Sian dengan mengeluarkan suara berdesing...itulah Hek-Coa Tok-Sin-Ciang (Pukulan sakti Racun Ular Hitam).

Tiada waktu buat Han Sian untuk berpikir panjang. Diapun belum ingin mati. Segera terdengar dengusan tajam dari hidungnya. Tangannya memapaki pukulan lawan dengan ilmu “Inti Petir Murni” dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya

“DHUAAAARRR” Kembali benturan keras terjadi. Orang yang memukul itu terdorong ke belakang 4 langkah, sedangkan Han Sian merasakan tubuhnya terlempar dan melayang sampai lama dan membuat dia tidak sadarkan diri. Tanpa dia sadari, tubuhnya melayang masuk ke dalam sumur tua yang entah berapa dalamnya.

Sementara itu salah satu dari tiga pendatang tersebut, ternyata adalah Tee Sun Lai. Dia tidak memperdulikan keadaan ketiga orang yang sedang bertempur. Matanya tertarik melihat ke arah patung pria dan wanita yang sedang bercinta itu.

Dia terpaku memandangi patung itu sampai akhirnya dia mendengar suara gurunya.

“Sun Lai ayo kita pergi!”

“Suhu, ijinkanlah tee-cu tinggal beberapa lama di sini. Pahatan patung ini sangat menarik....”

“Hehehe...Guru dan murid sama saja, dasar memuakkan...” Orang yang

memiliki pukulan Hek-Coa Tok-Sin-Ciang itu menyahut. Sebenarnya dia sudah terluka dalam. Hanya dia gengsi dan tidak mau menunjukkan kepada rekannya, sehingga walaupun kedua patung itu juga menarik perhatiannya, tapi yang lebih utama dia pikirkan adalah menyembuhkan lukanya dahulu.

(19)

“Hahaha..Hek-Coa Sin-Kai, sekarang kau sudah rasakan kehebatan pemuda itu bukan, dalam keadaan terluka saja dia masih sanggup menggempurmu 4

langkah. Lebih baik kau tidak usah mencampuri urusan kami guru dan murid, mari kita pergi...” berkat demikian Song-bun Mo-ong membalikkan tubuh dan berlalu dari situ.

Sementara itu, Tee Sun Lai yang masih terpaku pada patung itu seperti tersihir, melompat ke atas patung itu. Sekali tangannya bergerak, dia telah

melemparkan patung pria yang menindih patung wanita itu ke tanah hingga hancur. Ternyata kedua patung itu tidak menyatu seperti kelihatannya. Seperti orang gila Tee Sun Lai memeluk patung wanita cantik tersebut dan menggumulinya. Sampai lama, semakin dia menggumuli, semakin kuat tenaga saktinya di kerahkan di seluruh tangan sampai akhirnya terdengar suara retak. Patung wanita cantik itu retak dan hancur.

Tee Sun Lai tersadar dan segera meloncat turun. Melihat patung itu hancur, terbersit juga rasa penyesalan di hatinya. Tapi hatinya tertarik ketika matanya melihat sesuatu bungkusan kain hitam di antara hancuran patung tersebut. Segera dia mengenjotkan tubuh kembli ke atas dan tangannya menyambar bungkusan hitam itu.

Dengan hati-hati dia membuka bungkusan itu untuk melihat isinya. Hatinya berdebar-debar. Setelah di buka, matanya memancarkan sinar kegirangan. Isi bungkusan itu adalah sebuah kitab hitam yang sudah usang dan tua sekali. Dia coba membuka-buka halaman kitab itu. Dia tidak mengerti tulisan-tulisan yang tertera di kitab tersebut.tapi betapa senangnya ketika dia menemukan gambar-gambar orang yang bersilat dengan ilmu pedang tingkat tinggi yang amat dahsyat. Dia kemudian tertawa terbahak-bahak seolah anak kecil yang baru mendapat mainan.

Segera dia menyembunyikan kitab itu di balik baju dan bangkit berdiri. Dari pecahan patung pria yang di buang tadi, dia temukan lagi satu kitab mengenai sejarah dan rahasia membaca tulisan kuno tersebut.

Setelah membaca sejenak, dia mengetahui ternyata kitab itu adalah warisan Iblis Pedang yang berjaya kurang lebih 250 tahun lalu. Itu adalah ilmu pedang “Tee-Mo-Kiam-Sut

PUSAKA PARA DEWA Episode 3

(20)

“BUUKKK...” Akhirnya tubuh Han Sian mendarat di tanah. Setelah sekian lama melayang-layang di udara. Sekian lama, yang ada hanya keheningan. Entah berapa lama keheningan ini berlangsung.

Ketika Han Dian tersadar, dia mendapati seluruh tubuhnya tidak bisa di gerakkan, sakit dan tulang-tulangnya nyeri. Dia segera sadar bahwa luka-lukanya sangat parah. Dia keracunan hebat karena adanya 2 macam hawa pukulan beracun bersarang di tubuhnya.

