MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 1/PUU-VII/2009
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG
PERUBAHAN KEEMPAT UNDANG-UNDANG NOMOR
7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN
TERHADAP
UNDANG-UNDANG DASAR 1945
ACARA
MENDENGAR KETERANGAN PEMERINTAH, DPR
SERTA SAKSI DAN AHLI DARI PEMOHON
(II)
J A K A R T A
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 1/PUU-VII/2009
PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan terhadap Undang-Undang Dasar 1945.
PEMOHON
- Gustian Djuanda ACARA
Mendengar Keterangan Pemerintah, DPR, Saksi dan Ahli dari Pemohon (II)
Rabu, 11 Februari 2009, Pukul 10.00 – 11.00 WIB Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, S.H. (Ketua) 2) Prof. Abdul Mukthie Fadjar, S.H., M.S. (Anggota) 3) Prof. Dr. Achmad Sodiki, S.H. (Anggota) 4) Dr. H.M. Arsyad Sanusi, S.H., M.Hum (Anggota) 5) Dr. Muhammad Alim, S.H., M.Hum (Anggota)
6) Maruarar Siahaan, S.H. (Anggota)
7) Prof. Dr. Maria Farida Indrati, S.H., M.H. (Anggota) 8) H.M. Akil Mochtar, S.H., M.H. (Anggota) Ina Zuchriah, , S.H. Panitera Pengganti
Pihak yang Hadir: Pemohon :
- Gustiar Djuanda Ahli dari Pemohon :
- Rudi Bambang Trisilio, SE, MM (Dosen STEKPI) - Drs. TB. Mansur Ma’mum, MA (Dosen STAI) Saksi dari Pemohon :
- Almuzamil, S.H. - Imam Suhadi - Prasetyo Pemerintah :
- Indra Surya (Biro Hukum Departemen Keuangan) - Mualimin Abdi (Kabag Penyajian pada Sidang MK) - Fendi (Direktorat Jenderal Pajak)
DPR-RI :
- Jhonson Rajaguguk (Kepala Biro Hukum DPR) - Rudi Rochmansyah (Tim Biro Hukum Setjen DPR)
1. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi untuk mendengarkan keterangan ahli dan saksi dari Pemohon dalam perkara pengujian Undang-undang Perkara Nomor 1/PUU-VII/2009 dengan ini dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.
Kepada Pemohon dipersilakan untuk memperkenalkan diri atau menjelaskan siapa-siapa yang hadir pada hari ini, silakan.
2. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Terima kasih, Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Dr. Mahfud MD. Nama saya sebagai Pemohon adalah Gustian Djuanda, pekerjaan Dosen Stekpi. Mengajukan saksi 3 orang, yaitu Bapak Almuzamil, SH., nomor dua dari paling ujung. Kemudian Bapak Prasetyo, paling ujung. Kemudian di sebelah Pak Almuzamil adalah Bapak Imam Suhadi.
Sedangkan ahli seharusnya ada 3 orang yaitu Dr. Hendra, kemudian Bapak Rudi Bambang Trisilo, sebelah ujung, dan sebelahnya adalah Bapak Tubagus Mansur Ma’mun, tetapi berhubung Dr. Hendra sedang melakukan pernikahan di Riau, kemudian diteruskan ke Jambi sehingga beliau baru bisa menjadi ahli menyampaikan ahlinya itu setelah tanggal 22, Pak.
Jadi mohon maaf yang untuk Dr. Hendra, hari ini tidak bisa menghadirkan. Kita hanya bisa menghadirkan dua orang ahli dan tiga orang saksi, saya kira itu dulu, Pak. Terima kasih.
3. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H. Baik, pihak Pemerintah atau DPR?
4. PEMERINTAH : MUALIMIN ABDI (KABAG PENYAJIAN PADA SIDANG MK)
Terima kasih Yang Mulia. Assalamualaikum wr.wb. Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Seperti sidang kemarin, Yang Mulia, kita, Pemerintah akan memohon untuk dijadwalkan ulang tanggal 24 dan tanggal 26. Namun demikian, kami dari Pemerintah, hadir untuk mencatat, memonitor, dan lain sebagainya. Hadir dari pemerintah, saya sendiri Mualimin Abdi dari Departemen Hukum dan Hak Asasi manusia.
SIDANG DIBUKA PUKUL 10.00 WIB
Kemudian, Pak Fendi dari Direktorat Jenderal Pajak. Juga nanti seyogyanya kawan-kawan dari Direktorat Jenderal Pajak lumayan banyak yang akan hadir, seperti di belakang. Kemudian, di bagian belakang juga kawan-kawan dari Direktorat Jenderal Pajak. Semuanya untuk memonitor, dan koordinasi, dan mencatat, Yang Mulia. Terima kasih. 5. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Ya baik, memang tanggal 24 dan tanggal 26 kita jadwalkan untuk sidang ini. Tapi kita sekarang akan mendengarkan Saksi dan Ahli dan saudara nanti tentu bisa untuk menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada Ahli maupun Saksi ini.
Baiklah, sebelum ini, dimohon untuk mengambil sumpah dulu atau janji, supaya maju ke depan. Yang beragama Islam dulu, semuanya beragama Islam? Baik, maju ke depan semua. Ahli dulu.
6. HAKIM KONSTITUSI : Dr. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.Hum. Saudara Ahli, ikuti lafal sumpah menurut agama Islam.
