1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Karakteristik Ayam PedagingMenurut Murtidjo (1987:9), ayam broiler adalah istilah untuk menyebut strain ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis, dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan irit, siap dipotong pada usia relatif muda, serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak. Adapun istilah broiler yang dipotong usia kurang dari 8 bulan, dengan ciri khas daging masih lunak, kulit agak licin, tulang dada agak keras disebut istilah roaster.
Ayam broiler atau biasa dikenal di masyarakat dengan sebutan ayam negeri merupakan ayam yang memiliki performance yang sangat baik dengan karakteristik khusus seperti pertumbuhan cepat, memiliki daging yang tebal, serta masa pemeliharaan yang relatif singkat. Ayam broiler memang dikenal sebagai ayam yang manja, akan tetapi dengan penanganan intensif, ayam yang semula manja bisa berubah menjadi ayam yang mendatangkan keuntungan (Tamalludin, 2012:19)
Menurut Amrullah (2002:16), bagian-bagian tubuh ayam pedaging tidak sama rasanya satu dengan lainnya. Bagian punggung tentu lebih banyak tulangnya. Bagian betis lebih keras karena lebih berotot. Pada umumnya konsumen lebih menyukai untuk mengkonsumsi bagian dada karena daging pada bagian dada lebih empuk dan lebih sedikit mengandung lemak. Pada bagian dada memiliki komponen terbesar adalah otot sehingga besarnya dada dapat dijadikan ukuran untuk membandingkan kualitas daging ayam. Daging ayam memiliki kandungan kolesterol dan lemak yang lebih rendah dibandingkan daging sapi dan babi.
Menurut Fadilah (2004:9) ayam broiler merupakan galur ayam hasil rekayasa teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan rendah, siap dipenen pada umur relatif muda dan menghasilkan daging berserat lunak. Ayam pedaging
2 (broiler) ayam ras unggul yang dengan sengaja dimuliahkan dan dibibitkan serta menghasilkan daging dengan cepat.
B. Pengertian Pemasaran
Menurut Kotler dkk., (1996:7) pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran segala sesuatu yang bernuilai (products of value) dengan orang atau kelompok lain. Definisi ini berdasarkan konsep-konsep berikut : kebutuhan, keinginan, dan permintaan, produk,nilai, biaya dan kepuasan, pertukaran transaksi dan hubungan pasar serta pemasaran dan pemasar. Pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan pada usaha memuaskan keinginan dan kebutuhan melalui proses pertukaran (Radiosunu, 1983:2 dalam Rahim dan Hastuti, 2007:108).
Menurut Mursid (2010:26) pemasaran tidak lain dari pada suatu proses perpindahan barang atau jasa dari tangan produsen ke tangan konsumen. Atau dapat dikatakan pula bahwa pemasaran adalah semua kegiatan usaha yang bertalian dengan arus penyerahan barang dan jasa-jasa dari produsen ke konsumen. Pemasaran adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran dan perubahan values dari suatu inisiator kepada stakeholders-nya Kartajaya (2002:11) dalam Rahim dan Hastuti (2007:108) . Selanjutnya pemasaran merupakan semua kegiatan yang membantu memuaskan kebutuhan konsumen, dengan mengkoordinasi aliran barang dan jasa ke konsumen atau pengguna (Beierlein dan Michael, 1991:329 dalam Rahim dan Hastuti, 2007:108).
Adapun pengertian pemasaran adalah merupakan suatu perpaduan dari aktivitas-aktivitas yang saling berhubungan untuk mengetahui kebutuhan konsumen melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran produk dan jasa yang bernilai serta mengembangkan promosi, distribusi, pelayanan, dan harga agar kebetuhan konsumen dapat terpuaskan dengan baik pada tingkat keuntungan tertentu (Oentoro 2010 : 1). Pemasaran merupakan penghubung antar organisasi dengan konsumenya. Peran penghubung ini akan berhasil bila semua upaya
3 pemasaran diorientasikan kepada konsumen. Keterlibatan semua pihak dari manajemen puncak hingga karyawan dan non manajerial dalam merumuskan dan mendukung, pelaksanaan pemasaran yang berorientasi pada konsumen tersebut merupakan hal yang tidak dapat ditawar lagi (Hurriyati 2010:46)
Dalam sistem pemasaran terdapat beberapa faktor yang saling mempengaruhi tergantung satu sama lain:
1. Organisasi dalam pemasaran 2. Sesuatu yang sedang dipasarkan 3. Pasar yang dituju
4. Para perantara (pedagang, agen)
5. Faktor lingkungan dapat berupa demografi, kondisi perekonomian, faktor sosial dan kebudayaan, kekuatan politik dan hokum, teknologi dan persaingan.