Perlahan dia teringat Ilmu ke tiga yang di latih dari kitab-kitab kuno di tebing langit. Ilmu mujizat Hui-Im-Hong-Sin-Kang (Tenaga Sakti Burung Hong Dingin). Puncak tertinggi dari ilmu tersebut adalah peleburan tenaga sakti Api-Dingin. Dimana pada taraf yang tertinggi sanggup menghasilkan tenaga

penyembuh mujizat dalam sekejap sehingga pemilik ilmu tersebut sangat susah di taklukkan tapi juga menjadikan ilmu tersebut sebagai ilmu terlarang karena dya penghancurnya yang sangat dahsyat.. Tapi sayang, walau dia berusaha sekuat mungkin untuk memahami rahasia ilmu ini tapi tetap masih kesulitan. Saat-saat yang cukup kritis dalam hidupnya ini dia coba mengerahkan ilmu itu dan ternyata berhasil di bangkitkan. Ternyata syarat untuk melatih ilmu ini, dia harus terluka parah terlebih dahulu.

Dalam keadaan tidak bergerak, Han Sian memahami rahasiaa mengerahkan ilmu ini dan menyembuhkan luka-lukanya. Tubuhnya terasa tersiksa sekali. Selama tiga hari-tiga malam Han Sian berada dalam keadaan tidak bergerak ini. Semua ilmu yang pernah di latihnya, bergantian di kerahkan dan tenaganya bergerak ke sana kemari menetralisir racun dan menjebol semua penghambat-penghambat di tubuhnya.

Akhirnya pada hari ke tiga, dia merasakan tubuhnya sudah mulai bereaksi. Perlahan tubuhnya terangkat melayang ke atas setinggi dada. Dia membuka matanya, seluruh tubuhnya serasa di penuhi tenaga. Bahkan sinar keemasan memancar dari sekeliling nya.

Sungguh luar biasa. Dia dapat merasakan gerakan tenaga yang dahsyat bergerak seolah olah ingin menerobos keluar. Segera dia menyalurkan

tenaganya memainkan 8 Tingkat dari Ilmu tersebut dengan baik tanpa kesulitan seperti dahulu.

(21)

Bahkan ketika dia memainkan Kiu-Sian I-Sin-Kang dan Bu-Tek Chit-Kiam-Ciang serta ilmu “Pukulan Inti Petir Murni”, semuanya dia lakukan tanpa kesulitan sama sekali.

Setelah bersilat hampir setengah hari, tiba-tiba Han Sian menarik kembali tenaganya dan berhenti bersilat. Keadaan dalam Guha yang cukup lebar itu nampak-porak poranda hampir tak berbentuk lagi.

Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya. Matanya menangkap bayangan peti mati besar dari besi hitam yang berdiri di salah satu sudut guha tersebut. Peti itu telah hancur sebagian terkena terjangan hawa pukulannya.

Dengan tertarik dia mendekati peti tersebut kemudian membukanya perlahan. Ternyata di dalamnya dia menemukan sesosok kerangka yang sedang duduk bersila. Di tangannya ada secarik kain yang terbuat dari bahan khusus yang tidak mudah rusak dan di lapisi kulit kambing. Di atasnya ada tulisan yang berbunyi”

“Puluhan tahun malang-melintang di dunia kang-ouw, Iblis Pemusnah Tanpa Bayangan si Penantang Dewa akhirnya mati dalam kekosongan. Pewaris yang berjodoh, hanya boleh menggunakan ilmu ini untuk membersihkan nama busuk dari sang pemusnah.

Han Sian terhar tertegun sesaat demi mengetahui riwayat sang tokoh yang tinggal tulang belulang ini. Segera dia bermaksut mengangkat tulang-tulang tersebut untuk di kuburkan, tapi saat dia menyentuhnya, kerangka itu kemudian hancur jadi abu. Di tempat di mana kerangka itu berada Han Sian menemukan 13 batu hitam segi delapan. Ternyata di situlah terukir 13 jurus sakti “Seribu Bayangan Iblis Pemusnah” yang amat dahsyat tapi juga mengerikan.

Demikianlah mulai saat itu Han Sian tinggal di dalam guha tersebut sambil melatih semua ilmu-ilmunya. Saat dia teringat mayat Hui Si, Han Sian menjadi sangat sedih. Teringat dia betapa gadis yang sangat cantik itu telah

menghabiskan waktu berhari-hari menikmati kenikmatan cinta dengannya. Suatu hal yang dia belum pernah rasakan sebelumnya.

Sejak saat itu dia memutuskan untuk berkabung selama satu tahun penuh, dan dia tidak akan keluar sebelum habis masa berkabungnya. Saat yang sama juga dia gunakan waktu satu tahun tersebut untuk mematangkan semua ilmu-ilmu yang dia miliki.

---lovelydear---Waktu 2 tahun berlalu dengan cepatnya. Dunia kang ouw gempar dengan munculnya seorang tokoh dunia hitam yang berjuluk Jit-Goat Mo-Ong. Momok ketakutan membayang di mata para kaum tua dunia persilatan. Mengapa tidak,

(22)

siapapun sangat mengetahui bahwa tokoh ini adalah salah satu tokoh yang sudah lama menghilang dari dunia kang-ouw.

Kalaupun benar yang di ceritakan oleh kakek dan nenek mereka, maka berarti umur tokoh sesat ini sudah mencapai 200an lebih. Tidak ada yang pernah melihat sepak terjang tokoh ini secara langsung. Hanya di ketahui bahwa Tokoh ini bergerak di balik sebuah perkumpulan yang sangat kuat yang di kenal

sebagai Jit-Goat-Kauw.

