• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan umum 2.1.1 Definisi lanjut usia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lansia menjadi 4 yaitu : usia pertengahan (middle age) adalah 45-59 tahun, lanjut usia (elderly) adalah 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) adalah 75-90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun. Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4), UU No.13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008).

Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa lansia adalah seseorang yang berusia 60 tahun ke atas baik pria maupun wanita, yang masih aktif beraktifitas dan bekerja ataupun mereka yang tidak berdaya untuk mencari nafkah sendiri sehingga bergantung kepada orang lain untuk menghidupi dirinya (Ineko, 2012).

2.1.2 Perubahan pada lanjut usia

Menua adalah proses alami yang terjadi dalam kehidupan manusia. Penuaan akan terjadi hampir pada semua sistem tubuh, namun tidak semua sistem tubuh mengalami kemunduran fungsi pada waktu yang sama (Nugroho, 2008). Perubahan-perubahan yang terjadi akibat proses penuaan adalah sebagai berikut: perubahan fisik antara lain ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan linu yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya pada kepala, leher dan dada bagian atas. Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa panas atau dingin, pening, kelelahan dan berdebar-debar. Selain itu terdapat perubahan yang umum dialami lansia, misalnya perubahan sistem imun yang cenderung menurun, perubahan sistem integumen yang menyebabkan kulit mudah rusak, perubahan elastisitas arteri pada sistem kardiovaskular yang dapat memperberat kerja jantung, penurunan

(2)

kemampuan metabolisme oleh hati dan ginjal serta penurunan kemampuan penglihatan dan pendengaran.

Penurunan fungsi fisik tersebut yang ditandai dengan ketidakmampuan lansia untuk beraktivitas atau melakukan kegiatan yang tergolong berat. Perubahan fisik yang cenderung mengalami penurunan tersebut akan menyebabkan berbagai gangguan secara fisik sehingga mempengaruhi kesehatan serta akan berdampak pada kualitas hidup lansia (Setyoadi, Noerhamdani dan Ermawati, 2011)

Perubahan mental, dalam bidang mental atau psikis pada lanjut usia, dapat berupa sikap yang semakin egosentrik, mudah curiga, bertambah pelit atau tamak jika memiliki sesuatu. Yang perlu dimengerti adalah sikap umum yang ditemukan pada hampir setiap lanjut usia, yaitu keinginan berumur panjang dengan sedapat mungkin tenaganya dihemat, mengharapkan tetap diberikan peranan dalam masyarakat, ingin tetap berwibawa dengan mempertahankan hak dan hartanya, ingin meninggal secara terhormat (Nugroho, 2008).

Perubahan psikososial yaitu nilai seseorang sering diukur melalui produktivitasnya dan identitasnya dengan peranan dalam pekerjaan. Ketika seseorang mengalami pensiun (purnatugas), maka yang dirasakan adalah pendapatan berkurang (kehilangan finansial); kehilangan status (dulu mempuyai jabatan/ posisi yang cukup tinggi, lengkap dengan semua fasilitas); kehilangan relasi; kehilangan kegiatan, akibatya timbul kesepian akibat pengasingan dari lingkungan sosial serta perubahan cara hidup (Nugroho, 2008). Hal tersebut sejalan dengan yang di ungkapkan oleh Netuveli, et al (2006), yaitu penghasilan berbanding lurus dengan status kesehatan seseorang, artinya orang dengan kesejahteraan baik mempunyai status kesehatan yang baik juga. Kesimpulannya adalah strata sosial merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia.

Perubahan spiritual pada lansia ditandai dengan semakin matangnya lansia dalam kehidupan keagamaan. Agama dan kepercayaan terintegrasi dalam kehidupan dan terlihat dalam pola berfikir dan bertindak sehari-hari. Perkembangan spiritual yang matang akan membantu lansia untuk menghadapi kenyataan, berperan aktif dalam kehidupan, maupun

(3)

merumuskan arti dan tujuan keberadaannya dalam kehidupan (Setyoadi, Noerhamdani dan Ermawati, 2011).