Bissmillahirahmanirahim,
7. AHLI DARI PEMOHON : SEMUA AHLI YANG BERAGAMA ISLAM
Bissmillahirahmanirahim,
8. HAKIM KONSTITUSI : Dr. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.Hum. Demi Allah, saya bersumpah.
9. AHLI DARI PEMOHON : SEMUA AHLI YANG BERAGAMA ISLAM Demi Allah, saya bersumpah.
10. HAKIM KONSTITUSI : Dr. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.Hum. Sebagai ahli, akan memberikan keterangan yang sebenarnya. 11. AHLI DARI PEMOHON : SEMUA AHLI YANG BERAGAMA ISLAM
Sebagai ahli, akan memberikan keterangan yang sebenarnya. 12. HAKIM KONSTITUSI : Dr. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.Hum. .
13. AHLI DARI PEMOHON : SEMUA AHLI YANG BERAGAMA ISLAM Sesuai dengan keahlian saya.
14. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H. , MD. Lalu Saksi?
15. HAKIM KONSTITUSI : Dr. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.Hum. Saudara Saksi, ikuti lafal sumpah menurut agama Islam.
Bissmillahirahmanirahim.
16. SAKSI DARI PEMOHON : SEMUA SAKSI YANG BERAGAMA ISLAM
Bissmillahirahmanirahim.
17. HAKIM KONSTITUSI : Dr. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.Hum. Demi Allah, saya bersumpah.
18. SAKSI DARI PEMOHON : SEMUA SAKSI YANG BERAGAMA ISLAM Demi Allah, saya bersumpah.
19. HAKIM KONSTITUSI : Dr. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.Hum. . Akan menerangkan yang sebenarnya.
20. SAKSI DARI PEMOHON : SEMUA SAKSI YANG BERAGAMA ISLAM Akan menerangkan yang sebenarnya.
21. HAKIM KONSTITUSI : Dr. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.Hum. . Tidak lain dari yang sebenarnya.
22. SAKSI DARI PEMOHON : SEMUA SAKSI YANG BERAGAMA ISLAM Tidak lain dari yang sebenarnya.
23. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Baik dari DPR baru datang. Silakan saja bergabung. Baik, sebelum Saksi atau Ahli diminta bicara, saya kira, saya persilakan Pemohon dulu untuk dalam waktu singkat saja lima menit untuk menyampaikan resume
tentang pokok permohonan. Jadi masalah mengenai pasal berapa, dan mengapa dipersoalkan, dan dianggap bertentangan dengan Pasal Undang-Undang Dasar 1945, bagian mana, agak singkat saja, Pak. Silakan.
24. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Terima kasih, apakah bisa ditampilkan di layar?
25. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Ini yang sudah disampaikan di sidang sebelumnya ya? Kita sudah tahu. Ini hanya memfokuskan perhatian saja, begitu.
26. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Terima kasih. Assalamualaikum wr.wb. Jadi pokok perkara yang saya ajukan adalah mengenai Pasal 9 ayat (1) huruf G Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 itu tidak lagi mencantumkan kata-kata yang menyatakan bahwa zakat dapat dikeluarkan sebagai pengurang pajak, seperti yang dicantumkan pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 sehingga kami sebagai wajib pajak itu mendapat beban pajak yang ganda.
Seperti yang dicantumkan, padahal itu bertentangan dengan..., sudah diamanatkan oleh Undang-Undang tentang Pengolahan Zakat Tahun 1999. Sehingga fasilitas pengurang zakat pengurang pajak ini tidak ada lagi setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 ini. Sehingga kami sebagai wajib pajak sekarang harus membayar zakat
plus pajak.
Yang ke dua, atau perkara yang ke dua adalah PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak). Untuk undang-undang tahun 2008 ini, itu sangat rendah, khususnya untuk PTKP istri tidak bekerja, dan tanggungan yaitu anak, yaitu sebesar Rp1.320.000,00/tahun atau Rp110.000,00/bulan. Padahal PTKP wajib pajak Rp15.840.000,00 atau Rp1.320.000,00.
Nah, berbeda dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 dimana PTKP istri tidak bekerja ataupun tanggungan, itu 5% dari PTKP wajib pajak. Sedangkan undang-undang yang baru hanya mencantumkan 8,3%. Sehingga kami sebagai wajib pajak terkena beban besar terhadap pengurangan fasilitas PTKP ini.
Yang ke tiga, itu adalah PTKP ini hanya dibatasi 3 orang, padahal banyak karyawan yang tidak ada niat untuk menambah dari tiga orang. Jadi ini beban juga buat kami sebagai wajib pajak.
Kemudian yang terakhir, fasilitas tunjangan pajak kepada karyawan itu oleh Dirjen Pajak diakomodasi padahal tidak ada pasal di undang-undang tentang tunjangan pajak. Sehingga implementasinya itu adalah pimpinan kami itu mendapat tunjangan pajak sedangkan kami
sebagai karyawan, dosen biasa, itu harus membayar pajak. Ini jadi ada dampak dari pengenaan undang-undang ini terhadap beban pajak. Nah, ini tentu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Pasal 28H ayat (1) yaitu, “setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin”, dan selanjutnya.
Kemudian yang terakhir adalah PTKP 15.084.000 itu masih rendah, nanti mungkin ahli akan menyampaikan berapa sih yang ideal atau yang normal untuk layak hidup, saya kira itu. Terima kasih,
wassalamualaikum wr. wb.
27. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Terima kasih. Sekarang kita mulai dari Saksi. Pemohon, ini Saksi ini apakah mau dipandu dengan pertanyaan lalu menjawab atau langsung menjelaskan?
28. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA Langsung saja, Pak.
29. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Langsung? Silakan. Yang mana dulu? boleh maju ke depan, boleh juga di meja.
30. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA Silakan. Pak Imam Suhadi, Pak. 31. SAKSI DARI PEMOHON : IMAM SUHADI
Baik, terima kasih. Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang, salam sejahtera semuanya. Saya di sini hanya ingin menjelaskan tentang tunjangan pajak. Di institusi kami pada tahun 2003, sebelum tahun 2003, ada kebijakan yang memberikan tunjangan pajak terhadap semua karyawan. Jadi karyawan menerima pendapatan tidak dipotong pajak, nanti institusi yang membayarkan. Setelah tahun 2003, ada kebijakan baru, setiap karyawan akan mendapatkan potongan pajak tetapi kebijakan institusi kami adalah memberikan kepada pimpinan dan wakil pimpinan kami, tunjangan pajak. Jadi beliau mendapatkan penghasilan tanpa dipotong pajak, itu saja. Terima kasih.
32. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H. Berikutnya?
33. SAKSI DARI PEMOHON : ALMUZAMIL, S.H.
Terima kasih. Assalamualaikum wr. wb. Nama saya Almuzamil, S.H. Saya di sini menjelaskan saja karena peranan saya sebagai saksi, tentu apa yang sudah disampaikan oleh Pemohon tadi memang sangat berdampak sekali kepada kita, terutama kami sebagai karyawan karena ada perbedaan-perbedaan hak terhadap pemberian pajak yang ditunjangkan kepada seorang pimpinan kepada kami sebagai karyawan.
Ini juga tentu ada juga karyawan kita itu bekerja suami-istri dan itu juga dibebankan. Seharusnya pajak suami-istri itu bisa dialihkan berdasarkan undang-undang pajak sekarang ini, dimasukkan ke salah seorang atau suami ataupun istri. Tapi ternyata di kita, di perusahaan kita, itu dianggap mereka lajang. Lajang ini sendiri juga tentu menjadi beban buat kami bagi orang yang betul-betul bekerja sendiri dan istrinya di rumah, tidak bekerja. Jadi komponen-komponen, faktor-faktor pengurang PTKP ini yang perlu kita bicarakan bersama karena nilai pajak itu menjadi naik, Pak. Terima kasih. Assalamualaikum wr. wb.
34. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Sebentar dulu saya tanya, ini yang mau Bapak sampaikan dari kesaksian ini apa? Dia mengatakan ada suami-istri diambil pajak dua-dua, harusnya satu, menurut undang-undang. Ini kan bukan soal pertentangan undang-undang dengan Undang-Undang Dasar, ini soal pelaksanaan. Apa yang ingin Bapak sampaikan sebenarnya? Kalau suami-istri lalu diambil pajak sendiri-sendiri padahal menurut undang-undangnya satu kan. Kan undang-undangnya sudah benar. Apa yang ingin Bapak sampaikan dari kesaksian ini?
35. SAKSI DARI PEMOHON :ALMUZAMIL, S.H.
PTKP-nya Pak. Nilai PTKP-nya, besarnya nilai PTKP. Istri tidak bekerja itu hanya Rp1.320.000,00 sedangkan kalau istri bekerja itu Rp15.804.000,00 Pak.
36. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H. Itu isi undang-undang bukan?
37. SAKSI DARI PEMOHON :ALMUZAMIL, S.H. Iya undang-undang.
38. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H. Ya, baiklah kalau begitu. Berikutnya, silakan.
39. SAKSI DARI PEMOHON : PRASETYO
Terima kasih. Assalamualaikum wr. wb. Mungkin kami minta izin kepada Majelis Hakim untuk menampilkan ilustrasi perhitungan pajaknya, mohon izin Bapak. Kepada Petugas mohon menampilkan
power point kami.
Ya Majelis Hakim yang terhormat, di sini ada ilustrasi, saya sendiri kebetulan, Prasetyo, wajib pajak nomor NPWP 48.125.954.7 - 403.000. Untuk gaji bulan Januari tahun 2009 setelah setahun itu jumlahnya Rp30.497.448,00 dengan biaya jabatan Rp1.296.000,00 ditemukan pendapatan itu sebesar Rp29.201.448,00. Sedangkan PTKP bagi saya adalah Rp15.840.000,00 dan PTKP saya itu, status menikah jumlahnya adalah Rp1.320.000,00.
Kemudian PTKP tiga orang anak dan tahun 2009 ini pada tanggal 12, bulan yang lalu, saya juga dikaruniai Allah, anak yang ke empat sehingga tahun 2009, saya harusnya empat orang anak tetapi di Undang-Undang Pajak masih belum bisa diakui karena baru diakui di tahun 2010 Pak ya, untuk 2009.
40. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Maksimum tiga, Pak.
41. SAKSI DARI PEMOHON : PRASETYO
Iya, maksimum tiga. jadi yang ke empat, saya tidak diakui Bapak,
hahaha. Ini adalah Rp1.320.000,00 sehingga jumlah pengurang pajak adalah Rp21.210.000,00. Dengan demikian penghasilan yang dikenakan pajak adalah Rp8.081.448,00 dan PPH-nya kalau disetahunkan itu Rp404.472,00 dan untuk dibayar pada bulan Januari ini adalah Rp33.673,00 ini yang dimaksud dengan Pemohon adalah barangkali pertama adalah PTKP untuk status kawin yang sangat rendah dan PTKP untuk anak yang ke empat. Apakah anak yang ke empat ini menjadi tidak ditanggung, padahal bisa saja ini juga tunas bangsa yang akan datang. Barangkali dia juga akan memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara.