Oleh sebab itu sistem pemasaran adalah kumpulan lembaga-lembaga yang melakukan tugas pemasaran, barang dan jasa, idea, orang dan faktor-faktor lingkungan yang saling memberikan pengaruh dan membentuk serta mempengaruhi hubungan perusahaan dengan pasarnya. Analisis sistem pemasaran bersangkut paut dengan unsur-unsur lembaga yang utama dalam lingkungan hidup organisasi yang saling berhubungan dan pengaruh mempengaruhi untuk membuahkan suatu hasil pemasaran (Mursid, 2010:8).
C. Fungsi Pemasaran
Fungsi fungsi pemasaran tidak perlu diselenggarakan dalam suatu urutan yang tetap/kaku tetapi harus dilaksanakan semuanya. Tata cara pelaksanaan fungsi-fungsi pemasaran berbeda sekali dari produk yang satu ke produk yang lainya. Tatapi biasanya merupakan proses yang teratur dan berubah sepanjang waktu apabila situasinya berubah. Fungsi fungsi pemasaran dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu : (1) fungsi pertukaran, (2) fungsi fisik dan (3) fungsi penyediaan sarana (Downey dan Erickson, 1987:282).
4 1. Fungsi Pertukaran
Fungsi pertukaran yaitu produk harus dijual dan dibeli sekurang kurangnya sekali selama proses pemasaran. Fungsi pertukaran melibatkan kegiatan yang menyangkut hak pemilikan dalam sistem pemasaran. Dalam sistem perekonomian yang bersaing, harga baru bisa ditentukan apabila pembeli dan penjual bertemu untuk menukar komoditi. Pihak-pihak yang terlibat dalam prosese itu antara lain adalah pedagang (broker) dan agen yang mendapat komisi karena mempertemukan penjual dan pembeli. Mereka ini saja mungkin mempunyai hak milik atau barang yang ditangani, tetapi mungkin juga tidak, namun biar bagaimanapun, mereka akan selalu mendapat imbalan atas jasa mereka. Fungsi pertukaran mendapat banyak perhatian dari para ahli ekonomi san manajer karena penetapan harga merupakan bagian dari kegiatan ini. Banyak perhatian diberikan terhadap metode penetapan harga (Downey dan Erickson, 1987:282).
2. Fungsi Fisik
Fungsi fisis adalah semua tindakan yang langsung berhubungan dengan barang dan jasa sehingga menimbulkan kegunaan tempat, kegunaan bentuk dan kegunaan waktu. Adapun fungsi fisis meliputi kegiatan pengangkutan, penyimpanan dan pemrosesan. Kemampuan pengangkutan dalam memenuhi permintaan yang semakin meningkat harus lebih diperhatikan. Pengangkutan dewasa ini lebih menjadi masalah serius bagi usahatani karena jaringan transportasi belum mencapai daerah pedesaan, padahal hasil-hasil pertanian kebanyakan berasal dari daerah-daerah tersebut. Keadaan geografi akan sangat berpengaruh dalam hal ini karena untuk daerah bergunung misalnya pengangkutan dengan kereta api dan lalu lintas sungai akan sangat sulit. Faktor-faktor semacam ini sangat berpengaruh terhadap dan perlu dipertimbangkan dalam pengembangan usahatani. Penyimpanan juga sangat penting bagi agribisnis yang memasok (menyediakan perbekalan bagi pengusaha tani). Kebanyakan bahan masukan produksi pertanian dibeli dalam beberapa minggu tiap tahunnya. Hal ini menjadi masalah berat buat pemasok yang harus menghasilkan bahan-bahan tersebut sepanjang tahun untuk memanfaatkan sarana pabriknya secara efisien, padahal pendistribusiannya harus dilakukan dalam tempo yang singkat. Pemrosesan
5 disinilah para pomroses mengambil produk bahan baku utama dan mengubahnya ke dalam bentuk yang lebih diinginkan . Pemrosesan dapat melibatkan hanya satu perusahaan dalam saluran pemasaran, tetapi dapat juga melibatkan tiga atau empat perusahaan, yang masing masing secara bergantian menambah bentuk lain dari kegunaan bentuk (Downey dan Erickson, 1987:284).