2.1.3 Masalah-masalah pada lanjut usia

Mudah jatuh merupakan masalah yang sering terjadi pada lansia. Penyebabnya multi-faktor. Banyak yang berperan di dalamnya, baik faktor intrinsik misalnya gangguan gaya berjalan, kelemahan otot ektremitas bawah, kekakuan sendi dan pusing. Untuk faktor ekstrinsik, misalnya lantai yang licin, tersandung benda, penglihatan yang kurang karena cahaya yang kurang terang dan sebagainya (Nugroho, 2008).

Gangguan pendengaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang umum dijumpai pada lansia. Hilangnya pendengaran dapat menyebabkan terjadinya isolasi, depresi dan menarik diri dari aktivitas hidup. Gangguan pendengaran individu meliputi tuli, kehilangan pendengaran berat ataupun kehilangan pendengaran parsial yang semuanya dapat menyebabkan sulitnya berkomunikasi, walaupun beberapa fungsi pendengaran masih baik. Beberapa orang dengan gangguan pendengaran dapat mengalami keterbatasan dalam kebebasannya dan menderita penurunan kualitas hidup (Ciorba et al, 2012).

Sering ngompol yang tanpa disadari (inkontinensia urin) merupakan salah satu keluhan utama pada orang lanjut usia. Inkontinensia urin dapat terjadi karena adanya faktor pencetus yang mengiringi perubahan pada organ kemih akibat proses penuaan (Nugroho, 2008).

2.2. Tinjauan khusus 2.2.1 Definisi panti jompo

Pengertian panti Jompo menurut Departemen Sosial RI adalah suatu tempat untuk menampung lansia dan jompo terlantar dengan memberikan pelayanan sehingga mereka merasa aman, tentram dengan tiada perasaan gelisah maupun khawatir dalam menghadapi usia tua (Setiyaningsih, 1999). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan panti jompo sebagai rumah tempat memelihara dan merawat lansia. Secara umum, Panti jompo mempunyai fungsi sebagai berikut:

1. Pusat pelayanan kesejahteraan lanjut usia (dalam memenuhi kebutuhan pokok lansia)

(4)

2. Menyediakan suatu wadah berupa kompleks bangunan dan memberikan kesempatan pula bagi lansia melakukan aktivitas-aktivitas sosial-rekreasi (Herwijayanti, Mediana, 1997)

3. Bertujuan membuat lansia dapat menjalani proses penuaanya dengan sehat dan mandiri.

Sesuai dengan permasalahan lansia, pada umumnya penyelenggaraan panti jompo mempunya tujuan antara lain (Dep Sosial RI, 1997) :

1. Agar terpenuhi kebutuhan hidup lansia

2. Agar dihari tuanya dalam keadaan tentram lahir dan batin 3. Dapat menjalani proses penuaannya dengan sehat dan mandiri

Bagi para lansia sendiri, mereka memiliki alasan masing-masing mengapa mereka lebih memilih tinggal di panti jompo, antara lain (Harian INDO POS online, kamis 29 Mei 2008) :

1. Tidak ingin merepotkan anak

2. Sudah seharusnya mereka tinggal di sana karena ketika anak sudah berkeluarga, orang tua harus jauh dari anak (tidak lagi terlibat dalam masalah rumah tangga anak)

3. Tidak ingin anak menjadi manja dan ingin meringankan beban anak 4. Namun ada juga yang merasa ini adalah pilihan yang tidak memiliki

alternatif lain ( terpaksa karena kondisi dan keadaan yang memang tidak memungkinkan mereka untuk tetap tinggal di rumah anak) 5. Mendapatkan perhatian yang penuh dan maksimal dari para

kelayan

2.2.2 Tipe-tipe panti jompo

Independent Elderly Housing (Rumah Orang Tua yang Mandiri). Rumah konvensional untuk lansia yang bersifat mandiri sepenuhnya. umumnya bangunannya seperti rumah tinggal dan ditempati oleh beberapa lansia yang masih mandiri dengan fasilitas selayaknya rumah tinggal.

(5)

Gambar 2.1 Contoh rumah tinggal lansia mandiri dan penghuninya Sumber : http://bend-oregon.olx.com/(diakses,5 April 2014)

Independent Elderly / Family Mixed Housing (Rumah Campuran Keluarga Orang Tua Mandiri). Fasilitas harus disediakan untuk orang-orang tua yang mandiri dan digabungkan dengan tipe rumah konvensional.

