• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Skalogram Marshal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis Skalogram Marshal"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap wilayah memiliki berbagai upaya perencanaan terhadap wilayah tersebut dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Contohnya seperti wilayah tersebut memberikan pelayanan kepada masyarakatnya dengan menyediakan berbagai fasilitas sebagai penunjang dari kegiatan yang dilakukan oleh masyarakatnya. Sarana adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan sosial, ekonomi dan budaya (UU No.1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Pemukiman).

Sarana dalam suatu wilayah dapat meliputi sarana pendidikan, sarana peribadatan, sarana kesehatan, dan lain sebagainya yang memiliki fungsi-fungsi tertentu dalam memfasilitasi berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masyrakat. Fungsi dari masing-masing sarana atau fasilitas tersebut tentunya memiliki hierarki atau orde atau tingkatan dalam suatu wilayah. Penentuan hierarki dari suatu pelayanan dalam wilayah dapat ditentukan dengan berbagai metode yakni seperti skalogram Guttman dan analisis sentralitas Marshall.

Dengan mengetahui hierarki atau orde dari suatu pelayanan, selanjutnya akan lebih mudah dalam pendistribusian dari tiap-tiap sarana tersebut di dalam suatu wilayah, tentu dengan persebaran yang merata.

1.2 Tujuan dan Sasaran 1.2.1 Tujuan

Tujuan dalam pembuatan laporan ini adalah untuk mengetahui orde kota berdasarkan hierarki atau tingkatan suatu kota serta pendistribusian atau penyebaran dari pelayanan dan fasilitas dalam wilayah tersebut dengan memahami kondisi eksisting Kabupaten Banyumas.

1.2.2 Sasaran

- Teridentifikasinya orde kota berdasarkan hierarki kota.

- Teridentifikasinya persebaran dan jumlah fasilitas Kabupaten Banyumas. - Teranalisisnya persebaran dan jumlah fasilitas Kabupaten Banyumas.

- Teranalisisnya hubungan antarab keterkaitan ekonomi dan interaksi spasialnya.

(2)

2 - Teranalisisnya aksesibilitas antar pusat dengan daerah lain.

1.3 Ruang Lingkup

Dalam laporan ini, terdapat dua ruang lingkup yakni ruang lingkup materi dan ruang lingkup wilayah.

1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah

Wilayah yang akan dibahas dalam laporan ini adalah Kabupaten Banyumas. Wilayah Kabupaten Banyumas seluas 132.759 Ha yaitu sekitar 4,08% dari luas wilayah Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Banyumas terdiri dari 27 Kecamatan yang memiliki batas-batas administrasi sebagai berikut :

Utara : Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang Selatan : Kabupaten Cilacap

Barat : Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes

Timur : Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Kebumen.

1.3.2 Ruang Lingkup Materi

Ruang lingkup materi dalam laporan ini meliputi : - Analisis Skalogram Guttman

- Analisis Indeks Sentralitas Marshall - Penentuan Orde Kota

1.4 Sistematika Penulisan

Laporan ini terdiri dari lima bab yaitu Pendahuluan, Kajian Teori, Gambaran Umum Kabupaten Banyumas, Analisis dan Hasil, Kesimpulan.

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini berisi tentang latar belakang, tujuan dan sasaran, ruang lingkup dan sistematika penulisan laporan.

BAB II KAJIAN TEORI

Pada bab ini menjelaskan tentang pengertian orde kota, analisis skalogram Guttman, dan analisis sentralitas Marshall.

BAB III GAMBARAN UMUM KABUPATEN BANYUMAS

Pada bab ini berisi tentang gambaran umum dari Kabupaten Banyumas yang meliputi aspek fisik seperti kondisi geografi, topografi, dan lain-lain serta aspek non fisik seperti pemerintahan, kependudukan, perekonomian, kesehatan, pendidikan dan lain-lain.

(3)

3 BAB IV ANALISIS DAN HASIL

Pada bab ini berisi tentang analisis dan hasil skalogram Guttman dan indeks sentralitas Marshall

BAB V KESIMPULAN

(4)

4 BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Central Places Theory (Teori Tempat Pusat)

Kodrat manusia sebagia makhluk sosial dimana manusia tidak dapat hidup sendiri, sehingga membutuhkan orang lain juga berlaku bagi suatu daerah/ kawasan/ wilayah/ kota. Suatu kota tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Namun suatu kota selalu berusaha untuk menjadi pusat penyuplai kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Suatu kota selalu berusaha menjadi pusat dimana tersedia kebutuhan barang dan jasa. Meskipun pada kenyataanya tidak ada kota yang bisa sempurna dalam memenuhi semua kebutuhannya pasti harus terkait dengan daerah lainnya. Dalam faktanya, terdapat keterkaitan fungsional antara satu pusat dengan wilayah sekelilingnya. Keterkaitan tersebut berupa fenomena global cities dan keterkaitan desa-kota. Keterkaitan ini lumrah terjadi, karena tidak semua wilayah mampu memproduksi semua kebutuhannya senidiri, sehingga harus menggantungkan salah satunya kepada tempat lain. Selain keterkaitan fungsional, dalam pembentukan tempat pusat juga didukung oleh adanya dukungan penduduk untuk keberadaan suatu fungsi tertentu. Dalam suatu wilayah terdapat sebuah tempat dengan kompleksitas kegiatan yang lengkap. Kegiatan yang berlangsung biasanya berupa perdaganganyang dinamakan sebagai tempat pusat, dimana tersedia barang dan jasa yang dibutuhkan bagi penduduk tempat tersebut dan daerah di sekitarnya.

Dengan adanya tempat pusat tersebut, maka terbentuklah hierarki keruangan wilayah sehingga suatu kawasan memiliki hubungan dengan kawasan lain, terutama dalam pemenuhan kebutuhan. Berkurangnya penduduk, dapat berakibat pada kemunduran atau berkurangnya fungsi kota. Perubahan dalam pendapatan karena perubahan harga dan penawaran barang-barang pusat juga dapat mempengaruhi pertumbuhan pusat-pusat sentral. Selain itu, alat transportasi juga memberi kedudukan yang menguntungkan pada tempat-tempat sentral karena dapat mendistribusi kan barang ke luar dari tempat sentral. Asas pengangkutan akan berpengaruh apabila jumlah permintaan terhadap barang sentral jumlahnya banyak dan prasarana transportasi (jalan) besar. Artinya, lingkungan alam memegang peranan akan pembentukan jaringan hubungan lalu lintas. Asas pemerintahan akan

(5)

5 berpengaruh jika aspek-aspek non-ekonomi lebih kuat dibandingkan dengan aspek yang lainnya. Jaringan setiap kota sedang dibentuk dengan dukungan alam yang menguntungkan.