3. Fungsi Penyediaan Sarana
Fungsi penyediaan sarana harus dilakukan dalam proses pemasaran. Bagaimanapun, sekrang kurangnya harus ada informasi pasar yang tersedia, seorang harus menerima resiko kerugian yang mungkin terjadi seringkali produk harus distandarisasi atau dikelompokan menurut mutunya untuk mempermudah penjualan produk tersebut dan akhirnya seseorang harus memiliki produk yang bersangkutan dan menyediakan pembiyaaan selama proses pemasaran berlangsung. Fungsi penyediaan sarana juga kegiatan kegiatan yang menolong sistem pasar untuk beroperasi lebih lancar. Ini memungkinkan pembeli, penjual, pengangkut dan pemroses untuk menjalankan tugasnya tanpa terlibat dengan resiko atau pembiyaan, dan mengembangkan rencana pemasaran yang tersusun dengan baik (Downey dan Erickson, 1987:286).
D. Lembaga Pemasaran
Menurut Rahim dan Hastuti (2007:112) lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya. Lembaga pemasaran ini timbul karena adanya keinginan konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat dan bentuk yang diinginkan konsumen. Lembaga pemasaran menjalankan fungsi-fungsi pemasaran untuk keinginan konsumen semaksimal mungkin. Konsumen memberikan balas jasa kepada lembaga pemasaran berupa margin pemasaran. Dalam usaha untuk memperlancar arus barang atau jasa dari produsen ke konsumen terdapat salah satu faktor yang tidak boleh diabaikan, yaitu memilih secara tepat saluran distribusi yang digunakan dalam rangka usaha penyaluran barang barang dan jasa jasa.
6 Menurut penguasaannya terhadap komoditi yang diperjualbelikan lem baga pemasaran dapat dibedaklan menjadi tiga, yaitu : pertama, lembaga yang tidak memiliki tapi menguasai benda, seperti agen pertama, makelar (broker, selling broker, dan buying broker). Kedua lembaga yang memiliki dan menguasai komoditi-komoditi pertanian yang diperjual belikan seperti pedagang pengumpul, tengkulak, eksportir dan importir. Ketiga, lembaga pemasaran yang tidak memiliki dan menguasai komoditi-komoditi pertanian yang diperjual belikan seperti perusahaan-perusahaan penyedia fasilitas-fasilitas transportasi, asuransi pemasaran dan perusahaan penentu kualitas produk pertanian (surveyor). Berdsararkan uraian di atas, ternyata suatu lembaga pemasaran mingkin menjalankan lebih dari satu fungsi pemasaran, oleh sebab itu perlu ditelaah lembaga pemasaran dari bentuk usahanya. Untuk meningkatkan efisiensi pemasaran semaksimal mungkin lembaga-lembaga pemasaran melakukan koordinasi pelaksanaan fungsi-fungsi pemasaran, yaitu dalam bentuk integrasi vertikal (Sudiono 2004:80).
Menurut Oentoro (2010:210), kelembagaan dan fungsi distribusi adalah pertukaran yang terjadi antara penjual dan pembeli dalam kenyataannya melibatkan banyak aktifitas. Untuk keperluan distribusi fisik barang, seseorang harus terkait dengan fungsi pengangkutan dan penyimpanan. Seseorang juga harus berkomunikasi dengan pembeli potensial melalui pengiklanan, personal selling, atau promosi penjualan untuk mendorong kesadaran konsumen atas produk dan berupaya membujuk mereka agar bersedia membeli. Dukungan riset pemasaran dan keuangan akan semakin mempercepat proses keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Kelembagaan distribusi produk dalam hal ini akan melihat keterkaitan organisasi yang terlibat dalam proses pembuatan produk hingga ketersediaan produk untuk tujuan konsumsi akhir atau diproses lebih lanjut. Upaya ini dapat ditempuh perusahaan dengan cara menyampaikan langsung, door-to-door, seperti hanya yang dilakukan perusahaan Sambal, atau perusahaan dapat juga menggunakan mediator dalam membantu menyampaikan pr/oduk pada jangkauan wilayah yang lebih luas.
