Vol. 2
0 No
. 1 (2002
) pp
12
19
PENGAWETAN KAY
U MANGIU
M SECAR
A RENDAMA
N
N
T BORO
N PENGAWE
N BAHA
PANAS-DINGIN DENGA
DAN CC
B
Treatment ofMangium
(Hot-cold Soaking
Wood Using
Boron and
CCB Preservatives)
Oleh/By:
Djarwanto da
n R
. Sudradja
t
SUMMARY
Wood materials
from plantation
timber, among
others is
mangium (Acaci
a mangiu
m Willd.)
are
overcome
expectedly be
situation can
organisms. This
the wood-degrading
susceptible to
be more
supposed to
by improving
wood durability
through a proper
preservation. Previous
study of
the preservation
of mangium
a complete
to provide
In order
boron preservative.
treatment, using
cold soaking
only by
wood was
practical
mangium by
of such
the preservation
to study
be necessary
it would
wood preservation,
guidance of
hot-ctild
(copper-chrome-boron) preservatives.
also CCB
boron but
not only
treatment with
Mangium wood
samples, after
reaching their
air-dry condition
in block-shaped
size measuring
5cm b)
CCB preservatives,
boron and
solution of
separately in
hot-cold soaking
treated by
100cm were
5cm by
varying at
consecutively 5
percent, 7,5
percent and
10 percent.
The treatment
in this
regard was
implementing
The durations
and temperatures.
soaking durations
regulation of
involved the
schedule, which
a particular
in
temperature
with the
and 3 hours,
2 hours
1 hour,
.strength were
each preservative
stage for
the hot-soaking
maintained at
65 to
70 "C.
In the
following cold-soaking
stage, the
durations were
fixed for
one day.
boron or
in either
hot-cold soaking
treated with
mangium wood
showed that
The results
CCB solution
being under
uses, i.e.
for indoor
only applicable
schedule was
such particular
and implementing
the roof
as CCB
as well
for boron
optimum strength
matter, the
In this
ground contact.
utilization without
preservatives was
10 percent
whereby the
durations of
hot-soaking stage
were from
one and
three hours,
day.
for one
cold-soaking stage
followed by
Key words:
Preservation, mangium,
boron and
CCB, hot-cold
soaking, preservative
strength
RINGKASAN
h rentan
i lebi
n diyakin
n tanama
i huta
Kayu dar
terhadap organism
e perusak
. Upay
a untu
k memperbai
M
mangium
m (Acacia
u mangiu
n kay
n pengaweta
. Penelitia
n pengawetan
n denga
t dilakuka
keawetannya dapa
Willd.) bar
u dilakuka
n secar
a rendaraa
n dingi
n menggunaka
n baha
n pengawe
t boron
. Untu
k melengkap
i
u
n perl
n panas-dingi
a rendaraa
m secar
u mangiu
n kay
n pengaweta
, penelitia
n kayu
s pangaweta
petunjuk tekni
dilakukan.
Kayu mangiu
m dala
m keadaa
n kerin
g udar
a berukura
n 5c
m x 5c
m x 100c
m diawetka
n denga
n baha
n
% da
, 7,5
i 5%
n konsentras
, denga
n (CCB)
n tembaga-khrora-boro
n golonga
n da
n boro
pengawet golonga
n
12
Bui. Pen
. Has
. Hut
. Vol
. 20
No. 1
(2002)
10%. secara rcndaman panas-ctingin. Pemanasan dilakukan selama 1, 2 dan 3 j a m , pada suhu 65-70 "C diikiiti dengan rendanian dingin selama satu haii.
Hasilnya inenunjukkan bahwa k a y u mangiujii hanya dapat diawetkan untuk pemakaian di bawali alap tanpa berliubungan dengan tanah, dengan bagan yang digunakan dalam penelitian ini. Kon.sentrasi yang dianjuikan meniakai bahan pengawet golongan boron dan golongan C C B adalali 10 %, dengan lama lendaman panas masing-masing satu j a m dan tiga j a m .