Dari fenomena inilah muncul teori pusat atau Central Place Theory yang untuk pertama kali dikemukakan oleh Walter Christaller pada tahun 1933 dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul Central Places In Southern Germany (diterjemahkan oleh C.W. Baski pada tahun 1966). Elemen dalam teori tempat pusat:

Terdapat suatu tempat pusat yang dibentuk oleh fungsi yang besifat memusat (central function/profession), fungsi (barang/jasa) yang ada beberapa titik tertentu saja.Adanya jumlah penduduk tertentu yang mendukung keberadaan fungsi tertentu tersebut à batas ambang (threshold) Frekuensi penggunaan jasa sangat berpengaruh terhadap penduduk ambang.Jarak di mana penduduk masih mau untuk melakukan perjalanan untuk mendapatkan pelayanan atau fungsi tertentu (range of goods).

2.1.1 Teori Christaller

Walter Christaller pada tahun 1933 dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul Central Places In Southern Germany (diterjemahkan oleh C.W. Baski pada tahun 1966) mengemukakan tentang teori tempat pusat. Adapun bunyi teori Christaller yaitu “Jika persebaran penduduk dan daya belinya sama baiknya dengan bentang alam, sumber dayanya, dan fasilitas tranportasinya, semuanya sama/seragam, lalu pusat-pusat pemukiman mennyediakan layanan yang sama, menunjukkan fungsi yang serupa, dan melayani area yang sama besar, maka hal tersebut akan membentuk kesamaan jarak antara satu pusat pemukiman dengan pusat pemukiman lainnya”

Beberapa asumsi yang mendasari teori Christaller antar lain:

a. Suatu wilayah merupakan dataran yang rata, mempunyai karakteristik ekonomis dan karakteristik penduduk yang sama serta penduduknya tersebar secara merata.

b. Dalam suatu kegiatan ekonomi, konsumen menanggung biaya transportasi.Jangkauan (range) suatu barang ditentukan oleh jarak yang dinyatakan dalam biaya dan waktu.

(6)

6 c. Konsumen memilih tempat pusat yang paling dekat untuk mendapatkan

barang dan jasa.

d. Kota-kota berfungsi sebagai tempat pusat bagi wilayah disekitarnya.

Model Chistaller tentang terjadinya model area perdagangan heksagonal sebagai berikut:

1. Mula-mula terbentuk areal perdagangan satu komoditas berupa lingkaran-lingkaran.

2. Setiap lingkaran memiliki pusat dan menggambarkan threshold dari komoditas tersebut.

3. Kemudian digambarkan lingkaran-lingkaran berupa range dari komoditas tersebut yang lingkarannya boleh tumpang tindih.

4. Range yang tumpang tindih dibagi antara kedua pusat yang berdekatan sehingga terbentuk areal yang heksagonal yang menutupi seluruh daratan yang tidak lagi tumpang tindih.

5. Tiap barang berdasarkan tingkat ordenya memiliki heksagonal sendiri-sendiri.

Pusat-pusat membentuk segitiga pelayanan yang jika digabungkan akan membentuk pola heksagonal yang merupakan wilayah pelayanan yang dianggap optimum. Terdapat beberapa prinsip mengenai pola heksagonal Christaller :

1. Prinsip pasar (marketing principle) k=3

- Memenuhi kebutuhan pelayanan seluas mungkin.

- Disebut juga sebagai prinsip k=3 (K3), karena suatu kegiatan di tempat pusat akan melayani 3 tempat pusat untuk fungsi di bawahnya, 1 tempat pusat sendiri di tambah 2 tempat pusat hierarki di bawahnya.

- Adapun rumus formulanya yaitu k = 1 + ½ (0) + 1/3 (6) = 3 2. Prinsip lalu lintas (traffic principle) k=4

- Prinsipnya adalah bagaimana meminumkan jarak penduduk untuk mendapatkan pelayanan fungsi di tempat pusat.

- Disebut sebagai k=4 karena 1 empat pusat melayani empat tempat pusat lain, yaitu 1 pada tempat pusatnya itu sendiri dan 3 dari tempat pusat lain.

- Bersifat linier, karena tempat pusat berada pada titik tengah dari setiap sisi heksagon.

(7)

7 3. Prinsip administrasi (administrative principle) k=7

- Prinsip utamanya adanya kemudahan dalam rentang kendali pengawasan pemerintahan.

- Keenam pusat hierarki di bawahnya berada pada batas wilayah pelayanan hierarki di atasnya.

2.1.2 Teori Losch

Meskipun teori tempat pusat Losch's melihat lingkungan yang ideal untuk konsumen, baik dan ide-ide Christaller adalah penting untuk mempelajari lokasi ritel di daerah perkotaan. Seringkali, dusun kecil di daerah pedesaan melakukan tindakan sebagai tempat pusat pemukiman berbagai kecil karena mereka adalah di mana orang melakukan perjalanan untuk membeli barang-barang sehari-hari mereka. Namun, ketika mereka harus membeli barang-barang bernilai tinggi seperti mobil dan komputer, mereka harus melakukan perjalanan ke kota besar atau kota - yang berfungsi tidak hanya pemukiman kecil mereka tetapi orang di sekitar mereka juga.

Losch berpendapat bahwa prinsip-prinsip hierarki Christaller hanyalah merupakan kasus khusus dari keseluruhan rangkaian sistem tempat pusat dan murni suatu penjelasan tentang unsur jasa dalam struktur ruang. Loschian economic landscape merupakan upaya membangunan general theory ekonomi ruang. Di dalamnya tidak terdapat hierarki dan luas wilayah pasar tergantung dari barang yang diproduksi. Pendekatan Losch dapat dikatakan adalah lebih merupakan penjelasan tentang distribusi spasial dari industri manufakturing yang berorientasi pasar.

2.2 Sistem Pusat Pemukiman

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pemukiman adalah faktor fisik, sosial, budaya, ekonomi,politik dan lain sebagainya. Faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan pemukiman adalahkeadaan tanah, hidrologi, iklim, morfologi dan sumber daya lain, faktor fisik mempengaruhi bentuk, kecepatan dan perluasan pemukiman. Faktor sosial adalah karakter demografinya, struktur dan organisasi sosial, dan relasi sosial di antara penduduk yang menghuni pemukimantersebut. Faktor budaya yang mempengaruhi adalah tradisi setempat, pengetahuan IPTEK. Faktor ekonomi adalah daya beli masyarakat, mata pencaharian, transportasi dan komunikasi. Faktor politik adalah pemerintah dan

(8)

8 kebijakan setempat. Dasar teori dari sistem pusat pemukiman yaitu central place theory serta konsep dasar range of goods dan threshold (ambang penduduk).

