• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS EFEK KARBON DIOKSIDA (CO2) TERHADAP KENAIKAN TEMPERATUR DI BUKIT KOTOTABANGTAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS EFEK KARBON DIOKSIDA (CO2) TERHADAP KENAIKAN TEMPERATUR DI BUKIT KOTOTABANGTAHUN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

56 JURNAL ILMU FISIKA (JIF), VOL 2 NO 2, SEPTEMBER 2010

ANALISIS EFEK KARBON DIOKSIDA (CO

2

) TERHADAP

KENAIKAN TEMPERATUR DI BUKIT

KOTOTABANGTAHUN 2005 – 2009

Dwi Pujiastuti

1

, Elena Melayeta

1

, Badrul Mustafa

2

1

Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas

2

Fakultas Teknik Universitas Andalas

E-mail : [email protected]

ABSTRACT

Analysis of radiative forcing of carbon dioxide (CO2) by using IPCC (Intergovermental on Panel

Climate Change) method over Bukit Kototabang (Agam, West Sumatera) for period of 2005 to 2009 has been conducted. The result is correlated with temperature deviation which measured by using AWS (Automatic Weather Station). Result showed that CO2 concentration increased from

375.256 ppm in 2005 to 381.736 ppm in 2009 but still below the global CO2 concentration in

every year. In addition, CO2 radiative forcing has derived increased from 1.605 Wm-2 in 2005 to

1.697 Wm-2 in 2009 but still below the global CO

2 radiative forcing. Concentration of CO2 has the

same trend with CO2 radiative forcing. Temperature deviation was influenced by CO2 radiative

forcing but with low correlation coefficient, about 6.9%. It can be concluded that the CO2 radiative

forcing is not the main factor which is influences the temperature deviation in Bukit Kototabang.

Key words: carbon dioxide (CO2), radiative forcing, temperature deviation

1. PENDAHULUAN

Perubahan iklim merupakan tantangan paling serius yang dihadapi dunia pada saat ini. Sejumlah bukti memperlihatkan bahwa telah terjadi peningkatan suhu global yang diantaranya disebabkan oleh tindakan manusia. Sejak tahun 1960, penyebab naiknya temperatur di bumi adalah efek rumah kaca yang menurut sebagian ahli disebabkan oleh

meningkatnya kandungan karbon dioksida (CO2) dan partikel polutan lainya di atmosfer

bumi (Nggieng, 2008). Walaupun proses alam mampu mengurangi CO2 di atmosfer,

tetapi aktivitas manusia yang melepaskan CO2 ke udara jauh lebih cepat dari pada

kemampuan alam untuk menguranginya.

Bertambahnya konsentrasi gas rumah kaca mengakibatkan ketinggian dari radiasi inframerah yang dipancarkan oleh bumi menjadi berkurang, sehingga jumlah inframerah yang dipancarkan ke angkasa menurun, sementara matahari terus bersinar. Akibatnya, terjadi perubahan jumlah energi radiasi yang masuk dan yang keluar di lapisan tropopause atmosfer yang dinyatakan dalam radiative forcing. Kelompok peneliti dari berbagai negara di dunia memaparkan hasil penelitian mengenai perubahan iklim dalam laporan IPCC (Intergovermental on Panel Climate Change). Berdasarkan laporan IPCC tahun 1995 tentang indeks gas rumah kaca, menemukan peningkatan 64% radiative

forcing CO2 dari periode pra industri (1750) hingga tahun 1995 (Myhre, 1998).

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Global Atmosphere Watch Station (GAW) Bukit Kototabang yang merupakan salah satu stasiun pengamatan referensi udara bersih dari 26 stasiun pemantauan udara bersih yang ada di dunia saat ini. Stasiun ini terletak pada lokasi yang jauh dari pemukiman dan aktivitas manusia agar udara yang diukur benar-benar alami sehingga dapat dijadikan referensi udara bersih baik dalam lingkup nasional maupun

(2)

JURNAL ILMU FISIKA (JIF), VOL 2 NO 2, SEPTEMBER 2010

57

internasional. Pemilihan Bukit Kototabang sebagai titik pengamatan atmosfer global didasarkan oleh fakta letak geografis dan astronomisnya.