Dependent Elderly Housing (Rumah Orang Tua yang Bergantungan). Orang tua disini hidupnya masih tergantung pada fasilitas pendukung dan bentuk bangunan ini seperti bangunan rumah sakit.

Gambar 2.2 Contoh rumah tinggal orang tua bergantungan dan fasilitasnya sumber : http://www.ecag.com/healthcare.html. (diakses,5 April 2014)

Independent / Dependent Elderly Mixed Housing (Rumah yang tediri dari Campuran Orang Tua Mandiri dan Bergantungan). Fasilitas untuk lansia yang bergantungan dan lansia yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri (mandiri). Pada umumnya bangunan ini berbentuk seperti rumah tinggal dengan fasilitas pendukung yang memadai.

Gambar 2.3 Rumah tinggal bergantungan dan tidak bergantungan

sumber : http://www.garymeyersrealty.com/Senior_20_Housing.html/(diakses,5 April 2014)

(6)

Tipe-tipe panti jompo berdasarkan fasilitas yang tersedia, antara lain: 1. Skilled nursing facilities (Fasilitas perawatan terampil)

Pelayanan perawatan selama 24 jam. Biasanya lansia berasal dari rumah sakit yang kondisinya serius dan membutuhkan terapi rehabilitasi khusus.

2. Intermediate care facilities (Fasilitas perawatan lanjutan)

Pelayanan perawatan professional tetapi tidak 24 jam, beberapa terapi medis disediakan tetapi difokuskan pada program-program sosial. Pelayanan ini disediakan untuk orang yang membutuhkan lebih dari sekedar kamar dan makanan atau perawatan oleh perawat.

3. Residential care facilities (Fasilitas Perawatan Rumah)

Pelayanan perawatan yang menawarkan kamar dan makanan serta beberapa perawatan perseorangan seperti membantu memandikan dan berpakaian serta pelayanan-pelayanan sosial.

2.2.3 Prinsip-prinsip perancangan panti jompo

Dalam artikel pynos dan reginer tertulis tentang 12 macam prinsip yang diterapkan pada lingkungan dalam fasilitas lansia untuk membantu dalam kegiatan-kegiatan lansia. Dua belas prinsip ini dikelompokkan dalam aspek fisiologis dan psikologis (Regnier, Victore, AIA, Assisted Living Housing for The Elderly, 1994), yaitu sebagai berikut:

1. Aspek fisiologis

Keselamatan dan keamanan, yaitu penyediaan lingkungan yang memastikan setiap penggunanya tidak mengalami bahaya yang tidak diinginkan. Lansia memiliki permasalahan fisik dan panca indera seperti gangguan penglihatan, kesulitan mengatur keseimbangan, kekuatan kaki berkurang, dan radang persendian yang dapat mengakibatkan lansia lebih mudah jatuh atau cedera. Penurunan kadar kalsium di tulang, seiring dengan proses penuaan, juga dapat meningkatkan resiko lansia mengalami patah tulang. Permasalahan fisik ini menyebabkan tingginya kejadian kecelakaan pada lansia.

Signage/orientation/wayfindings, keberadaan penunjuk arah

(7)

memudahkan menemukan fasilitas yang tersedia. Perasaan tersesat merupakan hal yang menakutkan dan membingungkan bagi lansia yang lebih lanjut dapat mengurangi kepercayaan dan penghargaan diri lansia. Lansia yang mengalami kehilangan memori (pikun) lebih mudah mengalami kehilangan arah pada gedung dengan rancangan ruangan-ruangan yang serupa (rancangan yang homogen) dan tidak memiliki petunjuk arah.

Gambar 2.4 Contoh petunjuk arah pada panti jompo Sumber : www.google.com (diakses,5 April 2014)

Aksebilitas dan fungsi, Tata letak dan aksebilitas merupakan syarat mendasar untuk lingkungan yang fungsional. Aksebilitas adalah kemudahan untuk memperoleh dan menggunakan sarana, prasarana dan fasilitas bagi lanjut usia untuk memperlancar mobilitas lanjut usia.

