• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL GANGGUAN TUMBUH KEMBANG.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODUL GANGGUAN TUMBUH KEMBANG.docx"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PROBLEM BASED LEARNING

LAPORAN PROBLEM BASED LEARNING

MODUL 1 GANGGUAN TUMBUH KEMBANG

MODUL 1 GANGGUAN TUMBUH KEMBANG

Kelompok 3

Kelompok 3

Andi

Andi Rizky Rizky Fatir Fatir 20107301222010730122 Hanna

Hanna Anggitya Anggitya 20107301382010730138 Indra

Indra Permana Permana Sugina Sugina 20107301402010730140 Mimi

Mimi Azmiyati Azmiyati 20107301442010730144 Ika

Ika Febriyani Febriyani 20087301042008730104 Amelia

Amelia Azzahra Azzahra D D 20107301212010730121 Dewi

Dewi Sri Sri Juliana Juliana 20107301282010730128 Moh.

Moh. Himowo Himowo Karnan Karnan 20107301432010730143 Rivanti

Rivanti Asmara Asmara Wijaya Wijaya 20107301572010730157 M.

M. Fatony Fatony Hadikusuma Hadikusuma 20107301422010730142

Tutor : dr. Yusnam Syarief, PAK Tutor : dr. Yusnam Syarief, PAK

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2012

2012

(2)
(3)

2 2

SKENARIO

SKENARIO

GANGGUAN TUMBUH KEMBANG BAYI

GANGGUAN TUMBUH KEMBANG BAYI

Seorang anak perempuan B umur 12 bulan BB 7300 gram, PB 65 cm, Lingkar kepala Seorang anak perempuan B umur 12 bulan BB 7300 gram, PB 65 cm, Lingkar kepala 41 cm, dibawa oleh ibunya karena tidak mau makan. Riwayat kelahiran ditolong oleh bidan 41 cm, dibawa oleh ibunya karena tidak mau makan. Riwayat kelahiran ditolong oleh bidan dengan BB 2500 gram, PB 48 cm, LK 33 cm, tidak langsung menangis, setelah 3 menit bayi dengan BB 2500 gram, PB 48 cm, LK 33 cm, tidak langsung menangis, setelah 3 menit bayi menangis lemah. Pasien dirawat di Perinatalogi selama 5 hari. Penimbangan 3 bulan terakhir menangis lemah. Pasien dirawat di Perinatalogi selama 5 hari. Penimbangan 3 bulan terakhir  berturut-turut

 berturut-turut beratnya beratnya naik naik 100 100 gram gram tiap tiap bulan bulan (usia (usia 10 10 bulan bulan 7100 7100 gram, gram, usia usia 11 11 bulanbulan 7200 gram, usia 12 bulan 7300 gram). Saat usia 7 bulan pasien pernah dirawat karena kejang 7200 gram, usia 12 bulan 7300 gram). Saat usia 7 bulan pasien pernah dirawat karena kejang lama sampai tidak sadar. Pada saat ini sehari-hari anak makan bubur dengan sayur, lauk pauk lama sampai tidak sadar. Pada saat ini sehari-hari anak makan bubur dengan sayur, lauk pauk  berupa tahu, temped dan

 berupa tahu, temped dan kadang telur. Usia kadang telur. Usia 3 bulan pasien 3 bulan pasien sudah diberi susu sudah diberi susu formula, pisang,formula, pisang, dan bubur bayi karena sering menangis. Imunisasi BCG diperoleh saat umur 2 bulan, polio 5 dan bubur bayi karena sering menangis. Imunisasi BCG diperoleh saat umur 2 bulan, polio 5 kali terakhir waktu PIN, hepatitis

kali terakhir waktu PIN, hepatitis B umur 40 hari dan 3 bulan, DPT umur 4 bulan B umur 40 hari dan 3 bulan, DPT umur 4 bulan dan 6 bulan.dan 6 bulan. Pasien bias tengkurap bolak-balik usia 5 bulan, belum bias duduk sendiri dan berdiri sendiri. Pasien bias tengkurap bolak-balik usia 5 bulan, belum bias duduk sendiri dan berdiri sendiri. Kadang-kadang pasien mengoceh, tangan belum bisa memegang kerincingan dengan kuat. Kadang-kadang pasien mengoceh, tangan belum bisa memegang kerincingan dengan kuat. Belum bisa makan biskuit sendiri, tak tahu main cilukbaa. Lingkungan rumah jendela kamar Belum bisa makan biskuit sendiri, tak tahu main cilukbaa. Lingkungan rumah jendela kamar selalu ditutup karena takut pasien masuk angin, lubang angin ditutup kertas karena nyamuk selalu ditutup karena takut pasien masuk angin, lubang angin ditutup kertas karena nyamuk sering masuk. Mainan yang ada di rumah : kerincingan, boneka, dan sepeda roda tiga. Pasien sering masuk. Mainan yang ada di rumah : kerincingan, boneka, dan sepeda roda tiga. Pasien anak pertama, tinggal hanya dengan kedua orang tuanya dan ibu pasien tak banyak bicara. anak pertama, tinggal hanya dengan kedua orang tuanya dan ibu pasien tak banyak bicara.

(4)

BAB I

BAB I

HASIL DISKUSI

HASIL DISKUSI

1.1

1.1 Istilah/kata sulitIstilah/kata sulit

BCG (Bacillus Calmette-Guerrin) adalah imunisasi

BCG (Bacillus Calmette-Guerrin) adalah imunisasi untuk kekebalan bakteri TBuntuk kekebalan bakteri TB

1.2

1.2 Kata/kalimat kunciKata/kalimat kunci 1.

1. Anak perempuan 12 bulanAnak perempuan 12 bulan 2.

2. BB 7300 gr, PB 65 cm, LK 41 BB 7300 gr, PB 65 cm, LK 41 cmcm 3.

3. KU: tidak mau makanKU: tidak mau makan 4.

4. Lahir : BB 2500 gr, PB 48 cm, LK 33 cm, tak langsung menangis, menangis setelah 5Lahir : BB 2500 gr, PB 48 cm, LK 33 cm, tak langsung menangis, menangis setelah 5 menit

menit 5.

5. 3 bulan berturut2 BB naik 100 gr (usia 10 bulan 7100 gram, usia 11 bulan 7200 gram,3 bulan berturut2 BB naik 100 gr (usia 10 bulan 7100 gram, usia 11 bulan 7200 gram, usia 12 bulan 7300 gram)

usia 12 bulan 7300 gram) 6.

6. Usia 7 bulan kejang lama sampai tak sadarUsia 7 bulan kejang lama sampai tak sadar 7.

7. Sehari-hari bubur, sayur, lauk pauk,tahu, tempe, kadang telSehari-hari bubur, sayur, lauk pauk,tahu, tempe, kadang tel urur 8.

8. Sejak usia 3 bulan, konsumsi sSejak usia 3 bulan, konsumsi susu formula, pisang, bubur bayi, sering menangisusu formula, pisang, bubur bayi, sering menangis 9.

9. Riwayat imunisasi : BCG 2 bulan, Polio 5x terakhir waktu PIN, hepatitis B umur 40Riwayat imunisasi : BCG 2 bulan, Polio 5x terakhir waktu PIN, hepatitis B umur 40 hari & 3 bulan, DPT umur 4

hari & 3 bulan, DPT umur 4 bulan dan 6 bulanbulan dan 6 bulan 10.

10. Usia 5 bulan bisa tengkurap bolak-balik, belum bisa duduk dan berdiri sendiriUsia 5 bulan bisa tengkurap bolak-balik, belum bisa duduk dan berdiri sendiri 11.

11. Bayi mengoceh kadang-kadang, tangan belum bisa memegang kerincinganBayi mengoceh kadang-kadang, tangan belum bisa memegang kerincingan 12.

12. Bayi Bayi tidak btidak bisa bermain isa bermain ‗cilukbaaaa..!!‘‗cilukbaaaa..!!‘ 13.

13. Jendela kamar selalu ditutup, takut bayi masuk angin.Jendela kamar selalu ditutup, takut bayi masuk angin. 14.

14. Lubang angin pintu ditutup dengan kertas karena nyamuk sering Lubang angin pintu ditutup dengan kertas karena nyamuk sering masukmasuk 15.

