4.1 Perencanaan Produk
Perencanaan produk sering disebut sebagai zerofase karena mendahului persetujuan proyek dan proses peluncuran pengembangan produk aktual. Dengan adanya perencanaan produk, tim pengembangan produk akan mengerti ke mana arah proses pengembangan yang harus dilakukan. Perencanaan produk akan meliputi hal-hal yang dapat dijadikan dasar dalam mengembangkan produk alat bantu penerangan, seperti analisa produk alat bantu penerangan yang sudah ada sekarang dan mengidentifikasi peluang, dimana hasil dari perencanaan produk adalah suatu pernyataan misi.
4.1.1 Analisa produk alat bantu penerangan yang sudah ada sekarang
Analisa produk alat bantu penerangan dilakukan terhadap lilin, senter, dan
emergency lamp dengan memperhatikan beberapa kriteria, yaitu harga, tingkat
A. Lilin konvensional
Gambar 4.1 Gambar Lilin Konvensional Deskripsi produk : Lilin jumbo Merk Kingkong
Dimensi : Diameter 1,2 cm Tinggi 18 cm
Lama Penggunaan : 2-3 jam perbatang, tergantung kondisi pemakaian Harga : Rp. 400 – Rp. 500 perbatang
Analisa : Produk lilin adalah alat bantu penerangan paling umum digunakan. Hal ini disebabkan karena harganya yang relatif lebih murah. Kelemahan lilin yaitu tidak efektif apabila digunakan di luar ruangan dan dapat menyebabkan terjadinya kebakaran.
B. Senter
Gambar 4.2 Gambar Senter Deskripsi produk : Senter merk National
Dimensi : Diameter bawah 4 cm Diameter atas 5 cm Tinggi 18 cm
Lama Penggunaan : 1-2 jam, tergantung batere yang digunakan Rechargeable : Ya, jika menggunakan rechargeable battery Sumber Tenaga : Sumber DC (Batere)
Harga : Rp. 7.500 – Rp. 10.000 (belum termasuk batere)
Analisa : Senter merupakan alternatif terbaik pengganti lilin. Selain harganya yang tidak terlalu mahal, senter juga sangat praktis dan mudah dibawa-bawa. Namun sifat senter yang cahayanya terfokus pada satu arah menyebabkan penerangan yang dihasilkan senter menjadi terbatas.
C. Emergency Lamp
Gambar 4.3 Gambar Emergency Lamp Deskripsi produk : Emergency lamp merek Kagoshima Dimensi : Panjang 25 cm
Lebar 8 cm Tinggi 23 cm Lama Penggunaan : 4 jam.
Rechargeable : Ya, full charge selama 24 jam
Sumber Tenaga : Sumber AC yang ditransformasikan ke arus DC Harga : Rp. 100.000 – Rp. 500.000
Analisa : Emergency lamp memberikan terang yang baik pada saat digunakan pada saat mati lampu, walaupun intensitasnya akan berkurang sejalan dengan waktu penggunaan. Langsung menyala otomatis pada saat mati lampu adalah kelebihannya. Namun harga yang cukup mahal membuat hanya sebagian orang yang tertarik membelinya.
Dari hasil analisa dan perbandingan, diketahui bahwa setiap alat bantu penerangan memiliki kelebihan dan kekurangan. Pengembangan produk alat penerangan baru diharapkan dapat mengkombinasikan kelebihan-kelebihan tersebut diatas.
4.1.2 Identifikasi Peluang
Identifikasi peluang dilakukan dengan melakukan pengumpulan data dengan metode wawancara. Adapun metode wawancara dipilih dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
- Jumlah pertanyaan yang tidak banyak.
- Didapatkan jawaban yang spontan dan jujur dari responden. - Dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja.
Wawancara dilakukan terhadap 100 orang responden. Pemilihan 100 orang responden dilakukan secara acak. Jumlah 100 orang ini tidak mengikuti perhitungan ilmiah mengingat hasil wawancara ini hanya untuk memperkuat dasar pengembangan produk yang akan dilakukan. Adapun butir-butir pertanyaan yang diajukan pada saat wawancara adalah sebagai berikut :
1. Alat bantu penerangan apa yang anda miliki di rumah (boleh lebih dari 1)? 2. Alat bantu penerangan apa yang paling utama anda gunakan pada saat
mati lampu?
