7
Induk lele sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6) lele dumbo (Sunarma 2004). Lele sangkuriang (Gambar 1) dapat hidup pada ketinggian 1-800 m. Budidaya ikan lele sangkuriang masih dapat dilakukan sampai ketinggian di atas 800 m dengan menggunakan teknologi yang memadai (BBPBAT Sukabumi 2004).
Klasifikasi ikan lele sangkuriang menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Pisces Sub kelas : Teleostei Ordo : Ostariophyta Sub ordo : Siluroidae Famili : Clariidae Genus : Clarias Species : Clarias sp.
Gambar 1. Lele sangkuriang Sumber: www.dunialele.com
2.1.1 Biologi Lele Sangkuriang
Ikan lele memiliki tubuh yang licin, berlendir dan tidak bersisik. Secara morfologi, bentuk tubuh lele memanjang, agak bulat pada bagian tengahnya dan bagian belakang berbentuk pipih. Kepala lele pipih dengan memiliki panjang yang hampir mencapai seperempat panjang tubuhnya. Sekitar mulut terdapat empat pasang sungut peraba (barbels) yang berfungsi sebagai alat peraba saat mencari makan atau saat bergerak. Dekat sungut terdapat pula alat olfaktori yang berfungsi untuk perabaan dan penciuman serta penglihatan lele yang kurang berfungsi dengan baik (Mahyuddin 2007). Sebagai alat bantu untuk berenang, lele memiliki tiga buah sirip tunggal, yakni sirip punggung (dorsal), sirip dubur (anal), dan sirip ekor (caudal). Ikan ini juga memiliki sirip berpasangan, yaitu sirip dada (pectoral) dan sirip perut (ventral). Sirip dada dilengkapi dengan tulang keras dan runcing yang biasa disebut patil untuk membela diri. Lele memiliki alat pernafasan tambahan yaitu aborescent organ yang dapat membantunya mengambil oksigen langsung dari udara sehingga mampu hidup di dalam perairan dengan kadar oksigen yang rendah atau dalam lumpur (Handojo et al. 1986 dalam Utomo 2006).
Menurut Khairuman dan Amri (2002), kualitas air yang optimal untuk kehidupan lele adalah perairan dengan suhu 20-30°C, oksigen terlarut (DO) minimum 3 mg/L, pH atau derajat keasaman 6.5-8, kandungan karbon dioksida (CO2) kurang dari 15 ppm, NH3 sebesar 0.05 mg/L, NO2 sebesar 0.25 mg/L dan
NO3 sebesar 250 mg/L. Sedangkan untuk amonia total, konsentrasi yang baik
untuk budidaya lele menurut Mahyuddin (2007) adalah maksimum 1 mg/L. Ikan lele sangkuriang tergolong ikan yang sangat responsif terhadap pakan, baik dalam
habitat asli di alam maupun di dalam kolam pemeliharaan (Khairuman dan Amri 2002).
Pada ikan lele ukuran fingerling, metabolisme dalam tubuh ikan belum stabil sehingga proses pembentukan imunitas di dalam tubuhnya belum sempurna (Viveen et al. 1987 dalam Riyanto 1993). Seiring dengan pertumbuhan ikan, maka sistem kekebalan tubuh dan mekanisme pertahanan tubuh ikan juga meningkat (Kabata 1985).
2.2 Bakteri Aeromonas hydrophila
Bakteri Aeromonas hydrophila adalah bakteri penyebab penyakit pada ikan. Umumnya hidup di air tawar yang mengandung bahan organik atau sedimen dasar perairan. Bakteri Aeromonas hydrophila banyak terdapat di daerah tropis dan subtropis dibandingkan dengan daerah dingin (Bullock et al 1971).
