BAB I PENDAHULUAN. individu-individu yang tangguh dan kompeten di bidangnya masing-masing,

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang

Mahasiswa sebagai penerus bangsa dituntut untuk berperan aktif, menjadi individu-individu yang tangguh dan kompeten di bidangnya masing-masing, sehingga dapat mendukung pembangunan bangsa. Hal ini juga berlaku bagi mahasiswa di lingkungan Universitas Sumatera Utara. Oleh karena itu, mahasiswa Universitas Sumatera Utara harus membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Selain mengisi waktunya dengan belajar, mahasiswa juga perlu bersosialisasi. Menurut Waiten & Llyod (2006) sosialisasi adalah proses pembelajaran norma dan peran yang diharapkan dari individu pada masyarakat tertentu. Muchinsky (2003) menyatakan bahwa dalam sosialisasi terdapat proses penyesuaian diri yang menghasilkan perubahan dalam hubungan antara individu dan kelompoknya.

Kegiatan sosialisasi tersebut tidak jarang menjadi bomerang bagi mahasiswa, karena secara tidak sadar ajang sosialisai ini sering menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk terjerumus pada hal-hal negatif, seperti misalnya penyalahgunaan zat. Hasil survey Badan Narkotika Nasional tahun 2009 menunjukkan bahwa prevalensi penyalalahgunaan zat (khususnya obat-obatan) di kalangan mahasiswa dan pelajar adalah 4,7% atau sekitar 921.695 orang.

Transisi seseorang dari SMA kemudian masuk ke dunia kampus atau menjadi seorang mahasiswa dapat menimbulkan stres bagi individu tersebut. Mereka yang biasanya tinggal bersama dengan keluarga, budaya yang dianut sejak

(2)

kecil, bahasa sehari-hari, dan dengan komunitasnya, harus pindah ke lingkungan yang baru, jauh dari keluarga, bergabung dengan budaya baru yang mereka belum tahu aturan yang terdapat di dalamnya, yang akan mereka dapati di tempat tinggal yang baru tersebut. Ditambah lagi mereka harus meninggalkan lingkungan akademisnya, dimana mereka telah sukses, dan kemudian bergabung dengan komunitas pelajar yang baru, yang menuntut skill akademik dan dasar pengetahuan yang sangat berbeda dengan apa yang mereka jalani di SMA (Magolda dalam Mc.Gillin, 2003).

Remaja yang biasanya tinggal di rumah bersama dengan keluarga, memiliki kamar sendiri, tempat tidur, serta kebiasaan mereka dalam hal makan dan waktu tidur. Pada saat remaja tersebut mengalami transisi menuju dewasa awal dan menjadi mahasiswa, mereka akan tinggal jauh dari rumah. Mereka akan kehilangan aturan yang biasa mereka jalankan di rumah, berganti dengan aturan baru yang mereka belum tahu jelas bagaimana aturan tersebut berjalan. Mereka juga kehilangan dukungan dari teman atau dari pacar. Sehingga membuat mereka harus mencari teman yang baru (Pittman dalam Mc.Gillin, 2003). Hal tersebut tentunya memberi tekanan terhadap mahasiswa. Sehingga menuntut mereka untuk mencari kelompok yang baru. Presley, Leichliter, & Meilman (1999) mengatakan bahwa hasil survey nasional terhadap penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang pada tahun pertama masa perkuliahan adalah dikarenakan faktor stres yang dialami oleh mahasiswa tersebut, sehingga mereka menggunakan alkohol dan narkoba untuk mencari dan membangun dukungan sosial dengan teman (dalam Mc.Gillin, 2003).

(3)

Anak muda atau remaja cenderung untuk mengadaptasi sikap dan perilaku dari teman sebayanya, walaupun dalam universitas dipisahkan oleh fakultas-fakultas, administrasi, dan kurikulum yang menekankan individualitas, tetap saja dalam hal penggunaan alkohol dan narkoba remaja terlihat sangat dipengaruhi oleh teman sebayanya (Kendals, 1980). Walaupun dalam beberapa hal pengaruh dari teman sebaya dan orangtua relatif bervariasi, tetapi dalam hal penggunaan narkoba teman sebaya sangat berpengaruh besar (Kandels, dalam Perkins 2002).

Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa menunjukkan bahwa, mereka yang cenderung untuk menggunakan alkohol dan narkoba sangat dekat kaitannya dengan teman yang juga adalah pengguna dibandingkan dengan pengaruh dari keluarga (Perkins, 2002).

