EVALUASI KEBERADAAN ANTIBODI ASAL INDUK
TERHADAP VIRUS
AVIAN INFLUENZA
DAN
INFECTIOUS BURSAL DISEASE
PADA
AYAM
BROILER
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2016
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Evaluasi Keberadaan Antibodi Asal Induk terhadap Virus Avian Influenza dan Infectious Bursal Disease pada Ayam Broiler adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, September 2016 Nadia Tuscany NIM B04120120
ABSTRAK
NADIA TUSCANY. Evaluasi keberadaan antibodi asal induk terhadap virus Avian Influenza dan Infectious Bursal Disease pada ayam broiler . Dibimbing oleh OKTI NADIA POETRI dan RETNO DAMAJANTI SOEJOEDONO .
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari durasi keberadaan antibodi asal induk terhadap virus Avian Influenza (AI) dan Infectious Bursal Disease (IBD) pada ayam broiler. Antibodi asal induk pada ayam adalah imunitas pasif yang ditransfer secara alami dari induk ke anaknya melalui telur. Terdapat 60 sampel serum ayam broiler komersil dari berbagai umur, yaitu berasal dari usia hari ke- 3, 4, 7, 10, 14, 18, 21, 24, 28, 32, dan 35. Jumlah sampel pada tiap usia pengambilan serum adalah 6 sampel. Untuk mengevaluasi keberadaan antibodi asal induk terhadap virus AI ditentukan dengan uji Hemaglutinasi Inhibisi (HI), sedangkan Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA) digunakan untuk menentukan titer antibodi terhadap virus IBD. Antibodi asal induk terhadap virus AI dan IBD masih terdeteksi sampai dengan usia ayam broiler 35 hari. Antibodi AI asal induk masih dalam level protektif ≥ 24 sampai dengan usia 21 hari, sedangkan titer antibodi IBD masih ≥ 500 sampai dengan usia 24 hari. Informasi yang diperoleh pada penelitian ini dapat di jadikan acuan dalam menentukan program vaksinasi AI dan IBD pada peternakan ayam broiler komersil.
Kata kunci: Antibodi asal induk, Avian Influenza, ayam broiler, Infectious Bursal Disease
ABSTRACT
NADIA TUSCANY. Evaluation of maternal derived antibodies against Avian Influenza and Infectious Bursal Disease viruses in broilers. Supervised by OKTI NADIA POETRI and RETNO DAMAJANTI SOEJOEDONO.
This research was conducted to evaluate the existence of maternal derived antibodies against Avian Influenza (AI) and Infectious Bursal Disease (IBD) viruses in broilers. A total of 60 serum samples were collected from broilers at 4, 7, 10, 14, 18, 21, 24, 28, 32, and 35 days old age. There are six serum samples on each age. Antibody titer of AI virus were measured by Haemaglutination Inhibition (HI) test, while Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA) were used to measured antibody titer of IBD virus. Maternal derived antibody of AI and IBD still exist up to 35 days old age. Antibody titer of AI still at protective level (≥ 24) up to 21 days old age, and antibody titer of IBD were above 500 up to 24 days old age. Our study might provide a guidance to determine the best time for AI and IBD vaccination programs in commercial broilers.
Keywords: Avian Influenza, broiler, Infectious Bursal Disease, maternal derived antibody
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan
pada
Fakultas Kedokteran Hewan
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2016
EVALUASI KEBERADAAN ANTIBODI ASAL INDUK
TERHADAP VIRUS
AVIAN INFLUENZA
DAN
INFECTIOUS BURSAL DISEASE
PADA
AYAM
BROILER
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Evaluasi Keberadaan Antibodi Asal Induk terhadap Virus Avian Influenza dan Infectious Bursal Disease pada Ayam Broiler. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tak langsung khususnya kepada :
1. Ibu Dr Drh Okti Nadia Poetri, MSi, MSc dan Ibu Prof Dr Drh Retno Damajanti Soejoedono, MS selaku dosen pembimbing yang telah memberikan dukungan sarana dan prasarana penelitian, waktu, tenaga, dan arahan selama penelitian dan penulisan.
2. Ibu Drh Ni Luh Putu Ika Mayasari, PhD selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing penulis selama studi di FKH IPB.
3. Andy Tasmiko, SE, Lusiana R Yulianti, Mas Ivan, Echa, Ryan, dan seluruh keluarga tercinta atas bantuan material maupun spiritual serta kasih sayangnya selama ini.
4. Mas Wahyu yang telah membantu dalam melakukan pengambilan darah dan mengajar teknik handling ayam.
5. Kamila Edvani, teman seperjuangan selama melakukan penelitian di Lab. Imun.
6. Feby, Sarah, Tyas, Athirah, Maik, Claudia Putri, Naula, Domi, Widya, Maulana Helmi, Squad P06, dan seluruh teman-teman baik di Bogor maupun di Malang yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, atas bantuan serta hiburannya selama ini.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.
Bogor, September 2016 Nadia Tuscany
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR vi DAFTAR TABEL vi DAFTAR LAMPIRAN vi PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Tujuan Penelitian 2 Manfaat Penelitian 2 TINJAUAN PUSTAKA 2Antibodi Asal Induk pada Ayam Broiler 2
Avian Influenza 4
Infectious Bursal Disease 6
Program Vaksinasi Ayam Broiler 7
METODE PENELITIAN 9
Waktu dan Tempat Penelitian 9
Bahan dan Alat Penelitian 9
Uji Hemaglutinasi Inhibisi 9
Uji Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA) 12
Analisis Data 13
HASIL DAN PEMBAHASAN 13
Hasil 13
Pembahasan 15
SIMPULAN DAN SARAN 17
Simpulan 17
Saran 17
DAFTAR GAMBAR
1 Tahapan transfer antibodi dari induk ke anak 3
2 Struktur virus Influenza A 4
DAFTAR TABEL
1 Contoh program vaksinasi ayam broiler komersil 7 2 Rataan titer antiboodi asal induk terhadap virus Avian Influenza pada
ayam broiler 13
3 Rataan titer antibodi asal induk terhadap virus Infectious Bursal Disease
pada ayam broiler 14
DAFTAR LAMPIRAN
1 Analisis titer antibodi asal induk terhadap virus AI dengan One-way
ANOVA dan Uji Duncan 21
2 Analisis titer antibodi asal induk terhadap virus IBD dengan One-way
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Populasi ayam pedaging (broiler) di Indonesia pada tahun 2015 telah mencapai angka sementara sebesar 1,497,625,000 ekor (DITJENNAK 2016). Populasi ternak ayam pedaging jauh lebih besar dibandingkan populasi ternak lainnya, akan sangat disayangkan apabila terjadi penurunan produksi yang disebabkan oleh wabah penyakit unggas. Penyakit pada unggas dapat disebabkan oleh agen infeksius, seperti parasit, jamur, virus, dan bakteri. Beberapa penyakit penting dan bersifat patogen pada unggas antara lain : Avian Influenza (AI), Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), dan Infectious Bursal Disease (IBD), Chronic Respiratory Disease (CRD), mikotoksikosis, kolibasilosis, dan Coryza (Tabbu 2002, Lilis 2014).
Salah satu penyakit unggas yang merupakan penyakit zoonotik adalah Avian Influenza yang dapat ditularkan dari unggas ke manusia.Tingkat mortalitas unggas akibat infeksi virus AI sangat tinggi, sehingga penyakit ini menjadi salah satu penyakit prioritas di Indonesia selain rabies, anthrax, brucellosis, dan hog cholera (DITJENNAK 2007). Avian Influenza merupakan penyakit virus yang menyerang saluran pernafasan unggas dan terdiri dari dua tipe - yaitu Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) dan Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Selain AI, penyakit pada unggas yang cukup penting adalah Infectious Bursal Disease (IBD) atau umumnya dikenal sebagai gumboro, yang merupakan penyakit menular akut pada ayam usia muda yang disebabkan oleh virus IBD dari famili Birnaviridae. Virus ini menyerang sistem pertahanan tubuh ayam, dengan target organ yaitu bursa Fabricius dan menyebabkan imunosupresi (Van den Berg et al. 2000, Ashraf 2005).