Dari semua titik pengamatan, hanya Mount Kenya (Kenya) dan Bukit Kototabang (Indonesia) yang merepresentasikan wilayah yang hampir tepat berada di lintang 0° (garis khatulistiwa). Namun berbeda dengan Kenya yang merupakan daerah gurun, Bukit Kototabang mewakili daerah yang memiliki hutan hujan tropis dengan tingkat kelembaban dan curah hujan yang tinggi. Secara geografi Stasiun GAW Bukit Kototabang terletak pada 100,32 bujur timur, 0,20 lintang selatan dan pada ketinggian 864,5 m di atas permukaan laut. Lokasi stasiun berada sekitar 3 km dari lokasi pemukiman penduduk dan kurang lebih 17 km utara kota Bukittinggi.

2.1 Pengambilan Data

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan data konsentrasi CO2

dan temperatur permukaan. Data diambil oleh staf peneliti GAW pada tahun 2005 – 2009 di daerah Bukit Kototabang.

2.1.1 Data Karbon Dioksida

Data konsentrasi CO2 diambil dengan instrumen Airkit Flask Sampler (dapat dilihat pada

Gambar 1) oleh staf peneliti GAW. Pengukuran konsentrasi CO2 dilakukan dengan

mengambil sampel udara kering sekali dalam seminggu setiap hari selasa jam 14.00 WIB. Selanjutnya, tabung instrumen Airkit Flask Sampler yang berisi sampel udara dikirim ke

NOAA dan NOAA membaca konsentrasi CO2 yang terkandung di dalam sampel udara.

Data hasil pembacaan NOAA dikirim lagi ke GAW. Dalam penelitian data yang

digunakan adalah data mingguan konsentrasi CO2 (setiap hari Selasa).

Gambar 1 Instrumen Airkit Flask Sampler 2.1.2 Data Temperatur

Data temperatur diambil dengan instrumen Automatic Weater Station (AWS) (dapat dilihat pada Gambar 2) oleh staf peneliti GAW. Data yang dihasilkan berupa data yang terdiri dari tekanan, suhu, curah hujan, solar radiasi, temperatur, arah angin dan kecepatan angin setiap satu menit selama 24 jam. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data mingguan temperatur Bukit Kototabang (setiap hari Selasa).

(3)

58 JURNAL ILMU FISIKA (JIF), VOL 2 NO 2, SEPTEMBER 2010

Gambar 2 Instrumen Automatic Weater Station (AWS) 2.2 Pengolahan Data

2.2.1 Data Konsentrasi Karbon Dioksida

Data mingguan konsentrasi CO2 dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 diplot dalam

grafik agar dapat menentukan kecenderungan konsentrasi CO2. Menentukan nilai rata-rata

bulanan radiative forcing CO2 dengan metode IPCC dengan Persamaan (1) dari data

rata-rata bulanan konsentrasi CO2.

0 2 ln 35 , 5 C C Wm F     (1)

Data rata-rata bulanan radiative forcing CO2 diplot dalam grafik untuk membandingkan

nilai perhitungan rata-rata tahunan radiative forcing CO2 di Bukit Kototabang yang

diperoleh dengan metode IPCC dengan nilai rata-rata tahunan radiative forcing CO2

global yang dilaporkan oleh IPCC. Menentukan selisih temperatur yang dipengaruhi oleh

radiative forcing CO2 dengan metode IPCC dengan Persamaan (2). Selisih temperatur bulanan IPCC merupakan nilai yang menyatakan peningkatan/penurunan temperatur disetiap bulan dengan bulan sebelumnya.