Hal ini dapat dilihat dari hasil komunikasi personal dengan Koki dan Firman (bukan nama sebenarnya) dua mahasiswa yang menjadi pengguna narkoba, seperti dibawah ini:

“Pertama kali make sih, dapat dari teman, ditawarin pas lagi ngumpul-ngumpul.”

(Komunikasi Personal, 8 September 2010)

“Pas lagi kemah waktu SMA, terus disuruh nyoba sama teman. Kan segan kalo nolak. Trus takut dibilang gak gaullah”

(Komunikasi Personal, 13 September 2010)

Selain alasan di atas, remaja menggunakan obat-obat terlarang dengan berbagai alasan lain. Wills et al ( dalam Zimmerman, 2005) dalam penelitiannya menemukan bahwa remaja akan merasa senang, tertarik, dan rileks atas masalah yang mereka hadapi setelah merokok, minum minuman keras, dan menggunakan

(4)

obat-obat terlarang. Dillon et al, (2007) melalui penelitan yang mereka lalukan, mengungkapkan beberapa alasan mengapa seseorang menggunakan obat-obat terlarang. Remaja biasanya menggunakan obat-obat terlarang karena hal-hal berikut : untuk keluar dari masalah, menghilangkan kebosanan, merasa nyaman, menghilangkan rasa sakit, lebih semangat, keingintahuan (coba-coba), serta tekanan dari teman sebaya.

Hal di atas didukung oleh komunikasi personal dengan Akil (bukan nama sebenarnya) seorang mahasiswa laki-laki berusia 20 tahun pengguna obat-obat terlarang, seperti dibawah ini :

“ya awalnya sih coba-coba, tapi lama-lama jadi enak, bisa enjoy, lupa dengan masalah, kayanya semua beban lepas. Pokoknya enaklah”

(Komunikasi personal 5 Oktober 2010)

Sama dengan Akil, Eka (bukan nama sebenarnya) seorang mahasiswa perempuan berusia 21 tahun pengguna narkoba, mengungkapkan alasannya menggunakan obat-obat terlarang seperti berikut:

“Awalnya sih dari teman, terus pas udah make, aku rasa enak, bisa lebih semangat aja, terus ngilangin pikiranlah kalo lagi banyak masalah.”

(Komunikasi Personal 13 Oktober 2010)

Penggunaan zat jenis apapun bukan tanpa resiko. Hawari (2005), menjelaskan bahwa semua zat yang termasuk narkoba dapat menimbulkan adiksi (ketagihan) yang pada gilirannya berakibat pada ketergantungan. Individu yang berada dalam kondisi ketergantungan tidak hanya mengalami ketergantungan secara fisik akan tetapi juga psikologis.

Mereka yang mengkonsumsi narkoba jenis amphetamin (Psikotropika golongan I), misalnya pil ekstasi (ditelan) atau shabu-shabu (dengan cara dihirup)

(5)

akan mengalami gejala fisik sebagai berikut : jantung berdebar-debar, pupil mata melebar, tekanan darah naik, keringat berlebihan atau kedinginan, serta mual dan muntah ( Hawari 2005). Individu yang mulai mengunakan narkoba pada usia 20-an ak20-an mengalami kesehat20-an y20-ang s20-angat buruk secara umum 10 tahun kemudi20-an (Chen, Scheier, & Kandel 1996 dalam Sarafino 2002).

Menurut Badan Narkotika Nasional (2004), dampak psikologis dan sosial dari pecandu narkoba diantaranya adalah: suka berbohong, emosi tidak terkendali, tidak bertanggungjawab, hubungan dengan teman dan keluarga terganggu, dikucilkan, tidak perduli dengan norma, menghindari komunikasi, dan cenderung untuk melakukan tindak pidana.

Selain hal-hal di atas masih terdapat berbagai hal lain yang menjadi efek buruk dari pemakaian narkoba tersebut pada kalangan mahasiswa. Antara lain adalah semakin maraknya seks bebas dan aborsi. Seperti yang diungkapkan oleh Sa’abah (dalam Prasetyo, 2008), mereka melakukan hubungan sekejap saja atau disebut one night stand karena pengaruh dari minuman keras, narkoba, saling membutuhkan dan juga ketagihan. Contohnya saja di diskotik “FN”, salah satu diskotik dijakarta yang pengunjungnya kebanyakan wanita terjadi transaksi seks dengan narkoba, seperti “inex” dan “putaw”.