Saya pikir itu perlu dipertimbangkan untuk ditambahkan di perubahan yang dikabulkan oleh MK. Terima kasih, assalamualaikum wr. wb.
42. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Ke Ahli ya, tidak, bisa tanya jawabnya nanti saja kalau perlu. Cukup ya dari Saksi? Sekarang silakan Ahli yang mana?
43. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Ya, mungkin ahli pertama mungkin Pak Tubagus Mansur Ma’mun. Oh, Pak Rudi dulu? Ya, Pak Rudi Bambang Trisilo, Pak.
44. AHLI DARI PEMOHON : RUDI BAMBANG TRISILO, SE., M.M.
Assalamualaikum wr. wb. Yang Terhormat Majelis Hakim, izinkanlah saya menggunakan power point. Judul makalah saya ini adalah Pendapatan Perkapita Sebagai Dasar Penetapan PTKP.
Ide ini pernah saya sampaikan di Seminar Nasional, di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Sekitar tahun 2002. kemudian saya sesuaikan dengan tahun sekarang, untuk tahun 2009.
PDB Indonesia tahun 2005, ini adalah data yang sudah final. Kalau yang 2008, BBS juga menerbitkan, namun masih sangat, sangat sementara. Bintang tiga ini. Jadi saya menggunakan data yang final. Di sini, produk domestik brutonya Rp2.774 trilyun. Kemudian pendapatan nasional, yang baris paling bawah Rp2.446 trilyun. Saya melihat di sini, rasionya adalah rasio pendapatan nasional, atau PN dibagi PDB itu 0,88.
Ternyata setelah saya lihat, dari tahun 1997, rasio ini, saya singkat RPP, dari tahun 1997, yang saya bawa ke Seminar Nasional itu sampai hanya tahun 2000. kemudian, di sini saya teruskan sampai tahun 2008, rasionya masih tetap sama yaitu 0,88. Jadi rasio pendapatan nasional terhadap PDB itu 0,88. kemudian angka RPP ini nanti akan saya gunakan untuk mengukur PTKP.
Pada tahun 1999, pada waktu itu, saya menghitung DKI, PDRB nonmigasnya itu 19 juta / tahun. Kemudian kalau dilihat ke berikutnya, ke tahun 2005 PDRB-nya yang nonmigas DKI 48.750 ribu. Mengapa saya gunakan nonmigas karena menurut pandangan kami, migas adalah pendapatan pemerintah atau negara. Jadi pendapatan masyarakat adalah yang nonmigas.
Kemudian kalau kita gunakan rasio 0,88 tadi maka akan diperoleh, saya kalikan dengan PDRB perkapita DKI diketemukan pendapatan per-Kapita-nya itu setelah dikalikan rasio 0,88 tadi adalah 42.895 ribu / tahun.
Kemudian saya mencoba menggunakan tahun 1999 dan 2005 karena datanya sudah final, saya menghitung pertumbuhan rata-ratanya pertahun ditemukan 16,8%. Sehingga tahun ini, 2009, diperkirakan pendapatan per-Kapita / tahun DKI adalah Rp79.906 ribu. Nah, angka ini, 79 ini, kemudian kalau diperbulankan 6.658 ribu.
Jadi pendekatan saya ini adalah pemikiran untuk PTKP DKI 79.906 ribu yang sekarang adalah Rp15.840 ribu. Demikian Majelis Hakim. Terima kasih.
45. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H. Baik. Silakan berikutnya.
46. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA Silakan, Pak Tubagus Mansur.
47. AHLI DARI PEMOHON : Drs. TB MANSUR MA’MUN, MA.
Yang kami muliakan, Majelis Hakim. Assalamualaikum wr. wb.
Kami akan memberikan penjelasan di sisi zakat karena yang dipermasalahkan Pemohon itu adalah zakat mengurangi pajak.
Berdasarkan undang-undang yang lalu, itu diakomodir bahwa zakat sebagai pengurang penghasilan kena pajak. Kemudian, pada undang-undang yang baru, 2008 ini, yang diakomodir bukan kepada wajib zakatnya tetapi kepada lembaga yang memungut zakatnya. Itu berarti ada penurunan padahal ketika saya sering menulis dan juga melihat tulisan-tulisan para pakar di bidang zakat, termasuk usulan Baznas itu lebih maju. Zakat sebagai pengurang pajak. Artinya bukan pengurang penghasilan kena pajak tetapi zakat pengurang pajak yang berlaku seperti di Malaysia dan di Singapura.
Kenapa kita seperti itu, setuju dengan usulan Baznas dan para pakar zakat lainnya karena kita melihat potensi zakat itu luar biasa. Dan di STEKPI pernah diadakan survey bahwa umat Islam terutama itu lebih menyukai membayar zakat daripada membayar pajak.
Pengalaman di Malaysia itu, setelah diberlakukan zakat pengurang pajak, ada peningkatan yang berlipat-lipat pembayar pajak karena dengan diberlakukan seperti itu, yang selama mungkin wajib pajak itu tersembunyi maka ketika peraturan itu atau kebijakan itu diberlakukan maka wajib pajak itu menjadi terbuka. Karena dia bayar zakat. Karena di Malaysia itu, database-nya itu sama antara pembayar zakat maupun pajak. Artinya mirip-mirip mungkin seperti (...)
48. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Sebentar dulu ini. Ini display-nya ini kok bergerak-geraknya cepat sekali. Belum sempat dibaca, ganti. Saudara menerangkan ini atau jalan-jalan sendiri ini? Antara yang ini dengan yang dijelaskan. Baru baca dua baris sudah hilang, lalu ganti lagi begitu.