15. Mainan bayi : kerincingan, boneka, sepeda roda tigaMainan bayi : kerincingan, boneka, sepeda roda tiga 16.

16. Pasien tinggal dengan kedua orangtuanyaPasien tinggal dengan kedua orangtuanya 17.

(5)

4 4

1.3

(6)

1.4 Pertanyaan-pertanyaan

1. Faktor apa saja yang mempengaruhi tumbuh kembang anak?

2. Bagaimana tahap-tahap normal tumbuh kembang anak 0-12 bulan? 3. a. Sebutkan jenis imunisasi yang diberikan pada anak usia 0-12 bulan?

 b. Apakah pemberian imunisasi pada skenario sesuai dengan standar jadwal imunisasi nasional? Jelaskan!

4. Bagaimana mengaplikasikan PB, BB, LK pada scenario ke kurva/table tumbuh kembang anak?

5. a. Apa perkembangan tumbang anak dalam scenario dengan nilai anak sesuai dengan standar normal?

 b. Bagaimana status gizi anak dalam scenario?

6. a. Bagaimana peran ibu dan lingkungan terhadap tumbuh kembang anak ?  b. Jelaskan pola asah,asih,dan asuh pada anak usia 0-12 bulan?

c. Permainan yang cocok diberikan anak usia 0-12 bulan? 7. Jelaskan penilaian riwayat partus pasien pada skenario! 8. Bagaimana hubungan ASI terhadap tumbuh kembang anak?

9. Jelaskan dampak riwayat kejang terhadap tumbuh kembang anak! 10. Jelaskan penatalaksaan kasus pada skenario!

(7)

6

BAB II

PEMBAHASAN

1. Faktor apa saja yang mempengaruhi tumbuh kembang anak?

Secara umum terdapat dua faktor utama yg berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yaitu:

a. Faktor genetik

Melalui instruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur yg telah dibuahi, dapat di tentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Yang termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yg normal dan patologik, jenis kelamin, suku atau  bangsa. Potensi genetik yg bermutu diharapkan dapat berinteraksi dengan lingkungan

secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yg optimal. b. Faktor lingkungan

Lingkungan yg cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yg kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan ini merupakan lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial yang mempengaruhi individu setiap hari mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.

Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu : a) Faktor lingkungan prenatal

 b) Faktor lingkungan postnatal a) Faktor lingkungan prenatal

1. Gizi

Gizi ibu yg jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu hamil lebih sering menghasilkan bayi BBLR atau lahir mati dan jarang menyebabkan cacat bawaan. Di samping itu pula meyebabkan hambatan pertumbuhan otak  janin, anemia pada bayi baru lahir, bayi baru lahir mudah terkena infeksi,

abortus dan sebagainya. 2. Mekanis

faktor mekanis seperti posisi fetus yg abnormal dan oligohidroamnion dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti clubfoot, mikrognatia dan kaki  bengkok.

(8)

3. Toksin kimia

Masa organogenesis adalah masa yg sangat rentan terhadap zat-zat teratogen. Misalnya obat-obatan seperti thalidomide, phenitoin, metahdion, obat-obat anti kanker dan lain sebagainya dapat menyebabkan kelainan bawaan.

4. Endokrin

Hormon-hormon yg mungkin berperan pada pertumbuhan janin adalah somatotropin, hormon placenta, hormon tiroid, insulin dan peptide-peptide lain dengan aktivitas mirip insulin.

5. Radiasi

Pemakaian radium dan sinar rontgen yg tidak mengikuti aturan dapat menyebabkan kelainan pada fetus.

6. Anoksia embrio

Keadaan anoksia pada embrio dapat mengakibatkan pertumbuhan terganggu b) Faktor post natal

1. Lingkungan biologis

Meliputi ras, suku, jenis kelamin, umur yg paling rawan adalah balita, fungsi metabolism, gizi, perawatan kesehatan dan hormone yg aktif membantu tumbuh kembang.

2. Faktor fisik

Meliputi cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah, sanitasi (akibat sanitasi yg kurang maka anak akan sering sakit), keadaan rumah.

3. Faktor psikososial

Banyak faktor-faktor psikososial yang sangat berpengaruh terhadap  pertumbuhan dan perkembangan anak, antara lain: stimulasi, motivasi belajar,

ganjaran ataupun hukuman yang wajar, kelompok sebaya, stress, sekolah, cinta dan kasih saying.

4. Faktor keluarga dan adat istiadat

Faktor keluarga dan adat istiadat juga tidak terlepas peranannya terhadap  pertumbuhan dan perkembangan anak, faktor tersebut antara lain : pekerjaan/  pendapatan keluarga, pendidikan ayah/ibu.

(9)

8

2. Bagaimana tahap-tahap normal tumbuh kembang anak 0-12 bulan? Tahap-tahap tumbuh kembang anak :

0 - 3 BULAN

 Belajar angkat kepala & mengikuti objek  Tersenyum

 Bereaksi dengan suara  Mengenal pengasuhnya  Mengoceh spontan

3-6 BULAN

 Mengangkat kepala 90 derajat & mengangkat dada dengan bertopang dagu  Belajar meraih benda disekitarnya

 Menaruh benda di mulutnya  Memperluas lapangan pandang  Tertawa

6-9 BULAN

 Dapat duduk tanpa dibantu  Dapat tengkurap bolak balik

 Merangkak meraih benda, mendekati seseorang

 Memindahkan benda dari tangan yang satu ke tangan yang lain  Memegang benda kecil dengan ibu jari & telunjuk

 Bergembira melempar suatu benda

 Mengenal wajah keluarga, takut dengan orang asing  Berpartisipasi dalam gerak tepuk tangan

9-12 BULAN

 Dapat berdiri sendiri tanpa dibantu, berjalan dengan dituntun  Menirukan suara

 Mengulang bunyi yang didengar  Belajar satu atau dua kata

 Mengerti perintah/larangan yang sederhana  Berpartisipasi dalam permainan

(10)

BERAT BADAN

Penambahan berat badan bayi pada tahun pertama berkisar antara: •700 –  1000 gr/bln pd triwulan I

•500 –  600 gr/bln pd triwulan II •350 –  450 gr/bln pd triwulan III •250 –  350 gr/bln pd triwulan IV

PANJANG BADAN

Penambahan panjang badan bayi pada tahun pertama berkisar antara:

 Trimester I : 2,8 –  4,4 cm / bulan  Trimester II : 1,9 –  2,6 cm / bulan  Trimester III : 1,3 –  1,6 cm / bulan  Trimester IV : 1,2 –  1,3 cm / bulan

(11)

10

LINGKAR KEPALA

Penambahan ukuran lingkar kepala bayi pada tahun pertama berkisar antara: • 0 - 3 bln = 2 cm/bln

• 4 - 6 bln = 1 cm/bln • 6 –  12 bln = 0,5 cm/bln

(12)

3. a. Sebutkan jenis imunisasi yang diberikan pada anak usia 0-12 bulan?

b. Apakah pemberian imunisasi pada skenario sesuai dengan standar jadwal imunisasi nasional? Jelaskan!

Sumber : Sari Pediatri Vol.11 No.6, April 2010

(13)
(14)

5 jenis imunisasi yang wajib diperoleh bayi sebelum usia setahun. 1. IMUNISASI BCG

Ketahanan terhadap penyakit TB (Tuberkulosis) berkaitan dengan keberadaan Bakteri tubercle bacili yang hidup di dalam darah. Itulah mengapa, agar memiliki kekebalan aktif, dimasukkanlah jenis basil tak berbahaya ini ke dalam tubuh, alias vaksinasi BCG ( Bacillus Calmette-Guerin).

Seperti diketahui, Indonesia termasuk negara endemis TB (penyakit TB terus-menerus ada sepanjang tahun) dan merupakan salah satu negara dengan penderita TB tertinggi di dunia. TB disebabkan kuman  Mycrobacterium tuberculosis, dan mudah sekali menular melalui droplet , yaitu butiran air di udara yang terbawa keluar saat penderita batuk, bernapas ataupun  bersin. Gejalanya antara lain: berat badan anak susah bertambah, sulit makan, mudah sakit,  batuk berulang, demam dan berkeringat di malam hari, juga diare persisten. Masa inkubasi

TB rata-rata berlangsung antara 8-12 minggu.