Penyalahgunaan narkoba sendiri secara biologis dapat mempengaruhi fungsi seksual. Ada beberapa jenis narkoba yang dapat merangsang nafsu seksual. Kokain, mariyuana adalah perangsang seksual, amfetamin dapat meningkatkan reaksi seksual bila digunakan dalam dosis rendah, (Master dkk, dalam Prasetyo, 2008). Temuan tersebut dapat diartikan bahwa para penyalahguna ketiga jenis

(6)

narkoba tersebut akan cenderung untuk melampiaskan nafsu seksualnya setelah memakai narkoba (Prasetyo, 2008).

Terdapat banyak hal yang telah dilakukan untuk pencegahan penggunaan narkoba. Termasuk pemberian edukasi terhadap mahasiswa tentang jenis-jenis narkoba, efek dari penggunaannya, dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Banyak pengguna yang bersemangat untuk mendengarkannya, tetapi hal ini tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap penurunan penggunaan narkoba (Tobler, 1986).

Tentu saja, tidak semua mahasiswa di kampus atau mahasiswa yang tinggal bersama dengan mahasiswa lain, akan berpikir untuk menggunakan narkoba. Disamping pengaruh dari lingkungan tempat tinggal, keluarga, agama, dan latar belakang sosial, mahasiswa akan berinteraksi dengan mahasiswa lain dan grup-grup lain, yang sangat bervariasi dalam komposisi dan gaya hidup. Pengaruh teman sebaya tidak selalu menjadi hal yang negatif. Tekanan dari teman sebaya untuk menggunakan narkoba atau tidak, tergantung pada posisi seseorang dalam kelompok, atau orientasinya berada di kelompok tersebut (Oetting & Beauvais, dalam Perkins, 2002).

Dari sekian banyak mahasiswa yang terhanyut dalam narkoba, masih banyak juga mahasiswa yang bertahan untuk tidak sama sekali bersentuhan dengan narkoba. Dillon et all (2007), dalam penelitiannya menemukan bahwa masih banyak remaja yang duduk di bangku SMA dan Universitas, yang memiliki akses untuk memperoleh narkoba, tetapi sama sekali tidak pernah mencoba atau bersentuhan dengan barang haram tersebut. Hal tersebut dapat dilihat dari ilustrasi

(7)

salah satu sampel penelitian Dillon, yang menolak untuk mengunakan narkoba seperti berikut :

“Katie is 19 and has been offered canabis at parties by her boyfriend’s friends ‘several times’. She has always said no because she has been ‘brought up not to use drugs’...”

Terdapat beberapa alasan kenapa orang tidak mau menggunakan narkoba yakni sebagai berikut : dikucilkan jika menggunakan narkoba, tidak mau melanggar hukum, aturan orang tua, karir masa depan, waktu, uang, pengalaman menggunakan narkoba, kondisi kesehatan, takut kehilangan kontrol, takut ketergantungan serta adanya dukungan untuk tidak menggunakan narkoba (Dillon et al, 2007)

Jessor dan Jessor (dalam Dilon, 2007), mengatakan bahwa perilaku untuk menolak dan membuat keputusan untuk tidak menggunakan narkoba, meskipun dengan ketersediaan akses yang cukup mudah untuk mendapatkannya, dikatakan sebagai resiliensi. Resiliensi merupakan aksi atau tindakan untuk menjadi

resilient. Resiliensi bukanlah suatu hal yang permanen, tetapi setiap orang dapat meningkatkan resiliensinya.

Resiliensi adalah proses mengatasi efek negatif dari resiko yang ada, berhasil mengatasi pengalaman traumatik dan menghindari dampak negatif terkait resiko (Fergus & Zimmerman, 2005). Masten, Best, dan Garmezy (dalam Chen & George, 2005) mendefinisikan resiliensi sebagai sebuah proses, kemampuan seseorang, atau hasil dari adaptasi yang berhasil meskipun berhadapan dengan situasi yang mengancam.

(8)

Setiap orang membutuhkan resiliensi. Penelitian ilmiah yang telah dilakukan lebih dari 50 tahun, telah membuktikan bahwa resiliensi adalah kunci dari kesuksesan kerja dan kepuasan hidup (Reivich & Shatte, 2002). Resiliensi yang dimiliki oleh seorang individu, mempengaruhi kinerja individu tersebut baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan kerja, memiliki efek terhadap kesehatan individu tersebut secara fisik maupun mental, serta menentukan keberhasilan individu tersebut dalam berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungannya. Semua hal tersebut adalah faktor-faktor dasar dari tercapainya kebahagiaan dan kesuksesan hidup seseorang (Reivich & Shatte, 2002).