7
E. Saluran Pemasaran
Jejak penyaluran barang dari produsen ke konsumen akhir disebut saluran pemasaran. Jenis dan kerumitan saluram pemasaran berbeda-beda sesuai dengan komuditinya. Pasar kaki lima merupakan saluran pemasaran yang paling sederhana, dari produsen langsung ke konsumen. Tetapi kebanyakan produk diproses lebih lanjut pada tingkat saluran pemasaran yang berbeda dan melalui banyak perusahaan sebelum mencapai konsumen akhir (Downey dan Erickson, 1987:278). Menurut Maskun (1992:14) dalam Rahim dan Hastuti (2007:112) bahwa saluran pemasaran yang dilalui dapat panjang atau pendek tergantung bagaimana lembaga pemasaran berperan aktif dalam sistem pemasaran.
Untuk mencapai pasar sasaran, pemasar menggunakan tiga jenis saluran pemasaran. Saluran komunikasi digunakan untuk menyerahkan dan menerima pesan dari pembeli sasaran. Saluran komunkasi ini meliputi surat kabar, majalah, radio, televisi, papan iklan dan banyak media lain. Pemasaran menggunakan saluran distribusi untuk memamerkan atau menyerahkan produk fisik atau jasa ke pada pembeli atau pengguna, termasuk disini distributor, grosir, dan agen. Pemasar juga menggunakan saluran jasa untuk melakukan transaksi dengan pembeli potensial. Saluran jasa mencakup pergudangan, perusahaan angkutan, bank dan perusahaan asuransi yang memudahkan transaksi (Kotler dan Lane, 2007:31).
Dalam saluran pemasaran harga merupakan satu-satunya komponen menghasikan pendapatan, sedangkan unsur lainnya dalam saluran pemasaran menunjukkan biaya. Definisi harga adalah jumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya (Imran, 2012:55).
Proses penyaluran produk sampai ke tangan konsumen akhir dapat menggunakan saluran yang panjang ataupun pendek sesuai dengan kebijaksanaan distribusi yang ingin dilaksanakan perusahaan. Dengan demikian, saluran pemasaran menurut bentuknya dibagi dua yaitu : pertama, saluran distribusi langsung (direct chanel of distribution) yaitu penyaluran barang-barang atau jasa-jasa dari produsen ke konsumen dengan tidak melalui perantara penjualan di
8 tempat produksi, penjualan di toko/gerai produsen, penjualan dari pintu ke pintu, dan penjualan melalui surat. Kedua, saluran distribusi tak langsung (indirect chanel of distribution) yaitu bentuk saluran distribusi yang menggunakan jasa perantara dan agen untuk menyalurkan baran atau jasa kepada konsumen. Perantara adalah mereka yang membeli dan menjual barang-barang tersebut dan memilikinya. Mereka bergerak di bidang perdagangan besar dan pengecer. Sementara agen adalah orang atau perusahaan yang membeli atau menjual barang untuk perdagangan besar (manufacturer) ( Rahim dan Hastuti, 2007:113).
F. Margin Pemasaran
Dalam teori harga diasumsikan bahwa penjual dan pembeli bertemu lansung sehingga harga hanya ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan secara agregat,dengan demikian, tidak ada perbedaan antara harga di tingkat petani dengan harga di tingkat pengecer atau konsumen akhir. Namun, berdasarkan penelitian-penelitian dibidang ilmu ekonomi (ekonomika) pertanian, ternyata terdapat perbedaan harga di tingkat pengecer (konsumen akhir) dengan harga ditingkat petani. Margin pemasaran suatu komoditas dipengaruhi oleh berbagai aspek, yaitu diantaranya jenis produk, jumlah pelaku pasar, mekanisme perdagangan, infra struktur, kebijakan pemerintah, dan waktu (Rahim dan Hastuti, 2007:127).
Menurut Sudiono (2004:94) margin dapat didefinisikan dengan dua cara, yaitu: Pertama margin pemasaran merupakan perbedaan antara harga yang di bayarkan konsumen dengan harga yang di terima oleh petani. Kedua, margin pemasaran merupakan biaya dari jasa-jasa pemasaran. Dengan menggunakan defenisi pertama yang menyebutkan bahwa margin pemasaran merupakan perbedaan antara harga yang diterima petani, maka lebih lanjut dapat dianalisa sebagai berikut: Harga yang dibayarkan konsumen merupakan harga di tingkat pengecer, yaitu merupakan perpotongan antara kurva permintaan primer dengan kurva penawaran turunan. Sedangkan harga di tingkat petani merupakan potongan antara kurva permintaan turunan dengan kueva penawaran primer. Selanjutnya menurut Downey dan Erickson (1987:50), margin pemasaran adalah selisih antara dua pengambilan atau hasil produk pada dua tingkatan dalam saluran pemasaran,
9 misalnya selisih antara harga yang dibayar konsumen dengan harga yang diterima oleh produsen.