Keberadaan Jit-Goat-Kauw ini sangat hebat. Betapa tidak, sedangkan 12 Raja Iblis-pun harus mengaku tunduk dan mengabdi pada Jit-Goat-Kauw ini. Mereka memiliki pengikut lebih dari 500 orang.

Dengan adanya dukungan tokoh-tokoh hitam yang sakti ini, Jit-Goat-Kauw terus melebarkan sayapnya untuk menguasai dunia kang-ouw. Pembantaian terjadi di mana-mana bahkan tak banyak para tokoh aliran putih yang di bantai.

Sejauh ini masih tersisa 5 perguruan besar yang masih belum di gempur secara terang-terangan oleh Jit-Goat-Kauw ini. Partai-partai yang belum takluk ini yang bahkan sangat gencar mengadakan perlawanan pada Jit-Goat-Kauw meskipun tidak secara langsung. Mereka adalah Siauw-Lim-Pai, Bu-Tong-Pay, Kun-Lun-Pay, Hoa-San-Pay dan Thai-San-Pay.

Meskipun tidak secara berterang dan terkesan menutup diri, namun ke lima perguruan ini sejak 2 tahun terakhir ini telah berusaha sehebat mungkin mempersiapkan jago-jago unggulan mereka. Bahkan mereka melatih murid-murid mereka dengan berbagai cara untuk peningkatan dalam penguasaan ilmu-ilmu dari pintu perguruan mereka.

---lovelydear---Sore hari...di belakang puncak pegunungan Hoa-San-Pay. Seorang gadis berusia 17 tahun sedang berlatih ilmu pedang Hoa-San-Kiam-Sut melawan 5 orang tosu berpakaian serba putih.. Di hadapannya tampak bersila seorang kakek berambut putih yang sudah ubanan yang berusia sekitar 80 tahun.

Gadis yang cantik dan mengiurkan itu bukan lain adalah Cu In Lan. Pertemuan pertamanya dengan Han Sian memberikan berkah yang tidak sedikit padanya. Selama 7 hari Han Sian menyatakan rela menebus kesalahannya dengan mengajarkannya Ilmu Thian-In Hui-cu (Terbang Menunggang Awan Langit) dan Pukulan Inti Petir Murni.

Saat dia kembali ke Hoa-San-Pay, kebetulan dia bertemu dengan salah satu sesepuh partainya yang sudah lama mengasingkan diri. Yaitu yang lebih di kenal dengan nama Hoa-San Siang-Jin.

(23)

Hoa-San Siang-Jin ini sebenarnya adalah Toa-susiok (Paman Guru tertua) dari ciangbunjin Hoa-San-Pay yang sekarang. Begitu melihat bakat yang dimiliki oleh Cu In Lan, dan karena turut juga merasakan gejolak dunia kang-ouw yang ada, maka Hoa-san siang-jin berkenan mengambil anak dara ini untuk menjadi murid penutupnya.

Sementara ke lima orang yang mengeroyoknya itu adalah kelima orang sute dari Pek-Mau Sian-Jin, yaitu ketua Hoa-San-Pay.

Pertempuran berlangsung dengan dahsyat. Tubuh kelima orang tosu itu berkelebat memainkan Hoa-San-Kiam-tin yang ampuh. Pedang mereka berkelebat membentuk sinar panjang dan tebal mengurung In Lan.

Namun yang hebatnya, In Lan tidak nampak terdesak, meskipun nampaknya sangat sulit untuk menang dengan cepat Dia memainkan ilmu pedang ciptaan gurunya yang bernama “Pat-liong-kiam-li-hoat”(Tarian Pedang Delapan Naga) sambil mengerahkan Thian-In Hui-cu. Sementara tangan kirinya dengan tiga jari terbuka selalu memuntahkan ledakan-ledakan dengan ilmu Inti Petir Murni yang sudah di gubah dan di sempurnakan oleh gurunya agar selaras dengan ilmu Sam-Ci-Ciang (Pukulan Tiga Jari) dari Hoa-san-pay.

Setelah lebih dari 150 jurus berlalu, akhirnya terdengar suara kakek itu. “Cuku....Lan-jie, cukup...engkau sudah lulus”

Terlihat senyuman yang senang dari wajah gadis itu tatkala mendengar seruan gurunya. Bersamaat dengan Hoa-san-kiam-tin yang menarik serangan mereka, gadis inipun melejit ke atas sambil berpuratan 3 kali dan turun di hadapan suhunya dengan tanpa suara.

“Suhu, apakah itu berarti bahwa murid sudah boleh turun gunung?” Kembali dia bertanya lembut tapi wajahnya harap-harap cemas. Betapa tidak. Cukup lama dia berlatih keras. Siang malam hampir tanpa henti.

Meskipun mulutnya tidak berucap, namun hatinya tiada henti selalu merindukan suatu nama “Han Sian” dalam hatinya. Dan sekarang kesempatan yang dia nanti-nantikan untuk turun gunung telah tiba.

Itulah sebabnya saat gurunya meminta ke lima suhengnya untuk mengujinya, dia berupaya mengerahkan segala kemampuannya, dan sekarang dia

dinyatakan lulus. Betapa senang hatinya.

“Baiklah, Lan-jie, kau boleh turun gunung setelah tiga hari dari

sekarang...malam nanti datanglah menghadap untuk menerima petunjuk terakhir” belum lenyap suaranya, tubuh orang tua itu sudah berkelebat cepat sekali dan lenyap juga dari tempat itu.