Pengendalian penyakit virus pada unggas di peternakan dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah pemberian nutrisi yang seimbang, penerapan sistem all in all out pada peternakan, penerapan biosekuriti, dan vaksinasi (Jones 2009). Vaksinasi sesuai jadwal dengan teknik yang tepat merupakan salah satu langkah penting dalam pengendalian penyakit, namun vaksinasi tidak selalu berhasil, kegagalan vaksinasi dapat menimbulkan kerugian bagi peternak, serta menyebabkan ayam semakin rentan dengan penyakit (Butcher dan Yegani 2008).
Secara umum, ayam broiler selama siklus hidupnya menerima vaksinasi terhadap ND, IBD, IB, Marek dan koksidiosis. Umumnya pelaksanaan vaksinasi pada ayam broiler mulai dilakukan pada umur ayam usia 1 hari (Pattison et al. 2008). Soares (2008) menyebutkan bahwa antibodi asal induk akan berada sampai dengan usia ayam 1 sampai 2 minggu. Meskipun demikian, umumnya vaksinasi pada ayam broiler di usia muda tetap dilakukan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa keberadaan antibodi asal induk dapat memengaruhi keberhasilan program vaksinasi AI, IBD, IB, dan ND (Yegani et al. 2002, Breytenbach 2005).
Kegagalan vaksinasi adalah kegagalan terbentuknya sistem imunitas yang cukup untuk memproteksi tubuh hewan dari agen penyakit. Kegagalan vaksinasi dapat disebabkan oleh: program vaksinasi yang tidak sesuai dengan usia, putusnya rantai dingin pada penanganan dan penyimpanan vaksin, aplikasi vaksin yang tidak lege artis, tingkat stres yang tinggi pada unggas, manajemen kandang yang buruk, kualitas vaksin yang buruk, jenis serotipe vaksin yang tidak sesuai, serta keberadaan antibodi asak induk (Yegani et al. 2002). Antibodi asal induk adalah antibodi yang berasal dari induk dan diturunkan ke anak. Vaksinasi yang dilakukan pada saat titer antibodi asal induk masih tinggi akan percuma karena kehadiran dari antibodi asal induk dapat menghalangi perkembangan imunitas aktif yang dihasilkan oleh vaksin aktif karena antibodi asal induk dapat menetralisasi virus vaksin (Chauhan dan Roy 1996, Mondal dan Naqi 2001, Al-Natour et al. 2004).
Pada penelitian ini, akan dilakukan evaluasi keberadaan antibodi asal induk terhadap virus AI dan IBD, karena informasi tentang durasi serta titer antibodi asal induk pada unggas sangat penting untuk diketahui dan dipahami, sehingga dapat menjadi acuan dalam menentukan jadwal vaksinasi yang tepat.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari durasi dan gambaran titer antibodi asal induk terhadap virus Avian Influenza dan Infectious Bursal Disease pada ayam broiler.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang durasi serta gambaran titer antibodi asal induk terhadap virus Avian Influenza dan Infectious Bursal Disease pada ayam broiler dan dapat dijadikan acuan dalam menentukan jadwal vaksinasi yang tepat sehingga dapat meningkatkan keberhasilan vaksinasi pada ayam broiler komersil.
TINJAUAN PUSTAKA
Antibodi Asal Induk pada Ayam
Antibodi asal induk atau maternal derived antibodies (MDA) adalah imunitas pasif yang secara alami diturunkan dari induk ke anaknya. Pada unggas, antibodi asal induk ditransfer dari induk yang telah divaksin kepada anaknya melalui telur dengan durasi yang umumnya hanya sepanjang 1-2 minggu dan kurang dari 4 minggu (Soares 2008). Fungsi antibodi asal induk adalah untuk melindungi anak ayam usia dini dari infeksi-infeksi yang pernah dialami oleh sang induk (MacLachlan dan Dubovi 2010).
Unggas memiliki tiga kelas antibodi atau imunoglobulin (Ig) yang analog dengan imunoglobulin mamalia, yaitu IgY, IgA, dan IgM. IgA dan IgM pada unggas sama dengan IgA dan IgM pada mamalia, sedangkan karakter IgY pada unggas berbeda dengan IgG atau antibodi pada mamalia. Karakter tersebut antara lain IgY lebih resisten terhadap pengaruh suhu dan pH (Szabo et al. 1998). Pada telur, IgY banyak ditemukan di kuning telur, sedangkan IgA dan IgM banyak ditemukan pada putih telur (Rose et al. 1974, Rose dan Orlans 1981).
Induk ayam memindahkan antibodi (IgY, IgA, IgM) ke kuning telur dan albumin. Transfer antibodi dari induk ayam ke anaknya terdiri dari dua tahap (Gambar 1), yaitu: 1) Tahap yang pertama adalah transfer antibodi dari induk ayam ke telur. Imunoglobulin Y adalah antibodi terbanyak di dalam kuning telur. Transfer imunoglobulin Y ke telur di atur oleh epitel folikel ovarium. Epitel folikel ovarium mengalami perubahan morfologis seiring dengan pertumbuhan telur. Epitel menjadi semakin rata/datar dan tipis sehingga dapat dilalui oleh IgY. Transfer IgY maksimum pada 3-4 hari sebelum ovulasi dan menurun seiring dengan pertumbuhan membran vitelin. Telur di dalam oviduk memiliki beberapa tahap perkembangan, jumlah IgY yang ditransfer pada tiap tahap ini tidaklah sama (Rose et al. 1974, Soares 2008). IgA dan IgM yang ditemukan pada albumin telur berasal dari hasil sekresi mukosa oviduk terutama pada bagian magnum dari oviduk (Rose et al. 1974).
Gambar 1 Tahapan transfer antibodi dari induk ke telur Sumber: Soares 2008
2) Tahap kedua adalah transfer antibodi dari telur ke embrio. IgY ditransfer dari kuning telur ke anak melalui sirkulasi embrional. Transfer IgY di mulai pada hari ke-7 periode embrional, dan mencapai kondisi maksimum 3-4 hari sebelum menetas (Hamal et al. 2006). Imunoglobulin A dan IgM dapat ditransfer ke embrio melalui penyerapan albumin oleh umbilikal (Soares 2008).
Avian Influenza
Avian Influenza merupakan penyakit respirasi akut pada unggas yang disebabkan oleh virus RNA genus Influenza A dari famili Orthomyxoviridae. Unggas air seperti itik, burung camar, dan burung pantai merupakan reservoar utama bagi virus avian influenza. Subtipe virus Influenza A diklasifikasikan berdasarkan glikoprotein hemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA) yang terdapat di permukaan partikel virus (Elgert 2009). Bentuk umum virus Influenza A adalah bulat dengan diameter 80 nm – 120 nm dengan diselubungi amplop (Gambar 2). Protein HA dan NA sangat menentukan patogenitas virus influenza karena kedua protein ini mudah mengalami mutasi. Hemaglutinin memiliki tiga aktivitas penting dalam siklus infeksius virus influenza yaitu berikatan dengan asam sialat yang merupakan reseptor seluler influenza A, yang menjadi mediasi masuknya virus ke sitoplasma sel, dan sebagai antigen permukaan terhadap antibodi (Stanley 2002). Neuraminidase merupakan enzim sialidase yang fungsi utamanya adalah menghapus reseptor asam sialat sel inang dan asam sialat partikel virus yang baru terbentuk sehingga virus mampu menyebarkan infeksi (Horimoto dan Kawaoka 2001). Palese et al.(1975) menyatakan bahwa fungsi lain dari neuraminidase adalah untuk menghancurkan asam sialat dalam sekresi lendir saluran pernapasan yang mengandung penghambat virus.
Gambar 2 Struktur Virus Influenza A Sumber: Davidson 2015
Berdasarkan patogenitasnya dalam menyebabkan penyakit dan kematian, virus avian influenza dibagi menjadi Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) dan Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Virus LPAI hanya akan menyebabkan penyakit ringan seperti bulu rontok dan penurunan produksi telur. Virus LPAI sulit dideteksi karena gejala klinis yang ditimbulkan kurang spesifik, berbeda dengan virus HPAI yang menyebabkan angka mortilitas tinggi sekitar 90-100% pada ayam dalam waktu 48 jam setelah infeksi (CDC 2015). Swayne et al. (2013) dan Tong et al. (2013) menyatakan bahwa sampai dengan tahun 2015 telah terdapat 16 subtipe HA (H1-H16) dan 9 subtipe NA (N1-N9), diikuti subtipe baru yaitu H17 dan H18 influenza A pada kelelawar di Guatemala. Saat ini, penyakit respirasi akut pada unggas lebih sering dikaitkan dengan subtipe H5 dan H7.