Untuk mendiagnosis anak terkena TB atau tidak, perlu dilakukan tes rontgen untuk mengetahui adanya vlek, tes  Mantoux  untuk mendeteksi peningkatan kadar sel darah putih, dan tes darah untuk mengetahui ada-tidak gangguan laju endap darah. Bahkan, dokter pun  perlu melakukan wawancara untuk mengetahui, apakah si kecil pernah atau tidak, berkontak

dengan penderita TB.

Jika anak positif terkena TB, dokter akan memberikan obat antibiotik khusus TB yang harus diminum dalam jangka panjang, minimal 6 bulan. Lama pengobatan tak bisa diperpendek karena bakteri TB tergolong sulit mati dan sebagian ada yang ―tidur‖. Karenanya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Selain menghindari anak berkontak dengan penderita TB, juga meningkatkan daya tahan tubuhnya yang salah satunya melalui pemberian imunisasi BCG. * Jumlah Pemberian:

Cukup 1 kali saja, tak perlu diulang (booster ). Sebab, vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus. Berbeda dengan vaksin berisi kuman mati, hingga memerlukan pengulangan.

* Usia Pemberian:

Di bawah 2 bulan. Jika baru diberikan setelah usia 2 bulan, disarankan tes  Mantoux (tuberkulin) dahulu untuk mengetahui apakah si bayi sudah kemasukan kuman  Mycobacterium tuberculosis atau belum. Vaksinasi dilakukan bila hasil tesnya negatif. Jika

ada penderita TB yang tinggal serumah atau sering bertandang ke rumah, segera setelah lahir si kecil diimunisasi BCG

(15)

14

* Lokasi Penyuntikan:

Lengan kanan atas, sesuai anjuran WHO. Meski ada juga petugas medis yang melakukan  penyuntikan di paha.

* Efek Samping:

Umumnya tidak ada. Namun pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak atau leher bagian bawah (atau di selangkangan bila penyuntikan dilakukan di paha). Biasanya akan sembuh sendiri.

* Tanda Keberhasilan:

Muncul bisul kecil dan bernanah di daerah bekas suntikan setelah 4-6 minggu. Tidak menimbulkan nyeri dan tak diiringi panas. Bisul akan sembuh sendiri dan meninggalkan luka  parut.

Jikapun bisul tak muncul, tak usah cemas. Bisa saja dikarenakan cara penyuntikan yang salah, mengingat cara menyuntikkannya perlu keahlian khusus karena vaksin harus masuk ke dalam kulit. Apalagi bila dilakukan di paha, proses menyuntikkannya lebih sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal.

Jadi, meski bisul tak muncul, antibodi tetap terbentuk, hanya saja dalam kadar rendah. Imunisasi pun tak perlu diulang, karena di daerah endemis TB, infeksi alamiah akan selalu ada. Dengan kata lain, anak akan mendapat vaksinasi alamiah.

* KontraIndikasi:

Tak dapat diberikan pada anak yang berpenyakit TB atau menunjukkan Mantoux positif. 2. Imunisasi Hepatitis B

Lebih dari 100 negara memasukkan vaksinasi ini dalam program nasionalnya. Apalagi Indonesia yang termasuk negara endemis tinggi penyakit hepatitis. Jika menyerang anak,  penyakit yang disebabkan virus ini sulit disembuhkan. Bila sejak lahir telah terinfeksi virus hepatitis B (VHB), dapat menyebabkan kelainan-kelainan yang dibawanya terus hingga dewasa. Sangat mungkin terjadi sirosis atau pengerutan hati (kerusakan sel hati yang berat). Bahkan yang lebih buruk bisa mengakibatkan kanker hati.

Banyak jalan masuknya VHB ke tubuh si kecil. Yang potensial melalui jalan lahir. Bisa sejak dalam kandungan sudah tertular dari ibu yang mengidap hepatitis B atau saat proses kelahiran. Cara lain melalui kontak dengan darah penderita, semisal transfusi darah. Bisa juga melalui alat-alat medis yang sebelumnya telah terkontaminasi darah dari penderita hepatitis B, seperti jarum suntik yang tidak steril atau peralatan yang ada di klinik gigi. Bahkan juga lewat sikat gigi atau sisir rambut yang digunakan antaranggota keluarga.

(16)

Malangnya, tak ada gejala khas yang tampak secara kasat mata. Bahkan oleh dokter sekalipun. Fungsi hati kadang tak terganggu meski sudah mengalami sirosis. Tidak cuma itu. Anak juga terlihat sehat, nafsu makannya baik, berat tubuhnya pun naik dengan bagus pula. Penyakitnya baru ketahuan setelah dilakukan pemeriksaan darah. Gejala baru tampak begitu hati si penderita tak mampu lagi mempertahankan metabolisme tubuhnya.

Upaya pencegahan adalah langkah terbaik. Jika ada salah satu anggota keluarga dicurigai kena VHB, biasanya dilakukan  screening   terhadap anak-anaknya untuk mengetahui apakah membawa virus atau tidak. Pemeriksaan harus dilakukan kendati anak tak menunjukkan gejala sakit apa pun. Selain itu, imunisasi merupakan langkah efektif untuk mencegah masuknya VHB.

* Jumlah Pemberian:

Sebanyak 3 kali, dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua, kemudian 5  bulan antara suntikan kedua dan ketiga.

* Usia Pemberian:

Sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir. Dengan syarat, kondisi bayi stabil, tak ada gangguan pada paru-paru dan jantung. Dilanjutkan pada usia 1 bulan, dan usia antara 3-6  bulan. Khusus bayi yang lahir dari ibu pengidap VHB, selain imunisasi yang dilakukan kurang dari 12 jam setelah lahir, juga diberikan imunisasi tambahan dengan imunoglobulin antihepatitis B dalam waktu sebelum berusia 24 jam.

* Lokasi Penyuntikan:

Pada anak di lengan dengan cara intramuskuler. Sedangkan pada bayi di paha lewat anterolateral (antero = otot-otot di bagian depan; lateral = otot bagian luar). Penyuntikan di  bokong tak dianjurkan karena bisa mengurangi efektivitas vaksin.

* Efek Samping:

Umumnya tak terjadi. Jikapun ada (kasusnya sangat jarang), berupa keluhan nyeri pada bekas suntikan, yang disusul demam ringan dan pembengkakan. Namun reaksi ini akan menghilang dalam waktu dua hari.

* Tanda Keberhasilan:

Tak ada tanda klinis yang dapat dijadikan patokan. Namun dapat dilakukan pengukuran keberhasilan melalui pemeriksaan darah dengan mengecek kadar hepatitis B-nya setelah anak  berusia setahun. Bila kadarnya di atas 1000, berarti daya tahannya 8 tahun; di atas 500, tahan 5 tahun; di atas 200, tahan 3 tahun. Tetapi kalau angkanya cuma 100, maka dalam setahun akan hilang. Sementara bila angkanya nol berarti si bayi harus disuntik ulang 3 kali lagi.

(17)

16

* Tingkat Kekebalan:

Cukup tinggi, antara 94-96%. Umumnya, setelah 3 kali suntikan, lebih dari 95% bayi mengalami respons imun yang cukup.

* Indikasi Kontra:

Tak dapat diberikan pada anak yang menderita sakit berat. 3. Imunisasi Polio

Belum ada pengobatan efektif untuk membasmi polio. Penyakit yang dapat menyebabkan kelumpuhan ini, disebabkan virus poliomyelitis yang sangat menular. Penularannya bisa lewat makanan/minuman yang tercemar virus polio. Bisa juga lewat percikan ludah/air liur  penderita polio yang masuk ke mulut orang sehat.

Virus polio berkembang biak dalam tenggorokan dan saluran pencernaan atau usus, lalu masuk ke aliran darah dan akhirnya ke sumsum tulang belakang hingga bisa menyebabkan kelumpuhan otot tangan dan kaki. Bila mengenai otot pernapasan, penderita akan kesulitan  bernapas dan bisa meninggal.

Masa inkubasi virus antara 6-10 hari. Setelah demam 2-5 hari, umumnya akan mengalami kelumpuhan mendadak pada salah satu anggota gerak. Namun tak semua orang yang terkena virus polio akan mengalami kelumpuhan, tergantung keganasan virus polio yang menyerang dan daya tahan tubuh si anak. Nah, imunisasi polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan virus polio.