Kata kunci: Pengawetan, mangium, boron dan C C B , rendaman panas-dingin, konscntrasi bahan pengawet
I. PENDAHULUAN
^ Kayu mangium (Acacia mangium W i l l d . ) merupakan jenis yang dikembangkan
pada proyek hutan tanaman industri ( H T I ) untuk pulp dan kayu pertukangan. Pada saat ini jenis kayu tcrsebut sudah mulai digunakan dalam industri barang kerajinan dan inebei di daerah Cirebon dan sekitarnya, sebagai pengganti kayu j a t i . B i l a masyarakat sudah mengcnalnya, dipastikan akan digunakan untuk kayu perumahan dan gcdung. Razali dan H a m a m i (1992) melaporkan bahwa m o b i l merek Rolls-Royce menggunakaii
kayu mangium untuk panel bagian dalam sebagai pengganti kayu birch.
Keawetan alami kayu mangium tua relatif rendah, yaitu kelas I I I (Oey Djoen Seng, 1964). Kayu hasil H T I yang sudah mulai digunakan umurnya relatif muda schingga keawetan alaminya diduga akan lebih rendah dari kelas I I I . Hasil penelitian Martawijaya (1965) menunjukkan bahwa kayu j a t i dengan kelas awet I dicapai pada umur 93 tahun, sedangkan pada umur 20 dan 75 tahun kayu tersebut masing-masing tcrmasuk kelas awet I V dan I I . A k i b a t n y a , kayu mangium yang dipakai mebel dan barang kerajinan akan mudah discrang rayap kayu kering. K a y u yang dipakai perumah-an dperumah-an gedung yperumah-ang tidak terkena siramperumah-an air mudah diserperumah-ang rayap kayu kering dperumah-an rayap tanah, sedangkan yang terkena siraman air dapat diserang j a m u r pelapuk dan rayap tanah. A g a r umur pakainya bertambah panjang sebelum digunakan periu diawet-kan terlebih dahulu.
Penelitian pengawetan kayu mangium di Malaysia baru dilakukan oleh Schuman dan Lloyd (1998) dengan 5 % larutan Na2B80|3.4H20 ( D O T ) . Prosesnya dengan vakum scbesar 60 c m H g selama 30 menit dilanjutkan dengan perendaman selama 30 m c n i l dalam tekanan udara. Hasilnya belum memenuhi persyaratan untuk mencegah serangan rayap tanah, tetapi untuk organisme perusak lain nampaknya sudah memenuhi persya-ratan. D i Indonesia penelitian pengawetan kayu i n i baru dilakukan oleh A b d u r r o h i m dan Djarwanto (2000), secara rendaman d i n g i n menggunakan bahan pengawet golongan boron.
Bahan pengawet yang sudah diijinkan Menteri Pertanian untuk digunakan menga-wetkan kayu d i antaranya adalah golongan boron dan golongan tembaga-khrom-boron (CCB) ( A n o n i m , 1997). Proses pengawetan yang tercantum dalam S N I (Standar Nasional Indonesia) nomor 03-5010.1-1999 d i antaranya secara rendaman panas-dingin (Anonim, 1999). Karena belum ada data hasil penelitian bagan pengawetan untuk inelengkapi petunjuk teknis yang merupakan pelengkap standar tersebut, maka penelitian pengawetan kayu mangium secara rendaman panas d i n g i n perlu dilakukan.