Swayne (2009) menyatakan bahwa virus AI dapat menginfeksi unggas dengan beberapa cara, yaitu: 1) Kontak langsung dengan unggas lain yang terinfeksi, 2) Kontak dengan peralatan, baju dan sepatu pekerja kandang yang terkontaminasi, 3) Air minum yang terkontaminasi, dan 4) Virus yang terinhalasi. Diantara empat cara transmisi tersebut, kontak dengan sekresi respirasi atau feses dari unggas yang terinfeksi merupakan cara transmisi virus yang paling efisien. Unggas yang terinfeksi bisa merupakan bagian dari kawanan unggas itu sendiri atau merupakan unggas liar dari kawanan yang berbeda.
Masa inkubasi virus AI adalah sekitar 3-14 hari sampai menunjukkan gejala klinis. Gejala klinis yang umum terlihat antara lain sianosis atau warna biru keunguan pada kulit yang tidak ditumbuhi bulu seperti pial dan jengger, keluar cairan dari mata dan hidung, bengkak pada daerah muka dan kepala, pendarahan subkutan, batuk, bersin, ngorok, diare, dan kematian mendadak, serta penurunan produksi telur yang drastis pada layer (Capua dan Alexander 2009, Spickler et al. 2010). Selain itu, diagnosa AI dapat di tegakkan dengan uji diagnostik laboratorium seperti : uji isolasi identifikasi dan uji serologis. Uji serologis yang bisa digunakan untuk deteksi antigen atau antibodi AI adalah Agar Gel Immunodifussion test (AGID), Enzyme-linked Immunosorbent Assays (ELISA), dan Haemagglutination Inhibition test (HI) (Capua dan Alexander 2009). Sedangkan uji isolasi identifikasi yaitu isolasi virus pada telur embrio tertunas yang dilanjutkan dengan HI atau PCR (OIE 2015).
Infectious Bursal Disease
Infectious Bursal Disease (IBD) atau lebih dikenal dengan penyakit Gumboro merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus dari genus Arbivirus dan famili Birnaviridae. Target organ dari virus ini adalah bursa Fabricius. Virus IBD dapat menginfeksi ayam, kalkun, bebek, dan burung unta, namun menurut Swayne et al. (2013), ayam adalah satu-satunya hewan yang menunjukkan gejala klinis dan lesi yang paling menonjol dibandingkan jenis unggas lain yang terinfeksi. Virus IBD terdiri atas double-stranded RNA dengan kapsid ikosahedral dan tanpa amplop. Sifat virus IBD sangat stabil pada suhu tinggi dan tahan pada rentang pH yang cukup luas yaitu pH 2-12. Ayam dapat terinfeksi virus IBD dari kontaminasi feses yang mengandung virus di pakan,
minuman, dan kandang. Transmisi secara mekanis melalui pekerja, peralatan kandang, dan kendaraan juga dapat menyebarkan virus ini (Murphy et al. 1999).
Sistem imun ayam dimulai pada masa perkembangan embrionik hingga usia 10 minggu, limfosit akan dibawa ke bursa Fabricius untuk dibentuk menjadi sel pembentuk antibodi. Virus IBD akan menyerang bursa Fabricius sehingga tidak dapat memproduksi limfosit dalam jumlah yang cukup, oleh karena itu ayam akan mengalami penurunan fungsi sistem imun atau imunosupresi. Pergantian cuaca, pergantian pakan, serta pergantian sekam dapat menyebabkan ayam stres serta menjadi faktor mendukung terjadinya infeksi IBD (Tamalluddin 2006).
Chauhan dan Roy (1996) menyatakan bahwa terdapat dua bentuk klinis dari IBD yaitu bentuk klinis dan dan subklinis imunosupresi. Bentuk klinis lebih banyak menyerang ayam petelur dibandingkan ayam broiler dan biasanya terjadi pada ayam dengan usia 3-7 minggu, bentuk ini menyebabkan jumlah kematian/mortalitas yang tinggi. Ayam pada usia 1-10 hari apabila terinfeksi virus IBD, lebih banyak menunjukkan bentuk subklinis dan efek paling buruk terjadi apabila infeksi terjadi 3 hari sebelum menetas (Jhala dan Kher 1991). Bentuk subklinis biasanya menyerang anak ayam usia 0-21 hari (Darmana dan Sitanggang 2003), bentuk ini tidak menunjukkan adanya gejala klinis, namun ayam menderita imunosupresi. Kondisi imunosupresi dapat menurunkan produksi telur dan menurunkan nilai feed convertionratio (FCR) sehingga berat badan unggas tidak optimal, hal ini tentu saja memicu kerugian ekonomi bagi peternak. Bentuk akut dari IBD lebih terlihat dengan tingginya angka mortalitas serta dari gejala klinis yang dihasilkan. Bentuk akut biasanya terjadi apabila virus IBD menginfeksi ayam pada usia 3 sampai 6 minggu (OIE 2016). Gejala klinis yang terjadi adalah dehidrasi, tubuh gemetar, bulu rontok, depresi, serta ditemukannya lesi pada bursa Fabricius akibat perilaku mematuk di daerah kloaka (Anang dan Suharyanto 2007).
Diagnosa IBD dapat ditentukan dengan melihat sejarah peternakan, gejala klinis, perubahan patologi anatomi (PA) bursa Fabricius, isolasi virus dari unggas terinfeksi, Serum Neutralization Test (SNT), Agar Gel Immunodiffusion (AGID) dan Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA) (van den Berg et al. 2000, OIE 2016) Lesi dan gejala IBD sering dikelirukan dengan koksidiosis, tetapi yang membedakan antara keduanya adalah terjadinya edema dan pendarahan pada otot (Ashraf 2005). Diferensial diagnosa penyakit IBD antara lain : Infectious Bronchitis (IB) dan Marek (Lukert 1986).
Program vaksinasi pada ayam broiler
Vaksinasi adalah aktivitas memasukkan agen penyakit yang telah dilemahkan ke dalam tubuh. Faktor keberhasilan vaksinasi pada ayam antara lain kondisi peternakan atau sanitasi kandang, kualitas vaksin, kondisi kesehatan ayam, serta faktor manusia (Setyono et al. 2013). Sanitasi kandang harus baik untuk mendukung keberhasilan vaksinasi. Ayam yang stres akan menyebabkan kegagalan vaksinasi, maka pastikan ayam dalam keadaan sehat dan pelaksanaan vaksinasi pada umur yang tepat. Kualitas vaksin dapat menurun karena beberapa
hal, salah satunya adalah penyimpanan yang kurang tepat misalnya vaksin terkena sinar matahari langsung, dan putusnya rantai dingin vaksin . Faktor manusia yang dimaksud adalah pengetahuan dan keterampilan pelaksana vaksinasi dan cara administrasi vaksin yang lege artist (Yegani et al. 2002).
Rute pemberian vaksin pada ayam ada beberapa cara, yaitu: 1) Melalui pakan, 2) Melalui air minum, 3) Penyemprotan, 4) Injeksi subkutan, 5) Tusuk jarum pada sayap atau wing web, 6) Injeksi intramuskular, 7) Cekok atau melalui mulut, 8) Tetes hidung, dan 9) Tetes mata. Tujuan dari masing-masing cara administrasi vaksin berbeda dan tipe vaksin yang digunakan tidak serta merta sama. Prosedur vaksinasi melalui mulut atau per-oral hampir serupa dengan vaksinasi melalui air minum, namun vaksinasi per-oral bertujuan agar tiap ayam mendapatkan dosis vaksin yang sama, umumnya tipe vaksin yang digunakan adalah vaksin killed seperti ND dan IBD (Fadilah 2013). Vaksinasi dengan cara injeksi intramuskular biasanya dilakukan untuk tipe vaksin killed. Vaksinasi dengan teknik penyemprotan/ spray sering digunakan untuk ayam yang baru berusia satu hari, cara ini dilakukan agar ayam tidak stres dan biasanya di lakukan di hatchery, tipe vaksin yang umum digunakan untuk teknik ini adalah vaksin live dalam bentuk butiran droplet (Paniago 2006).