(24)

Setelah kelima orang suhengnya kembali. Cu In Lan tinggal sendirian. Segera dia kembali ke pondoknya dan beristirahat.

Baru saja dia hendak melangkahkan kakinya, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Segera dia membalikkan tubuhnya. Dan benar saja, di hadapannya nampak dua orang kakek yang aneh.

Meskipun dia merasa penasaran, tapi sebagai seorang yang mengerti

tatakrama, dia segera menyapa lembut: “Akhh, maafkan karena tidak menduga akan kedatangan ji-wi locianpwe...”

“Hehehehehe...Hek-hoat-Mo-ong, tampaknya gadis ini cocok untuk di jadikan hadiah buat Kauw-cu ya kita, bagaimana menurutmu?...” Kata kakek yang bermuka codet di mata kiri.

“Hemmnn...aku sependapat, tapi tampaknya ilmunya juga tidak lemah. Apalagi kalau dia murid Hoa-san-sian-jin...kau harus berhati-hati...” sahut kakek yang satunya lagi

“Hah...hati-hati, kau lihat saja...” Sambil berkata demikian kakek itu melangkah maju.

“Kesinilah dara manis, serahkan dirimu baik-baik...” Tangannya membentuk cakar tiba-tiba terulur panjang, duakali panjang lengannya. Yang satu mencengkram ke arah lengan kanannya, sedang tangan yang lain ke arah dadanya yang menonjol indah.

“Iiiikhh...dasar kakek cabul, tidak tahu malu...” In Lan memekik marah. Di lain saat bergerak mundur dua tindak ke belakang, sedang tangannya memukul sambil memapaki serangan lawan.

“Haiiit...Dhuukkk...” Keduanya sama terdorong mundur. Hanya bedanya In Lan terdorong 3 langkah sedangkan orang itu hanya 1 langkah.

“Eh...?” Kakek codet itu kaget setengah mati. Gadis itu mampu menghindar bahkan berani menangkis pukulannya. Tahulah dia bahwa tidak mudah baginya untuk meringkus gadis ini dengan cepat.

“Bagus, kau berani melawan...tapi itu tidak akan lama.” Belum selesai ucapannya, Kakek codet itu telah menyerang dengan gencar dengan ilmu-ilmunya yang aneh, yaitu selalu menyerangnya dengan gerakan-gerakan aneh mirip monyet. Tak salah lagi, itulah Hek-wan-Tok-hoat (Pukulan beracun Lutung Hitam).

Segera dia memainkan Ilmu Hoa-san-kun-hoatnya. Tapi baru 5 jurus dia hampir kecundang di bahu kirinya. “Hehehe, kalau kau mengandalkan Hoa-san-kun-hoat, itu tak akan brarti banyak anak manis...”

(25)

In Lan gusar setengah mati. Segera dia memekik nyaring dan megerahkan Thian-in Hui-cu dan kedua tangannya membentuk totokan tiga jari yang di lambari tenaga inti Petir Murni, mencecar lawan dengan sebat. Kedua

tangannya, mengirim serangan enam kali ke arah enam titik kematian di tubuh lawan. Gerakannya cepat dan dalam enam kali serangan itu dia tidak

menyentuh tanah sama sekali.

“Haiaaaa...galak hebat amat, apa ini yang namanya Sam-Ci-Ciang...tapi kenapa tidak sama?...” Kakek codet itu kaget setengah mati. Soal tenaga dia menang tapi soal kecepatan, dia kalah jauh. Tapi belum sempat dia

memperbaiki posisinya, terdengar suara datar...

“Huh, Hek-Wan-Sin-mo, kau terlalu lama...” Kakek yang satu segera terjun ke tengah pertarungan dan memukul ke arah kepala In Lan.

In Lan kaget, dan mengangkat tangan menangkis, tapi aneh, dia tidak merasakan tenaga apa-apa. Segera dia curiga, namun sayangnya kecurigaannya itu terlambat.

Segera dia merasakan kepalanya pusing. Dilain saat tubuhnya terkulai lemas dan langsung di sambar oleh Hek-wan-sin-mo. “Hehehe, Hek-hoat-Mo-ong, sepertinya Racun pelemah semangatmu benar-benar sangat manjur...Pada hari Pertemuan nanti, Kauw-cu-ya pasti akan puas, hahahaha”

Dalam waktu singkat kedua tokoh hitam itu sudah berlalu dari tempat itu sambil membawa Cu In Lan..

PUSAKA PARA DEWA Episode 4

Salah satu hutan lebat yang terletak di antara pertemuan sungai-sungai kecil yang mengalirkan airnya ke sungai Yang-ce, tampaknya tidaklah sunyi seperti biasanya. Hari menjelang malam ketika nampak bayangan orang-orang

berkelebatan di antara pepohonan. Nyata kalau mereka bukan orang-orang biasa atau paling tidak mereka punya sesuatu yang bisa di andalkan sampai berani datang ke tempat itu.

Pertemuan rahasia para tokoh-tokoh aliran hitam. Untuk alasan inilah

(26)

mulut ke-mulut oleh orang-orangnya Jit-Goat-Kauw ternyata menarik minat yang tidak sedikit bagi para tokoh hitam yang merasa mempunyai kemampuan cukup. Agendanya, adalah untuk membicarakan strategi menghadapi “Pertemuan Besar Orang-Orang Gagah” dari golongan putih tiga bulan mendatang dan merayakan kembali bangkitnya pemimpin dunia hitam yang sudah lama hilang tersebut.