Gambar 2.5 Contoh pegangan di Panti Jompo sebagai alat pendukung Sumber : http://putyourfaithinaction.org/people/family_servic. (diakses,5 April

(8)

Gambar 2.6 Contoh detail ramp

Sumber : Site Planning and Design for The Elderly

Gambar 2.7 Contoh detail tangga untuk lansia Sumber : Site Planning and Design for The Elderly

Gambar 2.8 Contoh kebutuhan ruang untuk kurasi roda Sumber : Site Planning and Design for The Elderly

Adaptabilitas, yaitu kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Lingkungan harus dirancang sesuai dengan pemakainya, termasuk yang menggunakan kursi roda maupun tongkat penyangga. Kamar mandi dan dapur

(9)

merupakan ruangan dimana aktivitas banyak dilakukan dan keamanan harus menjadi pertimbangan utama.

2. Aspek fisiologis

Privasi, yaitu kesempatan bagi lansia untuk mendapat ruang/tempat mengasingkan diri dari orang lain atau pengamatan orang lain sehingga bebas dari gangguan yang tak dikenal. Auditory privacy merupakan poin penting yang harus diperhatikan.

Interaksi sosial, yaitu kesempatan untuk melakukan interaksi dan bertukar pikiran dengan lingkungan sekeliling (sosial). Salah satu alasan penting untuk melakukan pengelompokkan berdasarkan umur lansia di panti jompo adalah untuk mendorong adanya pertukaran informasi, aktivitas rekreasi, berdiskusi, dan meningkatkan pertemanan. Interaksi sosial mengurangi terjadinya depresi pada lansia dengan memberikan lansia kesempatan untuk berbagi masalah, pengalaman hidup dan kehidupan sehari-hari mereka.

Gambar 2.9 Interaksi antara sesama lansia

Sumber : http://www.villagecooperative.com/about-us/.(diakses,5 April 2014)

Kemandirian, yaitu kesempatan yang diberikan untuk melakukan aktivitasnya sendiri tanpa atau sedikit bantuan dari tenaga kerja panti wredha. Kemandirian dapat menimbulkan kepuasaan tersendiri pada lansia karena lansia dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang dilakukannya sehari-hari tanpa bergantung dengan orang lain.

(10)

Dorongan/tantangan, yaitu memberi lingkungan yang merangsang rasa aman tetapi menantang. Lingkungan yang mendorong lansia untuk beraktifitas didapat dari warna, keanekaragaman ruang, pola-pola visual dan kontras.

Aspek panca indera, kemunduran fisik dalam hal penglihatan, pendengaran, penciuman yang haru diperhitungkan di dalam lingkungan. Indera penciuman, peraba, penglihatan, pendengaran, dan perasaan mengalami kemunduran sejalan dengan bertambah tuanya seseorang. Rangsangan indra menyangkut aroma dari dapur atau taman, warna dan penataan dan tekstur dari beberapa bahan. Rancangan dengan memperhatikan stimulus panca indera dapat digunakan untuk membuat rancangan yang lebih merangsang atau menarik.

Ketidak-asingan/keakraban, lingkungan yang aman dan nyaman secara tidak langsung dapat memberikan perasaan akrab pada lansia terhadap lingkungannya. Tinggal dalam lingkungan rumah yang baru adalah pengalaman yang membingungkan untuk sebagian lansia. Menciptakan keakraban dengan para lansia melalui lingkungan baru dapat mengurangi kebinggungan karena perubahan yang ada.

Estetik/penampilan, yaitu suatu rancangan lingkungan yang tampak menarik. Keseluruhan dari penampilan lingkungan mengirimkan suatu pesan simbolik atau persepsi tertentu kepada pengunjung, teman, dan keluarga tentang kehidupan dan kondisi lansia sehari-hari.

Personalisasi, yaitu menciptakan kesempatan untuk menciptakan lingkungan yang pribadi dan menandainya sebagai “milik” seorang individu. Tempat tinggal lansia harus dapat memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengungkapkan ekspresi diri sendiri dan pribadi.

(11)

Salah satu bentuk penyesuaian kebutuhan-kebutuhan dasar ini dalam desain, diungkapkan oleh Neufert, dalam bukunya Data Arsitek, beliau mengemukakan keinginan-keinginan para lansia dikaitkan dengan desain, yaitu: (Ernst Neufert, Data Arsitek, jilid 1 ed2.)