* Jumlah Pemberian:

Bisa lebih dari jadwal yang telah ditentukan, mengingat adanya imunisasi polio massal.  Namun jumlah yang berlebihan ini tak akan berdampak buruk. Ingat, tak ada istilah overdosis

dalam imunisasi! * Usia Pemberian:

Saat lahir (0 bulan), dan berikutnya di usia 2, 4, 6 bulan. Dilanjutkan pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Kecuali saat lahir, pemberian vaksin polio selalu dibarengi dengan vaksin DTP.

* Cara Pemberian:

Bisa lewat suntikan (Inactivated Poliomyelitis Vaccine/IPV), atau lewat mulut (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV). Di tanah air, yang digunakan adalah OPV.

* Efek Samping:

Hampir tak ada. Hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing, diare ringan, dan sakit otot. Kasusnya pun sangat jarang.

(18)

Dapat mencekal hingga 90%. * Indikasi Kontra:

Tak dapat diberikan pada anak yang menderita penyakit akut atau demam tinggi (di at as 38C); muntah atau diare; penyakit kanker atau keganasan; HIV/AIDS; sedang menjalani pengobatan steroid dan pengobatan radiasi umum; serta anak dengan mekanisme kekebalan terganggu. 4. Imunisasi DTP

Dengan pemberian imunisasi DTP, diharapkan penyakit difteri, tetanus, dan pertusis, menyingkir jauh dari tubuh si kecil. Kekebalan segera muncul seusai diimunisasi.

* Usia & Jumlah Pemberian:

Sebanyak 5 kali; 3 kali di usia bayi (2, 4, 6 bulan), 1 kali di usia 18 bulan, dan 1 kali di usia 5 tahun. Selanjutnya di usia 12 tahun, diberikan imunisasi TT

* Efek Samping:

Umumnya muncul demam yang dapat diatasi dengan obat penurun panas. Jika demamnya tinggi dan tak kunjung reda setelah 2 hari, segera bawa si kecil ke dokter. Namun jika demam tak muncul, bukan berarti imunisasinya gagal, bisa saja karena kualitas vaksinnya jelek, misal.

Untuk anak yang memiliki riwayat kejang demam, imunisasi DTP tetap aman. Kejang demam tak membahayakan, karena si kecil mengalami kejang hanya ketika demam dan tak akan mengalami kejang lagi setelah demamnya hilang. Jikapun orangtua tetap khawatir, si kecil dapat diberikan vaksin DTP asesular yang tak menimbulkan demam. Kalaupun terjadi demam, umumnya sangat ringan, hanya sekadar sumeng .

* Indikasi Kontra:

Tak dapat diberikan kepada mereka yang kejangnya disebabkan suatu penyakit seperti epilepsi, menderita kelainan saraf yang betul-betul berat atau habis dirawat karena infeksi otak, dan yang alergi terhadap DTP. Mereka hanya boleh menerima vaksin DT tanpa P karena antigen P inilah yang menyebabkan panas.

Penyakit DTP yang BERBAHAYA 1. Difteri

Penyakit yang disebabkan kuman Corynebacterium diphtheriae  ini, gejalanya mirip radang tenggorokan, yaitu batuk, suara serak, dan tenggorokan sakit. Namun, difteri tak disertai  panas sebagaimana yang terjadi pada radang tenggorokan. Gejala lain difteri adalah kesulitan  bernapas (leher seperti tercekik dan napas berbunyi), sehingga wajah dan tubuh membiru,

(19)

18

Bakteri penyebab difteri ditularkan saat batuk, bersin, atau kala berbicara. Masa inkubasinya 1-6 hari. Penderita harus mendapatkan perawatan di rumah sakit dalam waktu cukup lama, sekitar 2-3 minggu, dan baru boleh pulang setelah penyakitnya benar-benar hilang 100%. Soalnya, difteri bisa kambuh lagi kalau belum betul-betul sembuh.

2. Tetanus

Disebabkan oleh bakteri Clostridium Tetani, penyakit ini berisiko menyebabkan kematian. Infeksi tetanus bisa terjadi karena luka, sekecil apa pun luka itu. Tetanus rawan menyerang  bayi baru lahir, biasanya karena tindakan atau perawatan yang tidak steril.

Gejala-gejala yang tampak antara lain kejang otot rahang, rasa sakit dan kaku di leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik untuk mematikan kuman, antikejang untuk merilekskan otot-otot, dan antitetanus untuk menetralisir toksinnya.

3. Pertusis

Disebut juga kinghoest , batuk rejan, atau batuk 100 hari lantaran batuknya memang  berlangsung lama, bisa sampai 3 bulan. Penyakit ini mudah sekali menular melalui udara yang

mengandung bakteri Bordetella pertussis. Masa inkubasinya 6-20 hari.

Gejala awalnya seperti flu biasa, yaitu demam ringan, batuk, dan pilek, yang berlangsung selama 1-2 minggu. Kemudian, gejala batuknya mulai nyata dan kuat, batuk panjang secara terus-menerus yang berbeda dengan batuk biasa. Tak jarang, karena kuatnya batuk ini, anak  bisa sampai menungging-nungging, muntah-muntah, mata merah, berai r, dan napasnya susah. Gejalanya sangat berat. Bahkan beberapa penderita bisa mengalami perdarahan. Setelah 2-4 minggu berlalu, batuk mulai berkurang dan kondisi anak mulai pulih.

Penderita akan diberi obat antibiotik untuk mematikan kuman, dan obat untuk mengurangi/menghentikan batuknya. Istirahat yang cukup, banyak minum, dan konsumsi makanan bergizi akan membantu mempercepat kesembuhan.

5. Imunisasi Campak 

Sebenarnya, bayi sudah mendapat kekebalan campak dari ibunya. Namun seiring  bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak. Apalagi penyakit campak mudah menular, dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali terserang penyakit yang disebabkan virus Morbili ini. Untungnya, campak hanya diderita sekali seumur hidup. Jadi, sekali terkena campak, setelah itu biasanya tak akan terkena lagi.

(20)

Penularan campak terjadi lewat udara atau butiran halus air ludah (droplet ) penderita yang terhirup melalui hidung atau mulut. Pada masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari, gejalanya sulit dideteksi. Setelah itu barulah muncul gejala flu (batuk, pilek, demam), mata kemerah-merahan dan berair, si kecil pun merasa silau saat melihat cahaya. Kemudian, di sebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Beberapa anak  juga mengalami diare. Satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5°C. Seiring dengan itu, barulah keluar bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas  penyakit ini. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi juga tak terlalu kecil. Awalnya hanya muncul di beberapa bagian tubuh saja seperti kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Dalam waktu 1 minggu, bercak-bercak merah ini akan memenuhi seluruh tubuh. Namun bila daya tahan tubuhnya baik, bercak-bercak merah ini hanya di beberapa bagian tubuh saja dan tidak  banyak.

Jika bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan sendirinya. Bercak merah pun akan berubah jadi kehitaman dan bersisik, disebut hiperpigmentasi. Pada akhirnya  bercak akan mengelupas atau rontok atau sembuh dengan sendirinya. Umumnya, dibutuhkan waktu hingga 2 minggu sampai anak sembuh benar dari sisa-sisa campak. Dalam kondisi ini, tetaplah meminum obat yang sudah diberikan dokter. Jaga stamina dan konsumsi makanan  bergizi. Pengobatannya bersifat simptomatis, yaitu mengobati berdasarkan gejala yang

muncul. Hingga saat ini, belum ditemukan obat yang efektif mengatasi virus campak.

Jika tak ditangani dengan baik campak bisa sangat berbahaya. Bisa terjadi komplikasi, terutama pada campak yang berat. Ciri-ciri campak berat, selain bercaknya di sekujur tubuh, gejalanya tidak membaik setelah diobati 1-2 hari. Komplikasi yang terjadi biasanya berupa radang paru-paru (broncho pneumonia) dan radang otak (ensefalitis). Komplikasi inilah yang umumnya paling sering menimbulkan kematian pada anak.

Usia & Jumlah Pemberian:

Sebanyak 2 kali; 1 kali di usia 9 bulan, 1 kali di usia 6 tahun. Dianjurkan, pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR ( Measles Mumps  Rubella).

(21)

20

Umumnya tidak ada. Pada beberapa anak, bisa menyebabkan demam dan diare, namun kasusnya sangat kecil. Biasanya demam berlangsung seminggu. Kadang juga terdapat efek kemerahan mirip campak selama 3 hari.