Vaksinasi merupakan salah satu cara untuk mencegah timbulnya suatu penyakit di populasi ayam. Seperti yang diungkapkan Fadilah (2013), umumnya program vaksinasi antara satu peternakan dan lainnya cenderung beragam. Program vaksinasi tersebut dilakukan berdasarkan sejarah penyakit pada peternakan atau wilayah sekitar peternakan tersebut. Rahayu et al. (2011) menjelaskan bahwa penyakit pada ayam broiler dan ayam ras pejantan tidak jauh berbeda, yaitu New Castle Disease, Gumboro, Chronic Respiratory Disease (CRD), Kolibasilosis, dan Avian Influenza (AI). Hanya saja ayam jantan lebih peka penyakit gumboro sedangkan ayam broiler peka terhadap CRD dan Kolibasilosis. Berikut adalah contoh program vaksinasi untuk ayam broiler komersial (Tabel 1):
Tabel 1 Contoh program vaksinasi ayam broiler komersil
Umur (Hari) Jenis Vaksin Dosis Aplikasi
4 ND Killed ND Live 0,5 dosis Normal Subkutan Tetes mata
9-12 IBD Live Normal Air minum
18-23 IBD Live Normal Air minum
21 ND Live Normal Air minum
35 ND Live Normal Air minum
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan sejak bulan Oktober 2015 sampai dengan Maret 2016. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Imunologi, Divisi Mikrobiologi Medik, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Bahan dan Alat Penelitian
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah plate mikro V, reservoir chamber, pipet mikro multi channel ukuran 25−50µl, pipet mikro multi channel ukuran 100−300 µl, pipet mikro single channel 5 µl, pipet mikro single channel 200−1000µl, lemari pendingin, vortek, dan ELISA Reader.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain sampel serum ayam broiler, antigen standar AI H5N1(virus AI H5N1 clade 2.1.3, PT. IPB Shigeta), sel darah merah (SDM) 1%, Phospate Buffer Saline (PBS) pH 7.6, anti koagulan Na Sitrat 3,8%,kit ELISA IBD (BioChek®), dan ddH2O. Sampel serum yang digunakan dalam penelitian berjumlah 60, terdiri dari sampel serum yang berasal dari ayam broiler usia 4, 7, 10, 14, 18, 21, 24, 28, 32, dan 35 hari. Jumlah ayam broiler yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 ekor, dalam tiap waktu pengambilan sampel, diambil 6 sampel serum secara acak. Ayam broiler yang digunakan tidak menerima vaksinasi apapun di hatchery maupun selama penelitian berlangsung.
Uji Hemaglutinasi Inhibisi Persiapan Sel Darah Merah 1%
Darah ayam diambil melalui vena brachialis dari ayam donor yang sehat, kemudian dicampur dengan anti-koagulan dengan perbandingan 4:1, selanjutnya darah ditempatkan di dalam tabung sentrifus dan dihomogenkan, kemudian darah dan anti-koagulan disentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Supernatan hasil sentrifugasi dibuang dan endapannya diambil. Endapan tersebut merupakan sel darah merah. Tahap selanjutnya, endapan dicuci dengan PBS/ NaCl fisiologis sejumlah supernatan yang dibuang, kemudian disentrifugasi
kembali dengan waktu dan kecepatan yang sama. Pencucian dilakukan sebanyak tiga kali. Endapan hasil pencucian terakhir merupakan sel darah merah dengan konsentrasi ± 100%.
Suspensi sel darah merah tersebut kemudian diencerkan 1:1 dengan PBS/ NaCl fisiologis. Kemudian diukur konsentrasinya dengan menggunakan mikrokapiler hematokrit. Berdasarkan konsentrasi sel darah merah yang diperoleh, dilakukan pengenceran suspensi sel darah merah menjadi 5%, selanjutnya SDM 5% diencerkan kembali menjadi SDM 1% (Stockham dan Scott 2002).
Pembuatan antigen standar AI
Antigen AI ditentukan titernya dengan uji hemaglutinasi (HA), kemudian dibuat menjadi antigen standar dengan titer 4 Hemaglutinin Unit (HAU). Uji HA dalam penelitian ini menggunakan plate mikro dengan 96 sumur dengan dasar berbentuk V. Prosedur uji HA mengadaptasi OIE (2015). Prosedur uji HA tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sampel antigen dihomogenkan.
2. Sebanyak 25 µl PBS dipipet dan dimasukkan ke dalam sumur baris A sampai F di kolom 2 sampai 12.
3. Sebanyak 50 µl sampel antigen dipipet ke dalam sumur A1 sampai E1. 4. Dari sumur A1 sampai E1 diambil sebanyak 25 µl menggunakan pipet
multichannel dan dimasukkan ke dalam A2 sampai E2 lalu dihomogenkan ± 5 kali dengan dengan pipet, kemudian tip dilepas dari pipet.
5. Sebanyak 25 µl PBS dipipet ke dalam sumur B2 dan di homogenkan ± 10 kali, kemudian tip dan 25 µl sampel antigen dengan pengenceran 1/3 dilepas dari pipet.
6. Sebanyak 75 µl PBS dipipet ke dalam sumur C2 dan di homogenkan ± 10 kali., kemudian tip dan 75 µl sampel antigen dengan pengenceran 1/5 dilepas dari pipet.
7. Sebanyak 125 µl PBS dipipet ke dalam sumur D2 dan di homogenkan ± 10 kali, kemudian tip dan 125 µl sampel antigen dengan pengenceran 1/7 dilepas dari pipet.
8. Sebanyak 175 µl PBS dipipet ke dalam sumur E2 dan di homogenkan ± 10 kali, kemudian tip dan 175 µl sampel antigen dengan pengenceran 1/9 dilepas dari pipet.
9. Selanjutnya adalah pengenceran berseri : dengan menggunakan pipet multichannel dan tip yang baru, diambil 25 µl dari kolom A2 sampai E2 kemudian dimasukkan ke dalam kolom A3 sampai E3 dan dihomogenkan ± 5 kali. Dengan tip yang sama, sebanyak 25 µl diambil dari kolom A3 sampai E3 kemudian dimasukkan ke kolom A4 sampai E4 lalu dihomogenkan ± 5 kali. Prosedur ini diulang hingga kolom A12 sampai E12, setelah dihomogenkan ± 5 kali pada kolom terakhir, tip berisi 25 µl cairan dilepaskan dari pipet.
10.Sebanyak 25 µl PBS dipipet dan dimasukkan ke dalam setiap sumur sebagai kompensasi volume.
11.Sebanyak 25 µl SDM 1% dipipet dan dimasukkan ke dalam setiap sumur. 12.Plate digoyang selama 10 detik.
13.Plate diinkubasi selama 60 menit pada suhu 4°C atau 15−20 menit pada suhu ruang, apabila SDM pada baris kontrol (baris F) telah mengendap sempurna, berarti hasil telah siap dibaca.
Nilai titer antigen berdasarkan pengenceran terakhir yang masih menunjukkan aglutinasi sel darah merah yang sempurna (OIE 2015), setelah diperoleh titer antigen AI, kemudian antigen diencerkan hingga memiliki titer 4 HAU. Untuk mengecek keakuratan hasil pengenceran, dilakukan titrasi kembali sesuai prosedur uji HA (OIE 2015).
Uji Hemaglutinasi Inhibisi (HI)
Penentuan titer antibodi terhadap virus Avian Influenza (AI) dilakukan dengan menggunakan uji Hemaglutinasi Inhibisi (HI) prosedur ß (OIE 2015). Uji HI dalam penelitian ini menggunakan plate mikro dengan 96 sumur dengan dasar berbentuk V. Prosedur HI adalah sebagai berikut:
1. Sebanyak 25 µl PBS dipipet dan dimasukkan ke dalam sumur baris A sampai H di kolom 1 sampai 12.
2. Setiap 25 µl sampel serum dipipet dan dimasukkan ke dalam sumur A sampai F di kolom 1.
3. Pada sumur A1 sampai F1 dengan menggunakan pipet multi channel dihomogenkan ± 5 kali lalu diambil sebanyak 25 µl dan dimasukkan ke dalam sumur A2 sampai F2.
4. Dengan tips yang sama pada kolom A2 sampai F2 dihomogenkan ± 5 kali lalu diambil sebanyak 25 µl untuk dimasukkan ke kolom A3 sampai F3. 5. Prosedur kemudian diulang hingga kolom A12 sampai F12 kemudian tips
dengan 25 µl cairan dilepaskan dari pipet.