Tampaknya pertemuan ini sangat di rahasiakan sehingga yang hadir tidak begitu bayak. Dan memang semua yang telah hadir saat ini hanyalah para pemimpin tiap-golongan dari setiap daerah kekuasaan mereka. Meski demikian ternyata jumlah mereka tidaklah sedikit, hampir mencapan 200an orang.

Di antara mereka, para anggota Jit-Goat-Kauw juga hanya terlihat beberapa orang saja, itupun hanya ke 10 orang dari 12 Raja Iblis Lembah Neraka yang sakti yang menggetarkan jiwa karena kesaktian mereka yang terhitung tokoh-tokoh angkatan tua dunia hitam. Ditengah-tengah mereka tampak seorang pemuda tampan pesolek yang memegang sebuah kipas sutra dari baja murni. Tampak di antara mereka juga ada para tokoh angkatan tua lain yang berjuluk 7 Siluman Langit, 4 Ketua dari 4 partai sesat, dan masih ada empat orang aneh lainnya yang tidak di kenal.

Di dalam hutan yang lebat itu ternyata telah di bersihkan dan telah berdiri sebuah panggung yang cukup besar. Ditengah-tengah panggung tersebut nampak 32 kursi yang di atur mengelilingi sebuah meja segi delapan yang berat dan besar. Sementara para pemimpin-pemimpin yang lebih rendah mereka berdiri mengelilingi di sekitar panggung.

Menjelang tengah malam, saat semua orang sedang menunggu, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang rada-rada mirip kera. Saat semua orang menoleh ke arah suara, tampak dua orang yang aneh keluar dari balik pepohonan. Salah satunya memanggul sebuah karung besar. Siapa lagi kalau bukan Hek-hoat-Mo-ong dan Hek-wan-sin-mo yang datang sambil memanggul tubuh Cu In Lan. Melihat ini, salah seorang yang duduk dekat si pemuda tampan pesolek itu segera menegur kesal: “Hemm, jika kalian terlambat saja beberapa menit lagi, mungkin Kauw-cu-ya akan segera memisahkan kepala kalian...”

“Hahaha...kami terlambat karena sedang mempersiapkan satu hadiah khusus buat Kauw-cu-yaa.” Berkata demikian, Hek-hoat-Mo-ong meletakkan karung besar itu dan sekali tangannya bergerak, robeklah karung tersebut.

Mata semua orang yang ada di situ terbeliak kaget tatkala melihat seorang gadis yang cantik sedang terikat, bahkan banyak yang kemudian berseru-seru

(27)

dengan suara yang bernada kotor yang hanya di sambut dengan gelak tawa dari sana-sini.

Kauw-cu-yaa yang tadi hanya duduk angkuh dengan mata yang di pejamkan juga membuka matanya dan tertegun melihat kecantikan. Dia banyak

mempermainkan dan menikmati tubuhgadis-gadis cantik, tapi yang ini lain-dari yang lain.

Namun suasana hatinya jengkel ketika mendengarkan suara-suara kotor di sekitar. Sinar matanya tiba-tiba mencorong dan memandang ke arah kiri. Beberapa detik kemudian, berkelebat sebuah bayangan dengan cepat dan di lain saat terdengar jerit kematian 5 orang dengan leher terkuak leber.

Semua orang terdiam dan suasana jadi sunyi seketika. Ternyata salah satu dari 12 Raja Iblis Lembah Neraka, yaitu Hek-Tok-Jiauw-Ong telah bergerak

mengantar kematian 5 orang tersebut sesaat setelah melihat sinar mata

mencorong Kauw-cu-yaanya yang di tujukan kepada orang-orang yang berumur pendek tersebut.

“Hemm...Mulai sekarang aku akan mengambil gadis ini sebagai selirku,

siapapun yang berani kurang ajar padanya akan bernasib sama dengan ke lima orang tersebut...” Perlahan namun pasti, suara yang datar namun terdengar angkuh, keluar dari mulut Pemuda tampan pesolek itu.

Di lain saat, ketika karung itu telah terbuka, Cu In Lan telah sadar sepenuhnya, hanya saja karena tubuhnya tertotok, maka dia tidak dapat berbuat apa-apa. Tapi dia menyaksikan semua peristiwa itu.

Pemuda itu bangkit dan mendekatinya. Di lain saat, tubuhnya telah di angkat dalam pondongan pemuda tersebut yang hanya tersenyum-senyum aneh. Cu In Lan merasa tubuhnya panas-dingin, ini pengalaman pertamanya. Perasaan ketakutan yang amat sangat dia rasakan tapi apa dayanya saat ini. Namun itu tidak berlangsung lama, dan yang terjadi selanjutnya segera saja membuat dia merasa lega.

“Ambil tandu!” Tiba-tiba pemuda itu berkata kalem. “Nona manis, sekarang aku ada urusan besar, kau sabar saja...setelah selesai, kauw-cu-ya mu ini akan segera menikmati tubuhmu yang indah ini...hahaha...” Beberapa saat kemudian, 4 orang berbadan kekar berjubah hitam dengan gambar matahari-bulan di dada muncul sambil membawa tandu.