Analisis sistem pusat pemukiman pada dasarnya ada dua elemen, yaitu daerah perkotaan dan daerah pedesaan dimana keduanya mempunyai ciri atau karakteristik yang berbeda. Pada daerah pedesaan pola pemukimannya dipengaruhi oleh pertanian, pemukiman yang rapat cenderung berkembang di daerah yangmemiliki tanah subur. Sedangkan pada daerah perkotaan, persaingan dalam menggunakanruang lebih intensif dari pedesaan. Analisis yang digunakan dalam analisis sistem pusat pemukiman ada dua tipe, yaitu analisis sistem pemukiman (settlement system analysis), dan spatial linkages analysis.Penganalisisan dalam hal ini ada tiga jalan, yaitu dengan skalogram , analisis ambang batas/ threshold dan analisis indeks sentralitas Marshall. Ketiganya saling melengkapi dan digunakan untuk menentukan hierarki kota atau pusat dari sistem pusat pemukiman.

2.2.1 Analisis Skalogram Guttman

Analisis skalogram merupakan salah satu alat untuk mengidentifikasi pusat pertumbuhan wilayah berdasarkan fasilitas yang dimilikinya, dengan demikian dapat ditentukan hierarki pusat-pusat pertumbuhan dan aktivitas pelayanan suatu wilayah. Wilayah dengan fasilitas yang lebih lengkap merupakan pusat pelayanan, sedangkan wilayah dengan fasilitas yang kurang akan menjadi daerah belakang (hinterland). Louis Guttman (1950) salah satu skala satu dimensi menggambarkan respon subyek terhadap obyek tertentu menurut tingkatan yang sempurna, orang yang mampu menjawab semua pertanyaan dengan baik akan lebih baik dibandingkan dengan yang mampu menjawab sebagian saja.

Skalogram digunakan untuk menganalisis pusat-pusat pemukiman, khususnya hierarkiatau orde pusat-pusat pemukiman. Subjek dalam analisis ini merupakan pusat pemukiman (settlement), sedangkan obyek diganti dengan fungsi atau kegiatan. Dengan beberapa tambahan analisis, misalnya aturan Marshall, atau algoritma Reed-Muench, tabel skalogram menjadi indikasi awal analisis jangkauan pelayanan setiap fungsi dan pusat pemukiman yang dihasilkan. Teknik ini untuk memberikan gambaran adanya pengelompokkan pemukiman sebagai pusat pelayanan dengan mendasarkan pada kelengkapan fungsi pelayanannya. Ukuran fasilitas yang dinilai adalah jumlah dan kelengkapannya. Fasilitas yang digunakan pada penilaian ini adalah fasilitas yang mencirikan fungsi pelayanan sosial dan

(9)

9 ekonomi. Skalogram diperoleh dengan cara membuat suatu tabel yang mengurutkan keberadaan fasilitas suatu wilayah yang diidentifikasi sebagai pusat pelayanan. Dengan beberapa tambahan analisis, misalnya aturan Marshall, atau algoritma Reed-Muench, tabel skalogram menjadi indikasi awal analisis jangkauan pelayanan setiap fungsi dan pusat pemukiman yang dihasilkan. Prosedur pengerjaan metode Skalogram Guttman adalah sebagai berikut:

a. Identifikasi semua kawasan perkotaan yang ada.

b. Membuat urutan pemukiman berdasarkan jumlah penduduk pada bagian sebelah kiri tabel kerja.

c. Membuat urutan fasilitas yang ditemukan berdasarkan frekuensi yang ditemukan, pada bagian atas.

d. Membuat garis baris dan kolom sehingga lembar kerja tersebut membentuk matriks yang menampilkan fasilitas yang ada pada masing-masing pusat pelayanan atau kota.

e. Menggunakan tanda (1) pada sel yang menyatakan keberadaan suatu fasilitas, dan tanda (0) pada sel yang jmenyatakan ketiadaan suatu fasilitas.

f. Menyusun ulang baris dan kolom berdasarkan frekuensi keberadaan fasilitas, semakin banyak fasilitas yang didapati pada suatu pemukiman maka pemukiman tersebut berada pada urutan atas.

g. Mengidentifikasi peringkat atau hierarki pemukiman yang dapat diinterpretasikan berdasarkan prosentase keberadaan fasilitas pada suatu pemukiman. Semakin tinggi prosentasenya, maka hierarki pemukiman tersebut akan semakin tinggi.

Nilai atau tingkat kelayakan nilai pada analisis ini yaitu 0,9 - 1. Hierarki Nilai COR yang ideal antara 0,9 – 1. Tingkat kesalahan ini dapat dihitung dengan rumus:

Dimana :

- COR : koefisien reliabilitas

- Total jenis fasilitas : jumlah seluruh fasilitas dalam tangga hierarki pusat pelayanan

(10)

10

Th= 100 x Ps/ Ps x Ag

2.2.2 Analisis Ambang Batas/ Threshold

Ambang batas adalah bahwa ukuran pusat sedemikian rupa sehingga jumlah pusat kurang fungsi di atas divisi sama dengan jumlah pusat memiliki fungsi bawah divisi. Marshall menyarankan modifikasi pada aturan umum: “sekali ambang telah ditentukan, fungsi yang berlaku, selanjutnya akan diabaikan kecuali setidaknya setengah dari semua pusat atas ukuran ambang batas memiliki fungsi yang bersangkutan.”