49. AHLI DARI PEMOHON : Drs. TB MANSUR MA’MUN, MA.
Ini di Malaysia ini Pak, ya. Jadi ada pergerakan dari pembayar pajak setelah kebijakan ini diberlakukan. Nah, hasilnya seperti ini, Pak. Jadi pada tahun 2001, terlalu cepat ya? Nanti mungkin kita bisa
sampaikan ke MK.
Jadi harapan dari kita adalah setelah kalau diberlakukan zakat sebagai pengurang pajak, InsyaAllah, indonesia juga akan mengalami apa yang terjadi di Malaysia karena wajib zakat itu lebih banyak daripada mungkin wajib pajak itu masih banyak yang tersembunyi sekarang ini karena umumnya orang menghindari daripada pajak. Tapi kalau zakat, itu orang tidak menghindari malah menyampaikan apa adanya yang apalagi kalau kebetulan saya mengelola UPZ. Jadi orang itu ketika membayar zakat itu menjelaskan secara transparan kekayaannya seperti ini dan seperti apa perhitungannya.
Nah, data ini nanti bisa menjadi data pihak pengelola pajak dan itu akan seperti terjadi di Malaysia ada penggelembungan dana yang naik setiap tahunnya, tahun 2001 seperti itu, 2005. Ini dalam ringgit Pak, seperti itu dan Indonesia akan lebih besar lagi. Dan negara yang yang nonmuslim mengakomodir itu, Singapura. Nah, Singapura itu kan
terkenal sebagai surganya pembayar pajak karena Singapura mengakomodir mungkin bukan zakatnya tapi pembayaran lain seperti
charity segala macam itu, masuk ke situ itu sebagai pengurang pajak. Kenapa Indonesia tidak melakukan seperti itu? Demikianlah dari kami, assalamualaikum wr.wb.
50. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Baik, nanti printout-nya kasih ke sini. Saya kira sudah selesai dari Saksi maupun dari Ahli sudah cukup jelas. Meskipun begitu, saya persilakan kalau Pemerintah atau DPR mau bertanya?
51. PEMERINTAH : INDRA SURYA (BIRO HUKUM DEPARTEMEN KEUANGAN)
Ada satu, Yang Mulia. Terimakasih, Yang Mulia, mohon izin mau menanyakan kepada Ahli yang ke dua, Pak Mansyur. Menurut Ahli bahwa ada perbedaan treatment di zakat tahun 2000 dengan tahun yang baru. Saya ingin menanyakan darimana Anda meyakini bahwa terjadinya perbedaan treatment antara zakat pada saat Undang-Undang PPH 2000 sebagai pengurang sebagai penghasilan kena pajak dengan Undang-Undang Tahun 2008 yang Anda bilang bahwa itu bukan merupakan sebagai pengurang dari Zakat? Begitu Pak, Yang Mulia.
52. AHLI DARI PEMOHON : Drs. TB MANSUR MA’MUN, MA.
Di Undang-Undang sebelumnya itu bahwa yang dikenakan pengurang penghasilan kena pajak menyebutnya seperti itu, Pengurang Penghasilan Kena Pajak. Di Undang-Undang yang baru adalah yang dikenakan adalah pemungut pajaknya seperti UPZ, itu yang saya pahami dan setelah saya confirm dengan Pemohon, itu sama pengertiannya.
53. PEMERINTAH : INDRA SURYA (BIRO HUKUM DEPARTEMEN KEUANGAN)
Apakah Saudara Ahli juga sudah melakukan survei bahwa apakah memang demikian dengan pemahaman Anda bahwa menurut adanya perubahan kalimat dalam bunyi pasal dalam undang-undang tersebut adalah dalam pelaksanaannya menjadi demikian? Begitu Pak. Apakah Bapak hanya menafsirkan secara sendiri bahwa menurut Bapak itu berbeda treatment-nya? Padahal dalam pelaksanaan, Bapak tidak mengetahui mengenai hal tersebut? Terimakasih.
54. AHLI DARI PEMOHON : Drs. TB MANSUR MA’MUN, MA.
Saya baru diskusi tapi dengan pihak seperti Baznas belum melakukan.
55. PEMERINTAH : INDRA SURYA (BIRO HUKUM DEPARTEMEN KEUANGAN)
Cukup, Yang Mulia.
56. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H. Baik. Silakan, Hakim Achmad Sodiki.
57. HAKIM KONSTITUSI : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Coba sekarang Saudara Pemohon, sekali lagi menampilkan secara visual, itu bahwa ketentuan yang baru itu lebih merugikan daripada ketentuan yang lama. Supaya jelas ditanggapi. Terima kasih.
58. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Terima kasih, Pak. Sekaligus menanggapi dari Pemerintah. Jadi kalau kita lihat dari Pasal 9 ayat (1) Huruf G itu, kata-kata ”zakat” yang nyata-nyata dibayar oleh wajib pajak itu, sudah hilang Pak. Sehingga beban wajib pajak sekarang bertambah dengan zakat. Saya kira itu.
Kemudian yang ke dua, mungkin saya akan mulai lagi bahwa PTKP dari istri tidak bekerja yang di undang-undang dinyatakan sebagai status kawin, Pak. Mungkin Majelis Hakim, disebutnya status kawin itu hanya Rp1.320.000,00 berarti hanya 8,3% dari PTKP wajib pajak sebesar Rp15.840.000,00. Berbeda dengan Undang-Undang Tahun 2000, itu 50% dari PTKP wajib pajak.