Pemuda itu melemparkan tubuh gadis itu yang melayang masuk dalam tandu dengan posisi duduk. “Jaga dia seperti kepalamu...!” sahut pemuda itu dengan suara keren. Keempat pengusung tandu itu mengangguk, dan sesaat kemudian telah melesat meninggalkan tempat itu menuju ke arah selatan.

(28)

Setelah terdiam sejenak, pemuda itu kemudian membalikkan badan menghadapi meja tersebut.

“Lo-Mo, apa semua sudah siap?...”

“Maaf Kauw-cu-ya, hanya tinggal 5 Iblis Bumi yang belum kelihatan bayangan mereka..., tapi sepertinya kita tidak bisa menunggu mereka lagi.” Seorang Kakek Tua bermata satu menyahut. Agaknya dialah yang di sebut sebagai Lo-Mo (Iblis Tua) tersebut.

Pemuda itu mengangguk. “mulailah” sahutnya dingin.

Iblis Tua mengangguk kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah. “Saudara sekalian, Yang pertama, malam ini saya mewakili Tai-Kauw-cu dan Kauw-cu-ya, menyampaikan selamat bertemu. Sebagaimana yang kita sama tahu, bahwa sebantar lagi akan segera di adakan “Pertemuan para Enghiong” dari golongan putih. Kita tidak boleh membiarkan hal,ini terjadi. Kalau mereka tidak bersatu, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menghabisi mereka” Berhenti sejenak, sambil menarik nafas dia melanjutkan: “yang ke-dua, Tanggal 15 bulan depan, adalah merupakan hari ulang tahun tokoh junjungan kita yang ke 115 tahun yaitu “Yang termulia dan Yang tersakti Tai-Kauw-cu Jit-Goat-Mo-Ong”, Beliau menginginkan kita semua, di bawah pimpinan Kauw-cu-ya, boleh berjasa baginya dengan mempersembahkan satu orang satu kepala dari para manusia-manusia sombong golongan putih.”

Suasana masih tetap hening, Semua orang sedang berpikir. Tiba-tiba salah seorang yang duduk di meja di antara ke-4 Ketua Partai sesat, yaitu Hek-Liong Sin-Mo dari Hek-Liong-Pai berdiri dan berkata dengan suara nyaring.

“Hemmm...kami di undang oleh Jit-Goat Mo-Ong untuk datang. Dengan

memandang muka beliau, kami dari Hek-Liong-Pai segan dan tau diri, tapi kalau orang yang kau sebut Kauw-cu-ya, sehebat apakah dia?...”

“Benar, Kami dari Im-Yang-Kauw, tidak pernah menerima perintah siapapun dan tidak akan pernah menghambakan diri seperti ke-12 Iblis kalian...kecuali kalau kau bisa menandingi kepalanku....” Dengan suara yang tak kalah lantang Im-Yang Hek-mo bangkit dan berseru.

“Sombong...” Salah seorang dari ke12 Iblis bangkit dan berseru marah. Diikuti rekan-rekannya yang lain. Seketika itu juga suasana menegang dan tak bersahabat.

Im-Yang Hek-mo tersenyum sinis. “Hahaha, Siang-Tok Sian-li, kita sudah pernah bertempur, dan rasanya kalaupun hal itu harus terulang, sudah jelas siapa yang akan jadi pemenangnya.

(29)

Panas hati Siang-Tok Sian-li bergerak, namun baru saja dia hendak bergerak menyerang, terdengar suara dingin dari samping.

“Ku beri kesempatan sekali padamu untuk memukul sekali, kalau kau tak dapat merobohkanku, maka kau harus menjilat sepatuku...” Ternyata pemuda yang di sebut Kauw-cu-ya itu yang berkata.

Im-Yang Hek-mo terbeliak dan dongkol atas kejumawaan orang. “Baik,

sambutlah...” Belum habis perkataannya pukulannya telah menderu tiba di ikuti dua hawa pukulan Im-Yang yang berwarna merah dan putih.

“DAAAARR...” “Hoek....” Im-Yang Hek-mo memuntahkan darah segar dari mulutnya sedangkan Kauw-cu-ya dengan kedua tangan bersilangan di depan dada hanya terdorong 2 langkah kebelakang.

Sungguh semua orang kaget, terlebih Hek-Liong Sin-Mo yang melihat betapa rekannya luka parah. Dalam hati dia bersyukur bahwa bukan dia yang

mengalaminya. Namun demikian, tak urung hatinya kebat-kebit juga saat Kauw-cu-yaa memandang kepadanya dengan sinar mata mencorong tajam.

Menyadari gelagat jelek, segera dia menekuk lutut dan berseru. “Kami dar Hek-Liong-Pay akan mau bergabung dalam satu bendera dengan Jit-Goat-Kauw.” Melihat ini, pemuda pesolek itu hanya mendengus saja sedangkan matanya kemudian beralih ke arah Im-Yang Hek-mo yang sedang merangkak

mendekatinya. Yah, dia telah di kalahkan dengan telak.

Demikianlah suasana kembali reda, setelah berbincang-dan mengatur berbagai strategi sampai hampir pagi, maka semua orang itu kemudian bubar untuk memulai gerakan bawah tanah yang akan menimbulkan malapetaka bagi dunia persilatan.