4. Bagaimana mengaplikasikan PB, BB, LK pada scenario ke kurva/table tumbuh kembang anak?

(22)

A

BB/U TB/U

BB TB

(23)

22

Anak perempuan Usia = 12 bulan BB =7300 gram PB = 65 cm

STATUS GIZI NCHS (PENILAIAN STATUS GIZI ANAK)

Penilaian Status Gizi Anak 

Ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat.Salah satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan Antropometri. Dalam  pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang

dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut.

Umur

Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak  perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004).

Berat Badan

Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun. Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan  penilaian dengam melihat perubahan berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu (Djumadias Abunain, 1990).

(24)

Tinggi Badan

Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak  baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun ( Depkes RI, 2004).

Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh (M.Khumaidi, 1994).

Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitive/peka dalam menunjukkan keadaan gizi kurang bila dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan dalam BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi kurus/wasting < -2SD diatas 10 % menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius dan  berhubungan langsung dengan angka kesakitan.

Tabel 1 Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS

 No Indeks yang dipakai Batas Pengelompokan Sebutan Status Gizi 1 BB/U < -3 SD Gizi buruk

- 3 s/d <-2 SD Gizi kurang - 2 s/d +2 SD Gizi baik > +2 SD Gizi lebih 2 TB/U < -3 SD Sangat Pendek

- 3 s/d <-2 SD Pendek - 2 s/d +2 SD Normal > +2 SD Tinggi 3 BB/TB < -3 SD Sangat Kurus - 3 s/d <-2 SD Kurus - 2 s/d +2 SD Normal > +2 SD Gemuk

(25)

24

Data baku WHO-NCHS indeks BB/U, TB/U dan BB/TB disajikan dalan dua versi yakni  persentil (persentile) dan skor simpang baku (standar deviation score = z). Menurut Waterlow,et,al, gizi anak-anak dinegara-negara yang populasinya relative baik (well-nourished), sebaik nya digunakan ―presentil‖, sedangkan dinegara untuk anak -anak yang  populasinya relative kurang (under nourished) lebih baik menggunakan skor simpang baku

(SSB) sebagai persen terhadap median baku rujukan ( Djumadias Abunaim,1990).

Tabel 2. Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks Antropometri (BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS)

 No Indeks yang digunakan Interpretasi BB/U TB/U BB/TB

1 Rendah Rendah Normal Normal, dulu kurang gizi Rendah Tinggi Rendah Sekarang kurang ++ Rendah Normal Rendah Sekarang kurang + 2 Normal Normal Normal Normal

 Normal Tinggi Rendah Sekarang kurang

 Normal Rendah Tinggi Sekarang lebih, dulu kurang 3 Tinggi Tinggi Normal Tinggi, normal

Tinggi Rendah Tinggi Obese

Tinggi Normal Tinggi Sekarang lebih, belum obese Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) :

Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS  Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Tinggi : > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Pengukuran Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh dengan mengurangi Nilai Induvidual Subjek (NIS) dengan Nilai Median Baku Rujukan (NMBR) pada umur yang  bersangkutan, hasilnya dibagi dengan Nilai Simpang Baku Rujukan (NSBR). Atau dengan

menggunakan rumus :

(26)

Status gizi berdasarkan rujukan WHO-NCHS oleh para pakar Gizi dikategorikan seperti diperlihatkan pada tabel 1 diatas serta di interpretasikan berdasarkan gabungan tiga indeks antropometri seperti yang terlihat pada tabel 2.

Untuk memperjelas penggunaan rumur Zskor dapat dicontohkan sebagai berikut: Diketahui BB= 60 kg TB=145 cm

Umur : karena umur dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB berdasarkan WHO-NCHS hanya dibatasi < 18 tahun maka disini dicontohkan anak laki-laki usia 15 tahun

Jadi untuk indeks BB/U adalah

= Z Score = ( 60 kg –  56,7 ) / 8.3 = + 0,4 SD = status gizi baik

Untuk IndeksTB/U adalah

= Z Score = ( 145 kg –  169 ) / 8.1 = - 3.0 SD = status gizi pendek

Untuk Indeks BB/TB adalah

= Z Score = ( 60 –  36.9 ) / 4 = + 5.8 SD = status gizi gemuk

Table weight (kg) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS Age Standard Deviations

Yr mth -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd +3sd 15 0 31.6 39.9 48.3 56.7 69.2 81.6 94.1 Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

Table weight (kg) by stature of boys 145 cm in Height from WHO-NCHS Stature Standard Deviations

cm -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd +3sd 145 0 24.8 28.8 32.8 36.9 43.0 49.2 55.4 Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

(27)

26

Table stature (cm) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS Stature Standard Deviations

Yr mth -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd +3sd 15 0 144.8 152.9 160.9 169.0 177.1 185.1 193.2 Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

Interpretasi Berdasarkan % Berat Badan Ideal Menurut Umur

 BB saat ini/BB ideal < 70% Gizi buruk  BB saat ini/BB idea70% –  80% Gizi kurang  BB saat ini/BB idea80% –  100% Gizi baik  BB saat ini/BB idea100% –  110 % Gizi lebih

 BB saat ini/BB idea> 110% Obesitas/Obesity (harus dihitung BMI)

Pada scenario: PB <2 persentil, BB persentil 5 LP <5 persentil

Untk menilai BB ideal menurut umur maka : 7,3/9,9 = 73,7% (Gizi kurang)

5. a. Apa perkembangan tumbang anak dalam scenario dengan nilai anak sesuai dengan standar normal?

b. Bagaimana status gizi anak dalam scenario?

 0-6 bulan harus diberikan ASI eksklusif memenuhi 100% kebutuhan

 6-12 bulan ASI memenuhi 60-70% kebutuhan, perlu makanan pendamping ASI yg

adekuat

 >12 bulan ASI hanya memenuhi 30% kebutuhan ,ASI tetap diberikan untuk

keuntungan lainnya.

Perkembangan Ketrampilan Makan

Umur Kemampuan Bayi Makanan yang diberikan

0-5 bulan Refleks menghisap dan menellan Refleks melepeh

Kontro.lleher kepala punggung lemah

ASI

(28)

4-6 bulan Mengatup bibir saat sendojk ditarik ke luar Gerak lidah ke atas ke bawah

Duduk dg bantuan

Menelan sesendok makanan tanpa tersedak Mengontrol makanan dalam mulut

Membuka mulut lihat makanan

Tambahkan makanan saring /halus

Bubur sereal

Puree kentang/ labu /ubi Puree buah

8-10 bulan Gerak lidah ke kanan ke kiri Memegang sendok sendiri

Mampu mengunyah , ada bbrp gigi, memasukkan jari/ makanan ke mulut

Mulai minum dari cangkir/gelas dg bantuan

Tambahkan makanan keluarga yg dimodifikasi :kuning telur dihancurkan, finger foods, keju,  biskuit , potongan buah, jus  buah, kacang yg dilumatkan

10-11  bulan

Gerakan rahang memutar Tambahkan makanan keluarga

Terlambat mengenalkan makanan padat beresiko timbulnya masalah makan

 Pengenalan pada usia

 6 bulan bayi/anak mau mengkonsumsi makanan keluarga lebih v ariatif

 10 bulan atau lebih mengkonsumsi lebih sedikit jenis makanan dibanding kelompok usia 6 bulan

 15 bulan lebih sedikit yg mau makanan keluarga dibanding kelompok pengenalan  pada usia 6-9 bulan

Pelaksanaan pemberian makan yang sebaik-baiknya kepada bayi dan anak, bertujuan sebagai  berikut:

1. Memeberikan nutrient yg sukup untuk kebutuhan ; memelihara kes ehatan dan memulihkannya bila sakit, melaksanakan berbagai jenis aktifitas, pertumbuhan dan  perkembangan jasmani serta psikomotor.

(29)

28

Kebutuhan Nutrien pada bayi 1. Air

Pada masa bayi, terutama bayi muda jumlah air yg dianjurkan untuk diberikan sangat  penting, dibandingkan dengan bayi yg lebih tua dan golongan umur selanjutnya, karna

air merupakan nutrient yg menjadi medium untuk nutrient lainnya.

Tabel : kebutuhan air rata-rata dari bayi

Umur Air/kgbb/hari(ml) 3 hari 80 –  100 10 hari 125 –  150 3 bulan 140 –  160 6 bulan 130 –  155 9 bulan 125 –  145 1 tahun 120 –  135 2. Energi

Komisi ahli FAO/WHO pada tahun 1971 mengemukakan bahwa reuquitmen dari kalori harus disesuaikan dengan berat badan selama masa pertumbuhan

Tabel : Kebutuhan energy rata-rata dari bayi

Umur Kebutuhan energy ( kal/kgbb/hari)

3 bulan 120

3 – 5 bulan 115 6 – 8 bulan 110 9 – 11 bulan 105

Rata – rata selama masa bayi 112 110 ( 100 –  120 )

3. Protein 4. Lemak 5. Kabrohidrat

(30)

Pengaturan makan untuk bayi

Makanan untuk bayi sehat terdiri dari :

1. Makanan utama yaitu air susu ibu ( ASI ) : jika asi sama sekali tidak ada dapat diberikan makanan buatan sebagai penggantinya.

2. Makanan pelengkap terdiri dari buah –  buahan, biscuit, makanan padat bayi yaitu  bubur susu, nasi tim atau makanan lain yg sejenis.

Bayi baru lahir sampai umur 4 bulan

Bayi mulai disusukan sedini mungkin langsung setelah lahir. Waktu dan lama menyusui disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Hindarkan pemberian tambahan sepert i madu, air larutann glukosa dan makanan prelakteal lainnya. Jika setelah disusukan kemudian ternyata  bayi menjadi kebiruan dan sesak nafas, perlu difikirkan terhadap kemungkinan adanya

kelainan seperti obstruksi atau fistula esophagus. Selanjutnya bayi dapat diberikan buah- buahan (pisang) atau biscuit sejak usia 2 bulan sedangkan pemberian makanan lumat sampai

lembik ( bubur susu ) pada usia 3 –  4 bulan, sesuai keperluan bayi masing –  masing. Bayi umur 5 - 6 bulan

Dapat diberikan dua kali bubur susu sehari, buah-buahan dan telur. Bayi umur 6 –  7 bulan

Bayi dapat diberi nasi tim, bahan makanan sumber protein hewani, hati, daging cincang, telur atau tepung ikan dan bahan makanan protein nabati yaitu tahu, tempe, sayuran hijau ( bayam ), buah tomat dan wortel.

Umur 8 –  12 bulan

(31)
(32)

6. a. Bagaimana peran ibu dan lingkungan terhadap tumbuh kembang anak ? b. Jelaskan pola asah,asih,dan asuh pada anak usia 0-12 bulan?

c. Permainan yang cocok diberikan anak usia 0-12 bulan? a). Peran ibu dan lingkungan terhadap tumbuh kembang anak Faktor lingkungan :

a. Faktor lingkungan prenatal

1. Gizi ibu pada waktu ibu hamil

Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR atau lahir mati dan  jarang menyebabkan cacat bawaan. Disamping itu dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan otak janin,anemia pada bayi baru lahir mudah terkena infeksi,abortus dan sebagainya.

2. Mekanis

Trauma dan cairan ketuban yang kurang dapat menyebabkan kelainan  bawaan pada bayi yang dilahirkan. Demikian posisi janin pada uterus dapat

mengakibatkan talipes,dislokasi panggul dan sebagainya. 3. Toksin/zat kimia

Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka terhadap zat-zat teratogen. Misalnya penggunaan obat-obatan pada ibu hamil dapat menyebabkan kelainan bawaan. Termasuk ibu hamil yang perokok  berat/peminum alcohol dapat melahirkan bayi BBLR,lahir mati,cacat dan

sebagainya. 4. Radiasi

Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin,kerusakan otak,mikrosefali,atau cacat  bawaan lainnya.

5. Infeksi

Infeksi intrauterine yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah toxoplasmosis,rubella,cytomegalovirus,herpes simplex.

6. Stres

Stress yang dialami ibu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan,kelainan kejiwaan dan sebagainya.

(33)

32

Rhesus dan ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus,hidrops fetalis, lahir mati.

8. Anoksia embrio

Menurunnya oksigenasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali  pusat,menyebabkan BBLR.

 b. Faktor lingkungan post-natal

Pada bayi yang baru lahir harus bisa melewati masa transisi, dari system yang teratur yang sebagaian besar tergantung pada organ-organ ibunya, kesuatu sistem yang tergantung pada kemampuan genetic dan mekanisme homeostatik itu sendiri. Masa perinatal yaitu masa atara 28 minggu dalam kandungan sampai 7 hari setelah dilahirkan,merupakan masa rawan dalam proses tumbuh kembang anak, khususnya tumbuh kembang otak.

Peran ibu pada tumbuh kembang anak tidak sedikit dalam ekologi anak,yaitu peran ibu sebagai ― para genetic factor‖ yaitu pengaruh biologisnya terhadap pertumbuhan janin dan pengaruh psikobilogisnya terhadap pertumbuhan post natal dan perkembangan kepribadian. Contoh: pemberian ASI/ menyusui adalah periode gestasi dengan  payudara sebagai ―plasenta eksternal‖, karena payudara manggantikan fungsi plasenta sebagai sumber nutrisi bagi bayi,tetapi juga mempunyai arti dalam dalam  perkembangan anak karena seolah-olah hubungan anak-ibu tidak terpustus begitu dilahirkan kedunia. Dengan pemberian asi menstimulasi dini terhadap tumbuh kembang anak. Pada skenario ibu yang tak banyak bicara berpengaruh besar pada masa-masa bayi tumbuh dan berkembang karena melalui orang terdekatlah si bayi untuk kebutuhan tumbuh kembangnya. Jadi sangat dibutuhkan peran si ibu bagaimana merawat bayi dengan benar.

 b). Pola Asah asih dan Asuh anak usia 0-12 bulan

Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang anak ,secara umum digolongakan menjadi kebutuhan dasar :

1. Kebutuhan fisik- biomedis ―ASUH‖ Meliputi:

- Pangan /gizi yang cukup merupakan kebutuhan terpenting

- Perawatan kesehatan dasar,antara lain imunisasi, pemberian ASI ,pemberian obat jika sakit dll.

(34)

- Higiene perorangan,sanitasi lingkungan. 2. Kebutuhan emosi/kasih sayang ―ASIH‖

Pada tahun-tahun pertama kehidupan,hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu dengan anak merupakan syarat yang mutlak utuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik,mental maupun psikososial. Berperannya dan kehadiran si ibu sedini dan selanggeng mungkin, akan menjalin rasa aman  bagi bayinya. Ini diwujudkan dengan kontak fisik (kulit/mata) dan psikis sedini mungkin, misalnya dengan menyusui bayi secepat mungkin segera setelah lahir. Kekurangan kasih saynag ibu pada tahun-tahun pertama mempunyai dampak negatif pada tumbuh kembang anak baik fisik, mental,maupun sosial emosi.

3. Kebutuhan akan stimulasi mental ―ASAH‖

Stimulasi mental merupakan cikal bakal dalam proses belajar (pendidikan dan  pelatihan) pada anak. Stimulasi mental (ASAH) ini mengembangkan  perkembangan mental psikososial : kecerdasan, keterampilan, kemandirian,

kretivitas, agama, kepribadian, moral-etika, produktivitas. c). Permainan yang cocok diberikan anak usia 0-12 bulan?

(35)

34

Mainan yang diberikan :

Dengan memberikan permainan yang sederhana secara tidak langsung merangsang  perkembangan sensorik , Aktivitas motor merupakan bagian yang berkembang pada masa  bayi. Perkembangan sensorik motor ini didukung oleh keterampilan motorik kasar dan halus

(36)

seperti stimulus visual,stimulus pendengaran,stimulus taktil (sentuhan),dan stimulasi kinetik.Stimulus sensorik yang diberikan oleh lingkungan anak akan direspon dengan memperlihatkan aktivitas-aktivitas motoriknya

7. Jelaskan penilaian riwayat partus pasien pada skenario!

Nilai Normal PadaSkenario Keterangan Berat Badan 2500 — 4000 gram 2500 gram Normal Panjang Badan 48 — 52 cm 48 cm Normal Lingkar Kepala 33 — 37 cm 33 cm Normal

Pemeriksaanfisis yang dilakukan Keadaan normal

Lihat postur, tonus, dan aktivitas  Posisi tungkai dan lengan fleksi.

 Bayi sehat akan bergerak aktif.

Lihat kulit

Wajah, bibir dan selaput lendir, dada harus  berwarna merah muda, tanpa adanya

Kemerahan atau bisul. Hitung pernapasan dan lihat tarikan dinding

dada bawah ketika bayi sedang tidak menangis.

 Frekuensi napas normal 40-60 kali per menit.

 Tidak ada tarikan dinding Hitung denyut jantung dengan meletakkan

stetoskop di dada kiri setinggi apeks kordis.

Frekuensi denyut jantung normal 120-160 kali  per menit.

Lakukan pengukuran suhu ketiak dengan

termometer Suhu normal adalah 36,5 — 37,5º C

Lihat dan raba bagian kepala

 Bentuk kepala terkadang asimetris karena  penyesuaian pada saat proses persalinan,

umumnya hilang dalam 48 jam.

 Ubun-ubun besar rata atau tidak membonjol, dapat sedikit membonjol saat  bayi menangis.

Lihat mata Tidak ada kotoran/secret

(37)

36

ada bagian yang terbelah.

 Masukkan satu jari yang menggunakan sarung tangan ke dalam mulut, raba langit-langit.

  Nilai kekuatan isap bayi. Bayi akan mengisap kuat jari pemeriksa.

Lihat dan raba perut Perut bayi datar, teraba lemas.

Lihat tali pusat

Tidak ada perdarahan, pembengkakan, nanah,  bau yang tidak enak pada tali pusat.atau

kemerahan sekitar tali pusat

Lihat punggung dan raba tulang belakang Kulit terlihat utuh, tidak terdapat lubang dan  benjolan pada tulang belakang

Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah

Tidak terdapat sindaktili, polidaktili, siemenline, dan kelainan kaki (pesequinovarus dan vagus).

Lihat lubang anus

Hindari memasukkan alat atau jari dalam memeriksa anus

Terlihat lubang anus dan periksa apakah meconium sudah keluar.

Tanyakan pada ibu apakah bayi sudah buang air besar

Biasanya mekonium keluar dalam 24 jam setelah lahir.

Lihat dan raba alat kelamin luar

Tanyakan pada ibu apakah bayi sudah buang air kecil

 Bayi perempuan kadang terlihat cairan vagina berwarna putih atau kemerahan.

 Bayilaki-lakiter dapat lubang uretra pada ujung penis

 Teraba testis di skrotum.

 Pastikanbayisudahbuang air kecildalam 24 jam setelahlahir.

 Yakinkan tidak ada kelainan alat kelamin, misalnya hipospadia, rudimenter, kelamin ganda.

Timbang bayi

Timbang bayi dengan menggunakan selimut, hasil penimbangan dikurangi berat selimut

 Berat lahir 2,5-4 kg.

 Dalam minggu pertama, berat bayi mungkin turun dahulu (tidakmelebihi

(38)

10% dalam waktu 3-7 hari) baru kemudian naik kembali.

Mengukur panjang dan lingkar kepala bayi  Panjang lahir normal 48-52 cm.

 Lingkar kepala normal 33-37 cm.

APGAR SCORE

• Merupakan alat untuk mengkaji kondisi bayi sesaat setelah lahir meliputi 5 variabel

(pernafasan, frek. Jantung, warna, tonus otot&iritabilitasreflek)

• Skor APGAR

TANDA 0 1 2

Appearance Biru,pucat Badan pucat,tungkai biru Semuanya merah muda

Pulse Tidakteraba < 100/menit > 100/menit

Grimace Tidakada Lambat Menangiskuat

Activity Lemas/lumpuh Gerakan sedikit/fleksi tungkai

Aktif/fleksi tungkai  baik/reaksi melawan

Respiratory Tidak ada Lambat, tidak teratur Baik, menangis kuat

 Penilaian

Setiap variabel dinilai : 0, 1 dan 2  Nilai tertinggi adalah 10

  Nilai 7 — 10 menunjukkan bahwa bayi dalam keadaan baik

  Nilai 4 — 6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang dan membutuhkan

tindakan resusitasi (asfiksia sedang)

  Nilai 0 — 3 menunjukkan bayi mengalami depress iserius dan membutuhkan

resusitasi segera sampai ventilasi (asfiksia berat)

Jika melihat pada scenario, saat lahir bayi tidak langsung menangis dan pada setelah 5 menit kemudian baru bayi menangis lemah. Maka, bayi dapat dikatakan mengalami asfiksia. Dimana keadaannya adanya bayi yang baru lahir tidak segera bernafas secara teratur secara spontan dan teratur setelah dilahirkan ditandai tidak adanya respon menangis.

(39)

38

8. Bagaimana hubungan ASI terhadap tumbuh kembang anak? Manfaat ASI untuk bayi

1. Pemberian ASI merupakan metode pemberian makan bayi yang terbaik, terutama pada  bayi umur kurang dari 6 bulan, selain juga bermanfaat bagi ibu. ASI mengandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh gizi bayi pada 6  bulan pertama kehidupannya

2. Pada umur 6 sampai 12 bulan, ASI masih merupakan makanan utama bayi, karena mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi. Guna memenuhi semua kebutuhan bayi,  perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

3. Setelah umur 1 tahun, meskipun ASI hanya bisa memenuhi 30% dari kebutuhan bayi, akan tetapi pemberian ASI tetap dianjurkan karena masih memberikan manfaat

4. ASI disesuaikan secara unik bagi bayi manusia, seperti halnya susu sapi adalah yang terbaik untuk sapi

5. Komposisi ASI ideal untuk bayi

6. Dokter sepakat bahwa ASI mengurangi resiko infeksi lambung-usus, sembelit, dan alergi

7. Bayi ASI memiliki kekebalan lebih tinggi terhadap penyakit. Contohnya, ketika si ibu tertular penyakit (misalnya melalui makanan seperti gastroentretis atau polio), antibodi sang ibu terhadap penyakit tersebut diteruskan kepada bayi melalui ASI

8. Bayi ASI lebih bisa menghadapi efek kuning (jaundice). Level bilirubin dalam darah  bayi banyak berkurang seiring dengan diberikannya kolostrum dan mengatasi

kekuningan, asalkan bayi tersebut disusui sesering mungkin dan tanpa pengganti ASI. 9. ASI selalu siap sedia setiap saat bayi menginginkannya, selalu dalam keadaan steril dan

suhu susu yang pas

10. Dengan adanya kontak mata dan badan, pemberian ASI juga memberikan kedekatan antara ibu dan anak. Bayi merasa aman, nyaman dan terlindungi, dan ini mempengaruhi kemapanan emosi si anak di masa depan.

11. Apabila bayi sakit, ASI adalah makanan yang terbaik untuk diberikan karena sangat mudah dicerna. Bayi akan lebih cepat sembuh.

12. Bayi prematur lebih cepat tumbuh apabila mereka diberikan ASI perah. Komposisi ASI akan teradaptasi sesuai dengan kebutuhan bayi, dan ASI bermanfaat untuk menaikkan  berat badan dan menumbuhkan sel otak pada bayi prematur.

(40)

13. Beberapa penyakit lebih jarang muncul pada bayi ASI, di antaranya: kolik, SIDS (kematian mendadak pada bayi), eksim, Chron‘s disease, dan Ulcerative Colitis.

14. IQ pada bayi ASI lebih tinggi 7-9 point daripada IQ bayi non-ASI. Menurut penelitian  pada tahun 1997, kepandaian anak yang minum ASI pada usia 9 1/2 tahun mencapai

12,9 poin lebih tinggi daripada anak-anak yang minum susu formula.

15. Menyusui bukanlah sekadar memberi makan, tapi juga mendidik anak. Sambil menyusui, eluslah si bayi dan dekaplah dengan hangat. Tindakan ini sudah dapat menimbulkan rasa aman pada bayi, sehingga kelak ia akan memiliki tingkat emosi dan spiritual yang tinggi. Ini menjadi dasar bagi pertumbuhan manusia menuju sumber daya manusia yang baik dan lebih mudah untuk menyayangi orang lain.

Untuk Ibu

Manfaat ASI untuk ibu menyusui

1. Hisapan bayi membantu rahim menciut, mempercepat kondisi ibu untuk kembali ke masa pra-kehamilan dan mengurangi risiko perdarahan

2. Lemak di sekitar panggul dan paha yang ditimbun pada masa kehamilan pindah ke dalam ASI, sehingga ibu lebih cepat langsing kembali

3. Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang menyusui memiliki resiko lebih rendah terhadap kanker rahim dan kanker payudara.

4. ASI lebih hemat waktu karena tidak usah menyiapkan dan mensterilkan botol susu, dot, dsb

5. ASI lebih praktis karena ibu bisa jalan-jalan ke luar rumah tanpa harus membawa  banyak perlengkapan seperti botol, kaleng susu formula, air panas, dsb

6. ASI lebih murah, karena tidak usah selalu membeli susu kaleng dan perlengkapannya 7. ASI selalu bebas kuman, sementara campuran susu formula belum tentu steri l

8. Penelitian medis juga menunjukkan bahwa wanita yang menyusui bayinya mendapat manfaat fisik dan manfaat emosional

9. ASI tak bakalan basi. ASI selalu diproduksi oleh pabriknya di wilayah payudara. Bila gudang ASI telah kosong. ASI yang tidak dikeluarkan akan diserap kembali oleh tubuh ibu. Jadi, ASI dalam payudara tak pernah basi dan ibu tak perlu memerah dan membuang ASI-nya sebelum menyusui

(41)

40

9. Jelaskan dampak riwayat kejang terhadap tumbuh kembang anak! Dampak Riwayat Kejang Terhadap Tumbuh Kembang Bayi

Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara . Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 38 oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Sering terjadi pada anakk, terutama golongan umur 6 bulan  –   4 tahun. Terjainya bangkitan kejang demam bergantung pada umur tinggi serta cepatnya suhu meningkat.

Terjadinya kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu  badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan saraf pusat, misalnya tonsillitis,otitis media akuta, bronchitis dll. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu ddemam berlangsung singkat, umumnya kejang berhenti sendiri, begitu berhenti anak tidak member reaksi apapun sejenak, beberpa detik atau menit kemudian anak terbangun dan sadar kembali tanpa kelainan saraf.

Klasifikasi kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu :

a. Kejang Tonik: biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi  prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas

atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi

 b. Kejang Klonik : Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1  –   3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik.

c. Kejang Mioklonik : gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat.

untuk ini Livingstone(1954,1963) membuat criteria dan membagi kejang dengan 2 macam golongan:

(42)

2. Epilepsy yang diprovokasi oleh demam (epilepsy triggered off by fever)

Kriteria livingstone tersebut kemudian dimodifikasi oleh Sub Bagian Saraf Anak Bagian IKA FKUI-RSCM Jakarta sebagai pedoman untuk membuat diagnosis demam sederhana ialah:

1. Umur anak ketika kejang anatar 6 bulan dan 4 tahun 2. Kejang berlangsung sebentar tidak lebih dari 15 menit 3. Kejang bersifat umum

4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbul demam 5. Pemeriksaan saraf sesudah dan sebelum normal

6. Pemeriksaan EEG setelah 1 minggu suhu normal menunjukan tidak ada kelainan 7. Frekuensi bangkitnya kejang tidak lebih 4 kali dalam setahun

Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh criteria modifikasi livingstone digolongkan pada epilepsy yang diprovokasi oleh demam.

Hemiparesis biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari stenga jam) baik bersifat umum atau fokal. Dari suatu penelitian terhadap 431  penderita dengan kejang demam sederhana, tidak terdapat kelainan dengan IQ, tetapi pada kejang demam yang sebelumnya telah terdapat gangguan perkembangan atau kelainan neurologis akan didapat IQ yang lebih rendah.

10. Jelaskan penatalaksaan kasus pada skenario!

Keluhan Utama : tidak mau makan  Non medikamentosa:

 –  Memberikan makanan yang mudah ditelan dan dicerna  –  Memberikan berbagai suplemen tambahan (multivitamin)  –  Istirahat yang cukup

Gangguan tumbuh kembang pada pasien

1. Kebutuhan fisik biomedik (ASUH)

 Memperbaiki nutrisi anak dengan memberikan makanan yang

(43)

42

 Melengkapi imunisasi anak

 Memperbaiki tingkat kebersihan anak.

 Mendeteksi dini adanya penyakit (kecurigaan orang tua penting)

2. Kebutuhan emosi/kasih sayang (ASIH) Ibu/ pun penggantinya yang dekat dengan anak, mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya kepada anak.

3. Kebutuhan akan stimulasi mental (ASAH) Ibu harus lebih banyak bicara kepada anak, mengajak bermain, melatih anak duduk, berdiri sesuai dengan umur anak, memberikan permainan yang sesuai dengan umurnya. Yang terpenting pula adalah memberikan penyuluhan dan edukasi kepada Ibu mengenai tumbuh kembang

anak dan kebutuhan anak.

Pada Skenario :

• Tingkatkan rasa kepedulian sang Ibu  –  Sang ibu tidak banyak bicara

 Sibuk kepedulian menurun

 Tidak sibuk, pengetahuan rendah kepedulian menurun

• Teruskan pemberian ASI

 –  Mulai usia 3 bulan sudah diberikan makanan pendamping

 Ibu merasa tidak percaya diri ASI tidak memuaskan  Cara pemberian ASI yang salah ASI tidak memuaskan

• Perencanaan pemberian gizi

 Tentukan kebutuhan cairan harian  Tentukan kebutuhan kalori sang bayi  Pemberian makanan ―gizi seimbang‖

• Monitoring pertumbuhan dan perkembangan anak

 Perhatikan faktor imunitas anak (imunisasi)

 Pertumbuhan dengan melihat ada tidaknya peningkatan pada BB, TB,

dan LK sesuai dengan Growth Chart.

 Perkembangan dengan memberikan KPSP (Kuesioner Pra Skrining

Perkembangan), dan menyesuaikan dengan DENVER II Chart

• Seorang anak membutuhkan pemukiman yang layak dan sehat (terdapat ventilasi dan

(44)

BAB III

SIMPULAN

Berdasarkan hasil diskusi dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa :

a. Anak perempuan dalam scenario mengalami gizi buruk disebabkan karena malnutrisi, kesalahan/ketidaktepatan dalam pemberian asupan gizi ke anak

 b. Pertumbuhan dan perkembangan anak perempuan dalam scenario mengalami keterlambatan kemungkinan disebabkan keadaan anak tersebut saat prenatal dan  postnatal terlihat dalam riwayat kelahiran dan hasil apgar skor serta grafik  pertumbuhan dan perkembangan anak yang berada di bawah nilai normal

c. Kurangnya pengetahuan/pendidikan orang tua khususnya ibu dalam pola mengasuh/mendidik anak

d. Kesalahan dalam mengikuti program imunisasi hingga dapat menyebabkan dampak yang buruk bagi anak tersebut

Gambar

Tabel 1 Penilaian  Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB  Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS
Tabel 2. Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks Antropometri (BB/U,TB/U, BB/TB  Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS)
Tabel : Kebutuhan energy rata-rata dari bayi

Referensi

Dokumen terkait

ukuran lingkar kepala anak berada pada jalur hijau pada kartu Tumbuh Kembang Data Anak (lihat lampiran), maka dianggap normal. Bila diluar jalur hijau (diatas atau

adalah kurangnya informasi tentang tumbuh kembang balita usia 1 sampai 2 tahun ,sehingga ibu kurang mengetahui tahap-tahap dari proses tumbuh kembang balita usia

Anak dengan SD memiliki berbagai masalah kesehatan dan tumbuh kembang yang tak jarang cukup kompleks, maka skrining pra dan pasca natal, intervensi dini, dan pemantauan tumbuh kembang

Hasil penelitian yang menunjukkan ada pengaruh penyuluhan terhadap perilaku ibu dalam stimulasi tumbuh kembang anak usia 3 dan 4 tahun di PAUD Tapak Dara Bangunjiwo Kasihan

Pemberian edukasi stimulasi tumbuh kembang anak oleh orangtua dapat meningkatkan kemampuan orangtua dalam memberikan stimulasi tumbuh kembang sejak dini yang akan

Oleh karena itu, pengabdian masyarakat inin bertujuan untuk memberikan informasi kepada ibu balita tentang tumbuh kembang Balita dan melakukan deteksi tumbuh

e-ISSN 2580-3093 13 PENGARUH KELAS BABY GYM TERHADAP KETERAMPILAN IBU UNTUK OPTIMALISASI TUMBUH KEMBANG ANAK Dewi Yulia1, Lilik Ariyanti2*, Almas Awanis3 123Stikes Nasional

Abstrak Desain Interior Pusat Tumbuh Kembang Anak Suryakanti merupakan penataan sistem ruang yang mampu mewadahi Pendidikan tumbuh kembang anak serta mendukung anak dalam