1. Pandangan dari ruang duduk dengan 1 jendela rendah, dapat melihat keluar sambil duduk.

2. Perlu disediakan "ruang luar yang dipergunakan sendiri", seperti tempat-tempat di luar ruang untuk duduk atau untuk tempat kontak dengan penghuni lainnya (berada, kebun).

3. Dekat dengan pertokoan.

4. Hunian diusahakan seperti rumah sendiri (suasana tidak resmi). 5. Lingkungan di luar ruang dilengkapi dengan jalan setapak untuk

berjalan-jalan santai.

6. Disediakan tempat-tempat istirahat yang teratur sepanjang jalan tersebut.

7. Dilengkapi dengan sistem keamanan dan tanda bahaya kebakaran. 8. Ruang dapur dengan meja dapur yang rendah.

9. Ruang tidur sebaiknya disediakan terpisah.

10.Ruang makan dapat di kamar masing-masing atau disediakan ruang makan bersama.

Juga perlu diperhatikan beberapa persyaratan khusus yang perlu di pertimbangkan ketika merancang, seperti:

1. Persyaratan dimensia ruang yang dikaitkan dengan perubahan ukuran anatomi tubuh lansia

2. Persyaratan dalam pengerjaan detail, seperti handrail, warna dan tekstur, jenis material dan lain-lain.

3. Persyaratan jarak dan ketinggian yang masih dapat diterima oleh lansia

2.2.4 Resiko yang mungkin terjadi di panti jompo

Merancang tata ruang luar yang baik merupakan hal yang vital dalam merancang panti jompo karena hal tersebut berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan penghuni di panti jompo. Bila mendesain panti jompo dengan

(12)

teliti dan penuh pertimbangan maka dapat mengurangi resiko jatuh dan kecelakaan lainnya yang mengakibatkan cedera pada lansia (Hunter, K and Elkington, J. Design Guidelines for Aged Care Facilities, 2005).

Dampak akibat jatuh dapat menimbulkan berbagai efek negatif pada lansia, dampakdampak tersebut adalah sebagai berikut:

1. Cedera, dapat berupa cedera parah sampai cedera yang dapat mengakibatkan kematian.

2. Kerugian finansial.

3. Kehilangan kepercayaan diri, menurunkan keaktifan, ketidakmandirian dan penurunan kualitas hidup.

4. Stres dan kecemasan pada diri lansia.

Gambar 2.10 Lansia Jatuh (kiri, tengah) dan Cedera yang Dapat Timbul Akibat Jatuh (kanan)

Sumber : http://www.ecrc-pt.com/?sec=news&id=93. (diakses,5 April 2014) Faktor resiko jatuh disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor intrinsik (berhubungan dengan lansianya) dan faktor ekstrinsik (berhubungan dengan lingkungan dan faktor eksternal lainnya). Jatuh adalah masalah yang harus diwaspadai di panti wredha. Menurut hasil penelitian National Ageing Research Institute (NARI, 2004), resiko terjadi jatuh pada lansia di panti jompo sekitar 30-50%. Butler University (1996) melaporkan 1 dari 25 lansia di panti jompo mengalami tulang retak setiap tahunya. Mayoritas panti jompo di Australia mengakui bahwa kejadian jatuh sering kali terjadi pada lansia. Kebanyakan hal ini di sebabkan oleh pencahayaan yang buruk dan lantai yang licin atau basah atau rusak. Kejadian jatuh pada lansia sering kali terjadi di kamar lansia, toilet dan koridor.

Cedera akibat kecelakaan (jatuh) dapat mengakibatkan gangguan fisik dan indera perasa ataupun mengakibatkan kematian pada lansia. Bagi lansia yang mengalami berbagai gangguan fisik, cedera mungkin tidak dapat disembuhkan secara sempurna.

(13)

Di beberapa negara asing, perubahan demografi telah membentuk tradisi keluarga multigenerasi, para lansia hidup sendiri dan menggunakan jasa informal untuk mendukung kehidupan mereka serta mengandalkan pelayanan kesehatan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan pokok para lansia. Lingkungan memiliki dampak yang besar terhadap kualitas hidup dimana paling dibutuhkan oleh para lansia . Jika lingkungan dapat di rancang dengan baik maka dapat meningkatkan kemandirian, harga diri, kesehatan serta kepuasan hidup para lansia. Jika tidak direncanakan demgan rinci maka dapat menyebabkan stress pada lansia (Perkins Bradford, Hoglund David, King Douglas dan Cohen Eric, Building Type Basic For Senior Living, 2004).