Kemudian, begitu juga tanggungan. Dibatasi tiga orang dan hanya Rp1.320.000,00. Jadi kalau saya punya anak, itu, Anda itu cukup jajan Rp3.000,00 untuk semuanya. Untuk satu bulan, lebih dari Rp3.000,00
Anda kena pajak. Nah, itu ini sangat merugikan terutama untuk wajib pajak yang istrinya tidak bekerja dan punya anak.
Jadi kelihatannya Pemerintah dan DPR ini mengharapkan warga negara indonesia itu jangan punya istri dan jangan punya anak karena begitu punya istri dan tidak bekerja, itu berarti kena pajak lebih besar. Begitu tambah anak, beban pajaknya lebih besar.
Kemudian yang terakhir adalah bahwa TPKP yang tadi disebutkan di akhir itu bahwa sangat rendah padahal dihitung, 2009, Rp6,9 milyar. Padahal TPKP kita ditetapkan tahun itu dan jarang berubah. Harusnya, tiap tahun berubah TPKP itu dan sangat rendah. Jadi orang yang bergaji dengan Rp1.320.000,00 itu banyak, Pak. Terutama karyawan kontrak. Itu hanya cukup makan dan transport. Dia tidak bisa ngapa-ngapain.
Jadi tolong TPKP itu diubah karena sangat rendah dan tidak mungkin akan hidup layak sesuai dengan Pasal 8 Undang-Undang Dasar. Saya kira itu, Pak.
59. HAKIM KONSTITUSI : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Barangkali Saudara Termohon bisa menanggapi ini atau akan tertulis?
60. PEMERINTAH : INDRA SURYA (BIRO HUKUM DEPARTEMEN KEUANGAN)
Secara tertulis, nanti biar lebih komplit Yang Mulia, terimakasih. 61. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Nanti sidang tanggal 26, ini berikutnya saya kira nanti sekaligus tanggapan Pemerintah dan atau DPR supaya di cover apa yang masuk sehingga tidak terpisah-pisah begitu. Apa ada lagi? Prof. Mukthie Fadjar? 62. HAKIM KONSTITUSI : Prof. ABDUL MUKTHIE FADJAR, S.H., M.S. Terimakasih. Untuk Pemohon dan Ahli yang diajukan. Kalau kita baca ketentuan Pasal 9 Huruf G, berkaitan dengan zakat untuk mengurangi pajak penghasilan bagi yang beragama Islam, sebenarnya ketentuannya sama yang ada di dalam Pasal 9 Huruf G undang-undang yang lama maupun undang-undang yang baru. Saya sebagai wajib pajak juga hanya ditolerir dalam penjelasan dari SPT yang setiap tahun kita terima itu memang hanya 2,5% dari berapapun zakat yang kita bayarkan.
tapi yang pertama, itu tentu harus badan amil zakat yang resmi, diakui oleh pemerintah.
Dan ke dua, besarnya hanya 2,5%. Jadi tidak ada perubahan dalam undang undang ini berkaitan dengan zakat sebagai instrumen
untuk memotong pajak penghasilan kita. Itu di dalam paling tidak dalam undang undang.
Yang ke dua, memang yang paling drastis itu yang ini nanti itu Pemerintah yang akan memberi jawab. Yaitu menurunnya PTKP untuk penghasilan tidak kena pajak untuk wajib pajak yang beristri ya? Tetapi tidak bekerja. Betul memang itu, tetapi bukan berarti tidak boleh istri. Justru dengan beristri malah mendapatkan tambahan PTKP kan? Yang kecil saja, tetapi kalau dulu 50% sekarang memang hanya 1 juta, ya dibanding yang dulu 15 juta.
Mestinya kalau mengikuti pola yang lama yang bertahun-tahun kita isi SPT-nya itu 50% ini, Pak ya. Nanti ya, ya mungkin nanti Menteri Keuangan yang menjelaskan, kenapa kok “Oh, kecil ya untuk punya istri ini.” Kalau untuk anak untuk menjadi tanggungan itu sebetulnya itu kebijakan lama, sudah ya saya sebagai wajib pajak sejak tahun lama itu ya sudah seperti itu. Ini terkait dengan..., memang sebelum pada Undang Undang Pajak Pendapatan yang dulu, yang sebelum diganti dengan Undang Undang Tahun 1983, itu tidak dibatasi tetapi setelah tahun Undang Undang Pajak Tahun 1983 memang Pajak Penghasilan Tahun 1983 Undang Undang Nomor 7 ya, Pak.
Kalau tidak salah, tahun 1983 rupanya diterapkan fungsi pajak yang mengatur, termasuk rupanya melalui Undang Undang Pajak juga mengatur supaya tidak banyak anaknya. Kan begitu kira-kira, termasuk istrinya, istrinya juga hanya satu, yang lebih dari satu tidak menambah PTKP-nya kan?
Nah, ini memang legal policy-nya. Karena pajak kan tidak semata-mata untuk memperbanyak kas Negara tetapi juga untuk pengaturan termasuk KB rupanya, Pak. Memang bagi yang punya anak banyak memang dianggap bukan…, kalau kami pegawai negeri kan, dianggap swasta kan begitu ? Bukan anaknya yang diakui negara oleh dengan melalui pajak itu.
Yang ke dua, memang subsidi pajak yang tadi dipersoalkan memang. Ini Bapak-Bapak yang mengajukan permohonan ini swasta atau pegawai negeri? Kalau pegawai negeri memang dapat bantuan atau tunjangan pajak yang nanti juga diambil dengan yang jumlah yang sama
in and out saja ini.
kita dapat, misalnya pajak kita 20 berapa juta, ya nanti dipotong lagi oleh..., memang di dalam form satu tidak ada, ada form tentang ini, tetapi di dalam SPT induk, saya kira ya Pak, ya? Ada itu, ya zakat itu, ada itu, setahu saya ada, karena saya setiap tahun musti mengisi ini. Ini sebentar lagi juga harus mengisi ini.