Komponen margin pemasaran terdiri dari biaya-biaya yang diperlukan lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran yang disebut dengan biaya pemasaran atau biaya fungsional (functional cost) dan keuntungan (profit) lembaga pemasaran. Apabila dalam pemasaran suatu produk pertanian terdapat lembaga pemasaran yang melakukan fungsi-fungsi pemasaran (Rahim dan Hastuti, 2007:130).
G. Analisis Keuntungan Pemasaran
Nicholson (2002), dalam Rizaldi (2010:28) keuntungan ekonomis ialah perbedaan antara penerimaan total dengan biaya total. Total penerimaan didapat dari hasil perkalian antara jumlah output dengan harga produk. Sedangkan biaya merupakan hasil perkalian dari harga input dengan jumlah input. Manfaat dari analisis keuntungan menurut Lipsey et al, (1995) dalam Rizaldi, (2010:28) ialah untuk menilai sejauh mana perusahaan menggunakan sumber daya langka dengan sebaik-baiknya.Tingginya tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan digunakan sebagai parameter tingkat efisiensi perusahaan dalam penggunaan sumberdaya yang dimiliki. Besarnya keuntungan usaha pedagang ayam ras pedaging tergantung pada besarnya penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. Oleh karena itu, tujuan dari perusahaan ataupun pedagang adalah untuk memaksimumkan keuntungan usahanya. Agar pedagang memperoleh keuntungan maka pedagang harus memaksimumkan penerimaan dan meminimumkan biaya. Besarnya penerimaan yang diperoleh dipengaruhi oleh total penjualan dan harga yang ditetapkan oleh pedagang. Semakin besar volume penjualan, maka semakin besar jumlah penerimaan yang diperoleh oleh pedagang.
Faktor kedua adalah biaya. Untuk meminimumkan biaya terutama biaya pembelian ayam, pedagang harus menguasai informasi tentang pemasok dengan tujuan mengetahui harga ayam dari pemasok mana yang relatif lebih murah. Sehingga biaya dapat diminimisasi dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan. Tingkat efisiensi pemasaran dapat juga diukur melalui besarnya rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran. Rasio keuntungan dan biaya pemasaran
10 mendefinisikan besarnya keuntungan yang diterima atas biaya pemasaran yang dikeluarkan. Dengan demikian semakin meratanya penyebaran rasio keuntungan dan biaya, maka dari segi operasional sistem pemasaran akan semakin efisien (Limbong dan Sitorus, 1987) dalam (Rahim dan Hastuti, 2007:141).
H. Efisiensi Pemasaran
Istilah efisiensi pemasaran sering digunakan dalam menilai prestasi kerja yang (performance) proses pemasaran. Hal itu mencerminkan konsensus bahwa pelaksanaan proses pemasaran harus berlangsung secara efisien. Teknologi atauprosedur baru hanya boleh diterapkan bila dapat meningkatkan efisiensi proses pemasaran. Efisiensi dapat didefinisikan sebagai peningkatan rasio keluaran masukan. Dua dimensi dari efisiensi pemasaran dapat meningkatkan keluaran masukan yan pertama disebut efisiensi operasional dan mengukur produktivitas pelaksanaan jasa pemasaran didalam perusahaan. Dimensi kedua yang disebut efisiensi penatapan harga, mengukur bagaimana harga pasar mencerminkan biaya produksi dan pemasaran secara memadai pada saluran sistem pemasaran (Downey dan Erickson, 1987:280).