Tujuan penelitian i n i yaitu untuk mengetahui pengaruh konsentrasi larutan dan lama rendaman panas dalam konsentrasi yang sama terhadap retensi dan penembusan bahan pengawet golongan boron dan C C B . Sasarannya adalah untuk mendapatkan
II
. BAHA
N DA
N
ME
TO
DE
Kayu yang digunakan adalah teras mangiu m (Acacia mangium Willd.) yan | berasal dar i Parun g Panjang , Jaw a Barat , denga n umu r poho n 1 1 tahu n da n diamet e batang rata-rata sebesar 31, 5 cm . Conto h uj i yan g digunaka n berukura n 5c m x 5cm: 100cm, sebanya k 18 0 buah . Baha n pengawe t yan g digunaka n terdir i dar i masin g masing satu jenis golongan boron dan satu jenis golonga n CCB . Golonga n boro n m e m punyai komposis i kimi a 35,52 % H3BO3, 35,52% Na2B4O7 .10 H2O dan 28,40% NajB O13.4 H2O , sedangkan golongan CCB mempunyai komposis i kimi a 34 % CuSO,, , 3 8 9i K.CYJOJ dan 25% H3BO3 (Anonim, 1997) . Semua contoh uji disimpa n pad a suh u kama r sampa i kerin g udar a da n kemudia i ditimbang. Setia p 1 0 conto h uj i ditumpu k d i dala m ba k perendama n yan g terbua t da i besi memaka i ganja l berpenampan g 2c m x 2cm. Laruta n baha n pengawet , masin g masing dengan konsentrasi 5% , 7,5 % da n 10% , dialirka n k e dala m ba k yan g b ed s tumpukan contoh uji tersebut . Laruta n da n conto h uj i dipanaska n pad a suh u 65-7 0 ° C masing-masing selama satu jam, du a ja m da n tig a jam . Pemana s dimatika n sehing g larutan menjadi dingi n da n conto h uj i dibiarka n terenda m selam a 2 4 jam . Conto h u j diangkat dar i ba k perendaman , kemudia n dibiarka n selam a sat u sampa i du a ja m s e belum ditimbang kembali. Retensi baha n pengawe t pad a setiap contoh uji dihitun g denga n rumu s berikut : R= B/ Vx K di mana : R = retensi baha n pengawe t (kg/m') , B = selisih berat conto h uj i sebelu m dan sesudah diawetkan (kg), V = volume contoh uji (m^) , K = konsentrasi laruta n baha n pengawe t (%) . Untuk mengukur dalamny a penembusa n baha n pengawet , setia p conto h uj i d i potong melintang pada bagian tengahnya, setela h dibiarka n selam a du a mingg u p a d; suhu kamar. Pad a sala h sat u bidan g poton g dilaburka n pereaks i sebaga i berikut : • Pereaks i A ; 2 g ekstra k kurkum a dala m 100m l alkoho l • Pereaks i B : 2 0 m l alkoho l + 30ml HC l da n dijenuhka n denga n asa m salisilat . Adanya boron ditunjukkan oleh perubahan warna menjadi mera h jamb i (Martawijaya dan Abdurrohim, 1984) . Pad a bagia n tenga h setia p sis i diuku r dalamny a penembusan, da n nila i penembusa n merupaka n rata-rat a dar i empa t kal i pengukura i tersebut. 14 Bui. Pen . Has , Hut . Vol . 2 0 No . 1 (2002^ Analisis data untuk melihat pengaruh konsentrasi larutan dan lama rendaman 'panas dalam konsentrasi larutan yang sama, terhadap retensi dan penembusan boron
menggunakan rancangan klasifikasi tersarang (Steel dan Torrie, 1960). Apabila
konsentrasi larutan dan lama rendaman panas dalam konsentrasi larutan yang sama berpengaruh nyata, maka harga rata-ratanya dibandingkan dengan nilai nyata jujur menggunakan prosedur Tukey.
I Untuk menentukan bagan pengawetan yang dianjurkan, hasil retensi dan penem-busan bahan pengawet pada sembilan contoh uji dari setiap bagan pengawetan harus mencapai persyaratan minimumnya. Apabila dalam setiap jenis bahan pengawet diper-oleh lebih dari satu bagan pengawetan yang mencapai persyaratan minimum retensi dan penembusan, maka bagan pengawetan yang dianjurkan adalah dengan lama rendaman panas terpendek.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan retensi dan penembusan bahan pengawet golongan boron dan
CCB, berupa nilai rata-rata dari sepuluh ulangan, tercantum pada Tabel 1. Sidik
ragam-nya tercantum pada Tabel 2.
Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa konsentrasi larutan berpengaruh sangat nyata terhadap retensi kedua golongan bahan pengawet, tetapi terhadap penembusannya tidak berpengaruh nyata. Lama rendaman panas dalam konsentrasi larutan yang sama tidak berpengaruh nyata terhadap retensi dan penembusan kedua golongan bahan
penga-wet. Nilai beda nyata jujur retensi pada tingkat nyata 5 % (WQ.OS) untuk konsentrasi
larutan bahan pengawet golongan boron sebesar 6,1 kg/m^, sedangkan untuk golongan
CCB sebesar 1,5 kg/ml
Peningkatan konsentrasi larutan dari 5 % menjadi 7 , 5 % dan 1 0 % serta dari 7 , 5 %
menjadi 1 0 % dapat meningkatkan retensi bahan pengawet C C B secara nyata. Pada
bahan pengawet golongan boron hal tersebut terjadi hanya pada penambahan
konsen-trasi larutan dari 5 % menjadi 10%. Hasil penelitian Abdurrohim ( 1 9 9 7 ) dengan metode
yang sama menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi larutan dari 5 % menjadi 1 0 %
dapat meningkatkan retensi bahan pengawet golongan CCB secara nyata pada tiga jenis kayu dari tujuh jenis yang diteliti, sedangkan pada bahan pengawet golongan boron terjadi pada lima jenis. Untuk itu pengaruh konsentrasi larutan masih perlu dilakukan dalam penelitian pengawetan karena menghasilkan respon yang berbeda pada jenis kayu berlainan.