3. Apakah anda tahu dan khawatir bahwa penggunaan lilin pada saat mati lampu mempunyai resiko terhadap kebakaran?
4. Apa saja kelebihan dan kekurangan dari : • Lilin
• Senter
• Emergency lamp
Dari hasil wawancara tersebut, didapatkan hasil-hasil sebagai berikut : Tabel 4.1 Hasil Wawancara Pertanyaan ke 1 1. Alat bantu penerangan yang dimiliki di rumah
Nama alat Jumlah
Lilin 100 Senter 98 Emergency lamp 12
Diketahui bahwa semua responden memiliki lilin di rumahnya, dimana 98 responden diantaranya juga memiliki senter dan 12 responden juga memiliki
emergency lamp. Hal ini menunjukkan bahwa tiap responden juga membutuhkan alat
Tabel 4.2 Hasil Wawancara Pertanyaan ke 2 2. Alat bantu penerangan yang paling utama
digunakan pada saat mati lampu
Nama alat Jumlah Persentase
Lilin 91 91%
Emergency lamp 8 8%
Senter 1 1%
Didapatkan bahwa sebagian besar responden lebih cenderung menggunakan lilin pada saat mati lampu. Senter biasanya digunakan pada saat mati lampu hanya untuk mencari lilin.
Tabel 4.3 Hasil Wawancara Pertanyaan ke 3 3. Apakah anda tahu dan khawatir bahwa
penggunaan lilin pada saat mati lampu mempunyai resiko terhadap kebakaran?
Jawaban Jumlah Persentase Ya 100 100%
Dari data diatas, ternyata seluruh responden tahu dan khawatir bahwa penggunaan lilin pada saat mati lampu mempunyai resiko terhadap kebakaran. Pemakaian lilin lebih disebabkan karena tidak adanya alat bantu penerangan lain yang dapat menggantikan peran lilin.
Tabel 4.4 Hasil wawancara Pertanyaan ke 4 4. Kelebihan dan Kekurangan
Nama Alat Kelebihan Kekurangan
Murah Resiko kebakaran
Tahan Lama Membutuhkan alat bantu (korek api) Lilin
Hanya untuk penggunaan indoor
Praktis Penerangan terbatas
Mudah dibawa Memerlukan batere yang harus diganti Senter
Indoor dan Outdoor
Penerangan baik Mahal Emergency Lamp Langsung menyala
saat listrik mati
Tergantung pada energi listrik
Dari hasil wawancara diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih menggunakan lilin pada saat mati lampu walaupun mereka tahu bahwa penggunaan lilin mempunyai resiko terjadi kebakaran dan
walaupun alat bantu penerangan seperti senter dan emergency lamp sudah tersedia di pasaran. Hal ini yang mendorong timbulnya ide untuk mengembangkan produk yang dapat menggantikan peran lilin pada saat mati lampu.
4.1.3 Pernyataan Misi
Berikut adalah pernyataan misi yang merupakan dasar untuk pengembangan produk alat bantu penerangan :
Tabel 4.5 Pernyataan Misi
Pernyataan Misi : Proyek Alat Bantu Penerangan
Uraian Produk
• Alat bantu penerangan yang menggabungkan fungsi-fungsi dari lilin, senter, dan emergency
lamp.