6. Sebanyak 25 ul antigen standar (4 HAU) ditambahkan ke dalam setiap sumur pada baris A−G.
7. Sebanyak 25 ul PBS ditambahkan ke dalam setiap sumur pada baris H. 8. Plate mikro digoyang selama 10 detik dan diinkubasi selama 30 menit
pada suhu ruang.
9. Tahap selanjutnya setelah inkubasi, 25 µl SDM 1% dipipet ke dalam seluruh sumur.
10.Plate digoyang selama 10 detik dan diinkubasi selama 30 menit pada suhu ruang atau 60 menit pada suhu 4°C
11.Sumur-sumur pada baris G adalah kontrol negatif, hasil yang diharapkan adalah aglutinasi. Sedangkan sumur-sumur pada baris H adalah kontrol positif, hasil yang diharapkan adalah pengendapan.
12.Setelah diinkubasi, apabila SDM pada baris kontrol positif (baris H) telah mengendap sempurna, berarti hasil telah siap dibaca.
Hasil pada uji HI dinyatakan valid hasilnya apabila RBC pada sumur kontrol antigen dan kontrol RBC setelah inkubasi terakhir mengendap sempurna. Serum uji dinyatakan positif antibodi apabila pada sumur uji terjadi pengendapan sel darah merah yang artinya terjadi hambatan aglutinasi sel darah merah. Nilai titer antibodi berdasarkan pengenceran terakhir yang masih menunjukkan hambatan aglutinasi sel darah merah (Syukron et al. 2013, OIE 2015).
Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Penentuan titer antibodi IBD dilakukan dengan teknik ELISA menggunakan IBD antibody test kit (BioChek®). Prosedur ELISA adalah sebagai berikut (BioChek®):
1. IBD coated plate dikeluarkan dari segel dan lokasi sampel dicatat pada lembar catatan.
2. Langkah pertama adalah memasukkan 100 µl kontrol negatif pada sumur A1 dan B1, selanjutnya 100 µl kontrol positif dimasukkan pada sumur C1 dan D1.
3. Sebanyak 100 µl sampel yang diencerkan pada sumur lain. Plate ditutup menggunakan cover yang telah disediakan lalu kemudian diinkubasi pada suhu ruang (22−27°C) selama 30 menit.
4. Isi dari sumur dari plate yang telah diinkubasi, dibuang dan dicuci sebanyak 4 kali dengan buffer pencuci PBS-Tween (300 ml setiap sumur). Buffer pencuci dibuang, kemudian plate diketukkan perlahan pada tisu untuk memastikan bahwa tidak ada cairan yang tersisa di dalam sumur. 5. Sebanyak 100 µl konjugat dimasukkan ke setiap sumur, kemudian plate
ditutup dan diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar (22−27°C) 6. Prosedur pencucian diulang (seperti pada nomor 5).
7. Sebanyak 100 µl substrat dimasukkan ke setiap sumur, kemudian plate ditutup dan diinkubasi selama 15 menit pada suhu kamar (22−27°C). 8. Sebanyak 100 µl stop solution dimasukkan ke setiap sumur untuk
menghentikan reaksi.
9. Absorbansi di baca menggunakan ELISA reader pada panjang gelombang 405 nm.
Interpretasi hasil berdasarkan panduan dari BioChek®, hasil dinyatakan valid apabila absorban kontrol negatif bernilai di bawah 0.3 dan selisih antara rata-rata kontrol negatif dan kontrol positif bernilai lebih dari 0.15. Perhitungan nilai titer IBD adalah sebagai berikut:
1. Kalkulasi rasio S/P
Sampel dinyatakan negatif apabila titer antibodi bernilai kurang dari 284, sedangkan sampel yang bernilai lebih dari sama dengan 391 dinyatakan positif mengandung antibodi IBD. Apabila sampel bernilai antara 285 sampai dengan 390 maka sampel dinyatakan meragukan (suspect).
Analisis Data
Hasil pengujian titer antibodi terhadap virus AI dan IBD dianalisa menggunakan metode One-Way Analyze of Variant (ANOVA) untuk membandingkan rataan dari dua kelompok atau lebih, apabila terdapat perbedaan nyata antar kelompok, maka dilanjutkan dengan uji Duncan (Petrie dan Watson 2006).
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Antibodi asal induk terhadap virus AI
Tabel 2 Rataan titer antibodi asal induk terhadap virus Avian Influenza pada ayam broiler
Kelompoka Nb GMT (Log 2)±SEc
d4 6 6.67 ± 0.42z d7 6 5.83 ± 0.16yz d10 6 5.50 ± 0.43yz d14 6 4.16 ± 0.83xy d18 6 4.16 ± 0.60xy d21 6 4.00 ± 0.00xy d24 6 3.83 ± 0.75xy d28 6 2.83 ± 1.04wy d32 6 3.83 ± 0.79xy d35 6 1.67 ± 0.80w
aPenamaan kelompok diberikan berdasarkan umur ayam pada saat dilakukan pengambilan
sampel, contoh: d4= sampel diambil pada usia ayam 4 hari
b
N = jumlah sampel
c
Geometric mean titer dalam log2 ± standard error
w,x,y,zSuperscript yang sama pada kolom GMT (Log 2)±SE tidak menunjukkan perbedaan
yang nyata (p > 0.05) antar kelompok pada tingkat kepercayaan 95%
Gambaran titer antibodi asal induk terhadap virus AI pada ayam broiler disajikan pada Tabel 2. Sesuai dengan hasil yang tertera pada Tabel 2, dapat dilihat bahwa titer antibodi asal induk masih terdeteksi hingga usia 35 hari dan memiliki kecenderungan menurun dari hari ke hari. Nilai tertinggi terdapat pada
kelompok ayam usia 4 hari dengan titer antibodi asal induk sebesar 26.67 HAU dan nilai titer antibodi asal induk terendah terdapat pada kelompok ayam usia 35 hari yaitu sebesar 21.67 HAU. Peningkatan antibodi asal induk terhadap AI terjadi pada usia ke-32 yang sebelumnya (hari ke-28) sebesar 22.83 HAU meningkat menjadi 23.83 HAU, namun peningkatan ini dinilai tidak berarti sebab berdasarkan analisa statistik menggunakan uji ANOVA, kedua nilai tersebut tidak berbeda nyata (P>0.05).
Antibodi asal induk terhadap virus IBD
Gambaran titer antibodi asal induk terhadap virus IBD pada ayam broiler disajikan pada Tabel 3. Berdasarkan hasil yang tertera pada Tabel 3, antibodi IBD asal induk masih terdeteksi hingga ayam usia 35 hari. Titer antibodi asal induk pada hari ke-4 merupakan titer tertinggi yaitu 5998.45 ± 1198.79 (rataan titer antibodi ± standarderror), sedangkan titer antibodi asal induk terendah ada pada hari ke-32 yaitu 316.46 ± 154.57. Rataan titer antibodi asal induk menurun setiap harinya, namun terjadi peningkatan yang tinggi pada hari ke 35 menjadi 3216.17 ± 841.07. Peningkatan yang bernilai 10 kali lipat dari angka sebelumnya ini menunjukkan adanya serokonversi. Serokonversi diduga diakibatkan oleh adanya infeksi dari lingkungan, karena selama penelitian tidak dilakukan vaksinasi apa pun terhadap hewan coba.
Tabel 3 Rataan titer antibodi asal induk terhadap virus Infectious Bursal Disease pada ayam broiler
Kelompoka Nb Rataan titer antibodi ± SEc Interpretasid
d4 6 5998.45 ± 1198.79z Positif d7 6 5784.33 ± 956.11z Positif d10 6 4929.52 ± 554.60yz Positif d14 6 3366.35 ± 487.88xy Positif d18 6 1822.04 ± 336.63wx Positif d21 6 1300.32 ± 308.64w Positif d24 6 717.45 ± 130.71w Positif d28 6 482.17 ± 105.53w Positif d32 6 316.46 ± 154.57w Suspect d35 6 3216.17 ± 841.07xy Positif a
Penamaan kelompok diberikan berdasarkan umur ayam pada saat dilakukan pengambilan sampel, contoh: d4= sampel diambil pada usia ayam 4 hari
bN = jumlah sampel c SE = standard error d
Interpretasi = interpretasi positif, negatif, atau suspect keberadaan antibodi IBD ; interpretasi hasil berdasarkan buku panduan kit ELISA IBD BioChek (BioChek 2002)
w,x,y,zSuperscript yang sama pada kolom rataan titer antibodi±SE tidak menunjukkan
PEMBAHASAN
Antibodi asal induk pada ayam diturunkan secara alami dari induk kepada anaknya melalui telur. Fungsi dari antibodi asal induk adalah untuk melindungi anak ayam pada minggu pertama kehidupannya, karena pada saat itu sistem imun pada anak ayam belum berkembang sempurna (Soares 2008). Pada umumnya antibodi asal induk akan berada dalam tubuh anak ayam sampai dengan umur empat minggu, kemudian anak ayam akan mulai memproduksi antibodinya sendiri (OIE 2010, Gauthier dan Ludlow 2013). Ayam broiler memiliki siklus hidup yang singkat, oleh sebab itu keberadaan antibodi asal induk berperan penting dalam menentukan status kesehatan ayam broiler (Gharaibeh dan Mahmoud 2013). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari durasi serta titer antibodi asal induk terhadap virus AI dan IBD. Antibodi asal induk terhadap virus AI dan IBD masih bisa dideteksi sampai usia 35 hari dengan rataan titer antibodi asal induk terhadap AI sebesar 1.67 ± 0.80 dan rataan titer antibodi asal induk terhadap IBD sebesar 3216.17 ± 841.07, hal ini mengindikasikan bahwa pada seluruh siklus hidup ayam broiler masih memiliki antibodi terhadap kedua penyakit tersebut.
Rataan titer antibodi AI asal induk tertinggi pada usia 4 hari yaitu sebesar 26.67 HAU, dan sampai usia ke-21 hari titer antibodi AI masih pada level protektif yaitu 24 HAU (OIE 2015). Antibodi asal induk tentu saja masih tinggi pada awal kehidupan ayam, dan akan berangsur-angsur turun kemudian hilang pada saat ayam telah memiliki respon kekebalan humoral yang optimal (Mesonero-Morales 2011).
Dalam penelitian ini, ditemukan peningkatan titer antibodi AI asal induk dari usia 28 hari sebesar 22.83 HAU menjadi 23.83 HAU pada usia 32 hari. Kendati demikian, berdasarkan analisa statistik menggunakan uji ANOVA, kedua nilai tersebut tidak berbeda nyata (P>0.05). Peningkatan titer antibodi dapat disebabkan oleh vaksinasi atau adanya infeksi dari lingkungan (Schat et al. 2012). Pertanda adanya infeksi adalah apabila titer antibodi mengalami peningkatan (serokonversi) sebesar “four fold” atau lebih dari titer antibodi sebelumnya (van Boven et al. 2008), contohnya titer 22 HAU menjadi 26 HAU. Serokonversi adalah perubahan dalam uji serologis dari negatif menjadi positif, mengindikasikan terbentuknya antibodi sebagai respon infeksi atau vaksinasi (Dorland 2007). Peningkatan titer dari hari 28 ke hari 32 tidak mencapai “four fold”, hal ini menandakan peningkatan titer bukan terjadi karena adanya infeksi dari lingkungan. Pada penelitian ini tidak dilakukan vaksinasi, sehingga peningkatan titer ini pun bukan dikarenakan pemberian vaksin. Dalam penelitian ini, sampel pada tiap waktu koleksi serum tidak berasal dari unggas yang sama, karena enam sampel serum diambil secara acak dari 10 ekor ayam, sehingga bisa saja sampel serum yang di koleksi pada usia 28 hari bukan berasal dari ayam yang sama pada koleksi serum di usia 32 hari. Hal ini yang mungkin menjadi alasan adanya sedikit peningkatan titer antibodi asal induk pada hari ke-32.
Antibodi AI asal induk masih dapat dideteksi sampai dengan usia ayam 35 hari, hasil ini tidak sejalan dengan penelitian oleh Gharaibeh dan Mahmoud (2013) yang menemukan bahwa antibodi asal induk terhadap AI hanya bisa
dideteksi sampai dengan usia ayam 15 hari. Perbedaan ini bisa saja terjadi karena perbedaan titer antibodi ayam induk. Tizard (2004) menyatakan bahwa titer antibodi induk yang tinggi akan mempengaruhi titer antibodi asal induk pada anak ayam sehingga titer anak ayam akan tinggi juga. Namun, dalam penelitian ini tidak dilakukan pengujian terhadap titer antibodi induk, karena tujuan penelitian ini adalah mempelajari durasi keberadaan antibodi asal induk pada anak ayam saja.
Pada umumnya, peternak ayam broiler di Indonesia tidak melakukan vaksinasi AI pada ternaknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titer antibodi AI asal induk masih terdeteksi sampai hari ke-35, serta level antibodi protektif masih ada sampai hari ke-21 menandakan bahwa ayam broiler cukup terlindungi apabila ada infeksi AI dari lingkungan, walaupun tentu saja untuk membuktikan hal ini diperlukan penelitian lebih lanjut misalnya dengan melakukan uji tantang virus AI pada broiler dengan titer antibodi tertentu.
Keberadaan antibodi IBD asal induk diketahui dengan uji ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibodi IBD masih dapat dideteksi sampai usia ayam 35 hari, hal ini masih sejalan dengan hasil penelitian Gharaibeh dan Mahmoud (2013), dimana mereka menemukan bahwa titer antibodi IBD asal induk terhadap virus IBD masih bisa terdeteksi pada saat ayam berusia 30 hari. Rataan titer antibodi IBD asal induk tertinggi pada usia ayam 4 hari yaitu sebesar 5998.45 ± 1198.79 kemudian berangsur-angsur turun hingga menjadi 316.46 ± 154.57 pada usia ayam 32 hari. Namun pada hari ke-35 titer antibodi IBD asal induk mengalami peningkatan menjadi 3216.17 ± 841.07. Peningkatan titer antibodi IBD ini menunjukkan adanya serokonversi, karena peningkatan titer hampir 10 kali lipat titer sebelumnya. Serokonversi yang terjadi bukan disebabkan oleh vaksinasi, karena didalam penelitian ini tidak dilakukan vaksinasi IBD. Diduga serokonversi ini terjadi karena adanya infeksi IBD dari lingkungan. Selama penelitian, ayam dipelihara pada kondisi kandang ayam yang mirip dengan kondisi peternakan broiler komersil sesungguhnya dimana biosekuriti yang diterapkan tidak ketat. Hal ini dilakukan agar hasil penelitian ini dapat menggambarkan kondisi yang sesungguhnya di lapangan tentang antibodi asal induk.
Keberhasilan program vaksinasi sangat bergantung pada keberadaan antibodi asal induk, Mesonero et al. (2011), dalam penelitiannya tentang efektivitas vaksin aktif Adenovirus pada ayam menemukan bahwa vaksinasi yang dilakukan pada ayam dengan jumlah antibodi asal induk yang tinggi tidak menyebabkan serokonversi, sedangkan antibodi spesifik terbentuk dengan baik jika vaksinasi dilakukan pada ayam yang tidak memiliki antibodi asal induk. Program vaksinasi dapat ditentukan dengan mengetahui waktu paruh antibodi asal induk pada anak (Van Leerdam dan Arts 2011). Menurut BioChek (2012), pelaksanaan vaksinasi terhadap IBD untuk mendapatkan hasil yang optimal sudah dapat dilakukan pada saat titer antibodi sebesar 500, berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa titer antibodi IBD pada usia 28 hari adalah sebesar 482.17 ± 105.53, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan vaksinasi terhadap IBD pada ayam broiler sebaiknya dilakukan pada usia ≥ 28 hari.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Antibodi AI dan IBD asal induk pada ayam masih bisa terdeteksi sampai usia ayam 35 hari. Rataan titer antibodi AI asal induk masih dalam level protektif sampai usia ayam 21 hari. Rataan titer antibodi IBD asal induk ≤ 500 pada usia ayam 28 hari.
Berdasarkan hasil penelitian, vaksinasi AI pada ayam broiler sebaiknya dilakukan pada usia diatas 21 hari dan vaksinasi IBD pada ayam broiler dilakukan pada usia diatas 28 hari, agar keberadaan antibodi asal induk tidak mengganggu keberhasilan vaksinasi. Mengingat siklus hidup ayam broiler yang pendek, perlu dikaji kembali apakah perlu untuk melakukan vaksinasi pada ayam broiler pada usia di atas 21 atau 28 hari.
Saran
Antibodi AI dan IBD asal induk masih terdeteksi selama siklus hidup ayam broiler. Hal ini mengindikasikan bahwa selama siklus hidupnya, ayam broiler terlindungi oleh imunitas pasif asal induk, namun untuk membuktikan hal ini diperlukan penelitian lanjutan yang mengkaji daya proteksi antibodi asal induk terhadap infeksi AI dan IBD.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Natour MQ, Ward LA, Saif YM, Steward-Brown B, Keck LD. 2004. Effect of different level of maternally derived antibodies on protection against infectious bursal disease virus. Avian Dis. 48:177-182.
Anang A, Suharyanto. 2007. Panen Ayam Kampung dalam 7 Minggu Bebas Flu
Burung. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Ashraf S. 2005. Studies on Infectious Bursal Disease Virus [disertasi]. Ohio (US): Ohio State University.
BioChek. 2002. BioChek product catalogue [Internet]. [diunduh pada 2016 Jun 24].
Tersedia pada:
http://www.asineh.com/PDF/Biochek%20Product%20catalogue.PDF
BioChek. 2012. BioChek interpretation manual [Internet]. [diunduh pada 2016 Jun
24]. Tersedia pada:
http://www.biochek.com/media/BIOCHEK%20INTERPRETATION%20Ma nual%202012%20V3.pdf
Breytenbach JH. 2005. Guidelines for effective vaccination of broilers.
International Poultry Production. 13(7): 7-9
Butcher GD, Yegani M. 2008. Investigating vaccination failure in poultry flocks
[Internet]. [diunduh pada 2016 Jun 24]. Terdapat pada:
http://edis.ifas.ufl.edu/pdffiles/VM/VM13600.pdf
Capua I, Alexander DJ. 2009. Avian Influenza and New Castle Disease: A Field and
Laboratory Manual. Milan (IT): Springer-Verlag.
Chauhan HVS, Roy S. 1996.Poultry Diseases, Diagnosis, and Treatment. New Delhi
(IN): New Age International.
[CDC] Centers for Disease Control and Prevention.2015. Influenza type A viruses.
[Internet]. [diunduh 2015 Des 26]. Terdapat pada:
http://www.cdc.gov/flu/avianflu/influenza-a-virus-subtypes.htm
Darmana W, Sitanggang M. 2003. Meningkatkan Produktivitas Ayam Arab Petelur. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Davidson MW. 2015. The influenza (flu) virus [Internet]. [diunduh 2015 Des 26]. Terdapat pada: http://micro.magnet.fsu.edu/cells/viruses/influenzavirus.html. [DITJENNAK] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2007.
Peraturan Direktur Jenderal Peternakan No: 59/Kpts/PD610/05/2007 [Internet]. [diunduh 2016 Juni 23]. Terdapat pada: https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2 &cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjgw_6otb7NAhUBuo8KHZllDO4QFg giMAE&url=http%3A%2F%2Fditjennak.pertanian.go.id%2Fdownload.ph p%3Ffile%3DJenis%2520Penyakit%2520Prioritas%25202007.pdf&usg= AFQjCNGSird9du8roiNWrtnyZ5PIiOiYlg&sig2=PfA6CbLoTHtiQ3YK5 X_IKA&bvm=bv.125221236,d.c2I
[DITJENNAK] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2016. Populasi dan Produksi Peternakan di Indonesia [Internet]. [diunduh 2015 Oktober 13]. Terdapat pada: http://www.pertanian.go.id/ASEM2015-NAK/Pop_AyamRasPedaging_Prop_2015.pdf
Dorland WA. 2007. Dorland's Medical Dictionary for Health Consumers. Amsterdam (NL): Elsevier.
Elgert KD. 2009. Immunology: Understanding The Immune System. New Jersey (US): Wiley-Blackwell.
Fadilah R. 2013. Beternak Ayam Broiler. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Gauthier J, Ludlow R. 2013. Chicken Health for Dummies. Hoboken (US): John Wiley & Sons, Inc.
Gharaibeh S, Mahmoud K. 2013. Decay of maternal antibodies in broiler chickens. Poult Sci. 92: 2333-2336.
Hamal KR, Burgess SC, Pevzner IY, Erf GF. 2006. Maternal antibody transfer from dams to their egg yolks, egg whites, and chicks in meat lines of chickens. Poult Sci. 85:1364-1372.
Horimoto T, Kawaoka Y. 2001. Pandemic threat posed by avian influenza A viruses. Clin Microbiol Rev. 14(1): 129-149.
Jhala MK, Kher HN. 1991. Seroprevalence of infectious bursal disease virus in Gujarat state. Indian Vet J. 68:402-405.
Jones KH. 2009 Juni. Health management of the modern broiler breeder male. Aviagen Brief. Edisi Juni:1-9.
Lilis C. 2014 Des 9. Proyeksi penyakit unggas 2015. Poultry Indonesia. Edisi Desember 2014:9.
Lukert PD. 1986. Serotyping recent isolates of infectious bursal disease virus.Di dalam: The 123rd Annual Meeting of the American Veterinary Medical Association; 1986 Jul 21-24; Atlanta. Atlanta (GA): Penerbit tidak diketahui. 182.
MacLachlan NJ, Dubovi EJ. 2010. Fenner’s Veterinary Virology. London (UK): Academic Press.
Mesonero A, Suarez DL, Van Santen E, Thang DC, Toro H. 2011. Avian
Influenza In Ovo Vaccination with Replication Defective Recombinant Adenovirus in Chickens: Vaccine Potency, Antibody Persistence, and Maternal Antibody Transfer. Avian Dis Digest. Vol. 55(2): 285-292. Mesonero-Morales A. 2011. In ovo-vaccination with a non-replicating
adenovirus-vectored avian influenza: Maternal immunity and effects of vaccination [tesis]. Alabama (US): Auburn University.
Mondal SP, Naqi SA 2001. Maternal antibody to infectious bronchitis virus: its role in protection against infection and development of active immunity to vaccine. Vet Immunol Immunopathol. 79:31-40.
Murphy AF, Gibbs JPEH, Orzine CM, Student JM. 1999. Veterinary Virology 3rd Ed. London (UK): London Academic Press.
[OIE] Office International des Epizooties World Organization. 2010. Terrestrial animal health code. [Internet]. [diunduh pada 2016 Mei 16]. Tersedia pada: http://www.oie.int/en/international-standardsetting/ terrestrial-code/access-online/?htmfile=chapitre_1.10.4.htm
[OIE] Office International des Epizooties. 2015. Avian influenza [Internet].
[diunduh 2016 Jan 19]. Tersedia pada:
http://www.oie.int/fileadmin/Home/fr/Health_standards/tahm/2.03.04_AI. pdf.
[OIE] Office International des Epizooties. 2016. Infectious bursal disease [Internet]. [diunduh pada 2016 Jun 24]. Tersedia pada http://www.oie.int/fileadmin/Home/eng/Health_standards/tahm/2.03.12_I BD.pdf
Palese P, Ueda M, Tobita K, Compans RW. 1974. Characterization of temperature sensitive influenza virus mutans detective in neuramidase. Virology. 18:154-157.
Paniago M. 2006 Jan. Spray vaccination in the hatcheries: Key points to achieve proper immunization of the day-old chicks. Hatchery Expertise Online. 4(1): 1.
Pattison M, McMullin PF, Bradbury JM, Alexander DJ. 2008. Poultry Diseases. Philadepia (US): Elsevier.
Petrie A, Watson P. 2006. Statistics for Veterinary and Animal Science 2nd Ed. Oxford (UK): Blackwell Publishing.
Rahayu I, Sudaryani T, Santosa. 2011. Panduan Lengkap Ayam. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rose ME, Orlans E, Buttress E. 1974. Immunoglobulin classes in the hen’s egg: Their segregation in yolk and white. Eur J Immunol. 4: 521-523.
Rose ME, Orlans E. 1981. Immunoglobulins in the egg, embryo, and young chick. Dev Comp Immunol. 5:15–20.
Schat KA, Kaspers B, Kaiser P. 2012. Avian Immunology. London (UK): Elsevier.
Setyono DJ, Ulfah M, Suharti S. 2013. Sukses Meningkatkan Produksi Ayam Petelur. Jakarta: Penebar Swadaya.
Soares R. 2008. Mei. Passive immunity: part 1. Hatchery Expertise Online. 1(18):1. Spickler AR, Roth JA, Galyon J, Lofstedt J. 2010.Emerging and Exotic Diseases of
Animals. Iowa (US): Center for Food Security and Public Health and the Institute for International Cooperation in Animal Biologics.
Stanley J. 2002. Essentials of Immunology and Serology. New York (US): Delmar.
Stockham SL, Scott MA. 2002. Fundamentals of Veterinary Clinical Pathology. Iowa
(US): Blackwell Publishing.
Swayne DE. 2009. Avian Influenza. Iowa (US): Blackwell Publishing.
Swayne DE, Glisson JR, McDougald LR, Nair V, Nolan LK, Suarez DL. 2013. Diseases of Poultry, Ed ke-13. Iowa (US): Wiley-Blackwell.
Syukron MU, Suartha IN, Dharmawan NS. 2013. Serodeteksi penyakit tetelo pada ayam di Timor Leste. IMV. 2(3):360-368.
Szabo C, Bardos L, Losonczy S, Karchesz K. 1998. Isolation of Antibodies from Chicken and Quail Eggs [Internet]. Di dalam: INABIS 5th Internet World Congress on Biomedical Sciences; Canada; 1986 Des 7-16. Canada (US): McMaster University; [diunduh 2016 Feb 27]. Tersedia pada: http://www.mcmaster.ca/inabis98/immunology/szabo0509
Tabbu CD. 2002. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya 2. Yogyakarta (ID): Kanisius.
Tamalluddin F. 2006. Panduan Lengkap Ayam Broiler. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Tizard IR. 2004. Veterinary Immunology an Introduct Sixth Edition . Philadelphia (US): W.B Saunders Company.
Tong S, Zhu X, Li Y, Shi M, Zhang J, Bourgeois M, Yang H, Chen X, Recuenco S, Gomez J, et al. 2013. New world bats harbor diverse influenza a viruses. PLoS Pathog. 9(10).
Van Boven M, Bouma A, Fabri THF, Kastma E, Hartog L, Koch G. Herd immunity to Newcastle disease virus in poultry by vaccination. Avian Pathol. 37(1): 1-5.
Van den Berg TP, Eterradossi N, Toquin D, Meulemans G. 2000. Infectious bursal disease (Gumboro disease). Rev Sci Tech Off Int Epiz. 19(2): 527-543.
Van Leerdam B, Arts HT. 2011. Serological profile and calculation of half-life time with IBD ELISA in a commercial broiler breeder flock in Netherlands. Zootenica. Edisi Juli-Agustus 2011: 44-49.
Yegani M, Butcher GD, Nilipour A, Miles RD, Taraghikhah AR. 2002. The culprits of vaccination failures. World Poultry Elsevier [Internet]. [diunduh 2016 Feb 25]; 18(8):44-45. Tersedia pada: http://www.worldpoultry.net/PageFiles/23087/001_boerderij-download-WP6300D01.pdf
Lampiran 1 Analisis titer antibodi asal induk terhadap virus AI dengan One-way ANOVA dan Uji Duncan
N Mean Std. Deviation Std. Error
95% Confidence Interval for Mean
Lower Bound D 4 6 6.6667 1.03280 .42164 5.5828 D 7 6 5.8333 .40825 .16667 5.4049 D 10 6 5.5000 1.04881 .42817 4.3993 D 14 6 4.1667 2.04124 .83333 2.0245 D 18 6 4.1667 1.47196 .60093 2.6219 D 21 6 4.0000 .00000 .00000 4.0000 D 24 6 3.8333 1.83485 .74907 1.9078 D 28 6 2.8333 2.56255 1.04616 .1441 D 32 6 3.8333 1.94079 .79232 1.7966 D 35 6 1.6667 1.96638 .80277 -.3969 Total 60 4.2500 2.03882 .26321 3.7233 95% Confidence Interval for Mean
Minimum Maximum Upper Bound D 4 7.7505 5.00 8.00 D 7 6.2618 5.00 6.00 D 10 6.6007 4.00 7.00 D 14 6.3088 1.00 7.00 D 18 5.7114 2.00 6.00 D 21 4.0000 4.00 4.00 D 24 5.7589 2.00 6.00 D 28 5.5226 1.00 7.00 D 32 5.8701 1.00 6.00 D 35 3.7303 .00 4.00 Total 4.7767 .00 8.00
ANOVA Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 114.083 9 12.676 4.832 .000 Within Groups 131.167 50 2.623 Total 245.250 59
Post Hoc Tests
Homogeneous Subsets
Duncana
Umur N
Subset for alpha = 0.05
1 2 3 4 D 4 6 1.6667 D 7 6 2.8333 2.8333 D 10 6 3.8333 3.8333 D 14 6 3.8333 3.8333 D 18 6 4.0000 4.0000 D 21 6 4.1667 4.1667 D 24 6 4.1667 4.1667 D 28 6 5.5000 5.5000 D 32 6 5.8333 5.8333 D 35 6 6.6667 Sig. .218 .220 .069 .246
Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6.000.
Lampiran 2 Analisis titer antibodi asal induk terhadap virus IBD dengan One-way ANOVA dan Uji Duncan
N Mean
Std.
Deviation Std. Error
95% Confidence Interval for Mean
Lower Bound D 4 6 5998.4511 2936.43720 1198.79547 2916.8492 D 7 6 5784.3274 2341.97599 956.10769 3326.5743 D 10 6 4929.5225 1358.49253 554.60225 3503.8720 D 14 6 3366.3558 1195.06408 487.88287 2112.2129 D 18 6 1822.0437 824.59348 336.63888 956.6860 D 21 6 1300.3261 756.01487 308.64178 506.9371 D 24 6 717.4569 320.17122 130.70935 381.4578 D 28 6 482.1680 258.51028 105.53638 210.8781 D 32 6 316.4664 378.62155 154.57160 -80.8725 D 35 6 3216.1764 2060.19836 841.07246 1054.1308 Total 60 2793.3294 2522.55358 325.66027 2141.6847 95% Confidence Interval for Mean
Minimum Maximum Upper Bound D 4 9080.0529 23.49 7613.05 D 7 8242.0804 2475.31 7951.22 D 10 6355.1730 2552.15 6489.55 D 14 4620.4986 1785.74 5134.68 D 18 2687.4015 905.83 3304.35
D 21 2093.7150 484.59 2118.25 D 24 1053.4560 117.87 998.29 D 28 753.4579 243.76 945.93 D 32 713.8054 32.24 1052.92 D 35 5378.2220 871.88 6293.59 Total 3444.9741 23.49 7951.22 ANOVA
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 259484233.550 9 28831581.50 6 12.43 3 .000 Within Groups 115949083.505 50 2318981.670 Total 375433317.056 59
Post Hoc Tests
Homogeneous Subsets
Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6.000.
Duncana
Umur N
Subset for alpha = 0.05
1 2 3 4 D 4 6 316.4664 D 7 6 482.1680 D 10 6 717.4569 D 14 6 1300.3261 D 18 6 1822.0437 1822.0437 D 21 6 3216.1764 3216.1764 D 24 6 3366.3558 3366.3558 D 28 6 4929.5225 4929.5225 D 32 6 5784.3274 D 35 6 5998.4511 Sig. .133 .103 .070 .258
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Singkawang, pada tanggal 15 Juli 1994. Penulis merupakan anak kedua dari pasangan Andy Tasmiko, SE dan Lusiana Risnandari Yulianti. Penulis memulai pendidikan formal di TKK Cor Jesu Malang (1998-2000), kemudian dilanjutkan dengan menempuh sekolah dasar di SD Islam Sabilillah Malang (2000-2006). Penulis kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 5 Malang (2006-2009) serta SMAN 8 Malang (2009-2012). Seusai menuntaskan pendidikan menengah atas, pada tahun 2012 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Undangan.
Selama studi di IPB, penulis aktif dalam organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Profesi Hewan Kesayangan dan Satwa Akuatik Eksotik sebagai anggota divisi eksternal (2013/2014) dan kemudian menjadi ketua divisi eksternal (2014/2015).