• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PELAYANAN KONSELING. Galuh Wijayanti 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PELAYANAN KONSELING. Galuh Wijayanti 1"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PELAYANAN KONSELING

Galuh Wijayanti1

Abstrak: Seiring dengan kemajuan bangsa Indonesia, semakin tampak bahwa pendidikan karakter menjadi kebutuhan nyata dan mendesak dalam pembangunan pendidikan nasional. Satuan pendidikan merupakan pilar dalam mengemban misi nasional pengembangan karakter. Peranan satuan pendidikan diharapkan dapat menjadi leading sector, memanfaatkan dan memberdayakan semua komponen untuk menginisiasi, memperbaiki, menguatkan dan menyempurnakan secara terus menerus pendidikan karakter, Pelayanan konseling sebagai salah satu komponen dari satuan pendidikan secara fungsional memiliki arti strategis, apabila dikelola secara baik akan dapat memberi kontribusi yang signifikan pada pembentukan karakter peserta didik. Pendidikan karakter dalam pelayanan konselmg mengembangkan aspek kehidupan pribadi, sosial, belajar dan karir peserta didik melalui kegiatan individual, kelompok, klasikal, lapangan dan pendekatan khusus. Strategi pendidikan dilakukan melalui intervensi dan habituasi secara terprogram, rutin, spontan maupun keteladanan. Dengan intervensi dan habituasi tersebut akan mampu mendorong peserta didik membiasakan diri berperilaku sesuai nilai dan menjadikan perangkat nilai untuk diinternalisasikan sebagai karakter. Diharapkan melalui pendidikan karakter dalam pelayanan konseling, dapat mengembangkan potensi dan membentuk perilaku positif peserta didik.

Kata kunci: Pendidikan Karakter, Pelayanan Konseling

PENDAHULUAN

Era Globalisasi yang ditandai oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak pada seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bereegara. Dalam era seperti ini jika kita menutup diri akan terkucil dalam pergaulan dunia, sebaliknya jika kurang waspada akan menyebabkan lunturnya kepribadian bangsa. Untuk itu langkah-langkah memperkuat dan memperkokoh karakter, perlu diintensifkan.

Mengacu pada pendapat Thomas Lickona (1992), sepuluh tanda kerusakan zaman yang harus

diwaspadai adalah: (1) meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, (2) penggunaan bahasa dan kata yang tidak baik, (3) pengaruh peer group yang kuat, (4) meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk (6) menurunnya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat terhadap orangtua, (8) rendahnya tanggung jawab individu dan warga negara, (9) budaya ketidakjujuran dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian antar sesama. Dalam keseharian sepuluh tanda tersebut

(2)

tidaklah sulit kita temukan, sebaliknya intensitas dan frekuensinya terus mengalami peningkatan.

Seiring dengan kemajuan bangsa Indonesia dan untuk menjawab permasalahan diatas, semakin tampak pentingnya pendidikan karakter sebagai agenda utarna dalam pembangunan bangsa, termasuk di bidang pendidikan. Maraknya persoalan moral di masyarakat, lebih menegaskan bahwa pendidikan karakter menjadi sebuah kebutuhan nyata dan mendesak. Peranan satuan pendidikan diharapkan dapat menjadi pilar yang mampu mengemban misi nasional dalam mengembangkan karakter. Karakter tersebut tidak dapat dikembangkan secara cepat dan segera atau instan, melainkan harus melewati suatu proses yang panjang, terprogram, cermat, sistemik dan berkesinambungan. Berdasarkan perspektif perkembangan peniikiran manusia, pendidikan karakter hams dilaksanakan berdasarkan tahap-tahap perkembangan anak sejak usia dini sampai dewasa.

Dalam mencapai tujuan pembentukan karakter tersebut, harus ditopang oleh pilar yang kuat baik oleh satuan pendidikan, keluarga maupun masyarakat. Dalam setiap pilar, seluruh komponen dan unsur yang terlibat hams memiliki komitmen yang tinggi terhadap pendidikan karakter dimaksud. PENDIDIKAN KARAKTER

Secara ideologis pembangunan karakter merupakan upaya mengejawantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa. Dari aspek

normatif pembangunan karakter adalah wujud nyata langkah mencapai tujuan negara seperti tercantum dalam alenia keempat pembukaan UUD 1945. Komitmen nasional tentang perllunya pendidikan karakter tertuang dalam UndangUndang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003, dalam pasal 3 dinyatakan "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Strategi pendidikan dan pengembangan nilai-nilai karakter di satuan pendidikan dapat melalut proses intervensi dan habituasi. Intervensi adalah proses pendidikan karakter yang dilakukan secara formal, dikemas dalam interaksi pembelajaran melalui kegiatan terstruktur sehingga melahirkan dampak instruksional dan dampak pengiring. Sedang habituasi adalah proses peneiptaan berbagai situasi, kondisi dan penguatan yang memungkinkan peserta didik membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nilai dan menjadikan perangkat nilai untuk diinternalisasikan sebagai karakter.