---lovelydear---Sampai lama para pengusung tandu itu berlari-larian, melompati tebing-tebing, menyusuri jalan-jalan sempit, sampai lama juga Cu In Lan berjuang

membebaskan diri dari totokannya. Diam-diam dia bersyukur, untung saja pemuda pesolek itu belum mengetahui kalau dia memiliki kepandaian tinggi. Namun baru saja dia berusaha menjebol totokan terakhir di bagian

punggungnya, tiba-tiba di rasakannya tandu berhenti. Terdengar suara garang: “Siapa kau, berani mati menghalangi orang-orang Jit-Goat-Kauw...?”

“Huh, segala macam kantong sampah seperti itu mau kau unggulkan di depanku...1” Terdengar suara berat dan tajam. Saat tirai tersingkap di tiup angin, In Lan bisa melihat wajah penghadang tersebut.

(30)

Seorang pemuda tampan. Berusia hampir 30 tahun, dengan sebatang pedang dengan gagang berukir indah di punggungnya. Pakaiannya serba kuning dengan ikat pinggang merah dan biru.

Para pengusung tandu ini marah melihat kesombongan penghadang ini. Segera mereka menurunkan tandu dan dua di antara mereka bergerak mengurung. Satu dari antara mereka segera menyerang:

“Anak muda, kalau kau tidak mau minggir, maka mampuslah...” pekiknya marah sambil mendorong tangannya dengan pengerahan tenaga dengan maksud menjatuhkan lawan.

Pemuda itu hanya diam saja sambil terus menatap tanah. Tapi tiba-tiba, tatkala pukulan lawan mendarat di tubuhnya, justru pukulan orang itu membalik dan mementalkannya.

“Aiiiiihhhk....” “Aaaakhh...” Hampir berbareng ke empat pengusung tandu itu berteriak. Di lain saat tubuh tiga lainnya telah meloncat sambil mengibaskan tangan memukul dengan Jit-Goat- Tok-Ciang. Ternyata para pengusung tandu ini sudah dilatih Jit-Goat-Tok-ciang tingkat 1 oleh Kauw-cu mereka.

Namun mereka keliru kalau menganggap lawan kali ini adalah mangsa yang empuk. Saat tubuh mereka masih melayang di udara. Tiba-tiba pemuda itu mendesak maju sambil tangannya bergerak sekali. Tampaklah sinar tipis berkelebat dan tanpa mengeluarkan suara, atau tanpa mereka menyadari, kepala mereka telah terpisah dari badan.

Pengusung tandu yang satu lagi, hanya memandang terbelalak dengan wajah pucat.

“Ampun...tai-hiap....ampun” Sahutnya ketakutan dengan tubuh gemetar. Pemuda itu menggerakkan tangan kirinya ke arah dada pengusung tandu itu yang segera menjerit pingsan. Tanpa dia ketahui di dadanya telah terukir nama yang tidak dapat di hilangkan: “Pangeran Pedang Iblis”.

Perlahan namun pasti, pemuda itu melangkahkan kakinya ke arah tandu. Apa yang dia lihat dalam tandu tersebut segera membuatnya tersenyum simpul penuh arti. Tampaknya nama ini merupakan pendatang baru dalam dunia persilatan yang namanya mulai melejit dalam Setengah tahun belakangan ini. Sayangnya dia juga bukanlah seorang yang baik-baik. Hakikatnya Cu In Lan itu keluar dari mulut harimau tapi masuk kembali ke mulut naga.

PUSAKA PARA DEWA Episode 5

(31)

Sudah terlalu lama kita tinggalkan Han Sian yang sedang menempa diri sambil berkabung selama satu tahun.

Satu tahun lebih Han Sian tinggal dalam sumur di lembah pedang tersebut. Sambil terus berlatih tanpa kenal lelah. Berbekal semua ilmu-ilmu dewa yang dia telah miliki sebelumnya, membuat Han Sian dapat melatih “Ilmu Seribu Bayangan Iblis Pemusnah” dengan sempurna. Sebenarnya ilmu ini sangat ganas sekali dan tak kenal ampun. Kalau saja ilmu ini jatuh ke tangan orang jahat, pastilah malapetaka bagi dunia persilatan.

Namun, dengan kecerdikannya, dia dapat membuang pengaruh-pengaruh yang menyesatkan dari ilmu tersebut dan menggabungkannya dengan ilmu-ilmu yang dia sudah miliki sebelumnya. Meski demikian perbawa ilmu itu masih tetap mengerikan dan bahkan lebih dahsyat.

Di samping itu dia juga sudah berhasil melatih 2 ilmu gaib yang dia dapatkan bersama dengan ke tiga kitab kuno di Tebing Langit, yaitu “Sinar Sakti Mata Pedang” yang memiliki tenaga penghancur yang tak tertandingi. Ilmu ini dapat di salurkan lewat mata, tapi hanya boleh dikerahkan 2 kali dalam 300 hari karena sangat menguras tenaga murni. Ilmu ke dua adalah “Pat-Sian-Sin-Hoat” yaitu Ilmu penguasaan tenaga batin tingkat tinggi yang dapat mewujudkan

pengembangan ilmu sihir.

Setelah setahun lewat. Han Sian keluar dari lembah tersebut. Menghirup udara segar dunia bebas kembali membuat dia senang. Tapi sayang, pengaruh peristiwa kematian Hui Si merubah watak aslinya yang tidak suka membunuh menjadi sebaliknya. Sepak terjangnya tidak segan-segan menurunkan tangan maut dan telengas terhadap orang-orang yang di temuinya berbuat jahat. Nampaknya ini pertanda buruk bagi dunia Hek-to.