Sasaran Bisnis Utama • Menggantikan produk lilin konvensional • Produk ini diharapkan dapat diproduksi Pasar Utama • Keluarga, pengguna lilin konvensional Pasar Sekunder • Pengguna biasa
Asumsi-Asumsi • Dibantu sumber tenaga batere
Pihak yang Terkait
• Pembeli dan pengguna • Bagian produksi
4.2 Konsep Produk
Dari fase perencanaan produk tersebut, timbul suatu ide untuk mengembangkan suatu alat penerangan yang dapat menggabungkan kelebihan-kelebihan dari tiap-tiap produk tersebut. Jadi, konsep produk ini tidak sepenuhnya berfokus pada kebutuhan pelanggan tetapi lebih berfokus untuk dapat menggabungkan kelebihan pada produk alat penerangan yang sudah ada sekarang. Dengan menggabungkan kelebihan lilin, senter, dan emergency lamp seperti yang telah diidentifikasi dari hasil wawancara, maka konsep dasar alat penerangan yang baru memiliki kriteria sebagai berikut :
• Tidak beresiko terhadap kebakaran • Alat bantu penerangan yang praktis • Memberikan penerangan yang baik • Mudah untuk dibawa-bawa (portability) • Bisa digunakan indoor maupun outdoor • Harga yang terjangkau
• Tahan lama
4.2.1 Penyusunan Konsep
Pembangkitan suatu konsep dasar berdasarkan kriteria diatas menghasilkan suatu konsep untuk membuat suatu alat penerangan berbentuk lilin yang dioperasikan dengan menggunakan batere (battery operated candle). Pertimbangannya adalah lilin
dengan menggunakan batere mempunyai berbagai kelebihan yaitu tidak beresiko kebakaran seperti halnya lilin biasa, lebih mampu menerangi ruangan daripada senter, dengan harga yang tidak mahal seperti emergency lamp. Selain itu, terdapat suatu ide bahwa battery operated candle tersebut dapat ditransformasikan menjadi senter untuk menambah fungsi dari alat tersebut.
Ada beberapa hal yang dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan konsep dasar tersebut, yaitu :
• Sumber tenaga : Batere biasa (non-rechargeable battery)
Batere yang bisa diisi ulang (rechargeable battery) • Fungsi : Satu fungsi, sebagai lilin
Dua fungsi, sebagai lilin dan senter
Konsep yang dikembangkan berdasarkan kriteria yang dipakai, yaitu sumber tenaga dan fungsinya, maka terdapat empat konsep yang dihasilkan melalui pohon keputusan berikut :
Mekanisme Transformasi
Metode Knock Down Alat Bantu Penerangan Satu Fungsi Lilin Rechargeable Battery Batere Biasa Rechargeable Battery Batere Biasa Dua Fungsi
Lilin & Senter
Konsep A Konsep B Konsep C Konsep D Mekanisme Transformasi Metode Ulir Rechargeable Battery Batere Biasa Konsep F Konsep E
Diagram 4.1 Diagram Pohon Keputusan Alat Penerangan
Dari diagram pohon keputusan, didapatkan enam buah konsep produk, yaitu konsep A, konsep B, konsep C, konsep D, konsep E, dan konsep F. Berikut adalah penjelasan dari tiap-tiap konsep tersebut :
Konsep A
Gambar 4.4 Gambar Konsep A
Konsep A berbentuk dan berfungsi seperti lilin, menggunakan sumber tenaga batere biasa maupun rechargeable battery yang berbentuk seperti batere biasa.
Konsep B
Gambar 4.5 Gambar Konsep B
Konsep B hampir sama dengan konsep A, hanya konsep B menggunakan mekanisme
non-replaceable rechargeable battery, yang artinya batere dibuat menyatu dengan
produk, tidak dapat diganti seperti halnya batere biasa, namun langsung dapat
Gambar 4.6 Gambar Tiga Dimensi Konsep A dan Konsep B
Konsep C
Gambar 4.7 Gambar Konsep C
Konsep C berbentuk seperti senter, tetapi dapat berfungsi sebagai lilin dan senter. Terdapat casing tambahan yang letaknya terpisah, digunakan untuk mengubah fungsinya menjadi senter.
Konsep D
Gambar 4.8 Gambar Konsep D
Konsep D hampir sama dengan konsep C, hanya konsep D menggunakan mekanisme
non-replaceable rechargeable battery.
Gambar 4.10 Gambar Tiga Dimensi Konsep C dan Konsep D Posisi Senter
Konsep E
Gambar 4.11 Gambar Konsep E
Konsep E berbentuk seperti senter, tetapi dapat berfungsi sebagai lilin dan senter. Terdapat casing geser untuk mekanisme transformasi dari lilin menjadi senter dan sebaliknya.
Konsep F
Gambar 4.12 Gambar Konsep F
Konsep F hampir sama dengan konsep E, hanya konsep F menggunakan mekanisme
non-replaceable rechargeable battery.
Gambar 4.14 Gambar Tiga Dimensi Konsep E dan Konsep F Posisi Senter
4.2.2 Seleksi Konsep
Seleksi konsep digunakan dengan metode terstruktur. Langkah-langkah yang dilakukan adalah menyiapkan matriks seleksi, penyaringan konsep, penilaian konsep, dan pemilihan konsep.