Pendidikan karakter dilaksanakan melalui proses pembudayaan dan pemberdayaan yang mencakup pemberian contoh, pembelajaran, pembiasaan dan penguatan yang harus dikembangkan secara sistemik, holistik dan dinamis oleh seluruh komponen satuan

(3)

pendidikan. Salah satu komponen sekolah yang memiliki posisi strategis dalam pengembangan karakter peserta didik adalah pelayanan konseling. Karakter Ideal yang Dikembangkan

Pertanyaan selanjutnya yang ingin dijawab adalah seperti apakah karakter ideal yang harus dikembangkan? Berikut adalah karakter ideal yang dijiwai kelima sila Pancasila secara utuh dan komprehensif dalam pembangunan karakter bangsa (Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025):

a. Berketuhanan Yang Maha Esa Berketuhanan Yang Maha Esa adalah bentuk kesadaran dan perilaku iman dan taqwa serta akhlak mulia sebagai karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Karakter Berketuhanan Yang Maha Esa tercermin antara lain: hormat dan bekerja sama dengan pemeluk agama lain, saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama.

b. Menjunjung Tinggi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sikap dan perilaku menjunjung tinggi kemanusian yang adil dan beradab diwujudkan dalam perilaku saling menghormati antar warga negara. Karakter kemanusiaan seseorang tercermin dalam pengakuan atas persamaan derajat, hak dan kewajiban saling mencintai, tenggang rasa, tidak semena-mena, gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, berani membela kebenaran dan keadilan

merasakan dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.

c. Mengedepankan Persatuan dan Kesatuan bangsa

Komitmen dan sikap yang selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan diatas kepentingan pribadi atau golongan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Karakter kebangsaan tercermin dalam sikap menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa di atas kepentingan lain. d. Mengedepankan Keadilan dan

Kesejateraan

Karakter keadilan dan kesejahteraan tercermin dalam sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong royongan, sikap adil, menjaga keharmonisan antara hak dan kewajiban, suka bekerja keras, menghargai karya orang lain. e. Demokratis dan Menjunjung Tinggi

Hukum dan Hak Asasi Manusia Karakter seseorang tercermin dalarn perilaku yang tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, mengutamakan musyawarah dan mufakat dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Beritikat baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan bersama, menggunakan akal sehat dan nuram luhur, berani mengambil keputusan secara moral yang dapat dipertanggung jawabkan pada Tuhan serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

(4)

Pelayanan Konseling

Pengakuan bahwa pelayanan konseling merupakan bagian integral dalam proses pendidikan telah dikukuhkan oleh pemerintah melalui Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Di dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa unsur kurikulum pada satuan pendidikan memuat tiga komponen, yaitu mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri. Salah satu komponen pengembangan diri adalah kegiatan pelayanan konseling yang difasilitasi oleh guru pembimbing atau konselor.

Pelayanan konseling merupakan usaha membantu peserta didik dalam mengembangkan aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Pelayanan konseling diselenggarakan untuk memfasilitasi pengembangan peserta didik dengan cara individual, kelompok maupun kiasikal sesuai dengan kebutuhan, potensi peserta didik serta membantu mengatasi permasalahan dan hambatan yang dihadapi peserta didik melalui berbagai jenis kegiátan pokok maupun kegiatan pendukung. Bidang Pelayanan konseling meliputi:

a. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai dan mengembangkan potensi, kecakapan, bakat, minat sesuai dengan karakteristik, kepribadian dan kebutuhan diri secara realistik. b. Pengembangan kehidupan sosial,

yaitu bidang pelayanan yang

membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. c. Pengembangan kehidupan belajar,

yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah dan belajar secara mandiri.

d. Pengembangan kehidupan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi serat memilih dan mengambil keputusan.

Sedangkan fungsi dari pelayanan konseling adalah sebagai berikut:

a. Pemahaman, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memahami diri dan lingkunganya.

b. Pencegahan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu mencegah atau menghindarkan diri dan berbagai permasalahan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.

c. Pengentasan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mengatasi permasalahan yang dihadapi. d. Pemeliharaan dan pengembangan,

yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memelihara dan menumbuh kembangkan berbagai potensi dan kondisi positif yang

(5)

dimiliki.

e. Advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh pembelaan atau hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat perhatian.

Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pelayanan Konseling

Seperti telah disebutkan diatas, bahwa strategi pengembangan karakter dapat melalui intervensi dan habituasi, demikian pula proses pendidikan karakter dalam pelayanan konseling. Adapun format kegiatan pendidikan karakter dalam pelayanan konseling dapat dilakukan dengan cara:

a. Individual, yaitu format kegiatan yang melayani peserta didik secara perorangan berupa layanan konseling individual dan layanan konsultasi.

b. Kelompok, yaitu format kegiatan yang melayani sejumlah peserta didik melalui suasana dinamika kelompok, berupa bimbingan kelompok dan konseling kelompok. c. Kiasikal, yaitu format kegiatan yang melayani sejumlah peserta didik dalam satu kelas, berupa; layanan orientasi, layanan informasi, layanan penguasaan kontens.

d. Lapangan, yaitu format kegiatan yang melayani seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau lapangan, berupa outbond latihan kepemimpinan dan lainnya.

e. Pendekatan Khusus, yaitu format kegiatan yang melayani

kepentingan peserta didik melaui pendekatan kepada pihak yang dapat memberikan kemudahan berupa layanan mediasi dan sejenisnya.

Sasaran pendidikan karakter yang dikembangkan dalam pelayanan konseling antara lain:

a. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai keimanan dan ketaqwaan pada Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki sikap toleransi terhadap agama lain. b. Memiliki pemahaman dan sikap positif tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara anugerah dan musibah, mampu meresponnya secara wajar, sehat dan rasional.

c. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara obyektif dan konstruktif baik yang terkait dengan kelebihan maupun kekurangannya.

d. Memiliki kepedulian, respek dan tanggung jawab pada diri orang lain dan lingkungannya yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas dan kewajibannya.

e. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan dan persaudaraan antar sesama.

f. Memiliki kemampuan mengelola dan menyelesaikan konflik baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun eksternal atau berhubungan dengan orang lain.

(6)

g. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan dan mengambil keputusan secara efektif.

h. Memiliki motivasi berprestasi, sportif, kreatif dan berkompetisi secara sehat.

i. Memiliki ketrampilan untuk menetapkan tujuan dan membuat perencanaan dan melaksanakannya dengan konsisten.

j. Dapat dipercaya, disiplin , percaya diri, bekerja keras mampu bekerja sama dan menjunjung norma, etika yang berlaku.

Adapun bentuk-bentuk pelaksanaan pendidikan karakter dalam pelayanan konseling meliputi:

1. Kegiatan secara terprogram, dilaksanakan dengan perencanaan khusus dalam kurun waktu tertentu secara individual, kelompok dan kiasikal berupa: layanan orientasi, infonnasi, penguasaan kontens, penempatan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, konseling individual, layanan konsultasi maupun konsultasi.

2. Kegiatan tidak terprogram, meliputi:

a. Rutin, yaitu yang dilakukan terjadwal seperti: upacara bendera, ibadah bersama, senam, pemeliharaan kebersihan, kesehatan diri dan lainnya. b. Spontan, adalah kegiatan tidak

terjadwal dalam kegiatan tertentu seperti: pembentukan perilaku memberi salam, membuang sampah pada tempatnya, antri, bermufakat

dan lainnya.

c. Keteladanan, adalah kegiatan dalam bentuk perilaku sehari-hari seperti; berpakaian rapi, berbahasa baik, rajin membaca, memuji kebaikan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu dan lainnya.

Pelaksanaan pelayanan konseling di sekolah dituntut mampu menciptakan iklim kehidupan yang kondusif bagi perkembangan peserta didik. Kondusif atau tidaknya iklim kehidupan tersebut, tersimpul dalam interaksi antar guru dengan siswa, siswa dengan siswa, keteladanan perilaku guru dan pelaksanaan peraturan yang diberlakukan. Proses pelayanan konseling yang tidak mengembangkan demokratisasi pendidikan, cenderung menekankan indoktrinasi tanpa suatu argumentasi akan menghambat perkembangan kepribadian remaja.