Menurut Rahim dan Hastuti (2007:150) efisiensi pemasaran didefinisikan sebagai peningkatan rasio output-input yang dapat dicapai dengan cara sebagai berikut: pertama, output tetap konstan sedangkan input mengecil; kedua, output meningkat sedangkan input tetap konstan; ketiga, output meningkat dalam kadar yang lebih tinggi daripada peningkatan input; dan keempat, output menurun dalam kadar yang lebih rendah ketimbang penurunan input. pemasaran yang efisien diperoleh dari efisiensi operasional dan efisiensi harga. Efisiensi operasional dianalisis dengan menggunakan pendekatan margin pemasaran dan farmer’s share sementara untuk efisiensi harga menggunakan pendekatan integrasi pasar dan elastisitas transmisi harga. Analisis efisiensi pemasaran dalam penelitian ini hanya menggunakan pendekatan efisiensi dimana pemasaran akan efisien bila memiliki biaya pemasaran yang rendah dan masing-masing lembaga pemasaran tidak dirugikan (mendapat keuntungan yang layak).
11
I. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu margin pemasaran ayam pedaging telah banyak dilakukan,antara lain dilakukan oleh Rizaldi,D (2010), dengan judul Analisis Usaha Pemasaran Ayam Ras Pedaging di Pasar Baru Bogor Jawa Barat dengan tujuan mengidentifikasi lembaga pemasaran yang terlibat dan fungsi pemasaran yang dilakukan oleh setiap lembaga, menganalisis margin pemasaran pedagang, dan menganalisis keuntungan pedagang ayam ras pedaging di Pasar Baru Bogor. Metode yang digunakan adalah metode analisis data kulitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian diperoleh yaitu dalam kegiatan pemasaran ayam ras pedaging, melibatkan beberapa lembaga pemasaran dalam penyampaian komoditi ayam ras pedaging dari produsen hingga konsumen akhir. Lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat ini melakukan fungsi-fungsi pemasaran yang terdiri dari fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Total margin pemasaran yang diperoleh pada saluran pertama sebesar Rp 10.130,- sedangkan total margin pemasaran saluran ke dua sebesar Rp 10.830,- dengan keuntungan yang di peroleh pedagang kecil setiap bulannya sebesar Rp 3.109.440,- dan pedagang besar memperoleh keuntungan sebesar 64.321.410,-.
Rasuli, dkk., (2007), melakukan penelitian tentang margin pemasaran dengan judul Analisis Margin Pemasaran Telur Itik di Kelurahan Borongloe Kecamatan Bontomarnnu Kabupaten Gowa, dengan tujuan untuk mengetahui model pemasaran telur itik dan berapa besar margin yang diterima produsen telur itik dan lembaga-lembaga pemasaran. Metode yang digunakan adalah menggunakan data primer dan data sekunder. Hasil penelitian diperoleh Saluran Pemasaran I (produsen langsung ke konsumen) merupakan saluran pemasaran yang paling baik. Margin pemasaran yang paling besar diterima lembaga pemasaran yaitu pedagang pengecer sebesar Rp 150. Karena tambahan biaya pemasaran yang dikeluarkan lebih sedikit dibanding dengan pedagang pengumpul. Saluran Pemasaran I (produsen langsung ke konsumen) merupakan saluran pemasaran yang paling baik. Margin pemasaran yang paling besar diterima lembaga pemasaran yaitu pedagang pengecer sebesar Rp 150.
12 Harifudin, dkk., (2011), melakukan penelitian dengan judul Analisis Margin dan Efisiensi Pemasaran Rumput Laut di Desa Mandalle Kecamatan Mandalle Kabupaten Pengkep, dengan tujuan untuk mengetahui bentuk saluran pemasaran, jumlah margin dan keuntungan, serta efisiensi pemasaran yang diperoleh masing-masing lembaga pemasaran. Metode yang di gunakan yaitu mengumpulkan data dengan observasi dan wawancara kepada petani rumput laut. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pola distribusinya atau penyalurannya rumput laut di Desa Mandalle Kecamatan Mandalle ada dua macam saluran yaitu pertama dari petani ke pedagang pengumpul, kemudian ke pedagang besar dan terakhir ke eksportir. Kedua dari petani ke pedagang pengumpul, dan terakhir ke eksportir; usaha rumput laut yang dilakukan di desa mandalle kecamatan mandalle menunjukkan bahwa margin pada saluran I sama saja dengan margin pada saluran II dan keuntungan yang diperoleh pada saluran I lebih kecil dari pada saluran II;saluran yang pendek (saluran II) lebih efisien daripada saluran yang panjang (saluran I).