Cuma pengalaman kita memang hanya 2,5%. Memang orang bayar zakat kan 2,5% dari itu ya, minimum. Jadi kalau mau 5% - 10% itu lebih baik bagi kepentingan zakat ya? Tetapi bagi negara ya, rupanya yang diakui ya minimum saja, yang 2,5%. Jadi saya rasa, undang undangnya untuk berkaitan zakat tidak berubah. Menurut saya tidak berubah. Cuma yang berubah memang PTKP untuk yang punya istri.
Istri bekerja lebih disukai lagi karena PTKP-nya lebih tinggi lagi kan sama dengan itu. Jadi ini tren untuk kalau punya istri juga sebaiknya bekerja. Jadi tidak nganggur begitu?
63. HAKIM KONSTITUSI : H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.
Ketua, tanya dulu Pak, nanti dijawab sekaligus mungkin. Ahli nih
yang kita tanya, saya mau pendapat Ahli ya? Nanti dijawab, saya mohon. Kalau saya melihat undang undang yang lama Nomor 17 Tahun 2000 Pasal 9 ayat (1) Huruf G itu mengatakan begini, Pak. Supaya pengertiannya sama, “Untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan a, b, c, d, e, f, g, harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (3) Huruf A dan Huruf B kecuali zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan oleh wajib pajak, orang pribadi pemeluk agama Islam, dan atau wajib pajak Badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada Badan Amil Zakat atau Lembaga Amil Zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah.”
Artinya pengitungan itu dikecualikan terhadap zakat yang dibayarkan, kan begitu. Nah, sekarang di dalam Undang undang yang baru di Pasalnya sama, 36 Tahun 2008, Pasal 9 Huruf G, itu rata-rata hampir sama juga. Ayat (1) “Untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan a, b, c, d, e, f, g, harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan dari warisan sebagaimana yang dimaksud Pasal 4 ayat (3) ini sumbangan yang diberikan untuk bencana alam. Kemudian kecuali sumbangan yang sebagaimana yang dimaksud Pasal 6 ayat (1), maaf itu ya, ”sampai dengan huruf m serta zakat yang diterima oleh Badan Amil Zakat ya atau Lembaga Amil Zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama Islam yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh Lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan kepada peraturan pemerintah.”
Nah, ini pemerintah, PP-nya sudah ada belum Peraturan Pemerintah Undang Undang Nomor 22 Tahun 2008? Belum ya? Belum ada? Nah, kan ini ada perubahan ini? Pertanyaan saya kepada Ahli ini, kalau di Undang Undang Nomor 17 Tahun 2000, itu dikecualikan zakat atas penghasilan yang dibayarkan oleh wajib pajak. Kalau di dalam Undang Undang Nomor 36 Tahun 2008 ya, itu adalah zakat yang diterima oleh Badan Amil Zakat. Tetapi ketentuan ini harus diatur dengan Peraturan Pemerintah. Maka pemungutan, penghitungan, dan segala macam itu, seharusnya didasari dulu kepada Peraturan Pemerintah.
Nah, pertanyaannya adalah hak konstitusional yang dirugikan itu dengan beralihnya dari pembayar zakat kepada Badan Amil Zakat itu,
menurut Ahli itu, di mana ruginya? Bisa tidak diterangkan kepada Majelis? Itu pertanyaan saya. Terima kasih.
64. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Sudah terwakili, silakan Bapak, tadi kalau masih ada yang mau dijelaskan. Kalau tidak, langsung ke Ahli. Silakan.
65. AHLI DARI PEMOHON : Drs. TB MANSUR MA’MUN, MA.
Berangkat dari tadi pemahaman itu, kalau itu kan nyata-nyata yang dikenakan itu yang wajib zakat. Kalau yang Undang Undang Tahun 2008 itu kepada lembaga amil zakatnya. Itu satu bagi kita umat Islam menjadi bingung karena mungkin juga belum keluar PP-nya ya? Kalau yang undang undang yang sebelumnya, itu jelas. Jadi siapa yang bayar zakat kepada lembaga amil zakat yang disahkan itu, dia akan menjadi pengurang.
Nah, ini seperti apa begitu ini, ini lembaganya atau orangnya begitu. Saya bayar zakat ke Basnas. Apa Basnas-nya atau saya-nya yang bisa mengurangkan pajak saya. Dan usulan yang ke dua itu kan tadi mengenai sebagai pengurang pajak, bukan pengurangan penghasilan kena pajak, usulan kita, seperti di negara tetangga kita.
66. HAKIM KONSTITUSI : H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.
Pertanyaan saya luruskan, begini Pak, kalau di undang-undang yang lalu, itu kan jelas bahwa si wajib zakat itu dikurangi. Sekarang yang dikenakan itu kan badan amil zakatnya yang menerima sumbangan itu. Proses pengurangan itu seperti apa, terhadap badan itu?
Artinya bagaimana yang kena pengurangan wajib pajak itu akhirnya badan yang mengumpulkan zakat-zakat itu? Artinya secara total. Jadi dua prinsip yang menurut saya ini adalah yang satu kepada lembaganya, yang satu kepada person, merugikannya di mana itu? 67. AHLI DARI PEMOHON : Drs. TB. MANSUR MA’MUN, M.A.