4.2.2.1 Menyiapkan Matriks Seleksi
Matriks seleksi yang akan digunakan untuk menyaring dan menilai konsep adalah :
• Kenyamanan penggunaan • Kemudahan perawatan • Ketahanan
• Mudah dibawa-bawa • Kemanan
• Desain yang menarik • Mudah diproduksi
4.2.2.2 Penyaringan Konsep
Tabel 4.6 Tabel Penyaringan Konsep Konsep Kriteria Seleksi A B C D E F Kenyamanan penggunaan 0 0 - - 0 0 Kemudahan perawatan + 0 + 0 0 0 Ketahanan 0 - 0 - 0 - Kepraktisan - + 0 + 0 + Mudah dibawa-bawa + 0 + 0 + 0 Kemanan 0 - 0 - 0 -
Desain yang menarik - - + + + +
Mudah diproduksi 0 - 0 - 0 - Jumlah + 2 1 3 2 2 2 Jumlah 0 4 3 4 2 6 3 Jumlah - 2 4 1 4 0 3 Nilai akhir 0 -3 2 -2 2 -1 Peringkat 3 6 1 5 1 4
Lanjutkan? Tidak Tidak Ya Tidak Ya Tidak
Dari hasil penyaringan konsep, maka konsep yang akan dilanjutkan untuk dinilai adalah Konsep C dan Konsep E.
4.2.2.3 Penilaian Konsep
Tabel 4.7 Tabel Penilaian Konsep
Konsep
C E Kriteria Seleksi Beban
Rating Nilai Beban Rating Nilai Beban Kenyamanan penggunaan 15% 3 0.45 4 0.6 Kemudahan perawatan 15% 4 0.6 2 0.3 Ketahanan 10% 3 0.3 3 0.3 Kepraktisan 20% 4 0.8 4 0.8 Mudah dibawa-bawa 10% 4 0.4 4 0.4 Kemanan 10% 4 0.4 4 0.4
Desain yang menarik 10% 3 0.3 4 0.4 Mudah diproduksi 10% 3 0.3 3 0.3
Total Nilai 3.55 3,5
Peringkat 1 2
Lanjutkan? Ya Tidak
Dari hasil penilaian konsep, diketahui bahwa konsep C lebih baik dari konsep E, sehingga diputuskan konsep yang akan dikembangkan adalah konsep C.
4.2.3 Pemilihan Konsep
Konsep yang dipilih adalah konsep C, yaitu produk yang berbentuk seperti senter, dapat berfungsi sebagai lilin dan senter, menggunakan batere biasa, dengan mekanisme transformasi dari lilin menjadi senter dan sebaliknya menggunakan metode knock down dengan penambahan casing tambahan yang terpisah. Karena fungsi gandanya (lilin dan senter), maka battery operated candle ini akan dinamai
Flexilight, yang berarti flexi, yaitu fleksibel dan light yang berarti mampu memberikan cahaya penerangan.
Gambar 4.15 Gambar Konsep Terpilih (Konsep C)
Gambar 4.17 Gambar Tiga Dimensi Konsep Terplilih Posisi Senter
4.2.4 Pengujian Konsep
Pengujian konsep dilakukan untuk melihat tanggapan responden tentang konsep produk alat penerangan tersebut, sehingga dapat ditentukan apakah konsep produk diterima masyarakat dan dapat untuk dilanjutkan, perbaikan yang diperlukan terhadap konsep tersebut, dan estimasi berapa banyak produk yang berhasil dijual.
Format survei akan menggunakan kuisioner yang berisi uraian verbal produk dan sketsa produk. Lembar kuisioner beserta daftar pertanyaannya dapat dilihat pada lampiran.
Pemilihan sampel dan populasi dilakukan dengan pengambilan sampel berganda yang ditunjukkan pada diagram dibawah ini :
Indonesia Populasi Pulau Jawa Sampel Propinsi-Propinsi di Pulau Jawa Propinsi Jawa Barat Kotamadya-Kotamadya di Jawa Barat Kotamadya Bekasi Kecamatan-Kecamatan Di Bekasi Kecamatan Bekasi Barat Kelurahan-Kelurahan Di Bekasi Barat Kelurahan Medan Satria Perumahan-Perumahan di Medan Satria Kompleks Perumahan Harapan Indah Perumahan-Perumahan di Kompleks Perumahan Harapan Indah Harapan Indah Taman Harapan Baru Bulevar Hijau
Dari tahap pengambilan sampel, didapatkan sampel 3 perumahan yaitu Harapan Indah, Taman Harapan Baru, dan Bulevar Hijau. Ketiga perumahan ini terletak dalam satu kompleks Perumahan Harapan Indah. Selain ketiga perumahan tersebut diatas, masih ada beberapa perumahan lain seperti Permata Harapan Baru, Griya Harapan Permai, dan duta Bumi. Pemilihan ketiga perumahan diatas adalah karena unit rumahnya tergolong banyak dan tingkat huniannya pun cukup tinggi.
Adapun data-data unit rumah dan perkiraan tingkat hunian dari ketiga perumahan diatas yang didapatkan melalui telepon kepada PT. Hasana Damai Putra selaku developer adalah sebagai berikut :
Tabel 4.8 Populasi Responden
Nama Perumahan Unit Rumah Tingkat Hunian (Estimasi)
Populasi (keluarga)
Harapan Indah 1200 80% 960
Taman Harapan Baru 1000 70% 700
Bulevar Hijau 500 70% 490
Total populasi = 960 + 700 + 490 = 2150 keluarga
Ukuran sampel yang dibutuhkan dihitung dengan menggunakan rumus Sloan yaitu : ) ( 1 N e2 N n ⋅ + =
Dimana : n = Ukuran sampel yang dibutuhkan N = jumlah populasi
e = Kelonggaran ketelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat ditolerir
Dengan menggunakan e = 5%, maka ukuran sampel yang dibutuhkan untuk ketiga perumahan diatas yang berjumlah 2150 keluarga adalah :
) ( 1 N e2 N n ⋅ + = ) 05 , 0 2150 ( 1 2150 2 ⋅ + = n 375 , 6 2150 = n 338 2549 , 337 ≈ = n responden
Jadi kuisioner yang perlu disebar kepada responden adalah minimal sebanyak 338 kuisioner, dengan distribusi pembagian kuisioner adalah sebagai berikut :
Tabel 4.9 Distribusi Penyebaran Kuisioner
Nama Perumahan Populasi
(Keluarga) % Populasi Jumlah Responden
Harapan Indah 960 45% 151
Taman
Harapan Baru 700 32% 110
Bulevar Hijau 490 23% 77
Kuisioner disebarkan sebanyak 350 lembar dengan rincian 155 lembar di Harapan Indah, 115 lembar di Taman Harapan Baru, dan 80 lembar di Bulevar Hijau. Kuisioner yang diterima kembali dan diisi dengan benar dan sempurna adalah 340 lembar, lebih banyak dari minimum kuisioner yang dibutuhkan, yaitu 338 lembar. Hasil dari kuisioner yang telah dibagikan kepada 340 orang responden adalah sebagai berikut :
Tabel 4.10 Jawaban Pertanyaan Kuisioner Nomor 1
1. Bagaimana pendapat anda apabila konsep produk ini dilanjutkan untuk diproduksi? Jawaban Responden Jumlah Responden Persentase (%)
Sangat tidak setuju 27 7,94
Tidak setuju 88 25,88
Ragu-ragu 45 13,24 Setuju 156 45,88
Sangat setuju 24 7,06
Tabel Frekuensi Jawaban Nomor 1 27 88 45 156 24 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 Sangat tidak setuju
Tidak setuju Ragu-ragu Setuju Sangat setuju Ju m la h R es ponde n
Grafik 4.1 Grafik Frekuensi Jawaban Nomor 1
Dari hasil kuisioner pertanyaan nomor 1, terlihat bahwa persentase responden yang setuju konsep produk ini dilanjutkan (52,94%) lebih besar daripada responden yang tidak setuju (33,82%), sedangkan sisanya 13,24% ragu-ragu. Hal ini berarti konsep produk dapat dilanjutkan untuk diproduksi
Beberapa alasan utama responden yang tidak setuju adalah :
o Pemakaian produk ini dirasakan jauh lebih boros daripada menggunakan lilin. o Desain tidak menarik.
o Tidak ada contoh produknya, sehingga sulit untuk membandingkannya dengan lilin.
Tabel 4.11 Jawaban Pertanyaan Kuisioner Nomor 2
2. Seandainya dilanjutkan untuk diproduksi dan dijual, bagaimana peluang anda untuk membelinya?
Jawaban Responden Jumlah Responden Persentase (%)
Pasti tidak membeli 27 7,94
Mungkin tidak membeli 91 26,76
Mungkin membeli dan
mungkin juga tidak 37 10,88
Mungkin membeli 161 47,35
Pasti membeli 24 7,06
Total 340 100
Tabel Frekuensi Jawaban Nomor 2
27 91 37 161 24 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 Pasti tidak membeli Mungkin tidak membeli Mungkin membeli dan mungkin juga tidak Mungkin membeli Pasti membeli
Grafik 4.2 Grafik Frekuensi Jawaban Nomor 2
Dapat disimpulkan bahwa produk layak untuk diproduksi karena persentase responden yang mungkin akan membeli dan pasti membeli lebih besar (total 54,41%)
daripada yang mungkin tidak membeli dan pasti tidak membeli (total 34,7%). Sedangkan responden yang ragu-ragu antara membeli atau tidak berjumlah 10,88%. Melalui wawancara nonformal, pada umumnya keputusan mereka sangat tergantung pada harga produk yang akan ditawarkan tersebut.
Pada umumnya, responden yang menjawab setuju dan sangat setuju pada pertanyaan nomor 1 menjawab mungkin membeli dan pasti membeli pada pertanyaan nomor 2, dan begitu juga sebaliknya, responden yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju pada pertanyaan nomor 1 menjawab mungkin tidak membeli dan pasti tidak membeli pada pertanyaan nomor 2.
4.2.5 Pengujian Data
Pengujian data dilakukan terhadap 30 orang responden. Pengujian data bertujuan untuk menguji reliabilitas data dan validitas data. Data dan perhitungan pengujian terdapat pada lampiran.
Tabel 4.12 Pengujian Data
Pertanyaan Kuisioner Uji Reliabilitas Uji Validitas Pertanyaan nomor 1 Reliabel Valid Pertanyaan nomor 2 Reliabel Valid
4.3 Arsitektur Produk
Arsitektur produk adalah skema elemen-elemen fungsional dari produk disusun menjadi chunk yang bersifat fisikal dan menjelaskan bagaimana setiap chunk
berinteraksi. Dalam pembahasan arsitektur produk ini, akan melalui tiga tahap pengembangan yang akan dipaparkan pada point-point berikut ini.
4.3.1 Skema Produk
Skema adalah suatu diagram yang menggambarkan pengertian tim terhadap elemen-elemen penyusunan produk. Skema ini tidak diciptakan secara spesifik, namun hanya sebatas menguraikan elemen-elemen utama yang saling berkaitan. Berikut ini adalah diagram skema produk yang dikembangkan.
Cover Body Casing Tambahan Per (Kutub Negatif) Pelat Penghantar Pelat (Kutub Positif) Switch On/Off Bola Lampu
Keterangan : --- = Aliran sinyal atau data = Aliran material
= Aliran tenaga atau energi Diagram 4.3 Skema Produk
4.3.2 Mengelompokkan Elemen-Elemen Pada Skema
Dalam tahap ini langkah-langkah yang ditempuh adalah dengan mengelompokkan setiap elemen-elemen yang terdapat pada skema menjadi chunk-chunk yang merupakan suatu kumpulan elemen-elemen yang membentuk suatu fungsi tertentu. Berikut merupakan gambar Function Structure Diagram.
Cover Body Casing Tambahan Per (Kutub Negatif) Pelat Penghantar Pelat (Kutub Positif) Switch On/Off Bola Lampu
Pelindung
Sumber Cahaya
Sumber Tenaga
User Interface
Mekanisme
Transformasi
Keterangan : --- = Aliran sinyal atau data = Aliran material
= Aliran tenaga atau energi
4.3.3 Membuat Susunan Geometris
Susunan geometris dapat diciptakan dalam bentuk gambar, model komputer atau model fisik (dari tripleks atau busa, sebagai contoh) yang terdiri dari dua atau tiga dimensi. Pembuatan susunan geometris kasar harus dikoordinasikan dengan desainer industri yang ada di dalam tim dalam kasus di mana aspek estetika, keamanan dan kenyamanan dari sebuah produk penting dan sangat terkait dengan perancangan geometris dari chunk. Berikut ini adalah gambar susunan kasar geometris dari setiap penempatan chunk-chunk yang ada.
Sum
ber
Ten
aga
Sum
ber
Cah
aya
Use
r
Inte
rfac
e
Peli
ndu
ng
4.4 Desain Industri
Produk yang baik adalah produk yang telah diuji dengan desain industri yang baik. Semua produk yang digunakan, dioperasikan, atau dilihat oleh orang-orang amat bergantung pada desain industri untuk mencapai kesuksesan komersial. Desain industri juga penting untuk membangun identitas perusahaan.
Terdapat dua dimensi kebutuhan dalam desain industri, yaitu dimensi ergonomis dan dimensi estetis dari produk tersebut.
4.4.1 Kebutuhan-Kebutuhan Ergonomis
Kebutuhan ergonomis terdiri atas kemudahan pemakaian, kemudahan perawatan, kuantitas interaksi pemakai, pembaruan interaksi pemakai, dan faktor keamanan.
Tabel 4.13 Tabel Kebutuhan Ergonomis Level Kepentingan
Kebutuhan
Ergonomik Rendah Menengah Tinggi
Penjelasan Peringkat
Kemudahan pemakaian
Alat bantu penerangan ini harus mudah digunakan karena alat bantu penerangan yang sudah ada sekarang pada umumnya mudah digunakan.
Fungsi produk harus mampu memberitahukan melalui desainnya
Kemudahan perawatan
Produk ini hanya memerlukan sedikit perawatan seperti banyak produk elektronik lainnya Kuantitas
interaksi pemakai
Interaksi sangat sedikit, yaitu menyala-matikan, dan
mengganti batere Pembaruan
interaksi pemakai
Pembaruan desain terdapat dalam adanya dua fungsi alat tersebut, yaitu sebagai lilin dan sebagai senter
Keamanan
Alat bantu penerangan pada umumnya harus mempunyai tingkat keamanan yang tinggi
4.4.2 Kebutuhan-Kebutuhan Estetis
Kebutuhan estetis terdiri atas diferensiasi produk, gengsi kepemilikan, mode atau kesan, dan motivasi tim.
Tabel 4.14 Tabel Kebutuhan Estetis Level Kepentingan
Kebutuhan
Estetis Rendah Menengah Tinggi
Penjelasan Peringkat
Diferensiasi produk
Terdapat ratusan model lilin, senter, dan emergency lamp di pasaran.
Penampilan sangat penting untuk diferensiasi
Gengsi kepemilikan, mode, atau kesan
Produk ini harus secara fisik terlihat menarik untuk penggunanya
Motivasi tim
Pengembangan produk ini diharapkan dapat menjadi inspirasi penting untuk tim pengembangan
4.4.3 Penilaian Kualitas Desain Industri
Ada lima kategori yang digunakan untuk menilai dan mengevaluasi kualitas desain industri sebuah produk, yaitu kualitas antarmuka pelanggan, daya tarik emosional, kemampuan untuk memelihara dan memperbaiki produk, penggunaan yang tepat dari sumber, dan diferensiasi produk.
Tabel 4.15 Penilaian Desain Industri Level Kepentingan
Kategori
Penilaian Rendah Menengah Tinggi
Penjelasan Peringkat
Kualitas dari antarmuka
pengguna
Secara umum, produk alat bantu penerangan ini mudah
digunakan dan nyaman digunakan
Daya Tarik Emosional
Karena produk ini lebih
mementingkan fungsi daripada desain, maka daya tarik
emosional hanya terletak pada kemampuan transformasinya saja. Kemampuan untuk memelihara dan memperbaiki produk
Pemeliharaan dan perbaikan produk ini sangatlah mudah.
Penggunaan yang tepat dari
sumber
Adanya fungsi ganda sebagai senter dan lilin membuat produk ini memiliki nilai istimewa tersendiri bagi pengguna. Diferensiasi
produk
Diferensiasi produk tidak terlalu terlihat karena mirip dengan produk senter pada umumnya.
4.5 Design For Manufacturing
Karena pada skripsi ini tidak membahas tentang biaya-biaya yang akan dikeluarkan, maka DFM akan lebih ditekankan pada daftar list komponen, struktur produk, dan Bill Of Material.
4.5.1 Daftar List Komponen
Daftar list komponen berfungsi mendaftar komponen-komponen yang diperlukan untuk membuat alat bantu penerangan yang baru beserta kegunaan dari tiap-tiap komponen. Berikut adalah daftar list komponen dari Flexilight :
Tabel 4.16 Daftar List Komponen
Nama Komponen Kegunaan
Per (kutub -) Sebagai tempat untuk meletakkan batere dan media untuk menghantarkan arus listrik
Pelat penghantar Sebagai media untuk menghantarkan arus listrik dari kutub - ke kutub +
Pelat (Kutub +) Sebagai penghubung antara kutub positif batere dengan bola lampu
Switch On/Off Untuk menggerakkan pelat penghantar sehingga terbentuk hubungan arus listrik
Wadah lampu Tempat untuk meletakkan lampu dan pelat (kutub +) Bola lampu Sebagai sumber cahaya
Lempeng refleksi Untuk memberikan efek penerangan yang lebih terang (posisi lilin) dan lebih terfokus (posisi senter)
Casing bawah Sebagai pelindung dan cover dari produk
Casing bening Sebagai tempat untuk bola lampu dan casing bening ini juga yang akan digerakkan pada saat mengganti batere Casing tambahan Untuk mekanisme transformasi dari posisi lilin ke posisi
4.5.2 Struktur Produk
Struktur produk merupakan aktivitas pemecahan produk menjadi komponen-komponen yang menyusunnya. Struktur produk merupakan merupakan gambaran BOM secara grafis yang membentuk sebuah pohon karena menunjukkan bagaimana sebuah produk dibuat secara bersama-sama dari berbagai elemen, mengandung informasi yang mengidentifikasi tiap bahan, keadaan kuantitas bahan yang digunakan. Berikut adalah struktur produk dari Flexilight :
Per (Kutub-) Pelat Penghantar Pelat (Kutub +) Switch On/Off Wadah Lampu Casing Bawah Casing Tambahan A4 Produk Lempeng
Refleksi Bola Lampu
A1 Assembly 1 A2 Assembly 2 A3 Assembly 3 Casing Bening
Diagram 4.5 Struktur Produk
4.5.3 Bill Of Material
BOM adalah daftar (list) dari bahan, material atau komponen yang dibutuhkan untuk dirakit, dicampur atau membuat produk akhir. Jaringan yang menggambarkan hubungan induk-komponen. Dibutuhkan sebagai input dalam perencanaan dan
pengendalian aktivitas produksi. Bill of material diperoleh dengan memperhatikan struktur produk. Berikut ini akan digambarkan Bill of Material (BOM) dari produk Flexilight :
Tabel 4.17 Bill Of Material Bill Of Material
Multi-Level Indented Explotion No Komponen
Level Description
Quantity BOM UOM
1 1 Assembly 2 1 each
2 ●2 Assembly 1 1 each
3 ●●3 Per (Kutub -) 1 each 4 ●●3 Pelat Penghantar 1 each 5 ●●3 Switch On/Off 1 each
6 ●●3 Casing Bawah 1 each
7 ●2 Casing Tambahan 1 each
8 ●2 Assembly 3 1 each
9 ●●3 Wadah Lampu 1 each
10 ●●3 Pelat (kutub +) 1 each 11 ●●3 Lempeng Refleksi 1 each
12 ●●3 Bola Lampu 1 each
13 ●●3 Casing Bening 1 each
4.6 Prototype
Prototype pada umumnya didefinisikan sebagai sebuah penaksiran produk
melalui satu atau lebih dimensi yang menjadi perhatian. Karena keterbatasan teknologi, maka protoype produk hanya mencakup gambar 3D dari produk alat penerangan baru.
Gambar 4.20 Gambar 3D Flexilight Posisi Lilin Dengan Tumpuan
Gambar 4.22 Gambar 3D Flexilight Posisi Senter