Disamping itu pengalamannya yang luar biasa dalam lautan cinta bersama Hui Si, meninggalkan bekas yang menjadikan pemuda ini nampak sangat romantis dan membuka tangan kepada semua wanita yang dekat dengannya. Ini juga pertanda yang kurang baik bagi dunia asmara.

Dari sejak dia keluar lembah, Han Sian telah melakukan perjalanan yang cukup jauh, bahkan memakan waktu berbulan-bulan sampai akhirnya tibalah dia di sekitar tembok besar. Saat dia memasuki sebuah dusun, hatinya tertarik karena telinganya mendengarkan suara tangis meraung-raung beberapa orang

penduduk.

Segera kakinya berbelok mengarah ke pekarangan salah satu rumah terdekat di mana dia menemukan seorang petani dusun yang sedang merangkul seorang wanita yang tampaknya adalah istrinya yang terus menangis sedih.

(32)

“Maaf paman, saya pendatang baru di sini, bolehkah saya tau apa yang telah...Ehh...?!” Han Sian Terkejut. Belum selesai perkataannya tiba-tiba

wanita yang ada dalam rangkulan suaminya itu sudah bangkit berdiri dan berlari menyambutnya sambil mencakar-cakar seperti orang gila...

“Kau...kau...penculik bayi....kembalikan...kembalikan anakku...” teriaknya “...kembalikan anakku...”

Dengan tenang HanSian memegang pergelangan tangan wanita itu dan segera wanita itu menjadi lemas tak bertenaga.

“Anak muda jahat, kau pastilah penculik bayi kami?...Aku akan mengadu jiwa denganmu...” Laki-laki tersebut, begitu melihat istrinya terjatuh lemas, tak dapat menahan hatinya lagi, langsung menyambar cangkul di sampingnya dan

menyerang Han Sian dengan cangkul tersebut.

Tapi apalah artinya seorang petani kasar yang kerjanya sehari-hari hanya mencangkul di sawah? Dia tidak tahu kenapa, tiba-tiba gagang cangkulnya patah di tengah bagian tengah...

“Maaf paman, saya adalah seorang pelancong yang kebetulan lewat di sini dan saya tidak bermaksud jahat....mungkin saya bisa membantu paman”

Petani itu menatap pemuda di depannya dengan tatapan menyelidiki. “Orang muda, kau pergilah dari sini. Kalau kau bukan orang yang kami maksud, lebih baik pergi dari sini...” Sambil berkata demikian petani itu membalikkan tubuh dan kembali merangkul istrinya tanpa memperdulikan Han Sian.

Han Sian penasaran, namun dia tidak mau memaksa orang. Sambil menarik nafas panjang, dia melangkahkan kakinya keluar dari pekarangan rumah tersebut.

Dia melewati beberapa penduduk yang tampaknya juga mengalami masalah yang sama. Tapi anehnya mereka tetap menutup mulut. Saking jengkelnya Han Sian terus melangkah dengan muka masam sampai tibalah dia di pinggir

sebuah sungai.

Seketika hatinya senang. Kakinya melangkah mendekati sungai tersebut. Tapi segera telinganya menangkap bunyi yang tidak beres dan segera menuju asal suaratersebut. 5 orang lelaki kekar dan berewok sedang tertawa-tawa senang di sela-sela jeritan ketakutan suara 2 orang wanita muda yang manis.

“Jangan...ohh...jangan” seru seorang gadis sambil berusaha melepaskan diri dari pegangan dua orang di kanan-kirinya. Sedangkan ketiga orang pria yang lain sedang bergantian memegang dan menindih gadis yang satunya lagi yang sudah tidak berdaya dan hanya mengeluarkan suara rintihan lirih sambil

Referensi

Dokumen terkait

2) memiliki wakil kepala satuan pendidikan paling banyak 4 (empat) orang pada jenjang SMA/SMK.. mendapat tugas tambahan sebagai kepala perpustakaan pada jenjang

Dari hasil penelitian, diketahui lahan basah rawa Bujung Raman Desa Bujung Dewa Kecamatan Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat, terdapat 66 spesies

Kemudian muncullah dari lingkungan mereka Nabi Ilyas (dalam Injil disebut Eliyah) yang membawa orang Yahudi kembali kepada Tuhan, yaitu dengan membuktikan bahwa dewa- dewa orang

Dari hasil penelitian pengaruh perlakuan biji dan media tanam terhadap perkecambahan biji mahkota dewa dapat ditarik kesimpulan :Perlakuan biji mahkota dewa yang

Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut (1) pada lirik lagu Dewa 19 album The Best Of Dewa 19 , ditemukan 3 data gaya bahasa persamaan atau simile, 76 data

Hasil siklus II menunjukkan yang mendapat nilai baik sebanyak 10 orang guru, dan yang mendapat nilai cukup sebanyak 1 orang guru, sehingga tidak perlu tindakan pada

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran anak usia dini yang dilakukan guru pada masa belajar dari rumah dikelurahan Sumur Dewa Kecamatan Selebar Kota Bengkulu di

Batara Guru memerintahkan kepada Dewa Narada dan Dewa Penyarikan agar Gunung Jamur Dipa diangkat dan pindahkan ke hutan tempat tinggalnya kedua Empu Sakti tersebut sesuai rencana..