Klasifikasi bakteri Aeromonas hydrophila (Holt et al 1994) : Filum : Protophyta
Kelas : Schizomycetes Ordo : Pseudanonadeles Family : Vibrionaceae Genus : Aeromonas
Spesies : Aeromonas hydrophila
Gambar 2. Aeromonas hydrophila
Sumber : http://www.trbimg.com/img-4fb27f3e/turbine/la-na-nn-flesh-eating bacteria-20120515-001/600
Ciri utama bakteri Aeromonas hydrophila adalah berbentuk batang, berdiameter 0,3-1,0 μm dan panjang 1,0-3,5 μm (Aoki 1999), bersifat Gram negatif, fakultatif aerobik (dapat hidup dengan atau tanpa oksigen), tidak berspora, dan bersifat motil (bergerak aktif) karena memiliki satu flagel (monotrichous flagella) yang keluar dari salah satu kutubnya (Ghufran dan Kordi 2004). A.hydrophila hidup di lingkungan bersuhu 15-300C. Pada kisaran suhu tersebut, A.hydrophila sangat mudah menyerang tubuh ikan karena bakteri tersebut dapat masuk ke dalam tubuh ikan, ikan menjadi stres dan kemudian mati. Masa inkubasi bakteri A.hydrophila bervariasi tergantung pada kondisi
lingkungan ikan tersebut, umumnya tidak lebih dari 10-14 hari (Austin dan Austin 2007).
Penyakit yang disebabkan A.hydrophila dapat menyerang hewan amfibi, mamalia, serta berbagai jenis ikan air tawar termasuk ikan mas (Cyprinid sp.), ikan salmon (Salmonid sp.), belut (Anguilla sp.), lele (Clarias sp.) yang sering disebut Motile Aeromonas Septicemia (MAS) atau Bacterial Haemorrhagic Septicemia (Hayes 2000).
Penyakit yang disebabkan oleh A. hydrophila dapat dilihat dari adanya luka-luka eksternal pada permukaan tubuh, rusaknya ekor dan sirip serta septikemia hemoragi. Septikemia hemoragi ditandai dengan adanya lesi kecil pada permukaan tubuh yang sering disertai dengan pengelupasan sisik, perdarahan insang dan anus, ulcer, abses, exoptalmia dan kembung (dropsy). Organ internal dijumpai akumulasi cairan nanah, anemia, dan kerusakan beberapa organ terutama ginjal dan hati (Irianto 2003).
Bakteri A. hydrophila yang patogen diduga memproduksi faktor-faktor
eksotoksin yang penting dalam patogenitas terhadap penyakit. Bakteri A. hydrophila memproduksi enzim dan toksin yang dikenal sebagai produk
ekstraseluler yaitu hemolisin, enterotoksin, sitotoksin dan protease. Produksi
toksin ekstraseluler yang mengandung enzim protease dan hemolisin dari A. hydrophila bersifat racun bagi ikan. Apabila disuntikkan ke tubuh ikan, produk
ekstraseluler ini dapat menimbulkan kematian dan perubahan jaringan (Munro 1982 dalam Hanafi 2006).
Selain menghasilkan eksotoksin, bakteri A. hydrophila juga memproduksi endotoksin yang merupakan suatu toksin yang dihasilkan di dalam tubuh organisme dan hanya dibebaskan jika organisme tersebut hancur (Pelczar dan Chan 1988 dalam Husein 1993). Endotoksin yang diproduksi A. hydrophila terdiri dari protein, lipid dan polisakarida. Endotoksin atau lipopolisakarida (LPS) dari bakteri Gram negatif adalah toksik karena dapat menginduksi berbagai kondisi patologi termasuk shock, hemoragi, demam dan kematian (Munro 1982 dalam Hanafi 2006).
Menurut Angka et al. (1981), bahwa bakteri A.hydrophila memiliki derajat penularan penyakit (morbiditas) yang tinggi. Di kolam yang mempunyai kepadatan tinggi, 97% ikan menunjukkan gejala klinis, sedangkan kolam yang berpopulasi rendah derajat morbiditasnya lebih rendah yaitu 45%.
A.hydrophila merupakan penyebab penyakit ikan yang dikenal dengan haemorrhagic septicemia, motile aeromonas septicemia, ulcer disease atau red sore, red past, dan infectious dropsi. Dampak yang ditimbulkan dari penyakit MAS ini telah dikelompokkan oleh para peneliti (Snieszko dan Axelrod 1984) dengan 4 tipe, yaitu:
1. Gejala akut terlihat ikan mati dalam waktu singkat sementara tanda-tanda penyakit sama sekali belum terlihat.
2. Sub akut terlihat dengan gejala dropsy (perut agak kembung), luka, abses yang sangat nyata.
3. Kronis terlihat dengan adanya furunkel dan abses (bisul-bisul bernanah). 4. Laten tidak memperlihatkan gejala penyakit. Namun pada organ dalam
terdapat bakteri penyebab penyakit.
2.3 Manggis (Garcinia mangostana L.)
Manggis dengan nama latin Garnicia mangostana L. merupakan tanaman buah berupa pohon yang banyak tumbuh secara alami pada hutan tropis di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Vietnam dan Kamboja (Hartanto 2011). Tumbuhan manggis tersebar luas di Indonesia, baik di habitat alami maupun yang dibudidayakan, tumbuhan ini dapat ditemukan sampai ketinggian 600 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 20-30°C (Mardiana 2011).
Taksonomi tanaman manggis menurut (Verheij 1997) adalah sebagai berikut : Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Theales Familia : Clusiaceae Genus : Garcinia
Gambar 2. Kulit buah manggis
Sumber : http://www.anneahira.com/manfaat-buah- manggis.htm
Manggis (Gambar 2) merupakan salah satu tanaman buah tropika yang pertumbuhannya lambat, tetapi umurnya juga panjang. Tanaman yang berasal dari biji umumnya membutuhkan 10–15 tahun untuk mulai berbuah. Tinggi pohon manggis mencapai 10–25 meter dengan ukuran kanopi sedang serta tajuk yang rindang berbentuk piramida. Diameter batang 25–35 cm dan kulit batang kayu biasanya berwarna cokelat gelap atau hampir hitam, kasar dan cenderung mengelupas. Getah manggis berwarna kuning (getah kuning) atau resin ada pada semua jaringan utama tanaman (Cahyono dan Juanda 2000).
Menurut Rukmana (1995), buah manggis memiliki bunga yang bersifat uniseksual dioecious (berumah dua), akan tetapi hanya bunga betina yang dapat dijumpai sedangkan bunga jantan tidak berkembang sempurna (rudimenter), yaitu tumbuh kecil kemudian mengering dan tidak dapat berfungsi. Bunga betina terdapat pada pucuk ranting muda dengan diameter 5-6 cm, pedikelnya pendek, tebal dan panjang 1.8–2 cm terletak pada dasar bunga.
2.3.1 Aktifitas Antibakteri
Penilaian mutu buah manggis secara kimia dilakukan dengan mengukur kandungan pati, kandungan gula, keasaman, protein, vitamin, dan mineral (Sjaifullah 1996). Kandungan kimia buah manggis tidak dipengaruhi oleh ukuran maupun penampilan buahnya. Buah manggis berukuran kecil maupun besar dan buah manggis yang burik maupun mulus memiliki kandungan kimia yang sama (Satuhu 1999).
Kandungan metabolit sekunder dalam buah manggis diantaranya yaitu triterpen, mangostin, tanin, dan resin. Sedangkan yang terdapat dalam kulit buah manggis yaitu tanin dan xanthone. Xanthone merupakan subtansi kimia alami yang tergolong senyawa polyphenolic. Xanthone sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh sebagai antidiabetes, antikanker, anti peradangan, antibakteri, antifungi, antiplasmodial, dan meningkatkan kekebalan tubuh(Nugroho 2011).
Kulit buah manggis memiliki kimia tanin (Marisi et al 2002) yang memiliki aktivitas antibakteri. Tanin dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan pengikatan ion metal terutama ikatan yang kuat dengan Fe (besi) dan kemudian membentuk chelate. Chelate, bersifat toksik terhadap membran mikroorganisme. Ketika tanin membentuk komplek chelate dengan Fe pada medium, reaksi ini menyebabkan tidak tersedianya Fe bagi mikroorganisme untuk tumbuh dibawah kondisi aerobik. Selain itu, mekanisme antibakteri dari tanin mendenaturasi protein dan menghilangkan fungsinya. Target dari tanin membentuk komplek dengan permukaan adhesi, enzim pada membran, dan polipeptida dinding sel bakteri. Kulit buah dan daun manggis juga memiliki senyawa xanthone, salah satunya magostin yang tergolong kedalam senyawa polyphenol, dimana senyawa polyphenol dapat menghambat kerja enzim bakteri dengan mengoksidasi senyawa, karena bereaksi dengan kelompok sulfhydryl atau interaksi nonspesifik dengan protein. (Cowan 1999).
Flavonoid merupakan senyawa golongan polifenol yang larut dalam air. Flavonoid terdapat dalam semua tumbuhan hijau sehingga selalu ditemukan pada setiap ekstrak tumbuhan (Markham 1988), misalnya terdapat pada bagian biji, kulit buah, daun dan daun bunga dari tanaman. Senyawa ini jarang ditemukan dalam bentuk tunggal pada tumbuhan melainkan dalam bentuk campuran. Senyawa fenol dari tumbuhan memiliki kemampuan untuk membentuk kompleks dengan protein melalui ikatan hidrogen, sehingga dapat merusak membran sel bakteri. Flavonoid bersifat antibakteri dan antioksidan serta mampu meningkatkan kerja sistem imun karena leukosit sebagai pemakan antigen lebih cepat dihasilkan dan sistem limfoid lebih cepat diaktifkan. Senyawa ini merupakan antimikroba karena kemampuannya membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler terlarut
serta dinding sel mikroba. Flavonoid yang bersifat lipofilik akan merusak membran mikroba. Flavonoid bersifat antiinflamasi sehingga dapat mengurangi peradangan serta membantu mengurangi rasa sakit bila terjadi perdarahan atau pembengkakan pada luka (Rahman 2008).
Senyawa saponin yang terdapat pada kulit buah manggis diketahui memiliki aktivitas antibakteri dan antivirus, mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan penambah vitalitas karena mampu memperbaiki struktur maupun fungsi sel-sel tubuh. Saponin sering dimanfaatkan untuk desinfeksi media budidaya sehingga peranannya sebagai antimikroba sudah teruji (Lesmanawati 2006).
2.4 Kualitas air
Kualitas air merupakan faktor penting untuk mendukung kehidupan ikan. Kualitas air yang dipakai dalam kegiatan budidaya tidak sesuai maka dapat mengakibatkan kematian pada ikan air tawar dengan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu suhu, kandungan oksigen terlarut, derajat keasaman, amoniak, dan lain-lain (Sulistiawati 2011)
Suhu dapat diartikan sebagai derajat panas suatu perairan. Suhu sangat berpenaruh terhadap organisme di perairan dengan perannya sebagai controlling factor bagi perairan. Suhu sangat berperan dalam mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Suhu juga mempengaruhi kelarutan oksigen dalam perairan. Ikan tropis tumbuh dengan baik pada suhu air antar 25-32 0C (Boyd 1982). Suhu air media pemeliharaan yang optimal berada dalam kisaran 28-300C. Menurut Taufik (1984) dalam Ayuningtyas (2009), pada temperatur yang tinggi, bakteri A. hydrophila dan Pseudomonas fluorescens akan lebih menyerang ikan karena temperatur ini ikan mengalami stres sehingga daya tahan tubuhnya akan menurun. Oksigen terlarut merupakan faktor yang dibutuhkan oleh ikan. Kandungan oksigen terlarut kurang dari 1 mg/L akan mematikan ikan dan pada kandungan antara 1-5 mg/L cukup mendukung kehidupan ikan. Kandungan oksigen lebih dari 5 mg/L merupakan kandungan yang menyebabkan pertumbuhan normal ikan (Boyd 1982). Bakteri A. hydrophila, A. salmonicida, dan P. fluorescens dapat
menyerang ikan dengan kondisi air dengan kadar oksigen terlarut rendah (Taufik 1984 dalam Ayuningtyas 2009).
Nilai pH merupakan derajat keasaman yang terlarut dalam suatu perairan, semakin rendah pH mengakibatkan perairan menjadi asam. Nilai pH yang rendah secara tidak langsung dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada kulit sehingga memudahkan infeksi. Bakteri A. hydrophila dapat tumbuh subur pada air dengan kisaran pH 5-5,9 (Taufik 1984 dalam Ayuningtyas 2009). Menurut Boyd (1982) kisaran pH 6,5-9,0 merupakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan ikan.
Sisa makanan dan kotoran ikan akan terurai dalam bentuk amonia. Amonia akan mengurangi daya ikat hemoglobin terhadap oksigen sehingga pertumbuhan ikan terhambat dan dapat mengalami kematian. Jumlah amonia dalam air akan bertambah sesuai dengan peningkatan aktivitas dan kenaikan suhu air (Schwedier et al., 1985 dalam Noga 2000). Ikan dapat mentolerir kandungan amonia dalam air media budidaya apabila tidak lebih dari 1 mg/L (Boyd 1982).