F

Ts  

(2)

2.2.2 Data Temperatur

Data bulanan temperatur selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 dirata-ratakan untuk menentukan temperatur rata-rata selama 5 tahun pengukuran. Kemudian menentukan selisih temperatur (∆Ts) bulanan selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Selisih temperatur merupakan data bulanan temperatur Bukit Kototabang dikurangi dengan temperatur rata-rata selama 5 tahun pengukuran. Membuat plot grafik x – y

scatter dari data rata-rata bulanan radiative forcing CO2 dengan selisih temperatur (∆Ts).

(4)

JURNAL ILMU FISIKA (JIF), VOL 2 NO 2, SEPTEMBER 2010

59

menentukan korelasi radiative forcing CO2 dengan selisih temperatur. Mendefenisikan

persamaan yang dihasilkan dari korelasi radiative forcing CO2 dengan selisih temperatur.

Melakukan uji validasi data selisih temperatur berdasarkan perhitungan metode IPCC dan

hasil pengukuran instrumen AWS dengan uji statistik t-Test. Jika syarat t < tcrit dan P >

α maka uji ini berhasil, dengan pernyataan bahwa kedua data selisih temperatur

menghasilkan nilai yang sama dengan keakuratan 95%. Jika syarat tidak terpenuhi berarti kedua data diperoleh dengan cara yang berbeda.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Karbon Dioksida

3.1.1 Kecenderungan Konsentrasi Karbon Dioksida Di Bukit Kototabang Tahun 2005 – 2009

Gambar 3 menggambarkan konsentrasi mingguan CO2 di Bukit Kototabang pada tahun

2005 sampai dengan tahun 2009. Terjadi variasi kenaikan dan penurunan pada

pengukuran konsentrasi CO2 tetapi konsentrasi CO2 menunjukkan kecenderungan naik.

Gambar 3 Kecendrungan konsentrasi mingguan karbon dioksida di Bukit Kototabang tahun 2005 – 2009

Gambar 4 menggambarkan konsentrasi rata-rata bulanan CO2 pada tahun 2005 sampai

dengan tahun 2009 di Bukit Kototabang (garis biru). Pada Gambar 4 juga ditampilkan

pola musiman CO2 pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 di Bukit Kototabang

(garis ungu). Garis pola musiman tidak lurus sempurna, lebih mirip garis gelombang

karena pengaruh konsentrasi CO2 di atmosfer. Akibat pergerakan matahari dalam satu

tahun menyebabkan konsentrasi CO2 tidak pernah menetap di suatu wilayah. Dengan

menggunakan Hukum Kekekalan Massa, konvergensi di suatu wilayah dapat ditentukan. Jika suatu fluida (benda alir) massa mengalir ke dalam suatu ruang, maka akan menyebabkan perubahan dan menyebaran massa keluar. Aliran massa udara berasal dari bagian bumi selatan dimana pada daerah ini udara yang dibawa relatif bersih karena pada bagian bumi bagian selatan sedikit terdapat daerah industri dan lebih didominasi dengan keberadaan Samudera Hindia. Makin lama aliran massa udara yang berasal dari bagian

bumi selatan menyebabkan konsentrasi CO2 pada periode bulan Maret sampai dengan

September terus turun. Peristiwa menurunya konsentrasi CO2 pada bulan Maret sampai

(5)

60 JURNAL ILMU FISIKA (JIF), VOL 2 NO 2, SEPTEMBER 2010

Aliran massa udara berasal dari bumi bagian utara dimana pada daerah ini udara yang dibawa relatif kotor karena jumlah industri di daerah ini lebih tinggi dari pada belahan bumi bagian selatan. Massa udara yang berasal dari belahan bumi bagian utara miskin akan uap air karena sebahagian besar udara yang dibawa berasal dari daratan. Makin lama jumlah uap air yang dibawa oleh aliran massa udara di troposfer lebih sedikit yang

menyebabkan konsentrasi CO2 atmosferik yang terukur meningkat dari bulan

sebelumnya. Peristiwa ini berulang setiap tahun tetapi pada nilai yang lebih tinggi.