Penambahan lama rendaman panas tidak berpengaruh terhadap retensi dan
penem-busan kedua golongan bahan pengawet. Hasil penelitian Abdurrohim ( 1 9 9 7 )
menunjuk-kan bahwa lama rendaman panas berpengaruh sangat nyata terhadap retensi bahan pengawet CCB pada enam jenis kayu dari tujuh jenis yang diteliti yaitu damar, rengas, sengon, sumpung, suren dan tusam, sedangkan pada satu jenis kayu .yaitu melina cenderung terjadi penurunan retensi yang diduga disebabkan oleh pemakaian contoh uji yang tidak seragam. Namun, dari perbedaan tersebut patut pula diduga bahwa jenis kayu yang berbeda dapat memberikan reaksi berlainan terhadap suatu jenis bahan pengawet.
dingin'*
Average of
Table 1.
retention and
penetration of
boron and
CCB preservatives
soaking process'^
using hot-cold
mangium wood
inside the
Konsentrasi
Lama perendama
n panas
^
Bahan pengawe
t (Woodpreservatives)
t
bahan pengawe
(Preservative
(Duration of
hot-
f\
soaking
Golongan boro
n (Boron
group) Golonga
n CC
B (CCB
group)
concentration),
%
jam (hours)
Retensi Penembusa
n
(Retention), (Penetration),
kg/m' m
m
Retensi
(Retention),
kg/m'
Penembusa
(Penetration
mm
5
1
23
5,7
8,5
8,1
20,3
20,9
21,0
4,0
4,8
4,2
15,3
14,8
15,5
7,5
Rata-rata (Mean
)
1
23
7,4
7,8
13,5
9,3
20,719,3
22,9
20,1
4,3
5,7
6,2
7,0
15,212,1
11,4
13,6
10
Rata-rata (Mean
)
1
23
10,211,2
16,5
14,6
20,8
18,7
20,2
22,3
6,37,3
7,8
8,7
12,413,1
16,3
15,2
Rata-rata (Mean
)
14,1
20,4
7,9 14,91) Rata-rat
a dar
i 10
ulangan (Average
of 10
replicates)
n dingi
n perendama
i denga
a diikut
2) Sesudahny
n selam
a sat
u har
i (Afterwards
followed by
cold soaking
for
one day)
Tabel 2
. Sidi
k raga
m retens
i da
n penembusa
n baha
n pengawe
t boro
n da
n CC
B
and penetration
CCB retention
boron and
variance for
Analysis of
Table 2.
Kuadrat tenga
h (Mean
square)
F |„,un
e (F„to,w
)
Sumber keragama
n Retens
i Penembusa
n Retens
i Penembusa
n
(Penetration)
(Penetration) (Retention)
variation) (Retention)
(Source of
Boron CC
B Boro
n CC
B Boro
n CC
B Boro
n CC
B
Konsentrasi (Concenfraf/on
) 2
338,19 98,18
8 1,31
2 72,84
4 17,253*
* 23,24
" 0,08
4 2,0
1
1 0,3
0 1,47
8 0,9
0 3,06
7 13,82
0 22,84
60,14 3.82
m 6
s dala
n pana
Lama rendama
8
a
g sam
konsentrasi yan
(Hot soaking
period within
the
same concentration)
Ulangan dala
m lam
a rendama
n 8
1 19,6
0 4,22
5 15,53
3 36,25
1
a (Replication
g sam
panas yan
within the
same hot
soaking
period)
Jumlah (Total)
89
Keterangan (Remark):
** Sanga
t nyat
a (Highly
significant)
16
Bui. Pen
. Has
. Hut
. Vol
. 2
0 No
. 1
(2002)
Bahan pengawet golongan boron hanya dianjurkan untuk mengawetkan kayu yang dipakai di bawah atap tanpa berhubungan dengan tanah, termasuk mebel dan barang kerajinan, karena mudah luntur bila tersiram air. Bahan pengawet boron yang sudah masuk dalam kayu tidak dapat terikat oleh lignin dan isi sel karena tidak mengandung khrom. Persyaratan retensi dan penembusan bahan pengawet golongan boron dengan komposisi seperti yang digunakan dalam penelitian ini untuk pemakaian kayu di bawah atap tanpa berhubungan dengan tanah masing-masing 8,5 kg/m^ dan 10 mm (Abdurrohim, 1996).