Metode lain yaitu metode Reed Muench melakukan pendekatan dengan tetap membandingkan kira kira fungsi dari setiap hierarki ambang batas. Proses ini mengkalkulasikan nilai tengah dari populasi dengan fungsi dari tempat pemukiman dengan rumus :

Dimana :

Th : Analisis Threshold

Ps : Jumlah pemukiman dengan mempertimbangkan fasilitas/layanan Ag : Jumlah pemukiman tanpa mempertimbangkan fasilitas/layanan 2.2.3 Analisis Indeks Sentralitas Marshall

Indeks Sentralitas digunakan untuk menilai jumlah unit setiap jenis fasilitas pada pemukiman dibandingkan dengan pemukiman yang lain. Indeks sentralitas dimaksudkan untuk mengetahui struktur/hierarki pusat-pusat pelayanan yang ada dalam suatu wilayah perencanaan pembangunan, seberapa banyak fungsi yang ada, berapa jenis fungsi dan berapa jumlah penduduk yang dilayani serta seberapa besar frekuensi keberadaan suatu fungsi dalam satu satuan wilayah pemukiman. Matriks indeks sentralitas merupakan bagian dari matriks fungsi wilayah atau yang sering disebut dengan analisis fungsi yang merupakan analisis terhadap fungsi-fungsi pelayanan yang tersebar di wilayah studi, dalam kaitannya dengan berbagai aktivitas penduduk/masyarakat, untuk memperoleh/memanfaatkan fasilitas-fasilitas tersebut.Frekuensi keberadaan fungsi menunjukkan jumlah fungsi sejenis yang ada dan tersebar di wilayah tertentu, sedangkan frekuensi kegiatan menunjukkan tingkat pelayanan yang mungkin dapat dilakukan oleh suatu fungsi tertentu di wilayah tertentu. Indeks sentralitas merupakan bagian dari matriks fungsi wilayah atau yang sering disebut dengan analisis fungsi yang merupakan

(11)

11 analisis terhadap fungsi-fungsi pelayanan yang tersebar di wilayah studi, dalam kaitannya dengan berbagai aktivitas penduduk/masyarakat, untuk memperoleh/memanfaatkan fasilitas-fasilitas tersebut. Contoh penggunaan matriks indeks sentralitas dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel II.1 Matriks Fungsi Wilayah

Dengan Indeks Sentralitas Kabupaten/Kota “X” Propinsi “Y” Tahun “Z” No. Kecamatan Populasi

Jenis Fungsi

Jml

Indeks Fungsi (∑F) Pendidikan Kesehatan Administrasi

SD SMP SLA PT RS Pus Kli Kec Desa LMD

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 A 5000 X y X Y Dst 2 B 3500 X y X Y 3 C 3000 X y X Y 4 D 2500 X y X Y Total Fungsi Total Centrality(%) X1 100 X1 100 Dst. Dst.

Nilai Bobot Y1 Y1 Total (∑F)

Sumber: Perencanaan Pembangunan Daerah, Jakarta, 2003:119 2.2.4 Orde Kota

Tempat-tempat konsentrasi yang umumnya berupa daerah perkotaan tersebar di suatu wilayah/negara dengan penduduk (besarnya kota) yang tidak sama. Setiap kota memiliki daerah belakang atau wilayah pengaruhnya. Makin besar suatu kota makin beragam fasilitas yang disediakan sehingga makin luas wilayah pengaruhnya. Suatu kota yang besar selain memiliki daerah belakang berupa daerah pertanian juga memiliki beberapa kota kecil. Apabila kota kecil banyak tergantung dari kota besar maka kota kecil termasuk di dalam daerah pengaruh dari kota yang lebih besar. Misalnya kota kecil membeli berbagai keperluan dan menjual berbagai hasil produksinya ke kota besar. Demikian juga banyak penduduk dari kota kecil yang pergi bekerja, mencari tempat pendidikan, dan berbagai urusan lainya ke kota

(12)

12 besar. Dengan demikian akan lebih mudah dibedakan kota mana yang lebih tergantung terhadap kota lainnya sehingga mudah menetapkan perbedaan rangkingnya. Biasanya kota yang paling besar wilayah pengaruhnya, diberikan rangking satu atau kota orde kesatu, yang lebih kecil berikutnya diberi rangking dua dan seterusnya Robinson Tarigan (2004).

Rondinelli (1983 :120-170) mengungkapkan hierarki atau tingkatan kota akan mempengaruhi fungsi suatu kota.

Kota-kota menengah dan kecil mempunyai fungsi yang dapat digolongkan ke dalam 8 bagian, yaitu :

1. Pusat pelayanan umum dan sosial 2. Pusat komersial dan pelayanan jasa

3. Pusat pemasaran dan perdagangan regional

4. Pusat penyediaan dan pemprosesan produk-produk pertanian 5. Pusat industri kecil

6. Pusat transportasi dan komunikasi regional

7. Pusat penarik migrasi dari perdesaan dan menjadi sumber pendapatan bagi daerah perdesaan

8. Pusat transformasi sosial.

2.2.5 Konsep Analisis Hierarki Proses (AHP)

Menurut Thomas L. Saaty (1991), terdapat tiga prinsip dasar Analisis Hierarki Proses yaitu :

a. Menggambarkan dan menguraikan secara hierarkis yang disebut menyusun secara hierarkis, yaitu ; memecah-mecah persoalan menjadi unsur-unsur yang terpisah-pisah.

b. Pembedaan prioritas dan sintesis, yang disebut sebagai penetapan prioritas, yaitu ; menentukan peringkat elemen-elemen menurut relatif pentingnya. c. Konsistensi Logis, yaitu ; menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan

secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis.

d. Nilai rasio konsistensi harus 10 persen atau kurang dan jika lebih dari 10 persen maka pertimbangan itu harus di acak atau diperbaiki agar tingkat konsistensinya bagus.

(13)

13 Dari prinsip dasar di atas bahwa Analisis Hierarki Proses adalah suatu model yang luwes yang memungkinkan kita mengambil keputusan dengan mengkombinasikan pertimbangan dan nilai-nilai pribadi secara logis. Selain itu dalam penggolongan hierarki terdapat dua macam hierarki yaitu :

- Hierarki Struktural, dimana pada hierarki ini sistem yang kompleks disusun ke dalam komponen-komponen pokoknya dalam urutan menurun menurut sifat struktural mereka; misalnya : ukuran, bangun warna atau umur.

- Hierarki Fungsional, yaitu suatu hierarki yang menguraikan sistem yang kompleks menjadi elemen-elemen pokoknya menurut hubungan esensial mereka ; misalnya : kelompok pihak berkepentingan yang utama, dan kelompok sasaran pihak yang berkepentingan.

Adapun hierarki Perkotaan yaitu tingkatan yang menggambarkan jenjang fungsi perkotaan sebagai akibat perbedaan jumlah, jenis, kualitas dari fasilitas yang tersedia di kota tersebut:

• Kota dengan orde I : TK – PT

• Kota dengan orde II : TK – SMA/Diploma • Kota dengan orde III : TK – SMP

• Kota dengan orde IV : TK – SD/SMP • Kota non orde : hanya ada SD

(14)

14 BAB III

GAMBARAN UMUM KABUPATEN BANYUMAS

3.1 Aspek Fisik

Aspek fisik yang akan dibahas dalam laporan ini adalah kondisi geografis wilayah dan topografi wilayah.