Widayanti, E (2009), melakukan penelitian dengan judul Analisis Pemasaran Bunga Potong Studi Kasus di Desa Sidomulyo Kabupaten Batu, dengan tujuan untuk menaganalisis keuntungan terbesar sistem pemasaran dari bunga potong anthurium.. Metode yang digunakan yaitu berupa data primer dari petani secara langsung dari hasil wawancara dan data sekunder dari instansi terkait pemasaran bunga potong anthurium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa margin pemasaran di saluran I senilai 1381,6 secara signifikan lebih rendah dibanding saluran pemasaran yang lain dan margin pemasaran tertinggi terdapat di saluran III yaitu sebesar 4881,6. Komponen-komponen pemasaran tidak menambah margin dan biaya pemasaran karena tidak melakukan banyak fungsi pemasaran dan melibatkan sedikit lembaga pemasaran seperti saluran I sehingga margin pemasarannya paling kecil diantara dua saluran pemasaran lain. Prosentase distrbusi margin tertinggi bunga ptong anthurium di tiga saluran pemasaran masingmasing adalah 63,81% disaluran I pada petani dan 42% di saluran II pada tengkulak dan terakhir 41% disaluran III pada pedagang besar. Nilai R/C ratio di tiga saluran pemasaran anthurium potong masingmasing adalah
13 8,4 disaluran I pada petani, 8,1 disaluran II pada pengecer dan 5,5 disaluran III pada tengkulak. Biaya transaksi disaluran pemasaran III senilai Rp 200/potong, yang berarti nilai tertinggi dibanding yang lain karena saluran III merupakan saluran panjang dan memiliki banyak lembaga pemasaran. Saluran paling efisien adalah saluran I dengan margin rendah dan memenuhi kapasitas angkut maksimum.
Arinong dan Kadir (2008), melakukan penelitian dengan judul Analisis Saluran dan Margin Pemasaran Kakao di Desa Timbuseng Kecamatan Pattalassang Kabupaten Gowa, dengan tujuan untuk menganallisis saluran pemasaran kakao dan besarnya margin yang diterima oleh petani pada setiap lembaga pemasaran. Metode yang digunakan yaitu pengambilan data secara observasi, studi literatur, wawancara langsung, analisis ekonomi dan pemasaran hasil. Hasil penelitian menunjukan saluran pemasaran III sangat menguntungkan yaitu sebesar Rp 11.046,- dan margin pemasaran sebesar 20,11% atau 655/kg dimana petani langsung menjual kakaonya kepedagang besar (eksoportir ).
J. Kerangka Pikir
Berdasarkan rumusan masalah dan tinjauan pustaka maka dapat disusun suatu kerangka pikir dalam penelitian analisis margin pemasaran ayam pedaging. Usaha peternakan ayam pedaging di Kota Gorontalo khususnya di Kecamatan Kota Utara mengalami peningkatan baik jumlah penawaran ditingkat produsen dan jumlah permintaan ditingkat konsumen. Tapi di lapangan ada permasalahan yaitu bentuk saluran pemasaran yang belum jelas dan nilai margin pemasaran yang belum diketahui, oleh sebab itu dengan menggunakan metode penelitian pengambilan sampel secara sensus sampling jenuh dan purposive sampling (sengaja). Menggunakan analisis deskriptif dan analisis margin pemasaran maka akan diketahui bentuk saluran pemasaran dan nilai margin pemasaran. Secara rinci kerangka pikir penelitian disajikan pada Gambar 1.
14 Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian Analisis Margin Pemasaran Ayam Pedaging
di Kecamatan Kota Utara Kota Gorontalo.
Usaha ternak ayam pedaging di Kota Gorontalo
Peternak Ayam Pedaging di Kecamatan Kota Utara Kota gorontalo
Permasalahan Bentuk saluran pemasaran Margin pemasaran dan analisis
keuntungan dari masing-masing saluran
Tingkat efisiensi pemasaran dari masing-masing saluran
pemasaran
Metode Pengambilan Sampel sensus sampling jenuh
purposive sampling
Alat analisis - Analisis deskriptif - Analisis kuantitatif
Hasil
Bentuk saluran pemasaran Margin pemasaran dan keuntungan
15
K. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pikir di atas maka hipotesis adalah sebagai berikut :
1. Saluran pemasaran ayam broiler di Kecamatan Kota Utara Kota Gorontalo lebih dari satu saluran.
2. Margin pemasaran yang diperoleh berbeda pada masing masing saluran pemasaran.