Persyaratan retensi untuk pemakaian kayu di bawah atap tanpa berhubungan dengan tanah untuk bahan pengawet golongan boron, dicapai pada konsentrasi larutan 5% dan 7,5% dengan lama rendaman dua jam, dan konsentrasi 10% dengan lama rendaman satu jam. Rata-rata besarnya retensi yang dicapai masing-masing konsentrasi
tersebut yaitu 8,5 kgW, 13,5 kg/m^ dan 11,2 kg/m^. Dari segi efisiensi waktu maka
pada konsentrasi 10% adalah yang memerlukan waktu terpendek, sehingga bagan yang dianjurkan untuk mengawetkan kayu mangium secara rendaman panas dingin dengan senyawa boron ialah pada konsentrasi 10% dengan lama rendaman panas satu jam, dilanjutkan dengan rendaman dingin selama satu malam.
Untuk bahan pengawet golongan CCB, persyaratan retensi untuk pemakaian kayu di bawah atap dan di udara terbuka tanpa berhubungan dengan tanah masing-masing 8,2 kg/m^ dan 11,3 kg/m^, dengan penembusan 5 mm (Anonim, 1999). Pada penelitian ini, persyaratan tersebut dicapai pada konsentrasi 10% dengan lama rendaman panas tiga jam, namun masih belum diperoleh bagan pengawetan yang diharapkan karena ada tiga contoh uji yang retensinya kurang dari syarat yang ditetapkan dalam SNI. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh banyaknya mata kayu pada contoh uji tersebut, di mana pada bagian itu terjadi penyempitan pembuluh atau penyumbatan pori, sehingga menghambat masuknya bahan pengawet, dan menyebabkan perbedaan retensi yang cukup besar antar contoh uji pada konsentrasi dan lama rendaman panas yang sama. Oleh karena itu, bagan yang dianjurkan untuk mengawetkan kayu mangium dengan bahan pengawet CCB secara rendaman panas-dingin yaitu pada konsentrasi 10% dengan pemanasan selama 3 jam, dilanjutkan rendaman dingin selama satu hari, dengan syarat kayu yang dipakai tidak mengandung banyak mata kayu.
Bahan pengawet yang dipakai mengawetkan kayu barang kerajinan tidak boleh merubah warna asli kayunya dan tidak menyebabkan iritasi. Dari dua jenis bahan pengawet ini hanya golongan boron yang dapat digunakan. Persyaratan retensi bahan pengawet untuk kayu yang dipakai barang kerajinan masih mengacu kepada persyaratan untuk kayu bangunan perumahan dan gedung yang dipakai di bawah atap tanpa berhubungan dengan tanah. Bagan pengawetan yang dianjurkan sama dengan yang dianjurkan untuk kayu yang dipakai di bawah atap tanpa berhubungan dengan tanah.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, bagan pengawetan yang dianjurkan untuk kayu sengon yang diawetkan secara rendaman panas-dingin dengan bahan pengawet golongan boron yang memiliki komposisi sama, yaitu pada konsetrasi 10% dengan lama rendaman panas satu jam diikuti rendaman dingin selama satu hari (Abdurrohim, 1997), sedangkan dengan proses rendaman dingin saja memerlukan waktu 5 hari dengan
dingin denga
n campura
n borak
s da
n asa
m bora
t (1:1,54
) memerluka
n konsentras
i 10
%
i yan
n retens
k mendapatka
. Untu
, 2000)
n Djarwanto
m da
hari (Abdurrohi
selama 5
g
n
u dibandingka
t wakt
t mempersingka
n dapa
a panas-dingi
n secar
disyaratkan, pengaweta
dengan rendama
n dingin
.