Gambar 4 Siklus musiman konsentrasi rata-rata bulanan karbon dioksida di Bukit Kototabang tahun 2005 – 2009

Selama 5 tahun pengukuran konsentrasi CO2, pada tahun 2007 pola musiman konsentrasi

CO2 tidak begitu jelas terjadi. Pada tahun ini konsentrasi CO2 disetiap bulannya

cenderung stabil sehingga penurunan konsentrasi CO2 pada periode bulan Maret sampai

dengan September dan peningkatan konsentrasi CO2 pada bulan September sampai

dengan Maret tidak tergambarkan secara jelas.

Gambar 5 Konsentrasi rata-rata tahunan karbon dioksida di Bukit Kototabang tahun 2005 – 2009

Gambar 5 menggambarkan plot konsentrasi rata-rata tahunan CO2 di Bukit Kototabang

dan Global pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Dari Gambar 5 dapat dilihat

bahwa konsentrasi CO2 di udara Bukit Kototabang (garis biru) cenderung meningkat

(6)

JURNAL ILMU FISIKA (JIF), VOL 2 NO 2, SEPTEMBER 2010

61

3.1.2 Radiative Forcing Karbon Dioksida Tahun 2005 – 2009

Gambar 6 menggambarkan grafik radiative forcing mingguan CO2 di Bukit Kototabang

pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Gambar 6 menggambarkan radiative forcing

CO2 dan konsentrasi CO2 menunjukkan pola yang sama. Hal ini memperlihatkan adanya

hubungan antara konsentrasi CO2 dengan radiative forcing CO2. Jika konsentrasi CO2

rendah maka pemantulan kembali radiasi gelombang panjang ke bumi lebih sedikit

sehingga radiative forcing CO2 juga rendah.

Gambar 6 Radiative forcing mingguan karbon dioksida di Bukit Kototabang tahun 2005 – 2009

Gambar 7 menggambarkan data radiative forcing rata-rata tahunan CO2 di Bukit

Kototabang dan Global pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Dari Gambar 7 dapat

dilihat bahwa radiative forcing CO2 di Bukit Kototabang (garis biru) cenderung

meningkat dari tahun ke tahun tetapi dengan nilai radiative forcing CO2 yang lebih

rendah dari radiative forcing CO2 global (garis merah).

Selama 5 tahun pengukuran pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, radiative forcing rata-rata tahunan CO2 cenderung mengalami peningkatan. Radiative forcing CO2 di Bukit Kototabang bernilai positif yang berarti bumi mengalami peningkatan energi, akhirnya temperatur di bumi mengarah kepada pemanasan. Pada tahun 2007 terjadi penurunan radiative forcing rata-rata tahunan CO2 yang disebabkan oleh menurunnya konsentrasi rata-rata tahunan CO2. Terjadi sedikit keraguan terhadap radiative forcing rata-rata tahunan CO2 tahun 2007 akibat ketidaklengkapan data konsentrasi CO2 pada tahun yang sama. Keraguan terhadap data konsentrasi CO2 di Bukit Kototabang juga diungkapkan berdasarkan hasil penelitian Trismidianto dkk (2009) bahwa emisi CO2 meningkat setiap tahunnya dengan rata-rata kenaikan sekitar 4% pertahun yang akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi CO2.

Berpedoman data radiative forcing rata-rata tahunan CO2 selama tahun 2005 sampai

dengan tahun 2009, dengan memproyeksikan kecenderungan radiative forcing CO2 maka

dapat diperkirakan radiative forcing rata-rata tahunan CO2 di Bukit Kototabang dalam

jangka waktu 5 tahun mendatang pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 akan

berkisar antara 1,6985 Wm-2 hingga 1,7725 Wm-2. Nilai ini sudah melewati radiative

(7)

62 JURNAL ILMU FISIKA (JIF), VOL 2 NO 2, SEPTEMBER 2010

di Bukit Kototabang yang mengalami peningkatan yang melebihi batas temperatur

normal yang diakibatkan oleh CO2 murni.