Penerapan sistem punishment,

reward dan reinforcement hendaknya

dilakukan secara proporsional sehingga mampu memotivasi peserta didik untuk mengembangkan potensi dan membentuk perilaku yang positif. Kerjasama dan semua unsur sekolah dalam pengembangan karakter peserta didik, mutlak diperlakukan, agar secara stimulan dapat mencegah peserta didik berperilaku negatif dan mendorong untuk berperilaku positif dan produktif. Ini memberi implikasi imperatif perlunya pendampingan pada peserta didik dalam memilah dan memilih nilai yang akan dijadikan pegangan hidup sehingga mampu melakukan

(7)

pertimbangan (reasoning), menentukan pilihan (choise) dan mengambil keputusan (decision making) secara sehat dan rasional berdasarkan nilai-nilai positif.

Agar pelaksanaan pendidikan karäkter melalui pelayanan konseling dapat mencapai sasaran, diperlukan sosok utuh seorang guru pembimbing atau konselor. Sosok utuh kompetensi konselor mencakup kompetensi akademik, profesional, kepribadian dan sosial. Unjuk kerja guru pembimbing atau konselor dalam melaksanakan pendidikan karakter, sangat dipengaruhi oleh kualitas penguasaan keempat kompetensi tersebut.

SIMPULAN

Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Sebagai salah satu komponen sekolah, pelayanan konseling memiliki posisi strategis dalam pengembangan pendidikan karakter.

2. Pendidikan karakter dalam pelayanan konseling dilaksanakan melalui proses intervensi dan habituasi mencakup empat bidang bimbingan: pribadi, sosial, belajar dan karir.

3. Format kegiatan pendidikan karakter dalam pelayanan konseling meliputi individual, kelompok, kiasikal, lapangan dan pendekatan khusus dilakukan dengan bentuk kegiatan terprogram, rutin, spontan dan keteladanan.

Berdasarkan simpulan tersebut, maka saran yang peneliti sampaikan adalah sebagai berikut:

1. Lingkungan satuan pendidikan agar mengkondisikan lingkungan fisik dan sosio-kultural yang memuiigkinkan peserta didik dan warga sekolah membangun kegiatan keseharian yang mencerminkan perwujudan nilai karakter.

2. Agar pelaksanaan pendidikan karakter dalam pelayanan konseling dapat efektif, guru pembimbmg perlu selalu meningkatkan kompetensi pedagogik, professional, sosial dan kepribadian.

3. Sekolah agar mendukung dan memfisilitasi kegiatan pendidikan karakter yang dikembangkan melalui pelayanan konseling. DAFTAR RUJUKAN

Budimansyah, Dasim, 2010. Penguatan

Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Bangsa. Bandung: PT Widya

Aksara Press.

Depdiknas, 2007. Rambu-Rambu

Penyelenggaraan Konseling

Dalam Jalur Pendidikan

Formal. Jakarta: Dirjen

PMPTK.

Juntika ,Achmad, 2007. Bimbingan dan

Konseling. Bandung: PT

Refika Aditama.

Permendiknas Nomor 27 Tahun 2009 tentang Standar Kualflkasi Akademik dan Kompetensi Konselor. Jakarta: BSNP.

(8)

Prayitno, 2010. Penyelenggaraan Pendidikan Karakter Cerdas.

Padang: Universitas Negeri Padang.

Soedarsono S., 2010. Pokok-Pokok

Pikiran tentang Konsep Dasar

Pendidikan Karakter. Jakarta:

Yayasan Jatidiri Bangsa. Suherman, 2008. Konsep dan Aplikasi

Bimbingan dan Konseling.

Bandung: FIP Universitas Pendidikan Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian penggunaan media gambar dalam kegiatan menebalkan bentuk geometri mampu meningkatkan kemampuan motorik halus anak dengan hasil yang sesuai harapan.

[r]

Hasil analisis regresi logistik ganda dengan duduk <2 jam sebagai pembanding didapatkan lama duduk 4-6 jam memiliki hubungan yang kuat dengan nilai OR 8,579, artinya orang

Bila Anda mengatakan “tidak” pada undangan teman bisnis maka Anda dapat menggunakan pendekatan perencanaan langsung atau tidak langsung, tergantung

Dengan adanya hal itu, hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan secara bersama-sama dari variabel-variabel makro ekonomi, industri dan

Implementasi Pendekatan Inquiry Untuk Meningkatkan Partisipasi Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Di Sekolah Dasar.. : Penelitian Tindakan Kelas

Media pembelajaran interaktif dilengkapi teka-teki silang berbasis Adobe Flash pada materi statistika dan peluang untuk peserta didik SMP kelas VII yang dihasilkan.

Segala sesuatu yang dilakukan untuk memecahkan suatu persoalan apabila dilakukan dengan secara manual dan tidak terkomputerasi maka selain rumit/susah dikerjakan, dan akan