IV. KESIMPULA
N DA
N SARA
N
h sanga
n berpengaru
i laruta
1. Konsentras
t nyat
a terhada
p retens
i baha
n pengawe
t
p penembusannya
h terhada
k berpengaru
i tida
, tetap
n CCB
n da
golongan boro
.
a
h nyat
k berpengaru
a tida
g sam
i yan
m konsentras
s dala
n pana
Lama rendama
terhadap retens
i da
n penembusa
n kedu
a baha
n pengawet
.
n pengawe
n baha
n denga
g diawetka
m yan
u mangiu
2 Kay
t golonga
n boro
n da
n
k
a coco
, hany
n ini
m penelitia
n dala
g digunaka
n yan
n baga
B denga
golongan CC
untuk dipaka
i di
bawah ata
p tanp
a berhubunga
n denga
n tanah
. Konsentras
i yan
g
n pana
a rendama
n lam
, denga
u 10%
t yait
n pengawe
a baha
a kedu
dianjurkan pad
s
.
a jam
n tig
m da
u ja
masing-masing sat
DAFTAR PUSTAK
A
. Pengaweta
. 1996
Abdurrohim, S
n tuju
h jeni
s kay
u secar
a rendama
n dingi
n denga
n
l Huta
n Hasi
n Penelitia
. Buleti
t CKB
n Imprali
P da
t 16S
t Imprali
bahan pengawe
n
.
14(10): 467-479
. 1997
. Pengaweta
n tuju
h jeni
s kay
u secar
a rendama
n pana
s dingi
n
n Hasi
n Penelitia
. Buleti
t CKB
n Imprali
P da
t 16S
t Imprali
n pengawe
dengan baha
l
.
: 312-322
Hutan 15(4)
Abdurrohun, S
. da
n Djarwanto
. 2000
. Pengaweta
n kay
u mangiu
m (Acacia
mangium
n Penelitia
. Buleti
a boron
n senyaw
n denga
n dingi
a rendama
Willd.) secar
n Hasi
l
.
: 19-26
Hutan 18(1)
Anonim. 1997
. Pestisid
a untu
k Pertania
n da
n Kehutanan
. Direktora
t Perlindunga
n
.
, Jakarta
n Pangan
n Tanama
l Pertania
t Jendra
. Direktora
Tanaman Pangan
. 1999
. Pengaweta
n kay
u untu
k perumaha
n da
n gedung
. Standa
r Nasiona
l
Indonesia (SNI
) 03-5010.1-1999
. Bada
n Sandardisas
i Nasional
. Jakarta
.
. Lapora
u jati
n kay
p keaweta
n terhada
r poho
h umu
. Pengaru
. 1965
Martawijaya, A
n No
.
.
, Bogor
l Hutan
n Hasi
a Penelitia
98. Lembag
Martawijaya, A
. da
n S
. Abdurrohim
. 1984
. Spesifikas
i Pengaweta
n Kay
u untu
k
, Bogor
l Hutan
n Hasi
n Pengembanga
n da
t Penelitia
. Pusa
i ketiga
Perumahan. Edis
.
18
Bui. Pen
. Has
. Hut
. Vol
. 20
No. 1
(2002)
Oey Djoen Seng. 1964. Berat jenis dari jenis-jenis kayu Indonesia dan pengertian beratnya untuk keperluan praktek. Pengumuman No, 1. Lembaga Penelitian Hasil Hutan Bogor.
Razali, A.K. and S.M. Hamami. 1992. Processing and utilization of Acacia'i focussing
on Acacia mangium. Proceeding of a first meeting of the Consultative Group for
Reseach and Development of Acacia's (COSRIDA). Phuket.
Shoeman, M.W. and D.J. Lloyd. 1998. Borate wood preservative and their suitability for
the industrial pretreatment of Acacia mangium. International Conference on
Acacia species. Wood Properties and Utilization Acacia 98. Universiti Sains
Malaysia (USM), Penang. Japan International Research Center for Agricultural Sciences (JIRCAS), Tsukuba.
Steel, R.G.D. and J.H. Torrie. 1960. Principle and procedures of statistic. McGraw-Hill book Co. Inc. New York, Toronto, London.