Gambar 7 Radiative forcing rata-rata tahunan karbon dioksida di Bukit Kototabang tahun 2005 – 2009

Gambar 8 Pola kecenderungan radiative forcing karbon dioksida dengankonsentrasi karbon dioksida di Bukit Kototabang tahun 2005 – 2009

Gambar 8 menggambarkan pola kecenderungan yang sama antara radiative forcing CO2

dengan konsentrasi CO2 di Bukit Kototabang pada tahun 2005 sampai dengan 2009. Pada

saat radiative forcing CO2 meningkat ditandai dengan meningkatnya nilai konsentrasi

CO2.

3.2 Temperatur Bukit Kototabang Instrumen AWS Tahun 2005 – 2009

Gambar 9 menggambarkan kondisi temperatur rata-rata bulanan di Bukit Kototabang yang mengalami fluktuasi (garis hitam) secara umum mengikuti pola pergerakan

konsentrasi CO2 (garis biru) di atmosfer pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009

kecuali pada bulan Mei, Juni, Desember tahun 2005, Januari, Juni, Juli tahun 2006, Juni, Juli tahun 2007, Maret, Juni, Desember tahun 2008, Mei, Juni, Nopember tahun 2009.

Hal ini menunjukkan adanya peran CO2 untuk mempengaruhi temperatur di Bukit

(8)

JURNAL ILMU FISIKA (JIF), VOL 2 NO 2, SEPTEMBER 2010

63

19,9 0C yang terjadi pada bulan agustus 2007 dan temperatur tertinggi yang terjadi pada

bulan Maret 2005 dan Mei 2009 tercatat 22,7 0C, dan temperatur rata-rata tahunan selama

tahun 2005 sampai dengan 2009 tercatat 21,66 0C.

Gambar 9 Hubungan konsentrasi karbon dioksida dengan temperatur rata-rata bulanan di Bukit Kototabang tahun 2005 – 2009

Gambar 10 Temperatur rata-rata tahunan di Bukit Kototabang Tahun 2005 – 2009 Gambar 10 menggambarkan data temperatur rata-rata tahunan di Bukit Kototabang pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Temperatur di Bukit Kototabang cenderung meningkat dari tahun ke tahun, tapi pada tahun 2007 terjadi penurunan temperatur di Bukit Kototabang yang disebabkan oleh menurunnya konsentrasi CO2 di Bukit Kototabang pada tahun yang sama.

3.3 Selisih Temperatur Metode IPCC dan Instrumen AWS Di Bukit Kototabang Tahun 2005 – 2009

Gambar 11 menggambarkan selisih temperatur rata-rata bulanan berdasarkan metode

IPCC dan instrumen AWS. Berdasarkan metode IPCC, radiative forcing CO2 akan

memberikan nilai positif (feedback positive) dan stabil menaikkan temperatur. Hal ini

sesuai dengan sifat CO2 yang tergolong gas rumah kaca untuk meningkatkan temperatur

(9)

64 JURNAL ILMU FISIKA (JIF), VOL 2 NO 2, SEPTEMBER 2010

temperatur disetiap bulan dibandingkan dengan bulan sebelumnya dipengaruhi oleh

radiative forcing CO2. Selisih temperatur rata-rata bulanan di Bukit Kototabang pada tahun 2005 sampai dengan 2009 berdasarkan metode IPCC berkisar antara 1,23 K hingga

1,38 K. Keadaan ini masih sesuai dengan selisisih temperatur CO2 murni yang

menghasilkan nilai sekitar 1,31 K.

Gambar 11 Selisih temperatur rata-rata bulanan di Bukit Kototabang metode IPCC

dan instrumen AWS tahun 2005 – 2009

Pada Gambar 11 juga digambarkan selisih temperatur rata-rata bulanan berdasarkan pengukuran instrumen AWS. Nilai selisih temperatur minimum terjadi pada bulan Agustus 2007 dan selisih temperatur maksimum terjadi pada bulan Mei 2009. Berdasarkan hasil pengukuran instrumen AWS, selisih temperatur rata-rata bulanan di Bukit Kototabang tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 berfluktuasi positif dan negatif. Pada tahun 2007 terjadi nilai selisih temperatur yang bernilai negatif kecuali pada bulan

Maret dan Desember yang diakibatkan oleh penurunan konsentrasi CO2 pada tahun yang

sama. Nilai selisih temperatur negatif menunjukkan terjadinya penurunan energi bumi yang akhirnya menyebabkan pendinginan di Bukit Kototabang. Nilai selisih temperatur

negatif berbeda dengan pernyataan bahwa keberadaan CO2 di atmosfer akan

meningkatkan temperatur. Perbedaan diakibatkan karena temperatur yang terukur oleh

instrumen AWS bukan nilai temperatur yang dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 di

atmosfer saja, banyak faktor lain yang mempengaruhi temperatur yang dikalkulasikan dan tercatat pada instrumen ini.

Gambar 12 Selisih temperatur rata-rata bulanan instrumen AWS, radiative forcing dan konsentrasi karbon dioksida di Bukit Kototabang tahun 2005 – 2009

(10)

JURNAL ILMU FISIKA (JIF), VOL 2 NO 2, SEPTEMBER 2010

65

Gambar 12 menggambarkan pola keterkaitan antara konsentrasi CO2, radiative forcing

CO2 dan selisih temperatur di Bukit Kototabang berdasarkan instrumen AWS pada tahun

2005 sampai dengan tahun 2009. Jika konsentrasi CO2 meningkat maka akan

meningkatkan nilai radiative forcing CO2 dan berdampak terhadap peningkatan selisih

temperatur di Bukit Kototabang. Hubungan ini juga terjadi pada saat penurunan

konsentrasi CO2 di Bukit Kototabang .

3.4 Korelasi Radiative Forcing Karbon Dioksida dengan Selisih Temperatur Bukit Kototabang Instrumen AWS Tahun 2005 – 2009

Gambar 13 menggambarkan korelasi radiative forcing CO2 dengan selisih temperatur

permukaan pada tahun 2005 – 2009. Dari uji statistik didapat nilai R = 0,26 < 0,5, hasil

ini mengidentifikasikan hubungan yang lemah. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar

0,069 yang mengartikan bahwa radiative forcing CO2 mempengaruhi nilai selisih

temperatur di Bukit Kototabang sebesar 6,9 %.

Gambar 13 Plot regresi hubungan radiative forcing karbon dioksida dengan selisih temperatur instrumen AWS tahun 2005 – 2009

3.5 Uji Validasi Selisih Temperatur Rata-Rata Bulanan Di Bukit Kototabang Metode IPCC dengan Instrumen AWS Tahun 2005 – 2009

Gambar 14 menggambarkan selisih temperatur yang diperoleh berdasarkan perhitungan metode IPCC dan pengukuran instrumen AWS. Berdasarkan F-Test diperoleh hasil F <

Fcrit (0,002689 < 0,63103) dan P <  (0 < 0,5) dengan hipotesis bahwa dua sampel data

diperoleh dengan cara yang berbeda. Validasi data dilakukan dengan t-Test two sample

assumsing unequal variances di peroleh t > tcrit (13,73374 > 2,006646761) dan P <

(6,22588 x 10-19 < 0,5) yang menyatakan bahwa dua kelompok sampel menghasilkan nilai

yang berbeda.

Ketidakberhasilan uji validasi dengan hipotesa bahwa kedua data ini diperoleh dengan cara yang sama disebabkan karena beberapa faktor. Pertama, untuk membandingkan dua kelompok data, data yang digunakan harus diperoleh dengan cara yang kurang lebih sama. Rumus metode IPCC diperoleh dari suatu model dengan banyak parameter didalamnya dan berbagai variasi tipe iklim dan daerah, sedangkan hasil selisih temperatur yang diperoleh dari pengukuran instrumen AWS hanya untuk Bukit Kototabang saja dengan tipe dan daerah yang spesifik. Kedua, perbedaan sensitivitas iklim akan menyebabkan perbedaan hasil perhitungan. Ketiga, tidak diketahuinya data baseline yang

(11)

66 JURNAL ILMU FISIKA (JIF), VOL 2 NO 2, SEPTEMBER 2010

digunakan. Data baseline merupakan data yang dipakai sebagai rata-rata atau pembanding. Pada perhitungan ini, data baseline yang digunakan merupakan data tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 sedangkan data baseline yang digunakan oleh IPCC itu berbeda. Walaupun uji validasi data statistik tidak dapat menunjukkan bahwa kedua data menghasilkan nilai sama, hasil ini bukan merupakan unsur utama dalam menyatakan keakuratan data karena dinamika yang terjadi di atmosfer begitu kompleks.

Gambar 14 Diagram validasi selisih temperatur rata-rata bulanan di Bukit Kototabang tahun 2005 – 2009 metode IPCC dengan instrumen AWS 4. KESIMPULAN

Dari hasil perhitungan dan analisis data konsentrasi CO2 yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan:

1. Konsentrasi rata-rata tahunan CO2 di Bukit Kototabang berfluktuasi dan

cenderung mengalami peningkatan dari 375,256 ppm pada tahun 2005 menjadi

381,736 ppm pada tahun 2009, tetapi masih di bawah konsentrasi CO2 global

pada setiap tahunnya.

2. Konsentrasi CO2 dipengaruhi oleh posisi matahari sehingga membentuk pola

musiman yang yang berulang setiap tahun tetapi pada nilai yang lebih tinggi.

3. Radiative forcing rata-rata tahunan CO2 di Bukit Kototabang berdasarkan metode

IPCC berfluktuasi dan cenderung mengalami peningkatan dari 1,605 Wm-2 pada

tahun 2005 dan mencapai 1,697 Wm-2 pada tahun 2009, tetapi masih di bawah

radiative forcing CO2 global pada setiap tahunnya.

4. Radiative forcing CO2 memiliki pola kecenderungan yang sama dengan

konsentrasi CO2.

5. Temperatur di Bukit Kototabang dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 di Bukit

Kototabang.

6. Selisih temperatur di Bukit Kototabang pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 berdasarkan metode IPCC berkisar antara 1,23 K hingga 1,38 K dan

berdasarkan instrumen AWS berkisar antara -0,36 0C hingga 1,04 0C.

7. Korelasi radiative forcing CO2 dengan selisih temperatur di Bukit Kototabang

pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 berdasarkan instrumen AWS menunjukkan nilai yang rendah dengan koefisien korelasi 6,9 %. Ini berarti

(12)

JURNAL ILMU FISIKA (JIF), VOL 2 NO 2, SEPTEMBER 2010

67

radiative forcing CO2 bukan merupakan faktor utama yang mempengaruhi temperatur di Bukit Kototabang.

DAFTAR PUSTAKA

1. Alonso, M., Finn, E., 1992. Dasar-Dasar Fisika Universitas, jilid II, edisi 2, terjemahan Lea Prasetyo dan Kusnul Hadi. Erlangga, Jakarta.

2. Enting, I.G. 1998. Attribution of Greenhouse Gas Emissions, Concentrations and

Radiative Forcing. CSIRO Atmospheric Research Technical Paper No. 38.

3. Forster, Piers., V, Ramaswamy., Artaxo, Paulo., Berntsen, Terje., Betts, Richard., Fahey, David. W., Haywood, James., Lean, Judith., Lowe, David. C., Myhre, Gunnar., Nganga, John., Prinn, Ronald., Raga, Graciela., Schulz, Michael., Dorland, Roberth. Van., 2007. Chapter 2: Changes in Atmospheric Constituents and in

Radiative Forcing. Cambridge University Press, Cambridge.