2.2.5 Prinsip aksesibilitas desain untuk lansia

Ada beberapa hal yang harus di perhatikan para perancang terhadap aksesibilitas lansia (Perkins Bradford, King Houglas & Cohen eric, Building Type Basic For Senior Living, 2004), sebagai berikut :

1. Memperpanjang jam operasi pada pintu lift, pintu masuk automatis 2. Menghindari penguncian diri dari ruangan

3. Menyediakan alat penerangan dengan dilengkapi dengan lampu peringatan

4. Mengatur temperatur ruangan yang bersifat fleksible

5. menghindari tanjakan, permukaan yang licin yang mengakibatkan ketidakseimbangan lansia

6. menyediakan furniture yang sesuai dengan standar lansia 7. menyediakan kamar mandi/Wc yang mudah di capai oleh lansia 8. menyediakan tempat makan yang di lengkapi dengan jendela 9. meminimalkan walking-distance para lansia

Penuaan pada seseorang sangat berpengaruh terhadap kelima indra manusia, terutama pada indra penglihatan dan pendengaran. Berikut merupakan beberapa masalah indra yang terjadi pada penglihatan lansia (Perkins Bradford, King Houglas & Cohen eric, Building Type Basic For Senior Living, 2004),:

(14)

1. Penglihatan pada lansia memerlukan waktu yang lebih lama untuk memfokuskan objek dekat maupun objek yang jauh

2. Cahaya yang terlalu silau dapat mengakibatkan buta sesaat pada lansia 3. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan kebutaan

pada lansia.

Adapun arahan desain untuk seorang perancang dalam memeperhatikan keterbatasan penglihatan dan pendengaran pada lansia :

1. menyediakan informasi yang dapat di ketahui lebih dari satu indra seperti indra penglihatan dan indra pendengaran

2. menghindari permukaan yang dapat menghasilkan reflect dari sinar matahari yang menyebabkan silau

(15)

2 .3 . S tu d i b a n d in g p a n ti j o m p o J a k a rt a T a b el 2 .1 S tu d i b an d in g p an ti j o m p o J ak ar ta

(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)

2.4. Studi literatur

2.4.1 Residencias Assistidas

Gambar 2.11 Panti Jompo Assistidas di Portugal.

sumber : http://dekdun.wordpress.com/2011/05/28/elderly-house. (diakses 16 Maret 2014)

Name : Residencias Assistidas Lokasi : Alcácer do Sal (Portugal) Tahun proyek : 2006-2007

Tahun konstruksi : 2008-2010

Authors : Francisco Aires Mateus, Manuel Aires Mateus

Client :Santa Casa da Misericordia de Alcácer do Sal

Kontraktor : Ramos Catarino, Sal Arsitektur lanskap : ABAP Luis Alçada Batista Luas Bangunan : 3640 m2

Gambar 2.12 Prespektif panti jompo Assistidas di Portugal Sumber : http://dekdun.wordpress.com/2011/05/28/elderly-house/(diakses

(27)

Rancangan panti jompo menawarkan fasilitas seperti hotel dan rumah sakit, jadi penghuni mendapatkan pelayanan yang sebaik-baiknya seumpama di hotel dan juga penghuni mendapatkan perawatan yang di perlukan seperti di rumah sakit, sehingga para penghuni tetap merasa nyaman dan tidak merasa tertekan dengan keadaannya, dan mereka tidak merasa tidak dihargai dengan keterbatasannya.

Gambar 2.13 Site plan panti jompo Assistidas di Portugal

Sumber : http://dekdun.wordpress.com/2011/05/28/elderly-house/. (diakses 16 Maret 2014)

Gambar 2.14 Perspektif panti jompo Assistidas di Portugal

Sumber : http://dekdun.wordpress.com/2011/05/28/elderly-house/. (diakses 16 Maret 2014)

(28)

Bentuk bangunan menyesuaikan dengan kontur tanah yang ada, sehingga ini menjadi tertarik terhadap bangunan ini. Pengguna bisa menuju/naik ke atap bangunan tanpa harus melalui tangga melainkan bisa naik melalui ujung bangunan seperti gambar diatas, jika di lihat dari denah sekilas bangunan ini tampak seperti ular yang memiliki ekor dan kepala, ekornya yang seperti tampak pada gambar diatas.