Mc.Gillin (2003) menunjukkan bahwa lebih dari 15 tahun penelitian di bidang kesehatan mental fokus pada suatu grup individu yang diberi label “resilien”. Dalam pendidikan tinggi, individu yang resilien adalah individu yang sukses dalam hal akademik serta dalam menghadapi stres, walaupun mereka dihadapkan pada faktor resiko.

Master, Best, dan Garmezy (1990) menunjukkan tiga definisi dari seorang individu yang dikatakan resilien, yaitu: pertama, individu yang berhasil keluar dari rintangan; kedua, individu yang berhasil mengatur kesehatan walaupun berhadapan dengan tingkat stres yang tinggi; ketiga, individu yang pulih dari spesifik trauma (dalam Mc.Gillin, 2003).

Elemen yang tersimpan dalam ketiga defenisi diatas adalah hadirnya

“protective factor” yang membantu sesorang untuk sukses. Protective factor

bekerja untuk mengurangi efek negatife dari stres yang dialami. Contohnya: adalah hasil dari pengalaman yang positif sebagai salah satu tipe dari protective

(9)

factor, serta self esteem dan self efficacy dari mahasiswa akan menjadi penguat.

Protective factor yang lain adalah adanya faktor skill dalam menghadapi masa transisi tersebut (Cumming, Davies & Campbell dalam Mc.Gillin, 2003).

Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang resilien adalah mahasiswa yang berhasil keluar dari masalah-masalah yang dihadapi dan sukses dalam menjalani masa studinya. Serta menganggap masalah tersebut adalah bagian dari tantangan masa studinya, dan bukan hal yang harus dijadikan alasan untuk terpuruk (Gore & Eckenrode dalam Mc.Gillin 2003)

Dari penjelasan diatas maka peneliti memandang bahwa, mahasiswa dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik dalam hal akademis dan sosialisai membutuhkan resiliensi untuk bisa sukses dalam hidupnya. Untuk memperoleh kesuksesan tentu bukanlah hal yang mudah, mahasiswa harus dihadapkan kepada situasi yang belum tentu menyenangkan atau menguntungkan bagi dirinya, termasuk dalam hal penggunaan narkona dikalangan mahasiswa itu sendiri.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang Gambaran Resiliensi Pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara dalam Hal Penyalahgunaan Zat.

B. Perumusan Masalah

Untuk memudahkan penelitian, maka perlu dirumuskan masalah apa yang menjadi fokus penelitian. Dalam hal ini peneliti mencoba merumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan penelitian yaitu, bagaimanakah

(10)

gambaran resiliensi pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara dalam hal penyalahgunaan narkoba?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat dan mengetahui gambaran resiliensi pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara dalam hal penyalahgunaan Zat.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang ingin didapatkan dari penelitian ini antara lain adalah:

1. Manfaat Teoritis

a. Menambah khasanah dalam pembelajaran mengenai gambaran resiliensi pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara dalam hal penyalahgunaan zat dan memberi sumbangan bagi ilmu psikologi khususnya Psikologi Klinis.

b. Menjadi acuan bagi penelitian lanjutan bagi pihak-pihak yang tertarik untuk meneliti resiliensi pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara dalam hal penyalahgunaan zat.

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan wacana dan informasi tentang fenomena penyalahgunaan Zat dikalangan mahasiswa.

(11)

E. Sistematika Penulisan

Penelitian ini dibagi atas lima bab dan masing-masing bab dibagi atas beberapa sub bab. Sistematika penulisan penelitian ini dirancang dengan susunan sebagai berikut :

Bab I : Pendahuluan

Bab ini terdiri dari latar belakang pemilihan masalah yang hendak diteliti. Tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II : Landasan Teori

Bab ini menguraikan landasan teori yang mendasari masalah yang menjadi objek penelitian.

Bab III : Metodologi Penelitian

Bab ini menguraikan identifikasi variabel, defenisi operasional variabel, metode pengambilan sampel, alat ukur yang digunakan, uji daya beda item dan reliabilitas alat ukur, serta metode analisa data yang digunakan untuk mengolah hasil data penelitian.

Bab IV : Analisa dan Interpretasi Data Hasil Penelitian

Bab ini membahas tentang interpretasi hasil dan analisis data-data sebagai hasil penelitian sesuai dengan tinjauan teoritis yang digunakan.

Bab V : Kesimpulan dan Saran

Bab ini terdiri dari kesimpulan dari pembahasan terhadap hasil penelitian dan syarat-syarat untuk perbaikan penelitian selanjutnya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :