• Tidak ada hasil yang ditemukan

MARRIAGE COUNSELING (Studi Terhadap Peran Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan dalam Membentuk Keluarga Samara)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MARRIAGE COUNSELING (Studi Terhadap Peran Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan dalam Membentuk Keluarga Samara)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

[128]

MARRIAGE COUNSELING

(Studi Terhadap Peran Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan dalam Membentuk Keluarga Samara)

Oleh: Suparlan

Dosen Ahwal Al-Asyaksakhsiah Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Abstrak

Islam menganjurkan seseorang baik laki-laki maupun perempuan untuk menikah apabila ia telah memiliki kesiapan secara materi dan mental (psikis). Anjuran tersebut pada dasarnya

sebagai bentuk pemeliharaan Islam atas kemuliaan manusia. Dalam arti kata, perkawinan –

sebagai pintu awal untuk membentuk sebuah keluarga- merupakan sesuatu yang selalu menjadi hasrat bagi setiap orang baik laki-laki maupun perempuan. Sebab, dengan adanya perkawinan, maka laki-laki dan perempuan dapat bergaul secara mulia dalam kehidupan keluarga sebagai makhluk yang memiliki kemuliaan. BP-4 sebagai lembaga konseling perkawinan resmi di Indonesia di satu sisi memiliki peran yang penting dan besar dalam membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Namun di sisi lain, keberadaan BP-4 ini nampaknya masih belum maksimal. Hal tersebut dikarenakan oleh berbagai aspek, baik aspek substansi hukum, struktur hukum, maupun budaya hukum. Dengan demikian, menurut pemakalah, kedepan barangkali perlu adanya kerja sama yang maksimal antara BP-4 sebagai Lembaga Konseling Keluarga dengan Dinas Sosial dan BKKBN, atau dinas lain guna menciptakan keluarga yang sakinah, sejahtera, dan sehat. Di samping itu, diperlukan juga Lembaga Konseling Keluarga Non-Pemerintah sebagai mitra kerja BP-4 guna memaksimalkan tupoksi dari BP-4 sendiri.

Kata Kunci : Mariage Counseling, Peran Badan Penasihatan, Pelestarian Perkawinan. Abstract

Islam encourages a person, both male and female, to marry if he already has material and mental readiness (psychic). The suggestion is basically as a form of maintaining Islam for human glory. In the sense of the word, marriage - as the initial door to forming a family - is something that has always been a desire for everyone, both men and women. Because, with marriage, men and women can get along nobly in family life as beings who have glory. BP-4 as an official marriage counseling institution in Indonesia on the one hand has an important and large role in forming a sakinah, mawaddah, and rahmah family. But on the other hand, the existence of BP-4 is still not optimal. That is caused by various aspects, both aspects of legal substance, legal structure, and legal culture. Thus, according to the speaker, in the future it may be necessary to have maximum cooperation between BP-4 as a Family Counseling Agency with the Social Service and BKKBN, or other agencies to create a prosperous, prosperous and healthy family. In addition, Non-Government Family Counseling Institutions are needed as BP-4 partners to maximize the duties of BP-4 itself.

(2)

[129]

A. Pendahuluan

Secara normatif, Islam menganjurkan seseorang baik laki-laki maupun perempuan untuk menikah apabila ia telah memiliki kesiapan secara materi dan mental (psikis). Anjuran tersebut pada dasarnya sebagai bentuk pemeliharaan Islam atas kemuliaan manusia. Dalam arti kata, perkawinan – sebagai pintu awal untuk membentuk sebuah keluarga- merupakan sesuatu yang selalu menjadi hasrat bagi setiap orang baik laki-laki maupun perempuan. Sebab, dengan adanya perkawinan, maka laki-laki dan perempuan dapat bergaul secara mulia dalam kehidupan keluarga sebagai makhluk yang memiliki kemuliaan.

Sebagai bentuk perhatian dari pemerintah terhadap kelestarian dan keharmonisan keluarga, maka pemerintah membentuk Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP-4). Terbentuknya BP-4 tersebut berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 1977, dimana keberadaan BP-4 tersebut diakui sebagai satu-satunya badan penunjang sebagian tugas Kementerian Agama dalam bidang penasihatan perkawinan, perselisihan rumah tangga dan perceraian. Sebagai badan yang bergerak dalam bidang penasihatan perkawinan dan keluarga bagi masyarakat Islam, BP-4 memikul tugas dan kewajiban untuk dapat memberikan bimbingan dan pelayanan yang sebaik-baiknya.1

Betapa pentingnya peran BP-4 sebagai lembaga konseling demi terwujudnya keluarga yang rukun, damai dan kokoh. Keberadaan lembaga konseling tersebut pada dasarnya memberikan peluang bagi suami-isteri untuk berada dalam keharmonisan rumah tangga mereka. Sebab, BP-4 merupakan lembaga konseling yang resmi

1 TIM Kerja Proyek Peningkatan Keluarga Sakinah, DEPAG RI, Jakarta, 2004, hal. 108.

dan mendapat pengakuan sah secara hukum. Keberadaan BP-4 juga ada di setiap Kantor Kementerian Agama Kabupate/Kota serta di setiap Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan.

Namun di sisi lain, banyaknya kasus-kasus seputar kehidupan keluarga yang terjadi di tengah masyarakat tidak dapat dipugkiri. Banyaknya kasus perceraian menjadi realita kehidupan keluarga muslim di Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung bahwa kasus perceraian pada tahun

2016 sudah mencapai 365.633 kasus.2

Demikian juga dengan kasus pernikahan

pada usia anak, dan pernikahan yang dilakukan di bawah tangan adalah menjadi permasalahan konkrit dari adanya permasalahan keluarga yang tetap terjadi hingga saat ini. Kondisi ini mengindikasikan lemahnya pembinaan dari lembaga konselig BP-4 terhadap kerukunan keluarga suami isteri. Bila saja hal ini dibiarkan begitu saja tanpa ada evaluasi maka kinerja dan perhatian pemerintah dalam ber-upaya untuk mewujudkan keluarga yang harmonis akan menjadi sia-sia. Maka dari itu, mencoba untuk mengkaji peran BP-4 dalam memberikan konseling guna mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

B.Pembahasan

a. Konseling Perkawinan dan Konsep

Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah dalam Keluarga Islam

1. Konsep Konseling Perkawinan

Konseling merupakan terjemahan dari counseling, yaitu bagian dari bimbingan, baik sebagai pelayanan maupun sebagai tehnik. Menurut Rochman, konseling adalah

2Sumber: Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung (Statistik Indonesia 2017, BPS)

(3)

[130] suatu jenis pelayanan yang merupakan bagian terpadu dari bimbingan. Konseling dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik antara dua orang individu, dimana yang seorang (yaitu konselor) berusaha membantu yang lain (yaitu konseli) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan masalah-masalah yang

dihadapinya.3Sementara menurut Moh.

Surya, konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada konseli supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri sendiri untuk dimanfaatkan olehnya dalam memperbaiki tingkah lakunya pada

masa yang akan datang.4Dalam pengertian

yang lebih spesifik, Prayitno mengemukakan bahwa konseling adalah pertemuan empat mata antara konseli dan konselor yang berisi usaha yang laras dan manusiawi yang dilakukan dalam suasana keahlian dan yang

didasarkan atas norma-norma yang berlaku.5

Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat ditarik pemahaman bahwa konseling adalah suatu upaya bantuan yang dilakukan dengan empat mata antara konselor dengan konseli agar konseli memperoleh konsep diri atau kepercayaan diri dalam memperbaiki tingkah lakunya pada saat ini dan yang akan datang. Oleh karena itu, konseling merupakan bentuk khusus dari usaha bimbingan, yaitu suatu pelayanan yang diberikan oleh konselor kepada seseorang atau lebih. Dalam proses konseling ini, orang yag diberi konseling disebut klien atau konseli. Dengan demikian, konseling berlangsung dalam suasana pertemuan antara konselor dan klien atau konseli untuk mengusahakan pemecahan masalah yang dialami oleh klien atau konseli.

3Rochman Natawidjaja, Pendekatan, hal. 32. 4Moh. Surya, Dasar, hal. 38.

5Prayitno. Pengertian, hal. 38.

Bila ditinjau lebih mendalam,

hubungan konseling merupakan pertemuan yang paling akrab antara dua orang, yaitu koselor dan konseli. Dengan memperhatikan hal tersebut, kiranya usaha konseling tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang, melainkan oleh tenaga yang terlatih untuk itu. Untuk menjadi konselor yang baik, maka dibutuhkan keahlian dalam bidang konseling.

Keahlian ini mecakup pengetahuan,

keterampilan, sikap dan pandangan yang hendaknya disertai dengan kematangan pribadi dan kemauan yang kuat untuk melakukan usaha konseling. Dalam konteks keluarga, terdapat beberapa beberapa istilah yang menunjukkan pada proses konseling,

seperti couple conseling, marital counseling,

dan marriage counseling. Istilah-istilah ini

menjukkan bahwa proses melakukan

konseling pekawinan.

2. Konsep Keluarga Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah dalam Keluarga Islam

a. Konsep Sakinah dalam Keluarga

Kata sakinah berasal dari bahasa Arab

sakana-yaskunu-sukuunan, yang berarti hilang atau terputusnya dari sebuah gerakan, atau juga bisa diartikan dengan lawan dari

bergerak yang dapat berarti pula tenang.6

Kata sakinah yang merupakan derivasi dari

kata sakana bermakna thuma`ninah, yaitu

tenang. Dari kata sakana lahir juga kata

sukna dan maskan yang berarti rumah atau tempat tinggal, artinya, seseorang itu telah mendiami sebuah rumah atau tempat tinggal

dengan rasa tentang.7 Dalam kamus besar

Bahasa Indonesia, kata sakinah bermakna

kedamaian, ketenteraman, ketenangan, dan

kebahagiaan.8

6Ma`lu>f, Munjid fi> Lighah wa

al-A`la>m(Beirut: Da>ral-Musyri>q, 1997), hal. 342. 7Ma`lu>f, Munjid fi> Lighah wa

al-A`la>m, 342.

8Tim, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hal. 769.

(4)

[131]

Dalam al-Qur`an, kata sakinah dengan

berbagai bentuk variannya seperti li taskunu,

tuskanu, askantu, yuskina, dan lainnya terulang sejumlah 45 kali.9 Diantara ayat yang terdapat kata sakinah adalah surat ar-Rum (30): 21: yang berbunyi:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Menurut Quraish Shihab, kata taskunu

terambil dari sakana yang berarti diam atau tenang setelah sebelumnya ada goncangan dan gangguan. Perkawinan melahirkan ketenangan batin. Artinya, melalui lembaga perkawinan perasaan gelisah dan resah pada diri seseorang baik laki-laki dan perempuan berubah menjadi perasaan tenagng, yang pada akhirnya kegalauan hati dan kekacauan pikiran serta gejolak jiwa bisa menjadi reda

dan mereka akan memperoleh ketenangan.10

Demikian juga diungkapkan oleh

Fakhr ar-Razi dalam Tafsir al-Kabir, bahwa

pada mulanya ketenangan yang hendak dicapai oleh seseorang yang merasa resah dan gelisah adalah adalah berwujud ketenangan jasmani. Namun demikian pada

akhirnya melalui pernikahan yang

mempertemukan keduanya. Maka

ketenangan jasmani tersebut bisa mengarah pada ketenanga batin dan inilah tujuan yang

sebenarnya dari pernikahan.11

9Fu`ad Abd. Al-Baqi, Mu`jam al-Mufahrasy li

Alfa>z al-Qur`a>n(Beirut: Da>r al-Fikr, 1981), hal. 353-354.

10M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah:

Pesan dan Keserasian al-Qur`an (Jakarta: Lentera Hati, 2005), XI: 35.

11Fakhr ar-Ra>zi, Tafsi>r al-Kabi>r(Tahran: Da>r al-Kutub al-`Ilmiyyah, t.t.), XXV: 110.

Abdul Malik Karim Amrullah dalam

kitabnya al-Azhar menjelaskan bahwa

firman Allah Li Taskunu Ilaiha mengandung

makna “agar tenteramlah kamu kepadanya”. Hal ini dikarenakan seseorang akan mengalami kegelisahan kalau masih hidup sendiri karena mengalami kespian sehingga tidak tenteram. Lalu yang terjadi adalah seorang laki-laki mencari seorang wanita dan begitu juga sebaliknya sampai mereka berdua menikah dengan aturan yang sah, untuk selanjutnya kehidupan keduanya dipadukan menjadi satu, karena hanya dengan perpaduan sajalah akan dapat terjadi ketenangan, yang selanjutnya berimbas pada

perkembangbiakan manusia.12

Demikian juga dengan Direktorat

Jenderal Bimbingan Masyarakat dan

Penyelenggaraan Ibadah Haji dalam buku

yang berjudul Membina Keluarga Sakinah,

menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sakinah adalah rasa tenteram, aman, dan

damai. Seseorang akan merasakan sakinah

apabila terpenuhi unsur-unsur dan hajat hiduonya baik spiritual maupun material secara layak dan seimbang. Sebaliknya, apabila sebagian atau salah satu dari yang disebutkan tersebut tidak terpenuhi, maka orang tersebut akan merasa kecewa, resah, dan gelisah. Dengan demikian, seseorang

yang sakinah hidupnya adalah orang yang

terpelihara kesehatannya, cukup sandang, pangan, dan papan, diterima dalam pergaulan masyarakat yang beradab, serta hak asasinya terpenuhi dan terlindungi oleh norma agama, norma masyarakat dan undang-undang yang berlaku.13

12Haji Abdul alik Karim Amrullah, Tafsir

al-Azhar (Jakarta: PT. Pustaka Panjimas, 1984), XXI: 65-66.

13Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat dan Penyelenggaraan Ibadah Haji, Membina Keluarga Sakinah (Jakarta: Depag RI, 2003), hal. 5.

(5)

[132] Oleh sebab itu, hanya pasangan yang

sah sajalah rasa sakinah atau ketenangan

tersebut bisa diwujudkan, dan bukanlah ketenangan semu yang bersifat kesenangan semata-mata yang hanya mendahulukan perasaan syahwat manusia belaka, seperti

yang terjadi dalam fenomena

perselingkuhan, prostitusi, dan pelacuran.

b. Konsep Mawaddah dalam Keluarga

Kata mawaddah berasal dari bahasa

Arab dengan akar katanya wadda, yawaddu,

mawaddatan yang berarti mencintai.14 Dalam al-Qur`an sendiri kata ini dengan berbagai bentuk variannya telah terulang

sebanyak 29 kali.15 Sementara dalam Bahasa

Indonesia kata ini sering diartikan dengan cinta dan kasih sayang.16

Kementerian Agama (sebelumnya

Departemen Agama) dalam, Al-Qur`an dan

Tafsirnya menjelaskan bahwa kata mawaddah adalah sebagai kata ganti dari

kata nikah dengan maksud dan arti

bersenggama dan bersetubuh. Sedangkan kata rahmah adalah sebagai kata ganti dari kata “anak”. Kesimpulan dari penafsiran tersebut adalah bahwasanya dengan adanya perkawinan antara seorang laki-laki dan perempuan yang kemudian menjadi sepasang suami-isteri, maka terjadilah persenggamaan yang menyebabkan lahirnya anak atau

keturunan dari akibat perkawinan tersebut.17

Kata mawaddah juga bisa diartikan

dengan sesuatu yang identik dengan anak muda atau masa muda. Sedangkan kata rahmah identik dengan orang tua atau masa tua. Kesimpulan dari penafsiran ini adalah apabila ketenangan jiwa dan ketenteraman belum tercapai, maka semestinya mereka

14Ma`lu>f, Munjid fi> Lighah wa

al-A`la>m, hal. 892.

15Fu`ad Abd. Al-Baqi, Mu`jam, hal. 747. 16Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Hida Karya, 1990), hal. 490.

17Departemen Agama, AL-QUr`an dan

Tafsirnya (YogyakartaL UII Press, t.t.), hal. 553.

mengadakan intropeksi diri, kemudian menetapkan cara yang paling baik sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah. Sehingga tujuan dari perkawinan diharapkan akan dapat dicapai yaitu ketenangan jiwa, saling cinta encintai dan

tumbuhnya rasa kasih sayang.18

Menurut Quraish Shihab, kata

mawaddah diartikannya sebagai perasaan

cinta yang mendalam kepada isterinya.19

Menurutnya, mawaddah sendiri mempunyai

arti kelapangan dan kekosongan dari segala macam kehendak buruk. Satu hal yang cukup menarik adalah dengan dorongan rasa mawaddah ini maka seorang suami akan rela untuk membela istri, demikian pula seorang perempuan akan rela untuk meninggalkan orang tua dan keluarga yang telah membesarkannya demi hidup dengan laki-laki yang dicintainya, yang pada akhirnya

keduanya bersedia membuka rahasia

terdalam yang dimiliki masing-masing. Semua itu adalah hal-hal yang tidak mudah dan tidak akan dapat terlaksana kecuali adanya kuasa Tuhan yang menanamka rasa mawaddah ke dalam diri setiap pasangan. Dan demikianlah yang tertanam ke dalam hati dan perasaan suami-istri yang harmonis,

kapan dan di manapun mereka berada.20

Menurut At-Thobari, kata mawaddah

memiliki arti rasa cinta yang benar-benar

mempengaruhi perilaku nyata.21 Artinya

adalah, dimilikinya rasa mawaddah pada diri

setiap pasangan, akan menjadikan masing-masing pihak berusaha ingin agar apa yang ditampilkannya adalah sesuatu yang ideal.

Dengan demikian, mawaddah dapat diartikan

sebagai rasa cinta yang tidak lagi bergejolak

18Departemen Agama, AL-QUr`an dan

Tafsirnya, hal. 554.

19M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, XI: 35. 20M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, hal. 36. 21Muh}ammad H{usain at}-T{abari,

Al-Mi>zan fi> Tafsi>r al-Qur`a>n(Beirut: Muassasahal-A`lam al-Mathbu`ah, 1973), XVI: 196.

(6)

[133] dan tidak tenang sebagaimana rasa cintanya sepasang anak muda yang belum mengalami pernikahan atau hanya menampakkan kamuflase perilaku mereka yang cenderung dibuat-buat dan bersifat fatamorgana semata.

Berpijak pada kenyataan di atas, maka menurut al-Faruqi, bahwa ada beberapa prinsip yang penting untuk disoroti dalam keluarga Islam,22 diantaranya adalah:

a. Prinsip kebersamaan diantara sesama

anggotanya. Dengan adanya prinsip ini maka jalinan yang dihasilkan dalam keluarga adalah jalinan yang timbal balik, dan simbolis mutualisme dan bukanlah simbolis parasitisme.

b. Prinsip keberbedaan peran. Secara kodrati

adalah berbeda mengenai keberbedaan laki-laki dan wanita. Namun keberbedaan tersebut pada dasarnya berfungsi sebagai pendukung fungsi masing-masing dan bukan untuk saling mengalahkan.

c. Keterbukaan dan saling menjaga. Untuk

membina keluarga yang islami, diperlukan pembinaan yang terus menerus agar suasana kehidupan rumah tangga bisa tetap

terpelihara dengan baik oleh para

penghuninya, yaitu suami, misteri, dan anal/anak-anak.

c. Konsep Rahmah dalam Keluarga

Kata rahmah berasal dari Bahasa Arab

yaitu rahim-yarhamu-rahmah yang berarti

lembut, lunak, atau juga bisa diartikan kasih sayang. Kata ini juga bisa dimaknai dengan riqqah yang berarti juga lemah lembut, lunak, serta kasih sayang.23

Dalam kaitannya dengan al-Qur`an

surat ar0Rum (30): 21, kata rahmah telah

melahirkan beragam bentuk penafsiran dari

22Isma`il Raja l-Faruqi, At-Tawhid: It`s

Implications for Thought and Life (Virginia USA: International Institute of Islamic Thought, 1992), hal. 133-135.

23Ma`lu>f, Munjid fi> Lighah wa

al-A`la>m, hal. 253.

kalangan penafsir. Diantaranya misalnya, Departemen Agama (sekarang: Kementerian

Agama) menjelaskan bahwasanya rahmah

adalah berarti “anak”, hal ini dikarenakan

kata mawaddah adalah merupakan kata ganti

dari kata “nikah” yang berarti bersenggama dan bersetubuh. Dengan kata lain, kata rahmah apabila dikaitkan dengan rahmat Tuhan dalam sebuah perkawinan, maka beraryi lahirnya anak yang sah dan lahir dari

persetubuhan atau nikah yang sah pula.24

Dengan demikian, salah satu unsur

terciptanya rasa rahmah dalam sebuah

perkawinan adalah kehadiran anak yang lahir dari sebuah cinta kasih yang sah yang didahului dengan akad nikah yang sah pula.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa

tahapan rahmah dalam perkawinan adalah

bersamaan dengan lahir, tumbuh-kembang dan menjadi dewasa si anak atau ketika pasanagan ini telah mencapai usia lanjut. Hal ini dikarenakan seseorang yang dirahmati menurut Quraish Shihab adalah tatkala seseorang itu dalam keadaan butuh dan memerlukan rahmat tersebut. Dengan demikian, rahmat itu hanya tertuju kepada orang yang lemah, dan bukankah tatkala sudah lanjut usia atau telah tua manusia itu

dalam keadaan lemah dan butuh.25

Sementara Abul Hasan menjelaskan

bahwasanya dengan terjalinnya rasa

mawaddah dan rahmah dalam kehidupan

keluarga tersebut tidak lain adalah

merupakan sebuah tujuan agar keduanya teringat bahwasanya tidak ada lagi sesuatu yang paling dibutuhkan dan diharapkan dari keduanya untuk masing-masing pasanagnnya selain rasa saling sayang menyayangi dan mencintai di antara mereka berdua dalam

24Departemen Agama, AL-QUr`an dan

Tafsirnya, hal. 553. Bandingkan dengan Haji `Abdul Malik Karim AMrullah (HAMKA), Tafsir al-Azhar,

hal. 84-85.

(7)

[134] upaya membentuk tatanan keluarga yang harmonis.26

b. Gambaran Umum tentang Badan

Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan

1. Pengertian dan Dasar Pembentukan BP-4

Dalam Ensikloperdi Islam di

Indonesia, yang dimaksud dengan Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (selanjutnya disingkat BP-4) adalah sebuah organisasi resmi pemerintah yang bernaung di bawah Departemen Agama

(sekarang: Kementerian Agama) dan

bergerak di bidang pemberian penasihatan

perkawinan dan perselisihan keluarga.27

BP-4 merupakan organisasi yang brgeraak di

bidang penasihatan perkawinan dan

perselisihan yang diolah sendiri, tidak ada hubungan antara organisasi satu dengan organisasi yang lain. Pada tanggal 3 Januari 1960 semua organisasi yang bergerak di bidang penasihatan itu menyatukan diri dalam bntuk satu wadah yang diberi nama dengan BP-4, yang bersifat nasional di Jakarta dan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia. Pembentukan BP-4 ini diharapkan banyak berperan dengan cara memberikan nasihat-nasihat perkawinan agar perkawinan lebih kokoh dan harmonis.

BP-4 didirkan pada tangga 8 Juli 1961 yaitu ketika organisasi ini meleburkan diri menjadi satu organisasi yang bersifat nasional dengan nama BP-4. Badan ini merupakan badan resmi pemerintah yang berdiri berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 85 tahun 1961 dan kedudukannya diperkuat dengan Keputusan Menteri Agama Nomor 30 tahun 1977. Dasar

26ABul Hasan Ali Ahmad al-Wahidi an-Nisaburi, al-Qasit fi Tafsir al-Qur`a nal-Majid

(Beirut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, 1994), III: 431. 27Departemen Agama, Ensiklopide Islam (Jakarta: Departemen Agama, 1989), hal. 9.

hukum BP-4 adalah Anggaran Dasar yang disahkan pada konferensi BP-4 ke IV di Jakarta tanggal 20 Desember 1976, dan berdasarkan pasal 13 Anggaran Dasar ditetapkan pula Anggaran Rumah Tangga yang pengesahannya dilakukan pada rapat pleno pusat tanggal 18 Mei 1977.

AD dan ART BP-4 yang merupakan hasil Musyawarah Nasional menjadi dasar pelaksanaan kegiatan BP-4 sendiri di seluruh Indonesia. Asas dan tujuan BP-4 tercantum pada Anggaran Dasar BP-4 bab II pasal 4 dan 5. Pasal 4 berbunyi “BP-4 berdasarkan Islam dan berdasarkan Pancasila”. Badan ini

adalah badan resmi yang dibentuk

pemerintah yakni Menteri Agama RI. Sedangkan pada Pasal 5 berbunyi bahwa tujuan BP-4 adalah mempertinggi mutu perkawinan dan mewujudkan rumah tangga bahagia dan sejahtera menurut ajaran Islam atau yang lebih dikenal dengan keluarga sakinah.28

Tujuan tersebut ditetapkaan dengan pertimbangan bahwa untuk mempertinggi mutu perkawinan dan mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera. Menurut ajaran Islam, diperlukan adanya usaha bimbingan yang berkesinambungan dari orang yang memiliki kriteria-kriteria sebagai konselor. Dengan demikian, apa yang menjadi tujuan dari pmbangunan nasional dapat terwujud dengan baik, yaitu membangun manusia Indonesia seutuhnya.

2. Sejarah Singkat BP-4

Akar-akar historis pembentukan BP-4 adalah ketika munculnya masalah-masalah pada akhir-akhir ini yang terkait dengan perkawinan dan keluarga tidak dapat dibendung lagi, seperti tingginya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga baik fisik maupun mental, kasus perkawinan sirri, perkawinan mut’ah, poligami, dan

(8)

[135] perkawinan di bawah umur.

Masalah-masalah tersebut secara langsung

berpengaruh terhadap eksistensi kehidupan sebuah keluarga. Oleh sebab itu, dan seiring dengan meningkatnya populasi penduduk dan keluarga, maka BP4 dibentuk sebagai lembaga konseling yang dapat mnyelesaikan persoalan-persoalan di atas.

Untuk mempertinggi mutu perkawinan guna mewujdukan keluarga sakinah menurut ajarana Islam, diperlukan bimbingan yang terus menerus dari para korps penasihat perkawinan dan mampu melaksanakan tugas pembangunan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera lahir dan batin.

Bahwa untuk membangun manusia Indonesis seutuhnya dan tercapainya tujuan tersebut diperlukan adanya organisasi yang baik dan teratur serta mampu menampung aspirasi masyarakat, sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan kemajuan bangsa. Tuntutan BP4 ke depan peran dan fungsinya tidak sekadar menjadi lembaga penasihatan tetapi juga berfungsi sebagai lembaga mediator dan advokasi. Selain itu BP4 perlu mereposisi organisasi demi kemandirian organisasi secara profesional, independent, dan bersifat profesi sebagai pengemban tugas dan mitra kerja Departemen Agama dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.

Dalam upaya merespons aspirasi

masyarakat sesuai dengan semangat

reformasi tugas Departemen Agama untuk menanamkan dan mengembangkan nilai ajaran Islam agar terlaksana dalam seluruh

kehidupan umat muslim sehingga

kesejahteraan material dan spiritual

senantiasa terus meningkta untuk mencapai

keluarga sakinahyang mencerminkan

kemitrasejajaran di antara suami misteri. Berdasarkan SK Menteri Agama Nomor 85 tahun 1961, BP-4 dikukuhkan

sebagai satu-satunya badan yang berusaha dalam bidang penasihatan dan penurunan angka perceraian. Kemudian berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 30 tahun 1977 tentang penegasan pengakuan BP-4 sebagai satu-satunya badan penunjang sebagian tugas departemen agama dalam

bidang penashatan perkawinan dan

perselisihan rumah tangga dan perceraian, maka kepnjangan BP-4 menjadi badan penasihatan perkawinan, perselisihan, dan perceraian. Berdasarkan Keputusan Munas BP-4 XII kepanjangan BP-4 diubah menjadi

Badan Penasihatan, Pembinaan, dan

Pelestarian Perkawinan sampai sekarang.29

3. Tujuan dan Fungsi BP-4

Sebagaimana yang telah disinggung di atas bahwa tujuan dibentuknya BP-4 adalah untuk mempertinggi mutu perkawinan dan sekaligus mewujudkan rumah tangga yang bahagia dan sejahtera menurut ajaran Islam atau yang lebih dikenal dengan keluarga sakinah.30

Tuntutan BP-4 ke depan, peran dan fungsinya tidak sekedar menjadi lembaga penasihatan tetapi juga berfungsi sebagai lembaga mediator dan advokasi. Selain itu, BP-4 perlu mereposisi organisasi demi kemandirian organisasi secara profesional, independen, dan bersifat profesi sebgai

pengemban tugas dan mitra kerja

Kementerian Agama dalam mewujudkan keluarga sakinah.

Berdasarkan pasal 6 Anggaran Dasar BP-4, terdapat beberapa fungsi dari BP-4 itu sendiri, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Memberikan bimbingan, penasihatan dan

penerangan mengenai nikah, talak, cerai,

29 Tim, Himpunan Peraturan

Perundang-Undangan Direktorat Jenderal Bimbingan

Masyarakat Islam dan Urusan Haji (Jakarta: Depag RI, 1993), hal. 291.

(9)

[136] rujuk kepada masyarakat baik perorangan maupun kelompok;

b. Memberikan bimbingan tentang peraturan

perundang-undangan yang berkaitan

dengan keluarga;

c. Memberikan bantuan mediasi kepada para

pihak yang berperkara di pengadilan agama;

d. Memberikan bantuan advokasi dalam

mengatasi masalah perkawinan, keluarga dan perselisihan rumah tangga di peradilan agama;

e. Menurunkan terjadinya perselisihan serta

perceraian, poligami yang tidak

bertanggung jawab, pernikahan di bawah umur dan pernikahan tidak tercatat;

f. Bekerjasama dengan instansi, lembaga

dan organisasi yang memiliki kesamaan tujuan baik di dalam maupun di luar negeri;

g. Menerbitkan dan menyebarluaskan

majalah perkawinan dan keluarga, buku, brosur dan media elektronik yang dianggap perlu;

h. Menyelenggarakan kursus calon atau

pengantin, penataran/pelatihan, diskusi, seminar dan kegiatan-kegiatan sejenis-yang berkaitan dengan perkawinan dan keluarga;

i. Menyelenggarakan pendidikan keluarga

untuk peningkatkan penghayatan dan

pengamalan nilai-nilai keimanan,

ketaqwaan dan akhlaqul karimah dalam rangka membina keluarga sakinah;

j. Berperan aktif dalam kegiatan lintas

sektoral yang bertujuan membina

keluarga sakinah;

k. Meningkatkan upaya pemberdayaan

ekonomi keluarga; dan

l. Upaya dan usaha lain yang dipandang

bermanfaat untuk kepentingan organisasi serta bagi kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga.

4. Mekanisme Konseling BP-4

Dalam melakukan konseling keluarga, BP-4 sebagai lembaga konseling belum memiliki ketentuan secara khusus mengenai mekanisme bimbingan dan konseling keluarga. Meskipun demikian, dalam hal melakukan bimbingan dan konseling keluarga, BP-4 secara umum menggunakan pokok-pokok program kerja BP-4 untuk periode 2009-2014. Dalam Pokja BP-4 tersebut, terdapat beberapa mekanisme bimbingan dan konseling keluarga yang dilakukan oleh BP-4 sendiri berdasarkan program kerja bidang. Diantara mekanisme konseling keluarga oleh BP-4 berdasarkan program kerja bidang tersebut adalah sebagai berikut:

1) Bidang pendidikan keluarga sakinah dan pengembangan SDM

Bidang ini melakukan mekanisme bimbingan dan konseling keluarga dengan beberapa langkah, yaitu sebagai berikut:

a) Menyelenggarakan orientasi Pendidikan

Agama dalam Keluarga, Kursus Calon Pengantin, Pendidikan Konseling untuk Keluarga, Pembinaan Remaja Usia

Nikah, Pemberdayaan Ekonomi

Keluarga, Upaya Peningkatan Gizi Keluarga, Reproduksi Sehat, Sanitasi Lingkungan, Penanggulangan Penyakit Menular Seksual (PMS) dan HIV/AIDS;

b) Menyiapkan kader motivator keluarga

sakinah dan mediator;

c) Menyempurnakan buku-buku pedoman

pembinaan keluarga sakinah.

2) Bidang Konsultasi Hukum dan Penasihatan Perkawinan dan Keluarga

Bidang ini melakukan mekanisme bimbingan dan konseling keluarga dengan beberapa langkah, yaitu sebagai berikut:

a) Meningkatkan pelayanan konsultasi

hukum, penasihatan perkawinan dan keluarga di setiap tingkat organisasi

(10)

[137]

b) Melaksanakan pelatihan tenaga mediator

perkawinan bagi perkaraperkara di Pengadilan Agama;

c) Mengupayakan kepada Mahkamah

Agung (MA) agar BP4 ditunjuk menjadi lembaga pelatih mediator yang

terakreditasi;

d) Melaksanakan advokasi terhadap

kasus-kasus perkawinan;

e) Mengupayakan rekruitmen tenaga

profesional di bidang psikologi, psikiatri, agama, hukum, pendidikan, sosiologi dan antropologi.

f) Menyusun pola pengembangan SDM

yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan BP4;

g) Menyelenggarakan konsultasi jodoh.

h) Menyelenggarakan konsultasi

perkawinan dan keluarga melalui telepon dalam saluran khusus (hotline), TV, Radio, Media Cetak dan Media elektronika lainnya;

i) Meningkatkan kerjasama dengan

lembaga lain yang bergerak pada bidang Penasihatan Perkawinan dan Keluarga;

j) Menerbitkan buku tentang Kasus-kasus

Perkawinan dan Keluarga.

3) Bidang Penerangan, Komunikasi, dan Informasi

Bidang ini melakukan mekanisme bimbingan dan konseling keluarga dengan beberapa langkah, yaitu sebagai berikut:

a) Mengadakan diskusi, ceramah,

seminar/temu karya dan kursus serta penyuluhan tentang:

o Penyuluhan Keluarga Sakinah;

o Peraturan-peraturan/Undang-undang

Perkawinan, Hukum Munakahat,

Kompilasi Hukum Islam (KHI), undang PKDRT dan undang-undang terkait lainnya;

o Pendidikan Keluarga Sakinah.

b) Meningkatkan kegiatan penerangan dan

motivasi Pembinaan Keluarga Sakinah melalui:

o Media cetak

o Media elektronikal

o Media tatap muka

o Media percontohan/keteladanan

c) Mengusahakan agar majalah Perkawinan

dan Keluarga dapat disebarluaskan kepada masyarakat.

d) Meningkatkan Perpustakaan BP4 di

tingkat Pusat dan Daerah. 4) Bidang Advokasi dan Mediasi

Bidang ini melakukan mekanisme bimbingan dan konseling keluarga dengan beberapa langkah, yaitu sebagai berikut:

a) Menyelenggarakan advokasi dan

mediasi;

b) Melakukan rekruitmen dan pelatihan

tenaga advokasi dan mediasi perkawinan dan keluarga;

c) Mengembangkan kerjasama fungsional

dengan MA, PTA dan PA.

5) Bidang Pembinaan Keluarga Sakinah, Pembinaan Anak, Remaja dan Lansia Bidang ini melakukan mekanisme bimbingan dan konseling keluarga dengan beberapa langkah, yaitu sebagai berikut:

a) Menjalin kerjasama dengan Pemerintah

Daerah, Kantor Kependudukan /BKKBN dan instansi terkait lainnya dalam

penyelenggaraan dan pendanaan pemilihan keluarga sakinah teladan;

b) Menerbitkan buku tentang Keluarga

Sakinah Teladan Tingkat Nasional.

c) Menyiapkan pedoman, pendidikan dan

perlindungan bagi anak, remaja, dan lansia;

Berdasarkan beberapa mekanisme bimbingan dan konseling keluarga BP-4 di atas, setidaknya mekanisme bimbingan dan konseling keluarga dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu: pertama, mekanisme bimbingan dan konseling yang

(11)

[138] dilakukan sebelum pernikahan; kedua, mekanisme bimbingan dan konseling yang dilakukan dalam proses pernikahan; dan ketiga, mekanisme bimbingan dan konseling yang dilakukan setelah pernikahan.

c. Problematika PeranBP-4 Sebagai

Marriage Counceling di Indonesia

Secara umum, problematika yang

dialami oleh BP-4 dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai lembaga konseling pada dasarnya berhubungan dengan tiga

aspek, yaitu (1) problematika yang

menyangkut substansi hukum, (2)

problematika yang menyangkut struktur hukum; dan (3) problematika yang menyangkut budaya hukum. Masing-masing probleatika tersebut dibahas secara detil dibagian bawah ini.

1. Problematika Pada Aspek Substansi Hukum

Dalam kaitannya dengan substansi hukum, maka kendala yang dihadapi oleh BP-4 sebagai lembaga konseling adalah belum adanya aturan khusus dan jelas dalam bentuk undang-undang mengenai keharusan

melakukan konseling disertai dengan

mekanisme atau proses konseling keluarga

itu sendiri. Akibat dari kekaburan

mekanisme konseling tersebut, maka BP-4

dalam melakukan konseling keluarga

berpedoman pada Tata Tertib BP-4. Di sisi lain, pentingnya peraturan perundangan, maka pembentukan undang-undang yang secara khusus mengatur tetang perlunya melakukan konseling keluarga beserta mekanismenya sangat diperlukan. Sebab, ketiadaan udang-undang tersebut menjadi kendala utama bagi BP-4 dalam

menyekenggarakn proses konseling

keluargadi Indonesia.

2. Problematika Pada Aspek Struktur Hukum

Adapun kaitannya dengan struktur hukum, maka secara umum kendala yang

dihadapi BP-4 adalah pertama menyangkut

kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)

anggota konselor; dan kedua menyangkut

sarana yang ada.

Kendala pertama yaitu menyangkut kualitas Sumber Daya Manusia anggota konselor merupakan aspek yang menyangkut tingkat pendidikan formal, pengalaman, pengetahuan, keahlian, dan kemampuan anggota konselor sendiri. Aspek pendidikan sangat menentukan mutu atau kualitas dari

seorang anggota konselor. Dengan

pendidikan yang dikuasainya akan memiliki kualitas yang baik karena dapat bertindak kearah yang tepat dalam rangka melakukan konseling terhadap pembentukan keluarga

sakinah, mawaddah dan rahmah

sebagaimana yang menjadi cita-cita ideal BP-4 secara umum.

Sementara kendala kedua yaitu

menyangkut sarana merupakan aspek yang menyangkut fasilitas kerja dan sarana kepustakaan yang dapat membantu wawasan dan pengetahuan anggota konselor. Dari segi fasilitas kerja, anggota konselor terkadang tidak memiliki fasilitas yang memadai, seperti perpustakaan, buku-buku tentang konseling keluarga, dan lain sebagainya. 3. Problematika Pada Aspek Budaya

Hukum

Problematika ketiga yag menjadi kendala BP-4 dalam melakukan konseling keluarga adalah tidak sinkronnya antara BP-4 itu sendiridengan pihak pemerintah setempat. Dalam arti kata, pemerintah telah menyiapkan lembaga konseling keluarga tetapi pihak pemerintah setempat jarang bahkan tidak pernah memberikan sosialisasi apalagi bekerjasama dengan pihak BP-4 setempat dalam rangka bersama-sama mewujudkan gerakan keluarga sakinah.

Keterputusan koordinasi antara BP-4 sebagai lembaga konseling keluarga di tingkat kecamatan dengan pemerintah desa

(12)

[139] dan dusun menyebabkan kendala bagi penyelenggaraan proses konseling keluarga. BP-4 berjalan dengan sendirinya tanpa koordinasi dengan pemerintah setempat. Demikian juga sebaliknya, pemerintah setempat, baik pemerintah desa maupun

pemerintah dusun tidak melakukan

komunikasi dengan pihak BP-4 dalam melakukan pemberdayaan pada masyarakat yang ada di wilayah pemerintahannya.

d. Optimalisasi PeranBP-4 dalam

Membentuk Keluarga Samara

Hukum Keluarga merupakan hukum yang berkaitan dengan pribadi atau individu yang meliputi hukum perkawinan, perceraian, keturunan, kewarisan, nafkah,

dan sebagainya.31 Dalam implikasinya yang

bersifat yuridis, hukum keluarga merupakan kumpulan aturan perundangan yang menata interaksi antara anggota-anggota keluarga yang muncul karea hubungan kekerabatan dan hubungan perkawinan yang mengikat

mereka.32 Perkawinan merupakan lembaga

yang digunakan untuk membangun

lembaga-lembaga keluarga yang selanjutnya

membentuk masyarakat, dan oleh karena itu, setiap lembaga perkawinan perlu diatur secara tertib agar memuculkan ketertiban

dalam masyarakat.33

Institusi keluarga merupakan inti masyarakat, peran-peran sosial, ekonomi, budaya, politik dan keagamaan terakomodir dalam kehidupan keluarga. Selain itu, keluarga mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas pada fungsi biologis selaku penerus keturunan saja, melainkan dalam

31Muh}ammad H{usayn az-Zahabi,

al-Syari>`ah al-Isla>miyyah: Dira>sah Muqa>ranah baina Maza>hib ahl Sunnah wa Mazhab al-Ja`fariyyah (Mesir: Maktabah Da>r al-Ta`li>f, 1968), hal. 18.

32Ahmad al-Khumayisyi, Al-Ta`li>q `Ala

Qa>nu al-Ah}wa>l al-Syakhsiyyah (Riyadh: Da>r al-Nasr al-Ma`rifah, 1994), I: 8-9.

33Mah}mud Syaltu>t, al-Isla>m, hal. 147-148.

bidang pendidikan keluarga meuapakan sumber pendidikan utama karena segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual manusia diperoleh pertama-tama dari orang

tua dan anggota keluarganya sendiri.34

Kata kunci (key words) dari kehidupan

keluarga adalah terciptanya kebutuhan dan

keserasian keluarga sehingga terbina

persatuan antar anggotanya. Maka dari itu, dibutuhkan i`tikad baik dan kesungguhan dalam membina dan memeperjuangkan kehidupan berkeluarga yang sakinah dengan penuh curahan cinta dan kasih sayang serta saling pengertian antar anggota keluarga.

Era modern saat ini merupakan era kompetisi dan persaingan yang melibatkan seluruh unsur kehidupan. Dalam konteks persiangan yang timpang, peranan keluarga sebagai unit terkecil dalam tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan sangatlah krusial skali adanya. Keluarga dalam hal ini akan menjadi benteng dari kondisi yang penuh dengan persaingan dan kompetisi global saat ini.

Di samping itu, kemajuan teknologi yang demikian pesat, khususnya dalam bidang informasi melalui media elektronika telah berhasil menyajikan tayangan-tayangan audio visual yang membawa dua efek sekaligus. Di satu sisi, kemajuan tersebut bisa memberikan kepada kita beragam jenis informasi di segala bidang yang sedikit banyak juga telah mendatangkaan kebaikan, keterbukaan mengenai segala macam jenis informasi, baik berskala regional, nasional, maupun internasional. Namun di sisi lain, kemajuan tersebut juga telah memberikan kepada kita mengenai beragam tayangan yang kurang sesuai dan pas.

Di tengah era globalisasi yang penuh dengan persaingan global seperti saat ini,

34Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Untuk

Keluarga, (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1999), hal. 1.

(13)

[140] dibutuhkan suatu lembaga dalam rangka ikut serat menjaga dan melestarikan kehidupan keluarga sebagai pilar utama dalam suatu masyarakat. Adanya ikut serta dari sebuah lembaga konseling keluarga disebabkan karena terjadinya perubahan nilai dalam setiap aspek kehidupan. Kaitannya dengan hal ini, menurut Dadang Hawari, terdapat enam penyebab terjadinya perubahan nilai

dalam kehidupan,35 yaitu sebagai berikut:

1. Pola hidup masyarakat dari yang semula

bersifat socio-religius telah cenderung berubah kearah yang bersifat masyarakat individual.

2. Dari pola hidup sederhana produktif

cenderung kearah pola hidup mewah dan konsumtif.

3. Struktur keluarga yang semula extended

family yang menampakkan ciri

kebersamaan dan kegotongroyongan

cenderung berubah ke arah struktur yang

bersifat Nuclear family dengan ciri

kehidupannya yang bersifat individual.

4. Hubungan keluarga yang semula erat dan

kuat cenderung menjadi longgar dan rapuh.

5. Nilai agama dan tradisi masyarakat

cenderung berubah menjadi modern yang bercorak sekuler.

6. Ambisi mengejar karir dan materi pribadi

yang semakin tertanam dalam setiap individu.

Di tengah perubahan nilai kehidupan,

tidak jarang suami-isteri menghadapi

berbagai macam konflik keluarga, dalam bentuk kekerasan dalam rumah tangga, maupun dalam bentuk yang lain. Di tengah inilah dibutuhkan peran serta dari pihak

ketiga yang iktu membantu dalam

mewujudkan keluarga yang bahagia dan utuh. Dalam kaitannya dengan hal ini, maka

35Dadang hawari, AL-Qur`an, Ilmu Kedokteran

Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (Yogyakarta: PT. Dana Prima Yasa, 1997), hal. 6.

keberadaan lembaga konseling keluarga yaitu BP-4 dirasakan urgen adanya. Sebab, BP-4 memiliki peran strategis dalam meningkatkan mutu perkawinan sekaligus sebagai pihak yang turut membangun keluarga utuh dan sebagai mediator atas setiap permasalahanyang dihadapi para anggota keluarga.

Dengan demikian, keberadaan BP-4 ini

sebagai lembaga konseling keluarga yang

dapat membentuk keluarga sakinah.

Sebagaimana diketahui bahwa tujuan pokok

dari perkawinan adalah membangun keluarga atau rumah tangga yang sakinah. Inilah yang menjadi tujuan ideal yang tercermin dari fungsi BP-4 tersebut.

C. Penutup Kesimpulan

BP-4 sebagai lembaga konseling perkawinan resmi di Indonesia di satu sisi memiliki peran yang penting dan besar dalam membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Namun di sisi lain, keberadaan BP-4 ini nampaknya masih belum maksimal. Hal tersebut dikarenakan oleh berbagai aspek, baik aspek substansi hukum, struktur hukum, maupun budaya

hukum. Dengan demikian, menurut

pemakalah, kedepan barangkali perlu adanya kerja sama yang maksimal antara BP-4 sebagai Lembaga Konseling Keluarga dengan Dinas Sosial dan BKKBN, atau dinas lain guna menciptakan keluarga yang sakinah, sejahtera, dan sehat. Di samping itu,

diperlukan juga Lembaga Konseling

Keluarga Non-Pemerintah sebagai mitra kerja BP-4 guna memaksimalkan tupoksi dari BP-4 sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ishaq Ibrahim bin Musa al-Sya>tibi,

(14)

al-[141] Ah}ka>m, Kairo: Da>r Rasyad al-Haditsah, t.t.

ABul Hasan Ali Ahmad al-Wahidi an-Nisaburi, al-Qasit fi Tafsir al-Qur`a nal-Majid, Beirut: Dar Kutub al-`Ilmiyyah, 1994.

Ahmad al-Khumayisyi, Al-Ta`li>q `Ala

Qa>nu al-Ah}wa>l al-Syakhsiyyah, Riyadh: Da>r al-Nasr al-Ma`rifah, 1994.

Al-Ghazali, Mus}tas}tfa min `Ilm

al-Us}u>l, Beirut: Da>r al-Fikr, t.t.

Dadang hawari, AL-Qur`an, Ilmu

Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Yogyakarta: PT. Dana Prima Yasa, 1997.

Departemen Agama, AL-QUr`an dan

Tafsirnya, YogyakartaL UII Press, t.t. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat

dan Penyelenggaraan Ibadah Haji, Membina Keluarga Sakinah, Jakarta: Depag RI, 2003.

Fakhr ar-Ra>zi, Tafsi>r al-Kabi>r, Tahran: Da>r al-Kutub al-`Ilmiyyah, t.t.

Fu`ad Abd. Al-Baqi, Mu`jam al-Mufahrasy li

Alfa>z al-Qur`a>n, Beirut: Da>r al-Fikr, 1981.

Haji Abdul alik Karim Amrullah, Tafsir al-Azhar, Jakarta: PT. Pustaka Panjimas, 1984.

Isma`il Raja l-Faruqi, At-Tawhid: It`s

Implications for Thought and Life, Virginia USA: International Institute of Islamic Thought, 1992.

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah:

Pesan dan Keserasian al-Qur`an, Jakarta: Lentera Hati, 2005.

Ma`lu>f, Munjid fi> Lighah wa al-A`la>m, Beirut: Da>r al-Musyri>q, 1997.

Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia,

Jakarta: Hida Karya, 1990.

Muh}ammad H{usain at}-T{abari,

Al-Mi>zan fi> Tafsi>r al-Qur`a>n,

Beirut: Muassasahal-A`lam

al-Mathbu`ah, 1973.

Muh}ammad H{usayn az-Zahabi,

al-Syari>`ah al-Isla>miyyah: Dira>sah Muqa>ranah baina Maza>hib ahl al-Sunnah wa Mazhab al-Ja`fariyyah, Mesir: Maktabah Da>r al-Ta`li>f, 1968.

Muh}ammad Tahir Ibn Asyur, Maqa>s}id

asy-Syari>`ah al-Isla>miyyah, Tunisia: Syarikah Tunisiyah, 1978.

Muhammad Kamal al-Din Imam, Is}u>l

al-Fiqh al-Isla>mi, Askandariyah: Da>r al-Mathbu`at al-Jami`ah, t.t.

Tim, Himpunan Peraturan

Perundang-Undangan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji, Jakarta: Depag RI, 1993.

Tim, Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Jakarta: Balai Pustaka, 1989.

Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Untuk

Keluarga, Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1999.

(15)

Referensi

Dokumen terkait

Indikator ini berdasarkan bagaimana jenis vlog yang ditonton akan mempengaruhi minat membuat jenis vlog tersebut atau tidak, misalnya responden menonton vlog

Berdasarkan data produksi perusahaan, maka tujuan dari proyek six sigma ini adalah mengurangi jumlah kecacatan yang timbul pada proses pembuatan keramik dengan

Pada perkara perceraian, seperti cerai gugat atau cerai talak, hakim wajib mendamaikan kedua belah pihak berperkara pada setiap kali persidangan. Jika kedua belah

Analisis regresi dimaksudkan untuk mengungkapkan adanya pengaruh antara variabel X (Partisipasi dalam Kegiatan MGMP) dan variabel Y (Kompetensi Profesional Guru

menurut Global Alliance Against in Woman (GGATW) mendefinisikan perdagangan manusia sebagai semua usaha atau tindakan yang berkaitan dengan perekrutan, pembelian, penjualan,

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan prevalensi kolonisasi kulit oleh bakteri potensial patogen penyebab IDO serta menganalisis apakah jenis kelamin,

Menjadi pertanyaan yang meng ge- lisahkan terhadap realitas kebangsa an mutakhir kita: apakah kita masih memiliki kedaulatan? Apakah jumlah utang luar negeri yang terus membengkak,

Proses Pendirian Pasar Tradisional sebagai Destinasi Pariwisata Kata “mendirikan” di dalam kamus besar bahasa Indonesia memiliki makna membuat atau membangun, sehingga sama