Merugikannya begini, kalau yang undang-undang sebelumnya, itu lebih menguntungkan kepada wajib zakat. Yang sekarang ini, wajib zakat tidak dapat untung apa-apa. Yang untung mungkin lembaga amil zakatnya, itu seperti itu.
68. HAKIM KONSTITUSI : H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.
Dengan kata lain yang ingin saya katakan, itu kan berarti kena dua kali.
69. AHLI : Drs. TB. MANSUR MA’MUN, M.A. Kena dua kali.
70. HAKIM KONSTITUSI : H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.
Artinya zakat yang dibayarkan itu tidak dikenakan sebagai pengurangan penghasilan kena pajak.
71. AHLI DARI PEMOHON : Drs. TB. MANSUR MA’MUN, M.A. Betul Pak, betul.
72. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Ya sebentar. Saudara Ahli, apakah kalau begitu Saudara berpendapat bahwa sebenarnya masalahnya nanti bisa diatur di dalam PP seperti itu? Karena tadi katanya menunggu PP. Apakah itu program undang-undang atau sebenarnya kita menunggu PP-nya saja dulu? Menurut Saudara Ahli, bagaimana?
73. AHLI DARI PEMOHON : Drs. TB. MANSUR MA’MUN, M.A.
Ya, kata-kata seperti itu menjadi kita multitafsir. Kalau nanti PP-nya mengarah ke situ, ya tidak masalah.
74. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Artinya, undang-undangnya dianggap tidak bermasalah kalau PP-nya nanti mengatur seperti yang itu.
75. AHLI DARI PEMOHON : Drs. TB. MANSUR MA’MUN, M.A. Sementara mungkin begitu.
76. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H. Pak Alim, silakan.
77. HAKIM KONSTITUSI : Dr. MUHAMMAD ALIM, S.H., M.Hum.
Kepada Ahli, ketika masih memakai undang-undang yang lama, saya membuka rekening di Bank Muamalat Makasar. Ketika saya mengisi formulir untuk itu, saya ditanya, ”Bapak mau bayar zakat tidak?” ”Oh,
iya, saya mau bayar zakat, ini kewajiban saya sebagai ummat Islam. Lantas saya bilang, ”kenapa kalau bayar zakat?” Dia bilang begini Pak,
”Pajak penghasilan yang 15% itu mungkin dari bagi hasilnya itu loh, kalau di Bank lain kan bunga. Bagi hasil daripada yang diperoleh dari dalam Bank itu, itu katanya 15 persen kan dipotong menurut ketentuan pajak, 12,5 % disetor ke kas negara. Sedangkan 2,5% disetor ke BAZIS”, langsung dia begitu.
Mungkin saudara Ahli, pertanyaannya, kalau administrasi dari pada BAZIS itu bagus sehingga saya yang membayar zakat umpamanya 10.000 tercatat dengan baik sehingga kalau saya membayar pajak nanti bisa dikurangi itu, itu bagus. Tapi andai kata itu tidak, bagaimana menurut Saudara? Kan orang lain bisa membayar, saya juga membayar, tapi karena nama saya tidak tercantum misalnya, sehingga tidak bisa dipakai mengurangi penghasilan saya yang kena pajak begitu, itu pertanyaannya, persilakan.
78. AHLI DARI PEMOHON : Drs. TB. MANSUR MA’MUN, M.A.
Undang-undang yang sekarang itu memang dituntut lembaga amil zakat itu lebih profesional, terbuka, sehingga siapa pun yang melakukan pembayaran ke lembaga tersebut memang harus dilaporkan kepada lembaga pajak. Tapi kita juga ragu, itu bisa terjadi di Indonesia ini dengan waktu cepat. Makanya kita menginginkan kalimat yang tadi itu yang di undang-undang sebelumnya, itu kan jelas itu. Wajib zakat itu akan memproses sendiri pembayaran pajaknya zakat yang dikurangkan kepada penghasilan kena pajak.
Nah, kalau ini kan tidak si wajib zakatnya itu, tapi harus lembaga amil zakat. Saya masih ragu itu mengenai bisa online seperti itu, masih ragu di Indonesia, kecuali mungkin negara lain yang sudah menjalankan lebih awal. Tapi mudah-mudahan seperti itu, Pak Hakim.
79. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H. Baik, kalau begitu, masih? Silakan. 80. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Mungkin saya akan tambahkan tadi tentang itu. Jadi bukannya kami tidak yakin dengan Peraturan Pemerintah, tapi perlu ada dukungan lewat undang-undang, pasal di undang-undang. Karena implementasi tahun 2000 saja, itu SEJJ-nya tahun 2003, bisa berkurang. Dan SEJJ juga di sini tidak ada di SPT 1721 A1, tidak bisa, sehingga bendaharawan yang diwakili Pak Imam, ”tidak bisa pengurangan Pak, tidak ada di sininya.” Sehingga implementasinya itu lemah, sehingga saya harapkan tidak lewat Peraturan Pemerintah. Tapi kalau bisa Majelis Hakim putuskan lewat pasal undang-undang, nanti dikadalin saya, Pak. Itu saya kira, Pak.
81. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Baik, itu dicatat oleh Hakim dan oleh Panitera kami nanti akan menjadi bahan pertimbangan.
Baik, kalau begitu hari ini cukup. Kita akan ketemu lagi untuk perkara ini tanggal 26 Februari 2009 jam 10.00 WIB bersama Menteri Keuangan dan wakil dari DPR.
Dengan demikian, sidang hari ini dinyatakan selesai dan ditutup.
SIDANG DITUTUP PUKUL 11.00 WIB KETUK PALU 3X