4. Giwangkara, EG. S. 2007. Spektrofotometri Infra Merah.

http://Chem-Is-Try.Org

,

diakses 1 April 2010.

5. Hansen, J., Sato, M., Ruedy, M. 1997. Radiative Forcing and Climate Response. Geophysical Research Letters, Vol.102, Pages 6831 - 6864.

6. Jacob, Daniel. J. 1999. Introduction to Atmospheric Chemistry. Princeton University Press, Princeton New Jersey.

7. Myhre, G., Highwood, E. J., Shine, K. P., Stordal, F., 1998. New Estimates of

Radiative Forcing Due to Well Mixed Greenhouse Gases. Geophysical Research

Letters, Vol.25, No.14, Pages 2715 - 2718.

8. Neiburger, Morris., Edinger, James G., Bonner, William D. 1995. Memahami

Lingkungan Atmosfer Kita, edisi kedua, terjemahan Ardina Purbo. ITB, Bandung.

9. Ramaswamy, V., Boucher, O., Haigh, J., Hauglustaine, D., Haywood, J., Myhre, G., Nakajima, T., Shi, G.Y., Solomon, S. 2001. Chapter 6: Radiative Forcing of Climate

Change. Cambridge University Press, Cambridge.

10. Salby, Murry L. 1995. Fundamentals of Atmospheric Physics. Academic Press, University of Colorado.

11. Seinfeld, J. H. dan S, N. Pandis. 1998. Atmospheric Chemistry and Physics: From Air Pollution to Climate Change. John Willey and Sons. USA.

12. Smith, Steven. J. dan Wigley, T. M. L., 2000. Gobal Warming Potential. Kluwer Academic Publishers, Climatic Change 44: 459 – 469.

13. Trismidianto, E. Hermawan., T. Samiaji. 2009. Studi Penentuan Konsentrasi CO2

dan Gas Rumah Kaca (GRK) Lainnya di Wilayah Indonesia. LAPAN, Bandung.

Gambar

Gambar 1 Instrumen Airkit Flask Sampler
Gambar 2 Instrumen Automatic Weater Station (AWS)
Gambar  3  menggambarkan  konsentrasi  mingguan  CO 2   di  Bukit  Kototabang  pada  tahun  2005  sampai  dengan  tahun  2009
Gambar 5 Konsentrasi rata-rata tahunan karbon dioksida di Bukit Kototabang  tahun 2005 – 2009
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapatpengaruhtidak langsung kemampuan awal terhadap kemampuan komunikasi matematis melalui kecerdasan emosi dan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara prokrastinasi akademik dengan prestasi belajar pada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan pengetahuan kognitif siswa dengan menggunakan model pembelajaran Computer Assited Learning ( Video Tutorial )

Dari 50 citra, 49 citra teridentifikasi sebagai citra dengan jenis kerusakan retak, sementara 1 citra teridentifikasi sebagai lubang. Sementara 2 citra

Berdasarkan pengamatan peneliti terhadap siswa kelas IVB MI Negeri Karanganom Klaten, kemampuan siswa dalam berkonsentrasi masih rendah.Siswa mengalami kesulitan dalam

Yayasan Daarul Qur’an Indonesia sebagai lembaga yang berkonsentrasi pada penanaman pendidikan Qur’ani serta memiliki sejumlah donatur yang loyal menarik garis pertanyaan

Diadopsinya bahasa Melayu – yang merupakan bahasa pengantar utama di kepulauan Nusantara saat itu — menjadi bahasa nasional Indonesia, adalah langkah besar dalam

Bobot uterus dan ovarium tikus yang dicekok purwoceng pada periode yang berbeda dalam dua siklus berahi yaitu proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus disajikan pada Tabel