Gambar 2.15 Perencanaan fasad bangunan

Sumber : http://dekdun.wordpress.com/2011/05/28/elderly-house/. (diakses 16 Maret 2014)

Hal lain yang menarik dari bangunan ini adalah desain bangunannya yang berbentuk push and pull pada bagian yang push menjadi koridor sementara yang pull menjadi bagian-bagian ruang kamar, manfaat lainnya dari bentuk push and pull ini adalah bangunan dapat memanfaatkan udara dan pencahayaan alami bangunan dengan baik. Adanaya bentuk push and pull ini didasari oleh konsep bentuk papan catur.

(29)

Gambar 2.16 Interior kamar tidur dan koridor

Sumber : http://dekdun.wordpress.com/2011/05/28/elderly-house/. (diakses 16 Maret 2014)

Warna putih terlihat dominan pada tampang, dan kontras dengan lingkungan sekitar. Massa bangunan terdiri dari massa-massa yang lebih kecil, saling bersambung dan disusun secara tak beraturan dalam tatanan yangg linear.

Gambar 2.17 Penerangan indirect

Sumber : http://dekdun.wordpress.com/2011/05/28/elderly-house/. (diakses 16 Maret 2014)

Pencahayaan mengoptimalisasikan cahaya alami melalui konsep push and pull, cahaya yang masuk merupakan pencahayaan alami. Disamping itu juga terdapat penerangan buatan yang berupa penerangan indirect, yang tersembunyi di sudut antara plafon dan dinding.

(30)

Gambar 2.18 Interior bangunan

Sumber : http://dekdun.wordpress.com/2011/05/28/elderly-house/. (diakses 16 Maret 2014)

Interior bangunan didominasi dengan warna putih, baik lantai, dinding dan plafon terlihat agak mengkilap. Elemen bagunan banyak di dominasi oleh material beton, aluminium, dan kaca. Meskipun ruangan ini didominasi oleh warna putih yang monokrom akan tetapi tetap menarik jika di pandang.

(31)

2.4.2 Armstrong Place Senior Housing

Gambar 2.19 Perspektif Townhomes sumber : www.archdaily.com,(diakses,10 April 2014)

Arstiek : David Baker & Partners

Location : San Fransisco, California, USA Client : BRIDGE Housing

Kontraktor : Nibbi Brother General Contractors Tahun Proyek : 2011

Luas Area Proyek : 131,800 m2

Pembangunan kompleks lansia ini berada di bekas kawasan industri, dengan campuran perumahan yang inovatif, konsep townhomes yang diterapkan pada perumahan lansia ini untuk menghindari para lansia terisolasi dengan kehidupan sendiri.

Gambar 2.20 Ruang terbuka

(32)

Terdapat sebuah open space di tengah-tengah hunian yang besar berupa ruang sosialisasi atau focal point bagi penghuni townhome, dimana ruang terbuka tersebut dilengkapi dengan taman, tempat duduk dan jalan setapak dengan landscape menarik dan semua balkon penghuni berorientasi kepada ruang terbuka tersebut dan saling berhadapan sehingga dapat menciptakan kebersamaan antar penghuni

Gambar 2.21 Fasad bangunan

sumber : www.archdaily.com,(diakses,10 April 2014)

Beberapa ruangan pada hunian di pull, pada bagian yang di pull sengaja menggunaka material yang contrast sehingga bentuk bangunan tidak monoton dan lebih menarik secara estetik,

Gambar 2.22 Jalan setapak

(33)

Pedestrian di desain 2 jenis, ada yang tegak lurus dan ada yang berbelok-belok bertujuan supaya orang yang berjalan di sekitar tapak tidak merasa bosan.