3.1.1 Kondisi Geografis Wilayah

Kabupaten Banyumas merupakan salah satu bagian wilayah Provinsi Jawa Tengah, dengan ibukota di Purwokerto. Kabupaten ini terletak diantara 108: 39’ 17” - 109: 27’ 15” Bujur Timur dan 7: 15’ 05” - 7: 37’ 10” Lintang Selatan. Kabupaten Banyumas terdiri dari 27 Kecamatan dan berbatasan dengan wilayah beberapa kabupaten, yaitu:

Utara : Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang Selatan : Kabupaten Cilacap

Barat : Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes

Timur : Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Kebumen.

Kabupaten Banyumas memiliki luas wilayah 132.759 Ha, yaitu sekitar 4,08 % dari luas wilayah Provinsi Jawa Tengah (3.254 juta Ha). Luas wilayah Kabupaten Banyumas ini terdiri dari lahan sawah 32.219 Ha atau sekitar 24,27 % dari luas keseluruhan Kabupaten Banyumas, serta lahan terbangun dan pekarangan seluas 100.640 Ha atau sekitar 75,73 % dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah Kabupaten Banyumas lebih dari 45 % merupakan daerah dataran yang tersebar di bagian tengah dan selatan serta membujur dari barat ke timur.

3.1.2 Klimatologi

Ketinggian wilayah di Kabupaten Banyumas sebagian besar berada pada kisaran 25 – 100 M dpl yaitu seluas 40.385,3 Ha. Berdasarkan kemiringan wilayah, Kabupaten Banyumas mempunyai kemiringan yang terbagi dalam 4 (empat) kategori yaitu :

- Kemiringan 0: - 2: meliputi areal seluas 43.876,9 Ha atau 33,05 % yaitu wilayah bagian Tengah dan Selatan.

- Kemiringan 2: - 15: meliputi areal seluas 21.294,5 Ha atau 16,04 % yaitu sekitar Gunung Slamet.

(15)

15 - Kemiringan 15: - 40: meliputi areal seluas 35.141,3 Ha atau seluas 26,47 %

yaitu daerah lereng Gunung Slamet.

- Kemiringan lebih dari 40: meliputi areal seluas 32.446,3 Ha atau seluas 32.446,3 Ha atau seluas 24,44 % yaitu daerah lereng Gunung Slamet.

Dari kondisi kemiringan seperti diatas dapat diketahui bahwa wilayah Kabupaten Banyumas merupakan derah dengan kondisi fisik yang heterogen.

3.2 Aspek Non Fisik

Aspek non fisik yang akan dibahas dalam laporan ini adalah aspek pendidikan dan aspek kesehatan.

3.2.1 Aspek Pendidikan

Fasilitas Pendidikan di wilayah Kabupaten Banyumas sebagian besar masih didominasi oleh fasilitas pendidikan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dasar 9 tahun yaitu fasilitas SD dan SLTP yang merata di setiap wilayah Kecamatan yang ada di Kabupaten Banyumas, sedangkan fasilitas pendidikan untuk jenjeng yang lebih tinggi, seperti SLTA dan Perguruan Tinggi lebih terkonsentrasi di wilayah pusat Kabupaten khususnya untuk Perguruan Tinggi dan beberapa pusat Kecamatan dengan tingkat perkembangan yang lebih tinggi untuk fasilitas SLTA, Sarana dan prasarana pendidikan merupakan suatu hal sangat penting didalam meningkatkan mutu pendidikan. Untuk itu sarana dan prasarana pendidikan senantiasa menjadi perhatian agar mutu pendidikan di Indonesia meningkat. Untuk itu Kabupaten Banyumas setiap tahun mengalokasikan anggaran untuk perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. Data jumlah sekolah di Kabupaten Banyumas dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Sedangkan jumlah perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Banyumas berdasarkan laporan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas sampai dengan bulan Juni 2010 berjumlah 20 buah mulai tingkat diploma I, II, III dan IV sampai dengan S-1 dan S-2 baik negeri maupun swasta. Untuk Perguruan tinggi negeri sebanyak 3 buah yaitu UNSOED, STAIN, POLTEKES. Sedangkan perguruan tinggi swasta ada sebanyak 17 buah yaitu UMP, UNWIKU, AKPER YAPERMAS, AKBID YLPP, STIE Purwokerto, Akademi Pertanian HKTI.

(16)

16

Tabel III.1

Jumlah Fasilitas Pendidikan Kabupaten Banyumas

No. Kecamatan Jumlah Sekolah Jumlah Sekolah Jumlah Sekolah

SD MI Jumlah SMP MTs Jumlah SMA SMK MA Jumlah

1. Lumbir 35 1 36 4 1 5 - - - - 2. Wangon 45 4 49 6 2 8 1 2 - 3 3. Jatilawang 36 6 42 5 1 6 2 2 1 5 4. Rawalo 24 10 34 4 3 7 1 4 1 6 5. Kebasen 30 7 37 5 1 6 - 1 1 2 6. Kemranjen 34 18 52 9 6 15 2 3 2 7 7. Sumpiuh 30 10 40 5 2 7 2 5 1 8 8. Tambak 28 12 40 6 4 10 2 - - 2 9. Somagede 23 2 25 4 - 4 - 1 - 1 10. Kalibagor 23 1 24 5 1 6 - 2 - 2 11. Banyumas 33 1 34 5 1 6 1 4 1 6 12. Patikraja 28 9 37 4 2 6 1 - - 1 13. Purwojati 20 3 23 4 1 5 - - - - 14. Ajibarang 33 11 44 8 1 9 2 3 - 5 15. Gumelar 32 4 36 5 1 6 1 - - 1 16. Pekuncen 36 12 48 6 1 7 - 1 1 2 17. Cilongok 44 19 63 6 2 8 - 1 1 2 18. Karanglewas 26 12 38 5 1 6 1 - - 1 19. Sokaraja 30 3 33 5 1 6 5 1 - 6 20. Kembaran 29 6 35 4 1 5 - 1 - 1 21. Sumbang 38 3 41 6 2 8 - - - - 22. Baturaden 28 1 29 3 1 4 1 - - 1 23. Kedungbanteng 31 5 36 6 2 8 1 1 - 2 24. Purwokerto Selatan 27 4 31 9 - 9 1 12 - 13 25. Purwokerto Barat 24 5 29 3 2 5 - 2 - 2 26. Purwokerto Timur 36 2 38 10 2 12 8 10 3 21 27. Purwokerto Utara 23 - 23 2 1 3 1 - - 1 TOTAL 826 171 997 144 43 187 33 57 13 100

Sumber: BPS Kabupaten Banyumas, 2010. 3.2.2 Aspek Kesehatan

Sarana kesehatan merupakan kebutuhan yang sangat vital dalam membangun masyarakat Kabupaten Banyumas yang sehat. Untuk itu sarana kesehatan sebagai tempat pelayanan kepada masyarakat senantiasa menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Banyumas. Jumlah sarana kesehatan yang ada saat ini dan terdata di Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas meliputi Rumah Sakit Umum Daerah

(17)

17 sebanyak 4 buah dengan rincian Tipe B sebanyak 2 buah, Tipe C sebanyak 1 buah, Tipe D sebanyak 1 buah dan rumah sakit khusus sebanyak 10 buah, Sedangkan untuk Rumah Sakit Umum Swasta sebanyak 18 buah dengan rincian Tipe C sebanyak 10 buah Tipe D sebanyak 8 buah. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan lainnya antara lain berupa Puskesmas yang ada dan tersebar di 27 kecamatan ada sebanyak 39 buah, Puskesmas pembantu 39 buah.

Tabel III.

Jumlah Fasilitas Kesehatan Tahun 2010 Kabupaten Banyumas

Sumber: BPS Kabupaten Banyumas, 2010.

No. Fasilitas Jumlah

1. RSUD 4

2. RSU Swasta 18

3. Puskesmas 39

4. Puskesmas Keliling 39

5. Puskesmas Pembantu 39

6. Rumah Sakit Khusus 10

7. Klinik tempat praktek dokter 530

8. Posyandu 2.352

(18)

18 BAB IV

ANALISIS DAN HASIL

4.1 Analisis

Berdasarkan data fasilitas umum di Kabupaten Banyumas, data yang berisi fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan. selanjutnya akan dianalisis dengan menggunakan analisis skalogram Guttman dan analisis indeks sentralitas Marshall. Berikut data fasilitas umum di Kabupaten Banyumas.

Tabel IV.1

Data Fasilitas Umum di Kabupaten Banyumas No. Kecamatan Luas

Wilaya h km² Jumlah Pendu duk Fasilitas Umum TK SD SMP SMA Ruma h Bersa lin Polikli

nik Puskesmas Pemba ntu Puske smas Rumah Sakit 1 Lumbir 10266 43344 16 35 4 0 0 2 2 1 0 2 Wangon 6078 73018 25 45 6 1 0 7 2 2 1 3 Jatilawang 4816 57054 30 36 5 2 1 1 2 1 0 4 Rawalo 4964 45262 34 24 4 1 2 2 1 1 0 5 Kebasen 5399 55718 22 29 5 0 1 1 1 1 0 6 Kemranjen 6071 62335 31 34 9 1 0 2 2 2 1 7 Sumpiuh 6001 49808 26 30 5 2 0 3 2 2 1 8 Tambak 5203 41925 19 28 6 2 1 6 1 2 0 9 Somagede 4011 31825 16 22 4 0 0 1 1 1 0 10 Kalibagor 3573 45954 19 23 5 0 0 2 1 1 0 11 Banyumas 3809 45573 19 34 5 1 0 9 2 1 3 12 Patikraja 4322 50330 31 28 4 1 0 3 2 1 1 13 Purwojati 3786 30786 18 20 4 0 0 1 2 1 0 14 Ajibarang 6653 89861 38 33 8 2 2 7 2 2 2 15 Gumelar 9395 45066 23 32 5 1 0 1 1 1 0 16 Pekuncen 9270 64410 29 36 6 0 0 5 2 1 0 17 Cilongok 10534 10879 7 52 44 6 0 1 3 2 2 0 18 Karanglewa s 3248 57194 26 26 5 1 0 5 1 1 0 19 Kedungbant eng 2992 51064 24 29 6 1 0 2 1 1 0 20 Baturaden 2592 47074 15 29 4 1 0 4 1 2 0 21 Sumbang 5342 74660 27 38 6 0 0 1 2 2 0 22 Kembaran 4553 72136 34 28 3 0 2 5 1 2 0 23 Sokaraja 6022 76867 36 32 5 5 1 6 2 2 2 24 Purwokerto 1375 70459 23 27 9 1 2 13 1 1 2

(19)

19 Selatan 25 Purwokerto Barat 740 49044 23 24 4 0 1 4 1 1 2 26 Purwokerto Timur 842 57160 27 36 10 9 2 13 1 2 4 27 Purwokerto Utara 901 57178 17 23 2 1 2 15 0 2 3 TOTAL 700 825 145 33 18 124 39 39 22

Sumber : Hasil Analisis Kelompok 10, 2012. 4.1.1 Analisis Skalogram Guttman

Analisis Skalogram Guttman digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya layanan/fasilitas yang ada di suatu daerah. Selain itu juga untuk mengetahui kelengkapan fasilitas suatu wilayah, dalam hal ini yang akan dianalisis adalah fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan di Kabupaten Banyumas. Berikut adalah analisisnya :

Tabel IV.2

Analisis Skalogram Guttman No. Kecamatan Luas

Wilayah km²

Jumlah Pendud

uk

Fasilitas Umum Jumla

h TK SD SMP SMA Polik

linik esmaPusk s Pusk esma s Pem bant u Rum ah Bers alin Rumah Sakit 1 Lumbir 10266 43344 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 2 Wangon 6078 73018 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 3 Jatilawang 4816 57054 1 1 1 1 1 1 1 1 0 8 4 Rawalo 4964 45262 1 1 1 1 1 1 1 1 0 8 5 Kebasen 5399 55718 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 6 Kemranjen 6071 62335 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 7 Sumpiuh 6001 49808 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 8 Tambak 5203 41925 1 1 1 1 1 1 1 1 0 8 9 Somagede 4011 31825 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 10 Kalibagor 3573 45954 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 11 Banyumas 3809 45573 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 12 Patikraja 4322 50330 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 13 Purwojati 3786 30786 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 14 Ajibarang 6653 89861 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 15 Gumelar 9395 45066 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7

(20)

20 16 Pekuncen 9270 64410 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 17 Cilongok 10534 108797 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 18 Karanglewa s 3248 57194 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7 19 Kedungbant eng 2992 51064 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7 20 Baturaden 2592 47074 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7 21 Sumbang 5342 74660 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 22 Kembaran 4553 72136 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 23 Sokaraja 6022 76867 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 24 Purwokerto Selatan 1375 70459 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 25 Purwokerto Barat 740 49044 1 1 1 0 1 1 1 1 1 8 26 Purwokerto Timur 842 57160 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 27 Purwokerto Utara 901 57178 1 1 1 1 1 1 0 1 1 8 TOTAL 27 27 27 17 27 27 26 12 11 201

Sumber : Hasil Analisis Kelompok 10, 2012.

Berdasarkan tabel data fasilitas umum Kabupaten Banyumas per kecamatan di atas dapat diinterpretasikan bahwa angka 1 menunjukkan di tiap kecamatan tersebut terdapat fasilitas/layanan yang berupa fasilitas kesehatan ataupun fasilitias pendidikan. Sedangkan angka 0 menunjukkan bahwa di tiap kecamatan tidak ada fasilitas/layanan yang berupa fasilitas kesehatan ataupun fasilitas pendidikan.

Tabel IV.3

Analisis Skalogram Guttman No. Kecamata n WilayLuas ah km² Jumlah Pendu duk

Fasilitas Umum Jumla

h Error % TK SD SMP SMA Polikl

inik Puskes ma s Pus kes ma s Pe mb ant u Rum ah Bers alin Ru ma h Sak it 14 Ajibarang 6653 89861 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 0 4,4776 1194 23 Sokaraja 6022 76867 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 0 4,4776 1194 24 Purwoker to Selatan 1375 70459 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 0 4,47761194 26 Purwoker to Timur 842 57160 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 0 4,47761194

(21)

21 2 Wangon 6078 73018 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 2 3,9800 995 3 Jatilawan g 4816 57054 1 1 1 1 1 1 1 1 0 8 0 3,9800995 4 Rawalo 4964 45262 1 1 1 1 1 1 1 1 0 8 0 3,9800 995 6 Kemranje n 6071 62335 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 2 3,9800995 7 Sumpiuh 6001 49808 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 2 3,9800 995 8 Tambak 5203 41925 1 1 1 1 1 1 1 1 0 8 0 3,9800 995 11 Banyuma s 3809 45573 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 2 3,9800995 12 Patikraja 4322 50330 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 2 3,9800 995 25 Purwoker to Barat 740 49044 1 1 1 0 1 1 1 1 1 8 2 3,9800995 27 Purwoker to Utara 901 57178 1 1 1 1 1 1 0 1 1 8 2 3,9800995 5 Kebasen 5399 55718 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 2 3,4825 8706 15 Gumelar 9395 45066 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7 0 3,4825 8706 17 Cilongok 1053 4 108797 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 2 3,48258706 18 Karangle was 3248 57194 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7 0 3,48258706 19 Kedungba nteng 2992 51064 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7 0 3,48258706 20 Baturade n 2592 47074 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7 0 3,48258706 22 Kembara n 4553 72136 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 2 3,48258706 1 Lumbir 1026 6 43344 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 0 2,98507463 9 Somagede 4011 31825 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 0 2,9850 7463 10 Kalibagor 3573 45954 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 0 2,9850 7463 13 Purwojati 3786 30786 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 0 2,9850 7463 16 Pekuncen 9270 64410 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 0 2,9850 7463 21 Sumbang 5342 74660 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 0 2,9850 7463 TOTAL 27 27 27 17 27 27 26 12 11 201 20 100

Sumber : Hasil Analisis Kelompok 10, 2012.

Berdasarkan perhitungan skalogram yang telah dilakukan, jumlah error yang didapat dari 27 Kecamatan (N) dan 9 fasilitas (k) di Kabupaten Banyumas yaitu

(22)

22 20. Sedangkan untuk jumlah fasilitas tertinggi 9 ada di Kecamatan Ajibarang dan terkecil 6 ada di Kecamatan Sumbang.

Perhitungan COR COR = 1- (∑e)/Nxk COR = 1- 20/27x9 = 0,91769

Berdasarkan ketentuan, nilai Coeffisien of Reproducibility (COR) yang layak untuk dianalisis adalah bernilai ≥ 0,9. Sehingga data tersebut dapat dilanjutkan untuk dianalisis.

Perhitungan jumlah orde Jumlah Orde = 1+3,3 Log n

= 1+3,3 Log 27 = 5,724

=6

Berarti jumlah orde yang ada di Kabupaten Banyumas adalah 6 orde Perhitungan interval

Range = (Nilai Tertinggi-Nilai Terendah)/(Jumlah orde) = (9-6)/6

= 0,5

Maka pembagian orde berdasarkan jumlah fasilitas yang dimiliki sebagai berikut: Orde I > 8,6 Orde II ≥ 8,1-8,5 Orde III ≥ 7,6-8,0 Orde IV ≥ 7,1 -7,5 Orde V ≥ 6,6-7,0 Orde VI < 6,5

No. Kecamatan Luas Wilaya

h km²

Jumlah Pendud

uk

Fasilitas Umum Juml

ah ORDE TK SD SMP SMA P ol ik li ni k Puske

smas Puskesmas Pemba ntu Rum ah Bers alin Ru ma h Sak it 14 Ajibarang 6653 89861 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 I 23 Sokaraja 6022 76867 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 I

(23)

23 24 Purwokerto Selatan 1375 70459 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 I 26 Purwokerto Timur 842 57160 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 I 2 Wangon 6078 73018 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 III 3 Jatilawang 4816 57054 1 1 1 1 1 1 1 1 0 8 III 4 Rawalo 4964 45262 1 1 1 1 1 1 1 1 0 8 III 6 Kemranjen 6071 62335 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 III 7 Sumpiuh 6001 49808 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 III 8 Tambak 5203 41925 1 1 1 1 1 1 1 1 0 8 III 11 Banyumas 3809 45573 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 III 12 Patikraja 4322 50330 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 III 25 Purwokerto Barat 740 49044 1 1 1 0 1 1 1 1 1 8 III 27 Purwokerto Utara 901 57178 1 1 1 1 1 1 0 1 1 8 III 5 Kebasen 5399 55718 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 V 15 Gumelar 9395 45066 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7 V 17 Cilongok 10534 108797 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 V 18 Karanglewa s 3248 57194 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7 V 19 Kedungban teng 2992 51064 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7 V 20 Baturaden 2592 47074 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7 V 22 Kembaran 4553 72136 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 V 1 Lumbir 10266 43344 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 VI 9 Somagede 4011 31825 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 VI 10 Kalibagor 3573 45954 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 VI 13 Purwojati 3786 30786 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 VI 16 Pekuncen 9270 64410 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 VI 21 Sumbang 5342 74660 1 1 1 0 1 1 1 0 0 6 VI TOTAL 27 27 27 17 27 27 26 12 11 201

Sumber : Hasil Analisis Kelompok 10, 2012.

4.1.2 Analisis Indeks Sentralitas Marshall

Analisis indeks Sentralitas Marshall ada perbedaan dengan analisis indeks Scalogram, dimana Analisis indeks Sentralitas Marshall menilai jumlah unit setiap jenis fasilitas pada pemukiman dibandingkan dengan pemukiman yang lain. Adapun hasil Analisis indeks Sentralitas Marshall yaitu:

(24)

24 Kecamatan dengan nilai indeks sentralitas Marshal terbanyak yaitu Kecamatan Purwokerto Timur sebesar 89,86 dan terkecil Kecamatan Somagede sebesar 13,65. Menggunakan orde yang sama dengan analisis skalogram (skala Guttman) yaitu 6 maka didapat interval orde:

Perhitungan interval

Range = (Nilai Tertinggi-Nilai Terendah)/(jumlah orde) = (89,86-13,65)/6

= 12,70225104 = 13

Maka pembagian orde berdasarkan bobot fasilitas yang dimiliki sebagai berikut: Orde I > 73 Orde II ≥ 69-72 Orde III ≥ 55-68 Orde IV ≥ 41-54 Orde V ≥ 27-40 Orde VI < 26

(25)

25

No. Kecamatan TK SD SMP SMA Rum

ah Bersa

lin

Polikli

nik Puskesmas Pemba ntu Puskes mas Rumah Sakit TOTA L ORDE 1 Lumbir 2,29 4,24 2,76 0,00 0,00 1,61 5,13 2,56 0,00 18,59 VI 2 Wangon 3,57 5,45 4,14 3,03 0,00 5,65 5,13 5,13 4,55 36,64 III 3 Jatilawang 4,29 4,36 3,45 6,06 5,56 0,81 5,13 2,56 0,00 32,21 III 4 Rawalo 4,86 2,91 2,76 3,03 11,11 1,61 2,56 2,56 0,00 31,41 IV 5 Kebasen 3,14 3,52 3,45 0,00 5,56 0,81 2,56 2,56 0,00 21,60 V 6 Kemranjen 4,43 4,12 6,21 3,03 0,00 1,61 5,13 5,13 4,55 34,20 III 7 Sumpiuh 3,71 3,64 3,45 6,06 0,00 2,42 5,13 5,13 4,55 34,08 III 8 Tambak 2,71 3,39 4,14 6,06 5,56 4,84 2,56 5,13 0,00 34,39 III 9 Somagede 2,29 2,67 2,76 0,00 0,00 0,81 2,56 2,56 0,00 13,65 VI 10 Kalibagor 2,71 2,79 3,45 0,00 0,00 1,61 2,56 2,56 0,00 15,69 VI 11 Banyumas 2,71 4,12 3,45 3,03 0,00 7,26 5,13 2,56 13,64 41,90 II 12 Patikraja 4,43 3,39 2,76 3,03 0,00 2,42 5,13 2,56 4,55 28,27 IV 13 Purwojati 2,57 2,42 2,76 0,00 0,00 0,81 5,13 2,56 0,00 16,25 VI 14 Ajibarang 5,43 4,00 5,52 6,06 11,11 5,65 5,13 5,13 9,09 57,11 I 15 Gumelar 3,29 3,88 3,45 3,03 0,00 0,81 2,56 2,56 0,00 19,58 V 16 Pekuncen 4,14 4,36 4,14 0,00 0,00 4,03 5,13 2,56 0,00 24,37 IV 17 Cilongok 7,43 5,33 4,14 0,00 5,56 2,42 5,13 5,13 0,00 35,13 III 18 Karanglewas 3,71 3,15 3,45 3,03 0,00 4,03 2,56 2,56 0,00 22,50 V 19 Kedungbante ng 3,43 3,52 4,14 3,03 0,00 1,61 2,56 2,56 0,00 20,85 V 20 Baturaden 2,14 3,52 2,76 3,03 0,00 3,23 2,56 5,13 0,00 22,37 V 21 Sumbang 3,86 4,61 4,14 0,00 0,00 0,81 5,13 5,13 0,00 23,66 V 22 Kembaran 4,86 3,39 2,07 0,00 11,11 4,03 2,56 5,13 0,00 33,16 III 23 Sokaraja 5,14 3,88 3,45 15,15 5,56 4,84 5,13 5,13 9,09 57,36 I 24 Purwokerto Selatan 3,29 3,27 6,21 3,03 11,11 10,48 2,56 2,56 9,09 51,61 I 25 Purwokerto Barat 3,29 2,91 2,76 0,00 5,56 3,23 2,56 2,56 9,09 31,95 III 26 Purwokerto Timur 3,86 4,36 6,90 27,27 11,11 10,48 2,56 5,13 18,18 89,86 I 27 Purwokerto Utara 2,43 2,79 1,38 3,03 11,11 12,10 0,00 5,13 13,64 51,60 I 89,86 13,65

Gambar

Tabel II.1  Matriks Fungsi Wilayah
Tabel III.
Tabel IV.1
Tabel IV.2
+2

Referensi

Dokumen terkait

FAIZ YANIAR PUSPITA/105080601111073 Analisis Faktor – Faktor Oseanografi Terhadap Pola Distribusi Sedimen Perairan Di Wilayah Pela Buhan Peti Kemas Teluk Lamong, Surabaya, Jawa

Suatu fungsi yang memiliki bagian riil adalah genap dan bagian imajiner adalah ganjil disebut sebagai fungsi Hermitian terlepas dari apakah dalam domain waktu atau domain

Identifikasi struktur spasial menggunakan analisis indeks sentralitas jumlah fasilitas pada setiap blok permukiman, sedangkan perkembangan struktur spasialnya dilihat dari elemen

Beberapa metode analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisis indeks Williamson dan indeks Theil untuk mengetahui kondisi ketimpangan wilayah di Jawa Timur,

Hasil dari analisis jejaring sosial dengan graf berarah dan berbobot menunjukkan bahwa aktor A_29 memperoleh nilai tertinggi pada sentralitas derajat keluar,

Peta Hasil Analisis Skalogram Sumber: Hasil Analisis, 2023 Analisis Indeks Sentralitas Analisis ini merupakan turunan dari analisis skalogram dimana analisis skalogram tidak cukup

Metode analisis yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif dengan menggunakan analisis skalogram dengan indek sentralitas untuk mengetahui pusat pembangunan wilayah berdasarkan

UNIT ANALISIS Unit analisis adalah bagian dari wilayah penelitian yang merupakan satuan wilayah yang lebih kecil yang akan menjadi fokus penelitian dan fokus analisis JUDUL