Gambar 2.23 Potongan bangunan

sumber : www.archdaily.com,(diakses,10 April 2014)

Dari 124 townhomes, 64 unit merupakan unit dengan 3 dan 4 kamar tidur supaya mereka dapat hidup secara berkeluarga. Beberapa elemen di rancang untuk kebutuhan akses kursi roda, seperti lebar tangga, lift dan pedestrian

2.4.3 Kesimpulan studi banding

Tabel 2.2 Perbandingan studi literatur

Elemen Residencias Assistidas Armstrong Place Senior Housing

FASAD

Menggunakan konsep push and pull sebagai sebagai konsep menciptakan pencahayaan dan penghawaan alami

Sebagian fasad bangunan menggunakan konsep push and pull agar kelihatan menarik dan tidak monoton, selain itu, bagian yang di pull dapat mendapatkan

(34)

Elemen Residencias Assistidas Armstrong Place Senior Housing

OPEN SPACE

Open space cukup luas, namun bentuk open space tidak menciptakan

focal point. Pada open space ini

terlihat gersang karena kurangnya penghijauan di tapak.

Open space di rancang dengan menarik dan terdapat taman berupa focal point yang merupakan titik pertemuan untuk

bersosialisasi antar penghuni

SITE

Bentuk tapak menggunakan linear bertekuk dan berbentuk seperti ular.

Bentuk bangunan menyesuaikan kontur tanah yang ada.

Bentuk tapak memusat di tengah, dimana merupakan tempat pertemuan

antar penghuni. bentuk tersebut memiliki nilai sosialisasi yang baik.

PEDESTRIAN

Jalan setapak berdasarkan kontur tanah yang ada, dimana pengguna dapat jalan ke atas atap melalui jalan

tapak tersebut.

Jalan setapak bervariasi, ada yang bentuk linear ada yang berbelok-belok agar pengguna tidak merasakan bosan

(35)

Elemen Residencias Assistidas Armstrong Place Senior Housing

HUNIAN

Tipe hunian berbentuk hotel/ studio

Tipe hunian berbentuk housing, dimana dalam satu unit terdapat beberapa kamar tidur

Berdasarkan dari kedua studi literatur yang dilakukan terhadap beberapa panti jompo di luar negeri, maka dapat disimpulkan bahwa:

Konsep push and pull dapat menjadi bagian desain untuk bisa mendapatkan udara dan pencahayaan alami dengan baik, selain itu, dengan permainan konsep push and pull juga dapat menciptakan estetika bangunan yang lebih menarik

Dengan menyediakan ramp bagi pengguna untuk menuju ke atap bangunan merupakan suatu desain yang menarik, namun tidak efektif karena di perlukan lahan yang sangat besar

Perlu adanya focal point atau ruang terbuka yang di desain semenarik mungkin yang menjadi ruang komunal bagi penghuni

• Tipe bentuk hunian studio lebih cocok untuk panti jompo untuk menghindari kesenjangan prilaku antara penghuni dalam kamar

(36)

Gambar

Gambar 2.1 Contoh rumah tinggal lansia mandiri dan penghuninya  Sumber : http://bend-oregon.olx.com/(diakses,5 April 2014)
Gambar 2.4 Contoh petunjuk arah pada panti jompo  Sumber : www.google.com (diakses,5 April 2014)
Gambar 2.7 Contoh detail tangga untuk lansia  Sumber : Site Planning and Design for The Elderly
Gambar 2.9 Interaksi antara sesama lansia
+7

Referensi

Dokumen terkait

(proposed adjustment) Pemantauan data pemilih luar negeri adalah memastikan bahwa semua warga negara Indonesia yang di luar negeri mempunyai hak pilih untuk dapat

Mengetahui aktivitas / upaya / langkah / cara-cara / usaha apa saja yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi profesional guru baik kompetensi

Pada penelitian Arief (2013) telah dilakukan perhitungan untuk jarak dari bottom bracket hingga headset ) dan jarak dari headset hingga pangkal rear fork ). Perhitungan tersebut

Faktor2 antimikroba yang bekerja tidak khas yang membantau imunitas alamiah : 1.. iinterferon

Gambar 10 adalah perbandingan persentase degradasi dengan menggunakan metode fotokatalisis dan fotoelektrokatalisis pada waktu 4 jam dengan penyinaran sinar tungsten, hasil

Nilai-nilai sosial pada 15 buah KKBL berdasarkan jenis-jenis nilai sosial menurut Notonegoro yaitu: (1) nilai material: tidak ada; (2) nilai vital: trang-trang

Pendapat terakhir dari makalah singkat tentang bahasa ini diutarakan oleh Soejono (1983:01), bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam